Kazuya tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya sedang ia lakukan. Apa ia sungguh menculik Sawamura? Melihat bagaimana pemuda di sebelahnya tidak kehabisan umpatan kasar di sepanjang jalan ketika berada di dalam mobil, Kazuya mungkin perlu memberinya rekor muri untuk itu.
Sawamura terus berteriak, berusaha memecah konsentrasi selagi Kazuya menyetir di tengah malam. Ke mana kau membawaku, sialan! Turunkan aku! Dasar sinting! Ini penculikan! Kazuya tak satu kalipun menjawab Sawamura. Tidak juga menoleh atau sekadar melotot padanya karena terlalu berisik.
"Ini di mana? Apa yang kau inginkan dariku, Miyuki Kazuya!? Jawab aku!"
Kazuya mengabaikan. Pagar otomatis terbuka, seorang pria duduk di balik monitor dalam pos satpam tersenyum ramah ketika Kazuya menurunkan kaca mobil. Sawamura mengambil kesempatan itu untuk menerjang ke arah jendela yang terbuka.
"PAK! TOLONG AKU! INI PENCULIKAN!"
Kazuya berdecak kesal, menoyor kepala Sawamura hingga pemuda itu kembali terdorong mundur ke kursinya. Satpam hanya melihat Sawamura dan memberinya senyuman minta maaf sebelum kembali berpaling pada Kazuya. "Selamat malam, Tuan."
"Sakakibara-sensei ada?"
Satpam itu mengangguk padanya, lalu mempersilakannya ke dalam. Kazuya menginjak kembali pedal gas sampai ia berhenti di halaman rumah. Mobil menghadap tepat ke sepasang daun pintu besar mengilap. Di dinding sebelahnya, terpajang papan nama yang Kazuya yakini bisa dibaca dengan jelas oleh Sawamura.
"Untuk apa kau membawaku ke dokter!?" Sawamura protes ketika Kazuya mematikan mesin mobil dan melepas sabuk pengaman. "Kau masih tidak mau menjawab pertanyaanku? Setidaknya katakan kenapa ke dokter!"
Kazuya menghela napas, semesta pasti keliru karena memasangkannya dengan Sawamura Eijun yang begitu berisik. "Ada yang ingin kuperiksa."
Secara ajaib wajah Sawamura sedikit rileks. Urat di lehernya tak lagi menegang dan Kazuya bisa melihatnya menghembuskan napas yang seperti sudah ditahannya sepanjang perjalanan.
"Tidak akan lama," Kazuya menemukan dirinya bicara lagi. "Ini dokter yang menangani keluargaku, kau tidak perlu panik."
"Apa susahnya menjawabku? Kau dari tadi hanya diam dan membuatku berteriak sendiri seperti orang gila!"
Kazuya mengangkat bahu tak acuh, melepas sabuk pengaman dan turun dari mobil lalu berjalan ke pintu. Ia menekan interkom bel dan bicara di speaker. "Miyuki Kazuya."
Tak lama pintu terbuka, sosok lelaki akhir tiga puluh tahun menyambutnya dan berhasil membuat Kazuya mengernyit, dokter yang satu ini benar-benar terlalu nyentik. Usianya hampir empat puluh tapi ia masih tampil dengan rambut dicat magenta, bergaya cassanova dengan jubah tidur berbahan satin hitam yang jatuh sempurna di tubuhnya yang cukup atletis. Matanya bergulir malas pada Kazuya. "Di antara semua waktu, Kazu-kun, kenapa kau harus datang pada jam segini?"
"Pasien tidak bisa menunggu."
Sakakibara Gin menghela napas bosan, lalu menyadari Kazuya tidak datang sendiri.
"Sawamura Eijun." Jawab Kazuya datar. "Soulmateku."
Gin melotot lebar sementara Sawamura menunjukkan reaksi dramatis dengan mengarahkan jari telunjuk tepat ke wajah Kazuya. "Bagaimana bisa kau mengatakan hal itu kepada orang lain tanpa minta persetujuanku!?"
"Tidak ada gunanya berbohong pada dokter." Ia berkata dengan malas, kembali berpaling pada Gin."Ada yang ingin kutanyakan."
Gin masih terlihat kaget, tapi pria itu mengangguk dan tersenyum pada Sawamura, mengatakan sapaan wajar seperti selamat malam dan memperkenalkan diri. Kemudian mengajak mereka berdua masuk ke dalam.
"Selamat karena sudah menemukan belahan jiwamu." Adalah apa yang pertama kali Gin katakan ketika mereka akhirnya duduk di ruang periksa.
Kazuya hanya memutar makna, tetapi Sawamura yang selalu dramatis tampaknya hampir pingsan mendengar kalimat itu.
"Jadi bagaimana pertemuan pertama kalian?" Gin bertanya riang, jelas-jelas mengabaikan ekspresi pasi di wajah Sawamura. "Ah, sepertinya Sawamura-kun masih sangat muda, berapa usiamu? Boleh aku memanggilmu Sawa-chan?"
Kazuya menghela napas. "Gin," Ia berkata penuh penekanan. "tolong."
Dokter nyentrik itu tertawa renyah. "Baiklah, apa yang ingin kau tanyakan?"
"Bisakah soulmate menularkan penyakit?"
Gin berkedip.
"Beberapa waktu yang lalu aku yakin sempat melihat Sawamura memegangi jantungnya dan terlihat kesakitan. Tak lama setelahnya aku mengalami hal serupa, seakan-akan sakitnya ikut berpindah padaku. Apa itu ada hubungannya dengan soulmate?"
Gin menyunggingkan senyum geli. "Setahuku tidak ada yang seperti itu."
"Lalu kenapa jantungku terasa seperti ditikam? Aku sama sekali tak punya riwayat penyakit jantung."
"Aku juga tidak!" Sawamura berkata, yang lebih mirip pembelaan diri. "Aku sehat dan tidak punya penyakit mematikan."
"Lalu kenapa tadi kau memegangi dadamu dan terlihat kesakitan?"
Wajah Sawamura memucat. "A-aku… aku juga tidak tahu. Aku juga kaget, semuanya terjadi begitu saja." Ia mengeluh dengan bingung, merana dan hampir menangis.
"Kasus yang langka." Gin berkata ringas. "Mungkin hanya lahir seratus tahun sekali."
"Apa maksudmu?"
Senyuman di wajah Gin bercabang menjadi ratusan arti yang berbeda. Alih-alih menjawab, pria itu justru meraih telepon di sudut meja hanya untuk mengatakan sebaris kalimat, "Panggilkan Mia-chan."
Kazuya menatap Gin tidak mengerti, tapi pria itu hanya tersenyum seakan sedang menghadapi anak kecil yang polos."Kalian akan tahu sebentar lagi."
Seseorang mengetuk pintu, Gin mempersilakannya masuk. Seorang gadis muda berdiri dengan pakaian tidur tipis yang jatuh membentuk lekuk tubuhnya. Baik Kazuya dan Sawamura sama-sama kebingungan melihat gadis itu, sedangkan Gin bangkit berdiri dan merangkul gadis itu masuk untuk bergabung bersama mereka. "Kenalkan, ini Mia-chan."
Mia melambai, tersenyum tipis.
"Sawa-chan, bisa kau duduk di ranjang periksa?" Pinta Gin lembut.
"Tapi aku tidak sakit."
Gin tersenyum menenangkan. "Aku tahu, ini hanya sebentar. Kau tenang saja, mengerti?"
Sawamura diam sejenak sebelum akhirnya mengangguk kaku dan berjalan ke ranjang. Ia duduk di tepinya sambil berkali-kali menarik dan mengeluarkan napas, memegang dadanya dan berkomat-kamit seperti berdoa.
"Kazu-kun," Gin memanggil, tersenyum penuh misteri. "Tolong perhatikan baik-baik dan jangan lepaskan tatapanmu dari Sawa-chan."
Kazuya merasa itu perintah yang aneh, tapi ia patuh. Ia melihat bagaimana Sawamura duduk dengan tegang lalu Mia mengampirinya dengan senyum mengembang. "Sawamura-kun…" Panggil Mia begitu lembut, suaranya terdengar bagai disaring sejuta kali hingga membuat Kazuya merinding dan Sawamura bahkan tersentak.
Mia menyentuh wajah Sawamura dengan ujung jarinya. Sawamura nyaris menepis, tapi Mia tak melepaskan tatapannya dari Sawamura. Bibirnya satu sentimeter di depat telinga Sawamura, terkekeh halus, tersenyum, terus membisikkan kata-kata yang tak bisa Kazuya dengar. Jari-jari lentiknya berpindah dari leher ke tulang selangka, meraba dada, bahkan terus turun ke perut Sawamura. Lambat, sampai Kazuya akhirnya sadar gadis itu sedang merayu Sawamura, naik ke pangkuannya dan sengaja menyibak pakaian tidurnya sehingga paha mulusnya terbuka. Duduk mengangkang di atas pangkuan Sawamura dan memberi gesekan di antara kedua pahanya.
Sengatan di jantung Kazuya muncul kembali. Tidak sesakit sebelumnya, tapi ia bisa merasakan jarum-jarum menusuk di dalam rongga dadanya. Kazuya memaksa dirinya untuk tetap fokus, mengamati bagaimana Sawamura kebingungan, menelan ludah dan mencoba untuk kabur. Tapi Mia punya cara yang luar biasa dan berhasil membawa Sawamura kembali menghadapnya, hitungan detik, lalu bibir Mia maju untuk menyerbu bibir Sawamura yang terbuka.
Kazuya bangkit sebelum sempat berpikir, menarik lengan Mia dan menyingkirkanya dari pangkuan Sawamura. Berdiri dengan napas terengah dan jantung berdentum ngilu.
"Aku mengerti." Ia menatap tajam pada Gin. "Sekarang jelaskan rincinya."
Sawamura masih duduk dengan linglung bahkan ketika Kazuya membimbingnya kembali ke kursi semula. Gin tersenyum pada Mia, mengatakan kerja bagus dan terima kasih lalu gadis itu kembali menghilang di balik pintu.
"Apa itu tadi?" Sawamura bertanya bingung. "Siapa gadis tadi? Kenapa Sensei menyuruhnya melakukan itu padaku?"
Gin menatap Sawamura seakan benar-benar jatuh cinta pada kepolosannya. "Ikatan kalian sangat kuat." Gin mulai menjelaskan. "Umumnya sepasang soulmate memang memiliki keterikatan satu sama lain. Tapi dalam kasus kalian berdua, ikatan itu jauh lebih kuat dibandingkan yang lain. Sepasang soulmate memang ditakdirkan untuk saling memiliki dan menjaga hati satu sama lain. Tapi seiring perkembangan jaman, ikatan biasanya sudah tidak sekuat itu karena manusia mulai berpikir realistis dan tidak mengutamakan soulmate sebagai pasangan satu-satunya yang harus mereka perhatikan. Manusia yang bertambah egois, menjadikan imprint hanya sebatas aturan kuno yang bebas untuk diambil atau ditinggalkan. Lagi pula, meskipun memiliki imprint yang sama, jika soulmate tidak melakukan bonding dan mating, itu tidak ada gunanya."
Sawamura menggaruk pipinya. "Jadi apa hubungannya dengan sakit jantung?"
Gin tertawa riang. "Kalian berdua punya ikatan yang sangat kuat sebagai soulmate. Itu akan membuat masing-masing dari kalian merasa sakitsecara harfiah apabila ada pihak yang mengkhianati. Misalnya saja bermesraan dengan orang lain, bercumbu—berselingkuh."
"APA!?" Sawamura mebeliak tak percaya. Kazuya hanya menyandarkan punggungnya ke kursi dan mengumpat runyam dalam hati.
"Sawa-chan," Panggil Gin ceria. "Ingat-ingatlah kembali saat kau merasakan jantungmu sakit, apa yang sedang Kazu-kun lalukan?"
Wajah Sawamura menjadi abu-abu. Ia memandang Kazuya sekilas, tampak baru dicekik. "Dia sedang… berciuman dengan wanita bergaun merah."
Gin tampak puas, beralih pada Kazuya dengan kepala miring dan senyum geli. "Bagaimana denganmu, Kazu-kun?"
"Tidak usah bertanya." Sahut Kazuya ketus. Enggan mengingat bagaimana jantungnya kesakitan saat melihat Sawamura berciuman dengan gadis di klub, atau juga saat Mia duduk di pangkuan pemuda itu dan merayunya.
"Nah," Gin berkata dengan bangga seakan berhasil menyembuhkan penyakit mematikan. "Itulah garis besarnya. Kalian tidak bisa mengkhianati satu sama lain."
Sawamura kelihatan seperti baru dipelintir. "Aku tidak mau." Katanya parau. "Aku tidak mau menghabiskan sisa hidupku kesepian hanya karena ikatan bodoh ini!"
Kazuya mencoba untuk tidak sakit hati. "Tidak ada solusi? Kami bahkan belum melakukan bonding atau…" Ia melirik pada Sawamura. "…yang lebih dari itu."
Gin tampaknya berusaha keras agar tidak tertawa. "Aku belum tahu sekuat apa ikatan kalian, tapi biasanya hal itu terbatas oleh jarak. Bisa dibilang jika kalian ada di kota yang berbeda dan sama-sama menghabiskan waktu bersama orang lain, kalian akan aman dari rasa sakit. Tapi selama kalian berada di lingkungan yang berdekatan, sakitnya akan terus terasa. Ini semacam, perintah untuk pergi sejauh mungkin jika kau ingin selingkuh."
…
Perjalanan kembali dari rumah Gin terasa jauh lebih sepi dan lebih dingin. Sawamura tidak lagi berteriak memaki-maki atau mengumpat padanya. Sebaliknya, pemuda itu bungkam dan duduk tenang di samping kemudi, menatap jalan lebar di depannya dengan kedua tangan bersembunyi di dalam saku hoodie kuning terangnya. Setelah menyebutkan alamat, ia benar-benar menjadi orang yang pendiam. Dan sayangnya Kazuya bukan orang yang kreatif mencari topik pembicaraan, sehingga perjalanan mereka yang hampir memakan waktu satu jam itu hanya diisi dengan suara lagu yang berputar di mobil Kazuya.
Kazuya pikir, Sawamura pasti terguncang. Mendengar bahwa kini mereka berdua sangat dibatasi untuk berhubungan intens dengan orang lain, terlebih dengan konsekuensi dan rasa sakit tak main-main pada jantung apabila mereka melanggar batasan itu. Sawamura, dengan kepribadian bebasnya, pastilah merasa terbebani.
Tapi bukan hanya dia yang begitu! Kazuya ingin protes. Seharusnya ini tidak menjadi alasan Sawamura untuk muram dan memberi kesan bahwa semua kemalangan ini jatuh menimpanya akibat kesalahan Kazuya. Semua sifatnya yang jungkir balik itu seakan menghakimi Kazuya dan menyudutkannya pada rasa berdosa. Hell, Kazuya juga tidak ingin terlibat situasi rumit seperti ini. Mereka berdua jelas-jelas tidak saling menyukai, dan kuatnya ikatan soulmate di antara mereka ini tak menghasilkan kebaikan apapun selain kebencian yang makin meradang.
Kazuya membuang napas kasar, GPS menunjukkan arah bahwa ia harus berbelok ke kanan pada gang berikutnya dan akan sampai di tujuan dalam jarak seratus meter. Kazuya memacu mobilnya pelan di gang yang sepi. Tak ada orang yang melintas, semua gedung dan rumah telah menutup dengan lampu depan yang menyala. Orang-orang pasti tengah terbuai dalam mimpi masing-masing. Tapi di sinilah dia, duduk bagaikan sopir dengan majikan yang merajuk.
Mobil berhenti tepat di depan sebuah gang yang lebih kecil dan hanya mampu dilalui oleh pejalan kaki atau sepeda. Kazuya mematikan mesin mobil lalu menghela napas. "Kita sudah sampai."
Ia kira Sawamura akan langsung membuka pintu dan bergegas pergi. Tapi sampai satu menit berlalu, tak ada pergerakan apapun. "Sawamura, kita sudah sampai."
Sawamura tidak bergerak. Kazuya mengerutkan alis, memberanikan diri untuk mencondongkan tubuhnya dan melongok ke wajah Sawamura hanya untuk mendapati fakta bahwa—dia tertidur.
"Bagus sekali." Kazuya mendengus. "Sementara aku mati-matian menahan kantuk dan fokus menyetir, kau justru tertidur pulas seperti bayi."
Kazuya bergerak untuk melepaskan seat belt Sawamura, berencana membuka pintu dan menendang pemuda itu keluar. Terserah dia mau kaget atau bahkan jatuh terjungkal sekalipun, kebaikan hati Kazuya untuk mengantarnya dengan selamat sudah cukup sebagai penebus dosa. Tangannya baru bergerak membuka pintu ketika kepala Sawamura bergerak dan membuat perhatian Kazuya teralihkan.
Kepala Sawamura sebelumnya miring ke jendela, kini menoleh ke sisi sebaliknya. Jarak mereka begitu dekat dan Kazuya tersadar ini adalah pertama kalinya ia benar-benar mengamati wajah Sawamura.
Pemuda itu bahkan terlihat jauh lebih muda saat tertidur, otot-otot di wajahnya mengendur, bibirnnya sedikit terbuka, matanya terpejam damai dengan bulu mata panjang membentuk bayangan di bawah matanya. Alisnya yang tegas dan runcing kini mengendur dan sedikit melebar. Apapun ekspresi keras yang selalu menghiasi wajahnya, secara ajaib menghilang dan berganti menjadi kepolosan ketika ia tertidur.
Dia sangat manis.
Kazuya tersadar, buru-buru menarik diri dan membenturkan kepalanya ke kemudi begitu menyadari pemikiran tolol yang melintas di otaknya. Ia menarik napas dan memandang lagi ke arah Sawamura.
Sial! Kalau begini aku tidak akan tega membangunkannya.
…
Eijun menggerang kecil dan menggerakkan tangan ke lehernya untuk menekan pijatan ringan. Menggeliat, berupaya merilekskan otot-otot kaku di tubuhnya. Kedua tangan merentang dan kaki berselonjor, mengulet dengan nyaman lalu merasakan kakinya membentur sesuatu.
Matanya sontak membuka. Pupil melebar saat menemukan bahwa ia terbangun bukan di dalam kamarnya. Jendela di depannya membentang lebar, menampakkan langit pagi yang jernih. Dalam sepersekian detik ia tersentak bangun dari posisi berbaring menjadi duduk tegak.
Eijun mencoba mengambil napas, membaca situasi, dan mulai mengingat. Kenapa aku tidur di dalam mobil? Ia mengingat pergi dengan Toujo, bertemu dangan Miyuki dan Kuramochi, masuk ke dalam klub, ciuman dengan gadis yang baru ditemuinya, Miyuki membawanya ke suatu tempat dan…. Miyuki… Eijun menelan ludah, menoleh dengan gerakan kaku ke samping. Napasnya tercekat kala mendapati sosok Miyuki Kazuya berbaring di belakang kemudi. Kursinya telah diturunkan sehingga tidak duduk tegak menghadap setir. Kedua tangan terlipat di depan dada, kacamatanya tak terpasang, matanya terpejam rapat selagi naik-turun dadanya teratur.
Tangan Eijun menepuk dahi keras, bibir sibuk bergumam merutuki diri sendiri. Bodoh, Eijun! Bodoh! Bagaimana bisa kau ketiduran di mobil Miyuki Kazuya!? Eijun mengacak-acak rambutnya frustasi, menyadari bahwa ia bahkan hanya tinggal beberapa langkah saja menuju kamar apartemennya! Tunggu. Eijun mendadak berpikir; kenapa dia tidak membangunkanku? Eijun menyadari bahwa sandaran kursi tempatnya tidur bahkan telah diatur ke belakang seakan mengupayakan agar ia lebih nyaman.
Eijun menoleh lagi ke arah Miyuki, pemuda itu masih tertidur. Posisi tidur seperti itu pastilah tidak nyaman untuknya, tapi Miyuki terlihat terlalu lelah untuk peduli. Eijun mendengus, tiba-tiba merasa geli sendiri. Apapun yang Miyuki rencanakan, apapun tindakan yang diambilnya, sama sekali tidak pernah masuk akal dan dimengerti oleh Eijun. Bagaimana bisa pemuda itu bersikap begitu angkuh, menyeretnya dengan kasar dan membiarkannya berteriak sepanjang jalan, lalu tahu-tahu membawanya ke dokter dan mengakuinya sebagai soulmate? Dan Eijun benci bagaimana semalam dadanya sempat berdebar tak biasa ketika Miyuki Kazuya tanpa tendeng aling-aling menyatakan bahwa Eijun adalah soulmatenya di depan Sakakibara. Ada getar tak wajar yang berusaha Eijun sembunyikan selama periode detik itu, barangkali hanya efek karena ia terlampau terkejut atau terlampau marah.
Eijun memandangi wajah tidur Miyuki. Aku benar-benar tidak percaya, dari semua orang di seluruh dunia, kenapa aku harus dipasangkan denganmu? Bibir mengerucut selagi matanya mencoba mengamati detail wajah Miyuki. Kau tampan, bentuk tubuhmu proporsional, kau kaya, seandainya sifatnmu sedikit lebih baik kau pasti jadi pasangan ideal bagi semua orang, kau tahu?—Ia berkedip cepat—Apa? Buat apa aku memujinya!? Ia menggelengkan kepala keras-keras dan membuang semua pemikiran memalukan yang semula hinggap di kepalanya.
Pada akhirnya salah satu dari kita harus meninggalkan Tokyo, pikirnya. Kemudian dengan hati-hati membuka kunci pintu dan bersiap keluar—
"Kenapa buru-buru, Sawamura?"
Gerakannya terhenti. Bahu menegak otomatis dan tubuhnya kaku. Eijun meremas tangannya erat-erat sebelum membalikkan badan dan mencoba memasang senyum wajar.
"Oh, halo. Kau sudah bangun? Selamat pagi."
Miyuki mendengus, memandang dengan mata sayu bangun tidur. Ia mengambil gerakan kecil dari berbaring menjadi duduk lalu menggerakkan lehernya ke kanan dan ke kiri seorah sedang melakukan peregangan ringan. "Merajuknya sudah selesai?"
Eijun mengerutkan dahi. "Siapa yang merajuk?"
Miyuki memberinya senyuman bengkok lalu meraih kacamata di dashbor dan memakainya. "Kau jadi sangat pendiam dalam perjalanan pulang dari tempat Sakakibara Gin, bukankah itu yang biasanya dilakukan anak gadis saat sedang merajuk?"
"Aku bukan anak gadis!" Sahut Eijun tak terima. Lupakan semua pemikiran baik yang semula sempat mampir di otaknya tentang Miyuki Kazuya. Pemuda ini berengseknya sudah tidak tertolong. "Aku tidak merajuk." Eijun berkata dengan tajam. "Kenapa? Jangan bilang kau mulai menyukai suaraku dan tidak suka saat aku hanya diam? Huh, tipikal sekali, Miyuki Kazuya. Kau menunjukkan reaksi dingin tiap kali aku bicara tapi kau menjadi frustasi saat aku menutup mulutku."
"Kepercayaan diri yang mengangumkan, Sawamura. Atau harus kusebut imajenasi yang hebat?"
Eijun membuang napas kasar. Menyilang tangan di depan dada dan menatap tak gentar ke sepasang mata karamel Miyuki. "Kenapa kau tidak membangunkanku? Kenapa kau malah tidur di sini?"
Miyuki memandanginya tanpa mengatakan apapun selama beberapa detik yang membuat Eijun sempat berpikir bahwa pemuda itu sedang kebingungan mencari alasan. Tapi tak lama, eskpresi Miyuki kembali ke senyum menyebalkan dan gerlingan mata manipulatifnya. "Aku membangunkanmu, Sawamura. Aku memanggil namamu dan bahkan mengguncang bahumu, tapi kau sama sekali tidak bisa dibangunkan dan justru mengigau memanggil-manggil ibumu dengan manja."
Eijun tidak ingat bermimpi tentang ibunya semalam, tapi ia merasakan wajahnya memanas. Miyuki memandanginya dengan seringai penuh kepuasan. "I-itu pasti kerena aku sedang merindukan ibuku." Ia berdeham, berusaha menahan kedua tangannya agar tidak mebuat gerakan-gerakan aneh yang bisa membangkitkan gairah jail Miyuki. "Aku di Tokyo sendirian, keluargaku di Nagano, dan ini sudah cukup lama sejak aku bertemu mereka."
Satu alis Miyuki terangkat samar. "Kau berasal dari Nagano?"
"Yah," Eijun menghembuskan napas. "Aku menghabiskan seluruh masa kecil sampai SMA-ku di Nagano. Aku baru datang ke Tokyo untuk kuliah."
"Kau tinggal sendiri di sini?"
"Eh?" Eijun berkedip, pertanyaan Miyuki diluar dugaannya, tapi yang lebih mengejutkan adalah cara bagaimana pemuda itu terlihat agak tertarik dan bukan hanya bertanya basa-basi. "Tidak. Selama ini aku menyewa flat bersama seorang temanku, tapi karena dia memutuskan untuk bonding dan tinggal dengan pacarnya, mulai bulan depan ku rasa aku akan tinggal sendiri."
Ekspresi wajah Miyuki tak terbaca, atau mungkin Eijun semata-mata terlalu bodoh untuk memahami maknanya. "Well," Eijun bicara lagi, membiarkan bibirnya tersenyum tanpa perlawanan ketika menatap Miyuki. "Terima kasih, kurasa? Karena sudah mengantarku dan membiarkanmu tidur di mobilmu."
"Nevermind." Miyuki mendelikkan bahu samar lalu menguap kecil dan melirik jam tangannya sebelum kembali menatap Eijun. "Kau mau sarapan?"
"Huh?" Eijun mengerjap, sebenarnya sejak tadi tangannya sudah siap untuk membuka pintu mobil tapi Miyuki tanpa disangka terus menjalin percakapan. "Ah, aku akan sarapan di flat-ku. Sepertinya aku masih punya ramen instan."
"Kau sebut ramen instan sebagai sarapan?"
Eijun cemberut. "Aku tidak punya pilihan! Tidak satupun dari aku dan roommateku jago memasak, dan kami biasanya tak punya cukup waktu untuk membuat sarapan."
"Ya, ya." Miyuki mengangguk setengah hati dan memutar kunci mobil lalu menyalakan mesin.
"Apa yang kau lakukan?"
Miyuki menyeringai padanya. "Aku akan mengenalkanmu pada menu sarapan yang sesungguhnya, Mahasiswa Rantau."
Sebelum Eijun protes lebih jauh, Miyuki sudah menjalankan mobil, membuat pagi itu Eijun kembali mengoceh berisik di dalam mobilnya. Namun kali ini, Miyuki tidak sepenuhnya bungkam. Ia menanggapi dengan jawaban menyebalkan, kata-kata sarkas, bahkan juga candaan ringan hingga Eijun tidak merasa seperti radio rusak yang bicara sendiri.
…
Kazuya baru sadar saat hari terang bahwa ia sebenarnya cukup famililar dengan kawasan tempat tinggal Sawamura. Semalam mungkin kerena jalanan gelap dan ia mulai kelelahan, ia tidak menyadari bahwa beberapa kali pernah melewati tempat ini. Pagi ini, ketika matahari telah terbit dan semua bangunan juga jalan-jalan mendapat pencahayaan cukup, Kazuya nyaris hapal apa saja yang ada di sana. Termasuk kedai makanan khas Jepang yang kini menjadi tempatnya duduk berhadapan dengan Sawamura.
We are moving too fast, benak Kazuya terus mengulang-ulang pemikiran itu dengan heran. Bagaimana bisa pagi ini ia duduk bersama Sawamura di sebuah kedai makan, sarapan bersama, dan mengobrol tanpa saling melemparkan tatapan kebencian? Semua perubahan situasi ini terlalu cepat sampai membuat Kazuya cemas.
Mungkin ini semata-mata berkat mood pagi mereka yang masih sedikit kelelahan untuk bertengkar. Mungkin Kazuya hanya terlalu malas untuk menabuh genderang perang terus-menerus dengan Sawamura. Mungkin Kazuya hanya merasa sedikit terkejut karena Sawamura tidak semanja dugaannya karena anak itu nyatanya mampu hidup sendirian Tokyo sementara seluruh keluarganya berada di Nagano. Atau mungkin karena Kazuya masih mengingat betapa manisnya wajah tidur Sawamura semalam…
Kazuya menggeleng cepat untuk mengusir gambaran itu dari kepalanya. "Kau sudah mencari tempat baru?"
Sawamura menelan. "Tempat baru?"
"Kau tadi bilang kalau roommate-mu akan tinggal dengan kekasihnya mulai bulan depan. Bukankah itu artinya kau harus pindah dan mencari tempat baru?"
"Ah, itu." Sawamura kelihatan berpikir sebentar sebelum menggeleng dan tersenyum seperti bocah. "Aku baru mulai memikirkannya." Ia berkata, mengetukkan sumpitnya ke mangkuk sup sejenak. "Aku tidak masalah tinggal sendirian. Keuanganku bahkan cukup untuk menyewa satu flat sendiri, tapi ibuku lebih suka kalau aku punya roommate."
"Jadi kau sedang mencari orang yang mau diajak tinggal bersama?"
Sawamura menjilat bibir bawahnya, ekspresinya sejenak diwarnai keraguan. "Ada seseorang yang sebenarnya sudah mengajakku tinggal bersama. Tapi aku belum memberi keputusan."
"Siapa?"
"Chris-senpai."
Kazuya nyaris tersedak.
Chris? Serius? Semua kejadian ini begitu menggelikan untuk dapat diterima olehnya. Di antara semua orang, Chris mengajukan diri untuk tinggal bersama Sawamura? Katakanlah Kazuya memang tidak mengenal Chris cukup dekat, tapi mereka berasal dari jenis latar belakang sama, yang membuat mereka tak terbiasa untuk hidup bersama orang luar. Kenyataan bahwa Chris mengajak Sawamura tinggal bersama membuat satu lagi bukti ditambahkan untuk memperkuat deduksi Kazuya; Chris memang menganggap Sawamura istimewa.
Menarik, Kazuya membatin selagi matanya mencuri pandang ke arah Sawamura yang kini sibuk mengunyah dengan kedua pipi menggelembung penuh. Apa yang istimewa dari anak ini sampai kau tertarik padanya, Chris?
"Jadi kenapa kau belum memberi keputusan?"
"Aku merasa akan banyak merepotkannya." Sawamura membuang napas berat. "Chris-senpai adalah orang yang sangat-sangat baik padaku. Aku benar-benar menghormatinya, dia selalu menolongku tiap kali aku butuh bantuan, dia perhatian, dia bahkan membantuku belajar, membawakanku makanan, sering memberiku oleh-oleh, mengantarku pulang, pokoknya banyak. Membayangkan untuk tinggal bersamanya, membuatku akan merasa semakin… umm… bagaimana mengatakannya?" Sawamura menggumam berpikir. "Terlalu beruntung? Terlalu diuntungkan? Aku tidak suka itu."
Kazuya mengangkat satu alis tinggi, antusiasme membanjiri dadanya. Satu pihak bersikap begitu gentle dan penuh perhatian, pihak lainnya terlalu polos dan naif. Sungguh kombinasi yang menarik. Kazuya menahan bibirnya untuk tidak tersenyum, mungkin kalau dipancing sedikit lagi…
"Sawamura, tidakkah kau pernah berpikir Chris melakukan semua kebaikan itu agar kau sadar akan sesuatu?"
Sawamura mengerutkan alis, memincing tak mengerti. "Menyadari apa?"
Dia menyukaimu, Idiot! Kazuya menahan gejolak geli itu di ujung lidahnya, menyunggingkan senyum misterius dan mendelikkan bahu. "Entahlah, tapi apa wajar seseorang bisa sebaik itu padamu?"
"He?" Sawamura berkedip. Iris matanya yang begitu cemerlang menatap lugu seperti balita. Kazuya menemukan fakta bahwa ia menikmati bagaimana kepolosan dan rasa penasaran Sawamura bekerja. Mungkin bermain-main dengan hubungan dua orang ini akan menjadi hiburan tersendiri baginya.
"Memangnya ada yang salah dari berbuat baik?"
See? Kazuya tidak mungkin melewatkan kesempatan ini begitu saja. "Well, aku tidak tahu bagaimana di tempat asalmu. Tapi ini Tokyo. Saat orang lain berbuat baik padamu, mereka pasti menginginkan sesuatu darimu."
"Kau menyuruhku mencurigai kebaikan orang lain padaku?"
"Aku tidak menyuruhmu curiga, aku memintamu waspada."
"Waspada…" Sawamura mengumamkan kata itu seakan-akan sebuah kata asing yang baru didengarnya. "Termasuk pada Chris-senpai?"
"Tanpa terkecuali." Kazuya berkata lugas. Ia berniat memberi beberapa stimulus lain yang akan memancing reaksi Sawamura ke arah yang ia inginkan ketika seseorang berjalan ke arah mereka dan menepuk bahu Sawamura.
"Eijun-kun?"
Sawamura menoleh cepat, matanya langsung berbinar. "Haru-cchi!"
Kazuya mengernyit, siapa lagi pemuda kecil ini? Sedekat apa mereka sampai memanggil dengan cara seperti itu?
Yang dipanggil Haru-cchi tertawa geli. "Ohisashiburi desu ne."
Sawamura menangguk bersemangat sampai-sampai Kazuya pikir kepalanya akan terlepas. Pemuda itu menarik tangan Harucchi-nya, lalu menggeser duduknya dan memaksa pemuda kecil itu duduk tepat di sebelahnya. "Bagaimana kabarmu? Kau masih membuat desain, kan? Sudah berapa banyak orang yang memesan karyamu? Sedang apa kau di sini? Ah! Kau tahu? Sulit dipercaya tapi nilaiku lumayan bagus pada semester pertamaku kemarin! Kau harus memujiku! Hahahaha!"
Sawamura menyerocos dengan seru, tertawa geli sambil merangkul pemuda kecil dengan rambut merah muda itu. Gestur yang hangat, begitu dekat, bahkan terlalu dekat. Sementara pemuda yang lebih kecil sama sekali tidak terlihat ternganggu, hanya terkekeh maklum dan menatap Sawamura dengan pandangan tak kalah hangatnya. "Eijun-kun selalu penuh energi, ya?"
"Tentu saja!" Sawamura menepuk dadanya bangga. "Sawamura Eijun akan selalu penuh semanngat dan membagikan energi positif kepada orang lain!"
…
"Kau kelihatan cukup dekat dengan orang tadi." Ujar Kazuya retorik, pandangannya tetap fokus ke jalan lebar di depannya selagi menyetir.
"Harucchi adalah teman pertamaku!" Kata Sawamura bersemangat. Terdengar bangga seakan mengumumkan bahwa ia mencetak rekor dunia.
Kazuya hanya tersenyum samar. Sawamura lanjut bercerita soal bagaimana ia bertemu dengan Kominato Haruichi, seperti apa kedekatan mereka, hal-hal positif yang ia suka dari Kominato, bahkan menambahkan pujian dan harapannya kepada sang teman. Kazuya, duduk di balik kemudi, mendengarkan dengan pikiran berkelana ke dimensi yang berbeda. Mengingat kembali setiap pertemuannya dengan Sawamura Eijun.
Kazuya menarik napas, melirik pada Sawamura dengan senyuman tak seimbang di satu sisi bibirnya. "Sawamura, apa kau gay?"
Senyuman dan ekspresi bahagia di wajah Sawamura seketika pupus. Berganti dengan garis keterkejutan yang secara nyata menggores kemarahan dan dipantulkan oleh sepasang iris emasnya. "Apa maksudmu!?"
Lagi, batin Kazuya. Akhirnya ia berhasil memanggil nada suara dan ekspresi pahit itu lagi. Sesuatu dalam hati Kazuya berbisik untuk meluruskan keadaan dan meminta maaf, tapi keangkuhan dan adrenalin menantang yang melekat pada harga dirinya justru menggerakkan bibirnya untuk membentuk sebuah senyuman yang tak ramah. "Aku bertemu denganmu empat kali, dan kau selalu bersama laki-laki yang berbeda. Pertama di toilet, seorang pemuda memelukmu saat itu, kau ingat? Lalu aku melihatmu berduaan dengan Chris di ruang taekwondo dengan pakaianmu yang setengah terbuka. Hanya berdua, tak ada anggota lain, dan hari sudah gelap. Ketiga, kemarin malam, aku kembali melihatmu jalan bersama seorang pemuda lainnya. Dan tadi, huh?" Kazuya berkata dengan nada penuh kemenangan. Mengerling pada Sawamura dan mengedipkan sebelah matanya. "Kau sangat serakah, Sawamura. Katakan, bagaimana bisa kau membagi waktumu dengan banyak laki-laki seperti itu? Apa masih ada yang lain? Berapa banyak teman dekat yang kau punya?"
Wajah Sawamura merah padam, tatapannya mengeras karena marah. "Kau menghinaku, Miyuki Kazuya?"
"Aku hanya menganalisa dari berbagai kejadian yang ada."
Ketika rahang Sawamura mengetat, Kazuya tahu ia telah melanggar batasan. Tapi ia tidak bisa mengambil langkah mundur atau berhenti. Sesuatu dalam dirinya memaksanya untuk tetap mendorong Sawamura ke tepi jurang dan memancing kemarahannya hingga akhir. "Well, aku tahu hidup sebagai kaum homoseksual cukup berat, tapi setidaknya bisakah kau memilih satu orang saja alih-alih membiarkan dirimu telibat bersama banyak pria? Bukankah itu murahan?"
Sawamura mendengus dengan kasar. Tatapan matanya tajam akan sakit hati dan kebencian. "Aku tidak tahu seberapa menyedihkan kehidupan sosialmu hingga kau mengganggap memiliki banyak teman sejenis berarti gay, Miyuki Kazuya." Suara Sawamura lebih tenang dan lebih dingin dari yang ia duga. "Tapi bicara soal murahan, bukankah kau yang sebenarnya paling murahan di sini?"
Kazuya menoleh sebentar, mendapati Sawamura telah meniru ekspresi dan tatapan menghinanya dengan begitu sempurna. "Kau keluar-masuk klub malam dan selalu bersama wanita yang berbeda. Kau bercumbu dengan banyak gadis yang baru kau temui, membiarkan mereka duduk di pangkuanmu, menjilati wajahnmu dan merangkak di tubuhmu. Apa kau menghitungnya? Berapa banyak? Dua puluh? Lima puluh? Seratus? Seberapa sering kau meniduri wanita? Berapa banyak dari mereka yang kau paksa aborsi karena mengandung hasil nafsu bejatmu?"
Rem diinjak kuat. Kazuya menoleh untuk menatap seutuhnya pada Sawamura. "Jaga bicaramu, Sawamura Eijun."
Kazuya selalu bisa menanggapi semua tuduhan seperti itu saat Kuramochi yang melontarkan. Kazuya selalu mengatasinya tanpa sedikitpun merasa kesal, tapi sekarang? Mengapa ia begitu marah dan merasa terluka saat Sawamura yang mengatakannya?
"Kau pikir aku jenis laki-laki seberengsek itu? Pikirmu, aku tak masalah meniduri perempuan manapun yang secara random kutemui di klub malam?" Kazuya mendengus keras. "Perhatikan dengan siapa kau bicara, Sawamura. Aku bisa menjebloskannmu ke penjara dalam hitungan detik atas tuduhan pencemaran nama baik."
"Pencemaran nama baik?" Sawamura tertawa datar. "Kau bisa melaporkanku sesukanya sementara aku harus terima dengan semua tuduhan yang sebelumnya kau timpakan di atas namaku, begitu? Kau pikir hanya kau yang punya nama baik!?" Sawamura mengumpulkan suara geraman di tenggorokannya seakan ia akan meludahkan racun. Lalu tanpa kenal takut, ia menatap lurus ke mata Kazuya. "Berengsek!"
Mata Sawamura terbakar oleh rasa benci, dan semua garis ekspresi di wajahnya melambangkan kemarahan.
"Turun." Kazuya berkata dingin. "Turun dari mobilku sekarang."
Sawamura sama sekali tidak menolak gagasan itu. "Oh, tentu. Dengan senang hati." Ia melepaskan sabuk pengaman lalu membuka pintu mobil dan turun. Tepat sesaat sebelum menutup pintu mobil, Sawamura membungkuk hingga mata mereka kembali bertemu.
"Aku merasa benar-benar idiot karena menganggap kau mungkin tidak seburuk itu, Miyuki Kazuya. Ternyata aku salah. Sifat dan mulut keparatmu benar-benar tak tertolong." Ia menyeringai tajam lalu menodongkan gestur jari tengah pada Kazuya. "FUCK OFF!"
Sawamura membanting pintu mobil dengan keras lalu menendangnya penuh kemarahan sebelum menepi ke trotoar dan pergi dengan dramatis.
...
Kazuya berbaring di kamar tidurnya. Punggung tangan kanan berada di kening dan menutupi sebagaian wajahnya selagi pikirannya terus mengulang apa yang beberapa menit lalu terjadi di antara dirinya dan Sawamura.
Sawamura adalah orang yang mudah teralihkan, Kazuya bisa dengan mudah menjauhi topik itu dan menghindari masalah, tapi kenapa ia justru memilih tenggelam di dalamnya? Kau tidak harus mengusirnya keluar dari mobilmu, astaga! Sekarang dan untuk selamanya, Sawamura pasti menganggapnya bajingan sejati. Dan Kazuya benci karena ia peduli akan hal itu.
Ponselnya bergetar. Kazuya membuang napas kasar dan merogoh ke dalam saku, tanpa melihat nama pemanggil ia menggeser layar dan menempelkan ponselnya ke telinga.
"APA KAU GILA!?"
Telinga Kazuya berdenging, tangannya secara otomatis menjauhkan ponsel dari telinga. "Itu perntanyaanku, Mochi. Apa kau gila? Telingaku bisa pecah."
Kuramochi mengumpat di sebrang telepon. "Kau benar-benar keterlaluan, Miyuki. Kau bukan hanya meninggalkanku semalam, tapi juga tidak pulang ke rumahmu dan memberiku banyak masalah. Kau apakan ponselmu sepanjang malam, huh? Kau sama sekali tidak menjawab dan aku terpaksa memutar otak saat ibumu menanyakanmu padaku!"
Mata Kazuya melebar, tanpa menjawab omelan panjang Kuramochi ia menjauhkan ponsel dari telinganya dan mengecek daftar panggilan masuk, banyak sekali panggilan tak terjawab dari ibunya, beberapa dari Kuramochi dan dua pesan belum dibaca dari sang ibu.
'Kazuya, kau menginap di tempat Kuramochi-kun? ' [22.05]
'Hubungi ibu setelah kau membaca ini.' [22.30]
Kazuya merutuk dalam hati. Mengingat bahwa ponselnya diatur dalam mode getar dan dilemparkan ke jok belakang mobilnya begitu saja usai percakapan singkatnya dengan Kuramochi.
"OI! KAU DENGAR AKU!?"
"Ya, ya." Kazuya menyahut malas. "Terima kasih atas bantuanmu. Aku akan urus sisanya."
"Ke mana saja kau semalam? Kau tidak pulang? Ke mana kau membawa anak itu? Kau apakan dia?"
"Kenapa aku merasa sedang diintrogasi?"
"Kerena kau sangat aneh semalam! Kau tahu-tahu menyeret Sawamura begitu saja keluar klub. Kau bahkan tidak menjelaskan apa-apa padaku. Ada apa denganmu?"
Kazuya menekan titik jarak di antara kedua alisnya, mendadak pening dengan semua hal yang terjadi. "Aku ada sedikit urusan dengannya. Aku... entahlah, aku hanya berpikir untuk membawanya pergi dari sana."
Selama beberapa saat, Kuramochi tidak menyahut. Kemudian Kazuya mendengar pemuda itu menghela napas. "Kau baru pulang?"
"Aku sampai rumah sekitar sepuluh menit lalu."
"Kau... bersama Sawamura sepanjang malam?"
"Yep, aku bahkan sarapan dengannya. Kau senang?"
"Kau benar-benar bersamanya semalaman!? Sialan, ke manakau membawanya? Hotel!?"
Kazuya mengernyit. "Aku tidak membawanya ke hotel, apa yang membuatmu berpikir begitu? Kami hanya di mobil sepanjang malam dan—"
"DI MOBIL!? Oh, dasar bajingan! Kau menyeretnya untuk melakukan itu di mobil? Aku tidak tahu kau semesum ini!"
"Mesum!?" Pekik Kazuya tak percaya. "Oi, sebenarnya apa yang kau bicarakan?"
Kuramochi justru mengeluarkan suara seperti dengusan kasar. "Tidak usah sok polos, Miyuki. Aku hanya tidak menyangka kau mengambil langkah secepat itu, tapi setidaknya bersikaplah lebih gentle! Di mobil, huh? Seleramu benar-benar porno!"
"What!?" Kazuya bergerak dari posisi berbaring menjadi duduk. "Kuramochi, kau sepertinya salah paham. Aku tidak—"
"Yeah, yeah, terserah." Potong Kuramochi tak peduli. "Aku lebih simpati pada anak itu sekarang."
"Buat apa simpati padanya?"
"Karena kau bajingan! Geez, pokoknya jangan lupa hubungi ibumu. Katakan saja kau menginap di rumahku alih-alih menyerang anak sembilan belas tahun di dalam mobil. Sudah ya, bye!"
"Tunggu! Kuramochi—"
Tut. Tut. Tut.
Kazuya memandangi layar ponselnya dengan mulut menganga. Apa katanya tadi? Apa yang Kuramochi pikirkan tentangnya dan Sawamura? Apapun itu, pikir Kazuya, bukan hal yang bagus dan harus ia luruskan ketika bertemu dengan Kuramochi nanti. Kazuya menyelakan kembali layar ponselnya, menuju panel telepon dan menekan angka satu. Bersama tarikan napas panjang, Kazuya menggerakkan ponsel ke telinga, bersiap bicara dengan sang ibu.
…
"Wajahmu menyeramkan, Sawamura."
Eijun tidak butuh Shinji mengomentari wajahnya. Tangannya mengenggam sumpit dengan begitu kuat hingga urat-urat kehijauan di punggung tangannya menyembul seperti Hulk yang hendak bertrasformasi. Menatap semangkuk ramen yang tersaji di hadapannya dengan penuh kebencian, lalu mengaduk dengan gusar.
"Kau akan membuat ramennya hancur sebentar lagi." Shinji berkata, menatap prihatin pada mangkuk ramen Eijun yang bentuknya mulai hancur.
"Aku akan membuatnya jadi bubur." Sahut Eijun sewot. "Aku akan mengacak-acaknya, mencincangnya jadi kecil-kecil, lalu melumatnya sampai mencair!"
Shinji meringis. "Sawamura, kalau kau memang ingin makan bubur kenapa kau pesan ramen?"
Eijun mengabaikannya, menaikkan tempo adukan dan kekuatannya. "Aku akan menjadikannya umpan hiu. Atau macan, atau buaya, atau anjing liar!"
Shinji sepertinya mulai kehilangan selera makan karena kini ramen di mangkuk Eijun bentuknya lebih mirip muntahan. "Aku bahkan tidak yakin binatang-binatang itu mau memakannya."
Eijun mendengus gusar. Membayangkan wajah Miyuki Kazuya di dalam mangkuknya dan meluapkan semua kemarahannya ke sana. Ia tidak peduli dengan kenyataan bahwa ini sudah tiga hari berlalu sejak kali terakhir ia bicara dengan Si Keparat itu. Amarah di dadanya masih belum sepenuhnya reda. Eijun bisa bersikap wajar selama jam kuliahnya, mengobrol dengan teman atau yang lain, tapi api kemarahan itu bisa tiba-tiba berkobar lagi dan membuatnya ingin menghancurkan segala hal.
"Mangkukmu akan terbakar sebentar lagi." Shinji berkomentar, Eijun tahu saat ini temannya itu pasti memandangnya dengan tatapan aneh. Sudah tiga hari ia seperti ini, Shinji bahkan telah memaksanya berkali-kali untuk bercerita, tapi Eijun menjadi terlalu emosional tiap kali hendak membuka mulut dan menceritakan kejadian itu.
"Sebenarnya apa yang membuatmu begitu marah?" Shinji menghela napas lelah. "Kau bahkan tidak semarah ini saat bertengkar dengan Azuma-san. Jadi siapa yang membuatmu marah kali ini, Sawamura?"
Eijun mendongak, melayangkan tatapan tajam pada temannya. "Orang ini seribu kali lebih parah dari Azuma-san. Jika dibandingkan dengan orang ini, Azuma-san terlihat seperti malaikat. Kau bisa bayangkan itu? Ya! Si Berengsek ini memang separah itu!"
Hidung Shinji berkerut. "Apa memang separah itu? Kau yakin bukan kau yang terlalu dramatis dan hiperbol?"
Eijun balas mencebik. "Aku yakin Tuhan akan berterima kasih padaku jika aku berhasil membunuhnya. Melenyapkan satu iblis jahat pasti setara dengan menyelamatkan satu juta umat manusia."
"Ha?" Shinji mengangga. "Kau bicara apa, sih?"
Alih-alih menyahut, Eijun justru menyambar bungkusan wasabi di atas meja. Menuang tiga bungkus sekaligus ke dalam mangkuknya, lalu ia menambahkan setengah gelas jus jeruk, souyu, bahkan meremas sisa keripik kentangnya dan menaburkannya di atas mangkuk. Eijun mengaduk lagi, lebih beringas.
"Sawamura," Shinji menatap ngeri. "Sebenarnya kau mau membuat apa?"
"Racun." Sahut Eijun spontan. "Kau punya sianida? Serbuk meisu? Potongan silet?"
Shinji menggosok telapak tangan ke masing-masing lengannya, mengusir rasa merinding dan horror yang tiba-tiba mampir. "Kau terlihat seperti psikopat, Sawamura. Hentikan itu."
Eijun mendongak dari mangkuk, cemberut menatap Shinji. "Bukankah seharusnya kau bilang aku keren?" Protesnya tajam, meletakkan sumpit dengan keras di atas meja lalu menghela napas berlebihan. "Aish, Kanemaru Shinji! Adegan ini masuk dalam film action bukannya horror!"
Shinji memberinya pandangan kebingungan. "Kau melantur. Oi, sadarlah, aku tidak mengerti sama sekali apa yang kau katakan!"
Eijun berdecak, mencondongkan diri ke arah Shinji dan menatap matanya lurus-lurus. "Kau lihat bagaimana mataku tadi? Penuh kebencian, dendam, hasrat kuat untuk melawan balik dan menegakkan keadilan! Kau bisa merasakan aura di sekitarku?" Eijun menggerak-gerakkan tangan di sekeliling tubuhnya. "Di sini, aura gelap yang mengelilingi sekujur tubuhku. Udara menjadi dingin, dan suasana menjadi sangat mencekam! Kau seharusnya bisa merasakannya! Ini bagian terpenting di mana tokoh protagonis terlalu lelah karena disakiti berulang-ulang lalu akhirnya membangkitkan sisi gelap dalam dirinya! Kenapa kau tidak bisa membaca situasi? Aish!"
Shinji menatapnya lama, diam, berkedip, mencoba membaca informasi. Kemudian pemuda itu tersenyum.
"Kau paham sekarang?" Eijun bertanya seperti guru yang marah. "Kau sudah mengerti?"
Shinji masih mempertahankan senyum di bibirnya, lalu pemuda itu mengangguk.
"Nah!" Eijun memukul meja dengan penuh semangat. "Itu! Seperti itulah seharusnya teman dari Sawamura Eijun! Tangkas dan cepat tanggap!"
"Ne." Shinji menyahut manis, tersenyum lebar lalu menggerakkan tangannya dalam isyarat agar Eijun mendekat. Eijun mendekat dengan heran, berpikir bahwa Shinji mungkin ingin memuji atau membisikkan rencana cemerlang untuknya. Namun pemuda itu justru—
"ITTA!"
—menjitak ubun-ubunnya dengan keras.
"OI! Kenapa kau menjitak kepalaku!?" Eijun mundur kembali dan melotot marah, mengusap puncak kepalanya yang ngilu. "Itu sakit!"
Shinji justru menggertakkan gigi dan terlihat lebih kesal. "Aku pikir kau adalah yang terbodoh dari semua orang yang pernah kutemui, Sawamura. Ternyata aku salah, aku adalah yang paling bodoh karena masih meladeni kebodohanmu."
Eijun memanyunkan bibir. "Tadi kau mengatakan kalau aku menyeramkan, sekarang kau bilang kalau aku bodoh. Kenapa kau tidak punya pendirian yang tepat sebagai laki-laki? Bukankah kau seharusnya—"
"Yo, Sawamura!"
Eijun nyaris tersedak akibat pukulan keras yang datang terlalu tiba-tiba di balik punggungnya. Sambil meringis, Eijun menoleh. Langsung disambut dengan cengiran lebar dan kekehan tawa melengking yang membuatnya merinding.
"Kyahahaha! Akhirnya kita bertemu lagi di kampus!"
Eijun membuka mulutnya yang terasa kering, memaksakan cengiran ketika Kuramochi mendorong tubuhnya dan memaksnya bergeser lalu pemuda itu duduk tepat di sebelahnya, merangkulnya nyaris terlalu erat sampai Eijun merasa ia bakal dicekik mati. "Kuramochi-senpai," Eijun menelan ludah. "Apa kabar?"
Kuramochi terkekeh, menepuk-nepuk bahu Eijun dengan keras dan menyatakan bahwa ia dalam keadaan sehat luar biasa. Lalu pemuda itu tersadar ada Shinji duduk di hadapan mereka, terpisah meja. Kuramochi mengulurkan tangan pada pemuda itu dan menyeringai lebar. "Hai, kau temannya Sawamura yang di toilet waktu itu, kan?" Kuramochi memastikan. "Kuramochi Youichi." Ia lanjut memperkenalkan diri.
Shinji berusaha mengusir tampang melongo dari wajahnya dan berdeham kecil lalu menyambut tangan Kuramochi tegas. "Kanemaru Shinji. Salam kenal, Senpai."
"Kuramochi,"
Ketiganya menoleh kompak. Eijun langsung merasakan empedunya bocor dan rasa pahit membanjiri sekujur tubuhnya begitu mendapati sosok Miyuki Kazuya berdiri di dekat Kuramochi. Miyuki membuang napas berat, melirik sekilas padanya yang langsung dibalas dengan tatapan permusuhan telak. Miyuki mengabaikan, kembali menatap Kuramochi. "Kenapa kau tiba-tiba lari ke sini?"
Kuramochi berdecak. "Karena aku adalah senpai yang ramah pada kouhai. Tidak seperti kau yang dingin, kejam, dan sinis!"
Eijun melihat bagaimana alis Miyuki berkerut tak senang atas bentakan Kuramochi. Kemudian ia merasakan rangkulan Kuramochi mengerat pada bahunya yang membuatnya kembali menoleh pada pemuda itu. "Bukan begitu, Sawamura?"
Eijun secara reflek mendengus kasar, melipat bibirnya menjadi seringai bengkok sebelum mendongak untuk menatap dingin pada Miyuki.
"Whoa, lihat itu! Sepertinya Miyuki memang membuat banyak masalah padamu, huh?"
Eijun tidak menjawab, tapi telapak tangannya mengepal kuat hingga bisa merasakan gerakan denyut nadi di tangannya sendiri.
"I got it, I got it." Kata Kuramochi lagi. "Ayo bicara denganku, Sawamura. Kau pasti butuh meluapkannya."
Sebelum Eijun sempat bertanya, Kuramochi sudah menarik tangannya. Berjalan sambil setengah menyeretnya untuk memisahkan diri dan menjauh dari Miyuki dan juga Shinji.
"Aku sudah dengar garis besar ceritanya." Kata Kuramochi begitu mereka memisahkan diri cukup jauh dan duduk saling berhadapan dengan empat keleng soda di atas meja. "Aku bisa maklum kalau kau kesal padanya. Dia memang berengsek."
"Deshou!?" Sahut Eijun bersemangat. "Aku benar-benar ingin menjahit mulutnya!"
Kuramochi mengangguk maklum. "Aku sudah bertahun-tahun mengenal Miyuki, tapi kali ini tindakannya padamu benar-benar keterlaluan. Aish! Bahkan mendengarnya saja membuatku ikut malu!"
Eijun mengagguk kuat, ia tidak benar-benar mengerti mengapa Kuramochi ikut kesal, tapi ia menurut saja saat Kuramochi membukakan satu kaleng soda dan mengajaknya bersulang. "Kalau kau ingin mengguburnya, aku yang akan menyiapkan sekop untukmu."
"Dia bahkan menurunkanku di tengah jalan begitu saja."
Kuramochi tersedak. "A-apa!?"
Eijun mengangguk muram dan benci. "Dia menyuruhku turun dari mobilnya begitu saja. Mengusirku keluar setelah semua hal yang dia lakukan. Keterlaluan, kan?"
"Sial!" Kuramochi menggeram. "Aku benar-benar tidak habis pikir dia bisa sebejat itu."
Eijun mengangguk sepakat. "Tapi aku sedikit lebih baik setelah memberinya jari tengah, membanting dan menendang pintu mobilnya."
Kuramochi berkedip. "Jadi goresan di pintu mobilnya itu ulahmu?"
Eijun mengerjap kaget. "Mobilnya sampai tergores?" Ia melotot tak percaya. "Aku tidak sadar aku menendang sekeras itu."
"Yeah, pintu mobilnya memang tergores. Meski tidak terlalu parah, tapi aku tahu betul Miyuki paling tidak suka ada lecet atau baret sepele di mobil kesayangannya."
Eijun menelan ludah, mendadak gugup. "Dia marah?"
Kuramochi menggeleng. "Itulah yang membuatku heran. Dia sama sekali tidak terlihat kesal dan hanya memandangi goresan itu sekilas, lalu berkata bahwa ada anak anjing yang mengamuk di dekat mobilnya."
"Anak anjing!?" Pekik Eijun tak percaya. "Dia menyebutku anak anjing!?"
"Calm down, boy." Kuramochi berusaha bicara dengan tenang, memberi Eijun tepukan ringan di bahunya. "Ku rasa sebaiknya kau simpan nomorku, sewaktu-waktu kalau kau butuh bantuan untuk menghadapi Miyuki, aku akan usahakan datang secepat mungkin."
Dan dengan begitu, satu nomor masuk mengisi daftar kontak di ponsel Eijun dengan nama Kuramochi-senpai.
…
Kazuya duduk berhadapan dengan Kanemaru dalam situasi canggung. Kuramochi sudah membawa kabur Sawamura selama sepuluh menit dan belum ada tanda-tanda mereka akan kembali. Entah apa saja yang kedua orang itu bicarakan, Kazuya hanya punya firasat buruk tentangnya.
Kanemaru berdeham kecil, membuat Kazuya menatap pemuda berpotongan rambut semi cepak itu dengan alis terangkat samar. Kanemaru tersenyum tipis, tampak sopan dan ramah. "Aku tidak punya maksud tertentu, tapi aku rasa perlu memberitahu Miyuki-senpai bahwa sikap dan sifat Sawamura memang agak tidak biasa yang seringkali membuat orang kesal."
Kazuya mengangkat alis tinggi. "Maksudnya?"
"Dia impulsif, super naif, banyak omong, keras kepala dan berisik." Kanemaru menarik napas dan menghembuskannya cepat, menatap Kazuya dan tersenyum dengan jujur. "Tapi sebenarnya itu semua karena dia terlalu polos dan jujur. Apapun yang Sawamura katakan, dia tidak punya maksud untuk menyinggung atau melukai perasaan orang lain secara sengaja. Kecuali, jika sebelumnya ia dipancing lebih dulu atau ada yang memicu kemarahannya. Sawamura juga punya rasa kepedulian yang tinggi dan tidak akan tahan jika ada seseorang dihina atau direndahkan di depan matanya. Kepedulian dan kemurnian hatinya itu membuatnya lebih sering terlihat bodoh." Kanemaru mendengus, tersenyum geli. "Tapi sebenarnya, saat kita benar-benar mengenal Sawamura, mustahil untuk membencinya."
Kazuya mencerna satu demi satu perkataan Kanemaru dalam kepalanya. Semua tentang Sawamura yang diungkapkan oleh Kanemaru terdengar seperti kejujuran dan tidak dibuat-buat.
"Kelihatannya kalian cukup dekat sampai kau bisa mendeskripsikan pribadinya seperti itu."
Kanemaru berkedip. "Ah, itu karena aku sudah nyaris satu tahun tinggal dengannya."
"Kau roommatenya?"
"Yep." Sahut Kanemaru lugas. "Tapi mulai bulan depan aku tidak akan jadi roommate Sawamura lagi." Kanemaru menghela napas. "Sejujurnya ini membuatku agak resah harus meninggalkannya karena anak itu benar-benar jagonya membuat masalah."
"Dia pasti bisa menjaga dirinya sendiri." Kata Kazuya bahkan sebelum sempat berpikir. Kanemaru menatapnya terbengong, dan Kazuya sendiri mencoba untuk tidak tampak bodoh karena ia bahkan tidak tahu mengapa bisa mengatakan hal seperti itu. "Maksudku, meskipun dia kena banyak masalah, dia punya banyak teman di sekelilingnya yang akan selalu membantu, bukan begitu?"
Kanemaru mengangguk dan tersenyum positif. "Ya, kurasa begitu."
Kazuya akhirnya menghembusakan napas yang entah sejak kapan ditahannya. Ia menunduk kecil, mendapati semangkuk hidangan aneh tersaji di atas meja. Alisnya berkerut, mata memincing mencoba mengenali jenis makanan apa yang ada di dalam mangkuk. Menyerah,Kazuya akhirnya menoleh pada kanemaru. "Ini apa?"
"Oh." Kanemaru tersenyum miring. "Itu milik Sawamura."
"Jenis makanan apa ini?"
Kanemaru tertawa kecil. "Sebelumnya itu adalah semangkuk ramen. Tapi dia telah mengubahnya jadi racun mematikan. Dia terus mengaduk-aduk ramennya sampai menjadi bubur sambil mengumpat dan merapalkan kutukan tiada henti. Lalu dia mulai mencampurkan macam-macam hal ke dalamnya." Kanemaru bergidik. "Itu pasti senjata pembunuh massal."
Kazuya mengolah informasi itu dalam otaknya. Sensasi geli mekar dan menyebar di dasar perut hingga membentuk jalur naik sampai ke bibirnya. Tanpa sadar, ia tersenyum sambil menatap mangkuk di hadapannya.
…
"Sebenarnya apa maumu!?" Eijun berbalik, menggerang habis kesabaran sambil memelototi Miyuki Kazuya yang terus mengikutinya sejak ia keluar dari kelas.
Miyuki tidak menyahut, bergeming di tempatnya berdiri. Ekspresinya tetap datar dan terkontrol dengan baik, berdiri di sana dengan pose model fashion show.
Eijunmemberi pemuda itu tatapan setajam silet. "Cepat katakan apa maumu dan berhentilah membuntutiku! Keberadaanmu di sekitarku membuatku merasa sedang diikuti malaikat maut! Teman-temanku bahkan jadi segan mendekat karena kau memancarkan aura senioritas tinggi!"
Miyuki tetap tidak menjawab. Bahkan sama sekali tidak terlihat terpengaruh, merasa bersalah, atau menunjukkan reaksi lainnya. Lagi-lagi, Eijun merasa seperti radio rusak yang bicara sendirian. Eijun mendengus tak habis pikir, mengambil tiga langkah mendekat pada Miyuki dan mendongak sedikit agar mata mereka bisa saling bertatapan.
"Cepat katakan apa keperluanmu, Miyuki Kazuya! Atau aku akan melaporkanmu dengan tuduhan menguntit!"
Miyuki pada akhirnya menunjukkan sebuah reaksi. Dengusan napas yang tampak seperti hinaan konyol seakan kata-kata Eijun barusan adalah lelucon yang buruk. "Aku sangat terkesan dengan imajenasimu, Sawamura."
"Lantas apa? Kau terus mengikutiku tanpa mengatakan apa-apa! Itu menguntit namanya!"
Miyuki kelihatan tertekan dan ingin lari dari sutuasi ini. "Aku juga tidak suka ini, oke?" Rahangnya mengetat. "Kuramochi yang memaksaku melakukan ini."
"Kuramochi-senpai?" Sahut Eijun tak percaya. "Buat apa dia menyuruhmu membuntutiku?"
Miyuki sepertinya tidak suka dengan cara bagaimana Eijun menyebutnya membuntuti. Pemuda itu membuang muka singkat, mengumpat kecil lalu menghela napas kasar sebelum kembali bertatapan dengan Eijun. "Katanya aku mungkin harus bicara padamu soal kejadian beberapa hari yang lalu."
Eijun mengangkat satu alisnya tinggi. "Kau… mau minta ganti rugi karena aku membuat mobilmu tergores?"
Miyuki memaksakan senyuman, tampak kaku dan getir di bibirnya. "Bukan." Ia menyahut singkat yang nyaris terdengar ketus. "Dia bilang apa yang kulakukan padamu tempo hari mungkin sudah keterlaluan dan membuatmu kesal, marah, tidak nyaman, atau apalah. Dia mengancam dan mendesakku untuk bicara padamu dan… well, melakukan tindakan perbaikan yang mungkin bisa membuatmu merasa lebih baik dan sebagainya. Juga, mungkin sudah saatnya aku berhenti menambah daftar musuh atau orang-orang yang membenciku." Miyuki menghela napas, mengangkat bahunya. "Jadi, kalau ada yang kau butuhkan sekarang atau apapun, aku akan berusaha membuatnya lebih mudah sebagai timbangan kebaikan dalam presentase seimbang atas apa yang kulakukan tempo hari padamu. Kau tahu, menambahkan lebih banyak air bersih agar kotorannya terangkat ke permukaan dan pada akhirnya bisa hilang… begitulah. Jadi, apa ada yang kau inginkan?"
Eijun tidak mengerti apa yang sebenarnya coba dikatakan oleh Miyuki. Kenapa pemuda itu bicara berputar-putar? Jadi Eijun hanya memiringkan kepala, berkedip-kedip memandanginya dan mencoba memaksa otaknya untuk bekerja. Beberapa menit, Miyuki seolah menantikan dengan tak sabar namun memaksakan diri untuk tetap berdiri di depan Eijun. Rahangnya terkatup keras, dan matanya seakan memaksa Eijun untuk tidak bertanya lagi. Namun tetap saja… "Aku tidak mengerti." Sahut Eijun pasrah.
Miyuki terlihat seakan dipaksa menelan racun. "Aku sudah menjelaskannya dengan cara yang paling sederhana. Kenapa kau masih tidak mengerti?"
"Kenapa kau jadi sewot!?" Sahut Eijun galak. "Kau bicara berbelit-belit! Katakan saja langsung ke intinya!"
Miyuki membuang napas berat. "Aku bicara soal kesalahan yang mungkin kulakukan padamu tempo hari. Aku sedang mencoba mencaritahu apa yang kau butuhkan agar bisa memperbaiki kesalahanku."
Kali ini, Eijun memilih diam sejenak dan membaca situasi dengan lebih cermat. Satu pemikiran melintas di benaknya. Dengan pelipis berkerut dan alis mengernyit ragu, Eijun menatap penuh kesangsian pada Miyuki. "Kau… sedang berusaha minta maaf padaku?"
Ekspresi yang dibuat Miyuki terlihat seakan barusaja menelan tikus. Garis-garis di seputar bibirnya berkedut kaku dan tak wajar. "Terserah kalau mau menganggapnya begitu." Katanya, lalu mengalihkan tatapan ke arah lain.
"Hah?" Eijun sukses mengangga tak percaya. "Itu caramu minta maaf?" Pekiknya kaget. "Kau bahkan tidak mengucapkan kata maaf sama sekali. Kau justru bicara berputar-putar dan membawa-bawa timbangan kebaikan segala!"
Miyuki meminjit pelipisnya, menarik napas dan membuangnya cepat, kelihatannya sedang berusaha untuk sabar. "Aku tidak terbiasa dengan situasi ini, oke?"
"Maksudnya kau tidak terbiasa minta maaf lebih dulu?"
Miyuki tak menyahut, tapi juga tak menunjukkan reaksi bantahan. Hal yang sukses membuat Eijun membeliak tak percaya. "Are you kidding me!? Dengan semua kepribadian absurd dan kebangasatanmu itu, kau tidak pernah minta maaf lebih dulu!?"
"Aku selalu dimaklumi. Orang-orang biasanya mengemis untuk bisa dekat denganku, jadi apapun yang kulakukan, mereka akan menerimanya."
Eijun mengangga selebar tiga jari. "Kau pasti bercanda…"
"Aku tidak bercanda."
"Kapan terakhir kali kau bilang maaf pada orang lain?" Cecar Eijun penasaran, ia bahkan sudah lupa dengan rasa kesalnya pada Miyuki. Kini ia sangat prihatin pada pemuda menyedihkan yang tak bisa bilang maaf.
"Tidak ingat."
Eijun menggeleng dan terbengong. "Berapa usiamu sekarang?"
"Dua puluh satu."
"Kau dua puluh satu tahun dan tidak bisa bilang maaf!? Astaga, ini tidak bisa dibiarkan!" Eijun mendadak bersemangat. Tangannya bergerak untuk menepuk-nepuk bahu Miyuki dan memberinya tatapan perlindungan. "Tenang saja, aku akan membantumu. Aku akan mengajarimu caranya minta maaf. Aku lumayan jago membuat orang marah, jadi aku berpengalaman dalam urusan ini. Kau akan belajar pada orang yang tepat."
…
Kazuya duduk di kursi belajarnya sambil mengingat kembali kejadian beberapa jam yang lalu. Sawamura Eijun dengan mata teguh penuh pendirian, kekuatan antusiasme yang melekat memenuhi ekspresinya, juga cara bagaimana pemuda itu memaksa Kazuya terus mengulang permohonan maaf secara berkala, dilengkapi dengan nada suara khusus, tatapan mata, bahkan garis ekspresi penyesalan dan permohonan. Rasanya Kazuya bagai dilatih berakting.
Ekspresimu terlihat tidak ikhlas! Kau sedang minta maaf, kenapa kau terlihat tertekan begitu, sih? Sawamura bersungut menatapnya, menyilang tangan di depan dada dengan tatapan angkuh seakan ia ahli segalanya. Buatlah ekspresi menyesal, bersalah, dan menderita! Kau harus bisa menarik rasa iba! Ia ceramah dengan heboh sambil membuat gestur-gestur aneh dengan kedua tangannya. Tampaknya sama sekali tidak peduli mereka sedang di halaman kampus dan beberapa orang memandangi mereka dengan ekspresi aneh.
Latih dirimu di depan cermin. Kau harus latihan setiap pagi dan malam sebelum tidur. Tiga hari kedepan, datanglah padaku dan coba minta maaf, aku akan menilai perkembanganmu. Adalah bagaimana akhirnya Sawamura menyerah dan mengizinkan Kazuya pergi. Dia bahkan menggerutu seakan Kazuya anak kecil yang sulit diajari, terus menerus bergumam soal Miyuki Kazuya yang payah dan menyedihkan.
Dan di sinilah Kazuya sekarang, duduk bersandar setelah selesai mengerjakan semua papernya, mendengus geli mengingat tingkah pemuda bermata secemerlang emas dua puluh empat karat itu. Bahkan sampai detik ini, Kazuya belum juga berhasil meluruskan kesalah pahaman Kuramochi karena temannya itu justru sibuk mendorongnya untuk meminta maaf pada bocah sembilan belas tahun bernama Sawamura Eijun.
Kazuya menghembuskan napas panjang, matanya terpaku pada laci meje belajarnya. Teringat beberapa hari yang lalu ia memasukkan berkas dari Kuramochi ke dalam sana. Berkas yang sama sekali belum dibaca atau disentuhnya pasca dipindahkan ke dalam laci. Kini, sebuah hasrat tak masuk akal menyelinap ke otaknya, mendorong motoriknya untuk membuka laci itu dan membaca isi berkas tentang Sawamura.
Name: Sawamura Eijun (沢村栄純)
Gender: Male
Birth :Nagano, 15 May
Height/weigh: 175cm/65 kg
Blood type: O
Hair: Brunette
Eyes: Golden brown
Parents: Sawamura Keiji & Sawamura Riku
Gramp: Sawamura Eitoku
Siblings: -
twitter: eijuntheace_
Instagram: eijun_sawamura
Kazuya mengangkat alis, tak dapat menahan hasrat untuk tersenyum karena Kuramochi bahkan mencantumkan akun sosial media Sawamura. Seberapa banyak temannya itu mencari tahu tentang anak ini, huh? Ia membuka lembar kedua berisi riwayat pendidikan Sawamura.
Akagi Elementary School, Akagi Junior High School and go to Matsumoto Agatagaoka High School after refused a scholarship from Inashiro Industrial, Tokyo.
Kazuya tersedak seketika. Melebarkan mata dan membaca ulang. Inashiro? Benarkah ini? Apa Kuramochi bermaksud mengerjainya? Untuk apa Inashiro jauh-jauh ke Nagano dan menawari orang seperti Sawamura beasiswa?
Sport track scholarship, Baseball.
Kali ini Kazuya tersedak keras. Baseball, katanya!? Ia buru-buru membalik sampai ke halaman bakat baseball Sawamura yang telah diberi tanda oleh Kuramochi.
Position: Pitcher
Throws: left
Bast: left
Style: Southpaw
Skills: Cutter, cutter kai, 2-seam fastball, split-finger fastball, circle change-up, palmball, numbers
Alis Kazuya berkerut, di bagian bawah terdapat keterangan bahwa Sawamura memiliki belasan variasi lemparan berbeda untuk numbers. Kuramochi tidak mencantumkannya secara jelas dan merinci, justru menyelipkan paragraf lain sebagai catatan untuk Kazuya.
NB: Aku tahu kau akan terkejut membaca ini. Dia menolak beasiswa ke Inashiro! Bayangkan itu! Bocah ini punya banyak kejutan! Sedikit sekali informasi soal lemparan nomornya, tapi ini menarik, bukan? Kyahaha, aku tahu akan penasaran soal ini XD
Kazuya mendengus geli. Entah Kuramochi punya maksud apa, tapi kali ini Kazuya mulai mencoba membayangkan Sawamura berdiri di atas mound dengan seragam baseball juga mata sekeras besi menghadapi pemukul di depannya. Dan Kazuya mendapati dirinya tersenyum ketika membayangkan bahwa dirinyalah yang berjongkok sebagai catcher untuk Sawamura.
…
"Kau tidak minta latihan tambahan hari ini?"
Eijun menoleh. Chris berdiri di sampingnya dengan alis mata terangkat tipis dan rasa penasaran yang lebih besar tak terucap di bibirnya. Pemuda blasteran itu masih memakai seragam taekwondo lengkap, dengan handuk kecil menggantung di bahu kiri, rambut jatuh menutupi sebagian dahi yang membuatnya tampak jauh lebih santai dan lebih muda.
Eijun menggeleng tipis, melenturkan bibirnya untuk membentuk senyuman mengembang hingga deret giginya muncul sebagai cengiran. "Aku mau sekali." Ia mengaku pada Chris. "Tapi aku ada janji hari ini. Jadi, dengan segala hormat, Chris-senpai, tolong berikan aku latihan tambahan di lain hari!"
"Kau tidak perlu membungkuk." Chris, seperti biasa, akan selalu memegang sebelah bahunya tiap kali Eijun mengatakan keinginannya dengan penuh semangat serta sopan santun berlebih.
Eijun menjawab Chris dengan cengiran lebar, lalu kembali berpaling untuk menyelesaikan sisa perkerjaannya. Melipat seragam taekwondonya dan menjejalkannya ke ransel.
"Janji penting?" Tanya Chris lagi, "Kau bahkan sudah berganti baju."
Eijun memakai backpack di sebelah bahu, menghadap Chris dan menghela napas kecil. "Tidak juga." Ia menjawab, alisnya berkerut samar ketika mencoba membayangkan sejauh apa Miyuki dan permintaan maafnya berkembang dalam tiga hari. "Aku hanya perlu memastikan sesuatu."
Chris menggumam dan mengangguk. Eijun memakai kesempatan itu untuk merogoh ponsel dari saku jinsnya, melihat bahwa ia masih punya dua puluh menit sebelum tiba pada waktu yang telah dijanjikan untuk bertemu Miyuki. Perutnya bergetar tipis dan membuat Eijun berpikir untuk mampir sebentar ke cafetaria dan membeli roti.
"Kau sudah memikirkannya?"
"He?"
"Soal roommate." Chris mengingatkan, tersenyum. "Bagaimana menurutmu?"
"Ah," Eijun mengatupkan bibir dengan senyuman kaku, menggigit ujung lidahnya untuk mengusir rasa tak biasa yang bergerak di perutnya. "A-aku belum… maksudku, itu akan sangat bagus jika bersama Chris-senpai, tapi rasanya… umm… ugh…" Eijun menyerah, merutuk dalam hati lalu menunduk memandangi ujung sepatunya. "Maaf."
"Jangan memaksakan diri. Ambil waktu sebanyak apapun yang kau butuhkan dan kau bisa menghubungiku begitu yakin dengan jawabanmu."
Seharusnya aku bisa menjawab dengan mudah, Eijun membatin. Chris begitu baik padanya, dan tidak ada hal yang perlu dicemaskan. Tapi kenapa rasanya sulit sekali untuk sepakat? Apa karena Eijun dibayang-bayangi pemikiran bahwa ia hanya akan sangat bergantung pada Chris? Ketika Eijun mencoba berpikir lebih jauh untuk menemukan jawaban, sebuah suara muncul meneriakkan namanya.
"Sawamura!"
Eijun dan Chris sama-sama menoleh. Takatsu berdiri di dekat pintu ruang ganti, sedikit tersentak ketika menyadari Chris juga ada di sana. Pemuda itu membungkuk kecil pada Chris sebagai sapaan sopan dan kembali menoleh pada Eijun.
"Kenapa?"
"Ada yang mencarimu." Pemuda itu menjawab, memberi isyarat dengan dagunya. "Dia di depan pintu masuk."
Kening Eijun berkerut, buru-buru menutup loker. "Aku duluan, Chris-senpai." Ia membungkuk lagi pada Chris dan tersenyum. "Aku akan usahakan memberi jawaban secepatnya!"
Chris mengangguk tipis. "Hati-hati kalau begitu."
Eijun mengangguk mantap, tersenyum lebar sekali lagi dan berjalan sedikit terburu menuju pintu masuk dojo. Lantas, mengernyit tak percaya ketika melihat Miyuki Kazuya sudah berdiri di sana, bersandar pada dinding dengan sebelah tangan berada di dalam saku celana dan tangan lainnya memainkan ponsel.
"Ngapain kau di sini?"
Miyuki berpaling padanya, meniti penampilannya sejenak, lalu menatapnya dengan alis terangkat. "Kau sudah ganti baju?"
Eijun ganti memandangi penampilannya. Celana jins abu-abu, polo shirt putih dengan aksen garis hitam-merah pada bagian ujung lengan dan kerahnya. "Hah? Apa maksudmu? Ini pakaianku sejak pagi."
Miyuki menghela napas. "Maksudku ganti dari seragam taekwondomu, Bakamura."
"Jangan panggil aku Bakamura!" Protes Eijun tak terima. "Tentu saja aku sudah ganti, latihanku sudah selesai. Kau belum jawab pertanyaanku, Miyuki Kazuya!"
"Aku di sini untuk menunggumu. Kau ingat kita punya urusan, kan?"
"Tentu saja ingat!" Kelekar Eijun sewot, menyilang defensif kedua lengan di depan dada. "Masih dua puluh menit lagi, dan aku tidak meminta bertemu di sini!"
"Lima belas." Kata Miyuki, menunjuk pada jam tangan mahal yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. "Lima belas menit." Ia mengoreksi. "Aku sengaja ke sini karena takut kau lupa. Siapa tahu saja kau terlalu asyik latihan pribadi sampai lupa bahwa seorang pemuda tampan dan baik hati sedang menunggumu di loby kampus."
Eijun menyipitkan mata tak mengerti, tapi ia merasa Miyuki sedang menyelipkan makna ganda dalam kalimatnya. "Kenapa aku merasa kau antusias sekali untuk bertemu denganku?"
"Kenapa aku merasa khayalanmu semakin tidak masuk akal?" Ia menatap bosan. "Kau yang memaksaku, kau ingat? Aku hanya ingin perkara ini cepat selesai."
Memang benar Eijun yang memaksa Miyuki tiga hari lalu untuk berlatih minta maaf dan menemuinya lagi hari ini. Eijun sebenarnya tidak mengharapkan pemuda itu menepati janji atau menuruti kemauannya, tapi nyatanya Miyuki sungguh datang. "Oke." Eijun menyahut pendek. "Kalau begitu tunjukkan hasil latihanmu tiga hari ini."
"Di sini?"
"Yap. Cepat ulangi permohonan maafmu padaku."
"Tidak." Miyuki menggeleng tegas. "Tidak di sini, ayo cari tempat lain."
Eijun merengut tajam. "Lakukan saja di sini sekarang, Miyuki Kazuya!"
"Tidak, Sawamura. Kita butuh tempat yang lebih privasi."
"Kau hanya mau minta maaf, bukan mau mengajukan lamaran pernikahan! Kenapa harus privasi!?"
Miyuki tersedak, dan Eijun baru tersadar betapa konyol kata-katanya barusan. Kini rasa hangat merambat ke wajahnya, menjadi panas asing yang membuatnya tak betah menatap langsung ke mata Miyuki.
Seseorang berdeham. Eijun dan Miyuki menoleh bersamaan. Chris berdiri di dekat pintu, menatap dengan alis terangkat penasaran. "Jadi kalian berdua mengaku tidak saling kenal minggu lalu, tapi sudah cukup akrab hari ini hingga melakukan obrolan seru dan ditonton banyak orang?"
Eijun mengerjap, melirik ke balik bahu Chris. Anggota klub taekwondo lain yang masih berada di dalam dojo kini menatap ke arah mereka dengan rasa penasaran yang berusaha disamarkan. Oh, ya ampun. Sejak kapan mereka memperhatikan?
"Hai, Chris." Suara Miyuki. Pemuda itu menyapa ringan diiringi lambaian kecil.
"Miyuki." Chris balas menyapa, mengangguk tipis sebagai respon lanjutan. "Aneh sekali rasanya melihatmu ke sini bukan untuk menemuiku."
Eijun menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. Tatapan penasaran Chris mengusiknya, tapi yang lebih mengusiknya adalah cara bagaimana bibir Miyuki miring dan terangkat dalam senyuman asing nan misterius yang membuat Eijun resah karena mendapat firasat menggelisahkan bahwa pemuda itu sedang menyusun rencana licik di dalam kepalanya.
"Yeah," Senyum Miyuki belum memudar. "Aku punya kepentingan dengan salah satu kouhai-mu." Ia mengucapkan kata kouhai seolah-olah itu adalah hal yang berbahaya. "Ah, atau harus kusebut hoobae?"
Eijun merinding tanpa alasan yang pasti. Ia melihat bagaimana Chris merespon kata-kata Miyuki dengan senyuman otomatis dan gelengan samar. "Keduanya sama saja." Jawab Chris, lalu beralih padanya. "Seseorang menjadi sangat pendiam di sini."
Eijun tersedak kecil, buru-buru menggeleng. "Aku hanya merasa tidak enak karena mungkin telah berisik dan mengganggu anggota lain yang masih di ruangan. Ugh, maafkan aku!"
"Sure you are." Chris menyetujui dengan suara pelan namun cukup untuk membuat Eijun melebarkan mata menatapnya. Dari sisi lain, ia bisa melihat Miyuki menahan tawa. "Kau selalu berisik, kau tahu? Bicara dengan keras dan meneriakkan apapun yang ada di dalam kepalamu."
Eijun menolak gagasan memalukan bahwa kini wajahnya memerah. Chris belum pernah menggodanya seperti ini. Biasanya seniornya itu akan selalu menyikapi kepanikannya dengan tenang dan mengatakan hal-hal positif untuk mendorong kepercayaan dirinya. Tapi sekarang kenapa…
"Itulah ciri khasmu." Kata Chris lagi, matanya berganti dengan tatapan yang jauh lebih ramah. "Kau selalu berhasil membuat orang lain kesal, namun tak pernah bisa membencimu."
Selama beberapa saat, Eijun merasa jantungnya berhenti berdetak. Senyum samar Chris menjelma menjadi garis abadi. Dan Eijun diam-diam menghapal cara bagaimana Chris tersenyum seperti itu tiap kali ia terlalu berisik, melakukan hal bodoh, mengatakan hal aneh, atau meminta latihan tambahan dengan begitu keras kepala. Eijun menghapal bahwa setelah senyum itu, Chris biasanya akan melayangkan tangannya ke kepala Eijun dan mengusap rambutnya dengan cara yang menyenangkan. Tangan Chris memang sudah setengah melayang ke puncak kepala Eijun, tapi suara deham keras dari Miyuki berhasil membuat Chris menurunkan tangannya kembali.
Miyuki menatap Chris, memberikan senyuman tipis pada sudut bibirnya. "Mungkin aku juga salah karena memancing Sawamura berteriak dan membuat keributan." Ia angkat bahu. "Kalau begitu sebaiknya kami pergi dari sini sebelum Sawamura membuat keributan yang lebih parah." Ia menyeringai, "Aku pinjam dongsaeng-mu ini sebentar, Chris."
Selanjutnya yang Eijun tahu adalah dorongan kecil di balik punggungnya. Telapak tangan Miyuki menempel di sana dan menggiringnya meninggalkan ruangan taekwondo. Eijun baru mengerjap sadar ketika Miyuki menyalakan mesin mobil. Bekedip dan menoleh ke sana ke mari seakan ia baru terbangun dari tidur siang.
"Hah? Tunggu. Kenapa? Apa itu tadi?" Ia bahkan tidak tahu apa yang hendak ditanyakan.
"Kau sudah menerima ajakan Chris? Soal roommate, maksudku."
Eijun berkedip lagi, bingung. "Roommate… Chris-senpai…belum…"
Mungkin Eijun bermimpi, tapi ia melihat senyum kemenangan di bibir Miyuki. "Kau sudah makan?"
"Hah?"
"Well, whatever. Sepertinya kau juga tidak akan menolak kalau soal makan."
"Hah?" Eijun tidak tahu berapa banyak ia mengucapkan kata itu setiap kali bersama Miyuki. Mungkin kalau ia mati, kata itu akan tertulis di nisannya; Sawamura Eijun—Hah?
"Pakai sabuk pengamanmu dan duduklah dengan manis." Miyuki menyeringai tipis, dan sebelum Eijun sempat memproses segalanya dengan baik, mobil Miyuki melaju meninggalkan area parkir.
…
Hakushu. Miyuki membawa Eijun ke restoran Hakushu di Shibuya. Eijun berusaha melenyapkan gambaran memalukan bawa air liurnya menetes ketika menyadari fakta itu. Eijun pribadi pernah berkunjung ke restoran ini sebanyak tiga kali, dan ia tidak akan lupa bagaimana rasanya.
"Kau suka daging?"
Pertanyaan bodoh, Eijun membatin dalam hati. Untuk apa Miyuki bertanya saat mereka sudah melangkahkan kaki ke dalam. Hidung Eijun bahkan telah dimanjakan dengan aroma teppayaki yang membuat perutnya menjerit-jerit. Jika Miyuki sampai membatalkan rencana ini, Eijun akan membantingnya ke lantai.
"Sepertinya kau suka." Miyuki tersenyum, Hampir terasa seperti ia berhasil memastikan sesuatu yang telah diduganya. Eijun memandang berkeliling, mendapati fakta bahwa tempat ini ramai, dan ia tidak berhasil menemukan meja kosong.
"Tenang saja," Miyuki meletakkan telapak tangan di punggung Eijun lagi, menggiringnya ke salah satu kursi "Aku sudah memesan reservasi."
Eijun melongo. Bagaimana bisa dia membaca pikiranku?
"Karena otakmu trasparan." Sahut Miyuki lagi seolah benar-benar dapat menebak isi pikirannya. Hal itu membuat Eijun penasaran apakah benar yang dikatakan orang-orang bahwa sepasang soulmate akan bisa membaca pikiran satu sama lain? Lalu kenapa hanya Miyuki yang bisa melakukan kemampuan itu? Apapun yang ada di kepala Miyuki, apapun yang pemuda itu pikirkan, Eijun tak bisa menebaknya.
Jadi begitu mereka duduk berhadapan di meja reservasi Miyuki, Eijun tak langsung memesan. Ia duduk dengan tegak, menatap Miyuki lekat-lekat. Mencoba untuk fokus dan membaca isi kepala pemuda berkacamata itu. Benar, fokus! Baca pikirannya. Baca pikirannya. Cobalah lihat apa yang dia pikirkan…
"Kenapa kau menatapku begitu?" Miyuki ganti memandangnya dengan mata menyipit. "Apa yang kau pikirkan?"
"Ha!" Eijun membuang napas keras. "Jadi kau tidak benar-benar bisa membaca pikiranku!"
Miyuki memutar bola mata. "Cepat pesan saja makananmu, Sawamura."
Eijun memesan, mengabaikan ketika Miyuki diam-diam menyembunyikan tawa di balik punggung tangannya saat Eijun memesan banyak sekali porsi daging. Terserah Miyuki mau berpikir apa. Restoran ini menyediakan daging Kobe kualitas terbaik! Kenapa juga Eijun perlu menahan diri?
"Kau belum benar-benar minta maaf padaku, Miyuki Kazuya." Eijun berkata ketika menantikan pesanan mereka tiba. Selama beberapa saat, rasanya ia sempat melihat wajah Miyuki berubah abu-abu. Namun pemuda itu kembali memasang senyum manipulatifnya.
"Kenapa kau selalu mengucapkan namaku dengan cara seperti itu?"
"Huh? Seperti apa?"
"Menyebutkan keseluruhan nama lengkapku." Miyuki menjawab. "Itu sedikit aneh."
Eijun mengerucutkan bibir. "Lalu aku harus memanggilmu seperti apa?" Tudingnya, mendengus dengan kasar lalu mengetukkan jarinya ke meja. "Jangan mengalihkan pembicaraan, Miyuki Kazuya."
"Kau bisa memanggilku Senpai, aku dua tahun lebih tua darimu. Dan tidak, aku tidak mengalihkan pembicaraan. Aku hanya bertanya karena penasaran."
"Kelakuanmu tidak pantas disebut senpai." Eijun menyahut spontan. "Tapi mungkin aku akan memikirkannya jika kau minta maaf dengan benar padaku."
…
Kazuya menarik napas, membuangnya perlahan. Tangannya mengepal di bawah meja. Ada suatu dorongan kuat yang menekan perutnya. Kegelisahan di balik punggungnya menjelma menjadi hawa setajam es yang memaksanya membeku kelu tanpa kata.
Aku hanya perlu minta maaf, Kazuya meyakinkan dirinya. Ini tidak akan sulit, ia bahkan sudah berlatih. Kazuya hanya perlu melakukan ini agar Kuramochi berhenti menceramahinya atau mengancam memberitahu ibunya bahwa Kazuya memperlakukan soulmatenya dengan sangat buruk. Satu tarikan napas panjang, Kazuya menetapkan niat, mengambil pijakan di pangkal lidahnya.
"Aku minta maaf, Sawamura." Kazuya menatap ke mata Sawamura, mencoba mengusir getar asing yang datang dan memaksanya terpukau pada kilau emas di mata itu.
"Aku minta maaf soal kata-kataku padamu tempo hari. Itu keterlaluan. Aku hanya menyimpulkan sesukaku dan menuduhmu melakukan hal-hal yang tidak kau lakukan. Aku mengaku salah."
Selama beberapa saat, Sawamura sama sekali tidak merespon. Ekspresinya tetap datar, tidak terbaca, hal yang membuat keresahan Kazuya bermekaran dan mulai membayangkan bahwa Sawamura akan meminta permintaan maafnya diremidial. Namun, setelah keheningan canggung itu tahu-tahu mata Sawamura berbinar-binar. Aura di sekitarnya berubah ceria, dan Kazuya sekan bisa melihat bintang-bintang imajiner berkerlip di matanya.
"Whoa!" Sawamura berseru. "Aku benar-benar mengajarimu dengan baik! Yang tadi itu nyaris sempurna! Rasanya kau benar-benar menyesal dan berniat minta maaf padaku! Aku sampai sempat tersentuh, hahaha!"
Kazuya berkedip, apa katanya?
Sawamura masih tersenyum lebar. "Kau murid yang membanggakan, Miyuki Kazuya!" Pemuda sembilan belas tahun itu bahkan berdiri dari kursinya, mencondongkan diri ke arah Kazuya untuk memberi tepukan keras di bahunya. "Otsukare!"
Kazuya nyaris melongo.
Sawamura kembali duduk di kursinya. Senyumnya belum memudar, dan ia tampak sangat muda ketika tersenyum seperti itu. Kini Kazuya bisa menebak mungkin senyum itu adalah salah satu alasan seorang Takigawa Chris Yuu tertarik padanya. Lantas Kazuya menggeleng cepat, buat apa dia memikirkan itu?
"Jadi kau memaafkanku?"
"Tentu!" Sahut Sawamura lugas. "Sebenarnya aku sudah memaafkanmu sejak tiga hari yang lalu. Sejak kau sudah punya niat untuk datang padaku dan minta maaf, meski kau juga dipaksa Kuramochi-senpai dan wajahmu kelihatan tertekan, tapi setidaknya kau sudah berusaha, kan? Aku orang yang sederhana, Miyuki Kazuya. Aku akan menghargai usaha setiap orang."
Kazuya tertegun, lama. Kata-kata Sawamura memantul-mantul dalam pikirannya. Mengurai menjadi benang-benang yang merajut sebuah kesimpulan. Selanjutnya ia mendengus, merasa konyol. Jadi untuk apa ia berlatih di depan cermin selama tiga hari kalau ternyata anak ini sudah memaafkannya? Andai pesanan mereka tidak datang saat itu, Kazuya pasti sudah memutuskan untuk pergi begitu saja dan meninggalkan Sawamura karena terlampau kesal.
Pada akhirnya mereka makan bersama. Kazuya sama sekali tidak berniat memperhatikan Sawamura, mencuri pandang, bahkan melirikpun tidak, tapi pemuda itu benar-benar tak bisa membuatnya duduk dan makan dengan tenang karena binar-binar di matanya setiap kali menyuap daging bagaikan kebahagiaan seolah dia memenangkan pertandingan kelas dunia. Kedua pipiya membulat penuh, dan Sawamura bahkan tidak peduli dengan remah-remah makanan yang menempel di bibir atau pipinya. Dia makan seperti anak kecil, seharusnya itu membuat Kazuya merasa jijik. Namun pada kenyataannya Kazuya justru tersenyum dan merasa terhibur.
Kazuya tidak tahu berapa potong teppayaki yang sudah Sawamura habiskan ketika akhirnya pemuda itu berhenti mengunyah dan menatap Kazuya dengan kerutan samar di sekitar pelipisnya. "Kanda Yurina." Kata Sawamura. "Aku ingat namanya karena ibuku nyaris menonton semua drama dan filmnya. Dia seorang aktris senior, kan?"
Kazuya berusaha membaca ekspresi di wajah Sawamura, menelusiri motif tersembunyi, atau apapun. Tapi wajahnya bersih dan bahkan hanya dilapisi rasa penasaran yang begitu samar. "Kenapa tiba-tiba membahasnya?"
Alis Sawamura merengut tajam ke dalam seakan ia berusaha mengingat sesuatu di dalam kepalanya. "Aku melihatnya muncul. Kau tahu, saat di toilet… saat aku menatapmu dan kepalaku terasa meledak, aku melihat gambar acak di dalam kepalaku. Aku yakin itu sebagian dari memorimu. Dan wanita itu ada di sana, kau dulu sering melihatnya, kau menontonnya saat muncul di televisi, kau membaca artikel tetangnya dalam majalah. Apa dia idola masa kecilmu?"
Kazuya mengambil jeda untuk diam selama beberapa saat, menghela napas, meletakkan sumpitnya di atas mangkuk nasi lalu menggeleng. "Dia ibuku."
Kazuya menduga Sawamura bakal mengeluarkan respon heboh seperti berteriak kaget hingga pelanggan lain menatap ke meja mereka. Tapi nyatanya tidak, Sawamura hanya tertegun di tempatnya. "Whoa…" Ia berkata dalam bentuk kekaguman pelan. "Sulit dipercaya, ibumu aktris besar tapi kau bahkan tidak tahu bagaimana ekspresi untuk meminta maaf dengan benar." Ia lalu berbisik. "Apa kau anak tiri?"
Kazuya tersedak. Semakin lama ia bersama Sawamura, semakin ia menyadari bahwa kepolosan Sawamura itu imut sekaligus menyebalkan. Kazuya memutuskan untuk fokus pada bagian menyebalkannya saja. "Aku anak kandung." Tukas Kazuya yakin. "Memang tidak banyak yang tahu kalau dia ibuku. Ibuku bahkan tidak mengubah marganya ketika menikah dengan ayahku, dan kurasa itu keputusan yang tepat. Bagaimanapun, ayahku juga punya bisnisnya sendiri yang tidak berkaitan dengan dunia entertainment. Dan aku ingin sebisa mungkin hidup seperti anak normal, hidup sebagai anak selebrita terkenal pasti merepotkan." Kazuya membuang napas, menatap ke mata Sawammura. "Jadi jangan beritahu siapapun soal ini."
"Tentu saja." Sahut Sawamura cepat. "Lagipula tak ada untungnya buatku menyebarkan informasi tentang keluargamu." Lalu ia mulai menyomot potongan daging lagi.
"Apa lagi yang kau lihat?"
"Aghua?" Kata Sawamura dengan mulut mengunyah.
"Telan dulu, bodoh." Komplain Kazuya lalu menghela napas. "Cuplikan memoriku yang melintas di kepalamu. Selain ibuku, apa lagi yang kau lihat?"
Sawamura menelan makannya lalu meraih gelas dan minum sebelum menjawab. "Tidak banyak." Ia memejamkan mata singkat dan mencoba mengingat. "Kau dulu sering naik bianglala. Mm… aku sekilas melihatmu bersama Kuramochi-senpai memakai seragam SMA, rambutnya dulu pirang, apa itu benar?" Sawamura meringis ketika menanyakannya. "Well, tidak banyak yang kuingat karena itu hanya beberapa detik yang cepat sekali berubah."
Sawamura lalu menyungingkan senyum inosen penuh rasa penasaran. "Bagaimana denganku?" Ia menunjuk pada dirinya sendiri. "Apa kau melihat sesuatu juga dariku?"
"Kau penasaran?"
Wajah Sawamura terlipat kekanakan. "Aku sudah mengatakannya padamu, bukankah adil jika kau juga mengatakannya padaku?"
"Aku tidak pernah minta. Kau mengoceh begitu saja."
"Pelit!" Sawamura mencibir, dan senyum Kazuya melebar dengan geli.
"Kau ada kelas besok?"
Sawamura kini sudah kembali mengisi mulutnya dengan tiga potong daging sekaligus. Menatap sengit padanya, menggeleng galak sebagai jawaban. Kazuya mendengus geli, meraih gelas minumannya dan meneguk isinya sampai habis, lalu menatap lurus ke iris emas Sawamura. "Aku akan menjemputmu pukul sepuluh pagi besok. Akan kujawab pertanyaanmu tadi, juga ada hal yang ingin kutunjukkan padamu."
Sawamura melongo.
Kazuya bangkit dari kursinya, melangkah ke arah Sawamura untuk berdiri tepat di dekatnya. Kazuya menarik selembar tisu, membersihkan remah-remah makanan di wajah Sawamura tanpa memudarkan senyuman di bibirnya. "Pukul sepuluh pagi, oke? Aku tidak bisa mengantarmu pulang, tapi semua makananmu biar aku yang bayar. Sampai ketemu besok, Sawamura-kun~"
to be countinued
Hal-hal terkait soulmate:
1) Imprint; sebuah tanda (berbentuk tato) yang akan muncul di kulit seseorang pada saat usia 16-17 tahun. Pola dan tempat kemunculan imprint di tubuhmu akan sama persis dengan belahan jiwamu.
2) Bonding; tahap lebih lanjut dari imprint. Sepasang soulmate yang telah setuju untuk menjalin komitmen atau hubungan lebih serius dapat maju ke tahap ini (mengikat). Bonding dilakukan dengan cara saling menggigit imprint satu sama lain. Tanda bahwa proses bonding berhasil adalah munculnya sinar kebiruan pada imprint seperti saat pertama kali sepasang soulmate bertemu.
3) Mating; proses penyatuan sepasang soulmate yang dilakukan dengan... well gak perlu dijelasin kayaknya udah pada paham :)
4) Unbonding; pemutusan ikatan di antara sepasang soulmate. Sebenarnya ikatan tidak benar-benar bisa terlepas kecuali salah satu meninggal dunia, cara paling maksimal yang bisa dilakukan apabila ingin menolak bond adalah saling menjauh dan tidak bertemu lagi agar imprint tidak bereaksi.
Kamus mini:
Hoobae adalah sebutan untuk junior/adik kelas secara umum di Korea, itu juga biasa dipakai dalam taekwondo. Sama seperti kouhai dalam bahasa Jepang.
Dongsaeng adalah sebutan untuk adik, atau seseorang yang lebih muda dan punya hubungan dekat. Saat Kazuya nyebut kata dongsaeng, sebenarnya itu nyindir karena merasa Chris dan Eijun punya hubungan dekat (tapi karena saya awam, cmiiw)
.
a/n:okay, saya tahu kalian mungkin marah besar, so let me respond to the rewiews first?
Eiko Eichan, ohoho sabar dulu yaa Miyuki ga bisa langsung cemburu soalnya, mari kita proses dulu main-mainin hatinya sebelum kita begal tanpa belas kasih/ga gitu. Makasih yaa udah nunggu kelanjutannya ;)
Rarachi, umm maaf kalau nggak jadi final di chapter 2 yaa, hehe. Semoga kamu masih berminat buat baca chapter-chapter selanjutnya. Makasih atas semangatnya, saya terima dengan senang hati :)
Sigung-chan, aw aw aw, sabar sist/sok kenal. Di sini udah kejawab kalau dia bukan uring-uringan sebenarnya tapi kesakitan wkwkwk/bangga saya. Hehe, gomen baru update :)
Zyouvanchi, aduh saya belum punya ilmu omegaverse lagian pasti ga bakal tega jadiin Eijun omega, hati saya terlalu gentle buat bikin dia heat/digiles. Maaf yaa baru up kelanjutannya sekarang, semoga kamu masih berkenan baca :)
akamatchuu, kalem-kalem jangan tantrum di sini saya bingung/wei. Haha, website sebelah emang ceritanya pada menarik sih saya nyasar di sana sampe lupa jalan pulang dong/uhuk! Ah, kamu benar sekali, yeay! Imprint mereka bakalan bereaksi saat bermesraan sama orang lain, tapi nggak semua soulmate begitu. Dibawa ke dokter kok wkwk :)
yuuinoe, uhuk! Kenapa pada semangat banget dah bikin si Azuy cembukur wkwkwk. Well, mari kita lihat kedepannya apakah dia bakal cemburu ;)
ratusan971, aduh makasih banget saya terharu huwaaaa/nangis seliter. Gapapa kecanduan fanfik bisa jadi kecanduan baca, dan itu hal yang bagus/apasih. Aw, kamu udah mulai doyan yang wordsnya panjang rupanya/smirk. Nikmatilah slow-burn ala saya kalau begitu~ :3
Ageha-san, whoaaa terima kasih ;)
xiao yuki, arigatou gozaimasu! ^o^
Akakuro dan Bbbfang, aduh maaf yaa, adek/sembarangan kamu manggilnya. Maaf karena ga bisa buru-buru lanjut kemaren, kakak nyasar lupa jalan pulang/digiles. Tapi sekarang udah dilanjut, semoga kamu tetep mau baca yaa ^^
Kyunauzunami, ah suka benget sama jalan pikiran kamu, dek/bukan adekmu. Yup, enak aja langsung takluk, tidak semudah itu ferguso wkwk. Ayo kita jahatin Kazuya bersama/gak gitu. Makasih yaa :)
iiie, kalau begitu izinkan saya jatuh hati sama review kamu/lho? Aduh, maaf-maaf bikin penasaran dalam waktu yang tidak bisa ditoleransi begini, uhuk. Sipp, saya juga sukaaaa. Well, apakah di sini Kazuya arogannya keterlaluan? Makasih udah baca :3
Myfana, aduh kalo kamu baca empat kali berarti udah lebih dari 40.000 kata, yang artinya setara baca rata-rata satu novel wkwk, hebat kamu. Bakalan tambah panjang kayaknya/ditendang. Semoga kamu gak bosen yaa, makasih udah baca ;)
Airin, INI PENCERAHANNYA, NAK!/berisik. Apakah sudah cerah? Apakah semakin suram? Apakah kamu perlu sunlight agar cerah bersih bersinar shining shimering splendid?/slap. Makasih udah bersabar menunggu pencerahan :)
Guest, aah iya ini udah dilanjut, agak lama emang/lama banget! Makasih udah sabar, maaf saya lelet abis nyasar :)
aku yg menunggu, eh iya dari Februari ternyata, tehe~ astaga saya ngentungin anak orang lama banget dong? Dosa ga sih?/dibakar. Aw, saya baik-baik aja kok, makasih atas perhatiannya. Ini lanjutannya, selamat menikmati :)
Anonymous, terima kasih sudah setia menunggu, maaf menghancurkan harapanmu. Aamiin, semoga bisa lanjut terus sampe khatam :)
well, hello good people, how do you do? *nyengir* maaf nggak jadi two-shoot, ternyata saya kebablasan/malu. Sakakibara Gin adalah OC, saya suka banget pas bikin karakternya. Dan seperti yang saya tambahkan di summary, It'll be a little SLOWBURN, so please be patient =) dan lebih banyak ambil pov Kazuya juga mungkin.
Terima kasih sudah baca, sampai ketemu lagi. Stay safe, everyone :)
