"Kau mau pergi?" Tanya Shinji ketika Eijun keluar dari pintu kamarnya. Pemuda itu duduk bersila menghadap televisi dengan setoples potato chips di tangan kanan dan remote di tangan kiri.

Eijun tersenyum masam sambil berjalan ke arah Shinji dan menyomot segenggam keripik dari dalam toples. "Ada janji."

"Tumben sekali. Dengan siapa?"

"Miyuki Kazuya."

Shinji melotot padanya, volume televisi dikecilkan dan toples diletakkan di atas meja. Memasang atensi penuh dengan mata berkilat penasaran. "Hubungan kalian sudah berkembang? Sejauh apa? Apa ini kencan?"

"Apa kau meledekku!? Kencan dengan Miyuki Kazuya! Meh! Yang benar saja!" Sahut Eijun ketus lalu meraup segenggam penuh keripik dan melahapnya sekaligus.

"Lalu apa? Kalian punya janji dan pergi berdua saja, bukankah itu kencan?"

"Dighya bilhang maguh menunghnguhan—"

"Stop." Shinji mengangkat tangan, menatapnya sinis. Remah-remah berhamburan ke atas meja kayu di depan mereka bagai hujan potato chips. "Jijik, Sawamura. Telan dulu makananmu."

Eijun bersengut, mengunyah, menelan. "Dia bilang ada yang ingin ditunjukkan padaku. Aku juga ogah sebenarnya!"

Satu alis Shinji terangkat tinggi. "Kalau kau memang tidak suka, kau bisa mengabaikannya, kan? Tapi lihat," Shinji mengamatinya, berpakaian siap keluar rumah dengan kaos putih polos dipadukan dengan kemeja lengan pendek berwarna sky blue yang sengaja tidak dikancingkan, celana cargo panjang, dan waistbag. "Wow, Sawamura. Aku selalu terkesima tiap kali kau benar-benar terlihat seperti anak SMA dengan pakaian seperti ini."

Eijun mendelik. "Apa kau mengataiku seperti bocah?"

Shinji angkat bahu, mengamatinya sekali lagi. "Kau yakin tidak kedinginan dengan pakaian seperti itu?"

"Ini sudah hampir akhir Februari, udara sudah lebih hangat." Lalu ia membeliak pada Shinji karena teringat sesuatu. "Pekan ujian sebentar lagi!?"

"Kau baru sadar? Ujian kita satu minggu lagi." Shinji menghela napas panjang, tampak lega dan bahagia. "Kemudian kita libur semester!" Ia merentangkan dua tangan ke udara seakan berusaha memeluk langit atau menunggu bidadari jatuh untuk menangkapnya.

"Bukan itu masalahnya! Aku sama sekali belum bersiap-siap untuk ujian akhir semester! Bagaimana bisa waktu berjalan sangat cepat!? Aku harus belajar! Aku benar-benar harus belajar tapi aku justru harus pergi dengan Miyuki Kazuya! Aish, kenapa semuanya jadi kacau begini!?"

Seperti yang diharapkan dari seorang teman baik, Shinji sama sekali tak terlihat iba atau peduli. Asyik memakan keripik dan menonton Eijun dengan senyum terhibur. "Jadi kenapa kau setuju untuk pergi dengannya kalau memang tidak mau?"

Eijun menghela napas lagi, mengeluh dalam bentuk rutukan tipis sebelum menjawab. "Aku ke Hakushu kemarin, aku pesan banyak sekali teppayaki dan dia membayar semuanya. Aku tidak mau berhutang, jadi aku terpaksa mengikuti kemauannya."

"Then, good luck?"

Eijun merengek. "Shinji... Aku tidak mau pergi." Ia mulai menarik-narik ujung kaos Shinji dengan tatapan memelas. "Katakan padanya aku sakit keras, aku tidak bisa pergi dengannya karena punya firasat kami pasti bertengkar lagi. Tolong aku..."

"Katamu kabur dari masalah itu tidak laki. Sekarang kau mau kabur?"

Eijun menggeleng muram. "Tapi ini benar-benar situasi genting! Aku tidak bisa menebak jalan pikirannya. Satu detik dia baik, detik berikutnya dia kembali jadi bajingan. Dia benar-benar punya kepribadian yang kacau!"

Shinji meraih remote dan memperbesar volumenya, mengambil kembali toples dari atas meja dan mulai kembali menonton televisi sambil menikmati camilan. "Pergi saja, Sawamura. Semakin sering kau bersama dengannya, semakin banyak kau mempelajarinya, dan mungkin suatu hari nanti kau bisa memahami jalan pikirannya."

"Shinji..." Eijun kembali menarik-narik kaos Shinji. "Aku tidak mau pergi—"

Suara klakson ditekan keras, membungkam mulut Eijun dan membuat ekspresinya memucat. Shinji justru menyeringai. "Kurasa jemputanmu sudah datang." Pemuda itu berkata, lalu mendorong bahu Eijun. "Sana pergi, semoga harimu menyenangkan."

"Shinji—"

Klakson berbunyi lagi, dua kali.

"Pakai saja sneakers putihmu, mengerti? Jangan pilih converse merahmu."

"Aku tidak butuh saran berbusana!" Kelekar Eijun sewot. "Aku butuh kau menyelematkanku dari situasi ini, please?"

Shinji berdecak, bangkit berdiri dan meraih lengan atasnya lalu menariknya berdiri, menyeret Eijun sampai ke pintu. "Go away."

"Kenapa kau mengusirku!?"

Klakson berbunyi keras tiga kali.

Shinji melempar sepasang sneakers putih padanya. "Pergi, Sawamura. Sebelum semua orang keluar karena klakson berisik itu."

"Tapi—"

BLAM!

Pintu ditutup. Eijun memandang nelangsa, memeluk sneakers putihnya dan merengek.

Klakson berbunyi panjang.

"Aish! Si Bangsat itu!" Eijun mengumpat, memakai sneakersnya buru-buru dan berlari ke arah orang gila yang terobesi pada suara klakson mobil.

"Kau lama seka—"

"Cepat jalan." Sahut Eijun ketus begitu berhasil duduk di dalam mobil Miyuki. Ia bahkan tak berminat menatap pemuda itu, tersenyum, atau mengucapkan selamat pagi.

"Wah," Miyuki berkata, strater mobil menyala. "Majikan kecilku merajuk lagi."

Eijun tidak mengerti apa yang dikatakan Miyuki, tapi ia merasa tak punya selera untuk membahasnya. Jadi ia hanya memasang sabuk pengaman, lalu duduk dengan kedua tangan bersilang kesal di depan dada. Menatap lulus ke depan sementara Miyuki menyalakan mesin mobil dan mulai melaju.

"Sawamura," Miyuki akhirnya memanggilnya saat mobil melaju di jalan raya. Ketika Eijun menoleh, ia melihat pemuda itu menghela napas. "Sebenarnya apa yang kau pikirkan saat memilih pakaian seperti itu?"

Eijun menyipitkan mata dengan tajam. "Kenapa hari ini orang-orang suka sekali mengomentari pakaianku? Tadi Shinji, sekarang kau. Memang apa salahnya berpakaian seperti ini?"

Miyuki meliriknya lagi, mengamati penampilannya lalu mengeluarkan suara seperti keluahan tertahan. "Ini masih Februari, kau sadar? Udara masih dingin, dan kau berpakaian seakan ini pertengahan musim panas."

Eijun mencebik. "Aku baik-baik saja." Katanya dengan nada ditekan kuat-kuat. "Aku berasal dari kawasan pegunungan di Nagano, udara seperti ini bukan masalah untukku. Aku tidak akan terkena flu atau apa."

"Ah," Miyuki berkata seakan baru tersadar akan sesuatu. "Benar juga." Ia tersenyum sarkas. "Idiots can't catch a colds."

"Apa katamu!?" Eijun memekik nyaring, melotot tajam pada Miyuki yang kini terkekeh geli di balik kemudi.

"Tapi serius, kau yakin baik-baik saja? Tidak mau ganti baju atau apa?"

Eijun mendengus kasar, memandangi pakaiannya sekali lagi dan menggeleng dengan tegas. "Tidak perlu." Matanya menatap lekat pada Miyuki dan mulai mengamati pakaiannya. Miyuki memakai setidaknya tiga lapis pakaian di tubuhnya. Coat abu-abu tua, sweater putih tulang, kemeja biru tua yang kerahnya menyembul dari balik sweater, dipadukan dengan regular jins, dan sepatu oxford. "Apa-apaan outfit-mu itu? Ini bukan bulan Desember."

"Outfit-ku masih lebih normal dibanding dirimu." Sahut Miyuki. "Dengan suhu udara masih cukup rendah, pakaianku jelas lebih masuk akal dibanding pakaianmu. Dan lagi," Miyuki menatapnya sekilas, mengangkat satu alis tinggi. "Kau yakin umurmu sembilan belas? Kau terlihat empat belas tahun dengan pakaian seperti itu."

"Aku sejuta persen sembilan belas tahun!" Bentak Eijun tak terima. "Tidak ada yang salah denganku. Yang salah justru kau, Miyuki Kazuya. Dua puluh satu tahun tapi bergaya seperti pria tiga puluhan."

Miyuki mengelurakan suara seperti dicekik. "Sawamura, kau harus tahu yang namanya fashion. Aku terbiasa bergaya elegan, sementara kau menjadikan model anak-anak sebagai trend centermu."

Eijun berdecak. "Apa aku mengajakku pergi hanya untuk berdebat soal cara berbusana? Atau kau diam-diam terobesesi jadi stylish? Atau itu hanya bawaan kepribadian burukmu untuk mengomentari orang dengan sarkas?"

Miyuki memutar mata. "Yah, yah, terserah."

Selama beberapa saat berlalu, tak ada percakapan apapun yang terjalin di antara mereka berdua. Miyuki fokus menyetir, dan Eijun mengamati pemandangan kota Tokyo di hari Sabtu pagi dari balik jendela mobil. Sepuluh menit kemudian, Eijun tersadar akan sesuatu. "Kenapa kita ke arah sini? Bukankah ini arah ke kampus?"

Miyuki tersenyum sinis. "Kau baru sadar?"

"Kenapa kau membawaku ke kampus? Miyuki Kazuya, ini hari Sabtu, aku tidak ada kelas dan kau justru membawaku ke kampus!"

"Kenapa kau berisik sekali, astaga." Miyuki mendesah berat, lalu membelokkan setir ke kiri, berbelok dari jalan lurus menuju Universitas Meiji.

Eijun berkedip. "Eh? Kita mau ke mana?"

Miyuki tidak menggubris pertanyaannya. Mobil melaju di jalan yang lebih kecil dan cukup padat oleh rumah penduduk, gedung bertingkat berisi kamar sewa, toko kelontong dan beberapa tempat lain. Terkadang, Eijun begitu ingin merobek kepala Miyuki untuk megintip apa yang ada di otaknya.

Mobil akhirnya berhenti. Bukan tempat yang mencurigakan atau membuat Eijun berpikir untuk kabur maupun memanggil polisi karena curiga Miyuki bakal menghajarnya. Pemuda itu sendiri kini mematikan mesin mobil dan melepas sabuk pengamannya. "Ayo turun, aku akan tunjukkan sesuatu padamu."

Eijun menatapnya curiga, tak melepaskan mata dari gerak-gerik Miyuki sampai ia turun dari mobil. Mengikuti persis di belakangnya dengan kewaspadaan tinggi. Miyuki akhirnya berhenti di depan sebuah rumah berdesain minimalis dengan warna dasar putih dipadukan abu-abu terang. Pemuda itu melangkah ke halaman rumah dengan santai dan menrogoh saku untuk mengeluarkan kunci.

"Rumah siapa ini?" Eijun menatap curiga, mengamati rumah itu dengan penasaran.

Miyuki membuka pintu. Bagian dalam rumah menampilkan ruang tamu yang berisi satu set sofa menghadap set tv, konsol game, dvd, dan speakers. Di sebelah kanan terdapat satu pintu menuju ruangan lain yang Eijun asumsikan sebagai kamar tidur.

"Masuklah." Miyuki berkata setelah melepas melepas sepatunya di genkan dan melangkah ke dalam. "Aku tidak akan menyekapmu atau apa. Sumpah."

Eijun masih menyipit curiga, tapi ia melepas sepatunya dan masuk ke dalam. Mengamati bagaimana bagian dalam rumah itu nyaris sudah terisi dengan perabotan yang diperlukan.

"Lumayan." Miyuki tersenyum miring. "Untunglah aku sempat meminta orang untuk membersihkannya." Ia menatap Eijun dengan kepala miring ke satu sisi. "Bagaimana menurutmu? Kau suka?"

Hidung Eijun berkerut. "Sebenarnya ini rumah siapa? Kenapa kau membawaku ke sini?"

"Aset ayahku." Sahut Miyuki ringan, mendelikkan bahu. "Aku pernah tinggal di sini saat semester awal. Saat itu jadwal kuliahku nyaris penuh setiap hari dan aku belum menikah dengan Mercedes Benz kesayanganku."

Eijun memutar mata dramatis. Ia yakin Miyuki punya obsesi khusus pada mobilnya. "Lalu kenapa kau membawaku ke sini?"

Miyuki menatapnya sejenak, angkat bahu, lalu memilih duduk di sofa. Bersandar dengan nyaman dan mendesah bahagia seakan puas kala mendapati sofanya masih memantul dengan sempurna saat diduduki. "Kau bilang sedang mencari tempat tinggal baru, kan? Kau bisa tinggal di sini."

"HAH!?"

"Tidak terlalu besar, tapi ada kamar tidur, ruang tengah, dapur dan kamar mandi. Jaraknya juga hanya lima belas sampai dua puluh menit jalan kaki ke Meiji."

"Tunggu, maksudmu—"

"Kau bisa memakai perabot yang ada di sini, tapi kalau kau tidak suka aku akan minta orang untuk mengangkutnya."

"Sebentar, jadi kau—"

"Kawasan ini juga aman. Di sekeliling rumah ini ada banyak apartemen kecil yang disewa oleh para mahasiswa. Termasuk bagunan di samping kiri situ, kau bisa berkenalan dan berteman dengan mereka, minimarket, toko alat tulis, fotokopi, juga ada di kawasan ini."

Eijun sukses mengangga atas penjabaran panjang Miyuki.

"Kau bisa mulai pindah kapanpun kau mau. Kalau kau sudah mau pindah, hubungi aku, aku akan mengatur semuanya."

Kali ini Eijun benar-benar melongo.

"Bagaimana, Sawamura? Kau suka tempat ini?"

Eijun menarik napas perlahan, memejamkan mata, menghitung sampai lima sebelum menghembuskannya perlahan dan menatap Miyuki tajam. "KAU TIDAK MEMBIARKANKU MENYELESAIKAN SATUPUN KALIMAT, MIYUKI KAZUYA!" Protesnya telak, berdenging di telinga Miyuki hingga pemuda itu menyernyit. "KENAPA KAU TIDAK BERHENTI BICARA DAN MEMBERIKU KESEMPATAN!?"

Miyuki mengangkat tangan seperti baru ditodong senjata api. "Oke, bicaralah."

"Kenapa kau tiba-tiba menawariku tempat tinggal? Terlebih lagi, di properti milik keluaramu? Apa yang kau rencanakan? Apa kau menginginkan sesuatu dariku? Apa kau ingin aku memata-matai seseorang yang tinggal di sekitar sini?" Eijun menyerbu dalam satu kali tarikan napas.

"Aku hanya menawarkan, Sawamura. Kalau kau menerima tawaran Chris, aku berani jamin dia akan memilih tempat mewah dengan fasilitas pintu menggunakan sidik jari atau key card dan passcode. Chris juga akan bersikeras membayar uang sewa lebih banyak dibanding dirimu. Kau mau terima hal itu?"

Eijun tidak bisa membantah. Ia sendiri sudah punya gambaran tempat apa yang akan dipilih Chris jika setuju untuk tinggal dengannya.

"Tempat ini sangat sederhana jika dibandingkan dengan pilihan Chris. Kupikir, kau akan lebih nyaman tinggal di sini." Kata Miyuki lagi. Anehnya, Eijun tidak menemukan kejangalan maupun nada manipulatif dalam suaranya.

"Tapi… kenapa?"

Miyuki membuang napas panjang. "Tempat ini kosong. Lebih baik jika ada yang menempatinya daripada rusak begitu saja."

"Kau bisa menyewakannya pada orang lain."

"Aku tidak suka barang-barangku disentuh orang asing."

"Dan aku?" Eijun menunjuk pada dirinya sendiri. "Bukankah kita juga orang asing?"

Miyuki kelihatan lelah mendebatnya. "Kita punya sesuatu untuk diperhitungkan, kau ingat?" Ia berkata, menunjuk ke dada kirinya. Mengetuk tiga kali. Eijun sempat tidak mengerti, tapi akhirnya sadar Miyuki sedang menunjukkan posisi imprintnya terletak.

"Oh," Eijun menunduk, memandangi dada kirinya sendiri dan mengingat tanda imprint miliknya. Meski tidak suka, Eijun tidak bisa membantah hal ini. Ia terikat dengan Miyuki Kazuya, dan itu membuat mereka tidak benar-benar seperti orang asing.

"Duduklah," Kata Miyuki datar. "Kau terlihat akan pingsan sebentar lagi begitu memikirkan soal imprint."

Pasrah, Eijun membuang napas panjang dan duduk di dekat Miyuki. "Apa penawaranmu ini ada hubungannya dengan… imprint?"

"Yeah, bisa dibilang begitu. Kau dengar sendiri penjelasan Gin, kan? Aku tidak bermaksud membatasi pergaulanmu, tapi kau tahu sendiri rasanya sesakit apa saat salah satu berhubungan intens dengan orang lain."

"Jadi kau takut aku bertindak ceroboh dan berdekatan dengan orang lain lalu membuatmu kesakitan?"

Miyuki mengerutkan alisnya. "Kau tidak takut soal itu?"

Eijun membuang napas kasar. "Tentu saja aku takut!" Jawabnya tanpa ragu. "Kau hobi keluar-masuk klub malam dan make-out dengan gadis yang berbeda-beda. Kau pikir bagaimana keresahanku setiap kali membayangkan akan dirundung kesakitan sepanjang malam selagi kau berkencan dengan gadis-gadismu!"

Eijun memang merasa resah. Sejak ia tahu dari Sakakibara-sensei bahwa ikatan antara dirinya dan Miyuki lebih dari soulmate pada umumnya, Eijun ketakutan setengah mati. Ia ingat sesakit apa jantungnya saat Miyuki berciuman malam itu. Karena itulah setiap malam, ia terus meringkuk di balik selimutnya, dibanjiri kegelisahan bahwa Miyuki Kazuya di luar sana sedang make-out besama orang lain dan jantungnya akan terasa ditikam sebentar lagi.

"Apa jantungmu terasa sakit beberapa hari ini?"

Eijun menggeleng.

"Pastinya. Karena aku memang tidak dekat-dekat dengan siapapun semenjak malam itu."

"Pembohong." Eijun menyahut getir. "Kau barangkali hanya mengunjungi klub yang jaraknya lebih jauh agar aku tidak merasakan sakitnya."

"Sawamura, kapan rencananya kau berhenti menghakimiku seperti itu?"

"Sejauh ini aku tidak punya rencana untuk berhenti."

Miyuki mendengus. "Aku benar-benar tidak bersama siapapun semenjak malam itu, oke? Berhentilah memperlakukanku seperti tukang selingkuh."

Eijun baru membuka mulutnya untuk menyemburkan kata mustahil ketika Miyuki bicara kembali. "Kau tahu, ku pikir kau bukan orang yang suka menilai orang lain berdasarkan penglihatan sesaat atau desas-desus yang beredar. Kukira kau cukup adil untuk menilai orang lain setelah benar-benar melihat dan mengenalnya dalam jangka waktu tertentu. Apa aku salah?"

Miyuki tidak salah, dan itu justru membuat Eijun merasa bersalah. "Baiklah." Eijun menyerah. "Aku akan mencoba menilaimu dengan adil mulai sekarang."

"Jadi, kau ambil tempat ini?"

Eijun menatap berkeliling. Harus diakui, tempat ini tidak buruk. Eijun pribadi menyukainya, minimalis, sederhana, dan jaraknya dekat dari kampus. Lokasinya juga strategis. "Berapa uang sewa yang harus kubayar?" Ia menatap Miyuki tajam. "Kalau kau memintaku tinggal secara cuma-cuma, aku akan langsung menolak."

"Aku tahu." Miyuki menyahut maklum. "Harga dirimu memang tinggi, huh?" Ia menyeringai kecil. "Berapa sewa yang kau bayar di flat lamamu?" Eijun menyebutkan nominalnya dalam satuan yen dan Miyuki mengangguk lalu mengulurkan tangan padanya. "Nah, segitulah harga sewanya. Deal?"

"Tidak masuk akal." Sergah Eijun, sama sekali tidak menyambut ramah tangan Miyuki. "Aku akan tinggal sendirian di sini, dan ada banyak poin plus dari tempat ini dibandingkan flat lamaku. Harganya tidak sesuai."

Meski demikian Miyuki tidak menarik tangannya kembali. "Kau mau memakai perabotan di sini?"

"He?" Eijun berkedip lalu mengamati berkeliling. Barang-barangnya memang cukup lengkap dan akan lebih mudah jika Eijun memakainya daripada harus memindahkannya dan membeli yang baru. "Kau akan menaikkan harga sewanya?"

"Kalau kau memang mau memakainya, maka tambahan biaya akan kubebankan dengan balas jasa. Kau rawat barang-barangku, perbaiki ketika rusak, bersihkan dengan rutin, dan pastikan semuanya bisa berfungsi dengan baik."

"Hanya itu?"

"Tentu tidak." Kata Miyuki lugas. Senyumnya kembali ke model yang Eijun benci. "Kau tidak bisa membawa sembarang orang masuk ke sini."

"Kenapa!?"

Miyuki menunjuk dada kirinya lagi. "Cari aman, oke?"

"Aku tidak mungkin menarik sembarang orang ke sini hanya untuk melakukan hal-hal seperti itu!"

"Kanemaru dan Toujo." Miyuki berkata. "Sejauh ini baru mereka yang kupercaya. Mereka boleh masuk." Miyuki mengambil jeda, dan wajahnya berubah serius. "Kau tahu kan rasanya dirundung kecemasan jantungmu akan ditikam setiap malam? Aku hanya tidak ingin mengalami itu, Sawamura. Can we play fair?"

Eijun berpikir, menimbang dalam kepalanya, alasan Miyuki memang masuk akal dan sulit ditolak. Lagipula ia tetap membayar uang sewa dan Miyuki memberi aturan yang harus ditaati demi kepentingan mereka berdua.

"Kuramochi mungkin akan sesekali mengunjungimu juga." Kata Miyuki lagi, senyumnya tampak geli. "Dia sepertinya menyukaimu dan ingin mengadopsimu jadi adik angkatnya."

"Jadi aku cuma boleh membuka pintu untuk Shinji, Toujo dan Kuramochi-senpai?"

"Sejauh ini baru mereka yang kupercaya." Ia berdeham. "Dan aku. Tentu saja kau harus membuka pintu untukku."

"Hah? Buat apa juga kau ke sini? Memangnya kita kelihatan seakrab itu?"

"Menagih uang sewa, mengecek keadaan barang-barangku, dan memastikan kau tidak membakar rumah. Aku hanya akan datang untuk keperluan semacam itu." Kata Miyuki. "Dan jangan pernah memberitahu Chris atau mengajak Chris ke rumah ini, jangan pula mengizinkannya mengantarmu."

"Apa!? Kenapa!? Chris-senpai tidak akan mencuri barang-barangmu atau apa! Dia orang baik!"

"Memangnya kau mau dia tahu soal kita?"

Ah! Eijun membuka dan menutup kembali mulutnya. Mengunyah bibir bawahnya sambil menyadari bahwa ia tak ingin Chris tahu soal hubungannya dengan Miyuki Kazuya.

"Tanganku pegal, Sawamura." Miyuki mendesah berat. "Kau deal atau tidak?"

"Baseball?" Tanya Sawamura heran. "Kau sungguh hanya melihat baseball?"

"Ya." Kazuya menjawab, berbohong. Sebenarnya ia bahkan tidak melihat baseball ketika sebagian dari memori Sawamura masuk ke benaknya saat itu. Tapi berkat informasi dari Kuramochi yang menyatakan bahwa Sawamura adalah seorang pemain baseball, kini ia lebih penasaran akan hal itu. "Kau pitcher, kan?"

Sawamura menatapnya dengan dahi berkerut. "Y-ya." Ia mengangguk dengan kaku. "Tapi rasanya itu sudah lama sekali. Aku heran kenapa justru ingatan itu yang ditrasfer ke kelapamu."

"Sebenarnya bukan hanya itu, tapi kau tahu sendiri kilatan memori itu begitu cepat, jadi sulit mengingatnya. Kebetulan yang kuingat jelas hanya baseball."

Sawamura menggulung bibirnya ke dalam, bergerak seakan ia ingin mengunyahnya. Kazuya bisa melihat keresahan di sana, rasa gugup, dan tidak nyaman. Sawamura memang bukan orang yang sulit dibaca, apa yang dia rasakan bisa langsung terlihat dari gerak-gerik dan air mukanya.

"Mm… aku memang pernah main baseball." Sawamura membuang napas, menggeleng dan tertawa. "Sebenarnya, aku jatuh cinta pada baseball."

"Hmm?"

"Well, aku sudah lama tidak main lagi."

Mobil berhenti di persimpangan, lampu menyela merah dan Kazuya mengambil kesempatan itu untuk menoleh agar bisa mengamati wajah Sawamura lebih detail, meniti ekspresinya. "Kau tidak cedera, kan?"

Sawamura menggeleng. "Aku baik-baik saja." Tak ada kebohongan dalam nada suara ataupun ekspresi di wajahnya. "Aku hanya… ugh, bagaimana mengatakannya?" Ia mengigiti bibirnya lagi, "…hanya saja rasanya aku tidak harus main lagi."

"Sawamura, aku sama sekali tidak mengerti apa yang coba kau katakan."

Sawamura menggerutu, merancaukan bahwa ia tidak peka dan lain sebagainya. "Aku awalnya hanya main karena aku suka. Aku suka saat bisa membentuk tim bersama teman-temanku, bekerja sama, bersenang-senang bersama mereka, sejenis itulah." Ia mengambil jeda, mengalihkan pandangan dari Kazuya dan ganti menatap mobil-mobil yang berbaris di depan mereka. "Tapi semakin lama, aku merasa semakin jauh dari itu. Aku jadi terlalu berambisi untuk menang, aku menekan teman-temanku untuk terus belajar, aku terobsesi untuk menjadi pitcher yang sempurna, Ace yang bisa diandalkan, dan tim terbaik yang tak terkalahkan." Sawamura menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan seakan berusaha meringankan sesuatu yang menumpuk di dadanya. Ia berpaling pada Kazuya, menatap tepat ke matanya. "…dan itu mengerikan."

"Jadi kau memutuskan untuk berhenti?"

Sawamura menurunkan kedua bahunya lemas, bersandar pada jok seakan kelelahan. "Saa ne..."

Lampu berganti hijau, dan Kazuya kembali menginjak gas lalu memacu mobilnya. Tiga menit berlalu, sampai Kazuya memutuskan kembali bicara. "Kau masih mau main? Maksudku, tidak harus secara serius, hanya sebagai hobi, misalnya?"

Sawamura menggeleng tipis. "Aku tidak tahu. Aku bahkan meninggalkan glove-ku di rumah dan tidak pernah lagi melempar bola semenjak pindah ke Tokyo."

Kazuya mengetukkan kukunya ke setir, mereka kini mendekati persimpangan lain di mana seharusnya berbelok ke kiri untuk sampai di flat Sawamura dan Kanemaru. Tapi Kazuya justru bimbang, ia memandang persimpangan itu dan menjalankan mobil dengan lambat sampai akhirnya memutuskan untuk mengambil jalan lurus. Dan Sawamura bahkan tidak sadar akan hal itu, rupanya pemuda itu kini benar-benar larut dalam pikirannya sendiri.

"Mau main denganku?" Kazuya bertanya, suaranya sengaja ditinggikan sedikit agar Sawamura berlahih padanya.

"Apa?"

"Aku juga pemain baseball. Tidakkah kau pernah mendengar namaku atau membaca artikel tentangku di majalah?"

"Hah?" Jarak kedua alis Sawamura membentuk gelombang heran. "Memangnya ada?"

Kazuya mendengus. "Aku yakin sekali aku sudah masuk majalah sejak kelas satu. Catcher Jenius, Miyuki Kazuya yang Menjadi Harapan Baru Bagi Timnya.Tidakkah kau pernah membacanya?"

Wajah Sawamura menjadi sangat aneh seakan dia baru melihat alien. "Apa kau sedang bercanda? Apa itu sarkasme? Apa itu suatu bentuk lelucon anehmu?"

"Kau sungguh tidak pernah membacanya? Kau suka baseball tapi tak pernah membaca majalahnya?"

Sawamura justru terlihat bingung. "Aku suka main baseball, bukan suka baca majalahnya. Memangnya apa yang salah?"

Ingatkan Kazuya lagi kalau kepolosan dan kesederhanaan otak Sawamura Eijun benar-benar bisa membuat darahnya mendidih. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menetralkan kegemasan tak masuk akal yang mendorongnya untuk mencubit pipi atau mengacak-acak rambut Sawamura. "Kapan-kapan coba carilah namaku di berita baseball atau artikel Koshien. Kau akan tahu siapa Miyuki Kazuya yang sebenarnya, alih-alih pemuda berengsek dan tukang main perempuan seperti yang selama ini ada dalam imajenasimu."

Bibir Sawamura mengerucut ke depan sementara tangannya kini bersedekap di depan dada. Ia memandangi Kazuya dengan lirikan sipit seakan mencoba memecahkan suatu masalah serius. "Jadi pada intinya kau cuma mau menyombongkan diri?"

Kazuya memutar mata dramtis, mengambil jalan ke kanan. "Kita benar-benar perlu bicara menggunakan baseball sebelum kau membuatku hipertensi."

Sawamura pada akhirnya menyadari bahwa Kazuya sama sekali tidak membawanya pulang ke flatnya. Pemuda itu melebarkan mata, menatap horror jalanan di depannya. "Kita mau ke mana lagi? Kenapa kau membawaku ke sini? Oi, Miyuki Kazuya!"

Kazuya baru masuk kembali ke dalam mobil dan menutup pintu ketika Sawamura akhirnya bergerak dan mulai bangun. Ia tersenyum, mengamati bagaimana pemuda itu bergerak perlahan, menggeliat, merenggangkan tubuhnya sampai akhirnya membuka mata perlahan.

"Sleep well, Sleeping Beauty?"

Sawamura membuka mata lebar-lebar. Bergerak cepat, duduk tegak, dan menatap kaget ke arah Kazuya. "Aku ketiduran di mobilmu lagi!?"

Kazuya tak menjawab, mengamati dengan senyum geli saat Sawamura mengusap wajahnya dengan kasar sambil merutuk kecil. Sawamura tidur selama hampir dua jam. Rambutnya yang lebat kini tanpak berantakan seperti anak-anak sehabis berlarian di pantai. Pemuda itu sibuk mengucek mata dan menguap lebar lalu membuat ekspresi lucu saat tersadar coat abu-abu Kazuya menyelimuti tubuhnya.

"Ugh, kenapa kau melakukan ini segala?" Sawamura bertaya dengan sedikit nada gugup dalam suaranya, dengan hati-hati mencoba melipat coat Kazuya lalu mengembalikannya.

"Kau lihat di luar hujan baru saja berhenti. Kau terlihat kedinginan tadi. Aku sudah bilang pakaian terlalu tidak masuk akal untuk dipakai musim ini."

Sawamura mencebik. "Kau harusnya membangunkanku."

"Aku membangunkanmu." Kazuya berbohong. "Seperti sebelumnya, kau sangat sulit dibangunkan." Kebohongan yang lain. Pada kenyataannya Kazuya selalu merasa tak berdaya tiap kali dihadapkan dengan wajah tidur Sawamura. Jadi ia hanya berakhir memandanginya, mengatur sandaran jok lebih rendah, lalu tertegun melihat betapa Sawamura akan terlihat sepolos bayi ketika tertidur. "Kau mungkin kelelahan setelah melempar banyak tadi."

Pipi Sawamura merona samar, ia memalingkan wajahnya dari Kazuya dan sibuk mengatur sandaran jok mobil agar kembali tegak. "Aku sudah lama tidak melempar. Dan melempar denganmu ternyata lumayan menyenangkan."

Kazuya tersenyum miring, mengingat kembali kejadian beberapa jam yang lalu saat akhirnya ia membawa Sawamura ke Baseball Center yang tidak hanya diisi batting center tapi juga bullpen dan perlengkapan lain untuk catch ball. Mereka akhirnya menghabiskan waktu lebih lama di sana layaknya dua maniak baseball yang tak dapat menahan diri.

"Hujan lagi."

Kazuya mendongak, menatap ke luar jendela mobil. Hujan turun dengan deras di luar seperti beberapa waktu lalu saat Sawamura masih tidur. Pemuda itu sendiri kini duduk memandangi jendela depan dengan mata bulat yang berkedip polos. "Jangan bilang kau tergoda untuk main hujan-hujanan."

"Aku tidak bilang begitu!"

Kazuya tertawa geli. "Oke, oke." Ia melempar coat ke jok belakang lalu menyerahkan satu cup kopi yang sebelum ini dibelinya kepada Sawamura. "Untukmu. Cappucino."

Sawamura memandangi dengan bimbang sebelum menerimanya dan bergumam terima kasih. Kazuya sendiri meraih kopi lainnya dan mulai menyesapnya perlahan, diam-diam mengamati bagaimana Sawamura meminum kopinya perlahan dan tampak tidak masalah dengan varian kopi yang Kazuya pilihkan untuknya.

"Kita di mana?" Sawamura akhirnya menyadari keadaan sekitar.

"Jalan lain menuju flatmu." Jawab Kazuya. "Aku memutuskan berhenti sebentar untuk membeli kopi." Ia lalu meraih kantong makanan dari atas dasbor, merogoh isinya dan menyerahkan satu set burger pada Sawamura. "Kita terlalu lama di baseball center sampai melewatkan makan siang. Aku sempat ke drive thru dan membeli ini, makanlah."

Lagi, Sawamura memandang dengan bimbang. "Kau membelinya untukku juga?"

"Aku beli empat burger karena kita belum makan siang dan ini sudah memasuki waktu makan malam." Kazuya menjawab, lalu dengan tak sabar menyerahkan burger ke tangan Sawamura dan mengambil satu yang lain dan mengigitya. "Jangan banyak bertanya dan cepat makan saja."

Sawamura membuka lapisan kertas burger di tangannya dan mengigit dalam ukuran besar. "Kupikir kau tidak suka junk food."

Kazuya mendengus, mengunyah perlahan. "Tidak banyak pilihan saat aku harus mencari makan sambil membawa seseorang yang tidur dengan begitu lelapnya."

Sawamura menggerutu, memilih untuk tidak menjawab dan melahap burger hingga pipinya penuh. Selama beberapa saat tak ada percakapan yang terjalin di antara mereka. Hanya suara hujan di luar, kunyahan, juga sesekali tegukan kopi sampai masing-masing dari mereka mulai memakan burger kedua.

"Kau kelihatannya masih menikmati saat pitching tadi." Kazuya akhirnya berkata, mengingat kembali wajah antusias Sawamura ketika melempar padanya beberapa waktu yang lalu. "Kau masih mau main?"

Sawamura berhenti mengunyah. Tangannya turun ke pangkuan dan bugrgernya digenggam sedikit terlalu erat, lantas ia menggeleng muram. "Aku tidak tahu."

Kazuya menghela napas. "Kau tidak harus main di tim. Kau bisa tetap main lempar tangakap seperti tadi atau sesekali menguji coba variasi lemparanmu."

Sawamura tidak menjawab, tapi Kazuya bisa melihat binar di matanya menginginkan gagasan itu menjadi nyata.

"Kau bisa melempar padaku." Kazuya berkata ringkas tanpa berpikir dua kali. "Aku lumayan suka menangkap lemparanmu."

Sawamura kini menatapnya. "Sebenarnya ada apa denganmu, sih? Kau sangat aneh hari ini."

"Aneh?"

Sawamura mengangguk tegas. "Ya. Aneh." Ia berkata seperti hakim, jika dia punya palu, Kazuya curiga Sawamura bakal mengetuknya juga. "Kau tiba-tiba menawariku tempat tinggal. Mengajakku main baseball, membiarkan aku tidur lagi di mobilmu, menyelimutiku, membelikanku kopi dan makanan. Lalu sekarang kau bahkan menawarkan diri sebagai catcher jika aku ingin melempar. Kau sangat aneh, Miyuki Kazuya."

Kazuya mendengus. Mengabisakan potongan terakhir burgernya lalu meremas sampah kertas di tangannya dan memasukkannya ke kantung semula. "Aku tidak aneh." Kata Kazuya setelah selasai menelan. "Aku hanya berbuat baik."

"Justru itu yang aneh!" Sawamura bersikeras. "Buat apa kau berbuat baik padaku?"

Kazuya mengambil napas panjang. "Bisakah kau menghargai kebaikan orang lain padamu? Tindakanmu dengan mengataiku aneh itu tidak sopan."

Sawamura menggeleng. "Tidak." Katanya bulat. "Tidak bisa. Sama sekali tidak bisa." Ia berkata tegas tanpa kompromi. "Kau dan kebaikan adalah dua hal yang tidak pantas bersanding. Apa motifmu sebenarnya?"

Kazuya mencoba untuk tidak terlalu sakit hati. "Kau sadar apa yang kau katakan?"

"Aku sadar seratus persen."

Dia bahkan menjawab tanpa berkedip, batin Kazuya. "Aku tidak punya motif apapun, oke? Berhentilah menatap curiga padaku."

"Tapi kau bilang saat orang berbuat baik, mereka pasti menginginkan sesuatu!"

"Hah? Kapan aku bilang begitu?"

Sawamura cemberut. "Saat kita membahas Chris-senpai." Katanya, dan sekejap Kazuya teringat percakapannya dengan Sawamura pagi itu sebelum mereka bertengkar.

"Jadi kau curiga sekarang?"

"Katamu aku harus waspada!"

Kenapa anak ini harus mengingat apa yang kukatakan padanya?

"Kau bilang ini Tokyo, dan saat orang berbuat baik mereka pasti menginginkan sesuatu!"

"Aku tidak seperti itu."

"Tapi kau bilang tanpa terkecuali."Sawamura mengingatkan dengan tajam. "Itu berarti kau juga termasuk! Kau juga orang yang tinggal di Tokyo!"

Inikah yang dinamakan senjata makan tuan? Kazuya mencoba memutar otaknya. Menggali pembendaharaan katanya untuk menemukan kalimat yang tepat. "Kau tidak perlu curiga atau wasapada padaku, mengerti? Tak ada apapun yang kuinginkan darimu."

Sawamura menggeleng lagi, tatapan matanya sekeras besi. "Itu justru makin aneh. Kau memintaku waspada terhadap orang sebaik Chris-senpai tapi berpikir positif dan longgar terhadapmu. Sama sekali tidak masuk akal."

Sekarang Kazuya bingung harus marah atau terkesan. Kenapa Sawamura jadi sangat logis? Apa segelas kopi dan dua burger membuat kemampuan analisanya meningkat? "Jadi kau berpikir aku punya motif tertentu?"

"Ya!"

Lagi-lagi jawaban bulat tanpa mengedipkan matanya. Kazuya mendengus, mencoba mencari jalan keluar agar terbebas dari tatapan curiga Sawamura yang sejak tadi bagai menelanjanginya. "Oke, panggil aku Miyuki-senpai."

Wajah Sawamura langsung memucat. "Apa-apaan itu?" Ia menelan ludah sekan berusaha menelan racun. "Kau pasti sudah gila."

Kazuya jusru tertawa. "Aku hanya memintamu memanggilku dengan sopan seperti sewajarnya."

Seperti yang Kazuya duga, Sawamura memang sulit menerima permintaan itu. jadi, Kazuya memakainya sebagi peluang untuk hal lain yang lebih menarik. "Baiklah, tidak perlu buru-buru." Tersenyum manipulatif lalu mengulurkan telapak tangannya pada Sawamura. "Sini berikan saja ponselmu, aku ingin kau menyimpan nomorku."

...

Kazuya mendorong kepala ke permukaan dan membuka mulut untuk menarik napas singkat sebelum kembali menyelam dan memberi gaya dorong yang membuatnya meluncur lebih cepat. Bergerak bebas dengan bantuan ayunan tangan dan sekujur tubuh bergerak untuk membelah tekanan air.

Ia bisa melihat dindingnya, mungkin dua meter lagi, satu lagi dorongan, tangan menyentuh permukaan keramik, dan gerakan cepat berdiri lalu menarik napas puas.

"Nice speed."

Kazuya mengusap wajahnya sebelum mendongak untuk bertemu dengan seorang pemuda yang berdiri di tepi kolam renang. Tinggi menjulang dengan senyum kecil di bibirnya, memakai setelan kemeja kasual keluaran Finamore yang dipadukan dengan celana chinos.

"Chris?" Kazuya menyipitkan mata. "Aku tidak tahu kau datang."

Chris balas tersenyum. "Ayahku yang mengajak."

Kazuya menyeringai geli, mengambil gerakan untuk keluar dari kolam renang dan meraih handuk yang disampirkan di bangku untuk mengeringkan rambutnya. "Kau sudah lama?"

Chris menggeleng, Kazuya bisa merasakan mata Chris memandang ke arahnya dengan tatapan asing seakan sedang menganalisa. "Aku baru meneguk setengah gelas minumanku ketika diutus untuk menarikmu keluar dari kolam renang dan bergabung bersama kami."

Kazuya berhenti menggasak rambutnya, menatap Chris dengan satu alis terangkat. "Golf?"

"Yes, again." Chris menyahut disertai dengan cengiran tipis. "Kita akan berangkat dalam dua puluh menit."

Kazuya memutar mata. "Bisakah kau kuajak bekerja sama? Katakan saja aku tenggelam di kolam renang, kram, atau apalah. Aku benar-benar tidak mau menghabiskan akhir pekanku di lapangan berbukit-bukit yang membosankan itu."

Chris terkekeh samar. "Bagaimana kalau kita ikuti dulu kemauan ayah kita selama setengah jam, lalu kabur ke batting center dan memukul sampai tanganmu kebas?"

Kazuya menyeringai. "Marry me, Chris." Ia bergurau. "Ayo minta ayah kita untuk mengatur perjodohan, karena aku benar-benar suka jalan pikiranmu."

Chris tertawa renyah. "Aku harus minta izin pada soulmatemu untuk itu." Mata Chris mengarah pada dada kiri Kazuya. Tepat pada garis-garis imprint yang membentuk potongan berlian membentang bagai tato abadi. "Saat melihatnya aku pikir itu tampak familiar." Chris berkata, mendengus kecil, memamerkan senyuman yang asing di mata Kazuya. "Sawamura Eijun."

Imprint di dada Kazuya menghangat ketika Chris melafalkan nama itu. Selama periode detik yang singkat, pikirannya mendadak kacau. Ini di luar rencana. Kazuya jelas sudah menusun rencana untuk menyembunyikan fakta ini dari Chris selama beberapa waktu, agar ia bisa puas bermain-main dengan hubungan Chris dan Sawamura. Tapi sekarang rencananya terpaksa jungkir balik akibat kecerobohan kecilnya.

Kazuya membuang napas, berupaya tersenyum selagi otaknya menyusun rencana baru. "Kupikir Sawamura sudah menceritakannya padamu."

Chris menggeleng. "Topik itu hanya pernah muncul satu kali dan Sawamura tidak suka saat aku menanyakannya. Saat itu aku bertanya-tanya orang seperti apa yang menjadibelahan jiwanya sampai dia terlihat kesal." Chris mengambil jeda, mengamati Kazuya dan tersenyum tipis. "Ternyata kau orangnya."

Kazuya mengangkat alis, ia mungkin perlu mengapresiasi Chris karena pemuda itu nyatanya mampu mengatur mimik air mukanya tetap tenang dan tidak tampak cemburu setelah mengetahui fakta bahwa junior kesayangannya ternyata adalah soulmate Kazuya. Jadi mari kita lihat, Kazuya membatin. Sampai sejauh apa kau mampu menyembunyikan perasaanmu, Chris. Ia menyeringai dengan dagu terangkat. "Nah, masalahnya tidak semua soulmate serasi seperti kau dan Amanda. Aku dan Sawamura adalah cotoh produk gagalnya."

"Amanda?" Chris mengulang nama itu dengan suara rendah, semyumnya miring ke satu sisi dan geli di sisi yang lain. "Tidak kusangka kau masih mengingat namanya."

Tentu saja Kazuya ingat. "Amanda adalahbelahan jiwamu." Seorang wanita berkebangsaan Amerika dengan rambut merah dan bola mata hijau, paras cantik dan tubuh yang seksi. "Kau pernah membawanya ke pesta sekitar dua tahun yang lalu."

Chris mengangguk seakan baru menyadarinya. "Yah, secara teknis, secara imprint, dia memang belahan jiwaku."

Kazuya mengernyit. "Kau…" Ia mencoba berpikir, mencari kata yang tepat. "Jangan bilang kau putus dengannya?"

Chris tersenyum samar. "Aku yakin kau bukan orang melankolis yang berpikir bahwa soulmate adalah harga mati yang harus kau pilih untuk pasangan hidupmu, Miyuki."

"Wow, Chris." Kazuya bersiul terhibur. "Aku tidak tahu apa yang salah denganmu, tapi Amanda Highway kau sia-siakan begitu saja?" Ia menggeleng, menatap Chris tak percaya. "Dude, she is super hot! Kau seharusnya langsung naik ke tahap bonding atau mating jika dipasangkan dengan wanita seperti itu."

"Amanda dan aku sama-sama produk liberal, Miyuki. Kami punya jiwa yang bebas. Jika memang pada kenyataannya tidak serasi, untuk apa memaksakan diri?"

Itu bodoh, pikir Kazuya. Semua orang jelas bisa melihat betapa serasinya Chris dan Amanda ketika keduanya berdampingan di pesta tiga tahun yang lalu. Mereka memiliki imprint berbentuk dua segitiga dengan alas sejajar sehingga terlihat seperti layang-layang yang terbelah dua. Amanda sengaja memakai gaun terbuka yang menampilkan imprint di punggung mulusnya.

"Takigawa Chris Yuu." Kazuya berkata dengan senyuman geli di bibirnya. "Melepaskan gadis sekelas Amanda Highway begitu saja,"—dan kini tergila-gila pada bocah sembilan belas tahun super berisik, bodoh, menyebalkan, impulsif, keras kepala dan naif bernama Sawamura Eijun―"Aku benar-benar tidak memahami jalan pikiranmu."

Chris tertawa kecil. "Itu bukan masalah. Hanya saja, sekarang aku bingung harus mengajak siapa ke pesta nanti."

Pesta itu… Kazuya bahkan baru mengingatnya. Ia selama ini tak pernah berminat dan selalu setengah hati menghadiri pesta semacam itu. Tak jarang, ia bahkan mangkir lebih dulu sebelum acara benar-benar usai. Meninggalkan gadis yang menjadi teman kencannya begitu saja, atau bahkan menarik gadis lain di pesta. Kazuya ingat pernah memikat gadis yang dibawa Amahisa Kosei, di lain waktu ia bahkan berhasil membuat Mima Shoichiro kesal karena gadis yang dibawanya jatuh ke pelukan Kazuya. Semua hal tentang pesta hanyalah permaian di mata Kazuya. Tapi tahun ini… ia melirik pada Chris, lalu menunduk sedikit ke arah dadanya, imprint itu masih di sana, dan pemikiran cemerlang melintas di kepalanya secepat kedipan mata—mungkin permainannya akan lebih menarik.

Bersama satu seringai terbelah di bibirnya, Kazuya berdiri dengan tangan di pinggang. Menatap Chris puas seakan ia telah keluar sebagai pemenang. "Rasanya aku sudah tahu siapa yang akan kuajak ke pesta nanti."

'Cuma mau mengingatkan, pestanya akan berlangsung dalam tiga hari lagi.' [17.22]
'Meski otakmu hanya sebesar kuaci, semestinya kau ingat hal itu.' [17.23]

'Kalau kau memang benar-benar ingin aku pergi denganmu, setidaknya cobalah untuk menyaring kalimatmu! BERENGSEK!' [Read. 17.25]

'Oww, lalu bagaimana aku harus mengatakannya?' [17.26]
'Would you to be my party-date, Sawamura-kun? ;)'
[17.27]

'YOU FREAKING ME OUT!'[Read. 17.27]
'Kau bukan gay, kan…!?!?'[Read. 17.29]

'Ha ha ha~' [17.31]
'Tenang saja, aku sama lurusnya denganmu.' [17.32]
'Kau seharusnya mengerti kenapa aku mengajakmu, Sawamura.' [17.33]
'Yah... Kecuali kau lebih suka merasakan jantungmu ditikam saat aku mengajak orang lain.' [17.35]

'DON'T YOU DARE! MIYUKI KAZUYA!' [Read. 17.36]
'AKU AKAN MENUNTUTMU KALAU SAMPAI KAU MEMBUATKU KESAKITAN LAGI!'
[Read. 17.37]

'See? Pada akhirnya ini juga demi kebaikanmu.' [17.39]
'Jadi cobalah untuk mulai menilaiku sebagai orang baik,' [17.40]
'dan cobalah memaggiku Miyuki-senpai~' [17.42]

"Layar ponselmu bisa retak jika kau menatapnya seperti itu."

Eijun lekas menoleh. Chris sudah duduk di sebelahnya, dan menyodorkan sebotol limun.

"A-aa," Eijun menyahut tergagap, menerima limun pemberian Chris lalu bergumam terima kasih. "Hanya gangguan dari orang menyebalkan bermulut tajam dan kelakuan absurd yang selalu cengengesan."

"Miyuki?"

Eijun nyaris tersedak, ia menatap Chris dengan mata membulat kaget. "Darimana Senpai tahu?"

Chris angkat bahu, tersenyum ringkas. "Aku sudah tahu dia belahan jiwamu." Pemuda itu berkata ringan, menyundul botol limun Eijun dengan miliknya seperti bersulang. "Selamat."

Eijun mengatupkan rahang dengan keras. "Apa dia memberitahu Chris-senpai soal ini?"

Chris menggeleng. "Aku melihat imprint Miyuki tanpa sengaja, lalu aku ingat tandanya mirip denganmu, dan Miyuki tidak menyanggahnya."

Kini Eijun bahkan tidak tahu harus melakukan apa selain menunduk dengan lesu dan memutar-mutar botol limunnya. "Kami tidak cocok."

"Apa kau kecewa karena Miyuki bukan soulmate yang selama ini kau impikan?"

Eijun bergerak dengan gelisah, menatap ujung sepatunya yang berlapis tanah. "Aku kecewa karena tidak ada yang bisa kulakukan dengan ini." Imprint di dadanya menghangat lagi, menyudutkannya pada realita keji bahwa tanda itu tak akan pernah hilang dan Eijun tak akan bisa merubah apapun. "Dan pada akhirnya salah satu dari kami harus meninggalkan Tokyo atau bahkan meninggalkan Jepang."

"Kau keberatan meninggalkan Tokyo? Meninggalkan Jepang?"

Eijun mengerjap. "He?" Ia mengamati wajah Chris yang kini menyimpan rasa penasaran dan juga tampak berusaha memastikan sesuatu. "Kalau hanya meninggalkan Tokyo mungkin tidak apa-apa. Tapi kalau meninggalkan Jepang…" Eijun menggeleng samar. "Aku belum pernah memikirkannya."

Chris mengangguk samar, dan tidak mengatakan apapun. Eijun menghela napas panjang, dan membuka botol limunnya. Meneguk sampai setengah isi dan membiarkan rasa asam-manis itu menginfeksi rongga mulutnya. Ia merasakan ponselnya bergetar lagi, dua pesan baru yang masuk. Tapi Eijun memilih untuk tidak mengeceknya, membiarkannya terabaikan untuk sementara guna menetralkan rasa kesal di hatinya yang menumpuk.

"Aku berencana tinggal di Kanada setelah menyelesaikan studiku di sini." Chris berkata ringan, mata ambernya mengunci mata Eijun dengan pandangan penuh penerimaan sekaligus tawaran hangat.

Hal terakhir yang Eijun ingat sebelum Chris berlalu dari hadapannya adalah usapan lembut di rambutnya juga bisikan samar Chris yang menyampaikan undangan implisit untuk pergi ke Negara Maple itu bersamanya.

"Whoa… Apa kau sungguh Sawamura Eijun yang kukenal?"

Eijun memeriksa lagi simpul dasinya ketika Shinji berjalan mendekat, dan mengamat-ngamatinya bagaikan sebuah patung marmer. Eijun meneggakkan punggungnya, memeriksa kancing kemejanya lagi lalu menatap mata Shinji. "Apa aku terlihat aneh?"

Shinji mengangkat satu alisnya tinggi-tinggi. Mengamati wajah Eijun selama tiga detik lalu beralhih ke ujung kakinya, menelusuri secara vertikal sampai ke ujung rambutnya. "Sejujurnya sih, iya, kau aneh." Saat Eijun mulai menggerakkan bibir untuk mengajukan keluhan, Shinji buru-buru bicara lagi. "Tapi itu aneh yang bagus. Maksudku, wow! Coba lihat dirimu, Sawamura! Akhirnya aku bisa melihatmu lepas dari imej bocah lima belas tahun. Ini prestasi yang membanggakan!"

Eijun merotasikan bola matanya dramatis. "Haruskah aku memakai setelan tuxedo setiap hari agar benar-benar dianggap dewasa?"

Shinji menarik satu sudut bibirnya ke atas lalu mengusir sehelai benang yang menempel di bahu Eijun. "Kau sudah hampir dua puluh tahun, Sawamura." Ia berkata, mengingatkan seolaah Eijun mungkin lupa dengan usianya sendiri. "Kalau penampilanmu konsisten seperti ini, kau mungkin akan masuk jajaran cowok populer di kampus."

Eijun mendelikkan bahu dengan tak acuh. Menoleh ke meja tv dan mengulurkan tangannya untuk meraih jam tangan kesayanganya yang tergeletak di sana. Tapi Shinji dengan sigap menangkap pergelangan tangannya, menahan gerakannya lalu menatapnya tajam. "Jangan berani-berani kau memakai benda itu."

Eijun ganti menatap sengit. "Kenapa!? Itu jam kesayanganku!"

Shinji berdecak malas. "Malam ini saja, Sawamura. Tolong biarkan jam kesayanganmu tidak ikut." Katanya, bicara tanpa melepaskan genggaman dari pergelangan tangan Eijun. "Kau sudah memakai setelan tuxedo, derby shoes, dan mengubah gaya rambutmu menjadi comma hair. Aku tidak akan membiarkanmu merusak penampilan manly ini karena mamakai jam tangan merah mencolok itu. Don't you dare, Sawamura."

Eijun balik menatap Shinji dengan keras. "Tidak ada yang salah dari jam tanganku! Kau tahu, aku membelinya dari hasil gaji pertamaku saat kerja part-time di liburan SMA."

"Whatever." Sahut Shinji tak tertarik, lalu menarik tangan Eijun menuju pintu. "Dua menit lagi sampai Miyuki-senpai menjemputmu, sebaiknya kau cepat keluar sebelum dia membunyikan klakson dan membuat keributan."

"Kenapa kau mengusirku lagi!?"

Shinji membuka pintu dan mendorong Eijun keluar. Menahan tangan di dadanya agar Eijun tidak kembali menyerbu masuk. "Karena aku teman yang baik," Kata Shinji, merogoh saku celananya dan menekan sehelai sapu tangan yang terlipat rapi ke dada Eijun. "Pastikan kau membersihkan wajahmu tiap kali makan atau minum sesuatu. Selamat bersenang-senang, bye!"

Dan pintu tertutup rapat tepat di depan wajahnya. Eijun berdiri terpana, memandangi pintu yang tertutup dan merasakan momen terulang kembali saat Shinji mengusirnya keluar dua pekan yang lalu. Kalau saja setelah ini ada suara klakson…

TIINN!

Yep, Eijun tersenyum masam. Menjejalkan sapu tangan pemberian Shinji ke sakunya lalu berjalan dengan langkah lebar ke tempat di mana Miyuki Kazuya menunggunya.

"Kali ini kau tepat waktu―Wooow… benarkah kau Sawamura?"

Eijun memutar mata, mengabaikan Miyuki dan memilih untuk memakai sabuk pengaman. Tapi bahkan setelah ia selesai memasang sabuk pengaman dan duduk menghadap ke depan, Miyuki masih memandanginya dan tidak juga menjalankan mobil. Malam ini, pemuda itu tidak memakai kacamata, melikih menggunakan lensa kontak seakan berupaya mempertegas pesona mata topaz karamelnya. Eijun menghela napas, menoleh pada pemuda itu dan menyeringai tajam. "Kalau kau memandangiku terus, aku akan menganggapmu benar-benar gay."

Miyuki balas menyeringai, memindahkan gigi dan mulai menginjak pedal gas. "Aku sebenarnya sudah menyiapkan pakaian untukmu, tapi rupanya kau tidak butuh, hm?"

"Kau pikir aku tidak tahu caranya berpakaian yang benar ke pesta? Hell, aku bahkan meminta keluargaku mengirimkan dua setel tuxedo dari rumah. Jadi berhentilah menyepelekanku, Miyuki Kazuya."

"Wah, rupanya kau cukup antusias untuk acara ini sampai-sampai minta dikirimi pakaian segala." Ia menggerling, tatapan culas dan nakal yang membuat Eijun gatal ingin meninju wajahnya. "And that's Miyuki-senpai, remember?"

Eijun tidak menyahut. Ia lebih memilih untuk menatap ke depan dan memperhatikan jalanan Tokyo di malam hari. Masih banyak lampu warna warni yang menghiasi kota sisa perayaan valentine yang mungkin tidak akan dilepas sampai penghujung bulan Maret. Radio mobil Miyuki menyiarkan berita seputar olahraga, diputar dalam volume yang cukup kecil namun kini terdengar jelas karena mereka berdua tidak saling bicara.

"Omong-omong, aku lega kau tidak memakai jam tanganmu."

Eijun mendesah berat, kenapa Shinji dan Miyuki memiliki komplain yang sama soal penampilannya? "Apakah jam itu melukaimu? Berbuat jahat padamu? Atau membuatmu merasa terancam? Dia tidak salah apa-apa, kenapa orang-orang terus merisaknya, sih?"

"Aku tidak merisaknya." Miyuki berkata, anehnya terdengar jujur. "Hanya saja, tiap kali melihatmu memakainya aku selalu merasa kau adalah Power Ranger Merah yang siap berubah."

"Kalau kau sebegitunya tidak suka penampilanku, kau seharusnya tidak mengajakku." Itu diluar rencana, tapi suara Eijun terdengar terluka saat mengakatannya.

Miyuki berhenti tertawa, senyumnya menghilang dan ia menoleh untuk memberikan tatapan yang jauh dari kata main-main. "Aku tidak bermaksud begitu, Sawamura." Bahkan suaranya terdengar menyesal. "Khusus malam ini saja, kita tinggalkan sebentar Si Ranger Merah. Kau bisa kembali menjadi dia setelah ini. Oke, Jagoan?"

"Kenapa aku merasa kau semakin menganggapku anak kecil?" Eijun ingin suaranya terdengar tajam dan menusuk, tapi yang keluar justru gerutuan kecil yang membuat Miyuki tersenyum percaya diri seakan ia sudah dimaafkan. Dan kenapa Eijun merasa mulai terbiasa dengan senyum itu?

"Sawamura," Miyuki memanggil lagi, melirik sekilas dan tersenyum simpul. "Bukalah laci dasbor di depanmu dan keluarkan isinya."

Eijun menyipitkan mata, mencoba mengenali apakah ada unsur jebakan dalam suara pemuda itu, setelah memastikan Miyuki serius, ia megulurkan tangan untuk membuka laci. Merogoh ke dalam dan menarik dua kotak berbeda ukuran, Eijun bisa langsung mengenali kotak yang pertama. Jam tangan, keluaran GUCCI. Kotak lainnya berbentuk persegi panjang berwarna hitam yang entah bersisi apa.

"Jangan bilang kau menyuruhku memakaikannya padamu."

Miyuki menggeleng, tersenyum simpul. "Aku sudah pakai, kau lihat?" Ia mengangkat tangan kirinya sekilas di mana jam tangan mewah melingkar dengan elegan di sana. "Kau bisa memakainya." Eijun membuka mulut, tapi Miyuki dengan cepat menyela. "Bukan hadiah, oke? Aku tahu kau tidak bisa dibeli dengan barang mewah atau uang. Anggap saja untuk malam ini aku meminjamkannya sebagai ganti karena kau harus meninggalkan jam tangan kesayanganmu. Kau bisa langsung melepasnya saat kita pulang." Miyuki menarik napas, menatap ke matanya. "Aku tahu kau terbiasa memakai jam tangan, pasti aneh rasanya saat tanganmu kosong, kan?"

Andai Miyuki tidak mengatakan hal selogis itu… Eijun menghembuskan napas panjang, lalu membuka kotak itu, menatap sejenak jam tangan yang berkilauan di dalamnya. Untunglah modelnya tidak bertentangan dengan selera Eijun, tersenyum kecil Eijun lalu memakai jam itu di pergelangan tangan kanannya.

"Looks nice." Miyuki berkomentar, entah sejak kapan memperhatikan Eijun dengan senyuman menghiasi wajahnya. "Suits on you."

Eijun hanya berdeham, mengalihkan pandangan ke kotak yang lain. "Lalu ini apa?"

"Bukalah, malam ini kau akan memakainya. Khusus yang itu wajib."

Eijun mengernyit, membuka kotak degan sedikit terburu-buru dan menemukan sebuah topeng pesta berwarna emas dengan detail ukiran yang begitu artistik.

"Tema malam ini adalah pesta topeng, jadi kau perlu memakainya. Aku memilihkannya untukmu, tapi kalau kau tidak suka kita bisa mampir dulu untuk membeli yang lain."

Eijun menatap topeng itu sejenak, lalu menggerakkan jarinya untuk menyentuh ukirannya. Sepertinya topeng itu terbuat dari bahan berkualitas agar bisa dipakai senyaman mungkin, bahkan pada bagian dalam ada lapisan beledu hingga kulitnya tidak akan tergores atau membentuk garis kemerahan akibat tekanan. "Aku akan memakai yang ini." Eijun menjawab, mengeluarkan topengnya dari dalam kotak dan memasukkan kembali dua kotak itu ke laci dasbor.

Satu hal yang pantas Kazuya kagumi malam ini adalah, bagaimana seorang Sawamura Eijun bisa terlihat begitu berbeda dengan setelan tuxedonya. Kazuya tak mengenali merek pakaian yang dikenakan Sawamura, akan tetapi itu sama sekali tidak tampak murahan atau norak. Bahkan kemeja, dasi, sepatu, dan gaya rambutnya sangat berbeda dari Sawamura sehari-hari, sehingga ia bisa saja disalah sangka salah satu anak dari kolongmerat yang berpengaruh di Jepang. Yang lebih membuatnya kagum adalah, Sawamura sama sekali tidak tampak canggung dengan setelan seperti itu. Ia tetap terlihat santai, penuh percaya diri, dan tidak membuang jati diri seorang Sawamura Eijun yang sebenarnya. Bahkan jam tangan Kazuya tampak serasi di pergelangan tangannya seakan-akan itu memang milik Sawamura sejak awal.

Kazuya mematikan mesin mobilnya begitu selesai parkir, melirik lagi pada Sawamura yang kini mulai memakai topengnya. Ia memakai topeng itu tanpa banyak bicara, protes atau bertanya macam-macam. Dan Kazuya diam-diam menunggunya selesai hanya untuk memastikan akan seserasi apa warna emas dengan Sawamura. Saat Sawamura akhirnya selesai dan menoleh padanya, Kazuya tak mampu menahan diri untuk melepaskan senyuman.

"Kau tersenyum." Sawamura berkata, matanya berkilat dari balik topeng. "Apa itu senyum mengejek?"

Kazuya menggeleng, tersenyum lebih lebar. "Aku tersenyum karena topengnya cocok untukmu." Setengah wajah Sawamura bagai dilapisi emas dengan ukiran mewah, Kazuya sengaja memilih topeng dengan bagian bola mata berlubang lebih besar karena tak ingin menutupi bentuk mata asli Sawamura. Dan pilihannya tepat, kini, mata itu terlihat makin bersinar dan cemerlang dengan pancaran warna emas di sekelilingnya. Kazuya bisa memsatikan Chris akan langsung mengenali mata itu dalam sekali lihat.

"Kau tidak pakai topeng?" Sawamura bertanya, kepalanya miring ke satu sisi.

"Tentu saja pakai." Kazuya menyahut, meraih kotak lain yang selama ini tersimpan di dekatnya lalu mengeluarkan sebuah topeng lain yang mirip dengan yang dipakai Sawamura namun dengan warna berbeda. "This is mine." Kazuya mengangkatnya ke udara, menggoyangkannya sekilas agar Sawamura melihat jelas.

"Perak." Sawamura mengamati topeng itu, lalu mengangkat bahu. "Kupikir kau akan memilih warna hitam atau sesuatu yang lebih gelap."

Sejujurnya ia memang lebih suka warna gelap seperti hitam atau biru dongker, tapi saat melihat topeng emas dan perak itu berdampingan, entah mengapa ia justru lebih tertarik untuk membelinya. "Aku akan tetap tampan tidak peduli warna apapun yang kupilih." Jawab Kazuya begitu selesai memasang topeng, mengedipkan sebelah mata lalu memberi Sawamura cengiran culas. "Bukankah begitu?"

Sawamura membuat gerakan seakan muntah-muntah. "Yang lebih penting, Miyuki Kazuya, sebagai siapa aku harus memperkenalkan diri saat orang bertanya nanti?" Ia mengunyah bibir bawahnya lagi, gestrur yang selalu dilakukan saat merasa resah atau memikirkan sesuatu. Tanpa sadar, Kazuya sudah menghafal kebiasaan itu. "Aku tidak mungkin secara terang-terangan menyebutkan namaku, kan?"

"Karena ini hanya pesta untuk orang-orang yang kurang lebih seumuran denganku, maka kau tidak perlu memperkenalkan diri dengan formal. Kau cukup jadi pasanganku malam ini. Tapi kau benar, pasti ada beberapa orang yang akan mengajakmu bicara dan menayakan namamu."

"Jadi kau sudah memikirkan nama untukku?"

Emas, batin Kazuya menjawab. Kazuya menolak untuk menjadi melankolis, tapi tiap kali memandang Eijun ia tak pernah bisa berpaling dari keindahan iris matanya yang senada dengan emas dua puluh empat karat.

"Sesuatu yang berhubungan dengan topengmu malam ini."

Eijun berkedip, jemarinya bergerak meraba topeng di wajahnya lantas ia menatap Kazuya dengan begitu lugu. "Emas? Gold? Golden?"

"Aurum." Sahut Kazuya lugas, tersenyum ringkas. "Diambil dari bahsa Latin."

Eijun mengerjap, mengulang kata Aurum di lidahnya lalu memiringkan kepala. "Rasanya seperti salah satu unsur yang ada dalam tabel periodik. Golongan 1B, (Cu) cuprum-tembaga, (Ar) argentum-perak, dan (Au) aurum-emas." Ia lalu tertawa geli dan memandang Kazuya dengan mata berbinar yang membuat Kazuya membeku di tempat. "Aku suka."

Kazuya menahan napas tanpa sadar. Merasakan perasaan asing mengalir di dadanya. Sawamura belum pernah tersenyum dengan cara semanis ini padanya, dan hal kecil itu secara menggelikan membuatnya gugup tanpa dasar yang logis. Kazuya berdeham, memalingkan muka ke arah lain dan mencoba mengatur termor tak wajar di dadanya. "Tidak kusangka kau ternyata hapal unsur kimia." Mengganti kegugupannya dengan seringai culas yang kembali merubah ekspresi manis Sawamura menjadi dengusan kesal.

"Tsk, sudahlah, kalau terlalu lama di sini bisa-bisa kita hanya bertengkar dan terlambat." Ia berkata, lalu melepas sabuk pengamannya dan membuka pintu. Kazuya mengamati dengan senyum geli dan keluar tak lama setelah Sawamura.

"Kalau kau butuh aku untuk menggandeng tanganmu, katakan saja, jangan malu-malu." Kazuya kembali menggoda Sawamura saat mereka menaiki lift.

"Aku tidak memakai sepatu hak tinggi atau gaun yang menyapu lantai. Aku tidak akan terpeleset atau apa, jadi jangan berani-berani kau menyentuhku."

"Ouch, galaknya…" Kazuya bersenandung riang. Lalu bergeser hingga bahunya bersentuhan dengan Sawamura. "Sedikit saran, kau mungkin harus menurunkan volume suaramu jika tidak ingin menarik banyak perhatian, Sawamura."

Sawamura tidak menjawab sampai pintu lift terbuka, ia menarik napas panjang seperti mengumpulkan keberaniannya lalu mulai melangkah setelah sebelumnya menoleh pada Kazuya, tersenyum simpul dan berbisik. "Bukankah kau seharusnya memanggilku Aurum?"

Kazuya bahkan butuh tiga detik untuk menyadari bahwa Sawamura telah melangkah lebih dulu ke luar dari lift. Ia tertegun lalu mendengus geli, andrenlin dan perasaan bersemangat memenuhi dadanya. Meneggakkan tubuhnya dan membusungkan dada, Kazuya melangkah lebar, mengambil posisi tepat di sebelah Sawamura. Melangkah dengan penuh percaya diri ke ruang pesta.

"Miyuki Kazuya dan seorang tamu." Kazuya berkata begitu berhadapan dengan seorang penjaga tepat sebelum melangkah menuju pintu masuk. Penjaga itu tersesenyum dan membungkuk sopan pada mereka berdua lalu mempersilahkannya berjalan menuju pintu. Dua orang lain langsung membuka pintu untuknya dan Sawamura lebar-lebar, mengucapkan serangkaian sapaan hormat juga membungkuk ketika mereka melintas.

Kazuya mendapati dirinya terkagum lagi ketika melirik ke arah Sawamura. Di bawah pencahayaan yang baik, Sawamura bahkan tampak lebih mempesona dari sebelumnya. Tuxedo mengilap ketika tertimpa cahaya lampu, topeng emasnya berkilauan dan membuat wajahnya tampak lebih cerah. Matanya… memikat dengan cara yang tak mampu ditiru orang lain. Sawamura terlihat begitu percaya diri, melangkah dengan dada membusung dan ayunan kaki santai tetapi mantap. Ia sama sekali tidak terlihat gugup atau merasa seperti partikel asing di tengah-tengah pesta mewah itu, membaur layaknya ini adalah taman bermainnya.

"Kau tidak terlihat gugup." Pada akhirnya Kazuya tak tahan untuk berkata.

Sawamura menoleh singkat, angkat bahu, dan secara ajaib tak mengambil gerak menjauh. "Aku beberapa kali diajak ibuku ke acara sejenis ini."

Kazuya mengernyit. "Bukankah keluargamu tinggal di desa dan mengelola usaha pertanian? Kenapa bisa mengikuti acara sejenis ini?"

Eijun balas mengernyit menatapnya. "Dari mana kau tahu keluargaku mengelola usaha pertanian?"

Kazuya sontak mengatupkan rahang dan menggigit lidahnya. Ia benar-benar kelepasan. Tidak mungkin ia mengatakan bahwa informasi itu ia dapat setelah membaca berkas data diri Sawamura yang Kuramochi berikan untuknya. "Well, aku pasti sempat melihatnya sekilas saat memorimu masuk ke kepalaku. Hanya sekilas, muncul begitu saja." Ia berdoa semoga alasannya terdengar masuk akal. "Apa itu benar?"

Untungnya Sawamura tidak memusingkannya lebih jauh. "Itu milik keluarga ayahku." Ia berkata. "Keluarga ibuku berbeda, dan lebih dekat dengan budaya semacam ini. Tapi begitu orangtuaku menikah, ibuku mulai meninggalkan dunia itu dan tinggal di desa bersama keluarga ayahku."

Kazuya punya celah untuk mengkritik Kuramochi karena tak menuliskan informasi ini ke dalam berkas yang ditulisnya tentang Sawamura. Lalu Kazuya melupakan gagasan itu karena Kuramochi pasti meledeknya habis-habisan saat mengetahui Kazuya membaca berkas tentang Sawamura alih-alih membuangnya. "Jadi, kau mendatangi pesta seperti ini karena ibumu?"

Sawamura mengangguk. "Aku tidak mempelajarinya dengan serius karena aku lebih suka main di desa bersama teman-temanku. Tapi kalau hanya sebatas table manner, ballroom dance, cara memegang gelas wine, dan sejenisnya mungkin aku masih bisa."

Jadi itulah sebabnya kau sama sekali tidak terlihat gugup atau ragu. Kazuya akhirnya mengerti. Sawamura secara psikis mungkin tidak nyaman dengan semua kehidupan glamor, tetapi fisiknya secara terlatih sudah terbiasa menghadapi kondisi ini. Tak ada alasan yang membuatnya terlihat gelisah karena merasa salah tempat.

"Apa kau mempelajari instrumen musik juga?"

"Biola." Sawamura menjawab, menatap Kazuya dan tersenyum miring. "Ku tebak, kau mungkin mengambil kelas piano?"

Kazuya tersenyum, mengambil dua gelas dari nampan yang dibawa pelayan yang melewati mereka lalu memberikan satu untuk Sawamura. "Bingo." Ia membenturkan gelasnya dengan gelas Sawamura hingga menimbulkan denting ringan dan mengundang senyum geli di bibir Sawamura.

Mata Kazuya lalu menyapu sekitar, bibirnya menyeringai ketika menemukan seseorang di arah jam dua, meski jaraknya cukup jauh dan dia memakai topeng dengan warna hijau gelap, Kazuya tak akan salah mengenali. Hugo Boss adalah salah satu ciri utama seorang Takigawa Chris Yuu. Kazuya berpaling pada Sawamura yang entah sejak kapan sudah memegang dua potong cake di tangannya, bersiap untuk melahapnya sekaligus. Lagi, ia tersenyum. "Kau keberatan kalau aku tinggal sebentar?"

Sawamura berkedip. "Ke mana?"

"Hanya menyapa beberapa orang." Kazuya menjawab, lalu menghabiskan minuman di gelasnya dalam sekali teguk. "Tenang saja, aku tidak akan selingkuh darimu malam ini."

Sawamura mendengus kasar, melahap dua potong cake sekaligus sehingga pipinya penuh dan tampak selucu gaya makannya yang biasa. "Sebaiknya kau kembali sebelum aku kelaparan dan menghabiskan semua makanan di sini."

Kazuya tertawa dengan jujur dan sama sekali tidak merasa keberatan dengan sikap kekanakan itu. "Kau boleh makan sepuasnya. Tidak akan ada yang menghentikanmu, Aurum."

Terakhir Kazuya mengambil sepotong cake yang sama lalu mendorongnya masuk ke mulut Sawamura. Menyuapi pemuda itu sebelum ia sempat berkutik atau berpikir lebih jauh. Kazuya tertawa geli, menjilat sisa krim di jarinya sebelum berlalu meninggalkan Sawamura yang masih memandanginya terbengong dengan mulut dipenuhi cake.

"Good evening, Gantlemen."

"Miyuki?"

Kazuya tersenyum simpul. "Senang kau tetap mengenaliku dalam keadaan seperti ini, Chris."

Chris balas tersenyum. "Aku bisa mengenali suaramu, sesuatu dalam dirimu sangat Miyuki Kazuya dan tak mudah dilupakan."

Kazuya mengangkat satu alisnya, menyeringai pada pemuda itu dengan mata mengerling jenaka. "Apa kau baru saja menyusun puisi romantis untukku?"

Chris mendengus, tertawa kecil lalu tersadar akan sesuatu. Tangannya kini bergerak ke arah seorang gadis bertopeng ungu yang sejak tadi berdiri di sampingnya. "Ini Nona Fujiwara Takako."

Kazuya menyambut tangan Takako yang terulur ke arahnya lalu menunduk kecil untuk mengecup punggung tangannya. "Selamat malam." Ia menyapa, tersenyum tipis. Lantas melirik pada Chris, pilihan yang bagus, batin Kazuya. Malam ini Chris menggendeng putri tunggal Fujiwara Himoto sebagai pasangannya.

Bibir Takako yang terposes lipstick merah tua menyungingkan senyuman. "Miyuki-kun, rasanya terakhir kali aku melihatmu kau masih lebih pendek dariku. Sejak kapan kau tumbuh setinggi ini?"

Pertemuan mereka sebelumnya terjadi lima atau enam tahun yang lalu sebelum Takako melanjutkan studinya di London. Dulu, Takako adalah seorang putri cantik kolongmerat, kini ia menjelma menjadi wanita dewasa yang anggun dan elegan. Bahkan meski mengenakan topeng, Takako tetap mampu memancarkan pesona kecantikan wanita dewasa. "Puberty hit me so well then." Kazuya tersenyum miring, lalu menegakkan tubuhnya. "I am a men now."

Takako dan Chris tertawa kecil. "Yeah, kau benar-benar pria dewasa sekarang." Chris menimpali candaan Kazuya, lalu memberinya tatapan menantang. "Dan apa pria dewasa ini tidak membawa pasangan ke pesta?"

Gocha. Kazuya memamerkan senyum kompetitif di wajahnya, sengaja mengerling lebih dominan ke arah Chris. "Tentu aku membawa pasangan." Kazuya bergeser sedikit, memastikan Chris dapat melihat melewati bahunya. "Seseorang di sana, yang memakai topeng emas. Dialah pasanganku malam ini."

Chris dan Takako menatap ke balik punggung Kazuya, hanya butuh dua detik sampai Kazuya menemukan hormon endorfin membanjiri darahnya. Bibir Chris tak bergerak, tetapi matanya berbicara. Apapun yang ia berusaha sembunyikan di balik topeng itu, dapat Kazuya lihat dengan jelas dari cara bagaimana matanya menatap, bibirnya membentuk garis kaku, atau tangannya yang mengepal kuat. Chris langsung mengenali Sawamura.

"Laki-laki itu?" Suara Takako menarik Kazuya kembali.

Kazuya membalasnya dengan senyuman lebar penuh kemenangan. "Untuk malam ini kalian bisa memanggilnya Aurum."

Takako berkedip. "Aku tidak menyangka kau akan mengajak laki-laki menjadi teman kencanmu ke pesta ini, Miyuki-kun."

Kazuya terkekeh samar, melirik lagi pada Chris dan nyaris melompat girang kala mendapati betapa keras ekspresi wajahnya. "Nah, masalahnya Aurum adalah laki-laki yang menarik. Kupikir dalam pesta seperti ini kita perlu mengajak seseorang yang menarik, terlepas dari dia laki-laki ataupun perempuan, jika dia mampu membuatmu merasa lebih bersemangat, maka itu tidak masalah." Mata Kazuya menggerling dalam kilatan menantang sekaligus berbahaya kepada Chris. "Bukankah begitu, Chris?"

Chris menatapnya. Mata amber yang menggelap di balik topeng hijaunya. Seutas senyuman ditekan kuat di bibirnya. "Tentu." Ia menyahut, lugas, tajam. "Tapi akan lebih menyenagkan jika orang itu sungguh-sungguh ingin berada di pesta tanpa merasa dipaksa."

Sindiran dalam kalimat itu membuat perut Kazuya tergelitik. Gelora membakar dadanya dalam bentuk antusiasme tak mau kalah. "Tak ada paksaan sama sekali." Kazuya berkata ringan. "Dia bahkan mengejutkanku karena telah mempersiapkan tuxedo sejak jauh-jauh hari. Tapi mungkin dia tidak akan suka jika aku meninggalkannya terlalu lama." Kazuya tersenyum lagi, menatap bergantian pada Takako dan Chris lalu tersenyum geli. "Dia bisa semanis Pudel, tapi akan berubah segalak Doberman andai aku berpisah terlalu lama darinya."

"Kalian pasti sangat dekat." Takako kembali bicara, senyumnya begitu anggun dan dewasa. "Kau tidak berhenti tersenyum saat membicarakannya, Miyuki-kun."

Kazuya mengangkat alisnya. Seberapa gembira ia dapat menyudutkan Chris sampai-sampai Takako menyadarinya?

"Well, Kalau begitu aku permisi. Aku harus main dengan Pudel-ku sebelum dia berubah lagi jadi Doberman. Enjoy the party~"

Kazuya melambaikan tangan sambil berlalu pergi, menyeringai lebar selagi kakinya melangkah makin dekat dengan Sawamura yang kini menghadap ke samping. Sawamura masih memegang gelas yang sama, sementara fokusnya tak jatuh pada Kazuya. Ia justru menatap ukiran es batu berbentuk sepasang angsa dengan kolam biru bawahnya. Kazuya berjalan mendekat, mengambil langkah seringan kapas dan mengulurkan tangannya ke pinggang Sawamura, hanya untuk mendapat reaksi berupa serangan cepat berupa teknik memelintir tangan.

"Sakiiitt." Kazuya mendesis, menatap mata Sawamura yang terbakar.

"Kau lupa bagaimana pertemuan pertama kita? Biar kuingatkan, aku membantingmu ke lantai. Kau masih berani kurang ajar padaku?"

Kazuya balas tersenyum masam. "Aku tidak bermaksud kurang ajar padamu. Kau menghalangi pramusaji yang mau lewat, aku hanya menggeser posisimu untuk membantunya."

Kobaran di mata Sawamura meredup, ia berkedip dan menoleh lalu bertemu pandang dengan seorang pramusaji yang membawa dua mampan besar di masing-masing tangannya. Berdiri dengan canggung dan salah tingkah menatap mereka.

"Permisi, Tuan." Pramusaji itu menunduk sopan, dan Sawamura secara reflek bergeser untuk memberi jalan sembari mengangguk kaku.

Kazuya mendengus, pelintiran Sawamura mengendur dan ia mengambil kesempatan itu untuk membebaskan diri. Dalam hati merapal doa semoga Chris tidak melihat Sawamura menyerangnya.

"Uh, well…" Sawamura berdeham keki. "Sorry."

Kazuya mengusap pergelangan tangannya, memberi pijatan kecil untuk menetralkan rasa sakit akibat serangan Sawamura. "Kau benar-benar bisa mematahkan tanganku, kau tahu?"

Sawamura mengerucutkan bibir, cemberut menatap Kazuya. Andai topengnya dilepas, Kazuya pasti bisa melihat betapa kekanak-kanakan ekspresi di wajahnya saat ini. "Lagi pula kenapa kau harus menyentuh pinggangku? Kau kan bisa menyentuhku di punggung, bahu atau apalah, setidaknya di tempat-tempat yang tidak membuatku mengira sedang mengalami pelecehan seksual."

Pelecehan seksual, kalimat itu menggelitik Kazuya. Ia kini sungguh penasaran seberapa buruk penilaian Sawamura terhadapnya. "Aku tidak meremas bokongmu atau apa, itu sama sekali bukan pelecehan seksual."

"Aku kaget, oke?" Ia membuang napas pendek. "Aku sedang fokus pada hal lain dan tiba-tiba ada seseorang yang memeluk pinggangku. Cobalah pikirkan dari sudut pandangku."

Kazuya menghela napas panjang, memutuskan untuk tidak mendebat lebih jauh karena seharusnya malam ini ia bisa tertawa sebab berhasil membuat Chris kepanasan. Ia memeriksa jam tangannya, masih jauh dari waktu menuju sesi akhir pesta. Kazuya biasanya bertahan paling lama dua jam sebelum pergi begitu saja, kali ini ia bahkan tidak yakin mampu menahan Sawamura lebih dari satu jam tanpa membuat keributan.

Sekitar satu setengah jam kemudian acara sampai pada pesta dansa. Musik waltz berputar, mengalunkan nada-nada romantisme berpadu dengan pencahayaan semi redup. Sawamura tentu menolak saat Kazuya mengajaknya berdansa, tapi tak akan sulit membujuknya. Cukup menunjuk dada kirinya dengan tatapan bermakna kau-mengerti-kan? Maka Sawamura akan langsung memasang ekspresi seakan terpelintir lalu akhirnya menangangguk setuju.

"Aku akan mengambil bagian sebagai laki-laki karena aku lebih tinggi darimu."

Sawamura memelototinya. "Kau tidak setinggi itu!" Tapi ia tidak menunjukkan protes lebih jauh saat Kazuya menariknya mendekat, menyelipkan tangan kanannya di bawah lengan kiri Sawamura hingga tangan terhubung dengan belikat Sawamura. Kazuya menemukan dirinya menahan napas saat telapak tangan kiri Sawamura mendarat di bahu kanannya, kepala pemuda itu mendongak sedikit hingga mata mereka bertemu dalam segaris udara. Ia bahkan harus menahan bibirya untuk tidak berseru terpesona begitu menatap mata emas itu dalam jarak sedekat ini.

Kazuya bernapas perlahan, mengangkat tangan kirinya ke udara sampai Sawamura menyambutnya dan tangan mereka bersatu dalam genggaman yang kental akan afinitas. Mereka memulai langkah pertama tepat ketika musik berganti, memainkan instrumen milik Dmitri Shostakovich , The Second Waltz.

Kazuya menyadari Sawamura tersenyum ketika menyimak musik yang diputar, pemandangan yang cukup membuat Kazuya heran hingga tanpa sadar mengangkat alis memandanginya. "What is that?"

"Huh?"

"You smiling." Jawab Kazuya, mereka bergerak mengikuti alunan musik, berbaur dengan pasangan lain.

"Oh," Sawamura memberinya cengiran kecil lalu angkat bahu. "Bukan apa-apa." Ia berkata. "Hanya lagunya."

"Ada yang salah dengan lagunya?"

Sawamura menggeleng, dan Kazuya melihatnya seakan berusaha menyembunyikan tawa. "Dmitri Shostakovich, The Second Waltz. Lagu ini membawaku pada satu memori yang cukup lucu."

"Jangan katakan kau pernah menginjak kaki gadis yang jadi pasangan dansamu ketika menarikan lagu ini." Ia bermaksud sarkas, tapi Sawamura tidak terlihat kesal, bahkan senyumnya justru semakin jelas. Kazuya punya kesan menggelisahkan bahwa setiap kali Sawamura tersenyum lebih banyak padanya, maka tubuhnya akan memanas tiba-tiba.

"Aku mungkin baru kelas lima saat itu." Sawamura memulai cerita, sesuatu yang harus Kazuya syukuri karena ia jadi tak terlalu larut mengamati senyum cemerlangnya. "Ada seorang gadis seusiaku di pesta itu, namanya Sakura. Semua anak laki-laki mengolok-oloknya karena dia memakai kawat gigi, sedikit kegemukan dan berwajah aneh."

"Kau termasuk salah satu dari anak laki-laki itu?"

"Apa aku terlihat seperti anak seperti itu?" Ia memberi tatapan jengkel.

Ah, benar juga. Meski tidak terlalu mengenalnya, tapi Kazuya paham bahwa Sawamura bukanlah anak yang nakal dengan cara seperti itu. sawamura mungkin bertengkar dan membuat keributan, tetapi jelas ia bukan anak yang nakal dengan mengolok-olok orang lain.

"Pokoknya, anak laki-laki mengejeknya dengan berpura-pura mengajak Sakura berdansa, ketika dia tersenyum dan mengangguk setuju mereka akan tertawa dan mengatakan apa kau gila? Kau pikir aku mau berdansa dengan babi betina?" Wajah Sawamura menjadi muram ketika mengingatya. "Mereka benar-benar berengsek."

Kazuya mengagguk samar, meski sebenarnya hal seperti itu bukan lagi hal baru atau kejadian luar biasa yang bisa ditemui. Dia pribadi beberapa kali melihat kejadian yang hampir mirip, anak-anak kaya merasa memiliki segalanya hingga bebas melakukan atau berkata apa saja sesuai kehendak mereka. Sementara bertindak jahat adalah salah satu trend yang dianggap wajar-wajar saja.

"Jadi di mana bagian lucunya?"

Mendengar pertanyaan itu, Sawamura tersenyum lagi. Matanya berbinar. Kazuya mencoba mendeskripsikan seperti apa mata itu, tapi selalu gagal karena pesonanya cenderung berubah-ubah. Kadang mengilap seperti emas, kadang tajam dan keras seperti batu citrine, kadang begitu hangat seperti gelora api perapaian.

"Aku menjadi pasangan dansanya setelah itu." Sawamura menjawab lugas. "Aku masih berdansa dengan gadis lain saat Sakura diolok-olok, tapi saat lagu berganti aku memutuskan untuk menghampiri Sakura dan mengajaknya berdansa. Tentu saja anak-anak lain mengira aku hanya berusaha mengejeknya, dia sendiri juga kelihatan takut padaku, masih menangis. Tapi aku mengambil langkah lebih berani dengan mengenggam tangannya dan membawanya ke lantai dansa."

Kazuya tersenyum tanpa cela. "You such a gentleman, huh?"

Sawamura tak menanggapi bualannya. "Singkat kata, aku berhasil membuat mereka semua bergeming saat sungguh-sungguh berdansa dengan Sakura. Aku bahkan tersenyum dan mengajaknya bercanda hingga dia berhenti menangis dan mulai menikmati pesta."

"Apa yang kau katakan padanya?" Kazuya bertanya basa-basi, matanya memandang melewati bahu Sawamura dan bertukar pandangan dengan Chris yang sedang berdansa dengan Takako. Nice timming! Kazuya menyeringai dan berpura-pura tertarik pada cerita Sawamura lagi.

"Aku bilang, kalau dia bisa jadi lebih keren dan lebih kuat dari semua anak laki-laki itu, maka tidak akan ada yang berani mengejeknya lagi. Mereka akan terlalu malu untuk tertawa kalau giginya ompong."

Kali ini Kazuya sungguh berminat. "Kau menyuruhnya menghajar anak-anak itu?"

Sawamura angkat bahu. "Aku tidak bermaksud begitu, tapi Sakura menerjemahkan nasihatku dengan cara yang luar biasa. Dia tidak pernah muncul lagi di pesta sampai dua tahun kemudian. Semua anak mengira dia trauma, terlalu malu, bahkan sudah mati bunuh diri. Tapi kemudian Sakura mucul dengan sangat luar biasa." Sawamura tersenyum lebar, penuh kebanggaan. "Dia telah menjadi gadis remaja yang sangat-sangat cantik dan membuat semua anak laki-laki berlomba menjadi pasangan dansanya, Sakura akan tersenyum manis dan mengangguk setuju tapi kemudian melayangkan tinju kuat tepat di rahang hingga gigi anak laki-laki itu copot."

Kazuya mengerjap dan nyaris menginjak kaki Sawamura. "Apa katamu?"

Sawamura terkekeh geli. "Sakura bukan hanya menjadi gadis yang cantik, tapi dia telah menjadi kecantikan yang kuat, pintar, dan berbahaya. Tak ada lagi yang berani mengejeknya setelah itu. Bahkan anak laki-laki yang kena tinju juga tak mau mengungkitnya karena terlalu malu dikalahkan oleh seorang perempuan."

Kazuya tersenyum miring dan menyipitkan mata. "Dan kau adalah laki-laki beruntung yang akhirnya dipilih jadi pasangan dansanya."

Sawamura mengangguk. "Itu terakhir kalinya aku ikut pesta semacam itu, setidaknya sampai malam ini." Ia memberi Kazuya senyum masam. "Terima kasih padamu karena aku harus tercebur lagi dalam suasana pesta seperti ini."

Kazuya tertawa geli, menyadari bahwa Sawamura memang masih menyimpan rasa kesal padanya karena terpaska masuk ke acara semacam ini lagi. "Tapi dansamu bagus juga." Ia mengakui, tersenyum ketika Sawamura mengerjapkan mata memandangnya. "Ini pertama kalinya kau mengambil posisi wanita, kan? Tapi kau tidak kelihatan kaku sama sekali."

Mereka berhenti sebentar, menantikan lagu selanjutnya lalu mulai menari lagi saat alunan Vienna Blood milik Johann Strauss berputar dalam gubahan yang dimainkan oleh André Riau.

"Ibuku adalah penari yang hebat." Sawamura akhirnya menjawab saat musik memasuki bagian dengan lebih banyak hentakan nada. "Dia yang mengajariku, berdansa dengannya selalu terasa menyenangkan."

"Jadi kau menikmati ballroom dance seperti ini?"

Sawamura menampilkan senyum miring yang tajam. "Terlepas dari kenyataan bahwa kau pasangan dansaku, yah, sebenarnya aku cukup suka karena ini membawaku pada kenangan indah bersama ibuku."

"Kau berdansa juga malam itu."

"He?"

"Di klub malam, kau berdansa bersama seorang gadis bergaun hitam. Lalu kau menciumnya."

"Oh, maksudmu Erika-san?" Sawamura berdeham keki. "Uh, yah… terjadi begitu saja." Ia mengerutkan hidungnya dengan lucu. "Aku bahkan tidak pernah lagi bertemu dengannya, kalau dipikir-pikir rasanya itu kurang ajar sekali. Ibuku pasti akan menjewer kupingku sampai putus kalau tahu."

Kazuya tersenyum geli, melirik lagi ke arah Chris dan mendapatkan fakta bahwa pemuda blasteran itu masih memandangi mereka dengan penuh selidik seakan-akan mengawasi, menanti-nanti kapan Kazuya akan mengeluarkan pisau dan menodong Sawamura hingga ia bisa berlari dan tampil sebagai pahlawan.

Sambil menyeringai, Kazuya memimpin langkah agar Sawamura selalu berada pada posisi membelakangi Chris, kemudian ia sengaja menatap intens pada Sawamura, tersenyum, membuat gestur seakan ia sungguh menikmati dansanya dengan Sawamura dan menampilkan kesan bahwa Sawamura berhasil membuatnya terhibur―yang mungkin memang tidak sepenuhnya bohong.

"Katakan," Kazuya berbisik kecil. "Berapa banyak cake yang kau makan tadi?"

Sawamura mengerjap, memberi tatapan lucu yang membuat sesuatu menggelitik perut Kazuya dan memaksanya mengakui kemanisan tak masuk akal dari ekspresi itu. "He?"

"Bibirmu penuh dengan whipped cream."

Sawamura membeliak, mengambil gerak menarik tangannya dari genggaman Kazuya tapi Kazuya menahan dengan tepat waktu. Ia menoleh singkat dan memastikan Chris melihat mereka dengan jelas sebelum kemudian tersenyum simpul. "Ada cara yang lebih menyenangkan untuk membersihkannya." Lalu ia maju untuk mengecup Sawamura dan mengambil semua whipped cream yang menempel dengan satu jilatan ringan di atas bibir Sawamura yang tak bergerak.

Kazuya memejamkan mata, mengeratkan genggaman tangannya pada telapak tangan Sawamura dan menariknya lebih dekat sebagai antisipasi andai pemuda itu memberontak. Tetapi Sawamura nampaknya terlampau kaget hingga tak mampu bereaksi apa-apa. Tetap bergeming bahkan ketika Kazuya menekan kecupan lebih lama dari durasi yang ia rencanakan.

Tidak buruk, Kazuya membatin. Di balik semua teriakan berisik dan ocehan panjangnya ternyata bibir Sawamura terasa cukup kissable.

Saat Kazuya menarik diri, ia bahkan tak lagi ingat untuk menoleh pada Chris dan mencari tahu seperti apa ekspresinya. Matanya fokus pada Sawamura, mengamati bagaimana bibir itu sedikit terbuka, basah akibat jilatannya, mata emasnya menatap Kazuya tak mengerti, polos, kaget dan membuat Kazuya menggigit bibir bawahnya lalu mendekat sekali lagi.

"Kau boleh menamparku setelah ini." Kazuya berkata, lalu kembali memejamkan mata dan mencuri satu lagi ciuman dari bibir Sawamura dalam durasi yang lebih lama, sentuhan yang lebih intens, dan resapan kenikmatan juga sensai yang lebih dalam dari sebelumnya.


to be countinued


a/n: mari kita lihat, apakah chapter selanjutnya Kazuya bakal digampar sampe giginya rontok? :D Anyway, saya sudah baca semua review yang masuk, tapi maaf belum sempat balas sekarang. Saya sangat menghargai setiap review yang mampir di ceriya saya, begitu pula untuk favs dan follow. Jadi jangan sungkan-sungkan untuk meninggalkan jejak, gratis kok, hitung-hitung dorongan agar saya lebih semangat lanjutin hehe.