Sawamura tidak membalas ciumannya tetapi juga tidak mendorongnya atau menunjukkan reaksi negatif lain. Situasi yang membuat Kazuya nyaris hilang akal dan bertindak lebih jauh. Namun kesadaran yang tersisa dalam dirinya berhasil membawanya kembali ke permukaan, menghentikan ciuman, menarik diri.

Ekspresi Sawamura tak terbaca, dan topeng emas itu sama sekali tidak membuatnya lebih trasparan. Kazuya tidak tahu apa yang pemuda itu pikirkan. Hal itu membuatnya resah karena selama ini Sawamura begitu mudah dibaca maupun diterjemahkan. Kazuya menanti, menantikan ekspresi dan reaksi apa saja sebagai sebuah tanda dari Sawamura. Ia mengamati wajah pemuda itu dengan gelisah sambil menjilat kecil bibir bawahnya dan berusaha untuk memfokuskan pikirannya agar tidak mengacu pada bagaimana rasa bibir Sawamura yang tertinggal di sana. Namun lebih dari satu menit berlalu, Sawamura tetap bergeming.

"Hey," Kazuya menyerah untuk menunggu. "You okay?" Ia menelan ludah. Tenggorokannya tercekat, dan logikanya berdiri mati-matian bersama harga diri untuk menolak realita bahwa kini ia sedang gugup. "Sawamura―"

"Ayo menari sampai lagu ini selesai." Potong Sawamura lugas, tatapan matanya kuat dan tegas. "Setelah itu, aku akan senang jika kau mengizinkanku makan. Aku sangat kelaparan."

...

Sisa malam itu hampir seluruhnya diisi dengan keheningan. Setelah menari hingga lagu berhenti, Kazuya menuruti keinginan Sawamura. Membawanya ke bagian lain dari pesta di mana meja-meja bundar tertata dengan elegan dan para pelayan siap sedia melayani mereka dengan berbagai hidangan lezat. Sawamura makan dengan tenang tanpa melupakan table manner. Kazuya sendiri memilih untuk tidak memancing keributan ataupun membawa topik ciuman itu lebih jauh. Meski diam-diam di dalam kepalanya sibuk menyusun beragam jawaban andai Sawamura menyerangnya sewaktu-waktu.

Kazuya bahkan tak dapat menemukan Chris. Ia yakin Chris melihat kejadian itu, tetapi bagaimana reaksi Chris? Terbakar? Sedih? Cemburu? Kazuya tidak punya kesempatan untuk memastikan karena seluruh perhatiannya teralihkan berkat ketenangan Sawamura yang tak bisa diprediksi.

Diamnya Sawamura terus bertahan sampai mereka meninggalkan pesta, menaiki mobil, dan bahkan hingga mobil berhenti di depan gang kecil menuju flat Sawamura. Kazuya mengambil napas panjang. Mematikan mesin mobil tapi tetap membiarkan pintu mobil terkunci untuk menjaga Sawamura agar tidak segera pergi. Kazuya berdeham, memposisikan tubuhnya sedikit serong agar mampu menatap Sawamura lebih baik. "Adakah yang ingin kau katakan padaku?"

Sawamura bersandar pada jok, bernapas dengan tenang lalu menatap Kazuya dan mengembalikan jam tangan yang entah sejak kapan sudah dilepas dari pergelangan tangannya. Kazuya menghebuskan napas, menerima jam itu dan nyaris meremasnya.

"Terima kasih sudah mengantarku pulang." Sawamura berkata dengan tenang lalu melepaskan sabuk pengamannya.

"Itu saja? Itu saja yang ingin kau katakan?"

"Memangnya aku harus bilang apa?"

"Anything!" Kazuya nyaris membentak karena terlalu gemas. Ia menarik poninya kasar dan membuang napas berat. "Sawamura, aku menciummu. Dua kali. Aku merasa kau seharusnya marah atau apa. Aku menantikanmu meledak sejak tadi. Shit! Aku bahkan menahan napasku!"

Selama beberapa detik lamanya, Sawamura tak menunjukkan reaksi apapun. Ia hanya duduk di sana, memandangi Kazuya yang merasa akan segera gila. Kemudian Sawamura mendengus, tesenyum samar dan memasang ekspresi seakan ia hendak menghina. "Jadi orang sepertimu bisa juga frustasi?"

Kazuya berhasil menjaga harga dirinya dengan tidak mengangga. "Sawamura, stop it already." Ia menghembuskan napas tajam. "Berhentilah bersikap sok keren dan bangga seakan kau telah memenangkan sesuatu."

Sawamura berdecak, menyilang tangan di depan dada dan mengangkat dagu seperti anak kecil yang angkuh. "Jadi apa penjelasanmu? Aku diam saja karena merasa kau seharusnya punya inisatif, kedewasaan, juga rasa bertanggung jawab untuk menjelaskannya lebih dulu sebelum aku bertanya!"

Untuk sesaat Kazuya hanya mampu tertegun. Kemudian ia mengatur napas dan menata ulang emosinya serta menampilkan ekspresi kembali tenang. Ia menarik napas, membuka mulut dan siap untuk bicara, tapi Sawamura menjadi tidak sabar.

"Kau bilang kau lurus! Kenapa kau menciumku? Kalau kau hanya melakukannya satu kali sebagai alsan ingin membersihkan whipped cream di bibirku mungkin aku masih bisa menoleransinya kerena kepribadianmu memang kacau dan suka menggoda! Tapi buat apa yang kedua tadi? Tidak ada alasan kau harus melakukan itu!"

Dia akhirnya benar-benar meledak, Kazuya membatin. Membuka mulutnya kembali untuk bicara, tapi lagi-lagi Sawamura menyembur lebih dulu.

"Aku mencoba mengingat-ingat barang kali kau mabuk atau apa! Tapi napasmu sama sekali tidak berbau alkohol dan kau kelihatan sejuta persen sadar! Jadi apa maksudnya ciuman itu!? Itu tidak lagi lucu untuk sebuah lelucon karena kau―" Sawamura terengah karena lupa bernapas. "―kau sepertinya melakukanya dengan sengaja, kau bahkan mencoba memasukkan lidahmu ke mulutku! Damn it, Miyuki Kazuya! Aku merasa otakku lumpuh karena tidak mengerti kenapa cowok lurus melakukan ciuman seperti itu padaku!"

"Oke, Sawamura―"

"Sebaiknya kau punya alasan yang bagus untuk itu, Miyuki Kazuya! Masuk akal, logis, dan bisa diterima. Atau aku bisa benar-benar menganggapmu gay dan melaporkanmu karena menyerangku padahal jelas-jelas kau tahu aku ini lurus!"

"Aku—"

"Ah! Mungkin kau akan melakukan pembelaan karena aku tidak melawanmu sama sekali? Hah! Aku sudah menyiapkan jawaban untuk itu. Aku-masih-punya-sopan-santun. Aku tahu di pesta itu ada banyak orang yang barangkali akan menjadi mitra bisnis atau kolegamu di masa depan. Aku masih bisa berpikir jernih dan karenanya aku tidak memberontak atau menghajarmu di depan semua orang! Jadi sebaiknya kau jelaskan maksud dari tindakanmu di pesta tadi, Miyuki Kazuya! CEPAT JELASKAN!"

Sawamura akhirnya berhenti, terengah-engah.

Kazuya terpaku di tempatnya, menggeleng dengan takjub. "Mungkin kau seharusnya memulai karir sebagai seorang rapper. Kau sadar berapa banyak suku kata yang kau ucapkan dalam waktu satu menit?"

Sawamura belum mencerna lelucon itu sampai sepuluh detik, dan saat berhasil memahami kalimat Kazuya, wajahnya menjadi merah padam atas penggabungan marah dan malu. "Jangan mengalihkan pembicaraan!"

Kazuya angkat tangan. "Rileks."

"Aku tidak mau rileks! Aku mau penjelasan!"

"Calm down."

"Jangan memperlakukanku seakan aku anak kecil yang―"

"Sawamura, breathe."

Sawamura mengambil napas. Menghembuskannya perlahan dari mulutnya. Ekspresinya mulai mengendur, Kazuya merasa konyol karena rasanya seakan ia Natasha Romanov yang mencoba menenangkan Hulk agar kembali ke wujud Bruce Banner.

"Oke," Kazuya ikut menarik napas perlahan, menatap hati-hati pada pemuda di sebelahnya. "boleh aku bicara sekarang?"

Sawamura masih mengatur napas, tapi dia tidak terlihat berusaha mendebat atau meledak lagi. Saat akhirnya Sawamura mengangguk setuju, Kazuya menghela napas lega, kemudian berdeham kecil dan mulai bicara. "Aku akan jelaskan perlahan." Kazuya mengambil jeda untuk membaca ekspresi Sawamura. "Untuk ciuman yang pertama itu, aku memang hanya bermaksud membantu membersihan whipped cream di bibirmu, aku tidak ingin lengan tux atau kemejamu kotor, kan kita juga sedang ada di tengah-tengah dansa. Jadi, well... hanya cara itu yang kupikirkan."

Sawamura belum merespon, dan itu sedikit membuat Kazuya resah kalau-kalau Sawamura tak mempercayai alasannya. Tetapi kemudian Sawamura membuat gerakan merogoh saku celananya dan mengeluarkan sehelai sapu tangan biru tua, menunjukkannya pada Kazuya. "Aku bawa sapu tangan. Aku tidak akan mengotori pakaianku."

Kazuya menelan ludah. "Aku tidak tahu itu. Aku pikir kau akan bertindak impulsif dan menggunakan lengan kemejamu."

Sawamura menghembuskan napas, mengangguk seakan memaklumi. Reaksi yang membuat Kazuya patut bangga karena itu berarti iatelah melewati satu tahap tesnya. "Lalu yang kedua,"—aku hanya merasa sangat ingin menciummu—tentunya ia tidak cukup bodoh untuk mengatakannya. "Kau pernah dengar seseorang yang mempunyai kissing addict?"

Sawamura mengangkat alis. "Memangnya ada?"

"Ada." Kazuya menjawab lugas, mencoba terdengar rasional. "Kuramochi terus-menerus mengataiku berengsek karena aku sering berciuman dengan gadis yang berbeda setiap kali masuk ke pub, bar, atau mengunjungi pesta. Tapi sebenarnya..." ia mengambil napas, menjilat bibirnya yang kering. "Itu karena aku mengalami kissing addict."

Sawamura memberinya tatapan ngeri. "Apa kau penjahat seksual atau orang mesum? Dan bermaksud mengatakan bahwa aku baru saja masuk ke dalam daftar korbanmu?"

"Sawamura, tolong berpikir lebih imliah, oke? Kau tahu bahwa saat berciuman maka otak kita akan bekerja dan melepaskan sejumlah hormon yang efeknya mirip seperti kokain?"

Alis Sawamura berkerut dalam, tapi dia tidak mendebat.

"Kalau tidak salah namanya neutrotrasmiter dan hormon seperti adrenalin, oksitosin, endrofin, testosteron, juga esterogen. Well, aku akan jelaskan apa itu masing-masing dari mereka dimulai dari―"

"Apa kau sedang menjadi tutor kimia?" Potong Sawamura dengan sarkas. "Aku tahu apa arti dari nama-nama yang kau sebutkan tadi. Jadi langsung saja ke intinya."

Kazuya membuang napas cepat, mendelikkan bahu. "Aku merasa harus berciuman secara rutin, itu salah satu efek dari kissing addict. Sementara sejak malam itu, sejak kita menemukan fakta bahwa perkara soulmate ini membuat kita tidak mungkin berdekatan dengan orang lain, aku praktis tidak berciuman dengan siapapun. Dan tadi, saat pertama kali aku melakukannya untuk membersihkan cream dari bibirmu, kissing addict-ku kumat dan, yah... itulah yang membuatku melakukannya lagi."

Sawamura menatapnya dalam diam, entah sedang berupaya menganalisa seberapa masuk akalnya jawaban Kazuya ataukah sedang mempertimbangkan bagian tubuh mana yang ingin ditinjunya. Kazuya merasa kemungkinan yang kedua lebih masuk akal.

"Kau... tidak berbohong, kan?"

"Tidak."—setidaknya itulah yang kuharapkan—"Kau sendiri dengar aku bahkan mengatakan kau boleh menamparku, kan? Jika aku hanya bermaksud melecehkanmu, apa gunanya aku mengatakan itu?"

Sawamura menampilkan ekspresi berpikir lagi. Kenapa Kazuya selalu resah tiap kali Sawamura berpikir?

"Oke." Akhirnya Sawamura menyahut, pungkas dan bersih. "Lagi pula aku juga tidak membalasnya. Anggap saja itu tidak dihitung." Pemuda itu mendelikkan bahu ringan dan memasang wajah cenderung tak peduli. "Itu sama sekali tidak ada artinya."

Kazuya mengerutkan alis, menolak untuk merasa tersinggung. Belum pernah ada satu orangpun yang mengatakan ciuman seorang Miyuki Kazuya tak ada artinya. Sesombong apa seorang Sawamura Eijun? "Jadi kau tidak keberatan kalau kucium lagi?"

"HAH!? APA KATAMU!?"

"Kau sendiri yang bilang ciumanku tak ada artinya, jadi aku boleh melakukannya berkali-kali, kan? Toh itu tidak ada artinya buatmu."

"Memangnya kau pikir aku ini apa!?" Sawamura menyahut sewot dan tak terima. "Siapa juga yang mengizinkanmu menciumku semaunya!"

"Aku sudah bilang sebelumnya," Kazuya berkata. "Aku punya kissing addict, dan kondisi yang sekarang menjadi beban untukku karena aku tidak bisa bebas mencium sembarang orang demi melindungi jantungmu dari rasa sakit. Pikirmu siapa yang paling dirugikan?"

"Kau pikir saja solusinya sendiri! Kau bisa pergi ke luar Tokyo atau apalah, yang jelas aku tidak sudi jadi pelampiasanmu! Aku bukan samsak bibir!"

Istilah di ujung kalimat Sawamura membuat Kazuya tak dapat menahan tawa. Ia terpingkal, menunduk ke arah kemudi dan memegangi perutnya karena geli. "Samsak bibir..." Kazuya mengulang kata itu dengan menggelikan. "Oh, Sawamura... you are really something."

Wajah Sawamura memerah dimakan kemarahan. Ia melepaskan seat belt dengan tergesa-gesa kemudian bermaksud membuka pintu mobil ketika menyadari Kazuya belum membuka kuncinya. "Buka kuncinya, aku mau turun sekarang!"

Kazuya mencoba menghentikan derai tawanya dan mengatur napas. Tangannya terangkat ke udara dengan gestur menenangkan. "Rileks, rileks." Bibirnya masih berkedut, dan senyumnya tak dapat dicegah. "Lupakan saja yang tadi, aku hanya bercanda, oke?"

"Bercandamu sama sekali tidak lucu!"

"Yah, yah. Selera humorku memang payah." Sahut Kazuya tak acuh, tersenyum dengan geli dan berusaha keras untuk tidak terbahak melihat ekspresi lucu di wajah Sawamura. Tuhan, mengapa orang ini mudah sekali digoda?

"Kalau tidak ada lagi yang mau kau bicarakan, cepat buka kuncinya. Aku mau turun."

Alis Kazuya terangkat tipis. "Kenapa buru-buru sekali? Kau sudah mengantuk?"

Sawamura menghela napas panjang. "Aku lelah, dan aku harus mulai persiapan untuk ujian akhir semester. Banyak sekali materi yang harus kukejar dan kupelajari ulang agar bisa lulus ujian semeter ini. Aku beruntung karena masih ada Shinji sekarang, semetster depan aku bahkan tidak tega membayangkan siapa yang akan membantuku belajar."

"Jadi kau berencana tidak pindah sebelum ujian selesai?"

Sawamura angkat bahu. "Begitulah… Meski waktunya terlalu mepet tapi itu lebih baik daripada gagal dalam ujian."

"Bagaimana kalau aku yang membantumu untuk persiapan ujian?"

Sawamura ganti menatap dengan subversif. "Kita bahkan tidak satu jurusan. Lagi pula aku tidak mau terlibat lebih banyak denganmu."

"Wah, penolakan mentah tanpa basa-basi. Baiklah, lakukan sesukamu. Hubungi saja aku saat kau siap pindah." Kazuya membuka menekan tombol kunci agar Sawamura bisa membuka pintu. "Sawamura," Panggil Kazuya saat Sawamura mulai membuka pintu dan bersiap turun dari mobil. Mata mereka bertemu, tatapan Sawamura yang menunggu dan senyum tipis terkembang di bibir Kazuya. "Terima kasih untuk malam ini."

Sawamura mendengus kecil lalu memberi anggukan samar. Kazuya mulai menyalakan kembali mesin mobil, namun tepat sebelum Sawamra benar-benar ke luar, sekali lagi pemuda itu berbalik, memanggil namanya hingga Kazuya mendongak dan,

SLAP!

Satu tamparan telak mendarat di pipi kanannya.

"Shit!" Kazuya mengumpat, merasakan panas menjalar di sebelah pipinya, berdenyut dan berdenging hingga telinga. "Apa-apaan—"

"Kau yang bilang sebelumnya, aku boleh menamparmu." Sawamura memberinya senyum yang lucu. Terlalu manis untuk ukuran seseorang yang baru saja melakkukan kekerasan fisik. "Pelajaran untukmu, Miyuki Kazuya. Jangan berani-berani mencium cowok lurus. Bye!"

...

"Sudah semua?"

Eijun berbalik, menghadap Shinji yang berdiri di pintu kamarnya dengan gaya berkecak pinggang. Kaus abu-abu menempel di tubuhnya karena basah akan keringat. Pemuda itu kelihatan sedih, tapi mugkin Eijun hanya berimajenasi.

"Yeah," Eijun tersenyum samar, mendelikkan bahu dan berdiri tegak menatap kamar yang telah kosong. "Aku akan rindu tempat ini."

Shinji mendengus, melangkah masuk dan berdiri di sebelahnya. Mereka berdiri bersisian, menatap dinding yang kosong dan lantai yang sedikit berdebu. "Dua hari yang lalu ini masih terasa seperti kamarmu, sekarang cuma terlihat seperti kamar kosong yang kesepian."

Peryataan itu membuat Eijun tertawa. "Apa kau sedang berpuisi? Atau kau sedang berusaha jadi manis karena aku akan pindah?"

"Kau benar-benar jagonya merusak suasana, Sawamura."

Eijun terkikik lalu mengulurkan lengannya menggapai bahu temannya, merangkul Shinji dengan sebuah lompatan kecil yang membuat pemuda itu menggerutu namun tak berusaha melepaskan diri. "Satu minggu lagi, mungkin kamar ini sudah berubah kembali. Dindingnya jadi merah muda, lukisan feminim, poster idol Korea, pot-pot bunga di dekat jendela, dan berbau harum seperti kamar perempuan pada umumnya. Nanti, kau akan lupa sama sekali kalau aku pernah tinggal di sini."

Shinji menghela napas seakan ia berusaha menahan tangis. "Aku tidak akan lupa kau pernah di sini." Pemuda itu tersenyum miring dan memberi tinju main-main di perut Eijun. "Mana mungkin aku lupa kalau aku pernah tinggal bersama orang paling berisik di universitas? Kau membuat terlalu banyak kekacauan dan huru-hara dalam kehidupan tahun pertamaku sebagai mahasiswa. Otakku sudah tercemar denganmu."

Eijun terpingkal geli dan Shinji balas merangkulnya. Untuk beberapa saat lamanya, mereka berdua hanya berdiri di sana, berangkulan sambil tertawa mengenang hal apa saja yang telah terjadi dalam jangka waktu satu tahun ke belakang. Bagaimana mereka tahun lalu hanya remaja laki-laki yang baru lulus SMA, datang dari dua kota yang berbeda sampai akhirya berkenalan, berteman, bahkan menjadi roommate. Seperti apa tahapan konyol saat mereka masih terlalu canggung untuk mengobrol, sampai akhirnya bisa akrab bahkan bertengkar karena alasan-alasan sepele. Atau bahkan juga bagaimana mereka berdua akhirnya mampu menjadi kompak, mengingatkan satu sama lain, juga bergantian menjaga saat salah satu terserang demam. Ada begitu banyak kenangan di tempat ini, sebagian Eijun yakini akan tetap ia ingat hingga usianya melewati setengah abad nanti.

"Bolehkan aku tetap datang ke sini nanti?"

Shinji menoleh padanya, memberikan senyum permisif. "Kau pikir aku akan menutup pintu untukmu?" Tanyanya retorik, ketika Eijun menyeringai, Shinji menurunkan tangannya dari pundak Eijun lalu menepuk punggungnya dua kali. "Kau akan selalu diterima di sini, Sawamura. Asalkan kau cukup tahu diri untuk tidak datang di jam-jam penting."

"Ah!" Eijun mendesah sok tahu, lalu menggeriling pada Shinji. "Aku penasaran seberapa sering kau sibuk di malam hari setelah melakukan bonding." Ia mengedipkan sebelah mata penuh godaan. "Lembur, bung?"

"OI!" Shinji berupaya menjitak ubun-ubunnya tapi Eijun berkilah cepat dan menghingdar sambil tertawa. "Ck! Awas saja kalau kau berani menggodaku seperti itu di kampus."

"Kau juga," Eijun menyahut, tersenyum penuh harap. "Sesekali datanglah untuk mengunjungiku."

"Tentu saja. Aku harus memastikan kau tidak mencekik lehermu sendiri dengan kabel, atau membakar dapur, atau tenggelam di kamar mandi."

"Kau pikir aku balita?"

"Sometimes?"

Eijun mencebik kesal namun tak bisa mengkhianati senyum di bibirnya. Akan ada banyak hal yang berbeda nanti, ia tahu hal itu. Tinggal sendirian di kota seperti Tokyo pasti bukan perkara mudah pada awalnya. Tapi satu hal yang ia yakini sepenuh hati, Kanemaru Shinji tetaplah temannya. Shinji tidak akan meninggalkan atau mengabaikannya begitu saja meski mereka tak lagi tinggal bersama.

"Kapan Miyuki-senpai menjemputmu?"

Eijun berkedip dan melirik jam tangannya. "Seharusnya lima menit lagi. Kau mau membantuku mengangkut barang-barangku, kan?"

"Kau sudah menanyakan itu sekurang-kurangnya delapan kali, Sawamura."

Eijun menghembuskan napas melalui mulutnya lalu melangkah ke pintu, menatap tas-tas dan kardus-kardus yang tersusun di dekat meja televisi. Barang-baranya memang tidak terlalu banyak, tapi pasti akan repot kalau ia harus bolak-balik sendirian terlebih lagi naik-turun tangga kecil.

"Kau yakin tidak mau membawa apapun?" Shinji sudah berdiri di dekatnya, menatapnya dengan alis terangkat samar. "Kita membeli sofa dan set televisi itu dengan uang bersama. Kau mau meninggalkannya begitu saja?"

"Di sana furniturenya sudah lengkap, kau lebih membutuhkannya di sini."

"Miyuki-senpai benar-benar baik padamu, eh? Dia bahkan membiarkanmu memakai barang-barangnya."

"Aku tetap bayar uang sewa, dan harus bertanggung jawab terhadap seisi rumah. Itu sama sekali tidak gratis."

"Yaa… tapi tetap saja... dia baik, kan?"

"Sampai kapan kau mau memuji-mujinya terus? Kau ini fanboy atau bagaimana? Aneh sekali."

"Kau selalu menyangkal kebaikannya, Sawamura. Justru itulah yang aneh." Shinji membalas telak. "Kalian beberapa kali ke luar dan makan bersama dalam tiga minggu ini, kau juga punya jadwal main baseball dengannya, dia menunggumu selesai latihan taekwondo, juga beberapa kali mengantarmu pulang. Mau dilihat dari manapun, kalian sepertinya menunjukkan pola hubungan yang membaik. Jadi kenapa kau terus menyangkalnya?"

Eijun menghela napas panjang sebelum menggeleng dengan lemah dari satu sisi ke sisi lain. "Aku tidak yakin. Aku selalu merasa dia menyembunyikan sesuatu, punya motif tertentu, tujuan khusus, dan bukannya semata-mata ingin berbaik hati padaku."

"Sawamura, kau tahu berprasangka buruk itu tidak baik, bukan?"

"Aku tahu itu." Sahut Eijun setengah merengek. "Hanya saja... entahlah. Aku belum bisa menerjemahkan Miyuki Kazuya, tapi aku selalu punya firasat menggelisahkan kalau dia punya maksud yang lain dibalik semua kebaikannya. Ini insting, kau tahu? Rasanya hatiku tahu kalau dia sedang berbohong atau apalah."

Selama beberapa detik Shinji tak menyahut, hanya memandangi Eijun dengan tatapan sedikit menyelidik. "Wow, kurasa itu benar." Ia merespon, terdengar kagum. "Ikatan kalian pasti sangat kuat sampai-sampai kau bisa menebak mana ketulusan dan mana kebohongannya."

"Apa kau sedang mengejekku!?"

Shinji angkat bahu dengan tak acuh. "Apapun itu, ku harap kau akan baik-baik saja setelah ini."

Tepat setelah Shinji menyelesaikan kalimatnya, ponsel Eijun di dalam sakunya bergetar. Satu panggilan masuk atas nama Miyuki. Eijun membuang napas, menggeser layar dan menempelkan ponsel ke sebelah telinga. "Ya, aku turun sekarang... Tidak, kau tidak perlu ke mari, Shinji akan membantuku… Hmm, iya."

Eijun menutup telepon dan memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana, sekali lagi ia menghela napas lalu menoleh pada Shinji yang balik menatapnya dan tersenyum seraya mengangguk penuh dukungan.

"Waktunya pindah!" Eijun berusaha ceria, nyengir lebar sebelum membungkuk untuk menyeret kopernya dan membawa satu kardus di tangan yang lain. Shinji mengambil ransel dan kardus lain berisi buku-buku dan keperluan kuliah, bersama-sama mereka berjalan ke luar flat dan menuruni tangga menuju mobil di mana Miyuki telah menanti.

Eijun harus kembali satu kali lagi ke dalam flat karena masih ada satu kardus besar berisi sepatu-sepatunya. Kali ini ia memilih pergi sendiri dan meminta Shinji tetap bersama Miyuki untuk memasukkan barang-barangnya ke dalam mobil. Saat melangkah ke dalam flat itu, Eijun tak langsung mengambil kardus terakhirnya. Ia berdiri di sana, memandang sekeliling ruangan dan bernapas dengan gemetar. Dadanya mendadak terasa berat. Ini bukan perpisahan, ia tahu betul itu. Shinji masih mengizinkannya berkunjung, dan mereka masih berteman baik juga bersama di kampus. Namun demikian, tetap saja hatinya terasa berat harus meninggalkan tempat ini.

Sambil menghela napas, Eijun meraih ke dalam sakunya. Mengeluarkan sepasang gantungan kunci Rilakuma mungil yang masih baru. Ia berjalan ke meja televisi, membuka laci dan mengeuarkan notes serta pena lalu mulai menulis.

Hadiah untuk pasangan termanis yang pernah kutemui
Semoga hari-hari kalian menyenangkan! ^o^

Sawamura Eijun

Eijun meletakkan sepasang gantungan kunci itu di atas catatan kecilnya. Membiarkannya tergeletak di dekat televisi. Lalu mengangguk dengan penuh tekad dan mengambil kardus terakhirnya, melangkah meninggalkan flat yang satu tahun terakhir menjadi rumahnya.

Saat kembali, Eijun melihat Miyuki berdiri bersandar pada pintu mobil dengan kedua tangan tersimpan kasual di dalam saku celananya. Shinji berdiri menghadap Miyuki dan mereka sedang membicarakan sesuatu kemudian berhenti saat Eijun mendekat. Miyuki membuka pintu belakang, mengisyaratkan dengan dagu agar Eijun memasukkan kardus terakhirnya ke sana. Ketika berbalik, ia bertemu dengan mata Shinji. Menatapnya dengan senyum hangat bersahabat, Shinji mengulurkan kepalan tangan, meninju dadanya.

"Good luck, Wamura!"

Eijun tertawa pelan, merentangkan tangannya lalu memeluk Shinji, mengumamkan kata terima kasih sambil berusaha keras agar tidak menangis dan meraung seperti bocah. Untuk sejenak, Eijun lupa bahwa Miyuki masih ada di sana dan mungkin memandanginya sambil berpikir betapa tingkahnya terlalu berlebihan dan dramatis.

Miyuki hanya menampilkan wajah datar saat Eijun berbalik, ia mengangguk kecil pada Shinji bertukar isyarat perpisahan sebelum memutari mobil untuk membuka pintu dan duduk di belakang kemudi. Eijun menghembuskan napas pendek, menguatkan tekad dan menyeret langkahnya lalu duduk di samping Miyuki. Sesaat sebelum mobil benar-benar melaju, ia memandang ke luar jendela, melambai pada Shinji bersama cengiran lebar selagi hatinya berdoa bahwa semuanya akan baik-baik saja.

...

'Sawamura, kau di mana?' [17.23]

Pesan itu masuk tepat ketika Eijun berdiri di depan ruang ganti setelah selesai latihan taekwondo terakhirnya sebelum memasuki waktu liburan.

'Aku masih di kampus.' [Read. 17.24]

Eijun mengetik balasan, dan Shinji telah membacanya. Eijun memutuskan untuk menunggu balasan lanjutan, tapi sampai beberapa menit, Shinji belum membalas. Jadi ia mengetik lagi.

'Shinji…?' [Read. 17.29]
'(O_o)' [Read. 17.29]
'Kenapa…?' [Read. 17.29]

Dan Eijun menunggu…

'Kau bawa laptop?' [17.32]

Kali ini alis Eijun berkerut dalam.

'Tidak.' [Read. 17.33]
'Aku meninggalkannya di kamar.' [Read. 17.33]

'Boleh aku pinjam laptopmu sebentar?' [17.34]
'Laptopku mendadak rusak dan masih ada tugas yang harus kuselesaikan.' [17.34]

'Tentu saja boleh!' [Read. 17.37]
'Aku akan pulang sekarang dan mengambilnya.' [Read.17.37]
'Tunggu ya!' [Read. 17.38]

Tak sampai satu menit, balasan dari Shinji datang.

'Trims.' [17.38]

Satu hal yang benar-benar Eijun syukuri dari tempat tinggalnya yang baru adalah jaraknya yang cukup dekat dari universitas. Ia hanya perlu berjalan paling lama lima belas menit dan bahkan bisa mampir ke minimarket lebih dulu untuk membeli beberapa keperluan. Eijun belum banyak berinteraksi dengan orang-orang sekitar, meski ia sudah tahu bahwa Miyuki tidak berbohong soal beberapa mahasiswa Meiji juga tinggal di kawasan sekitarnya.

Kemarin, begitu sampai Eijun langsung merapihkan barang-barangnya. Miyuki membantu dalam diam, mendadak tuli saat Eijun memintanya pulang saja. Pemuda itu membantunya merapikan buku-buku, menyusun sepatu, mengisi kulkas, juga membantunya menata ulang perabotan lain sesuai seleranya. Setelah itu, Miyuki pulang begitu saja, lagi-lagi mendadak tuli saat Eijun menawarinya makan malam. Sesuatu yang membuat Eijun kesal karena merasa seakan baru ditolak dengan dingin.

Sebenarnya kalau bolej jujur, Eijun sangat suka tempat barunya. Desain yang sederhana, tidak terlalu luas, serta punya perabotan lengkap, terlebih lagi berlokasi strategis dengan harga sewa yang terjangkau. Jika bukan karena Miyuki Kazuya, ia tidak yakin mampu mendapat tempat seperti ini di Tokyo. Hanya saja masalahnya, ia belum terbiasa. Bangunan itu terasa begitu kosong dan sepi. Satu-satunya ingatan yang ada di dalam kepalanya hanyalah kedatangan pertamanya bersama Miyuki saat itu, Eijun bahkan masih merasa begitu asing dengan kamarnya sendiri.

Sekali lagi ia menghela napas, menatap dinding yang dicat putih dan abu-abu di depannya. Rumah mungil yang tampak sangat sepi. Semua pintu dan jendela yang tertutup, halaman kosong tanpa tanaman hias. Eijun mungkin harus menambahkan beberapa hal kecil untuk menghidupkan suasana nanti. Ia melangkah perlahan, merogoh kunci dari saku celananya, memutar dua kali, lalu memutar kenop pintu dan mendorongnya hingga terbuka.

"SURPRISE!"

Eijun melompat kaget dan menjerit. Party blower yang ditiup keras secara bersamaan, juga conffeti menghujani tubuhnya. Eijun meletakkan telapak tangan di dadanya, berusaha menarik napas lalu berkedip-kedip membaca situasi. Ada tawa renyah yang memenuhi udara, lalu ia melihat wajah-wajah familiar di sekelilingnya. Shinji, Toujo, dan Kuramochi, Miyuki Kazuya duduk seorang diri di sofa belakang mereka, tersenyum simpul, tampak konyol dengan topi kerucut di kepalanya.

"A-apa ini?"

"Pesta untuk tempat tinggalmu yang baru." Toujo menyahut, tersenyum padanya lalu menyodorkan seloyang black forest dengan lilin warna-warni yang menyala. "Omedetou!"

"Kyahahaha!" Kuramochi tertawa nyaring, merangkul bahu Eijun dalam sentakan kuat, nyaris mencekiknya. "Cepat usir tampang melongo itu dari wajahmu, Sawamura! Tiup lilinnya dan kita akan berpesta malam ini!"

Eijun menangganga. Nyala api kecil dari lilin-lilin yang terbakar di atas black forest berkibar di depan wajahnya sementara ketiga orang di itu terus memintanya meniup lilin. Mata Eijun bertemu dengan Miyuki, pemuda itu masih tersenyum simpul, balik menantap dengan satu alis naik dalam gerakan serupa tantangan. Eijun mendengus, sesuatu menggelitik perutnya dan mendorongnya untuk tersenyum lalu meniup lilin-lilin itu dengan penuh semangat. Ketika apinya padam, semua orang bertepuk tangan dan Shinji bahkan memberi tinju kecil di sebelah bahunya.

"Bagaimana? Kau suka?"

Eijun menatap ruang tengah yang telah dihias bagaikan dekorasi pesta ulang tahun. Balon-balon helium dengan warna biru dan perak menempel ke langit-langit, di salah satu sisi dinding dekorasi membentuk kata House Party. Meja di depan sofa telah dipenuhi berbagai macam snack seperti pizza, kentucky, pasta, sushi, beragam keripik dan masih banyak lagi.

"Kalian menyiapkan semua ini?" Tanya Eijun akhirnya, masih menatap sekeliling dengan mata terkagum tak percaya sementara Kuramochi menggiringnya untuk duduk mengisi sofa diikuti dengan Toujo dan Shinji.

"Kau terkesan?" Goda Shinji, alisnya terangkat usil dan mendatangkan tawa dari Kuramochi dan Toujo . "Tolong usap air mata dan ingusmmu dulu, Sawamura. Kau terllihat seperti bocah."

"Aku tidak menangis!" Sergah Eijun. "Aku hanya tak menyangka dan, ugh, terharu? Kapan kalian menyiapkan semua ini?"

"Kami tahu kau akan latihan taekwondo sepanjang hari, jadi inilah waktu yang tepat untuk menyusun pesta kepindahanmu." Toujo menjawab sambil meletakkan black forest di atas meja. "Belum terlambat, kan?"

Eijun tidak tahu harus berkata apa. Sampai tadi pagi, tempat ini masih terasa sangat sunyi dan hampa, tapi hari ini terasa begitu hidup, ceria dan hangat.

"Kau membuatku hampir menangis saat melihat hadiah di meja televisi." Shinji menyeringai padanya. "Kesannya kau akan pergi jauh saja, sialan."

Eijun berharap ia tidak merona.

"Kyahahaha! Bukankah kalian sedikit berlebihan? Sawamura tidak pergi ke Afrika atau apa, kenapa rasanya dramatis sekali?"

Shinji dan Toujo tertawa geli. "Benar juga." Kata Shinji. "Kemarin Sawamura memelukku seakan-akan aku akan pergi perang."

"BERHENTILAH MENGGODAKU!" Protes Eijun, dan justru mengundang tawa geli dari yang lain. "Ugh, kenapa kalian bisa masuk?"

"Miyuki masih punya kunci cadangannya." Kuramochi menjawab, menyebutkan nama seseorang yang hampir Eijun lupakan bahwa dia juga berada di sini. "Kami masuk dengan bantuannya, bahkan dia juga yang—"

Miyuki berdeham memotong ucapan Kuramochi, mereka bertukar tatapan singkat sebelum Miyuki berpaling pada Eijun dan menyeringai usil. "Jadi kau sudah ceria sekarang, huh? Kemarin ekspresimu seolah akan dikarantina, diasingkan, atau dibuang ke pulau terpencil."

"Aku tidak begitu!"

"Yes, you are."

"Berhentilah mengarang cerita, Miyuki Kazuya!"

"Aku tidak mengarang cerita."

"Kau bicara omong kosong!"

"Masa? Aku bahkan bisa menghitung bibirmu maju dua sentimeter seakan siap berubah menjadi bebek, kau cemberut, muram, dan kelihatan menarik napas terus-menerus untuk menahan tangisan."

"Kau pikir aku apa!? Anak kecil yang baru jatuh dari sepeda!? Berhentilah bicara yang tidak benar!"

"Berhentilah menyangkal kenyataan."

"KAU PENIPU!"

"Kau tidak perlu malu."

"MIYUKI KAZUYA! HARUSKAH KAU MENJADI BERENGSEK—"

"Oke, cukup!" Kuramochi memotong tegas, mengetuk meja seperti hakim. "Kami di sini untuk pesta, bukannya menjadi penonton sementara sepasang soulmate saling adu mulut."

Perut Eijun berputar. Tiap kali mengingat seputar soulmate, ia masih tidak bisa menahan mual.

"Wah, metode itu bagus juga." Shinji berujar, keningnya berkerut dengan mata mengobservasi wajah Eijun. "Lain waktu ketika Sawamura tidak bisa berhenti mengoceh, aku hanya perlu bilang soal soulmate dan dia akan langsung diam."

Tubuh Eijun melemas seketika, ia menandang Shinji dengan tatapan memelas. "Apa kau sungguh temanku?"

Shinji hanya memutar mata. Selanjutnya mereka semua mengangkat kaleng soda dan bersulang. Memulai pesta dengan memotong black forest lalu berlanjut memakan potongan pizza. Eijun tertawa geli ketika Kuramochi memaksa Miyuki menelan sepotong cake yang disodorkan ke mulutnya. Mereka terlihat seperti sepasang sahabat yang begitu dekat bahkan hingga Kuramochi nekat membuka paksa mulut Miyuki meski pemuda itu sudah meronta-ronta.

Sekitar pukul delapan malam, Kuramochi mencetuskan sebuah ide untuk mengisi waktu dengan sebuah permainan kartu. Namun sayangnya tak satupun dari mereka membawa set kartu untuk dimainkan. Tanpa disangka, Miyuki bangkit berdiri membersihkan sisa-sisa remah makanan dari bajunya lalu berkata bahwa biar dia yang pergi membeli kartu.

Kuramochi mengernyit. "Apa kau salah makan? Tumben sekali kau mengajukan diri tanpa diminta?"

"Kau yang membuatku salah makan. Aku pasti sudah kelebihan gula sekarang, jadi aku perlu ke luar sebentar, mencari udara segar, dan membeli kopi."

Tidak ada yang mendebat Miyuki, tapi tepat sesaat setelah Miyuki melangkah keluar pintu, Eijun berdiri tiba-tiba hingga membuat Shinji mengumpat padanya. "Aku akan pergi dengannya, aku rasa tidak adil kalau aku tidak membelikan kalian apa-apa. Dia menyambar varsity milik Toujo yang tersampir di sandaran sofa lalu berlari ke pintu. "Jaa ne!"

"Miyuki Kazuya!"

Miyuki berbaik, membeliak kecil dan menatap setengah bengong ketika Eijun berlari ke arahnya. "Sawamura? Sedang apa kau?"

Eijun menghembuskan napas, melihat uap samar mengepul dari mulutnya. "Aku akan pergi denganmu." Ia menjawab, memakai varsity milik Toujo guna membentengi diri dari hawa dingin pada malam bulan ketiga.

"Kenapa kau tiba-tiba memutuskan untuk ikut denganku?"

"Jangan banyak tanya."

Miyuki mendengus, tapi tidak mendebat lebih jauh. Mereka berjalan bersisian diterangi lampu jalanan. Menyusuri jalanan kecil menuju minimarket yang terletak di persimpangan selanjutnya.

Sebenarnya Eijun tidak mau mengakui ini, tapi jujur untuk pertama kalinya hari ini ia bisa memandang Miyuki Kazuya sebagai seseorang yang lebih baik. Kalaupun bukan Miyuki yang merencanakan pesta untuknya, bukan Miyuki yang berperan banyak mendekorasi ruangan, membeli makanan, mengundang teman-temannya, dan lain sebagainya. Tapi jelas, tanpa Miyuki pesta itu tidak akan ada, karena Miyuki yang memegang kuncinya. Dan, untuk pertama kalinya juga hari ini, Eijun tidak merasakan firasat buruk lain atau motif tersembunyi dibalik tindakan yang Miyuki lakukan. Apa yang dilakukannya hari ini terlihat jujur, tulus, apa adanya. Meski ia terus berdebat dengan Kuramochi tiap kali dipaksa makan manis, meski ia terlihat konyol saat memakai topi kerucut, memainkan conffeti seolah bosan, bahkan juga sesekali memberi Eijun cibiran menyebalkan. Namun di samping itu semua, semua reaksi dan tingkah lakunya hari ini terasa jujur tanpa kepalsuan.

"Sawamura!"

Eijun mengerjap saat Miyuki menjentikkan jari tepat di depan wajahnya. Lehernya menoleh cepat sekali sampai menimbulkan bunyi mengerikan yang membuat Eijun meringis. "Huh? Apa?"

Miyuki mengerutkan dahi. "Kau melamun?"

"Tidak! Siapa juga yang melamun!? Kau pikir aku sebodoh itu melamun di tengah jalan."

"Aku memanggilmu tiga kali dan kau sama sekali tidak menyahut."

Eijun menelan ludah. "Be-benarkah?"

Miyuki mengamatinya dengan tatapan menyelidik, mata karamel yang menyala dalam sinar kemenangan dan diperluas dengan seringai percaya diri di bibirnya. "You are shaking. Why suddenly so nervous?"

"Aku tidak gugup!" Sergah Eijun, membuang muka dengan segera. "Berhentilah bicara omong kosong!"

"Sawamura, apa telingamu merah saat kau panik?"

Eijun reflek memegang daun telinganya, menggosok dengan kasar. "Ini karena udara dingin!"

Miyuki tertawa. Suara tawa renyah yang mengisi udara di sekitar mereka, kemudian Miyuki mengambil langkah dan berdiri tepat di hadapannya, berjarak satu langkah, membungkukkan badan sedikit dan memiringkan kepalanya hingga wajahnya bertemu langsung dengan wajah Eijun. Seulas senyum miring terukir di bibir tipisnya. "Well… kau mau membersihkan sendiri krim coklat di bibirmu atau aku perlu membantumu dengan ciuman seperti tempo hari?"

Mata Eijun membeliak lebar, tangannya dengan cepat meraih mulutnya, mengusap bibirnya dan menemukan noda coklat menempel di telapak tangannya. Miyuki tertawa geli mengamatinya, memasang postur membungkukkan bahu dengan kedua tangan tersembunyi dalam saku coat, terkekeh sambil mengepulkan uap samar dari mulutnya.

Eijun membuang napas kasar, mencebik lalu mendorong Miyuki dari hadapannya sebelum ia masuk dengan langkah lebar-lebar ke minimarket. Dari ekor matanya, Eijun bisa menangkap gerak Miyuki yang berjalan mengikutinya masih sambil terkekeh kecil.

"Kapan kau berangkat ke Nagano?" Miyuki bertanya begitu mereka berada di dalam minimarket.

"Mungkin lusa."

"Kau tidak akan kembali sampai awal semester?"

Eijun menghela napas lalu mendelikkan bahu. "Entah, aku mungkin akan berangkat ke Tokyo beberapa hari sebelum perkuliahan dimulai. Tapi kalau memang ada urusan yang harus kukerjakan di kampus, aku akan kembali lebih awal."

Miyuki mengangguk samar, lalu berbelok ke blok minuman, Eijun mengamati bagaimana pemuda itu berdiri menatap beragam kopi kalengan sambil mengerutkan dahinya seakan berpikir serius. Tak berapa lama kemudian, ia mengambil satu dan menoleh kembali pada Eijun. "Pasti tidak sabar untuk bertemu keluargamu, ya?" Ia tersenyum miring. "Kali ini aku bisa menebak akan ada banyak sekali yang bisa kau ceritakan pada mereka."

Eijun mengernyit tak mengerti, dan saat senyum sarkastik iseng mekar di bibir Miyuki ia akhirnya memahami maksud dari kata-kata itu. "Aku tidak sudi menceritakanmu pada keluargaku!"

"Kenapa kau galak sekali padaku, Sawamura? Aku sudah melakukan yang terbaik untuk menebus kesalahanku di pertemuan pertama kita, tapi kau terus bersikap dingin padaku." Miyuki mendramatisir nada suaranya, ia bahkan menempelkan telapak tangan di dadanya, memberi ekspresi seakan-akan baru tertembak. "Kau melukai hatiku, kau tahu?"

Eijun memutar mata jengah. "Apa kau aktor drama? Berhentilah bertingkah seakan kau korbannya."

Miyuki tidak mendebat lebih jauh, hanya tersenyum kecil dan mengambil keranjang belanja lalu mulai mengambil barang-barang yang hendak mereka beli. Sebenarnya tujuan utama Eijun memilih ikut dengan Miyuki kali ini adalah untuk menyampaikan ucapan terima kasih, tapi karena Miyuki terlalu menyebalkan, Eijun nyaris lupa tujuan itu. Lagi pula… ia melirik pemuda berkacamata itu singkat lalu menggeleng kuat-kuat. Mustahil, batin Eijun. Mengapa sulit sekali mengucapkan terima kasih padanya?

"Ada lagi yang ingin kau beli, Sawamura?"

Eijun mendongak, Miyuki memberinya tatapan menanti dengan sabar. Tak ada noda kepalsuan dalam ekspresinya, pemandangan yang membuat Eijun menahan napas lalu menggigit ujung lidahnya sebelum menggelengkan kepala samar.

"Apa yang sebenarnya mengganggumu?"

"Hah? Apa maksudmu?"

"Aku merasa kepalamu dipenuhi hal lain." Miyuki menjawab begitu lugas. "Kau tidak pandai menyembunyikan perasaanmu, kau sadar? Jadi katakan saja apa yang mengganggumu."

Mungkin memang sia-sia saja menahan segalanya. Eijun menaraik napas panjang, menegakkan bahunya dan menatap lurus ke mata karamel Miyuki. "Aku ingin berterima kasih padamu."

"Apa?"

Eijun berdeham, mengusap tengkuknya canggung. "Well… kau mungkin benar, selama ini aku terkesan sangat tidak ramah padamu. Tapi yah, sebenarnya beberapa hal yang kau lakukan memang membantuku jadi… terima kasih."

Miyuki tidak menjawab, memberi pandangan seakan ia masih menunggu Eijun untuk melanjutkan ucapannya. Dan Eijun benci mengakui betapa diamnya Miyuki yang seperti ini mampu mengintimidasinya dengan sangat efektif hingga ia tak punya pilihan selain bicara lagi.

"Itu… Memang benar kau menyebalkan sekali saat pertama kita bertemu. Tapi rasanya selama ini aku juga sudah kelewatan."

"Hm?" Miyuki hanya berdengung santai.

"Ugh, kau tahu…" Eijun menjilat bibir bawahnya, berusaha mengumpulkan semua keberaniannya untuk tetap menatap ke mata Miyuki meski kakinya ingin berlari kabur. "Maafkan aku."

Miyuki menghembuskan napas pelan, begitu halus. "Aku juga." Ia tersenyum ringkas. "Kata-kataku sering keterlaluan padamu, wajar saja kalau kau tersinggung."

Untuk pertama kali sepanjang ingatannya, Eijun tersenyum geli menatap Miyuki. "Tapi balasanku terlalu berlebihan. Aku membantingmu dengan teknik judo, aku menendang mobilmu sampai tergores, aku sering membentak dan berteriak padamu, aku memelintir tanganmu, dan aku juga menamparmu keras sekali. Aku sangat kekakanak-kanakan, astaga." Eijun mendesah panjang, gemas sekaligus geli mengingatnya.

Miyuki balas terkekeh. "Lupakan saja." Ia menarik napas, tersenyum lebih lebar. "Tapi itu benar-benar sakit, Sawamura. Saat kau membantingku hari itu," Miyuki mengenang. "Sakit dan mengangetkan karena aku merasa tahu-tahu tubuhku melayang, lalu menghantam lantai dengan sangat-sangat keras."

Eijun merasa perutnya berputar. "Ugh, maaf…" Cicitnya sambil mengepalkan telapak tangan yang entah sejak kapan mulai bekeringat. "Itu impulsif, oke?"

"Yah, yah." Miyuki mengangguk-angguk. "Oke lah." Cengiran melebar di wajahnya dan pemuda itu mengulurkan tangan pada Eijun. "Jadi, damai?"

Eijun menatap tangan itu, ragu-ragu, menguatkan tekad, lalu menjabatnya dengan tegas. "Semoga." Ia menjawab, yang dibalas kekehan geli oleh Miyuki sebelum jabatan tangan itu kembali terlepas. "Kau juga harus memperhatikan kata-katamu."

"Well, akan kuusahakan. Tapi tidak janji aku bisa menyesuaikan diri dengan cepat."

"Huh, masih bajingan."

"Hey, bukankah tadi kau sepakat untuk damai? Kenapa sekarang kau sudah mengataiku lagi?"

Eijun mendengus kecil. "Damai bukan berarti hubungan kita akan penuh keramah-tamahan, kan? Jujur saja, rasanya masih susah membayangkan untuk akrab denganmu."

Miyuki tergelak geli. "Serius. Andai kita tidak terlibat dengan imprint, mungkin sebenarnya kita bisa berteman baik."

Mengingat imprint membuat pikiran Eijun berputar ke sudut yang lain. Menemukan dan menyadari sebersit kenyataan yang selama ini mungkin luput ia sadari karena terlalu sibuk untuk membenci Miyuki. Kenyataannya tak satupun dari dirinya dan Miyuki yang benar-benar menginginkan maupun juga memilih imprint di dada mereka. Mereka berdua sama-sama tidak menyukai fakta bahwa mereka terikat oleh tanda itu.

"Sebagian besar imprint membawa manusia pada kebahagiaan, tapi sebagian lainnya tidak seberuntung itu." Eijun berkata, meraba dada kirinya sejenak lalu memberi cengiran kecil pada Miyuki. "Sudah jelas bahwa kita bukan golongan yang beruntung."

Ada sesuatu melintas di mata Miyuki yang tak dapat Eijun terjemahkan maknanya. Lantas pemuda itu membalas cengirannya. "Yep, anggap saja kita produk yang gagal."

Eijun menarik napas panjang, membuangnya cepat. Untuk pertama kalinya setelah mendapat imprint, pikirannya kini menjadi jernih. "Untungnya kau sudah tahun ketiga." Kelegaan menyusup ke dadanya. "Kau akan lulus sebentar lagi, dan itu akan lebih mudah kalau kau bekerja di luar Tokyo."

"Wah, Sawamura… Apa kau sedang mengusirku secara halus?"

Eijun tertawa renyah. "Kuharap aku bisa mengusirmu, jujur saja. Tapi ini kota kelahiranmu, jadi aku tidak punya hak menendangmu keluar Tokyo. Dan aku juga masih mau menyelesaikan kuliahku di sini, jadi aku tidak bisa pergi begitu saja."

"Ke arah mana pembicaraanmu sebenarnya?"

Eijun bedecak. "Aku yakin kau tahu persis ke arah mana pembicaraanku."

Miyuki menyeringai. "Oke, aku paham." Ia menghembuskan napas cepat. "Akan lebih mudah jika kita saling berjauhan, begitu maksudmu?"

Eijun menggigit bibir bawahnya singkat, hatinya merasakan satu cubitan kecil yang asing, tapi ia tahu itulah kebenarannya. Akan lebih mudah jika dirinya dan Miyuki saling berjauhan. "Aku akan meninggalkan Tokyo begitu kuliahku selesai, tapi itu masih cukup lama."

Miyuki mengangguk. "Aku mengerti. Sebenarnya aku memang berniat mengambil program master di Jerman."

"JERMAN!? Sejauh itu!?"

"I-ya?" Miyuki menjawab keki, kaget karena Eijun tiba-tiba berteriak. "Semakin jauh semakin baik, bukan?"

Benar, logika Eijun berkata. Akan tetapi sesuatu dalam dirinya membisikkan kontradiksi.

"Aku akan mengejar gelar masterku di Jerman selama dua tahun, waktu yang sama dengan kau menyesesaikan sarjanamu di sini. Jadi saat aku kembali ke Tokyo, seharusnya kau sudah lulus dan…"

Miyuki sengaja menggantung kalimatnya, memakai jeda untuk memandang Eijun seolah seharusnya Eijun sudah tahu kelanjutan kata-katanya. Dan memang benar, Eijun sudah tahu. "Itulah saatnya giliran aku yang meninggalkan Tokyo." Sahut Eijun mantap walau hatinya terasa muram tiba-tiba. "Aku mengerti."

Miyuki tersenyum kecil, menganggukkan kepala dan menatap Eijun seakan berupaya meyakinkan mereka berdua secara bersamaan. Eijun menanamkan benih-benih kepercayaan itu dalam benaknya, ia akan rutin menyiraminya dengan keyakinan hingga berbuah manis; suatu hari nanti semua ini akan berakhir. Baik dirinya dan Miyuki Kazuya akan kembali ke kehidupan masing-masing, tinggal berjauhan, dan tak lagi dihantui kekhawatiran akan rasa sakit di jantung mereka. Pada akhirnya nanti, semuanya akan baik-baik saja. Tapi sampai saat itu tiba…

"Ku harap kita bisa bekerja sama, Sawamura." Miyuki berkata, sebuah senyum yang jujur, satu dari sedikit yang pernah Eijun lihat selama mengenal sosok Miyuki. "Mari bertahan setidaknya untuk satu tahun ke depan."

"Yap!" Eijun menyahut bersemangat, tersenyum ceria. "Rasanya jadi seperti sedang menjalani kontrak." Ia tertawa geli sendiri. Satu tahun, hanya satu tahun. Aku bisa melakukannya. "Dan terima kasih atas pestanya omong-omong. Akhirnya aku merasa tempat itu tidak lagi sepi dan kosong."

Selama beberapa detik, Miyuki tidak merespon. Hanya menunjukkan wajah terbengong-bengong seakan ia terpana sehabis memandang sesuatu yang menakjubkan. Hal itu membuat Eijun mengerutkan dahi, melambai-lambaikan tangan di depan wajah Miyuki. "Hey, kau baik-baik saja?"

Miyuki mengerjap, menggeleng cepat lalu berdeham lugas. "Kurasa kita harus membayar sekarang dan segera kembali sebelum yang lain kebingunangan karena kita pergi terlalu lama."

"Um, oke."

"Dan… mungkin akan lebih bagus lagi kalau kau memanggilku Miyuki-senpai , Sawamura-kun."

Eijun mendengus. "Kau masih belum menyerah untuk mendapat hormat dariku, ya?"

"Secara usia, aku dua tahun lebih tua darimu. Memanggilku senpai seharusnya tidak sesulit itu, kan?"

Itu memang benar, batin Eijun menyahut setuju. Mungkin tidak ada salahnya dicoba? Eijun menarik napas, berupaya tersenyum lepas. "Mohon bantuannya, Miyuki-senpai ."

Miyuki menunjukkan reaksi yang belum pernah Eijun lihat sebelumnya; tertegun. Dan Eijun hampir percaya bahwa pemuda berkacamata itu merasa malu, tapi ia buru-buru menepis pemikiran konyol itu karena seseorang seperti Miyuki seharusnya tidak akan luluh hanya dengan dipanggil senpai .

Hal yang Eijun ingat sebelum mereka masuk kembali ke rumah, adalah sebaris kalimat yang Miyuki ucapkan padanya. Nada rendah, hampir serupa bisikan. "Mungkin aku akan menelponmu sesekali selama musim liburan."

"Astaga, rasanya sudah lama sekali sejak kita terakhir ke sini." Kuramochi bersiul begitu mereka masuk ke klub malam.

Kazuya hanya tersenyum tipis, sepakat bahwa terasa sangat lama sejak kunjungan terakhirnya ke tempat ini. Membawanya pada ingatan saat melihat Sawamura berciuman dengan seorang gadis bergaun hitam lalu rasa sakit tak tertahankan di jantungnya. Memori yang berakhir dengan menyeret Sawamura ke mobilnya lalu membawanya ke tempat Sakakibara Gin hanya untuk mendapati fakta bahwa ikatan mereka berbeda dari soulmate pada umumnya.

"Kau benar." Sahut Kazuya pada Kuramochi akhirnya. "Sudah lama sekali sejak aku terakhir kali bisa bersenang-senang di sini."

Kuramochi memutar mata. "Hentikan ekspresi bajingan itu, Miyuki. Aku merasa kau sedang menghitung mau berapa banyak wanita yang kau ajak make-out malam ini."

Kazuya tertawa mendengar gerutuan itu. "Aku suka sekali idemu, Mochi~ Mari kita lihat berapa banyak yang bisa kuajak bersenang-senang malam ini."

Kuramochi merancaukan kalimat berisi umpatan-umpatan kasar padanya sebelum mereka menuju meja bar dan duduk bersebelahan. Kuramochi segera saja bertegur sapa dengan bartendernya. Seorang pemuda kurus dan jangkung yang telah cukup lama mereka kenal, Kazuya mengingat namanya Furuya. Entah nama asli atau hanya nama palsu untuk menutupi identitasnya, karena Furuya terlihat terlalu muda untuk pekerjaan di industri malam seperti ini. Kuramochi memesan vodka dengan kandungan alkohol mencapai enam puluh persen. Pesanan yang membuat dahi Kazuya berkerut karena malam ini mungkin Kuramochi akan merepotkannya lagi.

"Miyuki-san?" Furuya memberinya dengan tatapan menanti.

"Skotch Whisky, empat puluh persen." Kazuya menjawab pada Furuya dan pemuda itu mengangguk patuh.

"Bagaimana hubunganmu dengan Sawamura?" Kuramochi merapat dan bertanya padanya selagi menunggu minuman mereka dibuat.

"Apa maksudmu?"

"Kelihatannya belakangan ini kalian berjalan cukup baik, huh? Pesta itu bahkan idemu."

Kazuya menegakkan punggungnya sejenak. "Aku hanya ingin dia nyaman tinggal di sana. Akan merepotkan kalau sampai dia pergi terlalu jauh dan di luar pengawasanku."

"Kedengarannya kau sedang memperlakukan dia seperti anak anjing alih-alih manusia."

"Anak anjing yang sangat galak." Kazuya tersenyum geli, sosok Sawamura melintas dalam benaknya. Alis tajam yang berkerut, tatapan permusuhan, ekspresi galak abadi. "Dia terus menggonggong dan menggertakkan gigi padaku."

Kuramochi menatapnya dengan mata menyipit tajam. "Kau masih berengsek rupanya. Jadi apa rencanamu?"

Jawaban Kazuya tertahan oleh minuman mereka yang telah datang, Kuramochi tersenyum tipis pada Furuya mengisyaratkan kata terima kasih. "Well, kami sudah membuat keputusan." Kazuya mengingat kembali percakapannya dengan Sawamura malam itu. "Kami akan mencoba sebaik mungkin sampai satu tahun ke depan."

"Dan setelah itu?"

"Aku akan melanjutkan S2 ke Jerman. Saat aku selesai, Sawamura juga sudah selesai S1 di Tokyo."

Mata Kuramochi kian menyipit. "Jadi?"

Kazuya mendelikkan bahu. "Waktunya pas, aku kembali dari Jerman, dia pergi dari Tokyo. Tidak ada yang perlu kami khawatirkan lagi."

Kuramochi membuka mulutnya, nyaris mengangga. "Kalian memutuskan untuk berpisah begitu saja?"

"Tidak ada istilah berpisah, Kuramochi. Kami tidak pernah bersama, jadi itu bukan perpisahan, melainkan kembali ke kehidupan masing-masing."

"Begitu saja? Kalian mau mengabaikan imprint begitu saja? Bersikap seolah-olah itu bukan hal penting?" Sembur Kuramochi, ekspresinya bagai menghakimi Kazuya seakan ia tak punya hati.

Kazuya menarik napas panjang, meneguk minumannya dan merasakan alkohol membakar kerongkongan hingga berkobar di dadanya. Ia menelan rasa panas itu lalu kembali menatap mata sahabatnya. "Kami sama-sama bukan gay, Kuramochi. Imprint ini hanya membebani. "

"Kau tahu soulmate tidak memandang gender, Miyuki. Saat imprint menakdirkanmu bersama seseorang, siapapun itu, laki-laki maupun perempuan, maka dialah jiwa yang terikat denganmu. You'll still into them. Dan itu tidak ada hubungannya sama sekali dengan orientasi seksual. Dia belahan jiwamu, pelengkap kekosongan di hatimu, kau membutuhkannya."

"Mudah untukmu bicara seperti itu karena imprint-mu serasi dengan Sachiko, seorang perempuan. Dua puluh satu tahun aku hidup sebagai laki-laki, aku tidak pernah ingin berpasangan dengan sesama laki-laki, Kuramochi. Aku tidak akan menerima apa yang digariskan imprint konyol ini."

"Oh. Begitu menurutmu?" Bibir Kuramochi menukik dalam senyum jahat. "Sekarang biar kutanya satu hal." Ekspresinya meningkat lebih serius. "Jika memang gender adalah masalahnya, apa kau pernah berharap Sawamura Eijun adalah seorang perempuan?"

"Hah?"

"Pernahkah kau, sekali saja, punya pemikiran seandainya Sawamura adalah perempuan? Berharap dia bukan laki-laki sehingga semua ini jadi lebih normal?"

Kazuya tidak pernah memikirkannya. Bagaimana mungkin ia tidak pernah memikirkan hal paling mendasar seperti itu? Ia menolak dipasangkan dengan sesama laki-laki, tapi tak pernah satu kalipun mengharapkan Sawamura adalah perempuan.

"Coba pikirkan saja Sawamura adalah perempuan. Seorang gadis yang dua tahun lebih muda darimu, bermata ekspresif, kulit madu, bayangkan dia lebih pendek, memiliki payudara, dan bersuara lebih melengking. Bisakah kau menerimanya?"

Pertanyaan itu membuat Kazuya menahan napas.

"Bisakah kau menerimanya, Miyuki Kazuya?"

Tidak.

Kazuya bahkan tidak bisa membayangkannya. Sawamura Eijun adalah laki-laki! Rasanya salah jika dia perempuan. Kazuya menerima kenyataan Sawamura adalah laki-laki, itu tidak akan bisa dipatahkan. Kazuya menyukainya sebagai laki-laki dan—tunggu. Apa?

"Bagaimana?"

Kazuya membuang napas kasar. "Jangan konyol." Ia menjawab, berusaha tampil percaya diri. "Itu tidak akan merubah apapun." Dan sebelum Kuramochi menanggapi lagi, Kazuya sudah lebih dulu memutar tubuhnya akibat sentuhan ringan di bahu kirinya.

"Halo…"

Senyuman yang memikat, mata berlapis softlens abu-abu terang berkilat menggoda. Kazuya memandangi gadis yang kini berdiri di depannya dengan seksama. Menilai penampilan dan bentuk tubuhnya dari ujung kaki sampai ujung rambutnya. Delapan dari sepuluh, lumayan.

"Hai." Kazuya balas menyapa, membuka jarak antara kedua kakinya hingga gadis itu bisa menyelinap di antara kedua pahanya, menggesekkan pinggulnya dengan nakal sebelum kemudian duduk di pangkuannya. Dari sudut matanya, Kazuya bisa melihat Kuramochi memberi wajah muak sebelum kemudian memalingkan muka.

"Sudah lama kau tidak ke sini." Gadis di pangkuannya berbisik, mencondongkan tubuh ke arahnya lebih dekat hingga belahan dadanya berada tepat di bawah bibir Kazuya. Jari-jari lentik yang membelai bahu, leher, sampai ke rahangnya dengan sentuhan seringan kapas. "Kau sibuk?"

"Kau mengenalku?"

Gadis itu tertawa kecil, lembut, sensual menjilat bibir bawahnya. "Kau terkenal di sini, Miyuki-kun. Semua gadis berlomba untuk mendapatkanmu."

"Benarkah?" Kazuya mengangkat satu alisnya, menyerinai penuh godaan lalu menggerakkan sebelah tangan untuk melingkari pinggang ramping gadis itu, menariknya mendekat hingga tubuh mereka saling menempel. "Kau salah satu yang ikut berlomba?"

"Mm-hmm," Gadis itu mengembuskan napas lembut yang berbau alkohol dan ceri ke wajah Kazuya. "Persaingannya sangat-sangat ketat."

Kazuya tersenyum, inilah kehidupannya. Seharusnya seperti inilah dunianya, bersenang-senang dengan gadis-gadis cantik tanpa merisaukan apapun. Puas bermain-main sebeum akhirnya menemukan satu yang terbaik, sederajat, disetujui keluarganya, menguntungkan untuk bisnis masa depan, dan mampu menjadi istri yang membanggakan. Sampai saat itu tiba, inilah hidupnya, populer, dan menjadi pusat perhatian serta digilai kaum hawa.

"Well, mau menari denganku?"

Gadis itu tersenyum, menjawab dengan sebuah kecupan tepat di jakun Kazuya sebelum beranjak dari pangkuan dan menariknya ke lantai dansa.

Mereka berdiri berhadapan, jarak yang begitu dekat sampai lebih tepat dianggap berpelukan daripada berdansa. Pose yang sangat berbeda dengan yang Kazuya lakukan bersama Sawamura di pesta tempo hari. Kedua tangannya memeluk pinggang gadis itu, meraba nakal sampai ke bokongnya yang kencang sementara gadis itu melingkarkan kedua tangan di lehernya, bergoyang seduktif sambil mengirimkan sinyal-sinyal kegembiraan setiap kali Kazuya meraba bagian-bagian tubuhnya.

Sawamura pasti sudah membunuhku jika aku berani melakukan ini padanya, Kazuya membatin, tanpa sadar menyeringai geli. Sawamura sangat sulit disentuh. Begitu dekat sekaligus begitu jauh, agresif, liar, dan tak terjinakkan. Tetapi dalam beberapa keadaan Sawamura juga terlihat manis, pamalu, dan lugu. Senyuman lebarnya adalah salah satu pesona yang patut diakui, begitu lepas, bebas, tanpa perlawanan, dan menyebar tanpa ragu. Di lain waktu, Sawamura bahkan lumayan imut-imut saat memanggilnya Miyuki-senpai .

"Miyuki-kun…"

Kazuya mengerjap cepat dan bayangan Sawamura terlepas dari benaknya. Ia menunduk kecil, menatap gadis di hadapannya yang berkedip menggoda. Cantik, seksi, penurut, ia punya kartu as di tangannya, tidak seharusnya ia memikirkan Sawamura. Kazuya membuang napas pelan, menjilat bibir bawahnya sambil menatap intens ke mata abu-abu gadis itu. "Hmm?"

"Touch me more, please?"

Kazuya mendengus senang, mencondongkan wajahnya lebih dekat lalu menggerakkan satu tangannya ke rambut gadis itu. Membelai dengan hati-hati hingga menimbulkan suara desahan kebutuhan dan kedipan gemetar dari gadis yang bahkan belum ia ketahui namanya.

"You are beautiful." Puji Kazuya, tersenyum tipis, mengangumi paras itu lebih merinci. Wajah yang tirus, rambut lurus sebahu, pirang keperakan, mata abu-abu, kulit putih pucat. Segala sesuatu tentang gadis itu tajam, putih, dan dingin. Sawamura benar-benar kebalikannya—lembut, keemasan, dan hangat, seperti sinar matahari. Kazuya menemukan kontras di antara mereka lebih jelas sekarang. Yang lebih nyata, Sawamura tidak mungkin menggodanya seperti ini.

"Miyuki-kun?"

Kazuya mengerjap, lagi-lagi tanpa sadar menemukan dirinya tersesat memikirkan Sawamura di waktu yang tak semestinya. Ia mencoba fokus; sadarlah, Kazuya! Kau punya gadis seksi tepat di depan matamu. Jangan bertindak bodoh.

"Shall I kiss you?"

Gadis itu menahan napas, mengembuskannya penuh kebutuhan. Mengiggil ketika Kazuya menyibak helaian rambut pirangnya ke belakang telinga mungilnya. "Yes, please."

Kazuya menyeringai penuh kemenangan, memposisikan satu telapak tangannya di tengkuk gadis itu sementara tangan lain mendekap erat pinggangnya. Mereka menempel, payudara gadis itu membentur tubuhnya, hangat dan lembut. Aroma floral memabukkan meracuni penciumannya selagi bibirnya semakin dekat dengan belah bibir merah yang terbuka tanpa perlawanan itu.

Namun satu sentimeter sebelum bibir mereka benar-benar bertemu, sebuah gambaran melesak ke benak Kazuya. Meledak dan membawanya pada ingatan tantang rasa sakit di jantungnya, wajah Sawamura, serta rasa ciuman mereka di pesta malam itu. Lembut bibir Sawamura di bibirnya, juga manis whipped cream yang tercicipi oleh lidahnya. Kazuya menarik diri dengan cepat. Mengambil satu langkah mundur dan bernapas terengah, sukses membuat gadis di hadapannya mengerjap kebingungan.

"Maaf." Kazuya berkata final, tanpa penjelasan lebih lanjut, ia pergi begitu saja. Menambarak kerumunan, membelah jalannya sendiri untuk menemukan pintu keluar.

Kazuya berakhir duduk di kedai kopi yang berada tepat di samping klub malam tempatnya semula berada. Duduk seorang diri bersama secangkir americano yang masih mengepul. Kedai ini hanya dilayani satu orang yang kini duduk di balik meja kasir dan memainkan ponselnya. Sementara Kazuya sendiri baru saja mengirim pesan singkat kepada Kuramochi.

'Aku di kedai kopi luar, sedikit pusing.' [21.15]

Kazuya lantas menghela napas panjang, berusaha menenagkan diri. Apa-apaan tadi? Kenapa aku menolak sebuah ciuman? Apa aku mabuk?

Tidak, Kazuya menggeleng tegas. Ia sama sekali tidak mabuk. Ia sadar sepenuhnya. Lantas kenapa? Kenapa dia malah memikirkan Sawamura dan mendorong seorang gadis cantik dan seksi seperti itu?

"Aku pasti sudah gila." Kazuya berbisik pada dirinya sendiri kemudian mendengus, mengangkat cangkir kopinya dan meneguk dua kali. Mungkin ini salah satu efek dari imprint, pikirnya.

Perhatiannya kemudian teralihkan pada kalender harian yang menempel di dinding. Bulan Maret. Sudah lima hari sejak Sawamura Eijun pergi ke kampung halamannya di Nagano, dan mendadak teringat bahwa Kazuya sempat berkata akan menelponnya sesekali.

Dia benar-benar tidak menghubungiku lebih dulu, eh? Kazuya mendengus, menyalakan layar ponselnya. Sawamura tidak menghubunginya sama sekali, terlihat jelas bahwa pemuda itu bahkan tidak peduli, menegaskan bahwa mereka berdua memang seharusnya tidak saling merecoki kehidupan satu sama lain.

Tapi aku sudah terlanjur bilang akan menelponmu. Kazuya mengagkat ponsenya, membuka lockscreen, melihat jam menuju hampir pukul sebelas malam. Well, Sawamura… aku hanya ingin memenuhi ucapanku. Ia mencari kontak Sawamura dan menekan panel telpon lalu memasang ponsel pada sebelah telinganya.

Sawamura menjawab pada dering ketiga.

"Apa?"

Kazuya nyaris terpingkal. Bahkan dari telepon dia bisa membayangkan betapa ketus ekspresi Sawamura saat ini. "Wah, galaknya…"

Sawamura berdecak, dan samar-samar Kazuya bisa menagkap suara-suara di sekitar Sawamura. Cukup ramai, ada obrolan, nyanyian samar dan derai tawa. "Kenapa menelponku malam-malam?"

"Kau sedang di mana?"

"Jangan menjawab pertanyaan dengan pertanyaan, Miyuki Kazuya!" Sawamura mengomel. "Aku di luar. Berkemah bersama teman-temanku."

Kazuya membayangkan tenda, api unggun, tanah lapang di antara pepohonan, langit berbintang membentang di atas kepala Sawamura, aroma daging bakar bercampur asap, serta samar suara jangkrik. Kazuya bisa melihat gambaran bahwa Sawamura duduk di atas bangkai pohon tua, diselimuti jaket tebal bahkan mungkin bennie hat yang mentup sampai ke daun telinganya.

"Terdengar menyenangkan." Ia berkomentar akhirnya, mendengar suara di sekitar Sawamura semakin gaduh. Sawamura menghela napas, terasa begitu dekat seakan ia menghembuskan napas tepat di telinga Kazuya. Ada pergerakan yang bisa Kazuya dengar, langkah kaki Sawamura menjauh dari keramaian.

"Kenapa kau menelponku?"

Suara Sawamura terdengar lebih jernih. Kazuya mencoba membayangkan bagaimana Sawamura kini. Mungkinkah dia berdiri di sudut yang lebih jauh, menatap ke arah teman-temannya selagi ia bicara dengan Kazuya di telpon? Bersandar pada pohon dan menatap ke hutan? Atau justru mendongak menatap langit berbintang?

"Miyuki?"

Kazuya tersenyum. "Ke mana perginya panggilan senpai tempo hari?"

Kazuya bisa membayangkan Sawamura memutar mata. "Kau menelponku hanya untuk mendengarku memanggilmu begitu?"

"Mungkin?"

"Ck! Kau benar-benar orang yang menyebalkan!"

"Yeah, kau orang ke 1.428 yang mengatakan hal itu padaku."

Sawamura tertawa, kecil, namun terdengar ringan dan tulus terasa. Hangat di tengah dingin dan sepinya malam. "Kau beruntung saat ini kita hanya bicara di telepon, kalau aku ada di hadapanmu, aku pasti sudah meninju wajahmu."

"Wah, kau benar-benar mempesona, Sawamura." Canda Kazuya, menemukan dirinya tersenyum lebar. "Bagaimana bisa kau tetap mengancamku dari jauh begitu?"

"Karena kau sangat menyebalkan." Sawamura tidak terdengar kesal, alih-alih Kazuya mendengar betapa suaranya terdengar gembira. "Ini adalah lima hari terbaik dalam hidupku setelah bertemu denganmu. Tapi malam ini kau tiba-tiba menelponku, membuatku kembali mendengar suaramu, dan teringat betapa menjengkelkannya dirimu."

Kazuya terkekeh ringan, memutar cangkir kopinya bersama rasa hangat yang menyusup halus sampai ke rongga dadanya. "Ini juga lima hari terbaik bagiku, karena akhirnya aku bebas berkencan dengan gadis-gadis cantik tanpa mengkhawatirkan apapun." Kazuya berbicara dengan bangga, meski sejujurnya ini pertama kalinya ia keluar rumah sejak Sawamura berangkat ke Nagano.

Ada jeda, pendek dan menyelinap dalam nada sepi sebelum kemudian suara dengusan muncul di sebrang telpon. "Jadi sudah berapa banyak yang menjadi korbanmu?"

Tidak ada, Kazuya membatin tapi bibirnya memilih untuk berdusta. "Hmm, mari kita hitung… Seseorang bernama Makoto, Hanabi, Sayu, Nanami, Ayano? Ayumi?" Kazuya berpura-pura mengingat, mengarang nama-nama yang bahkan tak dikenalnya. "Pokoknya begitu, entahlah, aku tidak terlalu memusingkan nama mereka."

"Bajingan." Sawamura mendesis tajam, Kazuya justru mendapati dirinya menyeringai karena lagi-lagi berhasil memanfaatkan kepolosan Sawamura. "Kalau begitu urus saja gadis-gadismu dan berhenti mengerecoki liburanku!"

Tepat ketika Kazuya hendak menjawabnya dengan candaan lain, sebuah suara terdengar dari kejauhan di sebrang telpon. "Eijun!" Sebuah panggilan dengan nama belakang Sawamura, terdengar begitu akrab. "Eijuuun!" Suara itu muncul kembali, dan Kazuya bisa memastikannya sebagai seorang perempuan.

"Ya, ya, sebentar! Aku sedang bicara dengan seseorang di telpon." Sawamura menjawab dengan sedikit berteriak. "Miyuki? Kau sudah selesai bicara? Ku tutup sekara—"

"Kupikir kau kemah dengan teman laki-lakimu." Potong Kazuya, alisnya berkerut menyelidik. "Ternyata ada perempuan juga?"

"Oh, itu Wakana. Satu-satunya perempuan di antara kami."

"Satu-satunya? Seakrab apa kalian sampai seorang gadis mau ikut berkemah bersama para laki-laki?"

"Hmm, sangat akrab. Kami bersahabat sejak kecil, dan nyaris selalu bersama." Ia tertawa pelan seakan mengingat memori membahagiakan. "Pokoknya seakan tidak terpisahkan lagi."

Tidak terpisahkan, Kazuya mengulang kalimat itu dalam benaknya. Sedalam itu, huh?

"Sudah ya, aku harus kembali ke teman-temanku. Masih banyak hal seru yang ingin kami lakukan."

"Tunggu," Kazuya nyaris terdengar mendesak. "Jangan ditutup dulu—"

"Miyuki-senpai." Sawamura mengintrupsi dengan lugas, membuat Kazuya merasakan napas tercuri dari paru-parunya. "Miyuki-senpai." Suaranya melembut. "Miyuki-senpai." Kazuya bisa merasakan Sawamura tersenyum. "Sudah, kan? Kututup sekarang. Selamat malam, Miyuki-senpai. Jaa ne!"

Sebelum Kazuya menjawab, atau bahkan sempat menghembuskan napas, sambungan telepon telah terputus.

"Itu keputusan kalian?"

Sekali lagi Eijun mengangguk pada ibunya. Menatap penuh tekad ke sepasang mata teduh sang ibu yang memberi pandangan berisi beragam emosi berbeda. Kepedulian, kecemasan, keraguan, serta dukungan yang tak pernah sirna. Eijun menarik napas, membuangnya perlahan. "Itu yang terbaik."

Tangannya diraih, digenggam hangat, dihadiahi usapan lembut bersama senyum penuh kasih sayang. "Ibu akan selalu mendukungmu, kau tahu itu 'kan? Tapi kali ini, ibu ingin kau benar-benar yakin dulu." Mata sang ibu mencari kejujuran di wajahnya, meniti ekspresinya untuk dikupas tuntas, dan Eijun tahu ia tidak akan pernah bisa mengelak dari mata itu. "Apa kau yakin akan hal ini bahkan sebelum mencoba lebih dulu?"

Lagi, Eijun menarik napas. Berat, panjang, menyesakkan. Rengekan tertahan di tenggorokannya, dan dadanya bergemuruh tak nyaman. "Bu," Eijun balas menggenggam erat kedua tangan sang ibu. "Kami berdua sama-sama menyukai perempuan. Ini tidak akan berhasil."

"Selalu ada alasan mengapa dua orang ditakdirkan untuk menjadi belahan jiwa, Eijun." Ibunya berkata lembut. "Itu bukan hanya sekadar ikatan saling silang antar manusia."

"Tapi dia tidak menginginkanku." Eijun berkata lugas. "Dan aku juga tidak menginginkannya." Sesuatu berdesir dalam arterinya ketika mengatakan itu, tapi Eijun memilih untuk mengabaikan. "Akan lebih mudah bagi kami jika tinggal berjauhan dan tidak bertemu lagi, dengan begitu kami bisa menjalani kehidupan masing-masing tanpa risiko apapun terkait imprint."

Sang ibu memberinya tatapan penuh pengertian, afeksi tanpa batas yang selalu menawarkan perlindungan kapanpun Eijun membutuhkannya. Eijun tahu di balik semua itu, ibunya pasti menyimpan kekhawatiran besar. Dan karena itulah ia memasang senyuman penuh percaya diri, berusaha keras membagi sebentuk emosi keyakinan yang kuat kepada sang ibu. "Tenanglah, Bu. Anakmu ini cukup populer, ramah, tampan, dan rendah hati." Ia terkekeh dan mengedipkan sebelah mata penuh godaan. "Masih banyak yang akan jatuh hati padaku. Ibu tidak perlu khawatir aku akan melajang seumur hidup."

Sang ibu tertawa, lembut terdengar lalu mengacak-acak rambutnya gemas. "Tentu saja banyak yang jatuh hati padamu. Kau anak kesayangan ibu, jagoan ayahmu, juga saingan kakekmu. Tidak ada yang bisa menolakmu."

Sisa sore itu dihabiskan Eijun dengan tertawa-tawa bersama ibunya, berbaring di pangkuannya, bermanja-manja dan menceritakan banyak hal tentang kuliah dan teman-temannya. Sampai akhirnya ayah dan kakeknya datang lalu ikut bergabung bersama mereka, membuat suasana ruang keluarga semakin ramai dan gaduh diwarnai pertengkaran kekanakan antara Eijun dengan kakeknya.

Kazuya memutuskan untuk meneplon Sawamura lagi empat hari kemudian. Kali ini nada suara Sawamura ketika menjawab panggilannya terdengar lebih ringan dan ceria, seakan ia sedang bicara pada salah satu teman akrabnya.

"Sesuatu yang baik terjadi?"

"He? Kenapa kau bertanya begitu?"

"Kau terdengar sedang senang." Jawab Kazuya, lalu tersenyum tipis meski ia tahu Sawamura tidak bisa melihatnya. "Atau jangan-jangan kau hanya senang karena aku menelponmu lagi?"

Terdengar suara Sawamura menggerutu kecil. "Kenapa kau selalu berhasil merusak suasana, sih?"

"Karena itu satu dari sejuta bakat yang kumiliki." Kazuya menjawab, memandang ke luar kamarnya sejenak dan memutuskan untuk berjalan ke balkon. "Jadi apa kesibukanmu hari ini?"

Kazuya menduga Sawamura bakal menjawabnya dengan kalimat ketus seperti Bukan urusanmu! Buat apa kau peduli? Dan lain sejenisnya, tapi Sawamura justru terdengar bersemangat. "Aku pergi memancing! Aku menangkap lumayan banyak hari ini. Air suangainya masih agak dingin, tapi itu bukan masalah selama hasilnya bagus. Lalu kami membakarnya di tepi sungai." Sawamura mendesah bahagia. "Benar-benar menyenangkan!"

Kazuya mencoba membayangkan seperti apa ekspresi Sawamura sekarang, dan itu bukan hal yang sulit. Matanya pasti sedang berbinar-binar, wajah ekpresif, tangan mengepal meninju-ninju udara dengan penuh semangat, atau jika ia sedang berbaring, Sawamura mungkin juga menhendak-hendakkan kakinya ke kasur. Kenyataan bahwa ia bisa membayangkan tingkah Sawamura dengan begitu detail… Kazuya berdeham, menggelng samar. "Well, itukah yang dilakukan anak-anak desa saat liburan?"

"Apa kau sedang meledekku?"

Kazuya menopang sikunya pada pagar pembatas, berdiri di balkon menatap langit malam. "Aku hanya bertanya."

"Banyak hal yang bisa kami lakukan. Memancing, berkemah, menangkap serangga, berenang, kau tidak akan pernah bosan atau kehabisan hiburan saat berada di desa." Sawamura tertawa riang, sedikit sombong. "Apa itu membuatmu iri?"

"Kalau aku menjawab iya, apa itu akan membuatmu merasa bangga?"

Tawa Sawamura semakin renyah, meski Kazuya tidak benar-benar mengerti bagian mana yang lucu. Mungkin mood Sawamura memang sedang bagus hari ini. "Mungkin kau harus mencoba bermain di desa sesekali. Kau tidak akan menyesal."

"Heee~ Apa itu undangan untuk datang ke rumahmu?"

"AKU TIDAK PERNAH BILANG BEGITU!" Persis seperti dugaannya, Sawamura langsung berteriak tak terima. "MEMANGNYA SATU-SATUNYA DESA DI JEPANG HANYA DI TEMPATKU!? MAINLAH KE TEMPAT LAIN!"

Kazuya meringis, menjauhkan ponsel dari telinganya. "Hei, Sawamura, bagaimana bisa suaramu sekeras ini bahkan dari telpon? Ini sudah malam, tidakkah kau punya tetangga atau apa yang akan protes saat kau berteriak?"

"Tetangga terdekat dari rumahku jaraknya lima ratus meter!" Sawamura menjawab ketus. "Dan lagi pula, kau yang memancingku!"Ia berkeras lagi, kemudian terdiam selama beberapa detik dan berhasil membuat Kazuya mengelutkan dahi keheranan. "Kau… tidak sedang kesepian atau apa, kan? Kenapa kau terus menelponku? Bukankah kau semestinya liburan atau semacamnya?"

Kazuya mengernyit, tak memahami maksud Sawamura secara jelas. "Maksudmu?"

Sawamura terdengar menarik napas, suaranya datang dalam nada yang lebih rendah, dalam, serius dan hati-hati. "Kau tidak ditinggal sendirian, kan? Katakan di mana kau sekarang?"

"Aku di balkon depan kamarku." Jawab Kazuya tanpa basa-basi. "Kenapa kau bertanya?"

"Miyuki-senpai," Sawamura kini bahkan terdengar seperti takut salah bicara. "Apa kau punya masalah? Apa kau kesepian? Punya trauma masa kecil?"

Kali ini Kazuya sungguh tak mengerti apa yag merasuki kepala Sawamura. "Hei, berhentilah bicara yang tidak jelas. Kenapa kau jadi terdengar seperti detektif?"

"AKU SERIUS!" Sawamura membentak, lalu bicara dengan tenang kembali. "Apa kau baik-baik saja?"

Kazuya menghela napas. "Aku baik-baik saja, Sawamura. Aku tidak merasa kesepian, ditinggalkan, punya trauma masa kecil dan lain sebagainya."

"Kau yakin? Kau tahu, kau tidak perlu sungkan atau merasa malu."

"Aku yakin seratus persen." Sahut Kazuya lugas. "Kenapa kau tiba-tiba berasumsi begitu?"

"Uh, well… itu cerita yang populer, kan? Mm… maksudku, biasanya muncul di banyak shoujo manga atau novel. Seorang pemuda kaya raya, kedua orang tuanya sibuk bekerja, dia tampan, kaya raya, punya kepribadian buruk dan terkesan dingin, tapi ternyata selalu menyimpan luka pribadi sejenis rasa kesepian, merasa tidak dicintai atau trauma masa lalu yang membuatnya tidak mudah percaya pada orang lain."

Penjelasan panjang Sawamura membuat Kazuya hanya mampu berkedip dan nyaris mengangga. Serius, ada berapa banyak shoujo manga yang dia baca? Kazuya menggeleng tak habis pikir, mengambil napas panjang sebelum menjawab. "Jadi menurutmu aku terlihat seperti itu?"

"Errr… aku hanya berasumsi. Kasusnya selalu sama, semua orang akan tergila-gila dan membela karakter seperti itu. Pemuda dingin berhati rapuh."

Kazuya tersedak mendengarnya. "Aku yakin hatiku tidak rapuh." Ia berhasil berkata, meyakinkan Sawamura. "Dan sebelumnya, kau menyebut aku tampan?"

Sawamura terdengar seakan baru dicekik, hal yang menbuat Kazuya tersenyum geli. "Bukan itu poin pentingnya!"

Lagi-lagi Sawamura membuatnya tertawa. "You are really something, you know? There's no one like you, Sawamura-kun~"

"Cih! Kau benar-benar menyebalkan!"

"Mm-hmm, jadi akulah si pemuda menyebalkan yang tampan dan kaya raya. Tapi aku tidak berhati rapuh, ingat itu."

Sawamura menggerutu, mengumpat tertahan dan suksesn membuat perut Kazuya terasa digelitik. Tetapi kemudian pikirannya tertuju pada satu hal, sebuah ide konyol yang anehnya malam ini terasa menarik untuk dicoba. "Hei, apa Kuramochi sudah menghubungimu?"

"Mm… aku terakhir chatting degannya mungkin sehari setelah sampai di rumah. Dia hanya menanyakan apa aku sampai degan selamat. Kenapa?"

Kazuya menarik napas, ganggamannya pada ponsel mengerat tanpa sadar. Namun ia berhasil membuat suaranya terdengar normal. "Jadi dia mengikuti saranku, ya? Baguslah kalau begitu."

"Saranmu? Apa maksudnya?"

Kazuya membasahi bibirnya. "Pekan sebelum perkuliahan semester baru dimulai, sebenarnya kami punya rencana untuk pergi berlibur ke Takayama. Agenda tahunan Kuramochi dan Umemoto setiap libur semester. Pokoknya, Kuramochi berencana mengajakmu juga tahun ini. Tapi, well…" Kazuya menarik napas, "Kubilang kau pasti tidak mau datang."

"Siapa bilang aku tidak mau datang!?" Sawamura terdengar kesal. "Jangan menyimpulkan apapun semaumu, Miyuki Kazuya!"

"Aku akan ada di sana juga. Kau tidak suka bersamaku, kan? Jadi, gampang menyimpulkannya."

Sekarang Kazuya sudah tahu celahnya. Kalau ia ingin Sawamura melakukan sesuatu, cukup bilang padanya bahwa ia tahu Sawamura pasti tidak mau melakukannya. Sebagian dari diri Sawamura yang keras kepala dan kontradiktif pasti tidak tahan.

Sawamura tidak lekas menjawab selama beberapa saat, Kazuya bisa membayangkan pemuda itu sedang menggigiti bibirnya dan memasang wajah berpikir. "Tidak." Sawamura akhirnya berkata, tegas. "Aku akan datang. Aku akan ikut dengan kalian."

Kazuya tersenyum begitu lebar sampai-sampai ia bisa merasakan urat wajahnya saling berkontraksi. "Ah, kau tidak perlu memaksakan diri." Ia berusaha terdengar tak acuh. "Kuramochi pasti mengerti kau tidak menyukaiku, jadi kau sudah pasti tidak ingin menghabiskan sisa liburanmu dalam lingkaran yang sama denganku."

"AKU AKAN IKUT!" Sawamura bersikeras. "Berhentilah berspekulasi semaumu, Miyuki Kazuya! Aku akan langsung menghubungi Kuramochi-senpai dan menyatakan kesanggupanku! Sawamura Eijun tidak pernah takut!"Ia berkata dengan suara menggebu-gebu lalu mematikan sambungan telpon secara sepihak.

Kazuya masih berdiri memandangi layar ponsel dengan adrenalin asing membuncah di dadanya. Tak bisa berhenti menyeringai gembira, penuh kemenangan. Ia mencari nomor Kuramochi dari kontaknya dan mengetik pesan singkat.

'Kuramochi-kun~ Just say yes ;)' [Read. 22.07]


to be countinued


a/n: Chris, I'm truly sorry :'( maaf kelupaan banget nggak masukin kamu di chapter ini :(((

Melon Kuning, iya sih kissing tapi Kazuya tetep kena gampar wkwk. Nggak semudah itu meluluhkan hati Eijun kan ;) Huray! Eijun fighting!/gak gitu.
iiie, uwuwu baca aja gapapa kok, kali ini saya usahain update nggak sampai berbulan-bulan lagi wkwk. Ow, tsundere ya? Hmm, sebenarnya dia lebih ke arah tidak pandai menunjukkan kepeduliannya gitu (?) Tapi mari kita lihat aja selanjutnya gimana ;)
Akakuro dan Bbbfang, well… jadi kamu suka kalau Miyuki main sosor nih? Hmm… kenapa Megane satu ini banyak banget pendukungnya sih? T.T dengki ah saya/hush.
Qackueen, iya saya juga bangga sama Eijun karena ngelawan balik WKWKWK *ketawa jahat* soalnya Eijun sering banget dibikin terlalu pasrah di fanfik atau doujin gitu, padahal aslinya ini anak barbar. Jadi saya sengaja bikin dia lebih ke sifat aslinya di sini.
catyuri, hehehe sabar-sabar. Ranger Merah wkwk, yaa lagian dia memang di sini pakai jam tangan yang kelewat mencolok gitu, tapi saya gemes bayanginnya :v
Uchiha cherry's, hehe menurut kamu gimana? Apakah Kazuya mulai luluh atau semata-mata cuma pingin main-main aja? :D Terima kasih sudah menunggu, saya tunggu rewiewnya lagi deh/modus.
Genlite, Ow thanks :') Lol, yeah kind of… his feeling probably changes little by little, hope you can enjoy it and don't get too bored :D
ratusan971gmail, terima kasih kembali :) terima kasih atas dukungannya hehe. Jangan bosen-bosen yaa buat review biar saya tahu cerita ini layak diperjuangkan (?) atau tidak.
Narika, ayo ayo, kamu gabung ke #TeamEijun! Kita lakukan gerakan agar Eijun tidak selalu jadi karakter yang gampang takluk sama Miyuki Kazuya! :D
nerd reader, from the bottom of my heart I really wanna say thanks for your review on this story and for reading some of my stories on this account :') Thank you for being honest and put some positive words on the review box.
Sigung-chan, saya cinta jalan pikiranmu untuk menyiksa Kazuya! Kuy, kita bisik-bisik jahat ke Eijun!/nak. Hehe, cerita soal 'di mobil' sebenarnya emang otak Mochi aja yang mikir kejauhan tapi malah Kazuya yang disalahin :D Iya, Kazuya nggak terbiasa minta maaf ke orang lain kerena dia selama ini selalu merasa cenderung 'didewakan' jadi yaa… gitudeh. Uwaah, makasih sudah mengingatkatkan saya bahwa masih ada yang menunggu moment ChriSawa :') Terima kasih sudah selalu menyempatkan waktu untuk review, saya terharu/gubrak.
Anonymous, aduduh kenapa kamu yang kayak dipermainkan sama Kazuya kesannya? Sabar yaa, emang di sini karekternya masih nyebelin, kedepannya sih semoga aja ada perubahan positif.
Dyulia971, hehe nggak kok, saya usahakan selanjutnya juga akan update tidak sampai berbulan-bulan. Aw, saya kira bakal pada bosen karena perkembangan hubungan MiSawa lambat, tapi syukurlah kalau kamu ternyata suka :D Terima kasih sudah review, jangan bosen-bosen ya :)
Pembaca Random, aduh saya sampe mau nangis baca rewiew kamu. Makasih bangetnudah direview dengan jujur dan menyentuh begitu saya terharu :') Iya, saya secara pribadi emang kurang suka saat tokoh uke digabarkan terlalu girly gitu, apalagi sifat Eijun sendiri secara official itu nakal anak cowok banget hehe. Saya tersentuh kamu bisa melihat sisi-sisi dari tulisan saya, makasiiih :')))
Guest, waw apa ini? Saya merasakan hawa-hawa bahwa kamu memihak pada Eijun dibanding Kazuya :D kuy kita jadi #TeamEijun!
Namaku cinta, siap! Sudah dilanjut yaaa ini :)
the 25, udah dilajut yaa, makasih udah mampir dan baca ;)
yuuione, eh… wut? Iya, Chris emang kelihatan punya rasa ke Eijun tapi… bukan berarti niat ngajak kabur juga sih wkwkwk. Ah, sebenarnya berlaku untuk semua soulmate, kalau mau nolak bond, artinya harus tinggal saling berjauhan. Tetapi emang dalam kasus MiSawa bond-nya terlalu kuat jadi sampai menimbulkan rasa sakit kalau bermesraan sama orang lain.

Semoga nggak ada yang kelewat bales reviewnya. Pokoknya terima kasih buat semua yang telah membaca, meninggalkan review, menekan favorite, maupun follow cerita ini. Saya sangat mengapresiasi itu semua, meski memang tidak bisa memungkii juga bahwa lebih senang saat dikasih review wkwk.

Oiya, di sini model rambut Chris poninya turun yaa, kayak di Act II, tapi sedikit lebih gondrong rambutnya. Just imagine it, he's really handsome ;)

See you next chappy!