Seperti yang Miyuki katakan, mereka bertemu sekitar satu minggu sebelum semester baru dimulai. Mereka berempat bertemu di Toyama, lalu melanjutkan perjalanan bersama dengan kereta JR Hida Limited Express ke Takayama yang memakan waktu sembilan puluh menit. Sembilan puluh menit, waktu yang cukup bagi Eijun untuk meratapi nasibnya saat harus duduk berdampingan dengan Miyuki Kazuya.
Eijun bahkan tidak tahu mengapa sejak bertemu lagi dengan Miyuki di Toyama tadi, mereka berdua terus saja berdebat nyaris tentang segala hal. Dimulai dari miskomunikasi soal lokasi pertemuan yang membuat mereka tertinggal kereta dan naik kereta selanjutnya, warna pakaian meteka yang sama hingga membuat Kuramochi terpingkal lalu antusias memotret mereka berdua sambil mengumumkan slogan couple outfit (Eijun nyaris menangis mengingatnya), kaki yang tak sengaja terinjak dan membuat mereka kembali membuat keributan di lorong kereta hingga mengundang protes dari penumpang lain yang hendak lewat, dan sekarang—
"Demi Tuhan, Sawamura. Ini ketujuh kalinya kau menyikut tanganku."
Eijun memutar mata. "Kau juga sudah enam kali menyikut tanganku!"
Miyuki membuang napas dan meletakkan kembali sendoknya lalu menatap Eijun tajam, sudut bibirnya berkedut serasi dengan urat di pelipisnya, menahan emosi. "Bisakah kau makan dengan benar?"
"Apa kau bermaksud mendiskriminasiku karena aku kidal?"
"Aku tidak pernah punya masalah dengan orang kidal. Tapi kali ini aku benar-benar jengkel karena kau merusuh."
"Lalu bagaimana denganmu? Kau juga terus merusuh dan tidak membiarkanku makan dengan tenang!"
Miyuki membuka mulutnya, dan Eijun sudah siap dengan debat mereka yang ke-sekian selama satu jam terakhir ini, akan tetapi Sachiko tiba-tiba menyembul dari kursi di depan dan mengangkat tangan seolah guru TK berusaha menenangkan murid-muridnya. "Stop! Stop! Stop!" Gadis itu berkata tegas, hampir galak. "Kalian harus berhenti bertengkar kalau tidak ingin ditendang ke luar oleh penumpang lain."
Kuramochi ikut muncul di samping Sachiko. Tatapannya tajam, mengintimidasi dengan mata sipitnya. "Haruskah aku memberi kalian obat tidur agar kalian setidaknya diam sampai kita tiba di tempat tujuan?"
Eijun cemberut. "Aku hanya mau makan. Tapi Miyuki terus menggangguku!"
"Ku rasa itu seharusnya kalimatku, Ba-ka-mu-ra."
"Jangan panggil aku Bakamura!"
"Right, Sawamoron."
"Berhentilah merusak namaku—"
"Oh, come on!" Seru Sachiko gemas. "Kalian harus belajar menyelesaikan masalah tanpa emosi." Gadis itu menatap tanpa harapan pada Eijun dan Miyuki. Matanya berbentuk kancing dengan warna senada dengan rambutnya, coklat kopi. "Kita bahkan belum satu jam di kereta tapi kalian berdua sudah membuang banyak sekali energi hanya untuk bertengkar karena masalah sepele."
Eijun menyadari keluhan dalam suara itu, rasa bersalah karena telah mengacaukan momen kebersamaan Kuramochi dan Sachiko berbondong-bondong datang mengepung hatinya. "…maaf," Ia berbisik, menunduk kecil pada sepasang soulmate di hadapannya. "Aku tidak bermaksud merusak momen kalian, Senpai."
Eijun bisa melihat bagaimana Kuramochi dan Sachiko saling lirik, berdiskusi tanpa suara. Sedangkan Miyuki duduk di sebelahnya dan menghembuskan napas panjang.
"Well," Suara Sachiko terdengar lebih ringan dan ceria. "kalau masalahnya hanya saling sikut saat makan, kalian bisa tukar posisi duduk, kan?" Satu alisnya terangkat, lalu kepala sedikit mendongak seakan ia berusaha mengisyaratkan dengan dagunya. "Tukar saja, Miyuki-kun di sebelah kanan, dan Sawamura-kun di sebelah kiri. Dengan begitu kalian tidak akan saling sikut lagi."
"He?" Eijun melebarkan mata, berpikir laku merasakan satu kedipan cahaya menyadarkan akalnya. "Ah! Benar juga!" Ia berseru antusias dan bertepuk tangan. "Solusinya semudah itu!"
"Yeah," Kuramochi menyeringai, tatapannya condong pada Miyuki. Ada ejekan mendalam dalam senyuman itu. "Sesederhana itu tapi Miyuki Kazuya yang jenius bahkan tidak memikirkannya."
Miyuki memilih untuk pura-pura tidak mendengar, ia mengangkat nampan makannya, melipat meja lalu berdiri. "Tukar tempat." Nadanya nyaris seperti memerintah. Eijun terlalu muak untuk mendebatnya, jadi ia melakukan hal serupa dan dalam hitungan detik posisi duduk mereka terlah berganti.
"Yep, sekarang makanlah dengan tenang." Sachiko tersenyum puas. "Setelah itu, simpan saja energi kalian karena kita masih punya banyak rencana di Takayama nanti."
Saat Kuramochi dan Sachiko kembali duduk di tempat masing-masing, maka baik Eijun dan Miyuki juga kembali ke kegiatan mereka sebelumnya. Menyantap makan siang masing-masing dalam keadaan hening. Kali ini, mereka berhasil menghabiskan makanan tanpa setidaknya mengumpat satu sama lain.
"Lebih menyenangkan bicara denganmu di telpon daripada langsung." Miyuki berkata, nadanya seakan bergumam pada diri sendiri. Namun Eijun menyadari segaris senyuman tak seimbang yang mencoreng bibirnya.
Eijun mendengus kasar, tapi mau tak mau sepakat akan konklusi itu. rasanya bicara dengan Miyuki melalui telpon memang lebih mudah. Jika ia ingat kembali selama masa liburan kemarin, Miyuki menelpon setidaknya tiga kali dan mereka berhasil bercakap-cakap dengan cukup normal bahkan menceritakan garis besar pengalaman selama masa liburan.
Jujur saja, pada sambungan telepon yang ketiga kalinya itu Eijun bahkan berpikir Miyuki sebenarnya orang yang cukup menyenangkan. Dia masih bangsat, tentu saja, kata-katanya terkadang terlalu tajam dan berhasil membuat Eijun tak tahan untuk meneriakinya, tapi di samping itu semua Eijun menemukan setitik rasa nyaman saat bertukar cerita atau pendapat mengenai baseball dengan Miyuki. setidaknya obrolan yang cukup menyenangkan itu berhasil membuat Eijun tak sadar bahwa mereka sudah bicara hampir tiga jam.
"Mungkin itu karena wajahmu yang menjengkelkan." Pada akhirnya Eijun merespon ucapan Miyuki sebelumnya. "Melihat wajahmu membuatnya gatal ingin meninju."
"Kau orang pertama yang komplain soal wajahku. Normalnya, orang-orang akan terkesima dan memuji wajahku, berkata bahwa mereka ingin menyentuh, membelai atau menciumnya."
Eijun membuat gerakan seakan ingin muntah.
"However," Miyuki berkata lagi, hampir sepelan bisikan, ia menolah untuk menatap Eijun tepat ke mata. "Kita mungkin memang harus menahan diri jika tidak ingin merusak kencan Kuramochi dan Sachiko."
Eijun menangguk, sepakat tanpa perlu penjelasan. Biar bagaimanapun, Kuraochi dan Sachiko menjalin hubungan jarak jauh selama ini, ini seharusnya menjadi saat-saat membahagiakan untuk mereka berdua karena akhirnya bisa menghabiskan sisa masa liburan bersama. Eijun tidak sampai hati merusaknya hanya karena pertengkaran tak penting bersama Miyuki Kazuya.
"Aku tidak pernah bermaksud untuk bertengkar denganmu, kau tahu?" Kata Miyuki lagi, kata-katanya kali ini sukses membuat Eijun mengerutkan alis. "Hanya saja… kau begitu impulsif, keras, dan terlalu sering berteriak. Aku belum tahu bagaimana baiknya menghadapimu."
Eijun mengatupkan rahangnya kaku, sejenak mengalihkan tatapan ke arah sepatunya. Mimikirkan suatu hal yang harus diakuinya meski terdengar sangat anak-anak. "Mungkin bukan sepenuhnya salahmu." Akhirnya ia menatap Miyuki lagi, mendelikkan bahu dan mencoba untuk tersenyum. "Aku masih memandangmu sebagai, uh, belahan jiwaku." Ia berdeham keki untuk melenyapkan udara dingin yang tiba-tiba mengalir di kerongkongannya. "Itu membuatku merasakan bermacam-macam hal. Kesal, kecewa, marah, lalu pada akhirnya membuatku selalu ingin marah padamu."
Eijun menarik napas panjang, membuangnya perlahan. "Aku tahu, kita sudah sepakat untuk akur sampai kau lulus. Kita juga sama-sama menolak soal imprint dan soulmate, sebenarnya tidak ada yang perlu kurisaukan. Jadi… maaf karena aku bertindak tidak profesional dan masih membawa-bawa emosi pribadiku untuk menyalahkanmu."
Ada keheningan panjang sebelum Miyuki akhirnya menjawab. "Mungkin aku juga begitu." Lantas suaranya hanya sepelan bisikan saat melanjutkan. "Aku memanfaatkan semua ini demi kesenanganku semata."
…
Takayama menawarkan banyak sekali hal menarik bagi Kazuya. Kota tua di Prefektur Gifu itu membuatnya merasa seakan berjalan menembus waktu dan kembali ke peradaban masa lalu. Begitu sampai, mereka langsung menuju penginapan, memesan kamar, meletakkan barang bawaan lalu memutuskan untuk mengunjungi beberapa tempat untuk menikmati hal-hal menakjubkan yang disuguhkan Takayama.
Kuramochi dan Sachiko, seperti biasanya, melakuan pola hubungan yang sederhana tapi tetap terkesan manis dengan berjalan bersisian dan menautkan jari kelingking mereka, sesekali berdebat lucu. Kuramochi yang terkadang mengeluh saat Sachiko merekam wajahnya, namun senantiasa mengawasi sepenuh hati setiap gerak gerik gadis itu. Kuramochi tak pernah ketinggalan merangkul Sachiko ketika gadis itu terlalu sibuk dengan kameranya dan luput memerhatian jalan hingga hampir terjatuh atau menabrak sesuatu maupun seseorang. Kuramochi bahkan tak melewatkan kesempatan untuk merapikan rambut Sachiko jika tertiup angin, menyingkirkan daun atau kepopak bunga yang hinggap di rambut dan bahuya, juga serentetan aksi sederhana nan manis lainnya.
Sementara itu Kazuya berjalan di belakang mereka bersama Sawamura yang tak bisa berhenti menyeringai senang tiap kali melihat aksi manis Kuramochi. Kazuya bahkan bisa melihat bintang-bintang berkerlip di sepasang mata emas Sawamura tiap kali menyaksikan keromantisan pasangan itu.
"Aku benar-benar ingin memotret mereka." Sawamura mendesah berat, menatap Kuramochi yang sedang menggerutu kecil Karena Sachiko menggodanya dengan suapan es krim palsu.
"Aku tidak tahu kau punya obsesi pada hal-hal romantis begitu."
Sawamura melipat bibir dengan cara yang lucu. "Mereka salah satu tipe pasangan favoritku! Kuramochi-senpai selalu kelihatan dingin dan galak, tapi saat bersama Sachiko-senpai dia terlihat lebih keren dan… gentle."
"Mereka tidak selalu seperti itu." Kazuya menemukan dirinya berkata, ingatannya memutar kembali kejadian beberapa tahun ke belakang. "Kuramochi begitu canggung dengan wanita, jadi awalnya mereka terlihat agak kaku, dan sepertinya dulu Sachiko juga sedikit ketakutan dengan perawakan Kuramochi yang lebih mirip yankee alih-alih anak SMA."
"Ah, benar juga!" Sawamura berseru. "Kuramochi-senpai dulu mewarnai rambutnya menjadi pirang, kan? Aku melihatnya dalam ingatan kilatmu."
Kazuya ikut tersenyum mengenangnya. "Kuramochi memang lebih menyeramkan saat masa sekolah. Orang-orang cenderung menjauhinya karena takut, dia tidak punya banyak teman."
"Jadi itu yang membuat kalian akhirnya berteman? Orang-orang menjauhi Kuramochi-senpai karena takut dengan tampilannya, sementara kau di sisi lain, juga tidak punya teman karena…yah, kau adalah kau. Si Miyuki yang punya kepribadian kacau, bermulut pedas, licik dan dingin."
"Apa!"
"Aku mengerti." Sawamura mengangguk khidmad. Cengiran melebar di mulutnya begitu lugu untuk ukuran seseorang yang baru saja memberi komentar sarkas yang kejam. "Well, yang penting sekarang kalian sudah berteman. Tidak masalah jika awalnya Kuramochi-senpai hanya terpaksa."
"Kau benar-benar belajar cepat caranya menghina orang, ya?"
"Aku mengajarimu minta maaf, dan aku banyak belajar darimu soal menghina orang."
Kazuya mendengus, tapi tak menyangkal senyum di bibirnya. Selama beberapa waktu, tak ada percakapan yang terjalin. Sawamura sesekali memotret pemandangan kota tua itu dengan kamera ponselnya—tapi Kazuya punya firasat bahwa Sawamura diam-diam memotret kebersamaan Kuramochi dan Sachiko juga. Kazuya sendiri sesekali juga memotret hal yang menurutnya menarik.
Mereka terus menyusuri kota sampai tiba di Sungai Miyagawa. Sebuah sungai berair jernih dengan bebatuan alam dan ikan-ikan yang berenang bagaikan di kolam kaca.
"Aku mau turun!" Sawamura berseru penuh semangat, mamasukkan kembali ponsel ke saku celananya, kemudian bergegas turun ke sungai.
Kazuya menyempatkan diri untuk melirik dan bertukar pandang dengan Kuramochi di kejauhan yang melempar senyum miring padanya. Nikmati peranmu sebagai pengasuh bocah, rasanya Kazuya bisa merasakan Kuramoci berkata. Meski pada kenyataannya baik Kuramochi maupun Sachiko juga memutuskan untuk turun ke sisi sungai yang lain untuk menikmati kesejukan airnya.
"Uwaah, dingiiiin!" Sawamura berseru riang saat Kazuya tiba di dekatnya. Pemuda itu bahkan telah melepaskan sepatu dan kaus kakinya, duduk di tepi sungai dan mencelupkan sebagian kakinya ke air.
"Kau benar-benar mirip bocah." Kazuya mengambil posisi di sebelah Sawamura, mulai menggulung ujung celananya lalu melepas sepatu dan kaus kaki, ikut mencelupkan kakinya ke dalam air.
"Ini benar-benar tempat yang bagus, kan?" Sawamura bersenandung riang, tersenyum lebar pada Kazuya. "Kurasa kapan-kapan aku akan mengajak keluargaku ke sini." Ia berkata lalu mengalihkan lagi tatapannya ke arah sungai, berbinar-binar saat melihat ikan-ikan yang berenang dalam beragam corak dan warna.
Kazuya menarik dan membuang napas panjang, lalu mulai memejamkan mata. Membawa dirinya ke tahap yang lebih rileks lagi dengan membiarkan otot-otot tubuhnya merenggang, jalur tulang punggungnya melengkung untuk memperbaiki pegal akibat perjalanan empat jam dari Tokyo. Ia bisa merasakan angin menerpa wajahnya, menggoyang helaian rambutnya, membawa aroma khas sungai, samar kelopak sakura, dan udara bersih dari polusi kota. Ia masih bisa mendengar Sawamura di sebelahnya bergumam tentang setiap hal yang ia lihat, berdecak kagum, atau memuji dengan bahasa Jepang kuno yang terdengar konyol.
Momen itu bertahan selama beberapa menit sampai Kazuya bisa menangkap suara notifikasi pesan LINE. Ia tidak merasakan ponselnya bergetar, jadi Kazuya mengasumsikan suara itu berasal dari ponsel Sawamura. Kazuya masih tetap memejamkan mata dan tidak peduli, tapi beberapa waktu kemudian ia mulai bisa mendengar suara notifikasi konstan dan kekehan tawa samar milik Sawamura mengisi udara di sekitar mereka. Dengan alis berkerut, Kazuya membuka sebelah matanya dan menatap ke arah Sawamura. Memangkap profilnya dari samping yang terlihat… Kazuya menggeleng untuk menepiskan kata 'manis' dari otaknya.
"Mengabari keluargamu?" Tanya Kazuya basa-basi, berusaha memecah gelembung kecanggungan dan mengusir bayang-bayang profil Sawamura dari benaknya.
Sawamura merespon dengan gelengan bersemangat. "Ini Chris-senpai!" Dia mengumumkan ceria. "Dia bilang ada pasar pagi di Takayama dan itu sangat menarik karena kita bisa melihat banyak barang-barang dijual di sini. Aku harus bangun pagi besok dan mencoba mengunjunginya, pasti asyik. Yosh!"
Setidaknya ada tiga informasi yang berhasil Kazuya cerna dalam otaknya. Satu, ia merasakan napasnya tertahan saat dihadapkan dengan cengiran Sawamura yang lebar dan cahaya kilap-kilap di mata emasnya. Dua, Sawamura berencana mengunjungi pasar pagi besok. Tiga, Sawamura chatting dengan Chris, dan itu yang membuatnya sangat-sangat ceria. Kazuya merasakan nada ganjil menyusup ke jantungnya begitu mencerna informasi nomor tiga.
Lagi-lagi suara notifikasi LINE membuat Sawamura buru-buru mengecek ponselnya. Terkikik geli, lalu mulai mengetik pesan balasan, gerakannya berlanjut dengan membuka vitur kamera LINE dan memasang senyuman super lebar, bersiap melakukan selca.
Kazuya menarik napas, kejadian itu begitu cepat, begitu impulsif dan—
CKREK!
"Apa yang kau lakukan, Miyuki Kazuya!?"
Kazuya tak menggubris, ia meraih tangan Sawamura yang masih menggantung di udara dan dengan cepat merebut ponselnya lalu menekan tombol kirim yang tertera di pojok kiri bawah foto barusan. Tak sampai satu detik, dan foto itu berhasil terkirim kepada Chris.
"KAU MENGIRIMNYA!" Sawamura menjerit histeris, cukup untuk membuat telinga Kazuya berdenging, tapi ia justru tersenyum saat melihat bahwa Chris telah membuka foto itu. "KAU MENGIRIMNYA PADA CHRIS-SENPAI!"
Kazuya menyeringai nyaris terlalu lebar. "Fotonya bagus." Ia mengamati foto itu lalu menunjukkannya pada Sawamura dengan santai. "Kau sedang tersenyum, dan aku—seperti biasa—terlihat tampan saat mengedipkan sebelah mata."
Sawamura merebut ponselnya kembali, wajahnya berubah abu-abu kemerahan saat ia mengecek riwayat percakapannya dengan Chris. "Chris-senpai sudah melihatnya! Dia melihat fotonya dan…demi Hades! Semua orang yang melihat ini bisa salah paham dan mengira kita berdua bersenang-senang lalu sengaja foto bersama!"
"Oh, aku yakin kau memang bersenang-senang, Sawamura. Dua menit yang lalu, kau terlihat sangat-sangat bahagia saat mengumumkan akan pergi ke pasar pagi besok. Kau bahkan bilang ingin membawa keluargamu ke sini, kan?"
Kedua alis Sawamura meruncing dan berkerut berdekatan hingga nyaris tanpak seperti huruf V. "Ya." Ia berkata seakan menelan tikus. "Aku memang bersenang-senang tapi tidak denganmu—"
Suara LINE lagi-lagi memutus kata-katanya. wajah Sawamura berubah pasi ketika menatap layar ponselnya, dan Kazuya mencuri kesempatan itu untuk menarik ponsel Sawamura sekali lagi, membaca pesan balasan Chris yang berbunyi.
'Say hello from me to Miyuki.' [14.23]
'Have fun.' [14.23]
Kazuya merasakan gelombang perasaan yang menyenangkan bergulung-gulung membungkus hatinya. Anderalin itu masih ada. Minatnya soal membuat beberapa kesenangan di antara hubungan Sawamura dan Chris itu masih ada. Ia masih tertarik untuk menyelidiki lebih jauh, mendapatkan lebih banyak, membuat sedikit keributan, dan mengundang berbagai hal menarik hingga membuat Chris sampai ke titik tertentu yang pada akhirnya berani mengakui secara terang-terangan bahwa ia berminat pada Sawamura Eijun.
Sure it's gonna be fun, Chris. Kazuya menyahut pesan Chris dalam hati, sebelum tersenyum dan mengetik balasan melalui ponsel Sawamura.
'Terima kasih, Chris-senpai!' [14.24]
'Aku akan mengikuti saranmu untuk ke pasar pagi besok dan bersenang-senang bersama Miyuki-senpai.. (^O^)' [14.24]
Kirim.
Dan tentu saja, tak butuh dua detik sampai teriakan Sawamura kembali menekan gendang telinganya.
"APA YANG KAU KETIK, MIYUKI KAZUYA!?"
…
Malam itu menjadi yang terburuk. Tentu saja, kenapa tidak? Mereka menginap di pondok tradisional yang membagi kamar-kamar berukuran enam tatami dengan sekat berupa dinding kertas tradisional khas Jepang. Kuramochi dan Sachiko di kamar sebelah menikmati malam layaknya sepasang orang dewasa. Kazuya bahkan tidak bisa protes saat suara yang sepasang soulmate itu keluarkan sampai ke kamarnya. Mengusik pikirannya tiap kali ia mencoba memejamkan mata dan tidur.
"Tuhan, ampuni aku." Kazuya mendengar Sawamura berbisik. Jarak futon mereka kurang lebih satu meter, tapi Kazuya bisa menangkap jelas kegurasan dan depresi dalam suaranya.
"This is the worst." Sahut Kazuya sepakat.
"Mau ke luar?"
Kazuya tidak butuh membuang-buang waktu untuk berpikir dua kali, ia menyibak selimutnya, memakai kembali kacamatanya, lalu bangkit berdiri. Sawamura melakuan hal yang tak jauh berbeda, mereka akhirnya sama-sama mengambil jaket dan memutuskan untuk meninggalkan kamar agar lolos dari suara sepasang soulmate dari kamar sebelah yang sedang bersenang-senang.
Mereka berakhir duduk di teras, merapatkan jaket saat merasakan angin bulan April bertiup menerpa. Sawamura menyelonjorkan kakinya di lantai kayu, menghela napas panjang dan menghadap ke arah taman kecil di depan mereka. Suara gemercik air dari kolam mini di tengah taman berpadu dengan seranga malam dan gemersik dedaunan saat tertiup angin.
"Kau ingin kita memesan kamar lain yang lebih jauh?" Kazuya membuka percakapan lebih dulu, risih akan keadaaan yang terlalu hening karena ia merasa semakin kedinginan.
Sawamura menggeleng. "Tidak perlu." Ia berpaling pada Kazuya dan tersenyum miring. "Kau harus belajar menghemat uang, masih banyak solusi tanpa harus membuang uang, Tuan-Muda-Kaya-Raya."
Kazuya memutar mata, tapi jauh dari rasa gusar. "Jadi apa idemu, Tuan-Sok-Pintar?"
"Umm, bagaimana kalau kita tetap di sini dulu sampai beberapa lama. Sampai kira-kira mereka sudah selesai, lalu kita bisa kembali ke kamar dengan tenang?"
Kazuya ingin sekali menjawab bahwa itu rencana buruk karena kondisi di sini cukup dingin dan ia tak pernah punya ketahanan bagus tentang udara dingin. Namun saat melihat Sawamura terlihat begitu menikmati suasana di sini, mood yang baik, tidak mendebat, berteriak, atau melemparkan tatapan permusuhan padanya, Kazuya meruntuhkan ego pribadinya dan memilih untuk setuju.
"Hei, lihat! Langitnya jernih malam ini, kita bisa melihat lebih banyak bintang!"
Kazuya tersentak saat mendengar suara Sawamura yang tahu-tahu naik dua oktaf dan menjadi lebih bersemangat. Ia mendongak ke arah langit dan mendapati fakta di balik ucapan Sawamura. Langit begitu jernih, bintang-bintang muncul tanpa perlawanan. Membentuk pola dan berkedip dalam samar warna yang berbed-beda.
"Saat kecil, impianku adalah memakan bintang."
Kazuya menatap bengong.
Sawamura terkekeh-kekeh. "Aku sangat penasaran seperti apa rasa bintang. Kupikir jika aku memakannya, aku juga akan kelihatan bercahaya dan itu keren. Setiap malam, aku akan memandangi bintang dari balkon rumahku dan berdoa suau hari nanti aku bisa memakannya."
Kazuya bahkan tidak tahu bagaimana harus merespon cerita itu.
"Setidaknya sampai aku belajar bahwa bintang sangat-sangat besar dan sangat-sangat panas dan aku mustahil bisa menelannya." Sawamura tertawa, geli sendiri. "Lalu aku mendapati nyaris semua orang menertawakanku. Ternyata selama ini mereka semua sudah tahu betapa konyolnya impianku, tapi hanya diam saja menunggu aku tahu sendiri. Ha! Benar-benar lelucon yang hebat."
Kazuya bisa merasakan sudut bibirnya berkedut geli, tapi ia berupaya menahan tawanya. "Apa yang terjadi selanjutnya?"
"Oh, tentu saja aku ditertawakan." Jawab Sawamura lugas. "Ke manapun aku melangkah, orang-orang mulai meledek dengan pertanyaan seperti; Sudah memutuskan bintang mana yang mau kau makan? Perlukah aku menyuapkan kecap atau saus untukmu? Apa bintang terasa seperti coklat atau keju? Hei, kupikir tubuhmu bersinar, apa itu akibat memakan bintang? Oh, wajahmu merah! Mungkinkah karena bintang kejora? Lelucon itu bahkan tidak berhenti selama satu bulan."
Kali ini Kazuya tidak lagi menahan tawanya. Ia membiarkan seluruh tubuhnya berguncang akibat sensasi geli di dasar perutnya. "Astaga, Sawamura." Kazuya mengambil napas dan menggeleng dari satu sisi ke sisi lain. "Aku bahkan tidak tahu lagi kau ini terlalu polos, terlalu naif, atau murni idiot?"
"Aku menyesal cerita padamu!" Gerutu Sawamura. "Semua anak-anak sangat percaya diri dan yakin akan impiannya. Tidak ada yang salah dengan… ugh, ingin memakan bintang."
Tubuh Kazuya masih bergetar karena tawa, tapi ia berusaha mengendalikan diri. Mengatur respirasinya dan menatap kembali ke langit seraya tersenyum mengenang masa kecilnya sendiri. "Saat kecil, aku ingin jadi astronot."
Sawamura berkedip. "He?"
"Aku juga punya ketertarikan pada bintang dulu, meski tidak sampai terobsesi ingin memakannya seperti kau~"
"Kau meledekku lagi?"
Kazuya menggeleng, senyumnya melebar otomatis. "Aku serius, aku memang sangat ingin jadi astronot dulu." Kazuya tidak pernah menceritakan ini kepada siapapun, bahkan Kuramochi. Mungkin hanya kedua orang tuanya yang tau impian masa kecilnya ini. Kazuya bahkan tidak tahu mengapa ia menceritakannya pada Sawamura. "Ku rasa semuanya bermula saat ayahku memberiku hadiah teleskop kecil. Sejak saat itu, hampir setiap malam aku selalu mengamati bintang-bintang dari teleskop. Membeli buku-buku astronomi, dan mulai tertarik untuk memahami lebih jauh."
Kazuya mengingat hari-hari itu. Betapa ia sangat bersemangat terhadap ilmu perbintangan, menghabiskan berjam-jam selama menunggu ibunya syuting dengan membaca buku-buku astronomi, menghapal rasi-rasi, bahkan mulai mencari bintang favoritnya.
"Jadi setelah ini kau berniat mendaftar ke JAXA, NASA, atau semacamnya?"
"Aku tidak memenuhi kriteria." Jawab Kazuya ringan, saat Sawamura mengerutkan alisnya, ia menunjuk ke arah mata. "Penglihatanku." Sahut Kazuya singkat. "Seorang astronot harus punya penglihatan yang bagus. Aku punya kelainan mata yang dibawa secara genetik dari ayahku, aku bahkan sudah memakai kacamata sejak sangat kecil."
"Bukankah bisa Operasi Lasik atau apa itu?"
Kazuya tertawa kecil, menggeleng dengan penuh pengertian. "Tidak semua orang cocok dioperasi, Sawamura. Tidak dalam kasusku."
Sawamura membuat gerakan kikuk dengan mengusap tengkuk dan menjilati bibir bawahnya. Pemandangan yang membuat Kazuya langsung bisa menebak bahwa pemuda itu sedang merasa tak enak hati. "Jangan terlalu banyak berpikir, sel otakmu bisa meledak karena tak sanggup menampungnya."
Sawamura melotot. "Maksudmu aku bodoh!?"
Kazuya terkekeh lagi, rasa dingin yang semula menyusup ke sel-sel kulitnya telah hilang entah kemana. Kepolosan, impulsifitas, dan kerasnya Sawamura selalu berhasil membuat suhu tubuhnya naik akibat tawa atau juga kemarahan. "Jadi kau tidak merasa bodoh?"
"Aku berhasil diterima di Universitas Meiji melalui jalur tes, apa itu terlihat bodoh?"
Ah, kadang Kazuya benar-benar lupa fakta itu. Sawamura diterima di universitas benar-benar dengan tes masuk, bukan beasiswa olahraga dan semacamnya.
"Aku tidak bodoh." Sawamura berkata lagi, meski intonasinya lebih lemah seakan ia juga berusaha meyakini kalimat itu. "Aku hanya mudah percaya pada orang lain. Jadi tolong jangan mencoba membohongiku, karena saat seseorang bilang aku harus percaya padanya, maka aku akan langsung percaya. Selain itu, aku juga tidak suka saat ada yang menghina teman-temanku. Aku mudah sekali meledak saat melihat hal seperti itu. Mungkin karena itulah aku sering terlibat masalah dan terlihat bodoh."
Kazuya tahu Sawamura berkata yang sebenarnya. Ia sangat jujur dan sama sekali tidak berupaya melebih-lebihkan pandangan dan gambaran kepribadiannya. Kazuya sendiri menyadari bahwa Sawamura sejatinya bukan bodoh, ia hanya terlalu pure. Sifat naïf itu bukan muncul dari ego Sawamura, melainkan dari kemurnian di hatinya. Selama beberapa detik, tiba-tiba Kazuya merasa bersalah karena telah memanfaatkan kepolosan Sawamura demi kesenangannya sendiri.
"Seberapa sering kau terlibat masalah?" Kazuya memutuskan untuk bertanya demi menghapuskan rasa bersalah tak masuk akal itu.
Sawamura menarik napas dalam-dalam lalu membuangnya cepat, ia lalu mendelikkan bahu singkat dan berlanjut dengan mengubah posisinya menjadi berbaring dengan wajah menghadap ke langit. "Di hari pertama kita bertemu, sebenarnya kau adalah orang kedua yang kubanting hari itu."
Kazuya melebarkan mata.
Sawamura tersenyum lagi, seperti mengenang memori yang lucu. "Ada seorang senior di taekwondo, kau mungkin kenal Azuma-san."
"Azuma Kiyokuni, seangkatan denganku meski sebenarnya dia lebih tua. Dia memegang sabuk hitam dan menjadi perwakilan kampus, bahkan memangkan olimpiade tingkat prefektur selama tiga tahun berturut-turut." Kazuya mengingat, lalu mengernyit. "Kau membuat masalah dengannya?"
"Yah." Jawab Sawamura sekenanya. "Dia mengeluarkan kata-kata kasar kepada salah satu anggota lain, hampir semua orang melihat tapi sama sekali tidak ada yang berani bertindak. Aku sangat kesal dan bergerak begitu saja ke arahnya, mengunci tubuhnya dan membantingnya ke lantai. Kurang lebih seperti yang kulakukan padamu."
Kazuya menelan ludah, bukan karena teringat betapa kaget dan sakitnya saat Sawamura membantingnya. Namun karena ia tahu seperti apa Azuma, monster itu berukuran tiga kali lipat tubuh Sawamura. Bagaimana bisa Sawamura tidak takut sama sekali?
"Dia membalas, tentu saja. Hampir mengenani mataku." Sawamura menunjukkan gerakan mengangkat satu kakinya ke udara seakan memperagaan tendangan cepat. Seketika Kazuya tersadar bahwa hari itu ia mamang melihat lebam di tulang pipi Sawamura.
"Kedengarannya bukan hari yang menyenangkan."
"Sangat." Sawamura tersenyum kecut. "Aku masih kesakitan karena lebam di wajahku, lalu harus kesakitan lagi karena imprint muncul di dadaku."
"Apa!?" Suara Kazuya meninggi.
Sawamura mengerjap kaget. "Eh? Jadi kau tidak tahu bahwa hari saat imprintku muncul, hari itu juga aku bertemu denganmu?"
"Tidak mungkin imprintmu baru muncul hari itu." Tukas Kazuya. "Kau sudah sembilan belas tahun."
"Tanya saja ke Shinji kalau tidak percaya. Itu buruk sekali… Aku tidak tahu kalau rasanya akan sesakit itu."
"Tidak mungkin." Kazuya menggeleng yakin. "Mustahil kau baru mendapat imprint di hari itu, Sawamura. Imprint muncul di usia 16 atau 17 tahun."
Sawamura menatapnya sambil mendengus kesal. "Lalu pikir saja, apa masuk akal kalau aku sudah dapat imprint sejak awal, kuliah di Meiji lebih dari satu semester dan kita baru bertemu setelah nyaris satu tahun?"
"Itu…" masuk akal, tapi Kazuya masih menggelengkan kepala. "Bagaimana bisa?"
"Keturunan laki-laki dari keluarga Sawamura memang cenderung lambat mendapat imprint, aku sendiri tidak tahu kenapa."
Kazuya mencoba mencerna satu demi satu informasi yang didapatnya sambil menyipitkan mata memandangi Sawamura. "Jadi hari itu kau bertengkar dengan Azuma, mendapat imprint yang harus kuakui sangat menyakitkan, sebelum akhirnya bertemu denganku dan—"
"Bersiteru denganmu." Potong Sawamura telak, tersenyum getir. "Jelas-jelas bukan hari keberuntunganku."
Lagi-lagi Kazuya benci karena dirinya measa bersalah. Ia tidak pernah tahu bahwa hari itu cukup berat bagi Sawamura, tanpa berpikir ia mengatakan hal-hal kasar begitu saja dan mungkin menambah suram harinya hingga berujung dengan insiden pembantingan itu.
"Aku bahkan tidak tahu bagaimana harus bereaksi." Kata Sawamura lagi. "Segalanya terjadi begitu cepat, bertengkar dengan Azuma-san, rasa terbakar dan tersayat di dada kiriku, mendapat imprint, lalu… duar! Bertemu dengan belahan jiwaku yang ternyata seorang laki-laki dan mendapati kenyataan bahwa…" Ia menarik napas, memandang Kazuya dengan senyum yang dipaksakan. "Aku langsung ditolak dan dikatai menjijikkan bahkan sebelum segalanya dimulai."
Kazuya bisa merasakan kepahitan di dalam kata-kata itu. 'It's disgusting.' kata yang ia ucapkan pada Sawamura hari itu dengan begitu kejam kini datang sebagai pusaran rasa berdosa yang menyeretnya tenggelam dalam penyesalan.
Tarikan napas Kazuya terasa berat di dadanya. "Sawamura, aku tidak tahu kalau…"
"Santai," Sawamura berkata ringkas. "Setidaknya, sekarang kita sama-sama tahu ke mana semua ini akan berakhir, itu bagus, kan?"
Kazuya tidak menjawab, otaknya terlalu sibuk untuk memikirkan hal-hal yang selama ini tidak pernah ia sangka akan mengusiknya.
"Hei, aku menceritakannya bukan untuk membuatmu merasa bersalah begitu!" Bentak Sawamura gemas. "Berhentilah dramatis."
Kazuya membuang napas kesar. "Kau memang anak yang menjengkelkan."
"Aku tidak mau mendengarnya darimu, Miyuki Kazuya."
"Oh, kau sudah tidak memanggilku Miyuki-senpai lagi?"
Sawamura memutar mata. "Berbaring saja di sini dan nikmati indahnya langit malam ini, aku tidak mau buang tenaga untuk berdebat denganmu."
Kazuya menyempatkan untuk tertawa kecil sebelum akhirnya ikut berbaring menatap gugusan bintang di langit yang jernih. Ia melipat sebelah lengannya untuk dijadikan bantalan kepala dan berbaring sekitar setengah meter dari Sawamura yang menatap langit dengan pandangan takjub. Selama hampir sepuluh menit, mereka sama sekali tidak bicara, kemudian Kazuya memutuskan untuk melempar pertanyaan ringan.
"Kau sudah punya rencana setelah lulus nanti?"
Sawamura memainkan bibirnya seraya bergumam panjang. "Ada banyak kemungkinan sebenarnya. Aku bisa kembali ke Nagano dan meneruskan usaha pertanian keluargaku, atau memenuhi permintaan kakek dari pihak ibuku untuk memegang jabatan di perusahaan mereka, tapi aku bisa juga ke luar negeri dan melakukan apapun yang ingin ku lakukan, bekerja sesuai kemauanku. Keluargaku tidak pernah memaksakan apapun." Sawamura menguap lebar setelahnya, matanya sedikit memerah dan Kazuya mengerti bahwa pemuda itu mulai mengantuk. "Tapi kau tenang saja, aku tetap akan memenuhi janjiku untuk tidak ke Tokyo setelah lulus, aku tidak akan membuatmu kesulitan."
Sawamura menyungingkan senyum lugu penuh percaya diri seraya mengedipkan sebelah matanya dan mengacungkan jempol pada Kazuya. Anehnya, Kazuya merasa senyum dan janji itu menikam jantungnya. "Kau yakin sanggup memegang janjimu, Sawamura?"
"Tentu saja!" Sawamura mengepalkan tinju ke udara dengan yakin. "Kita sudah membuat kesepakatan demi kebaikan bersama. Jadi mari berusaha untuk tidak merusaknya demi kebaikan kita masing-masing." Sawamura melempar senyuman yang lebih lebar lagi. "Ne, Miyuki-senpai?"
…
Eijun luput menghitung berapa lama akhirnya tadi malam ia dan Miyuki betahan di teras sambil memandangi langit dan membicarakan hal-hal ringan. Eijun bahkan jatuh tertidur, dan yang ia ingat Miyuki membangunkannya dengan muka kusut lalu mengajaknya kembali ke kamar. Saat mereka kembali, tak ada lagi suara Kuramochi dan Sachiko dari kamar sebelah. Hal yang melegakan dan membuat baik dirinya maupun Miyuki langsung bergelung dalam futon masing-masing dan tidur pulas.
Eijun bangun lumayan pagi, langsung mencuci wajah dan menyikat giginya lalu bersiap-siap pergi ke pasar pagi. Kamar Kuramochi dan Sachiko masih tertutup rapat, dan ia tak ingin mengganggu. Yang tidak disangka olehnya adalah ketika Miyuki tiba-tiba menyusul dan menyamai langkahnya selepas ia keluar dari area pondok penginapan. Lensa kacamatanya sedikit berembun dan rambut yang tampak setengah berantakan jatuh ke keningnya. Eijun menyadari bahwa Miyuki terlihat jauh lebih muda dengan penampilan sederhana seperti ini, jauh dari kesan laki-laki kaya nan arogan yang selama ini melekat pada peringainya.
Miyuki hanya berkata ingin ikut karena tidak mau terlibat dengan suara-suara aneh dari kamar sebelah lagi. Dan karena Eijun malas mendebatnya, ia hanya mengangguk dan membiarkan Miyuki berjalan di sisinya.
"Apa yang mau kau beli?" Lima belas menit berjalan menyusuri pasar, akhirnya Miyuki buka suara.
Eijun menatap berkeliling, berbagai produk lokal dijual di pasar ini. Sayur dan buah-buahan hasil alam sekitar, kios makanan, dan souvernir. Eijun tergoda untuk mencicipi beberapa buah-buahan segar, tapi begitu melihat sebuah toko camilan yang berlabel khas Takayama, pikirannya berubah. "Kau mau coba yang di sana?"
Miyuki mengikuti arah yang ditunjuknya, dan mungkin Eijun berhalusianasi, tapi rasanya ia bisa melihat mata Miyuki berbinar. "Oke." Pemuda itu menjawab datar dan pendek, lalu mulai berjalan menuju toko yang Eijun maksud.
Toko itu menjual kudapan kue puding berisi espresso yang bebas aditif. Harus Eijun akui, citarasa lokal dari kue puding yang berpadu dengan espresso benar-benar membuatnya lebih bersemangat. Setelahnya, mereka banyak mencoba beragam kudapan yang ddijumpai di sepanjang pasar. Eijun menyadari bagaimana Miyuki selalu menyernyitkan wajahnya tiap kali menjajal makanan dengan cita rasa manis, dan Miyuki selalu menertawakan wajahnya tertawa tiap kali Eijun menjumpai jenis makanan dengan aroma menyengat.
Eijun tidak tahu berpa banyak waktu yang ia habiskan bersama Miyuki untuk berkeliling pasar itu. mereka berjlan cukup santai. Mapir ke banyak tempat yang menyediakan kudapan-kudapan riangan ataupun minuman. Melihat-lihat kegiatan sekitar, bahkan Miyuki tidak melarangnya saat Eijun menjadi terlalu banyak bertanya pada warga lokal tentang apa yang membuatnya penasaran.
Selama beberapa waktu, Eijun merasa Miyuki benar-benar tidak seburuk yang ia kira. Pemuda itu masih melempar beberapa kalimat berbau sarkastik atau juga celetukan pahit yang terkadang menusuk hati. Tapi di samping itu semua Miyuki sebenarnya cukup menyenangkan untuk diajak mengobrol ataupun berdebat.
"Kencan pagi yang menyenangkan, heh?"
Mereka menoleh kompak, mendapati Kuramochi Youichi berdiri di belakang mereka dengan seringai terbelah di wajahnya. Rambutnya basah seakan ia baru saja cuci muka secara berlebihan.
"Ah! Kuramochi-senpai! Kau datang ke sini juga?"
Kuramochi mendengus kecil, lalu dari belakangnya muncul Sachiko dengan rambut tergerai dan senyum kecil di bibirnya. "Ohayou~"
Tulang punggung Eijun berubah kaku, dan suara napasnya mendesing aneh di tenggorokan ketika melihat Kuramochi dan Sachiko kini berdiri bersebelahan. Itu tidak bisa dicegah, otaknya secara otomatis memutar kembali suara-suara yang ia dengar tadi malam.
"O-ohayou gozaimasu, Sachiko-senpai!" Suaranya bahkan melengking, dan Eijun menyadari tatapan heran yang Kuramochi berikan padanya. Namun rasa canggung dalam dirinya sama sekali tak mau mereda. "Bagaimana kabarmu pagi ini? Apa kau tidur dengan nyenyak? Apa semalam—mmph!"
Sebelum Eijun sempat meneriakkan kalimat-kalimat absurd lainnya Miyuki secara kasar membekap mulutnya dengan satu telapak tangan, lalu tangan yang lain melingkari bahunya dan menarik kepala Eijun mendekat. Eijun tidak sadar seberapa dekat jarak mereka sampai ia bisa merasakan napas panas Miyuki menyapu rahangnya. "Idiot." Miyuki berbisik rendah. "Tutup mulutmu atau mereka akan benar-benar curiga." Ia berbisik dengan lebih rendah, lalu ganti menatap dua temannya. "Kupikir kalian berdua tidak akan bagun sepagi ini."
Kuramochi jelas tidak mudah dialihkan, mata sipitnya masih menatap penuh selidik kepada Eijun dan Miyuki, tapi Sachiko dengan sepat tersenyum, mengamit tangan Kuramochi dan merangkulnya hangat. "Ini sudah jam sembilan, kalian sadar? Memangnya sepagi apa kalian bangun?"
Eijun membeliak, segera melepaskan diri dari Miyuki dan merogoh sakunya untuk memeriksa jam pada ponsel. Pukul sembilan lebih lima menit! Ia bahkan tidak sadar sudah menghabiskan waktu berkeliling pasar hampir dua jam bersama Miyuki Kazuya.
"Well," Miyuki menghela napas, melirik sekilas ke arah Eijun lalu mendelikkan bahu. "Seseorang merekomendasikan kepada Sawamura untuk berkunjung ke pasar pagi." Ia menjelaskan. "Dan Sawamura sudah berisik sekali sejak pagi hingga membuatku terbangun dan, yah, akhirnya ikut dengannya."
Eijun tidak tahu harus marah karena dijadikan kambing hitam atau justru terkesima dengan bakat mengarang cerita yang dimiliki Miyuki. Tapi yang jelas, untuk kali ini ia tidak bisa protes karena mungkin akan kelepasan seperti sebelumnya. "Hehe, begitulah…"
"Kalian sudah selesai berkeliling?" Kuramochi bertanya, menggasak poninya asal lalu memandang sekitar. "Kami berdua baru berjalan selama sepuluh menit, dan aku sudah merasa bos—Aduh!"
Sachiko mencubit pinggang Kuramichi tanpa belas kasih. "Kau benar-benar orang yang tidak menyenangkan untuk diajak berjalan-jalan di keramaian, You-kun."
Kuramochi meringis sambil mengelus pingangnya. "Semua orang akan seperti itu jika terus ditatap dengan penuh ketakutan."
Miyuki mendengus dan tertawa, tak diragukan lagi ia suka saat Kuramochi tak berdaya. "Mochi, orang-orang mungkin tidak akan memandangmu begitu andai kau tidak lebih dulu memberi pandangan apa-lihat-lihat-kalian-mau-mati?"
"OI!"
Sachiko tertawa ceria sambil menepuk dada Kuramochi seakan berusaha menahannya. Eijun tidak dapat menahan diri untuk tersenyum sementara Miyuki tertawa begitu renyah di sebelahnya.
"Jadi," Kata Sachiko. "Kalian sudah selesai berkeliling?"
Kali ini Eijun berinisiatif untuk menjawab. "Rasanya dari tadi kami belum mampir ke toko souvernir sama sekali. Aku ingin beli hadiah untuk keluarga dan beberapa temanku."
Sachiko mengangguk, sementara Kuramochi dan Miyuki tampaknya sedang berdiskusi hal lain dalam percakapan rahasia antar sahabat dengan hanya saling menatap. "Kalau begitu, ayo kita mampir ke salah satu toko. Kita masih punya waktu sebelum ke Kuil Sannogu Hie."
Retina Eijun melebar. "Sannogu Hie!? Lokasi yang dijadikan setting anime Kini no Nawa!? Kita akan ke sana!?"
Ketiga pasang mata lantas menatap Eijun dengan pandangan tak wajar. "Kita juga akan ke Shirakawa-go. Kau tidak tahu?" Kuramochi bertanya.
"Tidak!" Sahut Eijun lantang. "Miyuki hanya bilang kalau kita akan ke Takayama!"
"Sawamura," Miyuki menegur dengan menghela napas pendek. "Semua orang tahu kalau Takayama adalah salah satu gerbang menuju Shirakawa-go, kau tidak bisa mempresdiksi itu?"
Eijun menatap tajam Miyuki dan mulai menggeram, tapi Sachiko dengan cepat membaca suasana dan mengambil gerakan pencegahan dengan maju ke arah Eijun lalu mengamit sebelah tangannya. "Oke, kalau begitu kita sebaiknya ke toko souvernir sekarang. Ikuzo!"
…
Kazuya berdiri berdampingan dengan Kuramochi sementara Sawamura dan Sachiko mulai asyik mengangumi segala hal yang ditawarkan di dalam toko. Mereka bahkan terkesima ketika melihat payung tradisional Jepang, pisau, kipas tangan, buku catatan, dan segala hal yang menurut Kazuya terlalu kuno untuk masa kini.
"Apa rencanamu sebenarnya, Miyuki?" Kuramochi setengah berbisik.
Ketika Kazuya balik menatap, sahabatnya itu sedang menatapnya dengan mata menyipit defensif. "Apa maksudmu?"
"Sawamura." Sahut Kuramochi, memberi sepersekian detik untuk melirik pemilik nama itu sebelum kembali menatap Kazuya. "Apa yang kau rencanakan untuknya?"
"Whoa, Mochi… kenapa aku merasa kau mulai overprotektif padanya?"
Kuramochi memberinya tatapan setajam silet. "Kau berubah, Miyuki." Ia menekan kata berubah seakan-akan itu sesuatu yang berbahaya. "Caramu memandangnya, caramu memperlakukannya, caramu tersenyum padanya."
Kazuya menolak mencari tahu mengapa ia bertambah gugup saat Kuramochi memvonisnya dalam setiap kata, tapi ia menyembunyikan kegugupan itu dengan mengistirahatkan sikunya di bahu Kuramochi dan tersenyum culas. "Sebenarnya apa yang mau kau katakan, Kuramochi-kun? Atau haruskah aku yang ganti bertanya, hm?" Kazuya mendekat untuk berbisik. "Bagaimana semalam? Bersenang-senang?"
Ia salah menduga saat mengira Kuramochi akan teralihkan dan merona malu, kenyataannya tatapan Kuramochi kian menajam dan menepis tangan Kazuya dari bahunya lalu bicara dengan lebih serius. "Dengar, Miyuki. Aku ingin kau jujur padaku tentang apa yang kau rencanakan pada anak itu. Jika kau masih menganggapku sebagai temanmu, biarkan aku tahu apa yang kau rencanakan."
Kazuya tahu akan sia-sia jika ia masih berusaha mengelak dari Kuramochi yang sangat bersikeras seperti sekarang. Jadi, ia menyerah, mengela napas panjang dan mendelikkan bahu. "Tidak banyak." Ia menjawab santai. "Aku hanya ingin tahu seberapa jauh hubungan mereka. Lagi pula, aku dan Sawamura sudah membuat keputusan untuk tidak melanjutkan apapun yang berkaitan dengan imprint."
"Mereka?" Kuramochi mengernyit dalam. "Siapa yang kau maksud?"
"Kau akan kaget mendengar ini." Kazuya tersenyum tipis pada Kuramochi lalu berpaling pada Sawamura yang kini membantu Sachiko memilih tas tradisional buatan tangan di salah satu bagian toko. "Aku mendapati fakta bahwa Takigawa Chris Yuu menyimpan ketertarikan istimewa pada Sawamura."
Kuramochi nyaris melongo, dan Kazuya merasakan senyumnya melebar, anehnya berkebalikan dengan denyutan kecil di dadannya.
"Takigawa… Chris…?"
"Yep." Kazuya bersiul. "Dan sejauh ini yang kulihat, Sawamura terlalu polos untuk bisa menangkap sinyalnya. Jadi, kau tahu, aku hanya penasaran soal mereka."
"Tunggu, tunggu." Kuramochi mengangkat tangannya dan membuat gerekan seakan mencoba memberhentikan sesuatu. "Maksudmu Chris dan Sawamura….?"
Kazuya angkat bahu. "Sawamura terlalu clueless, tapi kita tahu seperti apa Chris, suatu hari nanti tidak menutup kemungkinan Sawamura akan sadar dan menyambut positif." Kazuya menekan bibirnya dalam senyuman paksa. "Sawamura juga menghormati dan memuji Chris setinggi langit. Di sisi lain, Chris sudah melepaskan Amanda."
Kuramochi jelas tidak bisa menyembunyikan ekspresi syok di wajahnya. Ia menatap Kazuya terbengong, mata melebar dan tak berkedip. "Maksudmu… kau tidak keberatan?"
Kazuya hampir tertawa. "Kenapa harus keberatan? Itu bukan urusanku. Aku sudah membuat kesepakatan dengan Sawamura. Kami hanya perlu bertahan sampai aku lulus, lalu hidup di jalan masing-masing dan tidak mengusik satu sama lain."
Kuramochi menggelengkan kepala dengan lambat dari satu sisi ke sisi lain tapi matanya tak pernah lepas dari mata Kazuya. "Kau masih menyembunyikan sesuatu."
"Aku sudah menyebutkan semua rencanaku padamu. Tidak ada yang kusembunyikan lagi." Ia tegas membela diri. "Hanya itu rencanaku pada Sawamura Eijun, satu-satunya yang membuatku tertarik padanya adalah hubungannya dengan Chris."
Kuramochi masih menatapnya seakan mencari-cari kebenaran tersembunyi, cukup lama, sampai akhirnya ia membuang napas panjang. "Apa kau tahu ke arah mana sebatang pohon akan jatuh?"
"Apa-apaan pertanyaan itu?"
"Jawab saja, menurutmu ke arah mana sebatang pohon akan jatuh?"
Mata Kazuya berputar malas. "Sesuai hukum gravitasi, pohon akan jatuh ke bawah."
Kuramochi memberinya senyum paling langka. Senyum sendu, bahkan mungkin prihatin.
"Jawabannya adalah ke arah mana pohon itu lebih condong. Hati-hati dengan jalan mana yang lebih kau pilih, Miyuki Kazuya."
Hal terakhir yang menjadi penutup percakapannya dengan Kuramochi kali itu adalah satu baris kalimat lain dari Kuramochi yang berbunyi. "Dan aku melihatmu memotretnya beberapa kali selama kita di sini." Sebelum akhirnya Kuramochi berlalu, menghampiri Sachiko yang memanggilnya untuk mencoba sebuah topi.
…
"Whoa!" Eijun berdecak, tidak mampun menyembunyikan kekagumannya. "Ini boneka sarubobo yang terkenal itu?"
Pelayan toko, seorang wanita berusia akhir tiga puluhan tersenyum lembut padanya. "Ya, benar sekali. Kau berminat?"
Eijun mengangguk antusias. "Mereka kelihatan sangat—"
"Monyet."
Bukan hanya Eijun yang membeku, namun wanita di depannya juga ikut membeku dan menoleh bersamaan ke arah Miyuki yang kini sudah berdiri di sebelahnya. Pemuda itu segera tersenyum simpul pada pelayan toko. "Maksudku bukankah itu arti sarubobo secara harfiah? Saru untuk monyet, dan bobo untuk anak."
Eijun memutar mata. "Kau bisa memakai kata kera, Miyuki Kazuya. Kau menyebut kata monyet dan membuatnya terdengar seperti hinaan!"
Miyuki hanya angkat bahu dengan gaya seakan-aku-peduli.
Wanita itu lalu tertawa lembut, "Secara harfiah artinya memang seperti itu." Ia tersenyum ramah pada Eijun dan Miyuki. "Tapi bentuknya sama sekali tidak mirip kera."
Eijun menangguk sepakat. "Ini sangat unik, terlihat seperti bantal berkepala."
Miyuki mendengus menertawakannya dan Eijun mungkin saja menendang tulang keringnya andai tak sadar mereka sedang di mana.
"Kenapa mereka punya warna yang berbeda-beda?" Tanya Miyuki, ia mulai mengamati boneka-boneka sarubobo yang dipajang di depannya.
"Oh, setiap warna punya arti yang berbeda-beda."
"Benarkah?" Lagi-lagi Eijun menemukan dirinya tertarik.
Wanita itu mengangguk ramah. "Teman kalian tadi membeli yang berwarna merah, artinya keluarga dan pernikahan."
"Teman?" Miyuki mengernyit, lalu melirik ke arah Kuramochi dan Sachiko di sudut lain. "Mereka?"
Wanita itu mengangguk lagi. "Mereka serasi."
"Sachiko-senpai bilang mereka punya rencana untuk segera menikah tak lama setelah lulus kuliah."
"Nah, kerena mereka sudah punya yang merah, kau mungkin bisa memberikan boneka sarubobo hijau atau ungu sebagai hadiah pernikahan mereka kelak."
"Apa artinya itu?"
"Hijau berarti kesehatan dan kedamaian, sementara ungu berarti umur panjang dan sukses."
"Sugoi!" Eijun bertepuk tangan. "Mereka seperti pembawa keberuntungan!"
Miyuki memutar mata, mungkin mulai bosan dengan reaksi bagaimana Eijun terkesima pada penjelasan wanita itu.
"Masyarakat kami memang percaya bahwa boneka sarubobo bisa membawa keberuntungan sesuai dengan warnanya."
"Adakah yang bermakna kekayaan?" Celetuk Miyuki, ada sinar geli dan penasaran di matanya.
Wanita itu tersenyum kepadanya. "Kalau begitu, kau harus memilih sarubobo emas, artinya uang dan sukses dalam finansial."
Mata Miyuki melebar sedikit. "Sungguh seperti itu?"
Wanita itu tertawa lembut. "Kenapa kau kaget? Bukankah kau tadi yang bertanya?"
Miyuki tampak malu, tapi mungkin Eijun hanya berhalusinasi. "Uh, mungkin aku harus memberikannya pada orangtuaku." Ia mengeluarkan dompet dari sakunya dan menarik lembaran uang. "Aku ambil tiga yang emas."
Eijun terbatuk. "Kau benar-benar membeli yang emas? Sampai tiga?"
Miyuki menatapnya seakan itu pertanyaan konyol. "Tentu saja, kenapa tidak? Satu untuk ayahku, satu ibuku, dan satu lagi akan kusimpan untukku."
"Kau benar-benar membosankan."
"Ya, terima kasih."
"Aku tidak memujimu!"
"Masa?"
"Kenapa kau sangat menyebalkan!?"
Perdebatan mereka terhenti lebih cepat kerena wanita itu tertawa. "Kalian benar-benar penuh semangat, ya?"
Eijun merasa wajahnya memerah. "Maaf…" ia menunduk. "Aku tidak bermaksud membuat keributan."
Wanita itu menggeleng dan tak memudarkan senyumnya, "Aku tidak marah." Ia berkata sambil mulai membungkus tiga boneka sarubobo emas untuk Miyuki, lalu menerima uangnya dan menyiapkan kembalian. "Jadi, ada yang membuatmu tertarik?"
Eijun berkedip lalu menatap deretan boneka sarubobo di depannya. Miyuki sudah membeli tiga dengan warna yang sama, ia juga merasa harus mengirim oleh-oleh untuk keluarganya di Nagano, dan mungkin beberapa teman kuliahnya. "Aku ingin satu yang merah untuk orangtuaku, ungu untuk kakekku, dan…" Eijun memandangi dua boneka berwarna lain yang belum ia mengerti maknanya, dan wanita itu seakan maklum.
"Biru berarti pekerjaan atau sekolah, sementara hitam berarti perlindungan dari iblis jahat."
"Oh!" Eijun berseru. "Kalau begitu aku akan ambil tiga yang biru dan…" Ia melirik Miyuki dengan bimbang. "Perlukah aku beli yang hitam juga?"
"OI!" Miyuki menyentil dahinya. "Kenapa kau menatapku saat memilih sesuatu yang menangkal iblis jahat?"
"Kenapa kau tersinggung? Aku sama sekali tidak mengatakan kau mirip iblis!"
"Tatapanmu bilang begitu, Ba-ka-mu-ra."
"Jangan panggil Bakamura!"
Miyuki memutar mata. "Jadi kau mau beli atau tidak? Berhentilah membuat orang lain menunggu."
Eijun tersadar cepat dan buru-buru mengulum senyum maaf kepada wanita di depannya. "Maaf, kalau begitu aku ambil satu yang merah, satu ungu, dan ti—" Eijun menggeleng pada dirinya sendiri. "Aku akan ambil empat yang biru, terima kasih."
"Hai." Wanita itu menjawab dengan ceria dan mulai mengemas permintaan Eijun sementara Eijun mengeluarkan lembaran uang dari dompetnya. Sedetik kemudian ia tersadar akan sesuatu dan segera menatap Miyuki sambil berbisik. "Haruskah aku beli untuk Kuramochi-senpai dan Sachiko-senpai juga sebagai hadiah pernikahan?"
Miyuki memandanginya dengan tatapan mencela. "Mereka baru akan menikah sekurang-kurangnya dua tahun kedepan, Sawamura. Kalau kau beli sekarang, boneka itu hanya akan jadi sarang debu."
Eijun mendengus gusar meski Miyuki memang ada benarnya. Ia lalu menerima kantung belanjaannya dan menyerahkan uang kepada pelayan yang masih tersenyum pada mereka. "Baiklah, ini kembalianmu. Terima kasih sudah berbelanja. Semoga hari kalian menyenangkan."
"Terima kasih!" Seru Eijun lantang dan ceria, tersenyum lebar dan membungkuk hormat. "Aku pasti akan datang lagi bersama keluargaku!"
Miyuki hanya menghela napas, memegangi sebelah telinganya seakan terserang tantrum. "Kalau kau sudah selesai, bisa kita pergi sekarang?"
"Cih." Eijun mencebik pada Miyuki, lalu kembali tersenyum pada wanita itu. "Sampai jumpa lagi."
"Ah, tunggu sebentar!" wanita itu tiba-tiba berseru ketika Eijun dan Miyuki beranjak pergi. Ia membungkuk ke bawah meja dan merogoh sesuatu lalu kembali berdiri dan tersenyum sumeringah sambil menyodorkan dua sarubobo kepada Eijun dan Miyuki. "Aku akan memberikan ini pada kalian sebagai hadiah, tolong diterima."
Eijun dan Miyuki saling lirik, tetapi wanita itu tersenyum hangat dan mengangguk lugas sebagai bentuk meyakinkan. Pada akhirnya baik ia dan Miyuki sama-sama mengambil satu boneka.
"Kenapa warnanya…"
"Aku tidak memajangnya karena hanya tersisa dua. Boneka yang lain dengan warna itu masih dalam proses pembuatan, aku bermaksud memajangnya jika boneka yang lain sudah selesai. Tapi kurasa, kalian berhak memilikinya." Ia tersenyum lebar saat menjelaskan.
Eijun memandangi boneka itu dengan alis berkerut. "Merah muda," Ia bergumam. "Artinya apa?"
Wanita itu menjawabnya dengan senyuman lembut nan hangat juga kedipan mata yang lucu. "Kalian bisa cari tahu sendiri. Nah, terima kasih atas kunjungannya!"
Andai saat itu Eijun sadar lebih cepat bahwa merah muda berarti cinta.
…
Kuil Sannogu Hie terlihat nyaris sama persis dengan yang Eijun saksikan dalam anime karya Makoto Shinkai beberapa tahun yang lalu itu. Bahkan gerbang berpilar merah atau yang disebut dengan gerbang torii itu juga terlihat sama. Beruntungnya lagi, karena mereka datang di bulan April yang merupakan musim semi, mereka bisa menikmati festival yang dilakukan di sana. Salah satu festival terbesar dan paling menakjubkan yang sejauh ini pernah Eijun kunjungi.
Eijun menahan napas ketika mengarahkan kamera ponselnya ke arah arak-arakan festival. "Rasanya aku seperti masuk ke dunia anime…!" Ia mendesah, terkagum, berdecak dan membuang napas yang nyaris mendekati rengekan akibat terlalu senang. "Ini sangat indah…"
"Kalau memang kau ada di dunia anime, maka kau beruntung bisa datang ke sini bersama first men lead-nya." Miyuki berkata di sebelahnya, tersenyum miring dan baru saja memasukkan kembali ponselnya. "Aku." Ia menepuk dada bidangnya dengan bangga. "Kau sendiri yang bilang aku mirip seperti pemeran utama pria dalam cerita-cerita shoujo manga atau anime, kan? Pemuda tampan dan kaya raya yang berkepribadian dingin." Ia mengatakan itu seperti berpuisi, mengerning dengan begitu culas dan penuh nada mengejek. "Hanya saja, hatiku tidak rapuh."
"Kalau kau memang first men lead dalam shoujo manga, aku lebih memilih yang memanangkan hati heroine pada akhir ceritanya adalah si second men lead."
Miyuki tersenyum tengil. "Kau melukai hatiku, Sawamura." Ia berkata sambil memegang dadanya dengan ekspresi pura-pura terluka. "Tapi kalau kau memang menganggap aku mirip pemeran utama pria dalam shoujo manga, maka kurasa kau adalah pemeran utama pria dalam shonen manga."
"Hah? Kenapa?"
Senyum Miyuki menjadi lebih tengil. "Bukankah serasi dengan kepribadianmu? Kebanyakan shonen manga punya tokoh utama yang bodoh, hiperaktif, berisik, impulsif, dan keras kepala kan?"
Sebelum Eijun bahkan memproses ejekan itu Miyuki berkata lagi. "Mari ambil contoh, Uzumaki Naruto, Monkey D. Luffy, Natsu Dragneel, Goku, dan masih banyak lagi. See? Kau cocok dengan mereka, Sawamura-kun. Sementara seperti yang kau bilang, aku cocok dengan karakter utama pria yang tampan nan populer dalam shoujo manga."
Eijun menggeram dan memutar mata muak. "Kau tahu? Aku mulai berpikir kau mungkin reinkarnasi dari Narcisius!" Eijun berkata lantang dan mematikan kamera ponselnya untuk menatap Miyuki dengan gaya bertolak pinggang. "Pada akhirnya Narcisius akan mati kesepian karena tidak bisa mencintai siapapun melebihi cinta kepada dirinya sendiri!"
Satu alis Miyuki terangkat, gestur yang tampak keren sekaligus juga menjengkelkan. "Tapi ada Echo yang selalu mencintai Narcisius, kan?"
Eijun berdecak. "Echo, si peri bodoh yang dibutakan oleh cinta. Pada akhirnya mereka tetap tidak bersatu."
Miyuki tersenyum usil. "Jadi, kau sekarang ada di dunia anime atau di mitologi Yunani, Sawamura?"
"Kuso Megane!"
"Oi, sopanlah sedikit, aku masih senpai-mu."
Eijun mendengus gusar. "Aku tidak peduli." Ia berkata lalu mundur perlahan saat makin banyak kerumunan orang di sekitar mereka. Kuramochi dan Sachiko telah menghilang seperti biasa, mungkin sedang memadu kasih di suatu tempat atau semacamnya. Dan Eijun lagi-lagi harus pasrah saat hanya terjebak bersama Miyuki Kazuya dan mulut bangsatnya.
"Sepertinya akan butuh usaha untuk sampai ke kuil." Miyuki bergumam di sebelahnya, tampak sedikit berjinjit untuk melihat menembus kerumunan orang.
Eijun segera mengalihkan tatapannya ke jalan masuk kuil yang berada beberapa meter di depan mereka. Festival Sanno diadakan di depan Kuil Sannogu, dan Miyuki mungkin benar kalau mereka ingin masuk ke kuil akan butuh usaha untuk berjalan di antara kerumunan atau mengantri jika ingin berdoa.
"Aku tetap ingin ke sana, tapi kau bisa tunggu di sini jika tidak ingin masuk." Kata Eijun akhirnya. "Atau, terserah kau mau ke mana. Kita bertemu saja di titik ini nanti."
Lagi-lagi Miyuki mengangkat sebelah alisnya dengan keren dan menjengkelkan. "Kau tahu aku bisa dituntut dengan tuduhan menelantarkan anak di bawah umur, kan? Jadi aku akan tetap ikut denganmu."
Sebelum Eijun bahkan menyadari bahwa Miyuki sedang menghinanya, pemuda itu sudah lebih dulu berjalan ke arah kuil dan membiarkan Eijun mengikutinya dari belakang sambil menyemburkan kata-kata yang akan membuat ibunya marah jika mendengar.
"Omomg-omong soal Kimi no Nawa," Miyuki tiba-tiba berkata saat Eijun berhasil menyamai langkahnya. "Danau Itomori yang ada dalam film itu sejatinya Danau Suwa, kan?"
"Yap!" Sahut Eijun seketika, kekesalannya lenyap entah ke mana saat Miyuki membahas anime. "Aku pernah ke sana beberapa kali, tempatnya jauh lebih indah dari yang kau lihat dalam film!"
"Hee, jelas kau pernah ke sana." Miyuki menyeringai. "Danau Suwa terletak di Prefektur Nagano, tempat asalmu."
"Apa itu lelucon barumu?"
"Bukan begitu." Ia menyangkal. "Tadinya kami berniat menemuimu langsung di Nagano karena ingin mampir juga ke Danau Suwa. Tetapi tidak jadi karena Kuramochi dan Sachiko sudah punya rencana liburan hanya berdua ke Danau Suwa untuk musim panas nanti."
"Kau sendiri sudah pernah ke sana?"
Miyuki menarik lengan Eijun karena hampir menabrak seseorang pria lokal yang membawa seloyang buah-buahan di tangannya, lalu segera melepaskannya sebelum Eijun sempat berkomentar. "Kalau aku tidak salah ingat, sepertinya pernah. Dulu sekali, mungkin aku masih tujuh atau delapan tahun."
Mereka melesat lincah melewati kerumunan dan akhirnya berhasil sampai di antrian menuju kuil. "Rasanya aku juga pernah berkunjung di umur segitu." Eijun mencoba mengingat. "Apa aku juga datang bersama salah satu temanku?" Ia bernomolog, mencoba mempertajam bayang-bayang kabur dalam memorinya. "Rasanya aku mengobrol dengan seorang anak juga saat itu, tapi mungkin dia sepupuku."
"Aku tidak terlalu antusias saat itu." Miyuki kembali bercerita, yang membuat Eijun menjadi sedikit heran karena biasanya orang ini susah bicara normal. "Aku datang ke sana untuk liburan, tapi sayangnya kondisiku sedang cedera."
"Hee? Benarkah?"
"Yep." Miyuki menjawab ringkas. "Tahun awal aku belajar baseball, aku cedera tepat sebelum pertandingan musim panas pertamaku. Menjengkelkan, bukan?"
Eijun mencoba membayangkannya. Miyuki Kazuya kecil dengan lengan dibebat akibat cedera, berwajah cemberut dan berada di tengah-tengah tempat terindah di Nagano. Merajuk pada ayah dan ibunya kerena ia tidak mau tersenyum ketika difoto.
"Kau harus ke sana lagi kalau begitu." Eijun memutuskan. "Danau Suwa benar-benar indah, kau tidak akan menyesal."
"Wah, apa aku barusaja dibujuk oleh Duta Pariwisata Nagano?"
"Terserah! Aku hanya berusaha memberi saran tapi kau sangat menyebalkan!"
Miyuki tertawa dan mengangkat tangannya. "Oke, oke, tenangkan dirimu. Aku hanya bercanda."
Eijun membuang muka dengan angkuh dan memutuskan untuk membangun blokade dari Miyuki agar tidak terus-menerus terpancing cara bicaranya yang menyebalkan. Tapi sialnya Miyuki tampak tidak sepakat dengan ide itu, dua menit kemudian Miyuki kembali mengajaknya bicara.
"Aku sendiri jarang berdoa di kuil seperti ini, apa yang sebaiknya kita minta?"
"Itu urusan masing-masing." Eijun menjawab logikal. "Kau boleh mendoakan apapun selama itu baik."
Miyuki menatapnya dengan alis terangkat atraktif. "Apa yang biasanya kau minta?"
"Tsk, kenapa juga aku harus memberitahumu? Kau mau menjadikannya bahan ejekan lagi, kan?"
"Kau ini, hargailah niat baik seseorang. Aku hanya ingin tahu, sebagai referensi."
Eijun membiarkan dirinya diam dan berpikir sekurang-kurangnya satu menit sebelum mendelikkan bahu dan melangkah maju, dua antrian lagi menuju kuil. "Aku lebih suka mendoakan orang-orang terdekatku, keluargaku misalnya." Ia menjawab, membiarkan senyuman mekar di bibirnya. "Katanya, orang-orang yang menyanyangi kita akan selalu mendoakan kebaikan kita. Maka satu-satunya hal yang bisa kita lakukan untuk mereka adalah mendoakan kebaikan juga bagi mereka. Adil, kan?"
"Mengejutkan, kupikir kau tipe anak egois yang akan berdoa demi kepentinganmu sendiri."
Eijun menolak mengakui bahwa kini wajahnya memanas. "Aku juga pernah begitu." Ia bergumam kecil. "Stamina, kontrol, kecepatan, batting skill, nilai akademik." Ia mengingat-ingat kembali permintaan rakusnya beberapa tahun silam lalu menjadi malu sendiri. "Aish, aku benar-benar serakah!"
Hal terakhir yang terjadi sebelum mereka mencapai kuil adalah suara tawa Miyuki yang kembali menggodanya dalam nada menjengkelkan.
…
"Kau sudah dengar beritanya?"
"Mm-hmm." Gumam Kazuya sekenanya. "Mengejutkan, ya?"
Kuramochi mengangguk sepakat. "Aku tidak tahu lagi mau mengkategorikannya sebagai berita bagus atau justru bom bunuh diri."
Kazuya terkekeh. "Kau benar, entah pihak mana yang mengusulkan ide itu. Tapi keputusan mereka benar-benar menggemparkan."
Kuramochi kemudian mengendurkan bahunya dan menghela napas panjang. "Aku sangat ingin menontonnya…" Ia berkata, penuh damba. "Tapi aku masih punya agenda bersama Sachiko."
"Aw, kau benar-benar pria idaman, Kuramochi-kun~"
"Tutup mulutmu."
Hari hampir siang, dan saat ini mereka sudah berada di Stasiun Toyama, menunggu kereta untuk kembali ke Tokyo setelah menghabiskan dua hari dua malam di Gifu, atau setidaknya untuk Kazuya dan Sawamura. Sementara Kuramochi dan Sachiko masih punya satu perjalanan lain yang akan ditempuh berdua.
"Kau mau menonton?" Tanya Kuramochi lagi, terdengar berusaha basa-basi tapi Kazuya menyadari nada dan raut mendesak dalam ekspresinya.
"Entahlah." Kazuya mendelikkan bahu. "Akan ada banyak orang yang kita kenal datang hari itu, dan aku terlalu malas menanggapi pertanyaan mereka."
"Kalau begitu kau mungkin perlu menyamar, wajahnya cukup cantik untuk memakai pakaian wanita." Kuramochi memberinya seringai mengejek. "Bagaimana, Miyu-chan?"
Kazuya memutar mata menanggapi candaan konyol Kuramochi. Suara speaker memberi tahu bahwa keretanya akan segera masuk di peron dua jadi ia lebih memilih untuk berdiri dan melongok ke sisi lain untuk melihat Sawamura yang rupanya masih asyik mengobrol dengan Sachiko. Kazuya menyeringai, ganti memandang Kuramochi. "Kau tidak cemburu, Kuramochi? Sawamura mungkin bisa merebut belahan jiwamu."
Kuramochi justru tersenyum miring, tampak sama sekali tak terganggu. "Suatu hari nanti aku akan memberimu pertanyaan yang serupa." Ia berkata dan tak lama setelahnya menoleh pada Sachiko dan Sawamura yang berjalan mendekat ke arah mereka, sepertinya baru saja bertukar ID LINE dan beberapa aplikasi sosial media lain. Sawamura tersenyum lebar dari pipi kanan ke pipi kiri, sedang Sachiko tampaknya sudah sangat terbiasa dengan keberadaan bocah itu.
Kereta mereka tiba tak lama kemudian. Kazuya berpura-pura tidak mengenali dan berjalan lebih dulu ke dalam gerbong saat Sawamura melambai dan berteriak heboh pada Sachiko dan Kuramochi. Anak itu jago sekali menarik banyak perhatian berkat aksi bodoh nan kekanak-kanakannya.
Kabar baiknya, mereka tidak terlalu sering berdebat dalam perjalanan pulang. Barangkali terlalu lelah pasca liburan singkat itu, atau karena Sawamura lebih memilih memainkan game online di ponselnya sementara Kazuya menyumpal lubang telinganya dengan airpods dan memilih membaca karya Mark Manson, The Subtle Art of Not Giving a Fuck.
Satu jam kemudian, Sawamura melepas sebelah airpods dari telinga Kazuya hingga membuat Kazuya terpaksa menoleh padanya.
"Turunkan kakimu sebentar, aku harus ke toilet." Ia berkata, setengah mendesak sambil menunjuk kedua kaki Kazuya yang memang sengaja berselonjor dan menghalangi jalan keluar.
Kazuya menghela napas pendek, menurunkan kakinya dan membiarkan Sawamura lewat. Sebagai balasan atas kebaikannya, Sawamura melempar airpods tepat mengenai tulang hidung Kazuya sebelum tertawa polos dan berlari ke kabin toilet.
Sepuluh menit kemudian Sawamura kembali dengan wajah basah dan poni basah yang tersibak ke belakang, dahinya terbuka tegas, bahkan perubahan kecil seperti itu mampu membuat tampilannya terlihat berbeda. Lebih fresh, lebih seperti remaja alih-alih bocah, dan lebih mengigatkan Kazuya pada sosok pemuda yang diajaknya ke pesta beberapa waktu yang lalu. Pemuda yang malam itu diciumnya sebanyak dua kali.
Kazuya berdeham, menggusir ingatan itu dari kepalanya dan berpura-pura jengkel saat Sawamura bergerak dengan serabutan untuk kembali ke kursinya. Kazuya telah melepaskan airpods dari kedua telinganya, buku Mark Manson tersimpan di pangkuannya dan ia melirik Sawamura yang kini duduk bersandar sambil menatap pemandangan di luar jendela. Kemudian sebuah ide gila melintas di kepala Kazuya.
"Apa rencanamu sebelum perkulihan dimulai?"
Sawamura menoleh, mengerutkan dahi dengan begitu dalam seakan berusah menggali semua urat wajahnya. "Kenapa bertanya?"
"Kenapa kau selalu menjawab pertanyaan dengan pertanyaan?"
Sawamura mendelik sinis sebelum angkat bahu tak acuh. "Biasa saja, tidak ada rencana khusus."
"Kau mau nonton pertandingan baseball?"
Sawamura melebarkan mata, ada kepingan antusiasme memantul di matanya begitu mendengar kata baseball. "Pertandingan apa?"
"Ini masih musim Golden Week. Kau tahu, kan, saat Golden Week biasanya sekolah-sekolah mengadakan sparing atau latih tanding? Lusa nanti, sekolahku akan mengadakan pertandingan yang… rasanya bakal cukup menghebohkan."
"Sekolahmu?"
"Aku alumni Seidou, kalau kau belum tahu."
Sawamura mengeja kata Seidou seakan-akan berusaha mengingat sesuatu, tapi Kazuya tidak heran sekalipun Sawamura tidak mengenal sekolahnya. Sawamura sendiri bilang tidak suka membaca majalah olahraga dan menyaksikan pertandiangan baseball di televisi.
"Jadi kenapa pertandingan sekolahmu menghebohkan?"
Kazuya tersenyum simpul. "Umumnya kita tidak akan menerima pertandingan melawan rival kita di luar pertandingan resmi, karena bisa saja itu menjadi senjata mematikan karena musuh mengobservasi informasi di sinilah kehebohan itu terjadi, Seidou tiba-tiba mengumumkan akan melawan salah satu rival terkuatnya, Inashiro."
Kazuya mencoba mengamati mikro ekspresi di wajah Sawamura tatkala ia menyebutkan nama Inashiro, sekolah yang (menurut data dari Kuramochi) pernah ditolak Sawamura begitu saja beberapa tahun yang lalu. Nyatanya, Sawamura tak menunjukkan reaksi menghebohkan seperti dugaannya, hanya ada gumam singkat seperti oh, sebelum anggukan kecil menyertainya.
"Mereka akan bertanding di mana? Lapangan Seidou atau Inashiro?"
"Seidou." Kazuya menjawab. "Karena aku alumni, aku bisa masuk dan menonton pertandingan lebih dekat." Ia menambahkan sebelum menatap Sawamura dengan alis terangkat. "Jadi, kau mau ikut?"
Sawamura menatapnya beberapa saat seakan berupaya memastikan seberapa dalam kesungguhan Kazuya sebelum akhirnya menghela napas dan berkedik ringan lalu memberi jawaban. "Kedengarannya tidak buruk. Oke, aku ikut."
Dan Kazuya menolak mentah-mentah bahwa hatinya gembira ketika Sawamura menerima ajakannya.
…
Eijun tidak kaget ketika menjumpai fakta bahwa Seidou adalah sekolah swasta elit dengan luas tanah dan bangunan melampaui sekolah biasa pada umumnya. Dirinya dan Miyuki tiba di sana sekitar pukul setengah sembilan pagi, sementara pertandingan dimulai pukul setengah sepuluh. Artinya, mereka punya satu jam untuk melihat-lihat, atau lebih tepatnya Eijun melindungi Miyuki ketika menyusuri sekolah lamanya.
"Halangi aku."
Itu adalah kelima kalinya Miyuki mengatakan hal itu sepanjang pagi ini. Miyuki menurunkan bagian depan topi berlogo Swallows hingga menutupi setengah wajahnya dan bergeser ke sebelah kiri Eijun sambil menunduk seakan berusaha sembunyi.
Eijun memutar mata dan menghela napas bosan. "Kalau kau sebegitu tidak inginnya dikenali dan ditanya, kenapa kau nekat datang ke sini?"
"Sudah kubilang ini pertandingan yang menarik." Miyuki menjawab, setengah berbisik, berjalan tepat di sebelahnya. Berusaha mencari perlindungan seakan Eijun adalah tameng yang dapat menyamarkan keberadaannya. "Kuramochi mendesakku untuk menonton menggantikannya dan menceritakan detail sembilan inning yang akan terjadi."
Eijun menghela napas lagi, secara inisiatif sedikit menyerongkan tubuhnya untuk menghalangi Miyuki ketika melihat beberapa orang mulai memandangi mereka dan menunjuk-nujuk Miyuki dengan penasaran. "Sialan, Miyuki Kazuya." Ia mengumpat kecil, memastikan tidak terlalu lantang menyebut nama Miyuki. "Aku ke sini karena kau ajak nonton baseball, tapi kenapa aku justru kau jadikan bodyguard begini?"
"Sudah pernah kubilang, kan? Aku bintang besar, Sawamura. Maaf saja kalau kepopuleranku mengusikmu."
Eijun mencebik kesal, memilih untuk tidak mendebat lebih jauh. "Jadi kita ke mana sekarang?"
Miyuki mendongak sebentar sebelum menunduk lagi. "Lurus lalu berbelok ke kanan, kita akan lewat bagian asrama sebelum sampai ke lapangan. Aku ingin bertemu dengan pelatih dulu."
Eijun menemukan senyuman di bibir Miyuki ketika mereka melintasi asrama para pemain Seidou. Tak diragukan lagi, Miyuki dulu pasti mendiami salah satu kamar asrama itu selama masa SMA-nya. Mereka berpapasan dengan beberapa pemain berseragam baseball yang kebetulan melintas, ada yang mengenali Miyuki dan menyapanya dengan wajah terkesima, ada pula yang hanya membungkuk kecil sebagai sapaan sopan. Setidaknya di sini, mereka aman dari tatapan penasaran penonton lain yang menatap Miyuki seakan ingin merobek kulit kepala dan mengintip otaknya untuk mencari alasan Kenapa-Miyuki-Kazuya-Meninggalkan-Dunia-Baseball?
"Coach."
Sapa Miyuki ringkas ketika mereka akhirnya bertemu dengan seorang pria bertubuh tinggi tegap dengan kacamata hitam bertengger di tulang hidungnya. Perawakan dan ekspresi wajah laki-laki itu mengingatkan Eijun pada robot terminator yang diperankan Arnold Schwarzenegger.
"Miyuki?" Arnold Schwarsenegger versi Jepang itu menyahut dengan nada sedikit terkejut sebelum bibirnya melengkung menjadi senyuman tipis khas guru. "Akhirnya kau muncul di sini lagi."
Miyuki tersenyum sopan, membungkuk kecil dengan hormat sebelum kembali berdiri tegak dan maju lebih dekat dengan mantan pelatihnya. "Berita yang sangat mengejutkan, mendengar anda menerima tawaran untuk bertanding dengan Inashiro di luar turnamen resmi."
Pelatih itu tersenyum ringkas. "Kami sudah mengantisipasinya. Pertandingan ini sebenarnya lebih ke arah memotivasi para pemain, kami akan tetap menyimpan informasi berharga dan menjaganya agar tidak bocor ke pihak lawan."
Kazuya tersenyum miring, mereka berdiri tepat di luar lapangan yang nantinya akan dipakai bertanding. Tanah sedang dirakatan, gundukan diukur, garis putih diperbaiki, sementara puluhan siswa berseragam baseball Seidou sebagian sedang bersiap-siap dan melakukan latihan ringan, sebagian lain mulai menyadari keberadaan Miyuki Kazuya dan memandanginya dengan tatapan penasaran bercampur ragu-ragu. Eijun mengernyit, melirik Miyuki heran, Si Bangsat ini, seberapa hebat dia dulu?
Miyuki sendiri masih asyik mengobrol dengan mantan pelatihnya, membahas hal-hal yang berkaitan dengan baseball, dan sama sekali tidak menyingung masalah pensiunnya Miyuki dari olahraga itu. Eijun memilih mengamati sekitar, memperhatikan seragam baseball Seidou yang berwarna dasar putih dengan kaus dalam ketat biru tua dan kanji Seidou di dada kanannya, dilengkapi dengan topi biru tua yang senada dengan bordiran S tegas di bagian depan.
Tanpa sadar Eijun tersenyum saat melihat lapangan yang telah siap pakai. Sebongkah berlian dengan segala kemewahan itu terbentang di hadapannya—tanah infield yang gelap dan lembut, base-base yang tak bernoda, garis-garis putih yang lurus dan rumput yang terpangkas rapi di lapangan luar. Yang lebih menarik perhatiannya adalah gundukan mound yang begitu sempurna dengan plate yang masih bersih. Eijun merindukan sensasi ketika ia berdiri di posisi itu, menjadi pitcher starter pada pertandingan baseball.
"Kau sepertinya membawa seseorang?"
Eijun menoleh ketika mendengar pertanyaan itu, pelatih Seidou jelas sedang meliriknya lalu menatap Miyuki dengan kerutan bertanya. Eijun bertukar tatapan dengan Miyuki singkat. Jangan singgung soal soulmate! Ia berharap Miyuki bisa membaca isyarat matanya, tapi Miyuki hanya mengernyit samar dan mendelikkan bahu tak acuh. "Dia ini—"
"Sawamura Eijun?"
Ketiganya menoleh. Seorang wanita berpakaian kantoran dengan lensa kacamata oval muncul dari belakang pelatih. Ia menatap Eijun dengan mata menyelidik dan kerutan menerka-nerka tak percaya. Anehnya, Eijun sama sekali tidak mengenalnya. Tapi kenapa wanita itu bisa menyebut nama lengkapnya?
"Kau benar Sawamura Eijun?" Wanita itu mendadak berbinar, suaranya menjadi lebih kaget dan ia maju mendekat.
Eijun berdeham, melirik Miyuki yang terlihat sama bingungnya lalu kembali menatap wanita di depannya. "I…ya?" Ia menyahut keki. "Apa kita saling kenal?"
Wanita itu kini tersenyum padanya, begitu lebar hingga nyaris seperti garis tawa. "Namaku Takashima Rei, dan kau dulu adalah salah satu targetku, Sawamura-kun."
Eijun tersedak. Target?
"Sawamura Eijun, lulusan SMP Akagi, Prefektur Nagano. Kau mematahkan hatiku saat aku tahu bahwa Inashiro telah merekrutmu sebagai salah satu anggota mereka."
Sekarang Eijun merinding, ia menelan ludah dengan gugup. Mau tak mau menjadi resah karena merasa data dirinya dibocorkan oleh orang tak dikenal.
"Rei-chan," Miyuki berkata. "Kau membuatnya takut."
Eijun melebarkan mata ke arah Miyuki, "AKU TIDAK—" Protesnya mati di ujung lidah, Eijun mengatupkan rahangnya kaku, mengigit bibir dan keki begitu menyadari bahwa tanpa sadar ia mungkin telah merapat pada Miyuki Kazuya dan meremas lengannya seperti anak kecil yang mencari perlindungan. Eijun membuang napas, berusaha rileks dan mengambil spasi dari Miyuki lalu memberanikan diri menatap Takashima. "Umm… sebenarnya aku agak bingung, kenapa Takashima-san bisa mengenalku?"
Mata Takashima justru berbinar-binar. "Kau datang dengan Miyuki-kun?"
"Sawamura adalah adik tingkatku di Meiji." Miyuki menjelaskan singkat, tapi alisnya jelas berkerut. "Kenapa Rei-chan bisa mengenalnya?"
"Meiji?" Takashima berkedip, menatap bergantian pada Eijun dan Miyuki dengan tatapan tak percaya sebelum akhirnya tertawa geli. "Benar-benar takdir yang aneh."
Pelatih-terminator memilih waktu yang tepat untuk mengambil alih dengan dehaman tegasnya. "Apa aku satu-satunya orang yang kebingungan di sini?"
Dan begitulah pada akhirnya Eijun mengerti bahwa lima tahun yang lalu Takashima Rei pernah datang ke pertandingan terakhirnya saat SMP sebagai pencari bakat dari Seidou. Takashima manaruh minat padanya, namun saat itu mendapat informasi bahwa Eijun sudah ditarik ke Inashiro yang merupakan salah satu rival terkuat Seidou.
Faktanya, Eijun memang mendapat tawaran dari Inashiro saat itu. Ia bahkan datang ke sekolah itu dan melihat bagaimana permainan baseball mereka selama beberapa jam. Tetapi bahkan hal seperti itu tidak mampu meruntuhkan tekadnya untuk bergabung dengan Inashioro. Dan mengetahui fakta itu membuat Takashima tersenyum gemas padanya, dibalut penyesalan samar-samar bahwa seandainya saat itu ia tidak menyerah dan tetap merekrut Eijun masuk ke Seidou, kenyataannya mungkin akan berbeda.
Mereka terlibat obrolan singkat sebelum akhirnya pertandingan dimulai. Eijun memisahkan diri bersama Miyuki untuk menonton pertandingan dari sudut yang lebih strategis dan cukup aman dari sorotan penonton lain yang terobsesi pada Miyuki Kazuya.
Pertandingan itu sendiri tidak buruk, atau kalau Eijun memang harus mengakui, itu pertandingan yang luar biasa. Cukup untuk membuatnya ingin berlari ke lapangan dan ikut bermain bersama para remaja SMA itu, berdiri di gundukan dan melemparkan kombinasi nomornya untuk mengalahkan para pemukul.
Miyuki sepertinya memahami bentuk keresahan itu, pamuda itu mengambil waktu sebanyak-banyaknya untuk menggodanya dengan kalimat-kalimat sejenis; Kenapa kau tidak bisa diam, Sawamura?; Jadi menonton baseball itu tidak seru, hm?; Oh, aku sepertinya mengenal seseorang yang dengan sombongnya menolak Inashiro tapi hari ini justru nyaris pingsan karena mengaguminya. Tetapi salah satu yang mengusiknya adalah ketika Miyuki memudarkan nada mengejeknya dan dengan suara lebih serius berkata.
"Menurutmu apa yang terjadi jika dulu kau menerima tawaran Inashiro dan kita bertemu lebih awal sebagai dua tim yang saling berhadapan?"
Eijun berupaya menampilkan seringai sejahat mungkin di wajahnya. "Kalau begitu aku pasti akan mengalahkanmu tanpa ampun. Membuatmu terkena strike out sampai kau tidak bisa lagi memegang pemukul dengan benar."
Miyuki menyeringai. "Kata-kata yang sombong… tapi barangkali aku yang akan memukul homerun pada semua lemparanmu sampai kau tidak bisa lagi memegang bola dengan benar."
Eijun memutar mata. "Kesimpulannya kita cuma akan membenci lebih awal, kan?"
"Heh~ Lantas bagaimana kalau Rei-chan berhasil membawamu ke Seidou dan kita tergabung dalam tim yang sama?"
Momentum ketertarikan Eijun pada pertandingan di lapangan seketika terhenti. Eijun menoleh pada Miyuki, mengukur seberapa serius pertanyaannya barusan. Miyuki balik menatapnya, matanya tidak menampilkan emosi yang kuat, tapi bahkan Eijun bisa menyadari bahwa pertanyaan sebelumnya bukanlah asal bicara saja.
"Umm…" Eijun bergumam, otaknya mulai mereka-reka adegan yang tak pernah ada. Dirinya lima tahun yang lalu, berdiri di lapangan Seidou dan mengenakan seragam baseball. Menjadi salah satu pitcher Seidou dengan Miyuki Kazuya sebagai kakak kelas sekaligus catcher yang menangkap lemparannya. "Mungkin kita bisa jadi battery?"
Miyuki menempatkan beberapa detik untuk memandanginya dengan alis terangkat dan senyuman miring. "Yeah," ia berkata ringkas, kembali memandang ke lapangan. "Meski aku tidak terlalu suka pitcher berisik sepertimu."
"Dan aku tidak suka dengan catcher berkepribadian menyebalkan sepertimu!"
Miyuki terkekeh. "Well, tapi mungkin kita bisa jadi pasangan battery yang hebat."
"Eh?"
"Jangan besar kepala, tapi kalau boleh jujur, aku suka lemparanmu. Meski kebanyakan begitu liar dan perlu improvisasi, tapi breaking ball yang kau punya lumayan bagus. Jika ketajamannya bisa ditambah sedikit lagi, itu pasti akan jadi lemparan yang sangat mematikan."
Eijun nyaris terpana mendengarnya. Ia memang beberapa kali melempar kepada Miyuki, mereka beberapa kali sengaja mengambil waktu untuk catch ball meski hanya menghadapi sembarang batter yang mereka temui di batting center. Ia tidak pernah menduga bahwa selama ini Miyuki juga mengobservasi lemparannya.
"Dan gerakan tangan kananmu," Miyuki berkata lagi, kali ini bahkan memandang tepat ke matanya bersama seulas senyuman simpul. "Kau membuat blokade dengan tangan kananmu. Menciptakan semacam dinding yang menghalangi pandangan batter dari gerakan tangan kirimu ketika melempar, itu gerakan kecil yang cukup mengecoh para pemukul. Kau punya potensi, Sawamura. Banyak potensi. Setiap kali aku menangkap untukmu, aku merasa semakin rakus untuk menggali seberapa jauh kau bisa berkembang seandainya tetap berada di jalan baseball."
Eijun yakin ia pasti melongo dan memasang wajah bodoh karena Miyuki tertawa geli memandanginya. "Yah, yah," Miyuki berkata di sela-sela tawa menggelitik, mengusap setitik air mata geli di sudut matanya. "Aku memujimu, kau senang?"
"Geh!" Eijun menghembuskan napas kasar, dan mulai mengulung bibirnya dalam gerakan kesal bercampur gemas, frustasi, kegembiraan dan rasa malu. "Kau cuma membual!"
"Aku serius." Miyuki berhenti tertawa. "Andai kita punya pemukul yang cukup tangguh, mungkin kita bisa membuktikan seberapa efektif lemparanmu."
Eijun menggertakkan gigi. "Kalau kau bicara begitu aku jadi semakin ingin main baseball sekarang, Miyuki Kazuya!"
Miyuki menyeringai padanya, culas, menantang, matanya mengerling persulasif seolah menariknya dalam arena perjudian berbahaya. "Mau mencoba?" Bahkan suaranya terdengar begitu persulasif. "Selesai menonton pertandingan, bagaimana kalau kita memberi sedikit pelajaran pada para kouhai-ku di Seidou? Aku yakin pelatih tidak akan keberatan."
to be countinued
a/n: setelah selesai mengetik chapter ini, saya baru inget kalau Inashiro, Seidou dan Shosuku pernah tanding di liga kecil, alias pernah ketemu sebelum summer tournament :) Yasudahlah ya~ Mana di chapter ini banyak banget disclaimer pula/ngesot.
Chapter depan saya SERIUS akan melibatkan Chris lebih banyak sebagai bentuk permohonan maaf karena di dua chapter ini doi terkesan kayak Avatar Roku yang tiba-tiba menghilang :')
Terima kasih untuk kalian yang masih terus membaca sampai saat ini, untuk yang meninghalkan jejak, menekan favorite maupun follow *send virtual hugs* balasan review akan saya lampirkan di a/n chapter depan. Sampai ketemu lagi, bersama our Half-blood Prince a.k.a Chris tentunya ^_~
