Latih tanding antara Seidou dan Inashiro berakhir seri dengan skor 2-2 dan Kazuya pikir, ia mungkin sudah menyelam sedikit terlalu jauh saat mencoba memancing insting baseball Sawamura. Pasalnya begitu pertandingan usai dan kedua tim berbaris untuk memberi hormat, Sawamura melompat seperti anak anjing hiperaktif dan mendesaknya untuk main.

"Cepat temui pelatihmu! Aku benar-benar ingin melempar sekarang!"

Pelatih Kataoka menyetujui permintaannya, di sisi lain, Rei memandang ke arahnya dengan senyuman asing yang membuat Kazuya sedikit resah. Mereka tidak menghadapi tim lapis pertama Seidou karena anak-anak itu masih perlu istirahat pasca pertandingan melawan Inashiro. Sebaliknya, mereka hanya diminta melakukan beberapa pitch melawan barisan pemukul dari tim lapis kedua.

"Kau cocok dengan seragam itu." Kazuya berkomentar begitu lemparan Sawamura menghantam mitt-nya. Mereka masih melakukan pemanasan di bullpen, sementara pelatih sedang mengumumkan siapa saja pemain yang diberi kesempatan untuk menghadapi dua anak kuliahan yang tiba-tiba demam baseball.

"Ck, berhentilah menggodaku!"

Kazuya tertawa samar dibalik pelindung wajahnya dan melempar kembali bola kepada Sawamura. "Aku berkata jujur." Ia mengaku, menatap figur Sawamura dengan seragam baseball Seidou yang tampak serasi di tubuhnya. Siapa sangka Rei ternyata punya selera humor tinggi sampai memberikan Sawamura topi Seidou resmi? "Kau mungkin sebaiknya keluar dari Meiji dan mendaftarkan diri sebagai murid SMA lagi di Seidou."

Sawamura melempar bola dengan kuat, menghantam tepat ke tangah-tengah mitt Kazuya. "Kau juga masih terlihat bagus dengan seragam itu!" Ia berteriak tak mau kalah, dan Kazuya menganggapinya dengan cengiran geli. Yeah, siapa sangka? Setelah bertahun-tahun ia kembali memakai seragam Seidou sambil membantu seorang pitcher berisik pemanasan disamping adu mulut dengannya.

"Well, thanks!" Kazuya menjawab disertai canda. Ia melirik ke arah pelatih, berbagi tatapan dan anggukan kecil bermakna segalanya telah siap. Seringai kemudian merobek wajahnya, andrenalin berpacu menggebur jantungnya begitu teriakan pertama melejit dan para pemain berlari ke arah pelatih. Kazuya kembali berpaling pada Sawamura, menyaksikan tatapan lapar di kedua bola mata emasnya. Seringai Kazuya melebar, ia berjalan ke arah Sawamura dan mengambil tindakan berani dengan mengalungkan sebelah lengannya mengelilingi bahu pemuda itu. Menarik kepalanya mendekat dan berbagi seringai jahat padanya. "Siap untuk menghancurkan anak-anak itu, Partner?"

Sawamura balas menyeringai dan mereka berlari ke arah para pemain yang berkumpul. Melempar senyuman ramah saat pelatih memperenalkan mereka kepada para pemain dan menjelaskan secara singkat bahwa Miyuki Kazuya dan Sawamura Eijun adalah tamu yang akan menghadapi beberapa pemain Seidou untuk melatih kemampuan memukul.

Saat akhirnya Sawamura berdiri di atas mound, membungkuk, memandang ke arahnya, mengamati kode yang dibuat dengan jari-jarinya—bagaimana sepasang mata emas itu berkilau dalam ekspresi kekanakan sekaligus berbahaya di bawah bayang-bayang topi Seidou. Anggukannya, seringai penuh percaya dirinya, juga tarikan lentur di kedua bahunya ketika bersiap melempar… di detik itulah Kazuya menyadari bahwa ia benar-benar sudah menyelam terlalu jauh dan berisiko terbawa arus deras Sawamura.

"Kau punya bakat. Lima tahun lalu aku pasti senang menerimamu sebagai muridku."

Eijun tersenyum salah tingkah, mengusap belakang kepalanya sedikit grogi namun tetap berpijak pada kedua kakinya dan memandang kedua mata Pelatih Kataoka. "Terima kasih." Ia membalas pujian itu dengan cengiran lebar. "Anak-anak didik anda juga pemain yang hebat. Mereka batter yang tangguh meski bukan tim utama."

Pada akhirnya battery dadakan yang ia bangun berdua dengan Miyuki menghadapi dua belas pemukul lapis kedua secara bergantian.

"Mereka mendapatkan pelajaran yang berharga hari ini." Pelatih berkata. "Apa yang kau dan Miyuki lakukan hari ini bisa menjadi salah satu motivasi kuat agar mereka maju."

Bibir Miyuki menukik simpul. "Aku pribadi juga sangat menikmatinya. Meski aku bukan lagi pemain baseball aktif, tapi sangat menyenangkan rasanya bisa kembali ke home plate dan menghadapi batters yang kuat."

"Ya," Takashima ikut menyahut, "Setelah sekian tahun, akhirnya kau kembali ke sekolah ini dan masuk lapangan lagi."

Miyuki menanggapi kalimat itu dengan seringai geli, tapi Eijun sekalipun paham makna ganda yang terselip di balik kata-kata Takashima.

"Kami akan senang kalau kalian mau mampir lagi." Pelatih Kataoka berkata, menatap bergantian pada Eijun dan Miyuki. "Kami sama sekali tidak punya pitcher kidal dalam beberapa tahun terakhir. Kehadiran Sawamura sangat membantu melatih kemampuan tim menghadapi pitcher kidal. Tapi tentu saja kalau kalian tidak keberatan, kami tidak akan memaksa."

Eijun menjilat bibir bawahnya singkat, berupaya tidak terlihat terlalu antusias. "Mm… kalau jadwal kuliahku tidak padat, mungkin aku bisa main sesekali. Tapi aku tidak berani janji banyak."

"Tidak masalah." Takashima menjawab. "Kebanyakan alumni yang kami punya jarang sekali bisa mampir setelah kelulusan, mereka biasanya langsung masuk tim universitas maupun ditarik liga. Jadi mendapati Miyuki-kun bersedia datang kemari, terlebih lagi bersama seorang pitcher sepertimu, itu seperti keajaiban."

Eijun terlalu keki untuk bisa merespon kata-kata itu, untungnya Miyuki mengambil alih dan menyelamatkannya dari gelembung kecanggungan dengan bicara lebih dulu. "Kalau begitu, kami permisi pamit."

Eijun membaca situasi dan membungkuk hormat pada dua orang dewasa di depannya. "Terima kasih untuk hari ini." Ia kembali menegankkan badan dan tanpa sadar mengepalkan kedua tangan erat-erat di masing-masing sisi tubuhnya. "Aku sangat menikmatinya. Sekolah kalian punya pemain yang hebat, semoga berhasil sampai ke Koushien!"

Miyuki melirik padanya, menyeringai tipis. Tampak menikmati bagaimana Eijun terlalu banyak bergerak kikuk maupun salah tingkah menghadapi situasi ini. Kemudian Miyuki ikut membungkuk kepada pelatih dan Takashima. Setelah sekali lagi mengucapkan kata pamit, mereka berdua pergi meninggalkan sisi lapangan itu bersama pengalaman baru yang mungkin akan membekas kuat di dalam benak Eijun untuk waktu yang cukup lama.

"Apa hari ini tidak ada jadwal latih tanding lain?" Eijun memutuskan untuk bertanya begitu mereka melewati bagian jalan keluar sekolah yang ditumbuhi barisan pohon sakura di masing-masing sisinya.

Miyuki menggeleng. "Khusus hari ini hanya melawan Inashiro."

Eijun mengangguk singkat, kembali fokus pada jalanan di depannya. Tanah telah menjadi merah muda akibat kelopak-kelopak sakura yang berguguran, sementara tiap kali angin berhembus, kelopak-kelopak lainnya akan berjatuhan seperti hujan lembut merah muda. Tanpa sadar Eijun tersenyum, Miyuki berjalan beberapa langkah di depannya dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celana dan topi yang dipakai miring asal-asalan. Rambutnya mencuat dari balik topi, bergoyang tertiup angin. Punggungnya tegap, dan gaya berjalan santai entah mengapa justru membuatnya semakin terlihat mengagumkan.

Eijun mencoba membayangkan seperti apa Miyuki saat SMA dulu. Dikelilingi banyak orang yang memuji bakat maupun paras yang harus Eijun akui memang sangat rupawan. Selain itu, Miyuki berasal dari keluarga kaya dengan ditunjang nilai akademik di atas rata-rata. Terlebih lagi dia seorang atlet, Eijun perlu mengakui bahwa Miyuki benar-benar terlihat gagah dengan seragam baseball dan perlengkapan catcher saat dipakai secara lengkap. Ia memiliki aura yang kuat, dan begitu berjongkok di belakang home plate, kedua matanya akan menampilkan sorot penuh otoritas, kekuasaan, serta kesadaran mutlak bahwa ia akan menguasai permainan.

Eijun sudah beberapa kali melempar kepada Miyuki sebelum ini, tapi untuk berdiri di lapangan dengan pemukul sungguhan di antara mereka benar-benar memberi kesan yang berbeda. Eijun bagaikan terseret dalam pusaran kepercayaan diri Miyuki yang begitu tinggi, lengkungan senyum jahatnya, serta bagaimana jari-jari itu membentuk kode-kode pitch calling paling berani, kurang ajar, sekaligus juga penuh resiko. Miyuki tidak hanya mengarahkan lemparannya, Miyuki mendorongnya ke dalam sebuah tantangan yang hanya menyisakan dua pilihan. 'Hidup dan menang' atau 'mati di sini'.

Eijun tidak dapat memisahkan kemarahan dan antusiasme menggembirakan saat bola yang dilemparnya mendarat tepat ke tengah-tengah sarung tangan Miyuki. Suara itu terus bergema dalam kepalanya berpadu dengan tatapan puas Miyuki serta bibirnya yang melengkung tipis ketika mengatakan pujian sederhana; nice ball.

Pikiran Eijun terbuyarkan saat sehelai kelopak sakura jatuh perlahan menyentuh tulang hidungnya, meluncur ke telapak tangannya yang terbuka lalu kembali terbang terbawa angin. Mata Eijun mengikuti kelopak sakura itu melayang, sehelai merah muda berputar di udara lalu mendarat di bahu Miyuki. Eijun menghentikan langkah. Miyuki lima langkah di depannya sedang berdiri diam, mendongakkan wajahnya ke atas dan menutup mata lalu tersenyum damai bersama kelopak-kelopak sakura berterbangan di sekitarnya.

Pemandangan itu membuat Eijun tertegun.

Apa dia selalu setampan itu?

Eijun menggeleng cepat-cepat. Mengibas-ngibas kedua tangan di atas kepalanya, berusaha menghapuskan asap imajenasi tak sehat tentang betapa atraktifnya seorang Miyuki Kazuya.

"Apa yang kau lakukan?"

Eijun nyaris melompat. Terkesiap, membeliak dan mematung dengan posisi kedua tangan melayang di atas kepalanya. Miyuki memandangnya dengan alis berkerut, kepala miring ke satu sisi. "Apa-apaan pose itu? Kau sedang memperagakan gerakan kungfu atau semacamnya?"

Eijun menelan ludah, menurunkan tangannya dengan cepat kemudian melihat Miyuki kini melemparinya dengan senyum culas, nakal, seksi. "Aku sedang mengusir nyamuk dan itu bukan urusanmu!" Eijun ingin terdengar galak, tapi dari reaksi Miyuki, ia tahu bahwa suaranya lebih terdengar melengking dan lucu.

Miyuki membuat gerak bibir sederhana yang membuat darah Eijun mendidih dalam perpaduan panas yang ganjil antara marah dan malu. "Hee… nyamuk, ya?" Suaranya mengalir dalam nada introgatif diwarnai otoritas yang begitu jail sekaligus juga kepercayaan diri tinggi seakan ia telah mengetahui segala yang berusaha Eijun sembunyikan. "Bukan imajenasi kotor?"

"Tu-tutup mulutmu, Miyuki Kazuya!" Eijun berteriak, menunjuk wajah Miyuki dengan jari telunjuknya. Ia membuang napas kasar ketika menyadari Miyuki mulai tertawa meledek. Bersama langkah yang dihentak kuat, Eijun memutuskan untuk berjalan menyalip Miyuki dan mengabaikan tawa laknatnya.

"Kenapa buru-buru, Sawamura?" Tentu saja, Miyuki tidak akan membiarkanya lolos dengan mudah. Jari-jari Miyuki melingkari pergelangan tangannya, menjaganya tetap di tempat dan tidak melangkah lebih jauh. Telapak tangan Miyuki terasa kasar di kulitnya. Eijun tidak memperhatikan sebelum ini, tapi ia bisa merasakan bekas-bekas kasarnya sisa pergulatan dan waktu yang Miyuki habiskan bersama tongkat baseball dan sarung tangan catcher dari telapak tangan itu. Jari-jari panjang Miyuki melingkar sempurnya di pergelangan tangannya, menekan pada denyut nadi dan menghantarkan sengatan listrik tak masuk akal ke seluruh pembuluh darahnya.

Eijun tak sadar sejak kapan matanya terpaku pada genggaman Miyuki di kulitnya, tapi Eijun menemukan dirinya menahan napas di bawah sentuhan itu. "Lepaskan!" Akhirnya Eijun berhasil menemukan suaranya kembali, mengalihkan tatapannya pada sepasang mata karamel Miyuki, berusaha terlihat benar-benar marah. "Lepaskan tanganku!"

"Kau akan lari kalau aku lepaskan."

Eijun menekuk kedua alisnya dalam-dalam. "Buat apa lari!?" Ia menyahut sengit, meski niat utamanya memang kabur dari Miyuki.

Lagi, Miyuki tersenyum seakan sudah bisa menabak semua rencana dalam kepalanya, alih-alih melepaskan tangan Eijun, Miyuki justru mempererat cengkeramannya dan memberi gaya tarik hingga tubuh Eijun limbung dan terbawa lebih dekat ke hadapannya.

"WHAA—Hey! Apa yang kau—" Eijun memejamkan mata rapat-rapat sebagai reflek alami ketika Miyuki melayangkan tangan ke wajahnya. Mengira ia akan mendapat pukulan, tamparan atau sejenisnya. Namun yang terjadi adalah Eijun merasakan jari-jari Miyuki mendarat di rambutnya, menyentuhnya dengan cara yang membuatnya lupa bernapas.

"Kau mulai bermekaran, Sawamura."

Dengan cepat Eijun membuka mata lebar-lebar, disambut oleh senyuman asimetris terpatri di bibir Miyuki. Ia membaca keadaan, melemparkan tatapan matanya pada jari-jari Miyuki yang bergerak dari rambutnya, menarik sehelai kelopak sakura yang semula tersangkut di antara helai rambutnya.

Setelah menyadari situasi yang terjadi, Eijun buru-buru menepis tangan Miyuki dan mengambil satu langkah mundur. Ia lantas menggeleng-gelengkan kepala, berharap dengan begitu dapat melenyapkan semua kelopak sakura dari rambutnya jika memang masih ada.

Miyuki tertawa. "Kau benar-benar seperti anak anjing, kau tahu? Kau seperti anak anjing basah yang berusaha mengeringkan bulunya."

"Aku bukan anak anjing!"

Miyuki menggeleng seakan memperingatkan anak nakal, mendecakkan lidah tiga kali lalu kembali mengulurkan tangannya dan mendarat tepat di rambut Eijun. Kali ini, bukan untuk mengambil kelopak sakura, melainkan untuk mengacak-acak rambutnya dalam gerakan mengasuh anak anjing. "Baiklah, maafkan aku? Woof-woof?"

Eijun merasakan sekujur tubuhnya memanas, ia menepis kasar tangan Miyuki dari rambutnya lalu memelototi pria itu dengan tajam. "Berhenti menggodaku! Miyuki-teme!"

"Hai, hai." Miyuki menyahut ringan lalu mengangkat kedua tangannya ke udara sebagai tanda menyerah. "Aku mengaku salah, dan aku minta maaf." Meski demikian sama sekali tidak ada nada penyesalan dalam suaranya, bahkan raut wajahnya hanya turun satu tingkat dari sangat menyebalkan menjadi menyebalkan. "Kita tidak seharusnya bertengkar di tempat seperti ini, kan?"

Eijun mengernyit, kemudian mulai memandang sekitar dan menyadari bahwa sejak tadi memang hanya ada mereka berdua di sekitar sini. Mereka memang melewati sektor yang berbeda dari saat datang tadi. Alih-alih mengambil jalan utama, mereka memutar area sekolah yang sepi dan melewati taman serta barisan pohon sakura yang dalam masa mekar.

"Bukankah pemandangan seperti ini sering muncul dalam shoujou manga favoritmu?"

Mata Eijun kembali bersilobok dengan Miyuki, senyum di bibirnya telah turun lagi satu tingkat menjadi cukup menyebalkan. Eijun membuang napas singkat, mengamati sekitar sekali lagi dan mau tak mau mengangguk sepakat. Suasana di sekitar mereka saat ini memang sering menjadi latar belakang dalam shojou manga, muncul berkali-kali dalam plot klasik saat hari kelulusan.

"Katakan, Sawamura."

Eijun mengerjap cepat, lagi-lagi nyaris melompat begitu menyadari Miyuki telah mengambil langkah lebih dekat dengannya hingga kini mereka hanya terpisah satu pijakan kaki.

"Musim semi, bunga sakura yang berguguran, serta halaman sekolah yang terisolir. Kisah apa yang muncul dalam shojou manga kesukaanmu ketika berada di situasi ini?"

"He?"

"Seorang senpai yang populer di sekolah, dan kouhai yang selalu memaki-makinya. Mereka berdua bertengkar setiap waktu, tapi tidak pernah benar-benar membenci. Jadi, apa yang mereka lakukan di sini?"

Lima detik adalah waktu yang dibutuhkan Eijun untuk berpikir, menatap senyuman yang bercabang di bibir Miyuki, kemudian memahami situasi bahwa Miyuki tengah menggiringnya ke arah perangkapnya yang lain. Namun kali ini Eijun menolak untuk terjebak lagi. Jadi, alih-alih mendorong Miyuki menjauh, menyerbunya dengan umpatan, caci maki, atau menunjukkan reaksi negatif lain, ia justru mendongak tepat ke wajah pemuda itu dan tersenyum. Benar-benar tersenyum.

"Miyuki-senpai,"

Miyuki mengerjap. Betapapun ia berupaya menyembunyikan kekagetan yang melandanya, garis itu masih melintas di kedua matanya yang sedikit melebar.

Eijun tersenyum lebih berani. Matanya lurus ke mata Miyuki. Angin berhembus lagi, membawa kelopak-kelopak merah muda dan menghujani mereka dalam wangi lembut sakura yang khas. Eijun mengambil napas dalam-dalam, masih tanpa melepaskan sepasang mata topaz karamel Miyuki, ia berkata. "Suki desu!"

"Ap—!"

"Miyuki-senpai, daisuki!"

Sepandai apapun Miyuki berusaha menyembunyikannya, dia tetap terlihat seakan baru dipelintir. "Sawamura, apa maksud—"

"Zutto, Miyuki-senpai ga daisuki!"

Wajah Miyuki semakin pucat, pucat, dan pucat. Kemudian beralih jadi merah padam. "Sawamura—"

"Pfffftt…!" Eijun memegangi perutnya geli, membungkuk selagi sekujur tubuhnya berguncang karena tawa. "HAHAHAHAHA! Kau seharusnya lihat ekspresimu itu! KOCAK ABIS!"

Miyuki membeliak ke arahnya, wajahnya sekarang terbangun atas perpaduan ekspresi kaget dan kebingungan.

"Kau tahu seperti apa wajahmu? Kau berganti-ganti warna seperti bunglon! Merah, pucat pasi, lalu hijau, sekarang kau mulai jadi ungu! Ahahahaha!"

Momen itu bertahan beberapa saat yang luput Eijun hitung. Dirinya yang masih tertawa lepas, serta Miyuki yang berada persis di hadapannya, memandanginya dengan ekspresi yang bahkan sudah tak lagi Eijun hiraukan. Sampai akhirnya tawa Eijun terhenti tatkala merasakan Miyuki meraih telapak tangannya, membawanya ke dalam sebuah remasan.

Eijun memandangi tangannya dalam genggaman Miyuki lalu menahan napas dan memberanikan diri untuk mendongak.

Ekspresi Miyuki tak terbaca. Tapi apapun yang semula menghiasi wajahnya dan membuat Eijun tertawa, kini telah sepenuhnya lenyap. Remasannya mengerat, tangan Miyuki membungkus kelima jemarinya dan menciptakan sebuah tinju aneh di lambung Eijun.

"Miyuki-senpai…" Eijun berbisik, menggigit bibir bawahnya untuk melawan gejolak asing di rongga dadanya. "Kau marah…?"

Eijun bisa mendengar Miyuki menarik napas. "Kau bahkan tidak tahu apa yang kau lakukan, Sawamura." Suara Miyuki berat, seakan sesuatu sedang menghimpit dadanya. "Kau tidak tahu bagaimana kau terlihat saat tertawa selepas itu. Di sini, di bawah bayang-bayang pohon sakura dan bunganya yang berguguran. Kau tidak tahu seperti apa kau terlihat saat sinar matahari menyentuh kulitmu…"

Eijun benapas perlahan. "Aku tidak mengerti apa maksud—!"

Eijun tidak pernah punya kesempatan untuk menyelesaikan kalimat itu karena Miyuki lekas menariknya dalam satu sentakan kuat hingga tubuh Eijun menempel ke tubuhnya. Dada mereka berbenturan dan berhasil membuat Eijun kehilangan napas.

"Miyu—Ack!"

Lagi-lagi sebuah gerakan tiba-tiba. Miyuki membenturkan keningnya tepat di kening Eijun. Menekan dalam sentuhan ganjil dalam jarak yang terlampau…intens.

"Sawamura…" Napas Miyuki berhembus di kulitnya, hangat, panas, lalu membakar seluruh tubuh Eijun. "Aku benar-benar ingin menciummu sekarang."

Eijun tidak mampu bergerak, berbicara, berkedip, atau juga bernapas. Ia merasa seluruh darahnya telah menguap ketika Miyuki membisikkan kata-kata itu. Bahkan ia masih belum bergerak ketika tangan Miyuki yang lain naik ke wajahnya. Telapak tangan yang kasar membingkai lugas garis rahang dan pipinya, mengantarkan panas asing dan sengatan listrik yang meletup-letup di kulitnya.

Napas Miyuki berhembus lagi di wajahnya, kali ini Eijun bahkan bisa mendengar ketika pemuda itu menelan ludah. "Aku ingin menciummu, boleh?"

Eijun memerintahkan paru-parunya untuk kembali bernapas, kelopak matanya untuk menutup singkat sebelum kembali membuka dan menatap lurus ke sepasang mata Miyuki. "Aku akan menamparmu." Eijun ingin suaranya terdengar mengancam dan berbahaya, tetapi yang berhasil keluar hanya bisikan serak.

Ibu jari Miyuki membelai garis tulang pipinya, dan Eijun bisa melihat pemuda itu tersenyum. Tipis. Begitu tipis, begitu halus, sebelum wajahnya kembali maju, mengambil jarak apapun yang tersisa di antara mereka berdua. "Aku tidak keberatan."

Bibir mereka akhirnya bertemu, menempel, berbagi. Kelembutan yang memaksa Eijun menutup matanya dan merasakan sentuhan itu lebih dalam. Eijun tidak terlalu ingat malam ketika mereka berdansa dan Miyuki menciumnya untuk pertama kali, tetapi kali ini ia bisa merasakan tekstur bibir seorang Miyuki Kazuya di bibirnya. Sentuhan yang tidak terburu-buru, membuai, menggiringnya mencapai suatu kenikmatan intim. Lambat, Eijun bisa merasakan Miyuki menghisap bibir atas dan bawahnya secara bergantian, menjilat dan berusaha mengambil sebayak apapun. Kemudian Miyuki berhenti, dan Eijun nyaris merengek atas rasa kehilangan yang begitu tiba-tiba. Tetapi kemudian ia sadar bahwa ia butuh bernapas.

Saat membuka mata, yang pertma kali menyapanya adalah wajah Miyuki yang begitu dekat. Napas pemuda itu sedikit terengah, dan bibir itu… "Jangan pelit, Sawamura." Ia berbisik lagi, matanya lekat pada mata Eijun lalu berpindah ke bibirnya, memandangi bibir Eijun beberapa saat lalu menghembuskan napas putus asa. "Aku sudah setuju kau menamparku setelah ini. Buka mulutmu, aku layak mendapatkan ciuman balik."

Sebelum Eijun sempat menjawab, Miyuki kembali menciumnya. Gerakannya kali ini menjadi lebih cepat dan sedikit tidak sabar, mendorong lidahnya di antara pertemuan kedua belah bibir Eijun yang masih menutup. Miyuki terus menekan, mendesakknya hingga Eijun terpaksa menyerah. Membuka celah, memberi akses kepada Miyuki untuk menciumnya lebih dalam.

Miyuki berbau seperti menthol, pahit, menyegarkan, menyita seluruh napasnya. Tangan Miyuki yang semula menggenggam jari-jarinya kini berpindah, melingkari pinggangnya, menariknya mendekat, memeluknya hingga dada mereka bertabrakan. Dan Eijun tak tahu lagi jantung siapa yang kini berdebar begitu cepat di dadanya.

Ciuman Miyuki semakin dalam dan semakin basah saat Eijun memutuskan untuk membalasnya. Lidah mereka bertemu, bergoyang, saling meliuk dan tumpang tindih. Miyuki menjilat langit-langit mulutnya, mendatangkan sensasi geli yang membuat Eijun terlonjak kecil, lalu lidah itu mengabsen semua deret giginya. Menghisap ke dalam mulutnya sampai akhirnya gigi-gigi Miyuki mengambil alih, memberi gigitan binal pada bibir bawahnya. Menarik main-main, melepas, menghisap, lalu menggigit lagi.

Eijun berusaha keras agar tidak mengeluarkan suara apapun. Tidak lenguhan, tidak juga desahan sekecil apapun. Tapi ciuman Miyuki benar-benar membuatnya mabuk, paru-parunya telah terbakar, menjerit kekurangan udara, dan pijakannya mulai goyah. Karena itulah Eijun mengumpulkan semua pecahan kewarasannya dan menekan telapak tangannya di dada bidang Miyuki lalu mendorongnya.

Ciuman itu terlepas. Meninggalkan benang tipis saliva yang menjuntai, terhubung dari bibirnya ke bibir Miyuki. Eijun terengah-engah, merasakan sekujur tubuhnya tengah terbakar. Miyuki tak jauh berbeda, terengah, bersemu merah, tampak seperti setengah mabuk.

"Sawamu—"

SLAP!

Tangan Eijun kebas, wajah Miyuki telah berpaling ke satu sisi akibat tamparan itu. Sebuah tamparan yang terlalu keras, terlalu tiba-tiba, tidak adil. Tapi Eijun melakukannya sebagai mekanisme pertahanan diri, karena ia merasa andai Miyuki memanggil namanya dan mulai bicara, ia akan tenggelam dan mulai mencium Miyuki lagi.

"Kita sudah impas." Eijun berhasil berkata. "Aku ingin pulang sekarang."

Tamparan itu meninggalkan jejak merah di pipi Miyuki, tapi Miyuki berhasil menggerakkan wajah dan menatapnya lalu memberi anggukan kecil. "Ya, ayo pulang."

Kazuya meringis saat sensasi dingin icepack menyentuh pipi kanannya. Ia menekan sedikit lebih kuat, membiarkan rasa dingin itu mengusir panasnya sisa tamparan Sawamura dari kulitnya.

"Kali ini tamparannya bahkan lebih sakit dari yang pertama." Kazuya menanamkan kembali ke dalam otaknya bahwa Sawamura Eijun tidak pernah setengah-setengah dalam urusan menampar.

Tapi dia hebat dalam berciuman, batinnya menambahkan.

Kazuya menghembuskan napas panjang dari mulutnya, tersenyum masam dan bersandar sepenuhnya pada sofa, membiarkan tubuhnya setengah berbaring sementara otaknya kembali mengingat-ingat seperti apa rasanya berciuman dengan Sawamura.

Kazuya bahkan tidak sepeuhnya mengerti mengapa ia begitu ingin mencium Sawamura tadi. Sawamura memang mengesankan ketika tertawa lepas, dan kebetulan pemandangan di sekitarnya begitu indah dengan perpaduan kelopak sakura, bayang-bayang pepohonan, juga berkas-berkas sinar matahari yang membentuk pola abstrak di kulitnya. Garis jatuhnya cahaya matahari telah membuatnya terlihat bagai dihujani debu peri yang berkerlip-kerlip. Itu akan menjadi sebuah lukisan yang luar biasa apabila berhasil diabadikan. Lantas kenapa? Hanya karena Sawamura terlihat menakjubkan dengan semua keajaiban di sekelilingnya, bukan berarti Kazuya harus menciumnya, kan?

Dia menipuku dengan senyum lugu dan kicauan daisuki-nya yang tak terduga, Kazuya tersenyum kecut. Mengingat kembali bagaimana Sawamura berhasil mencuri detak jantungnya dengan tipuan sederhana itu. Sebuah balas dendam yang kejam namun disampaikan dengan cara yang manis. Kazuya merasa sungguh tolol karena sepersekian detik ia sempat percaya bahwa Sawamura sungguh-sungguh menyatakan perasaan padanya.

"Kazuya?"

Kazuya membuka sebelah mata dan langsung disambut dengan pemandangan yang membuatnya tersenyum simpul. "Hai, Bu."

Ibunya sudah memasuki usia 48 tahun, namun wanita itu tetap terlihat begitu cantik, elegan, mempesona. Bahkan meski hanya mengenakan setelan kaus longgar dan celana selutut, rambut digulung sederhana dengan tusuk konde coklat tua, tanpa pulasan make-up, tanpa perhiasan, kecantikannya tetap tak memudar.

"Kau terluka?" Suara ibunya lembut, bergerak mendekat lalu duduk di sebelahnya. Alisnya berkerut khawatir, mata menatap ke arah icepack yang menempel di pipi kanan Kazuya. "Apa yang terjadi?"

"Jangan khawatir." Kazuya berhasil memasang senyuman jenaka dan mengedipkan sebelah mata main-main. "Aku mendapatkannya secara sadar dan atas izinku."

"Kau dihajar secara suka rela?"

"Bu, aku tidak dihajar. Ini hanya satu tamparan yang… well, lumayan keras." Kazuya meringis lagi.

"Oh, Kazuya…" Ibunya mengeluh dalam nada khawatir lalu mulai mengintip perlahan dari balik icepack, mengmati jejak merah di pipinya. Jari-jari runcing sang ibu menyentuh kulinya, terasa dingin, lembut, dan penuh kasih sayang. Kazuya tersenyum, membiarkan dirinya terbuai dalam perhatian itu. "Siapa yang melakukannya padamu?"

Kazuya memasang cengiran kecil. "Aku baik-baik saja, Bu. Aku tetap anak ibu yang tampan, bukan begitu?"

Satu cubitan kecil mendarat di pinggangnya. Kazuya mengaduh sakit, lalu bertatapan dengan wajah jengkel sang ibu. "Kau akan mendapat masalah jika terus mempertahankan kepribadian burukmu itu, Kazuya." Ibunya mengomel, tetapi tidak terdengar murka sama sekali. "Sekarang katakan, apa kau butuh sesuatu? Perlukah kita ke dokter?"

"Aku baik-baik saja, sungguh. Sakitnya juga sudah mulai hilang."

Sang ibu menatapnya selama beberapa saat kemudian mengangguk. "Baiklah." Ia berkata final, lalu menghela napas panjang dan mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Tak lama kemudian, suara siaran radio terdengar. Sang ibu tersenyum lembut, meletakkan ponselnya di atas meja setelah memperbesar volume, kemudian meraih satu bantal di ujung sofa dan memeluknya. Bersandar dengan rileks, tersenyum begitu cantik.

Kazuya mengernyit. "Ibu mendengarkan radio? Sejak kapan?"

"Beberapa bulan ini." Ibunya menjawab ringan. "Ada satu program yang menarik di hari Jumat sampai Minggu, setiap pukul empat sore."

Kini alis Kazuya berkerut sempurna. "Program seperti apa sampai ibu tertarik?"

"Kokoro no Koe." Ibunya mengumumkan, lalu menekan satu jari ke bibirnya. "Kau akan tahu nanti."

Kazuya baru berniat mendengarkan ketika merasakan getaran di pahanya. Ponselnya berdering kecil, bentuk notifikasi pesan masuk. Dan ia nyaris melotot begitu mendapati nama Sawamura Eijun muncul di layar ponselnya.

'Kau… baik-baik saja?'[15.49]
'Apa kau sudah mengompres pipimu?'[15.49]

Senyuman muncul di wajah Kazuya tanpa bisa dicegah. Ia hampir-hampir bisa melihat ekspresi menggelikan yang terukir di wajah Sawamura saat mengetik pesan itu. Alis menukik, mata menyipit, sorot galak kucing liar, dan bibir menggerutu sementara jari-jarinya mengetik dengan hati gelisah bercampur rasa bersalah. Pastinya itu sebuah pemandangan menarik, Sawamura Eijun yang mengalami peperangan antara hati nurani dan gengsi pribadi.

'Wah, mengejutkan sekali~' [Read. 15.50]
'Kau khawatir padaku?' [Read. 15.50]

'AKU TIDAK KHAWATIR!' [15.51]
'SAMA SEKALI!'
[15.51]
'AKU HANYA BERUSAHA SOPAN MENANAKAN KEDADAMU!'
[15.52]
'*menanyakan'
[15.52]
'*keadaanmu'
[15.52]
'SIAL! TYPO! AAAARGH!'
[15.53]

Senyum di wajah Kazuya berubah menjadi seringai yang begitu lebar hingga ia melupakan fakta bahwa pipinya masih sedikit ngilu.

'Hee~ Sawamura-kun~' [Read. 15.54]
'Apa kau sesenang itu chatting denganku sampai salah mengetik?' [Read. 15.55]
'Atau kau terlalu gugup?' [Read. 15.55]
'Aku tahu aku memang "menggiurkan" tapi santai saja, ok? ;)' [Read. 15.56]

'ASDFGHJKLZXVNBKDMNLWJDKN!' [15.57]
'TERSERAH!' [15.57]
'LUPAKAN SAJA AKU PERNAH BERTANYA!' [15.57]
'KAU MENYEBALKAN!' [15.58]
'SUPER DUPER MENYEBALKAN!' [15.58]
'MENYEBALKAN KUADRAT!' [15.58]
'MENYEBALKAN MAKSIMAL!'
[15.59]
'POKOKNYA MENYEBALKAN!' [15.59]
'hmph! —,,—' [15.59]

Kazuya menutup mulutnya dan berusaha tidak tertawa. Reaksi sawamura selalu berlebihan, dramatis, kekanakan, dan membuatnya ingin terus menggoda pemuda itu.

'ur so hilarios! Lol~' [Read. 16.00]
'aku sudah mengompresnya.' [Read. 16.00]
'Sekarang sama sekali sudah tidak sakit.' [Read. 16.01]
'Kau butuh tenaga lebih dari itu untuk melukaiku, Sa-wa-mu-ra.' [Read. 16.01]

'O' [16.02]
'baguslah' [16.02]
'Mi-yu-ki' [16.02]

Serius? Sawamura memberinya balasan semacam ini? Astaga, Kazuya menggeleng tak habis pikir. Namun terlalu disayangkan kalau ia mengakhiri percakapan ini begitu saja. Jadi, setelah berpikir sejenak, ia mulai mengetik lagi.

'Apa yang sedang kau lakukan?' [Read. 16.05]
'Maksudku, di samping mengirimkan chat penuh perhatian dan khawatir padaku~' [Read. 16.06]

'SUDAH KUBILANG AKU TIDAK KHAWATIR!' [16.06]
'DAN AKU MENDENGARKAN RADIO!' [16.06]
'
JADI JANGAN GANGGU AKU!' [16.07]

Alis Kazuya terangkat, kali ini benar-benar berminat. Ia mengalihkan perhatiannya sejenak dan mencoba mendengar saluran yang diputar sang ibu lalu melihat frekuensinya. 201,18 MHz.

'Berapa saluran yang kau dengarkan?' [Read. 16.08]

'201,18 MHz.' [16.08]
'Buat apa kau bertanya?' [16.08]

Really? Kazuya mendengus, merasa geli sendiri dengan semua benang-benag kebetulan ini.

'Aku sedang mendengarkan saluran yang sama bersama ibuku.' [Read. 16.09]

'Serius?! O_o' [16.09]
'Kau juga suka mendengarkannya?' [16.09]
'WOOOOWWWW…' [16.10]
Aku benar-benar tidak menyangka orang sepertimu mendengarkan program "Kokoro no Koe" juga :/' [16.10]
'Kalau begitu selamat mendengarkan!' [16.10]

Oke, sekarang Kazuya benar-benar penasaran. Ia menyimpan ponselnya di atas meja, dan mulai memasang telinga baik-baik.

"Selamat sore, para pendengar. Bagaimana kabar anda? Kembali lagi bersama saya, Yoshikawa Haruno. Dan kita kembali memasuki acara Kokoro no Koe." Suara penyiar perempuan itu terdengar ramah dan ceria. "Baiklah, sudah ada beberapa kisah menarik seperti sebelumnya. Apakah anda siap?"

Kazuya mengerutkan keningnya, melirik sang ibu yang tampak begitu antusias mendengarkan. "Bu, sebenarnya siaran apa ini?"

"Membacakan surat-surat yang dikirim oleh para pendengar."

"Surat?"

"Lebih tepatnya e-mail. Dengarkan saja, nanti kau akan tahu."

Suara penyiar yang bernama Yoshikawa Haruno itu terdengar lagi. "Surat pertama yang akan saya bacakan hari ini adalah surat yang dikirim atas nama Fujimaki Ryuuji."

Mata Kazuya menyipit bingung, tetapi ia memilih untuk mendengarkan lebih jauh.

"Aku tidak pandai menulis surat maupun berkata-kata, tapi aku benar-benar ingin mencobanya karena ada satu orang yang sangat ingin kutuju." Yoshikawa mulai membacakan isi suratnya.

"Mungkin terdengar aneh karena orang sepertiku sampai mengirim surat ke program ini, tapi aku benar-benar tidak tahu lagi cara apa yang harus kulakukan agar dia mau mendengarkanku."

Kazuya merasa siaran ini konyol. Apa ini semacam curhat? Kenapa pula acara semacam ini bisa menarik perhatian ibunya?

"Aku mengenal seseorang yang luar biasa. Keluarga kami tinggal bersebelahan dan aku sudah mengenalnya nyaris seumur hidupku. Dia tiga tahun lebih tua dariku, dan sepajang ingatanku dia adalah gadis paling luar biasa yang pernah kutemui."

Kazuya mendengus, picisan sekali. Ia bisa maklum mengapa Sawamura menyukai program ini.

"Mm… sepertinya Fujimaki-san sedang menceritakan kisah cintanya kepada kita." Yoshikawa berkomentar lalu mulai membaca lagi. "Saat ia lulus kuliah, aku memberanikan diri untuk menyatakan perasannku padanya. Aku tahu dia bukan belahan jiwaku, tapi aku telah menyukainya dalam waktu yang tidak bisa lagi kuhitung. Jadi aku memutuskan untuk mencoba. Aku bicara padanya, mengungkapkan isi hatiku, tapi kemudian dia marah.

"Dia marah, menamparku, lalu menangis. Dia mengatakan bahwa perasaanku tidak masuk akal dan tidak bisa diterima. Kemudian dia pergi begitu saja dan tidak mau lagi bicara padaku. Dia pergi ke suatu tempat untuk bekerja dan menolak memberikan alamatnya padaku."

Kazuya meringis. Kenapa soulmate hanya terus memberi masalah kepada manusia?

"Aku mungkin memang keliru. Mungkin selama ini dia tidak pernah menganggapku lebih dari adik laki-lakinya yang merepotkan. Aku telah berpikir selama satu tahun ini, dan mengerti mengapa dia menolakku. Tidak apa-apa, aku sudah bisa menerima kenyataan bahwa dia menolak perasaanku, tapi kalau boleh aku masih ingin berhubungan baik dengannya seperti dulu…"

"Oh, anak yang malang." Kazuya mendengar ibunya mendesah iba. Sementara Kazuya sendiri berusaha tidak memutar mata.

"Asumi, kalau kau mendengar ini, aku hanya ingin menyampaikan satu hal. Aku merindukanmu. Aku minta maaf kalau perasaanku membebanimu dan membuatmu tidak nyaman, tapi aku tidak akan menuntut apapun darimu, percayalah. Bocah laki-laki bodoh dan cengeng yang selalu merepotkanmu itu kini perlahan-lahan telah tumbuh menjadi laki-laki dewasa. Aku sudah mengerti, aku belajar untuk berhenti menjadi egois.

"Aku hanya satu dari sekian banyak laki-laki yang jatuh hati pada seseorang yang luar biasa sepertimu. Aku tahu tidak seharusnya aku bersikap begitu, tapi kau adalah pribadi yang luar biasa. Gadis pemberani, cerdas, tegas, cantik dan kuat. Aku tidak bermaksud untuk merayu, tapi aku sangat merindukan kehadiranmu di sini, meski kau hanya memarahiku atau mengataiku kekanak-kanakan dan bodoh. Ku harap, kau mau memaafkanku."

"Suratnya berhenti sampai di situ." Suara Yoshikawa terdengar lembut dan ramah ketika memberitahu. "Ah, Fujimaki-san, kuharap Asumi-san mendengarakan siaran ini dan mengerti apa yang hendak Anda sampaikan. Dan untuk Fujimaki-san, saya punya sebuah lagu yang semoga dapat menghibur anda; Seira, Love Letter no Kawari ni Koto Uta wo. Selamat mendengarkan."

Ketika lagu mulai berputar, Kepala Kazuya juga berputar kepada ibunya. "Ibu menyukai program seperti ini?"

"Kenapa tidak?" Ibunya menatap balik. "Terkadang, ada hal-hal yang terlalu rumit untuk diungkapkan secara langsung. Semakin penting hal itu, semakin penting orang yang kau tuju, semakin sulit untukmu berbicara."

"Bu," Kazuya memanggil hati-hati. "Mungkin sudah saatnya ibu berhenti mengambil peran dalam drama."

"Ini tidak ada hubungannya dengan drama, Kazuya. Suatu ketika siaran ini membacakan surat dari seorang ibu yang terpisah dengan anak kandungnya selama enam belas tahun akibat perceraian. Ibu itu menceritakan bagaimana mereka terpisahkan sejak anaknya baru lima tahun, bagaimana perasaannya, dan betapa besar rindunya kepada anaknya. Dan itu berhasil, anaknya mendengar siaran itu lalu mereka akhirnya bisa bertemu kembali."

"Oh, wow." Kazuya merespon, tak benar-benar tahu bagaimana harus menanggapi. "Yah, mungkin memang berguna sesekali. Tapi tetap saja, terlalu melankolis."

Ibunya memutar mata. "Kau benar-benar mewarisi sifat skeptik Toku!"

Dua pekan setelah perkuliahan dimulai, dan Eijun merasa sudah setengah jalan menuju neraka. Di luar sana, matahari memang belum sirna, tetapi teriknya sudah mulai mereda dan populasi di universitas sudah mulai berkurang perlahan-lahan. Eijun melirik kembali jam tangannya, kemudian menghela napas berat. Pukul 15.30, artinya ia sudah berada di sini selama dua jam lebih, tetapi pekerjaannya belum menunjukkan tanda-tanda akan selesai.

Eijun memijit tengkuknya, mengedarkan pandangan ke sekeliling dan menyadari bahwa orang-orang di sekitarnya bahkan telah berganti. Makanannya pun telah ludes semua, dan tiga botol jus jeruk miliknya kini hanya tersisa seperempat botol dengan kondisi yang dudah tidak dingin.

Lagi-lagi hari ini aku tidak bisa ikut latihan taekwondo, Eijun membatin. Kepala menunduk lesu dan menatap nelangsa pada tumpukan buku di depannya. Sticky note aneka warna menjulur dari buku-bukunya, menandakan betapa sibuk dan tersiksanya Eijun beberapa hari belakangan ini. Memberi tanda di segala halaman, menuliskan poin-poin penting yang menurutnya akan membantu, tetapi kenyataannya ia justru bertambah pusing.

Setelah menguap lebar, Eijun membiarkan keplanya terkulai ke meja. Berbaring menyamping dan menatap bengong buku-buku yang menyiksanya dalam beberapa hari terakhir. Ia menghela napas panjang. "Aku mulai menyesal mengambil jurusan ini..."

"Itu kata-kata yang menyedihkan."

Eijun mengangkat kepala dari meja dengan cepat dan mendongak, kaget setengah mati.

"Halo," Seutas senyum tipis menyambutnya. "Kelihatannya kau sibuk sekali."

"CHRIS-SENPAI!" Eijun membeo, ia hampir berdiri tetapi Chris lebih dulu mengangkat tangan dan duduk di hadapannya. Eijun buru-buru merapikan buku yang berserakan, sampah snack, dan botol-botol kosong, menggebut-gebut meja seakan ia seorang pegawai resto yang sibuk.

Chris tertawa ringan. "Santai saja, aku tidak sampai hati memahari seorang mahasiswa hanya kerena meja yang kotor. Terlebih lagi setelah melihatnya merana di kantin."

Kata-kata menghilang dari mulut Eijun, dan lebih banyak darah menuju wajahnya. Eijun meremas-remas bungkusan snack di tangannya. "Apa aku terlihat semenyedihkan itu?"

"Tidak juga." Chris menjawab, dan selama beberapa waktu Eijun percaya pada senyumnya, "Kau hanya terlihat nyaris mati."

Wajah Eijun berubah cemberut. "Perlukah kuambilkan pisau agar Senpai bisa menyanyat-nyayat hatiku lebih dalam lagi?"

Chris tertawa renyah lalu mengulurkan sebotol air mineral dingin yang masih baru padanya. "Minumlah." Pemuda itu berujar. "Kau kelihatan abu-abu dan butuh air."

Eijun mengerutkan hidungnya, tetapi tetap menerima pemberian Chris. "Perasaanku saja atau memang Chris-senpai sekarang jadi sedikit lebih sarkas?"

Chris tersenyum, sedikit tajam. "Siapapun bisa menjadi sarkas jika pesannya sama sekali tidak dibalas setelah lewat dari tiga jam, Sawamura."

Eijun butuh sekurang-kurangnya lima detik untuk mencerna kalimat itu, kemudian matanya melebar, tangan buru-buru merogoh ke dalam ranselnya dan mengecek ponsel. "AH! Senpai mengirim lima chat padaku!" Eijun berseru panik, lalu memandang Chris, menunduk, mengatupkan kedua tangannya seperti berdoa di kuil. "SUMIMASEN! Aku sama sekali tidak mengecek ponselku!" Kemudian otaknya menyadari sesuatu. "Tunggu." Eijun mengangkat keplanya untuk menatap wajah Chris. "Bukankah Senpai seharusnya ada di dojo dan latihan taekwondo?"

"Karena itulah aku mengirimimu pesan LINE, Sawamura." Chris menghela napas, "Coba kau cek isinya sekarang."

Eijun tidak butuh dua kali komando.

'Sawamura, kita tidak latihan hari ini.' [13.30]

'Sepertinya kau sibuk. Banyak tugas?' [14.42]

'Aku bahkan belum sempat berterima kasih padamu.' [14.43]

'Terima kasih, tapi aku lebih suka kau memberikan boneka sarubobonya langsung daripada meletakkannya di lokerku.' [13.45]

'Sawamura, bisa kita bicara sebentar?' [15.59]

Eijun mendongak lagi pada Chris, memasang wajah penuh dosa. "Maafkan aku…" ia nyaris terdengar seperti anak kecil yang merengek. "Aku sama sekali tidak membacanya."

Chris mengangguk. "Setidaknya aku tahu kau bukan menghindariku."

"He? Kenapa juga aku harus menghindari Chris-senpai?"

"Kau habis liburan, terakhir kali kita bertukar kabar adalah saat kau mengirimkan foto selca bersama Miyuki, setelah itu kau tidak menghubungiku sama sekali. Lalu semenjak perkuliahan dimulai, kita sama sekali belum bertemu karena minggu lalu aku sama sekali tak bisa ke dojo, dan alih-alih menemuiku langsung kau justru memberikan oleh-oleh dengan meletakkannya di lokerku, sekarang kau sama sekali tidak menggubris LINE dariku." Chris membuang napas dan mengangkat bahunya. "Bukankah wajar saat aku berpikir kau sengaja menghindariku?"

Eijun meringis, menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal lalu mengunyah bibir bawahnya sedikit gugup. Sebenarnya, ia tidak bisa menyangkal bahwa sebagian dari dirinya memang menghindari Chris. "Aku malu." Cicit Eijun pada akhirnya, matanya berganti menatap uap samar dari botol air mineral pemberian Chris. "Foto itu…" Eijun menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya dari mulut. "Aku terkesan seperti tidak punya pendirian. Padahal sebelumnya aku sempat bilang pada Chris-senpai bahwa aku tidak suka Miyuki Kazuya, tapi kalau melihat foto itu, kelihatannya aku sedang bersenang-senang bersamanya. Dan lagi, chat terakhir yang kukirim…"

"Aku tahu itu ulah Miyuki." Potong Chris tenang, tapi Eijun seketika melotot dan mematung.

"Ba-bagaimana… Bagaimana Senpai bisa tahu?"

Bibir Chris menukik menjadi kurva yang lugas. "Insting?" Ia menjawab retoris. Eijun kembali diingatkan bahwa Takigawa Chris Yuu lebih pintar dari Miyuki Kazuya. Khususnya soal mengobservasi. Jika Miyuki beberapa kali kedapatan bisa membaca jalan pikirannya, maka Chris bahkan bisa menebaknya hanya melalui chat LINE. Eijun tahu seharusnya ia tidak membanding-bandingkan, tapi pikirannya tak dapat berkhianat bahwa ia merasa senang Chris lebih unggul dari Miyuki. Sebenarnya, Eijun senang siapapun lebih unggul dari Miyuki.

Chris mengangkat dagunya ke arah buku-buku di atas meja. "Inikah yang membuatmu sibuk berhari-hari?"

Akhirnya Eijun mampu tersenyum cerah. "Yap!" Ia menyahut, melambaikan tangan di atas buku-buku yang membuatnya nyaris mati. "Selamat datang di kehidupan mahasiswa literatur!"

Chris mengangkat sebelah alis, tersenyum interaktif. "Tugasmu?"

Eijun mengangkat bahu, membuka tutup botol pemberian Chris dan meneguk seperempat isinya lalu mendesah lega. "Begitulah."

"A Tale of A Tub, To the Lighthhouse." Chris membaca dua judul di antaranya dan mengerutkan alis. "Kau membaca versi aslinya?"

Kedua bahu Eijun turun dengan lesu, kemudian kepalanya menggeleng lemah. "Aku baca versi bahasa Jepangnya saja sudah kelimpungan."

Chris meraih salah satu buku berjudul To the Lighthouse karya Virginia Woolf, menelusuri bagian judul dengan jari telunjuknya. "Tapi membaca sastra dengan bahasa asli si penulisnya mungkin lebih membantu?"

"Aku belum percaya diri dengan kemampuan bahasa Inggrisku."

"Hmm, jadi kau harus membuat esai? Resensi? Atau bagaimana?"

Eijun mengambil satu buku lainnya, membuka sembarang halaman dan melihat sticky note hijau cerah yang ia tempelkan sendiri beserta tulisan kecil berisi hasil pemikirannya. "Analisis lebih tepatnya." Eijun menjawab, alisnya berkerut begitu membaca paragraf terbawah di halaman itu. Otaknya berputar-putar, dan ia mulai mual. "Singkatnya, aku cuma harus membaca buku-buku ini, mencari maknanya, dan membuat paper tentangnya. Karya-karya ini terkenal dengan kerumitannya, aku harus menerjemahkan setiap makna yang ditulis, lalu mencoba menganalisa dengan mengaitkannya pada latar bekakang si penulis. Asyik banget!"

Chris tertawa mendengar gerutuannya, dan Eijun tidak dapat memungkiri bahwa sedikit bebannya terangkat ketika berhasil membuat seniornya itu tertawa. Pasalnya, Eijun ingat betul betapa sulitnya Chris diluluhkan. Bahkan, awal perkenalan mereka dulu sebenarnya bukan sejarah yang cukup menyenangkan.

"Kenapa memilih English Literature?"

"Aku sering sekali mendapat pertanyaan itu." Ia berkata, tersenyum simpul. "Semua orang yang kukenal di sekolah dulu bahkan tahu bahwa nilai pelajaranku yang bagus hanyalah Bahasa & Sastra Jepang atau Olahraga. Japanese Literature di Meiji juga akreditasinya bagus, semua orang mengira aku akan mengambil jurusan itu."

"Jadi, kenapa?" Chris menekan suaranya selembut mungkin. Tetapi Eijun tahu seniornya itu benar-benar meginginkan jawaban.

"Mencoba keluar dari zona nyaman." Sahut Eijun, mengupayakan suaranya ceria, tetapi ia bahkan sadar bahwa masih ada getaran ragu-ragu pada jawabannya. "Well, setelah dua semester aku merasa punya peningkatan. Aku sekarang sudah bisa membaca komik berbahasa inggris dan cerita-cerita pendek. Tapi untuk novel semacam ini," Tangan melambai pada buku-buku di meja. "Mungkin aku butuh sedikit waktu."

Chris memandanginya dalam diam, dan Eijun mendapat firasat menggelisahkan bahwa Chris sedang mengobservasinya, atau lebih parahnya lagi, mulai mengukur betapa melantur jawabannya.

"Begitukah?"

Chris bahkan hanya mengeluarkan satu kata. Garis wajah yang tegas dengan ekspresi yang lembut. Mata amber itu tak pernah meninggalkannya. Tak ada paksaan, intimidasi, maupun doktrin yang Chris tunjukkan, tetapi Eijun mendapati dirinya tak berdaya di hadapan kelembutan itu.

"Aku tahu kedengarannya terlalu naif." Eijun menghela napas pada akhirnya, memutuskan untuk mengaku. "Alasanku yang sebenarnya… terlalu kekanakan."

"Hm?"

Eijun membasahi bibirnya sebelum menjawab. "Aku ingin membuktikan bahwa anak desa sepertiku bisa menguasai bahasa asing, dan lebih dari itu, aku ingin mematahkan kutukan anak laki-laki keluarga Sawamura."

Dahi Chris berkerut. "Kutukan?"

Eijun tersenyum lebar, setengah tertawa. "Kedengarannya konyol, tapi anak laki-laki dari keluarga Sawamura tak pernah berhasil hidup di Tokyo. Mereka semua pada akhirnya pulang sambil menangis. Jadi keluarga kami mulai membuat teori bahwa itu kutukan. Dan aku ingin membuktikan bahwa itu salah!" Eijun menyahut berapi-api, merentangkan kedua tangannya ke udara seperti Superman yang hendak lepas landas, beberapa orang bahkan menaruh minat dan memerhatikannya dengan tatapan apa-dia-gila?

Di hadapannya Chris berkedip-kedip, terbengong, kemudian menunduk dan bergetar, lalu Eijun menyadari pemuda itu tengah tertawa. Seketika juga, rasa malu merayap cepat, memanas di wajahnya.

"S-senpai—ugh, tolong jangan menertawakanku!"

"Maaf, maaf." Chris kembali menatapnya, bibirnya masih berkedut geli. "Aku tidak bisa menahannya, Sawamura. Saat kau bercerita dengan begitu ekspresif dan antusias seperti tadi, kau benar-benar mengambil alih seluruh dunia."

Eijun berkedip, menelengkan kepala ke kanan dan kiri bergatian. "He? Maksudnya?"

"Lupakan, lupakan." Chris mengibasakan tangan di depan wajahnya lalu menarik napas dan tersenyum lugas. "Kutukan apa sebenarnya?"

"Mm… aku tidak begitu yakin bagaimana awalnya, tapi kakekku pernah bercerita bahwa ayahnya sempat merantau ke Tokyo untuk berbisnis, tetapi hanya bertahan dua tahun dan kembali ke kampung halamannya sambil menangis. Lalu kakekku sendiri, meski dia menyangkalnya dengan alasan ingin meneruskan usaha kami di desa, tapi ayah pernah bilang kalau dulunya kakek juga sempat pergi ke Tokyo namun gagal. Dan ayahku," Eijun menarik dan menghembuskan napas panjang. "Percaya atau tidak, ayahku pernah ke Tokyo untuk mengadu nasib sebagai penyanyi rock."

"Apa?"

"Dia gagal, hanya bertahan beberapa bulan." Jelas Eijun singkat, mengabaikan ekspresi terpana di wajah Chris. "Pokoknya aku ingin berhasil di Tokyo dan mematahkan kutukan itu." Kemudian Eijun menyadari sesuatu dan berbisik, "Setidaknya meski hanya sampai memperoleh gelar sarjanaku."

Karena pada akhirnya ia juga akan pergi dari Tokyo ketika Miyuki kembali dari Jerman, kan? Yah, mungkin kutukan itu memang ada benarnya.

"Oshi! Oshi! Oshi!" Seru Eijun ceria, berusaha menghapus suasana kelabu di sekitarnya dan Chris yang masih bergeming. "Sepertinya aku memang perlu belajar ekstra untuk mematahkan kutukan itu!"

Eijun mulai mengambil buku lainnya, Finnegans Wake karya James Joyce. Membuka pada halaman yang telah ia beri pembatas dan sticky note merah menyala sebagai penanda bagian yang masih sangat sulit dipahami. "Meski harus kuakui aku mulai sebal dengan semua licentia poetica ini."

"Itu hak penulis, kau tahu." Chris merespon.

"Yah, aku tahu itu. Tapi masalahnya adalah," Eijun kembali memandang halaman bukunya dan menyipitkan mata tajam. "Mereka menggunakan itu untuk menulis secara sebebas-bebasnya dan membuat para pembaca menderita! Ugh, apa maksudnya pula kalimat ini? Aku harap aku bisa berjalan ke masa lalu dan mengintrograsi James Joyce!"

"Kau mungkin perlu mencari tahu lebih dulu majas apa yang dipakainya."

"Majasnya sendiri secara garis besar ada empat, dan meraka masih beranak pinak! Haaaa~ mungkin aku bakal mati terkubur dalam buku-buku sastra!"

Chris tersenyum samar, mengulurkan sebelah tangannya lalu mendarat di atas kepala Eijun, mengacak rambutnya pelan. Gerakan biasa, tapi begitu Chris melakukannya, Eijun secara naruliah menyadari bahwa sudah lama sekali mereka tidak melakukan interaksi jenis ini.

Eijun bahkan tidak sadar bahwa ia tak bergerak dan hanya tertegun sampai Chris menjentikkan jari di depan wajahnya. "Kenapa kau menatapku begitu?" Chris memandanginya keheranan. "Apa kau baru saja menemukan unsur ekstrinsik Finnegans Wake di wajahku?"

Eijun mengerjap. "Eh? Apa?" Ia menggeleng. "Ah, bukan begitu." Berdeham dengan keki dan mengusap tengkuknya untuk mengusir gugup.

"Kalau begitu apa kau mendapat gambaran tentang majasnya? Paradoks? Litotes? Antitesis?"

Bibir Eijun berkerut. "Senpai, itu sarkasme."

"Aku tidak keberatan kau memandangi wajahku terus-menerus jika itu bisa membantumu memecahkan licentia poetica dari buku-buku ini."

"Chris-senpai!"

Chris menyeringai, tetapi anehnya tetap terkesan ramah. "Dan yang tadi itu denotasi."

Eijun merengut sementara Chris kembali tertawa renyah. "Aku mungkin bisa membantumu sedikit."

"Huh?"

"Beberapa dari buku-buku ini rasanya ada di rumahku, dan versi aslinya. Kalau kau mau, kau bisa melihatnya di rumahku, dan mungkin ibuku mau sedikit membantu."

Eijun berkedip. "He?"

"Ibuku sempat menjadi dosen literatur di Princeton, jadi mungkin kau bisa minta sedikit nasehat darinya."

"Princeton… Dosen…" Eijun bergumam, mencoba menghubungkan kembali semua kalimat Chris, lalu ia melotot lebar. "MAKSUDNYA UNIVERSITAS PRINCETON DI AMERIKA!?"

Chris memberi cengiran kecil. "Suaramu sedikit hiperbol tapi, ya, benar."

Eijun mengangga begitu lebar hingga ia bisa merasakan dagunya hampir menempel ke leher. "Aku boleh bertanya padanya? Apa ini sungguhan? Senpai tidak sedang mencoba bicara konotatif, kan?"

"Ini denotatif."

Eijun menahan napas melebarkan mata dalam kejutan bahagia. Tangannya berkibar di atas buku-buku yang berserak di meja. "JADI AKU BISA MENDAPAT SEDIKIT PENCERAHAN DENGAN SEMUA METAFORA TINGKAT TINGGI INI!? CHRIS-SENPAI, IZINKAN AKU BERTERIMA KASIH DAN MEMELUKMU!"

'Sawamura~'
'Wanna play catch tomorrow?'
[Read. 22.05]

'WHY!' [22.06]
'Ajakanmu terlalu mendadak!'
[22.06]

'Lol~' [Read. 22.07]
'So?'
[Read. 22.07]
'Kita bisa mampir ke Hakushu setelahnya.'
[Read. 22.08]

' :'( ' [22.10]
'Aku tidak bisa.'
[22.10]

'Besok weekend, kau tidak punya kelas.' [Read. 22.11]

'Tapi aku ada urusan.' [22.11]

'Jangan sok sibuk, Sawamura.' [Read. 22.12]

'SIAPA YANG SOK SIBUK!?' [22.12]
'Aku punya janji dengan Chris-senpai!'
[22.13]
'Dan ini sangat sangat sangaaaaaaat penting!'
[22.13]

Chris. Kazuya membaca kembali nama itu lalu tersenyum geli. Sepertinya hubungan Sawamura dan Chris tetap baik-baik saja bahkan setelah Kazuya berupaya memanas-manasi Chris dengan mencium Sawamura di pesta dansa dan mengirim foto selca mereka saat di tepi sungai Miyagawa.

"Kenapa kau begitu tertarik pada anak ini, Chris?" Kazuya bermonolog, melipat tangan di belakang kepalanya dan menatap langit-langit kamar. "Kau melepaskan seseorang seperti Amanda dan begitu gigih mengejar Sawamura, huh?" Kazuya mendengus. "Cinta benar-benar sebuah kebodohan."

Senyum Kazuya berubah menjadi seringai licik. "Well, aku tidak akan merusak pertemuan kalian besok, tapi sedikit membuat Sawamura terlambat harusnya tidak masalah, kan?"

Tidak sulit menebak jam pertemuan antara Chris dan Sawamura. Chris tipikal orang yang lebih suka beraktivitas saat hari masih terang, sedangkan Sawamura adalah seseorang yang terbiasa bangun pagi. Jadi pada pukul delapan lebih sepuluh menit, Kazuya menemukan dirinya sudah memarkir mobil di depan apartemen Sawamura, menatap bangunan yang sempat menjadi tempat tinggalnya selama satu tahun itu, dan berdiri bersandar pada pintu mobilnya dengan kedua tangan terlipat di depan dada dalam gestur santai.

Lima menit kemudian, sosok Sawamura muncul dari balik pintu. Terlihat begitu kasual dengan celana jeans selutut, baseball tee putih-navy, sneakres, dan tentu saja, jam tangan merah mencoloknya. Backpack hanya disampirkan ke sebelah bahu, menjadi miring ke satu sisi di punggungnya, dan ia membawa setidaknya tiga buku di lengannya. Sawamura belum menyadari keberadaan Kazuya di sana, masih sibuk mengunci pintu.

Lalu Sawamura berbalik. Menatap, berkedip, mematung. "Apa-apaan…"

"Yo!" Kazuya melambai kecil, memasang cengiran asimetris. "Selamat pagi."

Sawamura masih menatap bengong. Sejurus kemudian, ekspresinya berubah dalam keberagaman yang menarik. Menonton wajah Sawamura menembus enam emosi yang berbeda dalam rentan detik selalu menjadi sumber hiburan besar bagi Kazuya. Kebosanan, intrik, kengerian, kemarahan, kesedihan dan kebingungan melintas di wajahnya dengan cepat. Setelah jeda, setelah menggertakkan giginya, Sawamura berjalan ke arahnya dalam gerakan hendak menerkam.

"Apa yang kau lakukan di sini, Miyuki Kazuya?" Sawamura menekan suaranya setajam mungkin, berdiri tepat satu langkah di hadapannya, mendongak dengan mata yang menyala-nyala. "Aku sudah bilang aku tidak bisa pergi denganmu hari ini! Berhentilah mengerecokiku!"

"Aw, takut~" Kazuya bernyanyi lalu memasang cengiran semakin lebar, membiarkan rasa geli diperutnya naik ke dada, tenggorokan, rongga mulut, lalu keluar dalam tawa menjengkelkan sebelum ia mengulurkan sebelah lengannya melingkari bahu Sawamura, membawa yang lebih muda dalam rangkulan paksa. "Bagaimana kalau aku mengantarmu, hm? Ayolah, aku hanya ingin berbaik hati, Sa-wa-mu-ra."

"Ck!" Sawamura berdecak gusar, berusaha melepaskan diri namun Kazuya tak mengizinkan. "Lepaskan aku, sialan!" Ia melotot tajam. "Pergilah dan urus urusanmu sendiri!"

Kazuya tertawa. "Hey, kenapa kau begitu galak padaku? Kau sangat-sangat sopan dan sangat-sangat manis di hadapan Chris, tapi kau mendesis dan menggeram di hadapanku. Diskriminasi apa ini?"

Sawamura menyikut rongga dada Kazuya hingga Kazuya mendesis kesakitan dan lengah, Sawamura memanfaatkan kesempatan itu untuk melepaskan diri dari rangkulannya. "Kau gila?" Suara Sawamura serak. "Kau benar-benar bertanya soal itu?" Ia mendengus dengan kasar, sombong, sekaligus kekanakan.

"Oke, biar kuberi tahu. Pertama, Chris-senpai terlihat bijaksana dan tenang. Sementara kau terus cekikikan, bermulut kasar, dan sarkas."

Kazuya menyeringai. "Bukankah itu artinya aku lebih bahagia? Tertawa adalah tanda bahwa kau bahagia, Sawamura."

"Tapi kau tidak tertawa karena merasa bahagia! Kau menertawakan orang lain! Kau tertawa seakan itu bisa membuatmu terlihat memenangkan semua hal! Itu bukan tawa yang tulus!"

Selama periode sepersekian detik, Kazuya menemukan tubuhnya membeku mendengar penuturan Sawamura. Kenapa kata-kata Sawamura secara ajaib mampu menyihirnya? Apa karena dia terlalu jujur? Apa karena dia tidak pernah berpikir sebelum bicara?

"Well, well, well." Kazuya mendekat lagi pada Sawamura dan memiringkan kepala, tersenyum riang. "Kalau begitu mungkin kau bisa mengajariku cara tertawa dengan benar? Jadi kenapa kau tidak naik ke mobilku dan kita bisa mulai kursusnya?"

Selama satu detik, Kazuya bisa merasakan sawamura terpaku. Di detik selanjutnya, ia mendorong dada Kazuya dengan kasar. "Jangan coba mengalihkanku!"

Kazuya tertawa lagi, tetapi ia menolak untuk dipukul mundur. Matanya beralih pada buku-buku di tangan Sawamura. Dalam gerakan secapat kedipan mata, Kazuya berhasil merenggut dua buku dari tangannya.

"HEY!" Sawamura menjerit. "KEMBALIKAN!"

Sawamura, aku hanya ingin menngodamu sedikit dan membuatmu terlambat—Kazuya menatap pemuda itu dan bicara pada hatinya—ikuti saja permainanku, dan jadilah anjing yang manis. Kazuya menemukan dirinya menyeringai lebar.

"MIYUKI KAZUYA!"

"Ya, ya, itu namaku. Tolong jangan terlalu sering menyebutkannya, aku merasa kau hendak merebutnya dariku."

Sawamura menggeram, maju dan berusaha meraih bukunya kembali. tetapi Kazuya bergerak cepat dan mengangkat buku itu ke udara, berjinjit, bersyukr akan selisih tinggi mereka yang menguntungkannya.

"KEMBALIKAN!"

"Mintalah dengan manis, Sawamura-kun."

"Arrgghh! Sebenarnya apa maumu!?" Sawamura masih berjinjit, tangan terangkat dan menggapai-gapai berharap dapat mencapai bukunya kembali, tapi yang ia dapatkan hanya udara kosong.

"Hmm…" Kazuya bersenandung, mendongak ke arah bukunya. "Coba kita lihat buku apa yang kau baca." Ia membaca judulnya lalu tertawa. "Aree~ Apa kau sungguh membaca novel-novel rumit seperti ini? Apakah kau bahkan bisa mengeja nama penulisnya dengan benar?"

Wajah Sawamura dihiasi kemarahan yang tajam. Bibirnya mengetat, tersinggung. Kulitnya memerah dan kazuya bisa merasakan napasnya memanas. Mungkin kata-kata yang barusan sedikit kelewatan, tetapi menyaksikan kemarahan Sawamura membangkitkan adrenalin asing di dasar perutnya. Memicunya untuk menekan tombol lebih kuat lagi.

Kazuya membuka sembarangan halaman buku dan menemukan sticky note tertempel di dalamnya, berisi kata-kata yang sengaja ditulis Sawamura dengan pensil. Tak beraturan, beberapa coretan yang terus diganti-ganti. Gelombang badai tak sabar, tanda silang besar, maupun satu kalimat yang diberi lingkaran tiga kali sebagai penegasan. Kerja keras Sawamura tertuang di sana, bagaimana otaknya berkutat dan berpikir untuk menerjemakhan makna tiap paragraf yang ada.

Kazuya tersenyum lebar, kembali menatap wajah Sawamura. "Hey-hey, bukankah ini berlebihan? Kau sampai harus berpikir berkali-kali begini hanya untuk menerjemahkan satu halaman, huh?"

Napas Sawamura bergetar, Kazuya bisa merasakan kemarahannya meningkat. "Kembalikan buku-bukuku, Miyuki Kazuya."

Kazuya mengabaikannya. "Serius, kau bahkan hanya membaca versi bahasa Jepangnya, tapi perlu berpikir sampai seperti ini? Aku mulai ragu kenapa kau bisa masuk Meiji."

Tombol terakhir. Jangan ditekan! Hati Kazuya berseru. Tetapi bibirnya menyeringai dan lidahnya masih bergoyang.

"Mungkin seharusnya kau menganalisa shojou manga saja alih-alih novel seperti ini, Ba-ka-mu-ra."

Habis sudah. Sawamura menggeram dan melompat kasar untuk merebut bukunya kembali. iaberhasil mencapainya, tapi Kazuya menolak melepaskan, satu buku tergelincir ke tanah sementara satu lainnya kini menjadi perebutan di antara keduanya. Saling tarik tak mau kalah.

"LEPASKAN!" Sawamura berteriak, habis kesabaran.

"Mintalah dengan manis, dan mungkin aku akan berbaik hati."

"BAJINGAN!" Sawamura menggertak, menyumpah-nyumpah sambil melotot padanya.

Kazuya tersenyum, masih menolak untuk melepaskan sampai akhirnya Sawamura mengambil sudut yang keliri dan menarik begitu kuat lalu,

SREEEK!

Beberapa halaman tersobek. Kazuya menelan ludah, buru-buru melepaskan bukunya dan membuat Sawamura terjengkang ke belakang lalu jatuh dengan pantat mendarat lebih dulu.

Kertas-kertas dari halaman yang tersobek berhamburan di sekitar sepatu Sawamura. Sedangkan pemuda itu tampak kaget dan tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.

Kazuya belum bergerak. Ia bahkan tidak bisa bergerak. Bibirnya terkatup kaku dan tak tahu harus berkata apa. Melihat Sawamura di atas tanah meratapi bukunya yang sobek juga sticky note berisi hasil pemikirannya berserakan.

Kazuya berhasil bedeham. "Secara teknis, kau yang membuatnya sobek—"

"Apa yang kulakukan…" Suara Sawamura bergetar, dan pemuda itu mulai bergerak, merangkak di tanah dan mengumpulkan lembaran-lembaran yang telah tersobek. "Aku merusak pekerjaanku selama berhari-hari." Suaranya menipis, serak, frustasi.

"Aku akan menggantinya." Kazuya berkata.

Sawamura seakan tak mendengar kata-katanya. Ia terus merangkak di tanah, tak memerdulikan apabila tubuhnya kotor. Bibirnya merancau dan tangannya mengais kertas-kertas yang kini sudah bercampur dengan tanah.

Kazuya mendekat ke arahnya. Berdiri tepat di depan Sawamura yang masih mengumpulkan semua serpihan kertas itu. Kazuya menarik napas, membuangnya cepat. "Sawamura, bangun." Ia memerintahkan.

"Oh tidak, apa yang sudah kulakukan… Aku mengerjakannya berhari-hari… aku bahkan tidak tidur. Dan sekarang aku mengacaukan semuanya…"

"Sawamura, cepat bangun. Kau hanya akan mengotori tubuhmu."

"Tidak… tidak… tidak… sekarang bagaimana aku bisa tepat waktu… ya Tuhan! Kenapa semuanya berantakan begini…"

"Sawamura, berdiri sekarang juga."

Kazuya menggertakkan gigi, muak dengan sawamura yang merundung di tanah dan mengabaikannya. Ia membuang napas dengan keras lalu membungkuk dan menyambar lengan Sawamura, menariknya kuat-kuat hingga pemuda itu tersentak berdiri. "Kubilang cukup!"

Sawamura menepis kasar tangannya lalu mulai mengumpulkan lagi serpihan kertas di tanah.

"SAWAMURA!"

Kazuya meremas bagian depan kaus pemuda itu dan kembali menariknya berdiri. Menyeretnya hingga jarak mereka hanya terpisah satu jengkal. Kazuya menatap lekat-lekat ke matanya. "Berhenti menangisi serpihan kertas kotor itu seperti orang tolol. Sudah kubilang aku akan menggantinya. Kita bisa ke toko buku sekarang. Aku akan membelikan yang baru. Kau bisa membelikan lebih dari satu buku padamu. Aku bisa memberimu lima, sepuluh, dua puluh, lima puluh. Jangan mengais-ngais tanah seperti gelandangan!"

Rahang Sawamura terkatup kuat. Garis kebencian. Sepasang mata emas menyala, berkaca-kaca, marah, terluka, sakit hati. "Berhenti menamparku dengan uangmu!" Ia berteriak tepat di wajah Kazuya dan mendorongnya menjauh. Akan tetapi cengkeraman Kazuya dengan cepat berpindah ke lengan atasnya, merekat kuat dan tak berniat melepaskan.

"Cukup sudah." Kazuya berkata tajam. "Sekarang masuk ke mobilku."

Sawamura berontak, dalam beberapa saat mereka saling beradu kekuatan sampai sawamura menendang tulang keringnya. Kazuya mendesis, cengkraman melonggar, Sawamura menyentak cepat tetapi tidak siap dengan gaya tariknya. Kazuya berusaha menggapai, namun kalah cepat oleh gaya gravitasi. Sawamura sudah lebih dulu jatuh tersungkur ke tanah.

Kazuya buru-buru mendekat, bingung, panik, bercampur jadi satu. "Kau baik-baik saja? Kau terluka?"

Sawamura bergetar, lalu perlahan-lahan bergerak dan bangkit berdiri tanpa menerima uluran tangan Kazuya. kepalanya menunduk, rambutnya menjadi tirai yang menghalangi Kazuya dari ekspesi wajahnya.

"Sawamura…"

Sawamura tidak menyahut, masih meunduk lalu mulai mengumpulkan satu demi satu buku-bukunya yang berceceran di tanah, ia tetap bungkam, dalam sekejap berubah menjadi seseorang yang sangat berbeda.

"Sawamura," Kazuya masih berusaha mengambil perhatian. Meneliti tubuh Sawamura selagi pemuda itu menumpuk buku-buku di pelukannya. "Lututmu berdarah, kau harus diobati."

Tidak ada respon.

"Sawamura, biarkan aku membawamu ke klinik."

Sawamura tetap membisu.

"Tsk!" Kazuya mendecakkan lidah gusar, menarik siku Sawamura dan menyentaknya hingga wajah mereka bertemu. "Berhenti mengabaikan—"

Kata-kata Kazuya menguap. Lidahnya kelu. Ia hanya sanggup membeliak menyaksikan ekspresi yang menghiasai wajah Sawamura saat ini. Matanya memerah, wajahnya basah karena air mata, kotor bercampur debu dan pasir, darah segar merembes dari luka gores di dagunya.

"Puas?" Suara Sawamura hanya serupa bisikan, tetapi Kazuya benar-benar dibuat lumpuh olehnya.

"Kau sudah puas sekarang?" Sawamura mendesis setajam pecahan kaca.

Sebelum otak Kazuya sempat bekerja, Sawamura sudah berlari pergi meninggalkannya yang masih mematung seperti orang bodoh.

Chris sendiri yang menyambutnya di pintu pagar begitu Eijun menekan bell.

"Tidak biasanya kau terlambat… Sawamura? Ada apa denganmu?"

Warna suara Chris berubah, kepanikan bercabang dalam gesturnya yang kaku. Eijun begitu malu, begitu marah, begitu sedih, dan tiba-tiba merasa tak berdaya. Ia berupaya menarik napas, tapi dadanya begitu sesak hingga suara rintihan tertahan keluar dari mulutnya.

"Ayo, masuk." Suara Chris lembut dan lugas, telapak tangan Chris yang hangat menempel ke bahunya dan menuntunnya masuk. Tangan Chris tetap bertahan di sana, memberi sentuhan tanpa pamprih bahkan ketika Eijun duduk di sofa ruang tengah.

"Tenangkan dirimu dulu." Usapan pada punggungnya membuat Eijun menarik napas, tersendat, berat menghimpit rongga dadanya.

Buku-buku dalam pelukan Eijun diambil hati-hati oleh Chris, meletakkannya perlahan di atas meja kaca, lalu berlanjut untuk membantu Eijun melepas ranselnya. Eijun merasa seperti anak kecil yang payah, tak berdaya ketika Chris mengurusnya dengan telaten.

"Minumlah,"

Tak ada nada memerintah dalam suara Chris. Segelas air disodorkan padanya, usapan di punggungnya berubah menjadi tepukan ringan berirama lambat.

Eijun meraih gelas itu dengan tangan gemetar, mengigiti bibir bawahnya yang menggigil dan minum dengan sembrono hingga berhasil menumpahkan beberapa tetes ke dagunya.

"Pelan-pelan saja." Kali ini suara Chris terdengar antara prihatin dan menahan tawa.

Eijun meletakkan kembali gelas kosong di atas meja dan bermaksud mengusap wajahnya yang basah dengan telapak tangan. Tetapi Chris buru-buru meletakkan beberapa lembar tisu basah ke telapak tangannya.

"Lebih baik kau gunakan itu."

Eijun mengeluarkan suara rengekan tertahan, masih menunduk dan mulai mengelap wajahnya dengan tisu pemberian Chris. Selama beberapa saat, hanya keheningan yang melingkupi mereka. Kemudian Chris beranjak dari sisinya, berjalan entah ke mana dan membiarkan Eijun duduk sendirian, tersendat menahan tangis sambil mengelap wajahnya yang penuh debu dan air mata yang mengering.

Uh, kotornya… Eijun reflek membatin begitu menatap gumpalan tisu di tangannya setelah membersihkan wajah. Noda coklat kehitaman, bercak darah, juga butiran pasir halus. Benaknya mulai membayangkan apa yang orang-orang pikirkan tentangnya selama perjalanan menuju ke sini? Untung saja ia tidak disalah sangka sebagai anak hilang atau tersesat menangis mencari ibunya.

'Apa kau sungguh membaca novel-novel rumit seperti ini? Apakah kau bahkan bisa mengeja nama penulisnya dengan benar?'

Suara Miyuki yang menyebalkan kembali menggema dalam kepalanya. Eijun menggertakkan gigi, mengepalkan tangan karena benci.

'Kau bahkan hanya membaca versi bahasa Jepangnya, tapi perlu berpikir sampai seperti ini? Aku mulai ragu kenapa kau bisa masuk Meiji.'

Berisik! Eijun merutuk dalam hati. Menyumpah dan memaki-maki.

'Mungkin seharusnya kau menganalisa shojou manga saja alih-alih novel seperti ini, Ba-ka-mu-ra.'

Miyuki-Bangsat-Kazuya! Eijun mengumpat dalam hati, menggigit bibir bawahnya kuat-kuat dan berusaha menekan semua gejolak emosi yang membakar dadanya.

'Jangan mengais-ngais tanah seperti gelandangan!'

Eijun merasakan napasnya bertambah sesak. Rasa sakit yang tak dapat ia mengerti menhujani jantungnya. Kenapa Miyuki harus sekejam itu? Dia mungkin bodoh, tapi dia masih punya perasaan! Miyuki pikir dirinya ini apa? Mainan anak-anak yang hanya bisa bertepuk tangan dan tersenyum terus-menerus?

Sial! Sial! Sial! Mau sampai sejauh apa kau menginjak-injak harga diriku, Miyuki Kazuya?

"Sudah?"

Eijun mendongak spontan mendengar suara Chris yang muncul tiba-tiba. Mata mereka bertemu, dan Eijun menyadari inilah pertama kalinya ia benar-benar menatap ke wajah Chris sejak sampai di rumah ini. Sebuah kotak obat berada dalam jinjingan Chris, yang sekaligus menjadi alasan kepergiannya beberapa menit yang lalu.

"Mm, wajahmu sudah bersih." Chris berkata ringkas, tersenyum begitu lugas. "Anak pintar." Ia memuji dan seketika Eijun merasakan wajahnya memanas dalam pencampuran malu, panik, dan sisa kesedihan. Eijun lekas menunduk untuk menyembunyikan wajahnya kembali. Tak lama, Eijun bisa mendengar Chris membuang napas panjang lalu kembali duduk di sebelahnya. Sedetik kemudian Chris meraih lengannya.

"Aakh!" Eijun merintih. Kapas basah cairan antiseptik mengusap luka di sikunya mengantarkan rasa perih.

"Tahan sebentar." Suara Chris terdengar seperti sedang menenangkan anak kecil. "Nanti kubelikan snack." Ia berjanji, kemudian kembali mengurus luka di siku dan lengan Eijun dengan teliti sambil memberi tiupan-tiupan kecil.

Mata Eijun berkaca-kaca. Kali ini bukan karena rasa perih pada lukanya melainkan karena perlakuan Chris yang begitu peduli dan membuatnya bahagia. Membuatnya merasa begitu diperhatikan, begitu penting, dan layak untuk dijaga sepenuh hati. Eijun mulai menangis.

"Sakit, yaa? Makanya lain kali hati-hati." Suara Chris tidak menghakimi sama sekali, justru terdengar sedikit mengejek, senyumnya terlihat peduli sekaligus juga menantang. Dan Chris terus melakukan hal yang sama pada luka-luka di kedua lututnya. Membersihkan dengan cairan antiseptik, lalu memberi obat luka berwarna kekuningan.

"Luka seperti ini saja menangis, dasar cengeng. Sia-sia jadi anak taekwondo."

"Se-senpai, jangan menggodaku…"

"Hmm? Padahal beberapa waktu yang lalu kau berani melawan Azuma. Kenapa sekarang jadi cengeng begini?"

Eijun menarik napas, sesak, tangannya yang bebas mulai mengusap-usap air mata yang menggenang di pipinya. Suara tangisannya yang parau mengisi udara di sekitar mereka. Eijun bisa melihat Chris tersenyum geli, mungkin sedang berusaha keras menahan tawa melihat tingkahnya yang seperti bocah.

"Kau jatuh di mana, sih? Coba sini lihat telapak tangannya. Ya ampun, kau terluka di segala tempat. Apa kau jatuh tersungkur?"

Alih-alih menjawab, Eijun justru menangis makin keras.

Lima belas menit kemudian, Eijun mendapati dirinya berada di kamar mandi, menghadap wastafel dan memandang refleksinya pada cermin datar di depannya.

"Ih, jeleknya." Eijun mencibir pada keadaan wajahnya sendiri. Dengan mata sembab, wajah bengap, dan luka gores di tulang pipi dan dagunya. "Aku terlihat seperti baru dibuang."

Wajar saja Chris tak berhenti memandangnya dengan senyum geli meski pemuda itu juga tak melewatkan waktu untuk memberi penghiburan kecil dengan menepuk-nepuk punggungnya saat Eijun menangis meraung-raung seperti balita.

Mengingatnya kembali membuat Eijun malu luar biasa. Ia buru-buru mencuci makanya, berharap dinginnya air mampu menetralkan rasa panas di yang mengumpul di wajahnya atau juga melunturkan rona merah yang terlanjur menyebar. Chris pasti menganggapnya kekanak-kanakan dan cengeng sekarang. Membayangkan hal itu membuat Eijun nyaris menangis lagi, lalu ia menjadi marah kerena merasa terlalu cengeng.

"Oke, sekarang tarik napas, Sawamura Eijun." Bermonolog, lalu membusungkan dada dan menarik napas dalam-dalam, menahan delapan detik dan menghembuskannya perlahan. "Rileks, rileks, seorang Sawamura tidak kenal takut dan tidak akan mundur atau terus-menerus mengunci diri di kamar mandi."

Setelah satu lagi tarikan napas panjang, Eijun menegakkan tubuhnya. Berdiri tegap menghadap cermin dan tersenyum lebar. "Yosh! Waktunya beraksi!"

Begitu keluar dari kamar mandi dan kembali ke ruang tengah keluarga Takigawa, Eijun menemukan Chris tidak seorang diri. Seorang wanita paruh baya berpotongan rambut pendek kini duduk di sisinya.

"Ah, kau sudah selesai?" Wanita itu berseru ketika menyadari kehadirannya, dan Eijun hanya sanggup tersentak kecil saat disambut oleh senyuman tulus keibuan. "Kemarilah, Sawamura-kun."

Eijun melirik Chris yang hanya mendapat balaan berupa senyum simpuldan anggukan samar. Dengan sedikit canggung, Eijun memberanikan diri untuk berjalan mendekat lalu membungkuk di hadapan wanita itu. "Selamat pagi, Takigawa-sensei. Maaf merepotkan dan mohon bantuannya!"

Ada suara tawa lembut memberkatinya kemudian. "Hai, hai. Maaf aku tadi tidak bisa langsung menyapamu, aku ada urusan sebentar."

Eijun menagakkan tubuhnya kembali, tersenyum ceria. "Tidak apa-apa, aku senang sekali Sensei sudah bersedia bertemu denganku."

"Hmm…" Nyonya Takigawa menggumam dan tersenyum penuh makna sambil melirik ke arah Chris. "Sulit menolak saat putraku sendiri yang mempromosikan."

Chris berdeham. "Mungkin sebaiknya ibu mulai membimbing Sawamura sekarang."

Nyonya Takigawa terkekeh ringan. "Baiklah." Ia berkata lugas, dan memakai kacamata dengan bingkai keemasan. "Jadi apa yang bisa kubantu, Sawamura-kun?"

Eijun justru berdiri terpaku. Kali ini ia benar-benar baru menyadari bahwa Nyonya Takigawa berparas seperti seorang wanita Jepang pada umumnya. Hanya saja ia memliliki aura seorang intelektual yang tak terbantahkan, juga pancaran garis kebijaksanaan di wajahnya yang membuat Eijun mengerti Chris mewarisi hal itu darinya.

"Sawamura-kun?"

"Eh?" Eijun mengerjap, lalu meringis dan menggeleng. "Ah, maaf. Tadinya aku sempat berpikir Sensei adalah seorang wanita Amerika, karena Chris-senpai bilang dulu Sensei mengajar di Princeton."

Nyonya Takigawa tersenyum penuh minat dan kembali melirik Chris. "Rupanya kau sudah tahu banyak, Sawamura-kun."

Tanpa alasan yang pasti, Chris jelas-jelas menghindari mata ibunya. Lebih memilih untuk menyambar segelas minuman dingin dari atas meja dan berpura-pura tak berminat pada percakapan.

Nyonya Takigawa kembali pada Eijun, tersenyum ramah. "Aku seratus persen berdarah Jepang, Yuu mendapat darah Amerika dari ayahnya. Dan memang benar aku sempat tinggal di Amerika dan menjadi dosen di Princeton selama dua tahun."

Eijun menangguk paham, lalu mulai beranjak ke arah buku-buku dan ranselnya. Sesaat kemudian, kembali lesu saat menyadari salah satu bukunya yakni Finnegans Wake, telah sobek di beberapa halaman.

"Jangan khawatir." Eijun merasakan sentuhan hangat di punggung tangannya, ada genggaman menyejukkan yang ia terima dan seulas senyuman hangat penuh pengayoman dari Nyonya Takigawa. "Aku punya buku seperti itu dalam versi aslinya, kita bisa menggunakan punyaku."

"Ta-tapi aku tidak yakin… bisa mengerti semua kata-katanya."

"Sawamura," Chris memanggil, dan saat mata mereka bertemu, Eijun disuguhi sebuah senyum dalam dua cabang yang berbeda, penerimaan dan tantangan. "Ada seorang blasteran Amerika dan dosen Princeton bersamamu di sini. Apa kau masih ragu kami dapat membantumu menerjemahkan kalimat yang tidak kau mengerti?"

"Aa.. yah. Uh, well… aku lupa, hehehe." Eijun tertawa keki, lalu terputus begitu merasakan getaran ponsel di saku celananya. Saat mengelurkan ponsel dari saku dan menatap ke layarnya, Eijun tertegun.

Incoming call…
Miyuki Kazuya

Tanpa sadar Eijun menahan napas, kemarahan dan rasa sakit sekonyong-konyong membebani dadanya. Sadar hanya akan berakhir buruk jika terus memandangi nama itu, Eijun memutuskan untuk menekan tombol off kuat-kuat. Dalam jangka detik, layar ponselnya meredup dan mati total.

"Kenapa tidak diangkat?"

Eijun tersentak, tidak sadar bahwa Nyonya Takigawa ternyata memperhatikan gerak geriknya. Dengan senyum agak kaku Eijun menggeleng pada wanita itu dan menyimpan ponselnya ke dalam ransel. "Tidak apa-apa, bukan hal yang penting. Aku ingin berkonsentrasi, karena mendapat kesempatan emas bisa dibimbing oleh Dosen Princeton."

Benar. Miyuki Kazuya tidak penting. Eijun tidak perlu membuang-buang waktunya yang berharga hanya untuk meladeni manusia licik dengan mulut beracun itu.


to be countinued


a/n: gimana ChriSawa di chapter ini? *nyengir*
saya sendiri kaget bisa update dalam jarak tiga hari, udah gemes pengen masukin Chris kayaknya.

Melon Kuning, hehehe biarkanlah Kuramochi senang-senang sama pacarnya sendiri. Kasihan dia ngikutin MiSawa terus, stres lama-lama :v Nah, ini Chris sudah muncul. Welcome to the club! ;)
Uchiha cherry's, emang dia mah lama nyadarnya hehe. Hmm nyatuin mereka, ya? Ohoho, sepertinya akan butuh waktu lebih lama untuk membangunkan sel-sel otak mereka berdua agar sadar :D
Qackueen, yoi SAVAGE banget nggak tuh langsung digampar mana kenceng banget.
yuuinone, aduh kok kamu yang nangis? Eijun aja nggak nangis kok. Yaa, emang sebenarnya lebih aman kalau pisah jadi imprint mereka nggak saling bereaksi dan sakit lagi :')
Genlite, Yes Kazuya! Move your ass before it's too late! Wkwkwk. I think a guy like him is too agogant to realize or admit his true feeling.
Sigung-chan, soal Kazuya flirting sama cewek blonde itu, Eijun nggak bereaksi karena posisi mereka jauh. Beda kota, Eijun di Nagano dan Miyuki di Tokyo. Di chapter 2 sempet dibahas, rasa sakitnya bakal timbul kalau mereka berada dalam jarak dekat, setidaknya jangkauan satu kota. Semakin jauh, semakin nggak ngefek. Itulah sebabnya Kazuya ke Jerman, dan Eijun tidak akan ke Tokyo lagi selepas lulus. Biar mereka nggak saling berdekatan dan menghindari reaksi imprint agar bisa hidup normal sama orang lain :)
Wkwkw, sebenarnya ngetik nggak seberapa pegel. Saya lebih kesulitan buat spell check, sepet banget mata ini :D
Narika, kenapa pada gemes sama Kazuya gini ya? Kayaknya dia emang lemot banget di sini sampe nggak nyadar juga :v Tapi semoga kamu diberi kelapangan dada dan kesabaran karena cinta butuh proses eaaaa wkwkwk
T18, alright this for you!
aurelliafr, aaaaw makasiih banget :') saya terharu bacanya, beneran :') Ngerasa ada yang nunggu-nunggu gitu, hisk. Semoga kamu tetap suka dan nggak bosen yaa ;)
Guest1, what!? Kamu nunggu momen sedih? Hmm, pada demen amat ya liat Eijun nangis-nangis :/
Anonymous, sabar-sabar… tarik napas dulu. Iya! Marahin aja, marahin. Gampar deh, biar cepet sadar mereka makin ogeb soalnya/nak.
Dyulia971, sama-sama. Terima kasih kembali karena sudah review ;) Eh? Munaroh? Wkwkwk, mereka rei karnasi Neneng Pea mungkin ya?
nerd reader, Lol, is kinda like him. But, actually… I put a lot of my own personality in kazuya's character here :') so sometimes, yeah… I just realize how bad am I.
alicarara, ashiyaaap! Sudah dilanjut ^^
Hikaru Rikou, makasih banyak ^^ syukurlah kalau suka, semoga bisa bertahan suka terus yaa hehe. Hmm… mari kita lihat apakah Miyuki-Nyebelin-Kazuya bakal sadar duluan? Ataukah keburu ditikung Pangeran Chris?
the25, soal jadwal update sebenarnya nggak tentu :D saya nggak bisa janji cepat update atau punya jadwal tersendiri. Tapi kalau memang proses pengetikan sudah selesaim saya usahakan langsung update. Thanks for waiting ;)
Teemi, halo juga, Teemi-san. Uwuwu makasih ^^ aslinya juga Eijun emang galak-agresif-barbar-lucu kok hehe. Thanks for waiting and keep supporting ;)
Guest2, WAH! Terima kasih banyak ^^ apakah sekarang sudah sampai chapter selanjutnya? Apakah kamu tetap suka atau mulai mengantuk? :D
Vivi99, Uhum, sebelumnya makasih banget dan saya nggak keberatan sama sekali soal review kamu kok, malah saya seneng banget :D Wkwkwk nggak kok, saya nggak baca pikiran kamu. Kebetulan saya juga kangen sama Chris dan pengen masukin doi di sini. Duh saya sampe bingung bales reviewnya gimana :v yang jelas makasih banget, saya senang kamu suka sama cerita ini. Pov Kazuya serasa lebih gampang buat saya karena beberapa alasan yang dirahasiakan ;)
Katie2937, sini saya kasih virtual hug dulu :') beneran saya terharu kamu sampe bikin akun untuk follow cerita ini lho, makasih banget yaa.. saya harap kamu nggak kecewa dan menyesal nantinya :D