Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan silakan—
"Sial."
Kazuya menyumpah. Melemparkan ponsel ke jok di sebelahnya lalu meninju kemudi dengan gusar. Kemarahaan dan perasaan tidak berdaya bergelung membelenggu dadanya. Ia benci hal seperti ini. Ia benci ketika mendapati dirinya tak berdaya menghadapi situasi yang ada. Ia benci ketika harus merasa bersalah.
Kau memang berengsek. Dewa batinnya berkata, menghakimi, menyindirnya dengan tajam. Ini semua di luar kendali, benar-benar di luar rencananya. Kazuya hanya merencanakan sesuatu yang kecil, sebuah lelucon sederhana dan tak bermaksud mengundang masalah besar. Tetapi semuanya berbalik arah dan menyerangnya dalam pusaran bencana yang tak dapat ia kendalikan.
"Damn it!"
Kazuya memejamkan mata rapat-rapat, jari-jarinya menekuk erat pada kemudi. Dalam kegelapan pandangannya, wajah Sawamura muncul kembali. Ekspresi terluka, mata berkaca-kaca menatapnya penuh kebencian, menyudutkannya pada sebuah fakta bahwa kali ini ia benar-benar sudah melampaui batas.
Bahkan setelah setengah jam berlalu, ia masih berada di tepat yang sama. Mobilnya masih terparkir di depan rumah yang ditinggali Sawamura, sementara hatinya masih terjebak kekalutan yang sama. Butuh sampai setengah jam baginya untuk menekan ego dan memutuskan untuk menghubungi Sawamura, hanya untuk mendapat sebuah penolakan telak.
Sekarang apa? Apa rencanamu? Kau sudah mengacaukan banyak hal. Apakah kau akan menetap di dalam mobilmu, merutuk seperti idiot sementara di luar sana kau tahu seseorang baru saja kau lukai dan mungkin akan membencimu sampai kiamat?
Kazuya membuang napas kasar, berpikir! Ia memerintahkan kepada otaknya. Berpikir, berpikir, berpikir! Kemudian sebuah nama melintas dalam kepalanya, Chris… Kazuya membuka mata lebar-lebar, mengangkat wajahnya dari setir dan kembali menyabar ponselnya.
Dering pertama…
Kazuya menarik napas dalam-dalam, mencoba mengatur kekalutan.
Dering kedua…
Perasaannya mulai terkendali.
Dering ketiga…
Kazuya mulai memikirkan apa yang harus ia katakan pada Chris.
Dering keempat…
"Halo?" Chris menjawab.
Kazuya menelan ludah. "Chris," suaranya terdengar seperti senar gitar yang disetel terlalu kencang. "Apa aku mengganggumu?"
Ada jeda, Kazuya bisa merasakan Chris mungkin bingung dengan panggilannya yang tiba-tiba. "Tidak juga, ada yang bisa kubantu?"
Kazuya menjilat bibir cepat, mengembuskan napas ringkas. "Apa Sawamura sedang bersamamu?"
Jeda kali ini lebih lama dari yang pertama, kemudian ia mendengar Chris menghela napas lalu, "Sebentar." Ia berkata bulat, dan Kazuya bisa merasakan Chris bergerak dari tempatnya semula. Berjalan ke tempat lain untuk mendapatkan sedikit ruang lebih privasi guna berbicara dengannya. "Miyuki, kau masih di sana?"
"Ya." Kazuya menyahut, membuang napas pelan. "Maaf menghubungimu tiba-tiba, tapi aku benar-benar ingin tahu apa kau sedang bersama Sawamura?"
"Dia di rumahku sekarang."
Untuk pertama kalinya dalam setengah jam terakhir Kazuya bisa merasakan napasnya sedikit lega. Setidaknya Sawamura baik-baik saja sekarang, tidak berkeliaran di jalanan atau semacamnya.
"Miyuki?" Suara Chris muncul kembali.
Kazuya berdeham. "Ya, terima kasih atas informasimu. Ku rasa… aku akan tiba di rumahmu sekitar sepuluh sampai lima belas menit lagi."
"Kau mau ke sini?"
"Well, ya… aku perlu bertemu dengan Sawamura." Kazuya menggigit ujung lidahnya, menggenapkan tekad. "Kalau begitu sampai bertemu di sana. Thanks, Chris."
Tanpa menunggu jawaban Chris, Kazuya langsung memutus panggilan lalu menyalakan mesin mobilnya.
…
Saat Kazuya tiba, Chris sudah menantinya di luar pagar (belakangan Kazuya sadar bahwa Chris bukan menantinya melainkan menghadangnya). Kazuya turun dari mobil, menghampiri pemuda blasteran itu, mencoba tampak sesantai mungkin seakan tidak bermasalah.
"Hai," Kazuya menyapa ringan, menampilkan seulas senyum tipis yang dibalas dengan anggukan samar oleh Takigawa muda. "Sibuk?"
Chris angkat bahu. "Selain kenyataan bahwa aku mahasiswa semester tujuh yang sedang melakukan penelitian bersama tim Professor Satoshi, kurasa semuanya normal. Bagaimana denganmu?"
Aku ingin segera menyudahi basa-basi ini, batin Kazuya. Akan tetapi ia berhasil mempertahankan senyumnya dan menjawab. "Aku bergabung dengan tim yang dipimpin Professor Nara, masih dalam tahap persiapan. Kami baru akan memulai penelitian satu sampai dua bulan ke depan." Kazuya menjelaskan ringkas, menatap Chris dengan satu alis terangkat samar. "Kau… sengaja menungguku di sini?"
"Mungkin." Chris berkata, tersenyum simpul. "Aku perlu mengajukan beberapa pertanyaan padamu. Kau keberatan?"
Aku hanya ingin menemui Sawamura, Kazuya ingin menjawab demikian. Tapi ia sadar situasi sekarang tidak berpihak padanya. Chris mengusai wilayah, dan Kazuya membutuhkan izinnya untuk masuk. "Silakan."
Chris mengambil jeda, mata ambernya mengamat-amati Kazuya dalam sebuah sangkar intimidasi elegan yang berbahaya. Aura seorang pemuda kaya, cerdas, dan berpengaruh. Kazuya telah terbiasa menghadapi tatapan itu, bahkan ia juga punya cara tersendiri untuk mengeluarkan aura serupa. Selama beberapa saat mereka hanya saling menatap, sampai kemudian Chris mengajukan pertanyaan pertama. "Kau bersama Sawamura sebelumnya?"
"Ya." Kazuya merasakan tendangan rasa bersalah kembali menyerang perutnya. "Aku bertemu dengannya kurang lebih satu jam yang lalu."
Chris mengangguk, lanjut ke pertanyaan kedua. "Kau yang membuatnya menangis?"
Tangan Kazuya mengepal kuat di sisi tubuhnya, ujung lidah digigit dan mata mencoba bertahan dari tatapan Chris. "Aku tidak tahu dia akan menangis."
"Dia menangis." Chris mengonfirmasi, tetapi tak ada ekspresi yang bisa Kazuya tangkap dari wajahnya. Chris begitu tenang, begitu bijak, begitu menakutkan dalam beberapa keadaan. "Dia menangis dan terluka dalam kedua hal, fisik dan psikis."
"Aku perlu bicara dengannya." Kazuya hampir bisa mendengar dirinya memohon.
"Mungkin sebaiknya jangan." Ujar Chris, lembut tetapi penuh kelugasan. "Jangan sekarang, maksudku. Yah, aku tahu ini bukan urusanku dan aku tidak berhak ikut campur atau melarangmu bertemu Sawamura. Tetapi mengingat seperti apa tangisnnya tadi, mungkin sebaiknya kau memberi dia waktu."
Mulut Kazuya menjadi sangat kering. "Separah itu?"
"Sekarang dia sudah lebih baik, kau tidak perlu cemas."
"Aku tidak cemas." Tukas Kazuya nyaris terlalu cepat. "Maksudku, syukurlah dia baik-baik saja. Tapi aku benar-benar harus menemuinya, Chris."
"Jangan sekarang."
"Kenapa."
"Dia baru membaik sekarang, Miyuki. Dia sedang belajar bersama ibuku dan mulai melupakan masalahnya. Dia sedang benar-benar bersemangat belajar sekarang, aku tidak ingin ada yang menganggunya."
Rahang Kazuya menjadi kaku. "Kau menyangka kedatanganku bakal menganggunya?"
"Miyuki, dia hanya mahasiswa semester tiga yang sedang menyesuaikan diri dengan tugas-tugas kuliahnya."
"Aku tahu. Aku hanya perlu bicara sebentar dengannya, tidak akan lama."
"Tapi dia tidak ingin bicara denganmu."
"Apa maksudmu?" Suara Kazuya menajam
"Kau menelponnya, kan? Dia menolak panggilanmu dan mematikan ponselnya. Bukankah itu artinya dia sedang tidak ingin bicara denganmu?"
Kazuya menunduk, merasakan tubuhnya memanas, napas bergetar dan rasa mual melejit dari lambungnya. Chris benar, dan ia benci hal itu. Sawamura telah menolaknya. Sawamura tidak ingin bicara padanya.
"Apa kau menyadari lingkaran hitam di bawah matanya?"
Kazuya kembali berpaling pada Chris.
"Sawamura sepertinya benar-benar sedang bekerja keras untuk tugasnya kali ini, Miyuki. Dia bahkan tidak ikut latihan taekwondo beberapa hari terakhir, dan lingkaran hitam di bawah matanya menegaskan bahwa dia juga mungkin tidak cukup tidur."
"Kenapa kau mengatakan ini padaku?"
"Dia kelelahan, Miyuki. Dan mungkin juga mengalami stres ringan. Aku tahu Sawamura adalah anak yang ceria, berhati kuat, dan tidak mudah menyerah, tapi dia juga manusia. Saat kau menekannya terlalu jauh di tengah kondisinya yang seperti ini, dia juga bisa terluka."
Gigi-gigi Kazuya saling beradu di dalam mulutnya. Telapak tangannya mengepal kian erat dan mulai kebas. Setiap kata yang melucur dari belah bibir Chris bagai menikamnya, mendorongnya ke sudut, menghimpitnya dengan rasa berdosa. Kenapa harus Chris yang memberitahu semua ini padanya? Kenapa harus Chris yang begitu memahami keadaan Sawamura? Kenapa hal ini sangat menganggunya?
"Chris," panggil Kazuya, menjaga suaranya tetap tenang. "Izinkan aku bertemu Sawamura. Aku akan membiarkannya melakukan apapun padaku, meneriakiku, mamarahiku, memaki-maki, bahkan menghajarku. Aku hanya perlu bertemu dengannya sekarang."
Chris mengamatinya seakan mencoba mencari tahu seberapa besar kesunggunghan dalam kata-kata itu. "Kenapa kau begitu bersikeras?"
Hal terakhir yang Kazuya butuhkan saat ini adalah ketelitian seorang Takigawa Chris Yuu. Kazuya sungguh tidak ingin menjelaskan lebih banyak pada pemuda itu. Ini seharusnya menjadi papan caturnya, dialah pemain, Chris dan Sawamura adalah pion-pionnya. Akan menjadi sangat tidak lucu jika pion-pion itu hidup dan mulai menyerangnya.
"Aku perlu meluruskan beberapa hal." Kazuya berhasil menjawab, memberi kesan tajam pada suaranya sebagai isyarat batas bahwa Chris tak seharusnya bertanya lebih jauh.
Namun Chris justru tersenyum, sama sekali tidak terlihat terpengaruh atas ketajaman nada suaranya. "Kadang-kadang, kau harus mengerti, tidak semua yang kau inginkan bisa kau dapatkan begitu saja." Chris menepuk bahu kirinya, tersenyum lagi. Sekali ini, senyum itu tak menyentuh matanya. "Pulanglah, Miyuki."
...
Jika Sawamura adalah pribadi yang tidak mudah menyerah, maka Kazuya adalah pribadi yang membenci kekalahan. Sekalipun Chris telah mengusirnya secara halus, Kazuya tidak lantas pergi begitu saja. Ia masuk ke mobilnya, mengambil laju mundur, memastikan Chris benar-benar menganggapnya pergi, tapi yang sebenarnya ia lakukan hanya membawa mobilnya bergeser sedikit. Tidak masalah jika Chris tidak mengizinkannya masuk, hal yang perlu Kazuya lakukan hanya menunggu Sawamura keluar dari kediaman Takigawa lalu menarik pemuda kidal itu ke mobilnya.
Kazuya menunggu. Hitungan jam berlalu dan rasa bosan mulai melanda. Ia melewatkan makan siang, terlalu khawatir andai ia berpaling sedikit saja maka ia akan melewatkan waktu ketika Sawamura meninggalkan kediaman Takigawa. Kazuya tetap menunggu, rekor terlama yang ia habiskan demi menantikan seseorang hanya untuk berbicara dengannya. Terdengar konyol, tetapi mungkin Sawamura Eijun adalah orang pertama dan terakhir yang bisa membuat seorang Miyuki Kazuya menunggu begitu lama.
Pukul setengah lima sore, Kazuya mulai jengah. Sawamura, sebenarnya apa yang sedang kau lakukan? Kemudian dewa batin Kazuya menyahut; pertanyaan sebenarnya, apa yang sedang kau lakukan di sini, Kazuya?
Kazuya mengerjap dan mulai berpikir. Benar, apa yang sebenarnya dia lakukan di sini sepanjang hari? Berdiam diri di dalam mobil dan mengamati pagar rumah Chris layaknya intel. Kenapa seseorang sepertinya rela membuang-buang waktu hanya demi menunggu Sawamura keluar dari sana dan mengajaknya bicara? Kenapa persoalan ini jadi terkesan begitu penting?
Sawamura marah padamu, dewa batinnya menjawab lagi. Benar, Sawamura mungkin marah padanya dan mengecapnya sebagai bajingan sejati. Lantas kenapa? Kenapa itu menjadi masalahnya? Mengapa ia peduli tentang apa yang Sawamura pikirkan tentangnya?
'Sawamura sepertinya benar-benar sedang bekerja keras untuk tugasnya kali ini, Miyuki.'
Kata-kata Chris beberapa jam yang lalu kembali berputar dalam kepala Kazuya. Sawamura kelelahan, Sawamura kurang tidur, Sawamura mengalami stres ringan, Sawamura bekerja keras demi tugasnya yang menyangkut novel-novel itu.
Novel-novel itu…
Sekelebat ingatan melintas dalam benaknya. Kazuya bukan penikmat sastra, tapi ia sekalipun paham bahwa judul-judul buku yang berada pada lengan Sawamura tadi pagi merupakan kumpulan novel-novel yang terkenal akan kerumitan maknanya. Kazuya mengingat kembali bagimana Sawamura menempelkan beragam sticky note warna-warni di antara halaman-halaman novelnya. Berisi catatan-catatan kecil hasil pemikirannya, atau poin penting yang ia simpulkan setelah membaca halaman itu berulang-ulang. Sawamura memang bekerja keras.
Dan apa yang kukatakan padanya? Kazuya menolak untuk mengingat kembali. Itu kata-kata yang kejam. Melihat wajah marah Sawamura memang menyengkan, tetapi kemarahan terakhirnya yang bercampur dengan ratapan terluka dan air mata itu… Kazuya yakin bukan itu yang ia inginkan.
"Andai keluarganya ada di sini dan tahu apa yang sudah kulakukan padanya, aku mungkin sudah mati terbunuh."
Kazuya tersenyum getir, lagi-lagi rasa bersalah menggerogoti hatinya. Sejak kapan ia menjadi seorang pembully? Sawamura hanya tinggal sendirian di Tokyo, dia baru akan menginjak dua puluh tahun, dan sedang berjuang dengan kuliahnya. Kenapa Kazuya begitu tega merundungnya terus menerus?
"Sawamura…" Bisik Kazuya pada akhirnya, menatap lekat ke arah pagar yang masih tertutup. "Kumohon, cepatlah keluar."
...
Pagar itu akhirnya terbuka pada pukul delapan lewat empat puluh menit di malam hari. Kazuya lekas membuka mata lebar-lebar, rasa lelah dan kantuknya sirna seketika dan ia mulai menyalakan mesin mobil sambil menatap lekat ke arah pintu. Tapi yang keluar dari sana bukanlah Sawamura, melainkan Chris bersama Fortunernya di balik kemudi, sementara Sawamura duduk tepat di sebelahnya.
Kazuya menahan napas tanpa sadar, pengangannya pada kemudi mengerat dan ia memutuskan untuk menunggu sampai mobil Chris benar-benar melintas ke jalanan, kemudian mulai membuntuti mobil Chris dari jarak yang aman.
"Kau sudah berjanji, Sawamura." Kazuya mengumam, tersenyum masam menatap mobil Chris yang berjalan di depan mobilnya. "Kau sudah berjanji tidak akan membiarkan Chris tahu di mana kau tinggal."
Jika Sawamura sampai melanggar janji itu dan membiarkan Chris mengantarnya pulang sehingga tahu lokasi tempat tinggalnya, maka Sawamura secara otomatis telah melanggar kesepakatan mereka. Hal itu mungkin bisa menjadi pertukaran seimbang dengan kesalahan Kazuya sebelumnya. Mereka mungkin bisa menganggapnya impas dan berbaikan tanpa harus ada yang meminta maaf. Tetapi tetap saja, Kazuya tidak mampu mengenyahkan rasa tak nyaman di dalam dadanya saat melihat Sawamura duduk di dalam mobil Chris. Kazuya tetap merasa marah karena Sawamura mengajak Chris ke rumahnya.
Namun pada kenyataannya mobil Chris tidak melaju ke tempat tinggal Sawamura, melainkan berbelok ke sebuah mall besar yang begitu ramai dengan penduduk Tokyo di akhir pekan.
Kazuya menjadi bimbang, ia telah membuntuti mobil Chris sampai ke area parkir. Chris dan Sawamura barusaja turun dari mobil dan menuju ke dalam mall . Haruskah Kazuya tetap mengikuti mereka? Apakah permainan intel ini harus berjalan sampai sejauh itu? Pada akhirnya Kazuya membuang napas, mencabut kunci mobilnya, menyamber topi baseball juga masker, lalu memutuskan untuk melanjutkan tahapan intelnya ke level-2.
Kazuya mengikuti dari jarak yang aman, merasa konyol karena ia terkesan seperti orang kurang kerjaan yang mengintai sepasang pemuda yang sedang kencan pada Sabtu malam. Tapi mungkin kata kencan memang tidak sepenuhnya salah. Karena ia bisa melihat bagaimana Sawamura dan Chris tampak bersenang-senang menjelajahi mall besar itu. kalaupun benar Sawamura habis menangis, Kazuya tidak lagi bisa melihat sisa-sisa kesedihan di wajahnya malam ini. Pemuda itu terlihat bersemangat, ceria, dan begitu hidup. Meski Kazuya juga tak dapat menyangkal bahwa beberapa bagian tubuh dan wajah Sawamura memang ditempeli plester luka.
Chris dan Sawamura memasuki toko buku, Kazuya masih mengikuti dan mengintai. Mereka berbelok ke blok sastra dan kemudian mulai berdiskusi tentang beberapa buku sebelum Sawamura memasukkan sebuah buku ke dalam keranjang. Selanjutnya mereka berbelok ke bagian buku biografi. Harus Kazuya akui, Chris memang memiliki potensi menjanjikan untuk membuat orang-orang terpikat padanya. Dia berdarah Jepang-Amerika, berwajah tampan, tubuh tinggi atletis, warna mata yang menarik, dan lebih dari itu semua, Chris dilimpahi dengan otak brilian di balik tempurung kepalanya. Chris praktis tidak kesulitian meladeni obrolan Sawamura tentang sastra meski itu bukan jurusan kuliahnya.
Kazuya tidak memperhatikan buku apa yang Sawamura ambil di bagian biografi, tetapi ia berhasil menjaga konsentrasinya untuk tetap mengikuti dua orang itu sampai mereka berbelok ke sektor manga.
Shoujo manga… Tentu saja, kenapa tidak? Sawamura tetaplah Sawamura. Bagaimanapun tampak bersemangat pada dua sektor kunjungan sebelumnya, ia bisa menjadi tiga kali lipat lebih bersemangat dari itu saat memasuki area komik-komik romantis. Chris sepertinya maklum, sesekali tersenyum simpul ketika Sawamura berbinar-binar antusias dan mulai menjelaskan masing-masing sinopsis dari komik yang diambilnya secara acak.
Sawamura terlihat sangat bahagia. Dan Kazuya tidak tahu bagaimana ia seharusnya menyikapi hal itu. Sawamura tampak sangat menikmati waktunya bersama Chris. Ia tersenyum nyaris sepanjang waktu, tertawa riang, berceloteh penuh semangat, dan matanya menyala-nyala dalam bentuk kegembiraan yang jujur. Sekalipun sesekali wajah Sawamura memerah, itu bukan karena kemarahan, melainkan karena tersipu malu, sedangkan Chris hanya tertawa geli dan mengacak rambutnya.
Bentuk interaksi itu… Kazuya membatin getir. Bentuk intraksi manis seperti itu tidak pernah muncul dalam sekenario antara Kazuya dan Sawamura. Saat bersamanya, Sawamura nyaris tidak pernah tersenyum selepas itu, terlihat sebahagia itu, maupun tersipu-sipu dengan cara menggemaskan seperti itu. Sawamura selalu berteriak padanya, menggertak, mendesis seperti kucing liar. Sawamura tidak pernah menatap Kazuya dengan sinar kekaguman seperti saat dia menatap Chris. Sawamura tidak pernah terlihat benar-benar bahagia saat bersama Kazuya. Fakta itu telah berhasil mengukir senyuman getir di bibir Kazuya.
Kazuya telah mengenal Sawamura selama kurang lebih tiga bulan, menciumnya lebih dari satu kali, tidur dalam satu kamar yang sama dengannya selama dua malam, dan berlibur bersamanya satu kali. Sementara Chris mengenal Sawamura selama satu tahun, tidak pernah menciumnya, gagal menjadi roommatenya, dan tak pernah berlibur dengannya. Tetapi Kazuya tetap merasa dikalahkan dengan telak karena Chris tak pernah kesulitan membuat Sawamura tertawa bahagia.
Setelah sekurang-kurangnya setengah jam menjelajahi area manga, akhirnya Sawamura memutuskan untuk menuju kasir dan membayar belanjaannya. Kazuya membuang napas, mungkin sebaiknya ia keluar lebih dulu dan menunggu dua orang itu selesai membayar lalu lanjut mengintai. Kazuya baru tiga langkah berbalik arah menuju pintu ketika merasakan getaran pada ponselnya. Langkahnya berhenti, ia menarik ponsel dari saku celananya dan melebarkan mata saat melihat sebuah pesan LINE masuk atas nama Takigawa Chris Yuu.
'Sampai kapan kau mau mengikuti kami?' [21.47]
Kazuya membeku. Mamaksakan lehernya untuk menoleh ke arah Chris, tapi pemuda blasteran itu kini sedang berbicara dengan Sawamura dan tidak menoleh ke arahnya. Namun itu tetap tidak menghapuskan fakta bahwa Chris sadar Kazuya mengikuti mereka.
Sial.
Kazuya mengantungi kembali ponselnya, menunduk, dan mengambil langkah lebar-lebar keluar dari toko buku.
…
Keesokan harinya, Kazuya menemui Kuramochi di Starbucks pada pukul sepuluh pagi. Pemuda berambut hijau itu sudah menunggu di sana ketika Kazuya tiba, duduk di atas kursi tinggi bersama segelas besar kopi, dan asyik memainkan ponsel yang Kazuya yakini telah tersambung dangan wifi gratis Starbucks.
Kazuya memutuskan untuk memesan lalu berjalan ke arah Kuramochi dan langsung duduk tepat di sebelahnya. Kuramochi menoleh, wajahnya tampak segar. Sesuatu yang jarang terjadi pada seorang Kuramochi Youichi di hari Minggu pagi. Tetapi mungkin suasana hati pemuda itu memag sedang bagus dan Kazuya tidak bisa menyalahkannya. Sebaliknya, dengan sedih Kazuya harus mengakui bahwa kondisinya tidak sebagus Kuramochi.
"Wow," Kata Kuramochi. "Kau kelihatan payah."
Kazuya tersenyum kecut. "Senang bertemu dengamu juga, Kuramochi."
Kuramochi mengerutkan hidungnya. "Serius, kau payah. Apa-apaan kantong matamu itu? Dan kau tadi sempoyongan?"
Kazuya membuang napas pendek. "Aku cuma sedikit kelelahan."
"Kelelahan?" Kuramochi mengulang. "Memang apa yang kau lakukan sepanjang hari kemarin? Setelah menolak ajakanku, kupikir kau hanya tidur seharian."
"Percayalah, aku bahkan tidak mau mengingatnya." Kazuya berkata, membuang napas lagi. Ia bahkan belum makan sampai sekarang, dan ia benci ketika pikirannya justru lebih berfokus pada ide-ide untuk mengajak Sawamura berbicara ketimbang menu makanan apa yang seharusnya ia santap untuk mengusir kelaparan di perutnya.
"Kau mendapat masalah?" Selidik Kuramochi, benar-benar sudah melupakan ponselnya dan lebih tertarik mencari tahu apa yang membuat Kazuya kelihatan payah.
"Kau bertengkar dengan Sawamura?"
Pundak Kazuya menjadi tegang selama sepersekian detik. Ia mencoba tampil santai, tetapi terlambat, Kuramochi sudah membaca perubahan gestur tubuh dan ekspresinya.
"Kau benar-benar kreatif untuk memulai pertengkaran dengannya, huh?"
Kazuya hanya memutar mata.
"Tapi sepertinya hanya kau yang kelihatan payah. Sawamura masih bisa bersenang-senang sepanjang hari kemarin."
"Apa?"
Bahu Kuramochi berkedik ringan. "Well, aku menghubungi Sawamura kemarin. Tapi dia baru membalasnya setelah pukul sepuluh malam, kami chatting sebentar dan rupanya dia habis bersenang-senang dengan Chris."
"Apa lagi yang Sawamura bicarakan denganmu? Apa Chris mengantarnya pulang? Ke mana saja mereka tadi malam?"
"Whoa… sekarang kau terdengar seperti kekasih pecemburu."
"Jangan bercanda sekarang, Kuramochi. Aku benar-benar kesal karena anak itu tidak menjawab telponku sampai detik ini."
Kuramochi tergelak geli, tampak puas melihat Kazuya jengkel. "Sana ambil kopimu dulu, dan mungkin nanti aku bisa ceritakan sedikit tentang Sawamura padamu."
Entah hanya kebetulan semata atau memang Kuramochi begitu ahli memprediksi waktu, nama Kazuya dipanggil atas pesanan kopinya yang telah selesai dibuat.
Kazuya menghela napas, berjalan untuk mengambil kopinya lalu kembali duduk di sebelah Kuramochi. "Apa saja yang kalian bicarakan?"
"Kau benar-benar out of character, Miyuki. Kau sadar?"
"Kuramochi," Kazuya tidak berniat main-main lagi. "Aku serius."
Kuramochi mengangkat tangan tanda menyerah. "Kami tidak bicara banyak, dia hanya bercerita bahwa dia baru kembali setelah pergi bersama Chris-senpai-yang-baik-hati."
"Dia baru kembali setelah pukul sepuluh malam?" Dengus Kazuya tajam. "Bagus sekali."
"Oh ayolah, Miyuki." Kuramochi merotasikan bola matanya jengah. "Sawamura bukan anak-anak, dan lagi pula mereka hanya pergi demi keperluan tugasnya lalu mampir ke supermarkat untuk membeli kebutuhan sehari-hari Sawamura. Sehabis itu langsung pulang."
Kazuya tersenyum sinis. "Chris menemaninya seharian. Kemudian Chris mengantar sampai ke depan rumah, huh? Dia melanggar penjanjian denganku, dasar bocah labil."
Mata Kuramochi menyipit. "Serius, Bung. Minum saja kopimu dan mungkin kau bisa sedikit rileks."
Kazuya mendengus, tapi Kuramochi mungkin ada benarnya. Ia butuh kafein untuk membuat pikirannya tetap terkendali dan rileks. Jadi ia meraih gelas kopinya dan mulai menyesap perlahan.
"Chris hanya mengatarnya sampai halte bus di dekat Meiji. Sawamura tidak melanggar perjanjian denganmu."
Kazuya menelan kopinya, menatap Kuramochi dengan alis terangkat. Mencoba mengabaikan secuil kegembiraan tak masuk akal yang merayap di dadanya ketika mendengar penuturan pemuda itu.
"Sebenarnya apa yang kau lakukan kali ini? Sawamura sama sekali tidak membahas tentangmu, dan seandainya hari ini tampangmu tidak kusut begitu aku tidak akan tahu kalian bertengkar lagi."
Kazuya menghela napas panjang, kelelahan kembali menyerang tubuhnya. "Jika aku memberitahumu, kau pasti akan menghajarku."
Sudut bibir Kuramochi berkerut tegang. "Ya sudah!" Pemuda itu mendengus sebal dan meminum kopinya dengan rakus. "Mungkin sebaiknya aku memang tidak tahu. Aku benar-benar punya firasat kali ini kau sungguh melampaui batas keberengsekkanmu."
"Aku akan mencoba minta maaf padanya besok." Kazuya memutuskan bulat-bulat. "Aku mungkin harus memberikannya hadiah juga." Ia menatap Kuramochi meminta saran. "Apa yang sebaiknya kubeli?"
"Hah? Kau pikir orang seperti Sawamura bisa kau beli dengan hadiah atau uangmu?"
Kazuya meringis. Sawamura jelas-jelas memakinya setiap kali Kazuya mencoba menyelesaikan masalah dengan uang. "Lalu aku harus bagaimana?"
"Pikirkan sendiri."
"Hey, kau temanku."
"Terkadang, menjadi teman yang baik berarti tidak perlu membantu."
"Kau mulai terdengar seperti Chris."
"Oh, terima kasih." Kuramochi menampilkan cengiran kemanangan. "Lagi pula Chris pintar dan lebih disukai oleh Sawamura."
...
"Demi Tuhan, Sawamura. Sampai kapan kau mau main kucing-kucingan begini?"
Eijun mencebik pada Shinji dan tetap berjalan menaiki tangga darurat yang sepi. "Aku tidak memintamu ikut denganku." Sahut Eijun, berhenti saat menginjak lantai enam dan mengamati deretan ruang kelas sejenak lalu berpaling pada Shinji yang terlihat mulai kehabisan napas. "Kau bisa pergi ke manapun yang kau mau."
Shinji kelihatan sedang berusaha untuk tidak mencekiknya. "Dan membiarkan pundi-pundi dosaku bertambah karena terus membohongi Miyuki-senpai? Tidak, terima kasih."
Eijun angkat bahu, mulai berjalan sambil melongok ke dalam deretan kelas yang berjejer, mencari kelas yang kosong untuk tempat persembunyian sampai satu jam ke depan. "Kau bisa mengabaikannya. Pura-pura saja tidak dengar saat iblis itu bicara padamu."
"Pertama-tama dia bukan iblis. Kedua, aku masih punya sopan santun pada senior. Ketiga, orang itu lama-lama sama keras kepalanya sepertimu. Astaga, aku mulai lelah dengan drama ini!"
Eijun masuk ke dalam ruang 612 diikuti Shinji di sebelahnya. Akhirnya bisa menemukan kelas kosong, duduk bersandar dan membuang napas panjang.
"Serius, sebenarnya apa lagi masalah kalian kali ini?"
Lidah Eijun bedecak, alih-alih menjawab Shinji, ia justru melipat tangannya di atas meja dan mengubur wajahnya di sana. "Aku ngantuk, bangunkan aku satu jam lagi."
Jitakan keras tepat di ubun-ubunnya. "SAKIT!" Eijun menjerit. "Kenapa kau suka sekali menganiayaku!? Aku bisa meleporkanmu atas tuduhan kekerasan!"
Shinji mengepalkan tinju dan memasang wajah seakan ia siap melayangkan selanjutnya. Matanya menatap sangat galak pada Eijun dan bibirnya membentuk garis kesal mutlak. "Masih berani kau bilang begitu setelah merusak ketentraman hidupku selama tiga hari berturut-turut?"
Eijun menelan ludah. "Ampun, Kanemaru-sama!"
Shinji berdecak, kepalan tinjunya menghilang kemudian pemuda itu menghela napas panjang. "Kau harus bicara padanya, Sawamura. Ini sudah tiga hari semenjak Miyuki-senpai mulai berusaha bicara padamu. Kau bahkan tidak tidur di tempatmu sendiri sejak kemarin malam. Kau tidak bisa menghindar terus."
Eijun menunduk lesu, Shinji memang benar, ia tidak mungkin lari selamanya dari Miyuki Kazuya. Jika dihitung sejak Sabtu, maka ini sudah hari kelima sejak Eijun mengabaikan Miyuki secara besar-besaran. Menolak semua teleponnya, tidak membaca pesan atau chat yang dikirimkannya, bahkan menolak untuk bicara dengannya di kampus dan sengaja menghindar sejauh mungkin. Eijun bahkan tidak pulang karena berasumsi Miyuki bisa saja sudah berada di dalam rumah dan menjebaknya, mengingat pemuda itu masih memiliki kunci cadangan.
"Sawamura?"
Eijun menjilat bibir bawahnya, menatap Shinji memelas. "Aku hanya belum mau bicara dengannya. Aku masih kesal."
"Setidaknya beri dia kesempatan, dia ingin bicara denganmu. Kelihatannya dia juga benar-benar ingin minta maaf."
Eijun tidak bisa membantah, ia tahu cepat atau lambat ia perlu bicara dengan Miyuki. Cepat atau lambat mereka berdua harus memperbaiki kekacauan ini dan berhenti merepotkan orang sekitar. Eijun tidak mungkin terus hidup nomaden hanya demi menghindari Miyuki.
"Sebenarnya apa sih yang kau khawatirkan?" Tanya Shinji lagi. "Kenapa semakin lama kau terkesan semakin defensif pada Miyuki-senpai?"
Eijun kembali lesu, membiarkan kepalanya terkulai ke meja dan menghela napas berat. "Susah dijelaskan." Rengeknya, kembali memelas pada Shinji. "Instingku bilang aku harus menghindarinya."
"Tidak masuk akal." Tukas Shinji lugas, tangannya bersilang telak di depan dada. "Katakan saja alasanmu. Seaneh apapun itu, aku akan mencoba mempertimbangkannya."
Eijun cemberut. "Kenapa kau selalu menganggap pemikiranku aneh, sih?"
"Cepat jelaskan saja, Sawamura. Jangan coba-coba mengalihkan pembicaraan!"
"Galak." Cibir Eijun, tetapi kemudian ia mulai berpikir atau lebih tepatnya mencoba mencari kata-kata yang tepat soal sikap defensifnya pada Miyuki. "Kau ingat aku pernah bilang bahwa aku bisa merasakan otak manipulatif maupun misi khusus dalam kata-kata Miyuki Kazuya?"
Shinji mengerutkan alis dan menyipitkan mata. "Kau serius soal itu? Aku kira itu hanya bualanmu."
"Aku serius." Tegas Eijun. "Seolah-olah aku bisa melihat warna suaranya."
Alis Shinji semakin berkerut. "Sawamura, aku tahu kau anak sastra, tapi jangan pakai sinestesia sekarang."
"Ini bukan sinestesia!" Sahut Eijun tak sabar, mengangkat kembali kepalanya dari meja dan menatap Shinji dengan keras. "Aku benar-benar bisa merasakan ia punya motif khusus, dia merencanakan sesuatu, dan itu semua demi kesenangan pribadinya. Dia seperti… mencoba memancingku ke arah yang dia mau—ke dalam jebakan yang sudah dia persiapkan."
Shinji hanya diam, mungkin berusaha mengukur seberapa masuk akal kata-kata Eijun sebelumnya. Atau mungkin juga sedang mempertimbangkan apa ia perlu membawa Eijun ke rumah sakit jiwa.
"Kalau memang benar begitu," Shinji akhirnya merespon, suaranya tenang. "Bukankah kau hanya perlu menyeleksi ucapannya saja? Kau bisa merasakan mana ucapannya yang sungguh-sungguh dan mana yang hanya berusaha memanipulasimu, kan? Kalau begitu kau hanya perlu bertahan dan tidak terseret oleh ucapan manipulatifnya. Ambil yang baik, buang yang buruk. Sederhana, kan?"
"Andai bisa semudah itu."
"Maksudmu?"
Eijun mengigit bagian dalam pipinya dan memejamkan mata sambil mengumpulkan ketidaknyamanan asing di dadanya. Ia perlu melisankan kegelisahan ini sebelum menelannya hidup-hidup. "Aku tahu kedengarannya konyol. Tapi meski aku tahu dia hanya sedang memanipulasiku, meski aku tahu dia hanya memanfaatkanku, berbohong padaku, memancingku, atau menjebakku… aku tidak bisa menolaknya. Aku tetap mengikutinya. Aku masih ingin percaya padanya."
Shinji berkedip, kemudian tertegun.
"Karena itulah aku ingin menghindarinya. Karena itulah aku tidak mau bertemu atau bicara padanya. Karena aku tahu pasti, saat aku mulai menatap dan bicara padanya, aku pasti akan langsung memaafkannya meski aku tidak mau mengakui hal itu. Jika aku terus seperti ini… aku akan benar-benar terseret olehnya."
Shinji tak berkata apa-apa, tapi Eijun bisa menebak Shinji mungkin sudah benar-benar menganggapnya tidak waras sekarang.
"Ini sama sekali tidak masuk akal dan terdengar bodoh." Eijun berkata lagi. "Tapi jauh di dalam hatiku, aku ingin percaya pada Miyuki Kazuya. Dan itu benar-benar menyebalkan."
...
"Kau mungkin harus menemuinya."
Oh tidak, keluh Eijun dalam hati. Jangan Chris juga.
"Dia sudah berdiri di sana sejak kita mulai latihan, Sawamura."
Eijun menatap mata amber Chris dan nyaris menangis. "Maaf… aku tidak bermaksud mengganggu latihan semua orang di sini."
"Bukan itu masalahnya." Chris menghela napas kecil, melirik sekilas ke depan ruang dojo, kemudian kembali bersitatap dengan Eijun. "Lagipula latihan kita juga hampir berakhir, yang lebih kuresahkan justru Miyuki sendiri. Hanya Tuhan yang tahu mau berapa lama dia menunggumu di sana."
"Senpai bisa mengusirnya. Chris-senpai ketua klub, jadi bilang saja kalau dia mengganggu. Usir dia. Tendang saja pantatnya, atau kirim beberapa angota klub untuk menyerbu dan menyeretnya pergi."
Chris mengangkat satu alisnya tinggi. "Kau kejam juga."
"Masih belum seberapa jika dibandingkan dengan iblis itu sendiri. Dia mungkin reinkarnasi Hitler, atau lebih parahnya lagi titisan Loki. Si Licik dengan mulut bangsatnya."
Sudut bibir Chris berkedut geli, tapi berhasil menahan untuk tidak tertawa. "Kau benar-benar dendam, ya?"
Eijun menggeleng dengan lesu dan mendadak begitu berminat menatap jempol kakinya.
"Sawamura," suara Chris hangat, datang bersama sentuhan familiar di bahunya. Tiap kali Chris menyentuhnya seperti ini, tubuh Eijun akan otomatis mendongak untuk menemui mata Chris. Chris tersenyum, cukup tipis tapi nyata adanya. "Tidak baik bermusuhan terlalu lama. Kau bukan anak kecil lagi."
"Senpai…" Eijun sebal bagaimana suaranya terdengar merajuk. "Kenapa Chirs-senpai membelanya, sih? Orang seperti itu tidak pantas dibela, tahu!"
"Aku tidak membela Miyuki." kata Chris dengan sabar. "Aku hanya berpikir kau bisa lebih baik dari ini, hm?"
Eijun menunduk lagi, memainkan bibir bawahnya dengan sebal. "Aku belum ingin bicara dengannya."
"Dengar, kau temui saja Miyuki sekarang, oke? Kalau memang kau belum ingin bicara padanya sekarang, kau cukup katakan seperti itu. Bilang padanya kau butuh waktu, setidaknya biarkan mengerti apa maumu."
"Tapi…"
Tangan Chris melayang ke rambutnya, mengacaknya ringan diiringi senyum yang hangat. "Kalau memang dia macam-macam, aku tidak akan melarangmu menggunakan beberapa jurus taewondo untuk melawannya. Sana."
Eijun ingin membantah, tapi ia tahu itu hanya akan berakhir sia-sia. Chris benar, dan Chris telah memberinya solusi paling masuk akal demi kenyamanan bersama. "Baiklah, aku akan bicara padanya."
Chris tersenyum puas, menepuk bahunya dua kali lalu megangkat dagunya ke arah pintu sebagai isyarat, cepat lakukan sekarang. Eijun pun menurut. Berjalan ke pintu dojo lalu menemukan Miyuki Kazuya masih berdiri di sana. Bersandar pada koridor, menunduk menatap sepatunya seperti anak hilang.
Eijun berhedam kecil.
"Sawamura!" Miyuki tersentak dan menyebutkan namanya seakan-akan baru memang undian. Matanya melebar dalam balutan rasa kaget, antusias, dan juga linglung. Eijun belum pernah melihat Miyuki seterbuka ini. Biasanya pemuda itu terlalu licin dan menyembunyikan semua emosinya dengan cengengesan atau tawa menjengkelkan.
"Apa maumu?" Wow! Eijun sendiri bahkan tidak tahu suaranya bisa terdengar sedingin ini.
Miyuki mengatupkan rahangnya, menelan ludah lalu membuang napas perlahan. Ekspresinya kembali tenang. "Bisa kita bicara?"
Aku tidak mau bicara denganmu, Eijun ingin menjawab demikian. Tetapi ia tahu sudah saatnya berhenti menghindar. "Aku masih latihan."
"Aku bisa menunggu."
"Aku masih mau latihan tambahan setelah ini."
"Aku akan menunggu."
"Bisa sampai malam."
"Bukan masalah."
Eijun mati gaya. Sejak kapan Miyuki jadi segigih ini, sih?
"Aku akan menunggu sampai kau selesai." Miyuki berkata lagi, memaksakan senyum yang tampak aneh di wajahnya. "Setelah itu kita bicara dan aku akan mengantarmu pulang."
Egois. Menyebalkan. Menyebalkan. Menyebalkan. Eijun begitu ingin berteriak dan mendebatnya, tapi ia mungkin akan diusir karena telah membuat keributan. Jadi hal maksimal yang bisa Eijun lakukan hanya mengepalkan tangan kuat-kuat dan mendegus kasar. "Terserah." Kemudian berbalik masuk ke dalam dojo dan meninggalkan Miyuki yang barangkali lagi-lagi merasa sudah memenangkan pertandingan.
…
Hampir pukul sembilan malam saat Chris akhirnya memutuskan dengan tegas bahwa Eijun harus berhenti. Pemuda blasteran itu sepertinya tahu bahwa Eijun hanya mengulur-ulur waktu selama mungkin pada sesi latihan tambahannya untuk membuat Miyuki bosan dan akhirnya memilih pergi.
"Ini sudah larut malam, Sawamura."
Eijun mengusap keringat di dahinya. "Tolong lima belas menit lagi."
"Kau mengatakan itu lima belas menit yang lalu. Kau juga mengatakannya setengah jam yang lalu. Aku punya firasat kau akan mengatakanya lagi lima belas menit kemudian jika aku menuruti kemaumanmu sekarang."
Eijun mengigiti bibir bawahnya. "Aku tidak ada kelas besok, jadi aku ingin lebih banyak latihan malam ini."
Chris tersenyum tipis. "Kau benar-benar gigih ya." Eijun sempat percaya pada senyum itu. percaya bahwa Chris akan memenuhi keinginannya lagi, membantunya berlama-lama menghindari Miyuki. Tetapi sejurus kemudian Chris justru menggelengkan kepala, dan berkata dengan begitu bijaknya. "Ganti bajumu sekarang, tidak baik membuat orang menunggu selama berjam-jam."
Eijun cemberut. "Aku lebih suka kalau dia habis kesabaran dan pulang dari tadi."
Tentu saja Miyuki belum pulang.
Begitu Eijun dan Chris selesai berganti baju dan melangah bersama keluar dojo, Miyuki masih berda di tempat yang sama seperti beberapa jam yang lalu. Bedanya kali ini Miyuki tidak berdiri sambil menatap sepatunya seperti anak hilang. Melainkan duduk pada bangku besi panjang dengan airpods di kedua telinganya.
Miyuki mendongak ke arah mereka. Eijun nyaris bisa merasakan betapa pemuda itu sedang mencoba menahan kesal karena dibuat menunggu begitu lama. Garis di seputar bibirnya berkerut, menahan umpatan atau sindiran berbau sarkasme. Tetapi Miyuki berhasil melengkungkan senyuman maha tipis, melepaskan airpods dan lekas berdiri. "Sudah selesai?"
Eijun tidak menjawab, ia justru berpaling pada Chris dan membungkuk kecil. "Terima kasih untuk hari ini, Chris-senpai."
Chris balas tersenyum. "Jangan lupa mandi." Ia mengingatkan lalu melirik jam tangannya lalu berpaling pada Miyuki dan memberi anggukan kecil.
Miyuki membalas sapaan itu dengan anggukan keki. Eijun menyadari sesuatu dalam mata Chris membuat Miyuki tapak sedikit segan untuk balas menatap Chris. Apa ada sesuatu yang terjadi di antara mereka sebelumnya? Lamunan Eijun buyar ketika merasakan tepukan lugas di bahunya.
"Aku pulang duluan, hati-hati di jalan."
Keadaan menjadi begitu canggung ketika Eijun hanya berdua saja dengan Miyuki di dalam mobil. Miyuki mendadak terlalu asing untuk melempar lelucon jahat atau cibiran sarkastik padanya. Sementara Eijun menolak untuk berpikir obrolan apa yang sebaiknya ia mulai untuk memcah gelembung kecanggungan ini.
Akhirnya Miyuki menyalakan mesin mobil, membuang napas panjang kemudian meliriknya. "Kau ingin ke suatu tempat?"
"Kenapa malah bertanya padaku? Bukannya kau yang ingin bicara?"
"Aku tidak mau terkesan membombardirmu. Kupikir kau mungkin lebih nyaman jika kita bicara di tempat tertentu sesuai keinginanmu."
Kata-kata itu nyaris membuat Eijun luluh. Tidak! Eijun memarahi dirinya. Ayo bangun dindingmu lebih kuat! Kemudian ia mulai berpikir bahwa bicara di tempat umum seperti café atau sejenisnya mungkin lebih baik karena ia bisa menghindari situasi di mana hanya berdua dengan Miyuki. Tetapi Eijun sendiri sadar bagaimana kondisi tubuhnya saat ini. Setelah latihan berjam-jam, tubuhnya praktis lengket dan bau keringat. Jika pergi ke café, dia pasti akan membuat pengunjung lain kabur.
"Aku mau pulang saja." Jawab Eijun pada akhirnya. Miyuki hanya membalasnya dengan anggukan samar lantas mulai memacu mobilnya.
Mereka tidak bicara sepanjang perjalanan, untungnya jarak yang ditempuh dekat sehingga Eijun tidak perlu resah berlama-lama di dalam mobil. Begitu Miyuki memarkir mobil di depan rumah, perut Eijun tersentak oleh ingatan pertemuan terakhir mereka di tempat ini. Mengingatnya membuat Eijun menjadi mual dan tergoda meninju tulang hidung Miyuki.
Eijun memutuskan untuk segera turun dari mobil sebelum otaknya mulai menyusun seribu satu tindakan kriminal untuk Miyuki Kazuya. Ia berjalan menuju pintu rumah dan mulai merogoh ke dalam saku untuk menemukan kuncinya. Miyuki turun tak lama kemudian, berjalan ke arahnya dan ikut masuk saat pintu berhasil terbuka.
Eijun menyalakan lampu tengah dan teras lalu melempar backpacknya ke sofa. Ia bahkan sudah tidak pulang selama dua hari terakhir. Bungkusan ramen sisa sarapannya pada Senin pagi masih tergeletak di meja dengan aroma yang menyedihkan. Miyuki melirik pada sampah-sampah itu dan mengernyit.
"Kalau kau mulai berkomentar pedas lagi," Kata Eijun sebelum Miyuki sempat bicara. "Aku tidak akan mau bicara padamu."
Miyuki menatapnya lalu angkat bahu. "Aku hanya berpikir mungkin sebaiknya kau buang sampah-sampah itu."
Eijun mendengus, tapi tetap mengumpulkan sampah-sampah yang berserakan di atas meja lalu membuangnya ke bak sampah. Kemudian ia menoleh lagi pada Miyuki yang masih berdiri di dekat pintu. "Duduk." Nada suaranya lebih mirip memerintah daripada mempersilakan. "Mau minum apa?"
"Tidak perlu repot-repot."
"Mau minum apa?"
"Oke, air."
Eijun menatap tajam sekali lagi pada Miyuki dan berjalan ke dapur untuk memgambil air juga beberapa camilan yang dibelinya di supermarket beberapa malam yang lalu. Saat ia kembali ke ruang tengah, Miyuki masih berada pada posisi yang sama. Eijun tidak bermaksud memperhatikan, tapi Miyuki kelihatannya cukup lelah dan sedang berusaha tidak mengantuk. Tanpa seringai, senyum pongah, maupun tawa mengingikiknya, Miyuki kelihatan seperti cowok kuliahan pada umumnya, kecuali fakta bahwa wajahnya memang lebih tampan dari kebanyakan orang. Eijun lekas menggeleng, mengembalikan fokusnya dan meletakkan dua gelas air juga camilan di atas meja, kemudian duduk tak jauh dari Miyuki.
Miyuki berdeham, pundaknya sedikit menengang begitu Eijun duduk. Eijun bisa melihat pemuda berkacamata itu menjilat bibir bawahnya singkat, lalu memutuskan untuk meraih gelas di atas meja dan meneguk setengah isinya sebelum akhirnya menatap Eijun. "Kau mungkin benar-benar muak melihatku."
Eijun tergoda untuk berseru, Ya! Aku sangat muak! Seratus poin untukmu! Jadi pulang sana! Tetapi ia masih menangingat ajaran sopan santun dari ibunya.
"Sawamura," Miyuki membuang napas pendek, memperkuat tatapannya hingga mata mereka kini bertemu dalam benang-benang udara. "Aku minta maaf."
Eijun gatal ingin memaki-makinya seperti ibu tiri yang galak, tetapi ia berhasil tetap menggulung lidahnya ke dalam dan tidak bicara.
"Aku tahu kau hanya menganggap aku membual. Berkali-kali meminta maaf padamu tapi aku terus membuatmu marah. Aku tidak akan menyalahkanmu jika kali ini pun kau hanya menilaiku main-main."
Miyuki membuang napas lagi, kesepuluh jemari tangannya saling bertautan di atas pangkuan. Siapapun dengan gestur, ekspresi, serta suara seperti itu seharusnya terlihat lemah, tak berdaya, dan ketakutan. Tetapi Miyuki entah bagaimana tetap mampu terlihat maskulin, keren, dan memikat seperti halnya bintang aktor ternama. Benar-benar tidak adil.
"Sawamura, katakan sesuatu, please?"
Eijun mengigit bibir bawahnya singkat, lalu menatap balik Miyuki dengan sorot tak mau kalah. "Kau minta maaf untuk apa persisnya?"
"Segalanya. Apapun. Semua hal yang kulakukan dan sudah membuatmu kesal, marah, atau juga tersinggung dan sakit hati. Aku minta maaf atas itu semua. Aku menyesal, Sawamura."
Miyuki terdengar jujur dan tulus. Namun Eijun sudah belajar untuk tidak memberi pemuda itu terlalu banyak kelonggaran. "Kau minta maaf karena disuruh Kuramochi-senpai lagi, ya?"
Miyuki mengernyit tajam. "Apa? Darimana kau berasumsi seperti itu? Tidak ada yang menyuruhku sama sekali, aku melakukan ini atas kemauanku sendiri!"
Hampir-hampir terdengar bahwa Miyuki merasa sangat tersinggung atas pertanyaan Eijun sebelumnya. "Kenapa kau ngotot? Aku hanya bertanya!"
Miyuki mengatupkan rahangnya dengan keras, kelihatan berusaha untuk tidak mengumpat. Eijun menemukan bahwa pemandangan ini nyatanya cukup menyenangkan. Inikah alasan mengapa Miyuki begitu senang memancing orang lain?
"Tapi benar-benar tidak ada yang menyuruhku melakukan ini, Sawamura. Tidak Kuramochi, tidak juga orang lain. Aku benar-benar ingin minta maaf padamu, aku bahkan ingin minta maaf sejak hari Sabtu tapi kau terus mengabaikanku."
"Oh, jadi semuanya salahku?"
Napas Miyuki bergetar, mulutnya terkatup kaku lalu ia menggeleng. "Tidak, kau tidak salah. Kau berhak marah. Aku memang sudah keterlaluan. Wajar saja kau tidak ingin bicara denganku."
"Kalau sudah tahu begitu, kenapa kau tetap bersikeras mengajakku bicara?"
"Karena aku merasa sebelum kau memaafkanku, aku tidak akan bisa tenang."
"Jadi pada akhirnya semua ini kau lakukan hanya demi ketenangan pribadimu?"
Tangan Miyuki saling meremas kuat-kuat hingga urat-urat kehijauan muncul di bawah kulitnya. Oh, Eijun suka sekali ini. Miyuki selalu berhasil memancingnya, tapi sekarang Eijun jauh lebih unggul dan bisa berpuas diri menyaksikan segala macam emosi yang berusaha Miyuki redam di wajahnya.
"Sawamura, aku benar-benar minta maaf." Miyuki nyaris terdengar memohon padanya, Eijun mau tak mau meruntuhkan sedikit tembok arogansinya. Kesenangan karena berhasil menekan Miyuki perlahan sirna, dan ia mulai menanggapi permintaan maaf pemuda itu lebih serius.
"Kau boleh meneriakiku kalau itu bisa membuatmu merasa lebih lega. Kau juga boleh memukulku jika itu membuatmu lebih baik. Aku sadar apa yang kulakukan Sabtu lalu sudah keterlaluan."
Eijun menarik dan menghembuskan napas perlahan. "Bagian mana yang menurutmu keterlaluan?"
Miyuki menjilat bibir bawahnya, sedikit mencondongkan tubuh dan menatap lekat-lekat ke mata Eijun. "Aku menyepelekanmu. Aku menghinamu dengan ejekan yang sama sekali tidak lucu. Kau sudah bekerja keras demi tugas itu tapi aku seperti menginjak-injaknya begitu saja. Ucapanku keterlaluan."
"Aku mungkin tidak sepintar kau atau juga mahasiswa lain. Tapi aku masih punya hati, kau tahu?"
Miyuki mengangguk. "Itulah kenapa aku minta maaf. Aku hanya bermaksud bercanda, tapi aku kelewatan. Aku minta maaf atas semua perkataanku hari itu. Maaf karena membuat bukumu sobek. Maaf karena tidak membantu tetapi malah berusaha menyogokmu dengan buku baru. Maaf karena membuatmu jatuh dan terluka."
Mendengarnya membuat Eijun secara otomatis meraba kedua lututnya yang kini tertutup celana jins. Lukanya tidak seberapa, bahkan ia hanya memakai plester di hari itu karena Chris yang memakaikan untuknya. Sikunya terluka, tepalak tangannya terluka, tulang pipi kiri dan dagunya kini hanya menyisakan garis putih melintang yang mulai memudar. Sama sekali bukan luka yang serius. Sama sekali tidak terasa sakit jika dibandingkan dengan ucapan tajam Miyuki hari itu.
"Sawamura," Panggilan Miyuki membuat Eijun kembali menatap pemuda itu, Miyuki kini bergerak-gerak gelisah di sofa. "Kau ingin aku membungkuk?"
Eijun melotot lebar. Apa ini benar-benar terjadi? Seorang Miyuki Kazuya menawarkan diri untuk membungkuk padanya? Ketegangan di antara mereka menyusut. Sudut mulut Eijun mulai berkedut-kedut karena menahan geli. Miyuki sepertinya sudah kehabisan akal untuk meluluhkannya kali ini. "Sekalian saja kau berlutut sambil membawa seratus tangkai mawar padaku."
Miyuki mengernyit tipis. "Kupikir kau tidak akan suka diberi hadiah. Kau akan mengangapku berusaha menyogokmu lagi."
"Benar juga… Lagipula seratus tangkai mawar terasa terlalu dramatis."
"Jadi bagaimana?"
"Apanya yang bagaimana?"
"Apa aku dimaafkan?"
Eijun menatap Miyuki dan berpikir. Miyuki tidak terdengar bercanda atau mencoba memanipulasinya kali ini. Tetapi Eijun tetap tidak ingin memaafkannya begitu saja. "Kalau begitu… ganti seratus tangkai mawarnya dengan seratus lemparan. Kau harus menangkap seratus lemparanku dari berbagai macam variasi."
Miyuki sempat terdiam seakan berusaha memahami kata-katanya. Kemudian pemuda itu berbinar, wajahnya kembali berwarna. "Tentu saja." Ia menyahut penuh percaya diri. "Kau boleh melempar sebanyak apapun yang kau inginkan. Kapanpun yang kau mau, bahkan sekarang."
Eijun tergelak kecil. "Tidak sekarang. Aku kelelahan dan butuh mandi."
"Ah, begitu." Miyuki mengusap tengkuknya. "Tapi aku dimaafkan?"
"Setelah aku benar-benar melempar padamu, mungkin." Sebelum Miyuki bicara lagi, Eijun bangkit dari duduknya lalu mengulet kecil sambil melirik jam sekilas. "Aku mau mandi." Ia mengumumkan. "Lima menit lagi akan ada penayangan ulang pertandingan antara Hanshin Tigers dan Yomiuri Giants, bisa tolong nyalakan tv-nya selagi aku mandi? Setelah itu terserah kau mau apa, kau bisa pulang."
Lagi-lagi sebelum Miyuki menjawab, Eijun sudah berjalan pergi menuju kamar mandi dan menutup pintu rapat-rapat. Menikmati mandi menyegarkan setelah hari yang sangat melelahkan.
Setelah selesai mandi dan kembali ke ruang tengah, Eijun mendapati dirinya tertegun.
Televisi menyala pada chanel yang menampilkan rekaman pertandingan Hanshin Tigers dan Yomiuri Giants. Komentator sedang berbicara soal pitcher Tigers yang baru saja mencetak strike out pada pemukul Giants. Tetapi bukan itu yang membuat Eijun tertegun, melainkan Miyuki Kazuya yang saat ini berbaring di atas sofa, remote televisi berada di genggaman tangannya, sementara matanya terpejam, tertidur.
Eijun melirik ke arah jam dinding, ia menghabiskan waktu di kamar mandi kurang dari lima belas menit. Hanya kurang dari lima belas menit. Mengapa Miyuki bisa tertidur dalam waktu sesingkat itu? Handuk masih tersampir pada sebelah bahunya dan rambutnya masih basah sisa keramas, mungkin akan lebih meyenangkan jika handuk itu ia pakai untuk mengageti Miyuki alih-alih mengeringkan rambut.
Namun saat sudah berdiri tepat di dekat Miyuki, yang terjadi justru semua tekad jahatnya menguap begitu saja. Ia hanya berdiri di sana, memandangi kedua mata Miyuki yang terpejam, deru napasnya yang teratur, juga jejak-jejak kelelahan yang tersisa di wajahnya.
"Kalau begini aku juga tidak tega mengerjainya." Eijun menggerutu, cemberut ke arah Miyuki yang masih terlelap. Ya, oke, karena aku anak yang baik, aku akan membangunkan dengan sopan alih-alih menyabetmu dengan handuk atau menendangmu dari sofa. Eijun tersenyum kecut lalu menarik napas dalam-dalam.
"Miyuki?" Panggil Eijun, membungkuk dan melambaikan tangannya di depan wajah Miyuki. "Hei, kau bisa mendengarku?"
Miyuki tidak menyahut.
"Miyuki-senpai, bangunlah. Kau tidak bisa tidur di sini."
Dahi Miyuki berkerut, tetapi dia tetap tidak membuka kedua matanya.
"Miyuki Kazuya, bangun… kau harus pulang."
Miyuki masih bergeming. Eijun mengerucutkan bibir dan mulai berjongkok di dekat Miyuki, menopang dagu dengan satu tangannya sementara tangan yang lain mengetuk-ngetuk bahu Miyuki dengan satu jari. "Hei, bangunlah. Aku hitung sampai lima kalau kau tidak bangun juga aku akan berteriak di telingamu. Satu… dua… tiga… empat… lima."
Miyuki tetap tidak bangun.
Eijun menyerah, tidak tega untuk meneriakinya. "Kenapa kau malah ketiduran di sini, sih?" Eijun menyadari suaranya telah memelan dalam satu tingkat di atas bisikan. "Aku belum pernah melihatmu selengah ini. Kalau kau tidak banyak mengejek, cengengesan, dan berkomentar jahat, kau kelihatan normal-normal saja."
Eijun menemukan dirinya terus bicara sambil mengamati wajah Miyuki dengan lebih seksama hanya untuk mendapati fakta bahwa pemuda itu tetap rupawan dalam tidurnya. Kacamata Miyuki sedikit berembun, bibirnya sedikit terbuka, dan jika Eijun mengendus lebih dekat, ia bisa mencium aroma parfum yang pudar, keringat, dan juga kopi.
"Sebenarnya kenapa kau terus mengangguku? Apa melihatku marah begitu meyenangkan buatmu, hm? Padahal aku suka saat kau menangkap lemparanku, kau tahu? Tapi kalau mengingat kata-katamu yang tajam itu, satu-satunya yang ingin kulakukan hanya melempar fastball tepat ke wajahmu."
Eijun mendengus, tersenyum geli lalu menarik menghembuskan napas panjang. Miyuki bergerak sedikit hingga wajahnya serong ke arah Eijun dan membuat wajah mereka saling berhadapan. Eijun melepaskan kacamata Miyuki dengan hati-hati lalu memandangi wajah itu lagi.
"Wah, bulu matamu panjang juga. Tulang hidungmu juga tinggi. Aku iri dengan bentuk tulang pipi dan rahangmu itu. Bahkan bibirmu yang berbisa itu…" Eijun menelan ludah. Ada sentakan asing di perutnya ketika mengamati bentuk bibir Miyuki. Ingatannya mengacu pada memori ketika Miyuki menciumnya dengan bibir itu. Ciuman-ciuman yang egois, tetapi sekaligus juga pengalaman ciuman paling hebat yang pernah Eijun alami sampai saat ini. Eijun menggeleng cepat-cepat, berdiri tegak dan memutuskan untuk tidak memikirkan hal-hal bodoh.
Eijun meletakkan kacamata Miyuki di atas meja, mengambil backpack miliknya dari sofa di dekat kaki Miyuki dan menyimpannya di bawah meja. Kemudian Eijun masuk ke kamar dan kembali sambil membawa sebuah bantal dan selimut. Ia meletakkan bantal di bawah kepala Miyuki dengan hati-hati, mengabaikan sensasi listrik menggelitik saat jari-jari tangannya bersentuhan dengan helaian rambut Miyuki. Eijun juga mengambil remote dari tangan Miyuki dan mematikan televisi, selanjutnya baru menyelimuti pemuda itu sampai ke lehernya.
Terakhir, Eijun memandang wajah pemuda itu sekali lagi dan menghela napas. "Selamat malam, Miyuki Kazuya." Kemudian mengunci pintu dan mematikan lampu, lalu masuk ke kamarnya.
Sesaat sebelum benar-benar tidur, Eijun membuka ponselnya dan mengirim pesan pada Kuramochi. Memberitahu bahwa Miyuki menginap di tempatnya sebagai antisipasi kalau-kalau keluarga Miyuki menanyakan keberadaanya pada Kuramochi.
…
Kazuya membuka mata dan memandang langit-langit, kemudian duduk tegak dalam satu kali sentakan begitu tersadar ia tidak tidur di kamarnya.
"Oh, kau sudah bangun?" Kazuya menoleh cepat, matanya bertemu dengan sosok Sawamura Eijun yang berdiri di depan pintu kamar. Sawamura menguap lebar, rambut berantakan, pakaiannya kusut dan sebelah tangan menggaruk pipinya.
Kazuya mengerjap-ngerjapkan mata. Apa ia berhalusinasi? Apa yang terjadi? Kenapa ia terbangun dan Sawamura ada di dekatnya? Tunggu. Kazuya membaca keadaan, ia duduk di atas sofa dengan selimut membungkus tubuhnya. Ia tidur di sofa sepanjang malam?
"Kacamatamu ada di atas meja." Ujar Sawamura lagi. "Kau kelihatan linglung tanpa kacamata." Ia mengernyit memandang Kazuya lalu mengulet seperti bayi kemudian menarik napas panjang dan tersenyum cerah. "Ohayou, Miyuki-senpai!"
Kazuya meraih kacamata dan buru-buru memasangnya. Figur Saawamura semakin jelas, tetapi ingatannya masih kabur. "Apa yang terjadi?"
Sawamura mengernyit menatapnya seakan itu pertanyaan bodoh. "Kau tidak ingat?"
"Bukankah kau sedang marah padaku? Kau menghindariku habis-habisan dan… Oh. Semalam kita berbaikan, ya?"
Sawamura mendengus kasar, cemberut. "Kalau kau amnesia dadakan begini, ulangi semua permohonan maafmu semalam!"
Kazuya meringis, tapi setidaknya ia tahu Sawamura sudah mulai meneriakinya lagi. Itu sesuatu yang lebih baik daripada aksi menghindar habis-habisan. "Maaf, maaf." Kazuya berkata akhirnya, mencoba tersenyum. "Aku ingat semuanya sekarang. Kenapa kau tidak membangunkanku?"
Sawamura menyipitkan mata memandanginya lalu mendelikkan bahu. "Kau tidak bisa dibangunkan, dan kelihatannya kau capek sekali."
Kazuya mendesah kecil, merasakan lehernya sedikit kaku, tapi selain itu ia merasa baik-baik saja sekarang. Sejujurnya ia memang harus mengakui bahwa tubuhnya kelelahan beberapa hari ini. Meluluhkan hati Sawamura ternyata membutuhkan lebih banyak beban tenaga dan pikiran dari yang ia duga.
"Aku sudah mengabari Kuramochi-senpai." Kata Sawamura lagi, masih berdiri di sana sambil menatapnya. "Aku meminta tolong padanya untuk mengabari keluargamu agar tidak khawatir."
Otak bangun tidur Kazuya butuh lima detik untuk mencerna informasi itu sebelum kemudian ia menghela napas berat. "Terima kasih, aku hargai inisiatifmu. Tapi sekarang Kuramochi pasti tidak akan berhenti mengejekku."
Tepat setelah menyelesaikan kalimatnya, ponsel Kazuya berdering tanda pesan masuk. Ia tersenyum kecut, menunjukkan layar pada Sawamura. "See? Kuramochi benar-benar cepat kalau soal mengejekku."
Sawamura berjalan mendekat, melongok ke layar ponsel Kazuya dengan penasaran. "Memangnya Kuramochi-senpai bilang apa?"
Kazuya buru-buru mematikan layar. "Percayalah kau tidak akan suka." Ia berkata, membayangkan bahwa Kuramochi pasti akan melebih-lebihkan kata 'menginap' mengubahkanya dengan konotasi negatif dan berbau hal dewasa.
"Pelit!" Sawamura mencebik dan kembali berdiri tegak. "Aku mau cuci muka dan gosok gigi. Kau rapikan selimut dan bantalnya lalu bawa ke kamar."
Kazuya tersenyum masam. "Hai, hai."
"KAU TIDAK IKHLAS!?"
Kazuya megangkat tangan. "Ikhlas kok, ikhlas. Sumpah. Jadi silakan, Sawamura-kun, kamar mandinya di sebelah sana."
Sawamura merengut sekali lagi lalu berjalan dengan langkah lebar-lebar menuju kamar mandi. Sementara Kazuya masih duduk di atas sofa dan memilih untuk mengecek chat masuk dari Kuramochi sebelumnya.
'Bajingan!' [06.20]
'Sehabis berbaikan langsung tidur ditempatnya!' [06.20]
Kazuya memilih untuk tidak menjawabnya dan menutup ruang chat dengan Kuramochi. Ia baru berniat mengantungi kembali ponselnya ketika menyadari sesuatu pada wallpaper. Di bawah petunjuk waktu, serangkaian angka dan kata berbaris membentuk petunjuk tanggal.
15 Mei.
Beberapa menit kemudian Sawamura keluar dari kamar mandi dengan wajah segar berseri-seri. "Mungkin sebaiknya kau cuci muka juga." Ia mengumumkan, lalu bersenandung riang sambil membuka kulkas.
"Sebenarnya aku sangat ingin mandi."
"Ah, iya juga, kau tidak sempat mandi semalam."
Kazuya menghela napas. "Aku akan mengecek ke dalam mobil, mungkin aku punya pakaian cadangan."
"Mm-hmm," Sawamura bergumam lalu kembali membungkuk di depan kulkas. "Lakukan sesukamu saja."
"Kau tidak ada kelas?"
Sawamura menggeleng, tetapi tidak berbalik menantapnya. "Kelasku hari ini dialihkan ke kuliah daring karena dosennya sedang workshop ke luar kota."
Kazuya mengangguk samar dan berjalan ke pintu. "Aku juga tidak ada kelas hari ini." Ia berbisik, Sawamura bahkan tidak mendengarnya.
Lima belas menit berlalu, Kazuya mengernyit begitu keluar dari kamar mandi. Ia melihat Sawamura di counter dapur sedang melihat ke layar ponselnya dengan penuh perhatian sampai matanya menyipit dan hidungnya berkerut-kerut. Sementara di depan pemuda itu telah tersaji berbagai bahan masakan yang masih mentah, disusun seperti ingin membuat tutorial.
Kazuya berjalan mendekat, mengintip ke layar ponsel Sawamura. "Apa yang sedang kau lakukan?"
Sawamura menoleh, nyengir lebar. "Melihat YouTube, tutorial memasak, hehehe."
Kazuya tidak bermaksud mencibir tapi tetap saja tidak bisa menghindari senyum geli di sudut mulutnya. "Kau mau masak? Serius?"
Sawamura mengenali sindiran itu, wajahnya menjadi kesal lagi. "Kenapa? Kau mau menghinaku lagi?"
"Oh, tidak." Kazuya tersenyum minta maaf. Mengamati bahan-bahan di atas meja dapur, berpikir, kemudian membuang napas pendek. "Biar aku yang memasak."
"Hah!?" Pekik Sawamura. "Kau bisa masak?"
Kazuya tersenyum simpul, bergeser hingga bahunya bersentuhan dengan Sawamura. Merasakan suhu tubuh pemuda itu menembus pakaian dan sampai ke kulitnya. "Sebenarnya, aku suka memasak."
Mata Sawamura melebar, berkedip lugu. "Serius? Ku pikir kau suka baseball!"
"Baseball adalah bakat yang diasah dengan latihan dan kerja keras. Tetapi memasak adalah hobi." Ia menoleh pada Sawamura, memberi senyuman sedikit angkuh lalu mengedipkan sebelah matanya. "Percaya saja padaku, oke? Lagipula ini hari ulang tahunmu."
Sawamura memasang wajah bengong kemudian menunjuknya dengan satu jari. "DARI MANA KAU TAHU!?"
Kazuya terkekeh, mulai mengambil pisau dan mengiris bahan masakan. "Ayolah, Sawamura… kau itu belahan jiwaku, keterlaluan rasanya kalu aku tidak tahu hari ulang tahunmu."
Wajah Sawamura pucat pasi. "Leluconmu tidak lucu, Miyuki Kazuya!"
"Haha, thanks. Sekarang ambil celemeknya dan pakaikan padaku."
"Aku bukan asistenmu! Pakai saja sendiri!"
"Wah, tapi kedua tanganku sedang sibuk memasak untuk hari yang spesial ini."
Jeda. Lima detik. Lalu Sawamura menggeram jengkel. "Argh! Kau menyebalkan!" Tapi tetap berjalan mengambil celemek kemudian berdiri di belakang Kazuya, ia mengalungkan tali ke leher Kazuya lalu mencoba menarik bagian tali pinggang ke belakang.
Kazuya tanpa sadar menahan napas saat merasakan kedua tangan Sawamura melingkari pinggangnya. "Hei," Kazuya memanggil, menjaga suaranya agar tetap normal. "Kau mau memelukku atau bagaimana?"
Pergerakan Sawamuta terhenti, dan Kazuya sempat berpikir bahwa pemuda itu salah tingkah sampai kemudian Sawamura menarik tali dengan kasar dan mengikatnya begitu erat di pinggang Kazuya.
"Sawamura! Terlalu erat, sesak!"
"Apa maksudmu terlalu erat? Kau tidak suka pelukan hangatku?"
Ingatkan Kazuya lain kali bahwa Sawamura Eijun benar-benar telah belajar untuk menyerang balik. "Baiklah, baiklah, maafkan aku." Kazuya menyerah. "Sekarang cepat longgarkan talinya."
"Hmm? Apa?"
"Oke, koreksi. Sawamura, tolong longgarkan talinya."
Sawamura tergelak geli seperti bocah. Kemudian melonggarkan tali hingga Kazuya bisa bernapas lega. "Tidak sulit kan, menjadi senpai yang manis dan baik? Kau harus mulai belajar dari sekarang."
"Kau adalah kouhai yang mengerikan, Sawamura."
Kurang lebih setengah jam kemudian, semua masakan telah selesai dan siap untuk disusun di atas meja. Kazuya membuat masakan sesuai dengan bahan-bahan yang dimiliki Sawamura dan ia berhasil membuat tamagoyaki, sup miso, dan juga gyoza. Di samping itu, karena Sawamura memiliki potongan salmon ekstra dan juga nori, Kazuya memutuskan untuk membuatkannya sushi juga. Kazuya bahkan menyusun potongan-potongan sushi itu dalam bentuk melingkar spiral layaknya kelopak-kelopak bunga, lalu meletakkan sebatang lilin tepat di tengah-tengahnya.
"APA ITU SUSHI CAKE!?" Sawamura memekik antusias. "Itu benar-benar sushi cake!" Mata Sawamura berbinar-binar dan dia kelihatan siap melompat sampai ke bulan.
"Yeah," Kazuya menyeringai. "Karena mana mungkin seseorang sepertimu melewatkan ulang tahun tanpa meniup lilin."
"Apa maksudnya seseorang sepertiku, hah!? Kau meledekku lagi, kan?"
"Nah, mungkin sebaiknya kita mulai membawa semua makanan ini ke meja depan, oke?" Kazuya berkata, mengoper sepiring sushi itu pada Sawamura sementara ia sendiri mengambil hidangan lain. "Ayolah, aku tidak ingin merusak hari ulang tahunmu dengan pertengkaran tidak penting."
Mata Sawamura menyipit defensif. "Entah kenapa rasanya aneh melihatmu sebaik ini."
"Iya." Kazuya memberi dorongan kecil di punggungnya agar Sawamura segera berjalan ke ruang tengah. "Aku aneh saat berbuat baik, dan kau aneh saat tidak mengomel padaku."
Sawamura mencebik, tetapi tetap berjalan ke ruang tengah dan meletakkan piring sushi di atas meja, mereka kembali lagi ke dapur untuk mengambil nasi dan hidangan lainnya sebelum kemudian duduk bersisian di depan meja, siap menyantap sarapan sekaligus perayaan kecil ulang tahun Sawamura.
Kazuya menyalakan lilin, sedangkan Sawamura sibuk mengambil ponselnya. Mengarahkan kamera ke arah makanan di atas meja dengan mata berbinar-binar.
"Kau harus tiup lilinnya sebelum mulai meleleh dan meracuni sushi yang sudah kubuat susah payah, Sawamura."
"Sebentar, sekali lagi. Aku mau mengambil gambarnya dari sudut ini."
"Gayamu sudah seperti pro saja."
"Berisik!"
Kazuya menghela napas, memilih tutup mulut dan mengamati Sawamura yang masih asyik mencoba segala sudut pengambilan gambar. Lilin mulai meleleh, dan perut Kazuya berbunyi. Ia baru ingat bahwa sepanjang hari kemarin ia hanya makan roti melon sekitar pukul sepuluh pagi.
"Sawamura, aku kelaparan."
Sawamura mengangkat pandangannya dari layar pinsel ke arah Kazuya, menyipit, mengerutkan hidungnya. "Kau… apa?"
"Aku lapar." Sahut Kazuya lugas. "Aku ingin makan sekarang, jadi cepatlah tiup lilinnya."
Suara Kazuya pastilah sangat mendesak, atau barangkali begitu merana karena Sawamura secara ajaib langsung meletakkan ponselnya dan menghadap ke arah sushi. "Mm... Oke." Sawamura berujar, tak ada nada terpaska dalam suaranya. "Aku akan tiup sekarang." Kemudian ia mengtupkan kedua tangannya di depan dada, memajamkan mata, bertahan di posisi itu demi membuat permohonan dan memanjatkan doa di hari kelahirannya.
Kadang, begitu sulit rasanya untuk mempercayai bahwa Sawamura adalah seorang laki-laki berusia dua puluh tahun. Sawamura begitu ekspresif. Ia berbicara dengan setiap yang ada di wajahnya. Bibirnya, matanya, alisnya, hidungnya, dagunya, gerakan rahang dan pipinya, dahinya, semuanya. Ia penuh totalitas, juga terbuka seperti anak yang masih suci.
Sawamura mengatupkan tangan dan berdoa layaknya ia benar-benar percaya Tuhan ada di hadapannya, melihat, mendengarkan, dan akan mengabulkan apapun yang ia minta. Bentuk kepercayaan yang begitu lugu itu membuat Kazuya geli kerena sejujurnya ia tak pernah lagi percaya atau berdoa kepada Dewa atau Tuhan manapun. Konyol baginya, mengharapkan sesuatu dari spiritualitas yang tak pernah ia lihat wujudnya secara pasti, tetapi melihat Sawamura seperti ini, hanya ada satu hal yang melintas di benak Kazuya.
Tuhan, jika Kau memang sungguh ada, maka Kau harus mengabulkan permohonan anak ini. Kau tidak bisa menolak seseorang dengan kesungguhan hati seperti Sawamura Eijun.
Tepat sedetik setelahnya, Sawamura membuka mata dan langsung meniup sebatang lilin yang menyala itu dengan hembus napasnya. Kemudian menoleh pada Kazuya, tersenyum begitu lebar, begitu menyilaukan menyilaukan. Kazuya balas tersenyum simpul. "Happy birthday, Bocah Nagano."
Sawamura bahkan terlalu bahagia sampai tidak memprotes panggilan Kazuya untuknya. Ia ikut bertepuk tangan penuh semangat. "Aku tidak percaya aku sudah kepala dua!" Ia merentangkan kedua tangannya ke udara selayaknya atlet lari setelah mencapai finish. "Aku berhasil melewati satu tahun di Tokyo dan—" Sawamura berhenti akibat dering panggilan masuk dari ponselnya, ia melirik ke arah layar lalu berpaling pada Kazuya dengan tatapan semi-horror.
Kazuya mengerutkan kening. "Kenapa?"
"Video call," Sawamura menelan ludah, "dari keluargaku."
Kazuya membuka kemudian mengatupkan kembali mulutnya, tidak benar-benar tahu bagaimana harus merespon. Sudah jelas, baik dirinya maupun Sawamura sendiri tidak ingin memperkenalkan diri dengan keluarga satu sama lain.
"Angkatlah," sahut Kazuya akhirnya. "Kau hanya perlu mengarahkan kamera ke wajahmu, aku akan diam saja seakan tidak ada di sini."
Sawamura menatapnya selama kira-kira tiga detik, lalu mengangguk dan mengangkat panggilan itu. Setelahnya, Kazuya menjadi saksi akan betapa ramainya keluarga Sawamura meski hanya melakukan percakapan melalui panggilan video. Kazuya hampir-hampir bisa merasakan bahwa ponsel di kediaman Sawamura sana tidak berhenti dioper dari satu orang ke orang lainnya. Ada tiga orang yang berbicara dengan Sawamura, dan mereka semua terkesan berebut satu sama lain.
Kazuya juga mempelajari bahwa Sawamura bicara dengan begitu manis pada ibunya. Ia bicara seperti teman kepada ayahnya. Lalu bicara nyaris seperti musuh dengan kakeknya. Keluarga Sawamura begitu berisik, penuh semangat dan juga berwarna. Sebentuk fakta yang membuat Kazuya tersenyum membayangkan betapa menyenangkannya kehidupan masa kecil Sawamura yang dibesarkan dalam keluarga sehangat itu.
Bermenit-menit kemudian, panggilan itupun berakhir. Mereka menghela napas panjang bersamaan, lega karena sama sekali tidak dicurigai. "Bisa kita makan sekarang?"
Sawamura berkedip memandanginya lantas tertawa. "Lucu sekali melihatmu kelaparan begitu, Miyuki-senpai. Kalau begitu, mari makan!"
"Sekarang aku mulai takut, pagi ini kau sudah memanggilku senpai dua kali tanpa diminta."
Sawamura mencebik, mencabut lilin dari tengah-tengah sushi cake lalu mengambil sumpit. "Semoga masakanmu tidak seburuk ucapanmu." Ia mengambil sepotong sushi dengan sumpitnya lalu mengamat-ngamatinya sambil menyipit tajam. "Atau setidaknya jangan sepahit lidahmu." Kemudian Sawamura melahapnya dalam sekali suapan.
"Aku yakin lidahku tidak pahit." Sahut Kazuya, ikut mengambil sumpit dan menyuap sepotong sushi. "Kau tidak akan tahan menerima lidahku di mulutmu kalau rasanya pahit, kan?"
Kazuya bermaksud bercanda, tetapi begitu Sawamura tersedak dan nyaris menyemburkan kunyahan sushi ke wajahnya, ia menjadi sadar betapa memalukan kata-katanya barusan.
…
"Kenapa kita lewat sini?"
"Jalan alternatif. Jalan utama bertanda merah alias macet di sistem GPS-ku."
Sawamura merespon dengan oh samar lalu kembali memandang ke luar jendela. Sudah hampir pukul sembilan sekarang, dan Kazuya masih harus menuruti keinginan Sawamura untuk melempar. Awalnya mereka hanya bermaksud pergi ke baseball center tempat mereka biasa main, akan tetapi Kazuya pikir mungkin sebaiknya mereka mulai membeli peralatan sendiri jadi tidak harus bolak-balik ke tempat penyewaan. Siapa sangka Sawamura setuju tanpa banyak protes? Di samping alasan dia memang meninggalkan semua perlengkapan baseballnya di rumah, dia juga merasa akan lebih menyenagkan jika bisa melempari Kazuya dengan peralatan miliknya sendiri.
Aku tidak harus menahan diri, aku bisa memakai semua perlengkapannya tanpa takut rusak dan melempar padamu sekuat tenaga!—adalah bagaimana seorang Sawamura Eijun dengan senyum lugunya, termotivasi untuk menyiksa Kazuya atas alibi baseball.
"Aku belum pernah lewat sini." Sawamura tiba-tiba berkata. "Aku tidak tahu di Tokyo masih ada yang seperti ini, suasananya masih mirip pedesaan."
Kazuya mendengus, tapi Sawamura memang tidak salah. Kebayakan orang tidak akan mengira bahwa Tokyo masih punya daerah seperti pedesaan dengan jalanan memanjang yang berbatasan dengan sungai di satu sisi, sedangkan sisi lainnya masih berupa area pepohonan rimbun yang memayungi hampir setengah lebar jalan.
"Di sini sepi juga." Sawamura kembali berkomentar. "Nyaris tidak ada kendaraan lain kecuali sepeda yang berpapasan dengan kita."
Kazuya menyeringai tipis. "Kau takut?"
Sawamura menatap sengit. "Buat apa juga takut? Ini masih pagi dan matahari bersinar cerah!"
"Yah, mungkin saja kau takut aku menurunkanmu dari mobil lalu meninggalkanmu di sini. Buta arah, sendirian di tempat sepi, hanya dikelilingi pepohonan dan aliran sungai di bawah sana."
"Kubunuh kau kalau sampai benar-benar melakukan itu, Miyuki Kazuya!"
Kazuya tertawa kecil. "Aku cuma bercanda." Ia berkata, menoleh pada Sawamura untuk mengedipkan sebelah mata dengan jail. Sawamura mendelik galak, meski demikian, Kazuya yakin sempat melihat sebersit kepanikan di wajahnya "Lagipula aku pasti akan dibunuh oleh banyak orang kalau sampai membuatmu menghi—"
"MIYUKI-SENPAI! LIHAT KE DEPAN!"
Sedikit terlambat untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi sampai Sawamura memekik sepanik itu. Tetapi setidaknya Kazuya punya sedikit waktu untuk melihat seekor musang bertengger di kap mobilnya dengan wajah persis menempel ke jendela depan, menghalangi pandangan matanya dari jalanan. Kazuya bermaksud menginjak rem, akan tetapi musang lain melompat entah dari mana dan mendarat di kap mobilnya.
"SERAGAN MUSANG!"
Kesalahan besar. Kazuya terdistraksi oleh kata-kata bodoh Sawamura dan justru membanting setir ke kiri. Mobil nyaris menabrak pohon pinus di sisi kiri, tapi Kazuya berhasil menekan tuas mundur. Kabar baiknya, kedua ekor musang itu telah pergi. Kabar buruk, mobil kelepasan mundur hingga menabrak bahu jalan di sisi kanan.
Ada jeda yang menegangkan antara saat mobil berhenti akibat benturan itu dan saat mobil mulai meluncur dari jalan utama. Kazuya merasakan Sawamura memandanginya dan ia balas memandang pada pemuda itu. Mata Sawamura melebar, bulat, terlihat takut dan mungkin juga marah. Mereka bertatapan, berbagi kengeringan yang sama.
Kengerian itu kian menjadi-jadi saat mobil terus meluncur mundur ke arah sungai. Mobil melesat di antara rumput liar dan ilalang setinggi jendela mobil. Sawamura bergerak cepat sekali dan menarik rem tangan, sementara Kazuya menginjak rem kaki kuat-kuat. Tetapi mobil tetap meluncur turun dengan jalur zig-zag, hanya sesekali merespon saat Kazuya memutar setir dengan panik.
Mereka semakin dekat dengan sungai dan Kazuya mulai memikirkan berapa biaya yang harus ditarik dari rekening ayahnya untuk perbaikan mobil. Atau mungkin yang lebih parah, mobilnya akan ditarik dan ia tidak diizinkan lagi menyetir sampai sepuluh tahun ke depan. Tetapi masih ada yang lebih mengerikan—harness mobil mengalami korserting, merambat ke mesin yang panas, percikan api tercipta, tersulut oleh bensin—meledak di dasar sungai dan menghanguskan mereka berdua.
Kazuya menoleh lagi ke arah Sawamura, bersitatap dengan kepanikan yang begitu sempurna di wajahnya. Sawamura pucat pasi, bibirnya memutih, matanya menggelap, dia menggigil padahal jelas-jelas sedang berkeringat. Sesuatu dalam ekspresi Sawamura mengundang Kazuya untuk tersenyum. Sawamura membeliak ke arahnya dan Kazuya mulai tertawa. Ya, tertawa. Kazuya bahkan dengan sengaja melepaskan tangannya dari setir, mengangkat bahu seakan berkata, Yah, mau bagaimana lagi?
Sawamura memelototinya dengan galak. APA KAU GILA!? Matanya berkata, memarahi. Kazuya masih terkekeh lalu kembali memegang setir dan memutarnya ke kanan dan ke kiri sebagai perwujudan dari upaya pembelaan diri bahwa ia sudah berusaha sebisanya.
Kemudian keajaiban mulai terjadi. Rem kembali berfungsi dan luncuran melambat sampai akhirnya mendecit dengan putaran dramatis ke kiri. Mobil berhenti kira-kira empat puluh sentimeter dari bibir sungai.
Lalu hening. Satu menit mungkin telah berlalu.
"Oh, Tuhan…" Kazuya mendengar Sawamura menghela napas panjang. "Kita belum mati…" Ia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya secara berkala seperti latihan pernapasan untuk meditasi.
Perlahan-lahan, Kazuya melepaskan tangannya yang gemetaran dari setir kemudian melakukan hal yang sama seperti Sawamura. Mengatur napasnya. Merasakan jantungnya mendobrak-dobrak di balik sangkar iganya. "Ya. Kita belum mati."
Yang terjadi selanjutnya begitu cepat, tak masuk akal, sedikit gila, dan mungkin mengerikan. Sawamura memandang ke arahnya, menarik napas dengan tajam, melepas sabuk pengaman, lalu menerjang lebih cepat dari kedipan mata. Kedua lengan Sawamura melingkar di sekitar lehernya, jantung Sawamura berdentum di dadanya, napasnya yang putus-putus menyapu leher Kazuya. Sawamura memeluknya erat-erat. Kazuya merasa kepalanya kosong, tetapi tubuhnya bergerak lebih cepat dan balas memeluk pinggang pemuda itu.
"Astaga. Astaga. Astaga. Kita belum mati. Kita belum mati. Kita belum mati. Kita masih hidup dan tidak mencemari sungai dengan mayat gosong!" Sawamura berkata di telinganya. "Kita belum mati, Miyuki Kazuya!"
Kazuya tertawa. Benar-benar tertawa. Merasakan adrenalin memenuhi pembuluh darahnya, bercampur dengan sisa rasa takut dan juga lega. Mengubah seluruh panas di tubuhnya menjadi sensasi geli menggelitik. "Seru yaa."
"Seru apanya!? Sepanjang waktu tadi yang kupikirkan hanyalah—Ya Tuhan, aku bakal mati di hari ulang tahunku sendiri. Nisanku pasti akan sangat membosankan karena tanggal lahir dan tanggal kematianku seperti dicopy-paste dengan penambahan dua puluh tahun. Aku akan mati di umur dua puluh tahun! Aku akan mati sebelum lulus sarjana. Aku akan mati ratusan kilometar jauhnya dari keluargaku. Aku bahkan belum menghapus koleksiku. Ibuku akan memeriksa laptopku dan berpikir sepanjang sisa hidupnya bahwa putranya yang mati muda diam-diam mengandrungi video porno bertema hidden sex."
Kazuya tertawa keras hingga matanya berair. "Kita akan masuk berita lokal. Dua orang mahasiswa Universitas Meiji ditemukan tewas terpanggang setelah mobil yang ditumpanginya tercebur ke dalam sungai. Bangkai mobil dan mayat keduanya menjadi polusi terbesar yang mencemari sungai tahun ini."
Sawamura tergelak dalam pelukannya. "Atau," Kazuya bicara lagi, "kita bakal menjadi topik receh dalam koran. Realisasi Belahan Jiwa, Sehidup-Semati."
Mereka tertawa lebih keras lagi, lebih nyaring, lebih geli, sampai menjadi napas putus-putus dan sengguk menggelikan. Kemudian tawa itu mereda, hanya ada senyuman maha lebar yang Kazuya pikir akan merobek pipinya. Kembali mengatur napas… sampai akhirnya tersadar akan posisi mereka selama ini.
Kazuya bisa merasakan tubuh Sawamura menegang sebelum pemuda itu mundur dengan cepat, melepaskan pelukan. Yang terjadi selanjutnya sudah bisa ditebak, mereka menjadi terlalu cangung untuk menatap mata satu sama lain. Sawamura mengosok-gosok tenguknya dengan grogi, mengamati dasbor seolah ia belum pernah melihatnya.
Kazuya kemudian berdeham dengan keki. "Kurasa kita masih harus naik." Ia memandang ke luar jendela mobil. Melihat tanjakan panjang menuju jalan raya tempat mereka meluncur sebelumnya. "Tinggi juga."
Sawamura menjilat bibir dengan gelisah, memandang tanjakan yang sama lalu menoleh padanya. "Kita harus bisa."
Kazuya mendenguskan tawa geli. "Mudah bagimu bicara begitu," Ia melirik ke arah kaca spion. "Aku perlu bermanufer di landasan yang tak rata, berjarak kurang dari setengah meter dari bibir sungai, lalu membawa mobil berat ini menanjak."
Sawamura mencebik, menatapnya dengan tajam. "Kau tidak boleh pesimis begitu! Kita sudah berhasil turun dengan selamat, seharusnya kita juga bisa naik dengan selamat!"
"Baiklah, mari kita coba. Sekarang pasang sabuk pengamanmu dan mulailah berdoa agar kita benar-benar tidak jadi mati." Kazuya menarik napas dan mulai menyalakan starter. Tangannya baru bergerak ke tuas persneling, tetapi Sawamura menahannya.
"Kau tahu," Sawamura berkata, meneguk ludah dan mengangguk tipis. "kurasa sebaiknya kita menelpon bantuan mobil derek saja."
Kazuya menghela napas panjang. "Yeah," Ia setuju. "Sudah cukup ketegangan untuk hari ini." Ia kembali memattikan mesin mobil dan bersandar pada jok. Menghirup napas dalam-dalam untuk mencapai ketenangan, kemudian menghubungi mobil derek.
"Aku tidak percaya aku hampir mati di hari ulang tahunku sendiri." Sawamura berujar, menghela napas lagi. "Dan sekarang, aku terjebak belasan meter di bawah jalan utama, kurang dari setengah meter untuk tercebur ke sungai."
Kazuya masih menatap layar ponselnya, mengernyit, kemudian berpaling pada Sawamura. "Mau kutambahkan kabar buruknya?" Sawamura menetapnya dengan ngeri, dan Kazuya hanya angkat bahu. "Mobil derek baru bisa menolong kita secepat-cepatnya dalam satu jam ke depan."
"APA!?"
"Nyaris semua jalan di Tokyo sedang macet sekerang, akan butuh waktu untuk sampai ke sini. Sabar, yaa."
Sawamura membuka mulutnya, tetapi tidak ada suara yang keluar. Keputus asaan, kengeringan, dan juga rajukan berbaur di wajahnya. Sawamura mungkin akan menangis sebentar lagi, tapi Kazuya justru tersenyum cerah. "Well, mari ambil sisi positifnya." Kazuya melambaikan tangan ke sekitar. "Tempat ini bagus, masih lumayan asri, dan ada aku bersamamu di sini."
Mata Sawamura menyipit sengit memandangnya.
Kazuya balas menyeringai. "Ayolah, kapan lagi kau bisa mendapat kesempatan sebagus ini? Jadi, mari kita kencan, Sawamura-kun."
to be countinued
a/n: apakah terkesan narsis kalau saya bilang saya suka karakter Chris di sini? Entah apa pula yang merasuki saya sampai menulis adegan masuk jurang dengan sangat… tidak elit. Anyway, saya harap ini pertengkaran terakhir mereka, hehe. Berdoalah kalian agar jari-jari saya tidak mengetik plot ribut-ribut lagi.
