Hanya Miyuki Kazuya yang sempat-sempatnya mencetuskan kata kencan di tengah situasi abnormal seperti ini. Terjebak di antara semak belukar dan sejangkal berjarak dari sungai berbatu. Lagipula apa yang bisa mereka dapatkan di sini? Meski Eijun menyukai wisata alam, tetapi tempat mereka saat ini jelas-jelas tidak ramah untuk bersantai. Yah, kecuali jika Miyuki memang berniat memberinya hadiah kalung yang terbuat dari ular tanah.
Meh, lupakan saja. Miyuki bahkan berjengit saat melihat serangga di kaca mobilnya. Setelah dengan penuh percaya diri mengajukan ide berkencan di lingkungan asri, hanya tiga menit kemudian Miyuki justru berkata bahwa mereka sebaiknya menunggu dengan sabar di dalam mobil.
"Sinyal di sini bahkan tidak bisa terhubung ke internet." Miyuki mengeluh, mendecakkan lidah sambil menatap kesal ke layar ponselnya.
"Secara kasar, sebenarnya kita masuk jurang. Apa yang kau harapkan? WiFi gratis?"
Miyuki melirik padanya dengan mata disipitkan. "Perasaanku saja, atau kau sekarang mulai bertambah sarkas?"
Eijun angkat bahu. "Aku belajar dari ahlinya."
Miyuki menyeringai. "Kau selalu melampaui ekspetasiku, Sawamura."
Eijun memutar mata kemudian mulai berpikir. Jika ia harus terjebak bersama seorang Miyuki Kazuya di sini sekurang-kurangnya satu jam ke depan, tanpa internet, ruangan sempit, pemandangan liar, mungkin ini benar-benar akan menjadi ulang tahun terburuknya. Dengan ngeri, Eijun mulai memaksa otaknya untuk berpikir lebih keras. Mencari solusi pembunuh kebosanan yang bisa mereka lakukan di tempat ini.
"Bukankah sebaiknya kita ke luar dan mencari bantuan?" Eijun mengusulkan. "Barangkali ada warga sekitar yang bisa menolong kita."
"Kau tidak ingat betapa sepinya jalanan di atas sana? Sekalipun ada yang lewat dan melihat kita, kau pikir mereka bisa membantu pakai apa? Menderek mobil dengan sepeda?"
Eijun cemberut. "Setidaknya kita harus berusaha! Diam seperti ini sama sekali tidak berguna tahu!"
"Aku sudah menghubungi mobil derek, Sawamura." Miyuki berkata dengan sabar. "Duduklah dengan manis dan tunggu saja."
Eijun mendengus dengan sebal, melipat tangannya di depan dada dan membuang muka dari Miyuki. Ia kembali menatap ke luar jendela. Langit di luar begitu cerah, biru membentang nyaris tanpa awan. Tetapi semak-semak tidak lekas berubah menjadi taman bermain. Sebenarnya, Eijun sedikit heran dengan semak-semak tinggi itu, ini baru pertengahan bulan Mei, baru sekitar satu bulan sejak musim semi datang. Bagaimana bisa rumput liar dan ilalang sudah tumbuh setinggi dan selebat ini? Andaikan rumput-rumput itu lebih bersahabat sedikit, pasti menyenangkan dipakai piknik.
Oh! Piknik!
Eijun mengerjapkan mata dan menjentikkan jari dengan ceria. Ia memang jenius! Secepat sambaran kilat, Eijun menguncang lengan Miyuki yang duduk di sebelahnya. "Ayo kita piknik!"
Miyuki berkedip-kedip. "Apa?"
"PIKNIK!" Seru Eijun bersemangat. "Tadi aku sempat membungkus sisa sarapan dalam bento! Aku juga tahu kau selalu menyediakan botol-botol air mineral di dalam mobilmu, kan? Jadi mari kita piknik!"
Miyuki menyentil jidatnya. "Baka! Kau mau piknik ditemani ular dan hewan pengerat? Kau pikir binatang-binatang itu bakal ramah jika kita berbagi sepotong sushi pada mereka?"
"Dengarkan aku dulu!" Eijun memprotes. "Kita tidak harus piknik di semak belukar itu! kita bisa piknik di atas mobil! Di atap mobil!"
Sulit menggambarkan tentang apa yang melintas di kedua mata Miyuki ketika akhirnya dapat mencerna kalimat Eijun dengan baik. Kengerian, irasional, kekaguman dan mungkin juga ejekan. "You are really something, Sawamura."
…
"Aku tidak percaya aku mengatakan ini, tapi kurasa idemu memang tidak buruk."
Eijun memutar mata. "Apa susahnya memujiku, Miyuki Kazuya? Katakan saja aku memang jenius!"
Miyuki terkekeh. "Yah, yah, Sawamura memang jenius." Nadanya sama sekali tidak mirip sebuah pujian. Tetapi untuk kali ini Eijun akan mengabaikan seringai nakal di bibirnya itu karena tidak ingin menambah kacau harinya.
"Cuaca yang bagus di tengah situasai yang tidak terlalu bagus." Miyuki berkomentar ketika angin sejuk kembali berhembus menerpa tubuh mereka.
Eijun menghela napas senang, tersenyum tanpa sadar dan menyetujui ucapan Miyuki. Mereka saat ini duduk di atas atap mobil Miyuki bersama beberapa makanan sisa sarapan yang sempat Eijun kemas di dalam tasnya. Memang tidak banyak yang bisa mereka lakukan di sini, tapi setidaknya berada tepat di bawah kolong langit yang biru, ditemani semilir angin yang menebarkan aroma arbei dan rerumputan, juga riak air sungai menyanyikan harmoni alam adaah jauh lebih baik ketimbang terjebak di ruang sempit dalam mobil Miyuki.
"Aku penasaran," Eijun menoleh pada Miyuki ketika pemuda itu kembali bicara. Ada seualas senyuman tak seimbang di bibirnya, kerutan samar di salah satu alisnya, juga binar ketertarikan tipis di sepasang matanya ketika mereka saling memandang. "apakah dua puluh tahun lalu kau lahir saat cuaca sebagus ini juga?"
Eijun mengernyit samar, masih menunggu barangkali Miyuki menyimpan kalimat sarkastik lain di bawah pertanyaan random barusan. Tetapi Miyuki tak menunjukkan tanda-tanda ia sedang bercanda, sebaliknya, kali ini ia benar-benar terkesan seakan menunggu jawaban Eijun dengan sungguh-sunguh.
"Aku tidak tahu pasti seperti apa cuaca saat aku lahir, tapi keluargaku pernah bercerita bahwa itu hari yang cukup cerah." Eijun mencoba mengenang kembali cerita-cerita dari ibunya, ayahnya, atau kakeknya tentang hari ketika ia dilahirkan. "Aku lahir sekitar pukul setengah enam pagi. Ibuku bilang, dia masih bisa mengingat seperti apa aroma embun basah pagi itu. Ayahku bilang, bahkan sampai saat ini ketika dia memajamkan mata, suara jeritan ibuku saat melahirkan dan kokok ayam pagi hari masih berputar dalam kepalanya. Hari itu, kakekku berkelling dengan mobil pick up tuanya mengitari nyaris seluruh desa sambil tertawa, dan mengumumkan kelahiranku seperti bocah kegirangan."
Miyuki tertawa samar, tersenyum kepadanya. Kali ini Eijun tidak merasakan ejekan apapun dalam eskpresi Miyuki, hampir-hampir seperti Miyuki tersenyum karena maklum atau bahkan terkesan. "Kau sudah terdengar menghebohkan bahkan sejak hari pertamamu, Sawamura."
"Mm-hmm," Eijun bergumam, tersenyum geli sendiri begitu mengingat cerita lain tenatang masa kecilnya. "Keluarga dan orang-orang sekitarku berkata bahwa aku benar-benar cocok dilahirkan pada pertengahan musim semi. Atau setidaknya itulah yang mereka pikirkan sampai satu tahun kemudian."
Satu alis Miyuki terangkat. "Apa yang terjadi?"
"Mereka bilang aku lebih mirip musim panas pada tahun-tahun berikutnya. Membuat gerah, berlarian ke sana-sini seperti serangga terbang, berisik seperti jeritan tongeret." Eijun menatap mata Miyuki, memberi senyum simpul. "Percaya atau tidak, aku bahkan mulai dipanggil Natsu."
Selama beberapa saat Miyuki hanya memandanginya dalam diam, sedikit menyipitkan mata seperti berusaha menyelami lebih dalam. Kemudian pemuda itu mendengus, tertawa geli, menggelengkan kepalanya dari satu sisi ke sisi yang lain. "Lucu. Lucu sekali." Ia berkomat-kamit, Eijun kira Miyuki hanya bermaksud mengejeknya seperti biasa, tapi gagasan itu dipatahkan ketika Miyuki bicara lagi. "Ibuku sering bercerita kalau dulu impiannya adalah memiliki seorang anak yang lahir di musim panas. Ibuku sangat ingin menamai anaknya Natsu atau Natsumi. Sayangnya, aku lahir di musim gugur dan ayahku menolak memberiku nama Natsu."
Eijun berkedip, mengerjap, lalu melebarkan mata.
Miyuki tertawa geli. "Yeah, tapi ibuku tetap memanggilku Natsu saat aku kecil, mungkin sampai aku kelas tiga SD."
"Jadi maksudmu…"
"Ya, benar. Aku juga dipanggil Natsu saat kecil." Potong Kazuya ringkas, tersenyum lugas. "Lucu, ya?"
Eijun bahkan tidak tahu harus bagaimaana merespon informasi itu. Barangkali ini bukan sebuah hal besar atau sesuatu yang penting, tapi mengetahui bahwa dirinya dan Miyuki Kazuya memiliki sebuah kesamaan selain baseball di antara sepuluh juta perbedaan mereka… rasanya memang cukup menggelikan, lucu. Karena itulah akhirnya Eijun memutuskan untuk ikut tertawa geli, menarik napas lebih dalam dan mendongak menatap bentang angkasa di atas kepalanya.
"Kau tahu dunia pararel?" Eijun menemukan dirinya berkata saat matanya masih memandang ke langit.
Miyuki bergumam sebagai jawaban awal, lalu ikut mendongak ke arah langit. "Dunia di mana diri kita yang lain sedang melakukan aktivitas yang berbeda dengan diri kita di sini, kan?"
Eijun mengangguk, masih tersenyum, masih memandang ke arah langit biru. "Aku penasaran, seperti apa kita di dunia itu. Satu di antaranya mungkin aku adalah rivalmu dari Inashiro yang terus bersaing saat SMA. Satu yang lainnya aku mungkin adik kelasmu ketika aku memilih untuk masuk ke Seido, menjadi pitcher-mu, pasangan battery-mu, dan mungkin tampil di Koshien bersamamu. Hari ini, aku memikirkan satu lagi yang lainnya," Eijun mengalihkan pandangannya dari langit, lalu menatap ke mata Miyuki bersama seulas senyum menantang. "Kita mungkin sepasang sahabat dekat yang bertemu sejak kecil, mendapati nama panggilan kita ternyata sama, lalu terus berteman akrab sampai dewasa. Bermain baseball, datang ke pesta-pesta elite yang membosankan, membuat keributan, bertengkar untuk membela satu sama lain."
Ada jeda, beberapa detik, sementara Miyuki hanya memandanginya seakan-akan terpenjarat, terhipnotis, atau terpesona akan kata-kata itu. Keheningan itu berlalu begitu saja sampai sesuatu yang lembut melintas di mata Miyuki, kemudian pemuda itu tersenyum, hangat, tulus, menawan. Sejenak Eijun ingin tahu berapa banyak orang yang berkesempatan menatap senyum Miyuki yang seperti ini.
"Kalau memang seperti itu, maka aku hanya menginginkan satu hal." Miyuki berkata kepadanya, matanya bercahaya dalam warna coklat madu yang hangat. "Aku harap, di dunia yang lain itu tidak ada aturan apapun soal soulmate, imprint, dan lain sebagainya. Aku tidak ingin merusak hubunganku denganmu hanya karena fakta bahwa kita memiliki imprint yang sama, lalu kita menjadi canggung satu sama lain sebelum akhirnya saling menjauh."
Sentakan aneh di dasar perutnya, kemudian perut Eijun terasa begitu kencang, rongga dadanya mengetat hingga debar jangungnya terasa bertalu-talu seakan hendak merobek rusuknya.
"Karena di kehidupan lainnya, Sawamura." Miyuki menetap ke matanya lurus-lurus. "Aku tidak ingin menjadi seseorang yang kau benci."
Sampai mobil derek tiba dan mereka melanjutkan perjalanan ke toko olahraga, membeli perlengkapan baseball, bermain catch ball, makan siang di Hakushu dan bahkan sampai Miyuki mengantarnya kembali pulang. Eijun tetap tidak bisa menyampaikan isi hatinya bahwa sesungguhnya di dunia ini pun, ia tidak pernah benar-benar membenci Miyuki Kazuya.
…
Dua hari berselang setelah ulang tahun Sawamura, Kazuya menemukan dirinya kembali menghubungi pemuda kidal itu untuk mengajaknya bergabung dalam pesta perayaan ulang tahun Kuramochi. Tidak banyak yang diundang, lagipula ini hanya seperti perayaan kecil, karaoke, makan, minum, berkumpul sampai larut malam dan menjadikan Kuramochi raja semalaman.
"Kenapa kau memberitahu dadakan begini, sih?" Sawamura sedikit membentaknya di telepon. Kazuya mengangkifkan fitur speaker dan membiarkan ponselnya tergeletak di kasur sementara ia berganti baju. "Aku tidak menyiapkan apapun. Aku bahkan tidak punya hadiah untuk Kuramochi-senpai."
Kazuya memutar mata, mengaitkan kancing celana jisnya. "Kau tidak harus membawa hadiah. Kuramcochi bukan seorang gadis yang mengharapkanmu datang dengan bunga atau hadiah di hari ulang tahunnya, kau tahu?"
Sawamura berdecak sebal. "Bukan itu masalahnya! Aku lebih muda darinya dan akan jadi tidak sopan kalau aku hanya datang tanpa membawa apapun!"
"Whoa…" kali ini Kazuya menyempatkan diri untuk menatap ke layar ponselnya mekipun itu memang tidak perlu. "Kau sangat sopan dan sangat perhatian pada Kuramochi, mengapa kau tidak pernah mencoba memeperlakukanku seperti itu juga?"
"Jangan mengalihkan pembicaraan!"
Kazuya terkekeh geli dan mulai memakai t-shirt hitamnya. "Datang saja." Ia berkata, menenangkan. "Hadiahnya bisa menyusul kalau kau memang benar-benar ingin memberikannya pada Kuramochi."
Jeda, Kazuya bisa membayangkan Sawamura tengah menggigiti bibirnya. "Tapi… apa tidak apa-apa aku ada di sana? Mereka yang datang pasti teman-teman seangkatan kalian, kan?"
"Ohoho! Sawamura-kun tiba-tiba takut bergabung dengan para senpai, hm? Kenapa, Adik Kecil? Kau takut kami akan mengerjaimu? Memaksamu minum-minum sampai muntah?"
"Sialan!"
Kazuya tertawa lagi, bergerak ke meja riasnya untuk mengambil botol cologne, dan menyemprotkannya sedikit di belakang lehernya. "Kalau memang kau mau, kau boleh membawa seseorang bersamamu juga. Biar aku yang akan bicara pada Kuramochi nanti." Kazuya menemukan dirinya berkata sambil mebuka lemari dan menarik salah satu jaket favoritnya. "Aku yakin Kuramochi tidak akan keberatan. Lagipula, aku yang menjadi sponsor acara ini."
Jeda lagi, Kazuya bisa membayangkan Sawamura sedang memasang raut wajah ragu-ragu dan berpikir. "Benarkah…?"
"Hmm." Sahut Kazuya ringan, memakai jaketnya dan berjalan kembali untuk meraih ponsel dari kasur, mematikan speaker, lalu menempelkannya ke telinga. "Kau boleh membawa seseorang bersamamu, ajak saja teman dekatmu atau apalah."
"Mm…oke."
"Oke?"
Terdengar Sawamura menghela napas. "Baiklah, aku akan datang."
Kazuya tersenyum lebar, menahan kakinya agar tidak melompat girang. "Acaranya akan dimulai sekitar satu setengah jam dari sekarang. Aku harus menjemput Kuramochi lebih dulu, kau mau aku jemput juga?"
"Aku akan datang menyusul. Kau kirimkan saja alamatnya."
…
"Well, well," Kazuya bisa mendengar tawa mengejek saat Kuramochi mencondongkan tubuh dan bicara di telinganya. "Kau memang aneh, Miyuki. Orang macam apa yang mengundang gebetan dan saingan cintanya ke dalam satu acara yang sama?" Ia berbisik, seringai melebar di wajahnya. Menatap Kazuya dengan gerlingan nakal lalu melirik kembali pada dua orang di sisi lain ruangan, duduk bersebelahan di sebuah sofa, tertawa dengan kedua bahu saling menempel. "Dasar masokis." Dengus Kuramochi sekali lagi sebelum kemudian bernajak dari sisinya sambil mengangkat sebotol bir tinggi-tinggi dan meneriakkan kata pesta! seperti pemuda gila.
Kazuya mendengus sebal, menjadi agak marah tanpa alasan yang pasti. Ia bahkan tidak bisa mendebat konklusi tolol Kuramochi soal gebetan dan saingan cinta. Sejak tadi, rahangnya hanya mengetat, duduknya kaku, dan sama sekali tidak bisa menikmati pesta. Matanya terus melirik secara konstan ke arah dua orang yang sebelumnya di sebut-sebut Kuramochi. Di sudut sana, Sawamura Eijun duduk bersebelahan bersama Takigawa Chris Yuu, berbaur dalam pesta layaknya sepasang kekasih harmonis.
Kazuya bedecak, meraih gelas ketiganya dan meminumnya dengan rakus. Aneh, biasanya ia suka melihat Sawamura dan Chris dari dekat. Mengobservasi pola hubungan mereka, mencari celah yang bisa dia kendalikan, lalu bersenang-senang ketika berhasil mengacaukan satu atau dua hal. Menyalahkan yang benar, dan membenarkan yang salah. Tetapi malam ini lain, rasanya ia begitu kesal, begitu marah, begitu ingin berlari ke arah sana dan menendang Chris keluar dari pesta.
Malam ini Kazuya tidak mengharapkan kehadiran Chris. Malam ini ia hanya menginginkan kehadiran Sawamura, bergabung bersama di pesta untuk Kuramochi, mungkin sesekali menggoda pemuda itu di tengah-tengah kerumunan teman-temannya yang lain. Mungkin Kuramochi bahkan akan mengejek mereka berdua, mengumumkan kenyataan bahwa mereka adalah sepasang soulmate kepada semua orang yang kemudian akan membuat wajah Sawamura pucat pasi sedangkan Kazuya bisa tertawa geli menatap raut wajah kaget teman-temannya yang lain. Kazuya mengira Sawamura akan membawa Kanemaru, atau Tojou, atau siapapun temannya yang lain, bukan Chris.
"Can't enjoy the party?"
Kazuya mendongak ke arah suara itu, menemukan Watanabe sedang berdiri memandanginya dengan satu alis terangkat juga senyuman tipis berisi keramahan.
Kazuya balas tersenyum samar, mengangkat dagunya ke arah tempat di sebelahnya sebagai isyarat agar temannya itu duduk bersamanya.
Nabe tersenyum sedikit lebih lebar, menangguk dan duduk tepat di sebelahnya. "Kau kelihatan jauh lebih pendiam hari ini, Miyuki. Ada masalah?"
"Aku baik-baik saja."
"Aku pikir kau bertengkar lagi dengan Zono." Nabe menyebutkan nama itu sambil meririk ke arah seorang pemuda berpotongan cepak dengan wajah sangar yang sedang bernyanyi sambil berangkulan dengan Kuramochi.
Kazuya tertawa samar. "Astaga, itu sudah lama sekali. Kami baik-baik saja, Nabe. Aku hanya… sedikit tidak tahan dengan nyanyian mengerikan mereka semua."
"Kuncinya adalah, kau nikmati saja musiknya, jangan pedulikan suara vokalnya."
"Masalahnya, sulit untuk menikmati saat kau tahu yang dinyanyikan adalah lagu AKB48, sementara yang menyanyi adalah Kuramochi dan Zono. Kesannya bukan lagi kocak, tapi porno."
Nabe berkedip-kedip memandanginya, kemudian tertawa geli. "Selera humormu meningkat, Miyuki."
"Mungkin karena akhir-akhir ini banyak sekali hal menarik, di luar nalar, konyol, dan sedikit memalukan terjadi di hidupku."
Nabe mengangkat sebelah alis dan memandanginya. "Oh ya? Sepertinya kau menikmatinya."
"Sebagian besar, sebagian sisanya membuatku hampir gila."
Mereka terlibat percakapan sampai berberapa menit ke depan. Membahas beberapa hal secara random dan juga bertukar pikiran. Watanabe adalah salah satu orang yang Kazuya akui kecerdasannya, jika Kuramochi berinsting sangat tajam, maka Nabe berbakat untuk menggunakan semua intuisi dan panca indranya untuk mengelola segala hal kemudian menyerapnya menjadi informasi penting. Insting Kuramochi adalah bakat alami yang keluar begitu saja, sedangkan deduksi Nabe selalu lahir dari proses pemikiran mendalam dan analisa tingkat tinggi. Menyenangkan rasanya bisa berbicara dengan Nabe dan mendengar pemuda itu mengemukakan pemikiran ataupun pandangannya yang begitu cerdas, tajam, penuh perhitungan.
"Aku tidak menyangka kalian mengundang Chris juga."
Kazuya nyaris menjatuhkan gelasnya saat Nabe menyebutkan nama itu. Serius, apakah seisi dunia malam ini memang membentuk konspirasi jahat untuk membuat Kazuya kesal?
"Maksudku," Nabe berdeham kecil, memandang ke arahnya. "Aku tahu kau dan Chris berteman, tapi kukira Chris bukan seseorang yang menyukai pesta seperti ini."
Kazuya meletakkan kembali gelasnya di atas meja, mendadak tidak berselera untuk minum atau makan apapun. "Aku pikir juga begitu, tapi kelihatannya Chris senang-senang saja di sini."
Nabe mengernyit, mengalihkan tatapan ke arah Chris dan diam selama beberapa saat. "Seseorang di sebelah Chris itu, aku belum pernah melihatnya. Apa dia seseorang yang Chris bawa?" Nabe berpaling padanya, menatap penasaran dengan alis terangkat. "Pacarnya?"
Kazuya bisa merasakan urat mulutnya menegang, ia mencoba untuk tidak menatap tajam pada Nabe, atau melakukan apapun yang bisa membuat pemuda itu berpikir bahwa kali ini ia sedang menahan diri untuk tidak membanting meja.
"Bukan." Jawab Kazuya akhirnya, suaranya tegang dan pecah. Untungnya musik terlalu keras hingga Nabe tak sadar. "Sebenarnya dia yang kami undang ke sini dan dia mengajak Chris."
"Oh? Aku tidak tahu kau dan Kuramochi punya kenalan adik tingkat di luar jurusan teknik."
Kazuya tersenyum getir. "Kau mau berkenalan dengannya? Kita bisa ke sana dan menyapa mereka kalau kau mau." Kalimat Kazuya memang bersifat persulasif, tapi Nabe rupanya cukup sadar bahwa cara bicara Kazuya lebih mirip imperatif. Karena itulah mereka lekas berdiri dan berjalan menyebrangi ruangan untuk berhenti di hadapan Chris dan Sawamura.
Kazuya berdeham, berhasil menarik perhatian Chris dan Sawamura hingga mendongak padanya. Memasang senyuman miring lalu mengerling singkat pada Nabe. "Keberatan kalau kami bergabung?"
Sawamura menyipitkan mata memandanginya, jelas menaruh rasa curiga akan kesopanan Kazuya. Tetapi itu tidak bertahan lama karena Chris lekas tersenyum lembut. "Tentu tidak, silakan."
Kazuya dan Nabe mengambil tempat duduk di hadapan mereka, dan Kazuya berusaha mengabaikan tatapan galak Sawamura yang terus mengitai gerak-geriknya hingga ia duduk berhadapan dengan pemuda itu.
"Hai, Chris." Nabe menyapa ramah.
Chris balas tersenyum. "Nabe," Ia balas menyapa. "Aku membaca artikelmu tentang termodinamika pekan lalu, itu luar biasa."
Nabe tertawa kecil. "Aku tidak percaya seseorang dengan tingkat kejeniusan sepertimu memujiku."
Kazuya tersentak kecil ketika merasakan tendangan pada tulang keringnya di bawah meja. Ketika menoleh, ia dihadapkan langsung dengan mata Sawamura yang menyipit tajam, bahkan tanpa bicarapun, Kazuya bisa dengan jelas menerjemahkan makna tatapan itu, apa-lagi-rencanamu?
Kazuya balas tersenyum, menggeleng dengan inosen dan justru menawarkan minuman kepada Sawamua yang dibalas dengan desis seasam racun. Kazuya tersenyum geli, menyikut Nabe di sebelahnya hingga pemuda itu menoleh. "Kalian mungkin harus berkenalan."
"Ah," Nabe memandang Sawamura dan tersenyum lebar. "Perkenalkan, namaku Watanabe Hisashi."
Sawamura tersentak kecil, kemudian segera membungkuk tipis. "Sawamura Eijun, desu! Yoroshiku, Watanabe-senpai."
"Wow." Kazuya bersandar pada kursi dan melipat tangan di depan dada. "Kau sopan sekali pada Nabe. Kenapa aku tidak pernah mendapat kesempatan mencicipi sopan santunmu yang seperti itu?"
Sawamura mendelik sinis, mengabaikannya. Anak ini, batin Kazuya, dia semakin jago mengabaikanku. Sikap Sawamura yang seperti itu rupanya cukup imut di mata Chris dan juga Nabe, karena kedua orang itu diam-diam menyembunyikan tawa geli.
"Ini pertama kalinya aku melihat Miyuki dan Kuramochi berteman dengan adik tingkat diluar jurusan teknik." Nabe bicara lagi, melirik bergantian pada Sawamura dan Chris. "Dan kau bahkan mengenal Chris juga, huh? Sedikit mengejutkan."
Sawamura menatap Kazuya dengan gelisah. Jelas-jelas meminta Kazuya mengambil alih jawaban atas pertanyaan Nabe sebelumnya. Tetapi Kazuya memilih untuk pura-pura tidak membaca kodenya, menatap dengan sebelah alis terangkat, dan sama sekali tak berniat membantu.
"Sawamura mengenalku karena taekwondo."
Heck, tentu saja. Chris adalah pahlawannya Sawamura.
"Be-benar!" Sawamura berusaha menutupi dengan sahutan bersemangat, tersenyum terlalu lebar pada Nabe. "Chris-senpai adalah mentorku, aku banyak belajar darinya!"
Nabe menganggukan kepala dan bergumam kecil, lalu melirik lagi. "Bagaimana dengan Miyuki dan Kuramochi? Apa—"
"Ha! Kudengar namaku disebut!"
Nice timning, Mochi. Kazuya membatin, mendengus geli dan mengerling pada Kuramochi yang kini membungkuk di belakang Nabe sambil mengalungkan lengannya ke bahu pemuda itu. Kuramochi memandang keempat orang dan menyeringai selebar jalan ke neraka. "Wah, sepertinya kalian sudah membentuk grup yang menarik. Aku akan bergabung, kyahahaha!"
Kuramochi tertawa riang, melompat dari belakang Nabe lalu mendorong Kazuya dengan kasar hingga ia mendapat ruang di tengah-tengah Kazuya dan Nabe. Duduk dengan kedua kaki terbuka lebar dan menyeringai layaknya raja psikopat. "Jadi, apa yang kalian bicarakan?"
Kazuya memutar mata, mencoba kembali duduk tegak pasca serangan brutal Kuramochi yang membuatnya membentur pinggiran sofa. "Kau beruntung ini hari ulang tahunmu, kalau tidak aku bisa melaporkanmu atas tuduhan penganiayaan."
Kuramochi mengibaskan tangannya seakan mengusir serangga. "Jadi apa yang kalian berempat lakukan di sini? Bersenang-senang tanpa Tuan Kuramochi yang sedang berulang tahun? Kejamnya!"
Nabe dan Chris tertawa geli, Sawamura tampak sedikit salah tingkah, sedangkan Kazuya kembali memutar mata.
"Kami hanya mengobrol." Nabe menjawab. "Aku baru saja bertanya bagaimana kau dan Miyuki bisa mengenal Sawamura."
"Oh!" Kuramochi berseru riang, tertawa lagi. "Itu cerita yang menarik." Ia menyeringai, melirik bergantian pada Kazuya dan Sawamura yang kini terlihat sepucat hantu. "Tapi aku punya hal menarik lainnya untuk malam ini. Let's play spin the bottle!"
Kazuya baru membuka mulutnya untuk menyanggah tapi Kuramochi dengan tegas mengangkat tangan ke udara. "Tidak boleh menolak permintaanku malam ini. Aku Rajanya! Dan tidak, aku sudah bosan menyanyi dengan Zono atau main kartu dengan Nori dan yang lain. Aku ingin main bersama kalian berempat."
Kazuya memijat pelipisnya, ia tahu malam ini akan menjadi bencana. Nabe tertawa pasrah, dan Chris berupaya tersenyum sopan, sedangkan Sawamura berkedip-kedip kebingungan. Anak malang, dia tidak tahu seperti apa gilanya permainan Kuramochi.
"Bagaimana cara mainnya?"
Seringai Kuramochi melebar, ekspresi jahatnya berhadapan dengan wajah polos Sawamura. "Oh, mudah saja. Kita hanya harus memutar botolnya, lalu kita akan melihat ke arah siapa mulut botol berhenti berputar. Siapapun yang ditunjuk harus minum segelas bir, permainan akan terus berlangsung seperti itu sampai kita menemukan satu pemenang yang tidak menyerah."
Kazuya meneguk ludah. Ia bukan orang yang kuat minum terlalu banyak, dan ia juga bukan orang yang biasanya beruntung apabila terlibat dalam permainan sejenis ini.
"Here we go!"
Dengan itu Kuramochi mulai memutar botol kosong di atas meja. Kelima pasang mata menatap putaran itu hingga melambat, lalu berhenti dengan mulut botol mengarah tepat pada Chris.
Kazuya tersenyum simpul, Kuramochi menyodorkan segelas bir pada Chris dengan cengiran lebar. "Habiskan."
Chris memandang gelas itu dengan bimbang, lalu beralih pada Kuramochi. "Apa aku bisa menukarnya dengan hal lain? Toleransiku pada alkohol buruk, dan aku harus menyetir pulang nanti."
Kuramochi menurunkan kembali gelasnya lalu mengamat-amati Chris seraya mengelus dagu. "Kalau begitu… lepaskan seluruh pakaianmu dan menarilah di atas meja."
Nabe melongo, Chris mencoba sebaik mungkin untuk tidak panik, Sawamura menganga seakan tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Kazuya menutup mulutnya, menunduk dan mencoba untuk tidak terpingkal. Kuramochi menyeringai jahat, dan baru kali ini Kazuya merasa bangga memiliki sahabat sepertinya.
"Kuramochi, itu agak—"
"Ayolah, Chris. Aku sedang ulang tahun. Lagipula kita semua laki-laki, dan aku janji tidak ada yang berani merekammu saat menari."
Mari kita lihat, Kazuya berkata dalam hati selagi matanya melirik pada Chris yang berusaha terlihat tetap tenang, apa kau bisa tetap tampil keren di mata Sawamura setelah mempersembahkan tarian telanjang? Kazuya menolak menjadi jahat, tapi hal ini terlalu menarik untuk dilewatkan. Ia terlalu penasaran akan bagaimana ekspresi Sawamura nantinya, bagaimana Sawamura akan memandang Chris, dan bagaimana seseorang seperti Chris mendapatkan pengalaman memalukan di depan orang yang diincarnya.
"Chris, waktu terus berjalan. Tick-tock, tick-tock."
Chris menghela napas, berdeham dengan keki lalu menatap lurus-lurus ke mata Kuramochi. "Aku—"
"Aku akan menggantikan Chris-senpai!"
Semua perhatian kini tertuju pada Sawamura Eijun. Pemuda kidal itu telah berdiri dengan tatapan mata sekeras besi menghadap Kuramochi, kedua tangan mengepal di sisi tubuhnya, dan ekspresi kesungguhan mutlak. "Biar aku yang minum menggantikan Chris-senpai, apa boleh begitu?"
Kazuya tersenyum kecut. Manis sekali, Sawamura. Kau dan Chris benar-benar saling melindungi, huh?
Kuramochi tampak berpikir. "Mm… boleh saja. Tapi kau harus minum dua kali lipat, yang artinya kau harus minum dua gelas."
"Sawamura," Chris memanggil lembut, tangannya meraih pergelangan tangan Sawamura dalam sentuhan menenangkan. Seketika Kazuya merasa suhu ruangan naik dua puluh derajat. "Kau tidak perlu melakukannya untukku."
Sawamura menggeleng. "Tidak apa-apa, kalau hanya bir aku cukup kuat kok. Chris-senpai tenang saja, serahkan semuanya pada Sawamura Eijun!"
Kazuya merasakan gejolak tak menyenangkan di lambungnya. Bibirnya telah berubah menjadi garis kaku ketika melihat Sawamura tersenyum begitu lebar nan menyilaukan pada Chris. Kazuya bahkan tidak sadar ketika Kuramochi mencondongkan tubuh ke arahya dan berbisik pelan. "Cute, aren't they?"
Kazuya menggigit pipi bagian dalamnya, mencoba tersenyum. Lalu bergerak menuangkan segelas bir lainnya dan menyodorkannya pada Sawamura, berpura-pura tertarik pada permainan. "Kalau begitu silakan diminum, Sawamura-kun."
Sawamura meminum kedua gelas bir itu sampai habis dalam hitungan detik, lalu mendesah bangga dan duduk kembali di samping Chris. "Lihat? Aku baik-baik saja! Chris-senpai tidak perlu khawatir, hehehe."
"Kalau begitu kita lanjutkan permainannya. Sawamura, kau putar botolnya." Kuramochi memerintah.
Sawamura menurut, memutar botol kosong itu di atas meja dan mereka kembali menantikan kepada siapa mulut botol akan mengarah. Putaran melambat, kemudian berhenti.
"Kyahaha! Apa kau sengaja, Sawamura? Bagaimana bisa kau megarahkannya tepat ke Miyuki?"
Kazuya mendengus, ia hampir meminum gelas yang disodorkan Kuramochi sampai akhirnya sebuah ide melintas dalam kepalanya. "Boleh aku tukar dengan hal lain?"
"Haaaa?" Kuramochi mengernyit menatapnya. "Kau mau beralasan tidak tahan dengan alkohol juga? Jangan harap, Miyuki, aku tahu batas toleransimu. Dan ini hanya bir, kau pasti masih tahan."
Dasar teman menyebalkan. Kazuya menggerutu dalam hati, tetapi tetap memasang senyum simpul. "Aku sudah minum tiga gelas tequila sebelumnya, Kuramochi. Dan aku harus menyetir pulang, kau tahu itu."
Kazuya menatap Kuramochi lurus ke matanya, berusaha mengirimkan sinyal-sinyal agar Kuramochi mendukung permainannya. Ayolah, Mochi… bantu aku. Buat Sawamura melakukan hal yang sama dengan yang dia lakukan pada Chris untukku.
Kuramochi balas memandang, mengernyit seakan memang berusaha memahami makna tatapan itu. Kemudian ia menghela napas, mendelikkan bahu. "Baiklah," Ia berkata, melambungkan hati Kazuya begitu tinggi. "Sebagai gantinya, kau harus membayar dua puluh ribu yen padaku."
Kazuya nyaris melongo. "Aku… apa?"
"Dua puluh ribu yen." Sahut Kuramochi tegas, membuka telapak tangannya pada Kazuya. "Berikan dua puluh ribu yen."
"Tapi kenapa? Kau menyuruh Chris melakukan hal memalukan sebelumnya, kenapa kau malah memintaku membayar?"
"Oh, jadi kau lebih suka menari telanjang daripada membayar dua puluh ribu yen?"
Sialan, Kuramochi! Kazuya mengumpat tertahan. Mendengus dengan sebal sementara Kuramochi memamerkan seringai keji padanya. Ia terpaksa mengalah, merogoh dompetnya dan mengeluarkan dua puluh ribu yen yang langsung disambar oleh Kuramochi.
"Sekarang kau putar botolnya, Miyuki. Cepat!"
Putaran selanjutnya mengarah pada Nabe, kemudian Kuramochi, Sawamura, Chris, Kazuya, Sawamura, Chris, Nabe, dan Sawamura lagi.
"Kurasa sebaiknya cukup." Chris berkata saat Kuramochi mendorong gelas ke arah Sawamura. "Dia sudah minum terlalu banyak."
Jelas saja, Sawamura selalu minum dua gelas untuk menggantikan Chris dan ia bahkan tetap harus minum jika botol mengarah padanya. Jadi jika ditotal, anak itu sudah minum sebanyak tujuh gelas. Sekarang, keadaannya sudah setengah sadar, mata hanya setengah terbuka, dan dia bahkan sudah tidak bisa lagi duduk tegak.
"Oi, Sawamura." Kuramochi belum menyerah, pemuda itu justru melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Sawamura. "Kau sudah mabuk? Kau mau jadi orang pertama yang menyerah?"
Sawamura mengeluarkan suara cegukan kecil, lalu menggelengkan kepala seakan berupaya mengumpulkan semua kesadarannya. Ia lalu nyengir lebar pada Kuramochi, wajahnya telah sepenuhnya merah. "Belum…" Suaranya sedikit mengabur. "Aku masih kuat, Kuramochi-senpaaaiii..." Ia meraih gelas dari Kuramochi kemudian menempelkannya ke dada. "Aku cuma… agak kedinginan."
"Dia pasti sudah mabuk." Nebe mengumumkan. "Mana ada orang kedinginan setelah meminum bergelas-gelas bir? Seharusnya tubuh kita akan kepanasan, kan?"
Sawamura cemberut, meminum setengah gelas lalu menatap Nebe dengan mata setengah tertutup. "Aku tidak mabuk, Senpai… aku memang kedinginan."
Chris menatap Sawamura dengan resah, lalu hati-hati mengambil alih gelas di tangannya dan meletakkannya kembali di atas meja. "Sebaiknya kau tidak minum lagi, Sawamura."
"Tapi aku masih kuat, Chris-senpaaaaiii…"
"Oke. Dia mabuk." Kuramochi berkata, menatap Sawamura dengan alis berkerut. "Sawamura, kau out."
"Tidaaaak mauuuuu… aku masih ingin main…"
Kazuya mengusap tengkuknya dan berdeham kecil, berusaha mengambil alih perhatian Sawamura. "Sawamura, kau sudah mabuk. Jangan memaksakan diri."
"Miyuki Kazuya." Sawamura mencebik. "Kau selalu meremehkanku!"
"Hebat, bahkan saat mabuk pun dia masih bisa membentak Miyuki." Nebe berkata takjub. "Aku penasaran hubungan kalian yang sebenarnya."
"Dingiiinnn…" Sawamura merengek, lalu kepalanya terkulai ke bahu Chris, bersandar seperti anak kucing.
Jantung Kazuya bagai ditikam, rasa sakit dan kemarahan yang aneh berputar di dadanya saat menyaksikan bagaimana Sawamura tampak nyaman bersandar pada Chris. Kazuya tidak suka ini, ia tidak suka pemandangan ini, perasaan ini, situasi ini. Dan ia makin tidak suka ketika Chris dengan sangat lembut menggeser sedikit kepala Sawamura, lalu menyelimuti Sawamura dengan jaket miliknya. Bagaimana Sawamura merespon hal itu dengan senyuman kecil, menarik jaket Chris ke dagunya lalu tampak siap terlelap.
"Aku akan mengantarnya pulang. Sawamura sudah mabuk." Chris berkata, setengah terdengar seperti memohon pengertian. Tetapi Kazuya mengacuhkan semua kelembutan dalam suaranya dan lebih terpaku pada cara tangan Chris melingkar di bahu Sawamura lalu berakhir di lengan atasnya, merangkul pemuda itu mendekat untuk bersandar lebih banyak ke tubuhnya. Dari cara Chris menarik napas, Kazuya lumayan yakin saat ini Chris bisa menghirup aroma tubuh Sawamura. Kenyataan itu membuat perut Kazuya mengepal dalam rasa mual dan pahit.
"Well," Kuramochi berdeham keki. "Sawamura memang harus pulang, jadi—"
"Biar aku yang mengantarnya." Suara Kazuya terdengar terlalu tajam, terlalu penuh penekanan, terlalu keras hingga membuat ketiga pasang mata itu kompak menatapnya. "Aku saja yang mengantar Sawamura pulang."
Chris bertukar tatapan dengannya, dan kali ini Kazuya tidak ingin kalah lagi dari pemuda itu. Ia balas menatap dengan keras, bahkan mulai berdiri.
"Sawamura datang bersamaku, Miyuki. Jadi biar aku yang mengantarnya pulang."
"Sawamura datang karena ajakanku. Jadi dia tanggung jawabku, aku akan mengantarnya."
Chris berusaha tersenyum meski matanya mulai memancarkan sinar otoriter khas pemuda kaya lainnya. "Tidak apa, kau bisa melepaskan tanggung jawabnya padaku. Lagipula pestanya belum selesai, kau tidak seharusnya pergi."
"Oh? Memangnya kau tahu di mana Sawamura tinggal?" Tanya Kazuya ketus, menyeringai dengan tajam. "Tidak perlu berdebat, Chris. Biar aku yang membawanya pulang. Kau nikmati saja pestanya bersama yang lain." Kazuya berkata final, memutari meja lalu meraih tangan Sawamura, bermaksud untuk melepaskannya dari Chris.
"Miyuki—"
"Dia belahan jiwaku. Aku lebih berhak atasnya dibanding dirimu, Takigawa Chris Yuu."
Udara bagai terpecah saat Kazuya mengatakan kalimat itu. Chris menatapnya terpaku, Kuramochi dan Nabe terlalu terpenjarat untuk dapat bersuara. Kazuya memanfaatkan kesempatan itu untuk membawa Sawamura di punggungnya, mengalugkan kedua lengan Sawamura ke lehernya dan merasakan napas hangat pemuda itu di kulitnya.
"Aku duluan." Pamit Kazuya singkat, lalu pergi bersama Sawamura dalam gendongannya.
Sepuluh menit kemudian, Kazuya berhasil mencapai mobilnya. Ia mendudukkan Sawamura di kursi samping kemudi. Mengatur sandaran agar lebih landai lalu meletakkan kepalanya dengan hati-hati pada bantalan jok.
Kazuya tidak langsung menyalakan mesin dan memacu mobilnya. Ia memilih untuk menoleh pada Sawamura, lalu menatapnya dengan alis berkerut dalam. "Dasar bodoh." Kazuya mengumpat, Sawamura tidak merespon. Matanya terpejam, napas gemetar keluar dari hidung dan sela bibirnya. "Buat apa kau mengorbankan diri untuk Chris? Segitunya kau menyukainya, huh?"
Kazuya mendengus, merasakan senyum tajam merobek wajahnya. Ia masih memandangi Sawamura, dan menjadi terlalu gusar ketika melihat jaket milik Chris di tubuh pemuda itu.
"Itu tidak cocok untukmu." Kazuya berkata, mencondongkan tubuhnya ke arah Sawamura lalu menyingkirkan jaket Chris dan melemparnya asal ke jok belakang. Kemudian Kazuya melepas jaketnya sendiri, memakaikanya ke tubuh Sawamura, menarik retlseting hingga ke dadanya lalu tersenyum puas. "Begitu lebih baik. Lebih cocok untukmu."
Selanjutnya Kazuya menghela napas panjang, mencoba mengurai awan kelabu yang bergemuruh di dadanya perlahan-lahan. Kazuya masih bisa merasakan percik-percik sisa kemarahan membakar hatinya, tapi ia memilih untuk mengabaikan dan memandang wajah Sawamura lagi. "Aku bahkan tidak tahu lagi, Sawamura… Kau itu terlalu baik, terlalu polos, terlalu naif, ataukah memang murni idiot?" Ia berbisik, memasang sabuk pengaman di kursi Sawamura kemudian menyalakan mesin mobilnya.
…
Hampir pukul sebelas malam saat mobil Kazuya berhenti di depan rumah yang sudah tidak lagi asing baginya. Sawamura sama sekali tidak terbangun sepanjang perjalanan, hanya sesekali merancaukan hal-hal random dalam tidur hangover, beberapa ucapannya bahkan Kazuya tanggapi hingga mereka terlibat percakapan memalukan yang membuat Kazuya tertawa geli sepanjang perjalanan.
Awalnya Kazuya tidak terlalu peduli, tapi sekarang ia mengamati baik-baik bagaimana cara jaketnya menempel di tubuh Sawamura. Sawamura sendiri tidak kecil, tinggi mereka barangkali tidak berbeda terlalu jauh, tapi Sawamura langsing pada beberapa bagian di mana Kazuya adalah lebar. Sehingga jeket Kazuya tampak sedikit kebesaran di tubuhnya, bagian sambungan bahu merosot sampai setengah lengan atasnya, menciptakan kesan bahwa Sawamura begitu kecil dan Kazuya menemukan dirinya menyukai pemandangan itu.
Setelah melepaskan sabuk pengamannya, Kazuya mencondongkan diri ke arah Sawamura, menatap wajah tidurnya dan merasakan napas berbau alkohol dari mulutnya. Ia mengernyit, mengangkat tangannya untuk menguncang bahu pemuda itu dan membangunkannya. Sampai kemudian sebuah pemikiran melesat dalam kepalanya. Andai Chris yang ada di posisi ini, dia pasti akan membangunkan Sawamura dengan panggilan selembut kapas, hanya membisikkan namanya tiga kali, lalu tersenyum menawan dan memilih untuk menggendong Sawamura tanpa mengganggu tidurnya.
"Such a gentleman." Dengus Kazuya, menyadari bahwa Chris adalah lembut di manapun Kazuya adalah bengkok, tajam dan kasar. Chris adalah perlindungan di mana Kazuya adalah penyerang yang membuat seorang Sawamura Eijun menangis. Chris adalah penghormatan, loyalitas, kehangatan, saat Kazuya menerima kebencian, teriakan dan amarah Sawamura. Hal-hal itu sudah sangat jelas. Biasanya, Kazuya sama sekali tidak merasa kesal, tapi malam ini semua realita itu menyerangnya dalam putaran perasaan berat, gelap, tak masuk akal yang membuatnya ingin mengamuk.
Bersama satu tarikan napas panjang, Kazuya melepaskan sabuk pengaman Sawamura, lalu menggerakkan jarinya perlahan untuk menyibak poni pemuda itu yang jatuh menutupi kening hingga menyentuh kelopak matanya. Kazuya menyisir rambut Sawamura hati-hati, merasakan kelembutan yang ditawarkan helai-helai coklat brunette itu pada jari-jari tangannya yang dingin.
"Sawamura…" Kazuya berbisik, "Katakanlah aku mulai memperlakukanmu dengan lembut seperti Chris, lantas apa kau juga akan terus tersenyum padaku seperti kau tersenyum pada Chris?"
Pertanyaan itu mengambang di udara, dijawab oleh suara deru napas dan dengkuran halus Sawamura. Kazuya tersenyum getir, keluar dari mobil lalu membuka pintu rumah. Ia kembali lagi, membuka pintu di sisi Sawamura, menyelipkan tangan di balik pungung dan lututnya lalu mulai menggendong Sawamura masuk ke dalam rumah.
Kazuya membaringkan Sawamura dengan hati-hati di kasur. Melepaskan sepatu pemuda itu dan merogoh ke dalam saku celananya untuk mengambil dompet, ponsel, dan kunci lalu meletakkan semua barang-barang itu di nakas. Kazuya mempertimbangkan untuk membuat posisi Sawamura miring sebagai antisipasi jika pemuda itu muntah dan mengurangi risiko tersedak muntahannya sendiri. Namun urung ketika mengingat Sawamura sudah sempat muntah begitu mereka mencapai parkiran saat keluar dari pesta Kuramochi sebelumnya.
Kazuya membiarkan Sawamura tidur telentang, menarik selimut sampai menutupi dagu, dan mengatur bantal di bawah kepalanya. Kemudian Kazuya menemukan dirinya duduk di lantai dekat ranjang Sawamura, melipat tangannya di atas kasur dan menatap wajah Sawamura bersama naik turun dadanya yang teratur.
"Seumur hidup rasanya aku tidak pernah mengurusi orang mabuk sampai seperti ini. Bahkan aku membiarkan Kuramochi teler begitu saja di sofa tanpa melepaskan sepatu, apalagi menyelimutinya."
Jari-jari Kazuya bergerak lagi ke rambut Sawamura, menyisirnya dengan hati-hati tanpa bermaksud membangunkan pemuda itu.
"Aku tidak suka melihatmu mabuk di depan orang lain. Jadi lain kali, sebaiknya kau jauh-jauh dari alkohol, mengerti? Dan jangan bergelayutan pada sembarang orang begitu saja, itu membuatku kesal."
Sawamura menggerang kecil, bergerak dari posisinya lalu tidur menyamping menghadap Kazuya, tapi ia sama sekali tidak terbangun. Kazuya memandang lekat-lekat wajah lugu itu, merasakan sengatan kecil di dadanya. Ia menarik napas perlahan, merasakan hembusannya bergetar di sekujur tubuhnya. "Jangan konyol, Sawamura…" Kazuya menggerit, menggigil tanpa sebab yang pasti. "Seharusnya aku yang mempermainkanmu, bukan sebaliknya."
…
Eijun bangun dalam keadaan linglung. Ia dapat mencium bau alkohol basi di sekujur tubuhnya, kepalanya pusing dan perutnya dilanda mual sampai ke ulu hati. Cahaya matahari yang menerobos masuk melalui celah-celah jendela mengalahkan pijar lampu kamar tidurnya yang masih menyala.
Sial, jam berapa sekarang?
09.18 angka yang tertera pada jam digital di nakasnya. Terlambat sudah, Eijun melewatkan kelas paginya begitu saja. Tapi yang lebih penting, ia harus mulai berpikir atau mengingat, bagaimana caranya ia bisa sampai ke kamarnya?
Ponsel, dompet dan kunci rumahnya ada di atas nakas. Tetapi yang paling menyita perhatiannya adalah secarik post it yang menempel tepat di wajah boneka sarubobo merah mudanya. Eijun mengernyit, bergerak mencabut kertas itu dan membaca tulisan yang berbaris di sana.
Jangan lupa mandi, Sa-wa-mu-ra.
Aku membuka pintu rumah dengan kunci cadanganku
dan menguncinya kembali dari luar.
Darurat! Jangan protes!
Tapi kalau kau merasa tersinggung…
Aku minta maaf.
Sebagai informasi, kau muntah di bajuku semalam.
"Miyuki Kazuya…" Suara Eijun serak dan tercekat. Kenapa lagi-lagi ia harus berhutang budi pada pemuda itu? Eijun membuang napas, melirik kembali ke meja nakasnya dan menemukan segelas penuh air putih yang sepertinya sudah sengaja disiapkan Miyuki. Meraih dan meminumnya hingga habis, Eijun lantas menghela napas panjang, bersandar pada headbed.
"Oh, bagus." Eijun mendengus ketika memandangi tubuhnya. "Aku bahkan memakai jaketnya."
Ada pesan masuk dari tiga orang yang berbeda di ponselnya. Eijun membuka nama kanemaru Shinji lebih dulu. Mendapatkan informasi membanggakan bahwa kelas pagi mereka dibatalkan, yang artinya Eijun tidak harus mengorbankan absennya. Ia masih bisa mengejar kelas selanjutnya siang nanti. Lalu pesan atas nama Chris yang menanyakan keadaannya. Terakhir Kuramochi yang menanyakan apa ia baik-baik saja pasca mabuk semalam.
Tidak ada pesan masuk dari Miyuki Kazuya. Yah, memang apa yang dia harapkan? Lagipula Miyuki sudah menulis langsung di post it. Mana mungkin orang seperti Miyuki bersedia repot-repot menaruh perhatian untuk menanyakan keadaannya? Meski demikian, Eijun mungkin harus mengakui bahwa ia sedikit… hanya sedikit… berharap Miyuki juga menghubunginya lewat telepon maupun hanya sekadar chat LINE.
"Setidaknya beri aku kesempatan untuk berterima kasih, Kuso Megane!"
Sambil membuang napas kesal, Eijun membiarkan tubuhnya merosot kembali ke kasur, berbaring dengan tumpukan bantal di bawah kepala dan sebagian punggungnya. Jaket Miyuki tertarik sejajar dengan leher dan setengah wajahnya sementara bagian bawah melenceng sampai ke batas pusarnya. Dalam posisi seperti ini, Eijun bisa menghirup aroma Miyuki yang tertinggal pada fabrik itu. Bahan lembut dan hangat di atas kulitnya, memeluknya dalam sentuhan asing yang membuat perutnya berputar.
Eijun memejamkan mata, menghirup napas dalam-dalam sekali lagi dan membiarkan sisa aroma Miyuki menginfeski indra penciumannya. Aroma Miyuki begitu maskulin, tapi Eijun tidak pernah bisa menemukan aroma itu pada orang lain. Ada campuran aroma garam lautan di kulit Miyuki, hampir terasa seperti pemuda itu muncul begitu saja dari dasar laut dengan seringai membelah dua selat secara bersamaan.
"Tidak boleh." Eijun bergumam, mengangkat lengan untuk menghalau wajahnya. "Tidak boleh…" Ia berbisik lagi, menekan mati-matian pusaran halus di dasar perutnya tiap kali paru-parunya terisi oleh udara yang bercampur dengan aroma Miyuki. "Kau tidak boleh terseret olehnya, Sawamura Eijun… Tidak boleh…"
…
Eijun menemukan dirinya berdiri dengan canggung di Fakultas lain pada jam-jam perkuliahan yang cukup sibuk. Memanjangkan leher ke sana dan ke sini seperti burung bangau. Berdasarkan informasi yang ia dapat dari Kuramochi, Miyuki seharusnya masih berada di ruang 425A sampai waktu istirahat tiba. Karena itulah Eijun memutuskan untuk berdiri di depan ruangan yang di maksud, menepi ke dinding dan mengabaikan lalu lalang orang di sekitar yang sejak tadi terus memandanginya.
Eijun cemberut, menurunkan topi untuk mengalau wajahnya. Ada begitu banyak mahasiswa di Meiji, seharusnya mahasiswa teknik tidak mungkin sadar begitu saja saat seorang mahasiswa satra menyelinap di fakultas mereka, kan?
"Sawamura?"
Eijun nyaris melompat. Ia menoleh dengan panik ke suara yang baru saja memanggil namanya. "Wa-Watanabe-senpai…?"
Watanabe tersenyum hangat. "Hai, kita bertemu lagi." Ia berkata ringkas lalu mengamati Eijun sekilas. "Kau baik-baik saja?"
"Eh?"
"Semalam kau minum cukup banyak, dan kau terlihat lumayan mabuk. Bagaimana sekarang?"
Eijun menolak mencari tahu semerah apa wajahnya sekarang. "Uh-huh, ya, aku sekarang baik-baik saja." Ia menarik napas dalam-dalam lalu membungkuk cepat. "Maaf untuk tadi malam! Maaf sudah merepotkan!"
Teriakan itu berhasil membuat orang-orang di sekitar mereka berhenti, menoleh, memandang selama lima detik dengan kaget lalu kembali pada kesibukan masing-masing. Watanabe sendiri tertawa geli, mengambil langkah lebih dekat padanya dan menepuk bahunya ringan. "Sekarang aku percaya kau baik-baik saja." Ia berkata, tersenyum lagi, lalu mengangkat satu alisnya. "Kau sedang mencari Miyuki?"
"Tidak! Maksudku, ya… mungkin. Ugh, aku hanya… perlu bertemu dengannya sebentar."
"Kenapa tidak menelponnya saja?"
Eijun menjilat bibir bawahnya. "Aku pikir lebih baik bertemu langsung."
Watanabe mengangguk-angguk seakan baru memahami sesuatu. "Aku mengerti. Kau tetap ingin menemuinya setiap saat."
"Hah? Apa maksud Senpai?"
"Bukan apa-apa, jangan dipikirkan." Ia tersenyum lagi, lalu menunjuk ke pintu. "Miyuki tidak akan ke luar dari sana, Sawamura."
Eijun melebarkan mata. "Tapi Kuramochi-senpai bilang—"
"Nah, itu salah satu alasannya." Potong Watanabe. "Karena hari ini tidak ada Kuramochi, Miyuki akan melewatkan jam istirahat dan lebih memilih untuk tetap di ruangan sampai mata kuliah berikutnya."
Eijun tidak mengerti.
"Kebiasaan Miyuki sejak beberapa bulan belakangan. Dia menghindari para mahasiswi yang mengajaknya makan siang bersama saat tidak ada Kuramochi. Well, awalnya itu sedikit aneh karena Miyuki dulu terlihat menikmati saat dikerubungi gadis-gadis, tapi sekarang…" Watanabe memandanginya dengan senyuman penuh arti. "Aku paham."
Sebelum Eijun sempat mencerna baik-baik kata-kata itu, Watanabe tahu-tahu meraih pergelangan tangannya dan menggiringnya berjalan ke arah pintu.
"Miyuki!"
Tubuh Eijun berubah sekaku batang pohon ketika nama itu disebutkan. Ia menatap horror pada Watanabe, lalu menoleh patah-patah ke dalam ruang kelas. Benar saja, Miyuki ada di sana, menempati salah satu deret bangku yang lumayan belakang, persis di dekat kaca jendela, duduk bertopang dagu, dengan airpods di kedua telinganya. Sinar matahari dari luar jatuh di sekitar tubuhnya, menciptakan efek debu peri dramatis yang membuat pemuda itu tampak bagaikan lukisan yang hidup. Pandangan mereka bertemu ketika Miyuki mengangkat kepala dari bukunya.
"Seseorang mengajakmu makan siang bersama!" Seru Watanabe lagi, tersenyum riang, mengangkat tangan Eijun tinggi-tinggi ke udara lalu melambai-lambaikannya. "Ayolah, Sawamura sudah menunggumu dari tadi!"
"Watanabe-senpai! Aku tidak—"
Watanabe memotong ucapannya dengan senyuman semanis malaikat. "Percayalah padaku, Sawamura."
Percaya padaku, katanya? Bagaimana mungkin Eijun akan percaya jika Watanabe baru saja mengarang cerita tak masuk akal soal dirinya yang mengajak Miyuki makan siang bersama? Ini benar-benar tidak lucu. Miyuki pasti akan percaya pada Watanabe dan meledeknya habis-habisan setelah ini. Dan bukan cuma itu saja, Miyuki pasti akan menolak dengan kata-kata keji yang mungkin juga dia lakukan dari tempat duduknya di sana. Memastikan seisi kelas mendengar dan melihat bagaimana Eijun dipermalukan.
Eijun panik. Ia melepaskan tangannya dari genggaman Watanabe dalam satu sentakan kuat. "Maaf, Senpai. Aku harus pergi—"
"Mau makan di mana?"
Tubuh Eijun membeku. Dunia berputar begitu lambat dan yang bisa ia ingat hanyalah senyum lugu Watanabe, gerlingan matanya yang bermakna ganda, dan sentuhan lugas di bahu kirinya sebelum matanya bertemu dengan mata Miyuki yang menyala dalam kilap coklat madu di balik lensa kacamatanya.
Demi Tuhan! Sejak kapan Miyuki ada di sini!?
"Wow, aku yakin kau pasti sangat kelaparan." Kata Watanabe, tersenyum pada Miyuki lalu melirik kembali pada Eijun. "Atau mungkin, kau hanya tidak ingin membuat Sawamura menunggu, eh?"
Normalnya, seorang Miyuki Kazuya tidak akan semudah itu digoda oleh orang lain. Normalnya, seorang Miyuki Kazuya memiliki ego dan arogansi yang terlampau tinggi hingga bisa membalikkan apapun perkataan orang lain yang bermaksud menyudutkannya. Normalnya, Miyuki Kazuya tidak pernah sudi disangkut pautkan dengan apapun yang berhubungan dengan Eijun. Normalnya, Miyuki Kazuya tidak akan menunduk dan tersipu seperti itu!
Sial! Aku pasti masih mabuk sampai-sampai melihat hal yang mustahil!
Eijun menggeleng-gelengkan kepalanya dengan keras berharap halusinasinya segera lenyap dan dunia kembali berputar normal. Atau setidaknya, Miyuki kembali berprilaku normal.
"Sawamura,"
Eijun berhenti bergerak.
"Kau mau makan apa?"
Kali ini Eijun benar-benar merinding. Ia menelan ludah, gugup di bawah tatapan Miyuki yang meruncing di bawah kerutan samar kedua alisnya. "…kau mau makan?"
Miyuki menghela napas. "Aku kelaparan." Akunya, tersenyum kosong. "Aku belum makan apapun sejak semalam."
"Nice timing!" Watanabe berseru sambil menjentikkan jarinya. "Kalau begitu kau harus secepatnya mengajak Miyuki makan, Sawamura."
"Watanabe-senpai! Tapi aku tidak—"
"Kau tidak lapar? Kau sudah makan siang?"
"He? Ah, bukan begitu…"
"Kalau begitu tidak ada yang salah, bukan?" Watanabe berkata riang lalu menepuk bahu Miyuki. "Selamat makan siang kalau begitu."
Miyuki berdeham. "Kau tidak ikut sekalian, Nabe?"
"Sayangnya aku punya urusan lain. Lagi pula aku tidak ingin menganggu, jaa ne."
Eijun hanya mampu terpana memandangi sosok Watanabe hingga menghilang di koridor. Sampai kemudian Miyuki menjentikkan jari tepat di depan wajahnya untuk mengambil alih perhatian.
"Hei, mau masih mabuk ya?" Miyuki bertanya, mengangkat alis dan melambai-lambaikan tangan. "Kalau memang masih belum sadar sepenuhnya, kenapa memaksakan diri ke kampus? Istirahat saja sana."
Einjun mendengus, menepis tangan Miyuki dari depan wajahnya. "Aku baik-baik saja! Jangan memperlakukanku seperti anak kecil."
Miyuki tersenyum, menyeringai, memiringkan kepala memandanginya. "Yeah, lagi pula tidak ada anak kecil yang nekat minum sampai tujuh gelas bir lalu teler di depan semua orang."
"AKU TIDAK—" Makian tertahan di ujung lidahanya, karena… sial, Eijun bahkan tidak ingat apapun setelah gelas terakhirnya semalam.
"Mm-hmm?" Miyuki bergumam, mengerling padanya. Tatapan mata dan senyuman culas itu lagi, terukir begitu sempurna di bibirnya, melengkapi ekspresinya yang menjengkelkan. "Kau tidak bisa menyangkal, Sawamura-kun?"
Eijun berakhir dengan dengusan kasar, membuang muka ke lantai dan menolak untuk bertemu dengan seringai penuh kemenangan milik Miyuki. Tidak adil, bagaimana Miyuki selalu bisa menekan tombolnya, mendorongnya ke dalam emosi yang tak bisa ia kendalikan, lalu berakhir tersudut sendirian seperti anak kucing yang pasrah.
"Kau tahu, kau sangat menarik semalam." Miyuki berkata, dan tanpa melihat sekalipun Eijun bisa membayangkan bagaimana senyuman kini terbit lebih lebar di bibirnya. "Kau berdiri di tengah-tengah karaoke, lalu mulai menari sambil melepaskan satu demi satu pakaian di tubuhmu~"
"APA!?" Pekik Eijun panik, menerjang tubuh Miyuki ke dinding terdekat, meremas kerah bajunya dalam cengkeraman kuat dan menatap keras ke matanya. "Jangan bercanda, Miyuki Kazuya! Aku tidak mungkin—Sial! Katakan apa saja yang kulakukan semalam!" Eijun menggerit, mendesak makin tajam ke arah Miyuki. "…please."
Pecahlah tawa Miyuki. Pemuda itu terpingkal-pingkal hingga wajahnya mulai memerah. Membiarkan Eijun berdiri kebingunan menghadapnya bersama sisa rasa panik dan otak yang berputar, mencoba berpikir.
"H-hei, kenapa malah tertawa?"
"Astaga, Sawamura… kau sungguh tidak ingat?"
Cengkeraman Eijun pada baju Miyuki mengendur, tubuhnya bergerak mundur untuk memberi jarak antara dirinya dan Miyuki. "A-aku sama sekali tidak tahu apa yang—"
"Kau menyerangku." Potong Miyuki, tersenyum miring padanya. "Setelah menari sambil melepaskan semua pakaianmu, kau menerjang ke arahku lalu membantingku ke lantai dan mulai menyerangku." Miyuki mengibaskan tangan dengan santai. "Oh, tenang saja, kau tidak menghajarku." Senyumnya menenangkan selama sepersekian detik sebelum kembali menjadi seringai yang lebih pekat. Miyuki mencondongkan tubuh ke arah Eijun, mendekatkan mulut ke sebelah telinganya. "Kau hanya menjadi begitu horny dan mulai memaksaku untuk make-out denganmu… di depan semua orang."
Mata Eijun melebar, lengkahnya semakin mundur menjauh dari Miyuki hingga ia mungkin akan menabrak kerumunan mahasiswa andai Miyuki tidak sigap meraih pergelangan tangannya dan menariknya kembali mendekat. "Jadi kau benar-benar tidak ingat, huh?" Miyuki berkata lagi, tak melepasakan pergelangan tangan Eijun dari genggamannya. "Kau memaki-makiku, mengatakan betapa aku sangat menyebalkan, jahat, egois, dan licik sebelum kemudian mulai menciumiku dengan brutal."
Eijun merosot, tapi Miyuki lagi-lagi dengan sigap berhasil menahan tubuhnya hingga tidak merosot ke lantai. Miyuki menarik napas, seringainya memudar, bergenti menjadi senyuman yang lebih lembut, lalu berganti lagi menjadi ringisan tak enak hati. "Kau benar-benar panik, ya?" Suaranya nyaris sepelan bisikan, dan yang lebih anehnya lagi, Miyuki terlihat merasa bersalah. "Maaf, aku hanya bercanda." Ia menatap lurus-lurus ke mata Eijun. "Kau sama sekali tidak melakukan semua itu, Sawamura. Kau tidak perlu panik."
"APA—"
"Aku salah, aku salah, aku mengaku salah." Miyuki dengan cepat berkata. "Aku tidak tahu reaksimu akan begini, maafkan aku."
Eijun pasti sudah benar-benar tersungkur ke lantai andai Miyuki tidak menahan bobot tubuhnya, menariknya lebih dekat ke dinding hingga tidak menghalangi para mahasiswa yang sibuk lalu lalang di sekitar mereka.
"Hei, kau baik-baik saja?" Miyuki meremas kedua bahunya, berusaha menemukan wajahnya. Tetapi Eijun menolak untuk menatap pemuda itu. Membiarkan kepalanya tertunduk dalam hingga puncak kepalanya menempel ke bahu Miyuki.
"Bernapaslah, oke?" Miyuki menepuk bahunya ringan. "Kau benar-benar tidak perlu panik. Kau sama sekali tidak melakukan apapun yang ku katakan. Kau hanya mabuk lalu tertidur, sempat muntah, tapi kau tidak melakukan hal aneh lainnya."
"Akuakanmembunuhmu." Eijun bergumam.
"Huh?"
"Aku akan membunuhmu."
Miyuki tertawa keki. "Oke."
"Aku akan membunuhmu, Miyuki Kazuya! AKU PASTI AKAN MEMBUNUHMU!"
Eijun bahkan tidak peduli lagi seandainya orang-orang mulai menatap dan menjadikan mereka berdua sebagai pusat perhatian. Mungkin beberapa justru sudah mulai menganggapnya sebagai mahasiswa gila.
"Aku akan membunuhmu. Aku akan membunuhmu. Aku akan membunuhmu, Tanuki Sialan!"
Mirisnya, meski Eijun terus mengulang betapa ia igin membunuh Miyuki, namun pada kenyataannya Eijun sama sekali tidak mengambil jarak dari pemuda itu, tidak menunjukkan aksi mengancam seperti mencekik, menendang, ataupun memukulnya. Melainkan tetap berdiri di dekatnya dengan kepala menempel ke salah satu bahunya sementara kedua tangan Miyuki tetap setia di masing-masing bahunya, memberi tepukan ringan seperti terapi ketenangan.
"Aku akan membunuhmu."
"Iya, iya, kau akan membunuhku." Miyuki berujar. "Tapi sebelum itu, bagaimana kalau kita makan siang dulu? Aku benar-benar kelaparan, Sawamura. Berbaik hatilah sedikit padaku, oke? Anggap saja permintaan terakhir sebelum eksekusi mati."
…
"Hei, kau masih marah padaku?"
"Diam."
Kazuya meringis. "Setidaknya katakan apa yang ingin kau makan?"
Sawamura menghentikan langkah, mendengus, menatapnya tajam. "Aku tidak mau makan denganmu."
Sebenarnya, Kazuya sudah tahu hal itu. Ia sudah sadar sejak awal kalau apa yang Nabe katakan tidak benar-benar berasal dari Sawamura. Sawamura tidak mungkin tiba-tiba mencarinya ke fakultas teknik untuk mengajaknya makan siang bersama. Tetapi Kazuya justru sengaja memanfaatkan keusilan Nabe demi kepentingannya sendiri.
"Tapi aku benar-benar kelaparan, Sawamura." Kazuya nyaris terdengar mengiba, tapi Sawamura justru membuang muka dan berjalan dengan langkah dingin. Kazuya menghela napas, berjalan mengejar dan menyamakan langkah hingga kembali berada di sebelah pemuda itu. "Ayolah… aku sudah minta maaf. Aku hanya bercanda."
"Bercandamu tidak lucu!"
"Iya."
"Aku tidak suka candaanmu!"
"Iya."
"Selera humormu sangat payah!"
"Iya."
"Kalau kau berani bercanda seperti itu lagi—"
"Kau akan membunuhku. Iya, aku mengerti."
Sawamura memelototinya galak. "Kau menyebalkan!"
Kazuya mengangkat tangan tanda menyerah. "Maaf, maaf."
Sawamura menghembuskan napas perlahan, kelihatan berusaha mengatur emosinya. "Aku tidak mau makan siang denganmu. Aku masih kesal, aku mungkin bisa benar-benar membunuhmu." Ia membasahi bibir bawahnya sekilas, lalu menatap lekat ke mata Kazuya. "Aku akan kembalikan jaketmu setelah selesai mencucinya dan…" Sawamura menelan ludah, menggerakkan tangannya ke salah satu sisi bawah ranselnya, mengeluarkan sekaleng kopi dan menyodorkannya pada Kazuya. "Ini." Sawamura mendorong kaleng itu ke dada Kazuya secepat kilat. Sentakan kuat yang membuat Kazuya reflek meringis dan menangkap kaleng itu. "Aku cuma mau memberikan ini padamu! Terima kasih sudah mengantarku semalam! BYE!"
Kazuya berkedip-kedip, dan Sawamura mengambil kesempatan itu untuk melesat pergi dari hadapannya. Tetapi mungkin pemuda itu terlalu terburu-buru dan lengah hingga ia lupa kalau mereka kini sudah berdiri di dekat pintu kaca non otomatis menuju kafetaria. Sawamura praktis akan menabrak partikel keras-trasparan itu andai Kazuya tidak manarik lengannya, membuat pemuda itu limbung, menabrak tubuh Kazuya hingga hilang keseimbangan dan berakhir jatuh ke lantai yang dingin dengan Sawamura menindihnya.
Kazuya meringis, merasakan efek benturan di tulang belakangnya, dan beban Sawamura di atas tubuhnya. Ia mendengar banyak suara di sekitar mereka selagi terjatuh, beberapa suara pekikan, suara napas yang tertahan, maupun jeritan yang melengking.
"MIYUKI!"
Yeah, tentu saja yang paling memekakan telinga adalah suara Sawamura sendiri. Matanya membulat sempurna, ekspresi kaget dan kedua tangan menekan dada Kazuya. Wajah mereka terpaut hanya sejengkal jarak, tapi pemuda itu justru meneriakkan namanya seakan Kazuya berada di sebrang pulau.
Hal yang paling bodoh adalah, Kazuya justru nyengir. "Sebenarnya, aku lebih suka kita menyimpan adegan seperti ini secara pribadi."
Mata Sawamura semakin melebar, lalu ia sadar akan posisi mereka berdua serta bagaimana orang-orang kini tampak mengamati penuh minat. Sawamura menyingkir buru-buru, berdiri dan membungkuk ke sekitar sambil menjeritkan permintaan maaf. Kazuya mendengus geli, berdiri perlahan-lahan dan mencoba mengabaikan rasa ngilu di tulang belakangnya. Ia masih sempat mengambil kembali sekaleng kopi pemberian Sawamura yang tergeletak di lantai, untungnya sama sekali tidak rusak.
"Lain kali jika kau ingin lari dariku, perhatikan sekeliling dulu." Kazuya berujar ketika orang-orang mulai kembali ke kesibukan masing-masing dan tidak meperdulikan mereka.
Sawamura menghadapnya gusar. "Kau saja yang lemah! Kau bermaksud menyelamatkanku tapi kau malah sempoyongan dan jatuh!"
"Aku belum makan, kau ingat? Aku harus bilang berapa kali kalau aku sangat kepalaran?"
Wajah Sawamura memerah, dan sebelum Kazuya sempat mengodanya lagi, Sawamura menyambar pergelangan tangannya lalu menariknya dengan tergesa-gesa. Menembus kerumunan dan terus berjalan cepat ke tempat yang tidak bisa Kazuya tebak. Kazuya tidak melawan, tidak bertanya, tidak ingin mencari tahu. Ia membiarkan Sawamura menariknya ke segala tempat dan membiarkan setitik pemikiran gila menari di otaknya; aku akan ikut ke manapun anak ini membawaku.
Mereka berhenti di taman, di hadapan bangku kayu panjang yang kosong tepat di bawah pohon sakura yang tak lagi merah muda. Sawamura mendorong Kazuya untuk duduk di sana kemudian pemuda itu melepaskan ranselnya dan mengeluarkan sekotak paket bento lalu meletakkannya ke pangkuan Kazuya.
"Ini mungkin jauh dari standar makan siangmu, tapi setidaknya kau harus makan sesuatu." Sawamura berkata, matanya begitu teguh, begitu bersinar. Ia berdiri tegak di depan Kazuya bagaikan satpam yang galak. "Aku membelinya untuk Shinji, tapi sepertinya kau lebih butuh."
Kazuya tersenyum kecut. "Sawamura, aku ingin makan siang denganmu, bukan meminta makan siang darimu."
"Sudah kubilang aku masih kesal! Aku tidak mau makan siang denganmu sekarang. Jadi terima saja dan jangan banyak protes!"
Kazuya ingin mendebat, tetapi ia justru menemukan bibirnya tersenyum geli. Memandangi sejenak kotak bento di pangkuannya lalu kembali mendongak untuk bertemu dengan sepasang netra emas Sawamura. "Tapi ini tidak akan cukup, kau tahu?"
Sawamura melotot tajam.
Kazuya balas mendelikkan bahu dengan santai. "Aku habis jatuh, kau tadi juga menindihku, tubuhku sakit semua, dan sekarang aku harus makan siang seorang diri di bawah pohon. Malangnya nasibku…"
"Argh! Katakan saja kau mau apa!?"
"Just c'mere and kiss me." Kazuya tersenyum simpul. "Kiss the pain away, kau tahu? Orang bilang sebuah kecupan atau ciuman bisa meredakan rasa sakit, kan?" Kazuya mengangkat satu alisnya, menatap wajah Sawamura yang menampilkan eman emosi berbeda sekaligus. "Jadi bisakah kau mencobanya padaku?"
Keterkejutan, intrik, kengerian, kemarahan, kepanikan dan kegugupan melintas cepat di wajah Sawamura. Kazuya tersenyum usil, menyadari bahwa ia mungkin sudah sangat keterlaluan kali ini. Jika ia mencoba menekan Sawamura lebih jauh lagi, pemuda itu pasti akan berujung membencinya sampai kehidupan selanjutnya.
"Lupakan, lupakan." Kazuya berkata, mengibaskan tangan di depan wajahnya. "Aku hanya bercanda. Kau boleh pergi sekarang. Terima kasih atas makan siang dan ko—"
Cup.
Sentuhan ringan dan hangat di pipi kirinya itu sukses membuat Kazuya bungkam. Bibir sawaura lembut dan hangat, menyapa kulit wajahnya dalam sentuhan yang tak pernah Kazuya bayangkan. Hanya kurang dari satu detik. Begitu singkat, begitu cepat, lalu Sawamura kembali menarik diri dan berlari pergi. Sekali ini, Kazuya terlalu terpana untuk dapat mengejarnya.
…
Eijun duduk lesu di ruang dojo, latihan hari ini sudah berakhir sejak sepuluh menit yang lalu. Bukan latihan berat, tapi rasanya semua tenanganya terkuras begitu dahsyat sampai ia bahkan tak punya energi tersisa untuk berganti baju. Eijun bahkan tidak mengejar-ngejar Chris untuk latihan tambahan.
"Kau sakit, ya?"
Eijun menoleh, bertemu dengan wajah serius abadi milik Takatsu Hiromi yang duduk di sebelahnya, jubah taekwondonya telah dilonggarkan hingga jatuh dari kedua bahunya. Bergulir dengan malas sampai ke perut, secara gratis telah memamerkan bentuk tubuh atletisnya.
Eijun menghela napas panjang. "Bunuh aku, Takatsu."
Takatsu mengernyit. "Aku perlu mengantri untuk itu. Kanemaru mungkin ada di urutan pertama jika ingin membunuhmu."
Eijun mendengus, berupaya tersenyum dan melemaskan bahunya. "Shinji mungkin urutan ketiga. Lihatlah betapa cueknya dia padaku, bagaimana bisa dia langsung pulang setelah latihan padahal dia jelas-jelas tahu aku sedang butuh teman untuk mengeluh?"
"Teman untuk mengeluh." Takatsu mengulang dengan nada tak percaya. "Kau butuh seseorang untuk mengeluh?"
"Tentu saja!" Sahut Eijun bersemangat, kemudian kembali lemas. "Lebih menyenangkan saat mengeluh di depan seseorang, kau tahu."
"Kenapa kau tidak bergelayutan saja pada Chris-senpai? Kalian kan dekat."
Eijun cemberut. "Kau pikir aku anak monyet peliharaannya?"
"Sebenarnya kau lebih mirip anak anjingnya."
Eijun mencebik, kesal, tapi terlalu lelah untuk mendebat atau memulai pertengkaran. Jadi ia hanya menghela napas panjang, lalu menyandarkan keseluruhan punggungnya pada partikel dinding beton di belakangnya. "Takatsu, boleh aku bertanya?"
Mata Takatsu yang berwarna abu-abu kebiruan menatapnya dengan tajam. Namun Eijun tidak akan merasa terancam atau sakit hati, karena ia tahu Takatsu tidak bermaksud begitu. Pemuda itu semata-mata hanyalah seseorang yang malang karena memiliki ekspresi tak ramah permanen. "Apa?"
Eijun menatap mata abu-abu awan badai pemuda itu selama beberapa saat. "Kau sudah bertemu belahan jiwamu?"
Takatsu terbatuk. Memasang ekspresi yang tak pernah Eijun lihat sebelumnya, kegembiraan, rasa kaget, adrenalin, dan tersipu hingga rona samar merah muda bersemi di pipinya. "Apa-apaan, Sawamura? Kenapa pertanyaanmu random sekali?"
Eijun angkat bahu.
Takatsu menarik napas, membuangnya perlahan. Ekspresinya kembali kaku seperti tentara Jerman. "Em, ya… tentu saja aku sudah bertemu dengannya. Aku bertemu dengannya sejak tujuh belas tahun."
"Kau menyukainya?"
"Sawamura, dia belahan jiwaku."
"Aku tahu, tapi apa kau benar-benar menyukainya atau hanya menyukainya karena dia belahan jiwamu?"
Alis Takatsu berkerut. "Aku tidak pernah berpikir serumit itu. Kami bertemu, berkenalan, merasa cocok dan bertahan sampai sekarang. Itu saja, ada masalah?"
Eijun mencubiti celana taekwondonya sambil merengut dan menggeleng lemah. "Aku hanya berpikir andai kasusku juga bisa sesederhana itu…"
Ada jeda, beberapa detik sampai Takastsu merespon. "Ada apa dengan soulmatemu?"
Eijun tersenyum getir. "Kami tidak cocok. Dan tiap kali memikirkan soal soulmate…" Ia mendongak pada Takatsu, mengelola kembali ingatan beberapa saat yang lalu. "Tidak sepertimu yang terlihat tersipu bahagia, aku justru berujung kram otak."
"Hah?" Takatsu memasang wajah bingung mutlak. Namun Eijun justru mulai tertawa, atau setidaknya mencoba untuk tertawa.
"Aku tidak suka sikap buruknya, tapi saat dia mulai bersikap baik, aku justru mulai takut." Eijun menarik napas dalam-dalam, merapatkan bibirnya dan menelan ludah dengan pahit.
Benar, dia takut. Perasaan yang kini bermekaran di hatinya adalah sebuah wujud ketakutan yang tak lazim akan sikap baik Miyuki Kazuya. Tiap kali Miyuki bersikap baik, tiap kali Miyuki mulai menunjukkan sisi yang lebih manusiawi, menyenangkan, lembut dan juga hangat, seluruh darahnya akan menari dalam alarm bahaya. Tetapi sialnya, seluruh kerja tubuhnya justru akan mengkhianati. Tiap kali Miyuki seperti itu, yang tubuhnya inginkan hanyalah berdekatan dengan pemuda itu, bersandar pedanya, percaya padanya, berpegang padanya.
"Aku benci ini, Takatsu…" keluh Eijun, membiarkan kepalanya pasrah bersandar ke bahu pemuda itu. "Aku benci ini. Aku bahkan tidak tahu lagi siapa yang harus disalahkan sekarang."
Takatsu tampak semakin bingung. "Kau bicara apa sih?"
Eijun merengek. "Kenapa aku selalu kalah darinya? Kenapa aku tidak bisa mempermainkannya? Dunia benar-benar tidak adil!"
Dunia memang tidak adil. Sangat tidak adil. Siang tadi, saat Miyuki menggodanya dengan cara meminta sebuah ciuman, Eijun bermaksud menyerang balik dengan kecupan tiba-tiba di pipi pemuda itu. Membalikkan godaan dengan lebih keji dan kemudian tertawa akan bagaimana Miyuki bereaksi. Sungguh, Eijun melakukan itu atas dasar tantangan, sebuah taruhan besar demi mencapai senjata mematikan bagi Miyuki. Tetapi nyatanya, senjata itu justru berbalik menyerangnya.
Eijun mendengus. Apanya yang senjata mematikan? Bagaimana mungkin ia bisa menyerang Miyuki jika pada akhirnya ia sendiri justru terlampau malu bahkan untuk menatap wajah pemuda itu setelah melayangkan kecupan kecil di pipinya?
Sial. Sial. Sial.
Tidak adil bagaimana Miyuki selalu sukses menggodanya, tapi Eijun satu kalipun tidak pernah merasa berhasil menyerang balik.
"Tidak adil! Dunia sangat tidak adil! Apa yang kulakukan pada kehidupan sebelumnya? Apa aku membunuh raja? Kenapa aku selalu sial?"
"Ya ampun, Sawamura. Sekarang aku tahu kenapa Kanemaru kabur darimu."
…
Sebelum ini, Kazuya tidak pernah tahu bahwa sebuah kecupan ringan di pipi mampu membuat wajahnya panas sampai berjam-jam lamanya. Kecupan itu bahkan sama sekali tidak seksi, jauh dari kesan dewasa yang mampu mengundang gairah. Hanya sentuhan sederhana, begitu anak-anak dan polos. Tetapi nyatanya sukses membuat sekujur tubuhnya bergejolak tak karuan.
"Shit!" Kazuya mengumpat. Menatap pantulan wajahnya yang memerah di cermin. Ini sudah lima jam berlalu sejak pertemuannya dengan Sawamura. Kini Kazuya sudah berada di rumah, mencuci wajahnya berkali-kali, tapi rona merah muda bodoh itu tetap tidak memudar. Ibunya bahkan sempat menyangka ia terserang demam.
"Sadarlah, Kazuya." Suaranya bergetar dalam emosi dingin. Kazuya menatap tajam wajahnya dalam pantulam cermin. "Kau bahkan pernah menciumnya dengan lebih profesional. Jadi kenapa tubuhmu harus bereaksi sedramatis ini hanya karena kecupan sepele di pipi? Jangan konyol!"
Kazuya menarik napas dalam-dalam, mencoba mengatur pacuan emosi gila di pembuluh darahnya. Benar, ia tidak boleh membawa-bawa emosi yang terlalu dramatis. Ia tidak boleh merubah imej Miyuki Kazuya yang selalu tenang dan cenderung bermain-main. Ini papan permainannya dan Kazuya tidak akan pernah sudi dikalahkan dalam permainannya sendiri.
Kazuya menghembuskan napas perlahan. Segalanya menjadi lebih tenang dan terkendali, aliran darahnya mulai normal dan wajahnya berangsur kembali ke warna semula. Kazuya membasuh wajahnya sekali lagi, tersenyum, memakai kembali kacamatanya lalu berjalan keluar kamar mandi.
Setelah makan malam, Kazuya menemukan dirinya berbaring di atas kasur. Perasaannya sudah menjadi sangat ringan dan terkendali. Ia mengingat-ingat kembali peristiwa siang tadi sambil tersenyum konyol. Sekarang, ia menyasal karena tidak sempat mengamati bagaimana ekspresi di wajah Sawamura siang tadi.
'Ciuman payah.'Kazuya mengetik di ponselnya sebagai pesan LINE untuk Sawamura. Sengaja memberi emoji senyum menjengkelkan untuk memancing pemuda brunette itu.
'FUCK YOU!' [20.17]
Kazuya tertawa membaca balasan itu. Sawamura bahkan mengiriminya sticker berantai yang kesemuanya menggambarkan kemarahan.
'Fuck me? Are you sure? You can't even kiss me properly, Sawamura~' [Read. 20.19]
'I have no idea how you gonna fuck me.' [Read. 20.19]
'ARRGGGHHHH!' [20.20]
'MATI SANA! MIYUKI-BANGSAT-TANUKI-KAZUYA!' [20.20]
See? Reaksi Sawamura tidak pernah gagal untuk meningkatkan mood-nya. Kalau terus seperti ini, dia benar-benar ingin memperpanjang acara ikut campur dan main-main dalam kehidupan pemuda itu.
'Ouch, that hurt :(' [Read. 20.21]
'Setelah mencium pipiku kau menyuruhku mati?' [Read. 20.21]
'Kejamnya, Sawamura-kun…' [Read. 20.21]
'ASDFGHJKLZXCNM!' [20.22]
'AKU TIDAK MAU BICARA DENGANMU!' [20.22]
'Jahatnya…' [Read. 20.22]
'Padahal malam kemarin aku sudah melakukan banyak hal untukmu.' [Read. 20.23]
'Jujur saja, sebuah ciuman di pipi terkesan terlalu pelit, kau tahu?' [Read. 20.23]
Nyaris lima metit terhitung sejak pesan itu dibaca, tetapi Sawamura tak juga menjawab. Sebuah jeda waktu yang sempat membuat Kazuya resah karena mengira ia kembali salah melangkah dan menyinggung pemuda itu.
'Apa maumu' [20.28]
Kazuya menelan ludah. Apa Sawamura sungguh marah? Sial, apa ia mengacaukannya lagi?
Kazuya benci ketika Sawamura menjadi terlalu sensitif. Dia benci pada kenyataan bahwa kali ini mereka hanya berkomunikasi melalui chatting. Dia benci karena tidak dapat melihat bagaimana raut wajah pemuda itu untuk mematikan ekspresinya. Dan yang paling dia benci, adalah kenyataan bahwa dia peduli tentang bagaimana Sawamura memandangnya.
Otaknya berkerja, mencoba untuk berpikir, menemukan solusi, mengalihkan situasi agar kembali ke jalan yang ia inginkan. Kemudian mulai mengetik dengan hati-hati.
'Kau bebas Sabtu ini?' [Read. 20.30]
Kazuya menjilat bibir bawahnya, lalu napas tipis mendesis dari mulutnya selagi ia menatap layar dan menanti balasan.
'Ya…?' [20.31]
Okay just relax, Kazuya. Relax.
'Aku punya dua tiket premiere dari ibuku.' [Read. 20.32]
'(O.o)?' [20.32]
'Apa hubungannya denganku?' [20.32]
'Temani aku.' [Read. 20.34]
'HAAAAAAAAAA?' [20.34]
'Apa kau baru saja MENYURUHKU pergi denganmu?' [20.34]
'Yeah, terserah.' [Read. 20.35]
'Genrenya action-drama "How Far We Can Fly" kau tahu?' [Read. 20.35]
'Hmmm…' [20.35]
Kazuya mengernyitkan alis hingga keriting. Apa-apaan jawaban itu? Kenapa juga Sawamura jadi sok keren dan sok misterius? Menyebalkan.
'Aku dapat dua tiket premiere dan masih belum kupakai padahal akan hangus Sabtu nanti.' [Read. 20.36]
'Kenapa tidak ajak saja Kuramochi-senpai?' [20.38]
'Atau siapalah kenalanmu yang lain.' [20.38]
'KENAPA AKU?' [20.38]
'Tadi kau yang bertanya apa mauku, kan?' [Read. 20.39]
'Inilah mauku, Sawamura. Aku ingin pergi denganmu.' [Read. 20.39]
'Atau kau sudah lupa dengan penawaranmu sendiri, hm?' [Read. 20.40]
'KADANG AKU SANGAT INGIN MENGIRIS-IRIS OTAK LICIKMU ITU, MIYUKI KAZUYA!' [20.40]
'DASAR LINTAH DARAT!' [20.40]
Kazuya tersedak, kali ini karena sentakan geli di perutnya. Setidaknya kali ini ia tahu Sawamura tidak marah padanya.
'Aw, thanks~ lol.' [Read. 20.41]
'Jadi kau mau, kan?' [Read. 20.41]
' -_-‖' [20.43]
'APA KELIHATANNYA AKU PUNYA PILIHAN!?' [20.43]
'Kalau begitu kita bertemu pukul tiga sore.' [Read. 20.44]
Kazuya mengambil jeda, menyeringai sebelum mulai mengetik lagi.
'Dan ini dihitung sebagai kencan, Sawamura~' [Read. 20.45]
Kali ini butuh dua menit bagai Sawamura untuk membalasnya.
'Begini caramu mengajakku kencan?' [20.47]
Kazuya menahan napas. Kenapa ia merasa Sawamura sedang mengintimdasinya?
'Lalu kau mau aku bagaimana?' [Read. 20.47]
'Mengulurkan tangan dan tersenyum manis, begitu? Heh, mimpi.' [Read. 20.47]
Kazuya menunggu. Satu menit. Dua menit. Tiga menit. Empat menit. Lima menit. Sepuluh menit! Tetapi Sawamura sama sekali tidak membalas padahal jelas-jelas sudah membacanya.
'Oi, jangan mengabaikanku.' [Read. 20.57]
'Sawamura?' [Read. 21.00]
'Haloooo?' [Read. 21.03]
'Jangan cuma dibaca -_-' [Read. 21.10]
'Apa maumu sebenarnya?' [Read. 21.15]
'Hei, kau tidak serius kan?' [Read. 21.24]
'Sawamura…' [Read. 21.30]
Call is not aswered [21.35]
Call is not aswered [21.40]
'Yang benar saja…' [Read. 22.00]
…
Pukul setengah sebelas malam, Eijun baru saja menyikat giginya dan bersiap untuk tidur ketika mendengar ketukan di pintu depan. Seluruh indranya terbangun dalam waspada. Siapa juga orang yang akan berkunjung di jam-jam tidak masuk akal begini? Tetapi kewaspadaan dan rasa curiganya berganti cepat menjadi kaget ketika membuka pintu.
"MIYUKI!?" Eijun memekik. "Ngapain kau—"
"Kau sungguh merepotkan, Sawamura." Miyuki mengehela napas, setitik rasa lega berkilat di matanya.
"Haaaa? Apa-apaan kau datang malam-malam begini dan langsung mengataiku merepotkan!?"
Miyuki berdecak kecil, dan Eijun mulai mengamati penampilan pemuda kaya itu. Miyuki hanya memakai celana training, kaus oblong, dan sandal selop, benar-benar tampak santai seakan-akan ia baru saja turun dari tempat tidurnya. Rambutnya sama sekali tidak dilapisi oleh gel rambut dan dibiarkan jatuh halus berantakan secara alami. Miyuki berbau seperti sabun mandi, shampo, dan juga harum pelembut pakaian.
"Kau…" Eijun mengerutkan alis memandanginya. "Ngapain sih?"
Miyuki mendengus, mengambil langkah maju tanpa peringatan dan sukses membuat Eijun terkaget hingga reflek berjalan mundur masuk ke dalam rumah. Miyuki baru berhenti setelah dua langkah masuk. "Belakangan ini aku merasa kau lebih sensitif dari kulit bayi."
"HAH?"
Pemuda berkacamata itu menghela napas panjang. Ekspresinya berganti secepat senyuman tipis terlukis di bibirnya. Memikat, tajam, penuh percaya diri. "Sawamura Eijun,"
Cara Miyuki melafalkan namanya berhasil membuat degup jantung Eijun terhenti. Miyuki mengulurkan satu tangan ke arahnya, gerakan halus, ringan tapi mantap.
"Maukah kau berkencan denganku hari Sabtu nanti?"
Eijun termangu. Benar-benar lupa bagaimana caranya mengambil napas. kata-kata Miyuki telah menjelma menjadi tinju kencang yang menghantam sekujur tubuhnya. Tapi yang ia rasakan bukanlah rasa sakit, melainkan letupan-letupan gas helium di dasar perutnya. Terus membesar dan naik ke dadanya, ke tenggorokannya, menyekat jalur napas.
Jantungnya berhenti berdetak. Kemudian berdetak tiga kali lebih cepat. Berdentum-demtum sampai ke telinganya. Seluruh kulitnya bisa merasakan dorongan denyut nadinya yang cepat. Cara Miyuki tersenyum, cara Miyuki menatap, cara Miyuki menanti, cara Miyuki berdiri di depannya dan mengulurkan tangan… setiap hal yang ada pada diri pemuda itu seolah mendorongnya menuju sebuah kematian yang asing.
Sebelum Eijun sempat bernapas, Miyuki kembali bergerak maju. Mempertipis jarak di antara mereka. Tangan Miyuki meraih tangannya, genggaman itu lugas, hangat, dan Eijun bertanya-tanya mengapa tangannya terasa begitu mungil seakan-akan memang tercipta untuk berada dalam genggaman Miyuki Kazuya?
"Berkencanlah denganku, Sawamura."
Eijun bisa mendengar peluit uap panjang berdeging di telinganya. Wajahnya memanas, tubuhnya memanas, dan denyutan asing di bawah tubuhnya membuatnya merasa perlu ke kamar mandi.
"Sawamura…" Miyuki berbisik tipis, tapi cukup untuk membuat sekujur tubuhnya merinding. "Aku—"
"AAAAAA!" Eijun berteriak dan menarik tangannya dari Miyuki sebelum tubuhnya mencair. Ia mendorong dada Miyuki hingga pemuda itu terpaksa mundur keluar. "PERGI SANA! KAU MEMBUATKU GILA!"
"Apa? Hei, tunggu—"
BLAM!
Eijun menutup pintu dengan kasar lalu menguncinya cepat-cepat. Punggungnya bersandar pada pintu, menekan kuat seakan-akan takut Miyuki akan mencoba menerobos masuk. Tubuh Eijun gemetar, terlalu panas, terlalu dingin, dan seluruh aliran darahnya bernyanyi memanggil nama Miyuki.
Sial. Sial. Sial.
"Sawamura…"
Suara Miyuki terdengar dari balik pintu, ketukan tiga kali datang menyapa di balik kepalanya.
"PERGI SANA, MIYUKI KAZUYA!"
"…kau marah? Sawamura, aku tidak bermaksud membuatmu marah. Aku hanya mengikuti apa maumu."
"AKU TIDAK PERNAH MINTA KAU DATANG TENGAH MALAM DAN MELAKUKAN HAL-HAL SEPERTI TADI!"
"Tapi kau tidak merespon chat dan panggilan teleponku, kupikir kau ingin aku datang ke sini dan mengajakmu secara langsung."
Lebih tepatnya kau membunuhku secara langsung! Keluh Eijun dalam hati, merosot hingga duduk di lantai sambil menyembunyikan wajah di lututnya.
"Dasar bodoh." Eijun mengumpat di antara gelenyar aneh dalam dadanya. "Aku hanya mengerjaimu! Kau tidak perlu datang ke sini, Miyuki BAKA-zuya!"
Hening.
"Jadi… kau tidak marah?"
Eijun balas mengumpat-umpat.
"Sungguh kau tidak marah padaku?"
"Pulang sana!"
"Kita jadi berkencan Sabtu ini, kan?"
"PULANG SANA!"
"Jawab dulu, Sawamura."
"IYA! IYA! AKU AKAN BERKENCAN DENGANMU SABTU INI!"
Eijun bisa mendengar suara tawa kecil Miyuki. Menyebalkan!
"Pukul tiga sore, oke? Kita langsung bertemu di sana. Atau aku harus menjemputmu?"
"Aku bukan anak TK! Kita bertemu di sana! Sudah sana cepat pulang!"
"Oke, sampai ketemu hari Sabtu." Jeda, Eijun bisa merasakan bagaimana senyuman terukir di bibir Miyuki. "G'nite and sweet dreams, Sawamura."
Begitu Eijun mendengar suara mobil Miyuki menjauh, ia langsung berlari ke kamar mandi dan membiarkan tubuhnya basah oleh pancuran shower. Berharap dinginnya air mampu mengusir rasa panas di sekujur tubuhnya. Sementara hatinya terus menerus merapalkan mantra yang sama.
"Jangan, Eijun. Tidak boleh. Kau tidak boleh terpikat pada Miyuki Kazuya. Tidak boleh!"
to be countinued
a/n: menurut kalian siapa yang lebih bego di sini? Btw, saya tuh takjub sama para pembaca cerita ini. Kok kalian kuat sih baca satu chapter yang rata-rata jumlah wordsnya itu 10-12 ribu kata? Saya juga demen baca buku-buku tebel tapi kebanyakan orang kan nggak tahan baca fanfik panjang. Kalian cinta banget sama MiSawa apa gimana? Saya tuh seneng dan berterima kasih banget cerita ini dapet respon positif, bahkan antusias, tapi saya juga heran kenapa kalian bisa sekuat ini wahai para pembaca yang budiman? :'D
aurelliafr, ya ampun… saya beneran terharu kalau kamu langsung buka begitu dapet notif :') berasa dinantikan banget, hisk. Makasih banyak yaa, senang rasanya ada seseorang yang menyukai dan menantikan cerita saya. Lav you, Aurel ^^
Dyulia971, awuwuwu makasiih kalau begitu… syukurlah kalau ngeras masih seru dan ngalir tanpa macet-macet. Aduh, saya belum pantas disebut sensei/ngumpet. Saya masih perlu banyak belajar :) hampir mati sih yaa, jadi wajar langsung meluk UwU
macaroongirl16, hallaw ChriSawa shipper, apakah kamu sungguh masih eksis di fandom ini? Mari kita berpelukan karena senasib :') shipper ChriSawa semakin menipis sih, sedih. Makanya saya sengaja milih Chris di sini dibanding tokoh-tokoh new-popular lainnya. Saya kangen Chris yang selalu minta maaf ke pelatih kalau Eijun ngelakuin hal konyol pas di mound wkwk.
Qackueen, sabar bu.. sabar.. emang si Kazuya suka nyablak banget mulutnya kebanyakan makan bon cabe mungkin :D Gapapa pindah aja, mumpung kapal ChriSawa sepi nih, masih banyak tempat kosong bisa milih tempat duduk, pindah kuy :P
Katie2937, sepertinya saya telah menulis plot di mana Miyuki Kazuya jadi objek empuk untuk dimaki-maki *nyengir* Hehe, Chris emang gentle sih, di official juga gitu kan, uhuk!
Narika, waduh jadi pada kompak naksir Chris gini :D Membuktikan bahwa sejatinya kita lebih suka cowok baik-baik yaa/apaan.
Melon Kuning, padahal kissingnya adem lho dibawah pohon ditemani semilir angin kenapa kamu bilang hot?/gak gitu. Hehehe, maaf sekali tapi threesome bukan jalan ninjaku :'( nggak bakalan tega saya. Btw, kamu doyan amat adegan kissu, sabar woey XD
Guest, aw terima kasiiih… semoga terus suka yaa, dan selalu bisa memuaskan kamu. Yah, meski mungkin bakal menyebalkan juga sesekali sih. Kamu jatuh cinta sama karakter Kazuya di sini? Wow, hebat kamu XD
Genlite, yeah I'm with you to baby! So let's kick of that tanuki bastard!/language! Lol, I loved Chris too ^^
the25, wow… kamu sampe pengen Kazuya menderita? Tapi emang kalo ngedepin orang begini di dunia nyata bawaannya pengen gampar sama nyantet kali ya/heh.
Vivi99, syukurlah kalau nggak ngerasa bosen baca ini. Yah, saya emang sengaja sih penulisannya dibawa mengalir aja karena slowburn. Mari kita nikmati proses ini bersama-sama yaa UwU
Hikaru Rikou, sepertinya Chris benar-benar sukses menjelma sebagai Prince Charming yaa, banyak yang suka wkwk, saya juga sih. ASTAGA TERIMA KASIH! Saya seneng kamu bisa menikmati chapter 7/chuu~ Nah, kencannya ketunda sampe chap depan, sabar yaa hehehe :'D
nerd reader, Kazuya really made so many people mad on chapter 6 XD so why I'm happy about it?/slaped.
alicarara, maaf karena meruntuhkan ekspetasi kamu :') Iya gapapa KZL aja sepuasnya, boleh banget kok. Hehe, campur dong antara seneng dan sedih, tapi sekarang udah baikan kok. Maafin Kazuya yaa :') Uhuk, wajar dia nonton gituan, uhuk!
Guest2, kamu ngakak liat Eijun nangis? Astaga, kenapa banyak sekali orang-orang sadisme/heh. Hmmm, kalau yang mewek-meweknya Kazuya aja gimana? Suka nggak? Bikin Eijun nangis sepanjang chapter biar jadi tugasnya author-author lain aja :D
Uchiha cherry's, aduh… kok gitu? :') Kita kasih kesempaatan juga dulu yaa buat Chris, siapa tahu aja kan, bakal lebih bahagia kalau sama Chris. Kazuya sepertinya bisa bahagia dengan egonya sendiri/wei.
Namaku Cinta, cemburu… oh, cemburu… kenapa engkoau begitu dipuji-puji aku menjadi iri~/udah.
Ariana1104, aaaaahh makasiih banget sayang :') dibaca aja saya seneng kok, artinya saya bisa bikin kamu enjoy the story. Makasih yaa/chuu~
Sigung-chan, sama-sama… saya juga bahagia masukin Chris kok, hehehe. Aah, gapapa kalau mau anggap ChriSawa juga boleh :D Uhuk, Kazuya kenapa ya? Saya juga bingung jelasinnya, nanti kalau dijawab jujur kamu yang kaget. Nah, saya juga suka liat MiSawa ribut soalnya lucu. Tapi kan mereka udah anak kuliahan masa ribut mulu sih V,V
yuuinoe, Mochi lagi skidipapap dong kan punya soulmate/oi! Hahaha, auto dibunuh si kazuya kalau sampe berani niruin, jadi mending kabur aja dari pada denger yang iya-iya :D
momicat, berdoalah semoga konsisten nggak kayak multichap lain yang kabarnya nggak jelas sampe sekarang/terjun. Wkwk, ngerjain gimana ya enaknya? Ayo-ayo boleh share kalo ada ide jahatin Kazuya :D
Anoynymous, semoga manisnya nggak sampe bikin diabetes yaa. Bahaya kan soalnya :') Wkwk gapapa halu dikit, Chris emang menggiurkan/hey.
