Setidaknya pada kali kedua Eijun mengunjungi rumah ini, ia tidak datang dengan wajah tercoreng debu dan jelaga, juga basah dengan air mata. Lucunya, satu jam yang lalu Eijun bahkan sama sekali tidak membayangkan bahwa ia akan kembali ke rumah ini. Terlibat dan menyusup secara terbuka di tengah-tengah interaksi hangat antara Chris dan Nyonya Takigawa.
"Ada menu lain yang kau inginkan, Sawamura-kun?"
Eijun mengerjap, menoleh cepat ke arah sumber suara yang menyebutkan namanya lalu tersenyum salah tingkah. "Ah, aku baik-baik saja, Takigawa-sensei."
"Apa kami membuatmu merasa tidak nyaman di sini?"
"Bukan begitu, Sensei." Eijun meringis keki, menggosok tengkuknya dengan canggung dan menunduk memandangi lantai dapur. "Aku hanya… masih agak bingung kenapa aku malah berakhir di sini."
"Karena aku tidak melakukan apapun untuk hari ulang tahunmu yang sudah lewat." Chris tampak menawan dengan celemek abu-abu tua. Pemuda blasteran itu tersenyum ketika matanya bertemu dengan Eijun. "Rileks saja, Sawamura. Kalau kau masih merasa keberatan, anggap saja kau sedang membantuku menyiapkan pesta ulang tahun sederhana untuk ibuku."
Eijun justru makin salah tingkah. Beberapa saat yang lalu ia hanya seorang mahasiswa pada umumnya yang tengah menikmati hari Sabtu pagi dengan sedikit jogging, sengaja mengambil trek yang lebih jauh hingga ia tiba di salah satu pusat perbelanjaan kawasan Meiji dan mampir untuk membeli beberapa kebutuhannya sehari-hari. Kemudian ia justru bertemu dengan Chris yang sedang menemani ibunya berbelanja, mereka saling sapa, mengobrol, sampai akhirnya tiba pada ide mengejutkan nyonya Takigawa yang memintanya ikut pulang ke rumah dan memasak bersama.
"Benar," Nyonya Takigawa menyahut. Sebuah genggaman hangat mendarat di lengan kanannya. "Siapa sangka kita berulang tahun di bulan yang sama? Jadi karena kau tinggal berjauhan dengan keluargamu, mari kita buat saja pesta ulang tahunmu sekalian di sini, Sawamura-kun. Itu tidak salah, kan?"
"Tapi… bukankah seharusnya ini acara keluarga?"
Nyonya Takigawa tertawa begitu renyah. Mengusap lengan Eijun dengan gerakan begitu halus. Matanya berbinar dalam cahaya kasih sayang sekaligus rasa geli. "Oh, dear… kau tenang saja. Jika Yuu berhasil, maka kau juga akan menjadi bagian dari kelu—"
"Ibu."
Eijun sudah lama sekali tidak mendengar Chris bicara dengan suara tegas begitu. Ia berhasil membuat apapun yang hendak dikatakan Nyonya Takigawa berhenti. Tapi kali ini, alih-alih mendapati wajah Chris sekaku senior galak, Eijun justru melihat Chris sedikit salah tingkah dan… tersipu?
"Bukankah sebaiknya kita mulai masak sekarang? Kita harus sudah selesai sebelum jam makan siang, kan?"
Nyonya Takigawa kelihatan masih berupaya menahan tawa geli. "Baiklah, mari kita lihat apa anak ibu yang berbadan besar ini bisa berguna di dapur."
Kali ini Eijun ikut tertawa. Ia sama sekali tidak pernah menyangka bisa melihat sisi lain dari Chris yang manis seperti ini. Selama ini di matanya Chris adalah seorang senior yang begitu memukau, keren, maskulin, dan juga berwibawa. Tapi di hadapan sang ibu, ternyata Chris bisa juga bersikap seperti anak laki-laki yang manis dan pasrah digoda ibunya.
"Kalau begitu aku akan membantu sebisaku. Tapi kuharap Sensei tidak terlalu kecewa saat aku lebih banyak membuat kacau daripada membantu."
Chris tertawa, sedangkan Nyonya Takigawa memasang senyum yang lucu sambil meletakkan kedua tangan di pinggang, menatap Eijun dan Chris seperti menilai. "Jadi aku punya dua pemuda sehat dan segar bugar di sini tapi tidak tahu seberapa jauh mereka bisa membantuku memasak? Sungguh menyenangkan."
Nyonya Takigawa bergumam panjang, lalu menjentikkan jari pada Chris dan Eijun. "Hal pertama, urus poni kalian itu. Ambil ikat rambut kecil dan lakukan sesuatu agar poni itu tidak mengganggu selama memasak."
Eijun memiringkan kepala seraya berkedip dan menyisir poninya ke bawah sampai menyentuh mata lalu meniup-niupnya. Chris sendiri benar-benar menjadi anak yang patuh dan langsung menuju bagian lain dari dapur, membuka salah satu laci dan mengeluarkan dua ikat rambut baru lalu memberikan salah satunya kepada Eijun.
"Kau bisa melakukannya sendiri?" Tanya Chris, sebelah alisnya terangkat samar memandangi bagaimana Eijun melebarkan ikat rambut kecil itu dengan jari-jarinya.
Eijun membalasnya dengan cengiran lebar. "Mungkin akan lebih mudah kalau ada cermin. Aku tidak familiar dengan ikat rambut."
"Tidak perlu." Sahut nyonya Takigawa yang kini sedang mencuci beberapa sayuran di wastafel. Wanita itu menoleh kepada mereka sejenak, tersenyum miring. "Kenapa kalian tidak saling membantu saja? Yuu, kau bisa bantu ikatkan rambut Sawamura-kun, dan begitu pula sebaliknya. Lebih praktis, kan?"
"Ah!" Eijun berseru spontan. "Benar juga." Ia berpaling pada Chris dan tersenyum lebar. "Chris-senpai, tolong menunduk sedikit. Aku akan mengikat rambutmu."
Sebersit emosi panik melintas di mata amber Chris, pemuda itu tidak menjawab maupun menunduk mengikuti permintaan Eijun dan Eijun sempat mengira pemuda itu bakal menolaknya. Tetapi kemudian Chris membuang napas pendek, bertukar tatapan singkat dengan ibunya sebelum kembali menatap Eijun. Chris tersenyum kecil, mengangguk tipis, lalu sedikit menunduk hingga puncak kepalanya sejajar dengan wajah Eijun.
Dalam jarak sedekat ini, Eijun bisa mencium aroma shampoo dari rambut Chris. Berbaur dengan wangi pinus dari kulitnya hingga menciptakan suatu kombinasi aroma yang lembut tetapi manly.
"Kalau begitu permisi, Senpai… Aku harus menyentuh kepala dan rambutmu."
"Mm,"
Rambut Chris terasa halus di jari-jari Eijun. Terurai bagaikan benang-benang sutera coklat ketika Eijun berusaha mengumpulkannya dalam satu ikatan. Eijun berhasil mengikat bukan hanya poni depan Chris tetapi juga rambut pada kedua sisi kepalanya. Sesuatu yang membuat Eijun sadar bahwa selama ini rambut seniornya itu jauh lebih panjang dari yang ia duga. Eijun menyatukan rambut ke puncak kepala, menyisakan hanya sedikit rambut pada bagian belakang kepala yang masih terlalu pendek. Saat Chris kembali menegakkan badan, Eijun nyaris menganga memandang tampilan pemuda itu.
"Ada yang salah, Sawamura?"
Eijun mengerjap cepat, tersadar dari lamunan dan buru-buru menggeleng. "Sama sekali tidak ada yang salah, hanya saja…" Matanya mengamati Chris lagi hanya untuk merasakan betapa mempesonanya Chris dalam gaya rambut seperti itu. "Senpai mengingatkanku pada Jon Snow."
Terdengar suara tawa nyonya Takigawa, Eijun bahkan baru menyadari bahwa wanita itu sejak tadi masih memperhatikan mereka berdua. "Kau kelihatan sangat Amerika dengan gaya rambut seperti itu, Yuu. Mm… apa namanya? Highballer man bun?"
"Kalau memang separah itu, mungkin sebaiknya aku pakai ikat kepala saja." Chris berkata, menggerakkan tangannya untuk melepas kunciran tapi Eijun dengan sigap menahan.
"Jangan!" Suaranya lebih lantang dari yang Eijun bayangkan. "Ma-maksudku, itu bagus untuk Chris-senpai. Sama sekali tidak ada yang salah, sungguh! Aku hanya sedikit kaget tadi. Jadi jangan dilepas yaa? Please…"
Chris melempar tatapan tanya dengan mengangkat sebelah alisnya.
"Aku serius!" Eijun bersikeras. "Chris-senpai sangat tampan! Aku suka tampilan ini!"
Bola mata Chris melebar sedikit sebelum kemudian pemuda itu memalingkan wajahnya. "Iya, terserah." Suara Chris terasa begitu pelan seakan-akan ia hanya berbisik. "Aku tidak akan melepasnya. Sekarang biarkan aku yang menguncir rambutmu."
…
Banyak sekali hal-hal yang baru Eijun ketahui tentang Chris selama mereka memasak bersama. Nyonya Takigawa adalah seorang wanita yang tahu bagaimana menghidupkan suasana, ia nyaris tidak putus bercerita maupun bertanya sepanjang kegiatan memasak hingga kegiatan itu terasa jauh dari kata membosankan. Menurut penuturannya, Chris ternyata sempat mengalami insekuritas yang berhubungan dengan jati diri. Lahir sebagai setengah Amerika dan setengah Jepang membuatnya merasa tidak benar-benar orang Amerika ataupun orang Jepang yang pada akhirnya melahirkan suatu kekhawatiran bahwa ia akan ditolak oleh kedua belah pihak masyarakat.
"Yuu bahkan sempat sengaja mewarnai rambutnya jadi pirang saat tinggal di Amerika."
"Sampai sejauh apa ibu mau mengoceh tentang masa laluku?"
"Benarkah itu? Apa Chris-senpai pernah pirang?"
Nyonya Takigawa tertawa halus. "Yap, benar sekali. Kau tahu, Sawamura-kun? Yuu adalah salah satu cowok populer di sekolahnya. Tapi dia bahkan terlalu pemalu untuk mengajak orang bicara lebih dulu."
Retina Eijun melebar tak percaya. "Maji de!?" Ia memandang Chris takjub. "Aku benar-benar tidak menyangka Chris-senpai seperti itu."
Chris menghela napas berat. "Sudahlah," Ia berkata, mengambil alih wortel dari tangan Eijun dan mulai mengirisnya. "Lama-lama ini bukan lagi acara memasak, tapi berubah jadi acara membuka masa laluku."
Eijun angkat bahu. "Kalau kalian mau, aku juga bisa menceritakan masa laluku, kok. Tapi aku tidak janji ceritanya bakal menarik."
Ibu dan anak Takigawa itu menoleh padanya bersamaan. Nyonya Takigawa tersenyum sumeringah lalu buru-buru memasukkan macaroni schotel ke dalam microwave dan mendekat padanya. "Ceritakan, Sawamura-kun. Seperti apa masa kecilmu dulu?"
"Uh, well… aku tidak yakin apakah ini cerita yang menarik. Saat jaman sekolah dulu, sebenarnya aku bisa dibilang murid yang nakal."
"Nakal yang bagaimana, Sawamura-kun?"
"Kau tidak membakar sekolah atau sejenisnya, kan?"
Eijun tertawa geli, menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. "Tidak sampai seperti itu. Aku hanya sering terlibat masalah karena berkelahi baik dengan siswa satu sekolah maupun luar sekolah. Sampai SMP, aku selalu bersekolah di sekolah yang lumayan dekat dari rumah. Keluargaku punya usaha pertanian yang cukup besar dan dihormati warga sekitar. Jadi hampir semua orang di sekolah tahu siapa keluargaku dan, yah… mungkin karena itulah aku merasa superior dan aman-aman saja meski sering terlibat masalah."
"Wow," Chris merespon. "Aku tidak tahu kau sempet menjadi anak yang agak arogan."
Eijun sendiri hanya mampu menanggapinya dengan tawa geli bercampur malu.
"Jadi kau bertengkar karena menantang anak-anak lain, Sawamura-kun?"
"Bukan begitu juga, Sensei." Eijun meringis, berusaha tampil sesopan mungkin. "Aku hanya beraksi jika merasa teman-temanku ditindas. Aku paling tidak suka ada yang berkata buruk tentang teman-temanku. Tapi itu hanya berlangsung sampai SMP, aku masuk SMA yang lumayan jauh dari rumah dan mengharuskanku tinggal di asrama. Lagipula teman-temanku selalu mencegahku mengulagi kesalahan yang sama karena aku perlu membentuk portofolio bagus agar bisa diterima di universitas."
Nyonya Takigawa memandanginya dengan alis menukik samar dan tatapan seakan berusaha menggali lebih jauh. Tetapi kemudian wanita itu tersenyum, keramahan kembali memenuhi wajahnya. "Jadi kau ini tipe yang posesif pada teman-temanmu, ya?"
Eijun hanya membalasnya dengan cengiran.
"Sekarang aku tahu apa yang membuatmu sampai berani melawan Azuma."
"Chris-senpai! Tolong jangan dibahas lagi, aku malu."
"He? Kalian membicarakan apa?"
"Bukan apa-apa, Sensei. Hanya sebuah kecerobohan kecil." Sahut Eijun, berusaha sebaik mungkin untuk menyembunyikan kepanikan dalam suaranya.
"Yeah," Chris menimpali, untungnya tidak mengambil kesempatan untuk membocorkan kejadian itu lebih jauh. "Jadi hanya itu kenakalanmu?"
"Umm… aku tidak tahu ini disebut nakal atau bukan." Eijun menjilat bibir bawahnya singkat. "Aku menindik telingaku saat kelas dua SMP."
"Apa?"
"Hanya telinga kiriku." Eijun menunjukkan telinga kirinya. Selama ini ia memang tidak pernah lagi memakai aksesori macam apapun di telinganya, tapi ia yakin bekas tindikan itu masih ada apabila orang cukup peduli untuk memperhatikan. "Aku nekat menindiknya, dan sukses mendapat tamparan bolak-balik dari kakek."
Chris menatapnya dengan raut wajah tak percaya. Selama beberapa saat lamanya, keadaan menjadi begitu hening dengan Eijun yang meringis malu sedang dua orang lain memandanginya setengah bengong, sampai kemudian Nyonya Takigawa mulai terpingkal. Tertawa lepas sampai tubuhnya membungkuk sedikit dan wajahnya memerah seolah-olah cerita itu benar-benar lucu.
"Anno… Kenapa Takigawa-sensei tertawa?"
"Sawamura," Panggil Chris lembut disertai dengan sentuhan pada sebelah bahu yang seketika membuat Eijun mendongak untuk balik menatapnya. Chris tersenyum simpul, sinar matanya ramah dan hangat. "Aku juga punya piercing di telinga kiriku." Ia berkata, tersenyum lagi lalu dengan satu tangannya yang bebas meraba daun telinga kirinya. "Aku menindik telingaku saat SMP kelas dua."
Eijun berkedip. Satu kali. Dua kali. Tiga kali. Mencoba mencerna apa yang baru saja Chris katakan lalu… "SERIUS!?"
"Yep!" Sahut Nyonya Takigawa riang, merangkul lengan Eijun dengan gestur hangat sambil memberinya senyuman manis. "Yuu membuatku kaget luar biasa saat pulang dengan sebuah tindikan di telinga kirinya saat itu. Aku bahkan sempat waswas kalau-kalau dia bergabung dengan genk Anak Punk atau apa. Tapi teryata itu cuma hal wajar bagi para remaja, huh?"
Satu lagi hal mengejutkan yang Eijun dapatkan hari ini, kesamaan tak terduga antara dirinya dan Takigawa Chris Yuu. Sebuah piercing di telinga kiri yang sama-sama mereka buat saat duduk di kelas dua SMP. Kenyataan kecil nan menggelikan itu entah mengapa membuat Eijun merasakan suatu bentuk ikatan lain antara dirinya dan Chris mengerat otomatis, menjadi lebih dekat dari sebelumnya.
…
Mereka berhasil menyelesaikan semua masakan tepat sebelum waktu makan siang. Selanjutnya mengadakan piknik kecil di halaman dan memakan hidangan yang mereka masak sebelumnya. Chris bahkan sempat menghubungi ayahnya yang sedang berada di Amerika melalui video call. Mengobrol sedikit hanya untuk bercanda dan memamerkan betapa mereka bisa bersenang-senang tanpa kehadiran sang kepala keluarga.
Eijun menyukai bagaimana cara keluarga kecil ini berinteraksi satu sama lain. Chris punya kedua orang tua yang menyenangkan dan dapat masuk dengan mudah dalam obrolan anak muda. Selesai makan, mereka membereskan semua peralatan dan membawanya masuk kembali ke dalam rumah. Nyonya Takigawa kemudian berkata bahwa ia harus menyelesaikan salah satu artikelnya. Wanita itu mempersilakan Eijun dan Chris untuk bersenang-senang dengan sedikit bercanda, ia juga menekan garis bawah agar mereka tidak membuat masalah serius.
Chris mengajak Eijun ke perpustakaan. Tempat yang membawa Eijun pada memori ketika pertama kali ia datang ke rumah ini dalam keadaan berantakan lalu nyonya Takigawa berbaik hati mencarikannya buku sebagai pengganti bukunya yang rusak. Sekarang, ketika meniti kembali perpustakaan ini tanpa dipenuhi air mata, Eijun akhirnya menyadari bahwa koleksi buku keluarga Takigawa sangat menakjubkan. Tapi yang paling membuat Eijun terpana adalah ketika menemukan rak berisi buku cerita anak berbahasa Jepang.
"Luar biasa!" Eijun berdecak takjub selagi tangannya menarik satu buku dari deretan itu. "Kalian bahkan punya ini."
Chris melongok ke buku di tangan Eijun, tampak tertarik ketika Eijun mulai membuka halaman demi halaman penuh warna yang disertai gambar-gambar islustrasi. "Ah, aku ingat." Chris berujar. "Ibuku suka tulisannya, ibuku bilang penulis itu menyampaikan cerita dengan begitu lembut, sederhana, tetapi memiliki pesan moral yang luar biasa dalam. Kata ibuku, beliau adalah seorang penulis berbakat yang mungkin sengaja menyamar di balik dongeng-dongeng anak."
Eijun tersenyum, nyaris menangis haru mendengar penuturan Chris. "Senang mendengar pujian itu dari seorang dosen Princeton." Ia menutup buku di tangannya lalu mengusap bagian sampul dengan hati-hati sebelum mendongak menatap Chris. "Buku ini ditulis oleh Yellow Riku, yang merupakan nama pena ibuku."
Tercipta jeda, beberapa detik yang dihiasi dengan keheningan selagi Chris menatap Eijun lama. Tampak berusaha menyimak, berpikir, sekaligus mungkin menganalisa seberapa dalam keseriusan dari penuturan Eijun sebelumnya. Lalu keheningan itu pecah ketika Chris membuka mulutnya dengan agak kaku. "Kau serius?"
Eijun tersenyum lebar, mengangguk penuh semangat. "Tentu saja aku serius!" Ia meletakkan kembali buku itu di rak. "Di rumah masih ada beberapa buku dongeng buatan ibuku yang senganja tidak diterbitkan. Ibuku sering menulis untukku saat aku masih kecil dan akan membacakannya setiap malam sebagai pengantar tidurku."
Chris terihat setengah kaget, setengah terkesima. "Kenapa rasanya dunia ini sempit sekali?"
"Mm-hmm." Eijun menangguk sepakat, tersenyum pada Chris. "Rasanya semua hal saling berkaitan, ya?"
Mereka mengobrol banyak tentang masa lalu Eijun dan buku-buku dongeng ibunya setelah itu. Mungkin nyaris dua jam di dalam perpustakaan, membuka buku demi buku dongeng sementara Eijun dengan antusias menceritakan peristiwa yang terjadi di baliknya. Beberapa hal yang masih ia ingat dari kisah ibunya, bagian-bagian tertentu yang berubah dari skrip asli sang ibu dan versi cetak, dan lain sebagainya.
Setelah itu Chris mengajak Eijun ke home theater di rumahnya. Chris bahkan menyiapkan minuman dan snack sebagai camilan selama menonton. Sangat menyenangkan menghabiskan waktu bersama Chris, terlebih lagi setelah Eijun tahu bahwa Chris ternyata punya selera humor yang bagus, seorang pendengar yang baik, dan sangat mahir membaca potensi seseorang.
Menjelang sore, Chris mengajaknya berkeliling halaman. Menelusuri taman di kediaman Takigawa yang ditata sedemikian apiknya hingga menimbulkan kesan menenangkan. Mereka bahkan punya kolam ikan dan air mancur kecil, sebuah gazebo kayu berdiri di salah satu sudut taman dan menjadi tempat yang sempurna untuk bersantai.
Namun perhatian Eijun seketika teralihkan begitu matanya menemukan satu bangunan yang agak terpisah dari rumah utama. Hanya bangunan satu lantai dengan atap berbentuk setengah lingkaran. Ia menyipitkan mata, menoleh pada Chris. "Senpai, itu tempat apa?"
Chris mengikuti arah yang ditunjuk Eijun lalu tersenyum. "Kau mau lihat?" Tawarnya, kemudian bangkit berdiri dengan gestur ramah meminta Eijun mengikutinya.
Begitu Chris membuka pintu bangunan itu, Eijun langsung disuguhkan oleh sebuah teleskop besar yang dipasang permanen tepat di tengah-tengah ruangan. Atap setengah bola tersusun atas lipatan-lipatan lempeng besi yang bisa bergeser terbuka. Eijun berdiri terkesima saat Chris berjalan ke arah teleskop lalu membuka kain putih yang semula menutupi lensa. Pemuda itu berdiri di belakang teleskop, lalu mulai mengatur posisi lensa.
"I-ini… Observatorium?" Eijun menatap Chris setengah tak percaya dan setengah meminta pembenaran. "Senpai punya observatorium pribadi di rumah!?"
Chris tertawa kecil dan mengangguk. "Ayahku bersikeras membangunnya untukku sebagai hadiah saat aku kembali lagi ke Jepang." Chris berjalan ke salah satu sisi ruangan di mana sekumpulan tuas berbaris dalam ukuran yang berbeda-beda. "Tapi tidak terlalu banyak yang bisa diamati karena polusi cahaya di Tokyo cukup tinggi."
Chris menggerakkan beberapa tuas, lalu perlahan-lahan atap kubah terbuka. Cahaya matahari memasuki ruangan, gradasi langit semi-senja berbayang oranye dan ungu jatuh ke atas teleskop besar seperti sinar lampu sorot.
"Kau mau mencobanya, Sawamura?"
Eijun mengerjap seketika, berdoa semoga ia tidak memasang wajah yang terlalu bodoh karena terlampau terkesima. "Tentu saja aku mau!" Jawabnya bersemangat lalu berjalan buru-buru ke dekat teleskop, Chris hanya menanggapi tingkahnya dengan tawa renyah.
"Mataharinya belum tenggelam, jadi mungkin tidak terlalu banyak yang bisa kita lihat." Ujar Chris, berdiri di dekat Eijun dan mengatur arah teropong serta lensa objektif dan okuler. Pemuda itu melirik dengan alis terangkat samar. "Atau kau mau menunggu sampai matahari terbenam dulu? Kau bisa sekalian makan malam di sini."
Eijun mau sekali, tapi ia merasa sudah terlalu lama berada di rumah Chris. Kenyataan itu membuatnya bimbang dan gelisah, berdiri canggung sambil mengusap tengkuknya di bawah tatapan mata Chris yang seakan memintanya untuk tetap tinggal. "Umm… bagaimana yaa…"
"Besok hari Minggu, kau santai, kan?"
Eijun membasahi bibirnya. "Iya sih… tapi…" Dalam sekejap, satu ingatan meledak dalam kepalanya dan membuat bola matanya melebar. "BESOK HARI MINGGU!?" Eijun melihat Chris berjengit atas perubahan suasana yang terlalu tiba-tiba ini tapi Eijun tidak punya waktu untuk meminta maaf. "Ini hari Sabtu! Astaga! Kenapa aku bisa lupa!?"
Eijun menggerang frustasi, meraba-raba sakunya dan baru sadar bahwa selama ini ia sama sekali tidak membawa ponsel. "Aargh! aku bahkan meninggalkan ponselku di rumah!" Kepanikan menyerangnya dalam satu kedipan mata, Eijun mundur dari teleskop. "SIAL! SIAL! SIAL!"
"Sawamura, tenanglah."
Eijun tidak bisa mendengar Chris, telapak tangannya bergerak ke kepala, jari-jari meremas rambut. "Kenapa aku bisa lupa!? seharusnya aku tidak lupa! Ini bahkan sudah lewat lebih dari dua jam. Bagaimana mungkin aku—"
"SAWAMURA!"
Suara lantang Chris disertai cengkeraman erat di kedua bahunya membuat Eijun mematung. Chris menatap lurus ke matanya, ada getar kekhawatiran yang terpancar dari kedua mata amber Chris. "Tenanglah." Chris meminta, sedikit menyusupkan tatapan maaf karena membentaknya. "Apa yang terjadi sebenarnya?"
Eijun menarik napas, berusaha tenang, tetapi hatinya berkecamuk dalam badai gelisah. Ia menggeleng, menggigiti bibirnya dan menepis tangan Chris sehalus mungkin. "Maaf, Chris-senpai. Aku harus pergi sekarang."
"Biar aku antar."
"Tidak." Sahut Eijun tegas. "Maaf, tapi tidak perlu mengantarku. Terima kasih untuk hari ini. Aku permisi." Eijun membungkuk singkat, dan tanpa mendengar tanggapan Chris, ia segera berlari ke luar, menembus halaman rumah Takigawa, dan terus berlari sampai ke luar pagar.
Eijun tidak berhenti, tidak memperlambat lajunya, bahkan juga tidak menoleh ke belakang. Yang ada dalam pikirannya saat ini hanyalah bagaimana caranya agar ia bisa cepat sampai di tempat itu untuk memenuhi janji kencan dengan Miyuki Kazuya.
…
Sawamura Eijun adalah orang pertama dan mungkin juga satu-satunya di dunia yang berani-beraninya membuat Kazuya menunggu lebih dari dua jam tanpa kepastian.
Nomor yang Anda tuju tidak menjawab panggilan Anda. Silakan coba beberapa saat lagi atau tinggalkan pesan—
"Ck!" Kazuya mendecakkan lidah dan menyumpah dengan jengkel. "Ke mana kau sebenarnya, Sawamura?"
Sekarang, Kazuya bahkan tidak yakin harus marah atau justru cemas. Sawamura tidak ada di tempat yang telah mereka janjikan pada pukul tiga sore tadi. Saat Kazuya mencoba menghubunginya lewat chat maupun telepon, yang ia jumpai hanyalah respon nihil. Chat tidak dibalas ataupun dibaca, sementara telpon tidak diangkat.
Kazuya bahkan bertanya pada Kanemaru, tapi pemuda itu mengaku tidak tahu menahu ke mana perginya Sawamura. Kuramochi hanya menertawainya seperti iblis jahat dan mengejek seakan Kazuya adalah kekasih yang posesif. Persetan! Kalau ia memang posesif, ia pasti akan mengikat kaki pemuda berisik itu begitu menemui wujudnya nanti sambil memarahinya seperti anak nakal. Tetapi sialnya, sampai detik ini Kazuya sama sekali tidak punya ide di mana Sawamura berada.
Untuk ke sekian kalinya, Kazuya menatap perputaran waktu di pergelangan tangannya. Hampir pukul enam sore. Langit mulai gelap, lampu-lampu di jalanan telah menyala. Sementara Kazuya masih berada di sini seperti orang bodoh. Berdiri di dekat mobilnya yang terparkir di depan tempat tinggal Sawamura. Rumah itu kelihatan kosong, semua pintu tertutup, lampunya tidak menyala, sama sekali tidak ada tanda-tanda keberadaan Sawamura di dalamnya.
Kazuya membuang napas berat, bersandar ke mobilnya dan mencoba untuk sedikit lebih tenang. Ia sudah putus asa berdiri kebingungan di tempat yang seharusnya menjadi lokasi pertemuan mereka pada pukul tiga tadi, menanti selama hampir dua jam sama sekali tidak menyenangkan. Jadi Kazuya memutuskan untuk mendatangi langsung Sawamura ke rumah, sedikit berharap bahwa pemuda itu hanya ketiduran atau apa. Nyatanya, ia sudah berdiri di sini lebih dari satu jam tapi Sawamura jelas tidak ada di rumah.
"Kau tidak datang ke bioskop, tidak mengangkat telpon, tidak menjawab pesan, tidak ada di rumah, dan tidak ada yang tahu di mana keberadaanmu. Kau sedang berusaha kabur atau bagaimana?"
Kazuya memijat pangkal hidungnya, mencoba untuk menetralisir pening yang melanda. Otot-ototnya mulai kaku karena terlalu lama menegang menahan amarah. Ia merasa nyaris seluruh tenanganya telah habis terpakai rasa kesal dan gelisah. Kazuya menyalakan ponselnya sekali lagi, melihat bahwa puluhan chat yang dikirimkannya pada Sawamura masih belum dibaca satupun.
"Sawamura," Kazuya berbisik seoah berharap Sawamura entah bagaimana bisa mendengarnya. "Setidaknya balas pesanku dan katakan kau ada di mana sekarang."
Kazuya benci mengakui ini, tapi pemikiran-pemikiran aneh mulai mengerayangi otaknya. Bagaimana kalau sesuatu yang butuk terjadi pada Sawamura? Bagaimana kalau dia mengalami kecelakaan di jalan saat menuju bioskop? Bagaimana kalau ponselnya terjatuh saat dia melawan para penjahat? Bagaimana kalau dia diculik? Bagaimana kalau—
"Sial!" Kazuya mengumpat. Pikiran-pikiran negatif itu sama sekali tidak membantu! Ia harus tetap tenang dan fokus. Ia butuh otaknya dalam kondisi terbaik untuk menelusuri beragam kemungkinan tentang keberadaan pemuda Nagano itu.
Kazuya menarik napas panjang, mendongak ke arah langit yang benar-benar telah berangsur menggelap. Matahari telah terbenam, senja perlahan pergi, dan malam mulai menyapa. Ia memutuskan jika sampai satu jam lagi Sawamura tidak muncul, maka ia akan menyeret paksa Kuramochi untuk membantunya mencari pemuda itu. Bagaimanapun caranya.
Sambil membuang napas perlahan, Kazuya mencoba untuk memfokuskan arah pandangan matanya ke jalanan sepi yang terbentang di depannya. Tiga detik, sampai Kazuya menyadari bahwa ada seseorang yang sedang berjalan mendekat, Kazuya menyipitkan mata, mencoba melihat lebih jelas dalam remang-remang dan penerangan lampu jalan kemudian melotot lebar dan berdiri tegak. Ia mungkin sempat berteriak menyerukan nama Sawamura sebelum akhirnya berlari ke arah sosok itu.
Ada sentakan kecil yang Kazuya sadari dari gestur Sawamura. Seakan ia sama kagetnya ketika menjumpai Kazuya di sini. Kemudian, adegan berlangsung begitu konyol ketika mereka berdua saling berlari mendekat dan berhenti berhadapan tepat terpaut satu pijakan kaki dengan napas berat yang saling menimpa satu sama lain.
"Miyuki…" Suara Sawamura tercekat, sepelan bisikan, sedikit terbata dan kelu. Ia memandangi Kazuya tanpa berkedip, tampak sangat kaget. "Kau… di sini…?"
Kazuya mencoba untuk menelusuri penampilan Sawamura secara lebih mendetail. Ia memakai celana olahraga, t-shirt putih, dan sepatu lari. Sawamura tidak terlihat habis berpergian jauh atau apa, sama sekali tidak membawa tas atau barang-barang lain. Yang lebih penting, Sawamura sama sekali tidak tampak terluka atau baru mengalami tanda-tanda kekerasan. Ia kelihatan baik-baik saja, dan kenyataan itu berhasil membuat Kazuya akhirnya menghela napas lega.
"Damn it, Sawamura." Kazuya menggerit kecil ketika merasakan beban berat di dadanya perlahan menghilang. Satu tangan tanpa sadar bergerak ke sebelah bahu Sawamura dan meremasnya. Kazuya menundukkan kepala, condong ke arah Sawamura hingga keningnya nyaris bersandar pada bahu pemuda itu.
"...syukurlah." Kazuya bernapas dengan gemetar. "Kau baik-baik saja."
Kazuya bertahan di posisi itu selama beberapa saat sebelum akhirnya mengeluarkan suara dehaman gugup. Kazuya kembali mengangkat kepalanya, menatap lurus ke iris mata emas Sawamura. "Kenapa kau tidak datang? Kenapa kau tidak bisa dihubungi? Ke mana saja kau?" Ia tidak ingin terdengar marah, tapi suaranya telah meninggi tanpa sadar.
Sawamura menelan ludah, tampak berusaha keras untuk tidak memalingkan wajahnya dari tatapan tajam Kazuya. "Maaf, aku meninggalkan ponselku di rumah, jadi aku tidak bisa menghubungimu."
"Kau pikir berapa usiamu sampai lupa membawa ponsel saat pergi ke luar rumah?"
Sawamura mendengus kecil, sedikit mengerucutkan bibirnya, cemberut dengan lucu. "Tadi ponselku sedang dicharge, oke? Aku juga tidak berencana untuk pergi sampai jam segini."
"Memangnya sejak kapan kau meninggalkan rumah?"
Sawamura kembali tegang. "Kurasa... sekitar pukul delapan pagi. Aku pergi untuk jogging."
"Dan kau baru kembali sekarang!?" Suara Kazuya meninggi lagi. "Kau jogging sampai Hokkaido atau bagaimana?"
Bahu Sawamura bergerak seiring tarikan napasnya yang dalam. Ia lalu menatap Kazuya—selalu—Sawamura menampilkan wajah berani dan penuh kesungguhan meski Kazuya bisa melihat kegugupan di balik getaran matanya. "Maaf, aku benar-benar lupa waktu. Aku tidak bermaksud melanggar janji denganmu atau apa. Aku bahkan langsung ke tempat janjian kita secepat mungkin begitu sadar aku sudah terlambat, tapi kau sudah tidak ada di sana dan malah menungguku di sini."
Kazuya tidak sampai hati tega memahari Sawamura dengan ekspresi bersalahnya. Terlebih lagi Kazuya cukup yakin bahwa pemuda itu benar-benar berkata jujur. Kekesalannya memang sedikit meluap, tapi masih ada satu hal yang mengganjal di hatinya. "Jadi kau dari mana, Sawamura? Apa yang membuatmu sampai lupa waktu?"
Seharusnya, Kazuya tahu lebih awal. Bahwa ketika matanya berhasil menangkap pergerakan gelisah Sawamura, caranya membasahi bibir, mengusap tengkuk dengan canggung, dan bahkan menumbuk ujung sepatunya ke tanah, atau cara bagaimana Sawamura dalam sepersekian detik memalingkan tatapan darinya… Kazuya seharusnya dapat memakai semua petunjuk itu sebagai pertanda bahwa ia tidak akan menyukai jawaban yang akan diberikan Sawamura.
"Aku ke rumah Chris-senpai."
Deg.
"Aku merayakan ulang tahun bersama Takigawa-sensei dan Chris-senpai. Lalu aku diajak Chris-senpai ke perpustakaan, menonton di home theater, lalu…"
Kazuya berdiri termenung. Celotehan Sawamura bagai terus memantul ke ruang hampa. Ia tak lagi bisa mendengar dengan jelas kata-kata Sawamura. Ruang hampa itu tahu-tahu dibanjiri air hingga menenggelamkan suara Sawamura. Tetapi bahkan suara yang teredam itu masih mampu menjangkaunya, memberi kepedihan yang belum pernah dicicipi Kazuya selama ini. Suara itu menjelma seperti pisau, menggoresnya dalam balutan rasa pedih dan kemarahan.
Kazuya menunduk, memejamkan matanya. Chris. Nama itu berputar dalam benaknya. Rupanya Sawamura melupakan janji dengan Kazuya karena seharian ini Sawamura bersama dengan Chris. Kazuya mendengus. Ludah di mulutnya terasa getir.
"Seharusnya kau bilang dari awal, Sawamura." Sambil tersenyum pahit, menatap tepat ke mata Sawamura dan mengambil langkah mundur. "Kalau kau memang sudah punya janji dengan Chris, kau tidak perlu berbasa-basi menerima ajakanku."
Mata Sawamura melebar. "Bukan begitu maksudku! Aku sama sekali tidak—"
"Tiga jam." sela Kazuya dingin. "Seumur hidup aku belum pernah menunggu seseorang selama ini, tapi ternyata orang itu sedang sibuk kencan bersama orang lain. Terima kasih telah memberiku pengalaman yang menyebalkan, Sawamura Eijun."
Kazuya tersenyum sekali lagi, seasam racun. Kemudian ia berpaling dan berjalan menuju mobilnya tanpa menoleh sedikitpun. Begitu memasang sabuk pengaman dan menyalakan mesin mobil, Sawamura menggedor kaca mobilnya. Meminta agar Kazuya keluar dari mobil dan berbicara dengannya. Berkata bahwa ini hanya salah paham dan mereka perlu bicara bak-baik. Namun Kazuya merasa terlalu getir untuk peduli, ia mengabaikan Sawamura sepenuhnya dan melaju dengan cepat meninggalkan tempat itu.
…
Kazuya benci ketika terbangun pada pagi hari dan mendapati bahwa perasaannya sama sekali belum membaik. Segala hal hanya membuatnya menjadi mudah marah dan kesal. Jadi ia memutuskan untuk lebih banyak menghabiskan waktu di dalam kamarnya daripada mengambil resiko mengomel pada sembarang orang dengan tidak jelas seperti gadis remaja.
Ibunya sempat mengetuk kamarnya semalam, membawa senampan makanan lengkap. Kazuya membuka pintu untuk menerima makanan itu tapi bahkan sama sekali belum menyentuhnya sampai sekarang. Ia memaksakan senyum pada ibunya, berkata bahwa ia hanya butuh istirahat dan tidak perlu terlalu khawatir. Tetapi mungkin insting seorang ibu lebih tajam dari itu karena yang dilakukan ibunya justru tersenyum sambil memberinya tatapan begitu dalam, membelai pipinya seraya berkata bahwa tidak seharusnya ia selalu menyembunyikan semua hal sendirian.
Tanpa bangkit dari kasur, Kazuya meraba-raba nakas dan meraih ponselnya. Segera tersadar bahwa selama ini ia sengaja mematikan ponselnya untuk menghindari Sawamura. Walau ia sendiri tidak yakin apakah Sawamura bahkan mencoba untuk menghubunginya. Tapi persetan! Ia terlalu kesal untuk membahas tentang pemuda itu sekarang. Di sisi lain, Kazuya bahkan lebih kesal lagi karena kejadian seperti ini bisa berpengaruh begitu besar bagi mood-nya, seolah-olah Sawamura adalah orang penting yang layak ia pikirkan.
Kazuya kecewa, tentu saja. Tidak pernah ada satu orangpun yang membuatnya menunggu selama tiga jam. Lebih parahnya lagi, Sawamura lupa akan janji itu dan malah asyik bersama Chris. Apakah bocah itu pikir dia bisa menginjak-injak harga diri seorang Miyuki Kazuya sesukanya? Kazuya tidak akan menyangkal bahwa dia marah, seisi dunia bahkan mungkin dapat memaklumi kemarahannya. Hanya saja, yang masih Kazuya tidak mengerti adalah tentang ada perasaan lebih besar dari kemarahan yang saat ini melandanya. Rasa sakit. Kenapa ia merasa begitu kesakitan tapi bahkan tidak tahu bagaimana menjelaskan rasa sakitnya?
Perasaannya menjadi sangat kacau dan tidak jelas. Ia igin sendirian sekaligus juga ingin ditemani seseorang. Ia ingin marah tapi juga ingin merenung sepanjang hari. Yang lebih aneh, ia tidak ingin melihat Sawamura tapi sekaligus juga ingin menemuinya.
Kazuya tersentak kecil saat mendengar ketukan pelan di pintu kamarnya. Sekilas ia melirik ke arah jam dinding, hampir pukul delapan pagi.
"Ya?"
"Kazuya," suara ibunya terdengar lembut. "Ada yang mencarimu."
Kazuya menghela napas berat. "Bu, katakan saja pada Kuramochi aku benar-benar tidak mau diganggu."
"Tapi yang datang bukan Kuramochi-kun."
Kazuya mengeryitkan alis, menatap ke arah pintu yang masih tertutup.
"Dia bilang namanya Sawamura Eijun, katanya dia—"
Kazuya merasa baru dirasuki arwah gorila, ia melompat secepat kilat turun dari ranjangnya lalu berlari ke pintu dan membukanya lebar-lebar. Ibunya mematung kaget melihat tingkahnya.
"Siapa?" Desak Kazuya. "Ibu bilang siapa yang datang?"
Ibunya berkedip memandanginya, setengah tertegun. "Eh? Itu… dia bilang namanya Sawamura Eijun. Dia sedang menunggu di ruang tamu sekarang."
Kazuya menahan napas tanpa sadar. Sebuah ide konyol dalam kepalanyanya memaksa untuk menampar pipinya sendiri keras-keras.
"Kazuya…" Ibunya memanggil lembut, tangan sang ibu menyentuh lengannya hati-hati. "Kau baik-baik saja?"
"Aku baik-baik saja." Kazuya berhasil bernapas. "Aku akan menemui anak itu sekarang." Kemudian ia berjalan dengan sedikit tergesa-gesa, setengah berlari menuruni tangga hingga tiba di ruang tamu. Dan Sawamura sungguh ada di sana. Duduk seorang diri di atas sofa, tampak sedikit kikuk dan murung. Saat Kazuya tiba, pemuda itu mendongak dan langsung melotot lebar serta berdiri tegak seperti bambu. "Bocah nekat."
"Miyuki Kazuya!"
"Apa yang kau lakukan di rumahku?" Tanya Kazuya dingin, menyilang tangan di depan dada dan menatap Sawamura dengan skeptis.
Mereka masih berdiri dalam jarak yang sama. Sawamura tepat di depan sofa dan Kazuya masih tiga meter jaraknya dari pemuda itu. Sawamura menggertakkan gigi seakan anjing siap mengamuk. "Kau sama sekali tidak mau mendengarkanku, kau juga tidak mengangkat telpon atau membalas pesanku. Padahal aku perlu bicara denganmu!"
"Oh, sekarang kau marah karena telponmu tidak digubris? Sudahkah kau mengecek berapa banyak panggilanku yang tidak kau jawab kemarin?"
Ekspresi Sawamura melunak, dengan cepat berganti menjadi rasa bersalah. "Sudah kubilang aku tidak membawa ponselku kemarin."
"Karena terlalu asyik bersama Chris? Karena kau hanya ingin quality time dengannya sampai tidak sudi diganggu dan bahkan melupakan janjimu denganku?"
"BIARKAN AKU MENJELASKAN!"
"Jangan berteriak di rumahku."
Sawamura mengatupkan rahangnya dengan kaku. "Aku minta maaf, Miyuki-senpai…" Suaranya memelan dan ia terlihat hampir menangis. Kazuya mengepalkan tangannya guna menahan dorongan untuk mengusap kepala pemuda itu dan menariknya dalam pelukan karena tidak tega. "Aku mengaku salah karena sudah melupakan janji begitu saja. Tapi aku sama sekali tidak bermaksud begitu. Setidaknya biarkan aku menjelaskan, kalau kau tetap mau marah, aku tidak akan melawan."
Kazuya menelan ludah susah payah. Hatinya menjadi berat. Sejak kapan ia jadi selemah ini? Ia salalu bisa mengendalikan orang lain dan sulit merasakan simpati atau dipengaruhi. Jadi kenapa sekarang petahanannya mudah sekali luluh lantak hanya karena tatapan memelas Sawamura?
"Kenapa kalian bicara sambil berdiri?"
Baik Kazuya dan Sawamura sama-sama tersentak dan menoleh. Kazuya tidak sadar bahwa ibunya kini sudah berdiri satu langkah di belakangnya dan menatap mereka berdua bergantian. "Kazuya, tidak sopan membiarkan tamu berdiri."
"Maafkan aku, Kanda-san." Sawamura berkata lantang sambil membungkuk pada sang ibu yang kemudian dibalas dengan senyum dan gelengan maklum.
"Kazuya, duduklah dan bicara baik-baik dengan Sawamura-kun. Ibu akan mengambilkan kalian minuman."
Kazuya menghembuskan napas perlahan dan menyisir rambutnya ke belakang. Ia baru sadar betapa penampilannya sekarang sangat tidak layak pandang. Rambut berantakan, pakaian kusut, wajah bangun tidur, bahkan pandangannya sedikit buram karena tidak memakai kacamata. Sebuah hal yang cukup mengejutkan bahwa Sawamura tidak menertawai penampilannya. "Ibu tidak perlu menyiapkan minuman untukku." Kazuya lalu berpaling pada Sawamura. "Tunggu."
Kazuya kembali ke kamarnya dan langsung masuk ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya dan sikat gigi. Ia membasahi rambutnya sedikit sebagai penyegaran lalu mengeringkan wajah dan rambutnya sebelum berganti baju.
Ia jelas tidak bisa bicara dengan Sawamura di rumah karena ibunya juga ada di sini dan sangat memungkinkan untuk mencari tahu apa hubungannya dengan Sawamura. Untuk beberapa alasan, Kazuya belum siap dan mungkin tidak akan pernah siap mengungkapkan kepada keluarganya bahwa Sawamura adalah belahan jiwanya.
Sawamura masih duduk di ruang tamu bersama ibunya ketika Kazuya kembali. Mereka mengobrol dan terlihat akrab. Entah karena ibunya sedang ingin beramah-tamah, atau Sawamura semata-mata memang mudah dekat dengan siapa saja.
Ibunya mengernyit memandanginya. "Lima belas meit lalu kau masih terlihat seperti pengangguran yang sekarat, Kazuya. Bagaimana bisa kau berubah jadi setampan ini sekarang? Apa kau menyimpan ibu peri di kamarmu?"
Sawamura terbatuk, buru-buru meraih gelas minumnya dan berpura-pura kehausan, Kazuya berjanji akan menjitak kepalanya nanti. "Aku mewarisi paras rupawan ibu dan ketangkasan ayah. Aku tidak butuh peri atau penyihir untuk terlihat memesona. Itu semua sudah melekat dalam gen di tubuhku."
Ibunya memutar mata, Kazuya melihat Sawamura melakukan hal serupa. Mengejutkan, bagaimana dua orang dengan kepribadian berbeda itu bisa menunjukkan reaksi yang sama.
"Ibu tetap tidak tahu darimana kau mewarisi gen kesombongan itu."
Kazuya menyeringai pada ibunya. "Apa agenda ibu hari ini?"
"Ke salon, memanjakan diri dan mengusir kelakukan absurd para laki-laki di rumah ini dari kepalaku. Oh ayolah, Kazuya… selain punya anak yang menyebalkan aku juga punya suami yang gila kerja sampai tidak mengenal istilah weekend dalam hidupnya."
Sekarang, ia baru ingat belum melihat ayahnya sejak dua hari yang lalu. "Ke mana ayah?"
"Singapura."
Kazuya meringis, sudah jelas ibunya akan berakhir mengerikan apabila Kazuya memancing hal ini lebih jauh. Ia berjalan mendekat hingga sampai ke hadapan sang ibu, mengabaikan tatapan heran Sawamura yang masih duduk di sana. "Maaf, tapi sepertinya hari ini aku juga tidak bisa menemani ibu."
Ibunya justru menatapnya dengan alis menukik tajam. "Sejak kapan kau meminta maaf untuk hal-hal seperti ini? Kau tidak pernah minta maaf sebelumnya, Kazuya. Apa kau sakit?"
Kazuya berharap tidak merona sekarang, karena ini sungguh memalukan. Terlebih lagi Sawamura melihat segalanya. "Aku baik-baik saja, pokoknya aku harus pergi." Ia membungkuk kecil, meninggalkan satu kecupan ringan di pipi kiri sang ibu lalu buru-buru berdiri tegak. "Ayo."
Sawamura berdiri dalam keadaan setengah linglung, sementara di sisi lain Kazuya bisa melihat siluet ibunya yang berwajah kaget sedang meraba pipi kiri yang sebelumnya Kazuya kecup secara tiba-tiba. Jelas saja ibunya kaget, Kazuya tidak pernah lagi melakukan hal-hal cheesy sejenis itu sejak lama sekali. Dan sebelum semua hal ini semakin canggung, ia memutuskan untuk buru-buru pergi menuju pintu keluar diikuti Sawamura yang menyempatkan diri membungkuk sopan pada ibunya lalu berlari mengejar.
"Miyuki, tunggu. Miyuki-senpai… Senpai, tolong pelan sedikit!"
Kazuya tidak menghiraukan protes Sawamura, ia terus berjalan menuju garasi tempat mobilnya terparkir dan sama sekali tidak berniat memperlambat langkahnya.
"HEY!"
Kazuya merasakan satu sentakan di lengan atasnya, lalu Sawamura telah berada tepat di depannya dengan ekpresi super keras. "Kalau kau masih tidak mau bicara denganku, buat apa juga kau mengajakku pergi!?"
Kazuya memasang wajah dingin. "Dari mana kau tahu rumahku?"
"Aku bertanya pada Kuramochi-senpai."
"Kenapa kau sampai nekat datang ke rumahku?"
"Lalu aku harus bagaimana!? Kau sama sekali tidak menggubris panggilanku! Kau tidak memberiku kesempatan untuk bicara!"
"Kau bisa menunggu, hari Senin kau bisa menemuiku di kampus."
Sawamura menggeram kesal, benar-benar mengingatkan Kazuya pada Hulk. "Memangnya kenapa!? Kau juga selalu datang ke tempatku setiap kali aku tidak menjawab telpon atau membalas chat darimu, kan? Kenapa aku tidak boleh melakukan hal yang sama!? Tidak adil!"
Perasaan Kazuya saja, atau memang Sawamura jadi tambah pintar dalam acara delik mendelik sekarang?
"Oke, sekarang pilih. Kau mau terus berteriak soal ketidakadilan di sini sampai ibuku ikut mendengar, atau kau mau ikut aku ke mobil sekarang agar kau bisa cari tempat lain untuk ribut?"
"Kenapa kau bicara seakan aku yang memancing keributan, sih!?"
"Karena itu nama tengahmu, Bocah Nekat."
"Aku bukan Bocah Nekat! Aku sudah berusaha sepanjang malam untuk bicara denganmu!"
"Berhentilah berteriak, astaga. Kau jadi sangat menyebalkan."
"APA!? Jelas-jelas kau duluan yang bersikap menyebalkan!"
Kazuya memutar mata jengah, memutuskan untuk meraih tangan Sawamura dan berjalan sambil sedikit menariknya. Tapi belum sampai tiga langkah, Sawamura mendesis dalam nada kesakitan. Kazuya sontak berhenti, memandang kebingungan pada pemuda yang kini sedang meringis itu.
Sawamura kelihatan sedikit salah tingkah saat menyadari tatapan Kazuya mengarah padanya, dengan perlahan ia mencoba menarik tangannya dari Kazuya, tapi Kazuya tidak mengizinkan. "Aku bisa jalan sendiri."
Mata Kazuya menyipit curiga, alih-alih melepaskan tangan pemuda itu, ia justru mengamatinya sekilas lalu membaliknya. Kazuya menemukan luka yang sepertinya masih baru, goresan-goresan kasar seakan tergesek oleh permukaan yang keras dan tak rata.
"Apa-apaan, Sawamura?" Kazuya meraih pergelangan tangan Sawamura yang lain dan membaliknya. Ia tidak menemukan luka di telapak tangan yang satunya, tapi ia menemukan luka di dekat sikunya. "Kau habis jatuh?"
Sawamura memalingkan muka, dan ia bicara dengan nada begitu pelan seakan bergumam pada dirinya sendiri. "Aku jatuh saat mengejar mobilmu kemarin."
Kazuya merasa perutnya baru saja ditinju. Serius, harus berapa kali ia merasa berdosa pada Sawamura Eijun? Mengapa semesta seakan berkonspirasi untuk menjadikannya sebagai tokoh antagonis dalam kehidupan Sawamura?
Bersama satu helaan napas panjang, Kazuya melepaskan tangan Sawamura perlahan. "Aku punya kotak P3K di mobil, biar aku obati luka-lukamu."
Sawamura tidak berkata apa-apa begitu mereka duduk di dalam mobil dan Kazuya mulai membersihkan luka-lukanya dengan kapas beralkohol. Sawamura meringis sedikit akibat sensasi perih ketika kulitnya yang terbuka bertemu dengan cairan obat, tetapi selain itu ia tidak menunjukkan reaksi lain ataupun berusaha menarik diri. Selama beberapa saat, Kazuya merasa geli, lucu sekali menggambarkan situasi ini. Seorang Miyuki Kazuya duduk dengan ramah dan mengobati luka orang lain layaknya perawat yang baik hati. Apalagi pasiennya tak lain dan tak bukan adalah seseorang yang masih bisa ia ingat dengan amat jelas bagaimana kemarin sore seluruh mekanisme pertahanan dirinya mentah-mentah menolak ketika pemuda itu memohon padanya untuk tidak pergi.
Kazuya menempelkan plester pada luka di sekitar siku Sawamura, sementara untuk luka pada telapak tangannya, Sawamura menolak halus seraya berkata bahwa itu tidak perlu karena lukanya tidak terlalu dalam. Kazuya belum melepaskan kedua tangan itu meski pekerjaannya sebagai perawat telah selesai, ia memandangi kedua telapak tangan Sawamura selama beberapa saat dan berharap memiliki kemampuan untuk membaca garis tangannya. Karena untuk beberapa alasan yang tidak berani Kazuya utarakan pada dunia, ia penasaran seperti apa masa depan Sawamura.
"Terima kasih." Sawamura membisik, lalu menarik tangannya dari kuasa Kazuya tapi lagi-lagi Kazuya merasa belum ingin melepaskan kedua tangan itu. Jadi ia menahan tangan Sawamura dengan tangannya, mengenggamnya seakan mereka sepasang pengantin yang berdiri di altar. Heck, perumpamaan itu terlalu konyol untuk dipakai.
"Apa?" Pertanyaan itu singkat, tapi Kazuya bisa membaca serangkaian kalimat yang lebih panjang di mata Sawamura; buat apa kau memegang tanganku? Apa maumu? Bukannya kau masih marah? Kenapa kau sangat ambigu!
Kazuya mengeratkan genggaman secara impulsif saat matanya menatap lurus ke sepasang netra emas Sawamura. "Apa ada lagi bagian tubuhmu yang terluka?"
Sawamura kaget, tentu saja. Kazuya bahkan kaget dengan bagaimana suaranya barusan terdengar begitu lembut dan khawatir seakan Sawamura bisa pecah kapan saja. Tetapi dengan cepat kakagetan di wajah Sawaura berganti menjadi gelengan defensif yang dipertegas dengan menarik paksa tangannya dari genggaman Kazuya seolah ia takut Kazuya akan menerkamnya. "Tidak ada."
Kazuya tidak suka dengan kesan yang ia dapatkan saat ini. Kesan bahwa Sawamura seakan sedang berusaha membangun tembok yang begitu tinggi untuk membentengi dirinya dari Kazuya. Kesan bahwa Sawamura tidak semudah itu mempercayai bentuk kebaikan yang Kazuya berikan padanya. Kazuya tidak suka dengan bagaimana Sawamura bersikap waspada padanya. Sayangnya, Kazuya tahu betul alasan Sawamura bersikap demikian. Tidak lain adalah karena Kazuya sendiri yang sudah berkali-kali merusak kepercayaan Sawamura ataupun bermain-main dengannya.
Kazuya mendesah pelan, berharap tidak terlalu kelihatan kecewa. "Jadi apa yang mau kau katakan?"
Sawamura tidak serta merta menjawab. Pemuda itu mengambil waktu untuk dirinya sendiri, menarik napas panjang dan memejamkan mata selama beberapa saat seolah sedang mengumpulkan tekad sekaligus menenangkan diri. Ketika matanya kembali terbuka, ia menatap Kazuya lekat-lekat. Ekspresi berani, bersinar dalam warna keemasan yang begitu murni. "Aku minta maaf." Sawamura berkata dengan sangat jelas. "Aku tidak bermaksud mengacaukannya kemarin. Aku salah karena telah lupa waktu, tapi aku benar-benar tidak sengaja. Aku tidak bermaksud membuatmu menunggu selama berjam-jam. Maafkan aku…"
Kazuya tidak menjawab, tidak mengangguk, tidak juga menggeleng. Ia hanya duduk dan mengamati wajah Sawamura serta ekspresi bersalah yang begitu tulus di setiap garis wajahnya. Sawamura bicara jujur, Kazuya tahu hal itu. Entah berapa lama waktu berlalu sampai akhirnya Kazuya merespon, "Sebenarnya apa yang terjadi?"
Sawamura menelan ludah. "Aku keluar untuk lari pagi sekitar pukul delapan, aku tidak membawa ponselku dan hanya membawa dompet karena memang bermaksud ke pusat perbelanjaan sekalian untuk membeli kebutuhanku." Ia membuang napas perlahan, membahasi bibirnya, dan dalam sepersekian detik Kazuya bisa mengkap sirat keraguan di mata Sawamura. "Di sana aku bertemu Chris-senpai dan ibunya, mereka sedang berbelanja untuk perayaan sederhana ulang tahun Takigawa-sensei, dan yaa… Takigawa-sensei mengajakku ikut merayakannya bersama karena kebetulan kami sama-sama lahir di bulan Mei." Sawamura mengambil jeda, menarik dan menghembuskan napas dalam tempo yang lambat. "Kau bisa tanyakan ke Chris-senpai kalau memang tidak percaya padaku."
Untuk saat ini, Kazuya merasa berkomunikasi dengan Chris bukanlah pilihan yang menyehatkan. Karena bahkan hanya dengan mendengar nama itu keluar dari bibir Sawamura saja sudah membuat darahnya mendidih. "Itu yang membuatmu sampai lupa waktu?"
Sawamura mengangguk lemah, nyaris benar-benar menundukkan kepala. "Maaf… aku sungguh tidak bermaksud begitu, Miyuki-senpai."
Kazuya mendecakkan lidah, benar-benar muak dengan situasi serba abu-abu ini. Ia menggerakkan sebelah tangannya ke wajah Sawamura lalu mencubit sebelah pipi pemuda itu dengan gemas hingga membuat Sawamura tersentak dengan cepat dan menatapnya kaget. "Jangan murung, kau tambah jelek!"
Pupil Sawamura melebar, dan ia menampilkan wajah begitu lucu berkat sebelah pipinya yang tertarik melebar karena cubitan Kazuya. Kazuya bahkan tidak melepasnya, ia menarik-narik pipi Sawamura ke segala arah dan mencoba bereksprimen tentang berapa banyak wajah lucu yang bisa pemuda itu buat berkat pipinya yang tembam. "Wajahmu konyol." Kazya tersenyum, kali ini benar-benar merasa geli. Siapa sangka meremas pipi Sawamura sama refreshingnya dengan meremas mainan konyol bernama squishy?
Beberapa menit berlalu sampai Sawamura tersadar dan berusaha menepis tangan Kazuya. "Lepaskan! Sakit tahu!"
Kazuya justru tertawa. "Tidak mau. Kau terlalu menggemaskan. Apa pipimu terbuat dari karet?" Kazuya menemukan dirinya menyeringai lebih lebar dan enggan melepaskan Sawamura, ia mengubah posisi jari-jarinya, ibu hari menekan di satu pipi dan keempat jari lain menekan di pipi yang lain. Membuat pipi Sawamura menggumpal ke depan dan bibirnya maju seperti ikan.
"Luphushun!" Sawamura berontak, tapi Kazuya menemukan fakta bahwa ekspresinya menjadi semakin lucu saat ia bersikeras untuk bicara. Kazuya terkekeh-kekeh selama beberapa saat lalu memutuskan untuk berhenti menggoda Sawamura dan melepaskannya saat melihat warna kulit Sawamura semakin memerah.
Sawamura membuang napas dramatis begitu pipinya lolos dari serangan Kazuya. "Kau ini kenapa sih!? Kau pikir lucu cengengesan sambil menyiksa orang? Kau bahkan belum menjawab permintaan maafku!"
"Oh?" Kazuya mengangkat alisnya tinggi. "Jadi kau hanya memanggilku senpai saat mau meminta maaf?"
"Tsk, maumu apa sebenarnya?"
"Lho, itu pertanyaanku, Sa-wa-mu-ra. Apa maumu? Kau datang ke rumahku hanya untuk minta maaf dan kembali mengajak bersiteru?"
Sawamura memerah lagi, menampilkan wajah malu-malu yang terlalu ilegal untuk seorang laki-laki berusia dua puluh tahun. "Umm… aku memang tidak bisa menggembalikan tiket premiere-mu yang terlanjur hangus. Tapi mungkin aku bisa menggantinya dengan acara lain… kalau kau bersedia."
Kazuya akui ia memang sedikit terkejut, tapi ia sudah tahu ke arah mana pembicaraan Sawamura kali ini. Meski demikian, ia tetap tidak menunjukkan antusiasme lebih jauh dan hanya merespon dengan dengung santai.
Sawamura mengiit bibir bawahnya, menatap sinis dan berdecak kesal sedangkan Kazuya menantap dengan dagu terangkat menantang.
"Ayolah! Kau tahu maksudku, Miyuki Kazuya!"
"Masa?"
Sawamura menggeram tertahan sambil mengepalkan tinju kencang di atas kedua pahanya. Kemudian ia kembali menatap lurus ke mata Kazuya, berani, seperti biasanya. "Miyuki-senpai, berkencanlah denganku hari ini!"
Dan Kazuya berusaha keras untuk tidak menyeringai seperti maniak ketika mengangguk sambil mengacak-acak gemas rambut Sawamura lalu menyalakan mesin mobilnya.
…
Eijun sering berpikir betapa sikap buruk Miyuki berpengaruh buruk bagi kesehatan mentalnya. Kali ini Eijun berpikir lagi, bahwa sikap baik Miyuki berpengaruh buruk bagi kesehatan jantungnya. Sepanjang malam, Eijun tidak tahu ke mana harus membawa pikirannya berlabuh. Mencari ide untuk mengajak Miyuki bicara, ataukah terlena-lena akan bagaimana Miyuki mengkhawatirkannya ketika Eijun tidak bisa dihubungi selama tiga jam?
Sekarang, saat pikirannya mencoba kembali pada poros-poros yang waras, Miyuki dengan mudahnya kembali datang untuk membuatnya goyah. Kebaikan-kebaikan kecil seperti megobati lukanya, memintanya untuk tidak murung (Eijun tetap tidak suka dengan cara Miyuki mencubit pipinya), mengacak-acak rambutnya, ataupun menanggapi ocehannya dengan dengung meledek dan ucapan sarkastik yang berujung tawa. Semua ini terlalu… hangat. Terlalu bagus untuk dilakukan seorang Miyuki Kazuya.
"Kau sudah sarapan?"
Bahkan pertanyaan remeh seperti ini saja berhasil membuat Eijun menahan napas selama beberapa detik.
"Belum." Eijun menjawab singkat. "Aku langsung berangkat ke rumahmu begitu dikirimi alamat oleh Kuramochi-senpai."
"Kalau begitu kita sarapan dulu, aku juga belum makan." Miyuki menyempatkan diri untuk melirik padanya. "Kau mau makan di mana?"
"Eh?" Eijun berkedip, sedikit tidak mengerti dengan maksud pertanyaan itu. Bukan, ia mengerti maksud pertanyaan itu secara harfiah, hanya saja tidak mengerti mengapa Miyuki mengajukan jenis pertanyaan itu padanya. "Biasanya juga kau yang memutuskan kita makan di mana, kan?"
Miyuki memamerkan seringai ceria yang membuat Eijun langsung merasa sedang diolok-olok bahkan sebelum pemuda itu bicara, "Hee~ tapi kan kali ini kau yang mengajakku kencan, Sawamura-kun. Jadi kupikir kau yang menentukan kita hendak ke mana saja."
See? Pada dasarnya Miyuki Kazuya memang tidak menyehatkan untuk diladeni dalam jangka waktu panjang. "Dasar menyebalkan!"
"Oww… tapi aku Si Menyebalkan yang kau ajak kencan, Sawamura~"
Eijun menggeram kesal, Miyuki tertawa. Dalam sekejap, keadaan mereka kembali seperti biasanya. Duduk bersebelahan di dalam mobil Miyuki dengan Eijun yang sedikit-banyak mengumpat jengkel dan Miyuki yang selalu tertawa karena berhasil memancingnya.
Lalu pertanyaan konyol mulai hinggap di pikiran Eijun.
Nanti, saat mereka tidak lagi harus terlibat satu sama lain, mungkinkah Miyuki masih memiliki kenangan—barang secuil saja—bersamanya yang tertinggal di mobil ini?
Mungkinkah Miyuki, sekali tempo, saat sedang menyetir sendirian mendadak mengingat bahwa ia punya seorang belahan jiwa yang selalu ribut dengannya di mobil ini?
Mungkinkah Miyuki… bersedia meluangkan satu detik saja untuk mengingat nama Sawamura Eijun pernah ada?
Pikiran-pikiran itu bertahan di kepalanya sepanjang mereka sarapan dan bahkan setelah itu.
Mereka menghabiskan waktu sedikit lebih lama untuk sarapan di kedai kebab kecil pinggir jalan yang nyatanya menawarkan rasa kebab cukup ramah bahkan untuk lidah mahal Miyuki—Mungkin aku benar-benar kelaparan. Yah, aku sama sekali tidak berselera makan setelah dikecewakan oleh seseorang yang melanggar janji kencannya denganku—Adalah bagaimana tadi Miyuki membangun alibi sambil menatapnya dengan seulas senyum bengkok dan gerlingan mata atraktif ketika menghabiskan porsi kebabnya yang kedua.
Eijun mengutuk habis-habisan kinerja tubuhnya yang memanas sekaligus mendingin tiba-tiba saat mendengar Miyuki mengungkapkan kata-kata itu. Caranya mengeja kata 'seseorang' sambil mengerling pada Eijun dan menekuk alisnya begitu tipis seakan ia ingin menyindir dan merayu Eijun secara bersamaan.
"Jadi, seperti apa persisnya rencana kencan yang kau punya untukku?"
Eijun bersyukur saat ini mereka sudah berada di dalam mobil dan tidak lagi mengunyah sarapan. Karena kalau belum, bisa dipastikan ia akan tersedak.
"Kita akan ke Ueno."
"Ueno?" Miyuki memgulang kata itu dengan nada tipis yang tajam. "Kenapa Ueno? Kupikir tipe orang sepertimu lebih suka ke taman hiburan atau sejenisnya."
Berarti kau tidak cukup baik mengenalku, pikir Eijun. Entah mengapa merasa sedikit kecewa. Pikiran-pikiran konyol sebelumnya kembali aktif berterbangan di dalam kepalanya.
Seperti apa Miyuki akan mengingatku nanti? Oh, apakah dia bahkan bisa mengingat kanji namaku dengan benar? Eijun menggeleng cepat-cepat, mencoba menjawab seringan mungkin. "Aku hanya tertarik. Aku ingin lihat Museum Nasional Tokyo yang ada di sana, katanya itu museum tertua sekaligus terbesar di Jepang, kan?"
"Kau… tertarik pada museum?"
"Aku suka sejarah." Tukas Eijun. "Aku suka benda-benda klasik peninggalan masa lalu. Kedengarannya membosankan, ya?" Eijun tersenyum samar lalu menggeleng singkat. "Tidak apa-apa kalau kau tidak suka, kita bisa cari tempat lain yang lebih sesuai seleramu."
"Aku tidak pernah bilang aku tidak suka." Kata Miyuki, sedikit terdengar menekan. Alisnya berkerut samar saat menatap Eijun. "Kenapa kau pesimis duluan? Rasanya sama sekali tidak mirip dirimu yang kukenal."
"Memangnya seperti apa diriku yang kau kenal?"
Miyuki menghabiskan beberapa detik untuk menatapnya tanpa kata lalu mendelikkan bahu. "Kau selalu gigih, keras kepala, berkemauan kuat, berani dan pantang menyerah. Kau bahkan tidak segan-segan mendebat atau mengomel padaku."
Sekarang Eijun mulai khawatir dengan kesehatan jantungnya yang selalu berdebar tak wajar tiap kali Miyuki melalukan atau mengatakan sesuatu tanpa embel-embel sindiran pahit. Tapi ia bahkan tidak bisa protes karena akan jadi tidak masuk akal memarahi Miyuki dengan kalimat; Kenapa kau jadi baik? Aku benci! Pastilah terdengar amat bodoh. Pada akhirnya ia hanya membuang napas dari mulutnya lalu mendelikkan bahu. "Aku hanya tidak ingin banyak bertengkar hari ini. Jadi kalau kau memang tidak suka tempat yang kupilih, kau bisa memilih sendiri tempat lain yang kau suka."
Eijun kaget akan betapa jujur kata-katanya barusan. Namun rupanya ia tidak kaget sendirian karena Miyuki juga menyempatkan diri menoleh padanya dengan dahi berkerut dalam. "Sawamura," Suara Miyuki, anehnya, terdengar lebih lembut dan penuh pengertian. "Apa kau masih berpikir aku marah padamu? Karena aku merasa kau terlalu… berhati-hati."
Untuk beberapa alasan, Eijun menghindari tatapan Miyuki dan lebih memilih mengalihkan pandangan ke luar jendela. "Kupikir kau bakal senang kalau aku jadi anak yang penurut."
Ada jeda canggung yang lahir begitu Eijun selesai bicara, kemudian ia mendengar Miyuki memgumpat kecil sebelum menepikan mobilnya ke pinggir jalan dan berhenti. Eijun masih menolak untuk menatap balik pemuda itu. Kerja jantungnya benar-benar sulit kembali ke detak stabil tiap kali menjumpai mata Miyuki.
"Sawamura, sebenarnya ada apa denganmu? Kenapa aku merasa semangatmu mendadak turun drastis begini? Dengar, aku sama sekali sudah tidak marah padamu. Jadi kau bebas bertingkah seperti biasanya. Kau boleh mendebat, membentak atau juga mengomel padaku. Bukannya aku lebih suka berkelahi tapi…" Eijun bisa mendengar Miyuki membuang napas berat. "Ini jadi seperti bukan dirimu dan aku tidak suka itu. Ini tidak seperti kau membuat kesalahan besar, oke? Kalau dihitung-hitung aku jauh lebih sering berbuat salah padamu, jadi kau tidak perlu merasa sebegini terbebaninya. Sawamura, bisakah kau melihatku?"
Rancauan panjang Miyuki justru membuat perasaan Eijun bertambah berat. Saat ia memberanikan diri untuk akhirnya menatap pemuda itu, napasnya tertahan dalam waktu singkat. Miyuki bahkan tidak lagi berusaha repot-repot untuk menyamarkan kecemasan dari sorot matanya. "Sawamura," panggil Miyuki lagi, "katakan padaku ada apa denganmu hari ini? Setelah sarapan kau benar-benar jadi…" Miyuki tidak menyelesaikan kalimatnya.
"Aku cuma tidak ingin memulai pertengkaran lain. Aku tidak suka dengan gagasan kau bakal mendiamiku lagi."
Miyuki tertegun. Lalu Eijun sepertinya mulai berhalusinasi karena Miyuki tampak memerah dan intensitas tatapannya mulai goyah, sebelum akhirnya berpaling. Seakan itu belum cukup aneh, Miyuki tiba-tiba mendesah berat dan menampar keningnya sendiri. Kepalanya bersandar pada jok selagi ia menyumpah-nyumpah dalam bisikan tak jelas. Miyuki lalu menarik napas panjang dan membuangnya cepat, kembali menatapnya.
"Hei, dengar." Kata Miyuki, tatapannya lurus ke mata Eijun dan pemuda itu mencondongkan badannya lebih dekat bahkan sampai memegang kedua bahu Eijun lalu meremasnya. "Aku sama sekali sudah tidak marah. Aku ingin kau kembali bersikap seperti biasanya padaku, jangan menahan diri karena aku juga tidak suka saat kau mendiamiku."
Kali ini tatapan Miyuki sama sekali tak goyah, penuh tekad, dan keyakinan. Mata Miyuki mengunci mata Eijun dan Eijun tak mampu berpaling. Hingga wajah mereka tanpa sadar menjadi lebih dekat. Selama satu detik yang gila, Eijun mengira Miyuki bakal menciumnya. Buru-buru ia mengenyahkan pemikiran itu. "Jadi… kau setuju ke Ueno?"
"Ya." Sahut Miyuki mantap. Menekan bibirnya menjadi senyum sehalus dan setulus mungkin. "Aku tidak akan marah kecuali kau tiba-tiba menghilang untuk menemui… siapapun itu, di tengah-tengah kencan kita."
Kencan kita!
Eijun nyaris menjeritkan kalimat itu. Jantungnya berdentum-dentum dalam perpaduan girang dan malu.
"Dan kau boleh mendebatku, seperti biasanya." Imbuh Miyuki, mendengus, tersenyum dengan geli.
Senyum itu menular pada Eijun. "Dasar aneh. Kau benar-benar suka dimarahi, ya?"
Miyuki balas menyeringai, tangannya lepas dari bahu Eijun dan menyebabkan rasa kelilangan tiba-tiba yang Eijun sangkal mati-matian. "Kalau marahmu masih sebatas melotot galak, mendesis, menggertak, memaki-maki atau meneriakiku… well, aku lebih suka daripada kau mengabaikanku berhari-hari." Kemudian sepertinya Miyuki menyadari betapa memalukan kata-katanya barusan. Dia berdeham keras, menggeser tatapannya ke sembarang arah lalu mendelikkan bahu. "Yah, setidaknya kita sepakat kalau diabaikan itu tidak enak, kan?"
"Oh, oke." Sahut Eijun, karena hanya itulah jawaban tercerdas yang bisa diproduksi sel otaknya saat ini. Miyuki memberinya anggukan satu kali dan menyalakan mesin mobil lagi. Eijun menarik napas dengan hati-hati ketika mobil kembali melaju. "Bisakah kita meninggalkan mobilmu di dekat stasiun dan berkeliling sekitar Ueno dengan jalan kaki saja?"
Dalam beberapa saat lamanya, pertanyaan itu dibiarkan mengapung tanpa jawaban. Lalu Eijun mendengar dengusan tipis, dan wajah Miyuki kembali ke mode menyeringainya. "Betapa bersyukurnya aku karena ini belum memasuki musim panas. Kalau tidak, sudah bisa dipastikan bahwa berjalan kaki bersamamu sepanjang hari pasti akan jadi kencan super panas yang membakar sekujur kulitku, secara harfiah."
Bahkan tanpa musim panas sekalipun, berada di dekat Miyuki Kazuya akhir-akhir ini sudah cukup membangkitkan rasa panas di sekujur tubuh Eijun. Tetapi tentu saja, Eijun tidak akan mengatakannya.
Miyuki mencapai kesepakatan bahwa memang lebih praktis jika mereka pergi tanpa membawa mobil karena Taman Ueno sendiri letaknya memang berdekatan dengan stasiun Ueno. Mobil Miyuki dibiarkan terparkir di area parkir timur Yaesu, Stasiun Tokyo. Dan mereka berdua melanjutkan perjalanan dari Stasiun Tokyo menuju Stasiun Ueno dengan JR Yamanote.
.
Taman Ueno sendiri merupakan kawasan seluas 53.000 meter persegi yang menyediakan beberapa wisata menarik seperti Kebun Binatang Ueno, Kolam Shinobazu, National Museum of Western Art, dan masih banyak lagi. Tujuan pertama mereka masih mengikuti keinginan Eijun yakni Museum Nasional Tokyo.
"Pertama kali ke Ueno?" Miyuki memulai percakapan tepat ketika segerombolan remaja melintas di depan mereka lengkap dengan percakapan berisiknya.
Eijun mengagguk. "Satu tahun aku kuliah di Tokyo, satu-satunya tempat wisata yang kukunjungi baru Sky Tower." Ia mendesah dengan panjang. "Yah, lagipula aku datang untuk sekolah, bukan liburan." Ia mendongakkan kepalanya pada Miyuki dan menaikkan sebelah alisnya. "Kau sendiri bagaimana?"
"Rasa-rasanya aku pernah ke sini saat kecil." Miyuki menjawab, lalu tersenyum lagi. Senyum sarkastik iseng yang belakangan membuat Eijun kebingungan harus menunju ataukah menciumnya. "Tapi baru kau yang mengajakku kencan ke sini."
Sekarang Eijun tahu bahwa opsi untuk meninju Miyuki terdengar lebih menggiurkan. "Sampai kapan kau mau menambahkan underline di bawah kata 'kau' dalam kalimatmu, sih? Aku mulai bosan mendengarnya."
"Bosan, ya?" Miyuki memainkan seringai andalannya lagi. "Tapi tetap saja kau yang mengajakku kencan walaupun berkata aku membosankan."
Eijun melemparkan death glare terbaiknya yang tentu saja tidak mempan untuk Miyuki. Pemuda itu justru semakin menyeringai seperti maniak kelebihan glukosa. Kesal, Eijun memutuskan untuk berjalan lebih dulu meninggalkan Miyuki di belakangnya.
Eijun memandangi bangunan Museum selagi berjalan ke arah pintu masuk. Terdapat kolam memanjang pada halaman depan museum, dihias oleh beberapa air mancur yang berbaris pada masing-masing sisi kanan dan kirinya. Pot-pot bunga tersebar mengelilingi keempat sisi kolam. Sementara jalan setapak membentang menjadi dua yang terbelah oleh kolam itu sendiri. Bangunan museum berwarna seperti batu marmer, dengan bentuk bangunan tinggi memanjang jika dilihat dari bagian depan. Pintu masuknya dibuat lebih condong dengan atap rendah seperti gapura.
"Kau tahu," Miyuki mengajaknya bicara lagi begitu mereka selesai membeli tiket masuk lewat mesin penjual otomatis. "Selama beberapa saat, aku sempat merasa sedang menemani seorang siswa karyawisata. Karena… demi Tuhan, Sawamura." Miyuki mendesah dramatis. "Kenapa kau harus membawa backpack saat kencan?"
"Aku punya alasan tertentu dan itu ada hubungannya denganmu." Eijun menjawab, megingat kembali benda yang ia bawa di dalam ranselnya.
"Berhubungan denganku?" Miyuki mengulang. "Apa yang ada di dalam tasmu memangnya? Senjata untuk mengiris-iris tubuhku dan mencungkili organ dalamku?"
"Kedengarannya menggiurkan." Eijun menanggapinya dengan senyum creepy sambil menggerling pada Miyuki. "Mungkin kapan-kapan aku harus memasukkan sesuatu ke dalam kopimu agar kau sedikit rileks saat aku mencabut ginjalmu."
Miyuki berjengit, dan Eijun mungkin akan benar-benar terpingkal andai tak sadar bahwa saat ini mereka telah memasuki bagian dalam museum dan harus menjaga suara. Eijun mendesah kecil begitu merasakan sejuk pendingin ruangan mengisi pori-porinya. Bagian dalam terasa lebih megah dengan langit-langit yang tinggi menjulang, juga jarak luas antara satu benda dan benda lainnya, selain itu terdapat juga tangga utama menuju lantai dua.
Eijun baru mengambil dua langkah ke kiri untuk menyusuri museum ketika Miyuki menahan tangannya. "Jangan." Kata Miyuki. "Kalau kau mengelilingi seluruh lantai, akan butuh berjam-jam bahkan seharian untuk selesai." Ia memberitahu, nadanya tidak bercanda. "Kita bisa langsung ke lantai dua, percayalah, lantai dua tidak kalah menarik."
Alis Eijun terangkat introgatif. "Benarkah?"
"Iya," Jawab Miyuki kalem, suaranya menjadi lebih rendah lagi menyesuaikan keadaan sepi di dalam museum. "Di lantai dua, semua barang sudah ditata berdasarkan tahun dan jenisnya, ayo."
Miyuki benar.
Eijun berdiri terkesima menyaksikan apa yang disuguhkan di lantai dua. Benda-benda bersejarah itu telah dipamerkan berdasarkan masing-masing zaman secara sistematis berdasarkan urutan cerita sejarahnya. Eijun mungkin juga mengumamkan kata wow, amazing, dan sebagainya sebab ia bisa mendengar Miyuki berusaha menyembunyikan tawa. Tapi Miyuki tetap mengambil tempat di sebelahnya, menjadikan mereka berdiri bersisian dan memandang nyaris terlalu dekat ke patung-patung dari zaman kofun.
"Kadang aku benar-benar penasaran dari mana kau mawarisi mata itu, Sawamura." Suara Miyuki agak mengambang, nyaris terkesan seolah ia tidak benar-benar ingin mengajak Eijun bicara atau juga mengharapkan jawaban. Miyuki bahkan tidak balik memandangnya ketika Eijun menoleh pada pemuda itu. "Kau punya mata yang sangat ekspresif, sangat menyenangkan untuk memandangnya."
…
Kazuya menyadari bahwa mereka berdua tidak banyak berdebat atau bertengkar tidak penting sejak memasuki museum. Kali ini ia tidak akan protes walau Sawamura menjadi pendiam karena mereka sudah pasti akan mendapat lirikan sinis dari pengunjung lain apabila terlalu berisik. Lagi pula, tanpa banyak bicarapun, Kazuya sudah tahu bahwa Sawamura menikmatinya. Sinar-sinar antusiasme di matanya terlalu mustahil untuk disembunyikan.
"Dari mana kau tahu?" Bisik Sawamura setelah kira-kira dua puluh menit mereka berkeliling tanpa saling bicara.
"Hm?"
Sawamura memandang padanya begitu selesai mengamati salah satu topeng tak lazim yang dikurung dalam kotak kaca. "Dari mana kau tahu bahwa langsung ke lantai dua adalah rute terbaiknya? Kau cuma pernah ke sini saat kecil, kan?"
Kazuya tersenyum simpul, mengambil satu langkah lebih dekat untuk berdiri di samping Sawamura ketika pemuda itu bergeser ke topeng lain. "Aku sempat membaca di internet saat kita di kereta tadi."
Sawamura mengerjap. "Kau… mempersiapkannya?"
Kazuya angkat bahu. "Cuma mencari panduan singkat, kita tidak mungkin jalan-jalan tanpa rencana sama sekali, kan? Terlalu menyanyangkan kalau kita hanya ke satu tempat sementara Ueno memiliki banyak tempat menarik lainnya."
Sawamura mengangguk samar dan kembali menelusuri benda-benda lain. Sedangkan Kazuya terlalu terdistraksi akan bagaimana pencahayaan redup keemasan menghujani tubuh dan wajah Sawamura tiap kali pemuda itu bergerak. Ia tahu jenis pencahaan seperti ini memang membuat benda-benda terasa lebih indah dan juga artsistik. Tapi siapa sangka bahwa Sawamura Eijun bahkan mengalahkan setiap karya seni yang ada dan menjelma menjadi masterpiece yang dapat berjalan, bernapas, hidup, juga menyebabkan desir-desir tak normal tiap kali Kazuya memandangnya?
Sawamura mendapatkan banyak pembelajaran dengan menelusuri peningalan-peninggalan zaman Kofun, Yayoi, Jomon, Asuka, dan lain-lain. Sedangkan Kazuya mempelajari bahwa Sawamura memiliki jiwa klasik dalam kepribadiannya yang seribut badai. Sawamura terpesona pada Samurai, pada kisah-kisah heroik khas oriental, pada tulisan-tulisan kaligrafi tua, dan bahkan pada topeng-topeng primitif yang terkesan agak menggelikan.
Terlampau terkesima menelusuri setiap benda-benda yang dipamerkan, Sawamura sudah sekurang-kurangnya lima kali nyaris menabrak pengunjung lain karena tidak memerhatikan jalan. Kazuya, di sisi lain benar-benar merangkap tugas sebagai pengasuhnya yang siap siaga menarik lengan atau juga merangkul bahunya agar menghindari benturan dengan orang lain. Kazuya bahkan juga merangkap tugas sebagai penebar senyum dan anggukan maaf apabila pengunjung yang nyaris ditabrak Sawamura mendelik. Setelah lagi-lagi hampir menabrak orang tak dikenal ketika menelusuri deratan kimono tua, Kazuya akhirnya gemas dan menyelipkan tangannya di antara lengan Sawamura, turun ke pergelangan tangannya, lalu berakhir pada telapak tangannya.
Sawamura tersentak, nyaris menepis tapi Kazuya berhasil lebih sigap dengan mengenggam telapak tangannya tegas. Mata Sawamura melebar menatapnya. "Apa yang—"
"Jangan protes." Kazuya mengintrupsi, menatap lurus ke mata emas itu. Jari-jarinya menelusuri telapak tangan Sawamura lebih jauh, menyelip di antara sela-sela jemari Sawamura kemudian saling bersilangan sebelum menggenggam lebih erat. "Ini tidak akan menyakitimu." Kazuya berjanji.
Sawamura masih setengah tercengang akan sentuhan itu, tapi Kazuya terus menatap ke matanya tanpa goyah. Jangan dilepaskan, Kazuya berdoa dalam hati. Jangan tolak aku.
Sawamura balas menatap, dan kali ini mereka saling bertatapan tanpa kata. Kazuya mengambil waktu untuk mengamati, dan kali ini benar-benar tidak keberatan untuk mengakui bahwa Sawamura manis, bahkan mungkin cantik. Melepaskan diri dari konteks feminimisme atau juga maskulinisme, Sawamura cantik dengan caranya tersendiri. Kecantikan yang tidak dikurung oleh patriarki. Menilai dari percikan api yang terbang dari mata emas yang cantik dan muka memerah di pipinya.
Sawamura bedeham, menghentikan keterpanaan Kazuya. Pemuda kidal itu mengalihkan pandangan ke arah lain lalu bergumam. "Apalah." seraya mendelikkan bahu tetapi tidak lagi berusaha menepis tangan Kazuya yang mengenggamnya. Dan itu, sudah lebih dari cukup sebagai alasan Kazuya tersenyum.
Mereka melanjutkan menelusuri museum dengan bergandengan tangan, sesekali berbisik mengobrol, bahkan juga bersandar pada bahu satu sama lain sambil berdiri lama memandang satu pajangan bersejarah. Dan Kazuya menikmatinya. Ia menikmati keberadaan Sawamura Eijun di dekatnya, berbagi genggaman tangan selagi mereka melangkah bersama dari satu sektor ke sektor lain, berdiskusi kecil membahas satu pajangan, merasakan hawa panas tubuh pemuda itu ketika menyentuhnya. Segalanya tentang Sawamura selama mereka begitu dekat pelan-pelan telah membangkitkan satu bentuk keegoisan yang membuat Kazuya tak ingin melepaskannya.
Mereka baru melepaskan tangan begitu duduk di salah satu restoran untuk makan siang yang agak terlambat. Pukul dua lewat lima belas menit. Aneh, bagaimana Kazuya langsung merasa kosong saat tangan Sawamura tak lagi ada dalam genggamannya. Saat Kazuya menyempatkan diri untuk mempelajari wajah Sawamura, ia samar-samar bisa melihat cara pemuda itu menghela napas seolah menyembunyikan rasa kecewa, bahkan Sawamura sempat memandangi telapak tangannya selama sepersekian detik dengan dahi berkerut seakan-akan ada yang salah.
Mereka berbagi makan siang. Kali ini benar-benar saling berbagi. Kazuya tahu ini bukan kali pertama ia makan satu meja dengan Sawamura, mungkin sudah lebih dari dua puluh kali. Tetapi untuk saling berbagi apa yang ada di piring masing-masing jelas hal baru. Dan Kazuya sama sekali tidak keberatan akan hal itu. Bermula saat Kazuya menyadari bahwa Sawamura sedang menatap ke piringnya dengan rasa penasaran (mereka memesan menu yang berbeda), lalu tanpa banyak bicara Kazuya menggeser piringnya lebih dekat ke arah Sawamura dan memintanya mencicipi jika memang ingin. Sawamura langsung tersenyum cerah, mengambil sepotong lalu melahapnya. Tak lama setelah itu, Kazuya menemukan bahwa mereka telah menjadi sangat familiar untuk mengoper satu sama lain dan bebas mengambil apapun yang tersaji di meja, terlepas dari siapa yang memesan. Hal ini juga berlaku untuk minuman. Berbagi gelas yang sama, sedotan yang sama.
Kazuya bertanya-tanya, bagaimana bisa mereka berdua langsung terbiasa dengan semua ini? Rasanya seakan mereka telah melakukan hal-hal seperti ini selama bertahun-tahun. Kazuya bahkan tak lagi merasa asing saat harus menarik tisu dan mengusapnya ke seputar bibir Sawamura untuk membersihkan sisa makanan yang menempel.
Begitu keluar dari restoran, Kazuya melirik berkali-kali ke tangan Sawamura yang terayun selagi mereka berjalan bersisian. Lalu dengan satu hembusan napas cepat dan percikan api geli di perutnya, Kazuya menyambar kembali tangan itu untuk membawanya dalam genggaman seperti di dalam museum. Sawamura tersentak sebentar, tapi tidak menolak, lalu akhirnya membalas genggaman itu. Segerombolan gadis meliat bagaimana mereka berjalan sambil bergandengan, lalu mulai berbisik-bisik dan terkikik. Kazuya bahkan tidak peduli, dan ia suka bagaimana Sawamura juga tidak peduli.
"Aku penasaran seindah apa tempat ini saat sakura masih mekar."
Kazuya menoleh pada Sawamura lalu memandang sekitar, ia bahkan tidak sadar bahwa mereka telah berjalan cukup lama hingga kini tiba di pinggir Danau Shinobazu. Tepian danau adalah taman dengan jalan setapak yang ditumbuhi banyak pohon sakura dan tanaman-tanaman lain, bangku-bangku panjang tersusun dengan jarak-jarak teratur menghadap ke danau dengan pohon sakura memayunginya. Tempat ini indah, bahkan ketika bunga sakura sudah tidak mekar lagi. Kazuya bisa melihat beberapa orang yang ikut menikmati keindahan danau atau hanya sekadar duduk-duduk di bangku, maupun berjalan santai seperti dia dan Sawamura.
"Jauh lebih indah sepertinya." Kazuya menjawab sambil mendelikkan bahu. "Kalau kau penasaran kau bisa ke sini lagi saat musim semi tahun depan, kan?"
Sawamura mengangkat satu alisnya tinggi. "Tahun depan? Mm… benar juga. Aku bisa berkunjung lagi tahun depan mungkin dengan Shinji atau Toujo atau Chris-senpai atau siapalah."
"Kenapa mereka?" Kazuya kaget dengan bagaimana suaranya terdengar sinis. "Kau bisa pergi denganku."
Sawamura justru memandanginya kebingungan. "Tahun depan…" ia berkata dengan sangat hati-hati hingga terdengar seperti berusaha menenangkan anjing yang ketakutan. "…kau sudah di Jerman, kan?"
Langkahnya berhenti, diikuti Sawamura kemudian. Mereka berpegangan tangan dan berdiri saling memandang di tengah jalan setapak itu, di antara orang-orang yang sedang menikmati indahnya taman dan danau. Pikiran Kazuya berkelana mundur pada memori dan perjanjian yang rasanya sudah berlalu selama sepuluh tahun. "Benar," Kazuya berhasil berkata lemah. "Tahun depan aku di Jerman, ya?"
Sawamura mendadak salah tingkah dan mengusap tengkuk dengan tangannya yang lain. "Well, yah… kecuali kau mulai tidak percaya diri menyelesaikan skripsimu tahun ini, heh?" Ia menatap Kazuya lagi dengan lebih berani, bahkan menyeringai.
Kazuya mendengus, balas menyeringai. "Jangan khawatir, Sawamura-kun." Kazuya menguatkan genggamannya pada tangan Sawamura hingga pemuda itu meringis kecil. "Aku cukup jenius di bidang mesin untuk ukuran mantan pemain baseball. Jadi aku akan baik-baik saja dan pasti bisa merampungkan skripsiku tepat waktu."
Sawamura tertawa. Garis tawa yang lepas yang benar-benar tanpa kepalsuan. "Oke, Ironman! Sekarang, kau tentunya masih cukup rendah hati untuk menjalankan mesin sederhana seperti perahu angsa di sebelah sana, kan?" Sawamura berkata, lalu mengalihkan tatapannya dan menunjuk ke arah salah satu spot danau di mana kano-kano dan perahu angsa aneka warna berbaris atau juga berlayar di atas air membawa para pengunjung.
"Oh, tidak…" Kazuya mengeluarkan suara seperti keluhan ngeri sambil menatap Sawamura. "Jangan bilang kau—"
"Ya! Tentu saja aku mau naik itu!" Seru Sawamura, tersenyum begitu cerah sampai hampir menyilaukan. "Jadi," Sawamura ganti mengeratkan genggaman tangannya, tersenyum lebih lebar lagi dengan mata berbinar-binar. "Ayo ke sana, Miyuki-senpai!"
Sebelum Kazuya sempat menjawab atau protes, ia menemukan dirinya ditarik paksa oleh Sawamura yang berlari ke tepi danau tempat perahu-perahu itu berbaris. Beberapa petugas penyedia jasa sewa sudah berjaga di sana, dan Sawamura secara ceria memilih satu perahu angsa gowes berwarna biru pastel, membayar harga sewanya lalu mendorong Kazuya naik.
"Sawamura…" Kazuya menghela napas panjang saat kakinya mulai menginjak pedal. "Ini benar-benar… cheesy."
Tapi Sawamura tampaknya tidak peduli. Pemuda itu tertawa riang sambil mengerling pada Kazuya. "Tidak apa-apa, ini tidak akan melukaimu, kok. Kau aman!"
Kazuya bahkan sudah kehabisan ide tentang bagaimana cara menyikapi tingkah dan ucapan Sawamura barusan. Kaki mereka mulai mengayuh pedal dan perahu angsa itu berjalan di atas permukaan air, melejit di antara perahu-perahu lainnya menuju ke bagian lain dari danau.
Danau Shinobazu sendiri dipisahkan menjadi tiga bagian. Yakni bagian kolam untuk berperahu, kolam yang menjadi tempat burung-burung sejenis Komoran hilir mudik mencari ikan dan berhabitat, kolam ketiga adalah kolam bunga teratai yang nyaris seluruh permukaannya ditutupi oleh jejeran bunga teratai. Kolam bunga teratai dan kolam burung komoran sendiri dipisahkan oleh sebuah pulau kecil di mana di atasnya berdiri sebuah kuil yang didedikasikan untuk Dewi Benzaiten.
Tempat ini memang indah, Kazuya harus akui. Taman Ueno yang merupakan taman umum tertua di Jepang seakan menyimpan garis-garis waktunya sendiri yang terus bergulir selama ratusan tahun. Ada sesuatu tentang tempat ini yang memberi kesan begitu tua, tapi juga menenangkan.
"Tempat ini luar biasa." Komentar itu berhasil mengalihkan perhatian Kazuya untuk kembali tertuju pada Sawamura yang kini mengamati sekeliling dengan pandangan takjub. Saat mata mereka bertemu, Kazuya tidak bisa menahan untuk tidak tersenyum pada pemuda itu.
Kazuya biasanya tidak suka menjelaskan panjang lebar, tapi Sawamura berhasil membuatnya ingin bicara untuk pemuda itu. "Kau mau dengar sejarah taman ini?"
Mata Sawamura berbinar. "Ya!" Sahutnya penuh semangat. "Ceritakan apa yang kau tahu!"
Kazuya tertawa samar sebelum menarik napas dan memandang berkeliling sekilas, lalu kembali menatap mata Sawamura. "Yang kutahu, Taman Ueno adalah taman pertama di Jepang yang dibangun sekitar tahun 1872. Sedangnkan jauh sebelum itu, yakni pada Zaman Edo, sekitar 1603 sampai 1868, daerah Ueno memang sudah dikagumi oleh masyarakat sebagai bukit-bukit juga pemandangan sakura yang indah."
"Wow, kau tahu banyak."
"Aku ingat pernah dapat tugas untuk menulis esai tentang Taman Ueno. Jadi, yah… sedikit-banyak aku masih ingat."
Sawamura mengangguk-anggukkan kepalanya antusias. "Lalu? Apalagi yang kau tahu?"
"Selepas Perang Sipil pada tahun 1868-1869, bukit-bukit di Ueno terbakar dan hancur. Kementrian Militer berencana membangun rumah sakit tentara dan area pemakaman di bekas bukit-bukit yang telah hancur, tapi setelah oposisi yang sengit, akhirnya bukit-bukit itu diputuskan untuk diperbaiki kembali dan dibangun menjadi sebuah taman. Kekaisaran Jepang akhirnya mempertimbangkan keadaan alam Ueno yang memang indah, mereka tergerak untuk memperbaiki kerusakan dan membangun taman yang tersebar di beberapa wilayah Tokyo. Akhirnya pada tahun 1876, Taman Ueno resmi dibuka untuk umum." Kazuya tersenyum sopan pada Sawamura seakan pemandu wisata yang teladan. "Begitulah, Sawamura-san."
Sawamura tertawa geli dan bertepuk tangan dengan nyaring. "Hebat! Penjelasan yang luar biasa dari seorang pria yang kelihatan biasa-biasa saja."
Kazuya mendengus, mereka mengarahkan jalur perahu angsa untuk berbelok ke kiri secara bersamaan. "Kau tahu?" Sawamura kembali membuka percakapan. "Aku suka tempat-tempat seperti ini."
"Seperti ini?"
"Yep!" Ia berkata lugas, tersenyum cerah. "Orang-orang yang datang ke taman ini membawa emosi yang berbeda-beda. Ada yang datang dengan rasa kehilangan atau sedang dalam penderitaan… berharap bisa mendapat penghiburan juga ketenangan. Ada yang datang dengan penyesalan dan rasa bersalah, sedang mencari jawaban, dan ada pula yang datang bersama kegembiraan." Sawamura menghirup napas dalam-dalam. "Ada yang datang bersama orang-orang tersayang, ada yang datang sendirian. Ada yang datang untuk mengusir kesepian, ada yang datang untuk memanggil kembali kenangan." Sawamura berpaling pada Kazuya dan menatap matanya. "Aku takjub bagaimana suatu tempat dapat menggabungkan rasa sakit dan kebahagiaan dari setiap generasi, setiap orang, dari tahun ke tahun."
Kazuya tersenyum mendengar penuturan panjang itu. Ia menemukan fakta bahwa Sawamura Eijun, sesekali bisa menyemburkan kata-kata indah, dan bahkan romantis dengan caranya sendiri. "Itu pemikiran yang cukup dalam untuk seseorang sepertimu."
Sawamura memutar mata, tapi kali ini Kazuya bisa melihat kegelian alih-alih rasa muak di sana. "Kalau-kalau kau lupa, aku anak sastra. Tiga semester berkutat dengan puluhan karya, penulis, menelusuri barisan-barisan sastra dari generasi ke generasi. Nah, pemikiran-pemikiran puitis mereka tanpa sadar sudah menyerap di dalam kepalaku."
Kazuya mengangkat tinggi-tinggi sebelah alisnya. "Mungkin suatu saat nanti kau bisa mulai menulis karyamu sendiri, eh?"
Sawamura tertawa. "Aku masih jauh untuk sampai ke tahap itu. Lagipula aku tidak tahu apa yang harus kutulis." Ia kemudian mengeluarkan ponselnya dan mulai memotret pemandangan sekitar, mengabadikan momen dengan rona bahagia di seluruh wajahnya. Kazuya mengamatinya selama beberapa saat, lalu mendapat ide.
"Kenapa kita tidak mengambil selca sebagai kenang-kenangan?" Usulnya, berhasil membuat Sawamura menoleh. Kazuya tersenyum geli. "Well, sekalian saja kita melakukan hal-hal cheesy semaksimal mungkin."
Sawamura mengerling dengan jenaka padanya sedangkan Kazuya sudah mengeluarkan ponselnya sendiri. Ia membuka fitur kamera depan, memposisikan layar sebaik mungkin agar bisa menangkap wajah meeka berdua.
"Ke sini kau." Kazuya melingkarkan tangan di sekitar bahu Sawamura dan menariknya mendekat hingga tubuh mereka berhimpitan dan wajah bersisian lebih dekat. Wajah mereka tertangkap kamera dan terscermin dalam layar. Kazuya tersenyum melihat betapa kamera ponselnya mampu menangkap bukan hanya wajahnya dan Sawamura tetapi juga pamandangan lain di sekitar mereka. "Cheese!"
Kazuya tersenyum. Tapi Sawamura merusak foto dengan sengaja mengacungkan peace sign tepat menghalangi wajah Kazuya. "Hey!" Kazuya berseru ketika suara bidikan kamera berbunyi, disusul tawa geli Sawamura setelahnya. Tanpa melihat hasil foto, Kazuya melakukan foto ulang, berkali-kali. Tangkapan-tangkapannya mungkin tidak bagus. Ia lumayan yakin banyak sekali foto buram karena mereka terlalu banyak bergerak untuk mengusik satu sama lain. Sawamura bahkan membuat wajah-wajah konyol, barangkali hanya satu atau dua foto yang benar-benar layak dilihat. Tapi kali ini Kazuya tidak peduli, ia suka bagaimana foto-foto gagal itu tersimpan di ponselnya. Mengabadikan potret dirinya dan Sawamura yang paling jujur.
…
Kuil dewi Benzaiten berdiri kokoh di atas sebidang pulau tepat di tengah-tengah kolam teratai dan kolam burung di danau Shinobazu. Dengan atap berbentuk segi enam, mengerucut landai, terbuat dari genting tanah yang dicat hijau lotus. Pilar-pilarnya merah terang seperti warna gerbang torii.
Miyuki menggandeng tangannya berkeliling di sekitar kuil, bahkan berdoa di depan patung Sang Dewi yang duduk bersila di atas sebuah bunga teratai. Entah apa yang merasuki pemuda itu sampai tiba-tiba terkesan religius saat menunduk, mengatupkan telapak tangannya, juga memejamkan mata di depan dupa. Yang jelas, Eijun menemukan dirinya ikut berdoa kepada Sang Dewi yang dikenal juga dengan nama Dewi Sarasvati dalam kepercayaan Hindu itu.
"Kurasa aku mengerti maksud perkataanmu sebelumnya." Miyuki berkata ketika mereka selasai berdoa.
"He?"
"Soal bagaimana suatu tempat mampu menggabungkan rasa sakit dan kebahagiaan dari setiap generasi."
Eijun mengangkat alisnya tinggi.
"Kurasa, tempat ibadah juga seperti itu. Kuil, Katedral, Vihara, Pura, Masjid, dan lain sebagainya. Orang-orang yang datang dengan emosinya masing-masing, kan? Menghadap kepada Sang Pencipta dalam keadaan penuh suka cita, mencari perlindungan, rasa berdosa, dan masih banyak lagi. Setiap dinding dari rumah ibadah seakan menyerap emosi mereka. Mungkin, itulah sebabnya kita selalu bisa merasakan kekuatan spiritual dan emosional ketika memasuki rumah ibadah."
Kali ini Eijun terpana mendengar penjelasan Miyuki. Fakta bahwa Miyuki mengingat bahkan mempetimbangkan pemikiran yang Eijun suarakan padanya, entah bagaimna berhasil mebuat Eijun merasakan debaran kegembiraan asing yang geli di perut sampai ke dadanya.
"Ya, kurasa memang begitu."
Miyuki tersenyum, andai Miyuki terus tersenyum seperti itu, Eijun merasa tidak butuh waktu lama sampai jantungnya meledak. "Bukankah obrolan kita makin berkualitas? Aku punya firasat bahwa tidak lama lagi kita bakal membahas teori-teori Para Filsuf terkenal."
Eijun tertawa samar. "Jadi siapa yang ingin kau bahas lebih dulu? Plato? Aristoteles? Phytagoras? Socrates?"
"Nah, aku bahkan tidak ingat siapa dan apa saja pemikiran mereka."
"Dan kau harap aku tahu?" Eijun mendengus. "Heck, masa sekolahku bahkan hanya diisi soal baseball, baseball, dan baseball. Aku bahkan tidak tahu apa bedanya Aristoteles dan Socrates."
Miyuki tersenyum simpul. "The hottest love has the coldest end."
Eijun mengerjap, terbengong-bengong mendapati Miyuki tiba-tiba mengatakan sebuah kutipan dengan suara begitu tenang, mendekati bisikan, rendah, namun penuh emosi yang mendesis dingin ke kulitnya.
"Itu kutipan Socrates." Kata Miyuki. "Cinta yang paling menggebu-gebu memiliki akhir yang paling dingin."
"Ugh, kedengarannya… sedih."
Miyuki justru tertawa geli dan mengacak rambutnya. "Ayo, ke Kebun Binatang."
Jam operasional Kebun Binatang Ueno hampir berakhir ketika Eijun dan Miyuki berkeliling di sana. Anehnya, keadaan ini entah bagaimana terasa lebih menyenangkan. Eijun menemukan dirinya lebih menikmati keadaan kebun binatang yang hampir tutup juga pengunjung yang hanya tersisa beberapa. Rasanya seperti tempat ini menjadi lebih pribadi dan membuat pandangan lebih luas.
Mereka masih bergandengan tangan saat menyusuri kebun binatang. Eijun sama sekali tidak protes soal itu. Kalau dipikir, rasanya memang memalukan, dua orang laki-laki berusia awal dua puluh tahun berjalan bergandengan layaknya siswa sekolah dasar yang takut terpisah satu sama lain. Tetapi rasanya menyenangkan, tangan Miyuki tegas membungkus jari-jarinya, telapak tangan yang kasar, padat akan jaringan otot hasil karir baseballnya selama masa sekolah.
Mereka melewati nyaris semua kandang begitu saja tanpa berhenti. Hanya melihat-lihat sekilas, lalu terus berjalan mengingat jam operasional yang memang hampir berakhir. Rasanya bagai melewati berbagai lukisan hewan hidup, tapi mereka tak punya waktu untuk menatap lebih rinci. Miyuki sesekali bercanda padanya dengan menyebutkan nama hewan-hewan yang mereka lewati.
Itu beruang. Itu panda. Itu burung flamingo. Itu jerapah. Itu berang-berang. Itu rusa. Nah, yang itu kambing kalau kau belum tahu.
Eijun menanggapinya dengan memutar mata, tapi tidak protes sama sekali dengan lelucon menggelikan itu.
"Itu gajah, kakinya empat."
Eijun pura-pura antusias. "Oh, wow! Informasi yang sangat berguna. Aku baru tahu gajah berkaki empat!"
Miyuki menyeringai, lalu menunjuk ke arah lain. "Yang di sana itu pohon. Daunnya hijau saat musim semi."
Eijun hanya tertawa lepas. Sungguh, ia sama sekali tidak menyangka bahwa seorang Miyuki Kazuya bisa jadi manusia yang menyenangkan. Apakah Miyuki selalu seperti ini sebelumnya? Berapa banyak orang yang masuk ke dalam kehidupan Miyuki dan berhasil melihat sisi ini dalam dirinya? Sisi lain dari Miyuki Kazuya yang lebih santai, luwes, konyol, hangat dan membangkitkan getar halus juga kenyamanan. Kalau boleh egois, andai bisa jujur… Eijun ingin terus melihatnya seperti ini.
.
"Oh, aku hampir lupa!" Eijun berseru tiba-tiba ketika mereka memasuki area Stasiun Ueno bersiap untuk kembali pulang.
"Apa?"
Eijun melepaskan tangannya sejenak dari genggaman Miyuki lalu melepas ranselnya, ia membuka retsleting dan mengeluarkan benda yang selama ini ia bawa di sana. "Aku mau mengembalikan ini." Eijun menyodorkan jaket Miyuki yang telah dicuci bersih, tak ada lagi sisa aroma alkohol yang melekat. Tapi anehnya, terkadang Eijun masih bisa menghirup aroma tubuh Miyuki melekat disana layaknya telah menyatu diantara serat-serat benangnya. "Terima kasih."
Miyuki memandangi jaket itu sejenak dengan bimbang. "Aku sudah pakai jaket. Kau bisa pakai dulu, sebentar lagi kita naik kereta dan udara mulai agak dingin."
Eijun mengernyit. "Tapi nanti kotor lagi kalau kupakai."
Miyuki terlihat hampir mengomel. "Kau tidak kotor, Sawamura."
"Nanti bau."
"Kau tidak bau, astaga! Cepat pakai saja, sebelum kupakaikan secara paksa."
"Hah!?" Pekik Eijun kaget. Buru-buru menarik kembali jaket yang nyaris disambar Miyuki. "Tidak, tidak! Apa-apaan, aku bisa pakai sendiri!"
Miyuki tersenyum puas selagi mengawasi Eijun memakai jaket. Bahkan Miyuki secara suka rela memegangi ranselnya agar Eijun lebih leluasa bergerak. Sampai Miyuki mengantarnya pulang, entah karena lupa ataukah ada faktor internal lainnya, Miyuki sama sekali tidak meminta Eijun mengembalikan jaketnya. Ia hanya mengantar Eijun sampai depan pintu, melontar candaan lain soal kencan membahagiakan (yang nyaris membuat Eijun pingsan), lalu mengucapkan terima kasih dan mereka bertukar kata selamat malam.
Dua setengah jam kemudian, Miyuki mengiriminya beberapa foto saat mereka di atas perahu angsa. Salah satu foto tampak begitu konyol dengan potret masing-masing dari mereka mencoba mengacaukan wajah satu sama lain. Tetapi Eijun tidak menghapusnya. Ia menyimpan semua foto kiriman Miyuki, dan memandanginya secara mendalam sampai jatuh tertidur.
to be countinued
a/n: saya hampir lupa lanjutin fanfik ini karena keasyikan maraton series netflix :) Baru ada waktu buat nonton Dark season 3, dilanjut The Umbrella Academy, setelah itu malah maraton baca fanfik Harry Potter yang berhubungan sama time turner. Alhasil sekarang otak saya tercemar sama apocalypse, time travel, paradoks, matriks, teori konspirasi, plot twist, dan sebagainya/gubrak.
Btw, saya juga suka kencan di museum. Kalau di Indonesia, museum biasanya sepi, full AC, murah, nambah pengetahuan, dan jarang jadi tempat pacaran.
Thanks for reading, my beloved readers ^^
It would be so lovely if you show up on the review box, xoxo!
