'Selamat pagi..' [06.00]
'
Apa kau tahu kalau kambing adalah hewan mamalia?' [06.00]

Selama beberapa saat Eijun terlalu terpenjarat untuk mampu bereaksi ketika membaca pesan itu. Saat otak bangun tidurnya mulai bekerja, ledakan geli meninju perutnya dan memaksanya untuk memuntahkan tawa keras.

Serius, kenapa Miyuki Kazuya jadi konyol begini? Saat langit masih terlalu sepi, agak gelap, dan baru terciprat api fajar samar-samar. Ini bahkan sudah lewat dua minggu sejak mereka pergi ke Ueno. Sampai kapan persisnya Miyuki mau terus membawa lelucon kebun binatang ini?

Eijun mengamat-amati pesan itu dengan antusias dan rasa geli. Kemudian mulai berpikir apa yang sebaiknya ia ketik sebagai balasan. Menanggapi lelucon konyol Miyuki memang terdengar menggiurkan, tapi kali ini Eijun ingin mencoba hal lain. Ia akan menjawabnya dengan random.

'Pagiiii…' [Read. 06.03]
'
Apa kau tahu kalau aku suka ikan mas?' [Read. 06.03]

Kali ini butuh waktu lebih lama sampai balasan dari Miyuki datang. Eijun bisa membayangkan bahwa pemuda itu mungkin memandangi layar ponselnya dengan hidung berkerut, atau bahkan berkali-kali mengusap kacamatanya seolah-olah ada yang salah dengan penghilatannya sendiri.

'Ikan mas?' [06.06]
'Untuk dimakan?' [06.06]

'Untuk dipelihara (T_T)' [Read. 06.07]
'
Jenis ikan mas yang biasa dipakai untuk kingyousukui.' [Read. 06.07]

Sebenarnya Eijun tidak sepenuhnya berbohong soal ikan mas. Setiap kali memasuki musim panas dan berkunjung ke festival, ia memang biasanya mencoba peruntungan pada permainan kingyousukui agar bisa mendapat ikan mas untuk dipelihara. Di rumahnya sendiri ia punya beberapa ekor ikan mas yang dipelihara dari hasil tangkapannya pada permainan klasik itu.

'Kau berniat memelihara ikan mas?' [06.07]

'Sedikit…' [Read. 06.08]
'Rumah ini kelihatan terlalu sepi.' [Read. 06.08]
'Jadi mungkin akan bagus kalau aku punya peliharan kecil seperti ikan mas.' [Read. 06.08]

'Owww, apa Sawamura-kun kesepian? Lol!' [06.09]
'
Well, Aku bisa menemanimu ke toko ikan hias kalau memang kau ingin memelihara ikan.' [06.09]
'
Jumat?' [06.09]

Kali ini Eijun hanya mengirim sticker sebagai balasan.

Miyuki memang jadi cukup menyenangkan belakangan ini. Atau mungkin hanya Eijun saja yang sudah menjadi terlalu terbiasa dengan kepribadian Miyuki. Rasanya mereka semakin jarang terlibat delik-mendelik. Mereka masih sering berdebat dan melempar hinaan satu sama lain sesekali, tapi itu sama sekali bukan topik sensitif. Seringnya justru membuat mereka sama-sama tertawa. Eijun bahkan tidak tahu sejak kapan persisnya mereka berdua mulai menjadikan chatting atau voice call sejenis ini seperti rutinitas.

Di pagi hari, Eijun mulai terbiasa melihat ponselnya dan mendapati nama Miyuki Kazuya hadir mengisi kolom chat. Kadang itu hanya ucapan selamat pagi yang aneh, kadang itu adalah pesan sisa malam sebelumnya yang tidak sempat ia baca karena terlanjur ketiduran. Eijun mulai hapal jadwal kuliah Miyuki, dan pemuda berkacamata itu secara ajaib bahkan sudah tahu jadwal Eijun sampai ke jam-jam latihan taekwondonya.

Lamunan Eijun terbuyarkan saat ponselnya berbunyi lagi. Kali ini nama Takigawa Chris Yuu yang muncul. Eijun lekas tersenyum dan membuka pesan dari seniornya itu.

'Rise and shine.' [06.15]
'How about today? Did I lose again?' [06.15]

Eijun tertawa geli. Chris juga punya selera humor aneh yang cukup lucu. Entah bermula sejak kapan, tapi rupanya pemuda blasteran itu menjadi sedikit terobsesi untuk bangun lebih pagi dari Eijun dan mengucapkan selamat pagi. Dan seingat Eijun, Chris sama sekali belum pernah terbangun lebih dulu.

'GOOD MORNING SENIOR!' [Read. 06.16]
'Hahaha, nice try!'
[Read. 06.16]
'But noooooo…'
[Read. 06.16]
'I woke up like 15 minutes ago hehehe.'
[Read. 06.16]

'Then shall I treat you lunch for today, huh?' [06. 07]

Eijun menatap kalimat itu cukup lama dengan agak bimbang. Bukan berarti Eijun tidak menikmatinya. Chris selalu berhasil membawa suasana jadi menyenangkan tanpa kesan bahwa Ejun hanyalah parasit yang menempel karena menginginkan sesuatu. Lagipula, makan siang dengan Chris sama sekali bukan hal yang harus dihindari. Pemuda blastersan itu jenius, setiap kali mereka mengobrol, Eijun merasa mendapatkan setidaknya satu hal baru untuk dipelajari.

Hanya saja belakangan ini, rasanya Eijun mulai tak enak hati karena terlalu sering menghabiskan waktu bersama Chris saat jam istirahat. Shinji terkadang ada di sana juga, Toujo, bahkan Takatsu, dan Chris tidak keberatan bergabung bersama mahasiswa yang lebih muda darinya. Mungkin rasa tak enak hati itu justru muncul karena Eijun merasa dia telah menyabotase waktu Chris. Kapan terakhir kali Eijun melihat Chris nongkrong dengan teman seangkatannya?

Benar, mungkin Eijun perlu memberi sedikit peluang untuk Chris. Setelah hela napas panjang, Ejun mulai mengetik balasan.

'Ummm… kalau begitu biar aku yang traktir minumnya ;)' [Read. 06.10]
'Dan…' [Read. 06.10]
'Senpai bisa bawa teman juga!' [Read. 06.10]
'Lebih seru kalau ramai ^o^' [Read. 06.10]

Setelah menantikan satu menit penuh ketegangan. Akhirnya Chris membalas.

'Sure.' [06.11]
'Aku mungkin akan bawa setidaknya dua orang bersamaku.' [06.11]
'Dan mungkin sebaiknya kau mulai siap-siap?' [06.11]
'Kau tetap lari pagi bahkan di saat musim hujan seperti ini, kan?' [06.11]

Eijun nyengir lebar. Dia bahkan bisa membayangkan Chris menantapnya dengan alis terangkat begitu tipis, tangan bersilang di dada dan sedikit nada menghakimi yang begitu halus, juga nasehat implisit untuk tidak ceroboh dan membuatnya terserang demam.

'Hehehehe ^^' [Read. 06.12]
'Aku punya jaket trainging waterproof.' [Read. 06.12]
'Dan aku akan mandi sehabis lari. Aku janji!' [Read. 06.12]

Satu dari dua teman yang Chris ajak untuk makan siang bersama mereka adalah seseorang yang tak asing bagi Eijun.

"Isashiki-senpai?"

"Halo juga, Bocah Ribut." Isashiki menyeringai padanya, janggutnya seperti baru dipangkas sedikit. Pemuda itu melemparkan ranselnya dengan tak acuh di atas meja dan nyaris menyenggol milkshake Eijun yang masih baru. Buru-buru Eijun mengamankan minumannya sebelum menjadi korban kebrutalan seorang Isashiki Jun.

"Menunggu lama?" tanya Chris, mengambil duduk dengan kalem di samping Eijun.

Eijun menggeleng dan tersenyum lebar. "Tidak juga, tadi aku bersama Toujo tapi dia baru saja pergi."

"Jadi kita hanya berempat." Isashiki berkata sambil mendelikan bahu, duduk begitu santai dengan melipat satu kakinya di atas kaki yang lain, lalu mulai membaca-baca buku menu.

"Kalian mungkin harus berkenalan dulu." kata Chris, mengangkat dagunya pada Eijun dan seorang pemuda lain yang duduk di sebelah Isashiki.

Eijun menunduk kecil, tersenyum sopan. "Halo, namaku Sawamura Eijun. Salam kenal, err…."

"Yuuki Tetsuya." Pemuda itu menjawab, suaranya seperti bass speaker. Pembawaannya tenang tapi auranya begitu kuat, dari yang Eijun lihat, Yuuki bahkan sedikit lebih besar dari Chris. "Salam kenal, Sawamura."

Eijun balas tersenyum lebar. "Yuuki-senpai."

Isashiki mendengus sarkas, mengoper buku menu sambil bicara pada Yuuki. "Hati-hati, Tetsu. Sebentar lagi kau bakal butuh penyumpal telinga untuk menangkal mulut berisik Sawamura."

"Aku tidak berisik!"

Isashiki menyeringai dan menggerling pada Yuuki. "Benar, kan? Dia benar-benar punya pita suara sebesar tali tambang."

"Isashiki-senpai!"

Chris dan Yuuki tertawa geli, Isashiki menyeringai puas nan jahat dan Eijun merutuk sambil menyambar buku menu lalu membaca-bacanya dengan sebal.

"Aku suka menu yang nomor empat."

Eijun nyaris terpenjarat, ia tidak sadar sejak kapan Chris mencondogkan kepala begitu dekat dengannya dan ikut membaca buku menu yang sama. Menelan ludah gugup, Eijun mencoba mencari jarak dengan menggeser buku lebih dekat ke arah Chris. Tapi pemuda blasteran itu punya pandangan lain dan justru merangkul Eijun dengan sebelah lengannya yang bebas serta tetap mempertahankan kedekatan mereka. Matanya menekuri buku menu, sama sekali tidak tampak kebaratan dengan jarak yang agak intim ini.

"Tapi aku juga penasaran dengan yang nomor enam." Chris bergumam. Perut Eijun berputar, Chris berbau seperti kayu manis dan cendana. Pepohonan dan rempah-rempah, benar-benar serasi dengan Chris. "Kau mau pesan apa, Sawamura?"

Chris menoleh dan mata mereka bertemu. Jarak yang terlampau dekat hingga membuat Eijun terpaksa menyadari betapa gemilang warna mata Chris. Nyaris mendekati kuning cerah, benar-benar seperti batu amber.

"Sawamura?"

Eijun berhasil berkedip dan kembali bernapas. "Err… aku mau pesan yang nomor tiga saja. Um… karaage saus tiram." Ia berkata dan merasa lega ketika Chris mengangguk lalu melepaskan rangkulan dan mundur untuk menciptakan jarak di antara mereka.

Makan siang itu sebenarnya nyaris normal-normal saja, sampai Eijun merasa terlalu memperhatikan dua orang yang duduk di depannya. Sebelumnya sama sekali tidak ada yang aneh, tapi sejak Yuuki secara terang-terangan menyumpit potongan brokolinya lalu menyuapi Isashiki tanpa malu-malu, dan Isashiki menerima hal itu seolah lumrah-lumrah saja, Eijun menemukan dirinya jadi terlalu sering melirik dan memperhatikam dua pemuda itu. Semakin lama diperhatikan, semakin pula ia sadar bahwa Isashiki dan Yuuki bukan sekadar teman biasa.

Potongan karaage Eijun berhenti di pertengahan jalan menuju mulutnya ketika Yuuki mengusap jejak saus dari bibir Isashiki dengan ibu jari kemudian menjilatnya. Eijun ganti melirik Chris, mereka bertukar tatapan, tapi Chris tampaknya sama sekali tidak kaget. Pemuda blasteran itu hanya tersenyum simpul, dan melanjutkan makannya dengan elegan. Sama sekali tidak merasa terganggu.

Mereka berempat mengobrol selama beberapa saat setelah selesai makan. Dan selama periode waktu itu, Eijun mendapati dirinya semakin yakin bahwa Isashiki dan Yuuki memang punya hubungan istimewa. Ya Tuhan! Eijun bahkan baru tahu kalau Isashiki Jun yang barbar mampu tersipu malu-malu saat Yuuki Tetsuya mengodanya!

Isashiki dan Yuuki pamit lebih dulu, sedangkan Eijun masih punya waktu sekitar dua puluh menit sampai kelas selanjutnya dimulai. Setelah memesan ice cream, Eijun duduk bersama Chris dengan seratus pertanyaan melayang-layang di kepalanya.

"Mereka berkencan." ujar Chris tiba-tiba. "Jun dan Tetsu, mereka sepasang kekasih."

Eijun bersyukur karena sudah menelan. Jika tidak, maka bisa dipastikan ia sudah membuat wajah Chris bertabur cipratan ice cream cokelat dan vanilla.

"Oh… Ah, eh? Begitu ya…"

Chris tertawa geli, yang membuat Eijun berpikir bahwa barangkali Chris memang memiliki selera humor tingi terhadap mahasiswa linglung yang tampak bodoh juga gagap. "Kenapa kau pucat?"

"Hanya tidak menyangka Chris-senpai langsung terang-terangan begitu."

"Ekspresimu terbaca dengan jelas, Sawamura. Aku hanya membantumu menemukan jawaban."

Eijun tertawa keki dan malu, ia benar-benar perlu mengingat betapa observatif dan akuratnya seorang Takigawa Chris Yuu.

"Kenapa?" suara Chris tenang ketika bertanya. "Kau homophobic?"

Eijun buru-buru menggeleng. "Bukan-bukan, aku hanya agak kaget. Eng… sebenarnya aku lebih kaget karena Chris-senpai kelihatan biasa-biasa saja."

"Aku cukup terbuka dengan hal-hal seperti itu. Kalau-kalau kau lupa, aku setengah Amerika dan sempat menetap di sana, jadi yang seperti itu bukan lagi hal baru. Terlebih Jun dan Tetsu adalah temanku." Chris mengambil jeda, menatap Eijun seraya tersenyum maklum. "Tapi kalau itu membuatmu kurang nyaman, aku tidak akan mengajak mereka lagi untuk makan bersamamu."

"HE!? Bukan begitu! Sungguh!" Eijun nyaris berdiri menggebrak meja, tapi Chris dengan sigap meraih tangannya dan menghentikannya.

"Okay, relax." Chris berkata lembut, dan Eijun kembali bernapas dengan wajar. "Aku yang salah, aku pikir karena kau menolak bond dengan Miyuki, maka itu artinya kau tidak suka dengan hubungan sesama jenis."

"Bukan itu masalahnya." kata Eijun muram. "Bukan karena Miyuki-senpai laki-laki dan kami memutuskan untuk menolak, ini lebih kepada kepribadian kami yang…" Eijun membasahi bibir dan menelan ludah. "…tidak cocok."

"Aku mengerti." sahut Chris begitu lugas. "Sekalipun cocok, bukan berarti harus melanjutkan ke tahap pengikatan, kan? Karena terkadang, soulmate bisa berarti lebih luas dari sekadar pasangan."

Eijun berkedip, mencoba mencerna kata-kata Chris. Sebuah kesadaran kemudian melejit di otaknya. Selama ini, Eijun sama sekali tidak pernah membicarakan tenang soulmate Chris, tidak pernah bertemu, bahkan tidak pernah bertanya. "Apa Chris-senpai juga…" Eijun menggelengkan kepala, tidak benar-benar tahu apa yang haris dikatakan atau ditanyakan.

Tetapi Chris tampaknya tidak butuh satu kalimat penuh untuk dapat memahaminya. Lagi-lagi pemuda itu tersenyum maklum, mengangguk sekilas. "Ya, Sawamura. Aku juga bukan salah satu yang cocok untuk menjadikan belahan jiwaku sebagai pasangan hidup. Kami sempat mencobanya, tapi kemudian memutuskan untuk berpisah."

"Secepat itu?"

Chris tampaknya geli mendengar pertanyaan itu, dan Eijun segera sadar mengapa Chris merasa geli. Bodoh. Mengatakan hal seperti itu padahal Eijun sendiri jelas-jelas saling tolak-menolak dengan Miyuki di hari pertama mereka bertemu.

"Well, aku bertemu Amanda saat usiaku enam belas. Kami bertemu di Amerika dan langsung merasa cocok satu sama lain. Kami berkencan seperti pasangan lainnya selama beberapa tahun. Aku bahkan pernah membawanya ke Jepang, kau bisa tanya Miyuki, aku pernah mengenalkan Amanda pada Miyuki." gestur Chris begitu tenang dan rileks, dia menceritakan belahan jiwanya yang telah berpisah itu tanpa beban sama sekali. Eijun penasaran, bisakah ia sesantai Chris saat suatu hari kelak menceritakan tentang Miyuki Kazuya?

"Tapi kemudian kami mulai sadar bahwa kecocokan kami hanya bertahan pada pertemanan atau persahabatan. Semakin aku dan Amanda mencoba untuk saling mencintai, kami justru semakin menyakiti satu sama lain dan membuat hubungan kami menjadi beracun."

Eijun meringis, mendadak tak enak hati mendegar kisah cinta Chris yang kandas. "Uh, senpai tidak perlu memaksa untuk bercerita kalau memang tidak ingin."

"Santai." kata Chris menenangkan, tak ada paksaan sama sekali dalam setiap gestur dan nada bicaranya. "Aku dan Amanda masih bertukar kabar sesekali. Kami baik-baik saja, terakhir yang aku tahu, dia habis merayakan anniversary dengan pacarnya."

Eijun tersedak, Chris dengan sabar mengoper minuman padanya. "Chris-senpai baik-baik saja?"

Chris memiringkan kepalanya ke satu sisi dan mengerling dengan begitu atraktif. "Harusnya itu pertanyaanku." ada senyum miring tipis di sudut bibirnya. "Kau baik-baik saja, Sawamura? Kau yang baru saja tersedak, kenapa malah menanyakan keadaanku?"

"Ugh, bukan itu maksudku…"

Chris tertawa lagi, pemuda itu terlihat sangat bagus saat sedang tertawa. Bagaimana bisa seseorang tertawa dengan begitu elegan tapi sama sekali tidak terkesan kaku? Tawa Chris renyah, mengudara, dan hangat. "Aku benar-benar tersentuh karena kau mencemaskanku, Sawamura." matanya masih berkilat geli. "Terima kasih, tapi aku sungguh baik-baik saja. Aku tidak begitu ngotot soal imprint. Terlebih lagi…" Chris menatap lurus ke mata Eijun. "Aku sendiri sudah menyukai orang lain."

Sesuatu seperti percikan api menggelitik rongga dada Eijun. Ia bahkan tidak tahu siapa orang yang disukai Chris, tapi cara Chris mengatakannnya benar-benar membiusnya dalam empat emosi yang bertolak belakang. Tajam dan kuat, sekaligus lembut dan manis. Eijun mendadak salah tingkah, nyaris merasa bersalah karena rasanya ia baru saja menggali sesuatu yang privasi dari Chris. Eijun berdeham keki. "Eng… yah, syukurlah. Aku ikut senang."

Chris melebarkan senyumnya hingga nyaris seperti tawa. Ia menggelengkan kepala dengan geli sebelaum kemudian berdiri dan memakai tasnya di sebelah bahu. "Well, aku punya janji dengan dosen pembimbingku, jadi aku harus pergi sekarang." Ia berkata, mengulurkan tangannya ke rambut Eijun dan mengacaknya asal. "Terima kasih, Sawamura."

Eijun lekas berdiri untuk mengumumkan terima kasih dengan lebih lantang, tapi Chris sudah berpaling. Namun tak sampai dua detik ia menoleh lagi seolah melupakan sesuatu. "Oh, dan sore nanti tolong tunggu aku sebentar. Ada sesuatu yang ingin kutunjukkan padamu."

Eijun mengerjap. "Eh?"

"Nanti kukabari lagi, bye."

Seluruh hal tampak basah ketika Eijun keluar dari gedung fakultas pasca menyudahi kelas terakhirnya. Pohon-pohon terlihat lebih hijau dan rerumputan menjadi lebih segar selepas diguyur hujan selama dua jam. Meski sekarang hujan telah berhenti, tapi jejak aroma petrichor itu masih tersisa dan ikut masuk ke paru-parunya saat Eijun menarik napas. Bunga ajisai bermekaran di sepanjang sisi jalan, mekar dengan perpaduan warna merah muda, biru, violet, hingga ungu muda yang cantik. Suatu keajaiban, bagaimana sejenis bunga hanya mekar saat langit kelabu dan hujan mengguyurnya.

Eijun melambai pada teman-temannya begitu tiba di dekat area parkir. Sepuluh menit yang lalu, pesan dari Chris sampai ke ponselnya dan secara singkat meminta Eijun untuk menemui Chris di area parkir. Eijun sendiri tanpa sadar sudah hapal di mana Chris bisa memarkir mobilnya. Bertolak belakang dari Miyuki, Chris lebih suka parkir di area agak ke luar.

Chris sudah berada di sana saat Eijun sampai, berdiri di dekat mobilnya dan melambai kecil seraya tersenyum. Eijun balas tersenyum dan berlari mendekat. "Senpai menunggu lama?"

"Tidak juga." jawab pemuda itu kalem, matanya memindai Eijun sekilas. "Setelah ini kau langsung pulang atau ada acara lain?"

"Karena tidak ada latihan taekwondo, jadi aku langsung pulang." jawab Eijun agak bingung. "Kenapa?"

Chris tersenyum lega. "Kalau begitu waktunya pas."

Belum sempat Eijun bertanya, Chris telah membalikkan badan dan membuka bagasi mobilnya. Pemuda itu membungkuk ke dalam bagasi selama beberapa saat lalu kembali dengan sebuah kubus dengan keenam sisi sepanjang empat puluh sentimetar di tangannya. "Untukmu."

Eijun menerima kotak itu dengan kedua tangan, kebingungan. Kotaknya tidak seberat yang ia duga. Lumayan ringan boleh dibilang. Tak ada keterangan apapun yang bisa dilihat atau dibacanya dari bagian luar kotak, tapi Eijun menemukan beberapa lubang pada sisi kanan dan kirinya. Dengan alis berkerut, Eijun kembali menatap Chris. "Ini apa, Chris-senpai?"

"Sedikit hadiah dariku." kata Chris ringan. "Ulang tahunmu bahkan sudah lewat satu bulan yang lalu, tapi aku sama sekali belum memberimu hadiah."

Eijun melebarkan mata. "Tapi aku tidak—"

"Dan," potong Chris kalem, lengkap dengan senyum pengayoman yang membuat Eijun tak kuasa mendebat. "Hadiah kecil untuk pindah rumah. Yah, meski sampai sekarang aku bahkan tidak tahu di mana kau tinggal."

Eijun meringis mendengarnya. Secara tak sadar ia tetap mempertahankan perjanjian dengan Miyuki soal tempat tinggalnya. Padahal Chris jelas-jelas sudah tahu tentang hubungan Eijun dan Miyuki. "Ugh, maaf…"

"Jangan minta maaf." sahut Chris tanpa beban, bahkan ia masih tersenyum. "Aku lebih senang kalau kau menerima hadiahnya, lalu anggap saja semuanya impas."

Eijun mengigit bibir bawahnya, menunduk menatap kotak di dadanya sedikit tak enak hati. Kemudian ia menarik napas panjang dan membungnya cepat, mendongak lagi untuk menatap Chris, tersenyum lebar. "Oke." Sahutnya ceria. "Aku terima."

Eijun membuka kotak pemberian Chris dengan hati-hati begitu tiba di rumah. Kemudian ia tertegun.

Di dalam kotak terdapat sekat bersilang yang membagi ruang menjadi empat. Dan pada masing-masing ruang, sebuh pot berisi satu jenis tanaman. Hingga seluruh isi dari kotak itu adalah emat pot dengan empat jenis tanaman yang berbeda-beda.

Eijun mengeluarkan satu demi satu dengan hati-hati. Menyadari bahwa pada masing-masig pot tergeletak secarik kertas berisi tulisaan tangan Chris. Eijun mengambil salah satunya.

Namanya Rosemary. Tapi mungkin kau sudah tahu, mengingat kau punya banyak pengetahuan soal tanaman. Rosemary bisa kau jadikan campuran untuk masakan, bahkan dicampur ke dalam teh. Rosemary butuh sinar matahari, jadi usahakan taruh dekat jendela, tidak perlu terlalu sering menyiramnya, dia cukup kuat dan tidak merepotkan.

Entah kenapa Eijun tertawa membacanya. Ia meletakkan kartu itu di atas meja dan mengamati pot berisi serumpun rosemary segar dengan senyum mengembang, lalu meraih kartu di pot yang lain.

Photos (Epipremnum aureum), bisa dibilang ini adalah tipe tanaman rumah yang paling mudah tumbuh. Bentuk daunnya seperti hati, berkilat hijau saat terkena cahaya. Perawatannya cukup mudah dan tidak perlu terlalu sering di siram. Kau bisa meletakkannya di ruang tengah untuk menambah kesan menyegarkan dalam ruangan.

Eijun mengusap daun photos dengan jemarinya dan tersenyum saat merasakan betapa halus juga licin permukaan daun itu. Chris benar, daunnya berbentuk seperti hati dengan warna hijau yang segar dan menenangkan.

English Ivy (Hedera helix), kau bisa menggantungnya, atau meletakkannya begitu saja di pot juga tidak masalah. Daunnya yang cukup rimbun dan sulur memanjang, membuatnya cocok ditempatkan di pojok ruangan. Tapi kau tetap harus memberinya sinar matahari.

Di antara keempat jenis tanaman itu, ivy memang yang tampak paling rimbun. Daunnya berbentuk mirip seperti daun anggur, tapi memiliki tepian kekuningan yang menambah kesan berwarna. Eijun pikir dia bisa meletakkan ivy di counter dapur untuk memberi kesan menyegarkan.

Lavender (Lavandula), untuk yang ini aku harap kamarmu memiliki jendela yang menghadap ke selatan. Lavender akan terlihat bagus di kamar, di meja belajar maupun di kayu jendela. Lavender bahkan memiliki wangi aromatherapy yang membuatmu bisa lebih rileks.

Eijun menatap pot berisi lavender itu dengan lebih sekasama. Di antara keempat pot yang diberikan Chris, lavender adalah satu-satunya yang berbunga. Rosemary memang dapat berbunga, tapi untuk saat ini masih berupa daun-daun yang hijau. Sedangkan lavender… itu terlihat sangat indah.

Eijun mengangkat pot berisi lavender dengan hati-hati dan menyentuh kelopak bunganya yang berwarna ungu, aromanya suangguh menenangkan dan Eijun sangat ingin meletakkannya di kamar tidur. Chris benar-benar telah memberinya hadiah yang tidak terduga, sekaligus juga membuatnya bahagia. Sebelum terlalu terlena dalam kegembiraan, Eijun cepat-cepat mengambil ponselnya. Menyusun keempat pot di atas meja dan memotretnya lalu mengirimnya pada Chris.

'Chris-senpaaaaiiii… thank you so much.' [Read. 19.05]
'Ini sangat-sangaaaaaaat indah ^0^' [Read. 19.05]

Eijun menambahkan tiga sticker yang masing-masing menggambarkan kebahagiaan, rasa haru, bahkan pelukan pada Chris.

'Do you like it?' [19.07]

'YES! VERY MUCH!' [Read. 19.07]
'I LOVE IT!' [Read. 19.07]

'Good, then :)' [19.08]
'Aku harap tanaman-tanaman itu bisa menemanimu di tempat tinggalmu yang baru.' [19.08]
'Mereka tidak terlalu haus air, jadi kau tidak perlu khawatir.' [19.08]

Eijun terkekeh geli. Sebenarnya, ia sendiri cukup familiar dengan perawatan beberapa tanaman, mengingat ibunya di Nagano sangat suka bercocok tanam bahkan menempatkan tanaman di nyaris setiap sudut rumah. Dulu, Eijun bahkan sering berkhayal bahwa ia hidup di dalam hutan. Rencana untuk mengisi beberapa spot rumah ini dengan tanaman hias memang sudah masuk dalam benaknya sejak kepiandahannya beberapa bulan yang lalu, tapi entah mengapa Eijun selalu tak punya waktu untuk menyambangi toko tanaman sampai sekarang. Lalu tiba-tiba Chris datang, bersama sekotak hadiah berisi empat jenis tanaman yang akan mengisi kekosongan di tempat tinggalnya. Kadang Eijun benar-benar takjub tentang kemampuan Chris yang selalu dapat mengetahui apa yang Eijun butuhkan.

'Jendela kamarku menghadap ke selatan.' [Read. 19.10]
'Aku bisa menyimpan lavender di kamar, hehehe.' [Read. 19.10]
'
Aku suka sekali aromanya (v,,v)' [Read. 19.10]

'Syukurlah.' [19.11]
'
Aroma lavender memang mengandung anti-neurodepresive yang dapat memberikan efek relaksasi.' [19.11]
'Bahkan di malam hari, aroma lavender bisa membuat tidur lebih cepat atau juga mengatasi insomnia.' [19.12]
'Aku senang kau bisa menempatkannya di kamar.' [19.12]
'
Lavender bahkan ampuh mengusir nyamuk.' [19.12]

'Chris-senpai mulai terdengar seperti pecinta tumbuhan sekarang XD' [Read. 19.13]
'Tapi aku benar-benar suka!' [Read. 19.13]
'Semuanya! Aku suka keempat tanaman yang senpai berikan ^^' [Read. 19.13]

Eijun mengirim lagi stricker beruntun pada Chris. Kali ini, sebagai balasan Chris mengirimnya sepenggal kalimat yang sempat membuat jantungnya melompat kecil.

'Lavender juga bermakna kesetiaan.' [19.15]

Ini sudah dua minggu dan Kazuya selalu mencoba untuk tidak menyadari setiap kali Kuramochi memandanginya dengan alis berkerut dalam, atau hidung mengernyit seakan-akan seseorang baru saja meletakkan kaus kaki bau tepat di bawah lubang hidungnya. Kadang, Kuramochi bahkan memandanginya seakan-akan Kazuya adalah alien atau mahkluk langka yang turun dari langit begitu saja. Tatapan itu juga seringkali diwarnai dengan penilaian implisit yang Kazuya tidak ingin tahu apa persisnya. Tetapi kali ini, ia benar-benar mulai gerah.

"Serius," Kazuya menghela napas setengah jengkel. "Katakan saja, Kuramochi. Aku merasa tubuhku akan berlubang sebentar lagi di bawah tatapan tajammu itu."

Hidung Kuramochi justru kian berkernyit seakan kini kaus kaki dipaksa masuk ke lubang hidungnya. "Aku yakin kau tahu apa arti dari tatapanku."

Kazuya memutar mata. "Ini tentang Sawamura lagi, kan?"

Kuramochi memberi ekspresi super dramatis dengan pura-pura terkesan. "Oh, puji syukur kepada dewa-dewi! Akhirnya otakmu sungguh berkerja, heh?" senyumnya sangat jahat serupa preman kota. Kazuya bergidik, bagaimana bisa pemuda ini jadi sahabatnya? "Kau berubah."

"Kau sudah mengatakan itu beberapa bulan yang lalu saat kita di Takayama." Kazuya mengingatkan. "Kalau kau mengatakan itu lagi, kurasa aku akan benar-benar melompat dari gedung dan meluncur sebagai Ironman, lalu berteriak, Tada! Aku berubah! Ini yang namanya berubah!"

Kuramochi sama sekali tidak tertawa dengan leluconnya, bahkan tersenyumpun tidak. Benar-benar sahabat yang tidak suportif. "Kau tahu persis apa yang kumaksud berubah." kata Kuramochi lambat-lambat sambil memandangi nyaris seluruh tubuh Kazuya. "Bahkan kali ini terlalu jelas."

Kazuya membuka mulutnya, tapi Kuramochi kembali bicara. "Apakah kau sadar bagaimana penampilanmu sekarang? Kau biasanya selalu memakai pakaian dengan warna-warna gelap. Kau biasanya terlihat seperti pangeran aristokrat menyebalkan dengan pakaian serba hitam atau abu-abu. Tapi sekarang lihat dirimu. Kau mulai memakai warna-warna cerah, kau nyaris selalu mengecek ponselmu dan senyum-senyum seperti idiot, dan kau bahkan memakai sneaker! Ha, seingatku kau sama sekali tidak pernah memakai sneaker selepas kita lulus SMA, kecuali untuk olahraga."

"Wow, itu satu paragraf yang panjang."

Lagi-lagi Kuramochi tidak merespon baik leluconnya. Yang ia dapatkan hanya putaran mata muak dan kedutan bibir seakan Kuramochi siap menyumpah sekasar-kasarnya.

"Apa aku tidak boleh kelihatan sedikit berwarna?"

"Oh, tentu kau bebas memakai apapun yang kau mau. Bahkan dengan penampilanmu yang sekarang, kau mendapat lebih banyak perhatian dari gadis-gadis."

"Kau cemburu?"

Kuramochi memasang wajah hendak muntah.

"Baiklah," Kazuya berkata damai. "Jadi sebenarnya apa yang ingin kau coba sampaikan padaku? Apa kau tidak suka dengan keadaanku yang sekarang?"

Ada jeda cukup lama sebelum akhirnya Kuramochi menghela napas dan bicara perlahan. "Semua yang terjadi padamu ini mengisyaratkan bahwa kau sedang bahagia. Kau menjadi lebih ceria, hangat, menyenangkan, mudah tersenyum, dan bahkan lebih ramah. Demi Tuhan, ini sangat gay, tapi wajahmu bahkan bersinar-sinar! Kau sedang jatuh cinta, Miyuki. Kau jatuh cinta pada Sawamura Eijun."

Kazuya menolak kenyataan bahwa saat ini jantungnya berdetak begitu kencang merespon kata-kata Kuramochi. Dengan menakekan semua emosi jauh ke bawah kulitnya, juga mengatur ekspresi sedemikan rupa agar tak terbaca, ia menatap Kuramochi dengan alis terangkat. "Haruskah aku ingatkan seperti apa hubunganku dengan Sawamura? Kalau-kalau kau lupa, Kuramochi. Kami berdua sama-sama lurus. Atau setidaknya, aku yakin aku ini lurus. Kau sudah tahu kenapa aku dekat dengan Sawamura, dan aku adalah seseorang yang pantang melanggar janji bahkan kepada diriku sendiri." Kazuya menarik napas dan menghembuskannya cepat, menatap Kuramochi lekat ke matanya. "Jadi, tidak. Aku tidak jatuh cinta pada Sawamura Eijun. Semua perubahan yang ada padaku ini semata-mata karena aku memang sedang ingin, bukan karena Sawamura."

Bibir Kuramochi menjadi gatis tipis yang getir. "Aku benar-benar tidak menyangka kau bisa sebodoh ini, Miyuki."

Kazuya mencoba untuk tidak tersinggung. "Tidak, kau yang salah paham." Ia berkata lugas. "Kau juga suka Sawamura, akui saja. Semua orang suka karena anak itu memang menarik banyak perhatian. Dia jujur, polos, impulsif, berisik dan tidak berpura-pura. Jadi apa bedanya? Kenapa ini seakan-akan jadi masalah besar saat aku dekat atau berteman dengan Sawamura?"

"Ya Tuhan!" Kuramuchi terndengar depresi sekarang. "Oh, terserahlah!" Pemuda itu sedikit membentak gemas lalu menatap Kazuya pasrah seakan menatap buruan yang lepas. "Aku hanya akan memberimu satu nasehat sederhana. Nyatakan perasaanmu secepatnya sebelum kau menyesal, Miyuki. Karena yang kulihat…" Kuramochi membuang napas panjang, lalu berkata dengan lebih hati-hati, nyaris berbisik. "Chris belum menyerah untuk mendapatkan Sawamura."

Kazuya sontak tertawa. "Oh, man! Tentu saja dia tidak menyerah, aku tahu persis seberapa gigihnya Chris."

Kuramochi kelihatan tidak puas.

Agaknya Kazuya benar-benar harus menjelaskan. Ia membasahi bibirnya singkat lalu mencoba terdengar lebih serius. "Kalau begitu biar aku tegaskan supaya kau lega. Ini hanya permainan, kau ingat? Aku akan angkat tangan begitu Chris memproklamasikan perasaannya pada Sawamura. Aku hanya menanti-nanti momen itu, oke? Selepas itu, kau akan percaya bahwa selama ini kaulah yang keliru. Sedangkan aku," Kazuya menyeringai simpul. "Selalu benar."

Kuramochi mendengus kasar tapi kelihatannya tidak berniat memperpanjang perdebatan. "Jangan datang padaku saat hatimu pecah berkeping-keping. Aku tidak mau mendengar cerita patah hatimu."

Kazuya balas tersenyum. "Tentu tidak, Kuramochi-kun." Setelahnya mereka tidak lagi saling bicara sampai bermenit-menit, sampai Kazuya melirik jam di pergelangan tangan kirinya dan menghela napas lalu menutup laptop dan merapikan buku-bukunya. "Aku duluan." Ia berkata ringkas, memakai tas di sebelah bahu. "Aku ada janji dengan Professor."

Kuramochi mengernyit samar. "Kau sudah mulai penelitian?"

Kazuya membalasnya dengan senyum sombong. "Maaf kalau aku lulus lebih dulu nanti." Dan sebelum Kuramochi sempat menyumpah, Kazuya beranjak pergi dengan senyum lebar nan ceria.

Tepat dua langkah sebelum memasuki ruangan professor yang ditujunya, Kazuya merasakan ponselnya bergetar. Ia lekas menghentikan langkah dan membuka ponselnya, mendapati nama Sawamura muncul dibawah notifikasi LINE.

Tiga balon chat pertama diisi dengan sticker marah, sedih, dan malu secara beruntun. Kemudian barulah teks normal.

'Kau tahu? Ini hari yang menyebalkan :(' [14.49]
'Aku barusaja ketiduran di kelas T_T' [14.49]
'Dan temanku berbuat jail dengan mengangetkanku sambil berbisik lalu aku bangun.' [14.49]
'Aku melompat ke meja, memasang kuda-kuda tempur, dan reflek menjerit BASMI ALIEN SELAMATKAN BUMI TERCINTA!' [14.50]
'Seisi kelas menjadi hening lalu tawa meledak.' [14.50]
' :'( :'( :'( Aku ingin tenggelam ke Samudera Hindia rasanya…' [14.50]

Kazuya berusaha tidak tertawa tapi ia jelas gagal. Ia mundur dari depan pintu dan menempel ke tembok sekitar lalu menunduk dan tertawa geli. Mengabaikan beberapa orang yang melintas dan memandanginya dengan wajah berkerut. Sawamura memang luar biasa. Dia selalu punya cerita menarik untuk dibagikan.

Sambil mengatur napas, Kazuya mengamati petunjuk waktu. Masih ada sepuluh menit sebelum pukul tiga sore. Professornya sendiri meminta pertemuan tepat pukul tiga, jadi Kazuya punya waktu sebentar untuk meladeni Sawamura. Mungkin menggodanya sedikit. Senyumnya mengembang, Kazuya mencari tempat duduk terdekat dan mulai mengetik balasan.

'Aku harap aku ada di sana untuk melihat aksimu yang luar biasa, lol~' [Read. 14.50]

'Kau benar-benar tidak membantu -_- ' [14.51]
'Setidaknya hibur aku!' [14.51]
'Hmph! —,,—' [14.51]

'Ouch… what should I do for you, Sawamura?' [Read. 14.52]
'Patting your hair and say everything would be fine?' [Read. 14.52]
'Giving you snack?' [Read. 14.52]
'Throwing a ball?' [Read. 14.52]

'Kenapa kesannya kau sedang berusaha menghibur anak anjing!?' [14.53]
'Miyuki Kazuya! Kau menyebalkan!' [14.53]
'… dosen yang tadi ada di kelas sudah berusia hampir tujuh puluh tahun….' [14.54]
'…sepertinya aku akan membuat dia mengalami trauma psikologis (U_U)' [14.54]

Kazuya merapatkan bibirnya untuk menahan tawa. Andai posisinya tidak sedang di tempat yang berdekatan dengan ruangan professor ia yakin akan terbahak-bahak sekarang. Ia bahkan tidak yakin siapa yang benar-benar berubah. Kuramochi berkata bahwa Sawamura merubahnya, tapi bagi Kazuya, Sawamura juga berubah. Pemuda itu telah menurunkan dinding defensifnya terhadap Kazuya. Menjadi lebih terbuka, bahkan cukup akrab untuk saling berkirim chat secara rutin dan membahas hal-hal remeh seperti ini.

Hubungan di antara dirinya dan Sawamura memang membaik pasca kencan ke Ueno. Sawamura menjadi tidak terlalu ketus padanya, lebih rileks, humoris, dan terkadang bahkan sedikit manja. Dia benar-benar pribadi yang menarik, harus Kazuya akui itu. Pula, menjadi alasan yang paling masuk akal mengapa ia suka berada di dekat Sawamura.

Tapi ini bukan cinta. Kazuya berkata pada dirinya sendiri. Ini bukan cinta, melainkan suatu bentuk kenyamanan sederhana sebagai sesama manusia, sesama laki-laki. Ini sama sekali bukan cinta, dan Kuramochi benar-benar salah karena telah berpikiran seperti itu.

"Oi, Sawamura."

Eijun menoleh sambil menarik lepas sabuk taekwondonya, lalu mengangkat alis tipis. Di sana sudah ada Shinji, Takatsu, Kariba, bahkan beberapa senior lain anggota taekwondo yang memandanginya dengan bibir berkedut-kedut. "Apa?"

"Kudengar kau habis membasmi alien?"

Eijun tidak bisa mengabaikan kedutan menyebalkan yang muncul di seputar mulutnya begitu pertanyaan itu terlontar. Pertanyaan menyebalkan! Eijun yakin Takatsu sendiri sudah tahu apa jawabannya, begitu pula dengan yang lain. Mereka sudah tahu semua kebenaran berita itu, dan barangkali Eijun benar-benar perlu mencari tahu apakah dinding-dinding kampus diam-diam bertelinga.

"Berisik!" Eijun mengumpat jengkel tapi tetap berjalan menuju kelompkok itu lalu menghempaskan diri ke tengah-tengah mereka tanpa peduli kakinya baru saja menginjak Kariba dan menyebabkan serentetan protes. "Kenapa berita memalukan cepat sekali menyebar, sih?"

Takatsu menepis kasar tangan Eijun yang mendarat ke sekitar lehernya, sayangnya tangan Eijun justru berakhir menampar Kawakami. Takatsu membeliak panik, untungnya Kawakami adalah senior yang baik dan tidak mudah marah. Eijun tertawa geli sendiri menyaksikan Takatsu meminta maaf dengan salah tingkah, alhasil setelahnya ia mendapatkan tatapan super dingin dari Takatsu.

"Hei, sudahlah." Kariba mengambil tindakan pencehagan cermat dengan menggeser posisi duduknya sehingga Eijun bisa lebih leluasa tanpa menganggu kenyamanan orang lain. "Lebih baik kita istirahat tanpa mencari perkara. Yah, kecuali kalian mau dapat latihan ekstra dari Chris-senpai seperti tempo hari."

Semua orang dalam kelompok itu bergidik kecuali Eijun yang justru nyengir ceria. "Bagus, kan? Kita jadi lebih cepat mempelajari gerakan-gerakan atau jurus baru?" Eijun langsung dihadiahi tatapan-tatapan tidak sepakat dan bahkan kebencian atas ucapannya.

"Maaf saja, Sawamura." Shinji berkata. "Tapi kami bukan golongan masokis seperti kau."

"Aku tidak masokis!"

"Tentu saja," Sahut Kariba, tersenyum senang. "Dan kami punya pacar yang rutin untuk diajak kencan."

"Jadi," Takatsu menambahkan. "Maaf-maaf saja, Sawamura. Tapi kami lebih suka menghabiskan waktu luang untuk kencan daripada ngilu-ngilu akibat latihan ekstra."

Eijun memanyunkan bibir dengan sebal. "Kalian itu masih muda! Mana semangat masa mudanya?"

"Justru karena kita masih muda, sangat wajar menggebu-gebu soal asmara." Bahkan Kawakami ikut bicara.

"Apa aku satu-satunya di sini yang tidak punya pacar?" geram Eijun, disahut oleh suara tawa yang lain. "Dasar teman-teman tidak peka!"

"Tapi bukannya…" Kariba berkata lambat-lambat, mengedarkan mata ke sekitar sebelum menatap lurus ke mata Eijun. "Seseorang yang sering menunggumu itu pacarmu? Kalau tidak salah dia kakak tingkat kita, fakultas teknik, benar?"

"Oh!" Kawakami berseru. "Maksudmu Miyuki? Kami pernah mengambil kelas yang sama saat semester tiga. Sudah berapa lama kau berkencan dengannya, Sawamura?"

"Hah!?" Eijun memekik. Tanpa alasan yang pasti, ia justru merasakan panas wajahnya meningkat dalam suhu tak wajar. "Miyuki Kazuya bukan pacarku!"

Setiap orang—kecuali Shinji yang memang sudah tahu apa persisnya hubungan Eijun dan Miyuki—kini menatapnya dengan kaget dan bingung. "Tapi dia sering sekali menunggumu selesai latihan."

"Lantas kenapa?" Eijun mengenrnyit tidak habis pikir. "Kami cuma kadang punya janji main baseball atau makan malam."

"Oh ya?"

Eijun meyipitkan mata defensif. "Aku punya janji dengannya besok sore. Lebih tepatnya dia akan menemaniku ke toko ikan hias. Tapi begitu saja, tidak lebih, sama sekali tidak spesial."

"Tapi kelihatannya kalian—"

"Pokoknya tidak!" Eijun begitu bersikeras hingga nyaris terdengar marah. Yang lain menatapinya setengah bengong, sementara Shinji bertukar tatapan dengannya dalam diam.

"Jadi kalian tidak berkencan?"

"Tidak." Eijun menelan ludah. "Sama sekali tidak ada yang spesial di antara aku dan Miyuki Kazuya." Meski berkata demikian, Eijun bisa merasakan sesuatu yang tidak masuk akal telah menyusup ke sela-sela dadanya. Membangun jalur listrik dan sungai api sampai ke keronggkongan dan wajahnya. Perasaannya bukan hanya campur aduk tapi juga berantakan. Eijun jelas-jelas perlu membenahi tanggapan teman-temannya tentang hubungannya dengan Miyuki. Tapi di sisi lain, kata-katanya sendiri justru menjelma menjadi palu es yang memukul-mukul belakang kepalanya.

Takatsu berdeham kecil dan berhasil mengambil alih semua perhatian. "Kukira malah Sawamura pacaran dengan Chris-senpai."

Eijun sukses melongo. "Hah?"

Takatsu angkat bahu. "Kita semua tahu kalau Sawamura yang paling dekat dengan Chris-senpai. Chris-senpai memang baik pada semua orang, tapi saat bersama Sawamura bukankah dia jadi lebih… istimewa?"

Shinji batuk-batuk dengan sangat keras sedangkan Eijun merasa perutnya baru saja dipelintir. Ia baru hendak membuka mulutnya untuk menyanggah ketika suara yang keluar bukan miliknya.

"Belum."

Mereka semua serempak mendongak ke satu arah yang sama hingga terkesan seperti kelompok penari yang selaras. Chris berdiri menjulang, sudah berganti baju, rambutnya agak basah, wajahnya segar, ia terlihat tampan dengan striped shirt white-navy dan celana jins hitam. Tas selempang kulitnya tersampir di sebelah bahu. Selama beberapa saat Eijun terlalu terpana, dan ia yakin teman-temannya pun demikian karena tak satupun dari mereka bersuara.

Kemudian terdengar suara batuk keki dari Kariba. "Belum?"

Eijun hendak bertanya kenapa suaranya terdengar seperti dicekekik tapi otaknya dengan cepat memproses keadaan dan memutar kejadian sebelumnya… Kukira Sawaura pacaran dengan Chris-senpai…Belum…Belum! Eijun memebeliak lebar-lebar, mendongak pada Chris yang justru balas tersenyum lebih lebar. "Belum ganti baju?" Chris berkata ringan, "Kalian tidak berniat pulang atau bagaimana?"

Eijun berkedip. Ganti baju?

Oh.

OH!

Keadaan menjadi sunyi senyap selama beberapa detik sebelum udara kecanggungan meningkat lebih tajam dan orang-orang mulai bergerak-gerak salah tingkah atau berlomba-lomba berdeham. Sedangkan Eijun duduk setengah linglung, mencoba keras untuk tidak memikirkaan semerah apa wajahnya saat ini.

'Ayo jemput ikan mas-mu.' [Read. 17.03]

'YESS!' [17.05]
'Kau di mana sekarang? Aku baru keluar kelas.' [17.05]

Kazuya tersenyum tanpa sadar membaca chat balasan dari Sawamura. Sepertinya Sawamura memang sangat antusias untuk memelihara ikan. Dan siapa yang bisa menolak saat Sawamura begitu bersemangat atau bersikeras terhadap sesuatu? Sawamura membangkitkan sisi adrenalin anak-anaknya tanpa sadar. Membuat Kazuya kerapkali terpancing melakukan hal-hal impulsif setengah sinting yang kemudian membuatnya tak bisa berhenti tersenyum sepanjang hari.

'Di depan gedung fakultasmu.' [Read. 17.06]
'Cepat lari ke sini, sebelum aku berubah jadi patung tampan yang merana karena menunggu.' [Read. 17.06]

Sebagai balasaan, Sawamura memberinya sebuah sticker berwajah malas. Menggambarkan keluhan bahwa Sawamura tak suka dengan perintah Kazuya sebelumnya. Tapi Kazuya sendiri cukup yakin saat ini Sawamura benar-benar mulai berlari menyusuri koridor-koridor dari lantai tiga. Barangkali juga mengumumkan kata maaf saat berkali-kali menabrak mahasiswa yang lalu-lalang atau bahkan nyaris membentur salah satu dosen dan professor yang kebetulan menghalangi jalannya.

Sambil tersenyum tipis, Kazuya memasukkan ponselnya ke saku blazer. Beberapa mahasiswi yang kebetulan melintas menatap padanya sambil mengernyit heran atau hanya sekadar tersenyum menyapa. Kazuya balas mengangguk, tersenyum simpul, mau tak mau menyepakati pemikiran Kuramochi bahwa akhir-akhir ini kepopulerannya agak meningkat setelah ia bersikap agak ramah. Mungkin Kuramochi tidak sepenuhnya salah saat berkata bahwa ini ada hubungannya dengan Sawamura. Meski jelas, bukan dalam artian yang menyangkut urusan hati.

Sawamura selalu ramah pada semua orang, dia terseyum, menyapa, menolong, bahkan tak segan membela orang-orang yang baru ditemuinya. Berada di dekat Sawamura selama beberapa waktu telah membuat Kazuya terbiasa dengan sikap seperti itu, hingga tanpa sadar sedikit mengkopinya dalam kehidupan sosial. Kazuya bahkan mulai menamainya Sawamura Effect, dan jelas itu sejenis hubungan sosial, bukan hubungan pribadi yang melibatkan perasaan.

Sawamura muncul dari balik segerombolan mahasiswa dan berjalan ke arahnya. Kazuya secara otomatis terenyum. "Wow, rambut yang bagus."

Sawamura memutar mata, rambutnya mencuat beratakan dalam gaya singa lapar. Kazuya yakini itu didapatnya akibat lari brutal dari lantai tiga. "Yeah, aku khusus menatanya untuk bertemu denganmu. Ini adalah tampilan rambut paling elegan, jadi nikmati saja."

Kazuya terkekeh geli, tak lagi menahan hasrat untuk mengayunkan tangannya ke rambut Sawamura dan menyisirinya ringan dengan jari-jarinya. Rambut Sawamura terasa halus, mengundang desiran menggelitik di perut Kazuya ketika menyentuhnya. Kalaupun Sawamura ingin menolak, dia sama sekali tidak menunjukkan tanda-tandanya. Memang Kazuya sempat merasakan tubuh pemuda itu menegang, atau juga pupil matanya yang melebar, tapi begitu singkat sebelum kemudian ia menghela napas dan pasrah saat Kazuya merapikan rambutnya.

"Ada berapa banyak ikan yang mau kau beli?" Kazuya bertanya setelah melakukan sentuhan terakhir di rambut Sawamura. Menepiskan rasa kehilangan yang tiba-tiba pada jari-jari tangannya.

Sawamura meniup seherai rambut yang menjuntai ke alisnya lalu mendelikkan bahu. "Tidak banyak, mungkin cuma sepasang."

Alis Kazuya terangkat satu. "Dan kupikir kau berencana membeli akuarium sebesar dua meter yang muat untuk hiu."

Lagi-lagi Sawamura memutar mata menanggapi ucapannya, tapi setidaknya pemuda itu tersenyum cerah dan meninju bahu Kazuya. "Ayolah, kita jalan saja."

Sekitar dua puluh menit kemudian, Kazuya sudah mendapati dirinya berada di tengah-tengah puluhan akuiarium berisi beragam jenis ikan hias. Seorang pegawai toko menemani Kazuya dan Sawamura menelusuri bagian-bagian toko, beragam akuarium, dan bahkan memberi kuliah singkat tentang ikan-ikan. Sawamura terpesona pada segala hal, Kazuya punya firasat jika pemuda itu mampu, ia mungkin ingin membeli seisi toko dan membangun akuarium raksasanya sendiri.

"Jadi, sudah menentukan pilihan?"

Sawamura memasang wajah muram, memandang berkeliling seakan hendak menangisi semua ikan yang tak bisa dibawa pulang. "Semuanya bagus, tapi aku tetap akan membeli ikan mas."

Kazuya berusaha keras menahan tawa sambil mengusap punggung Sawamura seperti menenangkan bocah merajuk. "Di sini menjual akuarium dan pernak-perniknya juga, kan?" ia bertanya pada pegawai muda itu yang dibals dengan senyum ramah dan anggukan setuju.

"Kami menjual semuanya, termasuk pakan, vitamin tetes, pompa, akuarium, lampu, dan masih banyak lagi. Anda bisa memilih sendiri aksesorinya, kami akan membantu mendesain akuariumnya jika anda berkenan."

Sawamura menghela napas panjang, tersenyum kepada si pegawai. "Kalau begitu aku mau sepasang ikan mas ekor kipas. Aku boleh memilih, kan?"

Pegawai itu mengangguk lagi. "Tentu, mari ikut saya."

Sawamura masih melirik-lirik ke sekeliling ketika tiba-tiba menyikut Kazuya dengan tak sabar. "Kau tidak mau beli juga?"

"Tidak, terima kasih." Sahut Kazuya terlampau lugas. "Aku tidak merasa kesepian di kamarku."

Sawamura cemberut padanya. "Payah! Kau 'kan bisa memeliharanya sebagai salah satu hiasan hidup di kamarmu. Lagipula, punya peliharaan itu bisa menimbulkan semacam dampak baik bagi psikologismu."

"Ow… sekarang bicaramu benar-benar berat, ya?"

"Atau jangan-jangan," Sawamura tahu-tahu mengerling pada Kazuya, tersenyum meremehkan. "Kau tidak cukup percaya diri untuk memelihara ikan-ikan kecil, huh?"

Kazuya megangkat alis. "Usaha yang bagus, Sawamura. Tapi aku tidak akan terpancing."

Lima belas menit kemudian, Sawamura tidak bisa berhenti tertawa. Lebih tepatnya lagi, menertawakan Kazuya.

"Tidak akan terpancing!" Sawamura berseru dengan geli lalu terbahak-bahak di kursi penumpang. "Astaga, kau benar-benar menghiburku belakangan ini, Miyuki Kazuya!"

Kazuya memutar mata, mencoba untuk fokus menyetir saja alih-alih menututi hasrat yang mendorongnya untuk mengacak-acak rambut atau mencubit pipi Sawamura hanya untuk membuatnya berhenti tertawa. "Berisik."

"Ya Tuhan! Seharusnya aku merekammu tadi. Itu bisa jadi bahan bully paling jitu untuk melawanmu!"

Kazuya menghela napas berat, kepalanya memutar kejadian beberapa saat yang lalu sementara hatinya sibuk merutuki diri karena bisa-bisanya termakan ocehan seorang Sawamura Eijun.

"Yang itu!" Sawamura berseru sambil menunjuk salah satu ikan mas ekor kipas yang tengah berenang-renang. Sirip dan ekornya mekar dengan indah, terbentang di dalam air dan meliuk seperti selendang penari.

Pegawai muda itu menjaring ikan pilihan Sawamura dan meletakkannya di wadah tampung sementara lalu mulai bersiap mengambil satu ikan yang lain.

Sawamura mengamat-amati akuarium dengan seksama, wajahnya nyaris menempel ke kaca, matanya meruncing dengan lucu, begitu serius seakan sedang menentukan pilihan yang akan menentukan kelangsungan hidupnya. "Hmmm… sekarang aku bingung… Ah! Itu di sana! Tolong ambilkan yang berenang di sana!"

Kazuya meringis menutupi sebelah telinganya akibat teriakan melengking Sawamura. Ia bahkan mulai bersimpati pada pegawai muda itu karena mendapat pelanggan seperti Sawamura, tapi pegawai itu hanya tersenyum sabar dan menjaring ikan mas kedua yang Sawamura inginkan.

"Anda ingin akuarium seperti apa?" tanya pegawai itu sambil membawa wadah berisi ikan pilihan Sawamura ke sisi lain dari toko yang berisikan beragam barang-barang penunjang.

"Standar saja," Sawamura menjawab dengan mata berbinar-binar menatap dua ekor ikan pilihannya. "Yang bentuknya nyaris bulat itu, aku ingin meletakkannya di meja kamar. Jadi tidak perlu terlalu besar."

Kemudian Sawamura mulai memilih aksesori lainnya, seperrti bebatuan, pasir, tumbuhan air, lampu, pompa, dan lain-lain. Pegawai itu menata akuarium kecilnya sebelum memasukkannya ke dalam kardus. Sedangkan ikan milik Sawamura dipacking dalam plastik dan diberi oksigen sebelum diikat rapat. Saat Sawamura hendak membayar, Kazuya bertukar tatapan dengan pegawai muda itu, kemudian mendapat senyum bisnis darinya. "Anda tidak mau beli sekalian?"

Kazuya baru membuka mulut ketika Sawamura lebih dulu menjawab. "Tidak perlu bertanya padanya. Dia cuma laki-laki sinis yang tidak terampil bahkan untuk mengurus satu ekor ikan kecil. Jadi lupakan saja, dia tidak akan mau beli."

Pegawai itu berkedip-kedip, heran dan takjub, lalu ganti melirik Kazuya dan tersenyum keki. "Ah, begitu…"

"Yep." Sawamura angkat bahu dengan tak acuh, melirik sekilas pada Kazuya dan tersenyum setengah hati. "Kurasa menyuruhnya memelihara sesuatu sama saja dengan menyuruhnya menyiksa. Karena dia pasti akan membiarkan peliharaannya mati tak terawat."

"OI!" Kazuya reflek meninggikan suara. "Aku tidak seburuk itu."

"Oh, ayolah…" Sawamura meniru gaya bicara guru taman kanak-kanak dengan begitu sempurna. "Tidak ada salahnya mulai menyadari kekuranganmu dan mengakuinya. Kau memang payah dalam urusan merawat sesuatu."

Sudut mulut Kazuya berkedut. "Sawamura, berhentilah menghinaku."

"Lho, aku tidak menghina. Aku hanya bicara fakta."

"Itu fitnah."

"Fakta kok."

"Fitnah."

Kepala si pegawai toko mondar-mandir antara Kazuya dan Sawamura seakan sedang menyaksikan pertandingan tennis yang seru.

"Aku yakin itu fakta."

"Sawamura, diamlah."

"Alasanmu tidak mau mencoba memelihara pasti karena kau sudah punya gambaran ikanmu akan mati sia-sia bahkan kurang dari dua puluh empat jam, kan?"

"Astaga."

Sawamura memutar-mutar bola mata. "Iya, iya, sudah tidak apa-apa. Tidak perlu malu, aku paham satu-satunya peliharaan yang cocok untukmu mungkin hanya kacamatamu itu—"

"Tidak ada hubungannya dengan kacamata!"

Pegawai toko berdeham. "Anu, Tuan-tuan—"

"Oh, tentu saja ada! Karena dari yang kulihat," Sawamura mengamat-amati Kazuya dengan dahi berkerut. "Kau memang tidak punya keterampilan khusus untuk mengurus peliharaan yang bernyawa."

"Sawamura—"

"Oh, ikan-ikan… kalian harus bersyukur bahwa Miyuki Kazuya tak mengadopsi kalian. Atau besok pagi, kalian akan mengambang tak bernyawa."

"Aku beli! Akan kubuktikan bahwa semua tuduhanmu itu keliru!"

Kazuya membuang napas panjang mengingat kembali kejadian itu. Dia benar-benar masuk perangkap Sawamura. Di sampingnya, Sawamura masih berusaha meredakan tawa, mengusap setitik air mata di sudut matanya, lalu menarik napas panjang.

"Sudah puas?" Kazuya bertanya, sama sekali tidak berusaha menyembunyikan nada sarkas dalam suaranya.

Sawamura memandangnya geli, bibirnya masih berkedut. "Aku tidak percaya aku berhasil menghasutmu."

"Bangga, ya?"

"Lumayan." sahutnya sombong, nyengir lebar sekali. "Kau harus tahu bahwa pegawainya saja sampai berusaha keras agar tidak tertawa."

"Oh, lupakan. Kau bahkan tidak sadar kalau kita ditonton oleh sekurang-kurangnya empat pegawai lain."

Mata Sawamura berbinar. "Oh, ya? Wow! Pasti yang tadi itu seru sekali sampai menarik banyak perhatian."

Kazuya hampir bengong. "Dan itu membuatmu senang?"

"Well, toh kita bukan meributkan sesuatu yang serius. Kalau bisa menghibur orang lain, tidak masalah, kan?"

Kazuya menggeleng tak habis pikir. "Kadang aku benar-benar tidak mengerti kemurahan hatimu, Sawamura."

Sawamura memasang cengiran super lebar. "Yang jelas, aku berhasil membuatmu membeli ikan untuk dipelihara. Yah, meskipun hanya satu ekor." Sawamura melirik ke jok belakang, tempat dua kardus akuarium dan dua plastik berisi ikan miliknya dan milik Sawamura saling bersanding.

"Aku berniat memelihara, bukan berternak. Jadi tidak perlu beli lebih dari satu."

Sawamura menatap Kazuya dengan dahi berkerut, lalu menoleh lagi ke jok belakang dengan tatapan prihatin. "Dia pasti akan jadi ikan yang kesepian. Ku harap, dia mampu bertahan di kamarmu yang sepi."

Kazuya hanya memutar mata menanggapi ucapan dramatis Sawamura.

"Hei, kau sudah memikirkan namanya?"

Kazuya mengernyit tipis. "Nama?"

"Um! Lebih seru kalau peliharaan punya nama, kan? Itu salah satu bentuk kasih sayang dan kepedulian."

"Hanya orang bodoh yang menamai ikan, Sawamura."

"Hanya orang kejam yang mendiskriminasi peliharaan, Miyuki Kazuya. Setiap hewan peliharaan berhak diberi nama."

"Terserah." Karena hanya itu yang bisa Kazuya katakan. Sungguh telah kehabisan ide menghadapi otak reaktif Sawamura tentang hal-hal konyol.

Sawamura mulai memasang wajah berpikir. "Mm… aku akan memilih nama untuk ikan-ikanku…" ia mengetuk-ngetuk dagunya dengan telunjuk, tampak serius berpikir lalu melirik ke arah Kazuya dan tersenyum jail. "Aku tahu! Aku akan memanggilnya 'Senpai'!"

"Apa?"

"Yep, sudah diputuskan. Itu nama yang cocok untuk ikan. Yang satu akan kupanggil Senpai, yang satunya lagi akan kupanggil Kouhai."

"Oi!" Kazuya reflek menoleh. "Kau tidak bisa memanggil ikan kecil dengan sebutan senpai. Aku bahkan butuh berbulan-bulan sampai kau mau memanggiku senpai, bagaimana bisa seekor ikan remeh langsung kau panggil senpai kurang dari satu jam setelah kau beli? Pikirkan nama lain!"

"Tidak mau!" Sawamura menggeleng tegas. "Itu kan ikan-ikanku, aku bebas menamai mereka siapapun sesuai kemauanku. Pokoknya aku tetap akan memanggil mereka Senpai dan Kouhai."

"Kau terkesan menginjak-injak harga diriku."

Sawamura tersenyum senang. "Oh, aku sudah tidak sabar membawa Senpai masuk ke kamar dan menemaniku. Senpai yang manis… dia benar-benar menggemaskan."

Dua puluh satu tahun Miyuki Kazuya hidup, dan ia sama sekali tak pernah menyangka bahwa martabatnya akan dikalahkan telak oleh seekor ikan kecil nan rapuh.

Mereka nyaris mencapai apartemen Sawamura ketika Kazuya tiba-tiba memiliki gagasan lain. "Sawamura, kau keberatan kalau aku mengajakmu ke suatu tempat sebentar?"

"Ke mana?"

"Hanya di dekat sini, tidak jauh."

Dahi Sawamura berkerut, ia melirik ke jam tangannya sesaat lalu kembali menatap Kazuya dan tersenyum. "Oke."

Kazuya memacu mobilnya ke arah utara menuju suatu daerah perbukitan kecil di mana sepetak taman bermain terbentang kosong.

"Kau… tidak akan menyuruhku meluncur di perosotan, kan?" tanya Sawamura begitu keluar dari mobil.

Kazuya menyeringai padanya. "Harus kuakui itu terdengar menggiurkan. Tapi tidak, kita akan melakukan hal yang lebih santai malam ini." Ia berkata lalu mulai memanjat ke atap mobilnya. "Naiklah, Sawamura."

Sawamura melongo. "Atap mobil? Jangan bilang kau ketagihan main di atap mobil selepas piknik di jurang itu!"

Kazuya sudah duduk di atap dan memandang ke bawah sambil memutar mata. "Naik saja, ini kan awalnya idemu. Jadi jangan banyak protes."

Sawamura masih setengah melongo, tapi dia memanjat naik dan duduk di samping Kazuya tanpa protes. "Jadi, apa lagi?"

Kazuya hanya mendelikkan bahu lalu mulai berbaring. Kainya menjulur ke bawah, tumit membentur ke kaca mobil. Kepalanya mendongak ke arah langit malam. "Berbaringlah."

Wajah Sawamura berkerut dalam, tapi ia tetap mengikuti Kazuya. berbaring di sisinya, kepala mendongak ke langit, memandang hamparan kanvas malam kota Tokyo. "Sebenarnya maksudmu apa, sih?"

Kazuya menghela napas panjang. "Tidak ada." Ia menjawab ringkas, tersenyum geli sendiri. "Aku hanya suka berada di sini, di taman ini ketika malam hari."

"Seleramu benar-benar aneh, Miyuki-senpai." Sawamura berkomentar sambil mengerutkan alisnya. "Taman bermain di malam hari itu kan agak… creepy."

Kazuya tertawa samar. "Sepertinya dulu aku selalu tertarik pada hal-hal suram."

"Jadi kau sering ke sini? Naik ke atap mobilomu dan berbaring memandangi langit?"

Kazuya menggeleng. "Biasanya aku hanya duduk di bangku atau di ayunan, diam selama beberapa waktu sambil mendengarkan musik." Ia menoleh ke arah Sawamura untuk menemukan matanya yang menyala dalam gelap. "Tapi untuk berbaring di atap mobil, itu hal baru."

Sawamura berkedip lugu. "Kenapa?"

"Karena kau suka bintang." Sahut Kazuya lugas. "Aku ingat saat kita di Takayama kau kelihatan sangat suka memandang bintang."

"Jadi kau melakukan ini untukku?"

Kazuya hampir bisa merasakan sesuatu memgepak dalam perutnya. "Nah, aku lebih suka mengatakannya sebagai simbiosis. Kau bisa memandang bintang dari tempat ini, tapi penglihatanku tidak sebaik dirimu. Jadi, kau mungkin mau berbaik hati menunjukkan beberapa bintang yang kau lihat padaku?"

Sawamura menyipit menatapnya. "Jadi kau mau memanfaatkan mataku?"

"Kurang lebih seperti itu."

Sawamura mendengus, tapi tidak mendebat. Sebaliknya, ia maulai menatap ke arah langit dan mengamati dengan seksama. Kazuya praktis tak melihat apapun selain hamparan langit malam. Polusi cahaya dan ketumpulan penglihatannya telah memblokade percik-percik cahaya bintang dari mata Kazuya.

"Di sana!" Sawamura tiba-tiba berseru. Tangannya menunjuk ke atu titik di angkasa. "Ada tiga bintang yang berbaris sejajar di sebelah sana, kau lihat?"

"Hmm… tidak."

"Well, kalau begitu… di sana juga ada!" Sawamura menunjuk titik lain. "Itu lebih terang dan beberapa bintang tampak sangat berdekatan satu sama lain, kau lihat?"

Kazuya menyipitkan mata ke arah yang ditunjuk Sawamura. "Aku tidak melihat apapun."

"Ya ampun, matamu benar-benar parah."

"Hei, yang barusan agak menyinggung, tahu."

"Ups, maaf. Mm… kau yang di sana, kau bisa lihat?"

"Cuma langit malam."

"Miyuki-senpai, aku mulai kasihan padamu."

"Oh, aku lihat satu. Bukankah yang di sana itu bintang? Itu bergerak. Apa itu bintang jatuh?"

"Astaga! Itu cuma pesawat!"

"Ouch."

"Yah, baiklah… karena Sawamura Eijun adalah anak yang baik, aku akan menjelaskan satu demi satu tentang apa yang kulihat padamu. Aku juga akan memetakannya untukmu."

Kazuya tidak siap ketika Sawamura tiba-tiba meraih tangannya, menggenggamnya lalu membawanya naik untuk menunjuk ke langit.

"Di sebelah sana, ada beberapa bintang yang tersebar…"

Kazuya menelan ludah, menjadi terlalu sulit untuk fokus pada apapun. Cara Sawamura menggenggam dan menuntun tangannya telah membawa semacam hawa panas dan sengatan listrik yang belum bisa ia putuskan masuk kategori menyenangkan ataukah berbahaya. Sawamura terus berceloteh, suaranya nyaring dan jernih, matanya berbinar dan menyala-nyala ketika membawa tangan mereka bergerak dari satu titik ke titik lainnya.

"…bukanlah begitu?"

Kazuya menahan napas saat Sawamura menoleh padanya dan memberinya senyuman lebar. Gigi-giginya berbaris rapih di balik bibirnya, matanya menyipit dalam senyuman yang tulus dan inosen. Kazuya hampir merasa bersalah karena tak menangkap apapun selain dua kata terakhir Sawamura yang bernada introgatif.

"Um, yeah?"

Lengkungan bibir Sawamura turun menjadi bentuk cemberut yang lucu. "Kau tidak mendengarkan aku?"

Kazuya meringis. "Maaf," aku agak terpesona denganmu. "Bisa kau ulangi?"

Sawamura menghela napas dengan sabar. Dia bahkan tampak lucu saat bertingkah seperti orang dewasa. "Aku bilang, bintang-bintang itu menakjubkan. Mereka terang dan cantik, bersinar di antara kegelapan dan memikat setiap orang yang melihatnya." Sawamura berujar dengan ceria, senyum mengembang di wajahnya menjadi lebih lebar, dan matanya memantulkan semua cahaya yang ada, menjadikannya kelihatan jauh lebih berkilau. "Rasanya seperti keajaiban, bukanlah begitu?"

Kazuya berhasil mengangguk padanya, yang membuat Sawamura tertawa riang lalu kembali menatap ke arah langit. "Benar-benar seperti keajaiban." Kazuya bergumam sambil mengatur napasnya. "Cantik, bersinar di antara kegelapan, dan memikat. Sangat memikat…"

Itu pujian yang jujur, tapi Kazuya bahkan ragu apakah kalimat itu diaksudkan untuk bintang-bintang di langit, ataukah Sawamura Ejun yang sedang berbaring di sisinya.

Kazuya memandangi seekor ikan kecil yang berenang-renang dalam akuarium bundar di atas meja samping tempat tidurnya. Lain dengan Sawamura yang memilih ikan mas ekor kipas dengan corak merah-putih, Kazuya memilih ikan mas jenis commen dengan warna kuning terang nyaris keemasan.

Ikan itu tampak agak konyol karena bersanding di mejanya bersama setumpuk buku tentang mesin pesawat terbang. Belum lagi warnanya yang menyilaukan nyaris terasa seperti neon khusus. Kazuya mungkin tak butuh lagi lampu tidur setelah ini.

"Jadi, aku baru saja dihasut oleh Sawamura, dan tanpa sadar justru memilih ikan yang mirip dengannya." Kazuya bermonog memandang ikan kecil itu. "Yah, kau memang mirip Sawamura. Terlalu terang dan mencolok. Terlalu hidup di tengah-tengah dunia yang muram."

Bodoh rasanya berbincang-bincang dengan ikan sebelum tidur, tapi mungkin Sawamura malah akan bicara pada ikan-ikannya sepanjang waktu. Barangkali Sawamura juga akan bergossip soal Kazuya bersama ikan-ikannya. Mengeluh soal dosen-dosennya, atau membicarakan kesehariannya seakan ikan-ikan itu akan peduli. Kazuya meringis, sedikit merasa ngeri karena ia bisa membayangkan dengan jelas apa yang dilakukan Sawamura. Apa hubungan mereka benar-benar sudah sedekat itu?

Memilih untuk tidak memikirkannya lebih jauh, Kazuya menghela napas singkat dan mematikan lampu kamarnya. Melepas kacamata, dan bersiap untuk tidur. Sesuai dugaannya, lampu dari akuarium benar-benar membuatnya tak butuh lampu tidur lagi. menciptakan bayang-bayang air dalam cahaya kebiruan yang menari-nari di mejanya, bahkan juga menyentuh sebagian kasurnya. Sesaat sebelum memasang penutup mata, ponselnya bergetar, pesan LINE dari Sawamura.

Sawamura mengirim sebuah foto. Ikan-ikannya berenang dalam akuarium yang serupa dengan milik Kazuya. Hanya saja akuarium Sawamura didesain dengan agak terlalu ramai hingga nyaris terasa seperti hutan banjir. Akuarium itu berada di atas meja, tepat di sebelahnya ada sebuah pot bunga berukuran kecil yang ditanami lavender.

'Mereka kelihatan senang dengan rumah barunya!' [22.45]
'Mereka terus berenang-renang dengan girang!' [22.45]

'Di mataku, mereka kelihatan seperti ingin protes karena akuariumnya terlalu ramai.' [Read. 22.46]
' Dan memangnya apa lagi yang kau harapkan dari ikan selain berenang?' [Read. 22.46]
'Salto atau senam lantai?' [Read. 22.47]

'(—,,—)' [22.47]
'Dasar manusia sinis!' [22.48]
'Jangan samakan dirimu dengan ikan-ikanku. Mereka tidak suka mengeluh sepertimu, tau!' [22.48]
'Mereka ikan-ikan rendah hati, ceria, dan selalu berpikiran positif!' [22.48]

'Kalau memang ada ikan yang seperti itu,' [Read. 22.49]
'Aku akan lari karena itu sangat menakutkan.' [Read. 22.49]

'ASDFGHJKLZXCVBNM!' [22.50]
'KENAPA KAU SANGAT MENYEBALKAN?!' [22.50]
'Coba kirimkan saja foto ikanmu, biar kulihat seperti apa kabarnya saat ini.' [22.51]
'Hanya untuk memastikan dia belum mati.' [22.51]

Kazuya mendengus dan tertawa geli, kembali bangkit dari posisi berbaringnya dan mengarahkan kamera ponsel ke arah akuarium. Memotret satu kali dan langsung mengirimnya pada Sawamura.

'Oh, ikan malang…' [22.53]
'
Dia terlihat sangat kesepian dan merana…' [22.53]
'Kau seharusnya memang beli satu ekor lagi agar dia punya teman.' [22.54]

'Ikanku tidak manja dan melankolis begitu.' [Read. 22.55]
'Dia mandiri, independen, tidak butuh teman.' [Read. 22.55]

'Kau sangat kejam, Miyuki Kazuya.' [22.56]
'Setidaknya beri dia nama.' [22.56]
'Mm… bagaimana kalau Miko?' [22.56]

'Terdengar seperti nama anjing.' [Read. 22.57]

'Cih! —_— ' [22.57]
'Ya sudah! Selamat malam, Miyuki Kazuya yang sinis dan tidak berprike-ikan-an!' [22.58]
'Senpai dan Kouhai juga mengucapkan selamat malam untukmu.' [22.58]

Kazuya tertawa geli membaca pesan itu, mengirimi Sawamura stciker bergambar wajah tidur kemudian meletakkan kembali ponselnya di nakas dan berbaring.

Sesaat sebelum menutup mata, Kazuya meyempatkan diri menoleh ke arah akuariumnya. Ikan itu masih berenang di dalam sana, tampak lincah dalam warna kuning keemasan. Mungkin memberinya nama memang tidak terlalu buruk?

"Selamat malam, Ei-chan."

"Kulihat, kau mulai benar-benar punya jadwal kencan rutin dengan Sawamura."

"Kami tidak pergi kencan, Kuramochi. Aku juga sering pergi denganmu, apa itu bisa disebut kencan?"

Kuramochi memandangnya jijik, bahkan agak bergeser menjauh. "Kalau saja selama pergi denganku kau terus tersenyum dan berseri-seri seperti saat kau bersama Sawamura," dia bergidik dan kelihatan ngeri. "Mengerikan, Miyuki. Aku tidak mau membayangkannya."

Kazuya justru menyeringai. "Aw, Kuramochi-kun… kau baru saja mematahkan hatiku."

"Menjijikkan."

Kazuya tertawa renyah. "Aku hanya berusaha akur dengannya. Kau sendiri dulu sering mengkritik sikapku yang buruk padanya, sekarang aku mencoba untuk bersikap baik dan akur. Jadi jangan lagi protes, oke?"

Kuramochi memandanginya penuh kesangsian.

"Lagi pula," Kazuya menatap menerawang sejenak dan tersenyum lagi. "Kita sama-sama tahu bahwa tak satupun dari kita berdua berepengalaman dalam urusan berteman dengan orang lain sejak masa sekolah dulu. Dan Sawamura adalah anak baik yang rela berteman bahkan dengan orang sepertiku, sepertimu… So, kenapa tidak?"

Kuramochi memandanginya selama beberapa saat lalu angkat bahu. Kelihatannya tak ingin memperpanjang pembicaraan lagi. Mereka lanjut berjalan dalam diam, sesekali membahas tugas akhir dan menyanyakan perkembangan satu sama lain. Sampai Kuramochi tiba-tiba berhenti, dan sedikit mendongak, Kazuya mengikutinya lalu mengernyit tipis.

"Chris?"

"Miyuki," Pemuda bermata amber itu menyahut ringkas lalu berpaling sejenak dari Kazuya. "Kuramochi." Ia menyapa Kuramochi juga, tersenyum simpul.

"Oh, hai." Kuramochi menyahut nyaris terlalu keki, dan Kazuya tidak akan menyalahkannya atas hal itu karena, "Agak aneh melihatmu di sini."

Chris adalah blasteran Amerika-Jepang, tapi dia jelas memiliki senyum khas gantleman Inggris. "Sebenarnya aku mencari Miyuki."

Alis Kazuya terangkat sebelah. "Mencariku?" Ulangnya, agak heran. "Ada yang bisa kubantu?"

Chris menggeleng tipis, senyumnya tak luntur atau juga berganti menjadi seringai. Sejenak, Kazuya merasakan sebersit iri hati akan betapa anggun dan bijaksana pembawaan Chris. "Aku ingin mengajakmu bicara."

Insting tajam Kuramochi memilih waktu yang tepat untuk muncul. Pemuda itu berdeham kecil untuk mengambil alih perhatian, lalu menatap Kazuya dan Chris bergantian seraya tersenyum samar.

"Sepertinya aku harus menyingkir. Zono barusaja kalah taruhan dan aku bermaksud ikut merayakannya." Senyumnya menajam menjadi seringai selagi ia menepuk dan meremas bahu kiri Kazuya singkat. "Jadi, Tuan-tuan, nikmati waktu kalian. Bye!"

Kazuya menatap kepergian Kuramochi dengan datar sebelum kembali berpaling pada Chris dan mengangkat satu alisnya lagi. "So? What you wanna talk about?"

"Mungkin sebaiknya kita cari tempat dulu." Sahut Chris kalem, menyadarkan Kazuya bahwa saat ini mereka sejatinya hanya berdiri di koridor ruang kelas yang cukup ramai mahasiswa. Sama sekali bukan tempat yang nyaman untuk bercakap-cakap.

"Oke." Kazuya menayahut ringkas, dan Chris memandu langkah mereka keluar gedung kampus. Terus menyusuri halaman, sampai berakhir di salah satu bangku taman kampus setelah sebelumnya menyempatkan diri untuk membeli minuman di vending machine.

"Apapun itu yang ingin kau bicarakan," Kazuya berkata begitu mereka duduk, mencoba menepiskan ingatan bahwa ini tempat yang sama saat beberapa waktu yang lalu Sawamura mencium pipinya. "Sepertiya lumayan penting, ya? Kau sampai menemuiku langsung."

Senyum gentleman Inggris kembali menghias bibir Chris, pemuda blasteran itu mengangguk sejenak lalu membuka kaleng sodanya dan meneguk satu kali sebelum kembali bersitatap dengan Kazuya. "Ya, bagiku ini memang penting. Sangat penting." Chris menekan kata-katanya begitu lugas dan percaya diri. "Aku akan menyatakan perasaanku pada Sawamura."

Cengkeraman Kazuya pada kaleng kopinya mengerat. Selama satu atau dua detik ia yakin tubuhnya sama sekali tidak bereaksi. Ada pedang es menempel di tulang punggungnya, menyengat jauh ke dalam hingga mencapai rusuknya. Lalu dengan mengumpulkan semua tenaga dan menekan mundur perasaan negatif yang tiba-tiba berkecamuk di dadanya, Kazuya balas menatap Chris. Pura-pura memasang wajah ingin tahu. "Perasaanmu?"

Chris mengangguk dengan pasti, "Kurasa kau sendiri sudah bisa menebak bahwa aku menyukai Sawamura, dalam artian romantis."

Kazuya bisa merasakan gigi-gigi gerahamnya saling menekan kuat. Tapi ia berhasil menggerling pada Chris dan menyeringai. "Oh, ya? Setahuku kau suka perempuan."

"Setahuku juga begitu." Sahut Chris ramah, tanpa bantahan. "Tapi Sawamura Eijun," Chris mengambil jeda begitu mengucapkan nama itu, dan Kazuya sempat berfirasat Chris sengaja melakukannya untuk bisa mengamati lebih luas mikro ekspresi di wajah Kazuya begitu nama itu dilafalkan. "Sepertinya dia datang sebagai sebuah pengecualian. Anak itu, seolah muncul begitu saja dari dasar laut, tercipta dari badai dan ombak lalu menyihir semua orang dengan keributan keras kepala juga semangat api liar di kedua matanya." Chris menggelengkan kepala, senyumnya telah menyebar menjadi garis-garis yang lebih dalam, lebih tulus, lebih hangat dan penuh kasih sayang. "Hanya butuh kurang dari dua bulan sampai aku menyadari bahwa aku benar-benar telah jatuh hati padanya."

Kazuya merasakan kepahitan pekat menempel di kerongkonnya bahkan sebelum kaleng kopinya dibuka. Sudut kecil di dalam otaknya telah berseru bahwa inilah saat yang paling dinanti-nantikan selama ini. Tujuan awal mengapa Kazuya tertarik pada Sawamura adalah demi mendengar hal ini langsung dari Chris. Sekarang, Chris sudah terang-terangan mengakui perasaannya. Permainan ini hampir berakhir dan semestinya Kazuya keluar sebagai pemenang dengan bangga. Aneh, kenapa dia sama sekali tidak merasa senang?

"Miyuki?"

Kazuya mengerjap pada Chris, lalu buru-buru memasang senyum menantang. "Wah, mengejutkan sekali mendengarmu mengakui hal seperti ini di depanku."

"Kupikir kau pantas mendengarnya. Bagaimanapun, kau adalah belahan jiwanya. Aku merasa perlu untuk memberitahumu sebagai bentuk sopan santun alami."

Kazuya terkekeh geli. "Oh, Chris... aku sangat tersanjung."

Chris balas tersenyum simpul. "Saat pertama kali tahu bahwa kau adalah belahan jiwa Sawamura, aku benar-benar nyaris menyerah. Karena aku kenal kau, Miyuki. Aku cukup paham bahwa kau tidak pernah suka apa yang menjadi milikmu, favoritmu, disentuh oleh orang lain."

Kazuya memainkan alisnya, menyeringai pada Chris. "Lalu?"

Chris mendengus kecil, menggeleng tak habis pikir. "Lalu kalian berdua justru kompak menyuarakan bahwa kalian tidak cocok satu sama lain, yang jika kuterjemahkan secara halus, kalian ingin menolak bond." Chris mengambil jeda untuk menemui mata Kazuya lagi. "Saat harapanku mulai bangkit, aku justru melihatmu menciumnya di pesta."

Selama satu detik yang aneh, Kazuya merasakan kegembiraan membanjiri dadanya. Benar, Chris melihatnya malam itu. Chris sudah meihat bagaimana Kazuya mencium Sawamura di depan matanya. Kemudian kegembiraan itu lenyap secepat ia datang... Sawamura berkata ciuman itu sama sekali tidak berarti apa-apa.

"Well," Kazuya memaksa untuk tersenyum seculas yang ia mampu. "Tentunya kau tahu ciuman seperti itu bukan hal baru untukku ketika bergabung dalam sebuah pesta."

"Yeah," Chris tersenyum sepakat lalu menghela napas panjang. "Saat aku lihat bahwa hubungan kalian tidak kunjung menunjukkan tanda-tanda naik ke tahap bonding ataupun mating, harus diakui aku memang bahagia."

Kazuya merasakan rahangnya semakin kaku dari waktu ke waktu. Tangannya makin erat menggenggam kaleng kopi yang utuh, menekan emosi yang meluap-luap dalam tubuhnya. Kini pedang es itu nyaris menyobek selaput jantungnya.

"Saat aku melihatnya menangis karena kau, jujur saja satu-satunya yang ingin kulakukan adalah menghajarmu habis-habisan." Chris tertawa samar, sedangkan Kazuya mengingat kembali peristiwa itu dengan getir. "Aku ingin menjauhkannya darimu. Menyembunyikannya, kalau bisa. Kedengarannya agak sinting, ya? Bagaimana egoku berteriak melawan takdir untuk memisahkan orang yang kusayangi dari belahan jiwanya sendiri."

Kazuya tertawa, ia benar-benar berharap suara tawanya tidak terdengar terlalu kering. "Nah, aku sudah banyak dengar soal manusia yang jadi agak bodoh ketika jatuh cinta. Anggap saja kau sedang mengalaminya, eh?"

Chris nyengir dan angkat bahu. "Intinya, Miyuki." Suaranya kembali serius, tatapan mata tangguh tak terbantahkan. "Aku menyukai Sawamura dan aku berniat memperjuangkan perasaanku. Aku memberitahumu karena aku ingin bersaing secara sehat denganmu. Aku tidak akan lagi sembunyi-sembunyi, akan kubuat Sawamura mengerti seperti apa aku memandangnya. Mulai sekarang, aku tak akan ragu-ragu lagi karena seseorang seperti Sawamura Eijun, sangat pantas untuk diperjuangkan."

Kata-kata Chris menikam Kazuya dalam tiga emosi yang berbeda. Ia menelan ludah, mengabaikan rasa perih kaku di bibirnya ketika menyeringai pada Chris. "Sungguh pidato yang romantis. Aku mulai curiga kau punya garis keturunan Perancis."

Chris balas tersenyum, matanya teduh tapi tak mampu meringankan kekeringan di paru-paru Kazuya. "Jadi bisakah kita bersaing secara sehat mulai sekarang?"

Kazuya tertawa walau dadanya bertambah sesak. "Oh, man! Chris, kau mungkin salah paham. Aku sama sekali tidak berniat untuk jadi pesaingmu. Aku sudah menolak bond itu sejak awal, mana mungkin seorang Miyuki Kazuya menjilat ludahnya sendiri?" Lalu udara menjadi berat dan pahit ketika Kazuya menelan ludah sesaat sebelum melanjutkan. "Aku tidak menginginkan Sawamura Eijun."

Dahi Chris berkerut dalam, tampak sangsi. "Kau sadar apa yang kau katakan, Miyuki?"

"Seratus persen."

Chris menggelengkan kepala perlahan dengan mata masih menatap Kazuya lekat. "Tidak." Ia berkata, membantah, mungkin juga menyalahkan. "Aku bisa lihat reaksimu saat di pesta ulang tahun Kuramochi. Kau menjadi protektif pada Sawamura, tidakkah itu berarti—"

"Tidak." Potong Kazuya tajam. "Itu sama sekali tidak berarti apa-apa. Seperti yang kau bilang sebelumnya, Chris, aku memang sudah menduga kau punya perasaan khusus padanya. Jadi aku hanya menggodamu, aku ingin melihatmu sedikit cemburu."

Rahang Chris terkatup kaku, ekspresinya mengeras menjadi bentuk yang jauh dari keramahan. "Kau keterlaluan, Miyuki." Suaranya seasam racun, tapi Kazuya justru terkekeh mendengarnya. "Apa kau pernah berpikir bahwa Sawamura mungkin saja—"

"Tidak." Tandas Kazuya lagi. Tenggorokannya makin pahit, tapi ia tidak peduli. "Tidak sama sekali. Sawamura tidak pernah tahan denganku. Kalaupun selama ini kau lihat kami sering hang out dan semacamnya, itu aku yang mengajak, dan Sawamura hanya terlalu baik untuk menolak."

Chris menatapnya tanpa kata. Seakan-akan pemuda itu benar-benar tak tahu lagi apa yang mesti diutarakan. Atau mungkin Chris hanya sedang mempertimbangkan soal seberapa harus ia meninju Kazuya.

"Nah, kurasa semuanya sudah jelas?" Kazuya berdiri dari bangku lalu meletakkan satu tangannya di bahu Chris, tersenyum miring. "Good luck, Chris." Lalu tanpa menunggu jawaban, ia melangkah pergi begitu saja. Membawa kakinya yang mendadak berat dan rasa sesak menghimpit di dadanya.

Selesai sudah.

Napas Kazuya tersendat, tapi ia terus berjalan tanpa sekalipun berhenti atau menoleh ke belakang.

Selesai sudah.

Kenapa ini begitu menyesakkan?

Eijun menggerit memegang dadanya, seketika berhenti berjalan dan menundukkan kepala. Tangan menekan pada bagian dada, di atas jantungnya yang mendadak mengalami sakit tak wajar.

"Sawamura?" Suara Shinji. "Hei, kau kenapa?"

Eijun menelan ludah susah payah, berusaha bernapas. Sesak. Kenapa dadanya begitu sesak? Ia memejamkan mata sesaat lalu mendongak pada Shinji. "Aku tidak tahu, dadaku sakit."

Shinji melebarkan mata, meremas sebelah bahunya. "Ayo, aku antar ke ruang kesehatan."

Eijun menggeleng, menarik napas perlahan-lahan lalu mulai kembali berdiri tegak. Sesak itu masih ada, tapi ia berhasil menahan. "Tidak perlu." Ia berhasil menjawab. "Kurasa bukan masalah serius."

"Kau yakin?"

Eijun mengagguk, tersenyum. "Yep, chill out!"

Shinji tampak tak memercayai senyumnya. "Apa ini ada hubungannya dengan Miyuki-senpai?"

Napas Eijun bergetar tidak menyenangkan ketika nama itu disebut. Mungkinkah Miyuki... Tidak. Eijun menepis tegas dengan segera. Ini lain. Ini bukan rasa sakit menikam seperti saat itu. Sama sekali bukan. Maka ia menggeleng sekali lagi pada Shinji. "Kurasa tidak. Miyuki-senpai tidak akan melakukan hal-hal diluar kesepakatan kami. Setidaknya tidak saat kami sama-sama di Tokyo, apalagi di kampus. Yah, kecuali dia tiba-tiba tersandung sarkasmenya sendiri lalu menjatuhkan otaknya, dan diserang paksa oleh gadis-gadis gila."

Shinji mengernyit, "Yeah, baiklah. Karena kau bicara aneh, berarti kau baik-baik saja." Ia mendelikkan bahu lalu tangannya lepas dari bahu Eijun.

Eijun memberi cengiran lebar. Telapak tangan yang menempel di dadanya kini memberi gerak mengusap singkat untuk menetralisir jejak menyesakkan yang tersisa selagi ia mengambil napas dalam-dalam. Shinji mengangkat dagu ke depan sebagai isyarat bahwa mereka masih harus berjalan untuk sampai ke kelas selanjutnya. Eijun mulai berjalan satu langkah di belakang Shinji sambil diam-diam mencari nama Miyuki Kazuya di ponselnya dan mengetik pesan singkat.

'Kau baik-baik saja? Kau tidak melakukan sesuatu yang bodoh kan?' [14.28]

Sampai dua jam berlalu, Miyuki sama sekali belum membaca pesannya.


to be countinued


a/n: sudah lebih dari 100k words, selamat dan terima kasih untuk kalian yang masih bertahan membaca cerita ini, yeay!

Bagi yang bingung kenapa Kazuya kesannya complicated dan nyebelin, dalam cerita ini saya emang bikin karakter dia itu keras kepala tingkat akut. Di kehidupan sosial, ada kok orang-orang kayak dia, yang nggak bisa mengingkari kata-katanya sendiri walaupun itu berarti bakal menyakiti atau berbalik menyerangnya. Istilahnya mungkin egonya terlalu tinggi atau kaku gitu, hehe. Kazuya di sini menganggap kalau dia sampai mengingkari kata-katanya maka itu juga berpengaruh sama harga dirinya… pokoknya gitulah.

Well… review please? :)