Ada yang aneh.

Pemikiran itu terus-menerus muncul mengisi benak dan perasaan Eijun hari ini. Ada yang aneh. Tapi ia bahkan tidak tahu apa persisnya.

'Tenang, bertindak bodoh bukan keahlianku.' [18.10]

Entah sudah berapa puluh kali Eijun mengulang membaca pesan itu sejak kemarin. Tapi hatinya tetap merasa ganjil. Ada yang aneh. Ia sungguh merasakannya, tapi apa? Selain respon yang cukup lama, Miyuki masih membalas seperti biasa. Jadi kenapa hal ini mengganggu Eijun?

Hampir-hampir seolah Eijun bisa merasakan bahwa Miyuki mengalami sesuatu yang tidak menyenangkan. Firasat konyol dan bodoh, tentu saja. Mana mungkin sesuatu menimpa Miyuki dan Eijun menjadi orang yang terkena dampaknya? Jelas-jelas Miyuki sendiri mengatakan tak ada masalah. Bahkan tadi pagi Miyuki masih membalas ucapan selamat pagi darinya seperti biasa, jadi seharusnya firasat yang Eijun alami ini tidak berguna sama sekali, kan?

Menarik napas panjang, Eijun mencoba untuk emberi sugesti positif ke seluruh pikiran dan tubuhnya. Sekarang jelas bukan waktunya memikirkan hal-hal yang tidak konkret, ia masih punya banyak pekerjaan yang mesti diselesaikan sebelum hari Senin.

"Astaga! Apa dia Dewa Yunani?"

Eijun mengerjap cepat dan mendongak akibat pekikan nyaring salah satu teman sekelasnya. Menoleh ke sana ke mari dan menyadari bahwa suasana kelas mulai ribut. Eijun melirik jam tangannya, masih ada sekitar sepuluh menit sampai kelas dimulai, apa sih yang mereka ributkan?

"Tampan sekali orang itu."

"Aku belum pernah melihatnya. Apa dia fakultas kita?"

Segera saja bisik-bisik memenuhi seisi ruangan. Mengernyit malas, Eijun memaksa kepalanya menoleh ke arah pintu, kemudian terpenjarat, nyaris memekik sama nyaringnya dengan gadis-gadis di kelasnya.

Takigawa Chris Yuu, berdiri di depan pintu, tersenyum dan melambai saat mata mereka bertemu. Chris menguncir rambutnya, tipe kunciran seperti yang pernah Eijun sematkan di rambut coklatnya. Chris memang cukup atraktif, tapi kini dengan gaya rambut seperti itu yang dikombinasi kaus beraksen v-neck berlapis blazer abu-abu dan celana linen pas di kaki, Chris tampak seperti salah satu dewa Yunani yang menyamar.

Eijun menggelengkan kepala untuk mengusir bengong di wajahnya. Ia menatap Chris dan menunjuk pada dirinya sendiri dengan sedikit malu. Memberi isyarat singkat bermakna senpai-mencari-aku? dibalas oleh senyum dan anggukan oleh Chris.

Eijun lekas berdiri, membiarkan barang-barangnya tetap di atas meja sementara langkahnya mendekat pada Chris. Mungkin sebaiknya ia membawa Chris ke tempat lain jika memang ingin bicara panjang, karena membiarkan blasteran itu berdiri di depan ruang kelas hanya akan mendatangkan kehebohan lainnya.

"Chris-senpai perlu sesuatu?" Eijun mengajukan pertanyaan lebih dulu begitu berdiri di hadapan Chris. Sebelumnya ia bermaksud untuk menarik Chris ke tempat lain, tetapi saat dilihat dari jarak dekat, penampilan Chris benar-benar sukses mendiktraksinya. "Kunciran Jon Snow…"

Chris berkedip, lantas Eijun tersadar bahwa ia barusaja kelepasan menyuarakan pemikirannya. Tanggapan Chris selanjutnya adalah senyuman yang hampir keluar sebagai tawa. "Yeah, aku ada sedikit praktik tadi dan poniku agak menganggu jadi kuputuskan untuk mengikatnya. Apa aku kelihatan konyol?"

Eijun menggeleng cepat-cepat. "Tidak, bukan begitu maksudku. Hanya saja aku otomatis jadi mengingat saat memasak di rumah Chris-senpai."

Senyum dan tatapan mata Chris menghangat seakan barusaja mengenang sesuatu yang berharga. "Aku senang kau masih mengingatnya."

Eijun mengusap tengkuknya. "Umm… Senpai mau bicara di tempat lain? Tapi maaf aku tidak bisa terlalu lama, kelasku akan segera dimulai."

Chris menggeleng, masih tersenyum. "Tidak perlu, aku hanya sebentar." Ia lalu mengulurkan tangan pada Eijun. "Aku hanya datang untuk memberimu ini."

Eijun mengernyit. "Pudding?"

"Yep." Sahut Chris, senyumnya lugas. "Aku kebetulan melihatnya di vending machinne."

Eijun berkedip-kedip memandangi kudapan manis di tangannya dan Chris secara bergantian. Tidak benar-benar tahu bagaimana bagusnya harus mersepon.

"Kuharap kau tidak keberatan?"

"Eh? Oh, tidak! Tidak sama sekali. Aku memang belum sempat mencobanya. Tapi tidak kusangka Chris-senpai akan mebelikannya untukku."

"Aku hanya kebetulan melihatnya dan langsung memikirkanmu. Jadi kurasa tidak ada salahnya membeli." Ia berkata begitu ringkas dan tanpa beban. Sedangkan dua kata terus bergema dalam kepala Eijun tanpa henti; langsung memikirkanmu.

"Well, kalau begitu selamat menikmati." Chris berujar, melayangkan satu tangan ke rambut Eijun dan mengacaknya lembut. "Jangan sampai ketiduran di kelas, Sawamura. Jaa ne."

Sebelum Eijun sempat memikirkan kata-kata yang seimbang sebagai jawaban, Chris sudah berlalu pergi. Menyisakan koridor yang hampa dan kemudian beberapa pekik histeris di balik punggung Eijun. Eijun berbalik arah sambil berusaha tampil normal dan berjalan ke mejanya. Kemudian dua gadis merapat ke tempat duduknya dengan wajah berseri-seri.

"Sawamura-kun, yang tadi itu kekasihmu?"

Eijun tersedak.

"Ya ampun, kenapa kau tidak pernah cerita mempunyai pacar sekeren itu?"

"Dia cuma seniorku di taekwondo!"

Selama satu menit dua orang gadis itu hanya memandanginya dengan wajah kosong dan senyap. Kemudian wajah mereka dihiasi ekspresi yang lebih beragam.

"Oh, yang benar saja! Kau benar-benar gila kalau sampai tidak sadar dia punya perasaan khusus untukmu!"

"Kalian salah paham—"

"Sawamura-kun, kami tidak buta. Terlihat jelas dari cara bagaimana dia memandangmu. Dia menyukaimu, bahkan mungkin jatuh cinta padamu."

"Tapi—"

"Percayalah, tidak ada yang mampu mengalahkan ketajaman intuisi wanita."

Kali ini Eijun tidak mendebat karena dosen terlebih dahulu masuk dan kelasnya segera dimulai. Sepanjang kelas berlangsung pikiran Eijun terpecah belah ke berbagai cabang yang berbeda. Pudding di atas mejanya, intuisi wanita, Takigawa Chris Yuu, serta pesan dari Miyuki Kazuya yang terus melayang-layang dalam benaknya.

Kazuya nyaris menyentuh tombol enter dan mengirimkan chat ajakan makan di salah satu restoran dimsum kepada Sawamura ketika otaknya mengingat percakapan dengan Chris kemarin. Hatinya menjadi berat, dengan menekan semua gejolak tak masuk akal di dalam dadanya, Kazuya menghapus satu demi satu huruf dengan tak sabar dan menutup kembali ruang chat dengan Sawamura.

Benar, aku tidak bisa sering-sering mengubunginya sekarang.

"Apa yang Chris bicarakan denganmu kemarin?"

Kazuya menoleh pada Kuramochi yang kini menatapnya dengan alis terangkat samar. "Sebuah pengakuan."

Alis Kuramochi terangkat lebih tinggi.

Kazuya memasang senyum tertarik, memukul mentah-mentah perasaan tak nyaman di dadanya. "Akhirnya dia benar-benar mengakui perasaannya kepada Sawamura di depanku. Dia bahkan meminta izinku dan mengajukan persaingan secara sehat." Kazuya mendengus dan tertawa geli. "Benar-benar gantleman sejati, ya?"

Kuramochi tampak sama sekali tidak terhibur. "Apa jawabanmu?"

"Apa yang kau harapkan?" Tanya Kazuya retorik. "Tentu saja aku berkata bahwa itu tidak perlu. Bersaing dengannya demi Sawamura? Jangan konyol."

"Lantas apa? Kau memberinya dukungan? Menyemangatinya untuk mengejar cinta Sawamura, begitu?"

Kazuya memasang cengiran lebar yang dibalas oleh dengusan tajam Kuramochi. "Kau benar-benar konyol, Miyuki."

"Aku tidak konyol, Kuramochi. Game over, okay? Rencana awalku memang seperti ini, ikut campur sementara sampai Chris Yang Menawan itu mengakui bahwa dia jatuh cinta kepada seorang laki-laki, dan selesai. Sisanya aku hanya perlu memastikan mereka tidak berkencan atau bermesraan di dekatku."

Kuramochi memandanginya lekat-lekat. Sulit untuk menebak apa yang dia pikirkan saat bibirnya hanya membentuk garis datar yang kaku seperti itu. "Apa keuntungan yang kau dapat?"

"Mengetahui kelemahan Chris?" Sahut Kazuya sambil angkat bahu tak acuh. "Untuk golongan seperti kami sesuatu seperti homoseksualitas atau orientasi seksual sedikit-banyak akan berpengaruh bagi karir dan nama baik keluarga. Chris yang terang-terangan mengakui hal itu di depanku, secara tidak langsung berarti telah membuka salah satu kartunya untukku. Aku bisa memanfaatkannya di masa yang akan datang, itu seperti tiket untuk mendapat kesetiaan dari keluarga Takigawa."

Kuramochi tediam cukup lama setelahnya sampai akhirnya merespon dengan gelengan kepala. "Aku benar-benar tidak mengerti jalan pikiranmu, Miyuki."

"Ini hanya politik sederhana, Kuramochi. Kedepannya, aku mungkin bisa merekrut Amanda Highway, mantan kekasih sekaligus juga belahan jiwa Chris. Aku bisa mendekati Amanda dan menjadikannya salah satu orangku. See? Pada akhirnya akulah pihak yang diuntungkan."

"Menurutmu begitu?"

Kuramochi sama sekali tidak menunjukkan reaksi marah atau frustasi seperti biasanya. Normalnya, Kuramochi akan begitu bersikeras memberitahu bahwa Kazuya telah keliru setiap kali membahas tetang Sawamura. Tapi kini pemuda itu sama sekali tak terlihat ingin mendabat atau menentang ucapan Kazuya. Anehnya, reaksi tenang Kuramochi yang seperti ini justru membuat Kazuya lebih resah dan merasa terintimidasi.

"Sederhananya, aku memengang salah satu kelemahan Chris."

Kuramochi mendengus, tampak geli, kemudian mulai tertawa. Pemuda itu tertawa lepas, nyaris terbahak-bahak seperti baru saja mendengar lelucon super lucu. Sedangkan Kazuya berdiam diri di sebelahnya, kebingungan total. Kuramochi bahkan tidak berhenti tertawa setelah dua menit berlalu.

"Oh, Miyuki… sahabat baikku." Ia mengucapkannya seakan benar-benar tergelitik. "Mungkin sebaiknya kau renungkan lebih jauh, Sawamura Eijun itu kelemahan Chris, atau justru kelemahanmu."

Pada hari-hari selanjutnya, Kazuya memutuskan untuk mulai mengurangi chatting intens dengan Sawamura. Ia mencoba menanggapi chat Sawamura sekenanya, beberapa kali beralasan bahwa ia punya urusan penting dan mengkahiri percakapan secara singkat. Di malam hari, Kazuya mulai membiasakan diri untuk mematikan ponselnya selepas jam sembilan demi menghindari percakapan yang biasa ia lakukan bersama Sawamura. Di pagi hari, Kazuya benar-benar perlu menampar dirinya untuk berhenti antusias mengecek ponsel karena berpikir nama Sawamura Eijun akan muncul sebagai pertukaran ucapan selamat pagi mereka yang biasa.

Tidak boleh, Kazuya menekankan ke dalam otaknya. Mulai sekarang dia benar-benar harus membatasi hubungannya dengan Sawamura. Karena kalau tidak, Kazuya punya firasat ia hanya akan memberi makan ego pribadinya yang pada akhirnya berujung pada hal-hal yang seharusnya tidak dia lakukan. Sebagai contoh—Kazuya membayangkan dengan ngeri—mungkin ia akan mulai merecoki hubungan Sawamura dan Chris lagi. Muncul sebagai benalu, tokoh menyebalkan yang bersikap kekanak-kanakan seolah-olah tak rela barang favoritnya diambil orang lain.

Tidak! Kazuya menekan dengan lebih dalam dan tegas. Dia bukan seseorang seperti itu. Kazuya sudah cukup dewasa untuk melepaskan sebuah permainan setelah behasil memenangkannya. Dia bukan seorang pecandu, jadi tak ada alasan baginya untuk kembali tertarik pada permainan yang telah usai. Kazuya mungkin bajingan, tapi jelas sekali ia bukan seseorang yang akan menjilati ludahnya sendiri atau merelakan dirinya jatuh pada lubang yang sama.

"Tapi aku masih boleh bersikap baik pada Sawamura." bisiknya lemah, mata menatap pada ikan mas kecil di atas meja yang selama ini dipanggil Ei-chan olehnya. "Dia temanku, tidak ada salahnya bersikap baik pada teman, kan?" Kazuya nyaris berharap ikan itu akan menjawabnya.

Benar, kami berteman. Kazuya menelan ludah dengan pahit. Kata teman telah menjelma setajam duri dan sepahit racun ketika ia memikirkan tentang Sawamura. Namun sekali lagi ia menarik napas, membuangnya cepat, menatap ikan mas kuning cerah di mejanya. "Kami berteman."

Eijun memarahi dirinya sendiri karena merasa kecewa begitu mendapati bahwa nama yang tertera di layar ponselnya adalah Takigawa Chris Yuu dan bukan Miyuki Kazuya. Cepat-cepat ia mengusir rasa kecewa itu dan menggeser layar ponselnya untuk mengangkat panggilan dari Chris.

"Halo, Chris-senpai?" Eijun berusaha terdengar ceria.

"Selamat pagi, Sawamura." Suara Chris terdengar ramah bahkan dari sambungan telepon. "Apa aku menganggumu?"

Eijun menggeleng meski Chris jelas-jelas tak dapat melihatnya. "Aku baru selesai sarapan." Eijun menjawab seraya melirik ke mangkuk yang sudah kosong. "Ada apa, Senpai?"

Chris berdeham kecil. "Aku ingin tahu apa kau sibuk hari ini?"

Eijun diam selama beberapa waktu. Sekarang memang hari Minggu, dan ia praktis tidak punya mata kuliah apapun. Tapi Eijun ingat punya janji untuk belajar dengan Shinji selepas makan siang nanti. Selain itu… Eijun menggigiti bibirnya. Yah, ini hari Minggu, biasanya Miyuki akan mengajaknya main baseball lalu berujung pada makan siang bersama.

"Sawamura?"

Eijun mengerjap cepat, merutuk diri karena sempat lupa bahwa ia masih bicara dengan Chris. "Maaf aku agak bengong." Ada tawa keki yang menyusup di akhir kalimatnya, Eijun tidak terlalu yakin Chris akan menganggapnya lucu.

"Kau baik-baik saja?" Chris terdengar agak resah sekarang.

"Aku baik-baik saja. Hmm… memangnya kenapa Chris-senpai menanyakan kesibukanku hari ini?"

Tercipta jeda beberapa saat sebelum suara Chris muncul kembali dalam nada yang lebih lembut. "Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat, kalau kau tidak keberatan."

Eijun meneguk ludah dengan gugup. Sesuatu yang tajam naik dari perut ke tenggorokannya. Ini salah, benaknya berkata. Tidak seharusnya Eijun merasa terbebani saat Chris mengajaknya keluar.

"Well…" Eijun membasahi bibir bawahnya. "Aku ada janji untuk belajar dengan Shinji setelah makan siang." Jawab Eijun hati-hati, sehalus mungkin berharap Chris tidak kecewa. "Dan sebelum itu…" Eijun melirik ke arah jam dinding, pukul delapan lebih lima belas menit. Paling lambat, Miyuki biasanya menghubunginya sebelum pukul setengah sembilan. Masih ada peluang Miyuki akan mengajaknya main baseball hari ini, kan? Eijun menarik napas perlahan dan mengucap maaf dalam hatinya untuk Chris. "Maaf, Chris-senpai, aku sudah ada janji. Sungguh, maafkan aku."

"Oh," Chris berhasil menjaga suaranya tidak terdengar kecewa. "Tidak apa-apa, bukan masalah."

"Maaf..." Eijun sangat bersungguh-sungguh akan hal itu. "Lain kali aku pasti akan menerima ajakan Chris-senpai. Sungguh! Itu sebuah kehormatan besar untuk Sawamura Eijun!"

Chris tertawa renyah, terdengar sama sakali tidak marah padanya. "Tentu, lain kali aku akan mengajakmu sejak jauh-jauh hari, kalau begitu."

Eijun makin merasa bersalah. Ia bisa saja minta maaf sekarang, lalu berkata bahwa ia lebih memilih untuk pergi dengan Chris. Namun demikian, hatinya tak sepakat, lidahnya tak mau bergerak untuk melafalkan kata itu. Ia hanya mengunci kembali mulutnya, membiarkan kebohongan menang dan menggadaikan nuraninya terhadap kemungkinan yang belum pasti.

"Mm… bagaimana kalau aku akan menemani Chris-senpai makan siang besok?" tawar Eijun ringan. "Kita bisa pergi makan di manapun Chris-senpai mau. Aku juga sedang bosan makan makanan kantin kampus."

"Wow, tdak kusangka kau cukup sombong dan bisa pilih-pilih makanan juga, Sawamura." goda Chris, Eijun hampir-hampir bisa merasakan senyum jail Chris menghiasi bibirnya. Mendadak wajahnya memanas karena malu.

"Ugh, aku juga manusia biasa, Senpai!" seru Eijun membela diri. "Lagi pula, aku sudah semester tiga dan nyaris tidak pernah makan siang di luar kampus."

Chris tertawa, dan rasa hangat yang familiar menyusup perlahan mengisi rasa berdosa di hati Eijun. Chris selalu berhasil membuat perasaannya menjadi lebih baik. "Yeah, oke. Besok siang kalau begitu. Well, semoga akhir pekanmu menyenangkan, Sawamura."

Eijun tersenyum lebih lebar. "Chris-senpai juga! Semoga Chris-senpai menemukan sesuatu yang menarik hari ini dan bisa diceritakan padaku besok saat kita makan siang bersama!"

"Wow, kau bahkan sudah menagih banyak hal sebelum hari berganti, huh? Sepertinya sekarang aku mulai gugup. Apa poinku akan dikurangi seandainya aku gagal menyampaikan cerita yang menarik untukmu besok siang?"

"Mmm…" Eijun mengumam seolah berpikir serius. "Mari kita lihat… Chris-senpai sudah kelebihan poin positif, pengurangan beberapa poin harusnya bukan masalah, kan?" guraunya. Lega ketika Chris tertawa lagi.

"Entahlah… Aku ragu, Sawamura. Barangkali, aku lebih ambisius dari yang kau duga. Dan sekarang, aku benar-benar ingin mengejar semua yang kuinginkan sebanyak-banyaknya."

Jantung Eijun tiba-tiba berdebar lebih kencang. Kata-kata Chris sekan telah bercabang menjadi beragam arti yang berbeda. Untuk alasan yang tak dapat ia jelaskan, Eijun merasa salah satu arti berhubungan erat dengan dirinya sendiri.

"Nah, kalau begitu selamat berakhir pekan, Sawamura." suara Chris muncul dan membuayarkan pikiran Eijun. "Sampai ketemu besok siang, bye."

Eijun menyambut salam Chris dengan nada ceria dan meletakkan kembali ponselnya lalu membuang napas perlahan. Ia bahkan tidak sadar sejak kapan mulai menahan napas.

Sampai jam makan siang tiba dan Eijun melangkah pergi untuk menemui Shinji, tak ada satupun pesan masuk atau panggilan dari Miyuki Kazuya. Miyuki tidak menghubunginya sama sekali. Miyuki tidak mengajaknya main baseball ataupun makan siang, bahkan sekadar berbasa basi dengannya melalui LINE. Hampir-hampir rasanya Miyuki tiba-tiba menghilang, dan Eijun tidak bisa menjelaskan rasa kosong yang menyelimutinya sepanjang hari.

Hari Minggu pertama tanpa Sawamura Eijun hampir membuat Kazuya gila. Waktu bergulir begitu lambat dan ia merasa bertambah tua sepuluh tahun dalam setiap menitnya. Kazuya sudah mengakali dengan bangun lebih siang dan sengaja bermalas-malasan di kasurnya, berharap tidak memikirkan bahwa di hari Minggu ia biasa menghubungi Sawamura untuk mengajaknya main baseball bersama sekitar pukul sembilan dan dilanjut dengan makan siang di luar. Itu tidak berhasil.

Kazuya terus menerus melirik ke arah petunjuk waktu, jarun jam bergerak sangat-sangat lambat begitu ia bangun pukul delapan pagi. Kazuya menganggap ponselnya adalah benda terlarang, dan bahkan sengaja memasukkannya ke dalam laci nakas, beranggapan dengan begitu ia tak akan tergoda untuk menghubungi Sawamura. Hasilnya sama sekali tidak bagus, ia terus merasa resah, sedih, dan marah.

Rasanya, Kazuya hampir mati ketika jarum jam menunjuk tepat ke angka sembilan dan dua belas. Ia menahan napas, menatap setiap pergerakan lambat itu seakan-akan bisa terbunuh kapan saja seandainya berpaling. Lima menit kemudian, Kazuya menjadi terlalu tidak tahan dan memutuskan untuk meninggalkan kamarnya. Membiarkan ponselnya tetap terkunci di dalam laci seolah berharap benda itu bisa menghilang selama sehari penuh.

Kazuya duduk di sofa ruang keluarga, mencoba untuk santai. Mengganti-ganti chanel televisi tanpa minat, memakan beraneka macam camilan di atas meja, ia bahkan mulai berpikir untuk mengeluarkan satu kardus kertas origami dan mulai melipat-lipatnya menjadi beraneka bentuk. Kazuya melirik lagi ke arah jam, sembilan lebih tiga puluh menit... Tuhan, ia benar-benar bisa gila!

"Apa yang membuatmu resah?"

Kazuya nyaris melompat. Keget bukan main karena ia selama ini tidak sadar bahwa ibunya tengah berdiri mengawasi dengan alis berkerut.

"Bukan apa-apa." sahut Kazuya cepat. "Aku hanya sedikit bosan."

Ibunya mengerutkan alis makin dalam. "Kau tidak keluar dengan Kuramochi-kun?"

"Kuramochi sedang bersama Sachiko."

Ibunya tersenyum, nyaris tampak geli. "Kau benar-benar tidak punya teman selain Kuramochi-kun, ya?"

"Aku tidak butuh banyak teman. Di masa depan, mitra bisa dibeli dengan kesuksesan."

Ibunya memutar mata dan duduk di sebelahnya. "Kau tidak harus mengikuti prinsip konyol ayahmu, kau tahu? Bersenang-senanglah seperti anak muda lainnya, Kazuya. Toku jelas tidak memahami konsep bersenang-senang dengan normal, jadi jangan ikuti jejaknya."

Kazuya tertawa. "Tapi dia ayahku, dan aku menganguminya." Saat sang ibu kembali memutar mata, Kazuya buru-buru menambahkan. "Maksudku, lihat saja ayah. Dia pria sukses, kaya, bahkan punya istri yang sangat cantik dan menawan."

Ucapan itu telah mengundang cubitan kecil di pinggangnya dari sang ibu. "Kalau kau mulai menggombali ibu, ibu benar-benar yakin ada yang tidak beres denganmu."

Kazuya meringis, meraba nyeri di penggangnya sambil memasang cengiran pada ibunya.

Mata ibunya mengamati dengan seksama, kemudian mengangguk yakin seakan sudah memutuskan hal penting. "Baiklah, kau benar-benar harus keluar hari ini. Kau akan menemani ibu, jadilah anak yang baik."

Maka begitulah akhirnya Kazuya mengalihkan perhatiannya. Menjadi anak laki-laki yang patuh, menyupiri ibunya ke sana dan ke mari, membawakan barang belanjaannya, menunggunya ketika di salon, mengandengnya saat di eskalator, bahkan mengantarnya ke pertemuan para wanita di kedai teh.

Akan tetapi itu semua masih belum cukup untuk memblokade pikiran Kazuya dari Sawamura. Maka ketika ibunya selesai dan memintanya mengantar pulang, Kazuya menuruti tapi kemudian kembali mengemudi sendirian.

Kazuya bahkan tidak tahu ke mana hendak menuju. Sudah lewat dari pukul delapan malam saat roda-roda mobilnya melintasi kawasan Shinagawa. Kazuya memacu mobil dengan kecepatan sedikit lebih lambat, membiarkan matanya menyapu lebih lama ke jalan yang membentang di depannya. Aspal basah tampak lebih hitam dan berkilauan ketika memantulkan cahaya-cahaya lampu kota. Garis-garis putih pada aspal menghilang dan silih berganti saat Kazuya melaju di tengah-tengahnya. Pejalan kaki cukup memadati trotoar, tampil dengan payung-payung yang mengembang guna melindungi tubuh mereka dari air hujan. Tokyo belum tertidur, masih ramai pada Minggu malam walau hujan rintik-rintik mengguyur. Tetapi Kazuya ada di tengah-tengahnya dan merasa hampa.

Kazuya sudah terlalu terbiasa dengan kehadiran Sawamura di sekitarnya. Berteriak, mengoceh, mengomel, tertawa lepas dan bahkan menggeram, hanya beberapa hari menjalani hidup tanpa gangguan-gangguan itu membuatnya merasa ada yang kurang. Ini aneh, Kazuya bahkan tidak menyadari sejak kapan ia menjadi seseorang yang menikmati segala keributan yang dibawa oleh Sawamura Eijun.

Pikirannya berkelana, mulai menerka-nerka. Mungkinkah Chris sudah mengambil langkah untuk mendekati Sawamura lebih jauh? Seberapa banyak perkembangan hubungan mereka sekarang? Apakah Sawamura akan memberitahunya dengan penuh suka cita saat akhirnya resmi berpacaran dengan Chris? Apa Sawamura akan meminta izinnya atau sekadar menginformasi bahwa dia akan berkencan dengan Chris dan meminta Kazuya mengantisipasi agar tidak berada di dekatnya selama beberapa waktu? Ke mana saja mereka akan berkencan? Apa yang akan Sawamura bicarakan bersama Chris? Apa yang Sawamura lakukan sekarang?

Kazuya merasakan napasnya menjadi timah di paru-paru. Kenapa ia bahkan peduli pada Sawamura? Apakah ini normal? Apakah ingin mengatahui apa yang temanmu lakukan bersama kekasihnya itu wajar? Kazuya mencoba mengingat Kuramochi dan Sachiko, pernahkah ia bertanya-tanya apa saja yang Kuramochi dan Sachiko lakukan saat sedang berdua? Rasanya tidak. Kazuya memang sering menggoda Kuramochi, sesekali bertanya basa-basi perihal hubungannya dengan Sachiko. Tetapi memikirkan kemana mereka pergi kencan? Itu tidak penting. Itu bukan urusannya.

Tapi Sawamura Eijun, biar bagaimanapun, adalah belahan jiwanya. Jadi, bolehkah ini menjadi urusannya juga?

Kazuya membuang napas berat, mendadak menyesal karena meninggalkan ponselnya. Mungkin saja Sawamura menghubunginya hari ini. Kalaupun tidak, setidaknya ia bisa menghubungi Sawamura sekarang hanya untuk mengajukan pertanyaan singkat dan menetralisir perasaan tak nyaman di dadanya.

Kazuya menginjak rem dengan halus tepat di depan lampu merah. Wiper bergerak membentuk sudut tumpul di kaca depan mobilnya. Napasnya bergetar dalam udara berat, rasanya hawa di dalam mobil menjadi terlalu pengap dan lembab. Kazuya mempertimbangkan untuk sedikit membuka kaca samping ketika matanya memandang setengah hati pada para pejalan kaki yang menyebrang di atas zebra cross, melintas di depan mobil-mobil yang berhenti.

Di antara kerumunan orang dengan payung-payung mengembang, mata Kazuya secara ajaib menyipit ke arah satu orang yang melintas dengan setengah berlari tanpa payung, hoodie kuning terangnya tampak basah pada bagian bahu ke bawah. Kazuya mengerjapkan mata, berharap ia hanya berhalusinasi. Tetapi sosok itu masih ada, berlari dan hampir mencapai sisi lain dari jalan raya. Menunduk di antara para pejalan kaki lain, memeluk ranselnya di depan dada seakan berusah melindungi barang-barangnya dari air hujan.

"Dasar bodoh."

Kazuya memeriksa petunjuk waktu yang tersisa untuk lampu merah. Sebelah tangannya mencengkeram kemudi lebih erat, tangan yang lain telah bergerak ke tuas peneseling dan kaki siap menginjak pedal gas. Kazuya menarik napas tajam, mengecek spion lalu memastikan rambu mengizinkan pengemudi yang hendak berbelok ke kiri melewati lampu merah. Kemudian ia membuang napas cepat, membelokkan mobil ke kiri dan mengejar Sawamura Eijun yang berjalan seorang diri menerobos hujan.

Jantung Kazuya berdebar sangat cepat saat mobilnya semakin dekat dengan sosok Sawamura yang berlari di pinggir jalan. Kazuya mencoba mengemudi sedekat mungkin dengan tepian jalan, menurunkan kaca mobilnya begitu melaju tepat di sebelah Sawamura. Ia menekan klakson dua kali, memperlambat laju mobil dan menoleh ke luar jendela.

"Sawamura!" suaranya agak bergetar, menyatu dengan deru air hujan dan angin malam kota Tokyo.

Sawamura terlonjak kecil, menoleh padanya dan menyipitkan mata, tudung hoodienya dibuka dan Kazuya bisa melihat rambut coklat Sawamura yang telah basah menempel di keningnya. "Miyuki-senpai?" Sawamura mengerjap-ngerjap seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

"Apa yang kau lakukan, Bodoh? Kau bisa sakit!"

Sawamura mengerjap lagi, tubuhnya nyaris basah kuyup. Kazuya bertanya-tanya sudah berapa lama pemuda itu hujan-hujanan. "Uh, aku dari tempat Shinji lalu jalan-jalan sebentar dan malah kehujanan. Aku sudah mau pulang, aku sedang menuju stasiun."

Kazuya berdecak. "Cepat masuk. Aku akan mengantarmu pulang."

Sawamura tampak kaget. "Tapi aku basah kuyup, nanti mobilmu ikut basah."

"Sawamura," suara Kazuya menajam. "Masuk sekarang."

Sawamura tidak mendebat lagi, ia mengawasi jalanan sejenak lalu berlari memutari mobil untuk membuka pintu di samping kemudi lalu cepat-cepat menutup pintu kembali.

Kazuya menelan ludah saat menyaksikan dari dekat seberapa basah pakaian Sawamura. Jantungnya masih berdebar-debar kencang, dan sesuatu di dalam dirinya membisikkan rencana gila untuk menarik Sawamura ke dalam pelukan. Tapi Kazuya cepat-cepat mengusir hal itu dan menjulurkan tubuhnya ke jok belakang untuk mengambil tas olahraganya lalu mengeluarkan handuk kering dan memberikannya pada Sawamura.

"Pakai itu untuk mengeringkan tubuhmu." Kazuya berkata lugas, sebelum Sawamura menjawab, ia buru-buru menginjak pedal gas dan lanjut melaju di jalanan Tokyo yang basah.

"Kenapa hujan-hujanan?" Kazuya bertanya setelah lima menit berlalu. Di sebelahnya Sawamura masih berusaha mengeringkan rambut dengan handuk pemberian Kazuya.

Sawamura angkat bahu, nyengir tanpa dosa. "Karena aku tidak memakai payung?"

Kazuya mendengus. "Hanya kau, orang yang bisa-bisanya tidak bawa payung di musim hujan, Sawamura."

"Aku bawa!" protes Sawamura keras-keras. Kazuya nyaris tidak bisa menahan senyuman di bibirnya karena teriakan itu terasa sungguh melegakan. "Aku bawa payung, tentu saja. Tapi tadi aku bertemu dengan seorang wanita yang membawa anaknya dan dia tidak bawa payung jadi kupikir dia lebih membutuhkan."

Kazuya menoleh untuk menatap wajah Sawamura sekilas. Ada sensasi geli, kekaguman, juga hasrat ingin memaki sikap baik hati seorang Sawamura Eijun. Tapi dia memang begitu, Sawamura yang terlalu heroik, polos, impulsif, dan peduli pada orang lain, bahkan cenderung mengorbankan diri. "Kau terlalu baik dan terlalu polos, aku khawatir di masa depan kau akan mudah ditipu."

Wajah Sawamura bersemu karena malu. "Kau tidak perlu khawatir, aku punya banyak teman yang peduli dan bisa dipercaya."

Kazuya tergoda untuk bertanya apakah dia juga ada dalam daftar orang yang bisa dipercaya oleh Sawamura. Tetapi Kazuya terlalu takut untuk mendengar jawabannya. Sementara bagian lain dari otaknya mengingatkan dengan bangga bahwa sejatinya Miyuki Kazuya masuk dalam daftar yang pernah menipu Sawamura, memanfaatkannya, memanipulasinya, menggunakannya untuk kepuasan pribadi. Gelombang rasa berdosa kembali bergelung di hatinya. Kazuya mencoba untuk mencari fokus yang lain dan matanya sekilas menangkap ransel milik Sawamura yang diletakkan di dekat kakinya.

"Mungkin sebaiknya kau keluarkan barang-barangmu dari ransel, Sawamura." Kazuya menyarankan. "Kau bawa laptop, kan? Keluarkan saja isinya sebelum airnya merembes ke dalam dan merusak barang-barangmu."

"Ah!" Sawamura berseru nyaring lalu buru-buru membungkuk untuk mengambil ransel dan mulai mengeluarkan semua isi di dalamnya. Sawamura meletakkan barang-barangnya dengan hati-hati di meja dasbor, sesekali menghela napas lega saat mengetahui tak ada barang yang rusak. Kazuya mengamati semua tingkah lakunya dengan senyum simpul, rasanya menyenangkan melihat Sawamura ada di dekatnya.

Kazuya berbelok ke salah satu minimarket di tepi jalan, lalu berhenti. Ia melepaskan sabuk pengaman dan memperhatikan Sawamura sebelum meraih kembali tas olahraganya lalu mengeluarkan celana training dan kaus bersih.

"Ganti bajumu. Kau bisa flu." Kazuya meletakkan pakaian kering di pangkuan Sawamura dengan sedikit tidak sabar, lalu berdeham keki. "Aku akan ke konbini sebentar." Setelahnya ia membuka pintu dan berlari masuk ke minimarket, berharap Sawamura benar-benar mengikuti sarannya untuk berganti dengan pakaian kering.

Eijun menahan diri untuk tidak mengendus-endus pakaian Miyuki yang kini ada di tubuhnya. Tapi bahkan tanpa mengendus sekalipun, hidungnya masih bisa mencium aroma yang menempel pada fabrik itu. Wangi khas Miyuki telah meninggalkan jejak di sana. Sekalipun itu pakaian bersih, tapi Eijun terlanjur mengingat seperti apa aroma ditergen dan pelembut pakaian yang bisa melekat pada semua pakaian Miyuki, dan hal itu telah membuat simpul kencang di perutnya.

Eijun bahkan belum sempat mengajukan pertanyaan apa yang Miyuki lakukan malam-malam begini. Mengemudi sendirian sampai ke Shinagawa di tengah hujan. Apa Miyuki habis mengunjungi suatu tempat? Bertemu seseorang? Atau justru sebenarnya Miyuki baru berniat pergi? Pertanyaan itu melayang-layang di dalam kepala Eijun, menuntut jawaban yang bahkan tidak yakin akan didapatnya secara suka rela dari Miyuki sendiri.

Eijun teringat kembali pada satu pesan chat yang ia kirimkan pada Miyuki tadi pagi. Buru-buru ia mengecek ponselnya, tapi Miyuki bahkan belum membalas atau membaca sampai detik ini. Setitik rasa kecewa hinggap di relung hatinya tanpa bisa dicegah. Jika Miyuki bahkan tak punya waktu untuk menggubris pesannya, maka bisa jadi seharian itu pemuda itu memang sibuk bersama seseorang yang spesial hingga tak mau diganggu.

Mungkin… Miyuki memang dalam perjalanan pulang. Mungkin… seharian ini Miyuki ada di bagian kota lain untuk menghabiskan waktu bersama seseorang yang berharga baginya. Mengambil jarak jauh agar Eijun tidak terkena dampak akibat ikatan imprint mereka.

Tiba-tiba pintu mobil terbuka dan Miyuki duduk di balik kemudi. Eijun buru-buru mengusir kepahitan di wajahnya. Miyuki mengamatinya sesaat, mengangguk dan tampak puas karena Eijun telah berganti baju.

"Merasa lebih baik?"

Eijun mengerjap, tersenyum setelahnya. "Yep, terima kasih."

Miyuki lalu membuka kantung belanjaannya dan menyerahkan satu cup ramen yang masih berasap kepada Eijun. "Kuharap kau kelaparan, Sawamura."

Eijun mendengus, tapi tetap menerima pemberian Miyuki. "Itu kalimat yang aneh untuk menawari seseorang makanan, kau tahu?" cibirnya, meski dalam hati melonjak girang karena Miyuki memberinya perhatian kecil seperti ini. "Seharusnya kau pakai kata-kata yang lebih manis."

Satu alis Miyuki terangkat. Ia mengeluarkan satu lagu cup ramen yang masih berasap untuk dirinya sendiri. "Dan seperti apa kata-kata yang lebih manis itu? Apa aku harus menawarkan diri untuk menyuapimu juga? Meniupkan makanan untukmu?"

"Mm… kedengarannya bagus juga. Sekalian kau tanya aku lebih suka makan dengan sumpit atau garpu. Bahkan seharusnya kau juga bertanya apa aku lebih suka peralatan makan dari logam atau plastik."

Miyuki terkekeh mendengarnya. Eijun bahkan tidak merasa tersinggung sama sekali, sebaliknya ia justru merasa senang bisa kembali mendengar suara tawa Miyuki. Rasanya sudah lama sekali mereka tidak berinteraksi seperti ini.

"Baiklah, Tuan Muda." Kata Miyuki, mengerling padanya dengan geli. "Tapi untuk kali ini saja, tolong maklumi keteledoran pelayanmu ini. Kuharap kau bersedia menikmati makan malam sederhana ini sebelum dingin."

Eijun tergelak geli mendengar kata-kata itu, di sebelahnya Miyuki memasang cengiran lebar dan mengeluarkan dua kaleng ocha hangat lalu diletakkan pada tempat minuman di natar kursinya dan kursi Miyuki.

"Ittadakimasu!" seru Eijun ceria, dibalas dengan ucapan serupa oleh Miyuki.

"Astaga," Miyuki mendesah begitu mengunyah suapan pertamanya. Matanya berbinar menatap cup ramennya seakan baru menemukan keajaiban. "Aku baru sadar seberapa laparnya aku!"

"Kau lapar? Memangnya kau belum makan malam?"

"Sebenarnya aku belum makan sejak pagi. Aku hanya sempat memakan sedikit camilan tadi pagi."

Eijun nyaris melongo. Jika Miyuki kencan seharian, kenapa juga bisa melewatkan jam makannya? Apakah pasangan kencannya tidak mengajaknya makan?

"Kau dari mana saja, sih?" Pertanyaan itu terlontar sebelum Eijun sempat berpikir. Saat Miyuki menoleh dan menatapnya dengan ekspresi setengah kaget, Eijun langsung menyesali pertanyaan bodohnya. "Ugh, maksudku… aku sempat mengirim chat padamu tadi pagi tapi kau sama sekali tidak membalas. Dan kau bahkan melewatkan makan, apa hari ini kau sesibuk itu?"

Mata Miyuki melebar. "Kau mengirim chat padaku?"

Eijun membuang napas berat dan menggeleng. Rasanya mendadak ia terlalu mual untuk makan. "Ya, tapi tidak penting. Lupakan saja." Ia berkedik, tersenyum kosong dan menyantap kembali ramennya.

Kali ini Eijun tidak tahu apa yang seharusnya ia rasakan. Senang karena Miyuki Kazuya sama sekali tidak mendesaknya bicara soal chat itu, atau justru kecewa kerena artinya Miyuki tidak cukup menganggap chat dari Eijun adalah hal yang penting.

Kazuya menekan bibirnya menjadi garis kaku ketika mobilnya berhenti di depan rumah Sawamura. Ada napas berat yang tertahan di paru-parunya, juga cengkeraman kelewat kuat yang ia tekan pada setir saat Sawamura melepaskan sabuk pengaman dan mulai mengumpulkan barang-barangnya.

"Yosh!" Sawamura berseru, terdengar ringan dan ceria ketika menoleh pada Kazuya dan tersenyum lebar. "Kalau begitu terima kasih atas tumpangannya, Miyuki-senpai. Juga handuk, pakaian kering, ramen, minuman hangat, dan totebagnya." Ia tertawa geli sendiri dan mulai membuka pintu. "Sampai ketemu di kampus! Aku akan mengembalikan bajumu setelah mencucinya."

Kazuya berhasil tersenyum dan menggeleng tipis. "Tidak perlu buru-buru."

Sawamura balas tertawa, melangkah keluar dari mobil. "Selamat malam, Miyuki-senpai."

"Nite, Sawamura."

Kazuya mengawasi Sawamura menutup pintu mobil lalu berjalan menuju pintu rumah sambil menahan napas di balik kemudi. Kazuya memutuskan untuk tetap diam di tempat, memejamkan mata dan menunduk untuk menyembunyikan apapun yang kini melanda tubuhnya. Saat napasnya kembali, Kazuya berusaha mengangkat wajahnya dan membuka mata lurus ke punggung Sawamura. Pemuda itu nyaris mencapai pintu, berdiri di teras dan meletakkan barang-barangnya di atas lantai lalu mulai mencari kunci.

Kazuya menggigit bibir bawahnya, tidak benar-benar tahu mengapa perasaannya menjadi bertambah berat ketika menatap punggung Sawamura yang menjauh. Apa yang salah? Mana yang benar? Segala sesuatu tentang salah dan benar mendadak terasa begitu samar untuk digolongkan. Bersama satu tarikan napas tajam, Kazuya bergerak cepat melepas sabuk pengamannya dan keluar dari mobil.

"Sawamura!"

Ia berlari sebelum sempat berpikir, tanpa rencana, tanpa tujuan, bahkan tanpa alasan yang jelas. Ia berhenti satu langkah di depan Sawamura yang menatapnya terpana kebingungan.

"Miyuki-senpai?"

Mendadak Kazuya begitu ingin tertawa, benar-benar tidak dapat mencegah bagaimana cengiran lebar nan geli menghampiri mulutnya.

"Senpai, kau oke?"

Kazuya menggelengkan kepala, tertawa samar. "Yeah, aku oke." Ia menarik napas dan menatap Sawamura dengan senyum yakin. "Hanya saja tiba-tiba aku ingin sekali berdansa." Kazuya mengulurkan tangannya dengan sopan. "Maukah kau jadi pasangan dansaku?"

"Apa?"

"Berdansalah denganku."

Sawamura memandangnya tak percaya, beragam emosi telah bercabang di wajahnya, terpantul dari kedua matanya dan menjadi gelengan heran di kepalanya. "Dansa. Kau tahu betapa anehnya permintaanmu?"

Kazuya terkekeh geli. "Jadi, kau bersedia?" Ia tersenyum, mengangkat tangan makin tinggi menanti Sawamura menyambutnya.

Sawamura ikut terkekeh, menggeleng tak habis pikir, dan Kazuya merasa kembali tertambat ke dunia yang padat ketika merasakan kehangatan tangan Sawamura menyambut uluran tangannya.

"Kau tahu yang lebih aneh? Aku bersedia."

Dengan itu, Kazuya menuntun Sawamura mundur. Melangkah ke pekarangan rumah yan dan meninggalkan jejak aroma rumput dan tanah basah sehabis hujan. Kazuya mengambil napas dengan tenang, mengusap halus punggung tangan Sawamura sekali sebelum membungkuk kecil dan mengecupnya dengan penuh sopan santun. Tak ada musik, tak ada setelan suit pesta, sepatu, bahkan mereka tidak sedang berdiri di ballroom. Akan tetapi Kazuya meletakkan setiap detail dari pelajaran dansanya ketika menarik lembut tubuh Sawamura lebih dekat. Menyelipkan satu tangan di belikat Sawamura dan tangan lainnya menggenggam tangan Sawamura naik untuk sejajar dengan wajahnya.

"Foxtrot." Suara Kazuya tipis, beriringan dengan senyum simpul di bibirnya. "Kau bisa?"

Sawamura balas tersenyum, tampak santai dan siap menghadapi tantangan apapun. Ia memberi anggukan tegas, meletakkan tangan yang bebas ke bahu Kazuya. "Aku hapal di luar kepala."

Kazuya membimbing langkah pertama dan Sawamura mengikuti. Dua langkah maju yang dimulai dari kaki kanan yang dibalas dengan dua langkah mundur kaki kiri oleh Sawamura. Lalu bergeser dan mendekat kembali. Ketukan foxtrot adalah lambat-lambat, cepat-cepat. Lambat untuk maju dan mundur, lebih cepat untuk gerak menyamping.

Tempo gerakan mereka sangat teratur meski tanpa musik. Hanya ditemani cahaya lampu jalanan dan samar rembulan yang mengintip dari sisa awan mendung. Sawamura menetapnya dengan mata emas berkilau, senyum inosen bergaris sedikit kesombongan terpatri di bibirnya. Kazuya balas tersenyum, menyadari bahwa seorang Sawamura Eijun memiliki kebaikan hati yang begitu tinggi kepada semua orang dan bahkan tidak ragu menerima permintaan aneh untuk berdansa di pekarangan rumah pada malam yang sunyi.

"Kalau ada mahasiswa Meiji yang kebetulan memergoki kita, penggemarmu pasti akan berlomba untuk mencakari wajahku besok." kata Sawamura.

Kazuya mengangkat tinggi alisnya. "Itu kedengaran jauh lebih baik. Aku membayangkan, setidaknya akan dihajar oleh seluruh temanmu dari taekwondo."

Sawamura berkedip dua kali dengan lugu lalu mulai terkekeh geli. "Taekwondo adalah bela diri, bukan komplotan tukang pukul."

"Yah, aku hanya bicara dari pengalaman. Masalahnya, salah satu dari mereka membantingku ke lantai di pertemuan pertama."

"Ya ampun, kau ini penuh dendam, Miyuki Kazuya!"

Kazuya tertawa lepas, Sawamura mengikuti. Ada yang begitu familiar tentang mereka berdua. Perdebatan seperti ini, omelan Sawamura, teriakannya, gerutuannya, dan Kazuya yang selalu memancingnya. Sesuatu tentang momen ini terasa semakin akrab dan bisa Kazuya terima sebagai bentuk rutinitas yang ia nikmati. Kazuya bahkan kesulitan membayangkan seperti apa kesehariannya dulu sebelum mengenal Sawamura.

"Rasanya itu sudah lama sekali." kata Sawamura, tersenyum agak geli. "Kejadian saat kita bertemu di toilet dan aku membantingmu ke lantai, rasanya sudah lama sekali."

Kazuya mengangguk. Banyak yang terjadi selepas itu. Beberapa perkelahian lainnya, kesalahpahaman, bahkan juga hal-hal menggelikan. Jika semua itu ditulis dalam lembaran kertas, mungkin ketebalannya sudah cukup menjadi sebuah buku. Dan sebentar lagi waktunya untuk menutup buku, pikir Kazuya.

Perasaannya menjadi berat lagi.

"Apa aku masih termasuk seseorang yang buruk di matamu?"

Pertanyaan itu terlontar begitu saja layaknya anak panah yang lepas. Sawamura menatapnya dengan mata agak melebar, nyaris berhenti berdansa tapi Kazuya tetap maju dan membimbing langkahnya. Tidak benar-benar ingin dansa mereka berakhir secepat ini.

"Itu pertanyaan sungguhan?"

Kazuya berhasil mengurai otot wajahnya menjadi senyuman tipis lalu mengangguk. "Aku ingin tahu, apa kau masih berpikir seburuk itu tentangku?"

Sawamura membasahi bibirnya, Kazuya menantikan dengan agak cemas perihal jawaban yang akan ia dapatkan. Setelah satu tarikan napas panjang, Sawamura menggeleng. "Tidak." katanya lugas, tersenyum ringkas. "Kau memang menyebalkan, tapi setidaknya sekarang aku tahu kau tidak seburuk dugaanku."

Rasa sesak dan lega datang bersamaan dalam gelombang anomali yang menghantam dada Kazuya. Penuturan sederhana Sawamura telah membuatnya merasakan sensasi kelegaan tersendiri sekaligus juga beban tak kasat mata yang diisi oleh semua ingatan kesalahan yang pernah ia buat kepada Sawamura. Kazuya nyaris tertawa, sejak kapan perasaannya menjadi serumit ini?

Gerakan dansa mereka melambat selagi Kazuya menarik napas halus untuk mengisi paru-parunya. Mendadak menatap kedua mata Sawamura terasa amat menyilaukan dan membuat matanya perih. Terlebih lagi saat Kazuya menyadari bahwa sepasang mata emas itu sedang menatapnya dengan sirat mencari tahu, khawatir, dan bahkan penuh tanya.

"Miyuki-senpai?"

Dansa mereka berhenti. Tapi posisi tubuh masih saling terjalin.

Kazuya mengulas senyum, meyakinkan diri bahwa senyumnya cukup sarkastik. "Pada akhirnya kau juga mengakui pesonaku, hm?"

Sawamura mendengus, bergerak mundur dan mulai melepaskan diri tapi Kazuya dengan cepat menahannya kembali. Menariknya lebih dekat. Tangan Kazuya yang semula menempel di belikat Sawamura turun ke tulang belakangnya, meraba dan merasakan kehangatan suhu tubuh pemuda itu sebelum kemudian berakhir di pinggangnya.

Sawamura terkesiap. "Miyuki-senpai!"

Namun Kazuya sepenuhnya mengacuhkan dan mulai mengambil langkah maju lagi sebagai gerak pembuka dansa selanjutnya. "Sekali lagi." Kazuya berbisik, kepalanya telah maju hingga berada tepat di sebelah telinga Sawamura. Hidung menghirup rambut pemuda itu yang dipenuhi wangi citrus juga samar air hujan. "Berdansalah denganku sekali lagi, Sawamura."

Kazuya merapatkan tangannya di pinggang Sawamura dan mulai bergerak lagi. Kali ini Sawamura tidak banyak protes atau bertanya. Hanya mengikuti tempo gerakannya. Kazuya merasa bertambah egois, keegoisan yang mendorongnya untuk semakin mendekap Sawamura erat-erat. Keegoisan yang menyadarkannya bahwa ini akan jadi dansa terakhirnya dengan Sawamura Eijun. Di lain waktu, bukan lagi Kazuya yang mengajaknya berdansa, tapi Chris. Pemikiran itu nyaris membuat Kazuya meremas Sawamura ke dalam pelukan putus asa.

Sesi kedua dansa mereka diliputi keheningan sampai akhirnya gerakan mereka berhenti di satu titik. Sawamura dengan hati-hati mengambil jarak dan menatap langsung ke mata Kazuya. "Kenapa kau aneh sekali malam ini?"

"Aku tidak aneh."

Mata Sawamura menyipit tajam, penuh selidik. Kazuya berusaha keras untuk tetap tampil santai dan tak terbaca. Menampilkan senyum culas dan gerlingan mata menantang untuk mengalihkan kecurigaan Sawamura akan sikapnya.

"Sekarang waktunya masuk ke rumah, tidak baik bagi anak seusiamu tetap diluar saat malam hari." Kazuya menggodanya dan Sawamura memutar mata. "Masuklah," tangan Kazuya mendarat di bahu Sawamura, menampik jauh-jauh dorongan hatinya untuk menariknya ke dalam pelukan. "Jangan lupa mandi dan keramas."

"Tch, aku bukan anak kecil!" Sawamura merengut. "Aku tahu apa yang harus kulakukan, kau tidak perlu mendikteku, Miyuki Kazuya. Aku bisa mengurus diriku sendiri."

Kata-kata itu polos. Murni terdengar sebagai bentuk pembelaan wajar untuk seorang laki-laki berusia dua puluh tahun seperti Sawamura. Akan tetapi sisi melankolis Kazuya bangkit di saat yang tida tepat dan menarik kesimpulan bahwa Sawamura tidak membutuhkannya. Sawamura Eijun akan tetap baik-baik saja tanpa Miyuki Kazuya di sisinya.

"Benar, kau bukan anak kecil." Kazuya tersenyum tipis, tangannya bergerak dari bahu ke rahang Sawamura dan berhasil membuat pemuda itu tersentak, menatapnya kaget. Kazuya membiarkan tangannya di sana, membingkai tegas rahang Sawamura dan merasakan kulitnya. Sawamura begitu hangat, begitu hidup, tampak luar biasa dengan sepasang mata emas dan wajah yang memerah.

Kazuya ingin menciumnya. Satu kali lagi. Sebagai satu lembar akhir dari petualangannya dalam beberapa bulan ini. Hanya satu ciuman...

Bolehkah?

"Tanganmu dingin, Miyuki-senpai." Sawamura meringis kecil pada sentuhan jari-jari Kazuya di wajahnya.

Kazuya meneguk ludah, jawaban datang lebih cepat dari yang ia duga—tidak boleh; Kazuya benar-benar tidak boleh mencium Sawamura lagi. Kazuya menarik tangannya kembali, mengambil langkah mundur, menciptakan jarak cukup aman di antara mereka berdua.

"Kalau begitu kau benar-benar harus masuk sekarang agar aku bisa langsung pulang alih-alih menggigil kedinginan di sini."

"Err...baiklah." Sawamura mengembuskan napas dari mulutnya lalu menatap Kazuya lagi. "Benar-benar tidak ada yang ingin kau katakan?"

"Maksudmu?"

"Ugh, habisnya kau kelihatan sedang menahan sesuatu jadi kupikir ada yang mau kau katakan, mungkin?"

"Tidak ada." Sahut Kazuya cepat, langsung menggigit lidahnya sendiri. Ia berhasil memasang senyuman dan mengacak pelan rambut coklat Sawamura yang sudah berantakan. "Kau tidak perlu mengembalikan pakaianku."

"Eh?"

"Sawamura Eijun, masuklah ke dalam rumah sekarang."

"Tapi—"

"Jangan jadi anak nakal, dan berhentilah mengoceh."

"Aku bukan anak kecil!"

"Nah, kalau memang bukan anak kecil harusnya kau paham tanpa harus diberitahu dua kali. Sekarang, masuk."

Sawamura menggerutu. "Cih, dasar menyebalkan! Oke, aku masuk! Selamat malam, Miyuki Kazuya. Semoga kau mimpi buruk!"

Ketika Sawamura membanting pintu hingga menutup, Kazuya bisa merasakan buku petualangannya tentang Sawamura Eijun juga ikut tertutup. Semuanya selesai.

Eijun makan siang bersama Chris di salah satu restoran Italia tak jauh dari Universitas. Dia mendapatkan risotto sebagai hidangan pembuka, pasta carbonara sebagai hidangan utama, dan cannoli sebagai hidangan penutup. Chris tertanya tahu banyak soal masakan Italia bahkan Perancis, Chris bahkan menceritakan bahwa sepanjang tahun pertama masa kuliahnya ia nyaris menghabiskan waktu luang untuk mengelilingi seluruh Prefektur Kanto bersama ibunya demi menjelajah setiap restoran yang menyajikan masakan Italia atau Perancis.

"Tapi kenapa Chris-senpai justru berniat ke Kanada?"

"Ternyata kau masih ingat obrolan kita saat itu, huh?" Chris tersenyum. "Aku suka ketenangan." kata Chris, sinar di matanya lembut menatap Eijun. "Aku memang suka tantangan, bahkan dalam beberapa hal aku bisa menjadi sangat keras kepala dan gigih demi tujuanku. Tetapi Kanada..." Chris berkata, matanya menerawang jauh dalam ekspresi damai dan bahagia. "Tempat itu seolah memanggil jiwaku. Wilayah Amerika Utara yang hanya dihuni sekitar sebelas persen oleh populasi manusia, kenampakan alam yang indah, warganya yang ramah, aku ingin tempat seperti itu untuk menjadi rumahku."

Eijun terdiam, mungkin juga terpana mendengar kata-kata Chris. Ia bisa merasakannya, emosi yang dalam dan penuh damba, dibalut rasa damai dan penerimaan yang hangat. Chris belum pernah terlihat seperti ini di depannya, menampilkan sisi lain dari pemuda kaya yang penuh otoritas itu sebagai pemuda hangat dan sederhana yang menjunjung hidup damai.

"Tapi iklim Kanada dingin, kan?" Eijun bertanya hati-hati, sama sekali tak ingin mengusik gambaran sempurna Chris.

Chris terseyum padanya, tanpa kesan sinis sama sekali. "Ya, dan itu anehnya menjadi salah satu alasanku makin menyukainya. Aku membayangkan membangun sebuah rumah di atas sebidang tanah Kanada, halaman yang luas, pagar yang dicat putih, dan kotak besar perapian yang menyala. Udara Kanada akan lebih sering dingin daripada hangat, dan aku akan mrmbakar kayu dalam perapian di rumahku. Membuatku merasa lebih hangat, lebih aman."

Eijun hampir bisa melihat gambarannya. Takigawa Chris Yuu duduk di sofa tunggal depan perapian yang menyala, wajahnya teduh dihiasi kilau oranye api, membaca sebuah buku dengan santai dan elegan. Eijun tersenyum tanpa sadar, rasanya itu cocok untuk Chris. Tetapi kemudian ia ingat sesuatu. "Bisnis keluarga Senpai bagaimana?"

Chris sempat berkedip lebih tegas, lalu tersenyun lebih lebar. "Kurasa aku lupa bilang bahwa aku punya seorang kakak, Sawamura."

Eijun nyaris terpana. "Benarkah? Aku pikir Chris-senpai anak tunggal!"

"Well, aku memang anak tunggal dari ibuku. Tapi ayahku sudah pernah menikah sebelumnya dan punya seorang anak laki-laki yang kemudian menjadi saudara tiriku. Istri pertamanya meninggal karena sakit keras, dua tahun kemudian dia bertemu ibuku dan, yah... lahirlah aku."

Eijun mencerna informasi itu sebaik otaknya mampu bekerja. Rasanya masih agak sulit untuk percaya bahwa Chris punya seorang kakak laki-laki karena topik itu nyaris tak pernah muncul atau bahkan terpikirkan.

"Namanya Jonas." kata Chris lagi, tersenyum sedikit geli. "Jonas adalah kakak yang baik, benar-benar berwajah Amerika dengan rambut pirang matahari dan mata biru, juga bintik-binting di seputar hidung dan pipinya. Jonas cukup jarang ke Jepang, tapi bukan berarti kami tidak dekat."

"Wow." Hanya itu yanh berhasil Eijun katakan.

Chris tertawa renyah. "Jonas baru selesai menempuh pendidikan S2 di Oxford, dan sekarang dia menetap di Amerika untuk melebarkan sayapnya, memegang tanggung jawab bisnis ayahku di sana."

Eijun diam dan berpikir. Mulai mencoba menerka-nerka dan menghubungkan semua kejadian. "Jadi dia yang akan..."

"Menjadi penerus ayahku? Ya, Sawamura. Bagaimanapun, ada alasan kenapa aku lebih memilih memakai marga ibuku, dan aku lebih suka begitu. Tapi Jonas tidak pernah melarangku bahkan menyambutku jika berminat ikut ambil bagian. Geez, sebenarnya Jonas bahkan masih sering membujukku untuk membangun perusahaan bersamanya, dia pikir kami berdua akan menguasai seisi dunia jika berkerjasama." Chris mendengus dengan geli, tapi Eijun bisa melihat seberapa tulus dan dalam ikatan antar Chris dan Jonas dari cara pemuda itu membicarakannya.

"Chris-senpai benar-benar akan ke Kanada dan meninggalkan semua ini begitu saja?"

Chris tertawa samar sebelum menggeleng. "Itu pemikiranku saat lima belas tahun. Tapi sekarang aku cukup dewasa untuk paham bahwa aku tidak bisa sera merta ke Kanada untuk hibernasi sementara keluargaku bertahan di tengah pertumbuhan ekonomi dunia." Ia tersenyum lagi. "Aku akan lebih banyak tinggal di Kanada seperti impianku, hanya saja aku tidak akan pernah lepas dari keluargaku, dari ayahku, atau dari Jonas. Aku akan tetap membantu mereka, dan siap terbang ke mana saja jika dibutuhkan."

Eijun membasahi bibirnya, ada rasa geli dan malu yang tiba-tiba hinggap. "Aku pikir tadinya golongan orang seperti keluarga Chris-senpai akan melakukan apapun demi mendapatkan posisi bagus, bahkan saling sikut dengan saudara atau keluarga sendiri."

Seperti dugaannya, Chris langsung tertawa geli. "Tidak semua orang seperti itu, Sawamura. Tapi aku tidak akan menyalahkanmu karena berpikir seperti itu."

Eijun memasang cengiran malu. "Aku selalu menganggap Chris-senpai benar-benar figur ideal seorang kakak. Rasanya masih sulit percaya bahwa Chris-senpai adalah adik."

Chris mengangkat satu alisnya main-main. "Kurasa aku harus mulai mengoreksi itu dari kepalamu, aku tidak ingin jadi kakakmu, Sawamura." Nada Chris agak mengancam tapi masih disampaikan dengan ringan hingga tak cukup menimbulkan rasa takut mekar dalam diri Eijun. "Well, sebenarnya dibanding kakak-adik, aku dan Jonas lebih sering merasa bahwa kami seumuran. Selain karena usia kami yang memang tidak terpaut terlalu jauh, Jonas tidak pernah benar-benar menginginkan determinasi khusus sebagai anak tertua. Dia memperlakukanku seperti temannya, menghargaiku, dan bahkan tak malu meminta saranku."

"Kedengarannya kalian sangat dekat."

"Tentu." Sahut Chris ramah. "Kami saudara." Ia tersenyum lagi lalu mendelikkan bahu ringan. "Kadang, dalam beberapa sifat, Jonas mengingatkanku pada seseorang."

"Eh?"

"Jonas penuh ambisi, penuh ide, cerdik, manipulatif dan bahkan licik. Jonas menyayangi keluarganya, tapi dia bisa menjadi sangat egois dan ditraktor terhadap orang lain. Jonas selalu menantang bahaya, menceburkan diri ke dalam suatu lingkaran dan keluar sebagai pengendali penuh. Kadang, begitu sulit untuk menebak apa yang Jonas pikirkan karena dia begitu penuh misteri." Chris menatap ke mata Eijun, tersenyum simpul. "Menurutmu dia agak mirip siapa?"

"Miyuki Kazuya." Eijun berkata sebelum benar-benar sadar bahwa otaknya sudah mengirim jawaban itu ke mulutnya. Saat Chris menganggukkan kepala dengan senyum yang lebih lugas dan setuju, tiba-tiba Eijun tersadar dan menjadi malu.

"Sayangnya dua orang itu belum pernah benar-benar bertemu. Bahkan Miyuki tak mengatahui apapun soal Jonas."

Eijun mengerjap lalu melotot. "Kupikir keluarga kalian dekat?"

Chris tersenyum tipis, agak misterius tetapi juga geli. "Jonas suka sekali menganggap dirinya sebagai senjata rahasia. Dia sengaja hidup sendiri seakan terpisah dan tak ada hubungannya dengan keluargaku. Jonas beranggapan bahwa menjadi sosok bayangan itu keren. Dia akan muncul dengan dramatis sebagai pedang pembasmi ketika waktunya tiba." Chris mengambil jeda, mengehela napas pendek. "Bagaimanapun, keluargaku dan keluarga Miyuki saling mengenal karena bisnis. Jelas saja, Jonas tidak akan mau muncul dan menunjukkan batang hidungnya di depan keluarga Miyuki lebih awal."

Eijun tidak tahu bagaimana lagi harus merespon. Tapi ia memikirkan Jonas, seseorang yang kuat, selama ini selalu bersembunyi dari saingan bahkan mitra bisnis keluarganya. Mempetkuat diri, licik, penuh ambisi, siap menyerang siapa saja saat tiba waktunya. Termasuk mungkin Miyuki Kazuya. Menelan ludah, Eijun memberanikan diri menatap Chris. "Kenapa Chris-senpai menceritakan ini padaku? Maksudku, kalau Jonas memang suka hidup sebagai bayang-bayang dan rahasia..." Eijun menggigit bibirnya tak tahan.

"Kau takut kelepasan bicara soal Jonas pada Miyuki, begitu?"

Eijun mengangguk, hampir merasa bersalah.

Tetapi Chris menggeleng ringan padanya, tersenyum dengan menenangkan. "Aku tidak keberatan sama sekali, Sawamura. Rileks." Ia menghembusakan napas lega. "Karena pada akhirnya nanti, Jonas akan jadi salah satu pesaing Miyuki, aku hampir bisa menebak itu."

Eijun belum sempat mengatakan apapun ketika Chris tiba-tiba bergerak sedikit dari posisinya. Badannya condong lebih dekat ke arahnya dan matanya menatap Eijun lurus-lurus. Sinar di mata Chris berubah, sesuatu yang serius sekaligus lembut. "Miyuki Kazuya adalah sainganku dalam hal lain, bukan bisnis."

Jantung Eijun secara mengejutkan berdebar lebih cepat. Ada suara kecil dalam kepalanya yang memintanya untuk lepas dari situasi ini. Tapi sisi lain dalam dirinya tak menemukan alasan yang jelas. Eijun tetap duduk di sana, menatap ke mata amber Chris, mendengarkan bunyi detak jantungnya dan bernapas teratur saat Chris tersenyum kembali, lalu mengusap lembut tangannya di atas meja. Halus, sentuhan ringan dan begitu hati-hati, sarat akan rasa permisi sebelum lantas pergi dan meninggalkan kulit Eijun dalam rasa geli yang aneh. Suara Chris hampir seperti senandung ketika mengatakan, "Dia sainganku untuk mendapatkan perhatianmu, Sawamura Eijun."

Atmosfer mereka telah berubah bahkan sebelum Eijun menyadarinya. Tatapan Chris padanya begitu manis, sejak kapan? Eijun berdebar dengan asing, rasanya aneh, tapi ini tidak terasa tepat. Jika Eijun berani mengamati lebih jauh, dia bisa melihat banyak emosi tersembunyi dalam wajah tenang Chris. Kegugupan, rasa cemas, ketulusan, penerimaan, kesabaran, dan mungkin juga keegoisan. Eijun meneguk ludah, berusaha tetap mempertahankan matanya pada Chris. "Apa maksud Chris-senpai?"

"Aku pikir kau mengerti maksudku, Sawamura." Chris terdengar ramah, suaranya tidak menuntut sedikitpun dan dia tetap tersenyum tanpa meninggalkan mata Eijun. "Aku menyukaimu, dalam artian romantis. Aku ingin menjagamu, mengajakmu berkencan ke tempat-tempat yang kau inginkan, membuatmu tertawa dan merasa nyaman di dekatku."

Eijun berdebar-debar lebih cepat. Hampir terasa seperti jantungnya hendak meloncat ke tenggorokan. Ini bukan kali pertama seseorang menyatakan perasaan padanya, ada beberapa gadis yang pada masa sekolahnya sempat mengiriminya surat atau mengajaknya berkencan, tapi ini jelas pengalaman pertamanya ada seseorang yang menyatakan secara langsung, dengan tatapan lembut seperti itu, terlebih lagi Chris seorang laki-laki.

"A-aku tidak benar-benar mengerti." Eijun terbata, menyesap mulutnya yang kering dan menggeleng tanpa daya. "Aku bingung."

"Tidak apa-apa." Sesuatu dalam senyum Chris membuatnya merasa lebih tenang. "Kau tidak perlu cepat-cepat atau memaksakan diri. Aku hanya sudah tidak tahan lagi untuk mengatakannya."

Ada titik jernih dalam kepala Eijun yang mendorongnya untuk bertanya. "Sejak kapan?"

"Kurang-lebih satu tahun."

"Selama itu?" Eijun nyaris memekik. Bagaimana bisa ia sama sekali tidak sadar? Lantas semua ingatan datang menyerbunya sebagai gelombang jawaban. Semua perhatian Chris, bagaimana Chris selalu ingin membantunya, Chris yang rela menuruti keinginan egoisnya untuk latihan tambahan, Chris mengenalkannya pada keluarganya, dan betapa selama ini anggota taekwondo lain selalu mengatakan bahwa ada sesuatu yang istimewa di antara Eijun dan Chris.

"Sawamura," suara Chris menarik Eijun dari lamunan. "Aku tidak ingin mendesakmu sama sekali, oke? Aku harap kau tidak merasa terbebani. Kau tidak perlu memberiku jawaban sekarang, bagaimapun juga ini hal yang agak kompleks. Tapi biar aku tegaskan satu hal, apapun jawabanmu, aku akan tetap sama. Aku tidak akan menjauhi atau memusuhimu begitu saja, kau tidak harus merasa berkewajiban atau merasa bersalah atas apapun. Kau tidak akan kehilanganku kecuali kau yang memintaku menghilang." Chris tersenyum padanya lagi, sangat meyakinkan. "Sekarang, bernapaslah."

Eijun bahkan tidak sadar bahwa ia menahan napas. Ia menuruti kata Chris dan mulai bernapas lagi, rasanya sedikit lebih tenang dan lega. Chris mendorong gelas minuman ke dekat Eijun sambil tersenyum, Eijun meneguk habis isi gelas sebelum mendesah lega.

Chris tertawa kecil. "Kau bahkan lebih tegang daripada aku."

Eijun bahkan tidak perlu lagi menyangkal bahwa wajahnya merah. "Aku benar-benar tidak tahu harus apa." Ia menggigiti bibirnya gugup, rasanya masih ta percaya seseorang ssperti Chris menaruh perasaan khusus untuknya.

"Latihanku berguna sedikit." kata Chris, lalu membunag napas panjang dan minum dengan perlahan. "Apa itu akan melunturkan wibawaku di matamu kalau kukatakan aku sudah puluhan kali melatih untuk mengatakannya sebelum hari ini?"

Eijun mengerjap. "Chris-senpai melatihnya?"

"Mm-hmm." Chris tersenyum geli. "Sebelum ini aku belum pernah menyukai seseorang seperti aku menyukaimu, bahkan tidak untuk Amanda. Jadi, well... aku lumayan cemas." Ia angkat bahu dengan begitu ringan. "Reaksimu agak berbeda dari dugaanku."

Eijun tidak bisa menerjemahkan kalimat membingungkan itu. "Berbeda?"

"Benar." Chris mengatakannya dengan ketenangan yang sama membingungkannya. "Kau selalu tampak tidak benar-benar mendambakan siapapun, Sawamura. Kau selalu... penuh. Kau selalu utuh dengan semua yang melekat pada dirimu sendiri. Kau hanya butuh senyuman lebar dan energi positifmu dan dunia yang akan tunduk mengikutimu. Sering kali aku harus mengatakan tiga sampai rmpat kali sebelum kamu menjawab. Kadang kau begitu jauh. Lalu kau menoleh kepadaku dengan senyum lucu, tapi aku tidak bisa marah padamu. Perhatianmu terbagi untuk seluruh dunia, dan saat aku bisa mendapatkan sedikit saja dari itu, rasanya sudah menyenangkan."

Eijun telah kehilangan kata-kata. Selama ini dia banyak mendapat komentar sebal dari orang-orang yang berkata bahwa dia terlalu mudah teralihkan di tengah pembicaraan, dan mereka terpaksa mengulang kata-kata dengan agak jengkel hanya untuk membuatnya mengerti. Eijun tidak sadar dia juga melakukannya pada Chris, tapi Chris tidak terlihat kesal, Chris justru memaklumi dan menerimanya.

"Maafkan aku." Eijun bergumam.

Chris menggeleng. "Tidak perlu minta maaf, Sawamura. Itu bagian dari dirimu, dan aku tak ingin memaksa untuk mengubah apapun tentangmu." Pemuda blasteran itu tersenyum padanya, tatapannya melembut lagi. "Dicintai itu nasib, mencintai itu pilihan. Jadi kalau kukatakan, aku mencintaimu. Maka mengertilah, bahwa aku memilihmu."

...

Tiga hari berlalu sejak pengakuan Chris, dan Eijun mulai merasa gugup. Ia berhasil menjalani tiga hari dengan wajar selama di dekat Chris, tapi semakin lama ingatan itu semakin menghantuinya dan menuntut perhatian lebih banyak.

Chris adalah seorang laki-laki, Eijun jelas paham seperti apa logika dan pemikiran dari kaumnya. Laki-laki tetap punya sisi maskulinitas, dominan, berkuasa dan menginginkan jawaban lugas serta kepastian. Walau Chris berkata sama sekali tak memaksa dan bersedia memberinya waktu, tapi Eijun lumayan yakin bahwa Chris juga tersiksa dengan jawaban Eijun yang masih semu.

Eijun merasa bahwa Miyuki seharusnya diberitahu. Suka atau tidak, mereka masih sepasang belahan jiwa dan punya perjanjian untuk tidak memiliki kedekatan dengan orang lain selama setahun lagi, atau kurang dari setahun mengingat sudah beberapa bulan berlalu sejak saat itu. Tapi sebagian lain dari dirinya tidak ingin memberitahu Miyuki, tidak ingin membawa-bawa tipe percakaan soal siapa orang yang mungkin mereka kencani atau akan mereka pilih setelah batas perjanjian berakhir. Eijun bahkan tidak ingin memikirkan akhir perjanjian itu. Tanpa sadar telah terlalu terbiasa untuk menjaga jarak dari orang lain dan maju lebih dekat untuk akrab dengan Miyuki. Eijun tidak repot-repot menyangkal bahwa dia menyukainya, menikmati kedekatannya dengan Miyuki Kazuya dan pertemanan di antara mereka.

Namun Miyuki tiba-tiba saja menjadi terlalu pasif. Bahkan jauh lebih pasif selepas hari Minggu. Eijun pikir setelah malam itu, setelah Miyuki menemuknnya di tengah hujan dan mendesaknya masuk ke dalam mobil, memaksanya berganti pakaian, makan malam bersama, dan bahkan mengajaknya dalam dua sesi dansa, segalanya akan membaik. Tapi nyatanya tidak. Miyuki justru terasa semakin jauh, semakin jarang membalas pesannya, semakin sulit untuk ditemui, juga semakin terkesan bahwa ia lenyap begitu saja.

"Apa aku membuat kesalahan?"

Eijun bertanya dalam keluhan kepada dua ikan mas yang berenang di kamarnya. Ikan-ikan itu tidak menjawab, tentu saja, hanya membuat Eijun makin murung. Miyuki belum membalas LINE darinya dan ini sudah lima jam berlalu, Eijun sama sekali tak dapat mengenyahkan pemikiran bahwa Miyuki mengabaikannya.

"Sebenarnya ada apa dengan Si Bangsat ini?" Eijun mengumpat jengkel lalu mendesah dengn frustasi. Ikan-ikan tetap berenang tak peduli.

Eijun bahkan bertanya pada Kuramochi, sehalus mungkin berusaha tidak terkesan sebagai seorang yang terlalu ingin tahu atau mengintrogasi. Ia sadar baik dirinya maupun Miyuki punya kehidupan masing-masing, dan sudah jelas Miyuki tidak akan suka urusannya diganggu. Kuramochi menjawab bahwa Miyuki belakangan ini memang agak sibuk, keluar-masuk ruangan professornya yang diduga sebagai kepentingan penelitian tugas akhir.

Eijun menjadi murung mengingat soal tugas akhir. Ia bertopang dagu dan menatap sepasang ikan kecil itu lagi. "Aku kadang lupa kalau dia mahasiswa tingkat akhir. Tapi ini baru semester tujuh untuknya, kan? Bukankah terlalu buru-buru? Cih, tentu saja dia Miyuki Kazuya, dia rajin dan cukup sombong soal kemampuan otaknya. Tapi tetap saja, dia masih punya waktu, tidak bisakah dia santai sedikit? Hell, dia juga tidak mungkin wisuda dalam satu atau dua bulan dari sekarang!"

Eijun belum sempat uring-uringan lebih jauh ketika ponselnya berbunyi. Secepat sambaran kilat, ia mbuka ponselnya berharap nama Miyuki Kazuya yang muncul. Namun Eijun berakhir mendesah kecewa saat yang tertera justru nama Takigawa Chris Yuu. Eijun bahkan tidak membuka pesan itu dan lebih memilih untuk menenggelamkan ponsel di bawah bantalnya.

"Tidak adil. Benar-benar tidak adil." Eijun komat-kamit. "Kau membuatku jengkel dan melimpahkan kekesalan pada orang lain, Miyuki Kazuya. Ini semua salahmu."

...

"Kau kelihatan murung beberapa hari ini." Shinji memandangi Eijun dengan alis berkerut dan mata seakan mengobservasi spesies aneh. "Ada apa denganmu?"

Eijun menatap makan siangnya tanpa minat dan angkat bahu. "Bukan apa-apa."

Shinji mendengus. "Kau pembohong yang sangat payah, kau tahu?" sindirnya. "Ada apa, Sawamura? Hanya karena kita bukan roommate lagi bukan berarti kau tidak bisa cerita padaku."

Eijun menyerah untuk menghabiskan makan siangnya, ia menatap piringnya sekali lagi dan mengumam maaf sebelum mendorongnya menjauh lalu beralih menatap Shinji. "Aku tidak tahu." Desahnya putus asa. "Banyak sekali kejadian yang membuatku bingung dalam seminggu belakangan."

Shinji mencondongkan tubuhnya lebih dekat, tampak tertarik. "Kau tidak bertengkar dengan Miyuki-senpai lagi, kan?"

Eijun menghela napas berat, saat ini bahkan hanya dengan mendengar nama itu membuatnya lelah luar biasa. "Aku yakin sebelumnya kami baik-baik saja. Sebenarnya malah dalam beberapa waktu belakangan rasanya jauh lebih baik."

"Lalu? Apa yang salah?"

Eijun menggeleng. "Aku tidak tahu, rasanya dia tiba-tiba mengabaikanku."

"Mengabaikanmu bagaimana?"

Mulut Eijun baru saja terbuka untuk menjawab ketika ia merasakan getaran di sakunya. Eijun mengeluarkan ponselnya dari dalam saku dan reflek menahan napas begitu melihat nama pemanggil yang tertera di layar.

Takigawa Chris Yuu.

Eijun belum siap bicara dengan pemuda blasteran itu. Tanpa sadar dia sudah mengabaikan Chris berhari-hari dan menjadi terlalu canggung untuk menerima telepon ataupun bicara dengannya. Jari Eijun bergerak ke panel hijau dengan ngeri, tapi kemudian ia berubah pikiran dan justru menekan panel merah. Ponselnya berhenti bergetar dan Eijun kembali bernapas.

Eijun kembali menatap Shinji untuk melanjutkan percakapan ketika ponselnya kembali berdering. Masih panggilan dari Chris. Kali ini Eijun yakin punggungnya bahkan mulai berkeringat. Ia ta sanggup lagi menolak panggilan Chris, tapi ia masih belum siap menerima. Jadi Eijun memutuskan untuk meletakkan ponselnya di atas meja dan membiarkannya terus bergetar, pura-pura tidak terjadi apa-apa.

"Sampai kapan kau mau menghindariku, Sawamura?"

Eijun nyaris terjungkal dari tempat duduknya. Berdiri di belakangnya, Takigawa Chris Yuu dengan wajah tegas dan tatapan mata menyorot langsung ke arahnya.

"Apa?" sela Chris, nyaris terdengar tidak sabar. Tetapi pemuda itu masih berhasil menjaga suaranya tetap rendah. "Kau mau berkata bahwa kau tidak menghindariku? Jelas-jelas kau tadi menolak panggilanku dan kemudian tidak berniat mengangkatnya."

Lidah Eijun berubah kelu. Setiap kata telah menguap dari kepala dan mulutnya. Benar-benar tidak tahu lagi caranya mencari jalan keluar. Chris sudah terang-terangan melihatnya menghindar. Tak ada cara lain kecuali meminta maaf dan mengakui kesalahannya sekarang.

"Kau membuatku khawatir."

Eijun tersentak ketika mendengar suara Chris melembut, bahkan diiringi hela napas panjang seolah pemuda itu kelelahan. Selanjutnya tangan Chris mendarat di bahunya, meremasnya tegas selagi mata amber itu menemukan matanya. "Ada apa denganmu sebenarnya? Kalau aku berbuat salah, tolong katakan saja. Jangan menghindariku terus, Sawamura."

Eijun tertegun bisu.

"Kau sudah melakukannya selama berhari-hari. Kau tidak mau mengangkat telepon dariku, kau tidak membaca satupun pesanku, dan kau selalu kabur buru-buru begitu selesai taekwondo."

Eijun benar-benar tidak punya pembelaan apapun atas hal itu. Jadi ia hanya berakhir diam tak menjawab.

"Kau bahkan tidak mau bicara padaku, huh?"

Eijun memgigit bibir bawahnya, hanya sanggup menundukkan kepala tanpa menjawab satupun ucapan Chris. Ini bukan versi terbaik dari dirinya yang ingin dia tampilkan di depan Chris. Tapi Eijun merasa apapun yang akan dia katakan mungkin hanya akan membuat Chris marah.

"God, Sawamura..." Chris menghela napas dengan berat. "Aku paham sekarang. Ini jawabanmu atas peryataanku minggu lalu, kan? Bukanlah sudah kubilang saat kau menolak, kau tidak perlu merasa bersalah atau menghindariku?"

Eijun mendongak dan melebarkan mata. Bukan! Ia ingin menyanggah tapi suaranya tak mampu keluar.

"Aku mengerti." Chris tersenyum padanya, tulus tapi agak menyedihkan. "Kalau ini memang maumu, maka aku akan ikuti. Kau tidak nyaman di dekatku lagi rupanya. Baiklah, aku akan menjauh darimu."

Eijun membuka mulut, gelagapan seperti ikan terdampar di pasir. Tidak, bukan begitu maksudnya! Ia harus cepat-cepat menjelaskan sebelum masalah ini bertambah runyam.

"Maafkan aku." Chris bicara lagi. "Sepertinya kau jadi tertekan begini karena ucapanku saat itu. Kau boleh melupakannya saja kalau itu membuatmu merasa lebih baik. Aku akan berusaha bersikap sewajarnya saja padamu mulai sekarang." Ia menghembuskan napas cepat dan tersenyum lagi. "Terima kasih atas waktunya, Sawamura."

Chris kemudian mulai beranjak dan kepanikan Eijun meningkat sangat signifikan hingga tangannya meraih lengan Chris begitu cepat selagi jeritan keluar dari mulutnya. "JANGAN!"

Pekikannya sukses menarik perhatian Chris tapi juga orang-orang di kantin. Eijun menelan ludah, menggelengkan kepala panik. "Maafkan aku, Chris-senpai." cicitnya frustasi. "Aku benar-benar tidak bermaksud begitu, sungguh!"

Mata amber Chris menatap Eijun selama beberapa saat. "Jadi bagaimana baiknya aku bersikap padamu? Kau ingin aku menjauh?"

"Tidak!" Sahut Eijun tegas diiringi gelengan kepala kuat. "Aku salah karena menghindari Chris-senpai, tapi percayalah itu bukan berarti aku ingin hubungan kita merenggang. Ini juga bukan jawaban untuk Chris-senpai, sama sekali bukan."

Mata Chris melebar sedikit. "Bukan?"

"Bukan." Eijun meyakinkan. Menjilat binir bawahnya singkat dan lanjut bicara dengan suara lebih rendah. "Maaf untuk saat ini aku belum bisa memberi jawaban. Aku terlalu khawatir Chris-senpai menjadi tidak sabar jadi aku malah menghindar. Akhirnya aku malah mengambil tindakan yang bodoh dan kekanak-kenakan begini."

Chris memberinya pandangan lega. "Jangan menghindariku lagi, oke? Rasanya menyebalkan."

Eijun mengerjap, rasanya barusan ia salah dengar. Chris bicara dengan suara agak merajuk barusan? Benarkah? Eijun mengira ia mungkin berhalusinasi, tapi ekspresi yang menghias wajah Chris saat ini mematahkan perkiraannya.

"Umm... iya. Baiklah, aku tidak akan menghindar lagi dari Chris-senpai."

Wajah Chris diliputi senyuman, Eijun harus mengakui bahwa senyuman pemuda itu memang menawan dan berhasil membuatnya agak berdebar. Lalu tiba-tiba seseorang berdeham agak keras dan memutus kontak mata di antara Eijun dan Chris.

"Halo, Chris-senpai." Shinji menyapa agak keki. Senyumnya tampak aneh, bahkan canggung. Eijun baru sadar Shinji masih ada di sana!

"Oh," Chris tampaknya juga baru sadar. "Hai, Kanemaru."

Suasana menjadi terlalu canggung untuk meraka bertiga sampai akhirnya Eijun membuang napas cepat dan berusaha mencairkannya. "Chris-senpai sudah makan siang? Bagaimana kalau sekalian makan siang di sini bersama kami? Aku traktir sebagai bentuk permintaan maaf karena menghindari Chris-senpai beberapa hari ini, mau yaa? Please?"

Chris tersenyum lebih rileks lalu menoleh bergantian pada Eijun dan Shinji. "Aku mau sekali, tapi sayangnya aku ada janji dengan dosen sekarang. Jadi maaf, aku tidak bisa."

"Chris-senpai sedang bimbingan?" Tanya Shinji agak kaget.

"Kurang lebih seperti itu, meski progresnya baru dimulai." Ia angkat bahu. "Aku ke sini hanya untuk menemui Sawamura."

Eijun salah tingkah dan baru sadar masih meremas kuat lengan Chris, ia buru-buru melepasknnya. "Chris-senpai tidak perlu megorbankan waktu bimbingan hanya untukku. Ini tidak sepenting itu."

"Tapi kau penting bagiku, Sawamura." Chris tersenyum lembut dan mengacak rambutnya.

Eijun terkesiap dan Shinji batuk-batuk. Tapi sebelum sempat merespon Chris sudah menarik tangannya kembali. "Kalau begitu aku pergi dulu, Sawamura, Kanemaru." Dia mengangguk sekilas dan tersenyum simpul. "Sampai ketemu di ruang dojo." Katanya, lalu berbaik pergi. Meninggalkan Eijun dalam keterpanaan dan Shinji yang masih batuk-batuk.

"Apa yang terjadi di antara kau dengan Chris-senpai?" Shinji nyaris berteriak setelah tiga menit berlalu.

Eijun memandang Shinji dan sadar bahwa ia tak punya kesempatan untuk menghindar. Mungkin memang sebaiknya ia cerita pada pemuda itu dan meminta solusi sebelum kepalanya benar-benar meledak. "Sebenarnya—"

Kata-kata Eijun terpotong oleh ponselnya yang kembali bergetar. Eijun mengernyit ketika melihat nama Chris muncul di layar. Ia buru-buru mengangkat meski agak bingung.

"Halo?"

Chris tidak menyahut, hanya ada suara napas. Hal yang sukses membuat Eijun bertambah bingung.

"Chris-senpai?"

Chris tetap tidak menjawabnya.

"Senpai, ada apa—"

"Sawamura,"

"Ya? Kenapa?"

"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin memastikan kau sudah mau mengangkat teleponku. Sudah ya, bye."

Sambungan telepon diputus.

...

Kuramochi mengeryitkan hidung dengan tajam setelah sebelumnya mengambil jarak lebih dekat dengan Kazuya. "Kau habis merokok?"

Kazuya otomatis mengendus tubuhnya lalu berdecak pelan. "Sedikit."

"Ada apa?" Suara Kuramochi turun menjadi lebih halus. "Kau baik-baik saja?"

"Maksudmu?"

Kuramochi memutar mata. "Aku kenal kau, Miyuki. Aku cukup paham kau hanya menyentuh rokok saat benar-benar punya masalah serius atau beban pikiran yang menganggumu. Kau bahkan tidak suka rokok, astaga. Dan saat kau menghisapnya, artinya pikiranmu sedang sangat kacau."

Kadang, Kazuya begitu benci saat Kuramochi menggunakan otaknya. Sadar hanya akan membuatnya lebih terbaca apabila mencoba mengelak, Kazuya memilih tetap diam dan terus berjalan.

"Jangan mengabaikanku, sialan."

"Aku lapar, Kuramochi. Kita bicara setelah makan, oke?"

Kuramochi tampaknya masih ingin mendebat. Kazuya bisa merasakan mata Kuramochi tak lepas darinya selagi mereka melangkah bersama ke kantin. "Baru beberapa hari yang lalu kau kelihatan sedang mabuk cinta dan sangat bahagia. Tapi sekarang," Kuramochi mendengus. "You look like a shit."

"Thanks, how lovely."

Kuramochi menyipit tajam. "Kau kelihatan sedang patah hati, Miyuki."

Kazuya nyaris memutar mata. "Tidak ada istilah patah hati dalam kamus hidupku, Kuramochi." Ia baru bermaksud mengatakan hal lain yang agak tajam ketika pandangannya jatuh ke salah satu sudut kantin. Langkahnya berhenti.

Kazuya sudah tidak melihat Sawamura Eijun selama hampir satu minggu. Berusaha sangat keras untuk mengabaikan semua interaksi yang coba pemuda itu jalin padanya. Kazuya hampir tak pernah membalas pesannya atau bahkan mencoba menemuinya. Sekarang saat melihat sosok itu lagi, Kazuya merasa semua usahanya sia-sia karena yang paling ingin ia lakukan hanya berlari ke sana dan mendengar suara Sawamura.

Namun sesuatu menahan Kazuya tetap diam di tempat, berdiri terpaku dan tak bergerak. Chris ada di sana, berdiri di dekat Sawamura. Dua orang itu saling menatap seakan tak ada hal lain di dunia selain mereka berdua. Napas Kazuya tercekat ketika menyadari bahwa Sawamura sedang memegang lengan Chris erat-erat dengan dua tangannya. Dari jarak sejauh ini sekalipun, Kazuya bisa membaca bahwa sentuhan itu bermakna tegas bahwa Sawamura tak ingin Chris pergi, ia ingin menahan Chris lebih lama di sisinya.

Tak tahan dengan apa yang dilihatnya, Kazuya mengalihkan pandangan ke arah lain. Mengabaikan rasa menyengat tajam di dadanya. Yang selanjutnya ia tahu, Kuramchi menepuk dadanya ringan sambil berbisik. "Inilah yang dinamakan patah hati, Miyuki. Mulai sekarang, itu masuk dalam kamusmu."

Kazuya menelan ludah getir sebelum berbalik. "Aku tidak patah hati, jangan konyol." Ia mendengus dan mulai melangkah lagi. "Kita makan di luar saja, aku bosan makanan kantin."

...

Kazuya menatap sebatang rokok yang terjepit di antara jarinya dengan muak. Kuramochi benar, Kazuya benci rokok. Mulutnya sama sekali tidak bisa mentorerir rasa nikotin dan tembakau dalam rokok, Kazuya bahkan tidak suka aromanya. Tapi dalam beberapa kesampatan, Kazuya mendapati dirinya memilih rokok sebagai anomali saat pikirannya kacau.

Kazuya bahkan tidak bisa memutuskan apa saja hal yang berkontribusi langsung pada kekacauan pikirannya. Ucapan professornya tempo hari? Rencana masa depannya? Atau justru Sawamura Eijun? Rasanya setiap hal berlomba menekan otaknya ke bawah dan membiarkannya mati sakit kepala dalam beberapa hari terakhir ini.

Sawamura masih menghubunginya, atau setidaknya berusaha tetap menjaga komunikasi dengannya. Beberapa kali chat atas nama Sawamura muncul dalam notifikasinya atau juga mengedipkan layar ponselnya. Kazuya selalu ingin membalas cepat, atau bahkan membalasnya dengan panggilan telepon. Ia ingin kembali berkomunikasi rutin atau juga bertemu dengan Sawamura, makan siang bersama, bahkan main baseball dengannya. Tapi Kazuya bukan tipikal orang yang suka mengingkari kata-katanya sendiri. Jelas, ia tak mungkin melakukan hal itu setelah percakapannya dengan Chris.

Kazuya mendecih, mulutnya terasa pahit dan tidak menyenangkan karena rokok. Mengingat Chris membuat perasaannya tidak jauh lebih baik. Kazuya bahkan tidak ingin tahu sudah sejauh apa upaya Chris untuk medekati Sawamura. Tapi kalau mengingat apa yang dilihatnya di kantin siang tadi... mungkin langkah Chris sejauh ini mulus.

Akan lebih mudah kalau Sawamura mengabaikannya saja dan bukannya terus bersikap ramah bahkan menanyakannya pada Kuramochi. Akan lebih mudah kalau Sawamura berhenti peduli atau mencari tahu tentangnya. Akan lebih mudah kalau Sawamura membencinya. Tenggorokan Kazuya pahit, tapi dia menghisap rokoknya dalam-dalam. Gagasan tentang Sawamura kembali membencinya seperti dulu memang terdengar menggiurkan, tapi jauh di dalam hatinya, Kazuya sadar bahwa itu adalah hal terakhir yang dia inginkan.

"Sejak kapan hidupku serumit ini?" Kazuya menghisap rokoknya lagi lalu mengeluarkan asap dari mulutnya. Kumpulan uap putih menggumpal keluar, menari di udara malam. Kazuya mencoba untuk menyentuhnya, tapi asap tak bisa disentuh.

Barangkali sesuatu di antara dirinya dan Sawamura serupa dengan asap rokok. Ada tepat di depan mata, tapi tidak mungkin dapat tersentuh. Hanya aroma pahitnya saja yang tersisa, terhidup, mengendap, kemudian menjadi racun yang menyesakkan dalam dada Kazuya.

Kazuya mendengus, menghisap rokoknya sekali lagi sebelum menekannya ke asbak. Mungkin ia hanya perlu bicara lebih serius dengan professornya.

Malam itu, Kazuya bermimpi.

Ia duduk di balik kemudi, jendela mobilnya terbuka lebar dan aroma laut memenuhi penciumannya. Di kursi penumpang, Sawamura duduk dengan senyuman lebar. Tangannya membentang ke luar jendela untuk merasakan angin.

"Jangan seperti anak kecil, Sawamura. Masukkan tanganmu, bahaya." Kazuya mencibir, tapi tidak benar-benar ingin memarahi. Lagi pula jalanan yang membentang di depan mereka sepi. Sisi kiri diapit oleh tebing dan pepohonan, sedangkan sisi kanan berbatasan dengan pantai berpasir putih yang begitu indah.

"Ke mana kau mau membawaku, Miyuki Kazuya?" Sawamura bertanya, mataya berbinar penuh semangat.

Kazuya tersenyum simpul. "Ke mana saja, ke manapun yang kau mau."

Sawamura tertawa renyah si sebelahnya. "Apa kau akan menemaniku juga, atau hanya membawaku pergi jauh lalu menghilang begitu saja?"

Kazuya tidak memahami pertanyaan itu, jadi ia mengeryit pada Sawamura dan befmaksud untuk bertanya tapi tiba-tiba Sawamura berseru riang. "Berhenti! Ayo turun di sini! Aku mau lihat pantainya!"

Kazuya mengentikan mobilnya dan Sawamura langsung meluncur ke luar, berlari ke pantai. Kazuya mengejarnya sampai mereka tiba di garis pantai, kaki tercelup dalam air, dijilati ombak hangat.

"Apa kau suka pantai, Miyuki-senpai?"

Kazuya memandang ke arah lautan lepas lalu angkat bahu dan menyeringai pada Sawamura. "Lumayan, ada banyak gadis dengan bikini yang seksi di pantai. Jadi menyenangkan untuk memandangi mereka."

Sawamura mendengus kesar, tapi tak lama kemudian ia tersenyum lagi. "Tapi tidak ada gadis berbikini di sini, jadi apa kau menyesal?"

Kazuya sengaja mengambil waktu untuk bergumam panjang, saling tatap dengan mata penasaran Sawamura. Dia suka sekali mata emas itu, begitu hidup, ekspresif, menyala-nyala seolah punya sejuta nyawa. Selanjutnya Kazuya tersenyum, "Aku tidak menyesal." Ia menjawab, memandang ke mata Sawamura yang memukau. "Karena kau ada di sini, aku tidak menyesalinya. Di manapun tempatnya, asalkan bersamamu aku tidak akan menyesal."

Derai tawa Sawamura menjawabnya. Detik itu begitu indah, Kazuya meraih tangan Sawamura dan mereka berpengangan menghadap laut. Matahari telah melampaui cakrawala, meninggalkan garis-garis gelap ungu dan merah muda. Mata Sawamura tertuju pada ombak berbusa yang bergulir ke pantai di bawah mereka, jari-jarinya membelai lembut di sepanjang kulit Kazuya. Dia menarik Kazuya untuk berjalan, menyisuri sepanjang garis pantai dan mendengarkan aliran udara laut yang hangat juga suara lembut dari dunia yang beralih ke senja. Mata Sawamura tertuju pada lautan seperti dia belum pernah melihatnya sebelumnya.

Kazuya ingin menarik Sawamura lebih dekat dan memeluknya. Merasakan panas tubuhnya dan kehangatan kulitnya. Ia ingin bernapas di antara ceruk leher Sawamura dan mencium aroma rambutnya. Tetapi kemudian Sawamura berhenti, menoleh pada Kazuya dan tersenyum simpul.

"Miyuki-senpai, apa kau mencintaiku?"

Jantung Kazuya berhenti berdetak, mulutnya seperti dipenuhi pasir saat mendengar pertanyaan itu. "Apa maksudmu?"

"Bagaimana perasaanmu padaku? Apa kau mencintaiku?"

Kazuya menelan ludah. "Aku tidak mengerti."

Sawamura memberinya senyum sedih. "Sayang sekali, sekarang sudah malam."

Kazuya berkedip, dan tahu-tahu pantai berubah gelap. Senja telah menghilang, menyisakan laut dingin mencekam. Kazuya belum sempat berealsi lebih jauh ketika Sawamura melepaskan tangannya. Kazuya ingin protes, tapi Sawamura terus berjalan mundur menjauh sementara Kazuya tak bisa menggerakkan tubuhnya sama sekali.

"Sawamura!" Kazuya berteriak. "Kembali ke sini!"

Sawamura menggeleng. "Tidak bisa."

"Jangan bercanda! Apanya yang tidak bisa? Cepat kembali!"

Sawamura menggeleng lagi. "Apa kau tidak mengerti? Bukan aku yang pergi, bukan aku yang menjauh, tapi kau! Kau yang memutuskan untuk mundur!"

Kazuya ingin menyangkalnya. Dia tidak menjauh, Sawamura yang jelas-jelas mundur. Tapi kini suaranya bahkan tak mampu keluar.

"Apa kau mencintaiku? Jawab! Miyuki Kazuya! Apa kau mencintaiku!?" Sawamura meraung-raung dan terus menjauh. "JAWAB!"

"Aku tidak tahu—" suara Kazuya tercekat. "—aku tidak tahu! Apa itu cinta? Aku tidak mengerti, kembali ke sini, Sawamura."

Sawamura menggeleng, matanya penuh duka. "Kenapa, Miyuki Kazuya?" Sawamura bicara dengan nada parau, wajahnya basah dengan air mata, dia terlihat sangat sedih dan kesakitan "Kenapa kau melakukan ini padaku!? KENAPA!?" Sawamura mulai menjerit dan menangis makin keras, Kazuya ingin mengejar dan memeluknya tapi kakinya masih terpaku di atas pasir dan tak bisa bergerak.

Kazuya mengulurkan tangan untuk meraihnya, tetapi tangan lain tiba-tiba datang memeluk Sawamura. Sedetik kemudian, Kazuya melihat Sawamura berada dalam pelukan Chris. Kazuya ingin menjerit dan memisahkan keduanya, tapi Sawamura terlihat nyaman dalam pelukan Chris, air matanya menghilang dan dia mulai tersenyum lagi. Kemudian Sawamura mulai mencium Chris tepat di bibirnya. Kazuya berusah keras untuk bergerak, tapi matanya terus terpaku pada dua orang di sana. Chris melingkarkan lengannya di pinggang Sawamura menariknya mendekat, dan mereka berciuman semakin dalam, semakin lama, suara bibir yang saling menghisap, decakan lidah yang basah, dan erangan mikmat Sawamura ketika Chris membelai punggungnya.

Tidak! Kazuya tidak ingin melihat ini. Tidaktidaktidak! Dia harus bergerak sekarang. Tidak!

"Terima saja, Miyuki-senpai." Sawamura berkata di tengah ciumannya dengan Chris, bahkan tidak mau repot-repot untuk menoleh pada Kazuya. "Hanya Chris-senpai yang mampu membuatku bahagia."

Saat Sawamura mulai mencium Chris lagi, Kazuya berteriak sekuat tenaga dan bangun dalam keadaan banjir keringat.


to be countinued


a/n: I'm sorry…

saya sudah baca semua review yang masuk, dan saya seneng banget masih banyak yang semangat ngikutin cerita ini. Maaf karena belum sempet bales, saya lagi usahain cerita ini tamat sebelum September, alias akan tamat di bulan ini karena ada setumpuk watch list dan reading list yang mesti saya lunasi di bulan September/curhat.

So, I need more support (V,V) karena mendekati chapter-chapter akhir biasanya mood malah turun drastis dan mati gaya. Really love to Jupiter and back, guys!