Eijun merasa seperti orang bodoh. Berbaring dalam kamarnya di tengah malam dan membaca ulang semua riwayat percakapannya dengan Miyuki Kazuya. Rasanya luar biasa konyol, karena dalam setiap percakapan yang terjalin mereka kebanyakan hanya membahas hal-hal tidak penting, bertukar lelucon payah, atau saling melempar sindiran. Percakapan yang lebih lama menggambarkan betapa seringnya amarah Eijun terpancing ketika Miyuki mencoba menggodanya.

"Aku benar-benar terkesan seperti anak yang terlalu mudah dipancing." dengus Eijun ketika membaca sebuah provokasi sederhana Miyuki yang sukses besar memanasinya. Jari Eijun menelusuri lebih jauh, Menggeser semakin dan semakin ke jauh hanya untuk melihat bagaimana pola hubungannya dengan Miyuki berkembang.

Pada awal-awal percakapan mereka, itu tak lebih dari kalimat-kalimat singkat, langsung ke inti, dan didasarkan atas kebutuhan tertentu. Miyuki yang memintanya ke pesta, Eijun yang bertanya soal saluran air di apartemen, Miyuki mengajaknya main baseball, segala hal disampaikan dengan singkat dan memiliki maksud sudah jelas.

Semakin ke bawah, pola percakapan mereka mulai berubah. Ada lebih banyak balon percakapan, intensitas waktu yang meningkat, topik pembahasan yang mulai beragam, beberapa janji baseball yang mulai rutin, bahkan bertukar sticker.

Yang lebih baru terasa makin konyol. Percakapan terjalin nyaris setiap hari, pada jam-jam apa saja, membahas apa saja, bercanda, menertawakan segala sesuatu, waktu yang lebih panjang, menembus jam tengah malam, muncul di pagi buta, ucapan-ucapan selamat pagi, selamat malam, selamat tidur, bahkan selamat makan. Eijun tersenyum tanpa sadar mengingat hari-hari itu, rasanya sudah berlalu begitu lama... dan senyumnya memudar saat sampai pada percakapan-percakapan yang paling baru.

Saat Miyuki mulai merespon dengan cukup lama, geser. Saat Miyuki mulai merespon dengan kalimat singkat, geser. Saat intensitas percakapan mereka berkurang, geser. Saat Miyuki lebih sering beralasan sibuk dan menyudahi percakapan, geser. Saat tak ada lagi lelucon, geser. Saat tak ada lagi ucapan selamat malam ataupun selamat pagi, geser. Saat Miyuki mulai jarang membalas pesannya, geser. Saat Miyuki berhenti membalas...geser. Jari Eijun menemukan titik akhir percakapan selagi sebuah kepahitan menempel di kerongkongannya. Mata menatap lurus ke layar ponselnya, pada balon-balon chat yang diisi oleh ketikan jari Eijun, berbaris ke bawah tanpa balasan dari Miyuki. Matanya mendadak terasa perih hingga Eijun memutuskan untuk menekan tombol power pada ponselnya dan meletakkannya di atas nakas, mencoba mengabaikan.

Namun matanya justru menangkap hal lain di atas nakas. Akuarium ikan masnya bersinar dalam sorot lampu kebiruan, menampilkan dua ikan kecil yang masih berenang lincah di dalam air. Eijun tersenyum simpul, bergeser lebih dekat untuk mengamatinya.

"Hei, kalian tidak tidur?" Eijun mulai bicara sambil menatap dua ikan mas itu. "Kalian ingat cowok sinis yang datang bersamaku saat aku mengadopsi kalian? Yap, dia memang kelihatannya menyebalkan, kalian tidak salah." Eijun mendengus dan tertawa geli sendiri. Konyol, pikirnya. Tetapi Eijun menemukan dirinya bicara lagi. "Well, tapi kalau kalian mengenalnya cukup lama, sebenarnya dia tidak seburuk itu. Kupikir dia cuma punya sedikit masalah dengan harga dirinya yang selangit, tapi sebenarnya dia orang baik."

Eijun menarik napas panjang dan membuangnya cepat. "Dia punya selera humor yang aneh, tapi lucunya aku bisa memahami itu, dan dia juga bisa memahami humorku. Selama beberapa waktu, rasanya menyenangkan untuk dekat dan bertukar pesan dengannya. Tapi belakangan ini..." Eijun mencoba untuk melawan getir yang mampir seraya menghela napas. "Dia sedikit berubah. Oke, bukan sedikit, cukup banyak. Kira-kira, apa kalian tahu penyebabnya?"

Ikan-ikan itu tetap berenang tanpa memberi Eijun sebuah jawaban. "Dia bahkan jadi sangat sulit ditemui. Di kampus, aku tidak pernah melihatnya lagi. Rasanya seakan dia hantu yang tiba-tiba menghilang, dan aku tidak suka itu. Aku tidak suka karena mungkin aku sudah terbiasa dengannya, keabsenannya yang tiba-tiba begini membuatku ingin marah sekaligus juga sedih. Aku bahkan tidak tahu apa persisnya yang kurasakan."

Eijun kembali menarik napas panjang lantas tersenyum pada ikan-ikannya. "Yeah, sepertinya aku mulai melantur. Kalau begitu selamat malam, Senpai dan Kouhai." Ia berkata lalu memutuskan untuk membalikkan badan ke sisi yang lain. Hanya untuk mendapati bahwa matanya jatuh pada satu benda, boneka Sarubobo. Eijun meletakkan yang biru di meja belajarnya, hingga yang kini mengisi meja di samping ranjangnya adalah boneka merah muda, boneka pemberian yang sepasang dengan Miyuki. Sejenak, Eijun penasaran apa Miyuki masih menyimpannya juga?

Eijun meraih boneka itu dan mengamat-amatinya sambil mengenang kembali perjalanan ke Takayama, malam ketika mengobrol di teras bersama Miyuki, kunjungan ke pasar pagi, sampai berdoa di Shirakawa-go. Jarinya menekan bagian tubuh boneka sarubobo itu sambil tersenyum mengenang. Sekarang kalau dipikir-pikir lagi, mungkin itu adalah kali pertamanya bisa berdua dengan Miyuki tanpa banyak berdebat atau saling melontar kata-kata kasar.

Sekali lagi Eijun menarik napas dalam-dalam lalu mulai memejamkan mata. Malam ini, ia membiarkan dirinya tidur sambil memegang boneka sarubobo dan kenangan tentang kota tua Takayama bersama Miyuki Kazuya.

...

"Kazuya, kau baik-baik saja?"

Kazuya bertemu dengan tatapan khawatir ibunya tepat sesaat setelah selesai membuat kopi dengan mesin otomatis. Ia memaksa wajahnya mengendur dan terseyum. "Aku menakjubkan seperti biasanya."

Tatapan khawatir di mata ibunya belum hilang, wanita itu berjalan ke arahnya dan mengulurkan tangan untuk meraih wajahnya. Kazuya nyaris mendesis saat merasakan telapak tangan sang ibu di pipinya, terasa sangat menyejukkan. "Kau pucat sekali, apa kau sakit?"

Mendadak Kazunya ingin enam tahun lagi, ketika segala sesuatu masih begitu sederhana. Ia hanya anak kecil yang jujur, terbuka dan tak harus menjaga reputasi apapun. Berlari ke dalam rumah dengan pakaian berlapis lumpur setelah terlibat perkelahian dengan salah satu temannya. Memeluk ibunya dan menangis sampai merasa lebih baik.

"Aku baik-baik saja, Bu." Kazuya berhasil tersenyum meyakinkan. "Aku cuma sedikit kesulitan tidur semalam."

Kazuya bisa merasakan usapan lembut jemari sang ibu di pipinya sebelum sentuhan itu menghilang perlahan. "Kalau kau memang kesulitan tidur, seharusnya kau tidak minum kopi." Ibunya berkata sambil mengambil alih cangkir kopi dari tangannya.

"Hanya sedikit." Kazuya membela diri, meraih cangkirnya kembali tapi sang ibu tidak mengizinkan. "Bu, tolong?"

"Tidak." Ibunya berkata tegas. "Sebaiknya kau minum air putih dan vitamin, bukan kopi."

"Aku harus bicara dengan professor hari ini, aku butuh konsentrasi dan kafein."

"Pokoknya tidak." Ibunya tak mau dibantah. "Kazuya," Suaranya melembut lagi, matanya menatap lurus ke mata Kazuya. "Jangan menyiksa dirimu sendiri."

Jantung Kazuya bendentum tajam di dadanya. "Aku tidak pernah menyiksa diriku, Bu."

Namun sang ibu justru menggeleng tipis, meletakkan cangkir kopi di counter dan maju lebih dekat lalu mengulurkan kedua tangannya. Sedetik kemudian, Kazuya bisa merasakan sentuhan lembut telapak tangan sang ibu membingkai wajahnya, menawarkan betuk kasih sayang paling jujur yang tak lekang oleh waktu.

"Ibu tahu setiap orang yang kau kenal selalu memintamu untuk menjadi kuat. Ayahmu mendidikmu untuk menjadi penerusnya, kakekmu, gurumu, pelatihmu dulu, teman-temanmu, semua orang ingin agar kau tumbuh menjadi laki-laki yang kuat dan bisa diandalkan. Itu tidak salah, Kazuya. Sama sekali tidak salah. Tapi ibu ingin kau tahu, ibu tidak memintamu hal yang sama. Ibu hanya ingin kau bahagia."

"Tapi aku bahagia." Mengerikan. Bagaimana Kazuya bahkan bisa mendengar suaranya tercekat. "Aku selalu bahagia. Kekuatan mendatangkan kekuasaan, kekuasaan berarti segalanya, termasuk kebahagiaan."

"Kabahagiaan berarti kebebasan, Kazuya. Salah satunya kebebasan hati. Kebebasan untuk merasakan apa yang memang hatimu rasakan, tidak menahannya atau menyembunyikannya, apalagi terpaksa membunuhnya."

Kazuya merasakan sesuatu yang tajam baru saja menikam jantungnya. Tetapi ia berhasil memasang senyum lucu, balas mengenggam tangan sang ibu dan menggerling padanya. "Ibu mulai merancaukan dialog dalam film ibu lagi, ya?

Ibunya balas mendengus, tersenyum dan memindahkan tangannya dari wajah ke dada Kazuya, menekannya satu kali sebelum mengusapnya. "Kadang-kadang ibu tidak tahu siapa aktor di sini sebenarnya. Ibu, atau justru kau. Karena kau begitu mahir untuk berpura-pura, Kazuya."

"Ibu, aku tidak—"

"Berhenti mendebat ibu dan ayo ke meja makan. Tidak ada penolakan untuk hari ini karena jujur saja, ibu merasa kau akan langsung pingsan kalau tidak segera diberi makan."

...

Eijun sadar bahwa ia mulai sering menghabiskan waktu bersama Chris belakangan ini. Eijun memang tidak pernah merasa kekurangan teman atau juga kesulitan bersosialisasi, tapi belakangan ini rasanya dia jadi terlalu kecanduan untuk bersama orang lain bahkan di waktu-waktu yang biasanya bisa dia nikmati sendirian. Sebuah pemikiran konyol terbit di sudut kepalanya berupa ketakutan tak masuk akal bahwa sendirian sebentar saja akan membuatnya merana karena memikirkan Miyuki. Atau lebih parahnya lagi, mulai menjelajahi kampus untuk menemukan Miyuki.

"Sepertinya sekarang jadi sering hujan, ya?"

Dan inilah salah satu hal yang membuat Eijun suka bersama Chris. Cara Chris untuk berusaha menarik perhatiannya benar-benar klise tapi disampaikan dengan cara seolah dia juga tahu betapa membosankannya hal itu.

"Sekarang memang musim hujan, kan?"

"Kalau kita mulai membahas cuaca, artinya obrolan ini benar-benar membosankan."

"Sebenarnya, ini sudah tiga kali Chris-senpai membahas cuaca denganku."

Chris meringis, mengumam kata maaf dengan tipis. "Aku mungkin perlu mencari tips di internet setelah ini, sebelum kau kabur dan mengecapku sebagai pemuda membosankan yang payah dalam hal mencari topik pembicaraan."

Eijun tertawa geli dan menggeleng. "Sebenarnya aku lebih penasaran kenapa beberapa hari ini Chris-senpai kelihatan agak canggung. Err...apa aku membuat Senpai tidak nyaman?"

Chris memandanginya dengan alis betkerut heran sebelum akhirnya mendenguskan tawa geli. "Sepertinya aku memang tidak perlu menutup-nutupi apapun darimu, Sawamura." Ia berkata lalu bangkit dari kursinya dan mengambil tempat duduk tepat di samping Eijun. Eijun belum sempat berkedip ketika Chris meraih tangannya dan membawa telapak tangan Eijun ke dadanya. "Ini memalukan, tapi nyatanya kau memang membuatku gugup."

Eijun menahan napas, dia bisa merasakan degup jantung Chris di telapak tangannya. Bahkan ketika Eijun mengamati Chris lebih dalam, dia bisa melihat bahwa Chris agak merona. Ini karena aku, pikirannya berkata, mengingatkan, memicu satu bentuk lejitan gila ke otaknya untuk merasa bangga.

"Payah, ya?" Chris tersenyum dan angkat bahu lalu melepaskan tangan Eijun. "Geez, rasanya aku seperti remaja tiga belas tahun lagi."

Eijun tak bisa lagi menahan untuk tidak terpingkal. "Kesannya justru aku menakuti Chris-senpai. Ini konyol sekali sampai aku bahkan tidak tahu harus bagaimana."

Chris menyeringai geli. "Well, aku bahkan mulai takut kau hanya menganggapku membual atau sedang merayumu. Meski pada kenyataannya aku mungkin memang berusaha merayu, tapi aku ingin tetap tampil keren dan tidak norak. Hanya saja begitu menatapmu, aku lupa caranya."

Eijun menggeleng dan tertawa tak habis pikir, tapi sesuatu dalam tatapan Chris membuatnya kembali diingatkan betapa tulus pemuda itu padanya. Jujur, Eijun terkesan. Diinginkan seseorang seperti Chris, bahkan membuatnya gugup atau salah tingkah, rasanya Eijun merasa luar biasa istimewa.

"Sebenarnya aku suka Chris-senpai seperti biasa. Sungguh, aku tidak mungkin meninggalkan Chris-senpai hanya karena hal-hal remeh, jadi jangan terlalu berhati-hati." Eijun memberi Chris senyum jujur. "Kalau Chris-senpai bersikap terlalu kesatria aku jadi bingung harus bagaimana? Apa Chris-senpai berharap aku mulai bersikap seperti putri atau gadis feminim juga?"

Chris melebarkan mata dan menggeleng cepat sekali. "Aku sama sekali tidak menuntutmu bersikap seperti itu. Kau adalah Sawamura Eijun, dan kau tetap laki-laki, tak ada yang bisa memaksamu berubah jadi perempuan."

Eijun tertawa lagi. "Baguslah, karena aku juga tidak berpikir untuk ganti kelamin. Jadi, Chris-senpai tidak perlu cemas. Kita masih bisa membahas olahraga kasar, itu tidak akan melukaiku."

Alis Chris terangkat penuh minat ketika memandang Eijun. "Sekarang aku penasaran berapa banyak kau berkencan sebelumnya? Kau kelihatan cukup santai di depan seseorang yang sudah menyatakan cinta padamu."

"Wow, apa itu salah satu indikasi cemburu? Kita sudah sampai sana?" goda Eijun..

Chris menatapnya serius, pura-pura memperbaiki letak kacamata imajinernya. "Hmm, biar kupertimbangkan... Sepertinya semakin lama menyukaimu, aku memang jadi agak rakus dan haus informasi. Jadi, apa kau bersedia berbagi, Agen Sawamura?

Eijun terpingkal geli. "Mungkin lebih masuk akal kalau itu jadi pertanyaanku, Agen Takigawa. Karena kau rupanya punya cara yang bagus untuk merayu orang lain."

Suasana di antara mereka kembali hangat dan diselingi tawa yang renyah. Eijun tahu ia menikmati waktu bersama Chris, selalu. Tapi satu bagian dalam dirinya tak bisa berhenti mengharapkan ponselnya kembali bergetar untuk nama Miyuki Kazuya.

...

"Yo, Sawamura."

Eijun mengerjap kaget. "Kuramochi-senpai?"

Kuramochi balik menyeringai dan melingkarkan tangan di sekitar lehernya. "Bisa ngobrol sebentar?"

Eijun berkedip, ganti menatap dua temannya yang lain. Mereka memang baru menyelesaikan kelas, tapi punya rencana untuk ke perpustakaan demi mengerjakan proyek relasi.

"Tidak apa." Salah satu temannya menyahut, tersenyum simpul. "Kau bisa menyusul, Sawamura. Lagi pula ini bukan tugas berat, biar kami betfua mengcovernya sampai kau datang."

"Eh? Kau yakin?"

Temannya yang lain menepuk bahunya ringan sambil memasang cengiran lugas. "Yep, pastikan saja kau mempelajari materi presentasi untuk pertemuan selanjutnya."

"Kalau begitu kami pergi dulu, Sawamura. Permisi, Senpai."

Kuramochi balas mengangguk, dan setelahnya Eijun baru memahami situasi bahwa kedua temannya memberinya izin mungkin lebih kepada faktor segan akan tampang sangar Kuramochi. Mereka berdua barangkali beranggapan bahwa membiarkan Eijun terlambat jauh lebih sehat daripada menentang keinginan seorang senpai bertampang yankee.

Eijun berdeham. "Kuramochi-senpai ingin membicarakan apa?"

Kuramochi balas menatapnya seakan mencoba mempertimbangkan sesuatu, kemudian dia menghela napas dan bahunya berkedik. "Ayo cari tempat dulu."

Mereka berdua akhirnya duduk di rerumputan sekitar taman utara kampus, Eijun ingat sempat beberapa kali datang ke tempat ini untuk mengerjakan proyek kelompoknya dan justru berakhir seperti piknik ria. Tapi sekarang hanya ada dirinya dan Kuramochi Youichi di sini, dengan rumput yang masih agak basah sisa hujan, duduk di bawah langit kusam.

"Ada apa, Kuramochi-senpai?"

Kuramochi tidak menjawabnya dengan cepat, ia justru mencabut sehelai rumput di dekat kakinya dan memutar-mutarnya. "Apa Miyuki melakukan hal buruk padamu lagi?"

Eijun mencerna pertanyaan Kuramochi baik-baik, kemudian tersenyum dan menggeleng. "Tidak. Sebenarnya dia baik belakangan ini. Hanya saja, aku tidak tahu, mungkin dia sibuk, dia terkesan sulit sekali dihubungi."

Eijun yakin sempat mendengar Kuramochi menyumpah-nyumpah sebelum pemuda itu kembali menatapnya. "Dia menang agak sibuk akhir-akhir ini, nyaris selalu mondar-mandir menemui professor."

Kepala Eijun mengangguk lambat, sedikit menghela napas lega karena tahu Miyuki baik-baik saja. Eijun tergoda dan ikut mencabut sehelai rumput seperti Kuramochi, hanya saja dia lebih memilih untuk mengusapnya daripada memutar-mutarnya. "Sebenarnya, ada hal yang ingin kusampaikan padanya, tapi dia benar-benar tidak punya waktu untukku."

Bibir Kuramochi merapat dalam garis kaku sebelum ia bicara lagi. "Pentingkah itu? Kau mau aku menyampaikannya?"

Eijun balas tersenyum dan angkat bahu. "Entahlah, aku tidak tahu ini penting atau tidak untuk dia. Tapi aku punya firasat aku tetap harus bilang." Eijun menarik napas, mendadak merasa tergoda untuk mengatakannya pada Kuramochi. Dia menang belum mengatakan ini pada siapapun, termasuk Shinji atau keluarganya. Rencananya Eijun memang ingin membahas ini pada Miyuki lebih dulu, tapi mengingat apa yang terjadi sekarang... "Seseorang menyatakan perasaan padaku belum lama ini." kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Eijun. Terlambat untuk menariknya kembali, Eijun memilih tetap melanjutkan. "Karena itu, kurasa aku perlu mendiskusikannya dengan Miyuki-senpai. Ikatan kami agak berbeda dengan yang lain, aku tidak mau satu tindakan keliru justru menyakiti kami berdua."

Anehnya, Kuramochi sama sekali tidak tampak terkejut mendengar peryataan itu. Wajahnya tenang, cukup datar dan dalam kendali sempurna. "Kau menerima orang itu?"

Eijun menggeleng. "Aku belum memberi jawaban."

"Kau menyukainya?"

"Bohong kalau kubilang aku tidak menyukainya, dia orang yang baik, dia hebat, dan dia selalu memperlakukanku dengan sopan. Tapi apa aku menyukainya dalam artian romantis? Untuk yang itu aku belum yakin."

Kuramochi tersenyum padanya, senyum yang jauh dari kesan mengerikan yankee. Senyumnya lebih mirip seorang kakak laki-laki yang peduli. "Terlepas dari apapun yang terjadi, aku senang kau menemukan seseorang seperti itu, Sawamura. Seseorang yang memperlakukanmu dengan baik dan pantas."

Eijun balas tertawa. "Yeah, aku juga merasa luar biasa karena disukai seseorang seperti dia."

Selama beberapa saat kemudian, suasana kembali hening. Eijun tidak tahu pasti bagaimana harus bersikap, Kuramochi biasanya begitu menggebu-gebu saat bicara. Obrolan yang normalnya terjadi di antara Eijun dan Kuramochi selalu diwarnai intonasi kuat bahkan berapi-api. Tapi untuk kali ini Kuramochi terlalu tenang.

"Ada banyak hal yang ingin sekali kukatakan padamu, Sawamura." Kuramochi menatap ke matanya. "Tapi aku tidak berhak. Itu bukan porsiku. Meski aku sungguh gemas dan sangat ingin meluruskan banyak hal, itu tetap bukan tempatku."

"Eh? Maksud Senpai?"

"Intinya, apapun itu, aku harap kau bisa menyadari perasaanmu lebih awal dan mengambil keputusan yang tidak akan kau sesali. Aku sungguh berharap kau menjadi orang yang paling bahagia di akhir cerita, Sawamura."

"Um...Senpai, aku tidak mengerti."

Kuramochi tertawa samar lalu berdiri. "Ingat saja untuk tidak kencan di sekitar Tokyo, oke?" Kuramochi mengacak rambutnya sekilas. "Semoga berhasil, Sawamura." kemudian pemuda itu pergi begitu saja. Meninggalkan Eijun bersama beragam pertanyaan yang menari-nari dalam kepalanya.

"Ada apa dengan semua orang?" Eijun mendesah berat. "Kenapa mereka semua seakan berlomba menjadi aneh akhir-akhir ini?"

...

Sejak kapan aku mulai mengawasinya?

Pertanyaan itu muncul belakangan ketika Kazuya sadar bahwa ini sudah kesekian kalinya Kazuya mendapati dirinya mengawasi Sawamura dari kejauhan. Rasanya semua bermula sejak Kazuya tanpa sengaja menangkap sosoknya di sekitar gedung perpustakaan univetsitas. Kazuya mengantisipasi langkah mundur, memilih untuk tidak mendekat namun mata lekat mengamati Sawamura sekadar untuk melihat keadaannya.

Sawamura kelihatan ceria hari itu, tampak baik-baik saja dan penuh semangat. Dia berjalan bersama beberapa temannya sambil menenteng buku dan bercanda. Kazuya nyaris berbalik pergi ketika menangkap sesuatu meluncur dari buku yang dipegang Sawamura dan jatuh ke tanah. Sawamura tidak menyadarinya, begitupun teman-temannya yang lain. Tetap berjalan pergi diseling canda yang tak putus. Kazuya berdiri bimbang di tempatnya, setelah rombongan Sawamura cukup jauh, dia berlari ke tempat itu dan menemukan kartu perpustakaan Sawamura tergeletak bisu di tanah.

Dasar ceroboh, Kazuya mendengus ketika membungkuk untuk mengambil kartu itu. Mengamatinya sekilas sebelum menarik napas panjang dan memasukkannya ke dalam saku. Kazuya pergi ke loket informasi Fakultas Seni dan Bahasa lalu memberikannya pada staff. Berkata bahwa dia menemukannya di jalanan dan meminta staff mengumumkan agar Sawamura bisa mengambil kartunya kembali. Kazuya langsung pergi sebelum Sawamura tiba.

Selanjutnya terjadi di dekat vending machine. Kazuya melihat Sawamura merogoh saku celananya untuk mengeluarkan beberapa koin guna membeli minuman, lalu seseorang datang menabrak Sawamura cukup keras, Kazuya hampir berlari spontan saat melihat Sawamura sempoyongan. Tetapi begitu orang itu tertawa dan merangkul bahu Sawamura, Kazuya sadar bahwa itu hanya salah satu temannya. Mereka berdua berlalu pergi setelah Sawamura mengambil minumannya. Akan tetapi mata Kazuya cukup awas menangkap sesuatu berkilauan tepat di depan vanding machine, kali ini Sawamura tidak menyadari kunci rumahnya jatuh.

Kazuya menghela napas. Dia jelas tidak bisa menitipkan kunci tanpa tanda pengenal ke bagian informasi. Maka sore itu, selepas kelasnya berakhir, Kazuya buru-buru mendatangi tempat tinggal Sawamura. Mengabaikan desiran aneh di dadanya karena terasa begitu lama sejak kali terakhir mendatangi rumah ini. Kazuya meletakkan kunci di dekat keset, berharap bahwa Sawamura akan menganggap bahwa dia sedikit ceroboh dan tak sadar bahwa ia tidak membawa kunci ketika pergi tadi pagi. Mengingat betapa sederhananya pemikiran Sawamura, Kazuya yakin pemuda itu tidak akan curiga.

Kali ketiga, Si Idiot itu bahkan semakin parah. Dia meninggalkan dompetnya di halte. Di halte! Entah apa yang sebelumnya Sawamura cari di dalam ransel hingga ceroboh dan menuang semua isi ranselnya di bangku halte yang cukup kosong. Tapi jelas saat memasukkan kembali semua barangnya, dia melupakan dompetnya begitu saja dan berlari masuk ke dalam bus. Kazuya nyaris berlari untuk menceramahi pemuda itu andai tidak sadar bahwa itu tidak mungkin. Maka Kazuya memakai tundung hoodienya, berjalan sambil menunduk ke arah bangku dan mengambil dompet Sawamura, lalu memandang sekitar. Kazuya memastikan tubuhnya membelakangi jendela bus, harapannya muncul saat dua gadis berseragam SMA datang ke arah pintu bus, Kazuya menghalanginya.

Dua gadis itu berjengit kecil, tampak kebingungan. Kazuya memaksakan senyum dan mengulurkan dompet kepada mereka. "Kalian akan naik bus ini, kan? Tolong berikan ini pada seorang pemuda berkaus biru yang duduk di dalam, aku melihat dia menjatuhkannya tadi." Tanpa menunggu jawaban, Kazuya segera beranjak dari tempat itu sebelum Sawamura menyadarinya.

Kali keempat, kelima, keenam, ketujuh, Kazuya bahkan tidak lagi menghitung. Yang jelas ia semakin merasa bahwa Sawamura begitu ceroboh dan nyaris terlibat banyak masalah. Serius, apa membahayakn dirinya sendiri itu salah satu hobi Sawamura? Karena pemuda itu sepertinya tidak bisa berhenti melakukan tindakan konyol yang dapat berujung merugikan diri sendiri. Bukannya Kazuya peduli atau apa, tapi sekarang mengawasi Sawamura seakan jadi rutinitas baru. Hell, Kazuya bahkan mulai merasa tidurnya tidak akan nyenyak sebelum memastikan bahwa Si Bodoh itu masuk rumah tanpa membuat salah satu anggota tubuhnya cedera.

Tapi setidaknya, Sawamura selalu aman saat bersama Chris. Kazuya tersenyum getir mengingatnya. Pemandangan-pemandangan yang dia lihat sendiri tiap kali Sawamura bersama dengan Chris datang bagai tamparan gelombnag kuat yang menghantamnya mundur. Chris benar-benar memperhatikan Sawamura, barangkali sampai detail terkecilnya. Memberitahunya secepat mungkin saat tali sepatu Sawamura lepas, melindungi kepalanya saat hendak masuk atau keluar mobil, memasang badan di depannya saat melewati kerumunan yang berpotensi menimbulkan benturan. Chris bahkan beberapa kali terlihat menutup retsleting ransel Sawamura yang terbuka, menepuk punggungnya saat tersedak, bahkan menangkap tubuhnya saat Sawamura nyaris terpeleset di lantai basah karena luput membaca tanda peringatan.

Sebagian dari diri Kazuya merasa lega Chris ada di sisi Sawamura untuk memastikannya baik-baik saja. Tapi sebagian lainnya tak henti berharap ia bisa menggantikan posisi Chris untuk menjaga Sawamura. Kazuya cukup yakin dia mampu menjaga Sawamura sama baiknya seperti Chris. Yang rupanya mustahil adalah, Kazuya tidak bisa membuat Sawamura terus tersenyum seperti Chris. Satu perbedaan besar, poin penting yang membuat Kazuya harus rela mengakui bahwa Chris lebih layak.

Tapi untuk saat ini, Chris sedang tidak ada di sana. Di tengah hujan deras. Sementara Sawamura Eijun yang baik hati berdiri di sekitar Shinjuku, menepi pada halte yang padat dan baru saja memberikan payungnya secara suka rela untuk orang lain.

Sawamura Eijun dan kebaikan hatinya, pikir Kazuya agak muak. Sebesar apa hati milik Sawamura hingga tidak henti-hentinya berbagi? Kazuya mengamati sekitar sebelum memutuskan untuk keluar dari mobilnya dan berlari menuju salah satu toko, langsung melejit ke kasir.

"Berapa banyak sisa payung yang kalian punya?"

Petugas kasir itu mengamatinya bingung. "Mungkin sekitar enam puluh?"

Kazuya mengeluarkan dompet, menarik salah satu kartu dan memberikannya pada petugas kasir. "Aku beli semua."

"APA!?"

Kazuya meringis, memaksa kasir itu menerima kartunya. "Aku beli semuanya, cepat."

Kasir itu memandanginya seakan Kazuya sudah gila, tapi bagusnya tetap melakukan perintahnya. "Bagaimana Tuan mau membawanya?"

Kazuya menghela napas dan menunjuk ke luar toko. "Kau lihat halte di sebelah sana itu? Bawalah semua payungnya ke sana dan katakan bahwa itu gratis. Siapapun dari mereka boleh mengambil seperlunya. Aku akan bayar lebih sebagai bukti terima kasih kalau kau mau bekerja sama denganku."

Sekarang Kazuya mendapat tatapan takjub seolah-oleh dia dermawan paling termasyur sepenjuru Kanto. "Baik, Tuan. Ada lagi yang Tuan perlukan?"

Kazuya menimbang sebentar. "Pastikan saja seorang pemuda dengan jaket NYS di halte itu mendapat satu payungnya."

"Tentu, Tuan membeli cukup banyak bahkan untuk setiap orang di halte sana."

...

Tiga pekan sudah berlalu, Eijun merasa jarak di antara dirinya dan Miyuki menjadi terlalu lebar untuk bisa kembali normal. Atau seperti apakah normal yang sesungguhnya itu? Apa yang seperti sekarang ini justru jauh lebih normal? Nyaris putus komunikasi, tak ada lagi chat, panggilan telepon, main baseball bersama, mengunjungi berbagai tempat, atau makan bersama? Apa ini normal?

Bagaimanapun Eijun sadar dia tak punya hak untuk memaksa Miyuki. Pertemanan mereka terjalin hanya di atas sebuah perjanjian damai berjangka kurang dari satu tahun. Jika Kuramochi mengatakan yang sebenarnya bahwa Miyuki memang sedang sibuk, maka Eijun tak bisa menuntut lebih.

Eijun menghela napas berat, bersandar pada ranjangnya sehabis memberi makan ikan-ikannya. Apa Miyuki sungguh hanya menganggap kedekatan mereka selama ini terikat dengan perjanjian? Miyuki tidak sungguh-sungguh ingin berteman lebih dari itu? Kenapa Eijun merasa dikhianati?

"Seharusnya ini bagus. Seharusnya aku senang. Kurang dari satu tahun lagi dia akan lulus dan pergi dari Tokyo. Semakin jarang kami berkomunikasi, semakin mudah perpisahan." Tenggorokan Eijun tercekat saat mengingat kata pisah. Ini salah, batinnya. Dia tidak seharusnya merasa berat. Ini sudah kesepakatan bersama. Bagaimanapun Eijun selalu benci berpisah dengan teman-temannya, ini tidak akan bisa dicegah. Miyuki tetap harus pergi.

"Segala hal tentang Miyuki Kazuya memang rumit dan menyebalkan. Aku benci dipaksa berpikir." Gerutu Eijun sambil mengusap dadanya, berusaha mengabaikan rasa kosong di dalam sana. Kehampaan seakan-akan sesuatu yang penting baru saja dicabut dan tak tahu kapan bisa kembali.

...

Kazuya sadar ia butuh rokok ketika mendapati bahwa kotak rokoknya sudah kosong. Ia menyumpah, setiap kali rokoknya habis, dua kepribadian berperang dalam dirinya. Salah satunya menuntut lebih banyak rokok, satu lainnya justru bersyukur dan tak ingin membeli lebih banyak. Kazuya tahu yang kedua lebih kuat, tapi pikirannya mendukung yang pertama.

Belakangan ini Kazuya menyadari bahwa ia terlalu banyak membenci. Kazuya membenci aroma rokok yang menempel di tubuhnya, membenci permintaan professornya, membenci tatapan mata Kuramochi yang menghakiminya, membenci perasaannya yang resah, rasa kesepian yang menyelinap di dadanya, membenci setiap sudut kampus yang mengingatkannya pada Sawamura, membenci ponselnya yang terus berkedip dengan nama Sawamura, membenci pertanyaan-pertanyaan Sawamura yang peduli, yang menanyakan keadaannya, yang memintanya bicara, bahkan meminta maaf karena Si Idiot itu merasa mungkin saja telah berbuat salah hingga Kazuya menjauhinya.

Sekarang Kazuya bahkan membenci minimarket. Setiap produk yang disusun dalam rak kebanyakan mengingatkannya pada Sawamura Eijun. Separo isi minimarket didominasi oleh bayangan Sawamura yang lalu lalang memilih belanjaannya. Kazuya bahkan tidak sadar sejak kapan mulai memperhatikan merek dan rasa ramen apa yang disukai Sawamura, produk pasta giginya, jus jeruk kesukaannya, kotak susu yang biasa dibelinya, bahkan pisau cukur yang dipilihnya. Kazuya sama sekali tidak sadar sejak kapan ia mulai sering menemani Sawamura berbelanja atau mulai menghapal apa saja yang biasa dibelinya. Sama sekali tidak sadar, sampai akhirnya ia tiba di detik ini. Mata memandang sepenjuru minimarket sementara kepalanya terus menyebutkan apa saja barang-barang yang melekat pada kehidupan Sawamura Eijun.

"Miyuki Kazuya?"

Sekarang Kazuya bahkan mendengar suaranya.

"Miyuki-senpai?"

Atau mungkin tidak.

Kazuya dengan ngeri berbalik, nyaris bisa merasakan pukulan kencang di perutnya ketika melihat sosok nyata Sawamura berdiri di sana. Satu langkah dari pintu kaca minimarket, dengan mata cemerlang yang kini menyorot kaget.

Kazuya membuka mulutnya, segera menutupnya lagi dengan kaku. Tak tahu apa yang harus dikatakan. Tubuhnya bagai tersihir membatu bahkan ketika Sawamura berjalan mendekat padanya, lalu menusuk-nusuk pipi Kazuya dengan jari telunjuknya. "Wow, kau sungguh nyata? Kupikir aku cuma berhalusinasi melihatmu di sini."

Sawamura tertawa geli, suara tawa renyah yang beberapa waktu belakangan tidak didengar Kazuya. Ada rasa hangat yang menyusup halus ke relung hati Kazuya ketika mendengar suara tawa itu. Ketika kembali bertatapan dengan mata itu, mata yang menyala penuh semangat dan tak kenal takut.

"Halo? Miyuki-senpai? Kau oke?" Sawamura melambaikan tangan di depan wajahnya, dan Kazuya segera bangun dari hipnotis itu lalu memalingkan wajah. "Astaga! Kau melamun! Ini masih terang, Miyuki Kazuya! Berhentilah tenggelam dala pikiran anehmu!"

"Berisik."

Namun Sawamura berpindah untuk kembali menemukan wajahnya, menemukan matanya. "Hei, kau sibuk sekali ya? Kau sama sekali tidak punya waktu untuk menjawab pesanku, huh?"

Kazuya lagi-lagi menghindari matanya. Ia tidak tahan. Ia tidak akan tahan menatap mata itu lama-lama tanpa melibatkan badai di dalam dirinya. "Begitulah." Kazuya berhasil menjawab singkat lalu tanpa berkata lagi langsung menuju kasir untuk meminta sekotak rokok.

"KAU MEROKOK!?" Sawamura menjerit begitu keras sampai-sampai mengagetkan gadis yang betdiri di balik meja kasir juga beberapa orang lain di dalam minimarket. "TIDAK! SEJAK KAPAN KAU MEROKOK?"

Gadis di balik meja kasir memandang Sawamura dan Kazuya bergantian lalu mulai bimbang. Kazuya tidak menjawab Sawamura dan lebih memilih untuk tersenyum simpul pada gadis itu. "Tidak apa-apa, tolong ambilkan satu kotak rokok menthol untukku."

Sawamura membeliak lebar, kali ini Kazuya terlalu kaget untuk bisa menolak ketika Sawamura membalik tubuhnya hingga mereka saling berhadapan dan menempelkan kedua telapak tangannya di dada Kazuya. "Katakan itu bukan untukmu! Katakan kau hanya membelinya untuk orang lain! Kau tidak merokok, aku tahu itu!"

Pikiran Kazuya justru membawanya kembali ke masa lalu, beberapa bulan ke belakang ketika sama sekali tidak mengenal Sawamura Eijun. Saat itu Kazuya bertanya-tanya, ada apa dengan Sawamura? Bahkan Chris tampak terpikat padanya. Si Idiot itu riang, selalu tertawa dan tersenyum, bahkan ketika dijadikan lelucon oleh banyak orang. Kazuya tidak bisa melupakan intensitas di matanya ketika dia menatap Kazuya dengan keyakinan dan penuh tekad, seolah-olah dia akan membakar seluruh dunia hanya untuk membuat sesuatu menjadi benar. Sekarang, Kazuya kembali bertatapan dengan intensitas yang sama di mata itu. Tekad kuat Sawamura untuk membuktikan bahwa Kazuya bukan seorang perokok.

"Kau salah." Kazuya berhasil berkata untuk melawan tekad itu. "Aku memang merokok." Ia berpaling ke kasir dan menyerahkan uang untuk menebus rokoknya lalu segera memasukkannya ke dalam saku. Kazuya harus segera pergi dari sini, ia benar-benar tidak bisa terlalu lama berada di dekat Sawamura.

"Tidak." Sawamura menahan pergelangan tangannya tepat ketika Kazuya berbalik untuk keluar. Sawamura menggelengkan kepala padanya, tatapannya tajam dan terbakar selagi cengkeramannya di tangan Kazuya mengerat.

"Sakit, Sawamura." Kazuya mendesis, memberi tatapan agak sinis ke arah tangannya. Sawamura segera tersadar, api di matanya padam dan dengan salah tingkah dia melepaskan tangan Kazuya.

"Um, maaf... tapi bisa kita bicara? Kau sulit sekali dihubungi belakangan ini, aku ingin bicara denganmu."

Sawamura bicara dengan sangat sopan dan hati-hati hingga nyaris terdengar seperti memohon. Jika Sawamura bicara seperti ini padanya tiga minggu lalu, sudah pasti Kazuya akan tertawa dan menggodanya berhari-hari, tapi sekarang kesopanan Sawamura hanya menjadi garam di kulitnya dan membuatnya semakin tak ingin menatap mata pemuda itu.

"Aku tidak bisa."

"Sebentar saja, kumohon?" Pinta Sawamura. "Aku hanya ingin bertanya sedikit padamu."

"Tidak bisa."

"Sebentar saja, sungguh!" Sawamura berupaya menahannya. "Aku janji tidak akan lama."

Kazuya mengigit pipi bagian dalamnya. "Aku sibuk."

Sawamura mengamit ujung pakaian Kazuya dalan genggaman kecil yang longgar tetapi cukup sebagai isyarat bahwa ia tidak ingin Kazuya pergi.

"Kenapa kau menghindariku, Miyuki Kazuya?"

Kata-kata itu menjelma menjadi pecahan kaca di jantung Kazuya, tapi ia mendorongnya kembali secepat mungkin. "Aku tidak menghindarimu."

"Oh ya?" Suara Sawamura agak serak. "Kau bahkan tidak menatapku sekarang. Kau mengabaikanku berhari-hari, ada apa denganmu?"

"Sudah kubilang aku sibuk, Sawamura."

"Bohong." Suara Sawamura mendesis seperti asam kuat yang sanggup membakar baja, dan jantung Kazuya secara paksa membeku di dadanya sebelum menyadari bahwa Sawamura kembali mendekat. "Kau bohong."

Kazuya sudah sangat sering berbohong pada Sawamura hingga rasanya bukan lagi sebuah dosa melainkan hanya kebiasaan. Tapi kali ini, setelah ini, Kazuya mulai meyakini bahwa dia tak akan lagi sanggup menambah kebohongannya pada Sawamura. "Sawamura," Kazuya menghela napas, menemukan mata itu sekilas sebelum kabur lagi. "Aku buru-buru, jangan menghalangi."

Sawamura tidak mundur, tapi ia mengambil napas dengan tarikan yang panjang dan menunduk sebelum kembali mencari mata Kazuya. Tatapannya tak lagi berkobar dalam intensitas rekad kuat tak tergoyahkan. Tatapannya kini lebih lembut dan lebih penuh dengan pengertian. Kepedulian.

"Kau tahu, seumur hidupku aku begitu sering disebut bodoh atau idiot. Aku melewatkan hal-hal kecil, luput melihat topik sensitif, aku tidak akan tahu kecuali kau mengatakannya. Jadi, tolong... Katakan apa yang salah?"

Denyut nadi berdebar kuat di telinga Kazuya. Ia mengambil napas dalam-dalam dan mencoba untuk mendorong gelombang kasih sayang berbahaya yang dirasakannya untuk Sawamura sekarang, di sini, ketika berdiri berhadapan dengannya dalam sepetak minimarket. Ini buruk, pikir Kazuya, untuk menyadari bahwa Kazuya berhasil dijatuhkan hanya dari tatapan mata. Tetapi Kazuya memaksa untuk bertahan. "Tidak ada yang salah. Kalau kau lupa, aku mahasiswa tahun terakhir yang sedang mengerjakan proyek untuk tugas akhir. Aku tidak punya banyak waktu untuk main."

"Tapi—"

"Aku punya prioritas dalam hidup, aku punya tujuan. Dan berdebat denganmu di minimarket bukan salah satunya. Jadi jangan ganggu aku, Sawamura"

Kazuya menerobos pergi tanpa berani menatap mata Sawamura, baru bernapas setelah mendorong pintu, tapi sebuah pekikan membuatnya kembali berbalik.

Saat itulah Kazuya merasa separo dunia runtuh. Sawamura berbaring tak sadarkan diri di tempat Kazuya meninggalkannya. Matanya terpejam rapat, tergolek tak berdaya seakan kehidupan baru saja ditari pergi darinya. Selama beberapa detik, kepala Kazuya kosong. Lalu ia melihat beberapa orang mulai mendekat ke rah Sawamura. Namun teiakan Kazuya bagai menghintikan waktu. "MENJAUH DARINYA!"

Kazuya tidak tahu apa yang dia lakukan, tapi yang jelas dia tidak ingin siapapun menyentuh Sawamura sekarang. Tanpa membuang waktu, Kazuya berlari lalu berlutut di depan Sawamura dan segera membopongnya keluar.

...

Kazuya menatap wajah pucat Sawamura tanpa berpaling. Pikirannya masih kalut dan ia merasa seharusnya Sawamura ditangani lebih baik, lebih serius, lebih dari ini.

"Dia akan baik-baik saja." Perawat yang baru saja mencatat di papan klipnya berkata. Senyumnya tampak terlalu sering dipakai menimbulkan kesan bahwa itu salah satu seragam rumah sakitnya alih-alih sebuah ekspresi. "Kau dengar sendiri tadi, kan? Dia hanya dehidrasi. Itu bukan masalah besar. Sekarang dia tidak lebih dari tidur sebentar, istirahat untuk memulihkan energi."

Kazuya ingin sekali protes. Dia melihat bagimana Sawamura jatuh tak sadarkan diri seakan kehidupan dicabut dari tubuhnya begitu saja. Itu mengerikan. Bagaimana bisa orang-orang di rumah sakit menganggapinya sesantai ini? Bagimana kalau hal-hal seperti tadi terjadi lagi di masa depan? Bagaimana kalau Sawamura tidak bangun?

"Dia akan bangun, aku jamin."

Kazuya tersentak, merasa perawat itu barusaja membaca isi kepalanya. Tetapi yang ia dapatkan lagi-lagi hanya senyuman, kali ini agak lebih hidup dari sekadar kebiasaan. "Kalau begitu aku permisi, kau bisa menekan tombol seandainya—yang aku cukup yakin tidak akan—sesuatu terjadi."

Kazuya menarik napas panjang, menghembuskan dengan perlahan lalu menarik kursi dan duduk menghadap ranjang Sawamura. Saat Kazuya memandang wajah Sawamura lagi, ia diingatkan oleh hal yang paling dibencinya; rasa tidak berdaya. Merasa begitu kecil, bodoh, tak mampu berbuat apa-apa. Ketidakberdayaan itu mencakar tenggorokannya, dan untuk sesaat Kazuya berpikir ingin sekali berteriak. Dia ingin berteriak keras-keras, apa saja, untuk meringankan tekanan yang menumpuk di dadanya.

Kazuya mengulurkan tangan, ragu-ragu meraih tangan Sawamura dan menggenggamnya. Matanya menatap lagi ke wajah Sawamura untuk merasakan tenggorokannya kembali tercekat. Bagaimana bisa Sawamura jadi sedekat ini? Kapan Kazuya menginzinkannya masuk terlalu jauh dalam hidupnya? Bagaimana bisa dia tidak pernah memperhatikan? Setiap saat yang dicuri, setiap tatapan panjang, setiap sapuan jari-jari mereka, Kazuya mengingatnya. Sawamura telah mengukir ruang untuk dirinya sendiri dalam kehidupan Kazuya, dan Kazuya membiarkannya melakukan itu. Kazuya telah membiarkannya jauh sebelum dia mulai bersikap denial. Awalnya tidak ada yang istimewa, beberapa baris diisi oleh kemarahan dan kesalahpahan sebelum berubah jadi bercanda dan saling menggoda, tapi sekarang itu tumbuh menjadi sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih kuat.

"Jangan seperti ini, Sawamura." bisik Kazuya parau, membawa tangan Sawamura naik dan menekan bibirnya di sana. "Kebaikan hanya akan memberi makan egoku. Aku hanya akan menjadi monster egois kalau terus menerimanya. Jadi jangan—tolong jangan begini. Abaikan saja aku."

Kazuya tidak pernah menganggap bahwa dirinya orang baik. Sejak awal, Kazuya sadar betapa manipulatif dirinya. Dia bukan seseorang yang cocok mendapat perhatian dari pribadi sebaik dan setulus Sawamura Eijun. Ini salah. Jika Kazuya tetap menerima kebaikan Sawamura, maka hasilnya salah satu di antara mereka hanya akan hancur. Permainannya sudah tidak lagi berjalan dalam aturan, permainan ini telah hidup sendiri dan menjerat mereka, hanya tinggal menunggu waktu sampai permainan ini meledak. Kazuya ingin mencegah ledakan itu sebelum benar-benar terjadi. Kazuya harus mencegah ledakan itu.

"Bantu aku, Sawamura." Rahang Kazuya terkatup kaku dan ia menarik napas gemerar. "Kau harus membantuku menghentikan permainan ini sebelum meledakkan kita berdua. Tolong... aku tidak mau salah satu dari kita hancur. Jadi menjauhlah. Menjauhlah agar panas di antara kita tidak semakin membesar."

Kazuya menatap lekat kelopak mata Sawamura yang menutup. "Kau tahu betapa senangnya aku saat kau berkata bahwa kau tidak lagi menganggapku sebagai orang yang buruk?" Kazuya tertawa perih. "Tapi kau salah, Sawamura. Aku masih orang yang sama. Aku sama sekali tidak berubah. Aku masih jahat dan berengsek seperti saat kita pertama bertemu. Aku masih akan terus memanfaatkan orang lain demi kepuasan pribadiku. Kau tidak akan bisa menerima diriku yang sebenarnya. Kau tidak akan pernah bisa bertahan lama denganku, tidak akan pernah. Jadi buatlah ini menjadi mudah, mengerti? Menjauhlah, jangan lagi mencoba berbuat baik padaku. Aku hanya akan membuatmu kecewa."

Kazuya menekan bibirnya ke tangan Sawamura sekali lagi lalu bangkit dengan cepat, sama sekali tidak menoleh ke belakang. Ia memberikan nomor Chris ke pihak rumah sakit dan memastikan pemuda blasteran itu menerima informasi tentang Sawamura. Kemudian tanpa menunggu lebih lama, Kazuya pergi meninggalkan rumah sakit seolah dia tak pernah berkunjung ke sana.

...

Saat Eijun membuka mata, Chris ada di sana. Duduk di sisi tempat tidur balik menatapnya kemudian tersenyum lega. Eijun mengernyit, merasa aneh saat melihat selang infus terpasang di tangannya. "Apa yang terjadi?"

Chris membungkuk lebih dekat ke arahnya, senyumnya belum pudar. "Kau dehidrasi dan pingsan tadi."

"Pingsan!?" Eijun memekik, lalu sadar bahwa dia seharusnya tidak melakukan itu. "Apa aku di klinik?"

Chris menggeleng. "Kau di rumah sakit. Sepertinya orang yang menolongmu agak terlalu paranoid dan membawamu ke rumah sakit begitu saja." Chris menjelaskan padanya. "Apa yang kau ingat?"

Eijun memejamkan mata sekilas, mencoba menggali ingatannya. Ia ingat merasa sedikit lemas dan pusing lalu tidak berhenti menguap meski rasanya bukan mengantuk. Eijun ingat masuk ke minimarket dengan tujuan membeli minuman isotonik kemudian ia melihat Miyuki. Mata Eijun terbuka, dadanya ngilu mengingat kejadian itu. Miyuki tampak sama sekali tak senang saat kebetulan bertemu dengannya. Eijun mencoba mengajaknya bicara, tapi Miyuki menolek dan berkata bahwa dia sangat sibuk. Miyuki berkata sama sekali tak punya waktu untuk hal tidak penting.

Eijun begitu kesal akan sikap dingin Miyuki, tapi ia berhasil untuk tidak marah dan masih bicara baik-baik. Tetapi Miyuki tetap tidak mau meluangkan waktu untuknya. Miyuki justru menghela napas, sambil menatapnya putus asa seakan hanya Eijun pembawa masalah.

'Aku punya prioritas dalam hidup, aku punya tujuan. Dan berdebat denganmu di minimarket bukan salah satunya. Jadi jangan ganggu aku, Sawamura.'

Kemudian Eijun melihat Miyuki berbalik, pergi begitu saja meninggalkannya. Eijun ingat rasa sakit di dadanya saat melihat Miyuki berjalan menjauh, sama sekali tidak menoleh. Lalu kepalanya berdenyut, dan ingatannya berhenti sampai di situ.

"Sawamura?"

Suara Chris membuat Eijun bangkit dari kenangan. Ia memaksakan senyum pada Chris. "Aku ingat sebagian besar. Siapa yang membawaku ke sini?"

Chris menggeleng. "Aku juga tidak tahu, pihak rumah sakit hanya menelponku dan berkata kau ada di sini. Tapi saat aku sampai, tidak ada siapapun. Resepsionis yang tadi menelponku kebetulan sudah berganti shift saat aku tiba, jadi aku tidak bisa bertanya padanya."

Eijun balas mengangguk pada Chris. Siapapun yang menolongnya barangkali adalah salah satu orang dari minimarket atau sekadar orang yang kebetulan lewat. Eijun bertanya-tanya apa Miyuki sempat melihatnya saat jatuh pingsan? Eijun harap tidak. Dia sama sekali tidak ingin Miyuki melihatnya dalam keadaan seperti ini. Mungkin Eijun harus bersyukur Miyuki menolak untuk bicara dengannya, karena dengan begitu Eijun tak harus pingsan di depan Miyuki.

"Sawamura? Kau baik-baik saja?"

Eijun menoleh pada Chris dan tersenyum lebih lebar. "Aku oke." Ia kemudian menarik napas dan memandang infusnya lalu tertawa geli. "Rasanya aneh sekali sampai diinfus cuma karena dehidrasi." Kemudian ia bangkit untuk duduk tegak dengan sangat cepat hingga membuat Chris berjengit. Eijun hanya tertawa melihat reaksi Chris. "Aku sama sekali tidak merasa sakit, Chris-senpai. Well, aku agak haus dan lapar, tapi itu normal, kan?"

Chris menatapnya seperti guru sekolah dasar yang pasrah menghadapi siswa hiperaktif. Tapi setidaknya Chris tetap membalas senyumnya. "Aku akan panggilkan perawat, kau harus jawab semua yang ditanyakan dengan jujur, oke? Kalau ada kepalamu yang sakit, atau tulang belakangmu, atau lehermu, atau—"

"Chris-senpai." sela Eijun geli. "Aku mengerti. Aku bukan anak kecil, kau tahu?"

"Yeah, baiklah... Kalau begitu aku akan panggil perawat sekarang dan mengurus administrasimu."

Saat Chris menghilang di balik pintu, Eijun membuang napas panjang dan bersandar ke tumpukan bantal di balik punggungnya. Pikirannya segera saja dipenuhi Miyuki lagi. Eijun sungguh tidak mengerti apa yang menjadi dasar dari perubahan sikap Miyuki. Kenapa pemuda itu menjauhinya? Miyuki memang tidak melontarkan kata-kata kejam seperti dulu, tapi Miyuki yang bersikap dingin nyatanya jauh lebih menyebalkan. Dan yang paling menyebalkan adalah, Eijun bahkan tidak bisa membentak atau meneriakinya karena Miyuki terlihat sedih.

Apa Miyuki punya masalah serius? Apa Miyuki punya beban pikiran? Apa yang menimpa Miyuki? Kenapa Miyuki menolak untuk berbagi? Apa yang bisa Eijun lakukan untuk menolongnya?

"Sawamura-kun?"

Eijun mengerjap dan mendongak. Seorang perawat perempuan berusia awal tiga puluhan sudah betdiri di sebelahnya dan tersenyum ramah. "Bagaimana perasaanmu?"

"Mm...agak haus dan lapar. Apa infusanku sudah boleh dilepas?"

Wanita itu tertawa halus dan mulai memeriksa kondisinya. "Sepertinya kau memang baik-baik saja. Anak muda memang punya tubuh yang kuat, huh?"

Eijun membalasnya dengan cengiran lebar. "Aku bahkan masih merasa aneh karena pingsan. Itu pengalaman baru dalam hidupku. Kalau kakekku tahu, dia pasti akan menganggap ini aib besar bagi keluarga Sawamura." Eijun bergidik membayangkan alis runcing sang kakek ketika memarahinya.

Wanita itu menatapnya dengan senyum geli. "Suruh kakekmu bicara dengan pemuda tampan yang sebelumnya."

Eijun berkedip. "Eh? Maksudnya?"

"Pemuda tampan yang sebelumnya itu," dia berbisik sehingga Eijun otomatis menajamkan pendengarannya. "Dia kelihatan luar biasa panik saat kau belum sadar. Dia memandangimu seakan-akan takut kau bisa lenyap begitu saja andai dia berkedip." Wanita itu tertawa sementara Eijun merasakan tinju di perutnya. "Dia pasti sangat peduli dan sangat menyanyagimu, aku bisa melihatnya dengan jelas dari caranya menatapmu."

Sampai beberapa waktu kemudian kata-kata perawat itu masih bergema dalam kepala Eijun. Menyadarkannya pada kenyataan bahwa Chris benar-benar serius dan tulus tentang perasaannya. Maka saat akhirnya keluar dari rumah sakit dan berjalan menuju mobil Chris, Eijun berhenti sebentar dan meraih tangan Chris hingga pemuda itu ikut berhenti dan menatapnya.

"Chris-senpai," Eijun tersenyum lebar, mungkin memang sudah saatnya dia berhenti menggantung Chris dan memberi jawaban. Bersama satu tarikan napas panjang dan senyum yang melentur, suara Eijun keluar lebih lantang. "Minggu pertama musim panas nanti, maukah Senpai berkencan denganku?"

Hujan masih belum reda ketika Kazuya memutuskan untuk berbelok ke sebuah kedai kopi kecil yang cukup terisolir beberapa kilometer dari rumah sakit. Kedai itu cukup sepi, tampak agak kuno dengan desain interior didominasi kayu tanpa plitur. Kazuya membuka tundung hoodienya dan menyapukan pandangan ke seisi ruangan. Berpikir bahwa duduk di samping jendela terkesan agak melankolis, duduk sendirian di sofa akan tampak konyol, karena itulah Kazuya lebih memilih untuk duduk menghadap meja bar di samping counter.

Aroma kafein lebih pekat dari tempat Kazuya duduk, berkat bangku tingginya, Kazuya bisa melihat aktifitas sang barista cukup jelas dari sini. Seorang pria dengan celemek coklat tua, tersenyum padanya sesaat sebelum membawa dua cangkir kopi dan mengantarnya ke salah satu meja, begitu kembali ia langsung berdiri di balik counter menghadap Kazuya dengan ramah.

Kazuya mempertimbangkan antara espresso dan americano, kemudian menimbang bahwa ia butuh sesuatu yang pekat. "Espresso, tanpa gula."

Si barista tersenyum dan mengangguk sebelum kembali ke mesin dan mulai meracik lagi. Kazuya menarik napas panjang, kali ini ia bahkan menyadari bahwa hanya ada satu orang yang bekerja di kedai ini. Si barista itu sendiri, merangkap sebagai pramusaji dan juga kasir. Kedai kopi lain yang biasa di datanginya nyaris selalu menyajikan anak-anak muda berpenampilan menarik sebagai salah satu daya pikat toko, desain interior yang artistik untuk menarik minat para pengunjung, bahkan menyajikan spot yang dianggap instagramable. Tetapi tempat ini lain, tempat ini kelihatan agak lusuh dalam artian tua, cat pada bangku-bangkunya telah memudar dan mengelupas, cappuccino yang disajikan tidak dimanjakan dengan hiasan-hiasan lucu seperti umumnya, dan sebuah piano tua yang Kazuya tidak begitu yakin masih berfungsi terpajang menyedihkan di salah satu sudut ruangan. Bahkan baristanya terbilang cukup tua dengan penampilan standar. Sama sekali tidak tampak seperti kedai kopi abad 21.

Kazuya mengeluarkan ponselnya dan membuktikan bahwa kedai ini tidak memberi fasilitas sambungan wifi. Kalau Sawamura ada di sini, mungkin dia akan mulai berpendapat bahwa mereka baru saja memasuki lorong waktu dan terjebak ke masa lampau. Sawamura lagi, Kazuya mendengus. Seolah pikirannya telah mengkhianatinya karena terus memunculkan Sawamura. Kazuya berharap kopinya segera tiba ketika jarinya mulai bergerak membuka galeri foto di ponselnya hanya untuk mendapati betapa banyak foto Sawamura Eijun tersimpan di sana. Semua foto diambil secara candid, tampil bagaikan koalse dari waktu ke waktu. Kazuya bahkan tidak ingat sejak kapan dia mulai memotret Sawamura diam-diam. Bahkan hanya dari menggeser-geser setiap foto Kazuya bisa mengingat dengan pasti peristiwa apa yang ada di baliknya.

Sawamura di Takayama, berjalan di jembatan dengan kelopak sakura berterbangan, Sawamura dari samping tertawa lebar hingga matanya menutup, Sawamura di pinggir sungai dengan kaki tercelup ke dalam air, Sawamura mendongak ke arah langit, memejamkan mata dan tersenyum damai, Sawamura memasang cengiran lebar, Sawamura memakan ramen, Sawamura meminum milkshake, Sawamura di tepi senja, Sawamura tersenyum, merengut, berpikir, melamun, tidur, dan tertawa. Sawamura muncul dalam berbagai ekspresi, dari beragam waktu, mengisi setiap keping memori Kazuya dengan hal-hal gila.

Sawamura bahkan tidak perlu berusaha untuk bergaya, pikir Kazuya. Dia sangat photogenic. Setiap jepretan yang Kazuya bidik tanpa mementingkan estetika justru dapat membingkai ekspresinya secara utuh. Begitu natural, begitu hidup meski hanya dari gambar. Mungkin karena itulah Kazuya tanpa sadar menjadikan kegiatan memotret Sawamura sebagai sebuah kebiasaan kecil, dan kini kebiasaan kecil itu telah mendatangkan cubitan tajam di jantungnya, memaksanya mengingat dan mengakui betapa berada di dekat Sawamura merupakan salah satu hal yang menjadi favoritnya.

Namun mengingat kembali seperti apa Sawamura selalu tersenyum dan tertawa di samping Chris, Kazuya rasa bagi Sawamura keberadaan Kazuya bukanlah salah satu favoritnya...

Kazuya menarik napas dan berhenti menggeser layar saat sampai pada foto yang mengabadikan potretnya dan Sawamura dalam selca di atas perahu angsa. Foto yang konyol, agak kabur, dengan mereka yang seakan mencoba mengacaukan satu sama lain. Momen itu terasa begitu dekat sekaligus begitu jauh. Sesuatu yang masih segar dalam ingatan, tapi takkan terjadi lagi. Karena mulai hari ini dan ke depannya, Kazuya yakin akan lebih sering melihat Sawamura berfoto dengan Chris, mengobrol, bercanda, atau juga tertawa bersamanya.

"Selamat menikmati."

Kazuya nyaris tersentak, ia disambut oleh senyum sang barista yang baru saja meletakkan secangkir espresso panas di hadapannya. Kazuya mengangguk tipis, bergumam terima kasih sebelum meletalkan ponselnya kembali dan menarik cangkir kopinya lebih dekat.

Aromanya enak, pikir Kazuya saat menghirup harum kopi dari cangkirnya. Tampilannya memang sangat sederhana, tapi aromanya sungguh memikat. Kazuya mencoba rileks dan memejamkan mata, mengisi paru-parunya lebih banyak dengan aroma kopi.

"Menyedihkan."

Kazuya membuka mata lebar-lebar, nyaris tersentak untuk yang kedua kalinya. Entah karena dia lengah, atau memang orang-orang di sini punya kebiasaan serupa yakni mengejutkan orang lain. Ia menoleh ke samping, menyadari bahwa yang barusan bicara adalah seorang gadis yang duduk di dekatnya. Gadis itu sudah ada di sana sejak Kazuya masuk. Tampak semperti mahasiwa pada umumnya, cangkir kopinya sisa setengah dan dia sibuk menulis entah apa dalam bukunya.

Kazuya berdeham kecil. "Kau menyebutku menyedihkan?"

Gadis itu balas menatapnya, mengamati sekilas lalu angkat bahu tak acuh. "Tidak, tapi terserah kalau kau merasa begitu."

Kazuya mengangkat satu alisnya tipis, gadis itu bahkan sudah mulai menulis lagi, dan saat itulah Kazuya menyadari sesuatu yang berbeda. Sejak kapan dia berhenti menilai setiap gadis yang dilihatnya? Kazuya sudah melihat gadis ini sejak dia masuk, duduk di dekatnya selama beberapa menit, tapi sama sekali belum memberi angka dari satu sampai sepuluh. Bukankah itu menjadi kebiasaannya dulu? Untuk menilai gadis manapun yang ditemui atau dilihatnya dalam satu menit pertama?

Kazuya tidak biasa bicara pada orang asing, tapi karena gadis itu tampak tidak tertarik atau haus mata padanya, dia memutuskan mungkin tidak salah untuk bicara. "Kau tadi jelas menyebut kata menyedihkan sambil menoleh padaku, kan?"

"Ketika orang bisa menemukan tempat ini, berarti mereka cukup menyedihkan. Tempat menyedihkan untuk orang menyedihkan."

Kazuya melirik dengan ngeri ke arah barista, dia yakin pria itu bisa mendengar ucapan si gadis dan sakit hati, tapi nyatanya mereka justru saling melempar senyuman seolah kenalan lama.

"Kalau begitu kau juga orang menyedihkan, karena kau ada di sini sekarang." Kazuya berkomentar.

Gadis itu tersenyum miring, hampir seperti sebuah sindiran. "Aku sedang menulis bagian cerita menyedihkan, dan itulah yang membuatku terseret ke sini." Dia melambaikan pena dengan tak acuh ke buku catatannya lalu memandangi Kazuya lagi. "Dan kau, rupanya menyedihkan karena patah hati."

Kazuya bersyukur belum meminum kopinya, jika tidak dia pasti tersedak. "Aku tidak patah hati."

"Yah, dan rambutmu tidak coklat."

Kazuya mendengus, memutuskan untuk tidak melanjutkan percakapan. Tapi tiba-tiba gadis itu bicara lagi. "Patah hati itu menyebalkan, tapi tidak sepenuhnya buruk. Itu akan membantumu lebih dewasa kalau kau cukup waras untuk menghadapinya."

Alis Kazuya berkerut. "Kau bicara seakan kau ini wanita tua atau psikiater sok bijak. Padahal aku yakin kau bahkan tidak lebih tua dariku."

"Seorang pembaca hidup seribu masa sebelum dia dilahirkan."

"Seingatku kau tadi bilang kau ini penulis?"

"Aku ada di antara membaca dan menulis. Sementara kau," Dia menatap Kazuya lagi, agak tajam sebelum menumpul menjadi senyuman tipis. "Ada dalam penyangkalan antara jatuh cinta dan patah hati."

Kazuya memutar mata. "Aku tidak jatuh cinta dan aku tidak patah hati."

"Persis seperti yang kubilang, kau berada dalam penyangkalan."

Kazuya membuang napas pendek. "Yah, bagus. Lanjutkan saja ceramahmu soal cinta dan sebagainya, itu tidak akan membuatmu lebih dari orang konyol. Atau kau mau membacakan dongeng padaku? Yang setiap akhir cerita selalu ditutup dengan hidup bahagia selamanya."

"Dongeng itu tolol, aku setuju."

Kazuya mengerjap. "Apa?"

"Hidup bahagia selamanya?" Gadis itu mendengus geli. "Betapa memuakkannya kata-kata itu, terlalu fiktif dan tidak rasional."

Kazuya tersenyum mendengarnya, benar-benar tidak habis pikir. "Dongeng disampaikan untuk anak-anak, kan? Kalau kalimat akhirnya 'mereka semua mati sengsara' anak-anak pasti akan dapat mimpi buruk."

Gadis itu tersenyum dan menatap Kazuya seakan baru saja mengetahui sesuatu yang sangat penting. "Dalam dongeng, cinta menginspirasimu jadi kuat dan berani. Tapi pada kenyataannya, cinta hanya alasan lain untuk sikap keegoisan. Kau menyakiti, berbohong dan selingkuh saat sedang jatuh cinta."

"Itu... cukup sinis, kan?"

"Kau memang tidak akan bisa memandang cinta selamanya dari kacamata kelembutan dan kebahagiaan, realita selalu memaksa kita menjadi skeptis. Tapi tidak ada salahnya untuk melepaskan diri dan membiarkan dirimu bebas."

Kebebasan berarti kebahagiaan, Kazuya mengingat kata-kata ibunya beberapa waktu yang lalu. Entah sejak kapan kata bebas terasa begitu sulit untuk digapai. Kazuya menelan ludah, "Aku tidak mengerti."

"Berhentilah berpikir. Rasakan saja."

Kazuya tertawa miris. "Sayangnya, aku benci merasa-rasa."

"Untuk urusan hati, kekuatan yang sebenarnya bukan saat kita berhasil menahan semua perasaan. Kekuatan yang sebenarnya adalah ketika kita berani untuk menerima dan melepaskan segala perasaan."

Kazuya menahan napas selama tiga detik sebelum menemukan oksigen kembali. Ia melirik pada buku catatan gadis itu sekilas. "Sebenarnya apa yang kau tulis?"

Gadis itu memberinya senyum yang hampir sedih. "Sesuatu yang kuharap tidak berakhir menyedihkan."

...

Hampir memasuki bulan Agustus, tapi Kazuya masih belum terbiasa dengan jarak ini. Ia pikir kesibukan dan beban pikiran akan membuatnya lupa pada Sawamura Eijun, tapi nyatanya tidak. Ia memang butuh pemicu lebih kuat, sesuatu yang lebih dari sekedar menghindar dan mengabaikan Sawamura. Ia menatap kalender sekilas, lalu membuka laci mejanya, sesuatu ada di dalam sana dan telah disepakati. Sesuatu yang bisa menjadi pemicu lebih kuat agar dia berhenti dan menyerah pada Sawamura.

Kazuya berhasil mengambil benda itu tanpa gemetar, mengamatinya sekali lagi sebelum menarik napas dalam-dalam. Tekadnya sudah kuat. Barangkali memang terkesan pengecut, tapi siapa peduli? Hanya ini yang bisa Kazuya lakukan untuk mempermudah keadaan. Andai sebentar lagi Sawamura mulai berkencan dengan Chris... Kazuya tidak ingin ada di sana untuk melihatnya.

Matanya beralih pada akuarium di dekat tempat tidurnya. Ikan commen berenang sendirian dalam keheningan malam, berkilau keemasan. Kazuya memandanginya dengan senyum getir. "Kau memang akan kesepian dan menderita kalau terus bersamaku." Ia berkata pada ikan itu sebelum berjalan ke arahnya lalu berjongkok, mengetuk kaca akuarium tiga kali. "Kau butuh seseorang yang lebih peduli, lebih bertanggung jawab, dan lebih pintar menjagamu, Ei-chan." Kazuya meletakkan kembali benda itu di dalam laci dan meraih kunci mobilnya. Dia butuh sedikit udara segar.

Matahari sudah tenggelam saat Kazuya memacu mobilnya mengelilingi jalanan Tokyo. Musim panas sudah datang, tempat-tempat hiburan menjadi lebih ramai dan orang-orang berpakaian lebih santai tanpa membawa payung. Kazuya menyuri kembali tempat-tempat di Tokyo yang pernah dikunjunginya bersama Sawamura, mengenang kembali masa-masa itu.

Rasanya waktu berlalu begitu cepat sejak pertemuan pertamanya dengan Sawamura, ketertarikannya, bahkan ambisi pribadinya untuk mempermainkan Sawamura. Waktu berlalu begitu cepat sejak Kazuya menyusun perangkap namun pada akhirnya dialah yang tertangkap.

Setiap kali mobilnya berhenti di lampu merah, Kazuya akan menoleh ke kursi penumpang di sebelahnya. Kadang, ia masih merasakan Sawamura duduk di sana, tersenyum padanya ataupun merengut sebal, mengoceh berbagai macam hal dengan suara keras dan lantang. Seringkali, Kazuya bahkan bisa mendengar suara tawanya, menghirup aroma citrus yang melekat di tubuhnya, bahkan melihat wajah tidurnya yang dipantulkan kaca jendela. Sawamura terlalu sering berada di dalam mobilnya, akan sulit untuk menghapus sisa bayangan itu.

Gantungan Domo-kun pemberian Sawamura bahkan masih menggantung di bawah kaca spion dalam mobilnya. Maskot konyol berwarna coklat dengan mulut terbuka—dia selalu terlihat lapar dan marah. Kazuya ingat sempat berkata bahwa ekspresinya mirip Sawamura, yang kemudian dibalas dengan gerutuan Sawamura bahwa Kazuya juga mirip Gudetama yang selalu malas. Mereka saling mengejek setelah itu, tapi Kazuya tetap membiarkan Sawamura menggantungkan Domo-kun di bawah spionnya. Sekarang, gantungan itu bergoyang seakan mengejeknya. Menyudutkannya pada realita keji bahwa Kazuya tak akan mampu menghapus bersih setiap jejak Sawamura yang tertinggal.

Kazuya memutuskan tempat terakhir yang akan dikunjunginya malam ini adalah taman di atas bukit tempatnya dan Sawamura pernah memandang bintang. Mobilnya melaju perlahan di jalan yang agak menanjak, sepi, tapi mendapat penerangan yang cukup. Kazuya memutuskan parkir agak jauh dari taman, dia perlu menghirup udara dan berjalan-jalan sedikit di bawah bentang langit.

Musim panas sudah dekat... Kazuya kembali mengingat penghujung Februari yang kelabu saat pertemuan pertamanya dengan Sawamura. Mereka melewati akhir musim dingin yang suram, musim semi dengan banyak pertengkaran juga kenangan, musim hujan yang mulai asing, hingga mencapai awal musim panas yang mungkin juga berarti perpisahan. Sangat singkat. Kazuya tak akan pernah tahu bagaimana rasanya menghabiskan musim panas bersama Sawamura Eijun.

Kazuya menarik napas dan melangkah ke pasir taman bermain, berjalan beberapa langkah sampai kemudian berhenti ketika matanya menangkap seseorang duduk di ayunan. Menengadah ke arah langit dengan dua tangan mencengkeram rantai ayunan erat-erat. Napas Kazuya tercuri, terasa seperti matanya telah menciptakan ilusi yang terlalu nyata untuk diabaikan. Ketika orang itu akhirnya menggerakkan wajah lalu memandang ke arah Kazuya, barulah Kazuya sadar itu bukan ilusi.

"Miyuki Kazuya!" Sawamura berdiri dengan keget dan menjeritkan namanya. Matanya berkilat-kilat dalam warna keemasan yang kontras dengan langit malam.

Kazuya menggigit lidahnya. Dadanya berkecamuk dalam putaran badai beragam rasa yang tak terjamah. Matanya terpejam, tangan mengepal kuat di masing-masing sisi tubuhnya.

Kenapa Sawamura ada di sini? Apa yang harus Kazuya lakukan?

Berhentilah berpikir. Rasakan saja.

Kazuya berhenti berpikir. Mata terbuka lebar, membuang napas cepat, lalu berlari ke arah Sawamura dan menariknya ke dalam sebuah pelukan erat.

...

Eijun yakin tubuhnya sekaku batang pohon saat Miyuki memeluknya dengan tiba-tiba. Tanpa kata, tanpa basa-basi, tanpa peringatan maupun permisi. Kepala Eijun mendadak kosong, tidak tahu apa yang mesti dilakukan, tapi ia jelas tidak ingin menolak atau mendorong Miyuki menjauh.

Eijun mencoba mengatur napasnya, menerjemahkan anomali dalam debar jantungnya, atau juga membuat tubuhnya lebih rileks. Tubuh Miyuki terasa tidak asing, Eijun bahkan masih menghapal aromanya meski sudah cukup lama tidak berada di dekat Miyuki, panas yang dibawa tubuh Miyuki, juga kekuatan kedua lengan yang kini mendekapnya. Eijun bisa merasakan hembusan napas Miyuki di kulitnya, sesuatu yang membuatnya pusing dan ingin tenggelam selamanya.

"Miyuki—"

Kalimat Eijun terpaksa ditelan kembali sebab Miyuki mengeratkan pelukan. Lebih kuat, lebih dekat, lebih intens hingga Eijun bisa dengan nyata merasakan jantung Miyuki berdebar di dadanya.

"Sebentar." Suara Miyuki serak, begitu dekat dengan telinga Eijun hingga membuat Eijun menahan napas. "Sebentar saja."

Eijun bisa merasakan tarikan napas Miyuki yang gemetar. Miyuki tampak nyaris goyah, bahkan ambruk. Miyuki terus mengeratkan pelukan seakan ia akan lenyap di udara seandainya melepaskan.

Aneh... kenapa semakin lama rasanya justru semakin sakit? Tiap kali Miyuki merapatkan diri, Eijun justru merasakan jarak kian menjauh.

Eijun mengigit bibirnya, napasnya mulai putus. Ini menyakitkan. Sentuhan dengan Miyuki malam ini terasa sangat menyakitkan. Kontak fisik dengannya sangat menyiksa. Miyuki seolah baru saja berguling di atas jutaan duri duri beracun, sehingga tiap kali Miyuki mengeratkan pelukan Eijun bisa merasakan duri-duri itu menancap di tubuhnya. Menembus jauh ke dalam jiwanya.

Ini menyakitkan, Eijun ingin menangis dan protes. Tapi yang ia lakukan justru sebaliknya. Ia menggerakkan tangannya ke punggung Miyuki, balas memeluknya.

Eijun tidak menghitung berapa lama mereka berpelukan, tapi tak ada apapun yang terjadi setelah itu. Miyuki mengantarnya pulang, sama sekali tidak menjelaskan mengapa atau apa makna dibalik pelukan itu. Kepala Eijun masih terlalu kosong untuk dapat menyusun kalimat yang bisa menjadi topik obrolan, jadi perjalanan pulang mereka diliputi keheningan dan gelombang dingin.

Miyuki menghentikan mobilnya di depan rumah. Sama sekali tak bersuara dan menanti dengan sabar saat Eijun mulai melepas sabuk pengamannya. Eijun belum ingin pergi, dia masih ingin bersama Miyuki. Banyak hal yang ingin Eijun sampaikan, tanyakan, pastikan, kepada Miyuki. Eijun ingin meminta Miyuki menjelaskan banyak hal, mengobrol dengannya, kembali pada rutinitas mereka yang dulu. Eijun ingin mengungkapkan betapa ia ingin kembali dekat dengan Miyuki, bertanya apa mereka masih bisa memperbaiki segalanya. Tapi yang keluar dari mulutnya justru kalimat lain.

"Aku akan berkencan dengan Chris-senpai besok."

Miyuki sama sekali tidak tampak terkejut. Dia hanya balas menatap Eijun seakan masih menanti kelanjutan kalimat.

Eijun menelan ludah, membasahi bibirnya sekilas. "Bukan di Tokyo. Aku dan Chris-senpai akan ke Osaka."

Miyuki mengangguk tipis, tersenyum padanya. "Selamat bersenang-senang kalau begitu."

Jantung Eijun berdenyut dalam rasa sakit menyengat hingga membuatnya mual, matanya mulai terasa panas, tapi ia berhasil tertawa dan memasang senyuman lebar. "Tentu saja! Aku pasti akan bersenang-senang besok. Terima kasih sudah mengantarku, selamat malam."

Tanpa menunggu jawaban Miyuki, Eijun membuka pintu mobil dan segera berlari ke dalam rumah.

...

'Aku di depan rumahmu. Bisa bicara sebentar?' [Read. 21.50]

'Oke, tunggu.' [21.51]

Kazuya mematikan kembali ponselnya dan keluar dari mobil, tak butuh waktu lama sampai pagar rumah terbuka dan Chris muncul dari dalam dengan pakaian santai dan ekspresi tanya menghias wajahnya.

"Ayo masuk, kita bisa bicara di dalam." Tawar Chris ramah.

"Tidak perlu, ini cuma sebentar." Kazuya menolak dengan sopan. "Kau tidak keberatan, kan?"

Chris balas tersenyum. "Tentu tidak, santai saja."

Kazuya mengangguk, lalu menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan semua keping nyali dan tekadnya ke dalam satu titik di tenggorokan. "Aku yakin kau sangat menyukai Sawamura."

Chris tetap memasang wajah tenang, bahkan tersenyum sedikit. "Aku mencintainya, Miyuki."

"Ya. Aku percaya itu." Kazuya membuang napas perlahan. "Aku juga tahu Sawamura selalu merasa lebih baik dan lebih bahagia saat bersamamu."

"Well?"

Kazuya tersenyum lebih rileks pada Chris. "Itu pujian, sungguh. Aku benar-benar memujimu."

Chris tertawa samar. "Oke, terima kasih."

Kazuya menarik napas lagi, lebih banyak tekanan di tenggorokannya, tapi itu semua harus keluar malam ini. Maka ia menatap lekat ke mata Chris, penuh kesungguhan, pantang mundur.

"Aku tahu aku tidak pantas mengatakan ini, tapi tolong, jagalah Sawamura Eijun. Dia anak yang berhati besar dan tulus pada orang lain, dia sangat pantas untuk bahagia. Aku harap kau selalu memperlakukannya sebaik mungkin."

"Miyuki..."

"Berjanjilah padaku, Chris." Kazuya berkata lugas. "Berjanjilah kau akan menjaga Sawamura dan tidak akan menyakitinya atau membiarkan orang lain menyakitinya. Berjanjilah padaku."

Chris tampaknya masih cukup syok menerima situasi ini. Tapi pemuda itu berhasil memberi Kazuya anggukan lugas, begitu tegap dan penuh percaya diri ketika menjawab. "Aku berjanji." Chris menatap lurus ke matanya. "Melihat Sawamura Eijun sakit dan terluka adalah hal terakhir yang kuinginkan."

Kazuya menjabat tangan Chris bersama senyuman lega lalu pulang ke rumah. Malam ini, setelah belasan tahun lamanya, Kazuya menemukan dirinya kembali menangis dalam dekapan sang ibu.

...

Tempat pertama yang Eijun kunjungi bersama Chris adalah Kastil Osaka, satu dari tiga kastil paling besar di Jepang.

"Tempat ini juga menarik di malam hari berkat atraksi lampu di sekitarnya yang memberi kesan agak misterius dan dramatis."

Eijun mengangkat alisnya. "Senpai pernah melihatnya?"

Chris tersenyum dan mengangguk. "Satu kali, hanya sekilas."

"Ugh, mungkin seharusnya kita ke sini saat matahari sudah tenggelam."

Chris tertawa dan mengacak rambut Eijun. "Sama saja, Sawamura. Osaka memberi banyak pilihan tempat yang manarik untuk dikunjungi baik siang maupun malam hari."

"Tapi aku takut Chris-senpai menganggapnya membosankan karena aku salah menentukan destinasi selanjutnya."

Chris mengangkat satu alisnya dengan begitu atraktif. "Membosankan? Saat bersamamu? Kurasa itu mustahil, Sawamura."

Eijun mendengus. "Gombal!" Tapi tetap tak mampu nenahan senyumnya dan lanjut berjalan bersama Chris, mengelingi area sekitar kastil yang boleh dikunjungi sambil sesekali menganggumi arsitekturnya.

Eijun beberapa kali melirik ke arah Chris, menikmati bagaimana bangunan kastil di belakangnya tampak cukup serasi dengam wajah dan postur tubuh Chris. Ia mulai membayangkan Chris memakai pakaian tradisional Jepang, membawa kantana, dan tinggal di dalam kastil sebagai putra bangsawan terhormat atau mungkin pangeran yang agung.

"Kenapa kau senyum-senyum?"

"Aku sedang membayangkan Chris-senpai sebagai bangsawan atau bahkan pangeran pada dinasti kuno. Rasanya cocok sekali."

"Hmm, lantas apa yang cocok denganmu?"

"Kesatria!" seru Eijun lantang, tertawa geli sendiri menyadari kekonyolannya. "Aku selalu beranggapan cocok jadi ksatria. Cendikiawan tidak serasi denganku, keluarga bangsawan memiliki banyak aturan, setidaknya menjadi kesatria berarti aku membela yang benar."

Chris memberinya senyum persetujuan. "Aku tidak akan mendebat itu. Aku cukup paham kau adalah pribadi yang suka memasang badan di depan untuk melindungi orang lain." Lalu ia mendelikkan bahu. "Tapi kalau kau adalah kesatria yang melindungi keluarga atau kerajaanku, aku ragu mengirimmu ke medan perang."

"Heee!? Kenapa!? Senpai tidak percaya padaku?"

"Aku selalu percaya padamu, Sawamura." Chris berdeham, membuang pandangannya ke arah lain. "Hanya saja aku tidak ingin kau terluka atau dalam bahaya."

Eijun mungkin salah tingkah dan merona, tapi ia berhasil berkilah dari kecanggungan. "Sekarang aku mulai bingung, aku kesatrianya, aku yang seharusnya menjaga Chris-senpai, tapi Chris-senpai justru ingin menjagaku juga?"

Chris tersenyum lagi, sejuk di tengah cuaca panas. "Tidak ada salahnya saling menjaga. Kurasa itu lebih baik."

Eijun menyeringai. "Baiklah, Paduka. Sekarang mari kita ke Menara Tsutenkaku untuk memantau keadaan sekitar."

"Tentu, pastikan kau tetap dekat denganku. Jangan berani-berani pergi dari sisiku."

Eijun memutar mata dengan jenaka. "Yah, baiklah... Ayo."

Mereka bertahan memerankan Pangeran dan Kesatria itu selama beberapa waktu dalam perjalanan ke Tsutenkaku. Tetapi satu sudut ruang dalam kepala Eijun bercabang dalam konsentrasi yang berbeda. Chris adalah Pangeran yang mulia, Eijun adalah Kesatria, dan ia memimirkan Miyuki Kazuya sebagai pemberontak yang berjalan dengan penuh percaya diri. Menyeringai setajam pedang, memprovokasi para rakyat untuk balik menentang, Eijun membayangkan tawa jahat Miyuki mengudara di bawah sinar purnama ketika berhasil merusak segala hal. Penjahat dengan otak licik dan harga diri begitu tinggi. Berbakat alami untuk merusak keteraturan dengan otak manipulatifnya. Aneh, bagaimana bisa Eijun menganggap itu menarik?

...

Tsutenkaku adalah menara observasi dengan tinggi sekitar 103 meter yang bisa juga disebut sebagai simbol Osaka. Eijun berdecak kagum saat matanya disuguhkan oleh pemandangan kota Osaka ketika berdiri di atas menara itu. Pemandangan di bawah sana, di sekitar Tsutenkaku, seakan terbelah dalam dua dimensi waktu yang berbeda. Salah satunya meninggalkan kesan kota tua Jepang dengan segala warna-warni spanduk iklan bertuliskan kanji membentang, toko-toko tua yang berbaris, bahkan kios-kios makanan tradisional. Satu lainnya jelas menampilkan jejak moderenisasi canggih. Papan iklan yang dipajang tinggi, dilengkapi gambar-gambar dan lampu beragam warna.

"Kenapa orang-orang sangat tertarik ke lantai lima?" Tanya Eijun pada Chris heran.

"Di lantai lima menara ini terdapat patung Billiken. Banyak orang percaya kalau kita mengelus bagian telapak kaki patung itu, maka kita akan bahagia. Antriannya cukup panjang, kau mau coba?"

"Chris-senpai percaya hal seperti itu?"

"Relatif, sebenarnya. Kalau sekadar seru-seruan rasanya tidak masalah, tapi untuk percaya sepenuhnya..." Chris angkat bahu.

"Bahagia itu pilihan, bukankah begitu?"

Chris mengangguk. "Tapi kita punya waktu kalau kau penasaran dan ingin mencobanya. Kau boleh melakukan apapun yang kau mau hari ini."

Eijun tertawa dan menggeleng samar sambil memperhatikan antrian yang panjang. Percaya pada patung? Itu konyol. Eijun seakan mendengar Miyuki berkata sambil mendengus. Oh, kecuali telapak kakinya terbuat dari emas murni, mungkin menyentuhnya akan sedikit membahagiakan. Ia bahkan bisa membayangkan bagaimana Miyuki menyeringai geli dan menggerling padanya, tersenyum dengan bibir bengkok. That damn smile! Eijun lekas menggeleng. Sial, kenapa ia terus memikirkan Miyuki?

"Di mana kita makan siang setelah ini?" Tanya Eijun lagi, berusaha mengabaikan Miyuki yang lalu lalang dalam kepalanya.

"Aku berencana mengajakmu ke Pasar Kuromon. Itu seperti surganya seafood, kalau kau mau."

"Chris-senpai bercada? Aku bahkan berharap punya lautan sendiri agar bisa makan seafood setiap hari!"

"Oh, ya?" kata Chris pura-pura kaget. "Kupikir kau bahkan tidak tega memakan seekor udang kecil karena merasa telah merenggut hidupnya."

"Aku tidak tega makan udang kecil, itu benar. Biarkan udang kecil itu menikmati hidupnya dulu, menggemukkan badan, dan jadi udang besar sebelum sampai ke piringku."

"Wow, aku tidak tahu kau cukup kejam, Sawamura."

Eijun balas meyeringai main-main. "Psst, ini seharusnya rahasia. Tapi aku selalu membawa setidaknya tiga belas jenis sejata tajam dan beberpa botol racun mematikan di dalam tasku."

"Astaga, aku tak percaya aku naksir psikopat."

Berkencan dengan Chris memang salah satu momen berkesan yang mungkin terjadi dalam hidup Eijun. Cara Chris menatapnya, cara Chris bicara padanya, cara Chris menanggapi leluconnya, setiap gerak-geriknya, Chris seakan selalu tahu apa yang Eijun butuhkan sebelum Eijun sempat meminta. Chris membuatnya merasa sangat spesial, begitu berarti, dan layak mendapatkan yang terbaik. Chris berhasil menjaga keseimbangan antara godaan, rayuan, dan candaan sehingga Eijun bisa tetap berada di atas papan yang nyaman. Chris sempurna, tapi dia justru menatap Eijun seakan Eijunlah makna kesempurnaan sesungguhnya.

Mereka mengunjungi sebanyak mungkin tempat di Osaka, berbagi kebersamaan dan mencoba lebih dekat untuk memahami satu sama lain. Eijun menjawab apapun yang ingin Chris ketahui tentangnya. Keluarganya, teman-temannya, studinya, bahkan hal-hal remeh yang tidak terlalu penting. Nuraninya berbisik bahwa ia perlu melakukan itu sebagai tanda bahwa ia juga menyukai Chris, bahwa ia memberi lampu hijau pada pemuda itu.

Setelah makan siang, mereka berkunjung ke Hozenji Yokocho. Menyusuri deretan kota retro di atas jalan setapak berbatu yang begitu kental dengan nuansa jaman dulu Osaka. Mampir ke Kuil Hozen-ji yang terletak tidak jauh dari pintu masuk Hozenji Yokocho, menyempatkan diri untuk melihat patung Mizukake Fudo yang dipercaya akan mengabulkan permintaan saat memohon sambil menyiraminya dengan air. Dari sanalah, Eijun membiarkan Chris menggandeng tangannya.

Chris masih menggandeng tangannya bahkan ketika mereka tiba di destinasi selanjutnya, Umeda Sky Building. Gedung berlantai 40 dengan tinggi 173 meter yang merupakan salah satu gedung dengan arsitektur terbaik di dunia. Bentuknya menyerupai Arc de Triomphe di Perancis membuatnya jadi semakin menarik.

"Whoa! Kita bisa melihat seluruh Osaka dari sini!" Seru Eijun, merasa seperti anak kecil yang terlalu antusias saat berdiri di floating garden observatory yang merupakan bagian teratas gedung.

"Yep," Sahut Chris hangat, genggaman tangannya mengerat sedikit hingga Eijun menoleh padanya. Alisnya menukik tipis saat melihat Chris meringis dan agak berkeringat.

"Senpai baik-baik saja?"

"Tentu, aku luar biasa."

Eijun mengerutkan dahi, menatap Chris lebih seksama. "Senpai kelihatan tidak baik-baik saja."

Chris meringis lagi sebelum membasahi bibirnya, saat itulah Eijun menyadari bahwa Chris agak gemetar. "Ini payah, Sawamura. Aku tidak mau membahasnya denganmu. Kau akan menanggapku sangat tidak keren."

"Mana mungkin begitu!" Sergah Eijun seketika. "Katakan saja ada apa?"

Chris menarik napas panjang, membuangnya perlahan, kembali menatapnya dengan senyum kecil. "Aku takut ketinggian."

Eijun melebarkan mata. Bersiap untuk mengatakan berbagai macam hal tapi tangan Chris naik seolah menahannya. "Tenang, oke? Tidak apa-apa, bukan salahmu. Biasanya aku bisa mengatasinya, tapi kadang memang ada hari-hari seperti sekarang di mana semuanya agak memburuk. Dan saat aku bilang memburuk, itu sama sekali tidak ada hubungannya denganmu. Segalanya berjalan luar biasa baik ketika aku bersamamu, yang buruk hanya phobiaku, aku bersumpah. Tapi aku oke, aku baik-baik saja, kau tak perlu panik atau—"

"Chris-senpai." Sela Eijun cepat, berdiri menghadap Chris sambil menggenggam kedua tangannya. Eijun tidak mengalihkan tatapannya dari mata Chris. "Tarik napas sekarang, oke?"

Untungnya Chris menuruti intrusksi itu. Dia mulai menarik napas perlahan, menenangkan kepanikannya dan menjadi lebih tenang dalam beberapa kali tarikan napas.

"Bagaimana perasaan Senpai sekarang?"

Chris menghembuskan napas panjang dan mengangguk singkat. "Jauh lebih baik. Maaf."

"Jangan minta maaf padaku, kita semua punya ketakutan, itu normal. Aku juga takut hantu, aku benci segala hal berbau horror. Saat aku kelas satu SMA, teman-temanku memaksaku berkunjung ke rumah hantu dan aku demam selama dua hari setelahnya."

Chris tertawa, dan Eijun merasa lega karena artinya pemuda itu sudah merasa lebih baik. "Terima kasih, aku sungguh merasa tertolong."

"Bukan masalah." Cengir Eijun. "Apa Senpai mau turun sekarang? Aku tidak ingin Senpai memaksakan diri."

"Tidak perlu, aku sudah merasa baik-baik saja. Seperti yang kubilang tadi, sebenarnya phobiaku tidak parah dan aku terbiasa menghadapinya. Aku bahkan baik-baik saja saat kita di menara tadi, kau ingat?"

Eijun mengingatnya. Chris tampaknya memang baik-baik saja walau menara Tsutenkaku terbilang cukup tinggi.

"Aku akan baik-baik saja kalau bisa fokus pada satu hal. Tsutenkaku tidak terlalu luas, jadi arah pandanganku juga bisa fokus. Tapi di sini terbilang luas jadi aku bingung harus fokus ke mana, alhasil aku ingat ketinggiannya dan mulai panik. Tapi sekarang aku baik-baik saja, percayalah."

"Chris-senpai yakin?"

"Sejuta persen."

Eijun tersenyum menanggapinya. "Kalau begitu aku tidak perlu memegang tangan Chris-senpai lagi, heh?"

Chris mengeratkan genggaman. "Jangan. Karena sepertinya aku lebih takut melepaskanmu daripada takut ketinggian."

Eijun terkikik mendengarnya. "Baiklah, karena Chris-senpai sudah bicara seperti itu lagi, aku yakin semua baik-baik saja."

"Dan kita bisa tetap di sini sampai matari terbenam. Sepertinya menyaksikan matahari terbenam dari sini cukup menarik."

Eijun tidak bisa mendebat itu, dia membiarkan ketika Chris mencari posisi strategis untuk mereka. Menatap ke bentang langit barat yang mulai memerah dengan tangan masih saling bertautan satu sam lain.

Ini menyenangkan, Eijun berbisik kepada hatinya. Chris benar-benar orang baik yang mustahil menyakitinya. Ini benar. Ini hal yang tepat. Aku harus segera menjawab pernyataan cintanya dan memulai hubungan resmi sebagai kekasih Chris, Eijun mencoba berjanji. Ia memejamkan mata dan menarik napas. Mencoba membulatkan tekadnya ketika bayangan Miyuki Kazuya tiba-tiba muncul dan mengacaukan pikirannya.

Sial.

...

Chris membawa Eijun makan malam ke Donbotori. Pemuda itu semula menawarkan dinner yang lebih berkelas di salah satu resto ternama Osaka, tapi Eijun berkata untuk hari ini dia lebih suka makan dan mencicipi kuliner dari kedai-kedai kecil sederhana. Jadi Chris membawanya ke pusat pertokoan Donbotori, bekeliling mencicipi berbagai macam hal sambil terkesima menikmati papan-papan iklan setiap toko yang sangat menarik. Eijun bahkan berhasil membuat Chris mau berfoto di depan salah satu toko takoyaki yang memajang replika gurita raksasa.

Sulit untuk merasa bosan di Donbotori, setiap toko sangat menarik untuk dilihat. Aroma berbagai macam jajanan khas Jepang memenuhi udara sekitar dan berpadu dengan setiap gemerlap lampu aneka warna. Rasanya nyaris seperti berjalan di pasar malam super besar.

Namun ada yang tak kalah menarik dari itu, Donbotori juga menyediakan paket perjalanan menyusuri sungai dengan perahu motor. Permukaan sungai yang gelap karena langit malam menjadi cermin menakjubkan yang memantulkan beragam warna-warni lampu pertokoan di sepanjang pinggiran sungai. Suasananya indah, bahkan mungkin romantis. Mereka mengambil foto sebagai kenang-kenangan, dan Eijun tidak keberatan memajangnya di akun media sosial setelah meresmikan hubungannya dengan Chris.

Sebentar lagi, pikir Eijun. Aku akan menjawabnya sebentar lagi. Ia meyakinkan hatinya, membiarkan kepalanya bersandar ke bahu Chris untuk merasakan kenyamanan dan perlindungan tanpa pamrih yang selalu Chris tawarkan.

Setelah berkeliling dengan perahu motor, akhirnya mereka sampai pada akhir destinasi. Sudah lewat dari pukul sembilan malam saat Eijun menemukan dirinya berada di depan Bianglala Tempozan. Bianglala terbesar di Jepang dengan tinggi sekitar 112 meter dan memerlukan waktu lima belas menit dalam satu kali putaran. Eijun menarik napas dan menatap Chris. "Senpai yakin?"

Chris mengangguk begitu lugas, tak ada ketakutan atau keraguan secuilpun di matanya. "Agak memalukan mengakuinya, tapi mungkin ini yang paling kutunggu-tunggu. Bisa berdua saja denganmu di dalam kabin bianglala raksasa."

Eijun bersyukur karena ini malam hari, jika tidak Chris pasti tak kan mampu membedakan antara warna tomat dan wajahnya. "Baiklah, ayo kita naik."

Saat bianglala bergerak perlahan-lahan, berputar dan membawa mereka naik ke puncak tertinggi, Eijun tidak dapat memisahkan antara rasa takjub dan kegembiraan di hatinya. Chris benar-benar punya selera yang bagus. Bianglala ini penutup yang sangat sempurna untuk kencan mereka hari ini. Karena semakin tinggi, semakin indah pula pemandangan Osaka yang dapat dilihat. Bukan hanya keadaan kota dengan lampu warna-warninya yang memanjakan mata, tapi dari atas sini Eijun bahkan bisa melihat sungai dan lautan dengan kapal-kapal yang berbaris di pelabuhan. Benar-benar menakjubkan dan romantis.

"Ini sangat indah..." Eijun menatap pelabuhan di bawah sana dengan mata berbinar.

"Jadi, apa kau bersenang-senang hari ini?" Suara Chris jauh lebih lembut seolah tak ingin mengusik Eijun yang senang menganggumi pemandangan.

Tapi Eijun segera mengalihkan pandangannya guna menatap Chris, memberinya senyum paling lebar hari ini. "Aku lebih dari bersenang-senang. Mungkin ini akan jadi pengalaman kencan terbaik seumur hidupku."

Wajah Chris bersemu merah, dan Eijun suka hal itu. Chris adalah pemuda yang keren dan selalu tampil penuh wibawa, tapi bersama Eijun, Chris terkadang terlihat sangat manis. Ia berdeham kecil, tersenyum lagi. "Aku lega kalau begitu, tapi kalau boleh jujur, masih banyak yang ingin kulakukan denganmu di masa depan. Lebih dari ini."

Ini dia, pikir Eijun. Inilah saatnya, dia tak bisa menunda lagi. Bianglala masih berputar dan lima menit lagi kabin mereka akan mencapai puncak tertinggi. Eijun menarik napas dalam-dalam lalu menggenggam tangan Chris lembut. "Aku akan memberi jawaban sekarang, Chris-senpai siap?"

Chris menarik napas dan mengangguk bersama seulas senyuman. "Aku siap."

Eijun menelan ludah, genggamannya pada Chris mengerat tanpa bisa dicegah. "Aku juga menyukai Chris-senpai. Aku sangat menyukai Chris-senpai. Aku ingin lebih banyak kencan dengan Chris-senpai di masa depan, jadi kurasa..." Eijun tersenyum pada Chris, mengusir semua gangguan dari kepala dan hatinya. "Ya, aku mau. Aku mau jadi kekasihmu."

Selama beberapa detik berlalu Chris tidak bereaksi sama sekali. Dia hanya memandang Eijun dalam diam, tanpa berkedip, tidak bergerak, seakan tersihir atau bahkan tak mempercayai pendengarannya. Kemudian Chris kembali bernapas, matanya menatap Eijun hati-hati. "Kau...serius?"

"Tentu saja aku serius!" Eijun berhasil menjawab yakin tanpa meringis akibat rasa tersengat di dadanya. "Mulai sekarang, tolong jaga aku, Chris-senpai!"

Beragam ekspresi melintas di wajah Chris, tapi pemuda itu terlalu terpana hingga tak mampu mengatakan apa-apa. Eijun masih tersenyum padanya, mencoba menekan maju semua keberanian dan keyakinan dalam dirinya. "Sekarang aku adalah pacar Chris-senpai."

Bibir Chris bergerak lambat sekali. "Kau...adalah...pacarku..."

"Yep!" Eijun tertawa, meremas tangan Chris lagi. "Apa ada yang ingin Senpai katakan di hari pertama kita?"

Wajah Chris memerah dengan cepat, ia membuang napas dengan keras dan menggelengkan kepala beberapa kali sebelum meremas tangan Eijun lebih erat dan kembali menatap ke matanya. "Aku tidak tahu bagaimana harus menanggapinya. Aku terlalu bahagia sampai terasa akan meledak sebentar lagi."

"Jangan begitu!" Eijun pura-pura kesal dan cemberut. "Akan sangat tidak lucu kalau pacarku meledak di hari pertama jadian."

"Sawamura," Chris hampir gemetaran. "Kalau kau terus mengatakan hal-hal seperti itu, aku benar-benar bisa hilang kendali sebentar lagi."

Eijun memberinya senyum jail. "Ayolah, Chris-senpai, aku memang sengaja melakukannya! Aku juga laki-laki, kau ingat? Aku tahu persis bagaimana rasanya. Jadi kenapa Senpai tidak pindah saja untuk duduk di sebelahku sekarang?"

Eijun sangat suka melihat bagaimana Chris masih berusaha tenang dan mengambil napas hati-hati sebelum bergerak dan menempati posisi duduk di sebelahnya. Kabin mereka agak oleng sesaat, tapi keseimbangan dan keamanan bianglala tak diragukan lagi mampu beradaptasi dengan cepat dan membuat posisi kembali seimbang. Eijun memasang senyum yang paling manis untuk Chris, membiarkan kehangatan pemuda itu mengalir ke tubuhnya melalui sentuhan jari-jari mereka.

Ini bagus. Ini sangat bagus. Inilah yang aku butuhkan, ini yang aku inginkan, Eijun membisiki hatinya berulang-ulang.

"Maaf ya, karena ketidakpekaanku, kau jadi menunggu terlalu lama."

Chris menggeleng tipis dan balas tersenyum. "Bukan masalah."

Eijun menyamankan diri untuk bersandar pada Chris sambil memandang panorama malam yang terlihat dari jendela kabin bianglala. "Aku belum pernah pacaran dengan laki-laki sebelumnya, jadi aku tidak benar-benar tahu harus berbuat apa. Kuharap Chris-senpai masih punya kesabaran mengajariku."

Terdengar suara tawa lembut dari Chris. "Aku juga belum pernah, Sawamura. Jadi kita harus sama-sama belajar, katakan saja kalau ada tindakanku yang membuatmu tidak nyaman. Aku tidak ingin membuatmu merasa terbebani."

Eijun tertawa kecil, makin menyandarkan diri pada Chris hingga ia bisa menghirup jelas aroma Chris yang sangat berbeda dari Miyuki. "Kau terlalu baik, aku mulai takut kau bersikap seperti ini juga pada orang lain."

Satu tangan Chris bergerak ke sepanjang bahunya, turun ke punggung untuk memberi usapan lembut. "Aku hanya seperti ini denganmu, kau tahu itu."

Eijun mengangkat wajahnya untuk menatap Chris lalu mengulurkan tangan dan memeluknya, Chris balas memeluk. Ini bagus, Eijun menanamkan ke otaknya. Memiliki seseorang yang begitu peduli padamu itu bagus. Membalas rasa sayang seseorang yang juga menyayangimu itu bagus. Eijun mengeratkan pelukan, mendadak merasa terlalu bergantung pada sentuhan Chris. Ia ingin semua ini terasa lebih nyata, lebih dekat, lebih kuat dan lebih intens agar menghapuskan semua ingatan di tubuhnya tentang betapa menyakitkan pelukan Miyuki kemarin malam.

Chris-senpai mencintaiku, pikir Eijun selagi merasakan betapa kencang detak jantung Chris di dadanya. Pria ini benar-benar mencintaiku.

"Sawamura..."

Eijun mendongak sedikit untuk menatap mata amber Chris, pemuda itu menjilat bibirnya singkat dan tampak gugup luar biasa. Wajahnya masih bersemu merah, tapi dia sama sekali tidak menghindari mata Eijun.

"Aku—"

"Lakukan." Sela Eijun. "Aku juga menginginkannya. Cium aku, Chris-senpai."

Chris tidak langsung menciumnya, tangan Chris bergerak ke lehernya, ibu jari mengusap pipinya dengan penuh kelembutan hingga membuat Eijun memejamkan mata dan menjadi lebih tenang. Sentuhan Chris sangat penuh dengan perasaan dan kehati-hatian seolah ia mengantisipasi penolakan. Tapi Eijun tidak akan menolak lagi. Ia memiringkan kepalanya dan mendongak pada Chris memberi tanda bahwa ia siap dan yakin dengan semua ini.

Ketika akhirnya bibir Chris menyentuh bibirnya, segalanya menjadi kabur dan Eijun membiarkan seluruh kerja otak dan tubuhnya fokus pada satu titik yakni bibirnya. Ciuman Chris ringan dan lembut, hampir terkesan ragu, lalu kemudian terlepas. Eijun tidak membuka mata, ia bisa mendengar Chris menarik napas lalu kembali menciumnya, kali ini sedikit lebih berani.

Eijun menekan maju, mengharapkan lebih dari sekedar kecupan lembut. Ia ingin sesuatu yang lebih dalam, lebih kasar, lebih melekat untuk melenyapkan semua ingatan akan bagaimana rasa bibir Miyuki di bibirnya. Eijun ingin mengganti semua tentang Miyuki dengan Chris. Dia milik Chris sekarang. Dia ingin seluruh tubuh, pikiran, dan hatinya dipenuhi oleh Chris seorang.

Eijun mendesak maju, membuka mulutnya dan dengan agak tak sabar mengundang lidah Chris untuk menguasai rongga mulutnya. Lebih, Eijun butuh lebih dari ini. Ia menginginkan Chris menguasainya. Menjadi terlalu haus akan sentuhan dan ciuman Chris. Eijun menjilat dan menghisap bibir Chris, membiarkan lidahnya tersapu oleh lidah hangat Chris selagi tubuhnya merapat makit dekat dengan tubuh Chris.

Teruskan. Lebih. Lebih. Lebih. Teruskan. Jangan berhenti.

Chris meremas pinggang dan bahunya saat Eijun menggigit bibir bawahnya, tapi Eijun tidak mau berhenti.

Aku menginginkannya. Aku menikmatinya. Aku menyukainya.

Napas Eijun mulai sesak, tapi ia tetap tidak berhenti. Tidak bahkan ketika Chris mundur untuk mengambil napas dan terengah. Eijun lekas mengejar untuk menuntut ciuman lain darinya. Eijun sadar Chris kesulitan bernapas, ia bisa merasakan betapa kuatnya desakan Chris untuk mengambil jeda napas melalui cengkeraman jari-jari Chris di bahunya. Tapi Eijun belum puas.

"Sawamura," Chris berhasil menarik diri sejenak, terengah.

"Jangan berhenti." Napas Eijun putus-putus tapi ia tetap mendesak maju dan menekan ciuman lain ke mulut Chris yang setengah terbuka. Chris masih membalasnya, berusaha sebisanya untuk meledeni ciuman Eijun yang makin berantakan.

"Sawamura, tunggu."

"Tidak. Aku belum puas." Eijun kembali maju, tapi kali ini Chris berhasil menahannya. "Kenapa?!" Suara Eijun tercekat serak. "Kau tidak suka?"

Chris menatapanya sangat dalam. "Aku suka. Aku sangat menyukainya."

"Kalau begitu lanjutkan." Eijun nyaris memekik, ia maju lagi tapi Chris menahannya tetap di tempat.

"Sawamura," Suara Chris terdengar begitu lembut di telinganya, "Kau menangis."

Eijun bahkan tidak menyadarinya. Wajahnynya telah basah dengan air mata sementara dadanya sesak luar biasa. Chris masih menetapnya dengan begitu lembut, mengusap air matanya hati-hati saat Eijun mencoba tersenyum, "Aku menangis karena bahagia. Aku bahagia bisa bersama Chris-senpai."

Chris tersenyum padanya, masih menatapnya dengan hangat dan dalam meski kepalanya menggeleng untuk menyanggah. "Aku sangat bahagia bisa bersamamu, Sawamura. Tapi melihatmu tidak bahagia adalah hal terakhir yang kuinginkan."

"Tapi aku bahagia!" Suara Eijun tercekat memilukan. Air matanya makin deras dan dadanya lebih sesak daripada yang pernah ia rasakan seumur hidupnya. "Aku sangat bahagia..."

Chris masih tersenyum, tenang, mengusap air mata dan membelai punggungnya dengan lembut. "Kau mencintai Miyuki, bukan aku."

"Tidak!" Jerit Eijun. "Tidaktidaktidak! Aku menyukaimu! Aku sangat menyukaimu! Aku mencintaimu! Aku hanya mencintaimu dan bukan orang lain! Aku menginginkanmu! Bukan Miyuki Kazuya! Hanya kau yang bisa membuatku bahagia! Aku mencintaimu, aku mencintaimu, aku mencintaimu, kumohon... Aku sangat mencintaimu!"

Chris menariknya ke dalam pelukan erat. "Oh, Sawamura..." berbisik menenangkan saat Eijun tersedu-sedu di dadanya. "Perasaan tidak akan pernah bisa kau lawan dengan kata-kata, tak peduli sekeras apapun kau berteriak."

Eijun meraung dalam pelukan Chris. "Tapi aku benar-benar menginginkanmu. Kau sangat mencintaiku dan aku ingin mencintaimu juga. Aku ingin bahagia denganmu. Aku ingin bersamamu... Jangan tolak aku, kumohon..."

"Ssshh... Aku tidak akan menolakmu, Sawamura. Tapi aku tidak bisa mengorbankan kebahagianmu demi keegoisanku."

Tangis Eijun pecah, ia mendekap Chris lebih erat, ia biarkan tangannya menjadi tinju kencang di sekitar punggung Chris. "Aku tidak mengerti... Aku tidak mengerti kenapa aku seperti ini... Kenapa aku memikirkan Miyuki..."

"Tidak apa-apa." Suara Chris begitu halus, usapan telapak tangannya yang hangat tak lepas dari rambut dan bahu Eijun. "Tidak apa-apa, Sawamura..."

Eijun menangis makin keras. Ia biarkan seluruh air mata, perasaan, kemarahan, kesedihan dan kebimbangan hatinya tumpah dalam pelukan Chris malam itu. Chris membayar lebih agar untuk menyewa kabin mereka, terus berputar di dalam bianglala sampai tangis Eijun benar-benar berhenti. Eijun menyadari bahwa Chris juga sempat menangis, mengingat cintanya yang tak pernah bisa Eijun balas.

Mereka naik ke bianglala dalam status masih sebagai teman, menjadi kekasih saat berada di dalam, sampai akhirnya keluar kembali dengan status kembali menjadi teman. Chris menawari dengan sopan apakah Eijun bersedia bermalam di Osaka mengingat hari sudah larut, Eijun tidak menolak.

"Maafkan aku..." Bisik Eijun serak begitu mereka memasuki lift hotel, masing-masing memegang kunci pintu kamar yang berbeda. "Aku benar-benar minta maaf."

Chris balas tersenyum simpul dan meremas bahunya dengan bersahabat. "Sudahlah, berhenti minta maaf padaku."

"Tapi aku jahat sekali. Chris-senpai harusnya membenciku dan meninggalkanku sendirian."

"Jangan konyol, Sawamura."

"Kalau begitu lakukan apa saja padaku. Senpai boleh memukulku, menampar atau meninju, apapun. Aku merasa sangat bersalah, aku merasa tidak akan tenang sebelum Chris-senpai memukulku setidaknya satu kali."

Chris tertawa. "Astaga, Sawamura, kau tidak perlu merasa begitu, oke?" Chris menatapnya lurus-lurus. "Sebagai gantinya, kau harus menyatakan perasaanmu yang sebenarnya pada Miyuki, mengerti? Jangan menutupinya lagi, jangan mencoba untuk melawannya. Kau harus berani."

Eijun mendesah berat dan menunduk, tidak menjawab.

"Sawamura?"

"Bisa tidak kita jangan bawa-bawa dia dulu? Aku masih tidak tahu bagaimana harus bersikap."

Chris menepuk bahunya ramah. "Kau hanya harus jujur dan berani. Kau 'kan Kesatrianya."

Eijun mendengus, berhasil tertawa kecil. "Yeah, karena Miyuki sepertinya bahkan tidak tahu bagaimana cara mengeja kata cinta dengan benar."

Pintu lift berdenting terbuka dan mereka keluar bersama, berjalan di lorong hotel yang sepi. "Well, sebenarnya aku akan merasa senang kalau kau mau menyampaikan satu tinju untuk Miyuki." kata Chris sambil menyeringai usil. "Aku benar-benar ingin menghajar orang itu satu kali, tapi aku tak ingin mengecewakanmu."

Eijun tertawa. "Dengan senang hati, Chris-senpai. Aku janji akan memukulnya dengan sangat keras sampai dia sempoyongan."

Chris mendesah lega dengan dramatis. "Syukurlah. Itu bagian terbaiknya."

"Ada lagi yang Chris-senpai inginkan?"

Chris terdiam cukup lama sebelum balas tersenyum, senyumnya agak pilu tapi dia berhasil untuk tidak menangis. "Ini agak egois, tapi aku tidak ingin kau naik bianglala yang kita naiki hari ini bersama Miyuki. Aku ingin menjadikannya kenangan khusus untuk kita berdua saja."

Eijun tersenyum dan mengangguk. "Tentu. Aku tidak akan pernah ke sana bersama siapapun. Kenangan itu seluruhnya milik Chris-senpai dan aku."

"Aku tidak percaya kau sekarang mantan kekasihku, Sawamura."

"Iya, tapi aku bahagia dengan perjalanan cinta kita yang singkat ini."

Mereka berbagi tawa sekali lagi, saling tersenyum dan mengucapkan selamat malam sebelum masuk ke kamar hotel masing-masing.

Malam ini setelah sekian lama, Eijun berhasil tidur dengan lelap.

...

Keesokan harinya begitu kembali ke Tokyo, Eijun perlu beberapa kali ke kamar mandi sebelum benar-benar naik ke kasurnya, bersandar pada headbed, duduk memeluk lutut di dalam selimut. Ia bahkan harus menarik napas panjang berkali-kali sebelum tangannya yang gemetar menemukan nama Miyuki Kazuya di ponselnya.

"Tenanglah, Sawamura Eijun. Ini tidak sulit. Sama sekali tidak sulit. Kau hanya perlu menelpon Miyuki Kazuya dan mengatakan bahwa kau sadar kau menyukainya. Katakan perasaanmu dengan jujur dan berani. Ini tidak sulit sam sekali. Ini cuma Miyuki Kazuya. Yosh! Semangat!"

Eijun menghembuskan napas dengan cepat lalu menelpon Miyuki. Ia tahu Miyuki tak pernah lagi mau mengangkat panggilan ataupun membalas pesannya, tapi kali ini Eijun ingin mencoba, jika Miyuki masih belum menjawab juga, Eijun bertekad untuk langsung menemuinya.

"Sawamura?"

Eijun nyaris menjatuhkan ponselnya saat Miyuki menjawab, suara Miyuki terdengar sangat jelas di telinganya. Mendadak Eijun sadar sudah berapa lama mereka tidak saling bicara di telepon.

"Hei, kau di sana?"

Eijun berdeham, memaksa diri untuk fokus. "Ugh, iya aku di sini. Sori, aku agak kaget kau mengangkat panggilanku."

"Well..." Eijun bisa mendengar Miyuki menghela napas dan tertawa kecil. Eijun jadi ingin sekali menemuinya, ini terasa sangat lama sejak mereka bisa bicara seperti ini. "Aku sedang tidak sibuk, jadi tidak ada salahnya menjawab."

Eijun mendengus sebal. "Meh, masih alasan! Jelas-jelas kau menghindariku selama sebulan!"

Miyuki tertawa. "Yeah, baiklah kau benar. Tapi aku punya alasan untuk itu dan sebenarnya... aku ingin mengatakannya padamu."

"Oh, ya?" Sahut Eijun antusias walau agak bingung. "Mm... Aku juga mau mengatakan hal penting, tapi kurasa aku bisa menunggu. Aku benar-benar ingin tahu kenapa kau bersikap seperti bajingan satu bulan belakangan!"

"Seperti biasanya, kata-katamu selalu sopan dan lembut, eh?" Goda Miyuki, Eijun memutar mata bisa membayangkan dengan jelas senyum miring dan gerlingan mata Miyuki.

"Dan kau masih bicara dengan nada menyebalkan dan sarkas seperti biasanya!" Balas Eijun ketus meski jelas bisa merasakan kebahagiaan membuncah di dadanya.

Miyuki tertawa renyah dari sebrang telepon, membuat Eijun semakin ingin menemuinya. "Jadi hal penting apa yang mau kau katakan padaku, hm? Kau bisa bicara duluan."

"Tidak, kau duluan saja. Aku benar-benar ingin tahu alasanmu menghindariku, Miyuki Kazuya! Jadi sebaiknya kau cepat jelaskan."

"Wow, kau benar-benar tidak sabar rupanya." Eijun mendengar Miyuki menarik napas panjang, dan suaranya melembut ketika mengatakan. "Aku tidak sepenuhnya bohong saat bilang kalau aku sedang sibuk, Sawamura. Pada kenyataannya aku memang harus beberapa kali berbincang serius dengan salah satu professor dan mempertimbangkan sesuatu."

Eijun mendengarkan dengan seksama, mencoba tetap tenang dan tidak memotong penjelasan Miyuki. "Aku tahu, Kuramochi-senpai juga bilang kau terus mondar-mandir ke ruang professor."

"Ya," Miyuki menjawab tenang. "Tapi aku memang menghindarimu juga." Ia tertawa samar seakan itu agak lucu. "Alasan pertama mengapa aku menghindarimu adalah karena aku sudah tahu soal kau dan Chris."

Jantung Eijun telah memompa darah lebih cepat mendengar kalimat itu.

"Chris sudah bicara padaku sebelumnya." Miyuki terdengar sangat tenang seolah-olah sudah berlatih mengatakannya. "Aku memang sudah tahu sejak lama dia punya perasaan khusus padamu, tapi satu sisi dalam diriku ingin mendengarnya langsung dari Chris. Dan Chris sungguh mengatakannya padaku, kau tahu dia, kan?" Tawa Miyuki berdengung ringan tapi Eijun bahkan tak bisa bernapas normal sekarang. "Dia sangat sopan, such a gentlemen, dia bahkan meminta izinku untuk mendekatimu."

Napas Eijun tertahan di paru-parunya. Sikap tenang Miyuki entah mengapa terasa begitu menyakitkan untuknya.

"Aku tahu Chris adalah pemuda yang baik, dan dia sangat mencintaimu, dia pasti bisa menjagamu dan membuatmu bahagia. Dan aku tahu kau juga menyukainya, kau menghormatinya dengan cara yang tak biasa."

Eijun berhasil bernapas. "Ke mana arah pembicaraanmu sebenarnya?"

"Sawamura," Panggil Miyuki dengan ketenangan luar biasa. "Aku tidak ingin mengganggumu dan Chris. Aku sudah banyak mengganggu kalian selama ini, dan kurasa inilah saatnya berhenti. Itu adalah alasan pertama kenapa aku menghindarimu."

Eijun hampir menjeritkan bahwa itu tak perlu, karena sekarang semuanya sudah jelas. Chris sudah mengerti, dan Eijun tahu siapa yang benar-benar dicintainya. Tetapi ia berhasil menahan dan fokus pada setiap detail perkataan Miyuki hingga mampu menayakan. "Apa alasan yang kedua?"

Miyuki menarik napas, terdengar begitu halus dan agak lama. "Alasan yang kedua sungguh berhubungan dengan professor yang membimbingku."

"Kau punya masalah dengan tugas akhirmu?"

"Tidak, bukan begitu." Miyuki terdengar lebih rileks. "Beliau memberiku pilihan yang kuakui, cukup menggiurkan. Agak nekat, tapi menggiurkan. Bohong kalau aku tidak terkejut dengan tawarannya, aku bahkan tidak punya banyak persiapan, tapi mustahil juga untuk menolak tawaran sebagus ini."

"Jangan berbelit-belit, Miyuki Kazuya."

Miyuki tertawa samar. "Kau memang tidak berubah, eh? Yah, baiklah aku akan langsung ke intinya. Singkatnya, Sawamura, professorku menawarkan tiket ke Jerman lebih cepat."

Detik itu, Eijun merasa seluruh tubuhnya baru saja ditimpa sejuta kilo besi, ia tak mampu bergerak, membatu dalam sesak yang aneh.

"Beliau punya relasi sesama professor di Berlin, salah satu alasan mengapa dulu beliau memintaku melanjutkan studi di Jerman. Tapi relasinya ini belakangan terlibat sebuah proyek potensial bersama para mahasiswa dan dosen, aku diminta untuk bergabung."

Eijun menggenggam ponselnya kuat-kuat hingga menekan ke telinga dan sisi wajahnya. Tangannya yang lain meremas seprei begitu erat, ia yakin akan ada kusut di sana. Eijun ingin menghentikan Miyuki bicara, memintanya untuk diam lalu ganti mendengarkan pernyataan cintanya. Tapi mulutnya justru terkunci rapat, rahang mengatup kaku dan tak ada kata-kata yang keluar.

"Itu berarti aku harus ke Jerman secepat mungkin, bahkan meninggalkan studiku di sini. Professor bilang itu tidak masalah, kami bicara dengan pihak Meiji, mereka sanggup mengatur perkuliahan jarak jauh dan sebagainya. Aku tetap terdaftar sebagai mahasiswa Meiji dan tetap akan menjapat ijazah nantinya, tapi disamping itu aku juga akan bergabung dengan Aachen, dan secara otomatis terdaftar sebagai mahasiwa pasca-sarjana mereka setelah menerima ijazah Meiji. Bisa dibilang ini beasiswa lebih awal."

Tubuh Eijun lemas, dia telah kehilangan semua tenaga seiring tiap kata yang meluncur dari bibir Miyuki dan bergaung dalam telinganya.

"Tawaran itu membuatku senang sekaligus juga cukup stress karena terkesan mendadak. Itulah kenapa satu bulan ini aku sering menghindar, bukan hanya darimu tapi juga kebanyakan orang. Aku benar-benar perlu waktu untuk berpikir dan mengambil keputusan."

"Ini luar biasa, ini impianmu..." Lucu, bagaimana di tengah-tengah situasi ini lidah Eijun justru mengatakan kalimat itu dan bukannya hal-hal menyangkut perasaannya.

"Kau benar," Miyuki berkata. "Kesempatan seperti ini tidak akan datang dua kali."

Eijun tertawa tiba-tiba, entah apa yang mendorongnya untuk tertawa padahal ia bisa merasakan betapa panas matanya dan pandangan yang mulai kabur. "Kau gila? Ini Aachen! Universitas terbaik di Jerman! Kau pasti sinting kalau menolaknya!"

"Yeah, aku memang sempat merasa sudah setengah sinting selama satu bulan belakangan ini." Sahut Miyuki, menarik napas panjang dan sedikit terkekeh. "Lucu, bagaimana semua hal bisa datang secara bersamaan begini. Kita punya perjanjian satu tahun untuk tetap menjadi akur dan tidak berkencan dengan orang lain, itu terjadi di bulan Maret. Sekarang baru Agustus, tapi banyak sekali hal tak terduga terjadi."

Eijun benar-benar berharap Miyuki berhenti bicara sekarang. Ia punya firasat buruk bahwa tak akan sanggup mendengar kata-kata selanjutnya tanpa hancur berkeping-keping.

"Chris orang baik, Sawamura. Aku percaya padanya. Dia akan menjagamu dengan baik dan melakukan apapun untuk membuatmu bahagia. Sekali ini, aku ingin melakukan sesuatu untuk orang lain. Aku tidak ingin menghalangi kebahagiaanmu lagi. Jika aku pergi ke Jerman lebih cepat, kau bisa bebas bersama Chris tanpa memikirkan resiko apapun."

Aku tak ingin kau pergi! Hati Eijun berteriak protes. Namun tetap tak ada kata-kata yang keluar dari bibirnya. Aku tak ingin kau pergi, aku ingin kau tetap bersamaku.

"Sawamura... mungkin kau sudah sering mendengar ini, tapi biarkan aku tetap megatakannya, kau adalah orang yang baik. Kau mungkin menganggapku hanya membual, tapi aku benar-benar serius. Beberapa bulan selama berkesempatan mengenalmu, rasanya bagus, rasanya menyenangkan. Kau layak dapat orang baik juga. Jadi jangan khawatir, karena mulai sekarang kau bebas untuk dekat dengan siapa saja tanpa harus memikirkan soal imprint, soal aku."

Inilah dia, pikir Eijun penuh kehancuran. Miyuki akan mengatakan perpisahan. Hati Eijun menjerit tak rela, tapi dia tak bisa mengutarakannya dengan kata-kata. Dia tak sanggup mengorbankan impian besar Miyuki Kazuya. "Kapan?"

"Hm?"

Air mata meleleh dan menggenagi pipi Eijun, tangannya mengepal menjadi tinju kencang dan memukul sesak di dadanya. "Kapan kau berangkat?"

Ada jeda panjang muncul setelahnya. Eijun bahkan tak lagi tahu siapa di antara dirinya dan Miyuki yang lebih sering menarik napas panjang. "Siang ini. Pesawatku take-off sembilan puluh menit dari sekarang."

Eijun menekan satu punggung tangan ke mulutnya untuk meredam segala jerit maupun isak tangis. "Sialan, Miyuki Kazuya." Ia berhasil menjaga suaranya tak gemetar. "Kau benar-benar berniat pergi tanpa mengatakan apapun padaku?"

Miyuki tertawa senggau, anehnya terdengar begitu memilukan seakan ia juga sedang berusaha keras tidak menangis. "Aku baru berniat menelponmu, tapi kau selalu mendahuluiku."

Eijun menelan ludah getir. "Kau bahkan tidak mau aku ikut mengantarmu?"

Suara Miyuki tercekat, sebelum ia berbisik lemah. "Aku tidak akan sanggup melihatmu... Kau sendiri bilang ada kencan ke Osaka bersama Chris, aku takut merusak momen kalian. Sekalipun kencannya kemarin, Osaka itu lumayan jauh dari Tokyo, aku tidak ingin kau repot dan buru-buru ke Narita hanya untuk mengantarku."

Eijun menggigit bibirnya keras-keras. "Jadi kau sekarang adalah cowok sopan dan penuh pengertian ya? Mengejutkan sekali."

Miyuki tertawa pelan. "Aku memang telat bersikap baik. Seharusnya kulakukan lebih cepat."

Seharusnya kau tak pergi. Seharusnya aku menahanmu. Seharusnya aku mengatakan perasaanku. Seharusnya kita bersama.

Miyuki berdeham. "Jadi hal penting apa yang mau kau katakan padaku, Sawamura?"

Eijun memejamkan mata, merasakan air matanya jatuh dengan deras ke wajahnya. Aku mencintaimu, Miyuki Kazuya. Jangan pergi... "Senpai..."

"Hm?"

"Senpai..." Suara Eijun mengabur. Rasanya ia tak mungkin sanggup mengatakan ini. "Senpai..."

"Senpai?" Ulang Miyuki ragu-ragu. "Apa kau sedang membicarakan ikan mas peliharaanmu?"

Eijun berhasil tertawa walau dadanya begitu sesak. "Hm... dia aneh beberapa waktu ini, aku sangat khawatir padanya, tapi sekarang sepertinya dia sudah baik-baik saja."

"Kau sangat menyukainya, ya?"

"Tentu saja." Eijun mengusap air matanya dengan kasar. "Aku—sangat menyukainya. Aku benar-benar menyukai Senpai. Aku memikirkan Senpai setiap waktu."

Miyuki tertawa geli. "Ikan yang betuntung kalau begitu. Sampaikan salamku untuknya, oke? Dan untuk Kouhai juga. Ikanku... Aku menitipkannya pada Kuramochi, tapi sebenarnya aku lebih percaya kalau kau yang mengurusnya."

"Ikanmu bahkan tidak punya nama sampai sekarang."

"Sebenarnya punya, tapi kau boleh menamainya lagi. Kau boleh memanggilnya sesukamu jika bersedia mengadopsinya."

Hening. Tak ada satupun dari mereka yang mengatakan apapun setelahnya. Eijun terlalu sibuk meredam dan menahan semua tangisannya. Dan Miyuki... Eijun bahkan tak sanggup membayangkan bagaimana keadaan Miyuki sekarang. Dia pasti sudah siap bersama koper dan paspornya.

"Sawamura, kurasa ini mungkin saatnya—"

"Tidak." sergah Eijun. Aku tidak mau mengucapkan selamat tinggal.

"Huh?"

"Maksudku... bagaimana dengan uang sewa? Ke mana aku harus membayar?"

"Oh, kau tidak perlu memikirkan itu. Sejak awal aku tidak ingin membuatmu membayar, tapi aku tahu kau ini seperti apa. Kau bisa tinggal di sana selama apapun yang kau mau, aku tidak pernah memakai uang sewa yang selama ini kau berikan. Semua uangmu sudah kutitipkan pada Kuramochi, kau mungkin bisa menggunakannya untuk keperluan yang lain. Tolong jangan tersinggug!" Miyuki menekankan. "Aku tidak bermaksud apa-apa, aku hanya ingin membantu."

Eijun menarik napas dengan susah payah. "Siapa kau? Apa kau Miyuki Kazuya yang sama? Aku tidak mengenalimu dengan semua kepribadian baikmu ini!"

Miyuki tertawa, lalu menghela napas panjang. "Jaga dirimu baik-baik, Sawamura. Terima kasih atas segalanya, dan maaf untuk apapun yang pernah kulakukan jika itu membuatmu terluka."

"Kau juga... jaga dirimu baik-baik. Jangan merokok, itu tidak bagus untuk kesehatanmu."

Saat penggilan berakhir, Eijun menjerit keras-keras. Menangis lebih histeris dari yang ia lakukan kemarin. Ia tidak ingat, kapan hatinya pernah lebih hancur dari ini.

Eijun menarik napas panjang untuk mengurai sesak yang masih menghimpit dadanya. Hari telah menjelang sore, tapi Eijun bahkan tidak berminat untuk meninggalkan kamarnya. Dia yakin matanya bengkak dan penampilannya akan membuat siapapun merasa tak nyaman saat menatapnya. Tapi Eijun saat ini memilih untuk tidak peduli. Dia butuh waktu, dan merasa berhak mendapatkannya untuk bersedih sepuasnya dan mengurung diri di kamar.

Jam di atas nakas menunjukkan pukul emat lebih tujuh menit. Eijun menarik lututnya ke dada, punggung bersandar pada headbed kemudian memutar radio dari ponselnya. Suara penyiar perempuan langsung mengisi udara di sekitarnya, siaran program Kokoro no Koe baru saja dimulai.

"Surat yang cukup panjang dan dikirim atas nama Miyuki Kazuya."

Jantung Eijun berhenti berdetak, tangannya gemetar meraih ponselnya dan memperbesar volume.

"Sampai beberapa bulan lalu, ketika pertama kali aku mendengar tentang siaran ini, yang terlintas di benakku adalah betapa konyolnya acara semacam ini. Tetapi sekarang, di sinilah aku berada, duduk di kamarku dan mengetik surat untuk dikirimkan ke acara yang dulunya kuanggap begitu konyol."

Eijun bernapas dengan susah payah. Mencoba untuk tetap fokus mendengarkan sementara kepalanya mulai berat dengan pertanyaan apakah ini benar-benar dari Miyuki Kazuya yang dikenalnya.

"Aku adalah seorang laki-laki dua puluh satu tahun yang percaya hidupku begitu sempurna. Ibuku wanita yang luar biasa, pintar, berbakat, cantik, menawan. Ayahku adalah salah satu orang paling sukses di negara ini. Kehidupanku sempurna, keluarga yang harmonis, nilai sekolah yang bagus, dan ke manapun aku melangkah, semua orang akan berhenti untuk memandangku, tersenyum, dan memuji bahwa aku sangat tampan.

"Segalanya sempurna, dan aku yakin akan tetap berjalan sempurna untuk selamanya. Sampai akhirnya aku bertemu dia..."

Nepas Eijun tercekat di tenggorokan. Jari-jarinya meremas seprai begitu kuat sementara bibirnya menekan dalam garis getir. Surat ini benar-benar dari Miyuki.

"Aku bertemu dengannya di akhir bulan Februari. Salju mulai menghilang dan udara tak lagi membeku, tapi pertemuan pertama kami begitu dingin dan mengerikan. Aku bicara buruk padanya, dan sebagai balasan dia membantingku ke lantai dengan teknik judo. Ya, dia kasar. Dia tak ragu menekan lututnya di dadaku dan mengancamku tanpa berkedip. Orang-orang selalu memandangku dengan penuh kekaguman, tapi dia mengobarkan api kebencian di matanya ketika melihatku. Itu hari yang buruk, tapi sekarang saat aku memikirkannya lagi, itu mungkin akan menjadi salah satu hari paling istimewa yang kukenang seumur hidupku.

"Pada awalnya, aku hanya ingin mengabaikan keberadaannya, tapi kemudian aku mendapati fakta bahwa seseorang yang ku kenal ternyata menaruh minat khusus padanya. Dari sanalah jalanku mulai sedikit bergeser. Aku memastikan dia tetap dalam pengawasanku, mengamatinya, mencari tahu mengapa kenalanku menyukainya, dan sedikit rencana kecil yang nakal—aku ingin bermain-main dalam hubungan mereka.

"Kami mulai sering bersama. Dia adalah pribadi yang mudah untuk dibaca, apa dia rasakan akan langsung terlihat di wajahnya. Aku menikmati perubahan ekspresi di wajahnya dalam jangka detik tiap kali aku menggodanya. Polos, ekspresif, jujur, sulit untuk bosan dengannya. Kemudian aku terus menggiringnya masuk ke dalam jaring-jaring yang telah kubuat. Aku memanfaatkan kepolosan dan kenaifannya demi kesenangan pribadi. Sampai di suatu titik, aku mulai berencana untuk membuatnya jatuh padaku dan kemudian meninggalkannya begitu saja... karena aku memang seberengsek itu.

"Aku mengarahkannya pada kerangka cerita yang kuinginkan. Menemaniku ke pesta, menuntunnya berdansa, membuatnya tinggal di tempatku, membawanya ke Takayama, berdoa bersamanya di Shirakawa-go, lalu menciumnya di halaman sekolah.

"Aku ingin memperkenalkannya pada tempat-tempat yang belum pernah ia kunjungi. Mengukir kenangan besar di kepalanya sebelum aku mengucapkan perpisahan yang begitu kejam. Kupikir rencanaku berhasil, tetapi kemudian aku menyadari bahwa selama ini akulah yang terperangkap ke dalam jaring-jaringnya.

"Aku tidak sadar sejak kapan aku menyukai senyumnya. Dia tersenyum nyaris sepanjang waktu. Dia tersenyum kepada siapapun, dan aku menemukan banyak sekali senyumnya kuabadikan dalam kamera ponselku secara diam-diam. Aku tidak sadar bahwa selama ini dia yang telah membawaku pada pengalaman-pengalaman yang tak pernah kurasakan sebelumnya, berbagai bentuk emosi baru yang berhasil mengganggu poros seimbangku. Dia membuatku kesal, dia membuatku marah, dia membuatku ingin mencari tahu. Dia membuatku tersenyum, menangis, dan tertawa. Dia telah mengenalkanku pada keributan, ketidakteraturan, ketertarikan, kegembiraan, kekhawatiran, kegugupan, kepedulian, kecemburuan... kerinduan.

"Banyak orang berkata kita tidak akan benar-benar sadar sesuatu itu sangat berharga sampai kita kehilangannya. Bagiku, kita tidak akan pernah tahu betapa selama ini kita telah kehilangan sesuatu yang sangat berharga sampai sesuatu itu datang ke hidup kita. Dia membuatku menyadari bahwa kesempurnaan yang selama ini kubanggakan memiliki sebuah lubang kosong di tengahnya. Dan aku tidak pernah merasa begitu lengkap sampai dia datang mengisi kekosongan itu. Dia melengkapiku dengan cara-cara paling menyebalkan sekaligus paling manis.

"Mungkin kalian tertawa, menertawakanku yang pada akhirnya dikalahkan dan menjilat ludah sendiri. Aku juga ingin tertawa. Aku ingin tertawa mengolok nasib lalu memperbaiki segalanya. Kalau ini adalah shoujou manga favoritnya, maka kisah kami seharusnya berakhir dalam lembaran gambar di mana dia menangis di hadapanku, lalu kami pada akhirnya saling mengakui perasaan satu sama lain, berpelukan, dan bersama untuk selamanya... Tapi realita tidak sebaik itu.

"Kami baru saja mengucapkan selamat tinggal di telepon. Dan saat surat ini dibacakan, aku mungkin sudah duduk di bangku pesawat dalam penerbanganku menuju Jerman, sementara dia duduk di bawah langit Tokyo dan mulai melupakanku.

"Di akhir surat ini aku menyadari bahwa aku tak ingin berpisah darinya, melupakan, ataupun dilupakan olehnya. Menyadari, bahwa aku ingin terus berada di dekatnya, adu mulut dengannya, menggodanya, melihatnya marah dan tertawa, makan bersamanya, pergi ke banyak tempat dengannya, terbangun di sebelahnya, tertidur sambil memeluknya. Dan pada akhirnya, semua hal ini hanya membawaku pada suatu kesimpulan yang kuyakini sepenuh hati...

"Sawamura Eijun, aku mencintaimu."



...


...


...


...


Ini rekor chapter dengan jumlah words paling banyak sejauh ini. Gapapa deh, anggep aja bonus. Nggak deng, saya cuma bingung mau cut di sebelah mana hehe. Kalau tamat di sini, kira-kira worth it nggak? Kebetulan waktunya pas. Publish chapter pertama di bulan Februari, dalam cerita ini Eijun dan Kazuya juga ketemu bulan Februari. Chapter akhir publish di bulan Agustus, dan dalam cerita mereka juga pisah bulan Agustus. Udah cocok banget kalau tamat di sini kayaknya. Saya sayang sama mereka bertiga, nggak tega lebih dari ini. Saya tepar abis Agustusan. Saya mau rebahan.

Oh, and this is the first time I become a cameo on my story, lol. Iya, cewek di kedai kopi itu saya/terjun. Ada banyak banget unsur intrinsik dalam fanfik ini ternyata.

Terima kasih sudah membaca sampai sejauh ini, menanti dengan sabar walau jadwal updatenya nggak pernah menentu, apalago selaluenyempatkan buat nulis di kolom review, kalian moodblaster banget deh. Saya kasih virtual hug satu-satu sini :') Oh ya, banyak yang bilang nggak rela ini tamat? Sejujurnya... SAYA JUGA! Nggak paham lagi saya juga jadi ikut kebawa cerita ini, padahal niat awalnya cuma twoshoot. Tapi maaf, ini tetap harus tamat, karena kalau nggak, saya ngeri plotnya makin sinetronable gitu. Tapi mungkin kapan-kapan saya bikin series tentang kumpulan side story dari cerita ini, kalau ada yang minat sih, hehe.

Well, saya permisi dulu soalnya masih harus rapat Karang Taruna :)

Take care!