Cinta yang paling menggebu-gebu memiliki akhir yang paling dingin.

Itulah yang Miyuki katakan saat itu, mengutip ucapan Socrates, ketika Miyuki masih di sini, ketika Eijun bisa mendengar suaranya, dan merasakan kehangatan telapak tangan Miyuki di jari-jarinya. Eijun tidak sepenuhnya mengerti apa yang Miyuki maksud, lebih sibuk dengan suara Miyuki yang mendesis dingin dan senyuman tajam di bibirnya, terganggu oleh gerlingan mata penuh misteri yang memandangnya. Tetapi sekarang jam tiga pagi, Eijun berbaring di kamarya, dan tidak bisa berhenti memikirkannya.

Dia merindukan Miyuki Kazuya.

Eijun merindukan cara Miyuki menatapnya seolah sedang menyusun ratusan cara misterius untuk menjeratnya dalam reliku tak berujung, dan cara Miyuki menggelengkan kepala geli tiap kali Eijun mengatakan hal bodoh.

Eijun merindukan komentar-komentar sarkas Miyuki, ucapannya yang sinis, dan cara Miyuki selalu berhasil menggodanya.

Eijun rindu berdebat dengan Miyuki di dalam mobil, dan bagaimana Miyuki terlihat sangat santai di balik kemudi, lagu yang tanpa sadar Miyuki gumamkan selama menyetir, dan cara Miyuki mengapit kaleng kopinya dengan dua jari lalu menyesapnya halus.

Eijun merindukan Miyuki yang tak terduga, betapa penuh tantangan dan mempesona.

Eijun merindukan berbagi makanan dengan Miyuki. Sarapan, makan siang, makan malam, di mana mereka saling berhadapan dalam satu meja. Merindukan betapa sering Miyuki mengulurkan tangan untuk mengusap noda makanan di wajahnya sabil mencibir geli.

Eijun merindukan Miyuki dengan putus asa, dan itu tidak surut sama sekali sejak hari Miyuki mengucapkan perpisahan di telepon.

Terkadang ada hal-hal lain yang Eijun pikirkan di antara kerinduannya pada Miyuki, seperti mencari kesibukan lain sebagai pengalih perhatian. Tapi bahkan saat Eijun mencoba, semua hal hanya akan membawanya melangkah lebih dalam ke ingatan tentang Miyuki. Dia melihat Miyuki berjongkok di home plate ketika mencoba untuk bermain baseball, menyeringai sombong di balik pelindung wajahnya, saat Eijun menghampirinya, Miyuki menguap di udara lalu lenyap. Eijun melihat Miyuki di kampus, berdiri di depan gedung fakultasnya dengan santai, menunggunya di depan dojo, juga di parkiran bersandar pada mobilnya. Setiap hal kecil, setiap tempat, setiap percakapan, berujung dengan menyeret Eijun lebih dekat dengan kenangan bersama Miyuki, dan dia bahkan tidak sadar sejak kapan mulai berbagi banyak hal bersamanya hingga tak ada lagi sesuatu yang tersisa tanpa mengingatkannya pada Miyuki.

Eijun selalu kesulitan tidur sejak panggilan telepon itu, atau sejak surat yang dibacakan radio. Ia lelah, tetapi pikirannya tidak berhenti. Malam-malam hari ia terus terbangun dalam sunyi dan berujung menatap dua ikan mas kecil yang berenang di akuarium bundarnya—semuanya berujung dengan memikirkan Miyuki lagi.

Apa yang akan terjadi seandainya Eijun menahan Miyuki pergi setelah panggilan telepon itu? Jika Eijun mengejarnya di bandara? Atau andaikan saja Eijun bisa menyadari perasaannya lebih cepat...

Eijun bertanya-tanya dengan sedih dan marah tantang apa yang membuat Miyuki memilih mundur. Dia mencoba menyalahkan Miyuki yang lari ke Jerman seperti pengecut, dia ingin meneriaki dan menghajar Miyuki kemudian memeluknya—yang pada akhirnya kembali membuatnya merindukan Miyuki lebih dalam.

Cinta yang paling menggebu-gebu memiliki akhir yang paling dingin? Eijun ingin tertawa, karena dia mungkin tidak terlalu peduli saat itu, tapi sekarang ia cukup mengerti. Di sini, di jam-jam antara waktu akhir malam dan terbitnya fajar, yang tersisa hanyalah yang paling dingin. Setiap kejadian yang telah berlalu saling tumpang tindih dalam kepalanya. Apapun bentuk interaksi yang pernah dia jalin bersama Miyuki kini meruncing menjadi pisau es yang menyerap satu demi satu kehangatan di tubuhnya.

Malam ini dingin, dan Eijun merindukan Miyuki Kazuya.

Seminggu berselang dan Musim panas paling kelabu dalam hidup Sawamura Eijun sudah dimulai. Langit begitu cerah, awan berarak dalam bentang langit biru sementara semua orang mulai menyusun agenda liburan yang ceria. Tapi di sinilah Eijun berada, terpenjara di dalam rumah dengan setumpuk kenangan tentang Miyuki Kazuya.

Eijun baru akan kembali ke Nagano minggu depan. Sekeras apapun ia ingin segera pergi dari tempat ini, dari tempat yang setiap sudutnya berisi kenangan bersama Miyuki, sebagian dari dirinya ingin tetap tinggal dan mengingat kembali segalanya. Rasa masakan Miyuki, perayaan ulang tahunnya, wajah tidur Miyuki di sofa, pesta kepindahannya, bagaimana ia dan Miyuki berdebat soal mengatur barang-barang saat pertama pindah, dan masih banyak lagi.

Tiap kali Eijun memandang pekarangan rumah, ia akan mengingat dansa terakhir mereka. Dua sesi yang paling memilukan. Malam itu Eijun merasa Miyuki aneh, tapi kini Eijun menyadari bahwa dialah yang paling aneh karena tidak bisa menangkap betapa kacaunya perasaan Miyuki malam itu.

Kenapa Eijun tidak menyadarinya lebih cepat? Betapa Miyuki berdiri begitu dekat dengannya, tatapan sedih di sepasang matanya, juga pertanyaan-pertanyaan tak biasa yang Miyuki ajukan padanya. Kenapa Eijun melewatkan itu semua? Atau Miyuki yang memeluknya begitu erat di taman... Miyuki mungkin sedang berusaha mengucapkan perpisahan, kenapa Eijun tak bisa menyadarinya?

Barangkali, Eijun memang sebaiknya pindah dari rumah ini. Ada terlalu banyak bayangan Miyuki yang melekat di tiap sudutnya.

Tiga hari kemudian, Eijun menemukan dirinya berdiri di luar rumah dan mendongak menatap dinding abu-abunya. Semua barang bawaannya ketika pindah telah diangkut ke dalam mobil, yang tersisa hanyalah Eijun memegang kunci rumah yang terasa berat di tangan kirinya.

"Terima kasih untuk semuanya." Eijun berbisik dan membungkuk seakan rumah itu sesuatu yang hidup dan mampu mendengarnya. "Aku harus tetap melanjutkan hidup apapun yang terjadi. Aku janji akan jadi lebih baik, terima kasih sudah jadi tempat berlindungku selama ini." Ia menegakkan badan, tersenyum sekali lagi ke arah rumah yang kembali kosong itu sebelum berbalik menuju mobil yang sudah menunggunya.

"Kau siap?"

Eijun mengangguk, menyerahkan kunci rumah pada Kuramochi. "Terima kasih atas bantuannya, Kuramochi-senpai."

"Kau sungguh tak ingin bilang apapun pada Miyuki?"

"Perjanjiannya adalah tidak ikut campur lagi setelah dia ke Jerman. Biarkan tetap seperti itu."

Kuramochi mendesah berat. "Aku benar-benar tidak mengerti jalan pikiran kalian berdua! Kenapa semuanya harus serumit ini?"

Eijun berhasil tertawa. "Mungkin waktu akan menjawab semuanya kelak."

"Heh, kau juga berubah rupanya? Kau jadi agak lebih tenang dan sok bijak."

Eijun menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Well... aku hanya tidak bisa menangisinya terus menerus."

Kuramochi meraih bahunya lalu memeluknya erat, Eijun membalas pelukannya. Merasa nyaman punya seseorang yang peduli. "Maaf..." suara Kuramochi bergetar, tercampur dalam perpaduan emosi yang tidak menyenangkan. "Aku tidak membantu kalian sama sekali."

"Itu tidak salah." Eijun menjawab, menepuk-nepuk punggung Kuramochi sebagai upaya penenangan. "Lagipula kami berdua sama-sama bukan orang yang bisa dinasehati."

Kuramochi mendengus. "Yeah, kalian memang luar biasa keras kepala, bodoh, dan lambat bahkan untuk meyadari perasaan masing-masing."

Eijun ikut tertawa. "Kuramochi-senpai sepertinya tidak kalah stress."

"Aku luar biasa stress hanya dengan menyaksikan drama kalian, dasar bodoh!" Bentak Kuramochi, tapi Eijun tahu betapa peduli pemuda itu padanya dan Miyuki. Kuramochi lalu mengeratkan pelukan, berbisik halus. "Segalanya akan baik-baik saja, Sawamura. Bertahanlah..."

Eijun hanya bisa mendongak, berkedip-kedip untuk menghalau air matanya.

Eijun tertawa saat melihat bagaimana Kuramochi menyumpah-nyumpah ketika tubuhnya digotong ramai-ramai dan diceburkan ke dalam kolam. Ini tidak lagi seperti pesta bujang, melainkan lebih mirip acara mengerjai Kuramochi sepanjang malam. Saat Kuramochi keluar dari air dengan wajh merah padam dan ekspresi membunuh, Eijun bersikap bijak dan memilih untuk menyingkir dari sekitar kolam, tak ingin turut terseret dendam kesumatnya.

Sudah lebih dari satu tahun berlalu sejak kepergian Miyuki, dan satu kalipun ia tak pernah lagi mendengar kabar atau berusaha mencari tahu keadaan pemuda itu. Satu tahun... tapi perasaannya sama sekali tidak berubah.

"Kau belum mabuk, kan?"

Eijun menoleh, Kanemaru Shinji sudah berdiri di dekatnya sambil membawa dua gelas alkohol yang menjadi minuman utama dalam pesta malam ini. Eijun memasang cengiran geli dan menggeleng, mengambil salah satu gelas di tangan Shinji. "Aku baru minum cola, mana mungkin mabuk."

"Syukurlah. Kukira kau menyingkir karena mulai pusing."

"Aku menyingkir karena tidak ingin basah kuyup. Kuramochi-senpai tidak akan peduli siapa saja yg menceburkannya ke kolam, dia akan senang jika semua orang ikut basah."

Shinji melirik ke arah kolam, menyaksikan Kuramochi yang mengejar-ngejar orang sekitar dengan membabi buta. "Yah, kau benar." Shinji kembali menoleh padanya lalu mengangkat gelas. Eijun nyengir, membenturkan gelasnya dan gelas Shinji, bersulang dan meneguk nyaris setengah isi gelas masing-masing.

"Ew, rasanya payah."

"Iya." Sahut Shinji sepakat, wajahnya mengerut. "Zono-senpai berinisiatif untuk mencampurkan semua alkohol jadi satu dan membuat resep baru." Ia mengangkat gelasnya yang tersisa setengah sambil meringis. "Dan inilah hasilnya."

Eijun terkekeh samar, memandang lagi ke arah keributan di belakang sana sebelum menghela napas pendek. "Aku masih agak gugup karena diminta jadi pembawa cincin di upacara pernikahan Kuramochi-senpai nanti."

Shinji menyeringai. "Jujur, aku juga ikut gugup. Aku terus memikirkan sekenario kau menjatuhkan cincinnya atau membuatnya menggelinding dan menghilang, bahkan aku mulai berpikir kau bakal menelannya."

"Sialan!" Eijun mengumpat dan Shinji tergelak geli. "Kau pikir aku seceroboh itu?"

"Kalau begitu jangan terlalu gugup, Sawamura. Kuramochi-senpai memintamu karena dia percaya padamu."

Eijun menatap ke gelasnya dan tersenyum tanpa daya. "Dia memintaku karena sahabatnya tidak ada di sini."

Shinji menghela napas pendek sebelum meneguk habis isi dalam gelasnya lalu berdiri lebih dekat hingga bahu mereka saling bergesekan. "Kau masih memikirkan dia?"

Eijun hanya menanggapinya dengan senyum kosong sebelum ikut menghabiskan isi gelasnya.

"Kau bisa menyusulnya." Suara Shinji memelan. "Sebentar lagi kita libur semester, kau bisa mengambil tiket pesawat dan menetap beberapa hari di Berlin untuk menemuinya."

Seolah aku tidak pernah memikirkan hal itu, Eijun ingin menjawab demikian. Namun yang ia lakukan hanya angkat bahu dan menarik napas dalam-dalam. "Kesepakatannya bukan seperti itu, Shinji."

"Kesepakatan tolol." Dengus Shinji. "Kau tahu dia juga memiliki perasaan yang sama denganmu, kan? Jadi apa yang salah? Apa yang kau tunggu?"

"Aku tahu dia pernah memiliki perasaan yang sama denganku. Tapi kami tak pernah lagi saling bicara atau bertukar kabar. Dia tidak tahu keadaanku, aku juga tidak pernah tahu keadaannya. Tidak ada yang bisa menjamin apakah perasaannya masih sama." Eijun tersenyum samar dan menoleh untuk memberi tinju kecil di dada sahabatnya. "Banyak hal bisa terjadi dalam 17 bulan, Shinji. Aku belum siap menerima kemungkinan terburuk. Aku belum ingin patah hati lagi."

"Itulah kenapa kau seharusnya pergi menyusulnya sejak awal, Sawamura. Sejak surat itu..." Suara Shinji telah memelan ke tahap bisikan, penuh kehati-hatian seakan ia takut hati Eijun akan tersayat.

Eijun beranjak keluar dari suasana serba suram itu dengan tawa geli. "Aku tahu kedengarannya bodoh dan sinting, tapi kurasa kami memang sebaiknya menjauh saat itu. Terlalu banyak ketegangan dan kesalahpahaman, langsung bertemu cuma bakal menghasilkan ledakan."

Shinji mendengus, tapi tersenyum padanya, ramah dan bersahabat, penuh dukungan bersama dengan lengannya yang melingkar di bahu Eijun lugas. "Baiklah, terserah kau saja Tuan Sok Bijaksana. Aku mulai ingin memanggimu Biksu, asal kau tahu saja." Ia terkekeh lalu menggangguk pada Eijun. "Setelah libur semester nanti kita akan memasuki tahun terakhir kuliah, mungkin memang sebaiknya kau fokus pada pendidikan dulu."

"Yep!" Sahut Eijun ceria, memasang cengiran lebar. Ketika Shinji beranjak dari sisinya untuk mengambil camilan, Eijun menghela napas panjang dan mendongak ke langit, memandang jauh di antara bintang-bintang. "Aku harap kau bisa lihat ini, Miyuki Kazuya. Aku bukan anak kecil lagi. Aku sudah baik-baik saja dan tetap melanjutkan hidupku. Jadi kuharap, kau juga begitu. Kita harus tetap maju."

Tiga puluh satu bulan setelah kepergian Miyuki.

Eijun menatap pantulan bayangannya pada cermin datar di kamarnya. Setelan kemeja lengkap dan sepatu mengilap menggenapkan penampilannya hari ini. Ia memperbaiki kembali simpul dasinya, menambahkan sedikit wax pada tatanan rambutnya, bahkan meninggalkan jam tangan merah kesayangannya dan menggantinya dengan jam bertali kulit pemberian ibunya. Eijun tersenyum menatap keseluruhan penampilannya, kemudian matanya bergulir ke arah set toga yang menggantung di dekat cermin. Secara otomatis tersenyum lebih lebar mengingat betapa pentingnya hari ini.

Aku seorang sarjana, batinnya bangga. Mengembuskan napas dengan lega dan membusungkan dada sedikit guna memberi penghargaan pada dirinya sendiri. "Kau berhasil, Eijun. Kau berhasil melaluinya!" Ia tertawa kecil, memberi tintu kecil pada sosoknya dalam cermin.

Sekarang tak ada lagi alasan untukku tetap berada di Tokyo, Eijun berhasil menjaga senyumnya tetap ada. Tak ada lagi alasan untuk berada di kota ini, kota yang nyaris setiap sudutnya dipenuhi kenangan bersama Miyuki Kazuya. Mulai sekarang aku bisa bebas dari semua kenangan ini.

Eijun tersenyum dan mendongak untuk mencegah air matanya tumpah. "Kau lihat, Miyuki-senpai? Aku berhasil. Aku sudah lulus sekarang. Jadi kau bisa kembali pulang ke kotamu tanpa mengkhawatirkan apapun."


.


Orang-orang selalu berkata waktu akan mengubah segalanya
Waktu akan menyembuhkan luka
Waktu akan melenyapkan kenangan
Waktu akan membuat cinta memudar
Tapi waktu tak pernah berkerja seperti itu untukku

Waktu tak menghapus ingatan tentang rasa bibirmu di bibirku
Waktu tak menghilangkan jejak yang kau tinggalkan
Waktu tak mengobati rinduku
Waktu tak membuatku berhenti memikirkanmu

Waktu hanya membuatku kembali terjebak
di tengah-tengah dosa lama,
memikirkan tentangmu lagi

Jadi datanglah…
Karena cinta yang pahit ini memanggilmu


.


Kazuya menyadari adanya gejolak aneh di dasar perutnya ketika memijak kembali Bandara Narita, tanah Jepang, tanah kelahirannya. Langkahnya berusaha tak goyah selagi satu tangangan menyeret koper besar dan melangkah di tengah-tengah bandara yang sibuk. Kali terakhir Kazuya berdiri di tempat ini… rasanya menyesakkan. Ia mengingat wajah kedua orangtuanya hari itu ketika mengantar kepergiannya. Mengingat air mata ibunya ketika memeluk dan menciumnya sambil mengucapkan doa dan memanjatkan harapan padanya. Mengingat pelukan tegas ayahnya, remasan kuat pada bahunya dan seringai menantang itu. Tetapi yang paling melekat dalam ingatannya adalah rasa akan bagaimana hatinya meronta, tertatih, dan menahan diri agar tidak menangis.

Hari itu… setelah berbicara dengan Sawamura di telepon, Kazuya mengumpulkan semua keberanian dan mengetik satu e-mail panjang untuk dikirim ke radio. Ia bahkan tidak tahu apakah Sawamura mendengarkan siaran itu, tapi untuk setiap kata yang ia tuangkan dalam e-mail itu, tak diragukan lagi, adalah versi paling jujur dalam hidupnya.

Sekarang, di tempat ini, di bandara ini, Kazuya mengingat kembali semua kenangan itu. Tiga tahun telah berlalu, dan Sawamura mungkin tak lagi berada di Tokyo. Dia sudah lulus sekarang, Kazuya memikirkannya dan tersenyum tanpa bisa dicegah. Sawamura Eijun, Sarjana Sastra.

Kazuya menarik napas dalam-dalam dan meneggakkan badannya, melangkah dengan lebih tegap. Selain ibunya, kira-kira siapa lagi yang akan menyambut kepulangannya? Ayahnya jelas sedang berada di Paris. Kuramochi mungkin terlalu murka sampai tidak sudi menyambutnya.

Mata Kazuya menyapu sekitar ketika sampai pada area yang dipadati para penjemput. Banyak orang berbaris sambil membawa papan nama, jeritan histeris, pelukan erat, tangis bahagia, senyuman lega, dan kerinduan. Setiap orang sepertinya memiliki setidaknya satu orang untuk dipeluk. Kazuya melihat lagi untuk mencari ibunya, dan tersenyum begitu matanya menangkap figur seorang wanita cantik yang tampak kasual dengan kemeja dan celana jins serta kacamata hitam bertengger di tulang hidungnya yang tinggi. Ibunya melambai kecil, tersenyum lebar begitu pandangan mereka bertemu. Kazuya tertawa kecil sebelum berlari ke arah sang ibu dan memeluknya.

"Penyamaran ibu agak terlau sederhana, kan?"

Ibunya mengeratkan pelukan, Kazuya menikmati aroma harum sang ibu dan membiarkan ketika ibunya mendaratkan kecupan kecil di sebelah pipinya. "Semua orang terlalu sibuk menantikan orang yang mereka sayangi. Mereka tidak akan peduli meskipun seorang aktris seperti ibu ada di sini."

Kazuya tertawa renyah dan melonggarkan pelukannya, menatap ke wajah cantik ibunya bersama senyuman lebar. "Ibu bisa disalah sangka sebagai kekasihku karena ibu terlihat begitu cantik dan awet muda."

Sang ibu mendengus kemudian tersenyum sambil mengusap wajahnya. "Simpan gombalanmu untuk kekasihmu sendiri, Kazuya."

"Well," Kazuya menghela napas dan memberi cengiran kecil. "Sepertinya ibu harus lebih sabar menunggu karena aku belum punya seseorang yang bisa disebut sebagai kekasih."

Usapan jari-jari sang ibu di pipinya menjadi lebih tegas, ada senyuman lain yang terkulum di bibir tipis ibunya ketika mengatakan. "Kalau begitu ini saatnya kau memintanya langsung untuk jadi kekasihmu." Detik itu melambat, dan jantung Kazuya berdentum-dentum sangat kencang ketika sang ibu menggeser posisinya sehingga Kazuya bisa melihat siapa yang berdiri di sana.

Sawamura Eijun.

Napas Kazuya tersendat. Lututnya melemas dan ia perlu lebih dari seluruh tenanganya agar tetap berdiri, bernapas, serta hidup dan tidak terbakar di tempat. Sesuatu di dadanya memanas. Kazuya bisa merasakannya lagi, bagaimana garis-garis imprint di dadanya menjalar dalam panas setelah tiga tahun diselimuti hawa dingin tanpa henti. Sensasi ini... Rasa panas ini... Sawamura maju ke arahnya, dan waktu berhenti tiba-tiba. Seisi dunia bagai menghilang, semua suara berubah senyap, yang masuk ke telinganya hanyalah deras aliran darah, bunyi jantung dan langah kaki Sawamura. Kazuya gemetar, tak bisa lepas dari mata itu. Sepasang mata emas yang kini menatapnya tajam. Rahang Sawamura terkatup kaku, bibirnya membentuk garis lurus yang tak bisa Kazuya baca. Sawamura, Sawamura, Sawamura, hati Kazuya mulai ribut memanggil-manggilnya. Seluruh kerja sistem di tubuhnya menjeritkan kerinduan pada sosok itu.

Ketika akhirnya Sawamura berdiri tepat di hadapannya, Kazuya bahkan tak mampu lagi menelan ludah. Mulutnya terasa dipenuhi pasir sementara matanya kian memanas, mendorognya untuk menangis.

"Kau kembali." Sawamura berbisik, mendongak, lalu tersenyum kecil. Senyum itu… jantung Kazuya tak sepakat untuk menunjang kehidupan. Hanya satu senyuman sederhana dan gelombang kasih sayang tiga tahun yang lalu kembali datang melandanya. "Kau masih ingat berbahasa Jepang, kan?"

Kazuya berhasil menelan ludah, bernapas terbata-bata. "Ya." Suaranya serak. "Kau… di sini."

Sawamura angkat bahu dan tersenyum lebih lebar. "Yah, seperti yang kau lihat. Aku di sini, di Tokyo."

Kazuya menarik napas. "Kenapa?"

Sawamura memandangnya lama, matanya mulai berkaca-kaca, tapi ia tetap tersenyum. "Karena masih ada yang harus kukatakan padamu, Miyuki Kazuya." Air mata meluncur turun kepipi Sawamura dan Kazuya tidak dapat mencegah bagaimana kepanikan menggerogoti hatinya dengan begitu cepat.

Air mata Sawamura kian menjadi deras dan pemuda itu mulai menunduk, bergetar karena tangisan yang begitu memilukan. "Tidak, jangan menangis. Kumohon…" Kazuya menggerakkan tangannya tanpa daya, terlalu takut untuk menyentuh. Sawamura justru makin tersedu. "Sawamura… kumohon… Sial, kenapa aku hanya terus membuatmu menangis… kenapa aku tidak pernah bisa menjadi orang yang membuatmu bahagia… Sawamura, maafkan aku. Kau boleh menghajarku, tapi jangan menangis… Tolong, aku tidak tahan melihatmu mena—"

Kazuya tidak siap ketika Sawamura menariknya mendekat lalu mencium bibirnya. Terburu-buru, berantakan, dan diwarnai dengan rasa putus asa. Seluruh molekul dalam tubuh Kazuya pecah saat merasakan kembali rasa bibir Sawamura di bibirnya. Begitu singkat, tapi meninggalkan sensasi keabadian. Sawamura mundur kembali, menatap Kazuya dengan intensitas di kedua mata yang menguat, dan bibirnya begerak lambat tetapi begitu lugas ketika akhirnya berkata. "Ich liebe dich, Miyuki Kazuya."

Kalimat itu bergema dalam seluruh arterinya. Sawamura terisak memukul-mukul dadanya, terus mengulang kalimat yang sama seakan ingin menanamkan jauh-jauh ke dalam otak Kazuya. Tapi kepala Kazuya terlalu kosong saat ini. Ich liebe dich. Ich liebe dich. Ich liebe dich… Aku mencintaimu. Sawamura Eijun mencintainya. Kazuya tidak lagi berusaha menahan air mata, ia menarik Sawamura mendekat, dan ganti menciumnya.

Ini bukan ciuman pertama mereka bersama, tapi rasanya seperti itu. Bibir Sawamura pecah-pecah dan terbentang di bibirnya, napasnya hangat, pipinya basah. Kazuya menghela napas ke mulutnya dan menekan maju. Dada, perut, paha saling mendesak dan terkait dalam jalinan yang direkatkan oleh rindu, lengan Kazuya melingkar di pinggul dan rambutnya, bulu mata Sawamura menyapu lekuk pipinya. Sawamura membuka mulutnya lebih jauh, menggeser lidahnya ke lidah Kazuya. Itu basah dan berantakan, dan dia merasakan pasta gigi bercampur jus jeruk dari mulut Sawamura. Sangat memabukkan.

Kazuya mendekap tubuh Sawamura lebih erat, ia muak dengan jarak yang selama ini membentang di antara mereka, maka ia habiskan itu semua dan memastikan Sawamura menempel padanya sedekat mungkin hingga Kazuya bisa merasakan dentum jantung Sawamura di dadanya. Sawamura mengeluarkan suara seperti tangisan lemah, dan Kazuya mungkin juga melakukan hal yang sama. Ciuman itu menjadi kian dalam, basah, dan intens. Setiap sentuhan melambangkan rasa putus asa, kebahagiaan, dan rindu yang mendalam.

Mulut mereka berdua menjadi satu, hanya terpisah sesekali dalam jeda waktu sepersekian detik untuk menarik udara dengan tak sabar sebelum bersatu kembali. Ini bukan lagi ciuman, melainkan lambang dari setiap setiap jejak rasa yang tak mampu lagi diuraikan dengan kata-kata. Semua pertahanan dan kendali diri yang berusaha Kazuya rakit dalam tiga tahun telah remuk berkeping-keping dan melayang lenyap begitu saja. Ia merindukan Sawamura Eijun. Sekarang Sawamura ada di sini, dalam dekapannya, bernapas ke mulutnya, dan Kazuya tak perlu lagi menahan diri.

Entah berapa lama mereka bertahan dalam posisi itu, sampai akhirnya kebutuhan untuk mengisi paru-paru dengan oksigen terpaksa membuat Kazuya melepaskan mulut Sawamura dari mulutnya. Kazuya membuka mata dan disambut dengan pemandangan paling fantastis. Wajah Sawamura basah karena air mata mereka yang menjadi satu, kulitnya memerah, matanya diselaputi kaca-kaca bening dan berkilau dalam cahaya keemasan yang menakjubkan. Bibir Sawamura merah, bengkak, basah, terbuka dengan napas hangat. Kazuya menarik napas dengan tajam dan kembali maju untuk menekan ciuman rapat di tengah-tengahnya selama beberapa saat lalu kembali menarik diri. Maju lagi untuk menekan dua ciuman di masing-masing sudut kanan dan kiri mulut Sawamura sebelum mengambil jarak untuk menatap sepasang mata emas itu.

Tangan Sawamura meluncur dari leher ke dadanya. Menekan pada debar jantung Kazuya dengan keras. Kazuya mengamati bagaimana Sawamura menarik napas dari mulutnya, matanya menatap Kazuya lekat-lekat, dalam, dan begitu penuh akan emosi. "Kalau kau berani meninggalkanku lagi—"

"Kau harus membunuhku." Kazuya berkata. Matanya menatap teguh ke mata Sawamura selagi tangannya bergerak dengan hati-hati untuk mengusap pipinya yang basah. "Bunuh aku, Sawamura. Tiap kali aku mengambil jarak darimu, aku ingin kau membunuhku. Karena kalau aku harus hidup tanpamu lagi, itu tak ada bedanya dengan kematian."

Sawamura menatapnya selama beberapa saat dengan begitu tajam, hampir seperti marah. Tapi kemudian Sawamura menarik kerah Kazuya lagi dan memberinya ciuman. Kazuya tak akan pernah bosan untuk mencium Sawamura, dia menenggelamkan giginya ke bibir Sawamura, merasakan erangan bergetar melalui tempat dada mereka bersentuhan, lalu mundur untuk menarik napas. Sawamura mengejarnya kembali, cemberut ketika Kazuya tertawa dan menekan bibirnya lembut dan manis ke dahi Sawamura sebagai gantinya.

"Aku mencintaimu, Sawamura Eijun." Akhirnya Kazuya bisa mengatakannya secara langsung. "Aku sangat merindukanmu." Ia melingkarkan kedua lengannya dengan lembut di tubuh Sawamura, memeluknya tanpa melepaskan ciuman di dahinya. Tubuh Sawamura berangsur rileks dan membalas pelukan Kazuya. Semua sentuhan ini hangat dan menentramkan. Untuk pertama kalinya, Kazuya merasa hidup dan utuh. Mungkin berlebihan, tapi Kazuya merasa bahwa ia adalah orang paling bahagia di muka bumi.

Seseorang berdeham keras sekali, jelas disengaja. Kazuya tak rela melepaskan Sawamura, tapi Sawamura rupanya kaget dan reflek mengambil satu langkah mundur untuk mencari sumber suara.

"Aku yakin kalian berdua punya segudang agenda bermesraan lainnya." Kuramochi berkata. Kazuya bahkan baru menyadari bahwa Kuramochi juga ada di sini. "Yah, aku juga senang melihatmu lagi, Miyuki." Dia jelas berusaha terdengar tajam, tapi bibirnya tak mampu berdusta dan menyembunyikan senyuman lebar. "Tapi kita masih di bandara, dan beberapa orang sejak tadi terus menonton mungkin juga mulai merekam dan melakukan siaran langsung."

Kazuya otomatis memandang berkeliling. Benar saja, di sekitar mereka orang-orang telah membentuk lingkaran penonton dan memandangi dengan penuh minat. Sawamura mengeluarkan suara pekikan tertahan dan mungkin akan mundur lebih jauh tapi Kazuya dengan cekatan menahan tangannya. Terserah, Kazuya tak sudi berjauhan lagi dengan belahan jiwanya. Sawamura balas melotot, tapi Kazuya dengan cepat meraih pinggangnya dan menekan ciuman panjang di dahinya.

Penonton bersorak dan bertepuk tangan, membuat Sawamura semerah buat bit dan tampak semakin salah tingkah. Kuramochi menyeringai sangat lebar, di sebelahnya Sachiko tertawa geli sambil mengusap matanya yang berair.

"Baiklah, Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya." Kuramochi berseru kepada penonton. "Pertunjukannya selesai, terima kasih sudah menjadi saksi bagimana sepasang sejoli idiot dan keras kepala ini akhirnya bersatu. Sekarang, kalian boleh kembali ke aktivitas masing-masing."

Orang-orang bertepuk tangan sekali lagi dengan sangat meriah sebelum bubar. Dalam keadaan normal, Kazuya mungkin merasa malu, tapi untuk saat ini semua perasaannya telah dikalahkan oleh kebahagiaan karena Sawamura Eijun membalas cintanya. Tak ada lagi yang lebih penting dari itu. Kazuya hampir menarik Sawamura dalam ciuman lainnya ketika merasakan seseorang menyentuh bahunya dengan lembut.

"Kazuya," Ibunya memanggil dan tersenyum bangga, kacamata hitamnya telah dilepas, tapi bahkan orang-orang terlalu sibuk sampai tidak mengenali aktris besar sepertinya.

Sawamura memahami keadaan dan mundur sedikit, memberi ruang bagi Kazuya dan sang ibu. Dan ketika sang ibu mengulurkan tangan untuk meraihnya ke dalam pelukan, Kazuya merasakan air matanya meleleh kembali, tumpah di bahu ramping ibunya.

"Kau layak bahagia, Kazuya."

Kazuya memeluk ibunya makin erat, mengucapkan kata terima kasih dalam bisikan bertubi-tubi. Merasakan setiap milimeter kasih sayang dan kehangatan cinta sang ibu melingkupinya tanpa pamrih. Sang ibu berjinjit mengecup pipinya lembut lalu melepaskan diri, ada tangis haru di mata sang ibu ketika tatapan mereka bertemu. Usapan lembut di sebelah pipinya, serta senyum dan anggukan melegakan.

Kemudian sang ibu berpaling pada Sawamura dan mengulurkan tangan untuk memeluknya juga. Sawamura langsung merespon, sama sekali tidak tampak canggung atau kaku. Melihat dua orang itu berpelukan, membuat hati Kazuya bertambah hangat. Sawamura dan ibunya saling bertukar kalimat yang tak mampu Kazuya tangkap dengan jelas lalu mereka berdua tertawa kecil. Saat itulah Kazuya merasakan pukulan cukup keras di balik punggungnya, ketika berbalik Kuramochi menerjang maju, hampir seperti hendak menerkamnya. Tetapi kemudian Kazuya merasakan sebuah pelukan lain, tegas, penuh dengan pukulan di bahu dan keras akan suara napas.

"Bajingan." Kuramochi berkata tajam, lalu berbisik. "Aku turut senang untukmu."

Kazuya tertawa dan balas memeluk Kuramochi. Setelah semua hal berlalu, Kazuya perlu benar-benar mengakui bahwa selama ini Kuramochi selalu berusaha menyampaikan kebenaran padanya, tentang perasaannya, tentang Sawamura, meski berkali-kali Kazuya sangkal dengan kerasa kepala. Andai saja sejak awal Kazuya mampu sedikit menurunkan egonya dan mendengarkan Kuramochi... "Aku banyak berhutang padamu, Kuramochi."

Kuramochi mendengus, mencekiknya dalam pelukan sekali lagi sebelum melepaskan diri dan tersenyum pongah. "Tentu saja kau banyak berhutang padaku, kau bahkan tidak datang di hari pernikahanku!"

Kazuya membalasnya dengan senyum apologi sebelum menoleh ke belakang Kuramochi untuk menyapa istrinya. "Apa kabar, Sachiko?"

Sachiko berjalan mendekat, ada sisa air mata menggenang di pelupuk matanya tapi wanita itu tersenyum hangat. "Aku seorang ibu sekarang, Miyuki-kun. Apa kau percaya itu?"

Kazuya tertawa, secara otomatis menjadi lebih memperhatikan sesosok balita mungil dalam gendongan Sachiko yang kini juga tengah mendongak menatapnya dengan wajah lugu menggemaskan. "Yah, bisa kulihat Kuramochi sukses besar."

Ucapannya sukses mendapat tendangan kecil dari Kuramochi yang hanya Kazuya tanggapi dengan tawa geli. Kazuya mencondongkan tubuhnya, menggerakkan tangannya dengan hati-hati untuk mengusap rambut balita itu. Kuramochi Haruka, Kazuya mengingat namanya dan tersenyum lebih lebar.

"Halo." Kazuya menyapa, dibalas dengan cengiran malu-malu yang begitu menggemaskan. Haruka baru berusia satu tahun, anak perempuan yang mewarisi mata hijau gelap kuramochi dan rambut coklat Sachiko. "Karena aku tidak datang di hari kelahiranmu, maka kau boleh meminta apapun padaku, Haruka-chan."

Sachiko tertawa lembut. "Kau dengar itu? Mintalah apapun pada Paman Miyuki."

Kazuya batuk-batuk. "Aku belum setua itu untuk dipanggil paman."

"Kau memang kelihatan tua." Celetuk Sawamura yang tahu-tahu sudah berdiri di dekatnya, tersenyum dengan usil dan membuat Kazuya ingin menerkamnya lagi, menciuminya sampai hari berganti. "Iya 'kan, Haruka-chan?"

Haruka tertawa riang dan berbinar-binar pada Sawamura, bahkan mengulurkan kedua tangan sebagai isyarat kalau dia ingin Sawamura menggendongnya. Sawamura balas tertawa, menyambut Haruka dan membawanya dalam gendongan. Balita perempuan manis itu memeluk leher Sawamura dan tertawa riang saat Sawamura mengecup pipinya.

"Dia menyukaimu." Mata Kazuya menyipit tajam pada Haruka. "Dia jelas menyukaimu."

Kuramochi menendangnya lagi sementara Sawamura hanya tertawa geli dan kembali mengecup pipi tembam Haruka. "Cemburumu tidak masuk akal!"

Kazuya beum sempat membalas ketika merasakan sang ibu kembali mengamit lengannya. "Kalau begitu kita bisa pergi sekarang?" Tawarnya ramah. "Mmm, kita makan siang dulu setelah itu baru pulang."

Pulang… Kata iu terdengar sangat merdu di telinga Kazuya. kini pulang bukan hanya berarti Jepang dan rumah, tapi juga Sawamura Eijun. Rasa melankolis kembali menguasai hatinya dan membuatnya mendekat pada Sawamura lalu meraih pinggangnya, menariknya mendekat hingga Sawamura terkesiap kaget.

Kazuya menunduk dan meletakkan kening di bahu Sawamura sebelum berbisik. "Tadaima."

"Okaeri."

"Yeah, tentu saja Miyuki lebih ingin pulang ke tempat Sawamura." Cibir Kuramochi lalu mengambil alih Haruka dari gendongan Sawamura dan menutup matanya seakan takut Kazuya dan Sawamura mulai melakukan adegan dewasa yang tak pantas.

Kazuya ganti menoleh pada ibunya, dihadiahi senyuman dan anggukan paham. "Nikmati waktu kalian. Lagipula baru tiga bulan lalu ibu bertemu denganmu."

"Oh, tentu saja mereka akan sangat menikmati waktunya."

"Kuramochi-senpai!"

"Obrolan ini tidak sepantasnya didengar putrimu, Kuramochi-kun."

"Miyuki Kazuya!"

Eijun mendorong pintu apartemennya hingga terbuka dan masuk ke dalam diikuti Miyuki di belakangnya. Ia melepas sepatu dan meletakkannya di genkan lalu mulai menggantung jaketnya. "Maaf agak berantakan." Eijun berkata basa-basi, sambil merapikan beberapa pasang sepatu yang berserakan di bawah. Kemudian ia mulai melangkah ke dalam. "Buat dirimu nyaman, jangan sungkan-sungkan."

"Sejak kapan kau tinggal di sini?" Tanya Miyuki, masih melepas sepatunya.

"Hmm, sekitar enam bulan, mungkin? Aku memilih tempat ini karena jaraknya lumayan dekat dengan tempat kerja."

"Tempat kerja." Miyuki mengulang. "Aku masih agak susah beradaptasi. Kau dulu hanya mahasiswa biasa, tapi sekarang… kau seorang pria yang punya pekerjaan tetap. Bahkan bisa menyewa apartemen seperti ini sendiri."

Eijun harap ia tidak merona konyol. Miyuki bahkan tidak bermaksud memujinya, tapi wajahnya jelas menghangat mendengar kata-kata itu. "Itu sudah bertahun-tahun lalu, kau sadar? Aku sudah lulus kuliah dan dapat pekerjaan sekarang."

"Yeah, bisa kulihat itu. Sawamura Eijun, laki-laki dua puluh tiga tahun."

Eijun mendengus. "Cepat masuklah!"

Tetapi Miyuki tetap berdiri di sana, menatap tepat ke arahnya dan memberi pandangan itu lagi. Tatapan yang sama dengan beberapa saat lalu ketika mereka berhadapan di bandara. "Sawamura… apa ini sungguhan?"

Eijun berdecak, jantungnya kembali berdentum ribut di balik sangkar iganya, ia yakin wajahnya kembali merah sekarang. Eijun merentangkan kedua tangan lebar-lebar. "Ke sini! Kalau kau masih tidak percaya juga, biar kubuktikan padamu!"

Miyuki melejit cepat dan menabraknya dalam sebuah pelukan erat. Kedua lengan Miyuki melingkar di tubuhnya, menawarkan kembali sensasi itu. Sensasi geli menggelitik, sekaligus juga menenangkan, hangat, utuh, dan nyata.

"Kau percaya sekarang?" Eijun memeluk Miyuki erat-erat. Membenamkan wajahnya di perpotongan leher dan bahu Miyuki.

"Hmm." Miyuki bergumam, napasnya menyapu permukaan kulit Eijun. "Tapi aku masih ingin memelukmu."

"Aku tidak tahu kau bisa clingy begini." Eijun terkekeh, tapi tetap memeluk Miyuki dan membiarkan dirinya pasrah dalam dekapan pemuda itu. Sampai akhirnya Eijun terngat akan sesuatu. "Miyuki-senpai, lepaskan sebentar."

Miyuki sepertinya tidak rela, tapi dia tetap melonggarkan pekukan dan menatap mata Eijun. "Kenapa?"

Eijun tersenyum simpul, mengambil sedikit jarak dan melepaskan diri dari dekapan Miyuki. Ia menarik napas dalam-dalam, memejamkan mata serta mengumpukan semua tekad dan tenanganya. Satu detik kemudian, tinjunya mengantam rahang Miyuki hingga pemuda itu sempoyongan dan jatuh ke lantai.

Miyuki terpana memandanginya, tampak kaget luar biasa. "Apa-apaan, Sawamura…"

"Itu untuk Chris-senpai." Eijun menjawab dengan lega dan mengulurkan tangannya untuk membantu Miyuki berdiri. "Aku sudah berjanji padanya."

Miyuki melongo, bekas tinju Eijun telah meninggalkan jejak merah gelap di rahangnya, sudut mulutnya bahkan terluka. "Kau… apa?"

Eijun meringis, menyentuh rahang Miyuki hati-hati. "Sorry, tapi aku sudah janji. Dan lagipula aku memang ingin meninjumu setidaknya satu kali karena kau sangat tolol."

"Apa?"

Eijun memasang senyum tanpa dosa, membelai wajah Miyuki dengan lembut. "Apa pukulanku terlalu kuat? Sakit?"

Miyuki tampak tersinggung. "Kau membantingku ke lantai, menamparku dua kali, memelinting lenganku, puluhan kali menendang tulang keringku, dan tadi kau meninju wajahku. Apa kau benar-benar mencintaiku?"

Eijun nyengir lebar, maju untuk mengecup pipi Miyuki. "Maaf, Miyuki-senpai."

"Lakukan lagi."

"Eh? Meninjumu?"

"Cium pipiku." Desak Miyuki gemas. "Kiss the pain away."

"Dulu kau bilang ciumanku payah."

"Sawamura,"

"Ya, ya, baiklah." Eijun maju lagi untuk memberi beberapa kecupan di pipi dan garis rahang Miyuki. "Puas? Masih sakit?"

Miyuki menggeleng dan tertawa geli lalu kembali menariknya ke dalam pelukan. Tidak banyak yang mereka bicarakan hari itu. Eijun merasa nyaris seluruh waktu hanya dihabiskan dengan saling menempeli, memeluk, berpegangan tangan, berciuman, atau bersandar satu sama lain. Tapi Eijun tidak keberatan. Sama sekali tidak keberatan. Karena baik dirinya maupun Miyuki, mash ingin memastikan bahwa ini benar-benar nyata. Bahwa mereka benar-benar bersama sekarang. Bisa menyentuh dan disentuh, bukan hanya menciptakan delusi yang memudar saat didekati.

Pada malam kedua mereka bersama, ada sedikit lebih banyak kata-kata dan percakapan.

"Kau mengantuk?" Suara Miyuki halus di telinga Eijun, tangannya membelai sisi wajah Eijun dengan penuh kasih sayang sementara mereka berdua berbaring berhadapan di atas kasur.

Eijun menggeleng, memejamkan mata singkat dan menikmati sentuhan Miyuki di wajahnya. "Aku punya pertanyaan."

"Tanyakan apapun yang ingin kau tahu, Sawamura."

Eijun membasahi bibirnya sekilas, menggerakkan tangannya untuk menyentuh pergelagan tangan Miyuki dan memberi usapan halus. "Selama kau di Jerman... apa kau pernah bersama orang lain?"

Miyuki tampak sedikit terkejut dengan pertanyaan itu, tapi sama sekali tidak terlihat tersinggung. "Akankah kau percaya kalau kukatakan bahwa, sebelum hari kemarin, orang terakhir yang kucium adalah seseorang pemuda di bawah pohon sakura tepat di halaman Seido?"

Mata Eijun melebar, ia mencoba bicara tapi ibu jari Miyuki menekan halus bibirnya seakan memintanya diam sebentar.

"Dan sebelum hari itu, aku mencium orang yang sama di pesta dansa. Semenjak dia, tak ada siapapun yang kusentuh. Bahkan saat aku melewati tiga tahun di Jerman, pikiranku hanya terkunci padanya."

Eijun tidak dapat mendefinisikan apa persisnya yang ia rasakan. Seluruh kata-katanya telah menguap dan meninggalkannya kosong tanpa suara. Miyuki tetap tak meninggalkan matanya. Memberinya tatapan paling jujur yang manis tapi juga menyimpan secarik kepedihan. "Tapi kau bilang—" suara Eijun tercekat kecil, ada desis tipis di kerongkongannya. "—kau pernah bilang saat liburan semester, aku pulang ke Nagano dan kita bicara di telelpon..."

Miyuki menggelengkan kepala, senyumnya lebih lebar dan tampak geli. "Aku berbohong padamu. Aku sama sekali tak bersama siapapun. Malam itu adalah pertama kalinya aku keluar, aku pergi ke klub bersama Kuramochi. Well... seorang gadis datang untuk merayuku, aku membawanya ke lantai dansa tapi aku tidak bisa menciumnya." Miyuki menarik napas panjang, menghembuskannya halus dan tersenyum lagi. "Aku justru memikirkanmu dan lari keluar, kemudian menelponmu. Konyol, ya?" Miyuki mengusap pipinya lagi. Senyumnya, tatapan matanya menerawang sejauh samudera. "Aku bahkan tidak sadar sejak kapan aku mulai mencintaimu dan kehilangan minat untuk menyentuh orang lain."

Eijun merasakan matanya panas. Kaca-kaca di matanya telah pecah menjadi kristal air mata yang bergulir ke wajahnya. Miyuki mengusap semua butir kristal itu hati-hati. Tiap sentuhan Miyuki di kulitnya diterjemahkan dengan begitu sempurna atas nama ketulusan dan kesetiaan yang membuat hati Eijun terasa perih sekaligus bahagia.

"Aku pernah berciuman dengan Chris-senpai." suara Eijun pecah, serak, tegang dan kabur di ujungnya. Rasanya menyakitkan mengingat ia pernah membiarkan orang selain Miyuki menyentuhnya.

Namun Miyuki tidak terlihat marah atau sakit sama sekali. Ia hanya memberi anggukan maklum seolah sudah menduga hal itu.

Eijun menarik napas sesak. "Tapi itu juga tak adil untuknya karena aku justru menangis. Aku memikirkanmu dan menangis di saat dia mencoba menunjukkan kasih sayangnya padaku. Aku benar-benar jahat."

Miyuki menggeleng dan mendesis tak setuju. "Kau mau tahu kisah jahat yang sebenarnya? Selama tiga tahun, dalam mimpiku aku melihatmu menangis dan terluka karenaku, tapi tak pernah punya kesempatan untuk meminta maaf. Tiap kali aku mencoba bicara, serta merta mataku terbuka lebar dan aku hanya sendirian... kau tak ada di sana. Aku tidak pernah berhasil meminta maaf padamu."

Miyuki menarik tangannya dari wajah Eijun, ganti menggenggam tangannya lalu membawanya ke bibirnya. "Rasanya seperti... aku membunuhmu ratusan kali di dalam mimpiku." Bisikannya parau, nyaris seperti isakan berat. Ia meninggalkan satu kecupan panjang pada jari-jari Eijun sambil menatap lekat ke matanya. "Maafkan aku."

Eijun berhasil menahan untuk tidak tersedu-sedu. Alih-alih ia menarik napas panjang dan membuangnya cepat, tersenyum menantang pada Miyuki. "Begitu caramu minta maaf? Dengan mencium tanganku?"

Miyuki tertawa geli, balas menyeringai. Bahkan meski dalam keadaan rambut berantakan, sebelah pipi terbenam di bantal dan hanya mengrnakan kaos hitam polos, Miyuki mampu terlihat begitu tampan dan menggiurkan. "Aku bisa menciummu di manapun yang kau mau sebagai bentuk permohonan maaf."

Wajah Eijun menjadi lebih panas, ia berdeham untuk menghilangkan api gairah di tenggorokannya sebelum memasang senyum sombong. "Kalau begitu aku tidak akan pernah memaafkanmu. Akan aku buat kau tidak berhenti mencium seluruh tubuhku demi mendapatkan maaf."

"Kedengarannya cukup adil." Miyuki berkata sebelum maju ke arahnya dan menyatukan bibir mereka.

Eijun memejamkan mata, melemas penuh kenikmatan saat mengubah posisi menjadi berbaring sementara Miyuki menindihnya. Ia membalas, berusaha mengimbangi gerakan bibir Miyuki di mulutnya. Sapuan lidahnya yang hangat, setiap sentuhan dan tekanan basah dari bibir Miyuki begitu tak tertahankan. Jari-jari Eijun meremas rambut di belakang kepala Miyuki, menekuk seiring seluruh sendi di tubuhnya menyanyikan nama Miyuki Kazuya. Lidah Miyuki menjelajahi seluruh rongga mulutnya, panas, basah, lembut, menggelitik dan membuat suara-suara berbau keintiman. Rasanya begitu nikmat. Rasanya Eijun tak ingin Miyuki pergi dari mulutnya.

Miyuki menarik diri dengan satu gigitan di bibir bawah Eijun. Napas mereka beradu dalam hawa panas berkabut oleh gairah. Pandangan Eijun terkunci antara mata dan bibir Miyuki yang basah. Eijun bernapas dengan gemetar, mengisap bibirnya sendiri untuk mengecap rasa bibir Miyuki yang tertinggal. Aksi itu telah mendatangkan reaksi kemarahan tak terjelaskan di wajah Miyuki. Tiba-tiba tanpa peringatan, Miyuki menarik lepas kaus Eijun dari kepalanya. Setelah Eijun setengah telanjang, Miyuki kembali lagi ke mulutnya. Ciumannya... Oh, ciumannya kali ini benar-benar tanpa rasa bersalah dan kehati-hatian. Mulut Miyuki basah dan hangat menekan keras ke mulutnya, gigi, lidah, segalanya menimbulkan bunyi saling beradu yang membuat Eijun menggerang.

Satu tangan Eijun meremas bagian belakang bahu Miyuki. Barangkali akan meninggalkan jejak kusut pada kausnya, tapi Eijun tidak peduli. Miyuki menciumnya dengan brutal, nyaris terasa seakan mencoba menghisap semua nyawa Eijun dari mulutnya. Saat Eijun mulai kepayahan untuk bernapas Miyuki menarik diri, menatapnya selama sepersekian detik lalu membungkuk dan menghisap puting kanan Eijun tanpa basa-basi.

Eijun menjerit. Sentuhan itu telah membuat bagian bawah tubuhnya lebih dari setengah keras. Dan ia bersumpah bisa mendengar Miyuki tertawa atas reaksinya. Eijun memelototi Miyuki geram, tapi mungkin sama sekali tak menyeramkan karena sekujur tubuhnya jelas menginginkan hal lebih.

"Itu baru satu bagian kecil, Sawamura." Miyuki berkata, suaranya rendah dan menggelitik sampai ke ujung kaki Eijun. Jari-jari panjang Miyuki mulai bergerak di dada Eijun. Berputar membentuk lingkaran mengelilingi puting Eijun yang keras. "Masih ada banyak yang ingin kusentuh atau kucium."


.


Tiga tahun kemudian...

Kazuya,

I wrote this story for you, but when I started writing from chapter to chapter, I found that not all chapters are fun. You might hate some parts, so am I. It feels there is something I want to change, delete, or just skip for get a perfect story. But I then realize, that was not the way a story should works.

We have to read every chapter, every line, meet every character. We won't enjoy all of it. Hell, some chapter will make we cry or mad for weeks. We'll read things we don't want to read. And maybe we also have a moment when we don't want the pages to end or scene we don't want to move. But we have to keep going. Stories keep the world revolving.

This story isn't perfect, and so we are. Every books has end, and so this book. But I hope our story would never end. I hope we have enough inks to keep writing our story day by day. And I hope you will never tired to grow in every single pages with me.

Yours,
Eijun

PS. Also, I wrote this to make you sure that I'm NOT graduated for nothing! My english is better now and you'll see how this book would become more popular than your sarcasm! You damn Tanuki!

Kazuya tersenyum membaca halaman persembahan dari novel di tangannya. Sekali lagi, dia menutup buku itu dan mengamati bagian sampul. Finding Me, Finding You, Finding Us tercetak sebagai judul yang timbul dan ditulis dengan tinta perak. Jari Kazuya meraba huruf-huruf itu dengan senyum bangga, novel pertama Eijun.

Ia meletakkan kembali buku itu di nakas lalu menoleh pada seseorang yang masih terlelap di sebelahnya. Rambut coklat gelapnya berantakan, terurai di atas bantal, Kazuya mengusapnya lembut sebelum tangannya bergerak meraih tangan Eijun dan meraba cincin di jari manisnya.

"Hnmm..." Eijun bergumam mengantuk, bergeser lebih dekat padanya hingga Kazuya membuka legannya agar Eijun bisa masuk ke dalam pelukan dan bersandar ke dadanya. "Jam berapa?"

Kazuya mengecup puncak kepala Eijun sekilas. "Jam tujuh, tidur saja kalau kau masih lelah."

Eijun bergumam dan merapat ke dadanya sebelum menghela napas panjang. "Kau sadar kan hari apa ini? Aku tidak mau hari ini dilewati dengan malas-malasan di kasur."

Kazuya tertawa, menggenggam tangan Eijun di atas dadanya, sambil meraba-raba cincin pernikahan mereka. "Padahal banyak kegiatan yang bisa kita lakukan di atas kasur."

Eijun langsung menggigit tulang selangkanya hingga Kazuya meringis. "Hormonmu sangat mengerikan!" Dia mengomel dengan main-main sebelum membuka mata dan mendongak hingga mata mereka bertemu. Kazuya hanya menanggapinya dengan cengiran geli sebelum mengusap wajah Eijun lembut dan mendaratkan ciuman selamat pagi tepat di bibirnya.

"Happy anniversary, Husband." Bisik Kazuya, mengecup pucuk hidung Eijun dengan gemas sebelum kembali mendaratkan kecupan lain di bibirnya. "Apa yang kau inginkan untuk merayakan hari ini?"

Wajah bangun tidur Eijun, sinar di balik matanya yang masih agak bengkak, cetakan bantal di pipinya, dan rambut yang mencuat liar di seputar wajahnya… Kazuya tidak akan pernah bosan melihat pemandangan itu setiap pagi. Eijun menghembuskan napas senang, tersenyum dengan lucu dan bergumam. "Ayo kencan ke luar."

"Hmm, ke mana?"

Eijun membuka mata lebih lebar saat Kazuya mulai menyisuri rambut yang menghalangi matanya. "Pantai."

Gerakan Kazuya berhenti, jari-jarinya mendadak kaku dan matanya menatap Eijun tidak sepakat. "Pass, ganti yang lain."

Eijun cemberut. "Kau selalu begini! Alasanmu menolak pantai tidak masuk akal, kau tahu?"

"Tentu saja masuk akal." Kilah Kazuya. "Kau tidak tahu bagaimana rasanya trauma tiap kali melihat pantai, kan? Aku tidak akan melupakan kejadian saat melihat suamiku berciuman dengan orang lain di pantai."

"Itu 'kan cuma mimpi!" Eijun protes, segera bangkit dari posisi berbaring menjadi duduk tegak. Alhasil membuat selimut meluncur dari bahunya, mengekspose setengah bagian tubuhnya yang telanjang dihiasi beberapa jejak gigitandan ciuman Kazuya tadi malam. "Sampai kapan kau mau membawa-bawa mimpi buruk itu, sih? Ya ampun, Kazuya, kita sudah menikah! Aku milikmu sekarang, jadi berhentilah memikirkan hal-hal konyol."

Kazuya mendengus. "Mudah bagimu bicara begitu karena kau tidak merasakannya."

Eijun memutar mata dengan malas. "Oh, ayolah…" Ia menguncang-guncang bahu Kazuya gemas. "Justru karena itu kita perlu ke pantai untuk menyembuhkan traumamu! Kau harus menghadapinya, oke? Kita harus membuat kenangan baru di pantai, kenangan yang bagus tentang kita berdua, jadi kau bisa melupakan mimpi itu."

"Tapi—"

"Kazuya," Suara Eijun melembut, tangannya membingkai halus rahang Kazuya dan matanya menatap begitu dalam. Belakangan ini Eijun semakin mahir untuk menaklukkannya hanya dengan sentuhan sederhana dan tatapan mata. "Kau tahu hanya kau satu-satunya orang yang akan dan ingin kucium di pantai. Jadi ayo kita lakukan, aku janji akan membantu, aku akan melakukan apapun untuk membantumu menghapus mimpi buruk itu."

Kazuya menghela napas pendek. Sadar bahwa ia tak bisa lari lagi jika Eijun sudah seperti ini. Jadi alih-alih mendebat lebih jauh, Kazuya memilih untuk megulurkan tangan dan menarik tengkuk Eijun mendekat, mendaratkan ciuman dalam ke mulut suaminya hingga nyaris kehabisan napas.

"Oke." Jawab Kazuya akhirnya, menatap bergantian antara mata dan bibir Eijun yang bengkak dan basah. "Tapi jangan kira ciuman saja cukup untuk menghapus mimpi burukku, kau harus kerja ekstra kalau mau membantu."

Mata Eijun berbinar-binar. Ia takkan pernah beranjak tua, pikir Kazuya. Mata itu selalu punya sinar kekanakan yang sama sejak Kazuya pertama kali menatapnya. "Tentu! Kau bisa mengandalkanku!"

Dan Kazuya percaya itu. Eijun akan selalu ada di sana untuknya, dapat diandalkan. Menjadi mitra sederajat. Dekat pada lengannya untuk dilindungi juga melindungi, dan dekat di hatinya untuk dicintai.

.


THE END


.

LOVE AND THANKS TO:

13lycoris • Ageha-san • Akakuro dan Bbfang • Angeliakitty5 • Anna Hiruka • Ariana1104 • Asaka Kairi • BlueSky Shin • Celvinjay • Dyulia971 • Eiko Eichan • Genlite • Hanna Vianna • Hikaru Rikou • Katie2937 • Kirei Hana593 • LEAFmorelove • Melon Kuning • Qackueen • Rarachi • Ryuu Kenzo99 • Sigung-chan • Triiiixie • Tsukino Mizuki • Uchiha cherry's • Zyouvachi • aceijun • aihara mirae • akamatchuu • alicarara • ariastain • aurelliafr • ayu gayatri • catyuri • choconz • jj elf • lanzhamweiying96 • macaroongirl16 • mladshayasestraxx • qyoramae • the25 • triviayola • yuuinoe • KiisO • Kinaina • Raya Bell • Sherry1693 • alpacakoala • xcvbn57 • xiao yuki • iiie • Kyunauzunami • Myfana • Airin • aku yg menunggu • Anoynymous • Guest • ratusan971gmail • nerd reader • Narika • Vivi99 • Namaku cinta • Pembaca Random • T18 • Teemi • alicarara • momicat • Iyak • EiLo • Fakaaa • princebambie • marcella diva reani panyol

spesial buat Hikaru, makasih udah gambarin sketch untuk chapter 12 ^^

dan tentu saja untuk kalian semua yang masih setia membaca sampai chapter ini, terima kasih.

.

So, this is the ending. Seperti yang Eijun katakan di bagian awal novelnya, itu juga yang sebenarnya ingin saya sampaikan, hehe.

Untuk kalian semua, terima kasih karena tidak menyerah dalam setiap chapter dan paragraf dalam kisah ini. Terima kasih untuk tetap melanjutkan tidak peduli seberapa buruk bagian ceritanya. Kalian hebat, kalian berhasil melewati semua perasaan dalam cerita ini. Kemarahan, keputusasaan, kesedihan, kekalutan, jatuh cinta, patah hati, kerinduan, dan masih banyak lagi. Terima kasih telah setia bersama saya melewati emosi yang berbeda-beda itu.

Kalau ada yang kesal karena saya menyisipkan jeda sampai tiga tahun sebelum mereka bersatu kembali, maka jawabannya itu memang perlu. Kazuya dan Eijun perlu waktu, untuk menjadi lebih dewasa, menemukan jati diri, berdamai dengan perasaan masing-masing, sebelum akhirnya mereka yang lebih stabil dapat bertemu dan meluruskan segala hal.

Err... sebenarnya saya bikin adegan ranjang versi lebih lengkap, uhuk! Tapi sepertinya bakal masuk kategori MA atau Explicit, yang mana hal itu dilarang oleh FFN, jadi saya nggak akan posting. Kalau ada yang berminat, kalian bisa inbox saya di sini atau di instagram/twitter (aikoblue_) Eh tapi jangan ekspetasi ketinggian dulu ya, saya nggak seberapa bisa bikin adegan ranjang, kalau kurang hot, mohon dimaklumi.

Saya rasa, cukup ngocehnya wkwk. Sekali lagi terima kasih untuk tetap bersama saya sampai chapter ini :') Terakhir, adakah part terfavorit kalian dalam cerita ini? Atau part yang paling berkesan deh hehe, let's share on the review box! I'm super curious!

Love,
Aiko Blue

Tangerang, 31 Agustus 2020

.


Satu bulan sebelum Miyuki Kazuya kembali ke Tokyo

Kazuya baru saja selesai membaca laporan penilitian dari salah satu mahasiswa ketika seseorang tiba-tiba datang dan meletakkan secangkir kopi di dekat laptopnya.

"Ayah?"

Miyuki Toku tersenyum simpul, agak menggelikan. "Halo, Kazuya."

"Apa yang ayah lakukan di sini?" Kazuya nyaris memekik, terlalu kaget melihat ayahnya tiba-tiba muncul seperti hantu.

Alis ayahnya menukik tipis. "Di kedai kopi? Tentu saja aku mampir untuk minum kopi, Kazuya."

"Di Berlin." Desak Kazuya, menatap lekat mata ayahnya. "Sejak kapan ayah di Berlin?"

Pria itu mengambil duduk di hadapannya dan tersenyum simpul. "Aku tiba pagi ini, ada sedikit urusan bisnis. Dan aku ingin menyapa putraku, ibumu bilang kau sering nongkrong di tempat ini jadi kupikir aku bisa menemukanmu di sini."

Kazuya membuka mulutnya, nyaris melongo. "Ayah seharusnya mengabariku. Bukannya muncul tiba-tiba dan membuatku jantungan."

Miyuki Toku menyesap kopinya dengan elegan. Kazuya mengingat-ingat kali terakhirnya bertemu pria itu, barangkali hampir satu tahun berlalu. Saat itu mereka bertiga liburan ke Roma berkat desakan sang ibu. Kazuya praktis tidak bisa menolak saat ibunya sudah memesankan tiket kelas satu untuknya. Alhasil Kazuya menikmati kembali liburan keluarga bersama kedua orang tuanya, menjadi agak canggung di tengah-tengah kemesraan mereka di kota Roma, kota cinta.

"Ibumu tidak punya pilihan." Ayahnya berkata santai. "Kau sama sekali tidak mau pulang ke Jepang sejak berangkat. Jadi ibumu terpaksa menyeretmu ke negara lain agar bisa menghabiskan waktu bersama."

Kazuya mengernyit. "Ayah membaca pikiranku?"

"Aku ayahmu." Toku angkat bahu ringan. "Kau mewarisi genku. Jadi menebak isi kepalamu bukan pekerjaan sulit."

Kazuya mendengus, memutuskan untuk menyesap kopi pemberian ayahnya. "Kalian selalu bisa mengunjungiku walaupun aku tidak pulang ke Jepang."

"Sesombong apa kau ini, sampai menyuruh orang tuamu yang menghampirimu?"

Kazuya tertawa geli. "Aku mendapatkannya dari ayah, seharusnya ayah tidak terkejut lagi."

"Kau sudah tiga tahun di Jerman, apa aku sama sekali tidak rindu Jepang?"

Sesuatu yang tajam menyengat jantung Kazuya, tapi ia berhasil mengendalikan diri dan balas tersenyum pada ayahnya. "Ayah tahu aku di sini bukan untuk liburan atau bersenang-senang."

"Tapi studimu sudah selesai, Kazuya."

"Aku masih punya kewajiban di sini, Ayah. Aku masih tergabung dalam satu proyek dan tidak mungkin kutinggalkan begitu saja."

Alis ayahnya terangkat sebelah. "Proyek itu akan rampung bulan depan, kan?"

Kazuya mengeryit. "Dari mana ayah tahu?"

"Ibumu." Ayahnya menghela napas pendek. "Ibumu selalu resah dan beranggapan kau tidak akan mau lagi kembali ke Jepang."

Kazuya tertawa. "Aku pasti kembali. Aku pewaris ayah, aku masih berminat meneruskan perusahaan."

Ayahnya memberi tatapan tertentu, jenis tatapan yang sama dengan beberapa tahun lalu tiap kali Kazuya tersenyum lebar setelah memenangkan pertandingan baseball bersama timnya. Tatapan bangga sekaligus menantang. "Aku yakin kau ingin kembali karena lebih dari satu alasan. Tapi alasan itu pula yang menahanmu sampai tiga tahun di Jerman."

Kazuya bisa merasakan hawa dingin merayap tiba-tiba di sepanjang punggungnya. "Maksud ayah?"

Senyum di wajah ayahnya berubah, menjadi sesuatu yang lebih samar, lembut, dan jauh. "Bisa mencintai dan dicintai satu orang yang sama itu menakjubkan, Kazuya. Seharusnya kau tidak perlu lari."

Kazuya mencoba untuk tetap rileks dan menanggapinya dengan cengiran geli. "Mendengar ayah bicara soal cinta jauh lebih menakjubkan."

Toku mendengus kecil, tapi matanya tak melepaskan Kazuya. "Kau tidak pernah bercerita apapun pada kami, dan aku jadi merasa bersalah karenanya. Seharusnya kita bisa meluangkan waktu untuk mengobrol antar lelaki."

Kazuya tertawa ringan. "Sekalipun kita mengobrol, aku tidak yakin ayah bisa mengerti. Ini berbeda. Ini bukan seperti kasus ayah, bahkan mungkin ayah tidak bisa menerimanya."

"Karena dia laki-laki?"

Kazuya bahkan tidak tahu mana yang lebih menikamnya. Fakta soal ayahnya tahu bahwa ia jatuh cinta pada seorang laki-laki, atau justru nada ringan ayahnya ketika bertanya seakan itu bukan masalah besar.

"Kau mengira aku bakal menghakimimu karena itu?"

Kazuya menelan ludah. "Memangnya tidak?"

Ayahnya tertawa dan menggeleng seakan Kazuya sudah gila. "Buat apa aku menghakimimu? Perasaan tidak bisa kau kendalikan dengan akal, Anakku. Terlebih saat dia belahan jiwamu."

Kazuya yakin wajahnya telah memucat. "Dari mana... Bagaimana ayah tahu?"

"Aku tidur dengan ibumu." Ayahnya menjawab ringkas, tersenyum tipis. "Dia ibumu, seseorang yang melahirkanmu. Itu memang misterius, tapi seorang ibu selalu bisa tahu apa yang terjadi pada anaknya."

Ini terlalu mendadak, terlalu absurd, terlalu tidak masuk akal. Sejauh apa orang tuanya tahu?

"Kenapa kau menundukkan kepala, Kazuya? Seingatku kau selalu mengangkat dagumu dengan penuh percaya diri. Tampil seakan kau sanggup menaklukkan seisi dunia dengan ide dan keberanianmu."

Kazuya mendengus, rasa sakit menyengat kini singgah di dadanya. Ia berhasil mengeluarkan suara tawa kering. "Rasa percaya diriku tidak pernah berlaku untuknya. Dia selalu menolakku."

"Dan kau memanipulasinya?"

Kazuya tahu ayahnya hanya bermaksud memberi cibiran kecil, tapi pertanyaan itu sangat sukses membuatnya kembali mengingat beragam kesalahan yang sudah dia lakukan pada Sawamura. "Ya. Tapi aku tidak mau melakukan itu lagi. Tidak padanya."

Setelah itu tak banyak percakapan yang terjalin di antara mereka. Kazuya menikmati kopinya sambil menyesap dalam-dalam setiap inchi kepahitan yang ada. Sementara ayahnya kembali seperti biasa, tak banyak berkomentar atau ikut campur.

"Aku akan berada di Paris bulan depan."

Kazuya menatap wajah ayahnya sambil mengangkat alis. "Paris?"

Ayahnya mengangguk. "Ada sedikit urusan bisnis." Lalu ia mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya dan mendorongnya lebih dekat dengan Kazuya. "Ini tiket. Masing-masing sudah dibayar dan kau bisa memakainya kapanpun kau mau. Satu untuk penerbangan ke Paris, satu lagi ke Tokyo."

Kazuya menyentuh tiket itu dan berusaha tidak gemetar.

"Setelah proyekmu selesai, sudah saatnya kau keluar dari Jerman, Kazuya. Pilihan ada di tanganmu. Kau bisa menyusulku ke Paris dan ikut perjalanan bisnisku, atau kau bisa kembali ke Tokyo."

Kazuya merasakan kepahitan yang bertambah pekat di tenggorokannya. "Meskipun aku pulang ke Tokyo, dia tidak akan ada di sana. Ini sudah tiga tahun, dia bisa ada di mana saja sekarang."

"Jadi kau memang masih berharap bisa bertemu dengannya lagi, eh?"

"Ayah memang menyebalkan."