Masih dalam perjalanan pulangnya, Naruto berjalan dengan santai sambil menyaku kedua tangannya, raut wajahnya terlihat tenang menikmati hembusan angin sore.
Glup~
Terdengar suara menelan ludah dari Naruto, jika dilihat lebih jelas lagi, Naruto terlihat sedikit berkeringat, meskipun terlihat tenang, Naruto sepertinya tengah waspada, karena ia merasa sedang diikuti.
Tidak, ini bukannya ia takut pada hantu atau semacamnya, lagian ini masih sore, yang membuatnya waspada adalah seorang atau sesuatu yang mengikutinya bukanlah manusia.
Atau itulah yang Kurama katakan, jujur saja ia tidak bisa merasakan apapun, dan itu membuatnya semakin waspada, Naruto tak tau kapan si penguntit ini akan menyerang.
"Emh..."
Naruto sedang berpikir, bagaimana cara agar penguntit ini berhenti mengikutinya, perasaan was-was ini membuatnya tak nyaman, kalau begini nanti ia tidak bisa tidur di-
Tunggu!
Jangan-jangan si penguntit ini mengikutinya agar bisa tau lokasi rumahnya, ugh~ padahal hampir sampai.
Yosh! Ia harus pergi ke arah lain untuk mengecohnya, 'apa masih ada yang mengikuti ku, Kurama?'tanya Naruto kemudian.
'ya, dan dia semakin dekat, mungkin akan langsung menusuk punggung mu sampai tembus'
'oi! Jangan mengatakan hal menyeramkan seperti itu'Naruto pun langsung protes mendengar kata yang di ucapkan Kurama.
Yang lebih penting lagi, kata Kurama si penguntit semakin dekat, mau tak mau itu membuat langkah kakinya semakin cepat.
•
Kenapa...?
Kenapa ia malah berakhir di tempat seperti ini, yah ini salahnya sih, ia membiarkan dirinya mengikuti kemana kakinya melangkah, dan ia malah masuk ke dalam sebuah bar... Uhm... Atau mungkin klub malam, entahlah ia juga sebenarnya tak tau ini tempat apa, yang pasti banyak orang dewasa.
Lagian ini juga sangat aneh! Maksudnya, ia masih remaja terlebih ia masih memakai seragam sekolahnya bahkan tasnya saja masih ia gendong, lalu kenapa si penjaga bar membiarkannya masuk?!
Dan saat ia berniat pergi karena sudah menyadarinya, kedua penjaga itu malah melarangnya keluar! Sial! mereka berotot dan memakai jas hitam, jadi ia tak bisa melawan.
Dan sekarang disinilah dia, duduk di sebuah sofa setengah lingkaran dengan satu meja bulat di tengahnya, tempat ini terlihat seperti sebuah ruangan kecil dengan tirai berwarna merah yang menutupinya, suasana malam hari ini juga membuatnya semakin tak tenang.
Dan juga... Sungguh ia tak memesan apapun, tapi tiba-tiba seorang pelayan membawakannnya minuman mencurigakan, jadi ia memutuskan untuk tak meminumnya.
Naruto sekarang menutup matanya dan bernafas dengan pelan secara perlahan, ia sedang mencoba menenangkan dirinya, pokoknya tetap diam saja disini sampai waktunya tiba, kalau tempat ini tutup ia juga pasti harus keluar kan? Haha, ini mudah.
Cup!
Atau setidaknya itulah yang Naruto pikirkan, sebelum ia merasakan ada bibir lain yang menabrak bibirnya dengan lembut.
Hal itu tentunya mau tak mau membuat Naruto langsung membuka matanya, dan mendapati seorang gadis berambut hitam... Mh... Ia tak bisa melihat wajahnya.
Tidak! Itu tidak penting! Naruto dengan segera langsung mendorong bahu gadis itu, tapi... Sepertinya malah ia yang semakin terdorong ke sandaran sofa.
"Puah!"
"Hah! Hah! Hah!"
Gadis itu melepaskan ciumannya, Naruto pun langsung menghirup nafas sebanyak-banyaknya untuk mengisi paru-parunya yang hampir kehabisan oksigen.
Kemudian ia memandang gadis yang menciumnya tadi, yang kini duduk di pangkuannya dalam posisi menghadapnya.
"A-a-a-a-a..."
Naruto tergagap dengan mata melebar ketika melihat gadis yang menciumnya barusan, sedangkan sang gadis hanya menyeringai tipis dengan tatapan mata yang sayu, tak lupa dengan semburat tipis di pipinya.
"Ehhemhem... Kenapa kau terkejut begitu, Na-ru-to~kun?"
Oh shit! Naruto tak pernah berharap hal seperti ini akan terjadi, gadis ini pasti yang dari tadi menguntitnya.
"A-Amano... Yuuma..."
Ya, gadis itu adalah Amano Yuuma, atau lebih tepatnya Raynare, pacar... Atau lebih tepatnya mantan pacar dari temannya.
"A~h Amano Yuuma adalah nama samaran"ucap Raynare, kedua tangannya terjulur ke pipi Naruto dan memegangnya agar ia bisa lebih fokus melihat wajah panik Naruto, "nama asliku adalah Raynare"lanjutnya.
Raynare? Jadi itu nama aslinya, yah~ tentu saja, mana mungkin pembunuh sepertinya punya nama yang imut seperti Amano Yuuma.
"A-apa mau mu?"meskipun tubuhnya bergetar karena takut, Naruto tetap memutuskan untuk bertanya.
Mendengar pertanyaan itu, Raynare langsung menjilat bibirnya yang masih basah karena ciuman tadi, Naruto yang melihat itu pun merinding, apakah ia menanyakan sesuatu yang salah?
"Aku menginginkan mu"
Kalimat pendek yang Raynare katakan membuat Naruto tersentak, "me-menginginkan ku? Apa maksudmu?"tanya Naruto.
"Kau tau apa maksudku, aku tau kau bukan bocah yang sepolos itu kan, Darling?"ucap Raynare, tangan kirinya mengelus pipi Naruto dengan lembut, sedangkan yang kanan turun ke bawah.
"Hiiii~"
Naruto langsung memegang tangan Raynare yang hampir mencapai selangkangannya, yang tadi itu hampir saja.
"Nfufu~ padahal kau menginginkannya, tapi malah menghentikan ku"ucap Raynare, "jangan begitu, aku tau kau juga sebenarnya sudah tak tahan kan?"
Glup!
Naruto menelan ludahnya, sial! Ia harus segera pergi dari sini, yah memang sih ia senang kalau ada gadis cantik yang menginginkannya, tapi tidak seperti ini juga.
'hm, sudah pagi ya?'
Suara ini, 'Kurama! Syukurlah ternyata kau masih bangun, cepat tolong aku!'ucap Naruto dalam batinnya.
'hoam~ mmmhh~'
'WOI! BANGUN SIALAN! BANTU AKU KELUAR DARI TEMPAT INI! HUARRRRGGHH! HYAARRGGGG!!! HAARRRGGHH!'
'BERISIK! MAU KU BUNUH HAH?!'
'kalau kau ingin aku tidak berisik, cepat bantu aku!'
'ck! Baiklah, sekarang bayangkan saja rumah mu atau tempat lain yang aman'
Naruto pun langsung mengikutinya, ia langsung membayangkan kamarnya, 'terus, apa lagi?'
Kurama yang berada dalam mindscape Naruto duduk bersilah dan menepukkan kedua telapak tangannya.
'Hiraishin!'
"Hiraishin?"tanpa sadar, Naruto menggumamkan kata itu sambil memiringkan kepalanya.
Raynare yang melihat itu juga sedikit bingung, ia juga jadi ikut-ikutan memiringkan kepalanya," Hiraishin?"dan mengulang kembali kata itu.
Swush!
Sebuah shockwave keluar dari tubuh Naruto, Raynare pun langsung terdorong kebelakang dan mendarat di atas meja.
Sring!
Sedangkan Naruto tiba-tiba menghilang dalam kilatan kuning, meninggalkan Raynare yang terlihat bingung dan waspada, namun kemudian sang gadis malaikat jatuh itu kembali ke mode normalnya.
"Yah~ mungkin lain kali"
•
Sring!
Naruto kembali muncul di dalam kamarnya, ia terduduk di kasur dengan kedua tangan yang memegang erat pinggiran kasurnya.
"Kamarku?"
Naruto langsung menengok ke berbagai arah untuk memastikan kalau Raynare tak ada di sini.
"Ha~ah... Untung saja aku bisa lepas darinya"Naruto pun menghela nafas lega mengetahui kalau keadaannya sudah aman.
Bruk!
Naruto menjatuhkan tubuhnya ke kasur, mata birunya memandang ke langit-langit rumahnya, sembari dirinya berpikir.
Akhir-akhir ini... Kehidupannya yang tena- biasa sedikit demi sedikit jadi berubah, semuanya bermula di hari itu, hari dimana ia melihat Issei di bunuh Raynare.
A~h ia lelah, meskipun sebenarnya ia kini tengah lapar, tapi biarlah, ia bisa makan besok, sekarang ia harus istirahat dulu.
Naruto pun menutup matanya dan tertidur, ia sudah tak memikirkan apapun lagi, pokoknya sekarang ia harus tidur.
Sedangkan Kurama yang masih terjaga, ia masih dalam posisi bersila sambil bersedekap, matanya tertutup seolah sedang memikirkan sesuatu.
'sepertinya mereka merasakannya'ucap Kurama sambil membuka sedikit matanya.
Saat melakukan Hiraishin tadi, ia harus menggunakan Chakranya(dalam sekala yang sangat kecil) karena Naruto belum bisa menggunakan Chakranya sendiri, dan tentunya ini berbeda dari sebelumnya, saat ia pertama kali bangkit, Chakra yang Naruto gunakan untuk menggunakan Sharingan adalah murni miliknya sendiri, meski Naruto menggunakannya secara tak sadar.
Ia tidak terlalu yakin soal ini, tapi biasanya, setiap kali ia menggunakan kekuatannya, ras yang tercipta dari serpihan kekuatannya akan ikut merasakannya.
Mereka adalah ras Yokai, kemungkinan besar mereka pasti merasakannya, terlebih kesembilan Bijuu yang merupakan pecahan langsung dari kekuatannya.
Yah~ tak perlu ia pikir dengan serius juga, mereka tak akan berani mengusiknya, sekarang lebih baik ia juga tidur dan menyusul Naruto.
•
Masih di malam hari yang sama, kini berpindah ke sebuah kamar dimana di atas kasur ada seorang gadis tengah tertidur lelap.
Namun tiba-tiba matanya terbuka, menampakan mata berwarna emas dengan pupil hitam vertikal yang sesaat kemudian berubah menjadi bulat.
Gadis dengan rambut putih pendek itu langsung bangun dan terduduk, dirinya termenung memikirkan sesuatu.
Ia tadi tiba-tiba merasakan sebuah gejolak energi dalam skala kecil, energi yang entah kenapa membuatnya merasa rindu, seolah-olah pemilik energi ini adalah orang yang sangat penting dalam hidupnya.
Keuda tangan mungilnya ia letakkan di depan dadanya, "yang barusan itu apa?"ucapnya.
Entah apa yang terjadi, Koneko merasa kalau hal ini sangat penting baginya dan ia tak boleh mengabaikan hal ini.
Hal yang sama juga dirasakan oleh Yokai yang lainnya, baik mereka yang masih terjaga ataupun yang sudah terlelap, semua merasakannya.
Bahkan saat ini sang ratu Yokai, yang memimpin seluruh Yokai di Kyoto juga ikut termenung ketika merasakannya, ia berdiri di dekat jendela sambil memandang bulan yang sudah dalam fase purnama.
"Ibu"
Yasaka menengok ke arah putrinya, sepertinya Konou juga merasakan hal yang sama, Yasaka pun langsung memeluk putrinya.
"Ayo kembali ke tempat tidur"bisik Yasaka dengan lembut.
"Yang tadi itu apa?"Konou yang penasaran pun langsung bertanya, "apa ibu juga merasakannya?"lanjutnya.
"Ya, ibu juga merasakannya"Yasaka kembali memandang bulan, "kita semua bisa merasakannya, putriku"
•••
Hari sudah berganti dan kini sudah pagi, Kembali ke Naruto yang masih terlelap dalam tidurnya, sampai akhirnya sebuah cahaya matahari yang menyelinap ke kamarnya lewat celah jendela menerangi area wajahnya.
Naruto yang merasa terganggu pun memulai gusar dan membuka matanya perlahan, sampai mata biru itu terbuka sepenuhnya.
"Hoaahh~"
Ia bangun dan duduk di kasurnya sambil menggeliat dan merenggang tangannya, Yah~ Naruto tak mengharapkan hari yang indah karena kehidupannya sudah berubah.
Clack!
Dengan malas ia menengok ke arah jam dinding, ia menghela nafas lelah, jam-nya menunjukkan pukul 10, itu sudah sangat terlambat untuknya pergi ke sekolah, jadi sebaiknya ia membolos sajalah.
'Naruto'
'Kurama? Ada apa?'
'sepertinya kau tidak akan berangkat ke sekolah, hari ini'
'yah, begitulah~'
'kalau begitu, ini waktu yang tepat"
'untuk?'
'tentu saja untuk melatih kekuatan mu, kau tidak bisa terus-terusan jadi makhluk yang menyedihkan seperti ini'
Naruto melihat ke arah kedua tangannya dan mengepal-ngepalkannya, 'apa aku benar-benar bisa menggunakan kekuatan yang seperti itu, Kurama?'
'ya, tentu saja kau bisa'
'bisa kau kasih tau alasannya?'
'karena aku percaya padamu, aku tau kau bisa melakukannya'
Naruto tersenyum tipis, entah kenapa ia jadi malu sendiri ketika di puji seperti itu, "Yosh! Ayo kita mulai!"
•
Tap Tap Tap
"Aku pikir tadi mau latihan seperti apa"ucap Naruto.
Ia kini sedang berjoging, setelah bangun tadi ia langsung mandi, berganti pakaian dan makan, ia memakai jaket berhoodie untuk menutup kepalanya.
Tentu saja agar terhindar dari pihak yang berwajib, jika mereka melihatnya berkeliaran di jam segini, ia pasti akan di paksa masuk ke sekolah.
'untuk awalan, sebaiknya latihan ringan dulu, kita harus melatih tubuh lembek mu agar bisa menjadi wadah yang kuat untuk kekuatan ku'
'meskipun itu benar, kata-kata mu menyakiti harga diri pria ku'balas Naruto, Naruto masih berlari, dan entah karena ia tidak melihat atau apa...
Bruk!
"Aduh!"
Naruto menabrak seseorang, acara lari Naruto tentu saja terhenti karena itu, tapi ia masih berdiri, hahaha... Ternyata tubuhnya cukup kuat, ia tetap berdiri tegak meski habis menabrak orang.
Naruto kemudian mengalihkan pandangan ke orang yang di tabrak... nya... ternyata cewek toh, pantesan rasanya ringan banget dan wah... Cewek ini sepertinya bule dari luar Negeri.
Naruto pun mengulurkan tangannya, "etto... Are you alright, lady?"tanya Naruto.
Gadis bule itu pun menerima uluran tangan Naruto dan berdiri, "saya bisa bahasa Jepang kok"ucapnya sambil tersenyum, "dan saya baik-baik saja, terima kasih"
"Ahaha... Tentu saja ya"Naruto yang jadi grogi hanya menggaruk belakang kepalanya, "maaf karena sudah menabrak mu"ucap Naruto dengan sedikit menundukkan kepalanya.
"Ya, tidak apa-apa"gadis itu pun memaafkannya, "anu... Kalau boleh, bisakah saya meminta bantuan?"tanya sang gadis.
"Eh? Ah! Tentu saja, dengan senang hati"ucap Naruto, 'hohoho... Jarang-jarang bisa deket sama cewek bule'batinnya, "baiklah, apa yang harus ku bantu?"
"Saya sebenarnya sedikit tersesat saat sedang menuju ke Gereja, bisakah anda mengantar saya ke sana?"ucap gadis itu.
"Gereja... Ah! Ya, ada satu yang ku ingat!"ucap Naruto, 'tapi bukannya Gereja itu sudah tidak terpakai'batinnya bingung.
"Syukurlah anda tau, kalau begitu, mohon bantuannya"ucap sang gadis.
"Ah ya, silahkan ikuti aku"Naruto pun langsung berjalan ke arah tujuan di ikuti oleh kenalan barunya itu, "oh ya, mungkin sedikit terlambat, perkenalkan, nama ku Naruto"ucapnya.
"Nama saya Asia Argento, anda bisa memanggil saya Asia"
•
'si tolol ini... Bagaimana dengan latihannya?!'
•
Beralih ke Gereja yang di tuju Naruto dan Asia, di dalam Gereja itu terdapat sekelompok orang... Ah tidak mereka bukan orang, lebih tepatnya sekelompok malaikat jatuh, termasuk Raynare.
"Onee-sama! Aku dengar si Sister itu akan sampai ke Gereja ini sebentar lagi, apa yang harus kita lakukan?"
Mittelt, seorang malaikat jatuh yang berperawakan kecil itu bertanya pada Raynare, yang di tanya pun menoleh kearah gadis berambut pirang twintail itu.
"Hm... Kira-kira apa ya~"
Raynare tidak memberikan Jawaban pasti, ia sengaja membuat Mittelt penasaran, "Mou~ Onee-sama~ ayo kasih tau aku~"Mittelt pun merengek sambil memegang tangan Raynare, ia memang paling tidak suka di buat penasaran.
"Bukannya sudah jelas kalau kita akan mengambil SacredGear-nya?"
Kali ini malaikat jatuh lain ikut berbicara, ia terlihat memakai pakaian kerja wanita kantoran yang ketat, memiliki rambut hitam panjang yang poninya menutupi sebelah matanya.
"Eh?! Yang benar, Nee-Nee?"Mittelt berbalik dan bertanya pada Kalawarner, yang tadi menjawab rasa penasarannya.
"Ya, kan Ray?"Kalawarner pun memastikannya dengan langsung bertanya pada Raynare.
"Yah~ Tujuan awalnya sih seperti itu"Raynare memandang ke atas, "tapi aku sudah tidak tertarik dengan hal itu"
"Kenapa? Apakah ada sesuatu yang lebih menarik dari ini?"Kalawarner ingin tau, hal menarik apa yang membuat Raynare merubah keinginannya.
"Ya, sesuatu yang sangat menarik, dan aku sangat menginginkannya"Raynare terlihat bersemu ketika mengatakannya.
Mittelt dan Kalawarner yang melihat ekspresi Raynare seperti itu untuk yang pertama kali pun terkejut dalam diam, tidak mungkin... Jangan-jangan...
"Yosh! Karena sekarang masih pagi, sebaiknya kita bereskan dulu tempat ini agar terlihat rapi"ucap Raynare, "tentu saja kau juga ikut, Dohnasek!"lanjut Raynare sambil menatap malaikat jatuh laki-laki yang dari tadi cuma berdiri sambil bersandar di dinding yang tertutup bayangan.
"Ba-baiklah"
•
Kembali ke Naruto dan Asia, kini mereka berdua telah sampai di depan Gereja setelah cukup lama berjalan.
"Terimakasih banyak atas bantuannya dan maaf jika merepotkan"
Asia pun berterima kasih pada Naruto dengan sopan, gas biarawati itu tersenyum lembut pada Naruto.
Sedangkan Naruto sendiri, hanya tersenyum sambil menggaruk belakang kepalanya, " ahaha~ bukan apa-apa kok"
Meski begitu, sebenarnya Naruto sedikit agak bingung, setau-nya Gereja ini sudah tua dan tak layak untuk di huni, tapi sekarang terlihat begitu bagus seolah baru dibangun.
Dan entah kenapa, perasaannya jadi tidak enak, ia merasa ada sesuatu yang ia tau berada di dekatnya, sesuatu yang berbahaya baginya.
"Anu... Apa anda mau mampir sebentar untuk minum teh?"Asia pun menawarkan Naruto agar beristirahat dulu sebentar.
"A-ah~ aku sebenarnya masih ada urusan, jadi mungkin lain kali saja"Naruto menolak dengan halus, ia mengikuti firasatnya untuk tak masuk ke Gereja itu.
"Begitu ya... Baiklah, semoga harimu menyenangkan~"ucap Asia, gadis itu pun langsung berjalan ke arah Gereja, sedangkan Naruto, ia langsing berjalan cepat menjauhi tempat itu.
Tidak, ia bukannya punya masalah dengan Gerejanya atau apa dengan tempat itu, hanya saja ia merasa kalau sesuatu yang ada di dalam Gereja itu membuatnya tak nyaman.
•
Beralih ke Kyoto, kini para petinggi Yokai tengah berkumpul di suatu tempat, termasuk Yasaka yang kini sedang membaca sebuah dokumen dengan serius.
"Jejak energi itu ditemukan pada sebuah klub malam di daerah Kuoh, apa hanya ini yang bisa kita dapatkan?"
Yasaka meletakkan dokumen itu ke meja dan bertanya, salah satu Yokai di sana pun menjawab.
"Ha'i, Energi itu hanya muncul selama 3 detik kemudian menghilang"
Yasaka memijit pelipisnya mendengar itu, dasar payah! Padahal ini sangat penting, Energi ini jelas milik 'beliau', jika mereka bisa menemukan-nya, ras Yokai pasti akan berjaya, mereka tak perlu lagi takut akan teror dari ras lain.
Yasaka sebenarnya sudah muak dengan semua ini, ras Vampir menjadikan rasnya sebagai ternak, ras iblis mempermainkan rasnya untuk dijadikan budak dan lain sebagainya.
Jauh dalam lubuk hatinya, Yasaka sebagai pemimpin tentunya ingin agar ras yang ia pimpin bisa hidup dengan bebas.
"Tengu!"
"Ha'i!"
Yasaka menautkan kedua tangannya dan menaruh sikunya di meja, "panggil dia kemari, aku ingin memberinya misi"
"Maksud anda... Apakah?!"
"Ya, Tyuele, Assassin terhebat kita, aku akan memberinya misi untuk menyelidiki hal ini"
•••
"Kurama-sama~ Aku mohon maaf! Aku tak akan mengulanginya lagi! Aku berjanji!"
Saat ini Naruto dalam mindscapenya sendiri tengah bersujud pada Kurama yang tertidur dihadapannya.
Kurama tak merespon, ia masih tetap tak bergeming sedikitpun dari tempatnya, yah bagaimana ya bilangnya, mungkin bisa di bilang kalau si ekor sepuluh ini sedang kesal.
Padahal tadi Kurama serius ingin melatih Naruto, meski latihannya dimulai dari hal yang paling dasar, tapi Naruto malah menyepelekannya dan lebih memilih jalan berdua dengan seorang gadis.
Hmph! Benar-benar mengecewakan, sekarang mood Kurama untuk melatih inangnya sudah hancur, Kurama akan mendiamkan si kuning ini untuk sementara waktu.
Kurama yang sudah merasa jengah dengan rengekan Naruto pun mengibaskan ekornya ke arah remaja itu sampai terlempar.
"Aaaaaaa~"
Naruto membuka matanya, dan mendapati dirinya masih berada di taman tempat ia beristirahat tadi setelah pergi dari Gereja, terlebih ini sudah malam.
Ini hebat, maksudnya... Ia duduk dari pagi loh, dan tak ada seorangpun yang mengganggunya, bukankah itu luar biasa? Mungkinkah ia sudah menguasai kemampuan untuk menghilangkan hawa keberadaan?
Hahaha~ ha~ ha~ah~
Sepertinya percuma saja menghibur diri sendiri dengan memikirkan hal bodoh, ini salahnya juga karena meninggalkan latihan, ia juga tidak menyangka kalau Kurama akan ngambek.
Pandangan Naruto beralih ke langit malam, hari ini... Ia tidak bertemu dengan orang-orang yang aneh seperti kemarin, Naruto penasaran dengan jari esok.
"Bulannya indah sekali ya..."
Entah kepada siapa Naruto bicara, ia mengucapkan kalimat itu selagi matanya terfokus pada sang rembulan.
"Ya"
"Huwa!"
Naruto langsung tersentak kaget ketika ada yang menyahut ucapannya, ia reflek menengok ke kirinya dan mendapati seorang gadis dengan rambut putih.
"Loh?! Koneko-chan?! Fyuh~ ternyata orang- Tidak! Tidak! Koneko-chan, apa yang kau lakukan malam-malam begini di sini?"
Koneko, yang tadi tiba-tiba muncul di kiri Naruto memandang remaja pirang itu dengan pandangan yang nampak polos.
"Naruto-senpai mengenal ku?"bukannya menjawab, Koneko malah bertanya balik pada Naruto sambil memiringkan kepalanya.
"A-ah! Tentu saja! Hampir semua orang di sekolah kita mengenal mu"jawab Naruto, ia terlihat bersemu ketika melihat wajah imut Koneko, "o-oh ya, Koneko-chan juga... Tau namaku dari mana?"
"Eh?! Senpai tidak tau, padahal Senpai cukup terkenal"ucap Koneko.
"Aku, terkenal?"tanya Naruto sambil menunjuk dirinya.
"Ya, soalnya Senpai sering terlihat bersama si trio mesum itu, makanya Senpai jadi cukup di kenal oleh banyak orang di sekolah kita"Koneko pun menjawab.
"Be-begitu ya..."Naruto jadi berkeringat ketika memikirkan kemungkinan yang buruk, 'jangan-jangan... Aku disamakan dengan 3 orang konyol itu'
"Ya, dan soal pertanyaan Senpai tadi..."Koneko kemudian mendekatkan tubuhnya pada Naruto, "apakah... Senphai... mau... tauh...?"bisik Koneko tepat di telinga kiri Naruto, ucapan dari gadis itu juga diselingi sedikit desahan.
Naruto yang mendengarnya langsung memasang ekspresi horor, matanya melirik ke samping kiri dimana Koneko berada, oh shit! Naruto baru sadar kalau pandangan mata Kouhainya ini terlihat kosong.
Bruk!
"Huwa!"
•
•
•
•
•
Bersambung~
up gan!
