Masih di taman dan malam yang sama, kini Naruto duduk dengan tenang di bangku taman, sedangkan Koneko sudah terlelap, kepalanya Naruto pangku dengan pahanya.

Entah kenapa tiba-tiba Koneko jadi beringas dan tidak lama setelahnya malah hilang kesadaran, sial! Itu benar-benar kesempatan langka untuk di serang oleh loli imut seperti Koneko.

'Hoi, Naruto!'

'ah! Kurama! Ada apa? Kupikir tadi kau akan mendiami ku'

'niat ku memang begitu' Kurama terlihat menajamkan matanya dari dalam mindscape Naruto, 'tak ada waktu lagi, aku akan mengambil alih tubuh mu untuk sementara'

'mengambil-apa?!'

Tubuh Naruto langsung menegang, wajahnya yang tadi terlihat kalem dan bersahabat menjadi datar, sepasang matanya sudah berubah menjadi Sharingan sempurna dengan 3 tomoe yang bergerak pelan mengitari pupil, rambut pirangnya berubah menjadi hitam secara perlahan, dan muncul 3 pasang garis di pipi, layaknya kumis rubah.

Sekarang, Kurama-lah yang memiliki kesadaran akan tubuh Naruto, sang ekor sepuluh itu langsung melakukan apa yang sebelumnya Naruto lakukan, yaitu menatap ke atas.

Namun tidak seperti Naruto, fokusnya tidak terarah pada sang rembulan, melainkan pada seorang gadis yang melayang membelakangi bulan, gadis loli imut dengan rambut hitam, mata ungunya menatap kearah Sharingan-nya.

Kemudian secara perlahan, gadis kecil itu turun dari ketinggian dan menapak ke dasar, tepat di hadapannya.

"Sudah lama sekali ya, Kurama"senyum kecil tercipta di wajah manis itu ketika menyapa Kurama.

"Ophis... Langsung menemukan ku huh?"ucap Kurama, matanya masih setia memandang gadis di hadapannya yang tak lain adalah Ophis, sang Ouroboros Dragon, "kau benar-benar tidak berubah"lanjutnya.

Senyum Ophis semakin mengembang ketika mendengar itu, ia memiringkan kepalanya dan menautkan kedua tangannya di belakang.

"Aku kan sudah bilang, aku akan selalu menemukan mu dimanapun kau berada"ucap Ophis.

"Lalu? Alasan apa yang membuat mu datang menemui ku secara langsung seperti ini?"tanya Kurama.

Ophis yang mendengar pertanyaan itu memasang wajah bingung, ia tidak tau alasan apa yang di maksud Kurama, pasalnya ia kesini karena merasakan auranya, itu saja.

"Em... Aku juga tidak tau, aku reflek ke sini saat merasakan aura mu"ucap Ophis, "ah, tapi kalau kau masih ingin menanyakannya, aku-"

"Tidak akan!"Kurama langsung memotong perkataan Ophis, entah kenapa ia tau apa yang mau di utarakan Ophis.

"Aku belum selesai bicara"Ophis sedikit menggembungkan pipinya ketika perkataannya di potong, yah~ wajahnya menampilkan ekspresi datar lagi sih.

"Ck! Kau tadi pasti mau bilang sesuatu seperti membuahi telur mu atau semacamnya kan? Dan jawaban ku tetap sama, tidak"ucap Kurama.

"Memang apa masalahnya? Kau hanya perlu melakukannya dan aku tak akan mengganggumu lagi, Kurama"ucap Ophis, "dan juga..."

"... Siapa kucing garong yang tidur di pangkuan mu itu?!"

Wajah Ophis terlihat semakin datar, poninya membayangi mata, dan tatapan kosongnya menatap tajam ke arah Koneko yang masih terlelap.

"Oi! Tenanglah! Kucing kecil ini adalah juniornya inang ku!"ucap Kurama, ia sedikit berkeringat, jika Ophis mengamuk bisa gawat.

Dari dulu memang seperti ini, semenjak Ophis tertarik padanya, jika ada betina lain yang berdekatan dengannya pasti Ophis akan seperti itu, atau lebih mudahnya di sebut cemburu.

Dan juga kalau Ophis mengamuk, ia tak akan bisa apa-apa, itu karena tubuh Naruto masih belum bisa menampung seluruh kekuatannya, jadi kalau sampai ia bertarung dengan naga betina yang satu ini, sudah di pastikan kalau ia akan kalah.

"Hm..."Ophis menyipitkan matanya yang kini menatap Kurama, ia ingin tau apakah Kurama berbohong atau tidak.

Namun pada Akhirnya Ophis mendengus puas karena apa yang Kurama katakan adalah yang sejujurnya, "Hmph, Begitu ya"senyum tipis pun tercipta di wajah imut Ophis, kepalanya mengangguk-angguk pelan seolah baru saja memahami sesuatu.

Kurama bernafas lega ketika mendapatkan reaksi itu dari Ophis, sial! Mengetahui dirinya yang merupakan si ekor sepuluh membuat alasan agar terhindar dari pertarungan membuatnya agak kesal.

"Ophis"melihat situasi yang sepertinya sudah tenang, Kurama memanggil Ophis.

"Hm?"Ophis tentunya merespon panggilan dari Kurama.

"Bisakah aku minta tolong?"

Ophis sedikit tertegun mendengar itu, ini pertama kalinya Kurama meminta tolong kepadanya, mengetahui hal itu membuat Ophis senang tentunya.

"Tentu saja, katakan! aku akan melakukannya!"jawab Ophis, terlihat senyum manisnya kian mengembang dengan pipi yang agak memerah.

Kurama sedikit berkeringat melihat reaksi Ophis yang tiba-tiba terlihat begitu antusias, "ini bukan hal yang sulit, aku hanya ingin kau menjaga inang ku selama seminggu"ucap Kurama.

"Hanya itu?"Ophis terlihat bingung dengan permintaan Kurama yang teramat mudah itu, "dan juga kenapa aku harus menjaganya? Kan sudah ada kau"ucap Ophis.

"Di situlah letak masalahnya, meski aku berada dalam tubuh anak ini, aku tidak bisa menggunakan kekuatan ku sepenuhnya, bahkan sekarang pun aku belum bisa menggunakan 3% dari seluruh kekuatan dengan tubuh ini, dan karena itulah, aku akan melakukan penyatuan dengan bocah ini"jelas Kurama.

"Baiklah, aku tidak masalah, toh cuma seminggu"ucap Ophis, "apakah aku akan menunggu lama lagi... Setelah ini?"tanya Ophis kemudian, ia agak terlihat sedih.

"Tenang saja, saat aku menyatu dengan inang ku, itu berarti kami akan menjadi satu individu, sifat, ingatan, pengalaman, dan kekuatan kami akan menyatu, jadi, aku akan tetap menjadi Kurama yang kau kenal, Ophis"ucap Kurama, menjelaskan lagi.

"Kalau begitu, aku ingin kau membuat janji"ucap Ophis, ia sedikit mengembalikan senyumnya.

"Apa?"

"Peluk aku saat kau bangun nanti"

~•~

Dan di sinilah, Naruto(Kurama) sekarang, dengan kesadaran yang sengaja di hilangkan, ia terlelap di atas kasurnya, dan sebagai tambahan, Ophis dan Koneko ada di sisi kanan dan kirinya.

Untuk Koneko, karena Kurama tidak tau dimana rumah kucing kecil ini, maka ia memutuskan untuk membawanya, toh meskipun sudah jadi iblis, gadis ini masihlah setengah Yokai, dan ia sebagai Ayah dari para Yokai, juga tak keberatan untuk berbagi tempat dengan anak-anaknya.

Sedangkan Ophis, tak perlu di tanyakan lagi, ia ikutan tidur dan terlebih sambil memeluknya, itu ia lakukan karena keegoisannya sendiri.

"Emh~"

Koneko mulai menunjukkan tanda-tanda akan bangun, ia melenguh pelan dan sedikit demi sedikit membuka matanya.

'sudah pagi ya? Entah kenapa rasanya kemarin aku melakukan sesuatu, tapi aku lupa'

Mungkin karena baru bangun tidur, Koneko tidak sadar kalau ia tengah memeluk tubuh seorang laki-laki.

'bantal guling ku... rasanya aneh...'Koneko pun mulai meraba 'bantal guling'-nya karena penasaran, 'tidak... Tunggu... Ini kan...'

Whug!

Koneko secara reflek langsung bangkit dan terduduk ketika tau kalau yang ia peluk bukanlah bantal guling melainkan tubuh, terlebih tubuh seorang laki-laki.

'semalam... Apa yang aku lakukan? Kenapa aku tidur dengan laki-laki yang tidak ku kenal?'

Koneko Kemudian memberanikan diri untuk melihat wajah laki-laki yang tidur dengannya itu.

'eh?! Naruto-senpai?'

Tepat setelah matanya melihat Naruto, pupil mata Koneko yang tadinya bulat menjadi tipis, seperti iris mata kucing.

Koneko tanpa sadar mendekatkan wajahnya ke wajah Naruto, bahkan hidungnya berkedut seolah mencium sesuatu.

"Tidak! Apa yang kulakukan?!"ucap Koneko dengan suara yang lirih, ia menggeleng kepalanya dengan kuat, wajahnya juga terlihat sedikit merah.

Glup!

Ia menelan ludahnya sendiri, "i-ini bukan tindakan me-mesum! Aku hanya mengeceknya, apakah orang ini benar-benar Naruto-senpai atau bukan, ya! Seperti itu!"ucap Koneko pada dirinya sendiri.

Puk!

Jika Koneko benar-benar hanya ingin mengeceknya lewat bau, seharusnya ia melakukannya dari jarak aman, tapi sekarang Koneko malah menempelkan hidungnya ke pipi Naruto, Ia bahkan menekan wajahnya sampai membuat kepala Naruto sedikit bergeser.

(Snif!) (Snif!)

Koneko menghirup dalam-dalam aroma tubuh Naruto, kemudian beberapa saat kemudian ia sedikit menjauhkan wajahnya.

"Hah... Hah... Hah..."wajahnya terlihat merah dan ia terengah-engah, satu lengannya menutup mulutnya.

Klik!

Koneko tersentak kaget ketika mendengar sebuah suara, ia lantas menengok ke kiri dan mendapati seorang gadis kecil yang tengah memegang smartphone dengan kamera yang terarah padanya.

"Kau... A-apa yang kau- siapa kau?!"Koneko yang panik pun langsung bertanya dan berusaha mengambil smartphone itu.

Tentu saja gadis kecil itu, yang tak lain adalah Ophis tak membiarkannya, Ophis menggunakan sihirnya untuk mengekang pergerakan Koneko.

Tubuh Koneko pun diam tak bergerak, namun bisa di lihat kalau gadis itu berkeringat dingin, pasalnya Koneko merasakan hawa keberadaan kuat dari seekor Naga, dan itu ada di depannya.

"Dengar ya, kucing kecil, kau kubiarkan hidup, tak lain adalah untuk kepentingan ku"ucap Ophis, "jadi diam saja dengan manis dan turuti aku!"lanjutnya.

~•~

Koneko sekarang sudah berada di depan gerbang Sekolahnya, ia termenung di depan gerbang yang terbuka lebar itu dengan kepala menunduk.

'jangan mengatakan apapun soal Naruto ataupun aku, jika sampai kau melakukannya, kau akan mendapatkan hukuman dan aku juga akan mempublish rekaman mu tadi ke internet, camkan itu!'

Itulah yang di ucapkan oleh sang Ouroboros Dragon kepadanya, ia bingung, haruskah ia menurutinya, kalau begitu sama saja ia mengkhianati Rias-Bochou.

Tapi kalau ia mengatakannya, ia pasti akan mengalami sesuatu yang buruk, dan mungkin akan melibatkan orang-orang yang ada di sekitarnya.

Koneko kemudian melihat ke arah surat yang ia pegang, ini adalah surat izin Naruto untuk absen selama 10 hari.

"Ha~ah... maafkan aku, Bochou"

~•~

7 hari sudah berlalu, kini Naruto sudah membuka matanya, mungkin karena ia baru bangun tidur, ia masih malas untuk bergerak dan hanya rebahan meski sudah bangun.

Bagi Naruto ini sudah lama sekali, apa benar ini baru 7 hari? Padahal ia menghabiskan waktu di dalam dirinya bersama Kurama selama 700 tahun, yah~ Kurama sudah menjelaskan soal perbedaan waktunya sih.

700 tahun itu ia gunakan untuk mengingat dan memahami, segala pengalaman dan ingatan yang sudah di lalui oleh Kurama selama dia hidup.

Itu benar-benar menyakitkan, ia sempat gila dan kehilangan emosinya untuk berkali-kali ketika melalui itu, tubuhnya di rantai dan dipasangi segel untuk menahan itu.

Namun sekarang semua itu sudah selesai, dan sekarang, ia sudah menjadi sebuah individu yang merupakan satuan dari Naruto dan Kurama.

Emm... Jujur saja ia sedikit bingung, yang sekarang mengambil alih kesadaran Naruto atau Kurama? Tapi karena sekarang ia akan hidup dan berbaur dengan manusia, maka sebaiknya ia menggunakan nama Naruto.

Haa~h, sebaiknya ia bangun, ia masih punya janji yang harus ditepati, Naruto kemudian bangun dan keluar dari kamarnya.

~•~

"Hm~ Hm~ Hm~"

Di dapur rumah Naruto, terlihat Ophis tengah memasak sambil bersenandung, ia terlihat begitu senang sampai ada senyum tipis melekat di bibirnya yang biasanya datar.

Ia juga mengganti pakaiannya, jika biasanya ia pakai gaun gothik hitam, kini ia hanya memakai kaos putih oblong dan rok pendek berwarna hitam, di tambah ia juga sedang memakai celemek berwarna oranye karena sedang memasak.

Alasan Ophis melakukan semua hal ini cukup sederhana, itu karena Kurama tersayangnya akan bangun hari ini, untuk itu ia harus bisa lebih berekspresi dan terlihat lebih menarik.

"Hey..."

Mendengar panggilan lembut dari belakangnya, Ophis berhenti sejenak dari kegiatannya, namun tak lama kemudian kembali melanjutkan, terlihat senyum di wajahnya semakin manis.

Naruto, yang barusan memanggil pun mendekat ke Ophis dan langsung memeluknya dari belakang dengan lembut.

"Aku sedang memasak"

"Dan aku sedang menepati janji"

~•~

Bruk!

"Argh!"

Suara teriakan yang penuh rasa sakit itu menggema di dalam salah satu ruang di sebuah gedung tua yang terbengkalai.

"Jadi, apa kau melihatnya?"

"Tidak! Aku benar-benar tidak tau apa-apa, melihat yang sembilan ekor saja aku belum pernah, mana mungkin aku bisa melihat yang ekornya sepuluh!"

Crash!

"Grkh!"

Mendengar jawaban yang tidak ia inginkan, ia langsung menyayat leher lawan bicaranya sampai putus.

"Tidak berguna"

Sebenarnya ini salahnya juga, menanyakan hal sepenting itu pada seekor iblis liar rendahan, mana mungkin akan berhasil.

Ini menyedihkan, padahal sudah seminggu ia melakukan pencarian, tapi ia masih tidak menemukan petunjuk apapun, satu-satunya hal yang menjadi petunjuk adalah jejak Chakra di bar itu.

Ia sudah menyelidikinya, mencari tau siapa saja yang datang ke bar pada saat itu, ia juga menginterogasi para pelayan dan penjaganya, namun... Sepertinya ada sesuatu yang aneh.

Orang-orang yang datang ke tempat itu semuanya hanya manusia biasa, tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan keberadaan targetnya.

Terlebih sikap para penjaga serta pelayan di sana, mereka seperti tak mengingat apa yang terjadi saat itu, mereka seolah sudah melewati ingatan satu hari.

"Aku tidak boleh pulang sebelum menemukan Juubi-sama, ha~h ini sangat melelahkan"ucapnya.

Tyuele tidak mengira akan sesulit ini, biasanya ia melakukan pekerjaannya dengan cepat dan rapih, tapi kali ini sepertinya ia harus berusaha keras, sangat keras.

Pokoknya, tidak boleh ada kegagalan dalam misinya ini, ia harus menemukan Dia dan mengantarnya ke Kyoto, dengan itu... Mungkin rasnya bisa jadi lebih bebas.

~•~

"... Neko-chan!"

"Koneko-chan!"

Koneko langsung sadar dari lamunannya dan menengok ke arah ketua klubnya, Rias Gremory, ah... yang lain juga kini sedang memperhatikannya.

"Ada apa, Bochou?"tanya Koneko dengan datar seperti biasa.

Rias berdiri dari tempat duduknya dan berpindah ke samping Koneko, ia kemudian menepuk pucuk kepala Koneko dan mengelusnya dengan lembut.

"Koneko-chan, akhir-akhir ini kau terlihat agak aneh, apa ada sesuatu yang terjadi?"tanya Rias.

Koneko tak menjawab, ia hanya diam dan menatap ke bawah, ia terlihat meremas roknya dengan kedua kepalan tangan mungilnya.

Tentu saja hal itu di sadari oleh semuanya, bahkan Issei yang kecerdasannya sedikit di bawah standar langsung menyadarinya.

"Anu... Koneko-chan, kalau ada yang bisa ku bantu, aku pasti akan melakukannya"ucap Issei.

"Benar, kau tidak perlu ragu untuk mengatakannya, kita semua keluarga disini"ucap Akeno menimpali.

Sedangkan Kiba hanya tersenyum dengan mata yang menyipit ala ikemen seperti biasanya, tentu saja sebagai senior ia akan membantu kohainya.

Mendengar kata-kata dari seluruh anggota klub yang sudah ia anggap keluarga itu, malah membuatnya semakin merasa tak enak, ia memang sebenarnya ingin mengatakan soal Naruto-senpai dan Ophis, tapi bagaimana?!

Ah! Sebuah ide terlintas di dalam pikirannya, jika ia mengatakannya setidaknya ini bisa menjadi petunjuk untuk yang lain.

Kemudian Koneko mengubah gestur tubuhnya, ia jadi sedikit menunduk, mencoba untuk terlihat seperti orang yang tengah malu, dan ia juga memainkan jari-jari tangannya.

"A-aku... Sedang menyukai seseorang"ucap Koneko, ia mengatakannya dengan suara lirih, tapi ia juga memastikan semuanya mendengarnya.

"Hm?"Rias nampak terkejut, namun kemudian ekspresinya melunak, "duh~ jangan membuat kami khawatir dong, kenapa tidak mengatakannya dari dulu~"ucap Rias, ia juga jadi semakin gemas memainkan rambut Koneko.

"Nfufu~ ternyata begitu~"Akeno hanya tertawa dengan anggun, "jadi, siapa lelaki yang sudah meluluhkan mu ini?"tanya Akeno.

Kiba masih tersenyum, entah kenapa ia masih tahan dengan ekspresi itu, meski sekarang matanya sudah terbuka, mungkin karena terkejut.

Tak beda dengan yang lainnya, Issei juga terkejut, malah bisa di bilang, ia adalah orang yang paling terkejut di sini, maksudnya- ini Koneko loh, cewek yang selalu bersikap dingin dan cuek, tiba-tiba jatuh hati kepada seseorang, WTF?!

Oke, sekarang Issei jadi penasaran, siapa gerangan lelaki yang bisa mendapatkan hati Koneko, mari dengarkan dengan baik.

"Itu..."Koneko menahan ucapannya, ini tidak melanggar perintah Ophis, jadi ia tidak salah.

"aku menyukai Naruto-senpai"

~•~

"Ada apa, Kurama?"Melihat Naruto yang tiba-tiba terlihat aneh, Ophis pun bertanya.

"Ah tidak, aku cuma sedikit merinding tadi, sepertinya ada yang sedang membicarakan ku"ucap Naruto.

"Hm..."mata Ophis terlihat menyipit, ia terlihat memikirkan sesuatu.

'apa gadis kucing itu melakukan sesuatu?'Ophis jadi curiga, ia berpikir Koneko mungkin melakukan sesuatu.

"Oh ya, ngomong-ngomong, tolong panggil aku Naru kalau ada banyak orang di sekitar kita, dan kau bisa memanggilku Kurama jika kita hanya berdua"ucap Naruto.

"Emh!"Ophis hanya mengangguk dengan imut sambil mengunyah makanannya, "setelah ini aku akan pergi sebentar untuk mengecek kelompok ku"ucap Ophis.

"Kelompok?"Naruto mengerutkan dahinya, jika berdasarkan ingatan Kurama, Ophis itu bukan tipe yang suka mengikuti orang lain ataupun di ikuti.

"Chaos Bridge"

~•~

Tap

Naruto kini berada di depan Gereja, mumpung ia punya banyak waktu luang (walaupun biasanya juga begitu), ia ingin mengecek seorang biarawati yang ia antar ke Gereja ini sebelumnya.

Hm... Gereja ini tampak lebih baik dari sebelumnya, padahal seminggu lalu tempat ini terlihat seperti tidak terawat selama bertahun-tahun.

Tok Tok Tok

Tidak, kenapa ia malah mengetuk pintu, biasanya orang langsung masuk, Naruto pun hendak langsung masuk, namun ia berhenti ketika pintunya di buka oleh seseorang.

Seseorang yang menjadi awal dari kebangkitannya, yang menarik keluar kekuatannya saat ia berada dalam keadaan hidup dan mati.

"Raynare"

Tidak seperti waktu lalu, Naruto bersikap tenang, malahan ia tersenyum ketika melihat gadis malaikat jatuh itu.

"Ara~ lihat siapa yang datang"Raynare juga nampaknya senang melihat Naruto, meski sekarang ia bersikap lebih tenang, ya, Raynare merasakannya, hawa keberadaan yang sangat kuat dari pria di depannya ini, jadi ia memutuskan untuk tidak bertindak gegabah.

Untuk beberapa saat mereka terdiam, baik Naruto maupun Raynare, dua-duanya masih saling senyum dan menatap tanpa ada yang mau mengalah, namun kemudian, seringai kecil nampak di wajah Naruto.

Tep

Sret-

Cup!

Dulu, Raynare lah yang memulai, namun kini, Naruto dengan berani mendahuluinya, ia menarik pinggul gadis malaikat jatuh itu dan menciumnya, tangannya menekan tenguk gadis itu agar tak lepas.

"Hmmhp~"

Raynare sepertinya hendak melepasnya, Namun Naruto masih memeluknya erat dan malah memperdalam ciumannya, khahaha~ sekarang situasi terbalik, itulah yang Naruto pikirkan.

"Puah!"

Raynare terlihat mengambil nafas ketika Naruto melepaskannya, "Hah... Hah... Hah... Kau... Beraninya..."ucap Raynare dengan agak terengah.

Naruto yang masih memeluknya hanya tersenyum, "apa? Bukannya kau yang bilang kalau kau menginginkanku?"ucap Naruto.

Raynare tak membalas, memang benar ia mengatakan itu, tapi ini salah, harusnya ia yang mendominasi, kenapa malah ia yang di dominasi.

Terlebih, sekarang ia benar-benar lemas, tiba-tiba saja ia merasa seluruh tenaganya menghilangkan ketika di cium pria ini, ia benar-benar tak bisa melawan.

Sret!

Naruto mengubah postur tubuhnya, sekarang ia memeluk Raynare seperti seseorang yang memeluk temannya.

"Eh? Naruto-san, dan Raynare-san?"

Ya, karena Asia tiba-tiba muncul dari balik pintu, Naruto menghentikan kegiatan intimnya dengan Raynare, Raynare juga langsung paham dengan situasi.

"Oh~ Asia, lama tak jumpa"ucap Naruto, ia kemudian melepaskan pelukannya pada Raynare dan beralih memeluk Asia.

"E-eh? Iya, su-sudah lama ya?"Asia yang baru pertama ini di peluk pria pun tergagap.

"Ara~ ternyata orang yang mengantar mu waktu itu orang ini"ucap Raynare, tentu saja ia juga mengikuti arus situasi.

"I-iya, aku tidak menyangka, ternyata Raynare-san mengenalnya"ucap Asia.

Naruto kemudian melepaskan pelukannya, "yah~ ini kebetulan yang menyenangkan"ucap Naruto, "oh ya, apa tawaran mu waktu itu masih berlaku, Asia?"

"Tawaran?"

"Ituloh, kau bilang mau membuatkan ku teh"

"Ah! Tentu saja, aku akan segera membuatnya"Asia pun bergegas masuk setelah mengatakan itu.

Dan sekarang, Naruto serta Raynare kembali berduaan, "Apa... Yang sebenarnya tengah kau lakukan?"tanya Raynare, tatapan matanya jadi menajam, postur tubuhnya juga menegas.

Tap

Naruto mendekat dan berdiri tepat di hadapan Raynare, ia lalu memegang dagu gadis itu.

"Aku juga ingin tau, jadi... Bisakah kau membantuku, Raynare? Ah~ tidak, begini saja"

Naruto lalu memegang kedua sisi wajah Raynare, ia mengusap lembut pipi lembut Raynare.

"Ayo kita lakukan bersama-sama, Darling"

~Bersambung~