Sebuah Bel Angin

by KunikidaDerai

Bungou Stray Dogs by Kafka Asagiri and Sango Harukawa

#BSRSummerDream [Natsuyasumi]


Suhu yang meninggi mungkin menjadi alasan Dazai tak memakai coatnya, hanya memakai kemeja bergaris biru dibalik rompinya.

Jangan tanya coatnya kemana, Dazai sama sekali tak mau menjawab.

Sebenarnya, Dazai juga tak mau menjawab mau melakukan apa ia sekarang. Tapi jika seperti itu, bagaimana cerita ini bisa berjalan?

Mungkin itulah yang membuat Dazai terus melangkah, melewati banyak furin wind chime yang seakan menghiasi jalan.

Senyum pun terukir dibibir, tanpa ada maksud tertentu, hanya ingin melengkung saat mendengar suara dari bel yang tercipta.

Dan entah mengapa ada keinginan yang kuat untuk berhenti dan menatap salah satu bel angin itu, hanya diam menatap, hingga seseorang membuka suara karena melihat Dazai.

"Kau ingin?" Ucap orang itu yang merupakan pemilik bel yang sedari tadi Dazai perhatikan, pemuda berperban itu menoleh, terdiam sejenak menatap orang itu.

"Apa dijual? Kukira hanya pajangan."

"Memang," furin wind chime yang sedari tadi Dazai perhatikan diturunkan, bel sederhana.

Kaca bening yang bergambar bunga daisy kecil di tengah. lalu gantungan di tengah dengan kertas polos tanpa tulisan.

Bel itu langsung saja diberikan oleh Dazai, membuat Dazai yang menerimanya mengerjab tak percaya.

"Ambil saja, tak perlu membayar." Ucap wanita tua itu sambil tersenyum tipis, tentu saja ucapan terima kasih dan bungkukan badan Dazai lakukan.

Ia pun lagi-lagi melangkah, membawa furin wind chime itu dengan senyum merekah. Sudah pasti akan jatuh ketangan siapa bel itu.

'Kasih ke Kunikida-kun ah, pasti dia menyukainya.' Batin Dazai dengan riangnya, ia pun menikmati suara bel yang ia pegang saat angin berhembus pelan.

Ting.

Menenangkan walau hanya sebuah dentingan.

Dazai pun sampai di gedung bata merah, langsung masuk dan menaiki tangga untuk ke lantai atas. Hingga berhenti ditempat kantornya terletak.

Dazai masuk begitu saja, tanpa mengetuk yang memang sudah menjadi kebiasaannya.

"Ohayou Dazai-san."

"Oh, Ohayou Atsushi-kun!"

Sapaan pagi Dazai terima dari pemuda didikannya, tapi bukan Atsushi yang ia cari, hingga kepalanya menoleh kesana-kemari melihat sekitar.

Atsushi pun menatap heran ke seniornya ini, "Dazai-san mencari apa?" Pertanyaan pun spontan keluar.

"Bukan apa, tapi siapa. Aku mencari Kunikida-kun."

Atsushi yang mendengarnya pun terdiam dan matanya seakan berubah menjadi sendu.

"Kemana dia? Tumben sekali belum datang? Padahal dia tak pernah terlambat." Dazai terkekeh, mengingat Kunikida yang sangat kaku karena terus-menerus mengikuti jadwalnya.

Atsushi masih terdiam, bingung mau berkata apa pada seniornya yang seakan lupa pada apa yang terjadi.

Sosok yang selalu ada itu, sekarang tak dapat disebut ada. Hilang seakan tak pernah ada walaupun bayang masih terlihat oleh orang yang mengenang.

Akhirnya semua tergantung kita, menerima keadaan yang terasa asing itu, atau terus berlarut pada kesedihan yang mendalam.

Semua lagi-lagi tergantung kuatnya hati seseorang.

"Ada apa Atsushi-kun? Kau tak melihat Kunikida-kun?"

Pertanyaan itu cukup membuat Atsushi menghela nafas dan menatap Dazai dengan lekat.

"Dazai-san, Kunikida-san sudah tak ada."

Namun rangkaian kata itu tak cukup membuat otak jenius Dazai mengerti, sehingga Atsushi dengan berat hati berkata lagi.

"Kunikida-san sudah pergi, tepat satu tahun lalu. Apa kau tak ingat, Dazai-san?"

Dazai menunduk, menatap furin wind chime yang masih ia pegang.

"Ia bunuh diri."

"Dia menerima ajakanmu untuk bunuh diri bersama, dan kalian gantung diri di kamar apartemen kalian. Tapi ... hanya kau yang selamat."

Dazai terbelalak kaget, dengan cepat berlari keluar kantor. Meninggalkan Atsushi yang menunduk merasa bersalah.

Bel yang masih ia pegang pun berkali-kali berdenting, akibat dirinya yang berlari dengan kencang.

"Kunikida-kun, kau mau bunuh diri?"

"Kau selalu memimpikannya kan, jadi, ayo saja."

Drap, drap, drap.

"Kenapa Kunikida-kun memilih gantung diri?"

"Soalnya lagi musim panas, jadi seperti wind chime."

"Kunikida-kun suka itu?"

"Iya, kau keberatan?"

Nafas Dazai pun terengah saat kaki itu berhenti di sebuah makam, furin wind chime yang masih ia pegang itu masih setia berdenting pelan.

'K. Doppo.'

Bagaimana bisa Dazai terus melupakan entitas yang sudah dalam tanah ini? Padahal, mereka seharusnya sama-sama mati pada hari itu.

Kunikida Doppo mati secara fisik.

Dazai Osamu mati secara jiwa.

Lantas Dazai menatap dalam nisan itu, bersamaan dengan sebuah bel angin yang tak berhenti berdenting.

Senyuman terukir, sebuah senyuman lebar yang dihiasi kristal bening yang keluar dari manik.

"Gomen."

"Gomen."

Sesaat sebelum tali itu mengikat leher, Kunikida langsung memotong tali yang melingkari Dazai dan menolak Dazai hingga menjauh.

Kunikida menatap Dazai lekat sesaat lalu menendang kursi yang ia pijaki, hingga hanya dirinya yang menggantung diri.

Dazai yang melihat itu terbelalak, seperti sebuah bel angin yang menggantung dan tertiup angin.

Bedanya, bel ini membuat Dazai merasa kosong dan air matanya mengalir tanpa sadar.

End

I N I F L U F F

Jadi ceritanya itu Dazai seneng karena Kunikida yang mau bundir ama dia:3

tapi gak kerasa yah liburannya:(