Summer Sketches
Bungou to Alchemist belong to DMM Games
[for event #BSRSummerDreams]
Warning: maybe OOC, semoga nggak meski kemungkinannya tinggi :'D
Happy reading!
~o~
Sosok pemuda yang menelungkupkan kepalanya di atas meja perpustakaan menarik perhatian Arishima Takeo yang kebetulan datang ke perpustakaan untuk mengembalikan buku pinjaman. Helaian biru dan pakaian yang dikenakannya membuat Arishima mengenalinya dengan mudah, membuat pemuda itu mendekat guna memastikan.
Dugaan Arishima tepat, itu adiknya, Satomi Ton. Kepalanya yang menghadap kanan diletakan di atas lengannya yang dilipat di atas meja. Arishima menghela napas. Buku yang hendak dikembalikannya sejenak dibawa mendekat ke meja tempat Satomi membaringkan kepalanya, lalu diletakan di sisi meja yang kursinya tidak berpenghuni. Kepala berhelai biru itu diusap perlahan, sejujurnya takut untuk membangunkan—meski sebenarnya tidur di tempat ini bukan pilihan bagus.
"Ng?" sesuatu kembali menarik perhatian kala ia melirik sekitar. Ada sebuah novel, dan buku lainnya. Nampaknya bukan buku bacaan, dilihat dari ukurannya yang terlihat tipis, juga sebuah pensil di dekatnya. Putra sulung keluarga Arishima itu mengernyitkan dahi. Ia mengambil tempat di sebelah Satomi, lalu diam-diam meraih buku tersebut dan memerhatikannya sebentar.
Ada nama Satomi Ton tertoreh di sudutnya. Ini milik adiknya, namun ini bukan buku bacaan—sudah pasti begitu. Arishima memutuskan buat membuka buku tersebut.
"Ah, buku gambar?"
Sebuah sketsa lonceng angin menyambut mata kala halaman pertama dibuka. Arishima kenal bagaimana cara goresan-goresan pensil itu berubah menjadi sebuah sketsa kasar, dan sepertinya ia juga tahu lonceng angin mana yang menjadi objeknya—adalah salah satu lonceng angin yang terpasang di salah satu jendela aula makan, yang menjadi objek pada halaman pertama itu. Arishima tahu karena pernah melihatnya sekali saat sarapan pagi.
Beberapa minggu yang lalu Niimi Nankichi dan Edogawa Ranpo menyarankan agar beberapa tempat di perpustakaan ini dipasangi lonceng angin, berhubung musim panas sudah tiba. Kelihatannya adiknya menggambar beberapa dari sekian lonceng angin yang terpasang di beberapa sudut perpustakaan ini, begitulah Arishima berpikir ketika halaman berikutnya menunjukan sketsa lonceng angin yang kelihatan berbeda dari sketsa sebelumnya.
Halaman selanjutnya menunjukan sketsa lain. Sebuah pemandangan berisi rerumputan dan beberapa tanaman kebun, juga langit yang awannya kelihatan lembut. Arishima diam sebentar, merasa familiar dengan tempat yang berada dalam sudut pandang gambaran ini.
Ah, ya, Arishima ingat sekarang. Ini kebun tempat Shiga Naoya dan Mushanokouji Saneatsu sering menghabiskan waktu. Arishima maupun adiknya jarang ikut ke sana, namun beberapa waktu lalu Satomi mengajaknya ke tempat itu dengan buku gambar di tangan.
"Ton, ayo kemari! Musha-san butuh bantuanmu juga!"
"Se-sedikit lagi, Takeo-nii!"
"Nggak apa-apa, kok, Arishima. Kita punya Shiga di sini~"
"... Oi, oi."
"Shiga memang bisa diandalkan, kan?"
"Musha—hei, kau menepuk atau memukulku sih?! Sakit!"
Sepintas kenangan beberapa minggu lalu membuat Arishima terkekeh dalam hati. Iris kemerahannya melirik adiknya yang masih tertidur. Tak lama setelahnya, ia kembali membalik lembaran buku gambar Satomi.
Halaman berikutnya, sebuah sketsa bulat yang lama-lama Arishima sadari, adalah sebuah kumbang badak. Kumbang besar bertanduk yang seringkali ditemukan anak-anak tiap musim panas itu tersketsa dengan sebuah batang kayu kecil sebagai tempatnya berpijak. Entah di mana Satomi menemukannya, atau milik siapa serangga itu—kalau memang ada yang iseng memeliharanya di perpustakaan ini, Arishima tidak mengetahuinya.
Halaman berikutnya lagi, permen apel.
Arishima tidak butuh waktu lama untuk menyadari yang satu itu. Permen apel berbungkus plastik bening yang mereka beli pada festival musim panas bulan lalu.
"Tumben beli tiga?"
"Hehe. Dua buatku, satunya buat Takeo-nii."
Kalau tidak salah yang satunya Satomi bawa pulang, sementara dua yang lainnya habis di perjalanan pulang—mereka memakannya bersama. Pasti anak itu sempat menjadikan permen apel dari festival itu objek gambarannya waktu itu.
Halaman selanjutnya diisi oleh banyak arsiran pensil yang makin pekat ke atas, namun ada beberapa titik yang dibiarkan kosong—bahkan sekitarnya seolah tergesek sedikit oleh penghapus, sebelum dibubuhi lagi dengan sedikit arsiran lembut.
"Kalau kita bikin lampion juga di perpustakaan, pasti seru. Kan, Takeo-nii?"
"Kau mau? Mungkin anak-anak itu mau membuatnya."
Ah, ya, Arishima ingat yang satu ini. Mereka berdua sempat melihat puluhan lampion dilepaskan ke pekatnya langit malam, terbang entah ke mana. Apabila perkiraan Arishima tidak salah, artinya ini adalah gambaran peristiwa malam itu, dan titik-titik yang dibiarkan kosong sebelumnya adalah lampion-lampion tersebut. Dugaannya diperkuat dengan sebuah sketsa berbentuk tabung di halaman berikutnya, lengkap dengan gambaran bagaimana kalau benda itu digantung dengan tali dan tongkat ataupun diterbangkan ke langit—sketsa lampion buatan Satomi, yang belum sempat terealisasikan karena hari-hari selanjutnya perpustakaan benar-benar sibuk, tidak ada waktu senggang untuk sekedar membuat lampion kertas, sekalipun mereka sempat merayakan Tanabata di tempat ini beberapa waktu berikutnya.
Omong-omong soal Tanabata, halaman selanjutnya berisi sketsa pepohonan bambu yang dedaunannya dihiasi kertas kecil-kecil. Tanzaku. Entah ide siapa, mereka merayakan tanabata kecil-kecilan dengan menggantung kertas tanzaku warna-warni berisi berbagai permohonan begitu pulang dari kuil. Hingga beberapa hari kertasnya bertahan di sana, sebelum menghilang karena dibereskan. Barangkali Satomi sempat menggambar pohon beserta tanzaku-tanzakunya sebelum dibereskan, kala ia punya waktu luang untuk sekedar jalan-jalan dengan buku sketsa dan pensil mengelilingi perpustakaan.
Halaman-halaman berikutnya tidak begitu banyak terisi. Tidak sampai setengah buku, namun isinya cukup menggambarkan suasana selama beberapa waktu ini. Beberapa skesta kasar lonceng angin yang entah terpasang di mana, langit dengan awan-awannya, semangka dari kebun Shiga dan Musha yang mereka makan bersama, dan lain sebagainya. Goresan-goresan yang tertoreh di atas kertas tak terlalu lembut, namun juga tidak sekasar itu. Khas Satomi sekali.
"Ng, Takeo-nii?"
Arishima melirik. "Oh, udah bangun?"
"Ya ..." Satomi mengangkat kepalanya perlahan. Matanya mengerjap-ngerjap seolah sedang mengumpulkan nyawa. Kedua matanya tertuju pada sang kakak yang duduk di sebelah. Sesaat ia mengernyit bingung sebelum membelak lantaran terkejut. "B-buku gambarku-"
"Ah ..." Arishima menutup buku di tangannya, lalu menyodorkannya. "Maaf, aku melihatnya tanpa bilang dulu."
"Ng-nggak apa-apa, sebenarnya ..." Satomi mengangguk kaku. Buku gambar dari tangan Arishima ia terima, lalu diletakan di atas pangkuan. "Takeo-nii tumben ke sini?"
Sejenak Arishima teringat tujuan awalnya pergi ke perpustakaan ini. Matanya melirik ke atas meja sementara tangannya meraih buku pinjaman yang seharusnya ia kembalikan. "Aku mau mengembalikan ini, sebenarnya," ucapnya.
"Hee ..." Satomi mangut-mangut. "Mau bareng? Aku juga harus mengembalikan buku yang ini," ujarnya sambil melirik buku lain yang ada di atas meja.
"Ah, ya, ayo."
Keduanya berdiri. Arishima dengan novel pinjamannya, sementara Satomi dengan buku gambar dan buku lain yang ia baca sebelum tidur.
"Oh, iya, Ton."
"Ya?"
"Kalau ada waktu luang, mau buat lampion yang kamu gambar itu bersama?"
"T-takeo-nii melihatnya?!"
Arishima mengangguk saja. "Bagus, kok," ucapnya seraya tersenyum tipis.
Satomi menundukkan kepala. "Uh ... tapi sebentar lagi masuk musim gugur, lho ..."
"Mau musim apa saja, tetap bisa, kan?" balas Arishima. "Nanti kita cari bahan-bahannya, kalau jadwal penyucian buku sudah mulai longgar nanti. Mau?"
Satomi mengangguk-angguk, bersemangat. "Mau!"
-end-
Sebenernya aku ga tau ini ada hubungannya sama liburan musim panas ato nggak (tema kali ini: natsuyasumi). Tapi ... udahlah :'D /digebuk warga BSR
Dan aku masih takut kalau-kalau ini OOC :'''
