Summer Childhood
By : Cierra-Zan
Entry for BSR's Project #Natsuyasumi
Enjoy It
Kasih sayang, menyukai sesuatu, menemukan sesuatu yang menarik. Selain tadi, bisa saja banyak kata, maupun perbuatan yang menggambarkan arti dari kehangatan.
Musim panas akan berlangsung esok hari. Murid-murid di sekolah banyak yang menantikan musim ini. Apalagi kalau bukan libur musim panas, ah tapi jangan lupakan tugas musim panas yang diberikan oleh guru.
Tak terlebih oleh kedua anak yang akan jadi pemeran dalam cerita ini. Bukan saudara, tetapi tak mau disebut teman, tapi kelakuan terlihat seperti teman amat baik bahkan hampir seperti bunga dan lebah.
Dazai Osamu dan Kunikida Doppo. Siapa sih yang ga kenal mereka, sama-sama pinter, sama rewel tapi juga sama-sama menggemaskan.
Jam terakhir kelas telah usai, suasana ramai karena besok dimulai liburan musim panas. Osamu sudah siap berkemas, sedang menunggu teman berkacamata bersurai kuning di depan ruang kelasnya. Mereka ada janji dengan kakak pemilik toko makanan, untuk membantu selama musim panas.
"Jangan mengacaukan pekerjaan disana," ucap seorang pria berkacamata yang muncul dari kelas.
"Ah, Kunikida-kun!" teriak Osamu sambil tersenyum cerah, segera ia menepuk pundak pria yang dipanggil Kunikida sambil berkata, "Tentu saja, Osamu ini jenius tau, fufufu."
Langsung bergegaslah mereka berdua menuju toko milik sang kakak. Tak lupa mereka membeli minuman untuk kakak sebagai hadiah karena telah bekerja keras.
Namun, yang mereka temui disana toko yang masih tutup dengan tanda toko 'Closed'. Keduanya kebingungan, biasanya toko dibuka 30 menit sebelum jam sekolah berakhir. Tak dapat petunjuk, merekapun nekat masuk lewat pintu belakang toko.
Pintu belakang toko tak dikunci, jadi mereka masuk dengan siaga. Doppo siap dengan senter, membantu penglihatan di ruang gelap, mereka menelusuri setiap ruangan.
"Apa jangan-jangan Kakak sakit ya Kun?" tanya Osamu sambil mengecek ruangan.
"Bisa jadi, tapi Kakak tak akan secereboh itu membiarkan pintu belakang bisa diakses begitu saja," timpal Doppo dan dibalas anggukan oleh Osamu.
Akhirnya mereka sampai di ruangan pribadi milik Kakak. Sempat ragu apakah sopan atau tidak, tapi dengan seenak udel, Osamu langsung membuka pintu ruangan tersebut, Kunikida langsung mencegat tapi terlambat itu, "Oi, Dazai-", melihat ada yang tak beres di ruangan tersebut.
Dan benar, seseorang terbaring di atas futon. Seorang gadis berumur 24 tahun, dengan kompres didahi serta alat ukur suhu digenggaman, tak lain itu adalah Kakak yang mereka cari. Bergegaslah mereka menuju kakak tersebut, mengecek kondisi dan sekitar.
"Dazai, biar aku yang memasak, kau yang bersihkan ruangan ini," titah Doppoi sembari bergegas ke ruangan dapur. Dazai langsung menurut dan mengerjakan apa yang diminta Kunikida.
Selesai semua, mereka berinisiatif membersihkan semua ruangan yang ada di gedung itu. Bagi mereka, Kakak merupakan orang yang penting untuk mereka. Setiap mereka kesana untuk makan atau sekedar main sampai lupa waktu.
"Kun, tadi cuman masak bubur doang ?"tanya Dazai sambil main TTS nganggur di counter.
"Iyalah, kan pencernaan dia belum kuat," timpal Kunikida.
"Tenang, udah kusuapin sedikit tadi," lanjut Doppo dan dibalas anggukan oleh Osamu
Orang tua mereka sangat sibuk, sampai menitipkan mereka ke Kakak. Tiga tahun bersama Kakak membuat mereka menganggap Kakak seperti saudara sendiri. Kakak sendiri tak pernah memberitahu nama lengkap maupun margaya kepada Dazai maupun Kunikida, hanya keluarga mereka yang tahu. Pada akhirnya keduanya menyerah dan memutuskan untuk memanggil kakak.
"Eh, eh, Doppo-kun," sahut Osamu sambil menoel pundak Doppo yang tengah membaca buku pelajarannya hari ini.
"Apa? Tumben pakai nama," ujar Doppo meletakan bukunya lalu menghadap Osamu.
"Buat soba yok, laper nih, sekalian buat Kakak," rengek Osamu sambil memegang perutnya.
"Alah kupikir apaan, ayo dah buat sekarang, bantuin," kata Doppo sambil turun dari kursi, hendak ke dapur untuk memasak dan diikuti oleh Osamu.
Di dapur, mereka sudah terbiasa berada diruangan itu, jadi tak susah untuk menemukan apa saja yang diperlukan. Sambil memasak, mereka bercerita apa saja yang terjadi di sekolah tadi.
Ketika Osamu dan Doppo memasak, ada sepasang manik yang mengamati mereka, tersenyum tipis akan interaksi yang ada, Kakak, bersyukur akan adanya mereka. Kakak kemudian membereskan ruangannya, sembari mengecek apakah keduanya membuat masalah.
Tak lama, Kakak selesai merapikan kamar, ia menunggu disana, takut menganggu kedua anak yang sedang asik memasak.
Pintu kamar Kakak terketuk, dibuka pintu tersebut, menampilkan Osamu dan Doppo dengan raut muka terkejut hendak menangis, segera mereka berdua lari kearah Kakak, memeluknya, memastikan kondisi Kakak benar-benar pulih.
"Kak, jangan sakit lagi, Osamu janji bakalan bantu Kakak," isak Osamu sambil memeluk Kakak erat.
"Kak..sehat terus...katanya mau...habiskan waktu liburan musim panas...kita bertiga..." ucap Doppo terbata-bata, menenggelamkan mukanya ke tangan Kakak itu.
Kakak hanya tersenyum, mengelus kedua kepala anak yang memeluknya, meyakinkan mereka bahwa baik-baik saja, "Kakak tak apa, berkat perawatan kalian, sekarang Kakak sudah sehat. Ayo makan, kalian sudah masak tadi kan? Sayang kalo dingin."
Osamu dan Doppo mengangguk. Bersama Kakak, mereka membawa masing-masing satu mangkok untuk dibawa di meja toko. Aroma soba mulai tercium, memicu rasa lapar bagi mereka bertiga.
"Ittadakimasu!" ucap mereka bersamaan lalu mulai makan. Tak ada perbincangan, tetapi mereka menikmati suasana ini.
Selesai makan, Kakak minta izin untuk ke kamar, meminta tolong untuk dibereskan alat makan tadi dan segera ke kamar untuk mengambil sesuatu.
"Eh, eh, nginep kan?" tanya Osamu.
"Iya, sudah malam, toh, keluarga uda percaya kakak," timpal Doppo.
Tak lama, Kakak keluar dari kamar, membawa satu kotak dan dua pematik gas tepat Osamu dan Doppo selesai mencuci alat makan.
"Mau main kembang api?" ucap Kakak tersenyum dan dibalas anggukan oleh keduanya.
Malam ini mereka bertiga bermain kembang api, Osamu menari-nari dengan kembang api pegangan, Doppo asyik melihat percikan cahaya yang terlihat, dan Kakak merekam momen ini. Langit nampak bersahabat dengan mereka, bintang bertabur seolah merestui untuk menghabiskan waktu bersama.
"Hanabusa," ucap seseorang yang mampu menarik perhatian kedua anak yang bermain kembang api.
"Eh?" toleh keduanya kebingungan ke arah Kakaknya.
"Hanabusa, itu nama marga kakak. Mulai kedepannya lagi, tolong bantuannya," ucap kakak tersebut sambil tersenyum.
Kedua anak tadi tersenyum bahagia, akhirnya mengetahui marga Kakak kesayangan mereka, dan sambil mengacungkan jempol sebagai tanda setuju ucapan Hanabusa tersebut, dan musim panas telah dimulai.
End (?) (or maybe new sequel ?)
Nb : Halo, kembali lagi dengan Cierra, kebetulan karena aku sendiri ikut Dazai's Week di prompt orang Rusia (kalo salah ralat yak) plus ada projek di Grup Chat, jadinya kugabungin aja sekalian.
Aku sendiri sudah lama tak masuk kedalam fanfic ini, sehingga feel-nya bisa jadi belum terasa /sujud mohon maaf/
Bagiku, kembali menulis juga merupakan suatu pencapaian untukku, sehingga bisa dibilang, aku ingin kembali menuangkan apa yang kurasakan dan ingin membagikan bersama orang yang ingin merasakannya.
Ada nama asing kan tadi ? Yap, itu cuma minor kok, salah satu Original Characterku juga, Hanabusa namanya. Untuk nama lengkap, nanti, setelah aku ada ide lagi untuk build dia, bin bila ada penulisan yang hancur sehancur nilai mtk /aib, iya, aku masih belajar juga, jadi krisar sangat penting kedepannya.
Dan paling penting, terimakasih sudah baca fanfic ini, semoga meski bulan Agustus serta musim panas tlah berakhir, semoga mampu menemani kalian kala suka duka.
Big regards
Cierra-Zan
