Twilight © Stephenie Meyer

Forever by Saaraa


"Jake, seberapa lama seorang werewolf dapat hidup?"

Jacob Black terdiam sesaat. Ada dua sekon yang terlewat sebelum akhirnya suara timbre rendah itu balik bertanya dengan kalem, "Kenapa kau bertanya, Nessie?"

Renesmee Carlie Cullen mengangkat bahu. Senyum tipis terukir pada bibir merah muda pucat sebelum jemarinya kembali menari di atas tuts piano, membiarkan nada lembut berdendang dan memantul hingga ke relung hati.

"Hanya ingin tahu saja," jawabnya—sama teduhnya.

Jake mendengus tipis. Sang gadis bersurai secerah kastanya ini betulan serupa dengan kedua orang tuanya. Tujuh musim dingin terlewat sejak kelahirannya—dan sosoknya saat dewasa semakin mempertegas fakta itu. Bentuk matanya, pelupuk bertirai bulu mata, hidungnya yang terpahat sempurna sejak dalam rahim ibunya. Ah—sama-sama memikat, atraktif, tenang, namun tak bisa diremehkan di saat yang sama. Memiliki sepasang iris emas yang ketika dilihat akan menelusup hingga sanubari; mengambil hati.

Atau, istilah itu hanya berlaku pada Jake saja.

"Werewolf akan mencapai dewasa saat mulai bisa melakukan perubahan bentuk." Saat eksplanasi dimulai, Jake sadar bahwa kumpulan tangga nada itu merangkai lagu yang begitu familiar. "Ketika berada di dalam sosok serigala, seorang—seekor?—werewolf tidak menua. Kurasa ada sejarah soal beberapa kawanan memilih tetap stagnan dan hidup dengan sosok werewolf-nya untuk menghindari kematian. Namun, kebanyakan tetap bulak-balik menjadi manusia, agar bisa menua bersama keluarga, teman-teman, dan …," Jake terhenti sesaat. Tersenyum tipis. "… pasangannya."

Nessie membiarkan ujung jemari memberikan satu kompulsi terakhir untuk mengakhiri lagu. Ah–seharusnya ia tidak makan siang tadi. Meneguk secangkir darah donasi yang telah disimpan Carlisle memang memuaskan, tapi itu membuatnya jadi malas berburu. Seharusnya ia dan Jake ikut saja tadi, agar tidak bosan dan—sepi.

Oh—ia senang, tentu, ketika Jake bersedia menemaninya dan mereka bertukar konversasi sederhana, seperti ini. Ya, tadinya … itu hanyalah sebuah pertanyaan sederhana.

"Kalau begitu …," Nessie kembali bersuara. Ada ragu yang mencekat pangkal tenggorokan sebelum ia kembali mengutarakan isi pikiran, "Apa kau akan mati lebih dahulu daripada aku?"

Nah—ini dia. Perlahan namun pasti, Jake mulai menangkap asal mula pertanyaan tadi dan rasa kekhawatiran yang terselip di baliknya. Jake mengangkat sebelah tangan, lalu mengusap surai hazelnut sang gadis.

"Itu masih lama, kok," ujarnya, berusaha untuk tampak dewasa. Meski, tentu—jika memikirkan kematian, perpisahan, dan rasa menyedihkan yang mengikuti, lelaki itu harus akui kalau hal tersebut membikinnya resah. "Aku masih 24 tahun. Akan ada satu dekade lagi bagiku untuk hidup."

Kalau aku beruntung, lanjutnya, dalam hati.

"Tapi, aku abadi," Nessie membalas. Ia menghela napas sesaat sebelum melanjutnya, "Nyaris. 100 tahun akan terlewat dengan cepat. Aku … akan hidup sendirian setelah itu."

Oh—tidak. Tadinya, tujuh tahun sebelum ini—Jake selalu mengutuk Edward dan tak paham mengapa Bella ingin sekali menjelma menjadi para makhluk penghisap darah ini dan hidup abadi bersama-sama. Namun untuk kali ini, saat ini—hei, ia memahami hal itu, akhirnya. Ironis bagaimana ia disadarkan soal ini melalui situasi yang hampir mirip—jatuh cinta pada entitas yang berbeda darinya. Atau, justru karena itulah, karena ia jatuh cinta—ia menjadi paham betul.

"Kau tidak sendirian, Nessie," Jake kembali berusaha. Meski jujur rasanya ingin menyerah juga menjelaskan—karena bagaimana pun, gadis separuh manusia itu benar. "Kau memiliki ayah dan ibumu, kan? Alice adalah bibi yang menyenangkan. Rosalie, meski tampak galak—ia juga sayang sekali padamu. Semuanya sayang padamu, jadi, kau tidak akan sendi—"

"Itu beda."

Suara itu menyela, telak. Jake mengerjap beberapa kali sebelum mengusap tengkuknya.

…. Lalu aku harus apa ….

"…. Baiklah, begini saja," Jake menyahut. Nessie menyambut dengan sebelah alis terangkat. Here goes nothing—benar, kan? Jake menarik napas, lalu menghelanya panjang. Ia harap ia bisa mundur. Namun dipandangi sepasang bola mata emas yang disepuh cahaya mentari membuatnya yakin ia bahkan tak bisa kabur meski ingin. Bola mata yang menjerat hatinya sejak tujuh tahun lalu. Yang awalnya hanya sebatas rasa ingin melindungi—platonik, kini menjadi rasa yang jauh lebih rumit daripada itu.

Jake perlahan merogoh kantung celananya, lalu menggenggam benda mungil mini. Sayang, Nessie tidak seperti Edward yang ahli dan teliti dalam menilik isi pikiran orang lain. Maka, ia masih harus mengira-ngira. Rasa cemas dan sedih yang sempat menyelimutinya tadi kini separuh tergantikan oleh penasaran yang amat sangat.

Kemudian, Jake membawa genggaman tangannya ke hadapan sang gadis. Begitu ia yakin atensi Nessie sepenuhnya berada pada tangannya, ia membuka telapak tangan—memperlihatkan sebuah cincin mungil, terbuat dari kayu dengan ukiran-ukiran yang unik. Sebuah berlian kecil menghiasi bagian tengah cincin, menjadi penyentuh akhir dan membikin segalanya tentang benda kecil itu tampak paripurna.

Bola mata emas itu membola. Dirundung rasa terkejut, sekaligus—bahagia yang kentara.

"Hei," Jake memanggil gadis itu. Menatap baik-baik bola mata yang kini terarah padanya, begitu telak tabrak, begitu tak ingin lepas. "Aku tidak bisa membayangkan menua tanpamu. Meski, kau tidak akan menua sama sekali, sih."

Nessie terkekeh kecil. Oh. Air matanya nyaris tumpah.

"Aku ingin tumbuh bersamamu dan menghabiskan sisa waktuku denganmu. Kalau suatu hari kita memang harus terpisah karena waktu dan usia, maka—bolehkah aku sekarang meminta izin untuk memiliki sebelum perpisahan itu ada?

"Dalam suka dan duka, dalam bahagia dan tidak. Kau pantas mendapatkan seseorang yang terbaik—seseorang yang akan selalu sayang padamu, melindungimu, dan menopangmu di saat apa pun, jadi … biarkan aku jadi seseorang itu."

Jake menarik napas panjang. Ia sempat mengusap-usap puncak kepala sang gadis sebelum mengirimkan kalimat yang final, "Renesmee Carlie Cullen, maukah kau menikahiku?"

Senyum Nessi mengembang. Sudut-sudut bibirnya tertarik puas dan kini pipinya digurati oleh warna merah muda.

"Ya," sahutnya—tanpa berpikir. Tidak perlu. Ia sudah tahu. "Aku mau. Aku mau!" ujarnya, nyaris menjerit, lalu mendekap Jake. Sang serigala tertawa lepas, membalas pelukan sederhana yang keterlaluan erat itu.

"Oh, Tuhan, ayah dan ibumu akan mengamuk," sahut Jake, setengah bergurau. Setengahnya lagi ia sedikit bergidik sebab ia tahu—ia betul-betul akan kena amukan. Habis ini. Namun biarlah itu jadi urusan nanti.

Ia bisa membayangkan suara Bella yang bergema pada gendang telinganya, "Kau melamar anakku yang berumur 17 tahun?!"

"Tenanglah, aku akan bantu menjelaskan. Mereka akan paham."

Jake tersenyum tipis.

Ya, kan?

Kalau "selamanya" itu adalah hal yang hanya sesaat …

… kenapa tidak mulai dari sekarang?

END


Epilog

Isabella Swan-Cullen menggeleng-geleng. Ia menumpu kedua tangannya di pinggang lalu menatap pada sepasang adam dan hawa yang tengah tidur di atas sofa—saling mendekap satu sama lain dan dibungkus oleh selimut.

"Kalian lihat ini?" bisiknya, tak ingin membangunkan Nessie. "Dia mengenakan cincin di jari manisnya! Jake baru saja melamar anakku yang berumur 17 tahun. 7 tahun—secara teknis."

Edward mendengus, lalu tertawa tipis. Ia mengecup sisi kepala Bella untuk menenangkan istrinya itu. Lucu kalau ia mengingat masa-masa dulu, ialah dan Jake yang sering bertengkar dan emosi karena perkara kecil sekali pun. Namun—kini, Bella menjadi protektif dan begitu tegas pada Jake.

Alice terkikik. "Kau tahu suatu hari ini akan terjadi, Bells."

Rosalie mengangguk. Ia mendekati Nessie lalu mengusap lembut surai kastanya gadis itu. "Meski rasanya sedih juga bila keponakanku akan segera menikah."

"Waktu berlalu cepat, zaman berubah, kan?" sahut Emmet. "Aku tidak masalah memiliki ipar serigala kalau Nessie bahagia."

"Sudah, sudah, biarkan mereka istirahat," Esme berujar, ikut tersenyum. "Lihat, deh—tampak menyenangkan sekali, kan?"