Aries and Mercury
Ch. 1 : Chocolate Intoxication
Pair: Noren (Jeno x Renjun)
Disclaimer: highly influenced by Shinobu OHTAKA's Magi The Labyrinth of Magic
Penyihir muda Kekaisaran Huang, Renjun namanya. Umurnya masih sekitar belasan tahun, tapi kemampuannya menggunakan sihir sudah sangat dapat menarik pujian bahkan dari para penyihir senior yang terkenal tidak senang mengakui penyihir yang lebih muda. Sekali melihat bagaimana Renjun dapat mengkombinasikan sihir tipe gelombang bunyi dengan tipe air, orang-orang yang sama sekali tidak pernah mendalami sihir selama hidupnya pasti juga dapat menyadari potensi sedalam apa yang dimilikinya.
Tapi yang namanya memang masih muda, Renjun masih butuh banyak belajar. Atas kemauannya sendiri, dia menghadap Lee Taeyong, sang kaisar, dan memohon izin untuk diberangkatkan ke sebuah negeri kecil di mana terdapat sekolah khusus penyihir, yang katanya juga merupakan almamater penyihir senior yang mengajarinya sihir kombinasi, Winwin.
"Penyihir memang dikenal memiliki kemauan belajar yang tinggi. Pergilah kalau kau rasa memang itu yang kau butuhkan."
Dengan izin itu, berangkatlah Renjun ke sana, ke negeri Neostadt. Perjalanan hampir sebulan itu memberikannya banyak waktu juga untuk mempelajari lebih jauh mengenai tempat yang akan ia datangi. Mulai dari peraturan di mana hanya penyihir saja yang diperkenankan masuk sebagai pendatang, sampai ke hal-hal yang terdengar mencemaskan seperti adanya diskriminasi terhadap penduduk asli yang bukan penyihir. Yang manapun itu, Renjun putuskan untuk dijadikan laporan kepada sang kaisar yang akan ia sampaikan begitu ia sudah menyelesaikan masa belajarnya.
Pada awalnya, memang Renjun dapat merasakan ada sesuatu yang menyambutnya di sana. Lahir dan tumbuh besar sebagai satu-satunya penyihir muda dalam lingkungannya, membuat Neostadt terlihat seperti tempatnya pulang. Apalagi, saat dia berhasil mendapatkan teman baru yang tiap harinya mengisi jatah kosong kesenangan yang tidak bisa dia penuhi sendirian. Mereka adalah Haechan dan Jaemin. Mereka juga adalah penyihir pendatang dari dua tempat berbeda.
"...waktu itu, aku sempat mengira bahkan sampai kelulusan, aku akan jadi murid dari tempat terjauh di angkatan kita," kata Haechan tiba-tiba saat istirahat siang. "Tapi Renjun ternyata datangnya dari tanah Kekaisaran Huang... Gila, apa di sekitar sana tidak ada lagi sekolah sihir yang sama bagusnya dengan di sini? Kalau aku jadi kamu, aku pasti sudah mati busuk di jalan saking jauhnya!"
Renjun dan Jaemin hanya balas tertawa karena mereka sama-sama tau, Neostadt memang bukan sekolah sihir satu-satunya di dunia, tapi yang bisa menandingi kualitas Neostadt, bisa dibilang tidak ada. Itulah alasan kenapa banyak sekali murid yang datangnya dari negara, kerajaan, dan suku yang bermacam-macam. Mereka mencari ilmu sebegini jauhnya supaya dapat kembali pulang ke rumah masing-masing sambil membawakan bekal yang tidak bisa mereka dapat di tempat lain.
Tapi tidak semua penyihir menginginkan ilmu sebagai dasar pengabdian. Ada juga yang mendalami sihir yang merugikan untuk kesenangan pribadi. Contohnya adalah Jisung yang mempersembahkan sebuah kotak berisi bola-bola coklat sebagai tugas kelas meramu.
"Ini adalah," kata Jisung di depan kelas, saat mentor Kim Doyoung memintanya mempresentasikan karyanya. "Makanan yang tidak beracun dan juga tidak mematikan. Tapi bukan berarti makanan ini tidak membahayakan."
Tidak beracun, tidak mematikan, tapi membahayakan. Seberbahaya apa coklat itu, sampai-sampai 'mati' bisa dibilang tidak cukup berbahaya? Semua mempertanyakan hal yang sama, dan Renjun juga melakukannya. Dia tidak mengerti apa yang ada dalam pikiran penyihir Jisung yang dikenal mengambil minat dalam sihir kutukan ini.
"Aku butuh satu orang sebagai demonstran. Apakah ada yang bersedia?"
Tidak ada yang menjawab. Semeragukan itu Jisung di mata mereka semua, sampai-sampai tidak ada yang ingin coba untuk membantu dalam presentasinya yang juga ditatap takut oleh mentornya sendiri.
"...hmm... Tidak ada yang mengangkat tangan, tapi aku yakin kamu yang di sana sebenarnya tertarik." Jisung menunjuk pada salah satu murid yang duduk di sayap kanan. Semua mencari-cari tepatnya siapa yang Jisung tuduh terlihat tertarik, dan ternyata Haechan-lah orangnya. Haechan yang tadinya sedang mengupil sudah cukup menjadi bukti kalau Jisung memang memilih berdasarkan siapa yang paling terlihat mencemooh karyanya.
"Iya, iya! Dasar tidak sabaran," kata Haechan seraya berjalan meninggalkan tempat duduknya, mendekati Jisung di tempatnya berdiri. Dia kesal sekali pada murid-murid lain yang memburu-buruinya untuk cepat maju ke depan. Huh, Haechan ini ternyata sudah mereka jadikan tumbal ya?
"Kamu hanya perlu makan satu bola cokelat saja. Itu sudah cukup untuk menimbulkan efek." Jisung memberikan satu buah bola cokelat pada Haechan yang masih terlihat tidak tertarik sama sekali. Bagaimanapun juga, bola cokelat ini sama sekali tidak terlihat berbahaya. Haechan hanya takut mati, jadi apapun pengaruh yang akan dia rasa dari bola-bola yang diklaim tidak mematikan ini, pasti buat Haechan juga bukan hal serius.
Dilahapnya bola coklat dalam sekali membuka mulut. Haha, lucu sekali rasanya melihat semua orang menelan ludah, menebak-nebak apa yang akan terjadi pada Haechan berikutnya. Dia juga lihat Renjun yang siapapun tau adalah salah satu murid unggulan angkatan mereka saat ini menatapnya khawatir.
Baru saja Haechan akan tertawa karena dia tidak merasakan apapun sebagai efek dari coklat yang dia makan, tiba-tiba di dalam tenggorokannya terasa seperti ada sesuatu yang akan keluar dengan paksa. Jantungnya juga berdebar kencang, sampai-sampai dia juga merasa lemas di kedua kakinya.
"H-Hei! Katamu makananmu tidak mematikan…!" Jaemin berteriak dari tempat duduknya, mewakili kekhawatiran para murid lainnya yang mulai merasa Haechan tidak baik-baik saja.
"Memang. Tapi aku tidak ingat pernah bilang kalau coklat ini tidak menyakitkan. Apa aku salah?"
"...! Mentor Kim, dia membahayakan sesama murid! Lakukan sesuatu!"
Mentor Kim Doyoung itu lalu meluruskan, hal-hal seperti ini memang biasa terjadi selama pelajaran berlangsung, jadi apa yang terjadi saat ini bukan hal yang sebaiknya dibesarkan-besarkan, "Dan kalian mengerjakan tugas ini juga kan? Sudah dicantumkan dalam panduan, kalau ramuan yang kalian buat itu berefek buruk, pastikan kalian juga menyertai penawarnya. Park Jisung ini juga tidak melewatkan peraturan itu."
Tapi Jisung berikutnya malah menyunggingkan senyum sambil menoleh padanya, "Penawar? Harus ada ya?"
Oh. Sial. Jisung tidak menyiapkan penawar.
"Tenang, tenang. Aku bercanda. Aku baca panduannya kok, dan ini bukan pertama kalinya aku membuat ramuan yang menimbulkan sakit macam ini, jadi bisa dibilang soal aturan-aturan yang berkaitan, aku sudah hafal di luar kepala," Jisung menjelaskan saat seisi ruangan mulai menuntutnya tanggung jawab. "Soal aku tidak menyiapkan penawar itu memang benar, tapi karena apa? Itu karena aku yakin kak Haechan juga sudah tau apa yang harus dia lakukan supaya sakitnya berhenti karena memang begitu cara coklat ini bekerja. Orang yang memakan ini akan tau sendiri dan bisa langsung melakukannya, tapi dia menahannya."
Menahan? Haechan dibilang sudah tau apa yang harus dia lakukan untuk menghentikan sakitnya, tapi dia memilih untuk tidak melakukan itu?
"...omong kosong! Kalau Haechan memang sudah tau, dia pasti akan langsung melakukannya!"
"Hmm... Benarkah begitu?" Jisung mendekati Haechan yang tersungkur di dekat meja mentor, menahan sakit yang dia rasa dalam rongga dadanya. Kulitnya di beberapa bagian sudah terlihat membiru. "Kak, kamu benar-benar tidak tau? Padahal aku yakin, pasti kata-kata itu sudah tersangkut di pangkal lidahmu. Katakan saja, kak. Begitu kata-kata apapun itu yang kamu tahan-tahan akhirnya kamu teriakkan, rasa sakit yang kamu rasa sekarang ini akan langsung lenyap dan tidak akan menimbulkan bekas apapun..."
"...hhh... Sialan kau, Jisung...!" Ingin sekali rasanya Haechan melayangkan tinjunya pada wajah Jisung yang sangat, sangat menghinanya. Entah ini sebatas dugaan atau bukan, tapi Haechan yakin Jisung ini sebenarnya mendendam karena tadi dia sudah menganggap remeh presentasi atas karya yang barusan dia sampaikan.
Renjun merasa harus melakukan sesuatu di sana, jadilah dia meminta izin pada mentor Kim untuk menyela di tengah kelas. Mentor Kim sebenarnya melarang, tapi Renjun tidak ingin dengar lebih lama lagi suara Haechan yang merintih kesakitan sementara tidak satupun dari puluhan orang di ruangan terlihat mencari solusi. Dia angkat tongkat kayunya sambil memfokuskan sebagian besar tenaganya untuk memikirkan satu sihir penyembuhan yang pernah diajari Haechan sendiri, berhubung Haechan memang mengambil minat dalam bidang tersebut.
"...Wong Yukhei!"
Tapi sebelum Renjun mengucapkan mantranya, Haechan tiba-tiba meneriakkan nama seorang gladiator muda dari Kekaisaran Reim, yang sebagian besar dari mereka semua tau sebagai tempat Jaemin berasal. Sang gladiator yang namanya Haechan teriakkan barusan juga masih memiliki hubungan darah dengan Jaemin yang saat ini hanya bisa mengerjap bingung, kenapa Haechan di tengah sakitnya malah meneriakkan nama dari kakak sepupu yang pernah mengantarnya di hari pertama penerimaan murid baru? Dan kenapa juga sehabis itu Haechan tiba-tiba sudah terlihat membaik, seakan rintihan-rintihan kesakitan sebelumnya tidak pernah terdengar?
"Wong Yukhei, gladiator Reim... Oh, ternyata yang membuatmu menahan itu karena kamu tidak mau temanmu tau kalau sebenarnya kamu menyukai salah satu anggota keluarganya ya. Aku paham, aku paham." Jisung menepuk pundak Haechan lalu membantunya berdiri, walupun bantuannya itu ditolak mentah-mentah. "Bagaimana? Lega, kan? Harusnya kamu teriakkan saja semua rasa sukamu itu dan biarkan temanmu tau, sehingga temanmu mungkin nanti akan berniat baik lalu justru dia akan membantu kalian bertemu lagi."
Berikutnya Jisung tidak terlalu menjelaskan, tapi semua yang melihat demonstrasinya sudah bisa paham kalau bola-bola cokelat yang dibuatnya itu memang tidak mematikan, tapi justru menyakitkan dan memalukan. Orang yang memakan coklat itu akan kesulitan bernapas karena hambatan pada saluran pernapasan yang baru akan hilang setelah orang tersebut menyebutkan nama orang yang disukai.
Sampai jam makan malam pun Haechan masih menolak bicara setiap Jaemin berusaha memberitau kalau dia tidak akan menertawainya hanya karena Haechan menyukai kakak sepupunya yang baru pernah bertemu sekali, "Benar, Chan! Aku tidak akan menghinamu atau apapun itu! Lagipula memang banyak kok yang suka sama dia..."
"Justru karena banyak yang suka, aku jadi malu! Kesannya, aku siap saingan dengan sekian banyak orang yang suka padanya juga, kan!" Kata Haechan setelah Renjun juga sudah menahannya untuk tidak kabur-kaburan lagi. "Apalagi, si Jisung itu bilang padaku setelah kelas selesai... semakin suka, semakin kencang juga suara saat menyebutkan namanya!"
Semakin suka, semakin kencang? Dan mereka lalu sama-sama mengingat bagaimana Haechan tadi berteriak cukup keras... Wah, Haechan sepertinya sudah jatuh lumayan dalam... Jaemin tidak tau harus melakukan apa selain menghibur, karena dia sendiri tidak yakin apa kakak sepupunya itu bahkan ingat padanya atau tidak dari satu pertemuan singkat yang terjadinya juga sudah lumayan lama.
"Tidak ada gunanya juga kalian menghiburku kalau begini terus caranya," Haechan lalu mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku dalam jubahnya. "Aku dapat satu buah dari Jisung sebagai ucapan terima kasih. Katanya aku boleh menggunakannya pada siapapun yang aku mau, tapi berhubung kalian ada berdua sementara cokelat yang kudapat hanya satu, kalian suit sekarang! Dan yang kalah, akan makan cokelat ini di sini dan saat ini juga!"
"Hah! Kenapa jadi begitu?!"
"Karena memang harus begitu! Ini baru namanya setia kawan!"
Tidak ingin menanggung malu sendirian rupanya, si Haechan ini. Merasa tidak ada pilihan lain lagi, Renjun dan Jaemin menurut untuk suit...
"...aku kalah."
...dan Renjun memang orangnya tidak pernah beruntung kalau main suit. Begitu dia mengeluarkan gunting sementara Jaemin batu, Haechan langsung membukakan tutup kotak cokelatnya tepat di depan wajah Renjun.
"Bagaimana kalau aku tidak tau siapa orang yang aku suka? Apa sakitnya tidak akan hilang?"
"Pasti kamu tau, jangan menipuku. Dan lagi, cokelat ini memang seakan memberitaumu nama orang yang kamu suka, mau sebatas kagum atau cinta, pasti kepalamu tetap akan penuh oleh nama satu orang itu."
Apakah itu artinya kalau dia menyebutkan nama hanya sebatas bisikan, bisa dibilang rasa suka itu suka yang hanya sebatas kagum pula? Hm, bisa jadi. Tanpa menunda lebih lama lagi, Renjun menelan cokelatnya.
Sama seperti Haechan sebelumnya, Renjun juga sekarang mulai merasa sakit di bagian dada, tapi tidak terlalu menyiksa. Nama yang ada dalam pikirannya juga bukan nama yang terdengar asing sama sekali, "...Lee Minhyung!"
Lee Minhyung. Lagi, itu bukan nama dari murid yang ada di Neostadt, jadi Haechan dan Jaemin sama-sama sempat menaikkan alis karena tidak mengenali nama siapa gerangan yang barusan Renjun sebutkan dengan suara lantang. Tapi... Lee, ya?
"Dia... Putra sulung Kaisar Lee Taeyong."
"Oh... Putra sulung Kaisar Lee..." Mereka membeo, mengangguk-angguk, lalu membelalakkan mata, "...PUTRA SULUNG KAISAR?! PANGERAN?! KAMU MENYUKAI PANGERAN PENERUS KEKAISARAN...!"
"Diam, jangan teriak-teriak!" Renjun susah payah memaksa kedua temannya untuk tenang, karena dia menyadari obrolan mereka mulai menarik perhatian sekeliling.
"Renjun! Bukannya kamu bilang kamu itu penyihir penasihat? Memangnya kamu pernah ada hubungan apa dengan-...?!"
"Tidak ada! Tidak pernah ada apa-apa! Suka kan bukan berarti pernah ada hubungan! Dan lagi, aku masih calon penasihat!" katanya, tidak kuat juga lama-lama ditatap dengan dua pasang mata yang melotot. "Ya... Tapi, karena aku lahir dan besar di lingkungan yang sama, bisa dibilang aku dan kedua putra kaisar itu teman sepermainan dari kecil... Jadi aku suka dia bukan yang benar-benar asal suka atau yang bagaimana."
"Dua? Oh, si Lee Minhyung ini anak sulung ya. Berarti ada satu Lee lagi?"
Renjun mengangguk, "Adiknya, Lee Jeno. Dia juga temanku. Keduanya penakluk kuil bawah tanah dan majikan dari lebih dari satu jin wadah logam. Aku sering melihat mereka latihan bela diri... Walaupun yah, begitu masuk sekolah ini, aku baru sadar harusnya aku dulu jangan hanya sebatas menonton saja ya... Taunya di sini kita juga ada kelas bela diri..."
Ah! Siapa peduli soal kelas bela diri! Mereka lebih mengkhawatirkan soal Renjun yang kesannya seperti lupa status dan malah menyimpan perasaan pada seorang penerus kaisar! Asal kalian tau, Renjun ini penyihir penasihat! Untuk menjadi seorang penyihir penasihat, ada banyak syarat menjemukan yang harus dipenuhi, dan salah satunya adalah untuk tidak menikah dengan anggota kerajaan. Ini merupakan pengetahuan umum di berbagai negara, apalagi memang di beberapa tempat dan kalangan, penyihir masih dianggap menyeramkan dan dipandang tak lebih tinggi dari kasta pembantu.
Renjun mengerti reaksi yang diberikan Haechan dan Jaemin tentang apa yang dia sampaikan di sana karena Kekaisaran Huang memang adalah yang terjauh dari yang terjauh dari segala tempat. Wajar kalau mereka tidak tau tentang bagaimana para penyihir di Kekaisaran Huang sebenarnya malah dihormati. Dia bisa memperdalam sihir di Neostadt, itu karena dukungan yang datangnya juga dari dalam kekaisaran itu sendiri.
Dan dari semuanya, wajah dua teman dekatnya waktu itu juga masih teringat jelas dalam benak kalau memikirkan siapa-siapa saja yang telah mendukungnya untuk sampai di sini. Wajah dari Minhyung dan Jeno, yang keduanya terlihat tidak rela Renjun pergi jauh.
"...jaga kesehatan. Aku dan Jeno tidak bisa mengantarmu karena Ayah menyuruh kami memimpin pasukan ekspedisi ke dataran utara," kata Minhyung saat Renjun bilang pada mereka berdua dia akan pergi belajar.
Jeno juga mengatakan hal yang garis besarnya sama. Dia minta maaf karena sebatas mengantar saja tidak bisa dia lakukan, "...aku akan mengunjungimu ke Neostadt sepulang ekspedisi."
Mengunjungi? Renjun senang sekali mendengar teman-temannya ini seperti yang khawatir sampai sebegitunya, padahal... Hei! Yang lebih patut dikhawatirkan itu justru mereka kan? Mereka akan pergi ekspedisi ke dataran asing yang katanya dihuni sebuah klan yang kemungkinan besar menyimpan dendam terhadap bangsa Huang. Entah sambutan macam apa yang akan mereka dapat begitu nanti mereka bersama pasukan sampai di sana... Entah anak panah, entah juga hunusan pedang.
Selain itu juga, orang yang bukan penyihir sama sekali tidak diperkenankan masuk ke dalam Neostadt. Yah, mungkin ada beberapa pengecualian kalau memang ada urusan penting... Tapi mengunjungi salah satu penyihir pendatang yang bersekolah di sana kan bukan urusan yang penting! Tidak akan ada pengecualian untuk hal remeh macam itu, bahkan dengan mengaku-aku sebagai pangeran dari sebuah kekaisaran besar sekalipun.
Tapi nyatanya apa? Beberapa minggu setelahnya, Haechan dan Jaemin berlari-larian ke arahnya dengan sangat tergesa-gesa. Renjun sempat akan mengomel karena keduanya sangat berisik dan itu menyebalkan, tapi apa yang disampaikan mereka berikutnya berhasil membatalkan niatnya.
"Tadi kami lihat ada pendatang di gerbang pemeriksaan dengan tanda pengenal yang sama denganmu! Tanda pengenal Kekaisaran Huang!"
"Kekaisaran... Hah? Tapi aku tidak merasa ada penyihir Huang di sekitar sini..."
"Memang bukan penyihir!" Jaemin lalu menarik Renjun ke jalan menuju gedung utama kearsipan kota, tidak peduli pada protesan Renjun yang sepertinya tadi sedang akan menuju tempat lain. "Aku yakin mereka temanmu! Si pangeran Lee 1 dan pangeran Lee 2! Mereka sama-sama mengenakan baju bagus dan mereka juga membawa wadah logam!"
Tanda pengenal Kekaisaran Huang... Wadah logam...
Setelahnya, Renjun langsung melesat tanpa tarikan dari siapapun lagi. Dengan perasaan senang membuncah dia memanggil-manggili dalam benak nama kedua temannya yang dia yakini memang adalah orang yang dilihat Jaemin dan Haechan, "Terima kasih! Akan aku cek sendiri!" Serunya dengan keras karena terlalu semangat, meninggalkan dua temannya yang tidak mengikuti.
Dari tempat mereka berdiri, Jaemin membalas lambaian tangan Renjun yang larinya tumben-tumbenan bisa secepat itu. "Pasti dia senang bisa bertemu temannya lagi di sini... Aduh, aku juga jadi kangen rumah!"
"Simpan kangenmu itu sampai lulus! Yang harusnya kita lakukan sekarang ini adalah sesuatu yang lain, tau!"
Jaemin tidak mengerti apa maksud Haechan soal apa yang harusnya mereka lakukan. Ini hari Sabtu. Libur. Mereka tidak ada kewajiban apapun hari ini, makanya tadinya mereka iseng saja ke gerbang pemeriksaan untuk melihat seramai apa pendatang di sana.
Haechan menyunggingkan senyum miring, tanda hal yang akan dia lakukan berikutnya itu bisa dibilang memang adalah hal yang bisa saja berujung buruk, "Kamu tau kan, aku sekarang jadi berteman lumayan baik dengan Jisung...?"
.
.
.
.
Selain penyihir, siapapun yang tidak berkepentingan memang tidak diperkenankan masuk ke dalam Neostadt. Tapi Minhyung dan juga Jeno, keduanya adalah pangeran dari sebuah kekaisaran besar yang sudah dipercaya atas banyak misi langsung dari kaisarnya. Pasti! Pasti kunjungan satu ini pun adalah kepentingan yang cukup untuk jadi pengecualian! Dan kepentingan apapun itu yang menyangkut pemerintahan, hanya ada satu tempat yang bisa dituju saat ini. Gedung utama kearsipan!
Renjun berlarian ke sana tanpa pikir panjang. Sekitar dua tahun dia belajar di kota penyihir ini, dia sudah sering sekali melihat adanya rombongan asing yang dikawal penyihir-penyihir tingkat atas untuk bertemu dengan para pengatur aktivitas kota, dan semuanya masuk ke dalam gedung kearsipan.
"Uh, masih ada penjaga ya?"
Renjun bersembunyi di sudut mati jalanan. Dia bersembunyi karena dia sebenarnya sudah memasuki kawasan yang seharusnya tak bisa dia datangi. Ingat, Renjun hanya murid pendatang di sana. Walaupun Renjun diberikan titel sebagai murid unggulan, tetap saja gedung kearsipan ini hanya boleh dimasuki penyihir tingkat atas yang sudah dipastikan memiliki kepentingan di sana.
Jadi? Apa Renjun akan pulang begitu saja? Atau menunggu orang-orang dari kekaisaran itu keluar duluan?
Haha! Mana mungkin! Kalau begitu, buat apa dia sampai bawa tongkatnya ke sana?
Dengan kemampuan sihir pengurai cahaya, Renjun menyamarkan penampilannya. Dia menyamar menjadi mentornya di kelas meramu, Kim Doyoung.
"Selamat sore, Tuan," sapa para penjaga dengan sopan saat Renjun yang berpenampilan sebagai mentor Kim terlihat mendekat. Mereka merasa cukup aneh karena si mentor Kim ini hanya membalas dengan anggukan, tapi mereka tidak terlalu memusingkan. Renjun berhasil masuk dengan leluasa! Kalau dia tidak ingat dia sedang di mana dan sedang menjadi siapa, dia pasti sudah heboh menginjak-injak tanah lalu berlarian memanggil-manggil orang-orang yang saat ini dicarinya.
Baru pertama kali ini Renjun menapakkan kaki di sana. Di sebuah gedung berdinding batu marmer yang harum udaranya sangat berkesan mahal. Seluruh permukaan lantai dilapisi karpet merah dan di tiap sudut ruangan dipastikan ada satu patung pahatan yang dibuat berdasarkan struktur wajah milik entah siapa.
"Jadi aku harus mencari mereka mulai dari mana ya?" Renjun melipat tangan di depan dada. Berpikir, berpikir keras. Di saat seperti ini, dia jadi sangat menyesal belum bisa menguasai sihir yang bisa memanipulasi suaranya. Penampilannya boleh jadi adalah penampilan luar mentor Kim, tapi suaranya tetap saja suara remaja yang masih mencari jati diri. Itulah kenapa dia juga tadi tidak membalas sapaan para penjaga di gerbang depan. Suaranya sangat jelas akan menyia-nyiakan sihir pengurai cahayanya begitu saja.
Selain sihir untuk manipulasi suara, ada pula sihir yang bisa digunakan di situasi ini tapi belum ia kuasai. Itu adalah sihir manipulasi ruh untuk mencari orang berdasarkan ruh-nya.
Semua orang memiliki ruh di dalam dirinya. Ruh adalah yang membuat semua manusia, ah, bukan! Semua makhluk hidup! Ruh membuat semua makhluk hidup sama rata. Walaupun begitu, ruh setiap ciptaan tidak ada yang identik, maka dari itu sihir untuk memanipulasi ruh butuh waktu lama penguasaannya.
Renjun tanpa sadar menggenggam erat tongkatnya. Tidak ingin menyesal, dia andalkan saja firasatnya untuk mengambil langkah ke mana kakinya mengarah. Berkali-kali juga dia hadapi ujian dengan mengandalkan firasat, dan kebanyakan, firasatnya benar. Mungkin kali ini pun firasatnya juga masih bisa memberinya kabar baik?
"Ah!" Dia kelepasan bersuara saat tak sengaja dia tabrak seseorang di lantai 3. Ya, kakinya memang membawa dirinya ke lantai 3, lantai yang lorongnya terkesan mengutamakan sinar matahari yang ditembuskan kaca jendela sebagai penerangan. Intinya? Ya... Lorong itu terkesan seram.
Tunggu. Tapi siapa orang yang dia tabrak barusan?
"...Jeno?"
.
.
"...Jeno! Kamu benar di sini!"
Renjun memekik kecil melihat pemuda tinggi yang ada di depannya. Pemuda berambut hitam dan berahang tajam, Renjun sangat mengenali orang ini sejak lama. Belum lagi, sarung pedang logam yang berhiaskan lambang bintang segi delapan di pinggangnya... Itu benar-benar Jeno! Lee Jeno, temannya!
Tapi orang yang diingatnya sebagai Lee Jeno ini malah menatap heran. Langkah mundur diambilnya bahkan. Renjun sempat sakit hati di tempat sampai dia sadar kalau sihir pengurai cahayanya masih berfungsi, "...! Aku Renjun! Huang Renjun! Kamu lupa suaraku?"
"...Renjun?" Dia mulai menurunkan pertahanannya saat Renjun menyebutkan nama, tapi itu belum cukup! Jadilah Renjun tarik orang itu ke sebuah ruangan kosong yang sama-sama gelap dan sedikit berdebu, tapi yang terpenting, ruangan itu sepertinya benar-benar tidak akan didatangi orang dalam waktu dekat.
Jeno terlihat akan protes karena penarikan yang tiba-tiba itu, tapi pada akhirnya protes itu tertahan saat dia lihat orang asing yang menariknya ke sana perlahan berubah di bawah terpaan sinar matahari dari celah jendela menjadi sosok yang jauh lebih kecil, yang juga jauh lebih dia kenal.
"Hai, lama tak jumpa," tangan diulurkan, senyum lebar ditampakkan. Renjun sekarang menyapa temannya dengan cara yang semestinya, "Senang sekali bertemu Jeno lagi setelah sekian lama! Apa ka—...!"
Tapi Jeno sama sekali tidak membalas uluran tangannya. Jeno memeluknya. Tubuh yang lebih tinggi itu bahkan sampai mau-mau saja merunduk supaya bisa lebih memperdalam rengkuhannya.
"J-Jeno! Hei, kamu membuatku kaget!"
"...njun..." Suara lirih dari Jeno, Renjun dengar sangat jelas. "Renjun... Aku —aku merindukanmu..."
Oh, apa Renjun salah dengar? Jeno bilang dia rindu? Serius? Jeno yang itu?
Renjun tidak bisa menahan tawanya dihadapkan Jeno yang menurutnya tumben sekali bisa menunjukkan sisi macam itu. Dia balas peluk si yang lebih tinggi sembari mengelus rambutnya, "Iya, aku juga. Sangat."
Di ruangan yang mereka asal masuki itu, Jeno tidak melepaskan peluknya sama sekali sampai Renjun bilang kakinya pegal. Renjun berlarian ke gedung kearsipan dengan kaki telanjang. Bayangan untuk duduk santai di sofa panjang yang ada di sana itu mulai terlihat menggiurkan bahkan walaupun sofa itu penuh debu.
"Di sini pun kamu masih tidak pakai sepatu ya..." Jeno meringis saat melihat bagaimana telapak kaki Renjun sangat kotor oleh pasir. Dia memang mengenal Renjun tidak suka beralas kaki bahkan dari saat dia masih di kekaisaran. Renjun baru akan terlihat memakai selop saat ada acara penting yang mengharuskannya begitu. "Apa teman-temanmu tidak ada yang komentar?"
"Tidak. Di sini orangnya sangat beragam, Jeno. Yang tidak pakai sepatu itu bukan cuma aku," seperti itu dia membela diri. Sebagai penekanan, kakinya juga digoyang-goyangkan, yang mana Jeno tanggapi dengan menepuk pelan kakinya supaya dia berhenti. "Ngomong-ngomong, apa yang membawamu ke sini? Tugas dari Ayah ya? Tapi kenapa kamu malah jalan-jalan? Kukira kamu pasti dibuntuti pengawal dari penyihir di sini..."
Jeno menarik senyum tipis sebelum menjawab, "Iya, tugas dari Ayah, tapi yang disuruh itu bukan aku, melainkan kakak. Aku cuma minta ikut supaya," dia menjeda, "siapa tau, aku akan punya kesempatan menyelinap dan menemuimu. Walaupun ternyata kamu yang duluan datang..."
"Oh, benar juga! Kak Minhyung pasti juga di sini ya! Penerus tahta satu itu pasti sudah banyak diberi tugas kunjungan ke banyak tempat! Kamu juga ikut ke dataran utara itu kan? Bagaimana ekspedisinya?"
Lagi, Jeno tersenyum tipis. Seperti yang senang sekali melihat Renjun sama sekali tidak berubah, "Tidak ada yang khusus selain kakak mendapat wadah jin baru di tengah perjalanan. Lebih baik kamu mendengarkan langsung saja darinya setelah kunjungan selesai," katanya. "Lagipula, daripada aku, bukannya kamu punya lebih banyak hal yang ingin diceritakan? Belajar sihir di Neostadt pasti memberimu banyak pengalaman baru."
"Memang! Tapi ceritaku bisa menunggu!"
"Tapi aku tidak. Kamu cerita duluan."
Jeno, tukang paksa! Renjun akhirnya jadi yang bercerita lebih dulu. Dimulai dari dia ditempatkan di kelas terakhir berdasarkan poin di ujian masuk yang sangat sulit, lalu soal dia harus mengambil banyak kelas olahraga karena fisiknya dinilai terlalu lemah untuk belajar sihir. Semua dia ceritakan tanpa ada yang terlewat.
"Kamu harus tau, aku sekarang memang di kelas 1, kelas paling bagus di sini, tapi saat pertama masuk, aku kelas 6, lho! Kelas terakhir! Ternyata ruh— ...maksudku, sihir bisa melemah kalau penyihir untuk pertama kalinya pergi dari tanah kelahiran! Yah, aku memang sebelum ini tidak pernah benar-benar melatih stamina sih... Aku juga jadi baru tau di sini, ternyata yang membuat sihirku lemah itu karena fisikku yang juga sama lemahnya—... Eh, Jeno, kamu yakin tidak bosan mendengarku bicara sendiri?"
"Tidak. Malah, aku sangat menikmatinya," Jeno menjawab sambil bertopang dagu. Dia terus menatap Renjun yang asik bercerita lekat-lekat. "Lanjutkan saja. Dengan mendengarkanmu cerita seperti ini, itu cara tercepat untuk mengisi kekosongan selama dua tahun ini aku tidak tau kabarmu."
"Lho! Kan aku juga mau tau ceritamu! Misalnya, misalnya ya...," Matanya mengamati perawakan Jeno dari ujung kepala hingga ujung kaki, "...soal... Bagaimana caranya kamu bisa tiba-tiba jadi setinggi ini... Kamu makan apa sih..."
"Aku? Aku makan apa yang ada. Daging, sayur, buah, susu... Seperti itu saja?"
Seperti itu saja, katanya. Renjun juga makannya sama kok, yang seperti itu saja. Tapi entah kenapa penambahan tinggi badannya tetap tidak sedrastis Jeno. Padahal ya, Renjun sudah ada rencana untuk pamer soal tubuhnya yang sekarang sudah lebih tinggi... Tapi kalau begini caranya kan itu artinya rencananya sudah benar-benar gagal total!
Renjun terlalu asik sendiri meratapi tinggi badannya yang masih jauh di bawah Jeno, sampai dia juga tidak menyadari bagaimana ada rasa senang menghiasi wajah si yang lebih tinggi, "Jadi... Kamu selama di sini baik-baik saja ya. Aku sekarang bisa lebih lega..."
Lega? Jeno lega mendengarnya baik-baik saja?
Hm-hm! Benar-benar teman yang baik! Terlalu gemas melihat Jeno yang seperti itu, Renjun meninju lengan kokoh sang pangeran, "Ya, aku baik-baik saja! Jangan terlalu cemas begitu. Kita sama-sama sudah besar, bukan lagi anak kecil yang tiap sore main di taman besar pinggir danau!" Barisan giginya dipamerkan lebar, berharap Jeno temannya ini tidak lagi bertingkah melankolis. "Kamu dan kak Minhyung juga baik-baik saja kan? Karena dulu kan kalian selalu ribut merebutkan hal kecil!"
"...ya. Kami baik-baik saja. Tidak ada masalah."
Hm? Hanya perasaan saja, atau memang Jeno tadi sempat menghindar tatap mata? Rasanya seperti Renjun baru saja menyinggung hal yang salah, tapi Renjun juga tau dia tidak menyebutkan hal aneh sama sekali.
Yah... Renjun juga tidak tau bagaimana memastikannya sih. Dia hanya terpikir untuk beranjak dari duduknya setelah dirasa kakinya mulai membaik, "Sebaiknya kita keluar. Mungkin kamu sudah dicari-cari pengawal sini."
Jeno hanya menyanggupi seadanya. Dia baru mulai bicara lagi saat Renjun menggunakan lagi sihir pengurai cahayanya, "Kamu lagi pinjam wujudnya siapa sih?"
"Guru. Kenapa?"
"Tidak. Kenapa kamu tidak memilih wujud orang yang tingginya lebih mirip denganmu? Aku tadi sempat tidak percaya karena aku tidak bisa membayangkan seorang Renjun tingginya bisa melebihi aku."
Huh! Tinggi lagi, tinggi lagi! Terus saja bicara soal tinggi! "Aku akan melampauimu di hari aku lulus dari sini! Lihat saja," kata Renjun dengan nada yang sama sekali tidak bisa meyakinkan Jeno. Lihat, Jeno malah tertawa saja.
Mereka keluar bergantian dari ruangan setelah memastikan tidak ada orang yang lewat. Yang ada di pikiran Renjun saat ini sebenarnya adalah untuk cepat berpisah jalan dengan Jeno lalu keluar secepatnya dari gedung. Dengan begitu, keduanya bisa tetap aman saja tanpa ada yang harus ditanggung kemudian. Tapi Jeno malah menyuruh Renjun diam di depan salah satu patung di sudut lorong, "Hah? Kenapa? Terus kamu mau ke mana?"
"Aku akan kembali ke ruang rapat dan memanggil kak Minhyung ke sini. Kamu yakin tidak mau bertemu kak Minhyung dulu?"
Minhyung? Mau! Tentu saja Renjun mau! "Tapi bagaimana caranya?"
"Aku tidak yakin sih soal pengawalnya, tapi kurasa kak Minhyung bisa mengusahakan sesuatu," Jeno melanjutkan. Dia lihat Renjun sangat senang mendengar kata-katanya. "Kemungkinan aku tidak akan ke sini lagi kalau kak Minhyung berhasil ke sini. Jadi, sampai jumpa lagi ya? Belajar yang rajin."
Jeno melambaikan tangannya lalu pergi dari sana, tidak menunggu Renjun menjawab padanya terlebih dulu. Entah dia melihatnya atau tidak, wajah Renjun yang sempat tidak menyukai cara Jeno bilang padanya mereka berpisah lagi dengan cara yang sangat diburu-burui.
.
.
.
Beberapa saat sebelumnya…
Di tempat lain, tepatnya di gerbang pemeriksaan gedung kearsipan, para petugas yang berjaga kini didapati dalam keadaan terkapar di tanah.
"...kamu tadi melakukan apa pada mereka, Chan?" Jaemin bertanya, ngeri sekali rasanya saat tadi dia melihat petugas-petugas itu langsung tidak sadarkan diri setelah Haechan melafalkan sebuah mantra. "Itu tadi sihir hipnotis? Serius? Kamu sudah bisa sihir level setinggi itu?"
Ah, Jaemin ini banyak tanya. Haechan tarik saja tangan Jaemin supaya mereka bisa langsung berlari masuk ke dalam gedung sebelum ada orang lain lagi yang datang, "Mana mungkin! Itu tadi sihir penyembuhan yang paling sederhana!"
"Hah? Apa? Memangnya ada?" Jaemin tidak mengambil minat dalam sihir penyembuhan. Dia tidak tau sihir apa tepatnya yang Haechan maksud.
"Ya! Tidur adalah obat terbaik! Aku hanya membuat mereka tidur!" Lalu dia juga menambahkan soal dia yakin para petugas itu akan bangun dalam kondisi lebih bugar dari sebelumnya. Dia sangat membanggakan bidang sihir yang sudah jadi identitasnya di Neostadt. Penyihir penyembuh terbaik di angkatannya, Haechan! "Sekarang, coba cari di mana Renjun! Kamu sudah bisa lihat ruh, kan?"
"Baru berhasil sekali! Mentor Son bilang mata ruh-ku belum stabil..."
"Tidak apa-apa! Coba saja!"
Coba saja, katanya? Ya sudah lah, kalau Haechan sudah memaksa memang tidak ada lagi yang bisa menghentikannya.
Mata dipejamkan setelah napas diseragamkan. Mengingat-ingat lagi bagaimana ruh Renjun yang pernah dilihatnya secara tidak sengaja, Jaemin fokuskan seluruh kekuatan dalam tubuhnya untuk mencari ke mana ruh-ruh di sekelilingnya menuntun.
"Aku lihat," Jaemin bergumam pelan, tapi sudah cukup untuk membuat Haechan heboh menyemangatinya. "...aku lihat ruh Renjun... Bersama seorang lagi yang ruh-nya tidak pernah kulihat di sekitar sini."
"Itu pasti si pangeran Lee!"
Jaemin belum selesai. Keningnya mengerut dalam karena yang dilihatnya lebih dari yang barusan dia ucapkan, "Haechan, aku tidak mengerti... Ruh di sekitar mereka...," dia ragu, "ruh di sekitar mereka warnanya... Merah muda..."
"...hah?" Ruh merah muda? Maksudnya? Haechan tidak pernah melihat ruh sebelumnya, jadi dia tidak tau warna normal ruh itu seperti apa sebenarnya.
"Ruh yang baik itu yang putih keemasan!" Jaemin sudah membuka matanya, dan sekarang giliran dia yang menarik Haechan ke tempat yang lebih aman karena dia melihat ada ruh sekelompok orang yang akan lewat. "Sepertinya yang kulihat itu ruh dari udara, atau uap air dari napas. Kalau tidak salah... Ruh merah muda itu biasa ada di sekitar pasangan kekasih."
Wah! Sepasang kekasih, katanya! Haechan hampir menjerit kesenangan mendengar penjelasan Jaemin walaupun dia kurang mengerti logikanya di sebelah mana. "Pasti itu si Lee Minhyung! Si pangeran Lee 1! Woi, itu artinya perasaan Renjun berbalas!"
"Bisa iya, bisa juga tidak. Tidak ada yang pasti," Jaemin kembali mengecek ke luar ruangan. "Renjun dan si pangeran mau pergi. Ayo, kita cepat temui Renjun dan bawa dia keluar—..."
"Hei! Bukan itu misi kita!" Haechan menarik ujung jubah hitam Jaemin saat dia sadari Jaemin ternyata berbeda tujuan dengannya. Jaemin terlihat ingin protes, jadilah Haechan beri lihat apa yang ada di dalam kantongnya, "Kamu ingat ini apa? Ya, ini bola cokelat buatan Jisung! Aku dapat dari dia kemarin karena dia bilang sedang ingin menghabiskan stok."
"...! Kamu mau berikan itu pada Renjun di depan pangeran, supaya Renjun jadi—...?"
"Renjun? Bukan, Nana-ku sayang!" Haechan jadi greget sendiri. Sulit dia percaya Jaemin dari awal ternyata tidak satu pikiran dengannya, "Ini untuk pangeran Lee Minhyung! Kita kasih satu bola cokelat ini padanya, lalu kita lihat apa perasaan Renjun berbalas atau tidak!"
"Oooh! Begitu rupanya! Kenapa kamu tidak bilang dari tadi!"
"Karena seharusnya kamu memang sudah mengerti dari tadi!"
.
.
.
"Kakak? Rapatnya sudah selesai?"
Jeno bertanya pada seorang lelaki berambut hijau yang tengah sibuk menyesap teh. Itu kakaknya, Lee Minhyung, orang yang tadi sempat dia cari ke ruang rapat yang ternyata sudah kosong. Jeno menemukan kakaknya ini ternyata ada di sebuah ruangan yang sepertinya memang dikhususkan untuk tamu penting kalau melihat dari ornamen-ornamen yang menghias dinding. Jeno bisa sampai ke ruangan itu juga setelah bertanya pada orang-orang yang mengenakan baju tradisional khas tempat itu.
"Dilanjutkan lagi nanti malam. Ada sesuatu terjadi di luar yang mengharuskan pemerintah kota hadir, jadi kita langsung diminta menginap saja karena kita tidak mungkin kembali tengah malam," Minhyung membalas dengan sedikit emosi, dilihat dari cara duduknya yang melipat kaki. "Seenaknya menggeser jadwal kita... Mereka pikir kedatangan kita ini main-main ya? Dia juga tadi sama sekali tidak mendengarkan omonganku."
Jeno tidak banyak berkomentar. Tugas dari Ayah mereka kali ini adalah untuk membuat Neostadt menjadi aliansi Kekaisaran Huang. Mereka, atau Minhyung lebih tepatnya, diutus sebagai yang akan menginformasikan kepada pemerintah Neostadt supaya mengaku bersumpah akan menyediakan bala bantuan dalam perang melawan Kekaisaran Reim yang mungkin akan terjadi di masa mendatang.
"Oh, ya. Dari mana saja kamu, Jeno? Aku tadi sempat meminta dayang mencarimu karena kamu belum tau kalau kita pulangnya diundur, tapi ternyata kamu datang sendiri."
"Benar! Kak, aku tadi bertemu Renjun di sini! Aku kembali karena aku janji akan membawamu ke tempat sekarang dia menunggu!"
Jeno sempat menimang dalam benak. Kakaknya ini mood-nya sedang jelek. Dia khawatir mood jelek kakaknya malah membuat reuni dengan Renjun jadi berubah masam suasananya.
Tapi Jeno salah besar. Minhyung dengan sangat cepat meletakkan cangkir tehnya di meja dan segera mengenakan jubah hitam yang disampirkan di kursi, "Renjun?" Katanya. "Di mana?"
.
.
.
.
Entah sudah berapa kali Renjun melempar senyum pada orang-orang yang menyapanya, atau lebih tepatnya menyapa Mentor Kim. Dia sudah menunggu di sana sekitar lima belas menit, tapi yang dijanjikan Jeno akan datang tidak juga menampakkan diri.
"Kalau begini terus, bisa-bisa aku malah benar-benar bertemu Mentor Kim di sini..."
Merasa yang ditunggunya tidak akan datang, Renjun hampir saja memutuskan untuk pulang duluan. Dalam hati dia sudah mengucapkan beribu maaf pada Jeno karena tidak mau menunggu.
"Haung!"
Renjun menoleh. Dia mendengar sesuatu yang terasa familiar di telinga, "...kak Minhyung!" Dia lihat si rambut hijau menyapanya dengan lambaian tangan. Renjun berjalan mendekat dengan langkah sedikit melompat begitu dia yakin si rambut hijau memang mengenalinya bahkan di balik sihir penyamaran, "Sudah dua tahun tidak bertemu, kenapa masih memanggilku Haung! Namaku itu Huang!"
"Justru karena sudah dua tahun, aku jadi lupa namamu yang benar itu yang bagaimana. Dan... Wow, tinggi sekali ya penyamaranmu? Hm? Masih bercita-cita jadi tinggi ya rupanya?" Dia membandingkan tingginya sendiri dengan tinggi Renjun yang masih menggunakan sihir pengurai cahayanya untuk menyamar.
"Berisik! Aku juga sudah tambah tinggi, tau! Benar-benar ya, kamu tidak ada bedanya dengan Jeno! Dia tadi juga mengataiku soal tinggi!"
Minhyung hanya balas tertawa sebelum dia jadi bertanya apa dia tidak bisa melihat Renjun tanpa penyamarannya untuk hari ini. "Aku ingin memelukmu, teman! Tapi memelukmu dalam keadaan dirimu berpenampilan sebagai orang yang aku tidak kenal sama sekali, rasanya... Hmm..."
Renjun tersenyum lebar karena dia mengerti maksudnya. Sama seperti yang dia lakukan pada Jeno, Renjun tarik Minhyung ke salah satu ruangan terdekat yang kali ini untungnya tidak terlalu berdebu. Hal yang membuat pertemuan ini berbeda dengan sebelumnya, Renjun adalah orang yang menubruknya duluan.
"Tuh, kan. Aslinya masih sekecil ini." Minhyung berucap tepat di telinga, membuat si pemilik telinga jadi tertawa geli kesenangan. Tangan dipakainya mengusap lembut rambut si yang lebih kecil. "Dan... Perasaanku saja, atau kamu sepertinya sudah mulai membentuk ototmu?"
"Ya! Kata guruku, penyihir yang hanya mengandalkan kemampuan sihirnya itu penyihir kelas rendah!"
"Hmm," pelukan itu mulai terlepas. Senyum masih menghiasi wajah keduanya, "Aku ingat ada yang pernah bilang 'penyihir tidak butuh belajar bela diri' tiap aku dan Jeno emsparring/em. Berarti penyihir satu itu masih penyihir kelas rendah ya?"
Sial! Itu kata-katanya! "Jangan dibahas lagi!"/p
.
.
.
Bayangan senang kakaknya saat dibilang Renjun menunggu di suatu tempat masih membekas dalam ingatan Jeno, bahkan saat sudah hampir setengah jam kakaknya itu pergi meninggalkan dia sendirian di kamar tamu.
Entah sudah berapa kali Jeno membuang napasnya tiap kali teringat bagaimana Renjun hari ini sepertinya baru menunjukkan wajah tersenangnya saat Minhyung disebutkan. Awalnya, Jeno merasa sedikit terganggu oleh pikiran itu, tapi tak lama dia jadi bisa lebih tenang, menganggukkan kepala seraya menghirup wewangian teh panas yang dia mintakan pada dayang untuk disiapkan.
Yang membuatnya tenang pada akhirnya, itu karena Renjun masih belum berubah. Renjun masih temannya yang sangat ceria dan sangat pandai membuat lawan bicaranya merasa dianggap keberadaannya. Jeno ingat, dulu Renjun memang selalu merasa terbebani oleh bagaimana komunikasi yang benar harusnya dilakukan. Belum lagi, Renjun juga baru tau lumayan telat kalau semua orang yang bukan anggota keluarga kerajaan pasti selalu membungkukkan tubuhnya saat bicara dengan Jeno dan Minhyung. Itu membuat Renjun sempat menolak untuk pergi main tiap Jeno dan Minhyung mengajak.
"Aku beda dengan kalian."
Ah, suara Renjun waktu itu masih bisa didengarnya lumayan jelas. Rasanya seperti baru terjadi kemarin. Rasanya baru kemarin dia masih melihat Renjun yang sering menarik diri lantaran merasa berbeda karena di sana, di tanah Kekaisaran Huang yang waktu itu baru berpindah kekuasaan, dia lahir sebagai satu-satunya penyihir dalam satu dekade itu. Penyihir yang ada di kanan kirinya, semuanya sudah berumur dan tidak akan mengerti perasaannya yang selalu merasa berbeda tiap dibandingkan dengan teman-teman sepantaran.
Kenangan yang sangat berharga sampai terasanya masih sangat dekat. Renjun yang waktu itu bilang tidak akan pergi main bersama lagi tapi ternyata malah jadi yang duluan menangis kesepian. Jeno ingat bagaimana waktu itu Renjun baru berhenti menangis setelah dia memeluknya.
Renjun yang manis. Renjun yang mudah merasa kesepian. Renjun yang akan selalu bisa dia lihat di dekatnya. Renjun yang seperti itu yang Jeno ingat dari masa kecilnya.
Tapi kenapa juga dia tiba-tiba jadi menghabiskan waktu sorenya dengan bernostalgia segala? Langit di luar jendela sudah berwarna kemerahan dan kalau misal dia juga akan ikut rapat malam nanti, lebih baik dia gunakan waktu sekarang untuk istirahat, menyimpan tenaga.
Ya, harusnya dia menyimpan tenaga. Tapi pada akhirnya dia memutuskan keluar dari ruangan dan sekali lagi berkeliling melihat-lihat seisi gedung kearsipan yang entah kenapa kesannya sudah seperti hotel karena menyediakan kamar untuk tamu-tamunya yang menginap. Belum lagi, pelayanannya juga tidak jelek.
Apa mungkin kamar tamu ini dibuat di gedung kearsipan supaya tamu-tamu berkepentingan yang kebanyakan adalah non-penyihir itu tidak perlu berkeliaran di tengah kota? Supaya kota yang katanya mendiskriminasi penyihir ini bisa merasakan sensasi yang namanya memenjarakan non-penyihir? Bisa iya, bisa juga tidak. Tapi yang jelas, itu yang Jeno pikirkan sembari terus mengambil langkah menuju entah.
Kalau mereka pikir dengan pelayanan terbaik sudah membuat puas Jeno dan Minhyung yang adalah majikan jin wadah logam, benar-benar mereka salah besar. Dikatakan dalam cerita dari mulut ke mulut, mereka yang berhasil menjadikan jin wadah logam sebagai pesuruhnya adalah orang-orang serakah. Untuk bisa mendapatkan jin, seseorang harus menaklukkan satu kuil bawah tanah yang diketahui telah menelan ribuan orang di dalamnya. Peneliti, petualang, bahkan sampai kriminal, semuanya yang menantang diri sendiri untuk masuk ke dalamnya tak ada satupun yang kembali, sampai akhirnya ada seorang pemuda yang berhasil keluar membawa seluruh harta benda yang ada di dalamnya seorang diri. Putra sulung Kaisar Lee Taeyong, Lee Minhyung-lah orangnya.
"Tak ada hal yang tak bisa aku lakukan." Jeno ingat itulah yang Minhyung katakan dulu saat dia dan Renjun sama-sama tidak percaya Minhyung yang sempat menghilang sehari itu ternyata diam-diam pergi menaklukkan kuil bawah tanah. Dia bilang, itu karena ayahnya menyuruhnya melakukan itu untuk pekan depannya dengan dikawal pasukan baris depan yang selalu menjadi kebanggaan rakyatnya, "Kalian harus tau beberapa hal tentang menjadi majikan jin wadah logam. Pertama, mereka bukan dipilih, melainkan memilih. Mereka yang memilih sendiri majikannya. Mereka punya kriterianya masing-masing dalam memilih majikan yang akan mereka sembah seumur hidup."
Minhyung tidak bicara panjang lebar setelahnya, dan yang dia bicarakan ternyata hanya sebatas permukaan. Jeno tidak pernah mengerti maksud dari jin memilih sendiri majikannya sampai hal itu terjadi pada dirinya sendiri. Leraje, jin yang sekarang menjadi abdi Jeno, adalah jin yang dia dapatkan saat dia ikut mengawal Minhyung bersama pasukannya dalam ekspedisi kuil bawah tanah Minhyung yang kedua.
"Bukan, bukan aku. Ekspedisi ini tujuannya untuk kak Minhyung," kata Jeno yang berusaha menolak saat dia mendengar wujud raksasa jin itu bilang Jeno adalah majikan yang dipilihnya. Dia terus menolak, tapi akhirnya dia menerima karena Minhyung pun di luar dugaannya justru mendukung supaya dia terima saja.
Yah, Minhyung memang senang akhirnya Jeno juga mengikuti jejaknya menjadi penakluk kuil bawah tanah, tapi tak lama setelahnya Minhyung menghilang seharian lagi dan tiba-tiba kembali dengan jin wadah logam yang baru. Ya, dia sekali lagi pergi menaklukkan kuil seorang diri tanpa pamit siapapun. Mungkin sebenarnya dia tetap merasakan frustrasi karena tidak terpilih.
Minhyung menginginkan jin milik Jeno. Itu Jeno paham dengan sangat. Tapi Minhyung sama sekali tidak pernah paham apa yang Jeno sendiri inginkan darinya.
Dari jauh, dari celah-celah kecil, Jeno melihat dengan jelas betapa riang dan gembiranya dua sosok orang yang sangat dia kenali sebagai Minhyung, kakaknya, dan Renjun, temannya.
Renjun bercerita dengan pipi memerah saking senangnya. Minhyung juga di sana terus mendengarkan dan tak jarang menimpali dengan tanggapan yang menyenangkan. Sekali lihat juga, Jeno bisa tau keduanya sama-sama sangat menikmati pertemuan mereka kembali.
Andai Minhyung tau, Jeno sendiri sebenarnya ingin sekali menukar jin miliknya dengan perhatian yang selalu didapatkan Minhyung dari si penyihir kecil kesukaannya.
Ya, andai Minhyung tau. Tapi Minhyung memang tidak akan pernah tau. Dan kalaupun dia tau, perhatian itu datangnya tidak dengan cara yang seperti itu, jadi bagaimana lagi?
Tidak ingin makin dibebani pikiran yang membuatnya bertanya-tanya apakah Renjun juga senang bertemu dengannya lagi, Jeno memutuskan untuk kembali ke ruangannya.
"Anu... Permisi."
Tapi di tengah jalan, ada dua orang berseragam sama dengan Renjun menghadangnya. Ya, seragam penyihir.
.
.
.
"Ah... Aku lapar."
Renjun mengusap-usap perutnya yang mulai dirasanya bergemuruh minta diisi. Seharian ini memang dia sudah terlalu banyak menggunakan sihir, dan itu sangat menguras tenaganya. Selain itu juga, hari sudah gelap. Tak aneh kalau misalnya dia sudah lapar.
"Ya sudah. Mau balik?" Minhyung yang pertama bangkit setelah melihat ke luar jendela dan menyadari di luar sana memang sudah gelap dan toko-toko mulai menyalakan lampunya untuk penerangan dan juga hiasan, "Atau mau makan di sini dulu? Biar kita makan bertiga juga dengan Jeno."
Renjun bergumam pelan. Dia bilang, dia sebenarnya sudah bertukar salam perpisahan dengan Jeno sebelumnya, jadi kalau sekarang bertemu lagi rasanya aneh. Tapi Minhyung tetap memaksanya dengan dalih, "Jeno kan tadinya belum tau kalau kami akan menginap, makanya dia bilang mungkin tidak akan bertemu lagi. Ayolah, dia yang paling sering bilang ingin pergi ke Neostadt hanya untuk menemuimu, tau."
"...iyakah? Kok bisa? Tumben sekali."
Minhyung menganggukkan kepalanya berkali-kali supaya Renjun percaya. Akhirnya Renjun menyerah dan sama seperti sebelumnya, mereka keluar dari ruangan dengan Renjun memasang penyamaran. Yang berbeda mungkin adalah Renjun tidak lagi menyamar sebagai gurunya, tapi menjadi pengawal Minhyung yang memakai baju tradisional Kekaisaran Huang. Mereka berencana untuk makan di kamar tamu saja, meminta makanannya diantarkan ke sana, dan setelahnya Renjun akan pulang lewat jendela.
"Kamu juga masuk ke sini lewat jendela? Kamu tuh penyihir atau kucing liar sih?"
"Tidak! Aku masuk lewat pintu depan," Renjun menggerutu dan kelepasan menghentakkan kakinya karena tidak terima disebut kucing liar, "untuk masuk ke sini, memang tidak bisa selain dari pintu depan —ada mantra yang membuat bangunan ini jadi seperti itu— tapi kalau keluarnya sih bisa dari mana saja! Dari jendela, misalnya."
Minhyung masih terus bisa-bisanya meledeki Renjun, sampai-sampai Renjun tidak menyadari kalau ada dua sosok penyihir yang memperhatikannya di lorong.
Tunggu. Renjun mengenalinya. Itu Haechan dan Jaemin! Kenapa mereka bisa ada di sana? Dan kenapa mereka bisa tau itu dirinya, padahal dirinya sedang menyamar menjadi lelaki tua?
"Aku melihat ruh-mu!" Jaemin menjawab saat Renjun akhirnya mendatangi mereka saja langsung. "Aku sekarang sudah bisa melihat ruh, dan aku sudah hafal ruh milikmu, milik Haechan, dan beberapa dari teman kita di kelas!"
Melihat ruh? Mata ruh Jaemin sudah bisa digunakannya dengan baik? Wah, Jaemin pasti akan mendapatkan ribuan pujian dari guru wanita mereka si Mentor Son Wendy!
Ah, tapi itu bukan poinnya! Buat apa mereka ada di gedung kearsipan?!
"Kamu lihat saja nanti! Kami sudah berhasil memberikan bola cokelat laknat buatan Jisung pada si Pangeran Lee!" Haechan merangkul Renjun untuk mendekat ke ruangan yang mereka tidak ketahui sebagai kamar yang ditempati kedua pangeran Lee.
"Cokelat Jisung...? Buat apa?"
"Untuk melihat perasaanmu berbalas atau tidak, tentu saja! Kenapa pakai tanya sih?" Lalu Haechan mulai menyadari ada satu orang lagi yang mengikuti mereka, "terus... Anda siapa ya?"
"Aku? Aku Lee Minhyung," dia menjawab sambil menunjuk pada dirinya sendiri, "Kalian teman Renjun? Salam kenal ya."
Kemudian semuanya hening untuk sesaat, terlebih Haechan dan Jaemin yang akhirnya saling tatap dengan wajah heran, "...Lee Minhyung-nya di sini, lho? Jadi yang di dalam itu siapa?"
Lee Minhyung adalah si Pangeran Lee 1. Berarti kemungkinan besarnya, orang yang di dalam itu... Pangeran Lee 2... Ya?
Haechan dan Jaemin sama-sama menelan ludah sebelum akhirnya mereka menyadari mereka ini salah orang! Buru-buru mereka berlarian ke depan pintu kamar tamu, tapi ternyata suara yang luar biasa menggelegar terdengar dari dalam ruangan. Ya, suara luar biasa keras yang bisa jadi menggunakan seluruh tenaga perutnya itu memanggili satu nama yang mereka sama-sama sudah biasa dengar, "HUANG RENJUN...!"
Keras. Keras sekali. Melebihi teriakan Haechan saat memanggili nama si gladiator Wong Yukhei yang juga sebenarnya sudah tergolong keras. Mengacu pada penjelasan Jisung mengenai ramuannya itu, berarti rasa suka —cinta— yang dimiliki Pangeran Lee Minhyung itu terhadap Renjun luar biasa besar ya?
Itu kalau memang orang yang berteriak barusan adalah benar Lee Minhyung. Sayangnya, Lee Minhyung yang sebenarnya malah berdiri di luar ruangan dengan keheranan karena tidak tau apa yang barusan terjadi, "Itu tadi suara Jeno...?! Dia kenapa?"
"Haaa! Itu benar-benar Pangeran Lee 2...! Bagaimana ini! Kenapa tadi tidak tanya nama dulu sih?!"
Renjun mendecih pada kedua temannya yang sekarang malah saling menyalahkan. Bukan! Bukan saatnya untuk ini!
"Jeno...!" Renjun akhirnya masuk ke dalam ruangan dan dia lihat Jeno yang terduduk di lantai. Dia raih tubuhnya yang lebih besar dan lebih tegap itu, "Jen...? Jeno, kamu baik-baik saja?"
"...Renjun?" Jeno sempat terbatuk sebelum menjawabi Renjun, "Kenapa kamu di sini?"
"Itu tidak penting! Apa yang terjadi?"
Apa yang terjadi, katanya? Apa ya? Jeno hanya ingat dia makan coklat yang diberikan dua penyihir yang mengaku sebagai teman Renjun... "Kata mereka, kamu minta pada mereka untuk membawakan cokelat itu untukku. Tapi setelahnya, aku langsung sesak napas dan tubuhku sakit sekali..."
"...lalu kamu memanggilku? Sekeras itu...?" Renjun usap wajah Jeno yang terlihat pucat. Sepertinya sakit yang dia rasa itu benar-benar menyiksa.
"Kurasa?" Jeno tidak mengerti dengan cara Renjun melihat padanya, tapi dia tetap menjawab saja setau dirinya, "...aku tidak mengerti juga, tapi di tengah sakit, rasanya tadi aku sempat melihatmu pergi. Tanpa sadar aku memanggilmu, dan kamu tiba-tiba ada di sini."
Melihat Renjun pergi, makanya Jeno memanggil? Apa Jisung pernah bilang halusinasi adalah salah satu efek dari ramuannya? Tidak tau, tidak ingat. Dan Renjun juga tidak merasa itu penting untuk saat ini.
Yang terpenting adalah saat Jeno bertanya, "Cokelat apa itu? Benar kamu minta teman-temanmu memberikan itu padaku?"
Renjun tidak membalas. Dia hanya bilang, itu coklat yang salah satu temannya buat sebagai tugas kelas meramu.
"Hah? Apa kegunaannya?" Jeno bertanya was-was.
"Gunanya," Renjun mendekap Jeno lebih dekat lagi, "adalah...aku jadi tau perasaanmu."
"Perasaannya? Perasaan apa? Jeno tidak mengerti sama sekali, apalagi saat dia lihat Renjun tersenyum padanya dengan wajah bingung. Senyum yang aneh, tapi tetap bisa membuatnya senang karena dia melihatnya sedekat itu.
Setelah Jeno sudah bisa kembali berdiri, Renjun bilang pada Minhyung, "Kak, sepertinya hari ini cukup ya? Aku dan teman-temanku sudah harus pulang."
"Lho? Tidak jadi makan?"
"Tidak. Aku mau minta dua anak ini traktir aku saja di bazaar dekat gerbang," Renjun menyeret keduanya yang masih sama-sama merasa tidak enak, "...sebagai kompensasi karena sudah bertingkah seenaknya. Ya, kan?"
"...iya..." Haechan dan Jaemin menjawab kompak. Renjun benar-benar marah pada mereka. Untung saja mereka membawa uang lebih, jadi mereka tidak perlu kembali dulu ke asrama untuk mengambil uang simpanan di celengan.
Di jalan gelap yang hanya disinari cahaya bulan malam itu, Haechan dan Jaemin terus minta maaf pada Renjun, "Kami salah! Kami mengaku salah! Maafkan kami!" Pinta mereka tanpa ditahan-tahan lagi, "Kami benar-benar lupa soal Pangeran Lee itu ada dua! Dan... Kami juga tidak mengira ternyata... Pangeran Lee yang satu lagi itu ternyata yang malah suka pada—..."
Omongannya terhenti karena Renjun yang berbalik badan, "Jangan bahas lagi!" Dia menegaskan, lalu kembali berjalan.
Jalanan benar-benar gelap, tapi mereka sama-sama bisa lihat bagaimana tadi itu, wajah Renjun sebenarnya bersemu merah. Saking marahnya kah?
Haechan baru saja akan kembali berteriak minta maaf, tapi Jaemin menghentikannya.
"Kenapa?! Kamu tidak lihat dia marah?! Lama-lama kita bisa jadi harus bersimpuh, tau tidak—...!"
"Merah muda..."
"Hah?! Apanya?!"
"Ruh di sekeliling Renjun," kata Jaemin, "ruh di sekeliling Renjun warnanya merah muda... Dan banyak sekali."
Merah muda? Warna ruh yang katanya akan terlihat di antara sepasang kekasih? Apa Jaemin salah lihat? Atau buta warna? Karena Renjun ini sedang berjalan sendirian meninggalkan mereka yang diam di tempat!
"Tidak, ruh merah muda tidak terbatas hanya di dekat sepasang kekasih!" Jaemin berusaha untuk menjaga dirinya tidak heboh sendirian. "Ruh merah muda itu bisa juga seseorang sedang kelewat senang, atau dia baru mulai... Jatuh cinta!"
Hah? Renjun? Jatuh cinta?
Haechan terus melihat pada Jaemin dan punggung Renjun bergantian, merasa gagal mengartikan. Baik Haechan maupun Jaemin, tidak ada yang menyadari bagaimana Renjun sebenarnya sudah mengerahkan sekuat tenaga untuk tidak tersenyum lebar, untuk tidak berdebar kencang, dan juga untuk tidak melampiaskan frustrasinya dalam teriakan. Dan semua itu sebenarnya ingin dia lakukan untuk alasan yang dia sendiri juga tak paham.
'... kenapa ya?'
Ah, tidak paham. Renjun tidak paham. Renjun hanya bisa berharap, semoga di lain kesempatan, dia bisa bertemu lagi dengan si Pangeran Lee 2 dengan keadaan dia lebih paham apa yang sebenarnya dia rasa sekarang.
.
END of Ch.1: Chocolate Intoxication
A/n.
Halo lama tak jumpa ini tata wkwk kalo pernah baca ini di wattpad, itu akun wattpad aku yang sudah tewas ya nder. Jadi aku pulang kampung ke FFn berhubung update wattpad sekarang jadi gak enak...
Jadi FF ini judul besarnya Aries and Mercury ya gais! Aku nyingkatnya aricury hihi. Nah, judul kecilnya salah satunya di chapter ini, Chocolate Intoxication yang pairing-nya noren. Ke depannya bakal ada judul kecil lain dengan pairing lain, tapi masih di satu universe dan berkesinambungan (?). Cuma jadi kayak berubah-ubah POV-nya gitu dan sama sekali gak menutup kemungkinan pairing yang udah dibahas bakal muncul lagi (malah, kemungkinannya sangat besar karena pairing-nya bakal cuma antara noren, markmin, dan hyuckhei wkwk).
Silakan tinggalkan review jika dan hanya jika kalian suka chapter ini! Silakan fav dan follow juga biar ga ketinggal updatenya ya!
