Aries and Mercury
Ch. 2 : Fusion of The Soul (part 1)
Pair: Hyuckhei, Luchan (Lucas x Haechan)
Disclaimer: highly influenced by Shinobu OHTAKA's Magi The Labyrinth of Magic
Pergilah ke tanah Reim, dan lihat bagaimana tempat itu sekarang dikenal sebagai tempatnya orang-orang bahagia tinggal. Begitu kata orang-orang dari luar dan dalam Reim yang selalu dapat didengar tiap membicarakan negeri dengan rakyat paling sejahtera.
Tidak ada daerah kumuh di manapun. Distribusi air bersih ke seluruh penjuru negeri terjamin untuk semua tingkat kerakyatannya. Angka kematian, kelaparan, sampai kemiskinan juga terus ditekan hingga ke titik terendah tiap tahun.
Satu hal yang masih jadi kekhawatiran bagi sebagian kecil rakyatnya adalah perbudakan. Sistem perbudakan yang masih dilegalkan di Reim adalah yang paling disayangkan. Tak sedikit pihak yang mendesak untuk menata ulang kebijakan, tapi para petinggi dan kalangan yang diuntungkan selalu menemukan hal lain yang mereka klaim jauh lebih gawat untuk dibahas saat itu.
Pihak yang paling dirugikan dari legalnya perbudakan selain para budak, adalah satu ras tertentu yang merupakan bidikan utama untuk dijadikan budak selanjutnya, yaitu ras Fanalis, ras yang seluruh keturunannya lahir dengan rambut merah dan kemampuan fisik yang dapat membunuh hewan buas hanya dengan tendangannya. Walau begitu, larisnya Fanalis dalam lingkup pasar budak tidak terbatas ditemukan di Reim, sehingga untuk membahas tentang Fanalis lebih jauh lagi di saat kita sedang akan membahas keluarga ternama di Reim sepertinya tidak diperlukan.
Keluarga yang dimaksud adalah Alexius. Bisa dibilang, seseorang dengan nama belakang Alexius akan selalu dihormati di seluruh titik daerah Reim. Hampir selalu keturunan Alexius akan memegang peran penting di Reim, baik dipengaruhi privilese maupun dengan kemampuan asli sendiri.
Contohnya adalah Jaemin, penyihir yang lahir di rumah milik keluarga Alexius. Sebagai negeri yang dipimpin seorang penyihir besar Magi Scheherazade, Reim dikenal menjunjung tinggi setiap orang dengan bakat sihir sejak lahir. Bisa kalian bayangkan hormat macam apa yang didapat Jaemin dari kecil? Sudah penyihir, dia juga bernama belakang Alexius. Jaemin disanjung di mana-mana, bahkan tanpa dirinya meminta.
Tapi tak selalu yang bernama Alexius itu pada akhirnya disegani. Nyatanya, Lucas, kakak sepupu Jaemin yang juga dilahirkan di bawah atap rumah keluarga Alexius ini justru mendapat perlakuan yang berkebalikan karena warna merah menyala rambutnya. Ya, ciri khas dari ras Fanalis itu entah kenapa malah Lucas dapatkan, yang akhirnya juga jadi penyebab identitas Lucas sebagai bagian dari Alexius itu dirahasiakan serapi mungkin, layaknya aib.
Dianggap aib hanya karena warna rambut. Menyedihkan. Lucas juga berkali-kali mencoba mewarnai rambutnya menjadi pirang seperti kebanyakan anggota keluarga Alexius lainnya, tapi tetap saja itu tidak membuat keadaan tiba-tiba membaik. Dia tetap tidak pernah diterima pada akhirnya, sehingga dia putuskan sendiri untuk hidup menyerupai para Fanalis yang sudah orang-orang yakini adalah rasnya yang sebenarnya. Dia berlatih tiap hari di Colosseum, dan sekarang sudah membangun namanya sendiri sebagai gladiator muda Wong Yukhei. Tidak, tidak ada Alexius sedikitpun dalam dirinya. Dia mendapatkan semua yang dia mau dengan kemampuannya sendiri bahkan hingga hari itu di mana Jaemin mengaku dia sudah dilarang untuk bertemu dengannya lagi.
"Kenapa begitu?" Lucas benar-benar tidak terima apa yang barusan dia dengar.
"...aku juga tidak mengerti, kak. Hari ini pun sebenarnya aku bohong pada orang rumah. Aku bilang aku akan pergi ke perpustakaan, bukan mengunjungi kakak..."
Oh? Jadi bahkan untuk bertemu dengan saudaranya sendiri sudah tidak bisa, hah? Dengan adik sepupunya ini yang adalah satu-satunya Alexius yang tidak berusaha sedikitpun untuk menyingkirkannya?
Tapi terang saja ya. Tadi juga Lucas bingung kenapa Jaemin datang mengetuk di depan pintu rumah kecilnya dengan jubah yang sampai menutupi kepala, tapi dia tidak menyangka itu dia lakukan supaya dia tidak bisa dikenali orang-orang sekitar.
Lucas sempat bertanya apa memang sebaiknya mereka tidak usah bertemu lagi saja kalau sekiranya melanggar bisa menempatkan Jaemin dalam masalah, tapi Jaemin menolak mentah-mentah.
"Tidak, kak! Aku cuma punya kakak di sini! Aku tidak punya yang lain lagi!" Katanya, yang sebenarnya di telinga Lucas sedikit terdengar menghina. Jaemin yang di matanya selalu mendapat apapun yang orang lain inginkan, sekarang mengaku tidak punya apapun selain kakaknya? Omong kosong. "Selain itu... Aku juga sebentar lagi akan pergi dari Reim. Makanya aku ingin memanfaatkan waktu yang tersisa untuk tetap bersama kakak."
"Pergi? Ke mana? Untuk apa?"
"Neostadt, kak. Kota yang hanya bisa didatangi penyihir itu. Kata Ayah, aku harus belajar sihir di sana."
Sihir. Penyihir. Lucas benci sekali kata itu. "Belajar ya. Oke, belajar yang rajin. Kapan perginya?"
"Bulan depan. Makanya—..."
"Nah, gunakan waktu yang tersisa untuk bersiap-siap. Bawa semua yang kamu butuhkan, jangan sampai ada yang tertinggal."
Jaemin mengernyit tidak suka. Dia mengharapkan Lucas menahannya, atau sekurang-kurangnya, dia ingin Lucas menunjukkan dia tidak senang mendengar dirinya akan pergi jauh.
Dingin. Lucas hari itu dingin, tapi Jaemin tetap mencoba untuk menawarkannya sesuatu, "Kak, tidak maukah ikut mengantarku juga ke sana? Ke Neostadt? Kakak juga belum pernah pergi ke luar Reim, kan?"
Pergi dari Reim? Ya, Lucas tidak pernah melakukan itu walaupun dia sudah dari dulu berencana demikian. Uang yang dia dapatkan dari Colosseum itu tidak sedikit, tapi juga tidak begitu banyak. Melakukan pekerjaan semacam gladiator yang biasanya hanya dilakukan budak dan tentara terbuang, untuk bisa membeli rumah kecil sendiri dengan penghasilan macam itu juga sebenarnya sudah sangat bagus. Dan bepergian lagi ke luar tanpa maksud jelas, itu juga sama saja menghamburkan uang. Belum lagi dengan rambut merahnya yang bisa membuatnya dicirikan sebagai salah satu keturunan Fanalis... Bisa-bisa, kali ini Lucas benar-benar akan ditangkap penjual budak yang sudah ahli menangkap Fanalis di tengah perjalanan.
"Kak Lucas bisa mewarnai lagi rambut kakak —aku bisa bantu kok! Tidak harus pirang, yang penting bukan merah..." tangan Lucas diraihnya lalu berucap lembut, "Kalau kakak ikut, aku juga tidak akan membawa pengawal lagi... Tidak akan ada yang mengusik kakak nanti. Kakak juga bisa bawa teman kakak kalau mau... ya? Mau ya?"
Baru kali ini Jaemin memohon-mohon pada Lucas. Mata emasnya yang menatap Lucas dengan penuh pengharapan, hampir membuat Lucas goyah.
Hari sudah mulai gelap saat itu, tapi Jaemin bilang dia tidak akan pulang sampai Lucas memberi jawaban jelas. Jaemin juga mengaku kalau Lucas menolak, dia tidak akan memaksa. Masalahnya, Lucas memang tidak memberi jawaban apa-apa. Dia tidak menerima, tapi juga tidak menolak. Dan Jaemin tidak akan puas dengan jawaban setengah-setengah macam itu.
"Bukannya tadi kamu yang bilang Neostadt itu hanya bisa dimasuki penyihir?! Aku bukan penyihir! Aku tidak sama denganmu!" Lucas menampik tangan Jaemin yang terus-terusan mencoba meraihnya.
"Iya, tapi kak Lucas masih bisa sampai di perbatasan Aktia! Kita nanti berpisah di sana. Kudengar memang biasanya yang mengantar murid pindahan dari luar akan diberhentikan di Aktia... Di sana banyak juga penginapan yang dikhususkan untuk kepentingan itu karena pembukaan besar-besaran gerbang ke Neostadt hanya diadakan beberapa kali setahun, dan salah satunya adalah saat penerimaan murid baru..."
"Begitu kita sampai Aktia, aku langsung kembali ke sini?"
"Itu terserah kakak bagaimana nantinya... Kalau...," Jaemin menggantungkan kalimatnya, takut akan reaksi Lucas setelahnya, "kalau misal kakak memutuskan untuk tidak kembali ke Reim... Itu juga tidak masalah. Kakak bisa cari kerja lain di Aktia."
Tidak kembali ke Reim! Apa Jaemin juga sebenarnya paham bagaimana tanah Reim ini sebenarnya Lucas benci sampai ke tulang-tulang? Ya? Jaemin paham Lucas benci Reim yang dielu-elukan orang sebagai negeri dengan rakyat paling sejahtera? Jaemin paham itu?
Tapi memang aneh kalau Jaemin tidak paham. Dia juga mengerti bagaimana Lucas dijadikan kambing hitam keluarganya pastilah karena tanah Reim yang mereka pijaki. Karena Reim masih menolak untuk mengangkat isu perbudakan dan glorifikasi kaum penyihir ke permukaan, jadilah banyak rakyatnya yang sebenarnya masih menderita tapi tidak kunjung dianggap. Lucas, kakak sepupunya ini adalah contoh kecil saja dari itu semua.
Akhirnya Lucas mengiyakan untuk ikut pergi. Dia bilang dia akan mengajak satu temannya yang adalah pemilik kasino supaya nanti di perjalanan pulang dia ada teman.
"Perjalanan pulang... Berarti kakak akan kembali ke sini?"
"Mungkin. Cari kerja di tanah asing tidak semudah itu, adikku."
Benar. Jaemin telat sadar dia barusan sudah menggampangkan hal yang mungkin tidak akan pernah ia lakukan dengan statusnya. Mencari kerja. Dalam kasus Jaemin, mungkin justru kerja itu yang akan datang mengejar.
Bulan berikutnya, Jaemin menepati omongannya untuk datang kembali ke rumah Lucas di pinggiran kota tanpa pengawal. Dia menyapa Lucas yang juga sudah menunggu bersama temannya, "Selamat siang, kak Lucas dan kak Hendery. Pernah ke Aktia sebelumnya?"
"Siang, Tuan Jaemin! Lama tidak bertemu dengan Tuan!" Balasnya dengan memberi hormat dan cengiran meledek. Hendery adalah teman dekat Lucas yang sudah kenal baik juga dengan Jaemin sejak kecil. Dia tertawa makin keras saat Jaemin mendengus tidak suka mendengar sapaannya, "Haha! Aku bercanda! Oke, serius ya. Aku sudah sering ke luar Reim tapi belum pernah sampai Aktia. Tapi aku punya kenalan orang Aktia yang pernah tinggal di Reim lumayan lama, jadi waktu Lucas bilang dia akan pergi ke sana, aku sudah minta untuk diajak juga tanpa tau dia memang berniat mengajakku!"
"Oh? Kenalan orang Aktia? Kalau begitu, kalau misalnya minta tolong ke teman kak Hendery supaya kak Lucas bisa tinggal—..."
"EHEM!"
Lucas berdeham kencang sampai memotong omongan Jaemin di tengah-tengah. Dia sama sekali belum membicarakan soal keinginannya pindah jauh dari Reim kepada temannya ini, dan bukan berarti dia ada rencana untuk melakukannya segera. Untuk membeberkannya sekarang pun harusnya tidak penting.
Hendery sempat ribut meminta Jaemin melanjutkan omongannya tapi tak lama dia menyerah karena dua teman perjalanannya ini benar-benar sudah mengunci mulut perihal itu. Kesal sih, tapi dia coba untuk meyakini bahwa itu memang urusan keluarga yang tidak boleh dia dengar, apalagi tau.
Berangkat dari Reim ke Neostadt, mereka harus melalui jalur laut. Tujuannya adalah pelabuhan Aktia yang beberapa waktu lalu sempat tidak aktif lagi karena ada kerusuhan yang disebabkan bajak laut, tapi berkat campur tangan dari Aliansi 7 Samudera yang menaungi banyak negara maju, sekarang pelabuhan itu sudah kembali bekerja baik.
Di kapal, Hendery benar-benar tidak bisa diam tentang warna rambut Lucas yang baru.
"Aku terbiasa melihatnya dengan warna merah, jadi saat tiba-tiba dia datang ke kasino-ku dengan rambut hitam... Aku sempat tidak mengenalinya! Jaemin, kutebak, kamu pasti juga ikut mengecat rambutnya!"
Jaemin mengangguk mantap. Dia lumayan percaya diri dengan hasil kerjanya. "Cocok, kan? Dia jadi terlihat seperti orang dari Kekaisaran Huang dengan rambut hitam legam seperti ini."
"Tidak juga sih. Mana ada orang Huang yang di bawah bibirnya ditindik seperti dia. Yang biasanya ditindik di bawah bibir kan Fanalis."
Ups. Hendery melakukannya lagi. Lucas memang memiliki satu tindik di bawah bibirnya. Dia sengaja mendapatkan tindikan di sana saat akhirnya dia muak terus-menerus dianggap Fanalis karena rambut merahnya. Katanya, kalau memang orang-orang terus menganggapnya Fanalis, lebih baik dia benar-benar jadi Fanalis saja sekalian!
Sampai selama ini, hampir tidak pernah ada yang berani berkomentar tentang tindikannya itu. Dari awal Lucas sudah memiliki bobot tubuh yang kuat dan kekar bahkan sebelum dia mengikuti latihan yang harus dia lalui sebagai gladiator. Tubuhnya itu sudah layaknya Fanalis asli. Ditambah dengan rambut merah alaminya juga, sebenarnya tidak aneh kalau orang-orang yang baru mengenalnya akan mengira dia memang memiliki darah Fanalis.
"Tapi ya... bagaimanapun juga, Lucas tetap orang asli Reim. Kalau sudah lihat mata emasnya, siapapun juga akan langsung tau."
Dan yang berani berkomentar sampai sekarang, itu hanya Hendery. Dia berani karena dia tau apa yang harus dilakukan setelahnya. Dia yang selama ini membantu menangani temperamen Lucas yang naik turunnya tidak menentu. Dia juga selalu tau bagaimana caranya menghibur Lucas yang sering dibuat bingung tentang dirinya sendiri. Menurutnya, Lucas itu hanya butuh diberi pengertian dan kejelasan bahwa dirinya itu juga adalah warga Reim tak peduli sebenci apapun dia pada negeri satu itu.
Jaemin senang sekali Lucas membawa Hendery sebagai teman pulangnya. Perjalanan menuju Aktia yang diperkirakan mencapai tujuh hari itu tiba-tiba sudah selesai justru saat mereka sudah sama-sama terbiasa untuk tidur mengikuti ombak laut... Yah, kecuali Lucas. Dia adalah yang paling bernapas lega setelah menapakkan kaki di daratan. Hanya dia yang paling kesulitan untuk adaptasi dengan goyangan kapal yang tak ada habisnya.
"Nanti pulangnya naik kapal juga, lho? Kamu kuat?" Hendery yang sudah terbiasa bepergian akhirnya merasa pantas untuk menjadikan Lucas bahan ledekan. "Yah, ini baru pertama kali kamu naik kapal sih ya. Nanti juga terbiasa. Dan... Lho, di mana Jaemin?"
Benar. Di mana Jaemin? Mereka menoleh kanan-kiri berusaha mencari si pirang berjubah cokelat, tapi dia baru berhasil mereka lihat lagi setelah menunggu di tempat sekitar lima menit. Jaemin kembali dengan diiringi kereta kuda yang dia klaim sebagai kendaraan mereka menuju perbatasan timur Aktia. "Kalau jalan, bisa makan waktu sampai besok siang. Dan kak Lucas juga sepertinya tidak kuat kalau kita harus menunggang kuda..."
Ah, pengertian sekali adiknya ini. Lucas sangat terharu sampai-sampai dia acak-acak rambut Jaemin sampai si pemilik rambut memintanya berhenti. Embusan tenang angin dan suara tapak kaki kuda pastilah dapat membuat perasaan Lucas lebih baik, walaupun sampai beberapa jam setelahnya kakinya masih merasakan terombang-ambing layaknya mereka masih berada di tengah laut.
Di jalan, Jaemin sempat bercerita tentang alur pendaftaran yang akan dia lalui nanti begitu sampai Neostadt.
"Pendaftaran? Maksudmu, kamu belum resmi jadi murid sana?" Tanya Hendery karena dia merasa ada yang sedikit meleset dari pemahamannya.
"Eh, salah kata ya? Aku sudah jadi murid sana secara administratif... Tapi untuk pembagian kelas dan segala macamnya belum tau."
"Jelas. Biasanya memang kamu bakal melewati tes dulu untuk pembagian kelasnya. Tapi kamu selama di Neostadt akan tinggal di mana? Ada asrama?"
"Ada. Sekamar bisa 2-3 orang katanya. Aku sebenarnya takut akan dapat teman sekamar yang menyeramkan..."
Lucas menghela napas, "Bilang saja padanya kalau memang dia ternyata mengganggu. 'Hei, kakakku gladiator!', seperti itu. Dia pasti juga akan menangis lalu kabur."
Jaemin tertawa mendengarnya. Senang rasanya melihat Lucas ternyata sampai sebegitunya tidak suka membayangkan adiknya ini diganggu.
"...atau nanti aku menyelinap masuk saja ke asrama? Dan setelah aku pastikan teman sekamarnya bukan orang yang macam-macam, baru aku pulang."
Walaupun... Jaemin tidak mengharapkan Lucas akan sampai terpikir sejauh itu. "Jangan lah, kak! Menyelinap bisa membuat kakak jadi kriminal di sana!" Jaemin protes. "Itu bahaya... Dan kudengar, selain mereka hanya mengakui warganya yang penyihir, orang-orang nonpenyihir yang tidak bisa membayar pajak itu dipenjara di suatu tempat untuk dikuras ruhnya... Mungkin saja kak Lucas kalau ketahuan menyelinap, kakak bisa ditempatkan di sana juga kan? Jangan ya, kak... Aku bisa jaga diri kok."
Ruh? Hendery bertanya, apa itu ruh. Dia sudah sering bertukar ilmu dengan banyak pengunjung dari berbagai macam tempat yang datang ke kasino-nya di Reim, tapi tak pernah sekali pun dia dengar apa yang barusan Jaemin sebutkan. Ruh.
"Ruh itu... Semacam zat yang memberikan kita tenaga untuk hidup. Ruh ada di manapun yang hidup. Manusia, hewan, tumbuhan... Komponen alam juga."
"Komponen alam? Maksudnya?"
"Angin, tanah, pasir, air... Seperti itu. Jumlahnya berbeda-beda, tapi secara umum, katanya penyihir memiliki ruh yang paling banyak dibandingkan yang lain karena penyihir membutuhkan ruh untuk melakukan sihir."
"Katanya? Kamu terdengar tidak begitu yakin..."
Ketauan. Hendery ternyata lumayan pandai mengamati, "Lumayan... Soalnya itu memang hanya kudengar saja dari penyihir Reim yang bisa melihat ruh."
"Dan kamu tidak bisa?"
Jaemin mengangguk malu. Tentang ruh, mempelajarinya sangat menjemukan. Penyihir seumuran dia di Reim juga hampir semuanya belum bisa melihat ruh, dan itu juga sebenarnya adalah hal normal. Butuh bertahun-tahun belajar sampai bisa melihat, dan itu baru melihat saja, belum sampai mengubahnya menjadi suatu bentuk sihir tertentu atau apapun itu.
Itu hal normal. Tapi Jaemin juga tidak kaget kalau misal baik Hendery maupun Lucas berpikir dirinya ini ternyata memang bukan penyihir hebat yang serba bisa. Hendery dan Lucas bukan penyihir, dan kalau mereka tidak paham tentang kesulitan apa saja yang ada dalam belajar sihir pun Jaemin juga mengerti alasannya. Bagaimanapun, memahami sepenuhnya kesulitan yang dialami orang lain itu mustahil tanpa merasakannya sendiri secara langsung.
Lucas juga tau itu, jadilah dia memilih untuk tidak banyak berkomentar. Dia merasa, hal terbaik yang bisa dia lakukan sekarang adalah mencari tidur yang sempat dia hilangkan selama di kapal. Mata dipejamkannya sambil membayangkan bagaimana dia akan langsung mencari penginapan dengan ranjang ternyaman yang bisa ditemukan di perbatasan sana begitu sampai tujuan.
.
.
.
.
.
.
"...sebenarnya, aku tidak pernah menyangka Aktia akan seperti ini bentuknya kalau mendengar dari cerita orang."
"Halah. Kita baru sampai hari ini. Kamu bicara seperti yang sudah di sini berhari-hari."
Hendery mendengus. Dia menyadari Lucas tidak berminat untuk menanyainya lebih jauh. Lihat saja, begitu mereka sudah mendapatkan tempat menginap untuk beberapa hari ke depan, Lucas langsung melemparkan tubuhnya ke ranjang seperti yang tidak pernah melihat ranjang sebelumnya. Terlebih lagi, Jaemin juga sudah langsung pergi ke gerbang pemeriksaan Neostadt alih-alih istirahat. Jadi yang ada di sana untuk mengatur-atur Lucas ya... hanya Hendery.
Tapi Hendery memutuskan dia tidak akan bercerita hanya setelah ditanya. Dia akan membuat Lucas mendengarkan apa yang jadi pikirannya sekarang, terlebih karena dia juga sempat mendengar pembicaraan antara Lucas dan Jaemin yang sepertinya seputar Lucas ingin menetap di Aktia untuk ke depannya.
"Tempat ini kelewat bagus! Tak pernahkah kamu dengar tentang Kerajaan Aktia yang jadi bobrok karena bajak laut?"
"Pernah, tapi itu kan sudah lama. Orang aliansi ikut campur dengan konflik internal di sini, jadi penyelesaiannya juga pasti cepat."
"Ya! Tapi dari cerita pelangganku di kasino yang semuanya pernah ke Aktia untuk urusan dagang, semuanya bilang Aktia pasti akan terus bobrok hingga puluhan tahun ke depan sampai-sampai mereka menduga Aktia tidak akan lagi jadi transit dagang antara timur dan barat!" kata Hendery, masih menunggu apa yang bisa membuat Lucas lebih berminat mendengarkannya. "Kudengar juga, itu karena bajak laut yang entah kenapa malah membajak daratan juga menculik anak-anak dari daerah kumuh Aktia, tapi pihak kerajaan dan militernya tidak ada yang segera mengambil tindakan. Rakyat Aktia akhirnya percaya, pihak kerajaan baru akan memberi komando penangkapan kalau misalnya anak-anak yang diculik adalah anak dari keluarga kaya yang bisa memberi imbalan untuk negara nantinya."
"...ya... itu bukan cerita baru sih. Memang sering kejadiannya seperti itu."
"Dan negara-negara di mana kejadian macam itu berlangsung, kamu tau kan bagaimana kondisinya? Negara yang berjalan tanpa kepercayaan dari rakyatnya, semuanya hancur berantakan! Balbadd juga akhirnya jadi republik karena raja sebelumnya bahkan berencana menjual semua rakyat miskinnya jadi budak untuk Kekaisaran Huang. Kudeta! Aktia sebenarnya dari lama sudah diprediksikan akan mengikuti jejak Balbadd dan merombak semua sistem pemerintahannya dari paling dasar!"
Hendery bicara sendiri dengan sangat menggebu-gebu. Dia benar-benar sudah tidak peduli apakah Lucas mendengarkannya atau tidak, yang pasti, dia ingin sekali menyampaikan apa saja yang dia dapatkan setelah sempat berkeliling sebentar sendirian melihat-lihat jalanan besar Aktia sementara Lucas langsung menewaskan diri di penginapan.
Minimnya reaksi dari Lucas itu bukan semata-mata dia tidak peduli, atau dia terlalu lelah, atau apapun yang lain yang sekiranya bisa memberikan kesan dia bukan pendengar yang baik. Hanya saja, dia merasa... Buat apa mengelu-elukan hal yang bagus semacam berhasil menghindari keruntuhan yang sudah diyakini orang-orang luar? Mereka tidak tau apa yang terjadi di internal. Aktia diprediksikan akan mengikuti jejak Balbadd yang kehilangan kepercayaan dari rakyatnya? Aktia diyakini akan kehilangan sistem pemerintahannya yang sekarang karena kudeta? Hah. Lama-lama, prediksi macam itulah yang akhirnya jadi doa jelek. Bagus kan kalau doa-doa jelek itu tidak jadi kenyataan? Jadi apa yang perlu diributkan?
Merasa sudah cukup mendengarkan Hendery meracau seperti orang mabuk politik, Lucas mengalihkan pembicaraannya. Dia tanya soal kenalan yang sebelumnya Hendery sebutkan.
"Oh, aku sudah tanya sekitar. Katanya, kenalanku itu bisa ditemui di balai penelitian dekat Barbatos. Kamu harus ikut aku ke sana besok siang, lho, ya. Sudah jauh-jauh naik kapal, masa' kamu cuma menghabiskan waktumu di sini dengan tidur-tiduran!"
"Barbatos? Apa itu?"
"Hah? Barbatos saja kamu tidak tau?"
Kalau saja Lucas itu bukan Lucas, pasti dia sudah kesal luar biasa mendengar cara Hendery tadi bicara padanya. Alih-alih kesal, Lucas hanya menggeleng sebagai jawaban. Mengakui dirinya tidak tau itu lebih baik buatnya daripada harus pura-pura tau dalam waktu yang lama.
"Kuil bawah tanah! Barbatos itu kuil ke-8 yang ada di sini, di Aktia! Jangan bilang kamu juga tidak tau kuil bawah tanah ya!"
Oh, kuil bawah tanah. Lucas tau kuil bawah tanah, tapi bukan berarti dia jadi hafal kuil dengan masing-masing namanya, apalagi keberapanya dan di mananya kuil itu dibangun. Dia juga tidak begitu tau soal kuil-kuil yang ada di Reim, karena... Dia tidak pernah ada niat untuk masuk ke sana.
Yang dia tau dari cerita orang, kuil bawah tanah itu bisa memberikan kekuasaan atas jin bagi orang-orang yang berhasil menaklukkan segala rintangan yang ada di dalamnya. Hanya itu. Oh, juga, kuil dinamakan mengikuti nama jin yang jadi pemilik kuil. Itu artinya, Barbatos adalah nama dari jin yang ada di kuil Aktia.
Untuk Lucas sendiri, dia merasa tidak tertarik untuk pergi menaklukkan kuil bawah tanah karena dia tau dia tidak akan memiliki kepentingan apapun yang sampai harus membutuhkan jin. Yang biasa pergi ke kuil bawah tanah itu hanya orang-orang dengan pasukan yang terdiri dari ratusan hingga ribuan kepala. Biasanya, orang-orang itu memang memiliki ambisi untuk jadi raja. Lalu... Lucas? Bagaimana dengan Lucas yang adalah gladiator? Dia bertarung sebagai bentuk hiburan saja. Tidak lebih. Di arena, dia juga tidak mungkin memanfaatkan kekuatan-kekuatan aneh yang datangnya bukan dari dirinya sendiri. Memenangkan pertarungan di Colosseum dengan bantuan jin? Tidak ada gladiator sepayah itu dalam sejarah, dan Lucas tidak ingin membentuk sejarah memalukan macam itu dengan nama gladiatornya yang sudah susah payah dia bangun.
"Sebenarnya sih tak jarang juga ada orang yang pergi ke kuil karena mengharapkan harta bendanya... Tapi tak pernah ada yang pada akhirnya berhasil keluar dengan tujuan macam itu. Kesannya lama-lama seperti kita harus menyanjung jin pemilik kuil itu jika ingin jadi penakluk ya?"
"Harta benda?" Lucas mengulang. Matanya yang tadi hampir tertutup lagi akhirnya membuka lebar untuk pertama kali. "Maksudmu, di kuil itu tidak hanya ada jin, tapi juga ada harta? Uang? Emas?"
Cih. Bicara soal uang ternyata adalah yang berhasil membuat Lucas penasaran sampai dia bangkit dari posisi nyamannya. "Ya. Seseorang tidak bisa jadi penguasa tanpa kekayaan, kan?"
"Berapa banyak?"
"Berapa ya... Banyak sih, sampai berkarung-karung dan kudengar bahkan orang-orang sekitar juga harus ikut bantu angkut—... Tunggu." Hendery mengepalkan tangannya di atas meja kecil dekat kursi kayu yang dia duduki, "...hei, aku bilang sekarang saja ya, tapi kamu jangan sekali-kali terpikir untuk masuk ke sana."
"Lho? Kenapa? Bukannya kamu ingin aku beraktivitas di sini?"
"Tapi aku tidak menyuruhmu bunuh diri! Masuk ke kuil bawah tanah itu sama saja cari mati!"
Lucas terus mengendikkan bahu di saat Hendery akhirnya menceramahinya soal risiko yang butuh dihadapi ketika memutuskan untuk masuk ke kuil bawah tanah, apalagi tanpa pasukan banyak. Hendery bahkan sampai menyinggung soal Lucas yang adalah gladiator, yang mana sangat mungkin untuk merasa sudah cukup kuat untuk menaklukkan kuil. Tapi— "Sampai ratusan tahun pun hampir tidak ada yang bisa keluar dari kuil seorang diri! Dengan iringan pasukan saja masih mungkin tidak kembali! Sudahlah! Kalau kamu hanya ingin uang, imbalan dari Colosseum harusnya sudah cukup kan! Atau kalau masih kurang, kamu kerja sambilan saja di kasino-ku juga aku tidak keberatan!"
"Siapa bilang aku akan pergi sendiri? Kamu juga ikut kalau aku memutuskan berangkat."
"Dalam mimpimu. Aku tidak ada rencana mati muda. Jelas-jelas kamu juga tau orangtuaku bergantung padaku di Reim!"
"Justru itu! Bayangkan bagaimana orangtuamu akan sebahagia apa kalau kamu pulang ke Reim dengan banyak uang? Emas? Kita akan bagi hasil sama rata kok! Tenang saja! Kamu kalau mau jinnya juga tidak masalah! Aku hanya butuh uangnya!"
Lucas mulai bicara melantur, dan jujur, Hendery juga lama-lama jadi tidak sabaran. Uang? Sejak kapan Lucas sehaus itu akan uang?
Ya... Dari dulu sih.
Tapi sehaus apapun Lucas akan uang, Hendery tidak pernah melihat Lucas sampai berniat membuang nyawanya demi uang seperti sekarang ini! Ya... Dia memang mencari uang dan kehormatan dengan kontrak gladiator, tapi... Kuil bawah tanah ini... Beda ceritanya...
Baru saja Hendery akan kembali menceramahinya, Jaemin kembali ke penginapan membawa sekantung besar makanan. Jaemin pulang dengan senyuman lebar membawa kabar dia sudah melihat-lihat keadaan dalam Neostadt seperti apa, tapi begitu dia menyadari suasana tegang yang berlangsung dalam ruangan, dia juga jadi tidak bisa cerita banyak.
"Hah?! Kuil bawah tanah?!" Teriak Jaemin tanpa sadar saat Hendery menjelaskan sedikit tentang apa yang diributkannya dengan Lucas. Kalau saja Jaemin belum menata makanan yang dia beli itu di meja, pasti semuanya akan jatuh berantakan di lantai saking kagetnya. "Bicara apa kakak ini?! Kuil bawah tanah itu sama saja kuburan, kak! Kemungkinan untuk kembali itu hampir tidak ada sama sekali!"
Yang diomongkan Jaemin itu hampir tiada beda dengan yang diomong Hendery, tapi entah kenapa, Lucas terlihat lebih menurut padanya.
"Lagipula, memang untuk apa uang sebanyak itu?! Sekurang apa sebenarnya uang imbalan dari kerja kakak sebagai gladiator?! Pokoknya aku tidak setuju!"
Tidak setuju? Jaemin, adiknya ini tidak setuju dia ke kuil untuk mencari uang? "...aku tidak minta persetujuanmu, tau."
"Hah?!"
Lucas berdiri sambil merapikan penampilannya di depan kaca kecil ruangan itu. Dia bilang dia ingin cari angin, mendinginkan kepala yang dirasanya akan memanas dalam waktu dekat, yang mana kalau tidak segera diatasi, bisa-bisa dia malah akan membalas bentak adiknya.
Saat Lucas sudah akan melangkah ke luar, Hendery menginterupsinya lagi, "Jangan berbuat bodoh, Lucas. Pikirkan perasaan Jaemin kalau tau kakaknya pergi dan tak kembali."
Perasaan Jaemin. Perasaan adiknya yang dia sayangi tapi juga selalu berhasil menyulut rasa dengki. Adiknya yang satu itu, Lucas benar-benar pikirkan baik-baik semalaman di jalanan karena pikirannya menolak untuk pulang.
Keesokan harinya, Hendery benar-benar menarik Lucas untuk pergi ke balai penelitian Aktia. Entah apa yang Hendery lakukan sampai dia bisa menemukan Lucas di jalan yang Lucas sendiri tak tau di mana, tapi Hendery adalah orang yang pertama Lucas lihat begitu bangun dan membuka mata. Hendery juga sempat mengomelinya soal kenapa Lucas tidak pulang, padahal Lucas adalah yang paling ribut tidak sabar untuk tidur di ranjang empuk lagi setelah perjalanan sekian lamanya.
"Jaemin sudah pergi ke Neostadt lagi dari pagi! Katanya, hari ini akan ada tes penempatan kelas dan pengenalan asrama," kata Hendery sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling jalan saat Lucas bertanya soal Jaemin. "Dan sore nanti, dia akan balik ke penginapan dan mengambil barang bawaan. Dia juga bilang kita harus ikut membantunya angkut-angkut ke asrama."
"Ke asrama... Maksudnya, kita masuk ke dalam Neostadt?" Hendery mengangguk. "Boleh tuh? Kita kan bukan penyihir."
"Katanya khusus sore ini sampai malam, nonpenyihir yang mengantar murid baru boleh masuk ke Neostadt untuk kepentingan pindahan, tapi kalau mau lihat-lihat dalamnya juga bisa."
Hmm. Lucas tidak tertarik sebenarnya, tapi dia juga mulai ingat lagi tentang niatnya untuk 'menyapa' teman sekamar Jaemin sebelum menyusun rencana perjalanan selanjutnya.
"Barbatos di sana ya, dan... Balai penelitian... Yang ini kan harusnya?"
Lucas melihat keseluruhan gedung yang Hendery bilang adalah balai penelitian yang dari kemarin dia sebut-sebut. Tidak sebesar yang Lucas bayangkan. Cenderung kecil juga kalau dibandingkan dengan kasino milik Hendery.
Tidak ada orang yang keluar masuk pintu besar yang ada di muka balai itu, bahkan setelah mereka menunggu belasan menit di luar. Mereka kurang yakin untuk masuk seenaknya, tapi juga tidak tau kalau mau minta izin itu tepatnya ke siapa.
Sudah takut akan menunggu lebih lama lagi di luar seperti itu, akhirnya ada sekumpulan orang yang keluar dari dalam gedung. Tanpa pikir panjang karena sudah kepanasan terpanggang matahari siang bolong, Lucas langsung menarik Hendery menghampiri orang-orang itu untuk bertanya. "Permisi, kami di sini ingin mencari—..."
"Lho? Hendery, bukan ya?"
Belum selesai Lucas menyampaikan kepentingannya, salah satu dari orang-orang itu sepertinya mengenali Hendery dalam sekali lihat. Hendery pun sama. Dia langsung sumringah dengan tangan direntangkan, "Jungwoo!" Seru Hendery dengan penuh semangat, "Akhirnya! Lama tidak bertemu, teman!"
"Sedang apa di Aktia, hei? Kapan tibanya?" Orang yang dipanggil Jungwoo itu kemudian berbincang lumayan banyak dengan Hendery setelah meminta teman-teman balainya untuk pergi duluan saja.
Mereka hanya sibuk basa-basi. Normalnya teman lama yang akhirnya bertemu kembali.
"Oh... Penerimaan murid baru Neostadt. Kalau begitu kalian bisa masuk ke sana kan hari ini?"
"Ya, nanti sore. Kesannya sangat eksklusif ya, masuk ke Neostadt? Padahal sepertinya tidak akan banyak beda dengan di sini... —Oh, iya! Ini temanku dari Reim, Lucas namanya. Yang jadi murid baru di Neostadt itu adiknya, ngomong-ngomong."
Hendery akhirnya melibatkan Lucas juga dalam obrolannya. Dia tepuk punggung Lucas untuk mengajaknya berkenalan dengan teman Aktia-nya yang matanya bundar dan wajahnya seperti wajah orang baik.
"Lucas."
"...Jungwoo. Panggil saja Jungwoo," balasnya, lalu tertawa pelan. Dia mengajak Lucas berjabat tangan, yang mana baru Lucas turuti setelah Hendery menyikut.
Lucas tidak pernah tau kalau orang bernama Jungwoo ini akan menjadi awal dari apa yang orang bilang takdir.
.
.
.
"...kak Hendery," Jaemin memanggil pada Hendery yang berjalan di depannya dengan beberapa bawaan dalam tangan.
"Ya?"
"Kak Lucas kenapa?"
Kenapa? Lucas kenapa? Hendery coba melihat orang yang bersangkutan. Oh. Ya. Lucas memang aneh saat ini. "Hm... Lapar, mungkin."
"Kalian belum makan? Kalau begitu, nanti setelah selesai simpan barang, kita ke bazaar ya? Cari makan."
Ya, boleh. Tentu boleh. Hendery tidak akan menolak makanan. Tapi kalau memang keanehan Lucas ini disebabkan lapar, pasti Hendery juga akan menyanggupi ajakan Jaemin itu dengan lebih niat... Dan masalahnya, Hendery tau jelas Lucas sekarang bersikap aneh —diam— itu bukan karena lapar. Itu karena pembicaraannya dengan Jungwoo siang tadi yang entah kenapa bisa mengarah jadi membahas apa yang saat ini jadi topik penelitiannya.
Kuil bawah tanah. Kuil Barbatos, lebih tepatnya.
Ah, bukan. Bukan kuilnya, melainkan bahasanya. Katanya, di dalam kuil itu ada petunjuk-petunjuk yang ditulis dalam bahasa yang berbeda dari bahasa yang sedunia gunakan, dan dia sedang meneliti itu.
"Kami menyebutnya bahasa Toran. Sejauh ini, sumber kami hanyalah prajurit-prajurit yang pernah ikut mengiringi para calon rajanya menaklukkan kuil, tapi entah kapan kami juga pasti bisa masuk ke kuil untuk melihat langsung bagaimana penggunaan bahasa itu sebenarnya di dalam sana."
"Entah kapan? Memangnya apa yang jadi hambatan?"
"Semuanya jadi hambatan. Orang-orang balai semuanya itu hanya cendekiawan, tidak ada yang petarung. Kami juga sudah sempat meminta pada raja Aktia untuk diberikan pasukan untuk penelitian kuil, tapi sampai sekarang kami belum dapat jawaban. Bagaimanapun, kami tidak ada niatan mati sia-sia di sana."
Jujur, Hendery mengira, Lucas akan langsung memanfaatkan kesempatan itu dan mengajak Jungwoo menemaninya ke kuil. Tapi tidak, Lucas tidak melakukannya. Dan saat Hendery tanya kenapa, Lucas bilang dia itu mencari teman yang bisa saling bantu, bukan jadi beban. Dia sudah terbayang kalau misalnya dia membawa Jungwoo ke kuil, kemungkinan besar Lucas akan kesibukan menanggung keselamatan mereka berdua.
Lumayan senang sih, Hendery mendengarnya. Dia secara tidak langsung diakui sang gladiator Wong Yukhei sebagai teman yang bisa membantunya di arena. Ah, lebih dari sekadar arena malah. Kuil bawah tanah itu bukan arena yang bisa dipijaki sembarang gladiator!
Ya, seharusnya sekarang memang Lucas tidak akan memikirkan omongan Jungwoo lagi. Lantas, ada apa dengan sikap diamnya ini yang datangnya tepat setelah mereka bertemu Jungwoo? Apa yang tengah Lucas pikirkan sampai dia tidak ada mengeluhnya sama sekali soal dia dibuat mengangkut paling banyak bawaan Jaemin dibanding Hendery dan Jaemin sendiri?
"Oke, kamarku di lantai 2 katanya. Yuk!" Jaemin menunjuk tangga utama yang sudah dipenuhi banyak orang dengan bermacam bawaan, dan tentu saja... Bermacam model pakaian dari berbagai negara.
"Kamu sudah tau teman sekamarmu siapa?" Tanya Hendery, sambil mencoba lihat kertas yang dipegang Jaemin. Ah, bukan soal kamar asramanya ternyata.
"Belum. Katanya juga mereka belum ambil kunci malah."
"Mereka? Ada berapa?"
"Dua harusnya. Dari Huang dan Heliohapt," lalu dia menghela napas. "...kok aku takut ya..."
Hendery hanya balas tertawa. Jaemin masih meributkan soal itu rupanya. Padahal harusnya dia tidak butuh sekhawatir itu hanya perkara teman sekamar. "Tenang saja. Kakakmu juga sudah bilang kan? Dia akan sedikit basa-basi dulu dengan orang-orang yang jadi teman sekamarmu itu."
"Justru itu yang makin membuatku takut!"
Mereka berhenti berjalan saat Jaemin menunjuk pada salah satu pintu yang belum terlihat sudah ada yang membukakan. Itu kamar Jaemin dan dua teman lainnya.
Jaemin membuka pintunya dengan sedikit berdebar. Ini akan jadi pengalaman pertamanya memiliki kamar selain kamar di rumahnya di Reim. Berbagi kamar dengan orang asing, pula. Wajar kalau dia cemas, takut, tapi juga tidak sabar membayangkan bagaimana dia akan menghabiskan bertahun-tahun di sana sampai lulus dari sekolah sihir itu, kan?
"Simpan di sini dulu deh, barangnya. Nah, ke bazaar yuk?"
"Apa tidak sebaiknya menunggu teman sekamarmu datang dulu?"
"Begitu? Hmm... Iya ya. Oke, kita tunggu dulu kalau begitu."
Dan mereka menunggu di dalam. Jaemin terus-terusan duduk dengan tidak tenang. Hendery juga sama, tapi dia tidak tenang karena Lucas yang masih saja diam. Duh, haruskah Hendery ungkit lagi soal Jungwoo di sana? Di depan Jaemin juga?
"Kurasa... Aku memang harus ke kuil." Lucas tiba-tiba memecah hening. Dia bicara tanpa menatap mata siapapun di sana, tak melihat bagaimana Jaemin dan Hendery sudah siap kembali mengomelinya lagi. "Kalian tidak mengerti! Aku butuh uang! Uang yang banyak, saking banyaknya, imbalan dari Colosseum juga tidak akan cukup!"
"Apa gunanya uang kalau kakak justru mati di dalam kuil, kak?! Kakak tidak akan bisa keluar dari sana sendirian!"
"Tidak akan sendiri! Aku ada teman yang bisa jadi penerjemah di sana."
"Penerjemah?" Jaemin tidak mengerti. Kenapa tiba-tiba membicarakan soal penerjemah?
Hendery juga langsung menangkupkan wajah dengan tangannya saat akhirnya yakin Lucas memang berniat mengajak Jungwoo ke kuil. Dia benar-benar juaranya cari mati! "Bukannya ini sudah kita bicarakan, Lucas? Kamu tadi bilang tidak ingin membawa orang yang kemungkinan jadi beban!"
"Ya, tapi kupikir lagi, dia yang sudah banyak belajar pasti bisa mengartikan petunjuk-petunjuk yang mungkin ada di kuil! Dia tidak akan berguna sebagai petarung, tapi setidaknya dia punya otak!"
"Dan aku bisa melihat sangat jelas soal kekurangan otakmu! Kamu sama sekali tidak bisa berpikir jernih!"
Jaemin dan Hendery terus-menerus mencecar Lucas atas rencananya yang sangat tidak ingin mereka dengar sekarang. Jaemin apalagi. Dia akan tinggal jauh dari Lucas dan dia tidak akan bisa lagi mengawasinya semudah hari-hari sebelumnya. Entah apa yang akan Lucas lakukan begitu Jaemin sudah tidak berada dekat dengannya seperti sekarang. Saat Lucas pertama memutuskan untuk jadi gladiator juga Jaemin menentang luar biasa, tapi tetap saja dia lakukan.
Mereka terlalu asik berdebat sampai tidak sadar sebenarnya ada yang berusaha masuk ke dalam tapi maju mundur karena suaranya yang terlalu ribut. Seorang laki-laki yang... Tidak terlalu tinggi dan wajahnya manis.
"Aku penghuni kamar ini. Namaku Renjun. Aku dari Kekaisaran Huang," orang itu memperkenalkan diri. "Kudengar, yang ada di kamar ini dari Reim dan Heliohapt. Tapi... Kenapa tiba-tiba ada banyak ya?"
Banyak?
"Oh, tidak kok! Mereka ini hanya mengantar! Aku yang teman sekamarmu!" Jaemin bangkit lalu mengajak teman barunya itu berjabat tangan, "Kenalkan, namaku Jaemin. Aku dari Reim. Mohon bantuannya untuk seterusnya!"
Renjun sempat berujar soal dia bisa tau mereka itu pastilah orang-orang Reim walaupun mereka tidak memberi tau.
"Karena kami pirang?"
"Tidak juga. Rambut bisa diwarnai sesuka hati. Yang sulit diubah itu warna mata dan kulit," katanya santai seraya masuk ke kamar barunya beserta barang bawaannya yang sangat sedikit dibandingkan Jaemin. "Mata kalian keemasan dan kulit kalian putih. Sudah pasti bukan Heliohapt yang berkulit gelap."
Oh. Benar juga. Renjun sudah diberitau soal tanah asal teman sekamarnya. Jadi kalau bukan Reim, ya Heliohapt. Kalau bukan Heliohapt, ya berarti Reim. Seperti itu saja.
Untuk Huang sendiri, stereotipenya adalah rambut yang hitam legam dan mata yang cenderung lebih sipit. Tapi Renjun menambahkan detil saat Hendery bertanya soal itu, "Rambut tidak ada hubungannya. Orang yang kukenal baik dari Huang itu rambutnya hijau, tau. Yah, walaupun itu memang dia yang mewarnai sendiri sih. Tapi intinya, rambut itu bukan tolok ukur."
Rambut bukan tolok ukur. Lucas merasa tertohok di sana. Dia tidak menyangka orang yang baru pertama bertemu semacam Renjun ini sudah berhasil membuatnya teringat lagi tentang kecemasan terbesarnya yang sempat dia lupakan karena terlalu memikirkan hal lain.
"Kamu sendirian, Renjun? Atau ada yang menemanimu ke sini juga?"
"Aku sendirian. Teman-teman yang harusnya menemaniku ke sini ada urusan lain. Dan aku juga tidak sebutuh itu ditemani."
"O-oh... Kalau begitu, kamu mau ikut kami pergi makan ke bazaar? Setelah menunggu satu lagi teman kita."
Renjun terlihat berpikir sejenak, seperti ingin mengiyakan tapi dia justru kemudian menggeleng. "Kalian keluarga kan? Lebih baik aku tidak mengganggu waktu kalian. Aku akan keliling sendiri nanti setelah si Heliohapt datang."
Ah. Dia pengertian. Jaemin merasa dia tidak perlu khawatir lagi tidak akan akrab dengan teman sekamarnya.
Tak lama, ada lagi yang menyusul. Kulit gelap dan rambut perak.
"Hah," reaksi orang itu saat melihat ke dalam ruangan. "...kok banyak. Bukannya cuma bertiga?"
Haha. Sama seperti Renjun barusan. "Tidak, tidak! Cuma bertiga kok. Kenalkan ya, aku Jaemin dari Reim! Dan..."
"Aku Renjun, dari Huang. Kami berdua yang menempati kamar ini nanti," kata Renjun, yang baru dia sadari kalimatnya aneh kemudian, "Maksudku, kami berdua dan kamu juga, tentu saja."
Orang itu tidak kunjung masuk ke dalam sampai Jaemin dan Renjun yang menariknya. Sungkan, mungkin, karena tiba-tiba menemukan ada lebih banyak orang di dalam kamar yang katanya hanya akan ditempati tiga orang termasuk dirinya.
"Aku Haechan. Dari Heliohapt."
Sudah. Seperti itu saja. Haechan ini sepertinya tidak begitu nyaman dengan orang baru, jadi dia bilang dia minta dimaklumi dulu kalau misalnya di hari pertama dia akan banyak diam, yang mana Jaemin dan Renjun sama-sama balas kalau mereka juga sama, jadi Haechan tidak perlu merasa harus secepat itu terbiasa.
Krkkrkkrk.
Suara apa itu?
Oh. Suara perut Hendery... "Hehe. Maaf ya. Perutku sepertinya juga ingin ikut kenalan."
Aish. Perut Hendery yang bunyi, malah Jaemin yang malu. Jaemin lalu menawarkan lagi kepada dua temannya untuk ikut pergi makan, tapi Renjun memotong, "Kamu sepertinya juga datang sendiri ya, Chan? Kamu ikut keliling denganku saja. Biarkan Jaemin menghabiskan waktu dengan keluarganya dulu sampai malam, baru mulai besok kita bisa lebih bonding lagi bertiga."
"O-oh... Keluarga ya." Haechan seperti yang terkesima mendengarnya, entah kenapa.
Aneh. Tapi Jaemin juga menyadari bagaimana Haechan sebenarnya memerhatikan seseorang di belakangnya berdiri. Haechan melihat ke... Lucas? "Ada apa, Chan...?"
"Saudaramu?" Haechan bertanya dengan bisik-bisik.
Jaemin jadi ikut menjawab dengan berbisik juga, "Iya. Kakakku. Sepupu sih, tapi sudah kuanggap kakak kandung. Kenapa?"
"Mirip Wong Yukhei...," kata Haechan yang membuat Jaemin hampir saja tertawa meledak-ledak. "Tapi rambutnya hitam. Tapi juga mirip banget."
"Ah... Soal itu sih..." Jaemin tidak tau apa dia sebaiknya bilang terus terang saja kalau memang rambutnya itu diwarnai. "Tunggu. Kamu tau Wong Yukhei? Kok bisa? Apa Colosseum terkenal sampai Heliohapt?"
"Colosseum-nya tidak terlalu sih, tapi kalau Wong Yukhei, dia lumayan banyak penggemarnya."
"Wah... Kamu salah satunya?"
Haechan menganggukkan kepalanya mantap. Dia seperti yang sudah tidak banyak menahan diri lagi seperti sebelumnya.
Ah, Jaemin jadi gemas sendiri! Dia akhirnya bilang pada Haechan tentang yang sebenarnya, "Dia itu memang Wong Yukhei. Rambut merahnya dicat hitam supaya tidak terlalu mencolok. Kamu mau coba kenalan?"
Haechan awalnya tidak langsung percaya, tapi saat Jaemin menarik keduanya supaya mendekat, Haechan jadi bisa melihat lebih jelas lagi kalau memang orang di depannya sekarang adalah si gladiator tampan dari Reim.
"O-oh... Aku tidak menyangka akan ada yang mengenaliku di luar Reim." Lucas yang sudah dijelaskan oleh Jaemin tentang teman barunya yang ternyata adalah penggemar tanpa sadar juga jadi salah tingkah. "Aku Wong Yukhei, tapi karena kamu teman Jaemin, panggil aku dengan nama asli juga tidak masalah. Jadi, kenalkan, namaku Lucas."
Lucas sudah mengulurkan tangannya, seperti yang biasa dia lakukan ketika berkenalan dengan orang baru. Tapi Haechan bukannya membalas uluran tangannya, dia malah berlarian ke luar kamar sambil teriak-teriak... Renjun juga akhirnya menyusul setelah mengucapkan sepatah dua patah kata pada rombongan Reim, "Kembali ke rencana awal. Selamat menikmati waktu dengan saudara ya, kalian bertiga!"
Lalu dia pun pergi dengan teriakan-teriakan yang memanggili Haechan juga. Heboh sekali di hari pertama ya.
"... Si Heliohapt itu kenapa..." Lucas menggaruk tengkuknya. Dia merasa barusan dia melakukan salah sampai Haechan berlarian seperti barusan.
"Entahlah. Sepertinya dia penggemar berat ya. Tapi yang penting, ayo cari makan! Kita lanjut berantemnya sambil makan!"
Berantem. Jaemin menggelengkan kepalanya karena teringat lagi dengan perdebatan mereka bertiga yang berlangsung sengit sampai teman-teman sekamarnya datang bergantian. Benar, dia butuh memastikan dulu kalau perdebatan yang tadi itu harus segera menemukan titik terangnya sebelum hari berganti, karena besok, dia sudah tidak bisa keluar lagi dari gerbang Neostadt sesuka hati...
.
.
.
Tbc.
A/n.
In case ada yg ga ngeh, ini kejadiannya sebelum chocolate intoxication yakk. Mereka baru masuk neostadt.
Review review!
