Aries and Mercury
Ch. 2 : Fusion of The Soul (part 2)
Pair: Hyuckhei, Luchan (Lucas x Haechan)
Disclaimer: highly influenced by Shinobu OHTAKA's Magi The Labyrinth of Magic
Dari sore sampai malam, gerbang Neostadt terbuka untuk nonpenyihir yang datang mengantar murid tahun ajaran baru. Bisa dibilang, ini adalah kesempatan jarang ada bagi nonpenyihir untuk melihat langsung pemandangan apa sebenarnya yang bisa disuguhkan para penduduk asli Neostadt yang sehari-harinya memanfaatkan berbagai macam aset bertenagakan sihir dalam berbagai macam urusan.
Kesempatan jarang ini hanya sampai malam, sekitar pukul 9, tapi dari pukul 8 sudah terlihat lumayan banyak nonpenyihir yang terlihat meninggalkan Neostadt dengan terburu-buru. Beda ceritanya dengan satu meja ini yang ditempati satu penyihir dan dua nonpenyihir dengan sangat santai, seolah mereka tau mereka tidak akan tanpa sengaja melewati tenggat waktu lantaran terlalu berleha-leha.
Hendery dan Lucas sempat bertanya-tanya, memangnya, apa yang membuat para penjaga bisa membedakan mereka itu penyihir atau bukan? Padahal, murid-murid baru itu kan belum diberikan seragam hitam-hitam beserta topi penyihirnya yang benar-benar menjadi ciri khas penyihir Neostadt. Mereka ini sama-sama masih berbalut pakaian ala pengelana dari Reim, dan semua pengunjung yang lain pun masih berpakaian ala negaranya masing-masing. Sama sekali tidak ada yang mencirikan seseorang itu penyihir atau bukan.
"Penyihir yang menjadi penjaga di gerbang bisa melihat ruh. Mereka bisa langsung tau seseorang itu penyihir atau bukan dari jumlah ruhnya, seperti yang kemarin aku ceritakan," kata Jaemin. "Ruh penyihir jumlahnya jauh lebih besar dari orang biasa. Ruhnya bahkan bisa menutupi sekujur tubuh, sedangkan orang biasa mungkin hanya di beberapa titik organ vital."
Hm. Perbedaan yang lumayan signifikan hanya bagi yang bisa melihat. Sempat juga ingin bertanya apa yang akan terjadi pada nonpenyihir yang melewati tenggat waktu, tapi Jaemin bilang dia tidak ingin topik wajib yang harus dibahas kali ini malah jadi dilupakan karena mereka jadinya lebih mengutamakan hal lain semacam pertanyaan tentang ruh yang dia sendiri juga kurang paham.
Di acara makan malam yang terakhir itu, Jaemin meminta Hendery untuk terus mengawasi Lucas supaya tidak gegabah, terlepas dari keputusan Lucas setelahnya ingin menetap di Aktia atau kembali ke Reim.
"Inginku, kalau kak Lucas memutuskan menetap, aku ingin teman yang sempat kak Hendery sebut itu membantu kak Lucas cari pekerjaan baru di sini... apakah bisa?"
Mencari pekerjaan di Aktia? Sejujurnya, Hendery merasa itu perkara yang cukup mudah, dengan atau tanpa bantuan dari temannya. Apalagi, jalan-jalan seharian ini membuat Hendery jadi dapat melihat bagaimana Aktia adalah negara yang masih kekurangan sumber daya manusia. Hanya saja, ya, hanya saja, Hendery dapat menjamin, Jaemin bisa berkata demikian padanya itu karena dia belum tau, teman Aktia yang dia maksud adalah orang yang sama dengan penerjemah yang Lucas sebutkan di kamar asrama. Ya, penerjemah yang akan menemaninya menaklukkan kuil bawah tanah. "Jadi kamu memang mendukung kakakmu tetap di Aktia?"
Jaemin menelan ludah. Mendukung? Sepertinya tidak sampai seperti itu. "...Aku hanya merasa kak Lucas tidak senang di Reim, jadi..."
"Tidak masalah kalau Lucas tidak pulang. Dia pria dewasa yang sudah bisa memutuskan banyak hal sendiri. Tapi aku bagaimanapun tidak akan ikut dia menetap di sini. Aku masih punya keluarga di sana, di Reim..."
"...benar." Jaemin lupa. Dia tidak bisa meminta Hendery menetap hanya demi Lucas. Dia setuju untuk hal satu itu, tapi untuk membiarkan Lucas memutuskan ini sendiri dengan alasan Lucas adalah 'pria dewasa', dia masih keberatan. "T-tapi setidaknya, teman kakak itu... Bisakah kak Hendery pastikan dulu dia mau membantu kak Lucas sampai bisa mendapat tempat tinggal dan pekerjaan tetap di sini? Kak Hendery tidak harus ikut tinggal di sini... Aku hanya ingin kak Lucas ada teman."
"..."
Jaemin dan Hendery membahas tentang kelanjutan Lucas tiada hentinya, bahkan setelah makanan yang mereka pesan sudah raib sampai ke sisa-sisa terkecilnya. Lama-lama, Lucas jengah juga terus mendengarkan dua orang ini yang terus-terusan membicarakan dirinya layaknya pendapat dari dirinya sendiri itu tidak perlu ditanya.
Ya! Kenapa sih? Kenapa hidupnya malah harus ditentukan orang lain begini? Sampai-sampai Lucas jadi bertanya-tanya sendiri, yang sebenarnya kakak itu siapa di sana? Dia? Atau Jaemin? Siapa?!
Lucas setengah menggebrak meja supaya Jaemin dan Hendery tau dia ini tidak senang, "Oke! Aku pulang ke Reim! Aku tidak akan menetap di sini. Tidak juga pindah ke tempat lain. Jadi kalian sekarang sudah bisa berhenti membicarakan soal ini!"
Pulang ke Reim? Lucas bilang dia akan pulang ke Reim? Mendengar itu, Jaemin sontak meraih tangan Lucas, "Serius tidak apa-apa begitu? Kakak... Kakak tidak senang di Reim, kan?"
"Senang? Mana mungkin. Aku tidak pernah senang di Reim. Tapi tetap saja sampai umurku segini juga baru sekali ini aku pergi dari Reim," kata Lucas sedikit ogah-ogahan. "...jadi untuk bertahan beberapa tahun lagi juga harusnya aku bisa. Setidaknya, di sana aku punya nama. Aku terkenal sampai Heliohapt, kurasa itu juga sudah cukup jadi bukti aku bisa mendapatkan uang banyak jika aku kerja lebih keras lagi."
Oh. Itu bukan jawaban yang sepenuhnya membuat Jaemin bisa merasa lega. Lucas bicara seolah dia merasa bahwa dari dua pilihan: 'kembali ke Reim' dan 'menetap di Aktia', pilihan yang pertama itu tidak seburuk pilihan kedua. Yang membedakan adalah di Reim dia setidaknya sudah punya tempat tinggal dan pekerjaan yang menjanjikan, walaupun dia harus menahan untuk terus diperlakukan berbeda di sana. Di Aktia? Masih ada kemungkinan terburuk di mana dia hanya akan berjalan ke sana ke sini luntang lantung tidak ada yang tau.
Ya, semua pilihan yang ada itu buruk, tapi kembali ke Reim itu adalah yang tidak seburuk itu. Lucas tidak akan mati tak dikenal selama dia ada di Reim. Dan yang terpenting, dia tidak akan membuat Jaemin terlalu khawatir sampai menggagalkan belajarnya.
Lucas tidak akan menetap. Jaemin percaya pada omongannya, sehingga pembicaraan malam itu bisa ditutup dengan Jaemin menitipkan Lucas pada Hendery untuk perjalanan kembali ke Reim.
Tapi apakah Hendery percaya?
"Kamu pasti masih punya rencana lain."
"Hm?" Lucas menghentikan langkahnya saat mendengar apa yang dikatakan Hendery di jalan kembali ke penginapan dan juga setelah mereka pisah jalan dengan Jaemin yang sudah akan memulai kehidupan asramanya. "Rencana apa?"
"Kembali ke Reim? Aku tidak percaya kamu bisa semudah itu berubah pikiran, padahal kemarin kamu sampai lebih memilih tidur di jalanan karena kami menentang penaklukan kuil..."
"Lalu? Jadi maksudmu apa?"
Lucas ini menantang atau bagaimana? Dia menunggu Hendery mengatakannya langsung ya? Oke, Hendery akan lakukan! "Kamu pasti masih ingin pergi ke kuil setelah ini! Di Reim juga ada lebih banyak lagi kuil lain yang dimunculkan Nona Magi Scheherazade dibandingkan di sini, dan kamu pasti berencana pergi ke salah satunya tanpa memberitau adikmu!" kata Hendery. "Purson, Shax, Vassago... Itu kuil-kuil Reim yang saat ini masih belum ditaklukkan. Kamu pasti—..."
"Sebenarnya aku penasaran dari kemarin," Lucas menyela omongan Hendery. Oh, dia bahkan menyeringai. "Tapi sepertinya kamu tau banyak soal kuil bawah tanah ya? Aku sampai curiga, kamu juga sebenarnya ada rencana untuk pergi ke salah satunya, lho."
"...!"
Untuk pertama kalinya Hendery dibuat Lucas kehabisan kata. Seperti orang yang tertangkap basah, Hendery membuang muka.
Lucas tidak memaksanya mengaku atau apa. Toh, dari reaksinya, itu juga sudah cukup jadi jawaban. Hendery memang berencana pergi ke kuil bawah tanah di Reim. Setidaknya, dulu dia memang sempat merencanakan itu.
Orangtua Hendery sakit-sakitan dan banyak utang. Hendery sebagai anak sulung mau tak mau jadi harus menanggung. Berkali-kali dia mencapai puncak kelelahannya yang kian tahun makin terasa mencekik, dan di saat seperti itu bayangan tentang harta yang mungkin bisa dia dapatkan jika dia bisa menaklukkan kuil bawah tanah itu pasti akan muncul dalam benak, sampai bisa membutakan pemikirannya sendiri tentang kuil bawah tanah itu tidak jauh berbeda dari kuburan, seperti kata Jaemin.
Akal sehat Hendery selalu bisa menghentikannya melangkah masuk ke dalam kuil. Tapi telinganya tidak bisa dia paksa untuk tidak mendengar cerita-cerita dari banyak pengunjung kasinonya tentang orang-orang yang mendadak jadi kaya raya berkat harta benda yang mereka dapat dari penaklukan kuil. Tanpa sadar, dia sudah jadi tau lebih banyak tentang kuil bahkan tanpa dirinya mencari tau.
Contoh mudahnya adalah hari ini. Jungwoo, seorang cendekiawan asal Aktia yang beberapa waktu lalu sempat berkunjung ke Reim demi pembelajarannya tentang bahasa aneh yang katanya ada di dalam kuil. Hendery sudah mendengar tentang bahasa itu dari lama, dari Jungwoo juga pula. Tapi apakah waktu itu dan hari ini juga, Jungwoo bercerita tentang satu bahasa itu karena ada yang memintanya cerita? Tidak. Dia bercerita duluan. Seolah dia memang ingin memancing orang supaya tertarik masuk ke dalam kuil. Seolah dia mencari 'teman' kuat yang bisa menjadi tamengnya di dalam sana.
Harus diakui, Hendery sedikitnya masih ingin mencoba pergi ke kuil. Kuil manapun itu. Mungkin yang membuatnya ingin menemui Jungwoo lagi karena dia juga masih ingin mendengar lebih jauh tentang kuil bawah tanah, terlepas dari dia benar-benar ingin pergi atau tidak.
"Besok atau besoknya lagi," kata Lucas begitu mereka sampai di penginapan. "Aku akan ke tempat Jungwoo lagi. Kalau dia memang serius untuk jadi penerjemah, minggu depan aku akan ke Barbatos dengan dia."
Barbatos? Jadi memang Lucas tidak ada rencana kembali ke Reim?
"Aku akan pulang ke Reim sehabis menaklukkan Barbatos. Setidaknya, dengan begitu aku tidak sepenuhnya membohongi Jaemin, kan?"
"Tapi minggu depan... Itu terlalu cepat. Persiapan penaklukan kuil itu setidaknya butuh sebulan—..."
"Sebulan terlalu lama. Bukannya kamu juga butuh cepat kembali ke Reim? Kasino-mu itu mau kamu tutup selamanya?"
"...aku?" Hendery merasa salah tangkap. Kenapa tiba-tiba jadi membahas dirinya?
Lucas menarik seringainya lagi. "Kamu ikut, Hendery. Kamu ikut ke Barbatos," katanya. "Si penerjemah itu tidak akan banyak berguna di kuil. Tapi kamu sebagai pemuda Reim pasti tau cara menggunakan pedang. Kamu pasti juga mau membanggakan orangtuamu, kan?"
Oh. Sebenarnya, apa saja yang Jungwoo katakan pada Lucas siang tadi? Sampai-sampai Lucas sudah sebegini berhasilnya dia pancing. Sebegini berhasilnya Lucas dia cuci otak.
Dan apapun itu yang Jungwoo lakukan pada Lucas, Lucas juga sedang melakukannya lagi pada Hendery. Tidak ada lagi celah untuk berpikir jernih, Hendery juga ikut tertarik masuk ke dalam jurang yang selama ini dia berhasil hindari.
Sesuai dengan kata-kata Lucas, mereka mendatangi Jungwoo di balai sekali lagi. Senyuman lebar dari Jungwoo mereka dapatkan saat mereka bilang mereka akan pergi ke Barbatos dengan tuntunan darinya.
"Wah, mendapatkan dua petarung Reim untuk meneliti kuil merupakan suatu kehormatan! Ini kesempatan yang tidak akan datang lagi lain hari!" Begitu katanya, yang sebenarnya di telinga Hendery dan Lucas terdengar lumayan aneh dan tidak mengenakkan. Tapi Lucas memutuskan untuk abai saja. Dia juga sebenarnya tidak terlalu ingin bergantung padanya.
Tidak mereka sangka-sangka, tapi Jungwoo ternyata sudah memiliki banyak pengetahuan mengenai kuil bawah tanah, bahkan yang di luar bahasa Toran yang kemarin dia sebutkan. Sebagian besar informasi itu bukan dari hasil penelitiannya sendiri, tapi dia sudah menyatukannya menjadi semacam petunjuk atau panduan yang mudah dimengerti.
"Sejauh ini, hanya ada satu orang dari Kekaisaran Huang yang berhasil menaklukkan kuil bawah tanah seorang diri tanpa pasukan, yaitu Pangeran Lee Minhyung, putra tertua dari Kaisar Lee Taeyong. Beliau menjadi penakluk dari kuil kedua, Agares, dan kuil ke-29, Astaroth."
"Dua kuil seorang diri? Monster macam apa dia?"
"Menakjubkan, bukan? Orang-orang dari Kekaisaran Huang memang dikenal dengan kemampuan bertarungnya yang tiada tandingan. Pangeran Lee Jeno, putra kedua Kaisar Lee juga jadi penakluk kuil ke-14, Leraje. Walau kudengar-dengar sih, Pangeran Lee Jeno masuk ke kuil bersama pasukan sebagai pendamping Lee Minhyung. Jadi sebenarnya yang menginginkan Leraje sebagai jinnya itu pangeran tertuanya..." Jungwoo menambahkan sambil tertawa pelan karena merasa omongan Hendery itu lucu sekali.
Hm. Apa Lee Minhyung memilih untuk menaklukkan kuil seorang diri pada akhirnya itu karena pada saat dia datang dengan pasukan, dia tidak mendapatkan jin? Karena jin yang harusnya dia dapatkan itu malah memilih adiknya, Lee Jeno, yang sebenarnya ikut ke kuil hanya sebagai tenaga bantuan? Lucas berpikir keras membayangkan kemungkinan adanya konflik internal di tanah Huang sana berkaitan para calon pewaris tahtanya...
"Yah, kira-kira begitu saja sih. Oh, iya. Untuk pembagian hartanya, kalian bisa bagi berdua saja. Aku benar-benar hanya ingin melihat dalamnya, jadi aku tidak akan ambil persenan," kata Jungwoo sebagai penutup dari penjelasannya. "Kalau soal jin, karena jin yang memilih sendiri majikannya, itu tidak perlu kita bahas ya. Walau aku yakin sih, Barbatos pasti akan memilih satu di antara kalian."
"Tunggu. Kamu tidak ingin ikut membagi hartanya?" Lucas yang bertanya. Dan Jungwoo menggeleng tanpa pikir dua kali. "Serius? Memang keuntungan macam apa yang bisa didapatkanmu dengan penelitian ini selain dari harta dan jin?"
Jujur. Lucas tidak begitu paham kenapa bisa ada orang macam Jungwoo yang mau melakukan apa saja hanya demi mendapatkan informasi. Bahasa Toran? Buat apa mempelajari bahasa yang tidak siapapun di muka bumi ini gunakan? Semua itu tidak ada gunanya...
Jungwoo tersenyum sebelum menjawab, "Semua hal yang sekarang kita tau penting itu pada awalnya juga terlihat tidak berguna. Gaya tarik bumi? Kecepatan angin? Buat apa mengetahui itu semua? Padahal apel jatuh ke tanah itu tidak akan menyebabkan apa-apa. Padahal angin yang berembus pelan juga tidak akan menyebabkan kerusakan," katanya dengan mata yang menatap Lucas dan Hendery bergantian. "Tapi manusia terus berkembang seiring zaman juga terlewat. Hal yang awalnya terkesan remeh, sekarang menjadi bagian penting dari bagaimana kita melakukan banyak hal. Reim adalah negara yang distribusi airnya paling baik dan itu karena saluran airnya yang memanfaatkan gaya tarik bumi. Kalian juga bisa sampai ke Aktia dari Reim, itu karena memanfaatkan kekuatan angin untuk menggerakkan kapal. Jadi, siapa kita untuk menentukan informasi kecil semacam bahasa itu tidak berguna? Berguna atau tidaknya ilmu pengetahuan, itu tergantung dari bagaimana kita bisa memanfaatkan. Menurutku, seperti itu."
Tiap kata yang keluar dari mulut Jungwoo, semuanya menusuk tepat di hati Lucas dan Hendery. Jungwoo yang luarnya terlihat lemah itu ternyata punya alasan kuat dari apa yang sudah jadi keputusannya.
Di saat itu jugalah Lucas merasa dia tidak salah mengambil keputusan. Bayangan wajah Jaemin yang akan dia buat terkejut dengan gelimang harta mulai menghiasi benak. Dengan Jungwoo dan Hendery di sisinya, Lucas yakini dengan sangat bahwa pastilah kuil bawah tanah manapun itu bisa mereka kalahkan.
Lucas juga memastikan Hendery tau tentang yakin yang mendalam itu pada malam sebelum mereka memulai penaklukan. Dengan tangan mengepal, dia meminta Hendery untuk yang terakhir ini tidak akan ragu lagi. Mereka berada di jalan yang benar. Mereka dilindungi.
"Kita akan keluar hidup-hidup. Percayalah."
Percaya. Rasa percaya itu tidak ada wujudnya. Dan perasaan macam itu juga akhirnya mulai sirna di dalam kuil bawah tanah Barbatos.
Barbatos berhasil ditaklukkan sejak tujuh tahun kuil itu pertama muncul. Sejarah mencatat, Barbatos menjadi jin dari seorang pemuda asal Reim, dan bersemayam dalam pedang yang selalu diayunkannya di Colosseum sana.
Ya. Gladiator Wong Yukhei, kini mendapatkan satu julukan lagi atas keberhasilannya mendapatkan Barbatos. Namanya akan terus diingat sebagai seorang yang berhasil menaklukkan kuil bawah tanah seorang diri, setelah pangeran Huang, Lee Minhyung.
Seorang diri. Ya, seorang diri. Hanya Lucas sendirian yang berhasil keluar dengan penuh luka dan teriakan yang meledak-ledak seraya dirinya berjalan menjauh dari kuil Barbatos dalam detik-detik keruntuhannya.
"Dia gila... Dia orang gila...!" Teriakan Lucas yang orang-orang sekitar kuil bisa dengar dan akan terus ingat. "Hendery... Hendery... Maafkan aku..."
Berita tentang runtuhnya Barbatos menjalar ke mana-mana, tapi tak sekali pun berita itu mengetuk gerbang tinggi Neostadt yang tak pernah terbuka lagi sampai setahun setelahnya, saat sekolah sihir Neostadt memberikan kesempatan bagi murid-muridnya yang datang dari luar untuk pulang ke tanah asal selama tiga bulan. Selang setahun itulah baru Jaemin mendengar tentang kakaknya yang sudah tak lagi dikenal hanya dengan sebutan gladiator, tapi juga sebagai majikan jin wadah logam.
Jaemin tidak tau harus senang atau marah mendengarnya. Lucas memang ada di Reim seperti janjinya. Tapi dia tidak mau tenang saja saat mendengar kakaknya itu ternyata memang senekat itu untuk diam-diam masuk ke dalam kuil. Hasilnya bagus, memang. Lucas mendapatkan kekayaan yang dia inginkan. Harusnya, Jaemin merasa senang untuk itu, walaupun dia juga tidak begitu paham awalnya kenapa Lucas terasa seperti orang asing buatnya setelah setahun tidak bertemu. Terlebih, saat Jaemin bertanya padanya, di mana Hendery?
"Tadi aku lewat jalan utama, tapi rasanya jalan itu sudah tidak seramai dulu... dan ternyata itu karena kasino milik kak Hendery tutup. Memangnya kak Hendery ke mana sih, kak?"
Hendery di mana? Iya, Hendery di mana ya? Lucas juga tidak tau jawabannya. Di dunia bawah kah, seperti yang orang-orang bilang? Atau di tempat yang tak seorang pun tau, karena Hendery juga gugur di tempat yang tak seorang pun tau letak pastinya itu di mana?
Tidak pernah ada yang bilang bahwa bagian dalam kuil itu sama seperti dimensi lain. Mati di tempat seperti itu, akan ke manakah jiwanya? Tidak tau. Lucas tidak tau.
"Kak? Kak Hendery di mana?" Jaemin masih terus mengulang pertanyaannya, tapi Lucas tak sekali pun menjawab. Dia malah memejamkan matanya dan menangis. "Kak...? Ada apa? Kakak—..."
"...mati..."
"...hah?"
Lucas menepis gapaian tangan Jaemin yang berusaha meraihnya. Tidak, Jaemin menganggapnya sudah gila juga. Gila, gila seperti si keparat Jungwoo. Si keparat yang membuat Hendery mati di kuil.
"Hendery mati! Hendery mati di kuil Aktia!" Teriak Lucas, final, sebelum akhirnya dia meninggalkan Jaemin yang terdiam di rumahnya yang sudah jauh lebih besar dari rumah lamanya.
Lucas sekarang sudah kaya. Sudah tidak perlu bertarung lagi di Colosseum demi sejumlah uang yang akan habis dalam sekian waktu. Itu karena dia sudah dengan sangat berani mempertaruhkan nyawa demi kekayaannya yang sekarang, walaupun nyawa yang pada akhirnya jadi taruhan yang hilang itu adalah nyawa orang yang selama ini selalu jadi temannya tanpa kenal lelah.
.
.
.
.
.
"Seperti itu..."
Jaemin mengakhiri ceritanya dengan raut sedih penuh penyesalan. Cerita tentang apa yang terjadi setahun lalu sebelum dia datang ke Neostadt dan berpisah dari kakaknya yang ternyata memang sangat gegabah sampai ke akar-akarnya. Dia bercerita kepada temannya, Haechan, yang diketahuinya juga kenal dengan orang yang jadi tokoh utama dari ceritanya barusan.
Mereka saat ini sama-sama sedang berada di Neostadt, di tengah liburan tiga bulan lamanya. Jaemin yang awalnya sudah kembali ke Reim, kembali lagi ke Neostadt karena kepentingannya menemui Haechan di sana yang diketahuinya juga tidak akan meninggalkan Neostadt saat libur, entah karena apa.
Haechan belum memberikan tanggapan apa-apa bahkan setelah beberapa saat Jaemin menutup ceritanya. Itu membuat Jaemin juga jadi tidak sabaran. "Haechaaan! Aku sedang minta bantuanmu!"
"Ya makanya, bantuan apa! Aku masih tidak mengerti di bagian mananya aku bisa bantu..."
Benar. Jaemin baru sadar setelah mengingat-ingat dia belum bercerita dengan lengkap. "Jadi... kamu tau kan sekarang mata ruhku sudah berfungsi?"
Haechan mengangguk. Dia ingat bagaimana kemampuannya itu berhasil digunakan saat mereka ingin 'membantu' teman sekamarnya yang lain lagi, Renjun, yang waktu itu kedatangan dua temannya di sana, di Neostadt. Dia juga ingat bagaimana murid-murid lain setelahnya langsung heboh saat tau akhirnya ada yang bisa membuka mata ruhnya di angkatan mereka yang paling baru itu. Sampai saat ini pun Jaemin masih jadi satu-satunya murid di angkatannya yang bisa melihat ruh, dan dia cukup jadi kebanggaan salah satu mentor yang mengajar manipulasi ruh, Mentor Son Wendy.
"Aku... Melihat ruh kak Lucas berubah..."
"Berubah?" Haechan mengernyit. Dia pernah dengar tentang ruh yang bisa berubah warna karena kesedihan dan dendam yang mendalam. Kalau sudah seperti itu, ruh yang awalnya putih akan menggelap. "Jangan bilang, ruhnya berubah hitam?"
Jaemin menggeleng. "Tidak, tidak. Untungnya tidak, tapi kudengar dari penyihir petinggi di Reim, keadaan ruh kak Lucas itu juga tergolong gawat saat aku mengajaknya konsultasi. Katanya, ruh dalam tubuh kak Lucas... Ada dua jenis..."
Dua jenis? Dalam satu tubuh?
"...dan satu jenis ruh asing dalam tubuh kak Lucas itu... Sepertinya ruh kak Hendery... Ruh teman kak Lucas yang gugur di kuil."
Oh. Oh! Mata Haechan membulat saat merasa familiar dengan yang diomongkan Jaemin. Perubahan kualitas ruh karena tercampur dengan ruh orang terdekat yang meninggal. Haechan tau tentang itu, tapi... "Siapa yang memberitaumu kamu bisa minta bantuanku soal ini?"
"Penyihir petinggi Reim... Mereka bilang, yang bisa menangani kasus setingkat ini adalah penyihir Heliohapt yang punya konsentrasi medis," kata Jaemin, lalu menundukkan kepalanya karena tidak yakin tentang apa yang akan dia katakan selanjutnya, "...Tapi kami tidak bisa ke Heliohapt... Karena katanya, pasukan dari Huang sedang mencoba untuk mengambil alih Heliohapt... Jadi... Aku merasa kamu satu-satunya yang bisa menolong."
Haechan membuang muka. Ya, dia tidak pulang ke asalnya karena kekacauan yang sedang berlangsung, dan itu bersangkutan dengan tanah asal satu temannya lagi yang sedang tidak di sana. Menyedihkan, tapi dia juga tidak ada niatan membuat teman-temannya itu tau. Dia tidak ingin mendapat simpati atau apapun itu dari mereka.
"Haechan... Tolong selamatkan kakakku... Sekarang dia ada di penginapan Aktia, tidak bisa melakukan apa-apa...," Jaemin memohon-mohon di depannya. Wajahnya sampai memutih karena tidak tau gawat yang seperti apa yang sampai-sampai bisa membuat penyihir tingkat tinggi di tanah asalnya itu angkat tangan semua. "Dia tidak bisa bergerak lagi... Kumohon..."
Haechan menghela napas. Dia tidak suka melihat Jaemin yang biasanya banyak tertawa itu sekarang tiba-tiba berurai airmata. Rasanya seperti Haechan sejahat itu untuk menolak permintaan temannya yang sudah sebegininya memohon.
"Jangan menangis. Ayo, ke Aktia," Haechan menepuk pundak Jaemin, memintanya bangun dari duduk bersimpuhnya. "Aku mungkin memang dari Heliohapt, tapi bagaimanapun, aku masih pelajar. Kamu yakin tidak keberatan kalau aku yang menangani kakakmu?"
.
.
.
.
Tbc.
a/n. review review!
