"Kunikida-kun, ayo kesini."
"Tidak, aku lelah."
"Ayolaaah, jarang-jarang ada festival! Mumpung kita libur!"
"Aku lelah, Dazai. Mengertilah."
Tak ada salahnya kan mereka ke Festival musim panas yang jarang sekali diadakan?
.
.
.
.
Sakit dan Istirahat
By KunikidaDerai
Bungou Stray Dogs by Kafka Asagiri and Sango Harukawa
#Kunikida'sBirthdayWeek2020 Day 5, Day 6, and Day 7
[Summer Festival, Off Duty, and Happy Birthday, Kunikida ]
Hope Enjoy
.
.
.
.
Bukannya Kunikida tak mau pergi, tapi Kunikida hanya tak mau menghabiskan waktu liburnya untuk sesuatu yang menghabiskan tenaga.
"Ayolah Kunikida-kun! Kita juga libur, sesekali bersantailah!"
Dan kenapa pula Dazai ke apartemennya hanya untuk mengajak Kunikida ke festival musim panas nanti malam? Sebegitu tak ada kerjaannya kah dia hingga hari libur pun Dazai harus menganggu Kunikida?
"Aku lelah Dazai, kau sama yang lain saja." Ucap Kunikida sambil menghela nafas, menyeruput segelas teh yang memang sudah disiapkannya dari tadi.
"Tapi, mereka memang mau pergi, dan saling berpasangan, Atsushi-kun dengan Kyouka-chan dan Kenji-kun, Naomi-chan dengan Tanizaki-kun, Sachou dengan Ranpo-san dan Yosano-sensei. Jadi hanya tinggal kita berdua!"
"Kau ikut saja dengan Atsushi, biasanya juga kau bersama mereka."
"Lalu Kunikida-kun dengan siapa?"
"Sudah kubilang, aku tak ikut Dazai."
Kunikida lagi-lagi menghela nafas, lalu memijit pangkal hidungnya. Berbicara dengan Dazai itu perlu kesabaran ekstra.
Sedangkan Dazai masih terus berusaha, jika Kunikida tak mau ikut, semuanya menjadi tidak seru.
"Ayolah Kunikida-kun, kali ini saja! Setelah itu aku takkan menganggumu selama seminggu, akan kukerjakan dokumen-dokumenku! Ayolah!"
Kunikida mengernyit, menatap Dazai seakan tak percaya pada apa yang barusan pemuda beperban itu katakan.
"Kau berjanji?"
"Yap! Tentu saja!"
"Walau begitu, aku tetap tidak mau."
Jawaban yang didapat Dazai sama sekali tak memuaskan-bagi dirinya. Padahal Daza sudah memakai jurus andalannya.
Tapi tenang saja, Dazai masih punya jurus andalan lain.
"Kunikida-kun kenapa tak mau ikut?"
"Capek, aku mau istirahat. Mumpung liburan."
"Bukan takut kembang api?"
"Buat apa aku takut kembang api?" Kunikida mengernyit setelah mendengar pertanyaan Dazai.
"Kali aja kan? Kunikida-kun kan orangnya penakut."
Mungkin itulah alasan Kunikida sekarang berdiri diantara kerumunan sambil mengenggam tangan Dazai-dirinya terpaksa.
Tak lupa yukata melekat ditubuhnya, jangan kira ia mau, ini lagi-lagi tantangan dari si pemuda beperban itu.
"Dazai, kau mau mengajakku kemana?" Dengan lemas Kunikida mengikuti kemana Dazai menariknya.
"Kunikida-kun seperti orang yang tak memiliki energi. Semangat lah sedikit!" Seru Dazai sambil memberi sebuah permen apel ke Kunikida.
Sedangkan pemuda berkacamata itu hanya menghela nafas, menerima permen apel itu lalu mengikuti kemana Dazai membawanya.
Menangkap ikan emas, memainkan tembakan hadiah-Kunikida mendapat sebuah boneka yang langsung diambil Dazai, dan membeli banyak jajanan yang tentu saja Kunikida yang membayar.
Kunikida pun hanya mampu menghela nafas, lagi-lagi mana bisa ia berkata tidak saat dompetnya sudah ditangan Dazai. Merasa heran sendiri bagaimana ia bisa mengambilnya.
Kunikida sekarang diam duduk di sebuah bangku kosong, kali ini dia sendirian sambil memegang sebuah permen apel yang hanya sedikit berkurang.
Toh jajanan tadi hanya Dazai yang menghabiskan, tak ada sama sekali ia menyentuhnya. Entah mengapa rasa pegal dan lemas ditubuhnya bertambah, dan jangan lupakan kepalanya yang kian berdenyut membuat moodnya semakin turun.
Dijilatnya pelan permen apel yang sedari tadi menganggur, bukannya ia tak peduli pada uangnya yang dihabiskan Dazai, tapi rasa lelahnya mengalahkam rasa kesalnya. Jika kalian bertanya kemana Dazai ...
Pemuda itu menghilang entah kemana, terpisah dengan Kunikida diantara keramaian dan dirinya terlalu malas untuk mencarinya.
Buum! Duar!
Suara kembang api pun mengambil atensi Kunikida, kepalanya mendongak menatap langit yang seakan dilukis dengan warna-warni.
Keindahan yang sudah Kunikida lihat berulang kali hingga bosan.
Pemuda berhelai rambut pirang kotor itu lagi-lagi menghela nafas, sepertinya ia benar-benar buang waktu untuk berada disini. Hingga Kunikida pun bangkit lalu melangkah pergi dari keramaian itu.
Ia tak ingin terjadi apa-apa di jalan jika melihat kondisinya yang kurang fit begini. Hingga tangannya tiba-tiba ditarik membuatnya refleks menoleh.
Yang dirasakan Kunikida pun hantaman sesuatu yang lembut, manis, tapi lengket. Hingga membuat ia refleks memejamkan mata walaupun tak mungkin matanya terkena.
"Hahaha! Kunikida-kun memang mudah sekali dikerjai!"
Suara yang sangat tak asing pun sudah tertebak, pasti Dazai. Iya, sangat pasti, tapi entah kenapa Kunikida tak sanggup untuk bicara, ataupun mengatakan sesuatu dan itu membuat Dazau heran.
"Kuniki-"
Bruk!
"Kunikida-kun!"
Hanya rasa sakit, kegelapan, dan suara Dazai yang terakhir Kunikida rasa, lihat, dan dengar.
︿
Manik jade green itu kembali terlihat, kelopak mata terbuka perlahan. Dirasanya bantal yang empuk serta selimut yang lembut.
Apa dirinya sedang di ruangan Yosano? Mengapa ada disini? Bukannya Kunikida sedang di-ah ...
Iya, dirinya jatuh pingsan. Jangan tanya kenapa, dirinya juga tak tahu.
"Kunikida-kun?! Kau sudah sadar?!" Air muka khawatir terlukis di wajah Dazai saat Kunikida menatap pemuda itu. Walaupun tanpa menggunakan kacamata, ia masih bisa melihatnya dengan jelas.
"Diamlah Dazai. Kau berisik." Balas Kunikida sambil bangkit duduk dengan perlahan, menatap sekitar guna memastikan dugaan di kepala.
"Aku panik! Saat kulempar kue ke wajahmu, kau tiba-tiba jatuh pingsan."
Kunikida pun menatap Dazai, "pingsan? Aku?"
"Yosano-sensei bilang kau kelelahan, mengapa tak bilang?!" Pertanyaan Dazai sukses membuat Kunikida mengernyit.
"Bukannya aku sudah bilang? Aku lelah."
"Kukira hanya lelah biasa."
"Ya sudah, mau dikata apa lagi. Toh sudah terjadi."
Dazai mengerjab menatap Kunikida yang tak seperti biasanya. Terlihat lebih santai dan sama sekali tak mengeluarkan emosi berlebih.
"Kunikida-kun sehat? Tak seperti biasa menurutku."
"Kau tahu kan hari ini ulang tahunku?"
Dazai mengangguk pelan sebagai jawaban.
"Aku ingin istirahat sejenak saja dari sifatku yang biasa," Kunikida kembali berbaring, "memang hari ulang tahun itu tak ada yang spesial. Tapi, aku ibgin saja istirahat sejenak."
"Istirahat yah." Dazai bergumam pelan, yang diabaikan oleh Kunikida karena sibuk memejamkan mata.
Tanpa basa-basi Dazai ikut naik ke ranjang, berbaring di samping Kunikida lalu memeluknya dengan wajah tanpa dosa.
Kunikida yang merasakan itu kaget bukan main, langsung membuka mata lalu berusaha melepas Dazai, "Dazai! Lepas! Kau ini kenapa?!"
"Katanya mau istirahat dari sifat biasa, kalau Kunikida-kun yang biasa akan menolak, berarti yang ini tidak."
"Tapi ti-"
"Oyasumi."
"Dazai!"
"Kunikida-kun imut yah kalau malu-malu."
"O-oy!"
Kunikida lagi-lagi menghela nafas, dan lagi-lagi kalah oleh Dazai, memilih menurut lalu ikut memejamkan mata.
"Oyasumi."
Tanpa sadar keduanya terbuai oleh mimpi didalam mimpi. Oh tidak, hanya satu orang.
Tanpa sadar, Kunikida terbuai oleh mimpi didalam mimpi.
Omake.
"Mau sampai kapan kau bermimpi, Kunikida-kun?"
Dengan senyum getir, Dazai menatap Kunikida yang sudah entah berapa lama tak sadarkan diri.
Seakan betah pada mimpi yang mungkin tak berujung sama sekali.
Dazai menghel nafas, melirik gelombang detakan jantung di monitor EKG dengan sendu.
Normal namun Kunikida masih memejamkan mata.
"Selamat ulang tahun, Kunikida-kun. Kau memang benar-benar istirahat yah."
End
Aku ini buat apa sih, gaje amat, tapi bodo ah-_-
dahal awalnya dah bagus, tapi kok akhirnya malah gitu_-
