Annyeong readers-nim~ Sungra balik lagi dengan lanjutan dari The Zombie ehehehe :D Semoga chapter ini banyak yang suka yah :3 Sungra gamau banyak ngomong. Cuma mau bilang, Terima kasih kalian yang uda pada review, favorite, ataupun follow~ And, mian, udah lama updatenya :(

Habis baca chapter ini, jangan lupa review ya gaes ;) Sungra tunggu~

.

Meanie - Chanbaek

SVT - EXO fic

M

.

Warn! TYPO(s)! YAOI! BL! AU! OOC! NC!

Cerita murni buatan Author! Sisanya minjem.

.

DLDR!

.

.

HAPPY READING and Enjoy ~

.

.

Malam menjelang, matahari sudah tenggelam sedari tadi. Wonwoo dan Mingyu sedang bersiap-siap di dalam kamar mereka. Mingyu menggunakan jas berwarna hitam dengan dalaman kemeja putih. Sedangkan Wonwoo, ia memakai jas berwarna abu dengan dalaman kemeja putih.

Mingyu terlihat sedang duduk di pinggir ranjang dengan ponsel Wonwoo yang ada di tangannya. Tiba-tiba benda persegi panjang itu bergetar. Dilihatnya ada sebuah pesan yang masuk. Tanpa perlu izin dari sang empu, ia membuka pesan itu.

ByunBaek_ : Wonwoo-ya! Kapan kau akan kesini? Aku gugup sekali! Huuh haah huuh haah.. HUWEE! WONWOO YA, CEPAT KESINI! HUWEE!

Mingyu terkekeh melihat pesan dari hyungnya yang satu itu. Pasti sekarang ia tidak bisa diam, pikir Mingyu. Ia mengetikkan pesan balasan untuk Baekhyun.

'Aku akan pergi sekarang, hyung! Tenang, tarik nafas dan keluarkan.'

*send*

Ditaruhnya ponsel itu diatas nakas. Matanya melirik Wonwoo yang baru saja keluar dari toilet. Malam ini kekasihnya itu terlihat sangat manis. Mata tajam milik Wonwoo melirik pemuda tampan berjas hitam yang sedang memperhatikannya.

"Sudah siap?" Tanya Mingyu.

Wonwoo mengangguk, ia mendekat kearah Mingyu dan menarik lengan namja tinggi itu.

"Ayo!" Ajaknya semangat. Tak lupa ia mengambil ponselnya yang ada di nakas dekat kasur.

Drrtt drrrttt

ByunBaek_ : Kau bukan Wonwoo-ku! Kau pasti tiang Kim itu kan?

Wonwoo mengernyit melihat pesan Baekhyun. Ia menatap Mingyu meminta penjelasan. Sedangkan Mingyu, ia mengambil alih ponsel itu dan mengetikkan sebuah pesan.

'Ya, hyung! Apa-apan kau mengklaim kekasihku sebagai milikmu? Wonwoo hyung hanya milikku!'

*send*

Wonwoo. sent a sticker

Wonwoo melihat pesan yang diketikkan Mingyu kepada Baekhyun. Ia memukul lengan Mingyu pelan, "Ya!"

"Mwo? Kau memang milikku 'kan?" Tanya Mingyu sambil mengedip nakal.

Pipi Wonwoo sedikit merona, ia membuang wajahnya. Pemuda Jeon itu merebut benda itu dari tangan kekasih giantnya. Ia melihat sebuah notif muncul yang sudah pasti itu dari hyung manisnya. Baekhyun.

ByunBaek_ : YA! AWAS KAU TIANG!

"Dia tidak sadar tunangannya juga tiang." Gumam Mingyu sambil terkekeh di sebelah Wonwoo dan kembali mendapatkan sebuah pukulan dari namja manis disebelahnya.

"Ada-ada saja kau. Ya sudah, ayo pergi!"

Mingyu mengangguk dan menggandeng tangan Wonwoo untuk pergi ke pesta Chanyeol dan Baekhyun.

.

JW Marriott Hotel Seoul

Suasana Ballroom di Hotel JW Marriott Seoul sekarang sangat ramai. Terlihat para tamu sudah memenuhi ruangan itu sedari tadi. Acara tukar cincin juga sudah dilaksanakan 15 menit yang lalu. Sekarang waktunya bagi para tamu untuk menikmati hidangan yang sudah disediakan.

Wonwoo terlihat tenang menyesap minumannya sendiri di depan meja yang sudah dipenuhi banyak minuman. Tapi, tiba-tiba saja ia di hampiri oleh seorang namja bersurai gulali.

"Wonwoo-ya? Kau benar Jeon Wonwoo?"

Wonwoo menoleh, ia juga ikut menampilkan ekspresi yang sama dengan namja mungil di depannya. Matanya ia tajamkan untuk menelusuri wajah namja mungil di depanya.

"Kau… Lee.. Woozi. Benar?" Pemuda bersurai gulali itu mengangguk.

"Aih, akhirnya kita ketemu. Bagaimana kabarmu?" Tanya namja bernama Woozi itu.

"Baik. Kau sendiri?"

"Aku baik." Jawabnya sambil tersenyum manis.

"Wonwoo-ya~" Baekhyun berlari kecil menghampiri Wonwoo yang sedang menikmati minumannya.

"Eh, Baekhyunee hyung."

Baekhyun memeluknya dan ia juga membalas pelukan hyungnya itu.

"Kau sudah sehat?" Wonwoo mengangguk.

"Kemana Mingyu?" Tanya Baekhyun.

Wonwoo melihat sekelilingnya, "Molla hyung."

Baekhyun melihat seorang pemuda manis yang ada di samping Wonwoo. "Eumm… kau.."

"Lee Woozi." Ucap pemuda. Baekhyun langsung menerjang tubuh mungil itu dengan pelukan.

"Aigoo sudah lama sekali, Woozi-ya. Bogoshipeoyo.."

Woozi membalas pelukan rindu Baekhyun.

"Nado hyungie.."

Baekhyun melepas pelukannya dan segera menarik kedua tangan namja manis di depannya itu.

"Eh?"

Wonwoo bingung melihat tangannya yang sudah di tarik oleh Baekhyun. Begitu pun dengan Woozi.

"Kalian berdua harus ikut aku!" Ucap Baekhyun. Wonwoo dan Woozi terlihat kaget dengan pernyataan Baekhyun.

"Eh? Kemana hyung?"

Baekhyun menunjuk meja bundar besar yang sengaja di sediakan di pojok ballroom.

"Kita kumpul bersama teman-temanku."

"Eh? A-aniyo aniyo, hyung. Rasanya aneh." Tolak Wonwoo.

Wonwoo memang kurang bisa dekat dengan orang baru. Sekalinya sudah dekat, ia pasti akan sangat akrab dan heboh kalau bertemu dengan seseorang itu.

Bukan Baekhyun namanya kalau tidak keras kepala. Ia tetap menarik Wonwoo dan Woozi ketempat teman-temannya. Wonwoo yang sudah pasrah pun hanya mengikuti langkah Baekhyun dari belakang. Sekarang dirinya dan Woozi seperti anak kecil yang sedang diseret ibunya untuk disuruh pulang.

"Annyeong semua!"

Baekhyun menyapa sekumpulan orang yang ada di meja bundar yang terletak pada pojok ballroom. Semua menoleh menghadapnya, lain dengan Baekhyun lain lagi dengan Wonwoo dan Woozi. Jika Baekhyun menampilkan wajah cerianya, Wonwoo malah menampilkan wajah gugupnya. Sedangkan Woozi, ia sedikit relax karena ada beberapa yang ia kenal dari teman-teman Baekhyun.

"Annyeong, Baek. Mereka siapa?" Tanya pemuda manis bersurai coklat terang yang duduk di samping namja tinggi berwajah dingin.

"Aaah, dia ini dongsaengku dan yang disebelahnya adalah temannya. Kalian, perkenalkan diri sana."

Baekhyun menyenggol lengan Wonwoo agar mau memperkenalkan diri terlebih dahulu di depan teman-temannya. Dengan ragu Wonwoo sedikit melangkah maju,

"A-annyeonghaseyo! Nae ileum-eun Jeo-jeon Wonwoo imnida!" Ia memperkenalkan diri dengan sopan ditambah membungkukkan badan 90°. Tentu saja lengkap dengan nada gugupnya.

"Annyeonghaseyo! Nae ileum-eun Lee Woozi imnida!" Sama dengan Wonwoo, Woozi memperkenalkan dirinya dengan sopan. Bedanya, Woozi sedikit lebih santai daripada namja bermata tajam itu.

"Annyeong Wonwoo-ssi! Woozi-ya!" Sapa seseorang dengan mata bulat yang duduk di paling depan.

Kedua namja itu tersenyum menanggapi sapaan pemuda manis di depan mereka. Sebenarnya, Wonwoo sedikit bingung, kenapa Woozi di panggil dengan akhiran –ya? Sedangkan dia –ssi? Mereka sudah kenal dekat?

"Woozi-ya, kau sudah lama kenal mereka?" Bisik Wonwoo.

"Ne. Aku hanya mengenal Kyungsoo hyung dan Luhan hyung." Wonwoo mengangguk-anggukkan kepalanya paham.

"Wonwoo-ya, kau duduk disini."

Baekhyun menarikkan kursi untuknya. Di meja bundar itu hanya ada 9 orang, termasuk dirinya, Woozi dan Baekhyun.

"Sekarang kalian yang memperkenalkan diri." Suruh Baekhyun. Dimulai dari namja bermata bulat yang menyapa Wonwoo dan Woozi tadi.

"Annyeonghaseyo! Nae ileum-eun Do Kyungsoo imnida!"

Ia membungkuk 90° di depan yang lainnya. Dilanjutkan dengan namja berlesung pipit di sebelahnya.

"Annyeonghaseyo! Nae ileum-eun Zhang Yixing imnida! Kau bisa memanggilku Lay."

Lay memberikan senyuman lembutnya pada Wonwoo dan Woozi yang ditanggapi dengan senyuman dari keduannya.

"Annyeong, Lay hyung!" Sapa Woozi.

Wonwoo masih belum berani membuka suaranya, ya.. dia sedikit pemalu.

"Annyeonghaseyo! Nae ileum-eun Xi Luhan imnida!"

Selanjutnya namja bersurai coklat yang duduk di samping namja bernama Lay itu menyapa semua yang ada disana. Ia melambai kearah Woozi dan Wonwoo. Wonwoo membalasnya dengan senyuman canggung, berbeda dengan Woozi yang membalasnya dengan lambaian juga.

"Naega Oh Sehun imnida."

Datar, dingin, menyeramkan. Kurang lebih, itulah yang ada di benak Wonwoo dan Woozi sekarang.

"Biasa, dia memang begitu." Celetuk Luhan yang dihadiahi kekehan semua orang yang ada disana. Kecuali namja dingin di sebelahnya tentunya.

"Giliranku! Nah, Annyeonghaseyo! Nae ileum-eun Kim Xiumin imnida! Annyeong Wonwoo-ssi, Woozi-ssi. Semoga kita bisa berteman, ne?"

Namja bernama Xiumin itu sangat ceria menyapa semuanya. Wonwoo merasa ia akan akrab cepat dengan pemuda chubby itu.

Selanjutnya, pemuda yang ada di sebelah Woozi. Laki-laki bersurai panjang dengan warna merah gelap. "Annyeonghaseyo! Nae ileum-eun Yoon Junghan imnida!"

Wonwoo baru menyadari sesuatu hal. Ia seperti mengenal pemuda bersurai panjang itu.

Ah iya!

Junghan adalah sunbaenya saat SMA dulu. Mereka dulu cukup akrab karena orang tua mereka yang sahabatan.

Setelahnya, Wonwoo hanya diam saja di kursinya. Tidak berani mengeluarkan suara. Ia terlalu pemalu untuk mengeluarkan suaranya. Ia hanya mengeluarkan suara jika ditanya. Namja kurus itu menghabiskan minumnya dan sesekali mengecek ponselnya, kalau saja Mingyu menelpon atau mengirimi pesan untuknya.

Drrrrtt Drrrrrtt

MGyu. : Eodi?

Tangannya mengetikkan pesan balasan untuk Mingyu.

'Molla, aku sedang bersama Baekhyunee hyung.'

*send*

Di letakkannya ponsel itu pada saku jasnya. Ia kembali menyesap minumannya, sesekali memakan makanan yang dibawakan Baekhyun.

Tiba-tiba 3 namja datang. Salah satunya adalah sang pemilik acara, Park Chanyeol. Chanyeol menghampiri Baekhyun dan menciumnya.

"Wonwoo-ya, kemana Mingyu?" Tanya Chanyeol yang membuat Wonwoo mengalihkan pandangannya dari makanan.

"Molla hyung." Jawabnya sambil menggeleng.

"Aigoo kau imut sekali!" Puji Xiumin yang membuatnya bingung. Ia merasa hanya menggeleng biasa saja. Baekhyun yang melihatnya hanya terkekeh.

"Gomawo hyung."

Walaupun ia sedikit bingung, tapi ia berterima kasih atas pujian yang dilontarkan Xiumin.

"Uminnie hyung, dia memang imut."

Kembali kekehan Baekhyun terdengar.

"Semuanya, aku pergi sebentar ne?" Pamit Baekhyun dan segera beranjak dari sana. Semuanya mengangguk.

Chanyeol dan Baekhyun sedikit menjauh dari perkumpulan teman-temannya. Mereka berjalan menuju jendela yang berada dekat sana.

"Baekhyunie hyung!"

Tiba-tiba seseorang memanggil Baekhyun dari arah belakang Chanyeol.

"Mwo?"

"Kau lihat Wonwoo hyung?" Tanya orang itu. Dia adalah Mingyu, Kim Mingyu.

"Wonwoo ada bersama teman-temanku. Disana."

Ia menunjuk meja bundar yang dikelilingi banyak namja.

"Arraseo."

Mingyu segera berjalan kearah meja bundar itu. Ia berjalan sedikit mengendap-endap, mau mengagetkan Wonwoo.. mungkin?

Disaat ia ingin menepuk pundak Wonwoo, sang pemilik pundak terlebih dahulu menoleh. Dengan wajah awkwardnya dia menurunkan tangannya dan kembali memasukkannya ke dalam saku celananya.

"Huh?"

Mingyu mencondongkan badannya, "E-he he he.. aku ketahuan ya?" Bisiknya.

Wonwoo hanya tersenyum menanggapi Mingyu. Ia menepuk kursi disebelahnya, memberi kode untuk Mingyu duduk disebelahnya. Tanpa basa-basi lagi, Mingyu segera duduk di kursi itu dan sedikit menggesernya mendekat dengan Wonwoo.

Tiba-tiba seorang namja menghampiri meja bulat tersebut. Diikuti Chanyeol dan Baekhyun yang ada di belakang mereka. Salah satunya adalah seorang kepala Badan Intelijen Korea Selatan, Kim Suho.

"Hormat!"

Mingyu, Chanyeol, Xiumin, Kai, Seungcheol dan Sehun memberi hormat pada Suho, kepala Badan Intelijen Korea Selatan itu.

"Ada yang harus aku bicarakan. Kalian semua, ikut aku."

Perintah itu membuat keenam namja itu beranjak dari sana dan mengikuti langkah sang ketua.

Ketika mereka sedikit menjauh, Wonwoo beranjak dari kursinya. Tapi, lengannya ditahan oleh Baekhyun, "Tidak apa."

Ia terpaksa harus duduk lagi dengan perasaan yang berkecamuk. Ketika yang lainnya sedang membicarakan hal-hal yang menyenangkan, dia hanya bisa gelisah memikirkan apa yang sedang Mingyu serta teman-temannya bicarakan. Hal buruk 'kah? Pikirannya benar-benar bercabang sekarang.

.

"Aku hanya akan memberi tahu kalian tentang berita ini. Tapi, berita ini belum ada satupun yang mengetahuinya. Jadi, kalian akan tetap menjaga kerahasiaan berita ini! Mengerti?!"

"Algesseubnida!"

Sekarang mereka semua ada di basement JW Marriott Hotel. Tempat yang mereka pilih sangat sepi dan juga sangat kurang pencahayaan.

"Sudah 25 hari ini kalian diliburkan, dan pastinya kalian tidak tahu ada kabar dari Jepang sana. Sekarang Jepang sedang diserang oleh sebuah wabah yang masih belum diketahui namanya."

Semua yang ada disana sedikit terkejut mendengar berita itu. Memang mereka semua baru saja diliburkan dari tugas-tugas, jadi tidak heran kalau mereka sama sekali tidak tahu menahu tentang berita ini.

"Wabah itu sudah pernah tersebar 2 tahun yang lalu, tapi pemerintah Jepang dapat menindak lanjutinya dengan cepat sebelum hal buruk terjadi. Namun sekarang, wabah itu sedikit susah di ketahui. Para dokter di Jepang belum ada yang tahu dari mana virus ini berasal dan bagaimana penyebarannya." Jelas Suho.

"Maaf hyung. Aku mau tanya, berarti.. tidak ada pencemaran lewat udara? Dan wabah ini masih di Jepang atau sudah memasuki wilayah Korea?"

Seseorang bermata sipit mengajukan pertanyaan. Kenapa ia memanggil Suho hyung?

YUP!

Mereka semua dulunya satu sekolah, dan Suho adalah sunbaenim mereka. Suho juga sedikit risih kalau harus di panggil sajangnim ataupun panggilan-panggilan yang menyangkut pangkatnya.

"Aku masih belum tahu mengenai penyebarannya. Semoga saja tidak. Dan menurut laporan yang diterima, Korea masih aman. Aku masih belum tahu kelanjutannya. Tapi, yang pasti kalian harus menjaga rahasia ini. Dan, aku minta kepada kalian semua untuk waspada."

Semua yang ada disana menganggukkan kepala.

"Algesseubnida!"

.

Suho berjalan menuju lobby hotel dengan wajah lelahnya. Ia ingin segra pamit dari pemilik acara dan tidur dengan pulas di apartmentnya.

BUKH

"Ah! Joesonghabnida."

Tiba-tiba ada seseorang pemuda tinggi menabraknya dari arah depan. Pemuda itu memakai kacamata dan memakai hoodie hitam.

"Aku tidak melihat. Joesonghabnida."

"Ah, gwenchana."

Suho menepuk-nepuk pundak sang pemuda. Ia tidak dapat melihat jelas wajah dari seseorang itu.

"Gamsahabnida, Aku permisi."

Setelahnya, pemuda itu melewati Suho dan memasuki lift yang baru saja terbuka itu. Suho tidak sengaja melihat sesuatu barang jatuh dari kantong sang pemuda.

"Hey!"

Terlambat.

Pintu lift itu sudah tertutup terlebih dahulu. "Aish!"

Ia mengantongi barang tersebut dan memilih untuk menunggu lift selanjutnya.

.

"Semuanya! Perhatian!"

Baekhyun berdiri di depan teman-temannya. Seruannya membuat semua perhatian tertuju padanya.

"Karena ini hari yang membahagiakan bagiku dan Chanyeol. Bagaimana kalau…"

Ia sengaja menggantung kalimatnya.

"…Kalian menginap dihotel ini?"

Semua disana terkejut sekaligus bingung.

"Tenang-tenang. Kami sudah memesankan banyak kamar dan tentunya sudah membayarnya. Jadi, kalian bisa bebas memilih kamarnya." Ucapnya meluruskan.

"Jinjja, hyung?" Tanya Mingyu tidak percaya. Baekhyun mengangguk sambil tersenyum.

"Maksimal, 3 orang perkamar." Ucap Chanyeol membuka suara.

"Baiklah kalau begitu. Kalian bisa ke resepsionis sekarang dan mengambil kunci. Selamat menikmati!" Tutupnya dan segera berlalu bersama Chanyeol entah kemana.

.

CKLEK

Mingyu membuka pintu kamarnya dengan Wonwoo. Mereka mendapat kamar di lantai 23, sangat tinggi bukan? Kamar mereka hampir mirip dengan sebuah apartment, memiliki ruang keluarga, ruang makan, bahkan ruang tamu. Hanya saja luas nya tidak melebihi sebuah apartment.

Mingyu menarik Wonwoo untuk masuk kedalam kamar. Wonwoo juga begitu takjub dengan ukuran kamar mereka. Hanya satu malam tapi kamarnya seluas ini? pikirnya. Hyungnya itu benar-benar.

Mereka berdua melepas jas masing-masing dan memasuki kamar. Mingyu merebahkan tubuh tingginya di kasur berukuran king size itu.

"Ah.. Lelahnya~"

Ia mendudukkan tubuhnya dan bersender pada headbed. Pemuda tinggi itu menepuk-nepuk kasur di sisi kanannya, memberi kode untuk Wonwoo mendekat. Pemuda Jeon itu pun langsung mendekat dan duduk di sampingnya.

Mingyu menarik pinggang Wonwoo agar mendekat, "Hyung tidak lelah?"

"Tentu saja aku lelah. Tapi tidak terlalu." Jawab Wonwoo sambil memejamkan matanya.

"Sebaiknya bersihkan dulu tubuh hyung." Suruhnya dan dijawab anggukan oleh Wonwoo. Pemuda sipit itu segera beranjak dari ranjang dan menuju kamar mandi.

Sedangkan Mingyu, ia menyalakan TV dan mengganti-ganti channel secara acak. Namun tiba tiba ia merasa kegerahan. Dilihatnya pedingin ruangan yang ada di atas TV. Benda persegi panjang itu nyala, tapi kenapa ia kegerahan?

Ia benar-benar merasa gerah sekarang. Padahal, pendingin ruangan itu sudah di setting dengan suhu 20°C. Ia membuka kemeja putih yang melapisi tubuhnya dan melemparnya dengan asal.

"Sekarang lebih dingin." Gumamnya. Ia melanjutkan acara 'mari mengganti-ganti chanel secara acak'nya hingga sebuah suara mengintrupsi kegiatannya.

CKLEK

Suara pintu kamar mandi terbuka membuat Mingyu mengalihkan perhatiannya dari TV. Disana terdapat sosok namja kurus dengan balutan bathrobe yang sedang berjalan mendekatinya.

Matanya tak berhenti menatap sosok yang ada di depannya ini. Rambut yang sedikit basah dan badan kurus yang terbalut oleh bathrobe itu membuat dirinya ingin menerkam namja manis di depannya ini.

"Kenapa kau buka baju?" Tanya Wonwoo sambil menunduk, memungut kemeja yang Mingyu lempar tadi.

"Aku kepanasan, hyung."

Wonwoo mengangguk-angguk dan berjalan menuju lemari. Menggantungkan kemeja putihnya dengan hanger yang sudah disiapkan oleh pihak hotel.

"Hyung, sini!"

Mingyu mengibaskan tangannya, menyuruh Wonwoo mendekat. Pemuda dengan surai hitam legamnya itu berbalik dan berjalan mendekatinya. Tangan Mingyu menepuk-nepuk pahanya, menyuruh Wonwoo untuk duduk disana.

Wonwoo mendekat dan duduk berhadapan di pangkuan Mingyu. "Kenapa, heum?"

Mingyu mencondongkan badannya dan mencium bibir Wonwoo lembut. Tangannya bergerak untuk meraih tengkuk Wonwoo untuk memperdalam ciumannya. Melumatnya dan menyesap bibir tipis itu dengan kuat yang tentu saja di balas oleh sang empu.

Wonwoo menggerakkan tangannya untuk melingkar di leher Mingyu. Meremas rambut belakang Mingyu dikala sang empu rambut memainkan benda tak bertulang miliknya.

Cpkhh cpkkhh

Suara kecipak terdengar karena ciuman panas mereka. Bathrobe milik pemuda Jeon itu ditarik perlahan oleh Mingyu. Ia mengelus punggung mulus itu dengan sensual. Mengecup pundak putih yang terekspose itu sambil sesekali menggigitnya kecil.

Wonwoo memainkan tangannya di dada bidang Mingyu yang terekspos dengan jelas itu. Semakin lama semakin turun, menjelajahi perut rata dan juga berbentuk milik pemuda Kim itu.

Mingyu dengan mudahnya mengangkat tubuh Wonwoo dan membaringkannya dengan perlahan. Bathrobe yang tadi menutupi tubuh polos itu sudah terbuka sempurna. Menampakkan tubuh Wonwoo tanpa sehelai benang pun.

Bibir Mingyu bermain di leher mulus namja manis di bawahnya. Gigit, hisap, kecup. Berulang-ulang ia melakukannya hingga tanda yang terbentuk terlihat sangat jelas. Wonwoo mendongak, memberikan akses untuk Mingyu agar membuat lebih banyak tanda lagi.

Bibir Mingyu berpindah semakin atas, mengecup seluruh bagian wajah Wonwoo tanpa ada yang terlewatkan. Dimulai dari kening, mata, hidung, pipi dan berakhir di bibir tipis berwarna pink milik pemuda manis bermarga Jeon itu. Ia melumat bibir bawah dan atas Wonwoo secara bergantian hingga terlihat sedikit membengkak.

"Emmphh.."

Sedangkan sang empu hanya bisa meleguh disaat bibirnya di lumat secara bergantian. Tangan Mingyu turun ke bawah, tepatnya di bagian bokong. Meremasnya pelan lalu mengelusnya dengan gerakan menggoda. Wonwoo yang dibawahnya terkekeh merasakan sensasi geli yang diberikan oleh Mingyu. Rangsangan-rangsangan yang di berikan untuknya begitu menggoda dan membuat badannya memanas.

"Emmmhhhh.."

Wonwoo merasakan sensasi menggelitik di bagian dadanya. Tangan Mingyu yang awalnya ada di pinggang kini beralih naik ke atas dadanya. Memainkan nipplenya sambil sesekali menyubit kecil benda mungil itu.

"Sshhhh.."

Ia mendongakkan kepalanya di saat kepala Mingyu bermain di lehernya. Mingyu memainkan lidahnya di bagian leher dan dada Wonwoo. Memilin kedua nipple milik Wonwoo sambil sesekali mencubitnya.

"Ahhh.."

Desahan Wonwoo terdengar saat Mingyu mulai menghisap nipple sebelah kanannya. Lidah Mingyu bergerak dengan lihainya di atas dua tonjolan kembar itu.

"Euunngghhh..ahh.."

Desahannya kembali terdengar dikala tangan Mingyu semakin turun kebawah. Memainkan serta mengelus 'adik'nya dengan gerakan-gerakan sensual.

Tangan Mingyu menggenggam penisnya yang sudah sedikit menegang. Wonwoo menggeliat, tidak tahan dengan sengatan-sengatan bak listrik yang ia rasakan disaat nafas Mingyu terhembus dan tepat mengenai penis miliknya.

"G-gyuuuhh.. a-ahhh shh.."

Desahannya semakin menjadi-jadi. Mendengarnya, seringaian Mingyu tercetak semakin jelas. Tangannya semakin gencar menjalankan aksinya, naik-turun naik-turun membelai batang penis Wonwoo.

"Ahhh…" Di detik berikutnya, Wonwoo sudah mencapai klimaksnya. Cairannya tumpah di tangan Mingyu hingga mengenai dada pemuda tan itu. Mingyu merangkak mendekatkan wajahnya dengan wajah milik Wonwoo.

Menyatukan kedua belah bibir itu dengan sedikit lumatan yang menghiasi penyatuannya. Mingyu kembali memainkan lidahnya di dalam mulut Wonwoo. Menyesap lidah itu dan mengajaknya kembali 'bermain'.

Cpkh cpkh

Ia melepas tautan panasnya dengan Wonwoo. Tersenyum manis sambil membelai wajah penuh peluh milik kekasihnya.

"Hyung, aku menginginkanmu.." Ucap Mingyu dengan suara rendahnya.

Mingyu mengarahkan tangannya pada bagian selatan Wonwoo. Memasukkan satu jarinya yang mana membuat namja sipit dibawahnya mendesah pelan. Ia menambah jari tengahnya dan menggerakkannya seperti gerakan menggunting.

"Ahh.. ahh.. Gyuhh.." Desah Wonwoo.

Mingyu membuka celananya dan membuangnya asal, memperlihatkan kejantanannya yang sudah berdiri tegak di balik dalaman yang menutupinya.

"Pelan-pelan.." Cicit Wonwoo kecil.

Wajahnya entah kenapa memerah melihat benda panjang itu. Padahal, ini bukan kali pertamanya melihat benda itu.

Mingyu mengelus pipinya sambil mengecupnya. Kain putih itu sudah dilempar Mingyu entah kemana. Ia melebarkan kedua paha Wonwoo dan menciumi kedua belah paha tersebut, membuat sang empu menggeliat tertahan.

Ia mengocok kejantanannya pelan sebelum memasuki lubang Wonwoo. Pemuda Jeon itu menutup kedua matanya erat. Tangannya menggengam seprai dengan kuat. Mingyu mendorong kejantanannya masuk, dan perlahan benda panjang nan besar itu mulai masuk kedalam lubang sempit milik Wonwoo.

"Akkhh.." Ringis Wonwoo.

Walaupun bukan pertama kalinya, tetap saja rasanya sakit. Tanpa sadar air mata Wonwoo sudah jatuh dari sudut matanya. Mingyu yang melihatnya berhenti sebentar dan mendekat kearah wajah namja manis dibawahnya itu. Wajahnya menunjukkan kalau dirinya begitu cemas. Ia kemudian mencium pemuda itu lembut, memberikan ketenangan untuk kekasih manisnya itu.

"Mianhae.."

Mingyu mengusap wajah Wonwoo yang penuh dengan peluhnya. Wonwoo membuka matanya, menggeleng sambil tersenyum. Walaupun sebenarnya rasa sakit itu masih mendera bagian bawahnya.

Mingyu berhenti sejenak. Ia mencium Wonwoo dalam, mencoba mengalihkan sakit yang mendera bagian selatan kekasihnya itu.

"Umh.." Leguh Wonwoo disaat tangan Mingyu memainkan nipple miliknya.

Wonwoo dapat merasakan nafas berat Mingyu berhembus mengenai titik sensitifnya. Ia berusaha menahan pekikannya disaat Mingyu mulai memasukkan miliknya lagi. Diremasnya seprai putih yang sudah tidak berbentuk itu.

Tiba-tiba tangannya di tarik oleh Mingyu, "Hyung bisa mencakarku untuk melampiaskannya."

Ia tidak berkata apa-apa lagi. Ia hanya ingin fokus untuk menahan pekikannya. Tangannya sekarang sudah berada di pundak Mingyu. Ia meremas pundak tegap milik Mingyu sambil memejamkan matanya erat.

Dalam satu hentakan, Mingyu sudah berhasil memasukkan seluruh kejantanannya pada lubang sempit milik Wonwoo.

JLEB~

"Akkhh!"

Wonwoo menahan ringisannya. Ia mencakar pundak tegap Mingyu yang mana menghasilkan garis-garis berwarna merah disana. Mingyu memejamkan matanya sebentar, merasakan sakit yang mendera pada pundaknya. Walaupun ia merasakan nyeri pada pundaknya, ia tahu jika Wonwoo lebih merasakan sakit di bagian bawahnya.

Wonwoo benar-benar merasakan nyeri di bagian bawahnya. Matanya juga sudah memerah dan mengeluarkan air mata. Wajahnya benar-benar menunjukkan ekspresi kesakitan. Walaupun tidak sesakit saat pertama kali melakukannya, tapi tetap saja rasanya seperti di belah menjadi dua bagian.

Mingyu menghapus air mata dari pelupuk mata Wonwoo. Mengecup bibirnya lembut dan sedikit melumatnya. Entah kenapa, selama ini ciuman Mingyu lah yang membuatnya begitu tenang.

Mingyu mulai memaju mundurkan miliknya dengan kecepatan sedang. Tangannya bermain di area dada Wonwoo, memilin dan sesekali menyubit dua benda mungil yang ada disana untuk mengalihkan rasa sakit pada bagian bawah Wonwoo.

"Oohhhh.. hyunghh.. ahh.. ahh.."

Mingyu berusaha mengontrol nafsunya agar tidak menumbuk Wonwoo terlalu keras.

"Eungghh.. Ahhhh…"

Tubuh Wonwoo tersentak-sentak saat Mingyu menambah kecepatan tusukannya. Desahan mereka saling bersahutan antara satu sama lain.

Clokh Clokh

Penyatuan mereka menghasilkan bunyi nyaring yang memenuhi kamar itu. Suasanan disana juga berubah menjadi lebih panas dari sebelumnya walaupun pendingin ruangan sudah dinyalakan.

"Ohh.. shh.. hyunghh.. ahh.."

Mingyu menutup matanya erat dikala lubang anal Wonwoo tidak sengaja menjepit miliknya.

"Gyuuhh.. ahhh.."

Mingyu semakin gencar menambah kecepatan tusukannya. Nafsu birahinya sudah mencapai ubun-ubun. Wonwoo meraih rambut belakang Mingyu, meremasnya sebagai pelampiasan sensasi-sensasi menggelitik bercampur perih yang menyerang bagian bawahnya.

"F-fasterhhh.. aahh.. pleasehhh.."

Entah kenapa kalimat itu keluar dari mulut Wonwoo.

"Yeahhh.. ohh.. shh.."

"Gyuuhh.. ahhh.. ak_.. ahh.."

Wonwoo merasa perutnya di hinggapi banyak kupu-kupu. Itu bertanda klimaksnya semakin dekat.

CROTT

"Ahhh.."

Ia mendesah disaat cairannya menyemprot keluar hingga mengenai perut hingga dada miliknya dan Mingyu.

"Ahh.. hyuunngghh.."

Mingyu masih bertahan menyodok lubangnya di bawah sana. Tubuh kurus itu terhentak-hentak karena sodokan dari seorang Kim Mingyu yang tidak bisa dibilang pelan.

"Hyunnggghhh!"

CROT CROTT

Beberapa tusukan berikutnya akhirnya Mingyu berhasil klimaks dan mengeluarkan cairannya di dalam tubuh Wonwoo. Mingyu menutup mata merasakan cairannya yang keluar dengan banyaknya memenuhi lubang Wonwoo.

"Ahhh.."

Wonwoo merasa bagian bawahnya terasa menghangat setelah Mingyu mengeluarkan cairannya yang tidak bisa dibilang sedikit itu. Sisa-sisa cairan Mingyu terlihat keluar dari sela-sela penyatuan tubuh mereka.

PLOP

Mingyu mengeluarkan kejantanannya dari lubang hangat milik Wonwoo. Ia mengusap kening berpeluh kekasihnya, menyingkirkan rambut yang menutupi mata sang kekasih lalu mengecupnya.

Lalu, direbahkan tubuhnya di samping tubuh lelah kekasihnya. Tubuh Wonwoo sedang membelakanginya saat ini. Ia mengecup pundak mulus itu berkali-kali, menghantarkan rasa geli untuk sang pemilik pundak.

"Gyu~ berhenti~" Rengek Wonwoo kecil.

Ia mengambil selimut dan menutupi tubuhnya sampai dada. Mingyu ikut masuk kedalam selimut dan memeluk tubuh kecil itu dari belakang. Ia ingin memberikan rasa hangat untuk kekasih manisnya itu.

"Jalja~"

.

Di kamar lain, terlihat Chanyeol dan Baekhyun sedang saling tindih. Tentu saja Baekhyun yang dibawah. Baekhyun meleguh di saat Chanyeol memainkan kedua nipplenya dan membuat gerakan abstrak disana.

"Eunngghh Yeoll.. fasteerhh.."

Bagian bawah mereka menyatu. Peluh membasahi tubuh polos keduanya. Baekhyun mengerang disaat Chanyeol menjilati bagian lehernya.

"Ahh..Baekhh.."

Di beberapa tusukan berikutnya, Chanyeol dan Baekhyun sama-sama menjemput klimaks mereka.

BRUKK

Chanyeol jatuh menimpa Baekhyun. Ini adalah klimaks ke 3 untuk Chanyeol dan ke 5 untuk Baekhyun. Keduanya terkulai lemas diatas ranjang king size itu. Chanyeol menggeser tubuhnya agar menjauh dari tubuh kecil kekasihnya dan berbaring disebelahnya.

Ia memeluk pinggang ramping Baekhyun sambil mencium pucuk kepalanya. Sedangkan Baekhyun, ia menyamankan diri di dalam dekapan kekasih giantnya ini.

"Yeol.." Panggil Baekhyun. Ia mendongak melihat mata bulat milik pemuda bermarga Park yang akan menjadi suaminya itu.

"Heum?"

"Eumm… tidak ada. Aku hanya memanggilmu saja." Jawab Baekhyun.

Ia dihadiahi cubitan kecil di hidungnya oleh Chanyeol. Selanjutnya mereka berdua tertawa bersama, entah apa yang lucu.

"Sebaiknya kau tidur. Ini sudah menjelang pagi." Suruh Chanyeol.

Baekhyun pun tertidur di dalam dekapannya, merasakan kenyamanan yang di beri oleh Chanyeol kepadanya.

. . .

Tokyo, Japan

2017.09.15

01.15 a.m JST

Kriiieett

"Ready?"

Seseorang pemuda tinggi berkacamata mengalihkan perhatiannya dari lembaran-lembaran kertas yang ada di depannya.

"Eumm..Ya, bisa dibilang seperti itu. Doshite?"

Pemuda tinggi lainnya yang sedang berdiri di ambang pintu mendekatinya.

"Ie. If you can, you finish up quickly with the number of lots. Understand?"

Pemuda berkacamata itu mengangguk dan kembali memfokuskan pandangannya pada lembaran-lembaran serta beberapa botol yang ada di depannya.

"Ah, hyung! Honestly, aku tidak terlalu mengerti dengan bahasa inggrismu itu. But, I can understand the point."

"It's okay, if that true…"

"Ya! Begini-begini aku juga pintar bahasa Jepang, hyung!"

Kalimat terakhir itu membuat pemuda tinggi yang berdiri di ambang pintu itu terkekeh pelan, lalu meninggalkan pemuda berkaca mata yang sedang fokus itu.

. . .

The Intelligence Agency's Headquarters South Korea

09.45 a.m KST

TOK TOK

"Masuk!"

Suho terlihat sedang duduk di sofa sambil menikmati secangkir kopi.

"Hormat! Kami mendapat laporan bahwa, pemerintah Jepang sudah angkat tangan tentang wabah ini. Mereka meminta kita untuk mengirim pasukan bantuan. Laporan selesai!"

Seseorang bawahannya memberi laporan yang membuat emosinya lagi-lagi meluap.

"Kirimkan pasukan bantuan! Secepatnya!" Perintah Suho. Ia menaruh cangkir kopi yang ia pegang dengan sedikit keras.

"Baik, sajangnim!"

Seorang bawahan itu segera keluar dari ruangan Suho, menyisakan sang atasan yang terbakar emosi.

Aku harus membicarakannya dengan mereka! Batinnya.

.

.

TBC

.

.

.

Ie : Tidak ada.

Oke ini aneh.