Annyeong! Hihihi, Sungra balik dengan ff yang.. yha.. kalian nilai sendiri lah ya :'3
Disini Sungra gamau banyak cuap-cuap gaje hehe, Sungra mau jawab beberapa review aja :) Biar gak pada penasaran, ya walaupun bakal berakhir ditutup-tutupin juga sih. *plak*
DevilPrince : Eum, jadi ga ya? Wkwkwk
Mara997 : Jendralnya udah ada di chapter 2 ya hehe:D
Zarrazr : Engga kok, kucing itu hanya cameo doang :v hanya sebagai penglihatan yang menandakan akan adanya hal-hal buruk gitu deh.
DevilPrince : Liat aja lanjutan chapternya ya :))
Mara997 : Tunggu next chapnya aja ya..
Kyunie : Wabah *piiip* Hehehe :G
Leon : Zombienya lagi make-up, ditunggu aja. Ntar pasti muncul koo *ngelawak ceritanya*
.
Meanie - Chanbaek
SVT - EXO fic
M
.
Warn! TYPO(s)! YAOI! BL! AU! OOC!
Cerita murni buatan Author! Sisanya minjem.
.
DLDR!
.
.
HAPPY READING and Enjoy ~
.
.
"Aku bosan~"
Wonwoo merengek dengan manjanya. Ia menggulingkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri secara bergantian. Kasur yang tadinya rapi, sekarang malah terlihat begitu mengenaskan karena pemuda bermarga Jeon ini.
Bagaimana tidak bosan?
Baru saja sampai apartment, dirinya diacuhkan begitu saja. Mingyu lebih memilih menghabiskan waktunya di dapur, sedangkan Wonwoo lebih memilih untuk tidur-tiduran yang berujung rasa bosan menghinggap di tubuhnya.
Drrrrttt Drrrrttt
Ponsel milik Mingyu bergetar sudah 3 kali banyaknya dan yang ini adalah getaran ke-4. Wonwoo yang sedang asyik dengan gulingnya pun menoleh, lama-lama mengganggu juga, pikirnya. Saat tangan kurusnya ingin meraih benda persegi panjang itu, tangan kekar Mingyu mengambilnya terlebih dahulu.
"Yeoboseo?"
Mingyu langsung berjalan menjauhinya sambil keluar kamar. Wonwoo kembali bergelung dengan gulingnya, mencoba mengacuhkan kekasihnya itu.
Tapi dengan seenaknya rasa penasaran mulai menghinggap di tubuhnya. Ia penasaran, kenapa Mingyu harus menjauh saat menelpon? Biasanya tidak. Karena penasaran, Wonwoo pun mengikuti Mingyu menuju dapur.
"Ah, iya hyung. Dimana?"
Wonwoo berdiam di balik tembok. Mingyu mau pergi? Batinnya penasaran.
"Arraseo, hyung."
Mingyu mematikan ponselnya dan menaruh benda itu di saku celananya.
"Pergi kemana?" Gumam Wonwoo kecil.
"Hyung? Kenapa sembunyi?" Tanya Mingyu tiba-tiba.
Bagaimana ia bisa tahu? Batin Wonwoo terkejut.
Dengan ragu Wonwoo keluar dari persembunyiannya dengan cengiran yang menghiasi bibirnya.
"Hehe~ Aniyo, aku tidak sembunyi." Jawab Wonwoo sambil menggeleng.
Mingyu mengibaskan tangannya, tanda untuk mendekat. Tentu saja Wonwoo dengan ragu melangkah mendekat.
GREP
Mingyu meraih pinggang ramping Wonwoo dan menempelkan badannya dengan milik sang kekasih.
"Kau menguping, eum?"
Mingyu memainkan hidung mancung Wonwoo dengan hidung miliknya.
CUP
Kecupan mendarat di bibir milik pemuda bermarga Jeon itu. Tentu saja itu perbuatan pemuda tinggi di depannya. Mingyu tersenyum jahil saat melihat pipi Wonwoo yang sedikit merona karenanya.
"Aigoo kenapa kau lucu sekali heum?"
Dengan gemas tangan Mingyu mencubit kedua pipi Wonwoo.
"Aish! Appo.."
Wonwoo menggosok-gosok pelan pipinya yang baru saja di cubit oleh Mingyu. Warnanya pasti langsung berubah menjadi merah batin Wonwoo tidak terima.
"Kau mau pergi?" Tanya Wonwoo sambil memiringkan kepalanya lucu.
Mingyu benar-benar gemas, ia jadi ingin mencubit kedua pipi itu lagi. Mingyu melingkarkan kedua tangan Wonwoo di lehernya dan dengan mudahnya ia mengangkat tubuh sang kekasih. Wonwoo benar-benar dibuat terkejut, dengan reflex ia melingkarkan kedua kakinya di pinggang Mingyu dan berpegangan erat.
"Ya!" Pekiknya kecil tidak terima.
Mingyu hanya terkekeh melihat wajah terkejut kekasihnya itu. Tubuh kurus itu didaratkannya diatas counter. "Hmm, aku harus pergi."
Wonwoo menghela nafas malas, ia sangat bosan hari ini. Haruskah dirinya ditinggal sendiri diapartment besar ini? Ia memanyunkan bibirnya sambil memainkan ujung baju milik Mingyu.
"Eum, lama?"
"Memangnya kenapa?"
Bukannya menjawab Mingyu malah balik bertanya. Wonwoo menatapnya sinis, Dasar tidak peka! Batinnya kesal.
"Ya~! Aku sendiri disini!"
Wonwoo mempoutkan bibirnya lagi. Lagi-lagi ia tak sadar kalau sudah mempoutkan bibirnya.
CUP
"Ya! Jangan menciumku terus!" Bentak Wonwoo yang membuat Mingyu terkekeh.
"Bibirmu terlalu manis untuk tidak dicium, hyung."
Wonwoo hanya menatapnya sinis. Sedangkan Mingyu, ia hanya menyengir tanpa merasa bersalah.
"Hyung, aku pergi ya. Kau baik-baik disini, kalau bisa jangan keluar. Aku takut terjadi apa-apa, arra?"
Tatapan sinis Wonwoo tiba-tiba berubah menjadi sendu.
"Arraseo, tapi jangan lama-lama ne?" Mingyu mengangguk.
Namja Kim itu mengecup pipi putih milik Wonwoo. "Aku pergi."
Mingyu menjauh dari dapur, ia melangkah menuju pintu utama. Mengambil mantelnya sambil melambai pada namja manis yang baru saja turun dari counter.
"Hati-hati!" Seru Wonwoo.
.
XXXXX Café
11.35 a.m
"Ada apa, hyung?"
Percakapan dibuka oleh Sehun yang duduk di ujung.
"Begini, aku baru saja mendapat laporan kalau pihak Jepang sudah angkat tangan tentang masalah ini. Jadi.. aku minta kalian bersiap-siap. Kalau keadaan semakin gawat, kalian akan ku kirim ke Jepang." Jelas Suho.
Ia menatap semua yang ada disana dengan ekspresi yang tidak bisa dijelaskan.
"Aku tahu kalian masih berat meninggalkan orang-orang yang kalian sayang di sini. Tapi, ini juga demi mereka. Demi keamanan mereka, jadi.._"
"Algessseubnida!" Potong 11 namja di depannya.
Suho tersenyum lega mendengarnya, gomawo, batinnya lega.
"Tapi, apakah wabah itu tidak bisa dihilangkan hyung? Penyembuhnya?" Namja blonde yang duduk di sisi kanannya bertanya.
"Eum begini Hoshi-ya. Aku juga tidak tahu tentang penyembuhnya, itu adalah urusan dari para dokter di Jepang. Dokter-dokter Korea belum ada yang mau dikirim ke Jepang. Dan para dokter Jepang masih belum menemukannya." Jawab Suho.
"Tapi kan, hyung pernah bilang kalau wabah ini tidak menular melalui udara atau apapun. Hanya bisa tertular lewat gigitan atau luka dari orang yang terinfeksi."
Pemuda blasteran di depannya membuka suara.
"Nah, iya hyung. Hyung pernah bilang begitu." Hoshi -namja yang bertanya tadi- mengangguk, menyetujui ucapan pemuda blonde itu.
"Itu benar, tapi.. masih belum ada kepastian tentang hal itu. Jadi, pihak Jepang juga masih waspada dengan udara di sekitar mereka." Jawab Suho.
Semuanya melemah, berarti ada kemungkinan wabah itu akan menyebar ke Negara mereka.
"Aku hanya ingin kalian bersiap-siap saja. Apa kalian bersedia?" Tanyanya ragu.
Semua juga menatapnya dengan ragu.
"Algessseubnida! Itu sudah tugas kami!" Jawab mereka membuat Suho kembali merasa lega.
Ia jadi mengingat saat namja-namja di depannya ini mendapatkan tugas pertama mereka.
FLASHBACK ON
"Hyung-deul!" Seseorang berseru dari arah pintu.
"Huaa! Akhirnya kau datang juga Dokyeom-ie!" Seru Hoshi sambil mengambil nampan yang penuh itu dari tangan Dokyeom.
"Tumben. Ada apa?" Pemuda China bername-tag Wen Jun Hui itu duduk di sebelah Dokyeom.
"Hehe~ tidak ada sih, hyung." Jawab Dokyeom sambil menyengir.
"Ini untuk Sungcheol hyung dan Jun hyung."
Ia membawa dua cup ramen dan memberikannya pada dua namja di sisi kanannya.
"Hoshi hyung! Kau sudah mengambil bagianmu?" Tanya Dokyeom.
Hoshi yang ada di mejanya mengangkat cup ramennya, "Ne!"
"Ini untuk Mingyu. Tapi, kemana dia?" Gumam Dokyeom.
"Baru saja dia keluar." Jawab Jun yang ada di sebelahnya.
"Arraseo. Ini untuk Vernon dan uri maknae, Dino." Ucapnya sambil memberikan dua cup itu pada dua namja yang duduk di sebrangnya.
Dokyeom duduk dan mulai menyantap ramennya. Mereka ber-enam dikagetkan oleh pintu yang tiba-tiba terbuka dengan sendirinya.
KRIEET
Seungcehol meletakkan cup ramennya, "Nuguseyo?"
"…"
"Siapa sih?" Gumam Hoshi.
"Ne. Arraseo sunbaenim."
"Seperti mengenal suaranya." Gumam Dokyeom.
Mereka menatap pintu yang sedikit terbuka itu dengan tatapan penasaran.
"Annyeong!"
Seseorang lelaki tinggi tiba-tiba muncul dari balik pintu itu.
"Ya! Kim Mingyu! Kau mengagetkan saja." Ucap Jun dari tempatnya.
"Ka-kalian kenapa?" Tanya namja bernama Mingyu itu polos.
PUK
"Aww.."
"Kau mengagetkan saja Kim."
Hoshi yang ada di mejanya melempar cup ramen yang sudah kosong ke arah Mingyu. Dan tepat mengenai kepala pemuda bertaring itu.
"Punyaku mana?" Tanyanya setelah melihat ke-enam temannya memakan ramen.
"Itu di nampan." Jawab Dino.
"Whoa, kalian memberiku 6 cup sekaligus? Daebak!"
Ia mengambil dua cup dan membawanya ke meja tempatnya bekerja.
"Enak saja."
Dokyeom langsung mengambil alih salah satu cup ramen itu. "Ini untuk Suho hyung dan yang lainnya."
Mingyu mengangguk-angguk paham sambil menyuap ramennya dengan santai tanpa meniupnya dulu. "Huaah, panas. Air air air! Aku butuh air! Huaahh!"
"Ck, makanya kalau makan itu pelan-pelan. Asal makan aja." Omel Hoshi dari balik mejanya.
TOK TOK
"Aku yang buka."
Vernon melangkah mendekati pintu dan membukanya. Di hadapannya, ada 5 namja berbalut seragam yang sama dengan yang mereka gunakan.
"Ah, Hyung-deul. Silahkan masuk.."
"Gomawo, Vernon-ie." Salah seorang dari kelima namja itu mencubit pipinya gemas.
"Sama-sama, Xiu hyung." Jawab Vernon dengan senyum canggungnya.
"Hyung, ada ramen cup untukmu dan yang lainnya." Ucap Mingyu.
"Wah wah wah, tumben. Siapa yang membeli?"
Semua langsung menunjuk Dokyeom yang lagi asyik dengan ramennya.
"Uhukk uhukk, ekhem.. mwo?" Dokyeom seketika tersedak.
"Tidak, tidak. Aku kesini hanya ingin memberitahu kalian semua kalau kalian ada tugas." Buka Suho.
"Tugas? Tugas apa?" Tanya Hoshi excited.
"Tugas seperti biasa. Hanya saja, bukan disini. Tapi, di Negara lain."
"Whoa? Jinjja?" Suho mengangguk.
"Negara mana hyung?" Tanya Jun.
"Aku kurang tahu. Nanti, coba kalian tanya Jeoseok hyung. Aku hanya disuruh untuk memberitahu kalian tentang tugasnya."
"Algessseubnida!"
FLASHBACK OFF
.
Mingyu's Apartment
"Huaahh! Kemana Mingyu?!"
Wonwoo berseru sambil menjatuhkan tubuh tinggi nan kurusnya pada ranjang.
"Aku bosaan.."
Bibir pinknya di majukan beberapa centi. Ia berguling-guling tidak jelas diatas ranjang hingga seprainya kusut (lagi).
CKLEK
"Aku pulang!"
Seruan seseorang di luar sana membuatnya bangkit dan segera berlari untuk menemui seseorang itu. Benar saja, itu Kim Mingyu kekasihnya.
"Kau sudah pulang!" Seru namja sipit itu melihat Mingyu yang baru saja akan melepas mantelnya.
"Mau kencan?" Tawar Mingyu sambil tersenyum manis.
Wonwoo mengangguk, ia segera berlari ke kamar dan kembali dengan pakaian lengkap. Hanya memakai sweeter rajutan berwarna biru dan jeans.
"Kajja!"
Mereka berdua berjalan keluar apartment. Baru saja keluar dari gedung apartment, Mingyu mengerutkan keningnya.
"Hyung, sejak kapan ada toko senapan di sana?"
Wonwoo menoleh dan melihat toko senapan di seberang jalan.
"Molla. Mungkin kemarin malam. Memangnya kenapa?" Tanya Wonwoo penasaran.
"Aku ingin membeli beberapa senapan." Jawab Mingyu yang membuat Wonwoo menoleh menatapnya.
"Mwo? Senapan? Kau sudah punya banyak, Gyu."
Wonwoo sebenarnya membebaskan Mingyu untuk membeli apapun, asal barang itu bisa ia gunakan dengan benar. Termasuk sebuah senapan.
Yang ia bingungkan hanya, untuk apa beli senapan lagi kalau di apartmentnya senapan-senapan itu menumpuk hingga memiliki ruangan sendiri? Apakah satu ruangan senapan itu kurang? Apa gunanya semuanya? Pikir seorang Jeon Wonwoo. Ingatkan Wonwoo kalau kekasihnya itu adalah seorang yang sering bersenjata. Dan pastinya sangat suka dengan senapan.
"Tapi, hyung. Itu masih kurang. Boleh ya?" Pinta Mingyu sambil menggoyang-goyangkan lengan kurus Wonwoo. Namja sipit itu mengangguk pasrah.
"Assa! Kau yang terbaik, hyung-ie!"
Wonwoo hanya menanggapinya dengan gumaman. Mingyu segera menarik Wonwoo menjauhi kawasan apartment mereka.
.
B. Hospital
04.45 a.m KST
"Hai Lu!" Sapa Baekhyun pada Luhan, pemuda bersurai coklat yang sedang melewatinya.
"Ah, hai Baek! Kau mau pulang?" Tanya Luhan tanpa mengalihkan pandangannya dari tumpukan lembaran di tangannya.
"Ne, kau sendiri? Shift malam?" Tanya Baekhyun balik sambil melepas jas putihnya.
"Sepertinya tidak untuk hari ini. Aku meminta Sohyun menggantikanku. Semoga saja gadis itu mau." Jawab Luhan sambil meletakkan lembaran-lembaran kertas itu pada meja di depannya.
"Ooh.. Kalau begitu, aku duluan Lu." Pamit Baekhyun sambil berjalan keluar ruangan.
Saat di ambang pintu, tiba-tiba seorang gadis datang dengan banyak lembaran kertas ditangannya.
"Annyeong, oppa!" Sapa gadis berseragam perawat itu pada Baekhyun.
"Annyeong Sohyun-ah!" Baekhyun menyapanya balik.
Gadis bername tag Kim Sohyun itu memasuki ruangan yang baru saja akan ditinggalkan oleh pemuda manis itu. Menaruh semua tumpukan kertas itu pada mejanya.
"Tugas-tugas untukmu, Baekhyunee oppa." Ucapnya sambil tersenyum. Berbeda dengan gadis itu, Baekhyun memajukan bibirnya.
"Haah, tugas lagi, lagi dan lagi." Keluhnya.
Sohyun dan Luhan hanya bisa terkekeh geli melihat reaksi lucu Baekhyun.
"Arraseo, Sohyun-ah. Bisakah kau menggantikanku untuk shift malam? Hanya malam ini.." Pinta Luhan sambil menangkup kedua tangannya di depan dada.
"Arraseo, Luhannie oppa. Aku akan menggantikanmu." Jawab Sohyun sambil tersenyum manis.
"Kau yang terbaik, Sohyun-ah!" Ucap Luhan sambil melepas jasnya dengan terburu-buru.
"Oke! Aku duluan semua!" Pamit Baekhyun dan segera melenggang dari ruangan itu.
"Ya! Baek! Tunggu aku!" Seru Luhan sambil berlari mengejar Baekhyun yang sudah terlebih dahulu meninggalkan ruangan.
Sohyun hanya menggeleng melihat tingkah para sunbaenimnya itu. Tiba-tiba saja ponsel miliknya bergetar. Ia merogoh sakunya dan membaca sebuah pesan masuk.
XiLu : Gomawoyo, Sohyun-ah!
Sebuah pesan dari sunbaenimnya, Xi Luhan. Jari-jari kurusnya mengetikkan pesan jawaban untuk sunbaenim manisnya yang satu itu.
'Ne~'
*send*
.
Baekhyun dan Luhan berjalan berdampingan. Mereka melewati lobby rumah sakit sambil menyapa para perawat dan dokter yang lain.
"Annyeong hyung-deul!" Dua orang namja menyapa mereka dari kejauhan.
Kedua namja tersebut adalah seorang dokter. Salah satu dari dua namja tersebut bersurai panjang.
"Oh, annyeong Jeonghan-ah, Joshua-ya!" Sapa Baekhyun dan Luhan bersamaan.
Dokter bernama Jeonghan dan Joshua itu menghampiri keduanya.
Tiba-tiba seorang perawat menubruk lengan kanan Baekhyun dengan cukup keras. "Akh!"
"Ah, j-jeongsohabnida.. U-uisa-nim.."
Perawat itu memegangi kepalanya dengan wajah yang terlihat pucat. Perawat itu jatuh terduduk di samping Baekhyun.
"Hayoo-ya, gwenchana?"
Baekhyun langsung membantu Hayoo berdiri.
"Ah, aku tidak apa. Hanya sedikit pusing." Jawabnya.
Keringat dingin jatuh dari pelipisnya. Tangan Baekhyun bergerak menyentuh kening perawat itu. Demam, pikir Baekhyun.
"Kau demam, Hayoo-ya. Kalian bisa memeriksanya?" Tanya Baekhyun pada Jeonghan dan Joshua. Keduanya langsung mengangguk dan membantu Hayoo berdiri.
"Kami permisi dulu." Pamit kedua dokter muda itu.
Baekhyun dan Luhan melanjutkan perjalanan mereka menuju pintu utama. "Lu, aku merasa ada yang aneh." Ucap Baekhyun tiba-tiba.
"Aneh? Apa yang aneh Baek?" Tanya Luhan penasaran.
Baekhyun menggeleng, "Dia aneh. Hayoo.. aneh." Wajah Baekhyun terlihat begitu cemas.
"Hayoo? Dia kenapa? Kau bilang dia demam 'kan? Jeonghan dan Joshua sudah menanganinya. Apa yang aneh?" Tanya Luhan semakin penasaran.
"Aku tidak tahu, Lu. Aku hanya merasa.. ada sesuatu yang mengganjal. Dan hal buruk? Ah, molla!"
Ia meremas kepalanya sendiri. Namja bersurai cream itu benar-benar bingung sekarang.
"Mungkin hanya perasaanmu saja, Baek." Ucap Luhan menenangkan sambil menggosok pelan punggung sempit Baekhyun.
"Yeah, mungkin hanya perasaanku saja." Gumam Baekhyun kecil.
..
"Gyu, ini namanya apa?" Wonwoo menodongkan sebuah senapan kedepan wajah Mingyu yang sedang berada di sebelahnya. Mingyu yang baru saja menoleh terkejut dengan senapan yang ditodongkan oleh kekasih sipitnya itu.
"Kkamjjagiya!"
Mingyu mengelus dadanya, sedangkan Wonwoo terkekeh melihatnya terkejut.
"Hehe~ Ini namanya apa?" Tanya Wonwoo lagi.
"Ini namanya M1 Garand." Jawab Mingyu sambil mengambil alih senapan itu dari tangan Wonwoo.
Namja sipit itu hanya bisa memiringkan kepalanya lucu, hah? Batinnya bingung.
"Hyung pasti bingung." Wonwoo mengangguk menyetujui ucapan Mingyu.
M1 Garand, itu apa? Pikirnya. Mingyu mengusak-usak kepalanya pelan.
Ngomong-ngomong, mereka berdua sedang berada di toko senapan yang berada di sebrang gedung apartment Mingyu. Sehabis acara kencan mereka, Mingyu bersikeras ingin melihat-lihat senapan di toko itu. Mungkin akan membelinya.
"Hyung, aku akan membeli yang ini." Ucap Mingyu sambil mengangkat senapan dengan laras panjang itu di hadapan Wonwoo.
Wonwoo mengerling, "Ya ya ya, beli saja. Aku tidak tahu itu apa."
"Hehe~"
Setelanhnya, Mingyu melesat menuju kasir dan membayar senapan itu. Sedangkan Wonwoo, ia masih betah melihat-lihat senapan-senapan itu.
"Kajja hyung!"
Mingyu menghampirinya dan menyambar tangannya untuk ditarik keluar dari toko tersebut. Mereka hanya perlu menyebrang saja untuk mencapai apartment.
.
"Kau sudah punya banyak, Gyu. Tapi, kau masih merasa kurang?"
Wonwoo meletakan mantelnya dan Mingyu pada tempatnya.
"Aniyo, hyung. Bukan begitu, aku hanya berjaga-jaga." Jawab Mingyu sambil memeriksa senapan barunya.
Ia melangkahkan kaki panjangnya menuju sebuah ruangan di dekat kamarnya.
CKLEK
Ia membuka ruangan gelap itu. Mencari saklar dan menyalakannya. Di ruangan itu ada banyak senjata jenis shotgun dan handgun. Beberapa jenis sniper juga ada di ruangan tersebut. Ia meletakkan senapan barunya yang berjenis shotgun itu pada tempat yang kosong. Wajahnya sedikit menunjukkan kekhawatiran yang sangat besar.
"Aku tidak mau kau terluka, hyung." Gumamnya.
Ia menatap semua senapan-senapan yang ia miliki sebelum ia melangkah keluar dari ruangan tersebut.
"Hyungie!"
Ia menerjang tubuh kurus Wonwoo yang sedang bersantai di depan TV.
"Ya! Ya! Lepas, Gyu!" Ronta Wonwoo.
Namja tinggi itu melepas pelukannya dan duduk di sebelah kekasih emonya itu.
"Hyung, kau tahu cara memakai senjata api?" Tanya Mingyu.
Pemuda sipit di sampingnya mengangguk.
"Hanya sedikit. Aku pernah belajar bersama ayah."
"Yang jenis apa?"
Wonwoo menoleh, merasa sedikit aneh dengan tingkah kekasih giantnya ini.
"Hanya handgun. Kenapa?" Mingyu menggeleng dan merangkul kekasih kurus disampingnya itu.
"Aniyo, aku hanya bertanya." Jawabnya.
Namja Jeon itu mengangkat kedua bahunya, menganggap itu hanya basa-basi semata.
Semoga tidak terjadi apa-apa, Ya Tuhan. Batin Mingyu cemas.
.
Chanyeol's Apartments
10.55 p.m KST
Baekhyun dan Chanyeol sedang bersiap untuk tidur. Baekhyun melangkah menuju ranjang terlebih dahulu dan membaringkan tubuhnya. Pikirannya masih berkelut sejak tadi. Janggal, batinnya.
"Baek? Kau tidak apa?" Tanya Chanyeol yang menghampirinya.
Namja tinggi itu melingkarkan tangannya pada pinggang ramping Baekhyun.
"Yeol, aku.. merasa sedikit janggal." Ucap Baekhyun.
Chanyeol menatapnya bingung. Janggal? Apa yang janggal? Pikir Chanyeol.
"Tadi, aku menyentuh dahi Hayoo. Ia terserang demam. Tapi, matanya terlihat aneh. Warna hitam pada matanya terlihat memudar." Cerita Baekhyun.
"Memudar?" Baekhyun mengangguk.
Drrrttt Drrrttt
Tiba-tiba saja ponselnya yang berada di nakas berdering dengan hebatnya.
Drrrttt Drrrrtttt
Dengan cepat lengan kurusnya menggapai benda persegi itu dan melihat siapa pemanggil dari sebrang sana.
Kim So Hyun
Sohyun? Tumben dia menepon malam-malam. Batin Baekhyun. Diangkatnya panggilan dari gadis perawat itu.
"Y-yeoboseo?"
'O-oppa!'
Suara Sohyun terdengar bergetar. Raut wajah Baekhyun semakin terlihat kebingungan. Chanyeol yang melihatnya segera merampas ponsel itu dan menekan tombol loudspeaker.
'O-ppa.. Ye-yeoboseo.. Baekhyunee-o-oppa.. kau masih disana?'
Suaranya seperti orang menangis.
"I-iya, Sohyun-ah. Ada apa?" Baekhyun bersuara.
'O-oppa, tolong aku.. hiks..Aku ada di pintu darurat..'
Sohyun mengecilkan suaranya seperti berbisik.
"Sohyun-ah, ada apa?" Baekhyun benar-benar panik dibuatnya.
'Grhhh..'
Tiba-tiba suara geraman terdengar.
'Siapapun tolong aku..hiks..'
PIP
Sambungan terputus. Wajah Baekhyun benar-benar panik sekarang. "Yeolli, kita harus kesana."
"Baiklah, kita akan kesana."
Chanyeol turun dari ranjang dan mengambil kunci mobil yang diletakkan di nakasnya.
Ia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. "Hyung, B. Hospital sekarang juga."
Chanyeol dan Baekhyun segera melesat keluar dari apartment mereka.
.
Sesampainya di B. Hospital, keadaan disana cukup sepi. Hanya saja, terlihat sedikit lebih berantakan dari pada saat Baekhyun meninggalkannya tadi sore. Chanyeol mengambil pistol pada dashboardmobilnya.
"Yeol, ada apa?"
Suho yang baru saja sampai menghampiri sepasang kekasih itu dengan pistol yang juga sudah ada di tangannya.
"Molla, hyung. Aku hanya mendengar geraman dan seseorang yeoja masih ada di dalamnya." Jelas Chanyeol.
"Baiklah, kita akan menyelamatkan yeoja itu terlebih dahulu." Ucap Suho. Mereka berdua mengangguk menyetujui. Mereka bertiga berjalan menuju pintu darurat yang ada di belakang rumah sakit.
KRIEEET
Keadaan di dalam tangga darurat itu sangat gelap, tidak ada satupun cahaya.
"Hmpp…"
Suara seseorang terbekap tiba-tiba terdengar dari arah atas.
TAP TAP TAP
Suho menyalakan senter dan melangkah menaiki tangga diikuti oleh Baekhyun dan Chanyeol. Ia menemukan seorang yeoja yang sedang membekap mulutnya sendiri.
"Hmmpp!"
Yeoja itu terlonjak kaget saat Suho menyentuh pundaknya.
"Soh_Hmmpp!"
Baekhyun langsung dibekap oleh yeoja itu.
"Ssshhtt, pelankan suaramu oppa." Bisiknya. Baekhyun mengangguk.
"Ada apa?" Tanya Baekhyun.
"Grrhhh.."
Baru saja Sohyun ingin menjawab, sebuah geraman terdengar dari luar pintu tangga darurat. Baekhyun membantunya berdiri dan menariknya keluar dari tangga itu dengan mengendap-endap.
Setelah diluar, Sohyun memeluk tubuh mungil Baekhyun. "Oppa.. hiks.."
"Waeyo, Sohyun-ah?"
Ia mengusap surai pirang Sohyun yang sedang menangis sesenggukan di pundaknya.
"Mereka banyak. Sangat banyak.. hikss.."
"Aku akan memeriksa pintu utama." Ucap Suho sambil melangkah menjauhi Chanyeol, Baekhyun dan Sohyun.
"Jangan!"
Tiba-tiba saja tangannya ditarik Sohyun.
Sohyun menggelenggeleng, "Jangan kesana, aku mohon. Jangan kesana."
"Aku akan melihatnya. Hanya melihatnya."
Suho melepas genggaman Sohyun pada lengannya.
"Jangan masuk. Jangan berbuat berisik, mereka akan tahu." Ucap Sohyun membuat Suho mnengernyit bingung.
Walaupun begitu, ia tetap menggangguk. Chanyeol dan Baekhyun mengajak Sohyun untuk masuk mobil mereka dan menunggu Suho yang kembali dari pemeriksaannya.
Suho melangkah dengan mengendap-endap menuju pintu utama. Ia mengintip dari jendela yang ada di samping pintu. Matanya membulat seketika.
"Oh my god! Sial!"
Ia segera menjauhi pintu itu dan kembali menuju mobilnya.
"Hyung ada apa?" Tanya Chanyeol setelah melihat Suho yang berlari menuju mobilnya.
"Ini gawat, Yeol. Kita harus memberitahu semuanya!"
.
Mingyu's Apartment
Drrrrttt Drrrtttt
Mingyu membuka matanya perlahan. Ia masih mengantuk, baru 30 menit yang lalu matanya terpejam. Mingyu menyalakan lampu tidur yang ada di atas nakasnya.
Drrrtt Drrrttt
Ia mengambil ponselnya dan mengangkat panggilannya tanpa melihat siapa pemanggilnya. "Yeoboseo?"
'Mingyu! Gawat!'
Suara dari sebrang sana terdengar panik.
"Oh, Suho hyung. Wae hyung?"
Mingyu beranjak dari tempat tidur, ia tidak ingin membangunkan Wonwoo yang masih terlelap di sampingnya.
'Mingyu! Beritahu kesemuanya! Wabah itu sudah memasuki kota Seoul!'
Mingyu terbelalak, "Sial! Celaka!"
.
.
TBC
