Meanie - Chanbaek
SVT - EXO fic
M
.
Warn! TYPO(s)! YAOI! BL! AU! OOC!
Cerita murni buatan Author! Sisanya minjem.
.
Annyeong! Maaf buat updatenya yang telat ((banget)) :( Cuma mau bilang itu aja sih, intinya, selamat menikmati :) Don't forget to review, mmmuuuaaacchh 3 And, makasi banyak yang udah mau review, follow maupun favorite-in ini cerita :') Awalnya, ga ngira banyak yang respon :')
DLDR kawan!
.
.
HAPPY READING and Enjoy ~
.
.
"Sial! Celaka!"
"B-bagaimana bisa, hyung?"
Ia tidak sengaja sedikit berseru, membuat Wonwoo terbangun dari kegiatannya-bergelung dengan selimut di atas ranjang ukuran king size milik Mingyu-
"Gyu? Ada apa?"
Namja manis itu menghampiri Mingyu yang berdiri di dekat jendela.
"Argh! Sial!"
PIP
Mingyu mengabaikan namja manis itu.
"Ada apa?" Wonwoo bertanya lagi.
Mingyu berbalik dan mencengkram kuat bahu Wonwoo. "H-hyung. Aku mohon kau diam di apartemen ini sampai aku kembali. Jangan keluar atau kemana pun, sampai aku kembali. Arra?"
Wonwoo mengernyit bingung, "Ada apa, Gyu?"
"Hyung aku mohon. Tetap disini."
Mingyu melepas cengkramannya dan melangkah cepat menuju ruang khusus senapannya.
Ia keluar dengan sebuah tas yang ia selempangkan pada bahunya. Sisi kanan pinggangnya terdapat sebuah pistol dan pada sisi kirinya terdapat pisau kecil.
"Mingyu! Aku mohon, beritahu aku. Ada apa?" Desak Wonwoo.
Ia mengikuti langkah cepat Mingyu yang sedang mengambil kunci mobil dan mantel.
Mingyu berbalik dan mencengkaram pundak Wonwoo lagi, namun sedikit lebih keras dari sebelumnya. "Hyung, aku harap kau diam disini untuk beberapa saat. Aku akan kembali, dan kau tidak boleh kemana-mana selama aku tidak ada disampingmu. Arra?"
CHUP
Tanpa menunggu jawaban dari Wonwoo, namja tinggi itu melesat pergi keluar dari apartmentnya.
"Mingyu!"
.
"Hyung! Ini benar-benar gawat!"
Chanyeol mengambil senapan jenis shotgun pada bagasi mobilnya. Dan beberapa peluru yang ia masukkan kedalam tas pinggangnya.
"Awalnya.."
Tiba-tiba Sohyun yang sedang duduk di sebelah Baekhyun bersuara.
"Awalnya.. Seorang pasien berlari menghampiriku yang saat itu sedang ada di tempat resepsionis. Ia berlari dengan tangan dan bahu yang penuh dengan darah." Chanyeol berjongkok di depannya.
"Ia terlihat pucat, dan aku tentu saja panik. Aku mengantarkannya ke ruang UGD dan bertemu seorang dokter disana. Lee Uisa-nim."
Semua yang ada di sana masih fokus mendengar cerita Sohyun, kecuali Suho tentunya. Namja satu itu masih sibuk dengan ponsel miliknya.
"Di UGD itu juga ada Hayoo yang sedang berbaring, tapi seluruh tubuhnya terbalut kain. Aku bertanya kepada perawat Shin disana, dan ia bilang Hayoo sudah meninggal sejak tadi. Dan itu membuatku sangat terkejut."
"Seorang perawat laki-laki mendorong brankar Hayoo dan membawanya pada ruang mayat. Aku mengikuti perawat itu dari belakang secara diam-diam. Saat di tengah jalan, mayat Hayoo bangkit begitu saja. Ia menarik tangan perawat itu dan memakannya." Sohyun terisak pelan.
"Perawat laki-laki itu berteriak begitu kencang, hingga para perawat lain berdatangan untuk membantunya. Aku berdiam diri di balik tembok, tidak berani mendekati sekerumpulan orang-orang itu."
"Aku mengira Hayoo hanya menggigitnya, tapi ia juga mengulitinya. Hikss.. Ia juga mulai menggigit perawat lain yang ingin membantu perawat laki-laki itu.. hiks.."
Baekhyun mengelus pundak kecil Sohyun untuk menenangkannya.
"Saat semua sudah tergigit, ia menatapku. Wajahnya pucat dan matanya tidak lagi hitam. Ia bangkit dari brankar dan berjalan menghampiriku dengan tertatih-tatih. Aku berusaha meredam tangisanku dan berlari menjauhinya, sejauh mungkin."
"Saat aku kembali ke ruang UGD, aku melihat Lee Uisa-nim berteriak sambil memegangi pundaknya yang berdarah. Aku mau menolongnya, tapi tiba-tiba saja pasien yang tadi menghampiriku mencegatku di depan pintu. Wajahnya seperti Hayoo, sangat pucat dan bibirnya penuh dengan darah." Ceritanya panjang lebar.
"Aku berlari, dan terus berlari. Banyak suara teriakan dan tangisan saling bersahutan dari belakangku. Aku tidak berani melihatnya, dan satu tempat yang paling aman adalah tangga darurat."
"Saat aku ingin keluar melalui pintu darurat, aku melihat seseorang pasien tua yang berjalan tertatih-tatih. Tubuhnya tidak ada bercak darah satupun. Makhluk itu melaluinya, lalu dengan tidak sengaja pasien itu menjatuhkan tempat sampah yang ada di sampingnya. Makhluk itu menoleh dan langsung menerjangnya. Memakannya dan mengulitinya."
Sohyun sebenarnya tidak ingin mengingat kejadian tadi, tapi ia harus bercerita agar tidak ada lagi korban.
"Makhluk itu sepertinya tidak bisa melihat, mereka hanya bisa mendengar dan mencium. Jadi, aku mohon jangan buat keributan, atau.. hiks.."
"Shhhtt, sudah Sohyun. Jangan dilanjutkan lagi."
Baekhyun berusaha menenangkan yeoja itu.
CKIITTT
Tiga mobil terparkir di sisi kanan dan kiri mobil Chanyeol dan Suho. 10 namja keluar dari mobil-mobil itu.
"Hyung! Kenapa bisa seperti ini?" Tanya Hoshi sambil mengokang pistolnya.
"Ini benar-benar gawat. Wabah itu sudah mulai memasuki Seoul. Yang kita tahu, hanya disini yang tercemar. Tapi, aku tidak tahu dengan yang lain." Jelas Suho.
Semua namja disana bersiap dengan senjatanya.
"Baekhyunee hyung, bagaimana kalau kau menjemput Wonwoo dan teman-temanmu yang lainnya? Aku akan memberitahu Wonwoo hyung kemana tujuan kalian." Tawar Mingyu.
Baekhyun mengangguk, ia meminta kunci mobil pada Chanyeol dan mulai menstarter mobil milik kekasihnya itu.
Baekhyun dan Sohyun segera melesat menjauhi kawasan rumah sakit itu. Ia menuju rumah teman-temannya dan tujuan terakhirnya adalah ke apartment Mingyu untuk menjemput Wonwoo. 12 namja disana mengambil senapan masing-masing dan bersiap untuk memusnahkan makhluk-makhluk yang ada di dalam rumah sakit itu.
Baru beberapa langkah mereka berjalan, seorang pemuda berperawakan sedang mendekati mereka dengan berlari dan sedikit tertatih.
"Graahhhhhh!" Erang pemuda itu.
Hoshi yang ada di paling depan sudah siap menodongkan pistolnya pada pemuda itu. "Sial!"
"Tunggu!"
Mingyu mengangkat tangannya, menghalangi Hoshi untuk menembak pemuda itu.
"Jangan pakai senjata untuk yang satu ini." Ucap Mingyu sambil menurunkan pistol milik Hoshi.
"Apa ya_"
Semua seketika terbelalak. Mingyu berjalan mendekat pada pemuda itu, tidak dengan senjata. Hanya dengan pisau kecil yang ada di tangan kirinya.
"Kim! Apa yang kau_"
Mingyu mengangkat tangannya, memberi kode untuk yang lainnya diam.
"Graaahhhhhhh..."
Makhluk itu menerjang Mingyu dan cepat ditangkap oleh pemuda tinggi itu. Ia memegang leher makhluk itu dan menusukkan pisau yang di genggamnya pada pucuk kepala namja di depannya.
CRASH!
Darah memenuhi tangan kirinya.
CRASHH
CRASH!
Ia menusukkan pisau itu pada kepala makhluk itu berkali-kali hingga sang makhluk jatuh terduduk di bawahnya. Ia mengambil senapan jenis shotgun-nya yang ia selempangkan pada bahu kanannya.
BUGH!
BUGH!
BUGH!
Ia menghantam kepala itu berkali-kali dengan ujung bawah senapannya dengan keras hingga membuat kepala itu tak berbentuk lagi.
Hoshi dan yang lainnya mendekatinya, "Kim, kau…"
"Jangan menggunakan senapan untuk satu makhluk ini. Karena itu akan mengundang yang lainnya datang." Ucap Mingyu sambil membersihkan tangannya di baju makhluk penuh darah itu.
.
Drrrttt Drrrttt
Wonwoo dengan cepat berlari ke kamarnya untuk mengambil ponselnya. Di layarnya, tertera nama kekasihnya, Mingyu.
"Y-yeoboseo? Gyu?" Wonwoo membuka percakapan.
'Hyung, Baekhyunee hyung sekarang sedang menuju apartemen. Dia akan menjemputmu, antar semuanya ke villa Suho hyung yang ada di daerah Gangnam. Aku akan menyusulmu.' Ucap Mingyu dari sebrang sana.
"Tunggu, Gyu. Sebenarnya ada apa? Tidak bisakah kau menjelaskannya?" Wonwoo benar-benar cemas dengan keadaan kekasih giantnya itu.
'Maafkan aku, hyung. Baekhyunee hyung akan menjelaskan semuanya. Oh, jangan lupa untuk membawa senapan yang sudah aku siapkan di dalam tas hitam. Tas hitam itu ada di ruang khusus senjata, di meja dekat lemari coklat. Aku mohon hyung, aku akan menyusulmu.'
Suara kecupan terdengar dari sebrang sana sebelum sambungan terputus.
Wonwoo bergegas mengambil tas yang dimaksud Mingyu dan menyiapkan semuanya. Pikirannya benar-benar kalut saat ini. Ia tidak bisa berpikir jernih, yang ada di pikirannya sekarang adalah Mingyu seorang.
Setelah siap dengan segala hal yang ia perlukan, ia keluar dari apartment dengan mengendap-endap. Lorong gedung itu begitu sunyi, karena para pemiliknya yang sedang asyik bergelung dengan selimut mereka.
Drrrtt Drrtt
Ponselnya kembali bergetar, sebuah pesan masuk.
ByunBaek_: Wonwoo-ya, aku menunggu di pintu utama. Ppali!
Ia tidak membalasnya, dilangkahkannya kaki panjangnya untuk segera memasuki lift.
TING!
Hanya beberapa menit waktu yang dibutuhkan untuk turun ke lantai dasar. Ia melihat sudah ada dua mobil hitam yang terparkir di depan pintu utama gedung itu.
"Ppali!" Baekhyun melambai padanya dari dalam mobil. Di sebelahnya ada seorang gadis yang sedang tertidur di pundaknya.
"Lu, Wonwoo yang akan mengemudi." Ucap Baekhyun yang membuat Luhan keluar dari mobil untuk bergati posisi dengan Wonwoo.
Namja Jeon itu memasukkan tas hitam yang dibawanya pada bangku penumpang belakang, disebelah Baekhyun.
"Kau sudah tau akan kemana?" Wonwoo mengangguk.
Ia mulai menstarter mobil itu dan mulai melajukannya menuju tujuannya.
.
"Sial! Mereka terlalu banyak hyung!" Seru Seungcheol.
Peluh mengalir dari pelipisnya.
"Grrhh.."
"Hoshi! Dibelakangmu!" Seru Dokyeom.
DOR!
Mingyu menembak tepat pada kepala makhluk yang akan menggigit Hoshi dari belakang. Hoshi mengusap peluhnya, "Huhh huuhh.."
CRASHH
CRASH
"Ayo kita pergi sekarang. Sebelum yang lainnya datang." Ucap Suho sambil mencabut pisaunya dari kepala makhluk yang berlumuran darah dibawahnya itu.
Mereka berdua belas pergi meninggalkan mayat-mayat yang tergeletak di lantai rumah sakit. Perempuan maupun laki-laki mereka sama. Mereka adalah mayat hidup. Pemuda-pemuda itu menutup pintu utama dan mengganjalnya dengan kayu, agar sisa-sisa mayat hidup di dalam tidak keluar dan mengacaukan kota Seoul lebih parah lagi.
Drrrrtt Drrrtt
Ponsel Suho bergetar, ia dengan cepat merogoh sakunya.
'Sajangnim, Kantor di kerumuni mayat-mayat hidup!' Seseorang di sebrang sana berseru.
"Sial! Jangan ada yang kesana, jangan sampai kau tergigit!" Perintah Suho.
PIP
Ia mematikan sambungannya secara sepihak. Memasukkan benda persegi panjang itu pada sakunya.
"Ah sial!" Ia meremas rambutnya sendiri.
"Ada apa hyung?" Sehun mendekatinya.
Suho menggeleng-geleng. "Kantor diserang. Wabah ini sudah menyebar luas, dan Seoul sudah tidak aman."
Semuanya menggeleng tidak percaya, "Bagaimana bisa?" Jun bergumam kecil.
"Lebih baik kita ke villaku yang ada di Gangnam. Sekarang." Suho memasuki mobilnya yang disusul Chanyeol dan yang lainnya. Empat mobil disana melesat dengan kencang.
.
Wonwoo meremas tangannya sendiri. Dari tadi ia tidak bisa duduk diam, ia begitu mencemaskan Mingyu.
"Hyung, sebenarnya ada apa?"
Baekhyun yang baru saja keluar dari toilet langsung di todong pertanyaan oleh pemuda sipit itu. Ia mengikuti langkah Baekhyun menuju ruang tengah.
"Kau duduk di sini. Dia akan menceritakannya." Ucap Baekhyun mendudukkan Wonwoo di sofa, di samping seorang yeoja yang tidak dikenal oleh namja Jeon itu.
"Siapa dia hyung?" Tanya Wonwoo.
"Aku, Sohyun. Kim Sohyun. Salam kenal, Jeon Wonwoo-ssi." Ucap Sohyun.
Ia mengangkat kepalanya dan menatap Wonwoo dengan mata sendunya.
"Jadi, Sohyun-ssi. Apakah kau tahu apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Wonwoo.
Sohyun menatapnya sendu, wajahnya benar-benar menyedihkan.
"Sebenarnya, aku tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya. Yang aku tahu, mereka semua menjadi mayat hidup." Jawab Sohyun.
"M-mayat.. hidup?" Sohyun mengangguk, ia mengusap air matanya yang menetes.
"Mereka yang sudah mati, mereka kembali bangkit. Dan.. hiks.."
Tangis Sohyun kembali pecah. Baekhyun yang duduk dilengan sofa mengusap pundaknya pelan.
"Dan.. mereka memakan manusia."
Namja sipit itu terbelalak. Ia semakin cemas dengan keadaan Mingyu sekarang.
"Mereka menguliti manusia. Aku tidak tahu apa penyebabnya, yang aku tahu mereka bukan lagi manusia seperti kita. Mereka adalah ancaman bagi kaum manusia." Jelas Sohyun.
Wonwoo membekap mulutnya sendiri, ia benar-benar tidak percaya dengan semua kejadian ini.
"Maksudmu.. mereka menjadi zombie?" Melihat Sohyun mengangguk, Wonwoo menghela nafas berat.
"Bagaimana bisa!?" Gumamnya tidak percaya.
"Ada yang datang!" Luhan yang sedari tadi diam di ruang tamu berseru.
Mereka semua berlari menuju pintu utama, kecuali Sohyun yang masih menangis di sofa.
"Siapa, hyung?" Tanya Woozi.
"Molla." Jawab Luhan sambil terus memperhatikan siapa orang yang keluar dari mobil-mobil itu.
"I-itu kan.."
Kyungsoo memperhatikan orang-orang itu dari jendela sebelah kanan. Baekhyun yang sedari tadi diam langsung melangkah maju untuk membuka pintu utama lebar-lebar.
"Hai, hyung." Seseorang namja tinggi berambut pirang menyapanya.
"Huang Zi Tao!" Seru Baekhyun, Luhan dan Kyungsoo bersamaan.
Mereka berempat berpelukan satu sama lain.
"Kau jadi juga kesini. Aku kira kau tidak akan mau." Sindir Baekhyun.
"Woozi-ya, kau tahu mereka siapa?" Bisik Wonwoo kepada Woozi.
Pemuda bersurai gulali itu hanya menggeleng menjawabnya.
"Aku tidak akan ingin kesini, kalau tidak dibujuk oleh mereka." Ia menunjuk dua pemuda di belakangnya.
Salah satu dari mereka adalah Lay.
"Annyeonghaseyo, nae ileum-eun Kim Chen imnida!" Sapa pemuda berwajah kotak di sebelah Lay.
"Huang Zi Tao imnida." Sapa singkat Tao.
"Mereka Seungkwan dan Minghao." Tunjuk Tao kepada dua pemuda di belakang Lay dan Chen.
"Annyeonghaseyo! Nae ileum-eun Boo Seungkwan imnida!"
Pemuda chubby itu memperkenalkan dirinya dengan sopan ditambah dengan senyumnya yang sangat manis.
"Annyeonghaseyo! Nae ileum-eun Xu Minghao imnida!" Pemuda dengan wajah polos itu mengenalkan dirinya.
Baekhyun dan Luhan mengajak mereka masuk, sedangkan Lay dan Tao menutup pintu utama.
Saat Wonwoo dan Woozi baru saja berbalik, tiba-tiba Tao bergumam kecil. "Ada yang datang lagi rupanya."
Mereka semua kembali ke pintu utama untuk melihat siapa yang datang, dan terdapat empat mobil berjejer dengan rapi di belakang mobil Tao dan kawan-kawan. Seorang namja bermantel hitam keluar dari salah satu mobil itu.
"Annyeong Suho-ssi!" Sapa Baekhyun.
Wonwoo yang dibelakangnya terbelalak, kalau begitu.. berarti Mingyu.. Batinnya menggantung.
Ia berlari keluar, tidak ada tanda-tanda Mingyu disana. Namja terakhir yang masuk ke villa adalah Chanyeol, ia tidak melihat keberadaan kekasih bertaringnya itu.
"Hyung!" Seseorang berseru.
Wonwoo melihat sekelilingnya, tidak ada seorangpun yang ia temui.
"Wonwoo hyung!"
Itu suaranya Mingyu, pikirnya.
"Wonwoo hyung! Disini!"
Mingyu melambai dari belakang mobil milik Suho. Namja sipit itu segera berlari menghampirinya.
GREP!
"Gyu!"
Wonwoo memeluk tubuh tinggi Mingyu erat. Sedangkan namja tinggi itu terlihat membalas pelukan Wonwoo sambil mengecup pucuk kepalanya.
Mingyu melepas pelukannya, "Aku sudah disini hyung."
"Ne~ Aku tau." Wonwoo ikut melepas pelukannya.
"Hyung, kau mau membantuku? Ini berat sekali."
Ia mengangkat dua buah tas yang penuh dengan senjata berlaras panjang. Wonwoo segera mengambil tiga buah tas yang sama, namun ketiganya lebih ringan dari pada tas yang dibawa Mingyu.
Mereka berdua masuk ke Villa bersama. Saat ingin menutup pintu utama Villa, Mingyu sedikit melihat sekelilingnya.
Semoga disini aman. Batinnya.
.
"Jadi, bagaimana ini hyung?" Sehun membuka suara.
"Aku tidak tahu. Kantor pusat diserang, dan aku belum tahu berita selanjutnya." Jawab Suho.
Ia juga pusing memikirkan semua ini. Kenapa wabah itu cepat sekali merambat? Pikirnya.
"Jadi, kita akan tetap berdiam diri disini?"
Tao dengan santainya melipat kakinya.
"Aku tahu ini bukan Villa milikku. Tapi, apakah tidak lebih baik kalau kita menemukan cara untuk membasmi wabah ini sebelum semua warga terkena?" Tanyanya.
Namja bermata panda itu terlihat serius sekarang.
"Kalau aku tahu, aku akan melakukannya." Jawab Suho.
"Apakah kalian semua bisa menggunakan senjata?" Tanya Mingyu yang sedari tadi terlihat merenung.
"Banyak dari mereka tidak bisa, Min." Jawab Hoshi cepat.
"Bagaimana kalau kalian latihan membawa senjata?" Tawar Mingyu.
"Apa maksudmu?" Tanya Wonwoo yang ada disampingnya.
"Kita tidak tahu apa yang akan kita hadapi setelah ini. Dan kita juga belum tahu, Villa ini aman untuk bersinggah atau tidak. Jadi, untuk menghalau kejadian-kejadian buruk lainnya, bukan lebih baik kalau kalian belajar menggunakan senjata?"
Semua terlihat menimbang ucapan Mingyu.
"Kalian belum tentu selalu ada di daerah pengawasan kami. Dan kami juga belum tentu bisa mengawasi kalian terus menerus. Maka dari itu, baiknya kalian bisa menggunakan senjata untuk menjaga diri kalian sendiri."
Semua mata menatapnya.
"Aku setuju dengannya." Ucap Tao cepat.
"Aku juga." Ucap Suho setelahnya.
"Jadi, kapan kita akan melakukannya?"
.
Suho's Villa
2016.03.14
08.15 a.m KST
"Karena ini adalah hal baru bagi kalian, jadi akan lebih mudah jika kalian menggunakan jenis senjata handgun."
Suho membagikan satu-persatu pistol untuk ke 11 orang di depannya.
"Jika ada zombie di depan kalian, kalian pasti akan merasa ketakutan dan merasa tubuh kalian akan kaku. Kalian hanya perlu menarik pelatuknya dan mengenai otak makhluk itu. Kalian harus mengangkatnya searah dengan pandangan mata." Lanjutnya.
"Pegang senjata kalian dengan benar. Jangan gugup, rilex saja."
"Dan aku ingatkan untuk kalian. Jangan menaruh telunjuk kalian pada pelatuk sampai kalian siap untuk menembak."
"Baiklah, silahkan dimulai."
DOR
DOR
DOR
DOR
Suara tembakan memenuhi ruangan itu. Ruangan itu tentu saja kedap suara, hanya Suho dan ke-sebelas orang yang ada di dalamnya saja yang dapat mendengar suara tembakan itu.
"Baekhyun, jangan gugup. Fokus!"
Seruannya menyentak namja manis bersurai cream yang sedang menggenggam senjata itu.
"Maaf aku sedikit menaikkan volume suaraku. Suara tembakan itu akan menenggelamkan suaraku. Baiklah, lanjutkan."
"Lay, kau sudah mulai bisa."
Namja bernama Lay itu mengangguk.
"Sohyun! Kau harus lebih fokus!"
Seruannya kembali membuat seorang yeoja tersentak. Yeoja manis itu mengangguk ragu, dipikirannya masih terngiang tentang kejadian semalam.
CKLEK
"Bagaimana? Ada kesulitan?"
Tao yang baru saja masuk langsung menyenderkan tubuh tingginya pada dinding di samping Suho. Wajahnya begitu menyebalkan.
"Tidak ada sama sekali." Jawab Suho sambil melenggang pergi dari hadapan pemuda Huang itu. Sedangkan Tao, ia hanya tersenyum mengejek.
"Ck."
Tao memilih mengelilingi ruangan itu. Melihat koleksi senjata Suho, mungkin?
Disaat sedang asyik melihat-lihat, ia dikejutkan oleh suara seseorang. "Apa yang kau lakukan?"
"Aku? Hanya melihat-lihat. Omong-omong, seleramu bagus juga Kim." Ucapnya dan langsung berlalu dari ruangan itu.
"Kalian semua! Terus lanjutkan latihan!"
.
"Hei!"
Mingyu dikejutkan oleh tepukan pada pundaknya. Ia menoleh dan mendapatkan seorang pemuda sipit tengah menyelempangkan senapannya.
"Kim, aku masih penasaran tentang semalam."
Pemuda itu duduk disampingnya.
"Tentang?"
"Tentang.. kau yang membunuh zombie itu. Maksudku, bagaimana kau bisa tahu kalau membuat keributan dapat mendatangkan zombie-zombie yang lain? Ya.. Sebelum Suho hyung memberi tahu kalau keributan dapat membuat mereka mendatangi kita."
Mingyu tersenyum kecil, "Aku dan kekasihku sering melihat serial zombie di TV."
Hoshi -namja sipit- menatapnya tidak percaya. Mingyu menoleh, "Benar, aku sering melihat mereka menggunakan pisau agar sekumpulan zombie lainnya tidak mengerumuni mereka."
"Hanya karena serial TV?" Tanya Hoshi tidak percaya. Yang tentu saja dijawab anggukan pasti oleh Mingyu.
"Aku dan Wonwoo hyung sering menghabiskan waktu dengan menonton serial-serial seperti itu. Menjijikkan, iya. Menyeramkan, iya. Mengagetkan juga iya. Tapi entahlah, semua itu bisa menghilangkan penat kita berdua." Cerita Mingyu.
"Terus, kau tidak mual atau apa?"
Mingyu menggeleng.
"Aku pernah melihat sekilas film zombie di laptop teman SMP-ku dulu. Ia juga penggemar zombie dan hal-hal lainnya yang menjijikkan. Saat itu, aku melihat makhluk itu sedang mengoyak isi perut laki-laki yang ada di depannya. Laki-laki itu tentu saja berteriak sangat keras. Aku yang hanya melihat sekilas saja, sudah mual. Tapi dia? Ia tak henti-henti menatap layar itu dengan tatapan kagum. Heol!" Cerita Hoshi heboh.
"Mungkin dia sudah terbiasa. Aku juga sudah biasa melihat yang seperti itu, jadi aku tidak terlalu merasa jijik. Jujur sebenarnya aku takut saat menusukan pisau kecil itu pada otak zombie-zombie itu. Tapi, apa boleh buat? Kalau takut yang menguasaimu, kau tidak akan bisa melawannya. Dan kau akan mati." Ucap Mingyu enteng.
"Oh, iya. Apakah kau merasa tempat ini aman untuk disinggahi?" Tanya Hoshi.
"Aman. Tapi tidak untuk selamanya."
Mingyu berdiri dan berlalu dari sana.
TAP TAP
"Hoshi-ya, kau tak mau sarapan? Sarapan sudah siap."
Namja bersurai gulali menghampirinya.
"Arraseo, Woozi-ya." Jawabnya sambil merangkul namja manis itu lalu berjalan memasuki villa.
.
"Sudah aku ingatkan bukan? Tetap fokus! Jangan pikirkan yang lain-lain. Tetaplah fokus."
Suho menasehati ke-enam orang yang sedang asyik menarik pelatuk pistol mereka masing-masing.
Sudah 3 hari berturut-turut mereka melakukan latihan ini. Sebagian dari mereka sudah mulai latihan yang lebih berat, yaitu dengan objek yang bergerak.
"Baekhyun, lebih fokus okey? Lihat titik putih itu, dan tarik pelatuknya."
Lagi-lagi Baekhyun yang terkena. Ia mengangguk pasti dan kembali melanjutkan latihannya.
CKLEK
"Suho-ya, mari berganti. Kau terlihat lelah."
Xiumin menghampiri Suho yang sedang berjalan mengelilingi ruangan itu.
"Kau juga butuh istirahat." Lanjutnya.
Suho menoleh menghadapnya sambil tersenyum. "Sepertinya aku butuh istirahat lebih."
"Aku akan menggantikanmu."
Xiumin bersender pada dinding sambil bersedekap. Ia memperhatikan ke-enam orang yang sedang dilatih Suho.
"Kalian, cobalah lebih fokus dan rilex. Jangan tegang. Itu akan membuat peluru pada pistol itu mengenai titik putih di papan itu." Ucap Xiumin lembut.
Mereka semua mengangguk dan mengikuti saran Xiumin.
.
"Jadi, kalian sudah ku anggap siap. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Mungkin saja hal baik, atau.. hal buruk. Entah itu apa. Jadi, aku mohon untuk kalian semua untuk lebih fokus untuk menyerang para zombie-zombie itu. Mengerti?" Ucap Suho.
Semua mengangguk paham.
"Baiklah, kalian boleh keluar. Makan siang sudah siap."
Suho melangkah keluar dari ruangan itu.
"Kalian sudah bekerja dengan baik."
Xiumin tersenyum sambil ikut berlalu dari ruangan itu. Yang tersisa hanya 10 orang namja dan seorang gadis.
"Hyung, kajja." Ajak Wonwoo pada Baekhyun.
Pemuda manis itu sedari tadi melamun hingga tak mendengar panggilan dari Wonwoo yang ada di sampingnya.
"Hyung?"
Wonwoo menggerakkan telapak tangannya di depan wajah Baekhyun.
"Eh? K-kenapa?" Tanya Baekhyun gagap.
"Ayo makan siang." Ajak Wonwoo lagi.
Baekhyun hanya mengangguk dan pasrah lengannya di tarik oleh Wonwoo.
"Semua akan baik-baik saja." Gumam Wonwoo sambil tersenyum kearah Baekhyun.
"Semoga."
.
Drrrrttt Drrrttt
Ponsel Suho bergetar, ia segera merogoh sakunya dan melihat siapa orang yang mendialnya.
Drrrrtttt Drrrttt
Kim Sung Jae? Dia..
Drrrtt Drrtt
Getaran-getaran itu membangunkannya dari lamunannya. Dengan perasaan penasaran dan takut ia mengangkat telephone itu.
"Apakah ini Kim Su Ho? Kepala Badan Intelijen Korea Selatan?"
Suara di sebrang sana memulai percakapan.
"Iya, dengan saya sendiri. Ada apa?"
"Kau tahu aku kan? Sungjae."
"I-iya hyung. Aku tahu."
"Suho-ya, Seoul sudah mulai tersebar wabah. Apa itu benar?" Tanya Sungjae.
"I-iya, benar."
"Kalau begitu, lusa datanglah ke gedung xxxx. Kemiliteran Jepang akan mengirim helikopter yang akan di daratkan pada atap gedung itu pada malam harinya." Suho terbelalak.
"Apa kalian.."
"Iya, kami mengirim sedikit bala bantuan. Semoga saja cukup untuk menampung orang-orangmu." Jelas Sungjae.
"Baiklah, aku akan kesana. Terima kasih, hyung."
PIP
Suho menutup telephone dan segera masuk ke dalam villanya.
.
.
.
TBC
