Meanie - Chanbaek

SVT - EXO fic

M

.

Warn! TYPO(s)! YAOI! BL! AU! OOC!

Cerita murni buatan Author! Sisanya minjem.

.

DLDR kawan!

.

.

Bagi kalian yang minta lanjut, ini udah ya~ Semoga suka :*

HAPPY READING and Enjoy ~

.

.

Malam sudah datang, langit sudah gelap. Hanya ada bulan dan bintang-bintang yang menghiasi kegelapan malam.

"Jadi, bagaimana kelanjutannya hyung?"

Hoshi duduk di samping Suho yang sedang menikmati teh malamnya.

"Kurasa baik. Ajak semuanya berkumpul." Suruh Suho kemudian berlalu.

Hoshi segera beranjak untuk memanggil teman-temannya yang ada di lantai dua maupun di lantai satu. Semuanya berkumpul di ruang tengah dengan membentuk lingkaran.

"Jadi, besok pagi kita akan pergi dari sini. Temanku dari Jepang datang untuk memberi bantuan pada kita, dan mereka membawa 3 helikopter. Aku rasa itu dapat menampung kita semua." Ucap Suho.

Semua disana seketika terlihat sumringah.

"Jinjja, hyung!?" Tanya Kai dan Chanyeol heboh.

Suho mengangguk pasti, "Jadi, persiapkan semua barang kalian. Kita akan pergi besok sekitar jam 7. Karena perjalanan ke gedung itu sangat jauh, aku minta kalian membawa semua persediaan yang ada di villa ini."

"Arraseo!"

Semuanya bubar. Sebagian dari mereka mengumpulkan persediaan makanan serta persediaan apapun yang akan dibutuhkan nanti.

Chanyeol berniat mengumpulkan senapan-senapan milik Suho. Ia melangkahkan kaki panjangnya menuju ruang khusus milik hyungnya itu.

CKLEK

DOR DOR

Baru saja ia membuka pintu coklat itu, suara tembakan sudah menggema di dalamnya. Ia berjalan masuk, pemuda Park itu dikejutkan oleh seorang namja mungil bersurai cream sedang menatap fokus papan di depannya. Papan itu memiliki banyak sekali lubang, tapi tidak dengan titik tengahnya.

"Baek?" Panggil Chanyeol.

Namja manis itu adalah Baekhyun. Sedari tadi, ia menghilang entah kemana. Chanyeol pikir ia sedang bersama Wonwoo atau yang lainnya. Ternyata, kekasih mungilnya itu sedang berlatih.

"Baekhyun?"

Baekhyun tetap tidak menghiraukan keberadaan Chanyeol. Ia masih tetap fokus pada papan di depannya dan pistol yang sedang digenggamnya.

DOR DOR

Peluh berjatuhan dari pelipisnya. Sudah sejak sore tadi Baekhyun menghilang, ia juga tidak ikut makan malam. Apakah sedari sore dia disini? Pikir Chanyeol.

Namja tinggi itu berjalan mendekati Baekhyun dan memeluknya dari belakang.

"UGH!"

DOR DOR

"Hei hei, sudah Baek. Kau sudah bisa menggunakan pistol ini." Ucap Chanyeol sambil menurunkan pistol yang sedang di genggam kekasih mungilnya.

"Belum Yeol! Kau tidak lihat, aku sedari tadi belum bisa mengenai titik putih itu!"

Baekhyun menjawabnya dingin. Namun suaranya sedikit bergetar, seperti seseorang yang sedang menahan nangis.

"Besok kita coba lagi. Yang penting kau harus fokus Baek."

Baekhyun meronta dari pelukan Chanyeol. Ia berbalik dan menatap Chanyeol dengan mata merahnya.

"Aku sudah fokus Yeol! Harus bagaimana lagi?! Apakah aku masih kurang fokus?!" Bentaknya pada Chanyeol.

"Bukan begitu Baek. Kau sudah bisa fokus, hanya saja kau belum memperdalaminya. Badanmu juga pasti sudah kelelahan." Ucap Chanyeol menenangkan.

Ia meraih lengan Baekhyun, namun tangannya dihempaskan begitu saja oleh Baekhyun.

"Aku sudah berusaha Yeol! Aku sudah berusaha! Apakah ini masih kurang? Hiks.."

Satu isakan lolos dari bibir mungil itu. Chanyeol mendekat dan mendekap tubuh mungil itu.

"Aku tahu kau sudah berusaha Baek."

Ia mengelus surai cream itu lembut. Mengecupnya sesekali memberi ketenangan untuk pemuda di dekapannya.

Chanyeol melepaskan dekapannya dan membalik tubuh Baekhyun menghadap papan di depan mereka. "Sekarang, coba kau lihat titik putih itu. Bayangkan itu adalah hal yang membuatmu muak, membuatmu marah, membuatmu kesal, atau hal lainnya yang membuat emosimu naik."

Baekhyun menatap lurus titik putih pada papan itu. Ia todongkan pistol itu lurus dengan arah matanya.

"Kau hembuskan nafasmu pelan-pelan, lalu.."

DOR

"Tepat!"

Baekhyun tersenyum senang. Dirinya berhasil mengenai titik putih itu.

"Aku berhasil!" Serunya sambil berbalik memeluk tubuh tinggi Chanyeol.

"Iya kau berhasil!" Ucap Chanyeol mengusak pelan surai cream itu.

"Gomawo, Yeol. Dan.. Mian. Mian aku sudah membentakmu." Lirih Baekhyun.

"Tidak apa. Aku tahu kau sedang emosi Baek." Ucap Chanyeol.

Namja tinggi itu berlalu kebelakang untuk mengumpulkan semua senapan yang dibutuhkan.

"Yeol, kau sedang apa?" Tanya Baekhyun sambil mengikuti langkah Chanyeol.

"Teman Suho hyung dari Jepang datang untuk membantu. Mereka akan datang lusa malam dan kita diminta untuk kesana. Mereka membawa helikopter yang akan menampung kita semua." Jelas Chanyeol.

"Dan, kita harus mempunyai persediaan untuk kesana. Karena jaraknya dengan villa ini sangat jauh." Tambah Chanyeol.

Baekhyun mengangguk pelan sambil ikut bantu memasukkan peluru-peluru pada tas berwarna hitam milik Suho.

"Oh iya. Aku mau tanya. Tadi, kau membayangkan apa?" Tanya Chanyeol.

"Aku? Aku membayangkanmu selingkuh di depanku." Jawab Baekhyun santai.

"Mwo? Bagaimana bisa kau membayangkan yang tidak-tidak terhadap tunanganmu ini, eoh?" Tanya Chanyeol sambil berkacak pinggang di samping Baekhyun.

Baekhyun tersenyum jahil. "Kalau tidak benar, kenapa kau marah?"

"Kau ya!"

Chanyeol mencubit hidung Bakekhyun gemas.

"Ya! Lepas!"

Namja bermarga Byun itu memukul-mukul tangan besar Chanyeol agar melepaskan hidungnya.

"Aku benar. Kalau kau selingkuh akan ku tembak kau!" Ucap Baekhyun sambil menodong Chanyeol dengan tangannya yang ia buat berbentuk pistol.

"Pyushh!"

Baekhyun mengikuti suara senapan yang biasa digunakan oleh koboi-koboi di film yang ia sering tonton. Ia juga mempraktekkan bagaimana cara koboi itu meniup asap yang keluar dari ujung pistol itu. Chanyeol tertawa melihat tingkah lucu kekasihnya itu.

.

"Baiklah. Semua sudah siap?" Tanya Suho yang dijawab oleh anggukan dari semuanya.

Mereka sekarang sudah siap dan akan berangkat menuju gedung apartment tempat teman Suho yang akan mendaratkan helikopternya. Mereka semua naik ke dalam mobil masing-masing dan mulai melesatkan kendaraan itu begitu cepat.

PUK

Mingyu merasa pundak kirinya sedikit berat. Ia menoleh dan mendapatkan kekasih emonya itu tertidur pada pundaknya.

"Hei, hyung masih mengantuk?" Tanya Mingyu.

Wonwoo tidak menjawab, tentu saja. Mingyu tersenyum, ia melingkarkan tangannya pada pundak Wonwoo dan mendekapnya erat.

Wonwoo sedikit menggeliat, pemuda itu segera menegakkan tubuhnya. "Aku ketiduran, ya? Mian Gyu."

"Tidak apa. Kalau hyung masih mengantuk tidurlah. Aku akan menjagamu disini." Ucap Mingyu sambil menarik kembali tubuh kurus itu. Wonwoo tanpa menjawab lagi segera kembali tidur pada pundak lebar Mingyu.

"Yeol, kenapa sepi sekali?" Tanya Baekhyun di tengah jalan.

"Orang-prang pada kemana ya?" Gumamnya kecil.

"Molla, Baek." Jawab Chanyeol singkat. Ia masih fokus dengan mobil Suho yang ada di depannya.

Mereka sudah melewati 45 menit perjalanan. Suho yang berada paling depan berhenti mendadak membuat mobil-mobil di belakangnya juga harus berhenti mendadak.

CKIIIITT

Mobil Chanyeol berhenti mendadak membuat dua pemuda yang sedang asyik tertidur di belakang terdantuk oleh kursi di depan mereka.

"Awh.."

"Mian, Gyu, Wonwoo." Ucap Chanyeol. Ia dan Mingyu memutuskan untuk keluar mobil dan melihat apa yang sedang terjadi.

"Shit! Apa-apaan ini?!" Seru Suho tertahan.

Di depannya terdapat puluhan mobil yang sedang berderet dengan tidak rapinya. Suasananya sangat sepi, seperti tidak pernah ada seseorangpun yang menginjakkan kaki disini.

"Hyung, bagaimana ini? Kita tidak bisa lewat."

Chanyeol menghampiri Suho yang sedang berkacak pinggang di samping mobilnya. Suho hanya menggelengkan kepalanya, ia juga tidak tahu harus apa sekarang. Puluhan mobil itu berjejer di depan mereka dan itu tentu saja menghalangi jalan mereka.

"Padahal gedung itu tidak jauh dari sini." Gumam Suho.

Ia berjalan mengikuti langkah Mingyu dan Hoshi yang mendahului mereka. Kedua namja berbeda tinggi itu berjalan melintasi jejeran mobil-mobil itu sambil melihat-lihat ke dalamnya.

"Tidak ada orang hyung!" Seru Hoshi dari depan sana.

"Kalian berdua kembali!" Seru Suho balik. Ia mengumpulkan semua teman-temannya di depan mobilnya.

"Gedung itu tidak jauh dari sini. Bagaiamana kalau kita melanjutkannya dengan berjalan?"

Semua saling tatap sebentar, kemudian mereka mengangguk menyanggupi.

"Baiklah, kalian semua bawa semua perlengkapan yang ada di mobil. Jangan sampai ada yang tertinggal." Perintah Suho. Ia mengambil beberapa barang di bagasinya.

Mereka semua berjalan menyusuri jalan yang dipenuhi oleh deretan mobil itu. Suho dan Chanyeol berada di paling depan, memimpin jalan. Sisanya berada di belakang mengikuti mereka.

"Awhh.." Ringisan terdengar dari arah belakang Baekhyun.

Namja manis itu menoleh dan mendapati Sohyun sedang berjongkok sambil memegangi pergelangan kaki kananya. Darah segar mengalir dari bagian yang di pegang oleh gadis itu.

"Sohyun-ah, gwenchana?" Sohyun mengangguk.

Ia menyampirkan tasnya dan mengambil sesuatu dari dalam. Sebuah kain putih panjang. Ia melilitkan kain putih itu pada lukanya dan mengikatnya cukup erat.

"Nan gwenchana."

Sohyun mengambil tissue dan membersihkan tangannya yang terdapat sedikit bercak darah.

"Kajja!" Ajak Baekhyun. Ia meraih tangan Sohyun dan menyampirkannya pada pundaknya.

"Baekhyunee! Kajja!" Luhan berseru dari depan.

"Ne! Aku menyusul!"

Baekhyun memapah Sohyun untuk membantunya berjalan. Mereka berjalan mengikuti rombongan mereka yang sudah jauh di depan mereka.

.

"Hyung, apakah masih jauh?"

Hoshi mensejajarkan langkahnya dengan Suho yang ada di paling depan.

"Kira-kira 5 blok dari sini lalu belok kanan. 3 blok dari sana sudah sampai." Jawab Suho santai sambil memperbaiki letak ranselnya.

"Grhhhh.."

Suara geraman terdengar, membuat semua yang ada disana terdiam. Termasuk Suho. Geraman itu terdengar tidak jauh dari mereka, mungkin hanya beberapa meter saja.

"Tunggu. Kalian semua diam disini." Suruhnya.

Ia memberi kode untuk Chanyeol, Kai, Sehun, Hoshi dan Mingyu untuk membututinya dari belakang. Mereka berjalan menuju semak-semak belukar yang ada di sisi kanan jalan.

"Ergghh.."

Suara itu semakin dekat terdengar. Mereka berjalan mengendap-endap dan mulai menyingkap semak-semak itu.

"Holy shit!"

Suho mengumpat, lalu dengan cepat membekap mulutnya sendiri. Mereka menemukan 3 tubuh manusia dengan tubuh yang sudah hancur. Perut yang sudah terkoyak serta isi dalam yang keluar berceceran di sisi kanan dan kiri tubuh itu. Kepala ketiganya sudah tidak memiliki bentuk.

Dan, yang lebih mengejutkan lagi. Mereka melihat sekumpulan zombie sedang berkumpul dengan mulut yang bercucuran darah segar sekitar 1 meter dari tempat mereka. Tentu saja dengan tubuh manusia yang sudah terkoyak dibawah mereka.

Baru saja mereka ingin bergerak mundur, salah satu makhluk itu menoleh dan menatap mereka sambil mengerang. "Raghhh!"

"Sial! Kenapa makhluk itu membawa teman-temannya?!" Gumam Hoshi kesal. Benar! Makhluk itu bangkit dan mengejar mereka ber-enam. Tentu saja membawa semua teman-temannya.

"Cepat-cepat! Lari!" Seru Suho.

"Semuanya! Lari kearah sana!"

Suho menunjuk sebuah gedung dekat sana, ia sebenarnya tidak yakin itu gedung yang mereka tuju. Tapi, dengan keadaan seperti ini, itu tidak terlalu penting. Yang terpenting sekarang adalah keselamatan mereka semua. Mereka semua berlari menjauhi kumpulan zombie-zombie yang entah dari mana datangnya. Makhluk pemakan manusia itu semakin bertambah banyak mengejar mereka.

Entah mereka yang sial atau apa, sekumpulan manusia itu di kerubuni oleh semua makhluk pemakan daging yang menjijikkan itu. Makhluk-makhluk itu berwajah kisut dan menyeramkan. Mata yang tidak lagi menghitam dan rambut yang benar-benar tipis. Layaknya orang yang sudah mati selama bertahun-tahun.

Walaupun kekuatan berlari para zombie itu berada jauh dibawah dibandingkan kekuatan para manusia itu, tetapi tetap saja mereka akan terkejar juga. Masalahnya, bukan hanya dari belakang saja yang mengejar mereka, tetapi dari samping kanan, kiri maupun depan mereka.

"Errgghhh!" Erangan datang dari berbagi arah.

"Oh tidak! Aku tidak mau tamat sekarang." Gumam Junghan dan Baekhyun bersama.

Di sebelah mereka, Wonwoo dan Luhan terlihat begitu pucat. Peluh mulai memenuhi dahi sekumpulan manusia itu.

"Sial! Kita terjebak!" Gumam Jun.

Ia mengangkat kapak yang sedari tadi di genggamnya. Menebaskan benda tajam itu pada kepala makhluk-makhluk yang berani mendekatinya maupun yang lainnya.

"Kalian semua! Masuk kesana!" Seru Suho.

Ia menunjuk sebuah gedung kosong yang pintu utamanya masih terbuka dengan lebarnya. Tanpa ba-bi-bu lagi, sekumpulan manusia itu berlari menuju gedung itu. Tentu saja dengan zombie-zombie yang mengerumuni mereka.

"Grrhhhh!"

"Yak! Jangan sentuh aku!" Luhan menghempaskan tangannya yang baru saja akan disentuh oleh salah satu zombie itu.

Seluruh dari mereka sudah berhasil masuk kedalam gedung kosong itu. Pintu utama sudah ditutup rapat ditambah dengan berbagai benda berat yang menghalangi jalan masuk bagi sekumpulan zombie diluaran sana.

Tapi sayangnya benda-benda berat seperti meja maupun kursi itu tidak akan bertahan lama. Kaca yang menjadi bahan dasar pintu itu juga tidak akan mungkin kuat menahan dorongan yang sangat kuat dari sekumpulan makhluk pemakan daging itu.

"Ini tidak akan bertahan lama." Vernon mengusap peluhnya. Ia baru saja selesai menaruh meja besar terakhir untuk menjadi pengganjal pintu itu.

"KYAAAAHHH!" Suara teriakan Sohyun terdengar dari belakang.

Gadis itu dikerubuni oleh empat zombie!

Sohyun terlihat berusaha menendang-nendang tubuh kurus di depannya untuk tidak mendekat. Matanya sudah memerah dan wajahnya benar-benar menyiratkan ketakutan.

"Jangan mendekatiku!"

"Errgkk.."

Dua dari empat makhluk tadi sudah di tumbangkan oleh Tao. Dua sisanya ia tendang menjauh dan ditangkap oleh Chanyeol. Pemuda tinggi itu menancapkan pisau kecilnya pada kepala kedua makhluk itu secara berkali-kali hingga keduanya tumbang secara bersamaan.

"Huhh.. huh.."

Sohyun tak bisa mengontrol deru nafasnya. Ia benar-benar ketakutan tadi. Bayangkan saja, dikerumuni oleh makhluk-makhluk yang akan mengoyak tubuhnya hingga tak tersisa. Jantungmu pasti tidak akan bekerja normal jika seperti itu.

"Gwenchana?" Sohyun mengangguki pertanyaan Tao.

"Disini tidak aman. Ayo pergi." Ajak Tao lalu melenggang pergi dari sana.

"Mau kemana?" Kyungsoo buka suara.

"Atap mungkin? Mencari tempat yang aman."

Semuanya mengangguk dan mengikuti langkahnya dari belakang. Meninggalkan sekumpulan zombie yang masih berusaha masuk untuk menerjang sekumpulan manusia itu.

.

Kriieet

"Pintu apa ini? Gelap sekali." Gumam Dokyeom.

Ia menerangi isi ruangan itu dengan senter yang ia bawa. Melihat-lihat isinya tidak apa kan? Pikirnya. Ia melangkahkan kakinya memasuki ruangan yang super gelap –menurutnya- itu.

"Hanya barang-barang yang tidak berguna."

Trang

Dengan tidak sopannya ia menendang sebuah barang yang ia pun tak tahu itu apa. Ia hanya asal menendang. Juga, ini barang-barang yang tidak berguna. Tidak masalahkan kalau ia menendangnya?

Kresek kresek

"Siapa?"

Dokyeom mengarahkan senternya pada sebuah suara bising di belakangnya. Hanya pintu yang tadi dibukanya saja yang ia temui. Dan pemandangan gelap di sisi kanan dan kirinya tentu saja.

Ia kembali melangkahkan kakinya semakin memasuki ruang gelap itu. Tadi ia sudah mencoba mencari saklar, dan gotcha! Dia menemukannya. Tapi saat akan menyalakannya, ternyata lampu diruangan itu sudah mati sejak lama. Karena rasa penasarannya yang sangat-sangat besar, dirinya pun memilih menelusuri ruangan gelap itu.

PUK

Dahinya seperti menyentuh sesuatu. Benda keras dan sediki berbau aneh. Senter yang ia pegang di tangan kanannya diarahkan pada benda itu.

"Oh my god!"

Ia menutup mulutnya kaget. Matanya membulat dan nafasnya tertahan. Tangannya bergerak naik turun untuk melihat dengan jelas benda keras itu.

Tubuh seseorang pemuda yang sudah membusuk tergantung di atasnya. Saat cahaya senternya mengenai wajah seseorang tersebut, tiba-tiba saja kelopak mata itu bergerak dan terbuka.

"Whoaa!"

Dokyeom mundur beberapa langkah karena terkejut. Tangan pemuda itu bergerak-gerak seperti akan meraihnya. Suara geraman tertahan terdengar keluar dari bibirnya.

Dokeyom terus menerus berjalan mundur hingga tidak menyadari dirinya sudah keluar dari ruangan gelap itu.

Bugh!

"Whoa!"

Punggungnya terkena sesuatu yang membuatnya reflex berbalik.

"M-mian. A-aku tidak sengaja."

Ternyata yang ia tabrak adalah Wonwoo. Pemuda kurus itu menatapnya aneh, kenapa ia seperti dikejar hantu? Pikir Wonwoo.

"Kau tidak apa?" Dokyeom menggeleng kaku. Pikirannya masih tidak bisa lepas dari kejadian yang barusan.

"Kau terlihat pucat. Ada apa?" Dokyeom masih tetap menggeleng. Wonwoo tahu, pasti ada sesuatu. Sangat terlihat jelas dari wajah Dokyeom yang pucat.

Tidak ingin penasarannya bertambah besar, namja kurus itu mengambil senter yang ada di tangan dokyeom dan melangkah masuk ke ruangan gelap di depannya. Ruangan gelap yang baru saja Dokyeom masuki.

"H-hyung! J-jangan kesana!" Cegah Dokyeom terbata-bata. Wonwoo menghiraukannya dan tetap masuk.

"Disini tidak ada apa-apa." Gumam Wonwoo. Ia semakin gencar melangkahkan kakinya memasuki ruangan itu secara perlahan.

"Errgg.."

Sebuah erangan tertangkap oleh indra pendengarannya. Ia menoleh ke kanan dan kekiri sambil menyinari ruangan gelap itu. Tapi ia tidak menemukan adanya seseorang di dalam ruangan gelap itu.

Tiba-tiba mata namja kurus itu menangkap sesuatu yang menggantung. Seperti sebuah sepatu, batinnya. Tangan kanannya bergerak untuk menyinari bagian atas dari sepatu menggantung -menurutnya- itu.

"Omo!"

Dirinya benar-benar dibuat terkejut oleh pemandangan di depannya ini. Sebuah tubuh manusia yang tergantung dengan kepala yang terikat tali. Sosok di depannya itu kini mengerang tertahan sambil menggerakkan tangannya seperti ingin meraihnya.

"Hyung! Ayo keluar!" Dokyeom yang sedari tadi memperhatikannya dari ambang pintu berseru.

"N-ne!"

Wonwoo berlari kecil menjauhi mayat itu. Dirinya seketika mendadak merinding setelah melihat pemandangan itu. Benar-benar mengerikan!

.

"Hey! Aku menemukan tangga untuk ke atap!" Seru Woozi.

Mereka di bagi beberapa kelompok untuk mencari jalan untuk ke atap gedung kosong ini. Dan setelah beberapa saat berkeliling, akhirnya mereka menemukannya.

"Ayo semuanya, naik!" Suruh Suho. Ia harus memastikan semuanya naik tangga terlebih dahulu, barulah dirinya akan ikut naik. Benar-benar pemimpin yang baik.

PRANG!

Tiba-tiba terdengar suara kaca pecah tidak jauh dari mereka.

"Cepat semuanya naik!" Suruh Suho sambil ikut naik ke atas tangga.

"Hey semuanya! Aku menemukan ini." Tiba-tiba Sohyun datang dari balik tirai dengan banyak barang di tangannya.

"Sohyun! Cepat naik!" Seru Chanyeol yang kebetulan terakhir naik tangga. Sohyun yang mendengarnya segera berlari mendekati kelompoknya dan ikut naik.

"Graaahhh!"

Sekumpulan zombie datang dan menyerbu mereka semua. Chanyeol dan Sohyun terus berlari mengejar yang lainnya.

"Akh!"

Tiba-tiba saja Sohyun meringis sambil memegangi pergelangan kakinya dengan zombie yang ada sangat dekat dengan kakinya.

BUGH! BUGH!

Chanyeol cepat-cepat memukul kepala makhluk itu dengan ujung senapan laras panjang yang di bawanya. Ia menyuruh Sohyun untuk berlari terlebih dahulu, sedangkan dirinya menghabiskan beberapa zombie.

"Sial! Ini tidak akan ada habisnya."

Ia memilih berlari sekencang mungkin untuk menjauhi sekumpulan makhluk-makhluk itu.

"Hahh.. hahh.."

Sohyun sampai terlebih dahulu daripada Chanyeol. Nafasnya benar-benar memburu.

"Chanyeol mana?" Tanya Baekhyun padanya.

Sohyun mengangkat wajahnya dan menunjuk ke belakang. Tapi dibelakangnya tidak ada apa-apa. Hanya sebuah pintu yang masih terbuka karena kedatangannya yang tiba-tiba.

"Tadi Chanyeol op_"

BRAK

"Bantu aku menahan ini!" Seru Chanyeol yang tiba-tiba datang dan langsung saja membanting pintu itu.

Tubuh tingginya ia gunakan untuk mengganjal pintu itu. Kai, Sehun dan Mingyu langsung datang dan membantunya mendorong pintu itu agar tidak terbuka.

"Huh.. huuhh.. cepat cari benda yang bisa menahan ini." Suruhnya.

Semua yang ada di sana berpencar mencari benda-benda keras yang bisa menahan pintu itu dari dorongan zombie diluaran sana.

"Hyung! Aku menemukan ini!" Seungcheol mengangkat sebuah rantai yang lumayan besar dan sebuah gembok besar.

BUKH BUKH

"Ragghhhh!"

Suara dorongan dari balik pintu itu tak henti-hentinya terdengar. Tentu saja dengan diselingi suara geraman-geraman dari makhluk-makhluk yang lapar akan daging itu.

Chanyeol mendorong tubuhnya lebih kuat untuk menahan pintu itu. "Ergh! Cepat bawa kesini dan pasang!"

Seungcheol dengan segera berlari kesana dan memasang rantai serta gembok itu. Walau agak kesulitan karena gembok besar yang susah terkunci itu, namun mereka berhasil menguncinya. Mereka semua bisa sedikit bernafas lega.

"Huh.. disini benar-benar tidak aman." Chanyeol mengusap peluhnya dan mendudukkan tubuhnya pada lantai atap. Dirinya benar-benar sangat lelah hari ini.

"Kau tidak apa?"

Baekhyun menghampirinya dan bertanya dengan cemas. Chanyeol hanya menggeleng sebagai jawaban.

"Sohyun terluka. Coba kau periksa dia." Suruh Chanyeol dan langsung diangguki oleh namja manis di depannya.

Baekhyun menghampiri Sohyun yang sedang duduk termenung di atas pipa besar yang ada disana. "Sohyun-ah.."

"Uh? Baekhyun oppa. Waeyo?" Tanya gadis itu lemas.

"Mana lukamu? Biar aku obati."

Sohyun memperlihatkan pergelangan kaki bagian belakangnya pada Baekhyun.

"Omo! Kenapa bisa seperti ini?"

Baekhyun terkejut melihat luka di pergelangan kaki Sohyun yang begitu besar dan dalam.

"Aku tergores." Jawabnya.

Gadis itu terlihat sangat lemas. Bahkan, untuk menjawab pun ia harus beberapa kali menarik nafas terlebih dulu.

"Baiklah aku akan mengobatinya."

Baekhyun mulai mengeluarkan peralatan kedokterannya dan mulai mengobati kaki Sohyun secara telaten.

.

BRUKK BRUKK

"Err.. Erragghh!"

Sudah dua jam lamanya mereka berdiam diri di tempat itu. Di atap gedung kosong ditemani dengan erangan-erangan dan suara pintu yang hampir roboh di sudutnya ulah dari makhluk-makhluk lapar di baliknya.

"Ini bukan gedung itu." Ucap Suho memecah kehenigan.

"Gedung itu terletak disana."

Ia menunjuk gedung yang memiliki tinggi tidak jauh dari gedung yang mereka injak sekarang. Namun masalahnya adalah, gedung itu ada di sebrang gedung sebelah kanan mereka.

"Tidak terlalu jauh, hyung." Ucap Vernon.

"Iya, memang tidak terlalu jauh. Tapi, kau tidak lihat dibawah sana?" Suho terlihat benar-benar frustasi.

"Disana makhluk-makhluk itu bersebaran. Dan sekarang kita terjebak di atap gedung yang salah." Semua menunduk lesu mendengarnya. Apakah tidak ada cara lain untuk keluar dari sini?

Mingyu mengangkat kepalanya, "Hyung, bagaimana kalau kita menyebrang ke gedung itu?"

"Lewat bawah." Lanjutnya. Semua yang ada disana menatapnya terkejut sekaligus tidak percaya.

"Mwo? Apa kau bilang Kim? Lewat bawah? Lewat jalan raya? Yang benar saja!" Hoshi bersedekap.

"Dengar dulu. Jadi begini, beberapa dari kita diam di sini, di gedung sebelah kiri itu. Dan sisanya akan pergi ke gedung di sebrang sana untuk menunggu helikopter." Jelas Mingyu.

"Beberapa dari kita yang diam di gedung sebelah kiri itu akan membuat keributan. Pastinya itu akan mendapatkan perhatian dari makhluk-makhluk itu. Dan itu mempermudah kelompok yang menunggu helikopter untuk menyebrang."

"Dan, kalau sebagian dari kita yang menyebrang itu sudah berhasil, giliran mereka yang membuat kebisingan untuk mengalihkan perhatian dari zombie-zombie itu. Jadi, mereka yang diam disini bisa kesana dengan mudah." Jelasnya panjang lebar. Semua yang disana terlihat menatap satu sama lain.

"Tapi, aku tidak yakin itu akan berhasil 100%" Ucap Suho lemah.

Ia memang tidak yakin dengan rencana yang Mingyu punya, bukan berarti dia bilang rencana yang dimiliki Mingyu itu buruk. Rencana yang Mingyu punya itu bagus, hanya saja ia tidak yakin akan keberhasilannya.

"Kalau begitu, kita akan membagi kelompok dan berpisah." Ucap Chanyeol.

Suho menoleh, "Maksudmu?"

"Aku tidak yakin helikopter-helikopter yang dikirim bisa menampung kita yang jumlahnya banyak ini. Pasti akan ada yang di tinggal disini. Jadi, kita akan membagi kelompok dan berpisah." Jelas Chanyeol.

"Kita akan membagi dua kelompok. Kelompok pertama akan pergi terlebih dahulu dan kelompok kedua yang akan pergi selanjutnya. Bagaimana?" Lanjutnya.

"Baiklah. Aku setuju. Kita akan membagi kelompok."

"Maksudmu, setengah dari kita akan berdiam disini?" Tanya Xiumin tidak percaya yang diangguki oleh Suho.

"Lalu, kapan kalian akan menyusul?" Tanya namja chubby itu lagi.

"Tergantung. Kapan helikopter-helikopter itu akan kembali dan menjemput kami." Jawab Mingyu.

Wonwoo menoleh dengan wajah terkejutnya, "Kau diam disini?"

Mingyu mengangguk. "Aku, Chanyeol hyung, Kai hyung, Sehun hyung, Seucheol hyung dan Hoshi akan berdiam disini."

.

.

.

TBC

Yayyy! Akhirnya chapter 5 nya uda bisa di publish :D Tapi, buat balasan reviewnya, kayanya gak bisa di chapter 5 deh :(( Semoga di chapter 6 besok aku bisa bales-balesin review kalian :) tapi, aku gak janji ya :(( Mianhae~ :'((

Jangan lupa Review sayanq-sayanq Qu~ :** MUACHHH!