Meanie - Chanbaek
SVT - EXO fic
M
.
Warn! TYPO(s)! YAOI! BL! AU! OOC!
Cerita murni buatan Author! Sisanya minjem.
.
DLDR kawan!
.
.
HAPPY READING and Enjoy ~
.
.
"Kau yakin akan berdiam disini, Mingyu-ya?" Tanya Suho yang di angguki mantap oleh Mingyu.
"Aku juga akan berdiam." Baekhyun yang berada di sebelah Chanyeol bersuara tiba-tiba.
"Baek, ka_"
"Tidak apa, Yeol. Aku akan disini." Potong Baekhyun. Ia sudah memantapkan diri untuk berdiam disini bersama Chanyeol dan yang lainnya.
"Aku dan Kyungsoo juga." Ucap Luhan yang membuatnya mendapatkan tatapan terkejut –tapi dingin- dari Sehun. Tapi namja manis itu tak mengubrisnya.
"Baiklah. Jadi, hanya sembilan orang yang akan diam disini?" Tanya Chanyeol memastikan. Ia melihat ke seluruh teman-temannya dan mendapatkan dua namja mengangkat tangan mereka bersama-sama.
"Baiklah, sebelas orang." Tutupnya.
Wonwoo terkejut melihat Woozi dan Junghan mengangkat tangan mereka. Ia sebenarnya mau mengangkat tangannya, namun ia sedikit ragu untuk berdiam disini. Ia melirik namja tinggi disebelahnya. Ia ingin bersama Mingyu, ia tidak ingin berpisah dari Mingyu.
"Hyung?"
Wonwoo di buat tersentak oleh panggilan lembut dari pemuda di sebelahnya.
"Uh? Wae?" Tanyanya bingung. Sekarang wajahnya terlihat nge-blank. Ujung bibir Mingyu terangkat membentuk senyuman kecil.
CUP
Mingyu mengecup bibir merah muda itu, membuat sang empu sedikit berjengit. Ia mendudukkan Wonwoo dan menempatkan kepalanya di pangkuan namja itu. Ia memejamkan matanya, wajahnya terlihat begitu damai.
"Kau terlihat benar-benar berantakan." Gumam Wonwoo sambil mengelus surai coklat milik Mingyu.
Mingyu memeluk perut datar Wonwoo, membenamkan wajahnya di sana. Ia ingin bermanja-manja dengan kekasihnya terlebih dulu, sebelum pemuda emo itu meninggalkannya. "Tidurlah, besok adalah hari yang panjang dan melelahkan." Bisik Wonwoo sambil mengusap-usap rambut belakang Mingyu. Usapan lembut itu menjadi penghantar tidur bagi seorang Kim Mingyu malam ini.
.
"Baiklah, semuanya. Semua yang berdiam disini, silakan berdiri di samping Chanyeol. Dan yang akan naik helikopter, silakan berdiam di samping Suho." Seru Xiumin.
Hari ini adalah hari dimana helikopter-helikopter kiriman dari Jepang akan mengantar mereka.
Wonwoo berjalan mengikuti Woozi dan Junghan ke barisan yang berdiam. Ia membuntuti mereka diam-diam.
"Wonwoo-ya, kenapa kau disini? Bukannya kau tidak ikut diam?" Tanya Woozi. Suaranya cukup keras hingga membuat Mingyu yang dekat dengan mereka menoleh.
"Hyung?"
"Aku akan diam disini." Ucapnya mantap.
"Tapi,_"
"Aku bisa menjaga diri." Ucapnya lagi. Mingyu hanya bisa mengangguk pasrah dan berdiam di dekat namja manis itu. Ia menggenggam tangan kurus itu erat.
"Jadi, bagaimana selanjutnya?" Tanya Tao.
"Tadi malam, aku melihat ada tangga di samping gedung itu. Dan gang disana cukup sepi." Buka Chanyeol.
"Jadi, sebagian dari kelompok yang berdiam akan ikut sama kalian. Hanya untuk sementara. Aku, Mingyu, Hoshi, Seungcheol, Kai dan Sehun akan berdiam di gedung itu untuk mengalihkan perhatian para zombie itu." Semuanya mengangguk paham.
"Pakai apa kalian mengalihkannya?" Tanya Dino.
"Dengan cara apapun yang mampu mengalihkan perhatian para zombie itu." Jawab Mingyu.
"Setelah kalian sampai disana, beberapa dari kalian pergi ke gedung di ujung sana untuk tetap mengalihkan perhatian para zombie itu. Jadi, kita yang ada disini bisa menyebrang kesana dengan lebih aman." Ucap Chanyeol.
"Baiklah. Apa semuanya sudah siap?" Suho melihat isi dalam tasnya.
"Semuanya sudah siap." Jawab Xiumin.
Suho menepuk pundak Chanyeol. "Chanyeol, aku mempercayakan ini padamu."
Chanyeol mengangguk, "Mingyu, kajja!"
"Gyu_"
"Aku akan baik-baik saja hyung. Kau tetap bersama mereka, ne? Jangan sampai terpisah." Genggaman Mingyu yang semulanya erat sekarang melonggar. Ia menyempatkan mengecup kening Wonwoo sebelum ikut bersama Chanyeol dan yang lainnya.
Suho memimpin jalannya menuju gedung di sebrang sana. Ia dan Xiumin berada di paling depan, sedangkan Dokyeom, Jun dan Tao berada di paling belakang.
"Aman. Semuanya, turun secara perlahan." Perintah Suho. Ia turun terlebih dahulu, yang kemudian di susul oleh Xiumin dan yang lainnya.
"Awhh.." Tiba-tiba kaki Sohyun terpleset.
"Gwenchana?" Tanya Tao yang ada di bawahnya. Sohyun mengangguk sambil bergumam kecil.
Mereka semua sudah turun dengan aman. Lingkungan sekitar mereka terlihat sangat sepi, tidak ada zombie maupun manusia. Suho menuntun mereka mendekati bibir gang.
"Terlalu banyak zombie disini."
DOR DOR DOR
Tiba-tiba suara tembakan terdengar dari arah atap.
DUAR!
"Apa begini cara mereka mengalihkannya?" Tanya Suho entah kepada siapa. Ia tidak ingin memikirkan bagaimana cara mereka semua mengalihkannya. Ia hanya memikirkan, bagaimana ia dan yang lainnya berhasil melewati jalan raya yang dikerumuni zombie -zombie itu.
"Sudah sepi, ayo!"
Suho dan Xiumin memimpin di depan. Mereka semua berjalan dengan mengendap-endap untuk keamanan. Mereka tidak mungkin gegabah dalam hal seperti ini. Para zombie itu sangat peka terhadap suara, sedikit saja suara bisa membuat perhatian mereka teralihkan.
DOR DOR DOR
Suara tembakan masih terdengar nyaring. Chanyeol dan yang lainnya masih berusaha keras untuk mengalihkan semua perhatian para zombie itu. Perhatian yang mereka alihkan bukan hanya satu, melainkan berlusin-lusin.
DOR DOR DOR
"Maju!" Perintah Suho.
Mereka semua berhasil mencapai sebrang jalan. Sekarang, mereka hanya perlu masuk ke gedung besar di depan mereka ini dan menuju atapnya.
"Disana tangga." Xiumin menunjuk tangga kecil yang langsung menuju ke atap gedung.
"Tunggu!" Suho menahan Xiumin yang akan berjalan menuju tangga itu. Ia memberi kode pada namja chubby itu untuk melihat sesuatu yang ada di samping tangga itu.
"Ayo." Xiumin, Suho dan Vernon berjalan sambil mengendap-endap menuju tangga itu.
"Graahh!" Ketiga zombie yang ada disana menolehkan kepala mereka. Salah satu dari mereka mulai bangkit dan mendekati ketiga namja itu.
"Graahh!"
BUGH!
Suho berhasil memukul kepala zombie itu hingga membuatnya sedikit tidak seimbang. Tangan kirinya segera menarik kerah baju yang digunakan zombie itu dan menusukkan pisau kecil yang ada di tangan kanannya tepat pada pucuk kepala zombie itu.
Xiumin dan Vernon melakukan hal yang sama. Dua zombie sisanya mereka habiskan dengan begitu mudah. Hanya menancapkan pisau yang mereka pegang, kedua zombie itu sudah tumbang begitu saja.
"Kalian, cepat naik!" Perintah Suho pada yang lainnya. Mereka mulai menaiki tangga kecil itu, dimulai dari Sohyun hingga Dokyeom. Hanya Suho seorang yang belum naik.
Saat baru membalikkan badannya, satu zombie datang dari bibir gang. Tidak ingin menghabiskan waktu, namja itu langsung menaiki tangga.
"Baiklah. Sekarang, siapa yang akan mengalihkan perhatian?" Tanyanya setelah sampai di atas atap.
Tao, Chen, Wonwoo, Baekhyun, Woozi, dan Junghan mengangkat tangan mereka. "Baiklah, kalian bawa ini. Lemparkan ini saat peluru kalian menipis. Arra?"
"Arraseo." Jawab Tao sambil mengambil tas yang diberikan Suho. Mereka semua mengikuti langkah Tao menuju gedung yang berada di paling ujung.
"Siapkan senjata kalian. Usahakan untuk tidak menghabiskan peluru. Amunisi sangat susah dicari saat ini." Ucap Tao. Ia memberi kode pada Chanyeol untuk segera turun. Namja bersurai pirang itu mengokang senjatanya dan mulai membidik para zombie itu satu persatu.
DOR DOR DOR
DOR DOR
Suara tembakan dari Tao dan yang lainnya membuat kerumunan zombie yang sedang mengerumuni gedung di sebrang sana beralih pada gedung yang sedang di tempati Tao.
"Lemparkan granat-granat itu!" Suruh Tao yang diangguki oleh semuanya.
DUAR! DUAR!
DOR DOR DOR
"Bagus, mereka sudah berhasil menyebrang." Ucap Tao membuat semuanya bernafas lega.
"Ayo kita balik." Ajak Chen sambil meraih tas yang masih penuh dengan senjata-senjata itu.
"Wonwoo, kajja!" Wonwoo menerima uluran tangan Baekhyun dak ikut berjalan dibelakangnya.
Tapi, tiba-tiba saja langkahnya terhenti begitu mata sipitnya menangkap sesuatu. Ia melihat sebuah boneka terjepit pada pintu yang ada di sudut atap itu.
"Eh? Wae?" Baekhyun berseru dari depannya.
" A-aniya, hyung. Aku akan menyusul nanti." Balasnya dan langsung melangkah mendekati pintu itu.
Sebuah boneka teddy bear berada di bawah pintu berwarna abu itu. Bulu-bulu coklatnya berubah menjadi merah kehitaman. Mungkin karena darah atau lainnya. Tangannya terulur untuk mengambil boneka teddy bear yang berukuran kecil itu.
Baru saja ia membersihkan debu-debu yang menempel pada boneka itu, ia sudah dikejutkan oleh zombie yang tiba-tiba datang dari dalam pintu di depannya.
"Whoa!"
Karena terkejut, dirinya tidak bisa menjaga keseimbangan dan terjatuh terduduk di depan zombie yang sudah bangkit itu.
"Wonwoo!" Baekhyun yang tidak jauh disana berseru. Ia juga ikut terkejut dengan kedatangan zombie itu yang secara tiba-tiba.
"Graahh!" Zombie itu berjalan menuju Wonwoo yang masih terduduk di depannya. Sedangkan Wonwoo, ia masih belum sadar sepenuhnya. Ia hanya bisa menghindar dengan terus menerus mundur.
"Graawrr!" Zombie itu menyerang Wonwoo. Giginya sudah siap menggigit leher Wonwoo, jika saja namja Jeon itu tidak menghalanginya dengan pistol yang ia miliki.
Tangan kanannya mengambil pisau kecil yang ada di sisi kanan pinggangnya. Ia sudah siap menusuk kepala zombie wanita itu.
PRANG!
Pisau kecil itu jatuh karena hempasan dari tangan makhluk menjijikkan itu. Tangannya berusaha menggapai bahu Wonwoo dan menggigit lehernya.
DOR!
Zombie itu tumbang di atas tubuh kurus Wonwoo dengan darah yang mengucur dari kepalanya. Tembakan tadi tepat mengenai kepala makhluk itu dan membuatnya tumbang begitu saja.
"Huhh.. huhh.."
Baekhyun berlari mendekati Wonwoo yang terlihat masih shock. "Gwenchana?"
Wonwoo mengangguk-angukkan kepalanya. Ia menyingkirkan badan zombie yang baru saja menimpanya. Darah milik makhluk itu berceceran dimana-mana, terutama di jaket yang Wonwoo pakai.
Mingyu dan yang lainnya datang. Pemuda Kim itu mendekat kearah Wonwoo, "Hyung, gwenchana?"
"Nan gwenchanha." Jawab pemuda manis itu sambil berusaha bangkit. Boneka teddy bear yang ia lihat tadi masih setia berada di genggamannya.
"Itu.. apa?" Tanya Mingyu yang sadar dengan benda yang ada di genggaman kekasihnya.
"Ah, ini boneka yang tadi aku temukan." Wonwoo mengangkat boneka itu sambil menggoyang-goyangkannya.
"Ini masih bagus. Jadi aku mengambilnya. Walaupun sedikit kotor, sih." Wonwoo memasukkan boneka itu pada tas selempangnya.
"Kau hampir saja digigit gara-gara boneka itu saja? Ish, hyung!" Mingyu mencubit pipi Wonwoo gemas. Ia hampir saja digigit karena sebuah boneka. Heol!
"Ish! Sakit tau!" Wonwoo menghempaskan tangan Mingyu dan berjalan lebih cepat daripada namja tinggi itu. Mingyu hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat Wonwoo yang seperti itu, sangat keras kepala.
.
"Malam akan datang, hari ini akan dingin seperti kemarin. Kita tidak punya barang untuk dibakar." Ucap Suho pada Chanyeol dan yang lainnya.
"Aku akan mencari buku atau kertas yang tidak terpakai di dalam gedung ini." Ucap Mingyu tiba-tiba.
"Baiklah. Aku ikut bersamamu. Dan yang lainnya?" Suho melihat ke sembilan temannya. Hanya lima dari mereka yang mengangkat tangan.
"Baiklah, kita pergi sekarang." Mereka pun menuju pintu yang menghubungkan atap dengan lorong lantai teratas gedung itu.
TAP TAP
KREEK
"Sstt, aku mendengar sesuatu." Suho berjalan terlebih dahulu dengan mengendap-endap. Ia menyiapkan pisau kecil di tangan kanannya.
PRANG!
Suho mendekat kearah sebuah ruangan dan mengintip dari balik tembok. Ia melihat ada dua zombie yang sedang berkeliaran diruangan itu. Ia memberi kode pada yang lainnya untuk berjalan lebih dulu. Sedangkan dia yang akan menutup pintu ruangan itu.
"Grhh.." Erangan zombie itu terdengar sedikit menjauh.
KREEEK
"Graahhh!"
CKLEK!
BRAK! BRAK!
"Hahh.." Ia berhasil menutup pintu itu.
Tak ingin berlama-lama disana, ia segera menyusul ke-enam dongsaengnya yang sudah berada di depan sana. Mereka berada di sebuah ruangan yang penuh dengan meja dan kursi.
"Sebuah perkantoran, eoh?" Mingyu bergumam sambil mengumpulkan banyak buku serta bahan-bahan yang mudah terbakar lainnya.
"Hei, kalian tidak ada berniat ke kantinnya?" Tawar Dokyeom.
"Ini ada beberapa tas."
"Baiklah, kita akan ke kantinya. Tapi, kita lihat situasi terlebih dahulu." Ucap Chanyeol.
Semuanya melanjutkan mencari-cari bahan yang bisa dibakar selain kertas. Mengelilingi satu ruangan itu sambil mencari persediaan.
"Kantinnya ada di satu lantai di bawah sini. Mungkin tidak banyak zombie dibawah sana." Ucap Dino.
"Oke, kajja!" Ajak Hoshi.
.
"Mereka lama sekali." Gumam Tao.
"Aku akan menyusul mereka." Tiba-tiba Xiumin yang ada disebelahnya menyahut begitu saja. Tao mengangguk setuju.
Xiumin melangkah mendekati pintu yang menghubungkan atap dengan lorong di dalam gedung tinggi itu. Baru saja tangannya menyentuh gagang pintu, pintu itu sudah terbuka dengan sendirinya.
Kriiieeett
"WHOAA!" Xiumin tiba-tiba berteriak, mengagetkan ke-tujuh pemuda yang sedang berada di balik pintu.
"Wae hyung?" Tanya Suho.
"Kalian mengagetkanku. Mengerikan!" Xiumin menutup matanya.
"He? Apanya yang mengerikan hyung?"
"Wajah dan tubuh kalian." Setelah mendengar jawaban Xiumin, ke-tujuh pemuda itu melihat tubuh mereka masing-masing.
Tubuh ke-tujuhnya dipenuhi oleh bercak-bercak darah. Wajah, tangan, dan baju mereka sangat kotor.
"Oh, ini karena tadi." Sahut Dino enteng.
"Tadi? Ada apa?" Tiba-tiba saja Xiumin mendekat dan wajahnya begitu penasaran.
"Tadi kami melawan banyak zombie hyung. Untung saja kami bisa menghabiskannya, kalau tidak.. aku tidak tahu, deh." Curhat Dino.
"Aigoo, uri maknae.. kau kasihan sekali. Bajumu kotor, dan pasti kau tidak bawa baju ganti, hm?" Xiumin mengelus-elus puncak kepala Dino. Ia mengajak Dino menuju tasnya dan memilihkan si maknae itu baju.
Suho dan yang lainnya memberikan barang-barang yang mereka temukan tadi. Banyak buku-buku tebal di tangan Mingyu dan Vernon. Sedangkan Dokyeom, Suho dan Hoshi, ditangan mereka penuh botol-botol minuman dan makanan-makanan ringan.
"Whoa! Kalian bawa banyak sekali." Ucap Tao senang. Ia membantu Dokyeom dan Hoshi untuk meletakkan makanan-makanan yang mereka bawa.
"Baiklah. Sekarang giliran kalian yang mempersiapkan semuanya." Ucap Suho sambil melenggang pergi dari sana.
"Ck. Arraseo." Jawab Tao sedikit ketus. Mereka semua melakukan pekerjaan masing-masing. Ada yang menyalakan api unggun, mempersiapkan makanan, mengecek hal-hal yang kurang, dan lain-lain.
"Hyung.." Mingyu mendekati Wonwoo yang sedang mengisi peluru pada magazen.
"Hm?"
"Kau sedang apa?" Tanya Mingyu hanya sekedar basa-basi.
"Mengisi peluru. Wae?"
"Aniyo."
GREP
Tiba-tiba saja tangan kekar itu melingkari pinggang ramping Wonwoo dan mendekap tubuh kurus itu dengan erat. Hembusan nafas Mingyu terasa menggelitik disaat mengenai tengkuk pemuda Jeon itu.
"Ada apa, hm?" Tanya Wonwoo yang tahu sesuatu. Mingyu menyembunyikan wajahnya pada ceruk leher Wonwoo.
"Aniyo."
Wonwoo melepas pelukan Mingyu dan berbalik menghadap pemuda tinggi itu. "Ada apa, hm? Kau mau sesuatu? Atau apa?"
"Aniyo, aku tidak mau apa-apa. Hanya ingin memelukmu saja." Jawabnya sambil kembali memeluk Wonwoo.
"Aku senang kita selamat, hyung. Aku senang bisa melihatmu dengan keadaan baik. Aku senang kita semua selamat dalam keadaan baik-baik saja. Aku senang.."
"..kita tidak menjadi salah satu dari mereka." Lanjutnya dengan isakan yang perlahan keluar dari bibirnya.
Wonwoo mengangkat wajah Mingyu, menatap mata yang berair itu. Ia mengusapkan ibu jarinya untuk menghapus jejak-jejak airmata yang tertinggal di pipi pemuda tinggi itu.
"Ssshh, kita semua akan selamat. Kau tenang saja, hm? Uljima.. okey?" Mingyu menghapus air matanya dan senyuman mulai merekah dari bibirnya.
"Kau yang terbaik, hyung." Ucapnya sambil kembali memeluk Wonwoo erat. Sangat erat.
"Arraseo, arraseo.. Sekarang, kau bantu mereka menyiapkan semuanya. Ingat! Jangan menangis, okey?" Wonwoo menunjuk wajah Mingyu main-main.
"Shirreo, aku mau disini bersamamu." Jawab Mingyu sambil balas mengacungkan telunjuknya menunjuk wajah Wonwoo.
"Aigoo.. Arraseo.."
.
Matahari mulai terlihat menghilang sedikit demi sedikit, api unggun yang Tao dan Chen buat berkobar sangat besar karena kertas-kertas yang mereka masukan dari tadi. Baekhyun, Jeonghan, Wonwoo, Woozi, Luhan dan Kyungsoo memilih untuk menghangatkan diri di dekat api unggun besar itu. Sedangkan sisanya, memilih berkeliling di pinggiran gedung itu untuk melihat-lihat situasi.
"Baekhyun-ah, kau mau kemana?" Tanya Luhan saat ia melihat Baekhyun beranjak dari tempatnya.
"Hanya melihat-lihat sebentar." Jawabnya seraya menjauh dari api unggun.
Baekhyun melangkahkan kakinya menuju pinggiran gedung tinggi itu. Dari atap, ia dapat melihat zombie-zombie itu sedang mengerumuni gedung mereka. Ada juga yang hanya berjalan-jalan di jalan raya.
Tak sengaja, ia mengingat kejadian siang tadi. Kejadian disaat ia menyelamatkan Wonwoo dari zombie yang akan menerkam namja Jeon itu. Ia bisa menembak tepat sasaran mengenai kepala zombie itu hingga membuatnya tumbang sebelum terlambat.
TAP TAP
GREP
Tiba-tiba saja tangan datang dari arah belakangnya dan melingkar pada leher miliknya. Sesuatu yang basah dan lembut menyentuh pipinya berkali-kali. Ia sudah tahu siapa pelakunya, yang tidak lain adalah tunangannya, Park Chanyeol.
"Kau sedang apa disini, hm?" Tanya Chanyeol.
"Tidak ada. Hanya sedang melihat-lihat." Jawab Baekhyun enteng. Ia menyenderkan kepalanya pada dada Chanyeol, membuatnya bisa mendengarkan irama detak jantung dari pemuda tinggi dibelakangnya ini.
"Apa yang kau lihat? Gelap." Ucap Chanyeol yang hanya direspon sebuah gumaman oleh Baekhyun.
"Kau tahu? Tadi kau sudah membuktikannya." Chanyeol memindahkan kedua tangannya menjadi melingkari pinggang Baekhyun.
"Membuktikan apa?"
"Kau menyelamatkan Wonwoo dari zombie dengan menembak kepalanya. Dan, tepat!" Baekhyun tersenyum senang.
"Eum! Akhirnya aku bisa melakukannya. Awalnya, aku takut melakukannya. Kau tahu? Zombie itu sangat dekat dengan Wonwoo. Dan, kalau aku salah menembak, Wonwoo lah yang akan terkena. Tapi kalau aku tidak menembak makhluk itu, Wonwoo akan terkena gigit." Cerita Baekhyun.
"Dan hasilnya? Kau bisa kan? Kau menyelamatkan Wonwoo." Chanyeol mencubit kecil pipi Baekhyun.
"Ne~"
Chanyeol memeluk tubuh Baekhyun erat. Menghirup aroma tubuh mungil itu dan sesekali mengecupi pipi gembul milik Baekhyun.
"Gomawo, Yeol…" Gumam Baekhyun kecil.
.
"Semuanya! Lihat!" Dokyeom berseru disaat semua orang sedang fokus dengan makanan di hadapan mereka.
"Helikopternya sudah datang!" Seru Dino senang. Ia melepas makanannya yang sudah habis dan segera beranjak mengambil tasnya.
"Ayo semuanya siap-siap!" Seru Suho. Mereka semua mengambil barang masing-masing dan berdiri bersama kelompok mereka. Helikopter yang ditunggu-tunggu akhirnya datang, mereka tidak bisa menyembunyikan wajah bahagia mereka saat ini.
"Eum..Suho hyung, kaki Sohyun sedang sakit. Aku sudah mencoba mengobatinya, tapi belum juga sembuh hingga sekarang. Sepertinya disana alat-alatnya lebih canggih." Ucap Baekhyun pada Suho.
"Baiklah, kita akan menyembuhkannya disana. Kau jangan khawatir, ne?" Baekhyun mengangguk dan membantu Sohyun berdiri.
Suara helikopter terdengar begitu berisik. Angin yang terbuat dari baling-baling yang berputar itu mengakibatkan sampah-sampah serta banyak kertas yang berterbangan.
Saat sudah mendarat dengan sempurna, seseorang laki-laki bertubuh tegap keluar dari salah satu helikopter itu dan Suho segera menghampirinya.
"Sudah cukup lama, hyung." Laki-laki itu mengangguk. Ia menepuk pundak Suho memberi kode agar namja Kim itu untuk segera menaiki helikopter.
"Baiklah semua, sekarang kalian semua naik! Joshua dan Lay! Kalian bantu Sohyun untuk naik. Dan sisanya, masukkan barang-barang yang seperlunya!" Perintah Suho yang segera dilaksanakan oleh semuanya.
"Chanyeol, aku mempercayakan semuanya padamu. Kami akan menjemput kalian, pasti." Chanyeol mengangguk pasti.
"Hyung! Semuanya sudah masuk!" Seru Dino dari helikopter.
"Baiklah, aku pergi. Kalian baik-baiklah disini. Kami akan menjemput kalian sesegera mungkin." Pesan Suho yang diangguki oleh 6 namja di depannya. Ia berbalik dan mulai berjalan mendekati salah satu helikopter.
"Kita semua pasti bisa selamat dari virus ini." Gumam Suho sangat pelan.
.
.
.
TBC
HAII KALIANN! Udah lama nih hehehe, akhirnya update yah hm..
Semoga kalian gak bosen deh liat ini ff hehe, rada gajelas gitu yah ff-nya XD sama kek penulisnya nih XD rada miring miring gitu dehh wkwkwk
Oh iya, aku uda bilang bakal bales-balesin review dari kalian di chap 5 kemarin. So, aku balesnya disini yah~ semoga yang revienya dibales puas dengan jawaban aq :**
Devil Prince : Ada oknum2 tertentu yang nyebarin, nanti di chap selanjutnya bakal dijelasin kok :D
Kyunie : Tunggu chap selanjutnya aja yaahh hehe
Khyra : Kan wonu gabisa megang senjata, jadi Mingyu harus memastikaann he. Idenya dari mana? Dari hati kamu :** hehe
Chanbaekmama : bisa jadi bisa jadi, tapi lengkapnya liat chap selanjutnya yahh :D
Devil Prince : itu Suho
Okee selese hehe. Dikit yah? Hehe. Makasih loh bagi kalian yg udah relain waktu kalian buat baca ini ff :"" terharu aq tu :" makasih banyak juga yang udah review, aku baca semua kok, pada lucu-lucu ihh. Makasih ya yang udah semangatin, aq jadi malu / Makasi juga loh yang udah favorite sama follow /tebar kecup/ Cuap-cuapnya selese dulu yah, aq mau bertapa untuk mendapatkan ide dulu hehe.
Jangan lupa reviewnya yahhh! Aq tunggu loohh /
