Meanie - Chanbaek
SVT - EXO fic
M
.
Warn! TYPO(s)! YAOI! BL! AU! OOC!
Cerita murni buatan Author! Sisanya minjem.
.
DLDR kawan!
.
.
HAPPY READING and Enjoy ~
.
.
Tokyo, Japan
09.15 p.m JST
Helikopter-helikopter itu mendarat dengan mulus di tanah, kemudian terlihat Suho dan yang lainnya keluar bersamaan sambil membawa barang-barang bawaan mereka. Suho melihat sekelilingnya, dan ia dibuat penasaran dengan pagar-pagar seng yang mengelilinginya.
Ia juga dibuat bingung dengan suara ricuh yang berasal dari belakang mereka. Itu seperti suara geraman yang terdengar seperti suara gemuruh. Sangat ribut.
Tidak hanya bingung, ia juga dibuat terkesima oleh kota kecil yang berada di tengah-tengah pagar seng itu. Semua masyarakat yang ada disana terlihat begitu damai, walaupun diluar sana sangat banyak makhluk-makhluk aneh yang ingin menyantap tubuh mereka.
"Park, kau bawa mereka ke tempat penginapan. Panggilkan perawat untuk membawa gadis itu dan obati luka di kakinya." Perintah Sungjae yang berdiri di depan Suho dengan bahasa Jepang.
"Wakarimashita!" Jawab bawahannya sambil memberi hormat.
"Suho-ya, kau dan yang lainnya istirahatlah dulu. Biarkan gadis itu mereka yang urus."
Suho mengangguk dan menyuruh teman-temannya untuk mengikuti pria yang baru saja diperintahkan Sangjae.
"Em.. hyung. Dimana aku bisa bertemu denganmu?" Tanya Suho tiba-tiba.
"Nanti aku akan menemuimu." Jawab Sungjae sambil menepuk-nepuk pundak Suho. Suho pun mengangguk sambil berlalu meninggalkan Sungjae.
.
"Hyung, aku masih bingung. Sebenarnya ini tempat apa?" Buka Suho. Ia dan Sungjae sekarang sedang berjalan-jalan di atap gedung penginapan yang sangat tinggi.
Sungjae terdiam cukup lama. Ia terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu. Suho yang menyadari itu malah menyudutkan pria tampan di sebelahnya itu. "Hyung? Ini tempat apa?"
"Eh? Em.. Ini.. temp_"
BRAKK!
Belum selesai Sungjae menjawab, pintu yang ada di depannya sudah di dobrak oleh dua orang lelaki. Salah satunya adalah Dokyeom.
"Huh.. hyung.. huhh! Itu.. em.."
"Byoin de mondai ga arimasu! On'nanoko ga kyu ni kawarimashita!" Seseorang yang disebelahnya berucap dengan bahasa Jepang.
"Sugu ni kakuho! Nai yo ni bodo ga arimashita! Sore wa hoka o shotai shimasu!" Wajah Sungjae tiba-tiba memanik.
"Hyung! ada apa?" Tanya Suho pada Sungjae. Pemuda bermarga Yook itu segera meninggalkan Suho yang masih terbengong.
"Itu hyung, ada yang membuat kerusuhan. Lebih baik sekarang kita segera kesana!" Ucap Dokyeom panik. Mereka berduapun menyusul Sungjae menuju tempat yang dimaksud.
…
Wakarimashita : Saya mengerti.
Byoin de mondai ga arimasu! On'nanoko ga kyu ni kawarimashita! : Ada masalah di rumah sakit! Seorang gadis tiba-tiba berubah!
Sugu ni kakuho! Nai yo ni bodo ga arimashita! Sore wa hoka o shotai shimasu! : Amankan segera! Jangan sampai ada kericuhan! Itu akan mengundang yang lainnya!
…
WUSHH!
Angin malam tertiup dengan sangat kencang. Baekhyun dan Luhan memeluk tubuh mereka sendiri karena hawa dingin yang menusuk.
"Uuh, kenapa sedingin ini eoh?" Keluh Luhan.
Ia mengusap-usap tangannya lalu menempelkannya pada kedua pipinya. Bibirnya bergetar, menandakan dirinya benar-benar butuh kehangatan.
CKLEK
Pintu di sudut atap terbuka, menampilkan ketiga namja dengan tinggi yang menjulang. Mereka mengambil tas-tas yang ada di dekat Baekhyun dan menyampirkannya pada pundak masing-masing.
"Semuanya, sambil menunggu helikopter-helikopter itu menjemput, lebih baik kita masuk ke dalam gedung ini. Kami sudah menemukan tempat yang pas untuk tidur, hanya untuk malam ini saja." Semuanya menoleh, melihat Chanyeol yang baru saja bicara. Lalu, semua yang ada disana bangkit dan mulai berjalan memasuki gedung yang dipimpin Chanyeol.
CKLEK
Pintu sudah tertutup. Keadaan gelap mulai mendominasi pada gedung itu. Satu-satunya sumber cahaya adalah dari senter yang sedang di genggam Chanyeol.
BUK BUK!
"Grhh.."
"Hwa_ mmpp!" Luhan memekik tertahan –setelah bibirnya di bekap terlebih dahulu oleh Sehun.
"Shh.. jangan berisik, Lu." Tenang Sehun. Luhan hanya mengangguk dan melanjutkan langakahnya.
Chanyeol mengarahkan cahaya senter pada sebuah ruangan yang sudah berisi 6 sofa. Ia memberi kode untuk semuanya agar masuk ke ruangan yang ditunjuknya.
"Malam ini kita akan tidur disini." Ucap Chanyeol yang diangguki oleh semua orang yang ada disana.
Chanyeol, Mingyu Sehun dan Seungcheol menarik benda-benda berat untuk menutupi pintu. Hanya jaga-jaga, siapa tahu ada zombie yang masih berkeliaran.
.
"Enghh.."
Wonwoo melenguh tidak nyaman. Ia menggeliat, mencari posisi yang pas untuk tidur. Mingyu yang ada di sebelahnya terbangun karenanya. Mingyu membuka sebelah matanya –sambil memandang Wonwoo bingung.
"Ada apa, hm?" Tanya Mingyu dengan suara seraknya.
"Bokongku pegal." Ucap Wonwoo pelan. Mingyu memindahkan tangannya dari pinggang Wonwoo menuju bokong kekasihnya.
"Kau mau apa?!" Bentak Wonwoo tertahan.
Tidak mungkin ia membentak Mingyu dalam keadaan sepi seperti ini. Ia menggeplak tangan mesum Mingyu yang sedang meremas pelan bokongnya.
"Tidur tengkurap." Bukannya menjawab, Mingyu malah memerintah Wonwoo.
"Cepat." Baru saja ingin memprotes, kalimatnya sudah di potong oleh bentakan tertahan dari Mingyu.
"Awas saja kalau melakukan yang aneh-aneh." Dengan wajah mengantuk, Mingyu mengangguk-angguk. Matanya benar-benar terasa berat untuk dibuka.
Wonwoo pun menuruti perintah Mingyu. Ia tidur dengan tengkurap. Ia merasa was-was dengan tangan Mingyu yang masih ada di bokongnya. Kalau saja pemuda itu melakukan yang aneh-aneh, awas saja!
Setelah Wonwoo tidur tengkurap, tangan Mingyu bergerak untuk menekan-nekan pinggul hinnga bokong kekasihnya. Ia mengurutnya agar kekasihnya itu bisa tidur dengan nyenyak.
"Sudah enakan?" Tanya Mingyu setelah beberapa menit mengurut pinggul dan pinggang Wonwoo. Wonwoo hanya menjawabnya dengan gumaman tidak jelas. Sepertinya pemuda Jeon itu sudah mulai tertidur.
5 menit sudah Mingyu memijat Wonwoo, ia menghentikan aktifitasnya dan tertidur. Lebih tepatnya ketiduran. Mingyu benar-benar lelah hari ini. Benar-benar hari yang panjang.
.
"Baek.. irreona.."
Indra pendengaran Baekhyun menangkap suara sang kekasih yang sedang membangunkannya.
"Engg.."
Perlahan mata sipit itu terbuka. Baekhyun menguap lebar sambil merentangkan kedua tangannya. Sedangkan Chanyol, ia malah terkekeh lucu melihat tingkah kekasih manisnya itu.
"Sebentar lagi, Yeol. Ngantuk.." Rajuknya. Tangannya bergerak seolah-oleh sedang meraih selimut.
"Mana selimutku~ kembalikan. Aku masih ngantuk~" Ia memukul-mukul pelan lengan kanan Chanyeol.
"Tidak ada selimut, Baek. Kita tidak sedang dirumah." Bisik Chanyeol.
Baekhyun terkekeh kecil sambil mengibaskan tangannya, "Kau bercanda."
"Cepat kembalikan~ aku kedinginan~"
Chanyeol tersenyum kecut mendengarnya. Ia menangkup kedua pipi gembul Baekhyun sambil berbisik pelan, "Buka matamu, Baek. Dunia tidak lagi seperti dulu."
Baekhyun berjengit. Ucapan Chanyeol itu membuat kedua matanya melebar.
"A-apa.. yang.._"
Matanya melihat sekitarnya. Ia tidak berada di apartmentnya. Bukan di kasurnya yang empuk.
Ia melihat keadaan sekelilingnya yang benar-benar berantakan. Beberapa meja dan lemari menutupi pintu masuk. Ruangan yang pengap dan juga berdebu itu di tiduri oleh 12 orang namja, termasuk dirinya.
Air matanya mulai menetes, "M-mian.. aku melupakannya."
Chanyeol memeluk tubuh mungil itu sambil mengusap-usap pelan surai cream milik kekasihnya. "Tidak apa. Mungkin, kau belum terbiasa dengan keadaan ini. Aku yakin, kau pasti akan terbiasa nantinya."
Baekhyun mengangguk. Ia melepas pelukannya pada tubuh Chanyeol dan memiringkan kepalanya lucu.
"Yeol, hari ini kita akan berdiam disini?"
"Eum, mungkin iya.. mungkin juga tidak."
"Wae? Bukannya kita harus menunggu mereka datang?" Tanya Baekhyun lagi.
"Itu kalau situasinya baik-baik saja. Kalau tidak? Kita tidak mungkin 'kan berdiam diri disini terus?" Baekhyun mengangguk-angguk paham. Ia kembali memeluk tubuh tinggi Chanyeol erat.
"Aku mau dunia kembali seperti semula, tidak seperti ini."
"Semua juga menginginkan hal yang sama, Baek."
.
"Mwo? Sohyun.."
Tao menunjuk yeoja mungil yang sedang membelakanginya itu. Sohyun menoleh, menatapnya tepat pada kedua bola matanya.
DEG
"D-dia.."
Gadis mungil itu mulai berjalan mendekat. Ia berjalan dengan terseok-seok dengan mulut yang bersimbah darah.
"Erhh.."
Tao melangkahkan kakinya mundur secara perlahan. Ia tidak lari maupun melawan. Matanya menatap tubuh Sohyun yang sudah memiliki banyak bercak darah.
B-bagaimana bisa?
"Chotto! On'nanoko kara hanarete taizai!"
Sebuah teriakan terdengar dari balik tubuh mungil Sohyun. Tao belum juga tersadar dari lamunannya. Ia masih terus menerus melangkah mundur hingga,
"Raaaggghhh!"
Sohyun berjalan cepat menerjang tubuh Tao. Tao yang belum siap pun reflex menjulurkan tangannya untuk menahan bahu kecil Sohyun.
"Wraarrww.. ragghh!"
Tao dapat melihat jelas kulit yeoja mungil itu yang mengeriput. Rambutnya yang panjang itu menipis, sampai-sampai kulit kepalanya terlihat dengan jelas. Matanya yang hitam berubah menjadi putih sedikit keabuan.
"Raagghh! Erghh..Ragghh!"
Mulut Sohyun bergerak seperti ingin mengigit leher Tao. Suara gigi-giginya yang bertabrakan terdengar begitu nyaring. Sohyun terlihat seperti orang yang sangat kelaparan.
"Wae? Wae, Sohyun-ah? Wae kau bisa berubah seperti ini?" Gumam Tao pedih. Tangan kanannya melepas pundak Sohyun dan mengambil pisau kecil yang ada di kantong celananya.
Merasa pundak kanannya tidak tertahan, Sohyun semakin gencar bergerak mendekat untuk menggigit Tao yang masih lengah. Tao yang baru menyadari pergerakan Sohyun, segera bergerak cepat untuk kembali menahan pundak gadis itu.
Pisau kecil bertengger pada tangan kanannya. Kilatan cahaya pada pisau itu menandakan betapa tajamnya pisau itu, walaupun hanya sebesar setengah dari tangan manusia.
"Akh.." Ringisnya. Tao merasa pergelangan tangannya sedikit tergores.
"Raggghh! Erghh.."
"Baekhyun hyung, Sohyun, mianhae.."
Setelah mengucapkannya, Tao segera melesatkan pisau kecil itu pada pucuk kepala Sohyun. Kemudian Sohyun terjatuh dengan darah yang mengucur deras dari kepalanya.
Tao menunduk dalam. Entah mengapa, ia merasa bersalah pada Baekhyun yang sudah menitipkan Sohyun padanya. Ia melihat tubuh kurus Sohyun yang tergeletak di depannya. Darah mulai memenuhi lantai putih itu, tempat mereka berada sekarang.
"S-sumimasen, anata wa daijobudesuka?"
Pemuda yang tadi meneriakinya berlari kecil mendekatinya. Tao hanya diam sambil menatap pemuda itu.
"Daijobudesuka?" Tanya pemuda itu lagi.
Tao menunjukkan wajah tidak mengertinya. Ia tidak mengerti dengan bahasa Jepang, terlebih pemuda itu mengucapkannya dengan sangat cepat lengkap dengan nada paniknya yang membuat suaranya tidak jelas terdengar.
"Dai-jo-bu-desu-ka?"
Pemuda itu menggerak-gerakkan badannya, seperti menyuruh Tao untuk membaca bahasa tubuhnya. Tao lagi-lagi mengernyit tidak mengerti. Ayolah, dia juga tidak bisa membaca bahasa tubuh seseorang.
Pemuda itu menghela napas pelan. Wajahnya berubah menjadi serius -seperti orang yang sedang berpikir keras. Tiba-tiba saja ia menjentikkan jarinya.
"Are you okay?"
Nah! Kalau begini 'kan Tao tau.
"Hm, yeah. I'm okay." Jawabnya.
"This, girl? Whether this girl will remain muted here?"
"Of course no."
"Ah.. gomenne.."
Tao kembali mengernyitan dahinya. Ah, susah juga berbicara dengan orang ini. Ia benar-benar tidak mengerti bahasa Jepang selain, ya atau tidak.
"I'm sorry."
"Ah.. hm. It's okay. Where the mogue, or something like that?" Tanya Tao.
"Ah, there."
Tao mengangguk-angguk. Ia berjongkok dan mulai mengangkat tubuh mungil Sohyun untuk di bawanya pada ruang mayat.
"Akh!"
Baru saja ia mengangkat tubuh Sohyun, pergelangan tangannya kembali terasa nyeri.
"A-are you okay?" Cemas pemuda di depannya.
"Hm. You take this girl in the morgue. I will seek out the drug." Jawab Tao sambil kembali berdiri.
"Me? Are you sure?" Namja itu menunjuk dirinya sendiri.
"Then who will? Did others among the two of us?" Tanya Tao. Pemuda itu terdiam sebentar, lalu menggelengkan kepalanya.
"So? It's you." Ucap Tao sambil melenggang pergi. Sedangkan, pemuda tinggi itu hanya menatap tubuh Sohyun yang sudah bersimbah darah dibawahnya.
.
"Tao? Wae?" Lay menyapa Tao yang baru saja mendatangi ruangannya.
"Ini hyung. Aku hanya mencari obat." Jawabnya.
"Kau flu?" Tao menggeleng. Ia menyodorkan pergelangan tangannya yang lagi-lagi terasa nyeri.
"Ini kenapa? Kok bisa begini?"
Lay melihat luka tusukan dengan sedikit goresan pada pergelangan tangan Tao.
"Tadi, aku.." Lay menunggu jawaban dari Tao.
"Aku terkena pecahan beling." Jawab Tao.
"Mwo? Kau habis melakukan apa, hm?" Tanya Lay sambil bangkit dari duduknya. Ia mencari semua bahan yang diperlukan untuk mengobati luka Tao.
"Aku tidak sengaja menjatuhkannya. Padahal, barang itu baru saja aku beli." Cerita Tao sambil merengut lucu.
"Aigoo, kau pasti merasa kehilangan. Baiklah, kemarikan tanganmu."
Lay langsung mengobati luka Tao yang menurutnya sangat dalam itu. Untung saja, urat nadinya tidak terkena.
.
"Sungjae hyung!"
Suho mengejar Sungjae yang baru saja keluar dari sebuah ruangan. Pemuda yang di panggil itu menoleh dan memberikan tatapan bingungnya.
"Ada apa tadi? Apakah ada masalah serius?" Tanya Suho.
"Aku tidak tahu ini bisa dibilang serius atau tidak. Tapi, sepertinya ini serius." Jawab Sungjae.
"Maksud hyung?"
Sungjae mengajak Suho dan Dokyeom –yang masih mengikuti Suho dari tadi- berbicara sambil berjalan.
"Jadi, tadi itu ada dua orang yang mendatangi bawahanku. Mereka terlihat seperti habis diserang oleh zombie. Tangan mereka penuh dengan gigitan, bahu, kaki dan anggota tubuh lainnya."
"Baru saja bawahanku itu akan menolong mereka, keduanya langsung tak sadarkan diri saat itu juga. Mereka tewas seketika. Baru saja mereka akan membawa keduanya pergi, tiba-tiba salah satu dari mereka bangun dan menyerang salah satu bawahanku. Dan berakhir dengan ini, 3 orang langsung meninggal malam ini." Jelas Sungjae.
"Aku turut berduka." Gumam Suho. Sungjae hanya tersenyum dan mengangguk menanggapinya.
Di sisi lain, seorang pemuda tinggi sedang menyeret tubuh kurus seorang gadis dengan gerutuan yang selalu keluar dari mulutnya. Ngomong-ngomong, ia menggerutu dengan dua bahasa. Jepang dan Korea. Bahasa Koreanya lebih kental dari pada bahasa Jepangnya.
"Huh, kenapa berat sekali, sih? Zi hyung pakai acara tidak mau membantu lagi. Awas saja!" Ia menyeret tubuh mungil itu memasuki ruangan yang baru saja di tinggal oleh Sungjae.
"Disini terlalu seram." Gumamnya kecil sambil mengusap-usap tengkuknya yang mendadak merinding.
"Aigoo.. Pyo!" Panggil sebuah suara dari arah belakangnya. Ia menoleh dan mendapatkan seorang sedang berdiri dengan jarum suntikan yang bertengger di tangannya dan masker yang menutupi 3 per 4 wajahnya.
"YAAA! KAU SIAPA HAH?!"
Pemuda yang dipanggil Pyo itu segera mendorong tubuh pemuda di depannya dan berlari kencang untuk keluar dari ruangan itu.
YUP!
Dari ruang mayat!
"Seharusnya aku menyuruh Zi hyung saja kalau seperti ini. Huh!"
BUGH
Ia dengan sengaja menendang pintu kamar mayat itu. Ia tidak peduli mayat-mayat yang di dalam sana mendengarnya atau tidak, sekarang ia benar-benar kesal. Siapa sih yang mengagetkannya tadi? Tidak tahu apa, orang lagi merinding juga. Namja bername-tag Pyo itu segera meninggalkan kamar yang pengap penuh dengan mayat-mayat itu.
CKLEK
Sepeninggalan Pyo, pintu kamar mayat itu terbuka dan menampilkan sosok pemuda bersurai blonde tengah mengernyit bingung. "Kenapa ia lari?"
.
Pagi datang, semua orang yang ada dilingkungan itu berkumpul pada sebuah pemakaman besar yang ada di kota kecil itu. Setelah menghadiri upacara kematian, mereka memilih bubar dan melakukan kegiatan masing-masing.
Suho berjalan menuju pagar-pagar yang terbuat dari seng itu. Suara ribut dari arah luar masih terdengar hingga sekarang. Bahkan sekarang, tedengar lebih besar dan banyak.
"Hei, hyung." Tao menepuk pundak Suho pelan. Namja Kim itu terkejut dengan kedatangan Tao yang tiba-tiba.
"Aish! Aku kira siapa. Wae?" Tanya Suho.
"Tidak ada. Kau ada urusan apa disini? Dan.. itu suara apa?" Tao memperhatikan tembok seng itu. Ia mendengar suara berisik itu dari awal ia datang ke sini.
"Molla. Dari awal aku juga penasaran." Jawab Suho sambil mengangkat bahunya.
"Akh.." Tiba-tiba Tao meringis sambil memegangi kepalanya.
"Wae, eoh? Kau kenapa?" Tiba-tiba saja Suho menjadi panik.
"G-gwen _"
BRUK!
.
"Tao, gwenchana?"
"Tao-ya.."
"Dia tiba-tiba pingsan, aku tidak tahu apa-apa."
"Gwenchana?"
Lay yang ada di samping Tao menyapa namja China itu. Tao hanya mengangguk sambil memegangi kepalanya yang masih pusing.
"Kau demam. Kau harus istirahat, Tao." Cemas Lay.
"Lay ge, aku tidak apa. Hanya sedikit pusing. Demamnya akan turun nanti." Jawab Tao kekeuh.
"Huuhh, tapi kau harus istirahat sekarang okey? Obatmu ada disini. Jangan lupa diminum, ne?" Tao mengangguk.
"Aku akan kembali. Annyeong!"
Lay melambai sambil meninggalkan Tao dan Suho di dalam ruangan itu.
"Senyumannya.." Gumam Suho pelan. Tao yang sedang meminum air mineral sedikit tersedak mendengarnya. Tiba-tiba saja ia tersenyum aneh pada Suho.
"Ekhem.. senyumannya kenapa hyung?" Tanya Tao jahil.
"Manis.." Jawab Suho dengan gumaman. Wajahnya terlihat berseri-seri, sangat berbeda dengan Tao yang sekarang sedang menahan tawa.
Suho terdiam sejenak, lalu menggelengkan kepalanya berkali-kali. Suara kekehan Tao terdengar di telinganya.
"Ya! Wae?" Tao hanya menggeleng sambil menahan tawanya.
"Aish! Aku pergi dulu, kau ingat! Minum obat itu! Lalu istirahat! Jangan membantah!"
"Arraseo." Jawab Tao masih dengan kekehannya.
.
"Annyeong, ge."
Minghao menyapa Jun yang sedang asyik melihat-lihat koleksi senjata disana.
YUP!
Tempat itu sangat lengkap. Koleksi senjata mereka hampir lengkap. Perumahan untuk berlindung saat malam dan siang cukup untuk menampung semua yang ada disana. Rumah sakit dan dokter-dokter yang sudah berpengalaman pun ada disana. Hanya saja, pertolongan dan tempat yang lebih baik lagi tidak ada disana. Mereka hanya dilindungi oleh lingkaran pagar yang terbentuk oleh seng. Dan itu bisa saja roboh tanpa ada yang ketahui.
"Hm? Ada apa?" Tanya Jun.
"Ah, aniyo. Aku hanya sedang melihat-lihat di sekitar sini. Dan aku melihatmu masuk keruangan ini." Jun menganggukkan kepalanya paham.
"Kau sendiri ada apa kesini?" Tanya Minghao.
"Aku hanya melihat-lihat koleksi senjata mereka. Mereka mempunyai semuanya. Ah, betapa nyamannya." Gumam Jun di akhir kalimat.
BRAK!
PRANG!
"Huh? Suara apa itu?" Minghao tiba-tiba panik. Perasaan tidak enak mulai menjalar ditubuhnya. Jun mendekati jendela dan membuka gordennya.
"Astaga.."
.
"Hei, hyung! Kau sedang apa? Wajahmu terlihat kelelahan." Sapa Joshua yang sedang asyik dengan lembaran-lembaran yang ada di hadapannya.
"Tao sakit. Tiba-tiba saja ia pingsan di depan Suho. Dan sekarang ia demam." Curhat Lay pada Joshua.
"Ah, aku juga. Aku sedang banyak pasien sekarang. Aku benar-benar lelah hari ini." Keduanya terduduk lesu.
BRAK!
"S-suara apa itu?" Joshua berjalan mendekat kearah jendela.
"T-tidak mungkin.. Ini tidak mungkin." Joshua berseru histeris. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Tiba-tiba saja badannya terjatuh di lantai.
"Ini tidak mungkin.."
"Ada apa?"
Lay yang melihat kepanikan Joshua mulai merasakan hawa yang aneh. Ia mengintip dari jendela. Betapa terkejutnya ia melihat apa yang sedang terjadi di bawah sana.
"K-kenapa bisa?"
.
"Annyeong hyung! Bagaimana harimu? Menyenangkan?" Dokyeom dengan cengiran lebarnya menyapa Suho yang baru keluar dari rumah sakit.
"Hm, bisa dibilang iya bisa juga dibilang tidak."
"Wae? Ini benar-benar hari yang menyenangkan hyung." Suho dan Dokyeom berjalan menuju gedung pusat.
"Ya ya ya, terserah padamu." Jawab Suho lesu.
BRAK!
PRANG!
"Grahhhh!"
"Omo!"
Dokyeom menutup mulutnya. Ia benar-benar terkejut dengan keadaan yang ia lihat sekarang. Pagar-pagar seng itu roboh. Semuanya.
Suho dan Dokyeom semakin terbelalak dengan kedatangan ratusan zombie yang ada di balik pagar seng tersebut. "Aku menarik kembali ucapanku."
"Ini bukan hari yang menyenangkan." Suho segera menarik Dokeyom untuk masuk kedalam kantor pusat.
Ratusan zombie itu menyebar dan memakan manusia-manusia yang melintas dihadapan mereka. Teriakan kesakitan dan pilu mulai terdengar memenuhi lingkungan itu.
.
"Suho! Apa yang terjadi?!"
Sungjae berlari mendekati Suho dan Dokyeom yang sedang berusaha mengontrol nafas mereka masing-masing.
"I-itu.. pagar.." Jawab Dokyeom terputus-putus. Nafasnya belum stabil.
"Pagarnya roboh. Ratusan atau mungkin ribuan zombie datang menyerang." Jelas Suho.
"Shit! Bagaimana bisa? ARGHH!" Sungjae berjalan melewati Suho dan Dokyeom.
"Hyung! Jangan turun!" Seru Dokyeom. Bersamaan dengan itu, Sungjae melihat puluhan zombie mendatanginya dengan setengah berlari.
"GRAHHHH!"
"Cepat lari!"
…
Chotto! On'nanoko kara hanarete taizai! : Hei! Jauhi gadis itu!
S-sumimasen, anata wa daijobudesuka?: Permisi, apakahkau baik-baik saja?
.
.
.
TBC
Hai kalian! Aku baliik! hehe
Sorry lama menghilang :(
Aku penasaran, ff ini ditungguin ga ya?
hm..
Pasti ditungguin! iya kan? yakan?
iya dong!
hehe
udah deh, jangan lupa review and favorite yah!
don't forget guys, ILY
