Meanie - Chanbaek
SVT - EXO fic
M
.
Warn! TYPO(s)! YAOI! BL! AU! OOC!
Cerita murni buatan Author! Sisanya minjem.
.
DLDR kawan!
.
.
HAPPY READING and Enjoy ~
.
.
"Gyu, irreona.." Wonwoo menggerak-gerakkan badan tinggi Mingyu. Sedangkan, sang empu hanya menggeliat tidak suka sambil mengerucutkan bibirnya.
"Ya! Semuanya sudah siap. Kau tidak mau bangun?"
"Engghh.. nanti hyung. Masih ngantuk." Jawab Mingyu sambil membalik posisinya menjadi membelakangi Wonwoo membuat pemuda Jeon itu menggeleng-geleng tak percaya.
"Ck, ya sudah. Terserah kau saja." Tutup Wonwoo dan langsung pergi meninggalkan Mingyu. Pemuda kurus itu berjalan mendekati Baekhyun yang sedang mengecek persediaan.
"Hyung, apa ada yang kurang?" Tanya Wonwoo.
"Eh? Tidak ada. Semua sudah lengkap hehe.." Jawab Baekhyun sambil menyengir.
"Semuanya, perhatian!" Seruan Chanyeol menggema diruangan itu. Semuanya di buat menoleh, termasuk Mingyu.
"Kita akan menunggu diluar lagi seperti kemarin. Tapi, kalau sampai nanti malam mereka juga tidak ada.. kita akan meninggalkan gedung ini." Jelasnya.
"Mwo? Kau yakin?" Tanya Kai tidak percaya.
"Tentu."
"T-tapi.. kita lebih aman disini, hyung. Di luar sana kemanan seperti ini tidak akan terjamin." –Hoshi.
"Iya, sebenarnya aku juga memikirkan itu. Tapi, persediaan kita pasti semakin lama akan semakin menipis. Kita tidak mungkin menunggu mereka yang belum ada kepastian akan menjemput." Jawab Chanyeol akhir yang membuat semuanya menghela nafas lesu.
"Baiklah kalau begitu. Nanti malam kita akan melihat situasi. Kalau situasinya baik, kita akan segera meninggalkan gedung ini." Tutup Chanyeol. Semuanya mendadak murung mendengar jawaban akhir dari Chanyeol tadi.
Baekhyun yang melihat Chanyeol pergi, ikut menyusulnya dari belakang. Ia menarik lengan Chanyeol dan menatap mata bulat itu. "Yeol, kau.. serius?"
Chanyeol mengernyitkan dahi tidak mengerti. "Maksudku, kau serius tentang kepergian kita?"
"Iya, aku serius. Sangat serius."
"Tapi, bukankah perkataan Hoshi ada benarnya? Keamanan kita tidak akan terjamin jika diluar sana. Kau tidak lihat? Mereka menyebar dimana-mana."
Chanyeol memegang erat kedua pundak Baekhyun. "Baek, aku tahu diluar sana sangat berbahaya. Tapi, kita tidak mungkin juga akan berdiam diri terus seperti ini. Kita juga belum mendapat kepastian kapan kita akan dijemput. Sedangkan, persediaan kita sekarang mulai menipis."
"Aku bukan ingin membahayakan nyawa kalian semua. Aku hanya mau kita bisa bertahan hidup di dunia yang seperti sekarang ini. Bukan hanya berdiam diri sambil menunggu kapan datangnya helikopter-helikopter itu. Bukan hanya dengan menghabiskan persediaan tanpa mencarinya kembali. Dunia sudah berubah Baek. Tidak seperti dulu." Jelas Chanyeol dengan wajah frustasinya.
"Ma-maafkan aku. Aku sudah mengerti sekarang." Ucap Baekhyun dan berbalik meninggalkan Chanyeol. Hatinya merasa ngilu mendengar perkataan Chanyeol.
'Dunia sudah berubah, Baek. Tidak seperti dulu.'
"Hyung! Bagaimana ini?"
"A-aku tidak tahu." Lay memegang kepalanya yang pusing. Lingkungan yang tadinya aman, sekarang sudah dipenuhi oleh para zombie. Kalau mereka turun, itu sama saja menyerahkan nyawa pada makhluk-makhluk lapar itu. Kalau mereka diam, lama kelamaan mereka juga akan ditemukan oleh makhluk-makhluk itu.
"Ah, bagaimana kalau kita ke kamar Tao hyung? Aku rasa disana aman. Kita akan meminta bantuan lewat balkon." Saran Joshua. Lay mengangguk dan segera menarik pemuda kurus itu untuk mengikutinya.
Mereka berlari kecil menuruni tangga menuju kamar Tao yang terletak di lantai 3. Kamar Tao terletak diujung, sangat dekat dengan tangga. Baru saja Lay menyentuh kenop pintu berwarna putih itu, ia mendengar suara langkah dan erangan berat dari arah tangga.
"Ah, sial! Mereka datang!" Dengan segera mereka memasuki kamar Tao dan menutupnya perlahan.
"P-pintunya macet." Bisik Lay. Joshua segera menari lemari kecil yang tepat ada di sampingnya dan mengganjal pintu itu dengan lemari kecil itu.
"Erghh.."
"Itu mereka." Bisik Lay yang dihadiahi tutupan tangan dimulutnya oleh Joshua.
"Sshh.. hyung.."
Mereka sembunyi di balik lemari itu dengan jantung yang berdetak tidak karuan. Lay memegang dadanya yang nyeri akibat detakan jantungnya. Pikirannya kalut. Ia tidak ingin mati sekarang, ia masih ingin hidup bahagia bersama teman-temannya.
TAP
TAP
TAP
Langkah kaki itu semakin lama semakin terdengar menjauh. Joshua dan Lay dapat menghela nafas lega karena para zombie itu sudah tidak ada di dekat mereka.
"Erghh.." Tiba-tiba suara erangan kembali terdengar. Namun, kini lebih dekat dan keras. Mereka berdua mengalihkan perhatian mereka pada Tao yang sedang tertidur di atas ranjangnya.
"Tao?" Lay menggenggam tangan pemuda China itu. Ia merasa seperti ada yang janggal. Tapi apa?
Baru saja tangannya terangkat untuk mengelus surai milik Tao, tangannya tiba-tiba di cengkram kuat oleh sang empu. Mata Tao terbuka lebar dengan bola mata yang tadinya hitam, sekarang berubah menjadi abu-abu. Ditambah, bibir yang sangat pucat.
"Gwe-gwenchana?" Lay mencoba melepaskan cengkaraman Tao, namun nihil. Pemuda Zhang itu tidak kuat melepas cengkraman Tao yang begitu kuat.
"GRAWRR!"
"AAKKHH!" Tangannya di gigit kuat oleh Tao. Saking kuatnya, kulit serta daging tangan Lay terlepas karena gigitan pemuda yang sedang berbaring itu.
Ia baru menyadari wajah Tao yang terlihat pucat pasi, seperti sudah meninggal. Ia juga baru menyadari kulit Tao yang sedikit mengeriput.
"Hyung!" Joshua memukul kepala Tao dengan vas bunga yang ada di atas nakas, membuat Tao terjatuh dari ranjangnya.
"Akhh.. shh.." Lay memegangi tangannya yang berlumuran darah. Kulit serta dagingnya terlepas karena gigitan Tao, hingga memperlihatkan tulang dan saraf-sarafnya.
"Hyung, bertahan! Aku akan meminta pertolongan!" Joshua dengan paniknya mendorong lemari kecil yang tadinya menutup pintu kamar itu. Baru saja pintu itu terbuka, sesosok makhluk lapar lainnya tiba-tiba menerjang tubuhnya dan menggigitnya tepat di leher.
"AKHH!"
.
"Ada apa ge?!" Tanya Minghao panik setelah melihat raut wajah Jun yang seketika berubah. Jun masih membisu di tempatnya.
"Ge_"
"Errghh.. grawhh.."
Jun langsung menutup mulut Minghao dan bersembunyi di balik pintu. Mereka terjebak di dalam ruang senjata. Para makhluk pemakan manusia itu sudah mulai memasuki lorong-lorong di setiap gedung yang mereka tempati.
BUK BUK!
Baru saja Jun menghela nafas lega, pintu yang menjadi tempat persembunyian mereka terdengar seperti dipukul dari luar.
"Shit! Bagaimana mereka bisa tahu?" Rutuk Jun. Ia memberi kode pada Minhao agar mematikan lampu dan mengambil beberapa senjata.
"Hao-ya, kau diam disini. Aku akan membunuh sedikit dari mereka. Kalau tidak ada jalan keluar, kita terpaksa akan diam disini. Okey?" Minghao mengangguk. Pemuda manis itu berdiri dan berjalan menuju jendela untuk mengamati keadaan sekitar.
Keadaan lingkungan ini begitu ricuh. Suara tangis pilu dan teriakan kesakitan tertangkap oleh indra pendengarannya. Matanya tiba-tiba saja berair. Hatinya terasa sakit mendengar teriakan-teriakan itu.
"Minghao! Bisa kau bantu aku?" Minghao menoleh. Ia melihat Jun yang sedang kesusahan menahan pintu ditambah dengan senjata kosong yang ada di genggamannya.
"Kau tahan pintu ini, sedangkan aku akan keluar. Okey? Kita lakukan bersama-sama." Sesuai aba-aba yang Jun berikan, Minghao berhasil membuka pintu ruangan itu dengan perlahan. 2 zombie menerobos masuk secara tiba-tiba.
"Grhhh.."
"Whoa.. whoa.." Jun melangkah mundur guna memperjauh jaraknya dengan 2 makhluk itu. Ia menyiapkan pisau di tangan kanannya.
"Grhh.. graah!" Salah satu dari makhluk itu menerjang Jun dengan begitu cepat. Zombie wanita itu menarik rambut Jun dan mengarahkan mulutnya pada perpotongan leher pemuda China itu.
"Sial!" Umpat Jun.
"Grawwhh.._kk" Jun berhasil menusukkan pisaunya tepat di pelipis makhluk itu.
"Jun-ge! Dibelakangmu!" Dengan cepat Jun menoleh dan menahan kedua pundak makhluk itu.
PLENTANG!
Pisaunya terjatuh dari genggaman tangannya. Ia melihat pisau itu sekilas, jarak mereka sangat jauh. Tidak mungkin dirinya mengambil pisau itu dan mengabaikan makhluk satu yang sedang mengincar tangannya itu.
"Minghao! Cepat tembak makhluk ini!" Suruh Jun. Minghao hanya melebarkan matanya tidak percaya. Dia disuruh menembak? Heol! Dia tidak mungkin bisa!
"Ppalli!"
Minghao memegang pistol itu dengan gugup. Dirinya saja belum bisa memegang pistol itu dengan benar apalagi menembak? Tangannya bergetar dengan hebat, seirama dengan detak jantungnya.
"Kau pasti bisa, Hao-ya. Pasti!" Kalimat penyemangat dari Jun membuat rasa takutnya menguap sedikit.
Aku pasti bisa.. pasti..
Ia menarik nafas dalam-dalam.
DOR!
"Akh.."
"GRAAH.._kk"
"Jun-ge!" Minghao hanya bisa menyerukan nama Jun dari jauh. Ia tidak mungkin menghampiri pemuda itu. Sekarang, ia sedang menahan pintu yang sedang didorong oleh beberapa makhluk itu dari luar. Kalau ia melepasnya, sama saja ia memberikan nyawanya dan Jun kepada makhluk-makhluk lapar itu.
"A-aku tidak apa. Aku tidak apa-apa." Ucap Jun sambil menyentuh pelipisnya yang sedikit berdarah.
"Kau sudah membunuhnya. Itu bagus." Jun segera bangkit dan mendekati Minghao yang masih shock dengan tembakannya sendiri.
"Maafkan aku, ge. Mianhae.. hiks.."
"Uljima.. kau sudah melakukan yang benar. Hanya saja sedikit meleset." Canda Jun sambil terkekeh pelan. Minghao menatap Jun polos, selang berapa detik, ia kembali menangis dan memeluk tubuh tinggi Jun.
"Huwaa.."
"Shh, kenapa makin keras?" Seketika Minghao memberhentikan tangisnya. Ia membekap mulutnya sendiri dengan tangan.
"Kita sudah aman, okey? Tinggal membunuh 2 makhluk di balik pintu ini lalu kita akan mencari jalan keluar." Minghao mengangguk.
.
"Masuk kesini!" Sungjae menyuruh Dokyeom dan Suho untuk memasuki ruang kerjanya.
CKLEK
"Grahhh!"
"Sial! Zombie-zombie itu mengepung kita. Sekarang tidak ada jalan lagi." Rutuk Sungjae.
"Balkon. Apa disini ada balkon, hyung?" Tanya Suho pada Sungjae. Pemuda itu segera mengangguk. Ia baru mengingat kalau di ruang kerjanya ada balkon. Tempat itu bahkan tidak terpikirkan sama sekali olehnya.
"Itu, disebelah sana." Suho melangkah ke tempat yang ditunjuk Sungjae.
"Pintunya terkunci."
"Emm.. pintu itu memang jarang dibuka. Dan kucinya ada di lantai bawah, diruang kunci." Suho menghela nafas lesu.
"Hyung! Pakai ini!" Tiba-tiba Dokyeom berseru sambil mengangkat benda yang terbuat dari besi. Ia melangkah mendekati pintu balkon dan memukulnya dengan sekuat tenaga.
PRANG!
"Bagus."
"Tunggu hyung," Baru saja Suho ingin keluar dari pintu itu, tangannya di tahan oleh Dokyeom. Ia mengernyit tidak mengerti. Pemuda bermarga Kim itu melihat ekspresi Dokyeom yang tiba-tiba berubah.
"Kau yakin akan keluar dari sini?" Suho mengikuti arah pandang Dokyeom.
"Oh tidak.."
Mereka terjebak di balkon dengan ribuan makhluk yang berkeliaran di bawah mereka.
"Apakah ada tanda-tanda?" Tanya Chanyeol pada teman-temannya. Semuanya menoleh sambil menggeleng. Ia menghela nafas kecewa. Tidak ada tanda-tanda helikopter akan datang menjemput mereka semua.
"Hyung! Lihat!" Tiba-tiba Hoshi berseru sambil menunjuk sesuatu. Ia menunjuk sebuah mobil truck yang tiba-tiba muncul dari balik gedung-gedung tinggi itu.
Tiba-tiba saja, mobil itu berhenti dekat dengan gedung yang mereka tempati. Para makhluk pemakan manusia itu tidak ada yang menyadari kedatangan mobil putih itu. Mungkin, karena jarak mereka yang lumayan jauh.
Seorang pemuda keluar dengan santainya dari dalam mobil itu. Pemuda itu terlihat begitu santai dengan kaos yang membalut tubuh semapainya, ditambah dengan beer yang ada di tangan kanannya.
"Sepertinya dia mabuk." Ucap Mingyu. Mereka semua masih memperhatikan pemuda yang sedang berjalan-jalan tak tentu arah itu.
Pemuda itu terus memutar-mutari mobil truck itu sambil sesekali tertawa aneh. Namanya juga mabuk, tidak akan sadar dengan apa yang ia lakukan.
"Kita akan meminta bantuan padanya." Ucap Chanyeol sambil bangkit dan membawa tas yang berisikan senjata-senjata beserta beberapa persediaan mereka.
"Maksud hyung?"
"Kita akan meminta bantuannya. Kita akan pergi dengan orang itu." Ia memberi kode kepada yang lainnya untuk bersiap-siap.
"Mwo? Dengan orang mabuk itu? Kau serius?" Tanya Sehun tidak percaya. Chanyeol mengangguk pasti dan mulai melangkahkan kakinya menuju tangga. Semua yang ada disana mengikuti arahan Chanyeol, walaupun ada sedikit perasaan tidak yakin yang hinggap pada diri mereka.
Setelah turun dari tangga, Chanyeol, Sehun dan Kai memimpin jalannya menuju mobil truck putih itu. Mereka berjalan dengan mengendap-endap. Di situasi seperti ini, gegabah adalah cara cepat menghilangkan nyawa.
"Ergghh!" Tiba-tiba 4 zombie datang dari arah belakang. Baekhyun dan Luhan yang ada di paling belakang spontan mengokang pistol mereka dan menembakkannya pada kepala zombie itu.
"Jangan menggunakan pistol!" Teriak Chanyeol dari depan. Mingyu dan Hoshi segera menghabiskan 2 lainnya. Setelah berhasil menghabiskan ke-empatnya, Chanyeol memberi kode untuk yang lainnya agar lari sekuat tenaga.
"Cepat lari! Kerumunan mereka semakin mendekat!" Teriak Kai dan Sehun.
Saat sudah dekat dengan truck itu, pemuda yang tadi mabuk itu tiba-tiba menodongkan pistolnya pada Chanyeol.
"KALIAN SIAPA HUH?! MAU APA?!" Teriaknya.
"Hahahaha!" Pemuda itu tertawa terbahak-bahak. Chanyeol dan yang lainnya memandangnya bingung.
"Oh tidak, hyung. Kerumunan itu berdatangan!" Semua seketika panik mendengar ucapan Hoshi.
"Semuanya, naik ke belakang. Aku akan mengurus orang ini." Chanyeol menyeret orang itu dan menaikkannya pada kursi penumpang yang ada di depan.
"Hey! Hey! Sadarlah!" Chanyeol menepuk-nepuk pipi pemuda itu.
"YA! Lepaskan aku! Hahahahaha!" Ia turun dari mobil dan berjalan menuju kerumunan zombie yang tadi mengejar mereka.
"Seungcheol! Mingyu! Hoshi! Cepat naik!" 3 orang yang baru saja dipanggil Chanyeol segera berlari kearah belakang truck.
"Hey! Kau mau kemana? Ikut aku." Pemuda mabuk itu tiba-tiba menarik tangan Junghan yang baru saja naik ke belakang truck.
"Ya! Lepas!" Junghan menghempaskan tangan pemuda itu. Belum mau menyerah, pemuda itu menarik tubuh Junghan dan langsung mengajaknya menuju kerumunan zombie itu.
"Ugh! Lepaskan!"
BUGH!
"Cepat pergi!" Junghan segera berlari menjauhi pemuda itu dan Seungcheol.
"YA! Kemana wanitaku?! ARGH!" Ia membalas pukulan Seungcheol dan tepat mengenai hidung pemuda pemilik marga Choi itu.
BUGH!
Seungcheol kembali memukul pemuda itu keras hingga membuatnya jatuh kebelakang. "Tidak ada wanitamu!"
"Seungcheol hyung!" Panggil Mingyu dari truck.
"Aku akan kembali!" Balas Seungcheol sambil meghapus kasar darah yang mengucur dari hidungnya. Baru saja ia berbalik, kakinya sudah ditahan oleh pemuda itu.
"Kau harus mati disini! Hahahaha! Tidak ada kesempatan untuk hidup! Akan ada saatnya kau mati dan dicabik-cabik oleh segerombolan makhluk itu!"Ucap pemuda itu. Ia menghapus darah yang keluar dari sudut bibirnya dengan kasar.
"Kau tidak akan bisa menyelamatkan diri dari dunia yang hancur ini!" Pemuda itu mencengkram kaki Seungcheol dengan sekuat tenaga. Wajahnya menjadi lebih menyeramkan dari sebelumnya.
"Hyung! Cepat!" Hoshi mendatanginya dan menarik tubuh Seungcheol. Tepat saat cengkraman pemuda itu terlepas, tubuh pemuda itu langsung di kerumuni oleh para zombie. Mereka menguliti pemuda yang sekarang sedang berteriak histeris itu.
"Hoshi! Seungcheol! Cepat naik!" Sehun dan Kai segera menarik tubuh keduanya untuk naik kedalam truck.
Entah apa yang ada dipikiran Seungcheol, tiba-tiba saja ia diam dan tidak menaiki truck. Ekspresinya bercampur aduk. Antara takut, bingung dan juga cemas.
"Hyung!"
"Seungcheol!"
"Hey! Cepat hyung!"
"Hyung!" Seungcheol menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia masih memikirkan ucapan pemuda itu. Menurutnya, pemuda itu ada benarnya.
Mereka tidak memiliki kesempatan lagi untuk hidup seperti dulu. Dunia perlahan mulai hancur. Makhluk-makhluk ini berada dimana-mana. Dan yang pasti, ada waktunya dimana ia akan dicabik-cabik oleh sekumpulan makhluk pemakan manusia itu.
"Hyung, cepat!" Hoshi menarik lengan Seungcheol. Belum sempat Seungcheol naik, tangannya yang lain sudah digigit terlebih dahulu oleh sesosok makhluk yang tiba-tiba sudah berada di belakangnya.
"Akh!" Bahunya ditarik kebelakang oleh segerombolan zombie yang ada di belakangnya. Tubuhnya jatuh begitu saja dengan pandangan kosong.
Seungcheol menatap langit yang mulai beranjak senja. Ia tidak berteriak kesakitan maupun minta pertolongan. Bahkan, saat perut dan tangannya sudah tercabik-cabik oleh makhluk-makhluk di atasnya itu.
"Mungkin inilah saatnya.." Gumamnya pelan.
"HYUNG!"
"Disini aman. Ayo!" Seungkwan menarik Dino dan Vernon untuk mengikutinya. Mereka memasuki ruangan yang begitu gelap.
"Bukankah ini diruang bawah tanah?" Tanya Vernon.
"Kau tahu?" Seungkwan melihatnya takjub.
Vernon menggerling, "Huft.. aku sudah biasa melihatnya."
TAP
TAP
TAP
"Ada yang jalan. Cepat masuk!" Seungkwan segera mendorong Vernon dan juga Dino masuk keruangan itu dan sembunyi di bawah meja.
TAP
"Ah, hei! What are you doing here?" Seorang pria tinggi menyapa rekannya yang datang bersamaan dengannya.
"Hei hyung. Tujuan kita selalu sama, eoh?"
Pemuda tampan itu tersenyum meremehkan, "Hide."
TAP
TAP
"Hyung, aku harus apakan ini? Lingkungan ini sudah diserang. Kita akan berdiam dimana?" Pemuda tinggi dengan name-tag Pyo itu duduk santai di kursi tempat biasanya melepas penat. Matanya memperhatikan gelas-gelas yang penuh dengan cairan kental di hadapannya.
"I don't know. Memangnya itu bisa buat berapa?" Pyo mengecek gelas-gelas yang ada di hadapannya.
"Molla, mungkin 5 atau 4. Wae?"
"Nothing. Kita hanya butuh beberapa sample lagi. Setelahnya? Kita pergi ke Paris." Ucap pemuda dampan itu sambil tertawa.
"Benarkah? Whoa! Baiklah, ayo kita cari!" Ucap Pyo senang.
Ia memasukkan cairan-cairan yang ada di gelas-gelas itu pada sebuah kantung dan sebagian pada suntikan.
PRANG!
"Who's that?!" Pemuda tampan itu berdiri dari duduknya. Ia sudah siap mengokang pistolnya kalau saja Pyo tidak menahannya dengan mengucapkan,
"Biasa hyung.." Pyo menggantung kalimatnya. Ia berjalan mendekati meja yang ada di pojok ruangan.
"Hanya orang yang menyelinap." Ia tersenyum meremehkan sambil menggeser meja kayu itu. Sebenarnya ia tidak menggesernya, lebih tepat kalau dibilang membanting.
Seungkwan, Vernon dan Dino hanya bisa memejamkan mata mereka erat. Mereka belum pernah bertemu dengan dua pemuda di depan mereka.
"Kalian bertiga! Berdiri!" Perintah Pyo. Mereka bertiga bangkit perlahan. Sangat terlihat jelas kalau mereka sedang ketakutan sekarang. Wajah mereka pucat, apalagi wajah Seungkwan. Pemuda bermarga Boo itu meremas tangannya kuat sambil menggigit bibirnya yang seketika pucat.
"Manis, jangan takut. Hm?" Pyo mengelus pelan pipi gembul Seungkwan. Ia melirik pemuda tampan yang sedang duduk di meja itu sambil tersenyum miring.
"So? What do you want to do now, Zico hyung?"
Pemuda yang dipanggil Zico itu hanya tersenyum miring sambil memainkan pistolnya. Ia memperhatikan 3 namja yang sedang menunduk itu dengan tatapan lapar.
"Let's see.."
.
Suho, Dokyeom dan Sungjae masih berdiam sambil melihat keadaan lingkungan yang dipenuhi zombie itu. Mereka semua sedang bergulat dengan pikiran masing-masing.
"Hyung." Panggil Dokyeom. Ia menunjuk sebuah balkon yang terletak 2 meter dari balkon yang mereka pijak.
"Disana ada balkon dan disana juga ada tangga untuk turun. Para zombie itu tidak ada yang mendekati tangga itu karena tertutup semak-semak. Di utara sana, ada ruang senjata dan didekat sana ada pintu keluar." Suho dan Sungjae melongo melihat Dokyeom yang menjelaskan cara mereka selamat dengan detail.
"Bagaimana kita akan mencapai balkon itu? Jaraknya lumayan jauh." Ucap Suho membuat Dokyeom terlihat berpikir. Suho dan Sungjae juga ikut serta memikirkan bagaimana cara mereka mencapai balkon yang ada di sebrang sana.
Suho dan Sungjae menatap Dokyeom aneh, kenapa tiba-tiba ia berubah seperti itu? Batin Suho setelah melihat raut wajah Dokyeom yang berubah dengan sangat cepat.
"Dokyeom-ah?"
"I know hyung, I know.." Ia tersenyum lebar.
"Hyung, bisakah kalian membantuku merobek semua gorden yang ada disini?" Pinta Dokyeom. Tanpa menjawab, keduanya langsung melaksanakan permintaan Dokyeom. Sungjae dan Suho merobek semua gorden yang ada diruangan itu dan menyerahkanya pada Dokyeom.
"Sekarang, kalian bantu aku untuk menyatukan semuanya dengan simpul mati. Aku akan mencari sesuatu sebentar." Ucapnya lalu melangkah mengitari ruangan itu untuk mencari sesuatu yang tergambar jelas di kepalanya.
Ia membuka semua laci dan lemari yang ada disana. Jarang bisa melihat wajah serius seorang Lee Dokyeom seperti yang ia tunujukkan sekarang. "Ayolah, kau dimana hm?"
Mata sipitnya tidak sengaja menatap sesuatu yang membuatnya tersenyum sumringah, "Kau disana."
Ia mendatangi meja kosong yang sudah berdebu di ujung ruangan. Diatasnya, terdapat dua buah benda yang hampir mirip dengan kail tapi dengan ukuran yang lebih besar dari kail biasa. Akhirnya aku mendapatkanmu, walau sebenarnya bukan ini yang aku inginkan Batinnya senang, namun sedikit kecewa diakhir.
"Assa! Aku mendapatkanya hyung!" Serunya senang.
BUKH!
BUKH!
"ERGGHH!"
"Whoa whoa whoa, tenang kawan." Dokyeom mengelus-elus pintu putih yang menghalangkannya bertemu langsung dengan para zombie yang siap menerkam mereka kapan saja. Ia seperti menenangkan seekor anjing saja, ckckck..
Dokyeom segera beranjak dari sana dan melangkah mendekati Sungjae dan Suho yang masih fokus mengerjakan aktivitas mereka. Ia mengambil ujung dari sambungan-sambungan gorden itu dan melilitkan 2 buah benda kecil itu disana.
"Nah! Sudah siap!" Ia mengangkat hasil lilitannya itu dengan bangga.
"Okey hyung, sekarang siapa yang mau menyebrang pertama?" Tanya Dokyeom sambil melihat Suho dan Sungjae. Sedangkan keduanya saling melihat satu sama lain.
Hening…
"Baiklah baiklah, karena aku yang punya ide, aku akan menyebrang duluan." Ucap Dokyeom akhir. Suho dan Sungjae melongo melihat keberanian anak buah Suho yang satu itu. Dokyeom itu sangat berani, sampai-sampai tidak memikirkan apa saja resiko yang akan ia tanggung nantinya, pikir Suho.
Pemuda Lee itu sudah siap melemparkan ujung gorden itu ke balkon disebran sana. "Hyak!"
"Sampa_Hmmp!"
"Shh! Jangan berisik!" Dokyeom melirik kebelakang. Ia melihat 2 pasang mata menatapnya tajam. Tangannya yang bebas berusaha melepaskan bekapan tangan Suho dari mulutnya.
"Tapi ya hyung, ini itu lantai 6. Tidak mungkin mereka mendengar. Eh tapi, ada kemungkinan. Tapi itu sedikit. Gatau deh." Suho menatapnya datar.
"Terserah kau saja."
Dokyeom kembali fokus pada rangkaian gorden yang sekarang sudah menyangkut itu. Ia menarik-narik gorden itu untuk mengetes kekuatan dari sangkutan kail yang ada di sebrang sana.
"Nah, hyung-deul sekarang pegang ini kuat-kuat. Jangan sampai lepas! Aku akan menyebrang kesana untuk mengikat ujung gorden itu, okey?" Sungjae dan Suho mengangguk. Mereka memegang ujung gorden itu dengan kuat sedang Dokyeom berusaha untuk menggelantungkan dirinya bak orang profesional.
"Ya! Hati-hati!" Peringat Suho. Dokyeom mengangkat wajahnya sambil menyengir. Ia memberikan kode 'oke' dengan tangan kanannya. Dokyeom sudah setengah jalan, tapi tiba-tiba saja ujung gorden yang ada di balkon sebrang mereka mengendur.
"Whoa whoa whoa!" Tubuh Dokyeom hampir saja terjatuh kalau ia tidak berpegangan kuat pada runtaian gorden itu.
"Astaga! Bagaimana ini?" Suho seketika panik.
.
.
.
TBC
WAAAAHHHHH AKHIRNYA AKU BALIK! SSUNGRA KEMBALI KAWAN! Hai para readers setiaku, apakah kalian masih menunggu ff gajelas ini? Kalau iya, comment di review oke?
DON'T FORGET TO REVIEW AND CLICK FAVORITE BUTTON FOR THIS FANFICTION. ILOVEUALL!
BYE!
