Meanie - Chanbaek
SVT - EXO fic
M
.
Warn! TYPO(s)! YAOI! BL! AU! OOC!
Cerita murni buatan Author! Sisanya minjem.
.
DLDR kawan!
.
.
HAPPY READING and Enjoy ~
.
.
"Dokyeom-ah! Kailnya sebentar lagi akan lepas! Kau harus cepat!"
Dokyeom mengangguk. Ia mengerahkan seluruh tenaganya untuk mengangkat tubuhnya yang menggantung. Baru saja kakinya akan terangkat, tiba-tiba saja sebuah tangan mencengkram kaki kanannya.
"Whoaa!"
Tubuhnya hampir saja terjatuh -lagi- karena kaget dan ketidak seimbangan. Ia mengerahkan tenaganya untuk mencapai balkon yang ada di sebrang sana. Hanya setengah meter lagi ia akan sampai kalau saja,
KREEKK
Rantaian gorden yang menopang tubuhnya tidak robek dan kail yang menyangkut pada pagar balkon semakin mengendur.
"Oh shit!" Umpat Suho. Ia tidak bisa melakukan apa-apa. Ia juga bingung harus melakukan apa.
"Owh!"
Dokyeom masih terus berusaha mencapai balkon itu. Ia hanya perlu cepat, sebelum kail itu terlepas dan menjatuhkannya pada lautan zombie dibawah sana.
"Ayolah lagi sedikit.. eghh!"
Dan akhirnya, tangannya meraih pembatas balkon itu dengan peluh yang membanjiri wajah tampannya. Ia tersenyum lebar, memperlihatkan gigi-gigi rapihnya. Di seberang sana, Suho dan Sungjae dapat menghela nafas lega melihat Dokyeom yang berhasil.
"Hiks.."
Junghan masih betah menangis dari tadi. Mata dan hidungnya juga terlihat sudah membengkak karena terlalu lama menangis.
"Hyung.."
Wonwoo dan Woozi mendekati Junghan yang terduduk di pojokan. Pemuda bersurai panjang itu tidak berhenti menangis sejak awal perjalanan.
Sakit rasanya, melihat orang yang kita cintai meninggalkan kita dengan cara mengenaskan. Apalagi, itu hanya untuk menyelamatkan diri kita sendiri.
"Hyung, jangan menangis terus.."
Woozi berusaha menenangkan pemuda di depannya ini.
"Kau tidak mengerti.. hiks.. Seungcheol mati karenaku.. karena menyelamatkanku.. coba saja tadi aku tidak diselamatkan, mungkin sekarang aku yang sudah dikuliti oleh mereka semua.. hiks.."
Woozi dan Wonwoo hanya bisa diam mendengar penuturan Junghan. Memang benar, mereka tidak sepenuhnya bisa merasakan apa yang Junghan rasakan saat ini. Mereka tidak bisa melakukan hal banyak selain men-support Junghan agar tidak terpuruk dalam kesedihannya.
"Agh! Ya!"
BUKH!
BUKH!
Chanyeol tiba-tiba memukul-mukul stir mobil dengan wajah marah. Baru saja ia merasa sedih karena hilangnya dongsaeng kesayangannya, ia sudah dibuat kesal oleh mobil yang mereka kendarai tiba-tiba berhenti begitu saja.
"Sial!"
"Ada apa hyung?" Tanya Hoshi yang ada dibelakang.
"Mobilnya mati. Aku tidak tahu penyebabnya." Jawab Chanyeol sambil mencoba menstrater ulang mobil itu.
"Coba cek mesinnya." Saran Mingyu.
Chanyeol, Mingyu dan Kai turun untuk memeriksa mesin mobil. Mereka membuka cap mobil, seketika asap menutupi pemandangan mereka.
"Aish! Mesinnya rusak!" Seru Chanyeol frustasi.
Mereka baru saja berjalan 2 jam, tapi tiba-tiba saja mobil ini terhenti dengan sendirinya. Sekarang malam sudah menjemput, di sekitar mereka sangat sepi, dan yang lebih parahnya lagi,
Mereka di pinggir hutan.
"Lebih baik, sekarang kita tidur di mobil saja hyung. Besok pagi, kita akan melanjutkan perjalanan. Berbahaya melanjutkannya sekarang." Usul Kai.
Chanyeol mengangguk dan menyuruh Mingyu dan Kai untuk kembali kedalam mobil.
"Jadi, bagaimana?" Tanya Hoshi setelah ketiganya memasuki mobil.
"Kita akan diam disini sampai besok pagi. Dan besok, kita akan melanjutkan perjalanan. Terpaksa dengan berjalan kaki." Ucap Chanyeol dengan wajah kecewa di akhir. Mereka semua mengangguk dan memilih berdiam di posisi masing-masing.
.
Mingyu menggeliat dalam tidurnya. Wonwoo yang ada disampingnya pun terbangun karena merasa terusik oleh pergerakkan dari pemuda Kim itu.
"Gyu?"
Mingyu membuka matanya. Ia melihat Wonwoo dengan tampang memelas ditambah wajah mengantuknya.
"Ada apa, hm?"
Mingyu menggeleng-geleng imut. Ia menatap Wonwoo dengan puppy eyesnya.
"Aish! Ayo tidur."
Mingyu merengut. Bibirnya ia majukan dengan memasang wajah kesalnya. Tangannya ia lingkarkan pada perut Wonwoo dan menarik tubuh pemuda itu mendekat. Wajahnya ia sembunyikan pada ceruk leher Wonwoo.
"Hey, kau kenapa? Hm?"
"Tidak ada. Aku hanya mau tidur begini." Jawabnya dengan suara yang teredam. Wonwoo tersenyum lalu memilih melanjutkan tidurnya dengan rambut-rambut Mingyu yang sedikt menggelitik bagian lehernya.
CUP
CUP
"Ya!" Mingyu mengecup pipi dan leher Wonwoo berkali-kali. Ia juga mengusak-usakkan rambutnya pada ceruk leher Wonwoo yang membuat namja sipit itu mengeluh kegelian.
"Apa yang kau lakukan, hah?"
Mingyu tersenyum. Ia menempelkan bibirnya pada bibir pemuda Jeon itu secara tiba-tiba, membuat Wonwoo sedikit terjungkal kebelakang. Sedikit memberikan gigitan dan lumatan pada bibir bawahnya.
"Emm!" Berontak Wonwoo. Mingyu mengulum bibir atas dan bawah Wonwoo dengan lembut, sebelum ia memutuskan untuk melepaskan ciumannya.
CUP
"Jaljayo." Ucap Mingyu sebelum kembali tertidur pada pundak Wonwoo sambil mengeratkan pelukannya. Wonwoo hanya dibuat melongo oleh tingkah kekasih giantnya itu. Ia menatap Mingyu datar,
"Dasar!"
"Ayo hyung. Jangan berisik." Bisik Dokyeom.
"Ya! Kau yang berisik!" Marah Sungjae. Dokyeom hanya menyengir pada pemuda itu.
Ngomong-ngomong, mereka sudah berhasil melalui rintangan pertama, yaitu menyebrangi balkon. Sekarang, mereka sedang mengendap-endap di balik semak-semak yang cukup tinggi hingga mampu menutupi tubuh ketiganya.
"Hyung, lihat! Jun hyung dan pemuda China itu!"
Dokyeom menunjuk 2 orang namja yang sedang berusaha menuruni balkon itu.
"Ayo cepat kesana!"
"Grrhh.."
Baru saja mereka ingin bergerak maju, tiba-tiba salah satu zombie itu melintas di hadapan mereka. Mereka tidak melihat, ternyata semak-semak itu sedikit terputus ditengahnya.
"Ssh.." Kode Suho.
Mereka semua menahan nafas masing-masing melihat zombie wanita itu melintas di hadapan mereka. Sepertinya, makhluk itu belum mengetahui adanya 3 manusia di samping kanannya.
"Grhh.."
"Graahhh!"
Oh tidak!
Zombie itu menoleh dan berteriak di hadapan Dokyeom, yang notabenenya berada di posisi paling depan.
"Oh tidak hyung!"
Dokyeom menyiapkan pisau di tangan kanannnya. Makhluk itu menyerangnya, tapi dihalangi oleh Suho yang sudah menusuk belakang kepalanya terlebih dahulu.
"GRAHHH!"
Gara-gara satu zombie itu menyerang mereka, menyebabkan semuanya mengalihkan perhatian pada mereka. Sekarang, mereka hanya terlihat bagaikan makanan bagi semua makhluk disana.
"Hyung! Lari!"
Dokyeom menyiapkan pistolnya dan menembaki zombie-zombie yang melintas dihadapannya. Mereka bertiga berjalan menuju Jun dan Minghao yang masih berusaha untuk turun. Mereka terlihat kesususahan karena tas yang mereka bawa sedari tadi.
"Jun hyung! Cepat!" Teriak Dokyeom.
Suho dan Sungjae membuat formasi dan menembaki zombie-zombie itu dari sisi yang berlawanan. Sedangkan Dokyeom, pemuda Lee itu menembaki bagian depan.
Jun melempar tas yang berisi senjata-senjata itu pada semak-semak yang ada dibawahnya.
"Minghao, aku akan turun dulu. Baru kau nanti menyusul." Ucapnya yang diangguki Minghao.
Jun sudah berhasil turun, sekarang waktunya Minghao untuk turun.
"Ayo Hao-ya! Mereka semakin mendekat!"
Jun mengalihkan perhatiannya dan memilih membantu teman-temannya untuk menghabisi makhluk-makhluk yang akan memangsa mereka. Minghao ingin melompat, tapi apa daya rasa takut menguasai tubuhnya.
Baru saja kakinya menapak tanah, pundaknya tiba-tiba tertarik kebelakang.
"AKH!"
Jun menoleh, "Minghao!"
Jun benar-benar dibuat terkejut. Dihadapannya kini, pundak Minghao sudah habis digigit oleh 2 zombie yang tiba-tiba muncul di belakang pemuda imut itu.
"Jun ge, pe-pergilah.." Jun menggeleng. Ia tidak bisa menerima kalau Minghao baru saja digigit oleh 2 makhluk itu. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana zombie itu memakan Minghao dan apa ia tega meninggalkan pemuda imut itu sekarang?
DOR!
DOR!
"Minghao-ya.." Jun mengangkat tubuh Minghao yang lemas. Darah mengucur dari leher dan pundaknya yang tergigit.
"G-ge, bawa tas ini dan pergi," Minghao bersender pada tembok yang ada di samping kanannya.
"..aku akan baik-baik saja." Lanjutnya lirih.
Jun menggeleng. Ia tidak ingin meninggalkan Minghao, tapi ia juga tidak mau Minghao menderita karena sakit.
"Hao-ya, aku tidak akan membiarkanmu merasakan sakit ini."
"Bisakah? Ayo lakukan ge."
Minghao sedikit tersenyum mendengar perkataan Jun. Pemuda tinggi itu memeluk tubuh kurus Minghao. Pistol ditangan kanannya ia kokang dan mengarahkannya pada kepala pemuda manis di dekapannya ini.
"Ah, sepertinya aku sudah tau caranya." Ucap Minghao dengan suara bergetar.
"Lakukanlah ge, aku tidak masalah. Asalkan, aku bisa hidup tenang setelah ini." Ucap Minghao sambil tersenyum dalam dekapan Jun.
"Tapi, kau harus bisa melewati dunia yang kejam ini ge. Aku tidak mau tahu, kau harus bisa."
Jun mengangguk. Jari telunjuknya siap untuk menarik pelatuk pistol itu kapan saja.
DOR!
Hanya sekali tembakan, tubuh kurus Minghao terjatuh pada pundaknya. Ia melepas pelukannya dan menyenderkan Minghao pada tembok putih di sisi kanannya, "Minghao-ya, bahagialah disana. Kau tidak akan merasakan yang namanya kekejaman dunia lagi. Kalau kau merasa kesepian.. hiks.. jemputlah aku."
Jun tidak bisa menahan tangisnya. Ia menangis dihadapan mayat Minghao yang mulai terlihat memucat. Baru saja ia merasa nyaman pada pemuda manis itu, tapi kenapa harus secepat ini ia ditinggalkan? Kenapa?
"Jun hyung.."
Dokyeom mendekati Jun dan mengelus punggung lebarnya.
"Ia sudah tenang disana."
Jun mengangguk. Ia bangkit dan membawa tas yang tadinya dibawa Minghao.
"Hyung, kajja!"
Mereka ber-4 meninggalkan tempat itu dan berlari kearah hutan.
Hao-ya, aku harap kau bahagia disana.
.
"Let's see.."
Zico dan Pyo bersedekap melihat 3 pemuda yang sedang menunduk di hadapan mereka. Seungkwan dan Vernon terus menunduk menghadap bawah, mereka terlalu takut untuk mendongakkan kepala.
Tapi tidak dengan Dino. Pemuda yang satu itu terlihat berani menatap kedua pemuda yang sedang bersedekap di hadapannya.
"Bagaimana kalau kita jadikan sample hyung?" Saran Pyo.
"Ah, that's right. But, siapa duluan? Pemuda yang manis ini?"
Zico menarik dagu Seungkwan. Lalu melepasnya begitu tatapannya berpindah pada Vernon.
"Pemuda amerika ini? atau," Ucap Zico menggantung.
"Pemuda berani ini?"
Ia menatap ketiganya lapar. Wajahnya seperti psikopat yang baru saja mendapat mangsa yang akan melakukan pesta besar untuk merayakannya.
"What do you think?"
Pyo menopang dagunya. Ia berjalan mendekati Seungkwan lalu mengangkat wajah pemuda Boo itu. "Mungkin si manis ini bisa menjadi yang pertama."
Zico terkekeh pelan. Ia mengambil pisau tajam dan jarum suntik yang sudah di siapkan Pyo tadi. kakinya ia langkahkan mendekati Seungkwan dan memberi kode pada Pyo untuk menyingkir.
Seungkwan menutup matanya erat. Bulir-bulir keringat berjatuhan melewati pipi chubbynya.
"Dia takut hyung." Celetuk Pyo.
"Eum, takut? Seungkwanie takut? Takut sama apa? Hm? Suntikan? Atau sama pisaunya?" Tanya Zico dengan nada main-main.
Bagaimana ia bisa tahu namaku? Batin Seungkwan bingung. Di wajah takutnya, tersirat sedikit wajah kebingungan. Zico yang melihat itu langsung tersenyum miring, "Jangan pikirkan aku tahu namamu dari mana."
Seungkwan terbelalak dengan ucapan Zico barusan. Pemuda tinggi itu seperti peramal saja, pikir Seungkwan.
"Baiklah, berhenti bermain-main." Ucap Zico mulai serius.
Ia mulai mengangkat tangan Seungkwan dan mengarahkan pisau tajam itu pada pergelangannya. Sebelum menggoreskan pisau itu, ia sedikit mengetes pada jarinya sendiri.
"Kau lihat? Sangat tajam bukan? Sakitnya tidak akan lama, kok."
Seungkwan mendadak susah menelan ludah. Ia sebenarnya sudah biasa melihat benda-benda seperti itu, karena ia yang notabenenya seorang dokter. Tapi entah kenapa, sekarang semua benda terlihat sangat menakutkan di hadapannya.
Zico siap menggoreskan pisau itu pada urat nadi Seungkwan. Namun, tangannya tiba-tiba saja terhempas kebelakang yang menyebabkan pisau itu sedikit menggores pergelangan tangannya.
"Jangan berani menyentuh hyung-hyungku!" Seru Dino. Ia membawa tongkat kayu panjang yang tadinya digunakan untuk menghempaskan tangan Zico.
"How dare you, hm?"
Zico melepas peralatannya dan menghampiri Dino. Belum sempat kakinya melangkah, Pyo secara tiba-tiba sudah berada di belakang Dino dan memberinya kode untuk diam.
Seungkwan dan Vernon yang melihat keberadaan Pyo segera memberi kode untuk Dino agar menghindar. Sayangnya, Dino tidak melihat kode itu. Ia masih fokus menatap tajam Zico yang sekarang sedang bersedekap di hadapannya.
GREP!
"Egh!"
Secara tiba-tiba Pyo mengunci pergerakan kepala Dino dari belakang. Dino memberotak berusaha melepas kuncian Pyo.
"Diam!" Bentak Pyo.
Dino tetap kekeuh tidak bisa diam. Ia terus memberontak yang mana membuat Pyo semakin mempererat kunciannya.
"Le-Lepash!"
"Kau yang memilihnya, Dino." Ucap Pyo sebelum mengarahkan pistol tepat pada jantung Dino.
"Bye.."
"DINO!"
DOR!
Setelah suara tembakan terdengar, Dino terkulai lemas di bahu kanan Pyo. Darahnya mengucur dari dadanya dengan deras. Tubuh Dino dibiarkan jatuh begitu saja oleh Pyo.
"Hyung, cepat lakukan."
Zico segera mengampil suntikan itu dan menyuntikkannya pada lengan Dino.
"Semoga saja ini berhasil." Ucapnya sambil bangkit dari duduknya.
Sedangkan, Seungkwan dan Vernon benar-benar dibuat terpukul oleh kejadian yang baru saja terjadi.
Dino, adik tersayang mereka sekarang sudah mati karena dibunuh oleh dua pemuda di hadapan mereka.
"Sial! Tidak ada reaksi! Agh!" Seru Zico frustasi. Ia menendang suntikan itu dan mencengkram kepalanya erat.
"Ergh.."
Suara erangan terdengar keluar dari mulut Dino. Seungkwan yang mendengarnya segera mendatangi tubuh pucat itu.
"D-dino-ya.. kau baik-baik saja?"
"Rawwghh.."
Seungkwan dibuat terkejut saat melihat bola mata Dino berubah menjadi abu. Tangan pemuda itu juga bergerak-gerak untuk meraih leher Seungkwan.
Srreett
Pyo menarik kerah baju Dino menjauh dari Seungkwan. "Tidak ada gunanya!"
BUGH!
BUGH!
"Earrgghh!"
Bukannya merasa kesakitan, Dino malah semakin gencar menyerang Pyo yang saat ini sedang menendang-nendang perutnya.
DOR!
Satu peluru kembali ditembakkan untuk Dino dan tepat mengenai kepalanya. Badan Dino kembali terkulai lemas dengan darah yang mengucur dari kepalanya.
"Pyo, enough! Karena tembakan itu pasti makhluk-makhluk itu akan kesini. Sekarang lebih baik kita pergi dari sini dan bawa dua orang ini!" Perintah Zico.
Dengan segera mereka menyiapkan barang-barang dan berbagai senjata untuk meninggalkan ruang bawah tanah itu. Mereka menyeret Seungkwan dan Vernon keluar dengan tali yang sudah mengikat lengan keduanya.
Zico memimpin di depan, sedangkan Pyo menjaga Vernon dan Seungkwan dari belakang.
"Jangan berani-berani kalian kabur." Ucap Pyo membuat bulu kuduk Seungkwan meremang.
"V-vernon-ie.. eo-eotteokhae?" Tanya Seungkwan takut. Ia mau menoleh, tapi matanya takut akan bersitatap dengan mata sipit Pyo.
"Gwenchana, everything will be alright." Ucap Vernon menenangkan Seungkwan.
Mereka berjalan mengendap-endap menuju tangga yang menghubungkan lorong lantai satu dengan lorong bawah tanah ini. Tapi, tiba-tiba Zico yang ada di depan mendengar sebuah erangan datang dari arah tangga itu.
Ia melangkahkan kakinya pelan untuk mengintip. Matanya terbelalak seketika, "Holy shit!"
"Wae hyung?" Tanya Pyo penasaran.
"We can't go through here. Come on!"
Mereka semua mengikuti langkah Zico menuju ujung lorong.
"Kalian keluar lewat jendela sini. Aku akan keluar terakhir." Ucap Zico.
Pyo mendorong tubuh Seungkwan kasar, "Cepat! Dasar lamban!"
Seungkwan menggerutu kecil. Itu memang sudah kebiasaannya kalau diperlakukan seperti itu. Ia dan Vernon sudah berhasil keluar dari jendela itu, hanya Pyo dan Zico yang masih didalam. Entah mereka membicarakan apa.
"Vernon-ie, kau tidak ada niatan mau kabur?" Tanya Seungkwan pada Vernon.
"Kau mau kabur? Serius?" Tanya Vernon menuntut.
"Eiy, bukan begitu. Kalau kau kabur, aku juga ikut. Aku benar-benar takut dengan mereka." Jawab Seungkwan.
"Baiklah. Kalau ada kesempatan, kita akan kabur. Kau harus selalu berada di dekatku." Seungkwan mengangguk.
"Hey kalian berdua! Ayo ikut!" Perintah Pyo yang sudah jalan terlebih dahulu.
Hanya perlu waktu 2 menit untuk mencapai taman tengah kota. Pyo melihat-lihat situasi, "Sepi hyung."
"Quick!"
Pyo berjalan mengendap-endap menuju semak-semak belukar yang ada di dekat mereka.
"Kita akan keluar lewat pintu belakang." Ucap Zico yang mendapat anggukan dari Pyo.
Seungkwan dan Vernon hanya mengikuti saja, apalah daya mereka hanya seorang tahanan.
Baru saja Pyo keluar dari semak-semak, ia sudah dihadapkan oleh zombie-zombie yang sedang berkumpul menjadi satu. Mereka menatap keempatnya lapar.
"Run!"
Dengan terpaksa mereka harus menghabiskan tenaga mereka untuk lari. Pyo yang ada di depan membersihkan para zombie yang melintas dihadapannya. Sedangkan Zico, pemuda itu berusaha mengurangi makhluk pemakan manusia yang sedang mengejar mereka.
DOR!
DOR!
Suara tembakan menggema ulah mereka berdua. Seungkwan dan Vernon bersitatap sebentar, lalu mereka mengangguk pasti secara bersamaan.
Saat Pyo dan Zico sedang fokus melawan para zombie itu, mereka berdua berlari ke arah kanan secara perlahan. Keduanya masih melihat pergerakan Zico dan Pyo, kalau saja mereka berdua ada yang melihat aksi kabur mereka.
Saat Seungkwan dan Vernon hampir berhasil lolos, keduanya tidak mengetahui kalau mereka semakin memperdekat jarak mereka dengan kerumunan zombie.
"KYAA!"
Salah satu zombie menyentuh pundak Seungkwan. Belum sempat ia menggigit, rahangnya sudah terkena tendangan dari Vernon.
"Vernon!" Seru Seungkwan sambil mendekat kearah Vernon.
"YA KALIAN BERDUA!"
Oh tidak!
Ini masalah!
Mereka ketahuan oleh Pyo dan Zico. Dengan segera Vernon menyuruh Seungkwan untuk berlari menjauh.
"Seungkwan! Lari! Secepat yang kau bisa!" Teriak Vernon.
Seungkwan bingung. Ia tidak mungkin meninggalkan Vernon yang notabenennya sedang dikejar oleh zombie dan Pyo. Ia juga ingin selamat dari para pengejar itu.
"Seungkwan! Cepat lari!" Suruh Vernon.
Seungkwan menggeleng, "Kalau kau lari, aku juga kan lari."
"KALIAN BERDUA! KEMBALI!" Teriak Pyo dari arah belakang.
"Argh! Ayo cepat!"
Mereka berdua berlari sambil menghindar dari sentuhan dari para zombie itu. Baru saja mereka lolos, tiba-tiba..
DOR DOR!
"ARGHH!"
"KALIAN TIDAK AKAN BISA LARI!" Teriak Pyo.
Pemuda tinggi itu menembak kaki Vernon.
"V-vernon, gwenchana?"
"Agh! Ini benar-benar sakit!" Ringis Vernon. Ia memegangi kedua kakinya yang kena tembak.
SREETT
BRUK!
Pyo menarik kerah baju Seungkwan dan menghempaskannya kebelakang. Ia menatap keduanya dengan tajam.
"Kalian ingin kabur, eoh?!" Bentaknya.
Ia menendang dada Vernon hingga membuat pemuda itu tersungkur. Ia juga menginjak perut Vernon sekuat tenaga.
"Kalian mau kabur, eoh?!" Bentaknya lagi.
"Le-lepashh!"
Vernon tidak bisa memberontak. Kakinya amat sangat terasa ngilu dan dada serta perutnya terasa begitu sakit.
"Aku mohon, jangan sakiti Vernon. Aku yang menginginkan kabur. Aku mohon.." Ucap Seungkwan sambil sesenggukan di belakang Pyo.
Ia tidak tega melihat Vernon yang disakiti seperti itu. Padahal, bukan Vernon yang salah. Ia yang mengajak Vernon untuk kabur.
"Aku yang salah. Bukan Vernon.." Tangisnya.
"Ow, jadi kau yang salah? Sudah mengakuinya, hm?"
Pyo melepas injakannya pada perut Vernon. Ia beralih menghadap Seungkwan yang masih sesenggukan.
PLAK!
"Tidak ada yang bisa kabur dari kami."
PLAK!
"Kalau kau kabur, kau akan mati dengan cepat."
PLAK!
Pyo menampar Seungkwan tiga kali berturut-turut dengan sekuat tenaga. Menghasilkan berkas kemerahan yang pekat pada pipi chubby pemuda itu.
"S-sakitt.." Lirihnya.
"Pyo! Run!" Teriak Zico dari jauh.
Dibelakangnya, para zombie itu mengejarnya dengan berkelompok. Bahkan, salah satu dari zombie itu ada yang terjatuh karena saling berdesakkan dengan yang lainnya.
Pyo melihat Zico dan Vernon secara bergantian. Sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah seringaian.
SREEKKK
Pyo menarik Seungkwan berdiri. Ia menatap Vernon yang sedang meringis itu dengan seringai mengerikan miliknya.
"Aku tidak membutuhkanmu."
DOR!
Sekali lagi, Pyo menembak Vernon dan tepat mengenai dada pemuda amerika itu. Vernon belum mati, ia masih meringis dengan memegangi dadanya yang terasa sangat-sangat ngilu.
"Kau memang tidak aku buat mati. Tapi, aku membuatmu berkumpul dengan makhluk pemakan manusia itu." Ucap Pyo sambil menyeringai. Kemudian, ia menarik Seungkwan menjauh dari kawasan itu.
"T-tolongh.. a-ak-kuhh.."
"GRAHHHH!"
.
"Huuh-huuh.. hyunghh.. huhh.."
Dokyeom memegangi lututnya yang kelelahan. Nafasnya tersenggal-sengal karena sedari tadi ia yang paling semangat berlari.
"Huuhh.. huhh.. du-du..huhh.."
"Du? Du apa?" Tanya Sungjae.
"Du.. huhhh.. duduk hyungh.. huhh"
Ia menjatuhkan bokongnya tepat di atas batang pohon yang besar. Badannya ia senderkan pada batang pohon tegak yang berdiri di belakangnya.
"Tadi itu benar-benar.." Gumamnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya.
"Sudah, kau diam saja. Jangan banyak omong."
Seketika Dokyeom menutup mulutnya sendiri.
"Kalian istirahat saja dulu, aku yang akan menjaga malam ini." Ucap Sungjae.
Suho, Jun dan Dokyeom mengangguk.
SREKK SREKK
"Apa disana?"
Suho dan Sungjae spontan mengarahkan pistol mereka pada semak-semak belukar yang ada di hadapan mereka. Suara itu hilang.
"Mungkin hanya angin." Ucap Jun.
Semuanya kembali duduk di tempat masing-masing. Menghela nafas lega karena itu hanya suara angin lewat.
SREK SREEK
Selang berapa menit, suara itu kembali muncul. Sekarang, semuanya tidak tinggal diam. Mereka menodongkan pistol pada semak-semak belukar itu sambil sesekali mendekat. Mereka tidak menggunakan pencahayaan apapun, kecuali cahaya bulan.
SREEK SREEK
"Hyung!"
Sungjae, Suho, Jun dan Dokyeom seketika terbelalak kaget. Mereka melihat Xiumin yang ada di punggung Chen dengan keadaan tak sadarkan diri.
"Ayo semuanya! Siapkan barang-barang dan kita lanjutkan perjalanan!" Seru Chanyeol.
Semua yang di sana bangkit dan meraih tas masing-masing. Mereka melanjutkan perjalanan panjang itu dengan bawaan yang benar-benar berat. Matahari ada tepat di atas sana, panasnya yang begitu menyengat menurunkan kadar semangat sekelompok manusia itu.
Sudah 6 jam lebih mereka berjalan namun tidak ada satupun tempat yang bisa disinggahi. Satupun.
"Ugh, ini benar-benar panas." Gumam Hoshi.
"Kau benar. Ini benar-benar panas." Celetuk Sehun dari arah belakang.
"Eih, hyung. Kau mengagetkanku saja."
Sehun meliriknya sebentar, lalu melengos begitu saja meninggalkan Hoshi di belakang. Pemuda sipit itu sudah biasa dengan tingkah laku Sehun yang datar seperti itu, sama seperti yang lainnya.
"Aku merasakan hawa-hawa yang tidak mengenakkan." Gumam Wonwoo.
Mingyu menoleh, "Maksud hyung?"
"Tidak ada. Aku tidak bilang apa-apa." Jawabnya cepat.
Mereka kembali fokus pada perjalanan yang menurut mereka sangat panjang itu. Wonwoo merasa gelisah, entah karena apa ia juga tak tahu. Tapi ini benar-benar mengganggunya.
"Hyung! Lihat! Sepertinya disana ada pemukiman." Ucap Hoshi sambil menunjuk kearah jam 12.
"Aku akan kesana."
Baru saja ia ingin melangkahkan kakinya, tangannya sudah ditarik kembali oleh Sehun. "Aku tidak berfikir itu adalah pemukiman."
"Ayolah hyung. Itu sudah pasti pemukiman warga. Virus ini 'kan belum tersebar ke seluruh Korea." Ucapnya kekeuh.
"Coba kau lihat ini." Suruh Sehun sambil memberikan Hoshi teropong miliknya.
Hoshi mengambil teropong milik Sehun itu dan mengenakan cepat.
"Oh my god. Ini tidak mungkin!"
.
.
.
TBC
Hi semua! Kalian apa kabar? Terima kasih bangettt bagi kalian yang mau nungguin ff ini update. TT-TT Maaff banget baru bisa update sekarangg T^T Ada beberapa hal yang buat aku harus berhenti update ff ini untuk sementara. Nahh, sekarang aku sudah mulai bisa update seperti biasaa! Aku akan usahakan sebaik mungkin ^^
enjoy3
