Meanie - Chanbaek
SVT - EXO fic
M
.
Warn! TYPO(s)! YAOI! BL! AU! OOC!
Cerita murni buatan Author! Sisanya minjem.
.
DLDR kawan!
.
.
HAPPY READING and Enjoy ~
.
.
"Kau lihat kan? Itu bukan pemukiman." Ucap Sehun datar.
"Semuanya, sekarang lebih baik kita balik."
Semua menatap Sehun tak percaya –kecuali Hoshi. Mereka disuruh balik? Setelah perjalanan yang sangat amat panjang ini? Heol!
"Memangnya ada apa, Hun?" Tanya Kai.
"Ini."
Sehun memberikan teropong miliknya itu pada Kai –setelah mengambil dari Hoshi tentunya. Dengan perasaan bingung, pemuda tan itu mengambil teropong itu dan mengenakannya.
"Hasil yang kau lihat itu sebagai jawabannya." Ucap Sehun sambil melengos pergi meninggalkan Hoshi dan Kai yang masih terbelalak.
"Ugh, bau amis apa ini?" Tanya Mingyu yang membuat semua yang ada disana secara bersamaan mengendus.
"Se-sepertinya.. ini dari mereka." Jawab Hoshi sambil menunjuk sisi kirinya.
Mingyu yang bingung sekaligus penasaran melangkahkan kakinya untuk melihat apa yang sedang ditunjuk Hoshi. Ia mengambil teropong milik Sehun dari Kai dan mengenakannya.
"I-ini.."
"Yup! Itu adalah pemukiman para zombie. Kita tidak terdeteksi dari sana, mungkin karena jarak kita yang sekitar 2 kilometer. Aku mengira-ngira disana ada lebih dari puluhan lusin zombie, atau mungkin lebih." Jelas Sehun.
Sehun memang ahli dalam memperkirakan sesuatu, jadi tidak membuat seluruh manusia yang ada disana terbelalak.
"Lalu sekarang kita kemana?" Tanya Hoshi.
"Tidak mungkin kita balik. Itu tidak mungkin terjadi." Ucap Chanyeol sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia juga bingung dan pusing harus bagaimana.
"Omo! Hyung, ki-kita harus segera masuk ke hutan." Bisik Kai.
"Mwo?"
Kai menunjuk sekelompok zombie yang sedang berjalan mendekati mereka. Mereka semua terbelalak, lalu dengan segera mereka masuk kehutan dan mencari tempat bersembunyi. Mereka semakin terbelalak saat melihat zombie-zombie itu juga melintasi hutan.
"Wonwoo hyung, ajak Baekhyun hyung masuk kesana." Bisik Mingyu pelan sambil menunjuk sebuah batang pohon yang bercelah.
Wonwoo mengangguk dan menarik tangan Baekhyun, lalu menyuruhnya masuk terlebih dahulu. "Hyung masuklah."
Ketika semuanya sudah memiliki tempat persembunyian, hanya Mingyu seorang yang belum mendapatkannya. Pemuda Kim itu semakin berjalan mundur saat melihat sekelompok zombie itu mulai mendekatinya.
Ia terus menerus berjalan mundur hingga_
"Whoa!"
BUKH!
BRUK!
"Akhh.."
Sial!
Ia tidak melihat ada gundukan batu di dekat jurang sana.
Tubuhnya terguling kebelakang hingga membuatnya terjatuh dari ketinggian 20 kaki. Ia tak sempat melindungi kepalanya yang mungkin terkena hantaman dari berbagai batu kerikil disana.
Saat ia sudah berada di bawah, tangannya ia gerakkan untuk menyentuh dahinya dan mendapati cairan merah kental mengucur deras dari dahinya. Punggung dan dadanya terasa sakit karena sempat terbentur oleh bebatuan besar disana.
"Ugh.."
Kepalanya terasa bekunang dan matanya juga terasa memberat. Nafasnya perlahan mulai memberat, tiba-tiba saja ia diserang oleh sesak di dadanya. Setelahnya, Mingyu tidak sadarkan diri.
Wonwoo terkejut mendengar ringisan seseorang. Ia menoleh-nolehkan kepalanya dan tak mendapati kekasih giantnya itu ada di sekitar sana.
"Mingyu?"
"Raghh.."
Ia menutup mulutnya sendiri saat mendengar sebuah erangan yang mendekat. Di depannya, Chanyeol memberinya kode untuk masuk kedalam celah pohon dan memberi tahu kalau Mingyu baik-baik saja.
Pemuda sipit itu segera memasukkan tubuh kurusnya pada celah pohon itu. Ia dan Baekhyun memliki ukuran tubuh yang pas untuk bersembunyi di dalam sana.
"Ergghh.."
DEG!
DEG!
Jantung mereka berdua terpacu begitu kencang. Mereka benar-benar takut kalau saja salah satu dari makhluk pemakan manusia itu mencium keberadaan mereka.
"Grhh.."
Tiba-tiba, sebuah tangan muncul dari celah-celah pohon tersebut. Tangan itu memiliki kulit yang begitu keriput dengan kuku panjang yang hitam. Tangan itu bergerak mendekati Wonwoo dan bergerak-gerak seperti ingin meraih sesuatu.
Wonwoo dan Baekhyun menahan nafas masing-masing. Mereka benar-benar takut.
"Erghh.."
Perlahan tangan itu keluar lalu menghilang. Suara langkah kakt dari para zombie itu juga perlahan menjauh dan menghilang.
Wonwoo mengintip dari celah pohon tersebut. Baru saja ia ingin menyembulkan kepalanya, sebuah tangan kembali muncul di celah-celah pohon tersebut.
"Errgghh.."
Baekhyun memberi isyarat utnuk berdiam. Wajah Wonwoo tadi benar-benar dekat dengan tangan itu. Jika saja ia tak cepat bergerak, mungkin ia sudah terkena goresan dari kuku-kuku panjang itu.
"Ergghh_kk.."
"Sudah aman." Ucap Chanyeol dari luar.
Wonwoo menyembulkan kepalanya, lalu mengeluarkan badannya dari celah-celah pohon itu. Dan dilanjutkan oleh Baekhyun.
"Mi-mingyu dimana hyung?" Tanya Wonwoo cepat.
"Ia terjatuh di jurang itu." Jawab Hoshi.
Wonwoo berlari kecil mendekati jurang tempat Mingyu terjatuh. Pemuda sipit itu dapat melihat tubuh Mingyu berada di dasar sana dengan darah yang mengucur dari dahinya.
"Wonwoo tunggu!" Seru Chanyeol, namun dihiraukan oleh pemuda Jeon itu.
Wonwoo segera merosot dan mendatangi tubuh Mingyu yang sudah dipenuhi oleh tanah itu. Beserta darah yang masih deras mengalir dari dahinya.
"Gyu, irreona! Gyu!"
Wonwoo menggerak-gerakkan tubuh Mingyu yang tak sadarkan diri. Ia mendekatkan telinganya pada dada pemuda Kim itu untuk mendengar detak jantungnya. Detak jantung Mingyu masih terdengar, namun cukup lemah bagi ukuran manusia normal.
"Engh.. sshh"
Wonwoo tersenyum sumringah mendengar suara Mingyu, "Mingyu?"
Tidak jauh dari tempatnya, satu makhluk zombie itu berjalan mendekat. Matanya tertuju pada Wonwoo yang masih sibuk membangunkan Mingyu.
"Wonwoo! Dibelakangmu!" Teriak Chanyeol dari atas.
Wonwoo menoleh, tepat saat itu juga tubuhnya dipeluk oleh Mingyu dan dibawa ke sisi kiri pemuda Kim itu.
"Graahh!"
Ia segera mengambil pisau lipatnya lalu dengan sigap ia menusukkan pisau yang ada di genggamannya pada zombie yang akan menyerang Mingyu dari belakang itu.
"Grrhh_kk.."
Wajahnya dan wajah Mingyu terkena semburan darah makhluk itu. Tubuh zombie itu ambruk dan menimpa Mingyu.
"Ugh.." Ringis Mingyu pelan.
Wonwoo segera bangkit dan menyingkirkan tubuh makhluk yang menimpa kekasihnya.
"Gwenchana?" Mingyu mengangguk.
Pemuda itu memegangi kepalanya yang berdenyut sakit. Kepalanya masih terasa berkunang-kunang.
"Mingyu!"
Chanyeol dan teman-temannya segera turun dan menghampiri Wonwoo dan Mingyu. Baekhyun yang sudah tahu tugasnya segera mendekat kearah Mingyu dan melihat bekas luka pemuda tan itu.
"Ini harus dijahit. Kalau tidak darahnya akan keluar terus dan Mingyu akan kehabisan darah." Ucap Baekhyun masih fokus dengan luka Mingyu.
"Kau masih kuat berdiri?" Tanya Chanyeol yang diangguki Mingyu.
"Aku masih bisa melawan mereka semua, hyung." Jawab Mingyu lemah.
Chanyeol meliriknya, "Tidak dengan luka itu."
"Baek, kau bisa menahan pendarahannya sebentar?" Baekhyun mengangguk.
"Baiklah kalau begitu. Baek, kau tahan pendarahannya untuk sementara. Kita akan mengelilingi perumahan ini untuk mencari tempat yang aman." Ucap Chanyeol sambil melihat pintu yang sangat besar didepannya.
Welcome..
.
"Ungh.."
"Hyung? Hyung tidak apa?" Tanya Dokyeom.
"Euh.. aku dimana? Aghh.. ini benar-benar pusing." Keluh Xiumin.
Ia terus memegangi kepalanya dari tadi. Dokyeom menjadi prihatin melihat hyung chubbynya itu.
"Hyung, lebih baik kau sekarang masuk tenda lalu istirahat. Sepertinya hyung demam." Simpul Dokyeom sambil membolak-balikkan tangannya di dahi Xiumin.
Pemuda chubby itu hanya mengangguk dan berlalu meninggalkan 4 pemuda yang menatapnya nanar.
"Dia kenapa, Chen?" Tanya Suho.
"Jadi begini, saat itu aku dan Xiumin hyung berencana untuk melihat-lihat senapan bersama. Saat kami ingin ke gudang, dia bilang kalau ada yang kelupaan di meja kerjanya. Jadinya, kita tidak jadi pergi saat itu." Cerita Chen.
"Nah, saat itu aku langsung berpikiran untuk ke café sebentar. Baru saja aku sampai disana, aku mendengar suara ricuh dari arah belakang. Ternyata, pagar seng itu rubuh dan para zombie yang ada di luar menyerang. Saat aku lihat, kantor pusat lah yang terserang duluan."
"Aku berpikir bagaimana cara menyelamatkan Xiu hyung kalau keadaan sehancur itu. Dan aku memilih bersembunyi sebentar di dalam café hingga suasana mulai mereda. Sebenarnya aku ingin menuju kesana langsung, tapi itu sangat tidak memungkinkan karena jumlah para zombie itu."
"Nah, saat itu aku melihat ada sebuah jendela terbuka. Buru-buru aku kesana dan mendapati itu ruang kerja para staff. Aku masuk ke sana dan mulai mencari Xiu hyung. Saat itu, aku tidak tahu ruangan Xiu hyung dimana, tapi karena ada suara erangan keras dari dalam pintu sebelah kananku, aku menganggap Xiu hyung juga ada di dalam."
"Saat aku buka, benar saja itu Xiu hyung yang sedang berusaha melawan 3 zombie. Aku membunuh 3 zombie itu dan seketika itu Xiu hyung pingsan begitu saja." Tutup Chen.
"Kau tidak melihat siapa saja teman kita yang selamat?" Tanya Suho yang mendapat gelengan dari Chen.
"Aku.. melihat Tao,"
"Tapi, dia sudah menjadi salah satu dari mereka." Lanjut Chen membuat semua yang ada disana terkejut.
"Baikah kalau begitu. Siapa yang mau ikut mencari perbekalan?" Tanya Suho dengan nada sedikit bergetar.
Ia masih belum bisa menerima kalau teman-temannya akan meninggalkannya secepat ini. Tapi, ia juga harus kuat untuk mempertahankan diri dan teman-temannya sekarang.
Sungjae dan Chen mengangkat tangannya. "Kalau begitu, kau menjaga Xiu hyung. Kami akan balik sebelum petang."
"Eih, lama sekali hyung. Bagaimana kalau sebelum jam 4 saja?" Tawar Dokyeom.
"Ya! Ini sudah jam 3 siang."
"Oiya? Okelah kalau begitu."
Setelahnya Sungjae, Suho dan Chen berjalan menuju arah barat.
"Hyung! Bawa makanan yang banyak ne!" Seru Dokyeom dari jauh.
.
"Hoaam!"
Dokyeom mengusap wajahnya yang mengantuk. Ini sudah hampir malam, tapi kenapa Suho dan yang lainnya belum kembali juga?
"Mereka lama sekali." Gumamnya sambil memainkan tanah.
Ia membuat pola tak tentu pada tanah dibawahnya itu.
"Erghh.."
"Eih! S-suara apa itu?"
Dokyeom menggenggam pisau lipatnya dan mengambil ancang-ancang untuk menyerang.
"Erghh.."
Suara itu berasal dari dalam tenda. Dokyeom terbelalak karena melihat tenda yang di tempati Xiumin bergerak-gerak.
"X-xiu h-hyung? Ka-kau disana?"
".."
"Minnie hyung?"
"…"
Kembali tidak ada jawaban. Tapi pergerakan tenda itu tiba-tiba saja terhenti dan juga suara erangan itu seketika menghilang.
"Hanya halusinasi. Hanya halusinasi.." Guman Dokyeom meyakinkan dirinya.
"Erghh.."
"Aku yakin ini bukan halusinasi."
Kembali ia mengambil ancang-ancang dan bersiap untuk membuka tenda yang ada di hadapannya.
SREET
"Xi-"
"RAGGHH!"
"Oh shit!"
Dokyeom terdorong kebelakang dengan Xiumin yang menimpanya. Pemuda chubby itu mengerang-erang sambil menggerakkan tangannya untuk mencengkram pundak lebar Dokyeom.
Pemuda bermarga Lee itu berusaha mendorong tubuh Xiumin, namun apa daya kekuatan hyungnya itu lebih besar dari yang dimilikinya sekarang.
Mata coklat Xiumin sudah berubah warna menjadi putih dengan urat-urat lehernya yang terpampang jelas. Bibirnya yang pucat kini semakin memucat serta kulitnya yang sedikit mengelupas dibagian tengkuk.
"RAGGH! ERRGRRAAH!"
TAP TAP TAP
"Dokyeom!"
"Hyung! BANTU AKU!" Teriak Dokyeom setelah mendengar panggilan dari Suho.
Suho, Chen, Jun dan Sungjae segera menahan tubuh Xiumin yang menimpa Dokyeom.
"Xiu hyung sudah berubah."
Suho menatap Chen dan Dokyeom bingung, "Bagaimana bisa?"
Keduanya menggeleng tidak tahu.
"ARGHH!"
"Sungjae hyung!"
Suho segera menancapkan pisuanya pada kepala Xiumin yang membuat tubuh pemuda itu terjatuh ke tanah. Sungjae memegangi tangannya yang baru saja tergigit oleh Xiumin.
"H-hyung.."
"Ini tidak apa. Nan gwenchana.. Aku tahu cara mengobatinya." Ucap Sungjae gelagapan.
Lalu, pemuda itu berlari menjauhi Suho, Chen dan Dokyeom menuju tengah hutan. Sungjae mendudukkan dirinya pada batu besar yang terletak di balik semak-semak disana. Ia terihat sedang memikirkan sesuatu.
Pemuda itu bangkit lalu duduk di tanah dan memasukkan tangannya pada celah-celah batu besar itu, membuat tangannya terhimpit. Sungjae mengambil pisau lipatnya dan mengarahkannya pada lengan bawahnya.
"Ini tidak akan sakit.. tidak akan."
CRASH!
"Eghh!"
Pisau itu menancap pada permukaan tangannya. Cairan merah segar mengucur dari bekas tusukkan itu.
"Shh.. sial!" Umpatnya sambil menarik pisau lipat itu.
Ia menusukkan pisau lipat itu pada tempat yang sama berkali-kali hingga membuat dagingnya terlihat jelas. Kemudian, ia kembali mencari batu dan memukul-mukulkannya pada tulang lengan bawahnya.
BUKH! BUKH!
"Ayolah! Patah! Shh.." Ringisnya.
Darah masih mengucur deras dari tangannya.
BUKH!
Pada pukulan terakhir, tulang lengan miliknya patah sudah. Darah segar masih terus mengucur deras dari lengannya.
.
Hari semakin gelap, Dokyeom, Jun dan Chen memutuskan untuk membuat api unggun di tengah-tengah mereka.
"Hyung, Sungjae hyung belum kembali?" Tanya Dokyeom.
Suho menggeleng lemah.
SREEKK SREEK
Tiba-tiba semak-semak di belakang tenda mereka bergerak dengan sendirinya. Awalnya, mereka hanya berfikir itu karena hembusan angin. Pemikiran itu seketika berubah disaat kulit mereka tak merasakan adanya angin yang berhembus.
"Kalian jaga sebelah sana." Bisik Suho.
Mereka ber-empat sudah siap dengan senjata masing-masing.
BUKH!
Tiba-tiba Sungjae datang dari balik semak-semak itu. Mereka ber-empat terbelalak kaget melihat tangan Sungjae yang terpotong.
"H-hyung?"
Sungjae menghiraukan panggilan Suho. Ia berjalan menuju api unggun dan memasukkan tangannya kedalam sana.
"Aghh..sshh.." Ringisnya.
Tangannya benar-benar sakit dan terasa begitu panas.
YUP!
Ia membakar bekas lukanya sendiri untuk memberhentikan pendarahan.
"Na-nan.. gwencha _"
BRUK!
"Hyung!"
"Nah, sudah. Nanti kalau Mingyu sudah sadar, berikan ini, okey? Ini vitamin, agar ia tidak terlalu kelelahan." Ujar Baekhyun. Wonwoo mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti.
"Aku pergi dulu." Lanjutnya dan meninggalkan kamar Wonwoo dan Mingyu.
Wonwoo meletakkan handuk dan baskom berisi air panas pada nakas. Ia duduk disamping Mingyu yang terlelap sambil sesekali mengelus surai Mingyu yang mulai memanjang.
Ia mengambil handuk dan mencelupkannya pada baskom itu. Lalu, ia mengusap wajah kotor Mingyu hingga membuat wajah pemuda itu terlihat bersih.
"Ughh.."
Mingyu perlahan membuka matanya. Ia melihat Wonwoo tersenyum dengan sedikit wajah terkejut karena dirinya yang tiba-tiba terbangun.
"Masih sakit?" Mingyu mengangguk lemas.
Wonwoo tersenyum manis padanya. Mingyu masih memegangi kepalanya yang berdenyut-denyut setiap saat itu.
"Ayo bersihkan dirimu." Ucap Wonwoo sambil membantu Mingyu mendudukkan dirinya.
Ia mulai membuka satu persatu kancing kemeja yang Mingyu pakai. Sedangkan Mingyu, ia hanya berdiam mengikuti perintah Wonwoo karena kepalanya yang berdenyut dan badannya yang masih sangat lemas.
Setelah melepas kemeja putih itu, Wonwoo mengambil handuk basah yang ada di nakas, lalu membasuhkannya pada tubuh kotor Mingyu. Dimulai dari leher, bahu, dada hingga ke perut.
Wonwoo menepuk pinggir kasur, menyuruh Mingyu untuk duduk disana. Setelah Mingyu berpindah, ia kembali membasuh handuk itu pada punggung lebar Mingyu. Ia tidak sengaja melihat bekas luka membiru di daerah pundak kanan Mingyu.
"Gyu.. apa ini.. sakit?" Tanya Wonwoo sambil mengusap pelan bekas luka itu. Mingyu mengangguk, mungkin itu bekas luka saat ia jatuh, pikir namja tan itu.
Wonwoo kembali melanjutkan aktivitasnya, membasuh tubuh Mingyu hingga bersih. Kemudian, ia turun dari ranjang dan mengambil beberapa pakaian yang sempat ia bawa dari apartmentnya.
Ia memasangkan Mingyu sebuah baju lengan panjang berwarna putih dengan motif garis-garis di sekitaran perutnya.
"Ahh, baju ini.." Gumam Mingyu sambil melihat baju yang sudah melekat di tubuhnya itu.
Wonwoo mengambil botol obat yang tadi diberikan oleh Baekhyun, "Minum ini. Kau kekurangan vitamin."
Mingyu meraihnya dan meminum obat satu pil yang baru saja ia keluarkan. Setelah selesai, ia memberikan botol obat itu pada Wonwoo.
CUP
Wonwoo mencium pipi Mingyu singkat, "Sekarang kau tidur dan istirahat."
"Hyung mau kemana?"
Wonwoo mengangkat baskom dan handuk yang ada di kedua tangannya, memberi kode kalau ia mau mengembalikan baskom itu.
"Hyung jangan pergi~"
Baru saja ia mau membuka knop pintu, suara rengekkan dari Mingyu memberhentikan langkahnya. Ia berbalik dan menaruh baskom itu di atas nakas.
"Wae? Aku mau ke dapur sebentar."
Mingyu memajukan bibirnya.
"Ayo tidur." Ucap Mingyu sambil menepuk-nepuk sisi kirinya yang kosong.
"Tidur disini."
Wonwoo berjalan menuju sisi kiri Mingyu lalu menidurkan dirinya di sebelah Mingyu. Pemuda tinggi dibelakangnya memeluk tubuh kurusnya erat.
"Tidurlah. Kau terlihat kelelahan." Mingyu mengangguk.
Pemuda Kim itu menyembunyikan kepalanya pada leher Wonwoo. Ia mengecup leher putih itu berkali-kali sebelum dirinya tertidur pulas.
.
"Okey, sekarang Wonwoo, Mingyu, Hoshi, Woozi, Aku dan Baekhyun akan ke arah kiri. Kalian ber 5, kearah kanan. Kalian semua harus sudah kembali di bawah jam makan siang. Mengerti?"
Kai, Sehun, Luhan, Kyungsoo, dan Junghan mengangguk mengerti. Mereka pun segera mengambil perlengkapan, lalu meninggalkan Chanyeol dengan yang lainnya di depan pintu rumah.
Chanyeol mengerahkan teman-temannya untuk mengikutinya dari belakang. Lingkungan perumahan yang mereka tempati benar-benar sangat sepi. Bahkan satu ekor hewan pun mereka tidak dapat jumpai.
"Kalian kerumah sebelah sana. Ingat! Jangan memakai pistol." Ucap Chanyeol pada Baekhyun, Wonwoo dan Woozi.
Ketiganya hanya mengangguk dan berjalan mendekati rumah yang ditunjuk Chanyeol.
KRIIEETT
"Aku akan keatas, Baekhyun hyung diruang tengah, dan Wonwoo di belakang. Okey?"
Wonwoo dan Baekhyun mengangguk. Mereka bertiga segera berjalan menuju tempat masing-masing.
Wonwoo melangkahkan kakinya perlahan menuju dapur. Ia mendapati dapur itu kosong, namun masih sangat bersih dan rapi. Banyak makanan kaleng yang bisa dibawa untuk simpanan mereka di hari-hari selanjutnya.
Ia mengambil kursi kecil untuk mengambil makanan-makanan yang diletakkan di atas lemari tinggi di dapur itu. Baru saja ia mengangkat kaki kanannya, mata sipitnya tiba-tiba saja menangkap sesuatu di luar jendela sana.
Ia melihat sesosok anak kecil laki-laki sedang menenteng sebuah tas kecil yang ia sampirkan pada pundaknya. Ia terlihat sedang berjalan memasuki dari satu rumah ke rumah yang lainnya, lalu keluar dengan beberapa barang yang ia masukkan pada tas kecil miliknya.
Wonwoo melangkah keluar untuk melihat anak kecil itu. Awalnya, ia berfikir kalau itu hanya sebuah khayalannya saja. Tapi, setelah matanya tak sengaja bersitatap oleh mata anak kecil itu, ia yakin kalau anak laki-laki itu nyata.
Wonwoo menyembunyikan dirinya di balik semak-semak lebat. Ia memperhatikan gerak gerik anak laki-laki itu yang akan memasuki gang yang terletak tak jauh dari tempat sembunyinya sekarang.
Anak laki-laki itu memasuki gang itu dengan berlari kecil, namun beberapa detik kemudian ia terlihat keluar dari gang itu dengan berjalan mundur. Wonwoo terbelalak saat melihat sesosok zombie berjalan mendekati sang anak dengan sedikit berlari.
Dengan segera ia berlari menuju anak kecil itu. Ia menarik lengan kecil sang anak dan menyuruhnya berdiam di belakang tubuh tingginya.
"Tenang saja, aku tidak jahat." Ucap Wonwoo setelah melihat tatapan ketakutan anak itu.
Ia menarik kerah zombie itu dan menusukkan pisau kecilnya pada tengkuk sang zombie. Tubuh kotor nan menjijikkan itu terjatuh di hadapannya dan sang anak. Anak laki-laki itu meremas celana panjang Wonwoo. Wajahnya terlihat begitu ketakutan karena zombie itu hampir saja menyerangnya.
"Sekarang sudah tidak apa, okey?" Ucap Wonwoo sambil mengelus surai hitam sang anak.
Ia menyamakan tingginya dengan anak kecil itu. Mata sipitnya menatap mata anak laki-laki itu, tak sengaja wajah Mingyu terlintas di benaknya. Ah, rupanya ia baru menyadari sesuatu. Mata anak itu mirip dengan mata milik Mingyu.
"Orang tuamu mana, hm?" Sang anak menggeleng, membuat Wonwoo membulatkan matanya.
"Ma-maafkan aku."
"Gwenchana, noona."
Noona?
Hey! Dia ini laki-laki. Seharusnya anak itu memanggilnya hyung.
"Eh? Noona? Aku seorang namja." Ucap Wonwoo membuat dahi sang anak berkerut bingung.
"Noona itu cantik. Noona itu manis. Tapi, noona seperti namja." Ucap anak itu membuat Wonwoo tak bisa menahan senyumnya.
"Namamu siapa hm?" Tanya Wownoo mencoba mengganti topik.
"Seungkyu." Jawabnya.
"Kau sendiri disini?" Anak itu menggeleng.
"Wonwoo!"
Suara Baekhyun mengagetkan keduanya. Sang anak itu berjengit sambil memeluk leher Wonwoo. Ia masih takut dengan zombie yang dibunuh Wonwoo tadi.
"Itu bukan salah satu dari mereka. Itu temanku." Ucap Wonwoo sambil mengelus-elus puncak sang anak.
Sang anak seperti tidak mau mendengar apa-apa. Ia masih memeluk Wonwoo, malahan sekarang ia menyembunyikan kepalanya pada ceruk leher namja tinggi itu. Wonwoo tersenyum maklum melihat tingkah laku anak laki-laki itu. Lagipula, mana ada anak-anak yang bertahan hingga hari ini seperti dirinya. Anak itu sudah termasuk anak yang berani.
Pilihan terakhir, Wonwoo pun memilih menggendong sang anak dan berjalan memasuki rumah yang tadi ia cek. Ia mengambil barang-barang yang ia sudah kumpulkan tadi lalu berjalan keruang tengah, menemui Woozi dan Baekhyun.
"Ya! Won_"
Teriakan Baekhyun terhenti. Ia dikejutkan dengan seorang anak kecil yang berada di gendongan Wonwoo. Anak lelaki itu semakin memeluk Wonwoo erat saat ia mendengar suara Mingyu yang datang dari arah pintu utama.
"Dia siapa?" Tanya Mingyu.
"Seungkyu. Aku menemukannya tadi hampir diserang zombie." Jawab Wonwoo.
Baekhyun menutup mulutnya kaget. Ia berjalan mendekat dan mengelus-elus punggung Seungkyu. Membuat anak laki-laki itu semakin memper-erat pelukannya.
"Seungkyu, ini teman-temanku."
Saat Wonwoo mau menurunkan tubuh kecilnya, Seungkyu malah bergelantungan pada leher Wonwoo. Ia seperti tidak mau turun dari gendongan Wonwoo.
"Tidak apa. Mereka tidak jahat." Ucap Wonwoo kembali.
Akhirnya, dengan berat hati Seungkyu memberanikan diri untuk melepas pelukannya.
"Aaa.. kyeoptaa"
Baru saja kaki kecilnya menampak pada tanah, pipi gembulnya tiba-tiba saja ditarik oleh Baekhyun. Tiba-tiba mata Seungkyu berubah menjadi berkaca-kaca, lalu..
"Eomma! Huwaa!"
Ia berlari menuju Wonwoo dan memeluk tubuh tinggi Wonwoo. Seungkyu membuat semua yang ada disana tertawa karena tingkah imutnya.
.
"Aku akan kerumah itu. Kau kesana." Ucap Sehun pada Kai sambil menunjuk 2 rumah di depan mereka.
Sehun dan Luhan pergi menuju rumah bercat putih yang ada di sisi kiri. Sedangkan Kai, Kyungsoo dan Junghan menuju rumah yang ada di sisi kanan.
KRIIEETT
Kai berjalan terlebih dahulu. Ia memasuki rumah itu hingga bagian terdalam.
"Hey! Ada ruangan." Ucap Kai.
Ia membuka pintu berwarna abu itu. Mereka bertiga melongo melihat isi dalam ruangan itu.
"I-ini.."
"Laboratorium. Ini seperti laboratorium." Potong Kyungsoo.
Kyungsoo melangkahkan kakinya untuk melihat-lihat isi laboratorium tersebut. Tiba-tiba, matanya menangkap sebuah pintu yang tertutup sangat rapat.
"Kai, lihat!" Kai mendatanginya.
"Aku penasaran.." Gumam Kyungsoo pelan.
Baru saja tangan Kyungsoo menyentuh kenop pintu itu, Kai sudah mencegahnya. "Kita harus waspada hyung."
Kyungsoo melepas genggamannya. Ia menunggu Kai untuk memberikan instruksi.
"Hyung pegang sisi kanan dan Junghan sisi kiri. Saat hitungan ketiga, buka secara bersamaan oke?" Junghan dan Kyungsoo mengangguk.
"1.. 2.. 3!"
KREEKKK
"GRAAHHH!"
.
.
.
TBC
Hi kalian, i'm back buat up ff ini! happy reading everyone3
