Meanie - Chanbaek
SVT - EXO fic
M
.
Warn! TYPO(s)! YAOI! BL! AU! OOC!
Cerita murni buatan Author! Sisanya minjem.
.
DLDR kawan!
.
.
HAPPY READING and Enjoy ~
.
.
"GRAAHH!"
"Oh shit!" Umpat Kai setelah melihat banyak zombie menyerangnya.
Kyungsoo dan Junghan dengan segera menutup pintu itu. Tapi, entah kenapa pintu itu terasa sangat berat.
"Hyung! Ini berat!"
Kyungsoo dan Junghan tetap berusaha menutup pintu itu, sedangkan Kai membunuh para zombie yang menyerangnya.
KREEKK
Pintu itu hampir tertutup rapat, namun terlambat. Semua zombie yang ada diruangan itu keluar dengan bergerumbul membuat mereka tambah kesusahan untuk menutup pintunya.
Kyungsoo mengeluarkan pisau kecilnya. Baru saja ia ingin membantu Kai, tiba-tiba saja tangannya digigit oleh salah satu makhluk itu. Makhluk itu menarik dangingnya hingga tulangnya terlihat sangat jelas.
"ARGGH!"
Karena teriakannya, 3 zombie datang dari belakangnya. Tiga makhluk itu menggigit Kyungsoo tepat di bagian leher dan kepala.
"Akhh!"
Salah satu makhluk menjijikkan itu merenggut indra pendengarannya. Mereka juga mencakar wajah Kyungsoo, membuat wajah pemua itu menjadi tak berbentuk.
"Kyungsoo hyung!" Teriak Junghan membuat Kai menoleh.
Kai menendang 2 zombie yang akan menyerangnya, membuat kaki kedua zombie itu patah. Baru saja lelaki Kim itu melangkahkan kakinya, tiba-tiba saja kaki kanannya tergigit oleh salah satu zombie yang baru saja ia lumpuhkan.
"AGH! Sialan!" Umpat Kai sambil menghempaskan kakinya.
Ia kemudian menginjak kepala makhluk itu hingga hancur tak berbentuk. Belum sempat berjalan dengan benar, pundaknya tiba-tiba saja tertarik kebelakang membuatnya terjatuh.
"AKHH!"
Beberapa zombie mengerumuni tubuhnya. Mereka merobek kulit perutnya dan memakan habis isi dalam perutnya. Usus serta isi dalam perut miliknya berceceran keluar dengan darah segar yang muncrat kemana-mana.
Junghan menutup mulutnya sendiri melihat kematian kedua hyungnya. Baru saja ia ingin melangkah mendekat, jalannya sudah dihalangi oleh 2 zombie lainnya. Ia menatap kedua zombie yang sedang menghampirinya itu. Ia mengambil pistol dan mengarahkan benda itu pada kepala salah satu makhluk yang akan menyerangnya itu.
DOR! DOR!
"Ti-tidak ada yang kena?" Gumamnya panik.
Ia kembali menodongkan pistolnya pada kepala zombie itu.
"Kau pasti bisa Junghan.. kau pasti bisa.." Gumamnya.
DOR!
"AKH!"
.
KRIIEEET
Sehun membuka pintu rumah itu perlahan. Ia melihat kondisi rumah itu yang cukup berantakan.
"Lu, waspada." Luhan mengangguk.
Mereka berdua membuka pintu-pintu kayu itu secara bersamaan.
BRUK!
"Ssshh.."
Sehun memberi kode Luhan untuk berjalan maju dengan mengendap-endap. Mereka berdua berhenti di depan pintu terakhir. Sehun membuka pintu itu perlahan,
KRIIEET..
"Huuhh.. huuhh.."
Deru nafas seseorang terdengar dari balik pintu itu. Sehun melepas genggamannya pada kenop pintu dan beralih menendang pintu itu hingga terbuka lebar. Di ruangan itu hanya ada seorang lelaki tinggi dengan senjata yang ia todongkan di hadapan Sehun.
"K-kris hyung?"
"Who are you?!" Teriaknya sambil memajukan langkahnya.
"Whoa whoa whoa, tenang hyung. Kau tidak ingat aku?" Lelaki itu menggeleng.
"Oh Sehun."
"Oh Sehun?" Sehun mengangguk.
DOR!
Mereka bertiga menoleh cepat.
"Gunshot! From the other side!" Ucap lelaki tinggi itu.
Seketika Luhan dan Sehun terbelalak.
"Kai!"
Mereka bertiga dengan buru-buru keluar dari rumah itu. Luhan menutup mulutnya terkejut, air matanya tidak bisa ia tahan untuk tidak menetes.
"Hun.. hiks.. K-kyungsoo.." Isak Luhan.
Mereka di buat terkejut dengan banyak zombie yang keluar dari rumah di sebrang mereka. Rumah yang baru saja dimasuki oleh Kai, Kyungsoo dan Junghan.
"Mereka.. hiks.."
DOR!
Lelaki tinggi itu menembaki zombie-zombie yang berjalan menuju mereka. "Come with me."
Sehun dan Luhan mengikuti arah lelaki tinggi itu pergi. Mereka berlari menuju perkarangan rumah dengan pagar kayu yang lumayan besar.
"From here, we will come out through the back." Ujar lelaki tinggi itu.
"Ayo!"
Lelaki tinggi itu menuntun keduanya untuk lolos dari kepungan para makhluk pemakan manusia itu.
.
DOR!
"Suara apa itu?"
Hoshi, Chanyeol dan Mingyu sudah bersiap dengan pistol masing-masing. Mereka keluar rumah dan melihat sekeliling mereka yang sangat sepi.
"Aku yakin itu Kai atau Sehun." Ucap Chanyeol.
"Tapi bisa juga itu bukan mereka." Lanjutnya.
Seungkyu yang ada di gendongan Wonwoo meminta Wonwoo untuk menurunkannya. Anak laki-laki itu memilih menggandeng tangan kurus Wonwoo.
"Kami akan memeriksanya. Kalian tetaplah disini. Kalau ada apa-apa, tembakkan satu peluru. Oke?" Baekhyun, Woozi dan Wonwoo mengangguk.
"Eungg.. noona.. Bagaimana kalau noona diam di rumahku saja? Disana tidak ada mereka kok." Ucap Seungkyu tiba-tiba.
"Rumahmu?" Seungkyu mengangguk.
"Nanti hyung-deul tinggal lurus saja. Lalu, belok ke sana luruuus terus. Pokoknya disana deh. Nanti Seungkyu keluar." Jelas Seungkyu dengan logat khas anak-anaknya.
Mingyu menyamakan tingginya dengan Seungkyu, "Baiklah Seungkyu-ah. Aku mempercayakan para noona ini padamu, ne? Kalau ada apa-apa, suruh mereka menembak, hm?"
Seungkyu mengangguk-anggukkan kepalanya lucu.
PLAK!
Tiba-tiba kepala pemuda tinggi itu di geplak oleh Baekhyun.
"Ya! Noona noona! Kami itu laki-laki ya!" Omel Baekhyun.
"Appo hyung~" Rengek Mingyu membuat Seungkyu terkekeh pelan.
"Ayo semuanya!" Titah Chanyeol.
"Ya sudah. Seungkyu-ya, tolong ya!"
Seungkyu mengangguk lalu menarik tangan Wonwoo untuk mengikuti langkahnya.
.
"Grrhh.."
"Kalian dengar? Itu suara makhluk itu." Ucap Hoshi.
"Hyung sini."
Tiba-tiba Mingyu menarik tangan Hoshi dan Chanyeol untuk mengikuti langkahya. Mereka berhenti di rumah yang berada di sudut jalan.
"Sshh.."
Mingyu memberi kode kepada kedua hyungnya untuk melihat keadaan yang ada di balik rumah itu.
"Tidak mungkin.." Gumam Chanyeol.
"Kemarin kita memeriksa disini, tapi tidak ada satupun yang kami temui. Mereka.. ada dimana-mana."
Hoshi memandang para makhluk itu.
"Bagaimana dengan Kai hyung dan Sehun hyung?" Tanya Mingyu.
Chanyeol dan Hoshi menggeleng tidak tahu. Mereka tidak terima harus kembali kehilangan sahabat mereka. Setelah kematian Seungcheol, mereka bertekad untuk saling menjaga satu sama lain. Tidak ada yang boleh lengah sedikitpun.
"Hikss.."
Suara isakan terdengar cukup dekat dari tempat mereka sekarang.
"Hun.. hikss.."
Kembali isakan itu terdengar. Chanyeol memberi kode Mingyu dan Hoshi untuk mengikuti langkahnya. Suara isakan itu semakin terdengar jelas.
"Sudah, Lu.."
Itu suara Sehun!
Chanyeol semakin mempercepat langkahnya saat suara Sehun tertangkap oleh indra pendengarannya. Pemuda tinggi itu berhenti di depan semak-semak tinggi. Tangannya bergerak cepat untuk menyibak semak-semak itu.
"Hun?"
"Eoh? Hyung."
Pemuda pucat itu berbicara datar, namun dari nadanya sangat terdengar sekali bahwa ia sedang terpukul sekarang.
"Ma-mana Kai?" Sehun menggeleng lemah.
"Kyungsoo hyung? Junghan hyung?" Luhan dan Sehun kembali menggeleng.
Chanyeol meremas kepalanya sendiri. Kejadian yang paling ia hindari terjadi juga.
"Grhhh.."
Suara erangan tiba-tiba terdengar mendekat.
"Ayo semuanya. Ikut aku." Titah Chanyeol.
Mereka ber-enam berjalan kembali menuju rumah yang dimaksud Seungkyu.
"Ugh.."
Sungjae meremas kepalanya sendiri. Baru saja ia terbangun, rasa nyeri tiba-tiba menyerang kepalanya. Bahkan, badannya susah untuk digerakkan.
"Hyung?"
Suara Suho tiba-tiba memenuhi indra pendengarannya. Ia ingin menoleh, tapi entah kenapa rasanya sangat pusing.
Suho?
Ia semakin ditambah bingung dengan suaranya yang tidak keluar.
"Hyung? Gwenchana?" Tanya Suho dengan wajah cemasnya.
"Erghh.."
Suho terkejut dengan suara erangan yang Sungjae keluarkan. Suho menggerakkan tangannya untuk menyentuh dahi Sungjae.
"Omo! Hyung demam."
"Su-su..ho..-ya.. egh.." Panggil Sungjae terbata-bata.
"Wae hyung?"
Suho semakin dibuat cemas disaat ia melihat wajah kesakitan Sungjae.
"Baiklah. Sekarang lebih baik hyung istirahat, okey? Kalau butuh apa-apa, kami semua ada diluar." Tutup Suho sambil berlalu keluar tenda.
Aku kenapa?
.
"Jadi, Xiumin hyung kenapa?" Tanya Suho pada Chen.
"Setelah aku periksa, sepertinya saat melawan zombie-zombie itu Xiumin hyung sempat terkena goresan di bagian tengkuknya. Lukanya tidak terlalu dalam, dan itu yang menyebabkan Xiumin hyung bisa bertahan selama ini." Jelas Chen.
Semuanya mengangguk-angguk mengerti.
"Baiklah, sekarang silahkan makan sarapan masing-masing. Aku akan berjaga." Ucap Suho sambil melangkahkan kakinya menjauh dari perkemahan.
Ia berjalan menaiki puncak bukit dan berhenti tepat di dekat bongkahan batu besar. Pemuda Kim itu mendudukkan dirinya di atas bongkahan batu itu sambil menyiapkan senjatanya.
SREEKK SREEKK
Suho berbalik cepat. Ia melihat sekelilingnya yang dipenuhi semak-semak belukar.
SREKK SREKK
"Aish! Apa lagi ini?" Gumamnya kesal.
"Ugh.."
Tiba-tiba telinganya menangkap suara rintihan seseorang. Ia melangkah pelan menuju salah satu semak-semak itu.
BUGH!
"Seungkwan?"
TOK TOK!
CKLEK!
"Seungkyu-ah, kau dari mana saja eoh?"
Seorang gadis berambut panjang di hadapan Seungkyu memeluk tubuh Seungkyu dengan wajah cemas.
"Aku.. tadi.."
Gadis itu menunggu jawaban dari Seungkyu dengan sabar.
"Eh? Seungkyu-ya, siapa tuan-tuan ini?" Tanya gadis itu ramah setelah mengetahui 3 pemuda berdiri di belakang tubuh kecil Seungkyu.
"Noona ini yang menyelamatkanku." Jawab Seungkyu sambil menunduk. Tangannya menggenggam jari telunjuk Wonwoo.
"Eh? Noona? Menyekamatkanmu?"
Gadis itu terlihat bingung dan cemas.
"Ah, Jeon Wonwoo imnida. Aku tadi menemukannya sedang tersesat." Gadis itu menggangguk-angguk.
"Ah, untung saja. Aku kira dia.. eum.. kalian pasti sudah tau." Ucap gadis itu lirih.
"Ah iya, Park Minhyeon imnida." Ucap gadis itu memperkenalkan diri. Ia membungkuk dengan sopan kepada 3 pemuda di hadapannya itu.
"Byun Baekhyun imnida."
"Lee Woozi imnida."
Baekhyun dan Woozi juga ikut memperkenalkan diri mereka masing-masing.
"Noona, mereka akan tinggal bersama kita mulai sekarang." Ucap Seungkyu riang.
Minhyeon mengusap-usap pucuk kepala Seungkyu sambil tersenyum, "Arraseo."
"Wonwoo-ssi, maafkan Seungkyu yang sudah memanggil anda dengan sebutan noona." Ucap Minhyeon merasa tidak enak dengan pemuda tinggi disebelahnya ini.
"Tidak apa. Itu tidak masalah." Jawab Wonwoo sambil tersenyum canggung.
"Noona! Wonwoo noona itu manis, cantik, hanya saja penampilannya seperti namja." Ucap Seungkyu sedikit merengut.
Minhyeon terkekeh, "Arraseo, arraseo. Kajja, kita masuk!"
.
"Mingyu-ya! Persediaan kita bagaimana?" Tanya Hoshi panik.
Semua berhenti berlari seketika.
"Ah iya! Rumah itu dekat dari sini." Ucap Luhan membuat semuanya termenung.
"Hey look!"
Lelaki tinggi yang berada di sebelah Sehun menunjuk ke belakang dengan raut wajah terkejut. Mereka dibuat panik oleh segerombolan zombie yang berjalan mendekati mereka.
"Sial! Mereka mendekat!" Seru Hohis panik.
"Aku dan Mingyu akan mengambilnya." Ucap Chanyeol cepat.
"Kita akan berpisah disini. Hoshi, tunjukkan mereka jalan ke rumah Seungkyu." Hoshi mengangguk.
Kemudian Hoshi, Sehun, Luhan dan pemuda berambut blonde itu berlari meninggalkan Chanyeol dan Mingyu di tengah jalan. Dua pemuda dengan tinggi yang hampir sama itu berbalik dan menatap segerombolan zombie yang sedang menatap mereka lapar.
"Kajja!"
Chanyeol dan Mingyu segera berlari kearah rumah yang sempat mereka tempati kemarin. Tentu dengan segerombolan zombie yang mengikuti mereka dari belakang.
"Grhh.."
"Graawwhh.."
"Graaaahh!"
Mingyu dan Chanyeol menoleh santai. Mereka melihat segerombolan makhluk itu dengan tatapan datar. Mereka memang berniat untuk memancing para zombie itu untuk menjauhi kediaman Seungkyu.
"Jarak mereka sekitar 10 meter dari sini. Kita bisa memancing mereka lebih jauh lagi." Bisik Chanyeol pada Mingyu.
"Arraseo, hyung."
Tanpa mereka ketahui, dari arah depan beberapa gerombolan zombie juga berjalan kearah mereka.
"Sial! Cepat lari!" Titah Chanyeol.
Mereka berdua berlari mendekat kearah rumah bertingkat dengan cat putih yang mendominasi luarnya. Mereka menutup pintu rumah itu dengan berbagai benda yang berat.
"Sial! Kita terjebak." Umpat Chanyeol tidak suka.
"Hyung, sekarang lebih baik kita mengumpulkan persediaan. Nanti kita pikirkan bagaimana cara keluar dari sini." Chanyeol mengangguk setuju.
Mereka pun membagi tugas untuk mengumpulkan sisa-sisa persediaan mereka. Chanyeol mengumpulkan barang-barang yang ada di lantai atas, sedangkan Mingyu yang di lantai bawah.
Setelah selesai, mereka memilih berkumpul di ruang tengah. Mereka berdua menutup jendela, pintu dan celah-celah lain yang bisa memancing zombie-zombie itu berdatangan.
"Jadi, bagaimana?"
"Err… Aku mempunyai ide hyung, tapi sepertinya terlalu berbahaya." Ucap Mingyu sambil menaruh jari telunjuknya di dagunya.
Dan itu membuat Chanyeol penasaran. Sangat penasaran.
"Apa? Sebutkan saja."
"Bagaimana kalau kita berdua memancing para zombie itu?" Saran Mingyu.
"WHAT?! Kau serius?" Tanya Chanyeol tidak percaya.
"Tuh kan, aku tahu ini terlalu extreme hyung." Balas Mingyu.
"Iya sih. Saranmu selalu extreme Gyu." Ucap Chanyeol yang membuat Mingyu merengut.
"Eh, tapi coba jelasin detailnya."
Mingyu terlihat berfikir sejenak, "Jadi begini ya hyung, kita berdua akan memancing mereka dirumah ini. Aku yakin pintu ini tidak akan bertahan lama. Kau tahu? Diluar sana makhluk-makhluk itu pasti sudah berkumpul."
Chanyeol mengangguk-angguk mengerti.
BUKH BUKH!
"Grrhh.."
"Nah kan, baru aja diomongin." Ucap Mingyu sambil menunjuk pintu yang terlihat bergerak-gerak karena hantaman dari luar sana.
"Lanjut."
"Nanti, kita berdua akan pisah. Siapa yang lewat atas dan siapa yang lewat bawah. Kita harus buat keributan supaya makhluk-makhluk itu masuk kerumah ini. Jadi, mereka tidak akan bisa mengejar kita." Lanjut Mingyu.
"Terus kita mau lewat depan begitu saja?"
"Ani ani, kita akan lewat tembok sebelah sana. Tadi, aku melihat ada tembok yang cukup rendah untuk kita panjat." Jawab Mingyu sambil menunjuk arah dapur.
Chanyeol mengikuti arah tangan Mingyu sambil mengangguk-angguk paham, "Arraseo."
.
"Seungkyu-ya, apakah kau mengambil susu bubuk?" Bisik Minhyeon pada Seungkyu yang sedang asyik bermain ayunan di halaman belakang.
"Eh, noona. Saat aku mau memasuki sebuah rumah, tiba-tiba saja ada zombie menyerangku. Aku hanya dapat mainan dan makanan. Tapi cuma sedikit." Jawab Seungkyu sedih di akhir.
"Ah, tidak masalah. Besok kita bisa mencarinya."
Minhyeon mengusak surai hitam Seungkyu lembut. Tanpa keduanya ketahui, Wonwoo yang tidak sengaja lewat di belakang mereka mendengar semua percakapan keduanya. Pemuda tinggi itu pun menghampiri kedua anak-anak itu.
"Susu bubuk? Untuk apa?"
Minhyeon menoleh cepat. Ia menatap Wonwoo dengan wajah kagetnya.
"Eih, Wonwoo-ssi. Kau mengagetkanku saja." Ucap Minhyeon sambil mengusap-usap dadanya.
"Panggil aku oppa. Okey?" Minhyeon mengangguk.
"Oh iya, kau belum menajawab pertanyaanku. Buat apa kalian membutuhkan susu bubuk?" Tanya Wonwoo lagi.
"Eum.. itu.."
Wonwoo masih setia menanti jawaban Minhyeon. Sedangkan yeoja berambut pirang itu hanya menggaruk-garuk tengkuknya sambil sesekali menggigit bibirnya.
"Eumm_"
"Bukan bermaksud apa-apa. Aku hanya ingin membantu saja. Supaya besok aku bisa mengambilkannya untuk kalian." Potong Wonwoo.
"Ah, tidak perlu oppa." Ucap Minhyeon sambil tersenyum canggung.
"Ayolah, tidak apa."
"Baiklah. Eum.. susu bubuk untuk bayi." Jawab Minhyeon ragu.
"Oh, untuk adik kalian ya? Baiklah, besok aku dan teman-teman akan mencari persediaan dan bisa sekalian mencari susu bayi itu." Ucap Wonwoo sambil tersenyum. Ia mengusak surai Minhyeon gemas.
"Kau tidak perlu sungkan Minhyeon-ah."
"Hyung! Aku ikut ya!"
Tiba-tiba Seungkyu berseru. Ia meloncat-loncat agar Wonwoo memperhatikannya.
"Arraseo~"
.
TOK TOK
"Seungkyu-ya, coba buka!" Seru Minhyeon dari dapur.
Seungkyu yang kebetulan berada di ruang TV pun segera melangkahkan kakinya untuk membuka pintu utama.
CKLEK
"Annyeong Seungkyu-ya." Sapa Hoshi.
"Annyeong hyung. Ayo masuk."
Empat namja yang berada di ambang pintu itu pun mengikuti langkah kecil Seungkyu menuju ruang TV. Mereka duduk melingkar dilantai dengan beralaskan karpet dan lilin sebagai penerang.
"Hyung, aku ke kamar dulu ne." Pamit Seungkyu sambil berlalu menuju kamarnya.
TAP TAP
Baekhyun menuruni tangga dengan tergesa-gesa. Senyum manis terus terpajang di bibir pinknya.
"Chanye…ol?"
Senyuman pemuda manis itu seketika memudar. Ia tidak mendapati Chanyeol berada di antara empat pemuda yang baru saja datang itu.
"Di-dimana Chanyeol?" Tanya Baekhyun dengan nada bergetar.
Melihat wajah Luhan yang murung, ia menjadi semakin cemas. "Apakah dia.._"
"Ani, Chanyeol hyung baik-baik saja. Ia dan Mingyu hanya sedang mengambil persediaan kita yang tertinggal." Jawab Sehun.
Baekhyun tersenyum lega mendengar jawaban dari Sehun, "Lalu, Kyungsoo mana? Kai? Ah! Junghan? Apakah mereka ikut mengambil persediaan?"
Luhan menggeleng.
DEG!
"Maksudmu.."
"..mereka?"
Luhan kembali mengangguk dengan tetesan air mata yang mengalir di pipinya. Baekhyun menghampiri Luhan yang sedang menangis, ia mengusap-usap punggung sempit Luhan untuk menenangkan pemuda manis itu.
"S-su..sudah lah Lu.. hiks.. ja-jangan menangis.." Ucap Baekhyun sambil memeluk tubuh Luhan.
Tidak bisa dipungkiri, air matanya juga ikut meleleh. Ia tidak bisa menahan air matanya untuk tidak jatuh. Ia menggigit bibirnya sendiri guna menghentikan isakannya.
"Hiks.. kau menyuruhku untuk tidak menangis, tapi kau sendiri menangis.. hiks.. baboya." Ucap Luhan sambil sesenggukan.
Baekhyun segera menghapus lelehan air matanya. Ia melepas pelukannya dan memperlihatkan wajah cerianya di hadapan Luhan.
"Jjang! Aku sudah tidak menangis."
Baekhyun menghapus sisa-sisa air mata Luhan yang masih mengalir di pipinya. "Kyungsoo sudah tenang disana, Lu. Mereka tidak perlu merasakan kejamnya dunia ini."
Luhan menggangguk, "Eum!"
"Lalu Mingyu?" Tanya Baekhyun pada Hoshi dan Sehun.
"Dia ikut Chanyeol hyung." Jawab Hoshi.
TAP TAP
"Hyung? Apakah kalian melihat Mingyu?"
Wonwoo tiba-tiba datang dengan ke ruang TV. Ia melihat semua orang yang ada disana, namun ia tidak dapat menemukan kekasihnya.
"Mingyu sedang mengambil persediaan kita yang tertinggal." Jawab Hoshi.
"Aah, begitu." Wonwoo mengangguk-angguk.
"Aku akan menunggunya datang." Gumam Wonwoo sambil tersenyum.
Ia berlalu setelah sebelumnya pamit kepada lima namja yang sedang duduk melingkar di ruang TV itu. Sehun menatap Baekhyun, ia seperti ingin mengutarakan sesuatu kepada pemuda manis itu.
"Baekhyun hyung.." Panggil Sehun.
"Eum? Wae Hun?"
"Sebenarnya, saat kami sedang menuju kesini segerombolan zombie tiba-tiba datang dari arah belakang kami. Lalu, kita mengingat kalau semua senjata dan persediaan kita masih tertinggal dirumah itu. Chanyeol hyung bilang, ia dan Mingyu akan mengambil semuanya." Cerita Sehun.
"Tapi saat itu, para zombie itu sedang mengejar kita semua. Kalau kita semua langsung ke sini, otomatis lingkungan ini akan dipenuhi oleh zombie. Jadi, mereka berdua menyuruh kita pergi terlebih dahulu sedangkan mereka memancing para zombie itu untuk menjauh dari sini."
Baekhyun menutup mulutnya sendiri, ia dibuat terkejut setelah mendengar bahwa Chanyeol dan Mingyu sekarang sedang dikejar oleh segerombolan zombie.
"Kalau mereka tidak pulang, ada kemungkinan mereka terjebak disana hyung." Ucap Hoshi.
Baekhyun hanya mengangguk pasrah. Ia sebenarnya merasa cemas dan gelisah setelah mendengar kekasihnya itu sedang di kejar-kejar oleh sekumpulan makhluk yang lapar akan otak manusia. Tapi, ia juga berterima kasih karena keberanian Chanyeol, mereka bisa selamat dari kepungan para zombie.
"Aku yakin mereka akan baik-baik saja." Gumam Baekhyun diselingi dengan senyum tipisnya
.
"Seungkwan-ah, bagaimana keadaanmu?" Tanya Dokyeom.
Seungkwan hanya menggeliat pelan lalu memunggungi pemuda Lee itu. "Aku baik-baik saja hyung. Tidak ada yang perlu dicemaskan."
"Baiklah. Kalau kau butuh sesuatu, kami semua ada di luar." Seungkwan mengangguk lemah.
Sepeninggalan Dokyeom, pemuda Boo itu menangis dalam diam. Di kepalanya, wajah Dino dan Vernon terbayang jelas. Ia tidak bisa melupakan saat kedua pemuda yang membawanya kemari itu telah membunuh kedua temannya.
Seungkwan menghapus kasar air matanya.
"Aku harus melakukannya!"
.
.
.
TBC
