Batas

Disclaimer: Asagiri Kafka & Harukawa Sango.

Warning: OOC, typo, 2nd POV, dll.

Author tidak mengambil keuntungan apa pun dari fanfic ini. Semata-mata dibuat demi kesenangan pribadi, dan untuk ulang tahun Kunikida Doppo 30/08/2020.


[1,244 words]


Untukmu sendiri kau tidak perlu lagi terjaga dengan teh hijau dalam gelas tanah liat yang tahu, cara menyalakan secangkir obrolan.

Melankolia bukanlah apa yang identik denganmu, seharusnya, ketika umurmu tak lagi belasan melainkan sudah senja.

Insomnia yang menjeratmu adalah bukti dari pemikiranmu yang berbukit-bukit. Semakin banyak kau melihat langit-langit kamar, kian menumpuk pula segala tanya yang jawabannya tidak jelas di mana, atau ketika mereka memintanya, bahkan kau tak mampu mempertanggungjawabkannya dengan sekadar mengatakan, "Pasti kucari", karena tahu kau belum sanggup bergerak dari tempatmu meratap.

"Sachou ..."

Panggilan untukmu digumamkan dari Edogawa Ranpo yang terlelap di futon sebelah. Tanganmu bergerak mengelus rambutnya. Beranjak meninggalkan kamar kalian berdua untuk menyeduh teh; menikmati L-theanine yang dapat menenangkan hati, setelah itu kembali tidur–kau mengulanginya tanpa sadar, seolah-olah merapalkan mantra agar kau tidak ke mana pun lagi, atau sekalian tersesat di dalamnya saja apabila nanti melupakan.

Pertama-tama kau memasak air. Mengambil gelas tanah liat yang dibeli murah di toko alat rumah tangga. Berpura-pura tidak sadar mengabaikan yang satunya lagi yang kualitasnya lebih mumpuni. Kurang dari lima menit kau selesai. Meniup-niup, menyesapnya perlahan agar lidahmu tak luka, menghela napas merasai likuid hijau tersebut membasahi tenggorokan.

Proses tersebut kau ulang. Tak terasa tersisa setengah lagi. Kecepatanmu dalam meminumnya mulai melambat. Satu teguk berarti satu menit menatapi refleksi wajahmu pada kolam teh yang menyurut. Dua teguk adalah dua menit. Tiga ... empat ... sampai kau merasa mulai bodoh, sehingga berhenti melakukannya.

"Jam berapa sekarang?"

Apabila terlalu lama kau hanya enggan membuat Ranpo mencari-carimu. Jam dinding di ruang tamu telah menunjukkan pukul dua belas malam, dan kau berpikir kebetulan sekali. Sebagai kepala dari Agensi Detektif Bersenjata kau selalu teliti mengenai waktu serta tanggal-tanggal, meski semenjak hari itu kau sebenarnya menunggui sebuah angka tertentu. Dapur kau kunjungi kembali. Pada akhirnya gelas tersebut kau keluarkan sebanyak dua buah.

"Hadiah ulang tahun untuk Anda, Sachou. Semoga panjang umur dan sehat selalu."

Gelas tanah liat yang dihadiahkan tahun lalu ini–terdapat lukisan pria memegang payung kertas, sembari tangannya menengadah ke arah daun-daun maple–tanpa Kunikida Doppo sadari sesungguhnya memiliki pasangannya. Tiga hari lalu kau menemukannya di toko barang antik. Penjualnya bahkan menggodamu yang menanyakan, apa ini untuk istri, kah? Pacar? Saat kau dengan lempengnya mengakui telah mempunyai yang satunya lagi.

Sepasang gelas itu kau pandangi bergantian. Kata-kata si penjaja kadang kala memang mengganggumu, mengenai sebenarnya bagaimanakah hubunganmu dengan Kunikida?

Kalian bukan suami-istri, tentu saja, maupun sepasang kekasih, karena baik kau maupun Kunikida tidak saling suka ataupun salah satunya menaruh hati. Seharusnya sudah jelas hanya sebatas atasan-bawahan. Kunikida adalah muridmu, calon pewaris Agensi Detektif Bersenjata. Lebih jauh lagi teman, bukan sahabat, dan berhenti sampai di sana.

Memang sudah jelas kalian hanya memiliki ikatan yang seperti itu, tetapi pertanyaannya adalah, "Apakah Kunikida menginginkan hubungan yang lain?".

Jika kau serius menanyakannya ia pasti menjawab, "Seperti ini saja cukup". Mungkin memang keputusan tepat tetap memendamnya, daripada berujung kau membisu, lalu Kunikida menyadari diammu bukanlah diam yang biasanya, dan di balik kacamatanya yang Dazai Osamu sebut kuno, Kunikida menyiratkan kekhawatirannya untukmu.

Sejak dulu kau tak pernah pandai menemukan maupun merangkai kata-kata, apalagi untuk Kunikida di mana perasaanmu terhadapnya bahkan sukar digambarkan. Kenangan adalah bukti bahwa kehidupan itu nyata. Tahun lalu saat kau menghabiskan waktu dengan Kunikida di sebuah restoran, mungkin cerita tersebut merupakan sesuatu yang dapat menjelaskanmu.

Tahun lalu pada tanggal tiga puluh Agustus seperti sekarang, kau menikmati sukiyaki, sementara di seberang meja Kunikida melahap tatsuo no tataki. Akhir dari Agustus tampak nyata di luar restoran. Udara yang berangsur dingin samar-samar melambai pada musim gugur, tetapi kalian hangat oleh obrolan yang mengalir seadanya–lebih banyak diam, tetapi tiada satu pun canggung atau perasaan janggal yang terselip.

Teh yang mengandung L-theanine yang membuat tenang kau ketahui dari Kunikida.

Koin satu yen ternyata bisa mengapung di atas air, atau polydactyl cat adalah jenis kucing yang memiliki jempol di kaki mereka, membuat matamu seketika berbinar atas kesukaanmu terhadap mamalia tersebut–ternyata di luar kesibukannya, Kunikida dengan senang hati membaca ensiklopedia.

"Menurutku Kunikida-kun ingin lebih dekat dengan Sachou."

Begitulah ucap Ranpo yang kesasihannya tidak perlu ditanyakan. Pernyataan itu memang tak kau respons, baik secara singkat maupun samar, tetapi hatimu sudah jujur bahwa kau jua mengharapkannya. Kapan-kapan kau ingin mengajaknya memancing. Kapan-kapan kau mau mencicip restoran yang berbeda bersamanya. Kapan-kapan mencoba ke kafe kucing, mungkin. Kapan-kapan hanya berjam-jam hening menyesap teh hijau, kapan-kapan ...

Semua perandaian itu akan terwujud, pikirmu, sampai kau nyaris melupakan musuh, Decay of Angel, yang beberapa waktu terakhir berada di depan matamu, dan berbalik walaupun kepalamu bisa saja bergelindingan, demi Kunikida yang dikabarkan tangannya buntung dua-duanya.

Pernah sekali kau diam-diam ke rumah sakit. Membuka pintu tempatnya dirawat, hanya untuk menemukan Kunikida yang meratapi notes berisikan idealismenya, yang sudah dirobek dua.

Mata Kunikida adalah mata yang tidak memiliki masa kini, masa depan, bahkan masa lalu, seakan-akan ia tak pernah hidup; seolah-olah melupakan ia pernah, dan masih hidup; seperti Kunikida akan pergi meskipun enggan, karena kehilangan semua itu.

Buku yang robek itu bahkan tak kau sentuh sekali pun. Soalnya kau, Fukuzawa Yukichi, tidak memiliki apa pun untuk menyambungnya. Tatapanmu tak mempunyai hati Kunikida. Bagaimanapun tubuhmu bergerak yang pada setiap usahamu kau membawa hatimu pun, kau tiada akan lagi menjadi Fukuzawa Yukichi yang Kunikida sukai.

"Dazai berkata padaku agar aku lebih banyak bicara."

"Lupakan saja perkataan asal-asalan Dazai. Bagaimanapun itu saya menyukai Sachou yang diam, tetapi hatimu selalu menyertai tindakanmu. Hal tersebut adalah menyelamatkan yang sesungguhnya."

"Sachou? Kau di mana?"

Ranpo memanggilmu lagi. Langkahnya terdengar memasuki ruang tamu, tempatmu menontoni sepasang gelas tanah liat yang kesepian. Walaupun Ranpo ada, lalu duduk di sebelahmu yang sejurus kemudian menyandarkan kepalanya di bahumu, kau tetap saja memikirkan Kunikida yang kendatipun kau tahu Ranpo menyadarinya, kau tidak berhenti untuk sekarang.

Ini bukan soal siapa yang berada di sisimu pada akhirnya, dan Ranpo paham. Kunikida, serta anggota-anggota agensi lainnya memiliki tempat masing-masing di hatimu, sehingga yang ada tetaplah ada tanpa bisa menggantikan yang telah hilang itu, setidaknya bagimu.

[Kenanganmu mengenai kalian yang bercengkerama di restoran pun seolah-olah buih ombak semata, setiap kau mampir ke belakang punggungmu untuk merasai percakapan, dan diamnya kalian yang menjelma hambar.]

Di mana buih ombak itu adalah milikmu sendiri, semenjak Kunikida kehilangan tangannya, masa kini, masa depan, sekaligus masa lalunya bersamaan, lantas bunuh diri–kabar yang selama-lamanya mustahil kau percayai, karena kau hanya mampu meyakini tersisa kepingan-kepingannya saja pun, asalkan serpihan yang terkecil sekalipun ada, Kunkida akan menyapamu lagi; kembali pada kalian yang biasanya.

Terkadang-kadang pula memang tebersit tanya di benakmu, mengapa Kunikida melupakanmu, kalian, di saat idealismenya hancur seperti itu? Padahal kembali menjadi omong kosong pun, kau dan yang lainnya pasti menolong Kunikida mengisinya lagi sampai utuh.

[Walaupun pertanyaan itu lebih sering kau lupakan, karena Kunikida yang lupa bukan salahnya juga.]

Oleh karena itu, kau pun meninggalkan memori restoran sejak sosok Kunikida mulai memudar dalam kenangan tersebut–lama-kelamaan seolah-olah hanya ada dirimu sendiri yang diam, yang seperti mendengarkan ketiadaan. Namun, masa lalu tetap kukuh menarikmu masuk ke restoran tersebut, dan kini ketika kau terjatuh ke lubang yang sama lagi, sebelum bertambah jauh, kau buru-buru meninggalkan tehmu; membawa Ranpo balik ke kamar.

"Setidaknya ada yang tidak berubah. Selamat ulang tahun, Kunikida," ucapmu kepada gelas tanah liat yang diukir dengan lukisan wanita yang menatap ke arah gugurnya momiji. Sekilas memang demikian, tetapi kau tahu mereka saling memandang di kejauhan jika diperhatikan, entah bertemu atau selama-lamanya jarak.

Serta dua hal yang tidak akan berubah lagi, yaitu kau yang ingin lebih mengobrol dengannya–entah namanya sahabat, atau apalah– tanpa "kapan-kapan" yang ternyata membuatmu terlambat, dan terakhir meski kau tahu untuk tetap melangkah, tak bisa kembali atau menciptakannya lagi adalah luka abadi untukmu.


Tamat.