Tanyamu, Idealisme?
Disclaimer: Asagiri Kafka & Harukawa Sango.
Warning: OOC, typo, 2nd POV, dll.
Author tidak mengambil keuntungan apa pun dari fanfic ini. Semata-mata dibuat demi kesenangan pribadi, dan untuk ulang tahun Kunikida Doppo sekaligus event angst week BSR (30/08/2020)
Summary: Kau bertanya siapakah kau? Idealismemu mengembalikannya padamu.
Day 2: Dream/ Reincarnation!AU
[496 words]
Dengan buku robek dua membuat kata idealisme pada sampulnya koyak moyak, kau, Kunikida Doppo, tidak lagi tahu siapakah dirimu.
Kau tidak lagi mengerti apa yang mempertahankanmu, ketika kau sebatas menunduk, membungkuk seumpama perdu, tetapi seolah-olah melayu pun perdu tak pernah melupakan caranya memekarkan asa. Setiap hari kau hanya duduk. Duduk bukan bermakna duduk entahlah apa. Duduk yang rasanya tidak berarti apa-apa. Duduk sampai mungkin kepalamu lepas, seperti tanganmu yang hilang darinya, barulah kau dapat berbaring seutuhnya.
Terkadang memang kau pergi untuk mengunjungi jendela berkosen putih yang memiliki lukisan biru langit. Tepat di samping ranjangmu awan-awan putih berarak pelan, atau sinar matahari kekuning-kuningan tertawa ringan, atau sesekali camar melintas, membuat matamu yang dibingkai sepasang kaca akan singgah berlarut-larut.
Entah berapa banyak kesempatan yang kau habiskan untuk termenung-menung seperti itu. Namun, kau tahu buku malang yang berada pada pangkuanmu ini, dan bahwa dirimu berbeda dengan semua yang kau lihat. Matamu pun segera selesai menatap. Kembali membisu, bersama pikiran yang sudah lama mati; terkurung, atau sesungguhnya mengurung dirinya sendiri dalam lingkaran setan.
Kenapa kau berbeda dengan langit, sebongkah mentari, atau awan yang berlembar-lembar?
Langit tampak memiliki biru, jingga, dan hitam yang setia kepadanya. Matahari mempunyai sinar keemas-emasan, sedangkan awan mengandung sepersekian air, es, atau kedua-duanya. Tetapi kau tak membawa apa-apa. Jawabannya adalah karena kau itu sendiri merupakan buku yang robek dua ini.
Buku yang rusak ini adalah Kunikida Doppo.
Idealismemu yang terbelah dua ini merupakan mimpi buruk, di mana seketika kau tidak lagi memiliki apa-apa–kekosongan begitu panjang, mungkin tanpa akhir, pasti tiada berujung, sewaktu selalu kau kembali pada mimpi buruk tersebut.
Maka apabila buku tersebut adalah engkau, siapakah yang duduk-duduk ini yang setiap harinya dimangsa mimpi buruk? Apalagi hanya menunggu dicabik-cabik seolah-olah pasrah.
Hidup seperti itu apa artinya? Sekadar mengetahui namamu adalah Kunikida Doppo, lantas tidak berbuat apa pun lagi, selain bertanya-tanya, "Untuk apakah napasku bernapas?".
Kemudian dengan tololnya kau lebih banyak berkata-kata soal mimpi buruk tersebut. Menjabarkannya sebagai sesuatu yang hitam, tetapi bukanlah langit malam. Gelap hanyalah gelap. Sebuah hal yang membuatmu bukan lagi siapa-siapa. Tak bisa dihapuskan atau sekadar mengoreknya, ataukah karena itu kau tidak dapat melakukan sesuatu terhadapnya?
Bahwa inilah bentuk asli dari idealismemu, yaitu berupa gumpalan-gumpalan gelap yang jalin-menjalin yang mengepungmu tanpa jalan keluar, sehingga bagaimanapun tanganmu berdarah-darah ketika mengelupasinya, kegelapan tetaplah kegalapan.
Bukankah artinya idealismemu sudah tercapai jika gelap seperti ini?
"Bahkan tanpa idealismemu kau berharga, Kunikida-kun. Sekarang kau bisa percaya kepadaku."
Paragraf yang panjang yang menjelaskan siapakah dirimu sekarang ini, tahu-tahu dihentikan dengan mudah membuatmu merasa aneh. Kau yang tinggal di dalam mimpi burukmu ditarik oleh sebuah tangan. Jelas-jelas itu konyol ketika kau yang kehilangan tangan, justru melihat seseorang menggenggam tanganmu sangat erat, seakan-akan dia pernah melepaskanmu.
"Ini aku, Dazai. Dazai Osamu. Sekarang sudah tidak apa-apa."
Seseorang yang menyebut dirinya Dazai Osamu itu berkata-kata sambil memelukmu. Untuk pertama kalinya jua kau pun berhenti menunduk, membungkuk, dan sedikit seperti bukan perdu. Kau langsung tahu sosok ini adalah angin. Angin segar yang meniup jauh-jauh mimpi burukmu, walau kau masih duduk-duduk, tetapi lebih merasa berarti.
