Baiknya Mimpi
Summary: Baiknya mimpi membuatmu tahu bagaimana caranya hidup, meski semua itu fana.
[685 words]
Pernah kau bertanya kepada Dazai bagaimanakah idealismemu itu, lalu ia tersenyum sekali, tetapi kau berhenti menanyakannya selama-lamanya.
Hari ini kau duduk sambil memandangi jendela yang sama dengan pemandangan yang tidak jauh berbeda, serta yang kau lakukan pun selalu berulang, meski sekarang hangat karena kau menunggu. Dazai akan datang di sekitar jam makan siang. Membawakanmu makanan yang berbeda-beda jenis setiap harinya, menyuapimu, mengobrolkan apa saja yang bisa kalian raih–bukan hanya dia yang mengerti ataupun sebaliknya.
Kira-kira Dazai membuatmu mengecap rasa seperti apa hari ini?
Entah sejak kapan kau antusias walau diam-diam. Sedikit demi sedikit menengok ke arah pintu, tatkala kau mendengar suara derit berharap itu Dazai.
"Siang, Kunikida-kun~ Hari ini aku membawakanmu kue, karena ada yang sangat spesial."
Boks putih yang sewaktu dibuka memperlihatkan kue stroberi, tidak serta-merta membuat kau tersenyum. Tangan Dazai tampak sibuk merogoh sesuatu. Menaruh lilin berangka 23 di atas meja tempatmu biasa makan siang, sekalian mengambil pemantik yang ia nyalakan tanpa memberitahumu apa-apa.
"Jadi kau ulang tahun?" tanyamu masih tidak paham, dan setelahnya bersyukur sudah memberanikan diri, karena Dazai tertawa renyah.
"Bukan, bukan~ Sekarang ini tanggal tiga puluh Agustus. Ulang tahunmu, lho. Setidaknya jangan melupakan yang satu itu."
Bangun-bangun dari koma sekian waktu kau memang hanya mengetahui namamu, dan buku catatanmu tempatmu menyimpan idealismemu sudah robek dua. Selebihnya tanpa mengetahui yang lainnya kau menghabiskan hari dengan bermimpi buruk, hingga kehadiran Dazai yang seolah-olah sulap merengkuhmu, walaupun kau bertanya, "Kau siapa?", kepada Dazai yang tiada menjelaskan maupun meninggalkanmu, sejak meyakinkanmu semuanya baik-baik saja.
"Happy birthday to you. Happy birthday to you~ Happy birthday to you. Happy birthday to you ..."
Agak terdengar aneh ketika Dazai mengulangi lirik yang sama empat kali berturut-turut, kendatipun nadanya berlainan, tetapi akhirnya kau tersenyum dapat mendengarkan nyanyian semerdu itu. Lilin kau tiup. Usai apinya padam sebelum pemotongan kue, Dazai memintamu menyebutkan permohonanmu.
"Semoga mimpi indah ini tidak pernah berakhir. Hanya itu yang kuharapkan."
(Sekilas ada yang berubah dari ekspresi Dazai, tetapi kau tidak memedulikannya).
"Permohonan yang bagus, Kunikida-kun~ Sedikit demi sedikit kita semakin dekat, seperti dulu, dan aku senang kau menyebutku mimpi indahmu."
Pasti hanya perasaanmu saat kau berpikir ekspresi Dazai sendu, karena kue yang ia suapkan untukmu sangatlah enak.
Jam besuk yang terbatas membuatnya segera pamit. Dazai mengangkat tangan, melambai-lambai, dan kau mengikuti jejaknya demi melihat parasnya yang separuh senja separuh siang hari–teduh bercampur riang–setiap kau melakukannya dengan tanganmu yang buntung.
Selama beberapa minggu terakhir kau yang memiliki kenang-kenangan yang kalian ciptakan lebih banyak mengingat, betapa menyenangkannya berbincang bersama seseorang, bersama Dazai yang ceriwis. Namun, di lain sisi kau bergidik saat malamnya merasai sesuatu terlintas, seperti kau membentak Dazai supaya enyah saja daripada malas-malasan, di sebuah kantor yang asing.
Kepalamu mendadak sakit. Nyaris pingsan andaikata suara-suara Dazai yang bercerita mengenai fakta-fakta unik yang dibacanya terlambat menyelinap.
Wortel yang pernah kau makan pada kotak bento sesungguhnya berwarna ungu atau putih dengan akar tipis, tetapi menjadi oranye disebabkan mutasi gen di abad ke-16. Ternyata ketika hujan awan di atas itu putih. Selai kacang di roti lapis yang Kunikida icip bisa diubah jadi berlian dengan mengekstrak oksigen dari karbondioksida, soalnya selai tersebut mengandung karbon yang sangat tinggi.
Dazai Osamu adalah lawan dari mimpi burukmu.
Dazai Osamu adalah mimpi indahmu yang baik hati, memberikanmu senyuman, menghadirkan tawa, mengulas canda, membawa sejuk, memanjakan hati.
Dazai Osamu merupakan mimpi indahmu, di mana yang kau maksud adalah mimpi dalam artian sebenarnya–bunga tidur semata; sesuatu yang dialami atau dilihat seseorang dalam tidur, dan kau tetap mencintainya seakan-akan ia kenyataan.
Oleh karenanya kau pun semakin memohon supaya mimpi indah ini jangan buru-buru berakhir, sewaktu Dazai menutup pintu rapat-rapat membiarkanmu istirahat. Setiap hampir pingsan kau merasa akan melupakan Dazai. Akhir-akhir ini hal tersebut terjadi menyebabkanmu bertambah sakit, Dazai diam-diam khawatir, kau sejujurnya masa bodoh, sehingga terpaksa paramedis menahanmu lebih lama di rumah sakit yang padahal dahulu, sangat ingin kau tinggalkan.
Sangat ingin kau tinggalkan, tentu saja, karena di sinilah kau menemukan mimpi burukmu pertama kali; idealismemu yang pecah belah.
Akan tetapi di rumah sakit ini juga kau bertemu mimpi indahmu, yakni Dazai Osamu, walaupun ia hanyalah mimpi yang semu yang dapat berakhir kapan saja, karena yang abadi hanyalah mimpi burukmu sampai kapan pun.
