Terbalik Segalanya

Summary: Tidak akan ada yang benar-benar indah jika itu hanya terlihat saja.


Setelah itu kau amat memastikan pintu tertutup rapat, barulah kakimu tumbang mengecup bisunya lantai yang dingin.

Tadi itu nyaris. Rasa-rasanya memang semakin kalian bertemu, canggung justru menumpuk pada dirimu seorang. Berpura-pura justru adalah dirimu paling sesungguhnya, dan pertama kalinya kau pun berterima kasih atas seluruh lengkungan palsu, ketawa sok tertawa yang mengudara, bahkan telah mengandalkannya tanpa menaruh benci yang menurutmu agak mengerikan, apalagi di hadapan Kunikida Doppo yang tak kuasa kau lanjutkan perasaanmu mengenainya.

Tawa palsumu, lengkungan yang hanya dibuat agar menyerupai lengkungan–tentu bukan maksudmu untuk berpura-pura, melainkan sekadar sulit kau jabarkan menggunakan kata-kata yang begitu saja yang artinya, terlalu mudah keluar sehingga sangat jujur.

Kebahagiaanmu mengalir dengan murni. Namun, ketika kau berlarut-larut memilihkan Kunikida kue ulang tahunnya yang ke-23, mengantarkan itu sambil menikmati fananya musim panas, memasang lilin, menyulut api yang nantinya menerbangkan permohonan Kunikida, menyuapinya stroberi, kata-kata "seperti dulu" yang spontan kau gumamkan–segenap rangkaian tersebut sekali lagi kau nikmati secara nyata, tetapi nyatanya pula kau justru enggan menunjukkan caramu berbahagia.

Katakanlah seperti kau bahagia, tetapi tidak ingin tertawa atau sekadar tersenyum. Absurd, bukan?

Dirimu memang aneh, makanya kau tertawa membuat dirimu ditontoni tenaga medis yang lalu-lalang.

Luar biasa membingungkan dengan kata-kata yang mungkin sebenarnya sederhana, tetapi kau buat rumit entahlah supaya apa, atau memang kau bingung mengenai cara merangkainya agar mudah mencapai orang-orang.

Iris kakaomu menatap langit-langit rumah sakit. Masih duduk terpaku di samping pintu kamar Kunikida, tanpa seorang pun ingin berbaik hati menegur. Justru tidak adil, pikirmu. Entah itu dituangkan dalam kata-kata yang rumit ataupun sederhana, perasaan tetaplah perasaan yang berhak bertahan, lantas dilepaskan ketika sudah cukup tersampaikan.

Karenanya kau pun menutup mata. Akan kembali memberitahu dirimu sendiri, mengapa kau bisa-bisanya tidak ingin tersenyum dan tertawa saat bahagia, walaupun itu di hadapan Kunikida yang padahal susah payah kau temui.

Kehancuran Kunikida Doppo dengan idealismenya yang patah dua juga tiba di tempatmu mendekam, yakni penjara yang diperuntukan bagi pengguna kemampuan khusus.

Sebagai seseorang yang paling kuat dalam mengingatkan Kunikida bahwa idealismenya terlalu baik untuk kenyataan, dan lama-kelamaan hanya akan memberatkan, bukan keanehan saat kau merasa wajar-wajar saja Kunikida lebur, meski tetap menyakitimu karena dikatakan atau tidak, Kunikida adalah temanmu yang berharga.

Seolah-olah kau hanya memiliki kaki tanpa pikiran, kau pun hanya secepat-cepatnya tiba di rumah sakit. Kata-katamu langsung membanjiri yang terdengar berantakan, walaupun senyumanmu lebih baik dibandingkan sewaktu merayakan ulang tahunnya, tetapi tidak satu pun yang Kunikida jawab.

Jadilah setiap hari kau berkunjung, usai bebas secara resmi. Menceritakan betapa kau menyukai; mencintai idealisme Kunikida, walau keteguhan seperti itu selalu kau sebut kenaifan semata.

Menyerah begitu saja bukanlah Kunikida Doppo. Bahkan bukan satu kesatuan pun, Kunikida saja atau Doppo saja pasti kembali bangkit.

Hanya buku bersampul idealismenya saja yang sobek.

Bahwa perwujudan sesungguhnya dari idealisme Kunikida adalah suatu perjuangan, di mana Kunikida dengan ikhlas meletakkan waktu serta tenaganya yang berharga, pada sesuatu yang sulit orang-orang lihat atau rasakan.

Usahamu tampaknya membuahkan hasil manis. Seiring waktu berjalan Kunikida mengawalinya dengan mulai berbicara. Ia yang amensia dadakan tanpa kejelasan sedikit demi sedikit mengingat kenangan-kenangan di Agensi Detektif Bersenjata. Rekan-rekannya yang menunggunya. Sempat-sempatnya memarahimu agar kembali bekerja, tetapi tetap berterima kasih telah merepotkan diri sendiri demi membesuknya.

Meski ternyata semua itu sangatlah sebentar, dan inilah mimpi burukmu yang ke sekian yang baru pertama kalinya membuatmu merasai apa artinya takut.

Suster mengabarkan Kunikida tiba-tiba pingsan. Tanpa pikir panjang kau menghampirinya lagi, menunggu Kunikida siuman, hanya untuk menemukan ia lupa kepadamu, teman-teman di agensi, juga awal yang baru yang sudah kalian ciptakan.

Kemisteriusan tersebut terjadi berulang-ulang. Pada akhirnya kau, dan dokter yang menangani Kunikida, terpaksa mengambil kesimpulan bahwa Kunikida amensia ketika teringat sesuatu yang buruk–kegagalannya menyelamatkan seorang anak dari granat bunuh diri yang dikalungkan di lehernya, insiden pesawat yang merenggut tangannya, bahkan kematian Rokuzo yang ternyata masih Kunikida rasakan perihnya, seperti baru menyaksikan Rokuzo terkapar tiada berdaya.

Cintamu terhadap idealisme Kunikida terhenti. Ke sekian kalinya saat Kunikida pingsan, terbangun, hanya terkenang idealimsenya, lalu menunduk membungkuk, seolah-olah di pangkuannya bukunya yang berharga tampak robek dua, walaupun tiada apa-apa sebenarnya, kau pun memutuskan mengambil langkah yang baru yang semakin menjerumuskanmu, ke dalam mimpi buruk.

"Bahkan tanpa idealismemu kau berharga, Kunikida-kun. Sekarang kau bisa percaya kepadaku."

Apabila idealismenya adalah pemicu dari keburukan selanjutnya yang mengawali amnesia Kunikida, maka meski menghapusnya menjadikanmu orang terjahat sedunia; kau tidak akan memiliki hatimu lagi, kau bersumpah melakukannya selamanya.

Sekalipun kau tahu kau tak lebih dari mimpi indah di mata Kunikida; tidak pernah nyata; seolah-olah Kunikida selamanya tidur semenjak kau datang.

Kemudian kau memeluknya, tersenyum untuknya, dan berkata:

"Ini aku, Dazai. Dazai Osamu. Sekarang sudah tidak apa-apa."

Perkenalan yang kau ulangi puluhan kali kau lakukan lagi. Gagal pun kau hanya kembali mengatakan kedua kalimat tersebut, juga menyebutkan kisah-kisah yang serupa, seperti ketika hujan awan di atas berwarna putih. Semua demi Kunikida seorang yang tak perlu tahu kau justru menderita, apabila tersenyum dan tertawa di depannya, karena kau lebih ingin menangis sambil membenamkan kepalamu pada pangkuan Kunikida, kenapa nasibnya begitu malang?

"Dokter. Mataku panas rasanya. Kenapa, ya?" keluhmu pada pria paruh baya yang kebetulan lewat, sambil membawa-bawa stetoskop. Awal-awal beliau terkejut mendapatimu bangun dari lantai, tetapi seketika berubah menjadi tatapan iba yang membuatmu gagal paham.

"Wajar saja karena kau menangis. Jika ada sesuatu bagaimana kalau menceritakannya pada psikolog? Rumah sakit ini menerimamu kapan pun."

Tanganmu pun terangkat untuk menghapus air mata yang ada, dan kau malah semakin menangis, teringat kepada Kunikida yang mungkin sudah tak bisa meneteskan satu atau dua kesedihan.

Kunikida sudah tidak memiliki tangan untuk menghapus air matanya sendirian, karena ia mustahil menangis saat bersamamu, soalnya Kunikida merasa kau membuatnya bahagia.