Disclaimer : Semua karakter punya Masashi Kishimoto-sensei, saya cuma punya plotnya.
Warning : OOC, bahasa campuran, setting AU, typo, dan sebagainya
.
.
.
.
.
daifukuwmochi present:
Sukses?
A Naruto Ficlet
.
.
.
.
.
Pagi yang cerah, sinar sang surya menerobos memasuki jendela tempat seorang lelaki berambut kuning jigrak sedang mengacak-acak rambutnya tak karuan.
Naruto, nama lelaki itu, kini tengah frustasi dikarenakan bosnya dengan semena-mena memberinya setumpuk pekerjaan. Gila! Yang kemarin saja belum selesai!
Tetapi setidaknya lelaki itu masih dapat bersyukur, lantaran hanya memperoleh penambahan pekerjaan saja. Coba tengok nasib sohib sejak oroknya, Sasuke, yang kemarin baru saja melangsungkan resepsi pernikahan tetapi tak diizinkan mengambil cuti sehingga hari ini harus tetap masuk kantor. Kasian sekali, baru menikah tapi harus menghadapi sekelumit berkas-berkas memuakkan ini. Yang benar saja!
Baru saja dibicarakan, orang yang dimaksud tiba-tiba masuk ke dalam ruangan yang sama dengan Naruto. Panjang umur!
"Wah, Teme! Tumben sekali kau terlambat!" sapa lelaki itu.
"Aku ngantuk sekali, Dobe. Baru bisa tidur jam 3 pagi tadi."
Mata Naruto menyipit menggoda. "Wah wah! Pengantin baru lembur nih ceritanya!"
"Hn, begitulah."
"Gimana tadi malam? Sukses? Pasti sukses dong, sampai baru bisa tidur pagi begitu," bisik Naruto.
"Sukses apanya?" tanya Sasuke tak mengerti.
Naruto agak sedikit kesal. Masa dia harus bicara blak-blakan sih. "Kau ini! Buka-bukaan lah! Apa lagi?"
"Oh, itu. Ya sukses lah, gampang kok."
"Spoilerin dikit lah, Teme! Buat referensi kalau aku menikah nanti."
"Hn, begitulah. Tinggal buka saja kok. Tapi ya gitu, lama. Jam tiga pagi baru selesai."
"Wahh pantas saja kau kelihatan seperti zombie begitu. Aku jadi kasihan pada Sakura-chan. Pasti dia capek sekali."
"Hn. Setidaknya dia bisa cuti hari ini," ujar Sasuke menyetujui.
"Aku jadi kasihan padamu, Teme. Pengantin baru kok masuk kerja! Haha!" Naruto tertawa terbahak-bahak. "Ngomong-ngomong, bagaimana hasilnya?"
"Hasil apa?"
Ingin sekali Naruto menjitak kepala lelaki bersurai raven itu. "Hasil buka-bukaannya lah, Teme!"
"Hn, begitulah. Ada yang banyak, ada yang sedikit, ada yang kosong juga."
Naruto melongo. Banyak? Sedikit? Kosong? Apa maksudnya itu?
"Apa maksudnya dengan banyak, sedikit dan kosong?"
Sasuke menolehkan kepala menatap Naruto jengkel. "Sebodoh apa kau sampai begitu saja tak tahu artinya?"
Naruto memutar otak. Sepertinya ada yang harus diluruskan.
"Sebentar, Teme. Tadi malam kau melakukan apa dengan Sakura-chan?"
"Bodoh sekali kau, Dobe. Bukankah dari tadi kita membahas hal ini?"
Naruto mengacak rambutnya frustasi. Sudah banyak pekerjaan, ditambah berbicara dengan orang yang berbelit-belit seperti anak ayam ini. "Jawab sajalah, Teme! Tadi malam kau melakukan apa?"
Sasuke menarik nafas dan menghembuskannya, berusaha tetap tenang. "Buka amplop, Dobe! Memangnya apa yang dari tadi kita bicarakan?"
Naruto cengo. Jadi maksud Sasuke dengan buka-bukaan itu adalah membuka amplop? Padahal kan yang dimaksudnya dengan buka-bukaan itu ialah hal yang berhubungan dengan adegan ihiw ihiw asek asek joss begitu.
Naruto, dengan kekuatan penuh melesat menuju pantry. Sepertinya ia harus menenangkan pikirannya dengan kopi pagi ini.
.
.
.
.
.
FIN
Halo! Terima kasih sudah mampir dan membaca ficlet ini. Apakah kalian merasa tertipu dengan summary-nya? Maaf yaa. Saya memang nggak berniat bikin ceritanya jadi rate M hihi. Ya sudah lebih baik saya kabur saja sebelum diamuk massa *kabur.
