Disclaimer : Naruto By Masashi Khisimoto

A/N : A story, dedicated to author birthday, Lord Ok**a Sh*n

...

Orang-orang sangat mengetahui pen name Akita Shen. Siapa sih yang tak mengenal pen name dengan seabrek drabble karya nya itu. Author senior sekaligus editor yang bekerja di salah satu perusahaan pembuat sekaligus penerbit novel dan cerita bersambung terbesar di Akiba, Jepang "Letter Company". perusahaan dengan ratusan author legendaris yang membuat kontrak kerjasama. Salah satunya Author Akita Shen.

Tidak ada yang tahu wajahnya seperti apa, hanya beberapa karyawan dan editor senior di tempatnya bekerjanyalah yang pernah melihat wajahnya sekilas.

Karena, ciri khasnya hanya dua, karya drabble yang dia publish di situs online perusahaan dan topeng "buaya" yang selalu ia kenakan.

Namun, sang author sekaligus editor kali ini tengah dilanda dilema besar. Pasalnya, dua hari lalu, Seorang pria berambut kuning cerah datang ke kantor "Letter Company" dan dengan entengnya menyerahkan nota kalau perusahaan ini sudah diakuisisi dibawah kepemilikan Namikaze Corp.

Apa hubungannya dengan sang Author?

Rupanya alasan dibalik pembelian perusahaan itu adalah anak sang pria itu ingin belajar menulis sebuah karya untuk adiknya. Karya itu ia dedikasikan untuk adiknya yang sudah meninggal dunia. Dan dari sekian author dan editor senior, nama Akita Shen adalah yang terpilih jadi pembimbing.

"Tunggu bos, apa kau gila?, kenapa harus aku?" Akita Shen berdiri dari kursinya, tidak setuju dengan apa yang di utarakan sang bos. Bahkan topeng buaya yang ia pakai kini tersampir di lehernya.

"Mengatakan bos mu gila, 30% gajimu ku potong," telunjuk sang bos mengarah tepat ke wajah Akita. Satu tangannya masih dengan santai menahan dagunya.

Akita tak setuju. Kenapa harus dirinya yang menjadi editor sekaligus pengajar anak-anak dari pemilik Letter Company yang baru. Bukannya masih banyak editor senior yang lain.

Hei ayolah dirinya juga masih mahasiswa.

Bos Tsunade, begitu karyawan Letter Company memanggilnya. Tsunade merubah posisi duduknya. Kaki iya sampirkan di kaki lainnya, membuat rok span miliknya naik dan memperlihatkan paha mulusnya. Kedua tangannya bersidekap, membuat dadanya yang seukuran Melon semakin terlihat besar dari biasanya.

"Kau mau ini?" Tsunade sedikit menggoyangkan tangannya, membuat dadanya ikut bergoyang. Pipi Akita memerah melihat kedua goyangan dada Tsunade. "sayangnya aku tak berminat pada dua gumpalan karet palsu itu Tsunade-sama," tolak Akita.

"Kembali ke topik Tsunade-sama, kenapa harus aku?". Akita mengalihkan pembicaraan ke topik awal dia datang ke kantor Letter Company pagi-pagi sekali. Bahkan mata kuliah wajibnya pagi ini ia tinggalkan.

"Aku tak bisa menolak Akita-kun, permintaan ini dari anak sang pemilik sendiri, Namikaze-sama," jelas Tsunade. Pasca pembelian Letter Company dari Senju Klan, Minato Namikaze, sang pemilik baru langsung mengutarakan niatnya. Bahkan untuk kepengurusan Letter Company masih diberikan hak penuh pada Senju Tsunade untuk mengelolanya. "Jika kau menolak, kau sudah tahu kan resikonya?".

"Dipecat," tebak Akita. Akita sudah menduga ini, menolak permintaan dari sang pemilik artinya menghilangkan diri dari daftar nama karyawan Letter Company.

Dipecat, tidak ada pekerjaan, tidak ada makan, subsidi bantuan dari Letter company dicabut, bantal kesayangannya, Mei-chan akan diambil perusahaan karena masih tertera kepemilikan dari perusahaan, jadi gembel. Itu imbas jika ia menolak

Pikiran-pikiran itu berseliweran di kepala Akita, dan ia tak mau hal itu terjadi. Apalagi sampai Mei-chan nya diambil.

"Haahh," Akita hanya bisa melengos mendengarnya, opsi lain pun tidak ada yang bisa membantu. "Baiklah, aku ikuti, besok tolong kirimkan profil yang harus ku bimbing,"

"Ok," jawab Tsunade ceria. "Kau memang penyelamatku, Akita-kun,".

Akita berlalu meninggalkan ruangan Tsunade. Topeng kebanggaannya terpasang kembali di wajahnya.

...

6 bulan kemudian

Siapa sangka bimbingan yang dilakukan Akita menjadi begitu merepotkannya bagi dirinya.

Awalnya Akita hanya membimbing 1 orang, anak dari sang pemilik Letter Company yang baru, Uzumaki Namikaze Naruto. Namun Naruto malah membawa rekan-rekan SMA nya untuk belajar

Tentu saja Akita tak bisa menolaknya, karena menolak berarti hilang dari kehidupan untuk selamanya.

Dan Akita sangat, sangat mengenal betul teman-teman dari bocah SMA kelas 2 ini. Siapa lagi kalau bukan anak-anak dari pemilik perusahan Top 10 di Jepang.

Sasuke Uchiha, Naruto memanggilnya Sasugay

Sakura Haruno

Si Kembar Hyuga, Hinata dan Neji

Shikamaru Nara

Ino Yamanaka

Chouji Akimichi

Yapss, mereka bertujuh adalah teman dekat Naruto. Dan mereka berdelapan berencana membuat karya untuk mengenang adik Naruto yang sudah meninggal dunia dalam tragedi Nuklir Fukushima, 1 tahun lalu.

Namun, ada kesenangan tersendiri bagi Akita ketika melihat keseriusan belajar mereka dalam menulis. Ada saja tingkah konyol mereka yang membuat Akita nostalgia dengan masa lalunya.

Namun ada juga kejadian buruk yang dialaminya, lebih tepatnya Mei-channya. Naruto pernah sekali membuang Mei-chan nya dari lantai 6 Flat miliknya. Bahkan Hinata pernah menemukan koleksi majalah dewasa miliknya.

Oh ya, Flat Akita menjadi basecamp mereka berdelapan semenjak Naruto mengajak kawan-kawannya.

"Tidak buruk juga membimbing mereka," senyum terpatri di wajah Akita saat melihat keseriusan mereka menulis novel.

"Lost Memory," begitu Naruto menamai judul novelnya jika sudah terbit. Novel dengan seri kenangan mereka berdelapan dengan Naruko.

Dedikasi yang bagus untuk seorang adik

...

29 Agustus 2020, Pukul 20.00 Bagian Akihabara

Akita menaiki lift menuju Flat miliknya yang ada di lantai 6. Perkuliahan dan praktikum yang ia jalani membuatnya tak sadar kalau waktu sudah begitu larut. "Sepertinya mereka tak jadi menginap?" batin Akita.

Padahal hari ini rencana Naruto, anak didiknya akan menginap dengan teman-temannya, berniat mengeksekusi cerita mereka. Sekaligus finishing cover untuk novel setebal 123 halaman itu.

Ting

Suara dentingan menunjukkan jika lift sudah berhenti di lantai 6. Akita keluar dari lift, merogoh rogoh kartu registrasinya. Kartu untuk membuka kamarnya, kamar nomor "69".

Entah karena rasa kantuk yang berat, Akita salah membuka pintu kamar. Seketika suara lenguhan masuk dalam pendengaran Akita.

"Ahh Uhh Ahh Uhh,"

Akita tersadar. Di depannya tersaji pemandangan yang tak layak buat dirinya yang menjomblo. Dengan tergesa gesa Akita menutup pintu kamar bernomor 65 tersebut sembari memohon maaf. " Gomenasai...gomenasai,"

"Ah sial...hampir saja," batin Akita. Bisa bisanya dia salah masuk kamar.

Akita berjalan menuju kamarnya, kamar bernomor 69. "Ah aku baru ingat, hari ini ulang tahunku," ujar Akita.

"Aku lupa membeli soda," Akita bermonolog ria. Mei-chan nya juga sudah berada di tempat pembuangan sampah. Sepertinya ia benar-benar sendiri di hari ulang tahunnya.

Ceklek

"Happy birthday sensei,"

"Selamat Ulang Tahun Onii-san," Ino dengan panggilan berbedanya

"Tanjobi Omedetou sensei,"

"Ha ha happy birth d day sensei," Hinata dengan sikap malu malunya.

Akita tak bisa berkata apa-apa, ini adalah momen terbaik dalam hidupnya.

"Ayo sensei masuk, kita rayakan," ajak Naruto pada sang empunya rumah/flat.

Perayaan ulang tahun Akita menjadi pesta paling menyenangkan bagi Akita, bahkan kedelapam muridnya memberikan hadiah bagi Akita.

Momen ulang tahun ke dua yang Akita Rayakan.

Tetapi, dasarnya muridnya sedeng (gila) hadiahnya ikut sedeng. Dari Naruto, Neji, Sasuke, Shikamaru, Ino, Akita mendapat hadiah 5 guling dengan gambar Mei-chan. Dari Hinata dan Sakura, Akita mendapat hadiah 2 box majalah dewasa eksklusif, lengkap poster Aoi S*ra dan M*yabi. Salahkan Naruto dan Sasuke yang memilihkan mereka berdua hadiah.

Paling parah dari Chouji. Meskipun dia memberikan hadiah bantal, Namun gambarnya adalah guru favoritnya di sekolah, Anko-sensei.

Katanya "sensei harus mengikuti ke jalan yang benar, jalan Anko-sensei," begitu

Pesta perayaan ulang tahun Akita sampai jam 22.30. Murid didikannya sudah pulang diantar sopir masing-masing.

Kini dirinya tinggal sendiri, duduk di sofa manis miliknya, menatap bintang-bintang dari balik jendela flatnya.

Pluk

Suara sesuatu yang jatuh mengalihkan atensinya dari kerlap kerlip bintang dilangit.

Sebuah novel

Novel karya bimbingannya "Lost Memory"

Akita meraih buku tersebut. Dari covernya, Akita bisa menebak jika itu adalah gambar dirinya bersama kedelapan muridnya, meskipun abstrak tapi Akita tahu itu.

Akita membuka sampul buku tersebut. Tertulis disana

"Kami dedikasikan untuk sensei tercinta kami dari muridmu tercinta,"

"Naruto dkk"

Akita membolak balik novel tersebut. Secarik kertas jatuh. Akita memungutnya, namun matanya terbelalak seketika melihat potongan kertas yang ternyata sobekan koran itu

"Insiden Nuklir Fukushima : Menewaskan 87 murid SMA Konoha, 10 diantaranya anak pemilik 10 perusahaan Top Jepang," Headline koran bertanggal 30 Maret 2020.

Dibawahnya memuat foto 8 anak muridnya.

Apa yang terjadi?

...

Ok sekian

See you next time