Disclaimer: Yasuhisa Hara

Pairing: Ka Ryo Ten X Shin X Kyoukai

Warning: Alternative Universe (AU), Alur Tidak Jelas, Typo, OC, OOC, Setting Modern Dst...


Pilihan Hati

Chapter 1


Normal POV

Di Sebuah Desa Di Pinggiran Provinsi Qin

Sebuah desa dimana belum tersentuh asap-asap pabrik, alamnya masih asri, sawah masih luas, dan teknologi belum masuk sepenuhnya, tak jauh dari perumahan penduduk, terdapat sebuah panti asuhan yang menampung anak-anak yatim piatu yang tidak memiliki rumah, dari pintu pagar panti asuhan tersebut, keluarlah dua anak penghuni panti, mereka berlari saling kejar-kejaran, wajah mereka tampak bahagia. Salah satu dari mereka, bocah dengan rambut dikuncir, memakai pakaian yang sama dengan penduduk lainnya, sementara yang satu lagi seorang gadis berambut pendek, memakai kostum burung hantu buatan sendiri, yang dibuat dari tumpukkan jerami. Beberapa kali mereka tertawa, saling melihat satu sama lain, sampai-sampai melupakan keadaan sekitar.

DUAGG!

"Tckk, Heii, Shin, hati-hati kalau sedang bermain!" ujar seseorang penduduk desa yang ditabrak oleh bocah panti asuhan tersebut, ia sedang membawa air yang ia timba di sumur.

"Kakakaka, maaf Bihei, tidak sengaja!" seru Shin yang masih terus berlari.

"Betul Bihei, tolong maafkan si dungu Shin!" ujar Karyo Ten, anak gadis berkostum burung hantu yang mengejar Shin, sama seperti Shin, ia pun tidak berhenti barang sedetikpun.

"Tck, dasar bocah-bocah yatim-piatu!" gerutu Bihei, namun dua bocah itu mengabaikannya.

Mereka masih terus berlari, kini ke arah hutan, yang seharusnya tempat menakutkan bagi anak-anak, namun mereka sama sekali tidak menapakkan raut takut di wajah, mereka masih terus asyik dengan kegiatan mereka, beberapa kali, Karyo Ten hampir dapat menyentuh pundak Shin.

"Aku menangkapmu, Shin!"

"Tidak! kamu tidak bisa, Ten!" Shin menyombongkan diri.

Karyo Ten merasa terpacu oleh omongan Shin, senyumnya makin terlihat, matanya mulai lebih fokus, sepertinya ia akan menggunakan kekuatan penuhnya, seperti jagoan di film-film yang mereka tonton melalui televisi tua di panti, ia makin berlari sekuat tenaga untuk mengejar Shin, yang dikejar pun makin menambah tenaganya, Shin berlari makin kencang, Karyo Ten tidak mau kalah. Shin melompati akar-akar pepohonan yang timbul di permukaan tanah, ia gesit dan lincah, sementara gadis yang sedang mengejarnya mencoba menirunya, beberapa kali ia berhasil, namun di akar yang selanjutnya ia tersandung dan akhirnya tumbang.

BRUGGH!

"Mau memakai trik apapun, kamu tidak akan bisa mengejarku, Ten, kakakaka." Shin masih tertawa ia masih mengira Ten mengejarnya, sampai akhirnya ia menoleh ke belakang, ke arah Karyo Ten, raut wajahnya yang awalnya ingin mengejek teman satu pantinya itu langsung berubah menjadi panik.

"TEN!"
Shin berbalik dan berlari menuju Karyo Ten yang masih tergeletak di tanah menahan sakit, pemuda itu memapahnya dan membantu duduk bersandar di salah satu pohon dan membantu sang gadis untuk melonjornkan kakinya yang luka.

"Ten, kamu tidak apa-apa kan?" tanya Shin yang tampak panik, tangan kirinya memegangi kostum burung hantu sang gadis, sementara tangan kanannya memegang luka gadis itu.

"Aaahhhh, sakit Shin, pelan-pelan!" Karyo Ten meringis kencang saat tangan Shin menyentuh luka di lututnya.

"M-maaf, duh, darahnya keluar banyak sekali, b-bagaimana ini, Ten?" tanya Shin, ia tidak dapat berpikir jernih saat sedang panik seperti ini.

"Bantu aku ke sungai dekat hutan ini, biar aku dapat membasuh lukaku."

"B-baiklah, Ten, tapi kamu tidak apa-apa, kan?"

"Tenang saja, masih sakit sih, tapi pasti sebentar lagi rasa sakitnya akan mereda." jawab Karyo Ten, tersenyum, mencoba menenangkan pemuda di sampingnya itu.

"Baiklah, sini tanganmu, biar kubantu untuk bangun." Shin sedikit lega, kini ia menjulurkan tangannya untuk membantu Karyo Ten berdiri.

"Umm."

Karyo Ten telah berdiri, Shin membantu memapahnya untuk mencari sungai terdekat dari hutan ini.

...

Di Tepi Sungai

Karyo Ten asyik membersihkan luka di lututnya yang bercampur bekas tanah, darahnya yang masih tetap keluar meski dibersihkan membuatnya sedikit kesal, juga rasa sakit yang tak kunjung hilang, menambah kekesalannya, namun pada akhirnya, darahnya berhenti keluar, meski rasa sakitnya masih terasa, dari tadi gadis itu menekan ibu jarinya dengan jari telunjuk untuk menahan rasa sakit dari luka yang didapatinya. Sementara, Shin berada di kejauhan, tepatnya di bawah bayangan pohon, ia sedang membenamkan kepalanya pada lututnya, pemuda itu merasa bersalah, pikirnya ia yang menyebabkan Karyo Ten terjatuh, menurutnya, kalau ia tidak menambah kecepatan larinya, maka Karyo Ten tidak akan merasa tertantang dan menjadi ceroboh hingga ia jatuh, ia sungguh menyesal.

Karyo Ten yang telah membersihkan luka datang menghampiri Shin dengan terpincang-pincang dan menahan rasa sakit, lalu duduk di sebelah pemuda tersebut, "hei, Shin, kamu tidak apa?"

Ten menyentuh tangan Shin dengan gugup.

Karena reflek, Shin mengangkat kepalanya dan menoleh ke arah Karyo Ten.

"Ten, kamu sudah selesai membasuh luka?" tanya Shin

"Yupp, sudah selesai dari tadi, kamu malah tidur, dasar." canda Karyo Ten.

"Lukamu masih sakit?" Shin mencoba memastikan.

"Sedikit, tapi nanti juga sembuh sendiri kok, Shin, kamu tak perlu khawatir, hihihi." Karyo Ten berbohong, padahal sekarang ia sedang menahan rasa sakit yang besar akibat lukanya, namun ia tidak mau bocah di sampingnya ini mengkhawatirkan dirinya.

"Aku minta maaf." ujar Shin.

"Loh? untuk apa?"

"Gara-gara aku, kamu sampai terjatuh tadi, kalau aku tidak mengejekmu, mungkin kamu tidak akan tertantang dan kehilangan keseimbangan seperti tadi."

Kini Shin menundukkan wajahnya, ia merasa bersalah, sekaligus malu.

"Dasar bodoh! ini bukan gara-gara kamu, ini karena ulahku sendiri, jadi kamu tidak perlu khawatir." ujar Karyo Ten seraya melipat kedua tangannya, berpura-pura kuat, padahal beberapa kali ia masih meringis kesakitan.

Shin yang masih menundukkan wajahnya, mengangkat wajahnya, ia meraih topeng burung hantu yang terpasang di belakan kepala Ten, lalu mengangkat dan menekannya di kepala gadis itu, agar masuk ke dalam topeng tersebut, Karyo Ten makin meringis kesakitan, plus kesal.

"Ooyyy, apa-apaan sih kamu ini, dasar bodoooh, sakit tahu!" maki Karyo Ten yang kesal, bagai keluar asap dari ujung kepalanya.

"Habisnya."

"Habisnya kenapa, bodoh?" Karyo Ten mengepalkan kedua tangannya, bersiap untuk memukul kepala Shin, mengabaikan lukanya yang masih terasa sakit.

"Tentu saja aku khawatir kepadamu, bodoh, dari semua anak-anak di panti, cuma kamu yang kuanggap lebih dari sekedar teman."

Sedetik kemudian wajah Ten mulai memerah, matanya tak mengedip, ia kaget dengan pernyataan Shin, akhirnya gadis itu kembali duduk dengan wajah yang masih terheran-heran, dan entah kenapa, dadanya terasa begejolak dan mulai panas.

"M-maksudnmu? a-apa maksudmu Shin?" Karyo ten mencoba memastikan, meski ia malu.

"Maksudku, jika anak-anak panti yang lain adalah temanku, maka kamu bisa kuanggap sebagai saudaraku, Ten, aku rasa, ikatan kita sudah seperti saudara, meskipun aku tak tahu rasanya memiliki saudara, sih."

Kini gantian, Karyo Ten yang menundukkan wajahnya, "Huuuh, kukira apa."

Karyo Ten menaruh harapan yang tinggi pada pernyataan Shin sebelumnya, kini ia merasa dijatuhkan dari langit, saudara? tidak ada yang lebih buruk dari seorang bocah yang ditaksir gadis, kemudian mengatakan hal seperti itu, tidak ada!

"Oyy, memangnya kamu tidak suka ya kuanggap saudaraku sendiri? suatu saat nanti aku akan menjadi orang sukses tahu! kau pasti akan menyesal jika tidak mau kuanggap saudaraku!" sombong Shin.

"Bukannya begitu, dasar Shin bodoh!" Karyo Ten membalasnya, namun wajahnya menatap ke sunggai, sambil sesekali melempar batu-batu kecil ke tepi sebrang sungai, dengan masih melonjorkan kakinya yang masih sakit.

"Lalu apa?"

"Tidak, lupakan saja." Karyo Ten menggelengkan kepalanya, sebuah tanda untuk Shin.

"Hei, Ten, Kamu tidak percaya aku akan menjadi orang sukses suatu saat nanti? lihat saja! beberapa tahun lagi kita akan masuk SMA, lalu setelah lulus SMA aku akan meninggalkan panti bersamamu, kita akan tinggal berdua, kuliah di universitas yang sama, mendapat kerja sambilan, lalu menabung uang yang kita dapat hingga banyak, lalu kita berdua akan membuat perusahaan, kita akan kaya dan sukses, Shin dan Karyo Ten." ujar Shin, matanya berbinar membayangkan masa depan mereka berdua.

"T-tinggal berdua?" Karyo Ten tersipu.

"Tentu saja, sepasang saudara tidak masalah berbagi tempat tinggal, apalagi sebagai pria dengan mimpi yang sama.."

"Sh-shin, sebenarnya aku ini bukan..." Karyo Ten melambaikan kedua tangannya, panik, ia berusaha meyakinkan Shin bahwa dirinya tidak seperti yang dipikirkan oleh bocah itu.

Belum selesai berbicara, Shin mengguncang-guncangkan pundak Karyo Ten, "Ten, dengar, tenang saja, sebagai sesama pria, aku berjanji padamu, aku berjanji akan hidup berbagi keringat kebahagiaan denganmu..."

"Shin.." Karyo Ten memaknai lain apa yang dikatakan oleh Shin, wajahnya kini merah padam.

"...Kita akan tertawa bersama, menangis bersama, bertengkar, lalu berbaikan lagi, lalu kembali tertawa bersama lagi, karena kita adalah saudara, aku akan melindungimu, tidak akan membiarkanmu terluka, akan membantumu meraih mimpimu, Ten." ujar Shin dengan sungguh-sungguh, ia berdiri tegak dan mengepalkan satu tangannya ke arah Ten yang sedang duduk di depannya, sementara raut wajah Ten berubah, dari yang tadinya merah padam, kini tersipu kagum.

"B-baik, Shin, aku juga sama." balasnya dengan terbata-bata.

Shin kembali duduk di samping Karyo Ten yang masih kagum padanya.

"Ten, apa impianmu?"

"Aku ingin menjadi dokter, Shin, kalau kamu?"

"Aku ingin menjalankan usahaku sendiri, entah apa itu, tapi aku ingin menjadi pengusaha." jelas Shin, tangannya meraba langit.

Sejenak Ten menatap wajah bahagia Shin, ia merasa bocah di sampingnya ini terlihat sangat tampan saat matanya sedang berapi-api, sayangnya tadi ia mengurungkan niat untuk memberi tahu gender aslinya kepada Shin, ia takut bocah itu kecewa.

"Ahh, kalau begitu, saat kamu sakit karena kelelahan mengurus usahamu, aku yang akan mengobatimu, bukan begitu?" goda Ten, meski ia juga tampak senang.

Kini Shin merebahkan diri di atas rumput, sambil melipat tangannya di bawah kepala, ia menatap awan-awan yang berarak di langit, "kamu ada-ada saja, Ten, kamu tidak perlu mengobatiku, cukup selalu bersamaku saja."

Ten pura-pura tidak mendengar, wajahnya kembali tersipu.

~OoO~

Normal POV

Di Jalan Setapak Menuju Panti Asuhan

Hari sudah petang, waktunya Shin dan Karyo Ten pulang dari bermain seharian, kini mereka sudah dekat menuju panti, Shin masih memapah Karyo Ten yang kesusahan untuk jalan, gadis itu memeluk pundak Shin, beberapa kali Karyo Ten meringis ketika dirasa kakinya terlalu banyak gerak, mata Shin dari tadi tak lepas dari dua hal, jalan, dan Karyo Ten. Panti asuhan di depan mata, namun mereka berdua sedikit heran, karena ada mobil terparkir di depan pagar panti, mobil yang mereka rasa tidaklah murah, sejenak mereka berhenti, untuk melihat mobil tersebut, lalu kembali jalan. Saat mereka sudah sampai pagar panti, ternyata di sana menunggu Karin, salah satu pengasuh anak-anak di panti asuhan mereka.

"Dari mana saja kalian? kenapa baru pulang sekarang?" tanya Karin dengan nada marah.

"..." tidak ada balasan dari mereka berdua.

"Katakan Ten! pasti ini ulah Shin yang memaksamu main jauh-jauh lagi, kan?" Karin makin meninggikan nada bicaranya.

"T-tidak, Bibi Karin, kami hanya bermain di tepi sungai." jawab Ten gugup.

Karin memperhatikan Karyo Ten, tubuhnya tampak kotor penuh bekas-bekas tanah, namun ia lebih kaget lagi ketika melihat luka di lutut gadis itu, langsung saja terlintas bocah di samping Ten dalam pikirannya.

PLAKK

Satu tamparan mendarat di pipi Shin.

"A-aduh.." Shin mundur beberapa langkah, mengambil jarak aman, tampaknya Karin sangat marah kepadanya.

"Kamu memang bocah nakal! lihat akibat ulahmu pada Ten!" seru Karin, namun Ten melerai dan menahan Karin yang mau menampar Shin sekali lagi, "jangan Bibi Karin, i-ini bukan gara-gara Shin, ini salahku sendiri."

"Bagaimana bisa? aku tidak percaya! kalau bukan ulah bocah nakal itu pasti kamu tidak akan begini, Ten." ujar Karin dengan sinis.

Tak lama, seorang wanita lain keluar dari dalam rumah panti asuhan, auranya sedikit lebih baik dari Karin, ia adalah pengurus utama panti asuhan ini, Shika, senyumnya teduh bagai pohon tua yang rindang, ia datang untuk menenangkan Karin yang sedang memarahi Shin. "Tenanglah Karin, suaramu terdengar sampai kemana-mana, lihat saja tatapan Shin, merasa aneh terhadap kamu."

"Cih, Shika, selalu saja memanjakan bocah nakal ini."

Shika memandang ke arah Karyo Ten dan melihat lukanya, ia penasaran apa yang terjadi, "Ten, kamu terluka?"

"T-tidak apa-apa kok, Bibi Shika, tadi aku terjatuh saat sedang berlarian." ujar Ten, berharap bibi pengasuhnya tidak sama dengan Shika.

"Huuh, dasar kamu ini, kalau begitu cepat mandi dan ganti pakaianmu dengan pakaian yang bagus, Ten, ada seseorang yang sedang menunggumu."

"E-eh, menungguku?" Ten penasaran.

"Iya, ayo cepat, Ten." ujar Shika.

"B-baik, terima kasih, bibi Shika." ujar Ten yang langsung bergegas masuk ke panti ditemani Karin.

Shika berjalan ke arah Shin, bocah itu masih menunduk, sebuah langkah yang cukup sopan kepada pengasuh panti asuhan yang telah menolongnya itu, Shika menepuk pundak Shin, berusaha menenangkan bocah yang baru saja jadi sasaran omelan Karin itu, "dan kamu, Shin, bergegas untuk mandi, setelah itu kamu bisa membantuku menyiapkan makan malam."

"B-baik, terima kasih Bibi Shika." ujar Shin lemah, ia pun berjalan dengan gontai.

...

Karyo Ten telah selesai mandi, dan telah berpakaian dengan pakaian terbaik yang ia miliki, kini ia sedang menatap cermin dan menyisir rambut pendeknya, ia tampak tersenyum memandangi pantulan wajahnya di cermin, meskipun Ten masih belum tahu ada keperluan apa dirinya dengan orang yang menunggunya, ia tetap menuruti instruksi dari Shika. Pada sudut meja tempat Karyo Ten sedang bercermin, terdapat sebuah pigura foto yang berisikan foto dirinya dengan Shin, foto tersebut diambil pada momen perayaan ulangtahunnya yang kedelapan, dan dicetak beberapa bulan lalu saat ikut Shika pergi ke kota untuk mengurus beberapa keperluan, ia sangat menjaga foto tersebut, karena foto tersebut masuk ke dalam list harta berharganya, kenangan bersama Shin. Tak lama terdengar suara ketukan pintu dari luar, dan disahuti oleh suara Shika.

"Ten, apa kamu sudah selesai? ayo cepatlah, orang yang sedang menunggumu ingin segera bertemu denganmu."

Pintu terbuka, Karyo Ten keluar dari kamar, ia tampak rapi dan cantik dengan balutan kemeja berwarna coklat, ia tinggalkan topeng berbentuk kepala burung di mejanya, "aku sudah siap, Bibi Shika."

"Aah, kamu tampak cantik, tidak seperti Ten yang biasanya, hihihi.." goda Shika.

"Bibi Shikaa!"

Shika pun menuntun Karyo Ten dan membawanya menuju ruang tamu panti asuhan, mereka berdua melewati ruang makan, terlihat di sana semua anak panti asuhan sedang menikmati makan malam, termasuk Shin. Ten melihat ke arah Shin, begitu pula sebaliknya, mengetahui Shin juga sedang melihat ke arahnya, Ten tersenyum dan melambai kepadanya, Shika dan Ten pun menuju ke ruangan lain, sementara Shin diam-diam mengikuti mereka. Hingga akhirnya tibalah mereka di ruangan tamu, di sana sudah ada Karin dan tamu yang dimaksud oleh Shika, mereka berdua menunggu tanpa ada percakapan.

Shika, Karin, dan tamu yang dimaksud duduk pada kursinya masing-masing, sementara Karyo Ten masih berdiri, menunggu untuk dipersilakan duduk, "Ten, duduklah di samping Nyonya Yontanwa."

Ten menebak, sepertinya Yontanwa adalah nama tamu yang sedang menuggunya ini, maka dirinya meggeser kursi di samping tamu tersebut dan duduk, ia agak kaku. Sementara diam-diam Shin mencuri dengar dari luar, telinganya ia pasang dengan kencang, dan menempelkannya pada tembok yang membatasinya dengan percakapan orang-orang di dalam.

"Jadi Ten, sebenarnya aku agak bingung, harus mulai menjelaskan padamu dari mana..."

"... Atau mungkin mulai dengan perkenalan dengan bibi yang berada di sampingmu terlebih dahulu, coba perkenalkan dirimu, Ten."

"E-eh?"

"Ya, Ten, coba perkenalkan dirimu." ujar Shika untuk kedua kalinya.

"N-namaku, Karyo Ten, umurku sembilan tahun." Karyo Ten mengulurkan tangannya memulai untuk bersalaman, dan dijabat oleh sang tamu.

"Namaku Yontanwa..."

"...Dan aku adalah kerabat jauhmu."

GLEKK!

"H-haaah?" gadis panti asuhan itu kaget bukan kepalang.

"Itu benar, Ten, ternyata kamu masih memiliki kerabat, beberapa bulan yang lalu Nyonya Yontanwa datang ke panti asuhan dan menanyakan tentang dirimu, butuh waktu yang lama bagi kami untuk mengkonfirmasi bahwa Nyonya Yontanwa ini benar-benar masih memiliki hubungan darah denganmu, meskipun Nyonya Yontanwa ini adalah saudara jauh ibumu..."

"Lalu? kenapa Nyonya Yontanwa baru menemuiku sekarang? dan ada maksud apakah Nyonya menemuiku?" Ten benar-benar tidak mengerti.

"Karyo Ten ya? jadi begini, sebelumnya aku minta maaf baru menemuimu sekarang, jujur saja aku tidak mengetahui bahwa Ka sempat memiliki anak sebelum meninggal, dulu aku dan ibumu begitu dekat, namun pernikahan orang tuamu tidak mendapat persetujuan dari keluarga ibumu, sehingga mereka memutuskan untuk kawin lari, mulai saat itu, aku sudah tidak mengetahui kabar ibumu.."

Ten mengeluarkan air mata saat mendengarnya, ia baru mengethui bahwa pernikahan orang tuanya tidak direstui dan mereka memutuskan untuk kawin lari, sungguh ironi bagi Ten yang masih bersia muda mendengar kenyataan seperti ini. Sementara Shin yang dari tadi sibuk menguping dari luar, tercengang mendengar tentang hal ini, ia mundur beberapa langkah, seakan tak percaya pada apa yang baru saja didengarnya.

Karyo Ten masih dalam diamnya.

"Ten, aku minta maaf, benar-benar minta maaf atas semua yang telah kamu lalui, maaf baru menyadari keberadaanmu sekarang." Yontanwa menunduk, berusaha mendapatkan kata maaf dari Karyo Ten.

"Dan, aku ingin menebusnya Ten, atas semua yang telah terjadi, aku ingin mengadopsimu."

"..."

Diam adalah benteng terakhir Karyo Ten atas semua hal yang baru saja ia ketahui, dirinya benar-benar tidak tahu harus mengatakan apa, perlahan ia berdiri dan cepat-cepat keluar dari ruangan tamu, menyisakan segudang pertanyaan bagi orang-orang yang masih berada di dalam. Karyo Ten berpapasan dengan Shin saat keluar dari ruangan, namun gadis itu tidak mengucapkan sepatah katapun, ia berlari, dan Shin jelas melihat air mata yang menetes di pipinya, namun ada perasaan aneh yang dirasakan Shin setelah mendengar semua ini.

Ia tidak ingin kehilangan Karyo Ten.

...

Di Kamar Shin

Malam semakin larut, bulan purnama dan kicauan burung hantu adalah hiasan bagi malam pekat di desa, dan Shin tidak dapat tidur malam ini, matanya masih terjaga, dan masih membayangkan tentang apa yang menimpa Karyo ten, sahabatnya, yang bahkan sudah ia anggap seperti adik sendiri di panti asuhan ini. Di saat anak-anak lain dan para pengasuh menganggapnya sebagai pembuat onar, hanya Karyo Ten yang masih mau berteman dengannya, dan bocah itu sangat menghargai hal itu. Ia masih terjaga ketika mendengar suara ketukan pintu, ada yang mengetuk pintu kamarnya.

"Siapa itu?"

"Shin, ini aku, Ten."

Mengetahui bahwa Ten yang mengetuk pintu kamarnya, ia beranjak dari ranjang dan membuka pintu kamar, Ten menunggu di balik sana lengkap membawa bantal dan selimut.

"Ten, ada apa?"

"Shin, aku tidak bisa tidur, apakah aku boleh tidur di kamarmu untuk malam ini saja?"

Shin berpikir sejenak.

"Tentu, kamu boleh memakai ranjangku, nanti aku akan menggelar selimut di bawah."

"Terimakasih, Shin." Ten berjalan mengekor Shin, sembari membenamkan wajahnya pada punggung bocah itu.

Shin merapikan ranjangnya, dan mengangkat selimut dan bantalnya untuk digelar di lantai, ia memprioritaskan Ten, berharap gadis cilik itu bisa nyama di kamarnya. Karyo Ten pun sama, gadis cilik itu menggelar selimutnya di ranjang Shin, matanya tampak sayu, bibirnya cemberut, setelah semuanya rapi, ia mencoba berbaring di ranjang tersebut, begitu pula Shin, di lantai.

Semenit, dua menit, tiga menit berlalu..

"Shin..."

"Hnn?" Shin menyahuti.

"Kamu belum tidur?"

"Iya, belum tidur."

"Tadi kamu mendengar semuanya kan? maksudku, semua yang terjadi di ruang tamu panti, bersama bibi Shika, bibi Karin, dan Nyonya Yontanwa, kamu mengetahui semuanya kan?"

"..." tidak ada jawaban dari Shin.

"Shin, jawab!"

"Kalau iya, lantas kenapa? kamu tidak suka aku mengetahuinya?"

"Bukan begitu.."

"Lalu?"

"Bagaimana pendapatmu mengenai Nyonya Yontanwa?"

"Dia cantik.." jawab Shin sambil melamun.

"Bukan itu maksudku, dasar Shin bodoh!"

"Kakakaka..."

"Aku serius, maksudku bagaimana pendapatmu mengenai permintaan Nyonya Yontanwa untuk mengadopsiku?"

"Aku pikir dia tulus mengatakannya, tap Ten.."

"Tapi kenapa, Shin?" mata Karyo Ten tertuju ke bawah, ia melihat Shin dengan tatapan penasaran.

"Tidak, lupakan, kalau kuberi tahu pun tetap tidak mengubah apapun, semua tergantung padamu."

"Shin, apa maksud..."

Karyo Ten menengok ke bawah, dan terlihat dengan jelas lawan bicaranya telah tertidur dengan lelap, gadis cilik itu terlihat jengkel dan menggigit bibir bagian bawahnya, bisa-bisanya Shin tertidur saat sedang melakukan obrolan penting dengannya. Karyo Ten segera menari diri, dan membenamkan diri di dalam selimut, memaksakan dirinya untuk cepat tidur walaupun tidak bisa, karena percakapan dengan Nyonya Yontanwa masih menari-nari di pikirannya, menyelam ke dalam arus-arus otaknya. Lamunan Ten tidak bisa terbendung, semuanya menjadi beban berat, dua sisi bertempur dalam lamunannya, sisi untuk bertahan di panti asuhan, dan sisi untuk kembali bersama kerabatnya. Pada akhirnya malam tetap bergumul bersama cahaya bulan dan nyanyian burung hantu.

~OoO~

Normal POV

Empat hari setelah mencuri dengar percakapan pengasuh panti asuhan, Karyo Ten, dan kerabatnya yang datang, Shin masih bingung dengan keinginannya sendiri, terkait dengan Karyo Ten, apakah ia harus mendukungnya untuk bersama dengan kerabatnya yang bahkan baru datang saat ini, atau mendukungnya untuk tetap di panti Asuhan. Setiap hari Shin melihat Karyo Ten sedang murung, ia juga merasa tidak tega melihat sahabatnya seperti itu, namun di sisi lain ia bimbang harus bagaimana.

Kini Shin sedang menyapu halaman panti, kebetulan hari ini ia mendapatkan jadwal piket harian yang telah ditentukan oleh pengurus panti, dengan sapu ijuk yang telah usang sebagai senjata andalannya, ia sibuk membersihkan setiap sudut halaman, ditemani keringat yang keluar dari tubuhnya. Shika yang kini sedang mengenakan dress dengan motif argyle sedang mengamati bocah itu dari kejauhan, lalu kemudian perlahan mendekat kepada Shin. Sedang Shin sendiri masih belum menyadarinya, ada yang patut dipertanyakan dari kepekaan bocah itu.

"Shin, semangat sekali kamu hari ini, tumben."

"Apa yang Bibi Shika bicarakan? aku memang selalu semangat ketika piket." Shin ingin memamerkan diri, ia menunjuk hidungnya sendiri dengan ibu jari.

"Bisa saja kamu, biasanya juga lesu, apalagi kalau tidak ditemani Ten, hihihi." goda Shika, sepertinya ia senang menggoda bocah satu ini.

"Tidak-tidak, enak saja, aku memang selalu semangat, tanya saja pada anak-anak yang lain kalau Bibi Shika tidak percaya." sanggah Shin, membela diri, ia menghentikan kegiatan menyapu halamannya untuk meladeni Shika.

"Baiklah-baiklah, aku percaya kok, kamu memang anak penuh semangat, harus dipertahankan ya semangat yang kamu miliki itu." ujar Shika dibarengi dengan senyum tulus.

"Hnn, tentu saja, terima kasih Bibi Shika." balas Shin yang hendak melanjutkan kegiatannya kembali, namun Shika kembali menahannya.

"Hnn, Shin, apakah kita bisa bicara sebentar?"

"Tentu Bibi Shika." ujar Shin yang sebenarnya agak ragu, kenapa bibinya itu bersikap tidak biasa.

"Ayo ikut aku ke ruang pengurus panti, Shin, akan lebih enak bila kita bicarakan di sana." ajak Shika, ia kini berjalan di depan Shin.

"T-tentu." Shin makin kebingungan, ia meletakkan sapunya begitu saja dan langsung mengekor Shika.

Sementara Karin juga sudah menungu di ruang pengurus panti, ia melipat tangannya dan menatap jendela, wajahnya tampak berkerut memikirkan sesuatu.

...

"TIDAK!"

"Hei, tidak usah berteriak seperti itu! kami memintamu melakukannya untuk kebaikannya juga." Karin mengomeli Shin yang tiba-tiba berteriak.

Shin mengepalkan kedua tangannya, tampaknya ia sedang kesal, "tapi aku tidak ingin memaksa Ten untuk ikut dengan Nyonya Yontanwa! bukankah ini tidak bagus bila kita memaksakan kehendak kepadanya?"

BRAKK!

Karin menggebrak meja yang berada di depannya, seolah tidak suka dengan bantahan Shin, ia tidak percaya Shin bakal membantah omongan mereka, "anak kecil tahu apa? kamu tidak tahu bahwa kami melakukan ini semua untuk kepentingan kalian, anak-anak panti asuhan!"

"Tapi..."

"Sudahlah kalian berdua, tidak usah sampai ribut begini, ini bukan masalah yang harus diributkan..." Shika menengahi mereka berdua.

"...Shin, apa kamu menyayangi Ten?"

"Ya, aku menyayanginya, bahkan Ten sudah kuanggap sebagai adik kandungku sendiri, karena itulah aku tidak mau memaksanya, Bibi Shika!" seru Shin dengan berapi-api, untuk seukuran anak kecil, nyalinya cukup besar.

"Dahulu Ten pernah memberitahuku tentang cita-citanya saat sudah besar nanti, namun aku sedikit lupa, apakah dia pernah memberitahumu cita-citanya, Shin?" tanya Shika, yang sebenarnya hanya berniat mengecoh, dan Shin tidak menyadarinya.

"Ya, tentu saja, dia bahkan baru memberitahuku beberapa minggu yang lalu, Ten mengatakan bahwa ketika besar nanti ia ingin menjadi seorang dokter!" seru Shin.

"Nah, itulah masalahnya Shin, dengan keadaan kita yang seperti ini, tidak mungkin Ten dapat mewujudkan mimpinya itu, karena kamu juga tahu, bahwa bantuan pemerintah terhadap yayasan ini makin lama makin menipis, sedangkan biaya untuk menjadi seorang dokter itu sangat mahal, jadi dengan keadaan yang seperti ini mimpinya sangat mustahil, Shin." jelas Shika.

Shin terdiam mendengarkan, begitu pula dengan Karin yang ikut mendengarkan sembari melipat kedua tangannya.

"Namun, lain halnya bila ia tinggal dengan Nyonya Yontanwa, Shin, mungkin saja Ten dapat mewujudkan mimpinya itu." jelas Shika.

"K-kenapa?"

"Kamu tahu? Nyonya Yontanwa memiliki beberapa bisnis, Shin, dia adalah orang yang cukup berada, dan kita di sini cukup tahu bahwa dia dapat membiayai segala kebutuhan Ten, dan itu termasuk impiannya untuk menjadi seorang dokter."

"..."

"Selain itu, Nyonya Yontanwa juga berjanji akan memberikan donasi kepada yayasan kita, hal itu sangat kita butuhkan untuk tetap menghidupi seluruh anak panti ini, Shin." Shika kembali menjelaskan, sementara Shin masih diam sambil memainkan jari-jarinya.

"Jadi, bocah, kuharap kamu tidak egois, dan membantu kami untuk membujuk Ten." Karin menambahkan.

Setelah mendengar penjelasan tersebut, tidak ada yang dapat Shin katakan, bocah itu hanya menunduk untuk beberapa saat.

~OoO~

Normal POV

Makan malam baru saja selesai, harusnya saat ini anak-anak panti berkumpul di aula untuk bermain, atau kembali ke kamar mereka untuk belakjar atau berisitirahat, namun tidak dengan Shin, ia malah beranjak ke taman yang berada di samping Panti Asuhan, dan duduk termenung di ayunan yang berada di dekat pohon besar. Mengayun-ayunkan diri untuk beberapa saat, untuk saat ini, di dalam hatinya terdapat pertempuran besar, dan ini menyangkut sahabatnya, Karyo Ten, seperti dua sisi koin, yang tidak jelas mana yang berada di atas dan yang berada di bawah, bocah itu bimbang, antara mempertahankan Ten, atau merelakan ia pergi demi masa depannya, dan demi anak-anak panti yang lainnya, ia bagai bintang yang bingung harus menyanjung bulan atau matahari. Pada saat sedang meresapi kebimbangannya itulah seseorang datang dari belakang dan mengagetinya.

"Shiiiiiiinnnnnnnnnn!" suara kencang gadis cilik membuat Shin melompat dari ayunan, hingga kepala Shin terpentuk penyangga atas ayunan tersebut.

"ahahahahaha, Shin, kamu lucu.." ujar Ten yang merasa puas dan tertawa lepas.

"Ten, kamu ini benar-benar yaa!" seru Shin sambil meringis.

Karyo Ten masuk ke dalam ayunan dan duduk berhadapan dengan Shin, dari senyumnya tampak ia telah melupakan masalah Nyonya Yontanwa, berbeda dengan Shin dan seribu kebimbangannya. Karyo Ten duduk dengan menopang dagu, ia memandangi wajah Shin dalam-dalam, sementara yang dipandang merasa risih dan memalingkan wajahnya.

"Lagipula, sedang apa sih kamu duduk sendirian di sini?" tanya Ten.

"Tidak sedang melakukan apapun, hanya duduk saja, memangnya tidak boleh?"

"Bukannya begitu, tahu. Aku juga sedang luang, jadi aku menyusulmu ke sini."ujar Ten.

"Aku sudah menduganya, kok." balas Shin.

"Shin, hari ini kok kamu sensitif sekali sih? apa kamu sedang ada masalah? ayo ceritakan padaku, hihihi." Ten membujuk Shin, ia menggenggam pergelangan tangan bocah itu, namun Shin menepisnya.

"S-shin, sebenarnya ada apa? kamu marah karena aku mengagetkanmu? a-aku minta maaf."

Shin tidak menjawabnya untuk beberapa saat.

"Dengar Ten, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu."

"Apa itu, Shin?" jantung ten berdegup kencang.

Shin sebenarnya enggan untuk mengatakan hal ini, tetapi akhirnya ia luluh, karena menurutnya memang ini yang terbaik untuk Karyo Ten, orang yang lebih dari sahabatnya, seorang adik baginya. Waktu jadi terasa lamban dan berputar-putar bagai dunia pemabuk, Shin menghela napas dan mendekatkan wajahnya ke arah Karyo Ten, inilah waktunya.

"Aku ingin kamu pergi."

Kata-kata adalah sesuatu yang tidak dapat ditarik kembali, dan Shin telah mengeluarkannya.

"Maksudmu bagaimana Shin?" Karyo Ten bingung, ia tidak mengerti apa yang Shin baru saja katakan.

"Ya, begini, Ten, aku ingin kamu untuk ikut dengan Nyonya Yontanwa."

Karyo Ten tertegun.

"Aku pikir itu yang terbaik bagimu, jangan manja, kamu bodoh bila tidak mau ikut dengan Nyonya Yontanwa, mimpi-mimpimu dipertaruhkan!" Seru Shin

"Tapi Shin, itu berarti aku akan meninggalkan teman-teman kita di panti asuhan, termasuk kamu..."

"Aku tidak peduli, siapa juga yang masih mau bertemu denganmu, setiap hari bersama kamu juga aku bosan, Ten!"

Ten kaget, matanya sudah berkaca-kaca, ia tidak terima Shin, yang lebih dari sahabat baginya, berkata seperti itu.

"Kamu bosan? bosan berteman denganku?"

"Ya, aku bosan!" seru Shin, ia memalingkan wajahnya, berusaha menghindari perasaan bersalah karena telah mengatakan kebohongan.

"Jadi kamu bosan ya?" setetes air mata jatuh dari pelupuk Ten.

"Betul Ten, harus berapa kali kubilang kalau aku bo..."

"Baik! baik! aku mengerti, kamu tidak perlu mengatakannya berulang-ulang! aku mengerti maksudmu! sesuai perintahmu, Tuan Shin yang hebat, aku akan ikut dengan Nyonya Yontanwa! kamu puas sekarang haaaah?" seru Ten dengan penuh emosi, sampai-sampai ia mengepal kedua telapak tangannya yang ia letakkan di atas paha.

"Ya, sangat puas." ujar Shin, ia merunduk, keudain beranjak dari ayunan dan meninggalkan Ten yang masih mengatur napasnya karena emosi.

...

Keesokan harinya

Seluruh anak panti asuhan, termasuk Shin, serta Karin dan Shika, berkumpul di depan pagar panti asuhan untuk mengantar kepergian Karyo Ten, di depan mereka tampak mobil berwarna hitam dan Nyonya Yontanwa di dalamnya. Karyo Ten muncul dari kerumunan anak-anak panti dengan menggendong tas ransel di punggungnya, ia berjalan menatap ke bawah, tanpa menyapa siapapun, termasuk Shin. Karyo Ten masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Nyonya Yontanwa tanpa ada kata yang keluar dari mulutnya, ia beranikan untuk menatap Shin dari balik kaca, mungkin untuk yang terakhir kalinya.

"Ten, baik-baik di sana." ujar Shin pelan, lalu ia pergi meninggalkan kerumunan.

Mobil yang dikendarai supir dari Nyonya Yontanwa mulai berangkat, untuk menuju Kanyou, ibukota Qin, dari panti asuhan ini, mereka menyusuri desa dan segala keindahannya yang akan Ten lihat dengan lekat agar tidak hilang dari kenangannya.

...

Dua belas tahun kemudian

Shin terbangun dari tidur lelapnya, mimpi tentang masa kecilnya ketika berada di panti asuhan membuatnya terngiang-ngiang, mungkin itu cobaan ketika ingin memulai hidup baru, ia kembali mengatur posisi duduknya dengan benar, sementara kereta yang membawanya masih berjalan menembus angin, lalu terdengar suara kondektur dari speaker di ujung gerbong.

"Tuan dan Nyonya, sebentar lagi kereta akan menuju pemberhentian akhir, stasiun Kota Kanyou.."

Shin tersenyum.

Bersambung...


Author Note

Nikmatin aja ya, ini aku nulisnya tiga bulan, terhambat karena skripsi dan moodku yang lagi gak enak buat nulis, tapi tetap aku selesaikan kok hehehe.

Mohon reviewnya ya readers