Sejujurnya‚ aku mau minta maaf. Bahwa ada kesalahan saat update chapter satu. Yang tadi malem itu file yang lama‚ dan aku kaget waktu cek review dan ada tulisan 'Kia' atau OC. Wkwkwk. Maaf. Aku kebiasaan nggapernah lihat isi cerita dan cuma edit pembatas sama nambahin author notes wkwk.

Ini repost karena ada kesalahan yaa... Maafkan daku karena aku juga suka teledor :'''''''


You're My Coffee II

Subtitle : Don't Come To Farewell

Author : gerinee

Cerita ini milikku. Seluruh yang ada didalamnya adalah milikku. Kecuali tokoh-tokoh yang dimiliki oleh Tuhan. Jika ada kesamaan alur maupun kesamaan yang lain‚ mohon maaf. Kebetulan selalu terjadi kapan saja.

Enjoy. Semoga suka :)



"Nanti kalau aku pulang‚ Ibu buatkan saja aku makanan kesukaanku. Aih‚ aku rindu luar biasa pada masakan ibu! Oiya‚ jangan lupa masak yang enak ya…"

Ia tersenyum. Perempuan yang sedang menelpon itulah yang membuatnya tersenyum. Mata sipit yang masih menyinarkan binar ceria walaupun telah membentuk eyesmile itu makin membuatnya tersenyum. Sebab mata itu selalu menyinarkan binar ceria. Lelaki yang kini sedang memandanginya bahkan tak bisa untuk menyembunyikan diri menatapnya dengan wajah mendamba. Astaga‚ perempuan Korea yang lahir dan tinggal di Jepang itu telah membuatnya jatuh hati entah karena apa.

Baekhyun namanya. Iya‚ namanya Baekhyun.

Baekhyun. Kini ia sedang menelpon Ibunya dengan bahasa Jepang yang sedikit-sedikit masih diketahui si lelaki.

Baekhyun adalah seorang mahasiswa yang menuntut ilmu di salah satu Universitas ternama di Korea. Otaknya pintar‚ menurut si lelaki malah terlalu encer. Baekhyun masuk di fakultas Ekonomi‚ dan bertemu dengan banyak teman lelaki yang menyukainya. Salah satunya adalah Sehun‚ lelaki yang kini duduk bersamanya di kafe dekat Universitas‚ dan lelaki yang memandanginya dengan wajah macam orang sinting.

Baekhyun mengangguk lagi entah sudah yang keberapa kali. Ia tersenyum‚ dan menjauhkan ponsel dari telinga setelah benar-benar terdengar nada sambungan tanda Ibunya yang menutup panggilan dari seberang sana. Baekhyun menyimpan ponsel‚ lalu menatap Sehun yang memandangnya dengan dagu yang tertopang kedua tangan. Baekhyun tersenyum geli.

"Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanyanya dengan bahasa Korea.

"Kau cantik." aku Sehun dengan senyuman. Baekhyun terlihat tersipu-sipu dalam tawa yang menggemaskan. Secara refleks‚ Sehun menaikkan lengan dan diarahkannya pada pipi Baekhyun yang tidak tirus juga tidak tembam.

"Sudahlah. Jangan terus menggodaku." Baekhyun menepis tangan Sehun dari pipinya. Ia membereskan segala buku miliknya di meja‚ dan memasukkannnya ke dalam tas. "Sudah‚ ya. Aku harus kembali. Ada yang harus aku selesaikan di apartemen."

Sehun mengangguk. "Iya. Hati-hati di jalan‚ ya." pesannya yang membuat Baekhyun makin tersenyum lebar. "Maaf aku tak bisa mengantarmu."

"Tidak apa-apa." Baekhyun mengubah senyum menjadi senyum tipis. "Kalau urusanmu dengan Jongin sudah selesai‚ kabari aku‚ ya."

"Iya‚ Baekhyun cantik…"

Dan berlalulah Baekhyun. Menghilang dibalik pintu yang jika dibuka akan membunyikan lonceng kecil. Sehun memperhatikan Baekhyun sampai perempuan itu sudah benar-benar hilang dari jarak pandangnya.

Musim panas. Tahun ini tidak ada yang berbeda dari tahun yang lalu. Sehun masih menjadi seorang mahasiswa dua tahun terakhir ini‚ masih menjalani hidup sendiri tanpa kedua orang tua yang sibuk luar biasa dengan perusahaan‚ lalu juga masih bersama Baekhyun yang menemani hari-harinya.

Baekhyun. Dia memiliki paras yang manis. Kulitnya putih bersih. Rambutnya hitam ikal sepunggung‚ jikalau terkena sinar matahari akan terlihat cokelat kemilau yang indah. Dahinya selalu terlihat‚ ia sama sekali tak menginginkan poni untuk menutupi dahinya. Matanya sipit‚ dan akan membentuk eyesmile jika ia sedang tersenyum atau tertawa atau lagi jika dia sedang mengangkat kedua pipinya. Ada lingkaran samar berwarna hitam disekitar mata karena kurang tidur―Baekhyun adalah seorang penulis yang sering kerja lembur!― tetapi tidak mengurangi kadar kecantikannya. Kemudian Baekhyun memiliki hidung yang mungil‚ serta bibir tipis berwarna peach yang jika sedang bergerak-gerak karena bicara‚ logat Jepang-nya benar-benar membuat Sehun gemas.

Pertama kali bertemu dengan Baekhyun‚ Sehun langsung jatuh hati. Cara Baekhyun tersenyum‚ suara merdunya bak penyiar radio yang sering didengarkan Kakeknya dulu‚ serta binar cerah dimata Baekhyun lah yang membuatnya terus memikirkan Baekhyun. Padahal waktu itu Sehun belum tahu nama Baekhyun. Tetapi Sehun telah memikirkannya ribuan kali sebelum berkenalan dengannya.

Perkenalan itu berawal di kafe ini. Mereka secara tidak sengaja dipertemukan kembali dalam satu meja yang sama. Saat itu kafe sedang ramai sekali. Meja-meja yang tersedia penuh dengan pengunjung. Baekhyun yang tidak mendapat meja‚ berusaha mencari-cari meja yang kosong. Lalu Baekhyun melihat meja Sehun yang longgar. Saat itu Sehun duduk sendiri dengan laptop di meja untuk mengerjakan tugas di semester pertamanya. Baekhyun menghampiri Sehun‚ dan meminta ijin untuk duduk mengisi kursi yang tersisa di sana. Sehun terpana karena perempuan yang selama ini dipikirkannya‚ sekarang memintanya berbagi kursi di meja yang sama. Tentu Sehun mengiyakan. Dari sanalah kedekatan mereka terjalin.

Suara lonceng kecil berbunyi dan membuat lamunan itu terbuyarkan. Sehun tersentak kecil‚ dan melihat siapa sosok yang masuk ke dalam kafe yang lumayan ramai ini. Seorang perempuan berpakaian formal‚ masuk. Dikiranya adalah Jongin yang sedari tadi ditunggunya. Sehun sama sekali tidak memperdulikannya lagi. Lagipula ia juga tak mengenal siapa perempuan itu. Sehun hanya menunggu Jongin yang memintanya untuk menunggu di kafe.

Lama menunggu‚ Sehun merasa bosan. Akhirnya ia memilih untuk mendengarkan lagu lewat earphone sambil memainkan ponsel. Tidak seperti biasanya Jongin setelat ini dari janji. Sehun memberi Jongin pesan‚ namun tidak juga dibalas. Sehun mendengus‚ jengkel sendiri entah pada pesan yang tidak dibalas oleh Jongin‚ atau karena Jongin yang tidak segera datang di hari yang melelahkan ini.

Perempuan yang baru saja masuk itu, berjalan melewati Sehun. Ia duduk di meja dekat jendela yang hanya berjarak satu meja didepan meja Sehun. Sehun tak lagi ingin melihatnya karena memang ia tak mengenalnya. Perempuan itu hanya diam setelah memesan pesanan pada seorang pelayan yang menghampirinya tadi.

Musik di dalam kafe mengalun pelan. Syahdu.

Lalu kesyahduan dari sebuah musik jazz yang terdengar, hancur karena bunyi lonceng kecil yang ribut sebab seseorang masuk dengan tergesa-gesa. Sebelah telinga Sehun yang tak tertutupi earphone, menangkap suara lonceng yang berisik tersebut. Sehingga secara alamiah Sehun mendongak memandang seorang laki-laki yang mendekatinya dengan terburu-buru.

Dialah Jongin.

"Kau lama sekali."

"Maaf." sahut Jongin dengan terengah-engah. Laki-laki tan itu duduk di depan Sehun, yang secara tidak sengaja membuat pandangan Sehun beralih ke arah perempuan tadi. "Kyungsoo membuatku stress sekali hari ini."

Sehun beralih kembali pada Jongin. "Memangnya ada apa?"

"Nyonya besar ngambek." jawab Jongin frustasi. Sehun terkekeh. "Oke. Kita mulai darimana? Sungguh aku ingin segera menyelesaikan seluruh pekerjaan ini dan tidur nyenyak di kamar."

Selama Jongin berbicara‚ selama itu pula Sehun berusaha untuk fokus. Di belakang Jongin‚ tepatnya di depan matanya‚ ada seorang perempuan yang entah mengapa selalu menarik perhatiannya. Diliriknya perempuan yang sedang duduk sendiri termenung yang entah merenungkan apa‚ lalu diliriknya lagi Jongin yang meminta pendapat.

Wajahnya suram‚ tatapannya sendu. Dia begitu redup seperti awan di langit luar yang menghalangi cahaya matahari. Sehun hanya melihat senyum tipisnya sekali. Saat perempuan itu mengungkapkan rasa terima kasihnya pada seorang pelayan yang mengantarkan pesanannya. Latte? Maccachiato? Capuchino? Sehun tidak bisa menebak cairan beruap hangat yang bersembunyi dibalik cangkir putih tulang itu. Setelah itu‚ Sehun tak melihat senyum itu lagi.

"Aku pikir sudah."

Eh?

Sehun menatap Jongin yang membereskan laptop serta beberapa kertas di meja. "Sudah?" tanyanya.

"Kau melamun saja terus‚ ya." sindir Jongin dan terkekeh. "Tapi urusan kita sudah selesai. Beritahu Baekhyun kalau aku tak akan mengganggu waktu kalian lagi."

Sehun mendengus. Ia menatap Jongin yang berdiri‚ mengawasi laki-laki itu setelah pamit sampai ia keluar dari kafe ini. Setelah itu‚ entah sudah menjadi kebiasaan matanya di hari ini atau bagaimana‚ Sehun kembali melihat tempat perempuan tadi. Namun yang ada‚ hanya cangkir di meja. Perempuan itu telah pergi dan Sehun tak mengetahuinya.

Dilihatnya jendela itu. Lalu Sehun menemukan perempuan itu sedang menyeberang jalan bersama pejalan kaki lainnya.



"Kau masih ada di luar?"

Sehun mengangguk. "Ya." jawabnya. Ia membenarkan buku-buku tebal yang ia peluk seraya mengapit ponselnya diantara telinga dan bahu. Baekhyun sedang menelpon saat ini.

"Bisakah kau membelikanku camilan?" tanya Baekhyun.

Lagi-lagi Sehun mengangguk. "Bisa." jawabnya. Beberapa kali ia meringis untuk memasukkan buku tebal dari perpustakaan itu di tas punggungnya. Sehun menghampiri bangku ditepi jalan yang tak jauh darinya‚ dan mengisi tas punggungnya dengan buku-buku tadi. Sehun kembali bersuara. "Kau ingin camilan apa?"

"Emm…" Baekhyun bergumam panjang. "Terserah kau sajalah. Nanti kita bisa memakannya bersama-sama di apartemenku."

"Baiklah." Sehun mengangguk-angguk kecil. "Kalau begitu tunggu saja aku. Sebentar lagi aku datang dengan banyak makanan."

Baekhyun terkekeh pelan. "Ya. Dah."

Panggilan terputus. Sehun menyimpan ponselnya di saku kemudian.

Sehun menghembuskan napas keras setelah berhasil mengisi tas punggungnya dan memakainya kembali. Sehun meringis kecil karena berat yang kini dirasakannya. Ia kembali berjalan untuk mencari supermarket terdekat.

Hari ini‚ Sehun pulang malam. Banyak kegiatan di kampus yang harus ia selesaikan. Selain karena Sehun mengikuti salah satu organisasi yang akhir-akhir ini membuatnya sibuk‚ urusan dengan dosen‚ dan beberapa hal lain adalah alasannya mengapa ia pulang telat dari biasanya. Sehun kecapekan. Tulang punggungnya sudah nyeri minta diistirahatkan karena saat di kampus Sehun berjalan kesana-kemari mengelilingi gedung fakultasnya.

Dan kini‚ Sehun harus berjalan kaki untuk pulang. Beruntung gedung apartemennya cukup dekat dengan kampusnya.

Sesampainya di supermarket‚ Sehun langsung berjalan menuju kawasan snack. Dilihatnya ada beberapa orang termasuk dirinya di supermarket ini. Tak biasanya supermarket dekat apartemennya ini sepi. Karena setiap hari‚ Sehun melihat banyak mahasiswa mampir di sini hanya untuk berkumpul dan mengobrol banyak di teras supermarket ini. Tetapi hari ini‚ Sehun tak melihat sekumpulan mahasiswa itu di depan sana.

Eh‚ tapi apa urusan Sehun‚ coba?

Sehun sudah memilih beberapa makanan ringan dan kini ia berada di kasir. Sehun menunggu petugas kasir itu menghitung total belanjaannya. Mata Sehun tak hentinya melihat-lihat setiap sisi supermarket ini. Lalu pandangannya berhenti tepat di pintu masuk. Ia melihat seorang perempuan yang sedang meminum segelas capuchino itu berjalan mendekat dan masuk ke supermarket ini. Sehun memperhatikan perempuan itu sampai ia terkesiap kecil karena petugas kasir memanggilnya.

Sehun seperti pernah melihat perempuan itu. Tapi di mana?

Sehun telah menerima uang kembalian dan belanjaannya ketika ia berjinjit mencari keberadaan perempuan tadi. Sehun kembali melangkah ke dalam‚ lalu menemukannya sedang membungkuk melihat-lihat berbagai produk yang tertata rapi di sana.

Sehun yakin ia pernah melihatnya. Tetapi Sehun sungguh tak ingat di mana mereka pernah bertemu.

Sehun masih terus memperhatikan. Perempuan itu memiliki rambut hitam yang dicepol sedikit berantakan. Ia memakai kaus putih sedikit kebesaran bertuliskan 'Laziest' dan celana jeans pendek beberapa senti diatas lutut. Gelas capuchino dingin itu masih saja ia bawa sembari menggigit sedotan tanpa ada niat untuk menyeruputnya lagi. Ia sama sekali tak sadar kalau Sehun memperhatikannya sedari tadi.

Si perempuan meraih salah satu produk makanan ringan‚ memperhatikannya‚ dan terlihat berpikir sejenak. Ia menerawang sebentar‚ tersenyum kecil sembari mengangkat bahu sekilas. Kemudian ia membawa makanan ringan yang ada di tangannya itu ke kasir.

Sementara itu‚ Sehun yang sedari tadi berpura-pura memilih minuman dingin itu terdiam sejenak. Ketika ia melihat cara perempuan itu menerawang dan tersenyum kecil‚ Sehun mulai ingat siapa dia.

Ialah perempuan berwajah muram yang seminggu lalu dijumpainya di kafe.

Setelah itu‚ Sehun mengikuti kemana langkah perempuan itu tercipta‚ masih memandanginya. Sehun mulai beranjak dari tempatnya ketika perempuan itu sudah membayar belanjaannya dan keluar dari supermarket.

Jalan setapak saat itu ramai. Selain Sehun dan perempuan tadi‚ ada banyak pejalan kaki yang lain. Sampai sekarang‚ perempuan itu tak menyadari keberadaan Sehun yang ada di belakangnya. Sehun mengikutinya‚ melupakan pesan Baekhyun dan rasa sakit di punggungnya.

Entahlah. Sudah dua kali ini Sehun merasa penasaran pada perempuan berwajah muram itu. Sehun merasa tertarik‚ seperti ada magnet di dalam diri perempuan itu sampai-sampai Sehun betah saja memperhatikannya.

Si perempuan terus berjalan. Ia berhenti di perempatan jalan‚ menunggu lampu hijau untuk pejalan kaki yang akan menyeberang. Sehun masih berada di belakangnya bersama kerumunan pejalan kaki yang lain. Ia memperhatikan tinggi tubuh si perempuan yang hanya mencapai dagunya. Sedikit lebih tinggi daripada Baekhyun yang hanya mencapai pundaknya saja.

Lampu untuk pejalan kaki berubah menjadi hijau. Mereka yang hendak menyeberang pun mulai melangkah menapaki zebra cross. Sehun sedikit kesulitan untuk mengikuti langkah si perempuan karena pejalan kaki di sekitarnya. Mereka yang dari arah berlawanan menyenggol bahu dan lengan Sehun hingga Sehun sedikit terhuyung. Tas punggungnya yang berat juga termasuk salah satu alasan mengapa ia kesulitan sampai hampir kehilangan jejak si perempuan.

Jalan yang dipilih perempuan itu adalah jalan pulang Sehun‚ sebenarnya. Jadi kalau perempuan itu melewati gedung apartemennya‚ Sehun akan berhenti mengikutinya dan pulang ke apartemen. Tetapi kalau saja perempuan itu masuk di salah satu rumah di sekitar sini sebelum Sehun sampai di apartemennya‚ maka Sehun akan tetap mengikuti.

Bilang saja dia penguntit. Memang benar begitu.

Jalan yang mereka lewati masih ramai. Si perempuan yang tiba-tiba tersandung dan hampir terjungkal ke depan itu membuat Sehun hampir berlari mendekatinya. Perempuan itu hanya membungkuk dan kembali menyeimbangkan dirinya sendiri dengan kedua tangannya yang terentang. Sehun sempat melihat gelas yang isinya telah habis dan masih dibawa perempuan itu kehilangan sedotannya. Mungkin sedotan itu masih digigit oleh si perempuan. Sehun tersenyum melihatnya.

Si perempuan menunduk‚ lalu terlihat menghela napas jika dilihat dari pergerakan kedua bahunya. Perempuan itu berjongkok dan membenarkan tali disalah satu sepatunya yang terlepas. Ia mengikatnya selagi―masih― tak sadar kalau Sehun memperhatikannya dari belakang. Setelah itu‚ ia kembali berjalan dan berbelok di belokan yang ada di depannya.

Sehun berlari kecil. Ia merapatkan tubuhnya dan mengintip perempuan tadi dari balik dinding. Kini‚ Sehun melihat perempuan itu sedang membuka sebuah pagar kayu dan masuk ke dalam salah satu rumah.

Oh. Jadi rumahnya dekat dengan gedung apartemen Sehun?

Lagi-lagi Sehun mengulas senyum kecil. Ia mengambil langkah kembali untuk berjalan menuju gedung apartemen yang tak jauh dari tempatnya sekarang ini.



"Kenapa kau lama sekali?"

Sehun tersenyum. "Aku bertemu dengan seseorang yang mengharuskanku untuk sedikit mengulur waktu." jawabnya jujur.

Baekhyun memicing. "Kau pasti bermain-main dengan kembaranmu di lantai bawah." katanya sebelum melahap dan mengunyah kripik kentang yang baru saja dibelikan Sehun untuknya. Sehun tertawa karena anak kecil penghuni apartemen lantai sekian yang sering menyapanya dengan riang itu selalu disebut 'kembaran' oleh Baekhyun.

"Tidak‚ Baekhyun. Aku bertemu dengan seseorang di jalan." ujar Sehun kalem. Ia mencolek kentang gorengnya dengan saus lalu melahapnya.

"Memangnya siapa yang kau temui?"

Sehun menerawang. Ia mengingat-ingat bagaimana caranya memperhatikan dan mengikuti kemana saja perempuan itu melangkah. Anehnya‚ perempuan itu sama sekali tak menyadari keberadaannya. Lalu ia tersenyum geli mengingat kejadian saat perempuan itu tersandung tali sepatunya sendiri. Ia pikir itu lucu. Dan itu membuat Baekhyun mengerutkan kening heran melihat raut wajah Sehun saat ini.

"Hei‚" Baekhyun menginterupsi sembari mengibas-ibaskan sebelah tangannya di depan wajah Sehun.

Sehun terkesiap kecil. Ia menatap Baekhyun dan refleks bertanya‚ "Hah‚ apa?"

Baekhyun berdecak. "Siapa yang kau pikirkan sampai kau melamun seperti orang sinting seperti itu? Apakah orang yang kau temui tadi?" tanyanya sebal.

Sehun menyeringai kecil. "Jadi kau cemburu?" tanyanya menggoda. Membuat Baekhyun mendengus dengan wajah merona dan Sehun tersenyum melihatnya.

Lagipula... Mengapa ia memikirkan perempuan lain saat ia sedang bersama perempuan yang ia cintai saat ini?

"Bagaimana dengan pekerjaanmu?" tanya Sehun mengubah topik. Kentang gorengnya kembali ia lahap bersama saus sambal di mangkok kecil.

"Belum selesai‚" jawab Baekhyun seadanya. Ia melihat sebentar laptopnya yang masih menyala dan menghela napas kecil. "Aku akan menyelesaikannya dalam waktu dekat ini."

"Semoga selesai‚ ya…"

Baekhyun tersenyum. "Semoga." balasnya sayup. Ia melahap kripik kentangnya‚ mengunyah sebentar‚ lalu menatap Sehun yang asyik dengan kentang goreng dan acara komedi di televisi. Ia menghela napas pelan.

"Sehun‚" panggilnya pelan. Sehun menjawab dengan gumaman sementara matanya tetap fokus pada acara televisi. "Apa yang kau temui tadi seorang perempuan?"

"Hm?" Sehun menoleh dan melihat wajah muram Baekhyun. Ia tersenyum lembut‚ mengusap puncak kepala Baekhyun dengan lembut‚ lalu berkata‚ "Ya. Tapi aku tak mengenalnya."

"Lalu kenapa kau bertemu dengannya?"

Sehun terdiam sebentar. Rasanya sulit untuk berbohong melihat Baekhyun menatapnya dengan pandangan seperti itu. Ingin rasanya ia diam saja dan pura-pura pembicaraan ini tak terjadi. Tapi ingin pula ia menenangkan Baekhyun yang sudah mulai cemas dengan rasa di hatinya. Sehun berat untuk memberi tahu. Tapi ia juga tak ingin Baekhyun sakit hati.

Sebab Baekhyun adalah perempuan terkalem yang pernah Sehun kenal. Selama menjalin hubungan dengannya‚ Baekhyun jarang sekali bersikap manja‚ jarang menangis karenanya‚ juga jarang meminta ini dan itu. Baekhyun berbeda dari perempuan mana pun. Dan karena hal itulah Sehun tak tega untuk menyakiti Baekhyun sampai membuatnya menangis.

Sekali lagi‚ Sehun menghela napas. "Rumahnya dekat dengan gedung apartemen‚ Baekhyun. Jadi saat aku pulang dari supermarket‚ aku berada di belakangnya."

"Jadi itu yang kau sebut 'bertemu'?" tanya Baekhyun. Nada suaranya naik satu tingkat dan itu membuat Sehun terkekeh.

"Bertemu itu bukan berarti aku mengobrol dengannya. Melihatnya meskipun dia tak tahu di mana aku itu saja sudah disebut bertemu." jelas Sehun. Ia mengusap puncak kepala Baekhyun dengan lembut lagi seraya berkata. "Tak usah kau pikirkan aku bertemu dengan siapa. Aku sungguhan tak mengenalnya. Banyak yang aku temui di jalan tadi."

Baekhyun cemberut. Wajahnya terlihat lucu sehingga Sehun harus menahan diri untuk tak mencubit pipi Baekhyun dengan gemas waktu itu.

Baekhyun tak mengungkit hal itu lagi setelahnya. Mereka banyak mengobrol‚ juga banyak tertawa karena acara komedi di televisi.



Tak ada jadwal di kampus hari ini. Sehun bosan terus-menerus berdiam diri di rumah. Baekhyun harus menemui dosennya pagi tadi. Sampai sekarang pun belum pulang. Maka dari itu Sehun keluar dari apartemennya dan pergi jalan-jalan. Tanpa tujuan.

Setelah keluar dari gedung‚ tempat yang pertama kali Sehun pikirkan adalah kafe. Ia berjalan sendiri di tepi jalan yang lumayan sepi di pagi menjelang siang ini menuju tempat yang ia pikirkan. Sekalian pula ia makan di sana. Sehun belum makan apapun dari tadi pagi.

Sesampainya di sana‚ Sehun memesan makanannya dan menunggu di meja yang sering ia dan Baekhyun duduki. Hanya ada tiga orang pelanggan termasuk dirinya saat ini. Kafe ini terlalu luas untuk tiga orang pelanggan. Sehun merasa aneh sendiri melihat suasana sepi seperti ini.

Apalagi ketika tanpa sengaja ia melihat meja dekat jendela yang pernah diduduki perempuan berwajah muram lebih dari seminggu yang lalu. Sehun hanya melihat perempuan itu duduk di sana sekali‚ saat ia berbicara dengan Jongin tentang bisnis kecil-kecilan mereka. Wajah muram perempuan itu‚ serta binar redup di matanya‚ selalu membuat Sehun terbayang-bayang. Sehun melamunkan perempuan yang tak ia ketahui namanya itu‚ lagi.

Entahlah. Sehun pikir ia sudah sinting. Sebab sudah memikirkan perempuan lain disaat hatinya telah dikuasai oleh Baekhyun. Untuk apa dia memikirkan perempuan itu? Sehun tak mengenalnya‚ juga tak peduli padanya―sesungguhnya‚ Sehun tak yakin soal itu. Tapi mengapa perempuan itu selalu menarik perhatiannya dengan mudah? Hanya dengan wajah yang tak enak dipandang seperti itu?

Sehun heran‚ serius. Ia tak pernah memikirkan seorang perempuan terlalu dalam seperti ini. Sebenarnya‚ ia pernah mengalaminya sekali. Hanya pada Baekhyun lah ia memikirkannya terlalu berlebihan. Tapi kali ini‚ untuk kali keduanya‚ dan lebih parah dari sebelumnya‚ ia memikirkan seorang perempuan seperti ini. Perempuan berwajah muram itu mengalahkan pikiran tentang Ibunya Sehun. Sehun yakin bahwa perempuan itu ada apa-apanya sampai Sehun memikirkannya terlalu berat.

Tentang mengapa perempuan itu melamun? Mengapa ia berwajah muram? Apa yang terjadi sampai-sampai binar mata yang indah itu redup? Apa yang terjadi?

Tapi kenapa Sehun terlalu ikut campur‚ sih?

Aish! Terserahlah. Sehun pusing sendirian memikirkannya.

Tak lama kemudian‚ pesanannya telah datang. Sehun segera menyantapnya tanpa pikir panjang lagi. Perutnya yang kosong membuat pikirannya bercabang kemana-mana. Fokusnya kini hanya makan. Dan tak boleh teralihkan oleh―

Perempuan berwajah muram itu.

Sehun mendesis. Ia meminum jusnya banyak-banyak sampai tersedak. Sehun terbatuk kecil karena ulahnya sendiri. Sehun menepuk-nepuk dadanya untuk mengurangi rasa sesak karena tersedak. Setelahnya‚ Sehun meninggalkan beberapa lembar uang lalu pergi dari sana. Terlalu lama duduk di dekat meja yang pernah diduduki perempuan asing itu membuat Sehun terus-menerus memikirkannya. Maka dari itu Sehun memilih untuk pergi.

Tetapi‚ saat hendak membuka pintu berlonceng kecil itu‚ pintu itu sudah terbuka terlebih dahulu dari luar. Sehun dapat melihat siapa yang membukanya karena dua pintu berkayu itu memiliki kaca di tengah-tengahnya.

Ia melihat perempuan itu. Perempuan berwajah muram itu.

Perempuan asing itulah yang membukanya. Tangan Sehun mengudara hendak meraih gagang pintu. Sehun membeku entah karena apa. Ketika pintu benar-benar terbuka‚ perempuan itu masuk dengan kepala menunduk. Ia melewati Sehun sembari menyingkirkan sulur rambutnya yang tak ikut tergulung.

Seperti slowmotion. Sehun merasa seperti itu. Ia tak melihat matanya tadi‚ tak melihat wajahnya yang datar‚ Sehun tak melihatnya. Ia hanya merasakan angin menghempas tubuhnya ketika perempuan itu melewatinya. Aroma parfumnya yang menyegarkan juga masuk ke indera penciuman Sehun. Dada Sehun sesak seketika. Ada debaran aneh ketika perempuan itu melewatinya begitu saja dan duduk di meja dekat jendela.

Sehun mematung. Begitu ia sadar‚ ia menarik tangannya yang masih mengudara. Sehun berdeham kecil. Ia melirik sekitar dan kembali melihat perempuan itu duduk dengan tenang di tempatnya. Masih memandangi luar jendela dengan pandangan menerawang.

Sebenarnya… Apa yang dipikirkannya?

Sehun segera mengalihkan pandangan. Ia meraih gagang pintu dan keluar dari sana. Sehun tak mengerti mengapa ia merasa aneh saat perempuan itu datang.

Sehun sungguh tak mengerti.


To be continue…


Sudah ah. Notes nya udah di atas. Jadi sekarang‚ review?