"Tadi itu siapa?"
"Siapa?"
"Itu‚ yang baru saja pergi dengan Porche abu-abu."
"Oh…" perempuan kedua tersenyum dan mengangguk kecil. "Namanya Kris. Kenapa?"
"Dia siapamu?" tanya si perempuan pertama lagi.
Tiba-tiba si perempuan kedua terkekeh pelan. "Kau menanyakannya seperti kau menyukainya. Apa benar?"
Ada rona merah yang terlihat samar di pipi si perempuan pertama. Ia terlihat tersipu malu setelah mendengar tebakan si perempuan kedua yang baru saja masuk ke dalam ruangan bersekat kaca buram tersebut.
"Tidak." sangkal si perempuan pertama. "Aku hanya bertanya. Soalnya tumben kau datang diantar seorang laki-laki."
"Oh…" si perempuan kedua mengangguk dan tersenyum simpul. Ia tak lagi menanggapi apapun soal dia yang tumben saja datang bersama seorang laki-laki.
Si perempuan pertama‚ Zhang Yixing namanya‚ mendekati si perempuan kedua yang bernama Xi Luhan. Yixing baru ingat sesuatu yang dititipkan oleh direktur muda perusahaan ini untuk Luhan padanya. Sebelumnya‚ Yixing mengambil kotak berwarna biru muda dengan corak polka dot putih berukuran sedang dan memberikannya pada Luhan. Luhan memerimanya dengan alis terangkat sebelah.
"Dari siapa?" tanya Luhan.
"Direktur Shin." jawab Yixing seadanya. Ia tertawa geli melihat Luhan memutar kedua bola mata mendengar nama direktur yang dielu-elukan karyawati di perusahaan ini baru saja disebut oleh Yixing. "Kau seharusnya merasa beruntung didekati direktur Shin. Kudengar banyak teman yang iri padamu."
"Tapi tidak. Terima kasih." Luhan membalas acuh tak acuh. Ia menghampiri mejanya dan menyimpan kotak itu di laci. Luhan sama sekali tak ingin tahu apa isi dari kotak yang sering didapatnya dari orang yang sama. Luhan sudah hafal. Kalau bukan perhiasan semacam anting-anting dan kalung‚ pasti benda-benda yang pantas dimiliki oleh seorang wanita kaya raya.
Hanya saja‚ Luhan bukanlah seorang wanita yang ingin menjadi wanita kaya raya.
"Sarapan?" tawar Luhan pada Yixing.
Yixing mengangguk. "Boleh." jawabnya. "Kau yang traktir‚ ya? Kemarin kau hampir menghabiskan seluruh isi dompetku."
Luhan menahan tawa. "Baiklah." setujunya. Mereka keluar dari ruangan kerja mereka dan pergi menuju kafetaria kantor.
…
"Biarkan uapnya mengepul. Hirup uapnya‚ lalu sesap kopinya perlahan."
Baekhyun mencoba mengikuti saran Sehun yang memintanya untuk mencicipi capuchino hari ini. Tidak seperti biasanya Sehun memintanya untuk menyesap capuchino. Sehun maklum jika dirinya lebih sering memesan teh daripada minuman sejenis kopi. Tapi entah mengapa‚ hari ini Sehun sedikit memaksa dengan rayuan semacam; "Kopi bisa membuatmu bertahan melek jika kau ingin lembur menulis."
Baekhyun mengerutkan hidung‚ ia mencecap beberapa kali ketika rasa capuchino menyapa lidah. Lumayan juga‚ pikirnya. Baekhyun mengangkat bahu kecil seraya berkomentar‚ "Jangan paksa aku lagi untuk minum capuchino."
"Tidak suka?"
"Rasanya lumayan." balas Baekhyun. Ia meletakkan cangkir itu kemudian. "Tapi aku lebih suka teh."
Sehun memutar kedua bola mata malas. "Terserahlah." sahutnya ringan. Sama sekali tidak keberatan tentang komentar Baekhyun.
Waktu terus berlalu. Mereka menghabiskannya dengan mengobrol banyak hal. Tentang ini dan itu‚ sampai tentang liburan yang tinggal menghitung hari. Rencananya‚ Baekhyun ingin pulang ke Jepang selama liburan itu berlangsung. Dan Sehun terlihat muram saat Baekhyun mengatakannya.
"Kenapa kau cemberut seperti itu?" tanya Baekhyun pada akhirnya‚ menyuarakan keheranan di pikirannya.
"Aku tidak cemberut." kilah Sehun. Ia melirik ke arah lain dan menghela napas. "Aku hanya berpikir. Jika kau pergi nanti‚ apa yang harus aku lakukan selama liburan? Tidur di apartemen?"
Baekhyun tertawa mendengarnya. Pikirnya‚ Sehun ini lucu sekali. Apakah lelaki yang terkadang lebih cerewet daripada ibunya itu bisa tidur seharian di apartemen saat liburan berlangsung? Baekhyun bahkan hafal‚ jika Sehun lebih sering keluar daripada menghabiskan waktu di apartemen.
"Kalau kau mau‚ kau bisa membersihkan seluruh isi apartemenku saat aku di Jepang." kata Baekhyun. Ia mengangkat sebelah tangan untuk memanggil seorang pelayan dan memesan teh kesukaannya pada pelayan tersebut. Setelahnya‚ Baekhyun menyambung‚ "Itu kalau kau tak keberatan."
"Aku tak keberatan. Hanya membersihkan apartemenmu kan?" kata Sehun‚ Baekhyun mengangguk. "Maksudku‚ mengeluarkan seluruh isi apartemenmu sampai bersih?"
Bersih dalam arti kosong‚ begitu?
Lantas Baekhyun tertawa. Manis sekali di mata Sehun. Lelaki itu tersenyum melihat Baekhyun tertawa karena candaannya barusan.
Dan tiba-tiba saja‚ suasana menyenangkan itu buyar karena getaran ponsel Sehun di meja. Baekhyun yang tertawa‚ jadi berhenti dan melihat ponsel Sehun yang bergetar. Beberapa detik setelah itu‚ Sehun meraih ponsel dan mengangkat panggilan tersebut. Sebelumnya Baekhyun sempat meliriknya dengan arti yang dapat Sehun pahami.
"Halo?"
"Sehun‚ putra Ayah…"
Sehun memutar kedua bola mata malas. "Ada apa?" tanyanya berbasa-basi. Ia melirik Baekhyun yang sedang memandanginya.
"Bisakah kau ke kantor Ayah?"
"Untuk apa aku ke sana?" Sehun bertanya‚ lagi. Nada suaranya sedatar permukaan meja yang kini menjadi tumpuan sikunya. Sehun melirik Baekhyun yang kelihatan sebal. Ia tersenyum kecil karena perempuan itu.
Terdengar suara kekehan pelan dari pria berumur setengah abad di seberang sana. "Kau tak merindukan Ayah‚ heh?" tanyanya‚ bergurau. Namun Sehun hanya diam tak menjawab. Pria itu kembali melanjutkan. "Ada yang ingin Ayah bicarakan padamu."
Sebelah alis Sehun terangkat tinggi. Sebelumnya‚ Ayahnya ini jarang sekali menelponnya hanya untuk meminta ia datang ke sana. Tidak pernah malah. Baru kali ini‚ dan Sehun sedikit terkejut dengan permintaan Ayahnya itu.
"Memangnya ada apa?" tanya Sehun. Nada suaranya mulai terdengar melembut.
Ayahnya tersenyum kecil di seberang sana karena mendengar suara Sehun yang demikian. "Ada sesuatu yang harus Ayah bicarakan denganmu‚ Sehun." jawabnya tak kalah lembut. Namun masih terdengar nada serius di sana.
Sehun menarik napas dan membuangnya dengan perlahan. Salah satu tangannya menggenggam udara dengan erat ketika ia mengatakan‚ "Apakah ini tentang Ibuku?"
Tak ada jawaban dari Ayahnya untuk beberapa saat. Hal itu membuat Sehun ingin menutup panggilan secara sepihak.
"Ini bukan tentang Ibumu‚ Sehun." jawab Ayahnya tiba-tiba. Sehun mendengarkan lagi. "Ini tentang kau."
Sehun kembali melirik Baekhyun. Perempuan itu masih memperhatikannya. "Baiklah." putusnya. "Aku ke sana sekarang."
Pria setengah abad itu tersenyum di seberang sana. "Ayah akan menunggumu." balasnya. Kemudian panggilan berakhir setelah pria yang hampir tua itu memutus sambungan.
"Ada apa?" tanya Baekhyun ketika Sehun menyimpan ponsel di saku celananya.
"Aku harus ke kantor Ayah." jawab Sehun seadanya. Ia meraih kunci motornya lalu menepuk-nepuk sebelah pipi Baekhyun. Sehun berkata‚ "Kau bisa kembali sendiri kan?"
Baekhyun mengangguk kecil. Sehun tersenyum.
"Aku pergi."
"Hm." Baekhyun memandang Sehun yang berlalu dan menghilang dari pintu kafe setelahnya. "Hati-hati." lirihnya melanjutkan.
…
Sehun baru saja sampai. Dan ia segera masuk setelah memberikan kunci motornya pada salah satu orang di depan lobby gedung untuk memarkirkan motornya.
Kemudian Sehun berjalan menuju lift. Tak peduli dengan banyaknya karyawati yang memandanginya dengan tatapan kagum. Ia pernah kesini beberapa kali‚ hanya untuk menyambangi kakaknya serta Ayahnya. Jadi Sehun tak perlu meminta ijin dari receptionist di lobby. Mereka sudah tahu siapa Sehun sebelumnya.
Pintu lift masih tertutup. Ia menunggu sebentar setelah menekan salah satu tombol di sana. Tidak beberapa lama‚ lift pun terbuka. Sehun masuk setelah beberapa orang keluar dari lift. Hanya ia sendiri sekarang. Maka segera saja ia menekan tombol untuk menutup pintu lift tersebut.
Namun tiba-tiba ada sebelah tangan seseorang yang terulur dan membuat pintu lift itu terbuka lagi. Seseorang mencegah tertutupnya pintu itu dari luar. Dan pelakunya adalah seorang perempuan. Sehun dapat melihat perempuan manis itu sedang mengomel-omel pada salah satu temannya. Perempuan yang ditarik pun kelihatan tidak peduli. Ia menurut saja ditarik masuk oleh teman perempuannya yang cerewet itu.
"Hei‚ berhentilah mengomel." kata si perempuan kedua. Ia melepaskan tangannya dari pengaruh temannya itu dan masuk ke dalam lift. Ia berdiri di sebelah Sehun yang menggeser tempatnya. "Jangan membicarakan hal itu sekarang."
"Kau sinting." balas si perempuan pertama‚ kembali mengomel. "Tidakkah kau sadar―"
"Hus!" si perempuan kedua kelihatan jengkel. Ia mendelik pada perempuan pertama yang akhirnya masuk ke dalam lift dengan wajah sebal.
Sehun sedari tadi hanya diam dan mendengarkan. Karena ia sedang memendam keterkejutannya sekarang ini. Iya‚ Sehun terkejut. Sebab ia bertemu lagi dengannya‚ melihatnya lagi. Kali ini perempuan berwajah muram yang sering berlarian dipikirannya akhir-akhir ini‚ berdiri di sebelahnya. Ialah perempuan kedua yang tidak peduli ketika temannya mengomel-omel tentang suatu hal tentangnya.
Oke. Sehun pikir dunia mereka―Sehun dan perempuan berwajah muram itu― memang sempit sekali. Baru lusa lalu mereka bertemu secara tidak sengaja di kafe. Lalu sekarang Sehun melihatnya lagi‚ di kantor Ayahnya‚ dan berada di dalam lift yang sama dengannya.
Astaga. Mengapa Tuhan senang sekali menyiksanya karena perempuan ini‚ sih? Apakah Tuhan tidak tahu kalau Sehun tak bisa berhenti memikirkannya setelah kejadian di kafe lusa lalu itu?
Beberapa kali Sehun menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Beberapa kali pula Sehun mencuri pandang pada perempuan di sebelahnya ini. Perempuan itu hanya diam ketika temannya masih saja mengomel tentang suatu hal yang tidak dimengerti Sehun.
Kini‚ perempuan itu terlihat cantik. Rambutnya tergulung rapi. Pakaiannya formal‚ rapi‚ dan lebih sopan dari karyawati yang lain. Wajahnya hanya datar‚ tak ada senyum‚ tak ada binar menyenangkan di matanya‚ juga tak ada rona merah alami karena senyum di pipinya. Wajah cantik nan datar itu hanya dipoles make up tipis‚ terlihat cantik meski tanpa senyum. Ketika berada dekat dengannya‚ Sehun dapat menghirup aroma parfum si perempuan yang masih diingatnya sampai sekarang. Dada Sehun terasa sesak lagi.
Astaga‚ rasanya Sehun ingin sekali memeluk perempuan ini dan berseru; "Kenapa aku selalu melihatmu?!"
Namun dalam kenyatannya‚ Sehun hanya diam.
"Aku tak mengerti‚ Luhan. Kenapa kau tak menerimanya saja?" tanya si perempuan pertama.
Luhan?
"Sudah aku bilang‚ Yixing. Jangan bicarakan hal itu sekarang ini." balas perempuan berwajah muram itu dengan suara datar.
Nama perempuan itu Luhan?
"Lalu bicara apa? Aku gemas padamu‚ asal kau tahu itu. Kau tahu sendiri kalau Direk―"
Pintu lift tiba-tiba terbuka. Kedua perempuan itu keluar dan berjalan menjauh tanpa Sehun.
"―tur Shin menyukaimu. Beliau terang-terangan memberimu ini dan itu lalu kau menolaknya? Astaga‚ Luhan… Kau i―"
"Yixing. Diamlah!"
Sehun tak mendengar apa-apa lagi. Pintu lift kembali tertutup. Sehun masih terus melihat punggung sempit milik perempuan bernama Luhan itu di detik-detik terakhir sebelum lift tertutup.
Luhan…
Sehun tersenyum. Nama perempuan berwajah muram yang baru saja ia ketahui itu kini ia catat dalam hati. Sehun akan mengingatnya. Siapa tahu kalau mereka bertemu lagi‚ ia bisa menyapanya. Tetapi mungkin itu hanya akan menjadi angan. Karena ia tahu‚ ia tak akan memiliki keberanian lebih seperti itu.
Sehun saja sudah seperti membeku entah karena apa jika perempuan itu berada di sekitarnya. Sinting sekali. Sehun baru terkena penyakit apa‚ sih? Sampai tanpa ia sadari‚ ia sudah tersenyum-senyum sendiri bagai orang sinting sungguhan.
Tapi tentang topik yang dibicarakan oleh teman Luhan tadi… Luhan ditaksir direktur Shin? Shin Soo Hyun?
Sehun mengerjap. Kenapa pula dirinya merasa tidak suka saat mendengar kabar itu dari perempuan bernama Yixing tadi?
Aih‚ lupakan lupakan!
Segera Sehun keluar ketika pintu lift terbuka. Sehun berjalan dengan langkah lebar menuju ruangan Ayahnya. Ia mengangguk kecil pada seorang perempuan yang telah mengenalnya itu lalu mengetuk beberapa kali pintu ruangan Ayahnya. Dapat ia dengar suara Ayahnya yang menyahut memberi ijin bagi dirinya untuk masuk. Sehun membukanya‚ dan dapat melihat Ayahnya sedang bersama Shin Soo Hyun.
Sehun menghela napas kecil melihat senyum di wajah kedua pria yang hampir mirip itu. Ia menghampiri mereka kemudian.
"Selamat datang‚ putraku‚ Oh Sehun." sapa Ayahnya.
Sehun hanya tersenyum simpul seraya mengangguk kecil. Ia melirik Soo Hyun dan duduk di sebelahnya.
Pria yang lebih tua‚ Oh Jae Ho‚ kembali duduk di sofa tunggalnya yang nyaman. Ia kembali berkata‚ "Nah‚ karena Sehun telah datang‚ mari kita bicarakan ini langsung keintinya."
Kedua pria yang lebih muda dari pada Oh Jae Ho‚ memperhatikan dan mendengarkan.
"Sehun‚ aku sudah bilang padamu kalau kau adalah pewaris tunggal usaha Ayah. Kau putra kandung Ayah dan Ayah tak akan melepasmu jika kau memberontak. Sebentar lagi liburan musim panas telah tiba. Ayah memberimu penawaran dan Ayah sarankan saja‚ kau harus menerimanya." jelas Jae Ho. Ia tersenyum ketika melihat Sehun menatapnya dengan ringisan kecil―pertanda jika ia sedang tidak suka. Jae Ho melanjutkan‚ "Kau akan kuberi kesempatan untuk menangani perusahaan ini selama liburan."
Mata Sehun membulat‚ kedua alisnya hampir menyatu. Ia terkejut dan tak menyangka. Ingin ia protes tetapi Ayahnya itu kembali bersuara.
"Tenang‚ Sehun. Soo Hyun akan mengawasimu. Kau juga akan dibantu oleh beberapa orang kepercayaan perusahaan ini. Ayah telah memilihnya untukmu. Ayah yakin kau pasti bisa. Kau berbakat di bidang ini. Hanya saat liburan musim panas‚ Sehun. Ayah mohon padamu."
Sehun memandang Ayahnya‚ kemudian beralih pada Shin Soo Hyun di sebelahnya. Kedua lelaki beda generasi itu terlihat memohon. Sehun menghela napas berat. Ia mengurut pangkal hidungnya dengan mata terpejam. Mengapa ia merasa pusing sendiri?
"Apakah ini karena Ay―"
"Bukan‚ Sehun." Ayahnya menyela dengan cepat. Raut wajahnya berubah menjadi serius. "Karena kau pewaris tunggal perusahaan Ayah‚ Ayah harap kau mau menerimanya. Anggap saja ini latihan‚ Sehun."
Sehun berdecak pelan. Ia tak bisa menjawab sekarang rasanya.
…
Uap itu mengepul samar dari cangkir di atas meja. Perempuan itu meliriknya sejenak‚ lalu kembali memandang luar tanpa minat pada secangkir kopi yang datang beberapa menit lalu. Entahlah‚ tadi ia ingin sekali meminum segelas kopi dengan sedikit gula seperti biasa. Namun ketika pesanannya datang‚ ia sama sekali tak berminat.
Selalu saja seperti ini. Ia tak tahu mengapa. Ia sering mengalaminya.
Perempuan itu‚ Luhan‚ menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan. Sesak di dada yang setiap waktu dirasakannya masih terasa menganggu. Padahal‚ penyebab rasa sesak di dada itu sudah berlalu beberapa bulan yang lalu. Begitu sulit mengenyahkannya‚ sulit untuk melepas dan pergi begitu saja.
Sebab tempatnya bersandar‚ tempatnya berbagi keluh dan tawa‚ telah pergi jauh. Ke tempat yang tak bisa digapai Luhan.
Sore itu‚ langit yang masih biru itu terlihat cantik bersama awan Stratus yang berarak pelan. Pejalan kaki juga masih ramai. Luhan memandanginya dari dalam kafe dekat rumahnya. Ia sering ke tempat ini untuk menenangkan diri akhir-akhir ini. Selain karena tempatnya nyaman‚ Luhan kemari juga karena rasa kopinya yang pas di lidah. Tak terlalu manis‚ juga tak terlalu pahit.
Sama seperti hidupnya. Tak terlalu manis‚ juga tak terlalu pahit.
Atau lebih banyak pahitnya?
Luhan menghela napas pelan kemudian. Cangkir itu pun akhirnya ia raih. Luhan menyesap kopinya perlahan‚ menyisakan tiga per empat kopi di sana. Kopi itu sudah mendingin. Bak hatinya yang mendingin perlahan dan membeku akhirnya.
Entahlah. Sebenarnya ia tak habis pikir dengan dirinya sendiri. Mengapa perlahan-lahan ia menutup diri dan membekukan hatinya sendiri? Mengapa? Ia tak peduli pada lelaki yang mendekatinya‚ atau yang dekat dengannya. Semenjak dia pergi‚ Luhan merasa ia yang sekarang bukanlah ia yang dulu.
Dan juga…
Ck‚ Luhan berdecak pelan. Ia sudah lelah memikirkan hal itu‚ pikiran tentang dirinya sendiri. Tetapi pikiran itu terus saja ia pikirkan. Lupakan‚ Luhan…
Lalu‚ ponsel yang berada di atas meja‚ bergetar. Luhan melirik layar ponselnya yang menunjukan ada sebuah pesan masuk untuknya. Luhan meraih ponsel tersebut‚ membuka kunci layar‚ dan membaca pesan yang baru saja masuk. Pesan itu dari Kris. Lelaki itu memintanya untuk memberi tahu di mana ia sekarang. Luhan memilih untuk tak membalas. Karena sekarang ia butuh sendiri. Butuh menenangkan pikirannya yang sering kali berkecamuk tentang hal-hal tak penting dimasa lalu.
Suara lonceng kecil yang berbunyi pun membuatnya beralih‚ lagi. Dapat ia lihat seorang perempuan masuk dengan menarik sebelah tangan seorang lelaki. Mereka duduk di salah satu meja yang dekat dengannya‚ dan terlihat sedang mengobrol. Luhan juga dapat melihat perempuan itu berbicara dengan riang. Wajah cerianya membuat Luhan tanpa sadar memperhatikan sedari tadi.
Luhan tak merasa mengenal kedua orang itu. Tetapi entah mengapa‚ ia begitu tertarik. Pada perempuan yang manis itu‚ juga pada lelaki yang hanya dapat ia lihat punggungnya kali ini.
Luhan masih memperhatikan. Lantas perempuan itu tiba-tiba berdiri‚ lalu berlari kecil menuju toilet. Kepergian perempuan itu membuat keinginan Luhan untuk terus memperhatikan‚ menjadi luntur. Luhan menghela napas‚ dan memperhatikan kembali keadaan luar.
Namun nyatanya‚ Luhan kembali memperhatikan meja yang tadi diduduki perempuan manis tadi. Bukan‚ bukan karena mejanya. Tetapi karena lelaki itu. Lelaki yang baru saja menoleh ke belakang‚ dan tanpa sengaja menatapnya.
Pandangan mereka bertemu. Dan tak bisa beralih lagi.
Lelaki itu menatapnya‚ terlihat terkejut dan berusaha untuk menyembunyikan keterkejutannya dari Luhan. Ia memiliki mata yang tajam‚ namun juga terlihat lembut dan perhatian. Pipinya tirus‚ namun juga tak terlalu tirus. Lelaki itu memiliki dagu yang lancip‚ membentuk huruf V dan… Bukankah Luhan pernah melihatnya?
Luhan mengerjap samar. Ia sedikit memiringkan kepala untuk mengingat-ingat‚ dengan mata sedikit memicing. Lelaki itu terlihat menegakkan punggung‚ melirik ke arah lain‚ dan kembali menatap Luhan. Tatapannya kali ini membuat Luhan aneh sendiri. Maka dari itu ia memilih untuk mengalihkan pandangan. Luhan merasa bahwa darahnya merambat naik.
Baru kali ini ia dibuat malu hanya karena tatapan mata. Luhan mengutuk dirinya sendiri dalam hati.
Tetapi… Luhan akhirnya melirik lelaki itu lagi. Ia bersyukur karena lelaki itu tak lagi menatapnya seperti tadi. Luhan memandangi punggungnya‚ dan mengingat-ingat. Luhan yakin ia pernah bertemu dengan lelaki itu hari ini. Tapi di mana?
Luhan berusaha untuk mengingat-ingat. Bayangan tentang kejadian hari ini berputar di kepalanya sekarang. Tentang Yixing yang bertanya soal Kris‚ sarapan di kafetaria kantor‚ bertemu dengan Shin Soo Hyun sampai Luhan harus menerima banyak cibiran dari teman-temannya‚ kembali ke tempatnya bekerja dengan lift‚ lalu―
Eh?
Luhan mengerjap samar. Dilihatnya lagi punggung si lelaki yang kini menyandar pada sandaran kursi dengan mata hampir membulat. Luhan mengingat wajahnya ketika lelaki itu menatapnya tadi. Lalu membandingkannya dengan wajah lelaki yang dia lihat di lift tadi pagi.
Dia Oh Sehun! Siapa orang kantor yang tak kenal dengan putra kandung Presdir Oh?
Seketika Luhan pias. Ia melirik ke arah lain dan tiba-tiba merasa ingin sekali mencelupkan diri ke secangkir kopi besar yang panas. Luhan malu‚ dan benar-benar malu. Wajahnya merona merah hingga ia merasa kepanasan sendiri. Ia panik dengan keadaannya sekarang. Entah mengapa‚ Luhan salah tingkah‚ malu‚ semuanya campur aduk.
Maka dari itu Luhan meraih ponselnya‚ mencari pesan Kris yang tadi ia abaikan‚ lalu membalasnya. Luhan mengetik dengan cepat. Ia tak sabar untuk segera keluar dari kafe ini dan bertemu dengan Kris. Setelah itu‚ Luhan beranjak dari tempatnya. Ia berdiri‚ membuat mejanya bergeser. Lelaki bernama Sehun itu meliriknya dan Luhan menyadarinya. Sebisa mungkin Luhan tak meliriknya. Ia berjalan cepat keluar dari kafe kemudian.
Hanya saja‚ Luhan tak tahu kalau Sehun sadar. Lelaki itu sadar bahwa Luhan sedang salah tingkah. Sehun menahan senyum geli seraya mengaduk capuchino dinginnya sementara matanya masih terus mengawasi Luhan yang menghilang di balik pintu.
…
"Kenapa kau tersenyum seperti itu?"
Luhan melirik lelaki di sampingnya‚ lalu menggeleng seraya melunturkan senyum. "Aku tidak tersenyum‚ Kris." sahutnya datar.
"Aku melihatnya‚ Luhan." kata lelaki bernama Kris dan terkekeh sendiri. "Kau cantik saat tersenyum."
Luhan tak peduli‚ ia tak membalas sama sekali. Luhan hanya menikmati pemandangan luar dari dalam mobil. Matahari baru saja tenggelam. Lampu-lampu jalan menyala‚ seperti titik-titik bercahaya di sepanjang jalan. Luhan memperhatikan titik-titik cahaya itu dalam diam.
"Ibuku mengkhawatirkanmu saat tahu kau sakit seminggu yang lalu."
"Aku hanya kecapekan." balas Luhan sekenanya.
"Atau karena hal lain?" kejar Kris. Ia menoleh Luhan sebentar dan kembali fokus pada jalanan.
Luhan menghela napas pelan. Tak ingin menjawab pertanyaan itu. Kris sudah tahu jawabannya. Dan Luhan tak ingin menjabarkannya.
"Sudah kubilang‚ lupakan kejadian itu." ujar Kris. Luhan hanya melihatnya sekilas sehingga membuat Kris menghela napas berat. "Ingat tentang statusmu‚ Luhan."
"Aku tak pernah memakai cincinnya."
Kris bungkam. Konsentrasinya pada jalanan buyar seketika. Maka dari itu ia menepikan mobil dan berhenti. Wajahnya sudah memerah setelah melirik jemari Luhan. Tak ada cincin yang tersemat di sana. Kris memejamkan mata‚ menarik napas panjang‚ dan menghembuskannya perlahan.
"Di mana cincinnya?" tanya Kris. Nadanya sedatar nada suara Luhan.
"Apa kau perlu tahu?" Luhan menyahut tenang. Ia sama sekali tak ingin melihat bagaimana sekarang wajah Kris. Ia hanya tahu kalau Kris sedang menahan emosi.
"Kenapa kau tak memakainya?" tanya Kris lagi. Masih dengan nada dan suara yang sama.
Luhan memejamkan matanya sejenak. Berusaha untuk tak masuk ke dalam emosi yang sama dengan Kris. Kemudian ia berkata‚ "Itu karena kau bukan Yifan." dengan tenang.
Gigi Kris bergemeletuk karena saling bergesek di dalam katupan bibirnya. Wajah Luhan yang terlihat tenang ketika menatapnya sekarang ini membuat emosinya semakin naik. Ingin ia berteriak marah pada Luhan. Namun ketika Luhan beralih menatapnya benci dan keluar dari dalam mobil‚ Kris meledakkan amarahnya dengan memukul stir mobil dengan keras. Ia menghembuskan napas jengkel.
Kenapa Luhan terlihat tenang sekali saat menghadapinya?
Kris memedam amarahnya sendiri sembari memejamkan mata. Ia menoleh ke belakang‚ melihat punggung Luhan yang menjauh ditepian jalan sendiri. Kris berdecak. Ia memundurkan mobilnya untuk menyusul Luhan yang semakin jauh.
Namun kemudian‚ Kris memilih untuk keluar dari mobil dan berlari menyusul Luhan. Sebelah tangan perempuan itu yang bebas dia tangkap dan dia tarik hingga Luhan berbalik padanya. Luhan masih menatapnya tajam dan Kris menghembuskan napas dengan pelan melihatnya.
"Maaf." kata Kris pelan. Ia menarik tangan Luhan lagi dan membawanya ke dalam pelukan. "Maaf sudah marah padamu."
Luhan hanya diam. Dadanya bergemuruh sakit berada di pelukan Kris sekarang ini. Ia hanya membiarkan Kris membawanya kembali ke mobil. Dan membiarkan Kris membawanya ke rumah yang penuh kenangan buruk baginya.
…
To be continue…
Aku akan balas pertanyaan yang bagiku penting di prolog sama di chapt 1 dulu yaa...
FF ini incest ya?
- Well‚ Aku nggabakal sejahat itu ke HunHan. Bukan incest kok yaa.. Hanya saja… Tunggu ajadeh wkwk :3
Sehun sama Baekhyun pacaran? Atau cuma deket?
- Jadi Sehun sama Baekhyun cuma deket koo… Cuma deketnya manis-manis soswit gituu :3
Sudah. Wkwk.
Hai! Aku kembali lagi!
Dan maaf untuk chapt 1 kemarin. Ya ampun aku beneran salah kirim file yang seharusnya udah aku hapus tapi kelupaan. Dan akhirnya aku repost file yg baru itu.
Dan sejujurnya‚ SeBaek itu... I can't hiks...
Tapi ya karena Kyungsoo udah aku jodohin sama Jongin di chapt 1‚ yasudah‚ Sehun sama Baekhyun saja. :3 Cuma sementara kok yaaa :3
Trus aku rasa di chapt ini maksa dehya. Iya‚ kalian ngerasa ngga? Ato aku aja yg ngerasa?
Udah ah. Buat kalian yang udah baca‚ jangan lupa review ya... Puasa lhoo jadi juga harus sedekah review (?) :v
