"Kau tidurlah. Aku akan pulang."
Luhan mengangguk. Dibiarkannya Kris berjalan mundur‚ berbalik‚ dan keluar dari rumahnya. Setelah itu Luhan menutup pintu. Udara dingin membuatnya tak tahan untuk menghangatkan badan di dalam rumah. Ia mengunci pintu setelahnya.
Luhan berjalan mendekati sofa dengan pelan. Setelah itu‚ Luhan merebahkan tubuh di sofa ruang tamu. Tubuhnya lelah sekali hari ini. Kepalanya juga terasa pening. Ada banyak kejadian yang terus berputar tanpa lelah di sana. Luhan pusing memikirkannya. Sampai-sampai Luhan merasakan keningnya panas karena pusing.
Malam ini‚ Luhan kembali merasa sepi. Detik jam yang ada di ruangan itu terdengar keras dalam kesepiannya. Luhan memandang ke luar jendela sejenak. Langit malam tak ada cerah-cerahnya di malam ini. Tak ada bintang‚ tak ada rembulan. Hanya ada jubah hitam di langit malam. Luhan memandangnya pilu sebelum memilih untuk menutup jendela dengan tirai.
Sudah enam bulan ini berakhir. Selama itu pula kepergiannya membawa sepi bagi Luhan. Luhan hanya sendiri di sini. Tak ada yang tahu mengapa ia bisa berteman akrab dengan sepi setelah lelaki itu pergi. Oleh Kris maupun Yixing‚ mereka tak akan pernah paham meski mereka tahu. Hanya Luhan sendirilah yang mengerti. Sebab dirinyalah yang mengenalkan dirinya sendiri pada sepi.
Atau lelaki itulah yang mengenalkannnya pada sepi?
Luhan menghela napas. Ia mengurut pangkal hidungnya ketika bayangan wajah seorang lelaki yang tengah tertidur itu kembali terngiang di benaknya. Sudah berkali-kali Luhan mengenyahkannya dengan susah payah. Sudah berkali-kali pula Luhan mengubur bayangan wajah itu di hati yang paling dalam. Namun entah mengapa‚ ia masih mengingatnya. Luhan masih ingat wajah lelaki itu.
Saat wajah itu terlihat begitu damai dalam tidur. Saat mata itu tak terbuka ketika Luhan memanggil nama dan mengguncang tubuhnya dalam tangis.
Tanpa sadar Luhan pun menitihkan air mata. Pipinya yang dingin dilewati cairan bening dari mata itu menjadi tak peka soal rasa. Luhan tak merasakan apapun ketika dirinya menangis dalam sepi. Yang ia rasa adalah sakit di hati‚ serta suaranya yang memanggil lelaki itu dimasa lalu.
"Ya! Bangun! Kau tak mendengar suaraku? Bangun‚ Yifan! Bangun!"
Kau yang harus bangun‚ Luhan… Sadarlah jika sekarang kau sedang menangis sendiri…
Luhan mengerjap. Tetes air matanya lebih banyak keluar setelah itu. Ia membersit hidung dan menghapus air matanya cepat-cepat. Luhan harus segera tidur karena malam sudah terlalu larut. Ia meraih tas kerjanya dan tanpa sengaja menjatuhkan ponsel. Luhan meraih ponsel itu dan terdiam memandanginya.
Cukup lama. Sampai kemudian Luhan memilih untuk membuka aplikasi pesan dari ponselnya. Ia mengetikkan pesan itu dengan cepat dan mengirimnya. Luhan kembali melangkah menuju kamar kemudian.
Ponsel lain bewarna putih yang ada di atas laci pun bergetar. Ada pesan masuk untuk si pemilik ponsel. Layarnya yang menyala terang‚ menerangi ruangan yang gelap. Tak ada yang membuka pesannya. Tak ada orang di sana.
…
"Baekhyun."
Si pemilik nama menghentikan aktivitas menuang air putih ke dalam gelas setelah Sehun memanggil. Dilihatnya Sehun yang sedang berpikir itu‚ lalu Baekhyun menyahut‚ "Apa?"
"Aku ingin bertanya." kata Sehun pelan. Ia melirik Baekhyun yang mulai duduk di depannya dan kembali menunduk. "Bagaimana menurutmu kalau aku menjadi direktur?"
"Hah?" Baekhyun terlihat bingung. "Kau menjadi direktur? Perusahaan mana yang menerimamu menjadi direktur?" gurau Baekhyun di akhir kalimat. Ia terkekeh sebentar dan menghentikannya saat melihat Sehun begitu serius kali ini.
"Ayah yang menawariku." aku Sehun.
Mata Baekhyun yang sipit membelalak tak percaya. "Jadi‚ kemarin itu ka―"
"Ya." potong Sehun kalem. Namun kali ini ia mulai kelihatan jengah. "Bagaimana menurutmu? Apa aku harus menerimanya?"
Lengang sejenak.
"Terserah kau‚ Sehun." jawab Baekhyun pada akhirnya. Ia kembali menuang air putihnya sembari berkata‚ "Aku juga tak akan memaksamu menerima atau menolaknya. Semua tergantung padamu kan? Ayahmu memberimu tawaran itu untuk membuatmu berkembang dibakatmu. Ayahmu punya niat yang baik."
Sehun terlihat menimang-nimang. "Jadi?"
"Terserah padamu‚ Sehun Sayang…" Baekhyun mencubit gemas pipi Sehun.
Sehun mendengus. Ia menyingkirkan tangan Baekhyun dari pipinya dan ikut menuang air putih ke dalam gelas kosong yang tersisa.
Itulah perbincangannya dengan Baekhyun tadi pagi sebelum Sehun memutuskan untuk memberi jawaban pada penawaran Ayahnya. Maka siang itu‚ setelah Sehun lepas dari kegiatan kampus‚ ia datang ke kantor Ayahnya.
Dan di sinilah ia sekarang. Di ruangan kerja Ayahnya bersama Shin Soo Hyun. Sehun hanya duduk menunggu inti perbincangan ini dimulai sementara kedua lelaki yang lebih tua darinya itu berbicara soal perusahaan.
"Jadi bagaimana jawabanmu?" tanya Jae Ho pada Sehun‚ mengubah topik pembicaraan.
Sehun terlihat diam sejenak. Ia sedang berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa pilihannya adalah pilihan yang tepat. Ia menghela napas pelan.
"Ya. Aku akan menerimanya. Hanya selama liburan musim panas ini."
Ada senyum puas di bibir Jae Ho setelah Sehun menjawab penawarannya dengan yakin. Pria itu mendekati Sehun dan memeluknya‚ memberi tepukan-tepukan ringan di bahu Sehun dengan bangga.
"Ya. Itu bagus. Soo Hyun akan membantumu." katanya pada Sehun. Ia merenggangkan pelukan‚ lalu beralih pada lelaki lain di sana. "Benarkan‚ nak?"
Lelaki bernama Soo Hyun itu mengangguk dengan senyum di bibir. Sebelah tangannya terulur untuk mengacak puncak rambut Sehun dengan akrab. Ia berkata‚ "Itu baru adikku yang keren."
Sehun hanya tersenyum kecil sebagai jawaban.
…
"Apa yang kau lakukan?" Yixing bertanya heran pada Luhan. Baru saja ia masuk‚ tetapi ia sudah dibuat bingung oleh Luhan yang kelihatan sedang mencari-cari sesuatu.
"Mengumpulkan ini semua." jawab Luhan seraya menunjuk belasan kotak berbeda ukuran dan warna itu di meja. Ia menunduk‚ mencari-cari kotak yang sama lagi.
"Mau kau apakan?" tanya Yixing lagi. Ia meletakkan berkas-berkas yang ia bawa ke mejanya. "Kau ingin membakarnya?"
Luhan mendongak dan mendengus geli. "Lucu sekali‚ Yixing." katanya. Ia kembali mencari kotak yang sering datang dan diletakkan di mejanya‚ atau dititipkan pada Yixing. Sembari itu‚ Luhan berkata‚ "Aku tidak akan membuangnya‚ membakarnya‚ atau membagikannya pada siapa pun. Cukup kau saja yang tahu kalau Direktur Shin sering memberiku kotak dengan isi benda-benda yang tak kusukai ini."
"Lalu mau kau apakan? Kau mau mengembalikannya?" Yixing bertanya lagi. Membuat Luhan menatapnya dengan jengah.
Luhan mengangguk. "Ya." jawabnya bersabar.
"Hah?" Yixing kelihatan tidak percaya. Ia mendekati Luhan yang sedang memasukkan kotak-kotak itu ke dalam kotak yang lebih besar. "Kau yakin ingin mengembalikannya? Memang kau berani? Kau tak ingat atau bagaimana kalau isi kotak-kotak itu perhiasan‚ Luhan. Kalau kau menjualnya‚ kau bisa kaya raya."
Seketika Luhan tertawa‚ membuat Yixing hampir terjungkal karenanya. Jarang-jarang Yixing melihat Luhan tertawa seperti ini. Yixing dapat menghitungnya setelah hampir dari enam bulan ini ia mengenal Luhan. Mungkin tak genap sepuluh kali.
Memang Yixing mengenal Luhan sebagai pribadi yang berteman akrab dengan diam. Entahlah‚ Yixing tak tahu apa yang sebenarnya dipikirkan oleh Luhan. Yixing masih belum berani untuk bertanya. Meski hanya dirinyalah satu-satunya teman dekat Luhan di kantor ini.
"Aku tak sematerialistis seperti saranmu itu‚ Yixing." balas Luhan. Ia melihat kotak-kotak itu dan menghela napas pelan. "Aku akan mengembalikannya."
"Sekarang?" Yixing bertanya lagi. Membuat Luhan memutar kedua bola matanya jengah.
"Iya‚ Yixing. Aku tak akan menyimpannya terus-menerus sampai benda-benda ini membusuk di dalam laciku atau bahkan menjadi harta karun di dalam sana." katanya. Luhan mengangkat kotak besar itu dan berjalan menuju pintu.
"Tapi‚ Luhan." suara Yixing membuat Luhan kembali menoleh padanya. "Direktur Shin sedang ada keperluan dengan Presdir Oh."
Kening Luhan berkerut samar. Ia kembali menutup pintu yang terbuka‚ dan bertanya‚ "Apakah sudah dari tadi?"
Yixing menggeleng. Dan Luhan menghela napas dengan pelan. Ia kembali ke mejanya dan duduk dengan lelah di sana. Luhan tak ingin ambil pusing pada Yixing yang kemudian bercerita ini dan itu di depannya. Luhan hanya mendengarkan dalam diam. Jika Yixing sudah selesai berbicara‚ Luhan akan menanggapi.
Tapi tidak kali ini.
Ketika Yixing berkata‚ "…dan apa kau dengar berita baru? Bahwa putra kandung Presdir Oh akan menjadi direktur sementara di kantor ini? Ya Tuhan‚ aku tak bisa membayangkan bagaimana―"
"Maksudmu Oh Sehun?" sela Luhan.
Yixing menatapnya dan sedikit terkejut. "Kau tahu namanya? Aku kira kau tak tahu."
Luhan tak menjawab kalimat Yixing setelah itu.
Sebab bayangan tentang Sehun kemarin sore terlintas lagi. Lelaki yang menatapnya dengan pandangan yang tak bisa Luhan artikan itu pada akhirnya membayangi Luhan. Luhan bahkan masih ingat bagaimana rasanya salah tingkah dan malu saat ditatap seperti itu oleh Sehun. Luhan juga tak tahu mengapa ia bisa tersenyum sendiri mengingat tatapan mata Sehun saat di dalam mobil bersama dengan Kris malam itu. Luhan juga ingat bagaimana ia tak bisa fokus mendengar cerita ibunya Kris kemarin malam. Yang hanya ia ingat adalah bayangan tatapan mata Sehun.
Hanya tatapan matanya saja.
Dan itu sudah membuat Luhan merona tanpa dia sadari.
"Oh!" Yixing menutup mulutnya yang membulat dengan kedua tangan. "Luhan‚ kenapa wajahmu merah begitu?"
Luhan menatap Yixing dengan heran sesudahnya. Baru setelah itu Luhan mulai merasa wajahnya panas. Luhan menangkup kedua pipinya yang terasa panas. Makin merahlah rupanya saat ini. Melihat itu‚ Yixing gencar menggoda Luhan tentang Sehun. Yixing yakin kalau Luhan memang mengenal Sehun karena ada sesuatunya. Sebab Luhan terus saja merona malu‚ dan terus saja mengelak. Yixing mulai meyakini keyakinannya―yang sebenarnya salah― barusan.
Lagipula ia senang juga bisa membuat Luhan memiliki beberapa ekspresi hari ini. Biasanya Luhan hanya akan diam dan menanggapi dengan datar sebagian besar pembicaraan mereka.
"Ah‚ aku benar kan?" goda Yixing lagi.
"Sudahlah‚ sudah." kata Luhan. Ia mengaku kalah digoda Yixing seperti tadi. Wajahnya masih pias akan malu ketika ia bangkit sembari kembali mengangkat kotak besar tadi. "Aku harus bergegas. Mungkin urusan Direktur Shin dengan Presdir sudah selesai."
Yixing terus mengawasi Luhan sampai perempuan itu keluar dari ruangan mereka tanpa menjawab kalimat Luhan barusan. Setelah itu‚Yixing menggidikkan bahu sekilas. Ia tak lagi ambil pusing tentang masalah Luhan yang malu-malu karena putra kandung Presdir Oh itu disebut namanya.
…
Luhan baru saja keluar dari ruangannya dan berhenti ketika melihat dua orang lelaki berjalan ke arahnya saat ini. Kedua lelaki itu tak mengetahui keberadaan Luhan di ujung koridor yang mereka lewati. Salah satu diantara mereka terlihat lebih banyak diam sedangkan satu yang lain terlihat mencoba untuk mengajak bicara si lelaki pertama. Baru ketika si lelaki kedua itu tanpa sengaja melihat ke arah Luhan‚ ia menghentikan langkah. Membuat si lelaki pertama yang lebih diam ikut menghentikan langkah.
Seketika Luhan mengeratkan sendiri pegangannya pada kotak besar itu. Tanpa sadar Luhan mengatupkan bibirnya ketika ia kembali menatap mata si lelaki pertama.
Mereka bersitatap lagi. Luhan merasa seluruh tulang di tubuhnya rontok hanya karena tatapan lelaki bernama Oh Sehun itu.
"Oh‚ Luhan?" si lelaki kedua‚ Shin Soo Hyun‚ menginterupsi dan membuat pandangan Luhan beralih. Lelaki itu mengambil langkah mendekati Luhan kemudian.
Luhan hanya diam. Diberi senyuman menawan oleh Soo Hyun kali ini‚ ia hanya diam.
"Apa yang kau bawa?" tanya Soo Hyun.
Luhan mengerjap dua kali. "Oh‚ ya." katanya hampir gelagapan. Baru saja ia melirik Sehun dan lelaki itu sedang bersedekap sembari memperhatikannya. Ia berdeham kecil. "Aku hanya ingin memberimu ini."
Kening Soo Hyun berkerut. "Ini apa?" tanyanya heran. Ia menerima kotak besar yang diberikan Luhan dan kembali bertanya‚ "Kau tak bercanda kan?"
Luhan menggeleng. "Tidak." jawabnya singkat. "Terima kasih sebelumnya karena Direktur sudah memberiku banyak barang. Tapi aku tidak akan menerima barang-barang ini lagi. Barang ini tak pantas jika aku yang memakainya. Aku mengembalikannya padamu dan memohon satu hal padamu. Tolong jangan beri aku barang-barang lagi."
Soo Hyun mengerjap selama Luhan berbicara panjang padanya. Ia melihat kotak besar itu dan Luhan bergantian dengan tidak percaya. Ia baru sadar‚ jika Luhan mengembalikan seluruh barang yang ia beri padanya saat ini.
"Luhan‚ kau tak ingin menerimanya?" tanyanya berhati-hati.
Luhan tersenyum tipis seraya mengangguk‚ mengiyakan pertanyaan Soo Hyun. Kemudian‚ Luhan membungkuk sopan pada Soo Hyun. Sedangkan Soo Hyun tak bersuara ketika Luhan pergi dan kembali masuk ke dalam ruangannya.
Sementara itu‚ Soo Hyun masih kelihatan tak mengerti. Lelaki itu membuka tutup kotak besar tersebut dan mendesah pelan melihat isinya. Seluruh kotak beragam bentuk dan ukuran itu kini berada di tangannya lagi. Ia berdecak pelan‚ menunduk‚ merutuki dirinya sendiri tentang perbuatannya pada Luhan. Soo Hyun tahu Luhan tak suka dibujuk dan diberi barang-barang seperti ini. Tetapi ia masih saja memberikannya. Berkali-kali. Tanpa tahu kalau yang diberi pun tak pernah membukanya.
"Baru saja ditolak‚ hm?"
Soo Hyun mendongak‚ menoleh pada Sehun di belakangnya yang baru saja menepuk pundakya ringan. Soo Hyun tak membalas apapun kecuali mendesah kecil.
"Sabar saja‚ ya…" kata Sehun sembari menepuk-nepuk kembali pundaknya. Setelah itu‚ ia berlalu menuju lift.
"Kau tak pernah peduli padaku‚ Sehun. Tapi untuk urusan ini‚ mengapa kau baru mempedulikanku?"
Sehun hanya melambaikan tangan masih dengan berjalan menuju lift. Sehun tak lagi menghiraukan apa yang Soo Hyun balas berupa bisikan padanya seperti tadi. Memang balasan Soo Hyun itu benar. Jadi Sehun tak akan menyangkal kalimat itu.
…
Malam itu‚ Sehun memilih untuk menikmati secangkir kopi sendiri di kafe. Hari ini‚ ia memilih untuk menghindari Baekhyun entah karena apa. Mungkin karena Sehun sedang merasa ingin sendiri untuk merenungkan banyak hal dipikirannya. Atau juga karena akhir-akhir ini ia selalu kepikiran tentang Luhan.
Iya‚ tentang perempuan berwajah muram yang baru kemarin ia ketahui namanya.
Entahlah‚ Sehun pikir sekarang ini dia terlalu berlebihan. Seharusnya malam itu Sehun tak mengikuti Luhan sepulang dari supermarket. Seharusnya Sehun tak penasaran mengapa Luhan selalu memandang luar jendela dengan wajah muram saat di kafe. Seharusnya Sehun tak mendengar suaranya untuk pertama kali di lift waktu itu. Seharusnya Sehun tidak berdebar dan merasakan sesak di dada hanya karena mencium aroma parfumnya. Seharusnya Sehun juga tak perlu merasa tidak suka hanya karena mendengar Soo Hyun menyukai Luhan.
Seharusnya memang begitu. Jadi kalau Sehun tak melakukan hal-hal itu‚ Sehun tak akan larut ke aliran sungai milik Luhan sejauh ini. Sehun juga tak akan melupakan Baekhyun‚ orang yang ia sayang sekarang‚ terlalu sering.
Aih‚ aih. Sehun pusing sungguhan. Ia menyesap kopinya dan merasakan sensasi cairan pahit itu ketika meluncur di saluran pencernaannya. Sehun menikmati sensasi menyenangkan itu. Dan itu membuatnya menjadi lebih baik. Meski sedikit.
Tapi omong-omong soal Luhan lagi‚ Sehun jadi penasaran. Tadi siang ia masih ingat bagaimana Luhan menghadapi Soo Hyun. Luhan terlihat tenang‚ sama sekali tak kelihatan gugup atau apalah itu. Sehun tahu kalau Luhan mengembalikan barang-barang yang ia dapatkan dari dan pada kakaknya itu. Bukankah seharusnya Luhan merasa bersalah atau―
"Aku tak ingin ke sini‚ Kris."
Sehun berhenti berpikiran tentang Luhan ketika tanpa sengaja ia mendengar suara Luhan bersamaan dengan bunyinya lonceng kecil di pintu. Sehun mendongak‚ melihat Luhan masuk bersama seorang lelaki yang tak ia kenal. Lelaki itu menarik pergelangan tangan Luhan untuk terus berada di belakangnya sementara si lelaki terlihat tidak peduli pada Luhan yang kelihatan lemas. Sehun mengerutkan kening samar. Mengapa Luhan tak memberontak saja?
Sehun masih terus memperhatikan gerak-gerik Luhan beserta lelaki tadi sembari menyesap kembali kopinya. Luhan terlihat berkali-kali menghela napas dan diam memandangi si lelaki yang memesankan minuman. Untuk mereka berdua‚ mungkin. Beberapa detik berlalu yang kemudian membuat Sehun bosan memperhatikan. Pada akhirnya‚ Sehun beralih.
Kemudian‚ Sehun membatin. Mengapa ia memperhatikan Luhan lagi? Bukankah mereka tak saling mengenal?
Ish.
Sementara itu‚ Luhan masih mencoba untuk bersabar pada Kris yang seenak jidatnya menariknya untuk masuk ke dalam kafe ini. Sebelumnya‚ Luhan sudah menolak untuk ikut masuk. Biar Luhan menunggu Kris yang ingin membeli kopi untuk mereka berdua di dalam mobil. Namun entah Kris yang kekanakan atau Kris yang mulai lagi untuk bersikap egois‚ lelaki itu menarik Luhan untuk keluar dari dalam mobil. Kris hanya belum pernah memesan kopi di kafe ini‚ begitulah alasannya sebelum menyeret Luhan masuk ke dalam kafe.
Sejujurnya‚ Luhan enggan. Luhan sempat melihat sosok Sehun duduk di meja yang biasa ia tempati―meja dekat jendela― sebelum Kris menghentikan laju mobil. Luhan tak ingin ditatap seperti itu oleh Sehun dan membuatnya malu sendiri entah karena apa. Tapi jika Kris mulai lagi dengan sikap egoisnya‚ Luhan hanya mampu menurut dan diam. Luhan hanya tak ingin Kris marah dan kembali mengingatkannya pada lelaki itu. Luhan juga tak ingin ia ingat lelaki yang masih ia sayangi itu untuk sekarang.
"Kris‚" panggil Luhan pelan.
Kris berdeham pelan. "Apa?"
"Aku pusing." akunya masih dengan suara pelan.
Lantas Kris menoleh padanya. Ia menangkup wajah Luhan dan memperhatikan. Mata Luhan terlihat sayu‚ dengan wajah sedikit pucat. Hal itu membuat Kris berdecak pelan. Ia bertanya‚ "Kau benar-benar pusing?" yang kemudian dijawab Luhan dengan anggukan. "Apa kau bisa menahannya sebentar saja?"
"Aku harus duduk." kata Luhan lemas.
Kris mengangguk. Ia mencarikan kursi kosong untuk Luhan dan membiarkannya duduk di sana.
"Tunggu sebentar saja‚ ya."
Luhan mengangguk pelan. Ia duduk bersandar dan merasakan pening di kepala lagi. Seperti ada palu yang memukul-mukul kepalanya. Luhan mengurut keningnya‚ lalu menghela napas panjang lagi.
Tidak berapa lama‚ Kris datang membawakan dua gelas kopi dan menyerahkan satu untuk Luhan. Luhan menerimanya dengan tangan bergetar. Kris duduk disebelahnya dan memperhatikan Luhan yang menyesap sedikit demi sedikit kopi setelah menghirup uap hangatnya sesaat.
"Apa ini karena kau sudah kecanduan kopi‚ hm?" tanya Kris kemudian. Ia tersenyum maklum melihat Luhan tak menanggapinya sama sekali. Kemudian‚ Kris melanjutkan. "Dia selalu melarangmu minum kopi. Tapi dia juga kecanduan minum kopi."
"Jangan bahas soal dia lagi‚ Kris." sahut Luhan datar.
Kris memandang Luhan lagi. Perempuan yang kini sedang berdiam diri itu membuatnya tersenyum. Kris yakin‚ Luhan sedang mengenyahkan bayangan-bayangan masa lalu tentang lelaki itu. Lelaki yang dicintai Luhan sampai sekarang. Lelaki yang membuat Luhan mengurung diri bersama sepi. Dan lelaki yang lahir sepuluh menit lebih awal dibanding dirinya.
Lelaki itu Yifan. Kakak kembar dari Kris sendiri.
"Jadi kau ingin pulang sekarang?" tanya Kris mengubah topik.
Luhan meliriknya setelah berhenti menyesap kopi yang membuat kepalanya menjadi lebih baik. Ia mengangguk sebagai jawaban.
Kemudian Kris bangkit dari duduknya. Ia meminta Luhan membawakan gelas kopi miliknya lalu menuntun Luhan untuk keluar dari kafe. Kris tak tahu kalau Luhan saat itu sempat menoleh ke arah lain. Melewati bahu Kris‚ Luhan menoleh ke arah Sehun yang meperhatikannya. Luhan melihat Sehun yang memperhatikannya sebelum lelaki itu beralih ke arah lain. Luhan juga dapat melihat tatapan mata lelaki itu dari balik bahu Kris.
Iya‚ tatapan mata yang sering membayangi Luhan akhir-akhir ini. Tatapan mata yang tak bisa didiskripsikan Luhan. Dan tatapan mata yang kemudian membuat Luhan ikut beralih dan keluar dari kafe.
…
4 Juni 2.30 am
Luhan : Hei…
Luhan : Kau tak membalasku‚ ya?
Luhan : Kau tak menyayangiku lagi?
7 Juni 11.16 pm
Luhan : Yifan‚ aku ingin mengatakan beberapa hal padamu.
Luhan : Aku rindu.
Luhan : Aku rindu.
Luhan : Aku rindu.
Luhan : Padamu.
Luhan : Hei‚ ayo cepat baca pesanku!
Luhan : Terserah. Aku marah padamu.
15 Juni 00.01 am
Luhan : Hei‚ Yifan. Aku masih merindukanmu.
Luhan : Apa kau juga merindukanku?
18 Juni 02.11 a.m.
Luhan : Aku tidak bisa tidur.
Luhan : Aku selalu memikirkanmu.
Luhan : Maaf soal itu‚ aku menyesal.
Luhan : Maaf.
Secara beruntun pesan-pesan itu bertanda 'Read' di ponsel Luhan. Luhan melihat tanda yang berarti bahwa pesannya telah dibaca itu dengan datar. Ditangan yang lain‚ ponsel putih yang sering ia letakkan di atas laci‚ Luhan pandangi pula.
Ponsel berwarna putih itu milik Yifan‚ salah satu benda yang masih disimpan Luhan sampai sekarang. Luhan rutin mengisi ulang ponsel tersebut agar ia bisa berkirim pesan dengan Yifan. Yang pada akhirnya Luhan sendirilah yang membalas dan membaca pesannya sendiri.
Aih‚ menyedihkan. Luhan mengirim pesan ke ponsel Yifan yang akhirnya ia sendiri yang membalasnya.
Biar saja‚ batin Luhan. Hal itu ia lakukan untuk mengobati rasa sakit yang ia rasakan dari dulu sampai sekarang. Ia juga melakukannya untuk membalas rasa sayang Yifan padanya di masa lalu. Sebab di masa lalu Luhan sering mengabaikan pesan Yifan jika lelaki itu mengiriminya pesan.
Dan kini‚ Luhan tahu bagaimana rasanya diabaikan oleh orang yang disayang. Rasanya sakit‚ tentu. Lalu rasa apa lagi?
Sembari memandangi pemandangan luar dari jendela kamar‚ Luhan menikmati lagu yang mengalun dari earphone. Kemudian ia mengangkat sebelah tangan‚ memandangi jemarinya kemudian. Dengan berlatar belakang langit malam yang cerah tanpa bulan itu‚ Luhan memandangi benda kecil di salah satu jemarinya. Adalah cincin dari Yifan. Itu juga salah satu benda yang masih disimpan Luhan sampai sekarang.
Sebenarnya‚ mereka sudah bertunangan. Dan seharusnya pula Luhan telah menikah dengan Yifan sekarang ini. Namun‚ insiden enam bulan yang lalu itu membuat seluruh mimpinya bersama Yifan hilang. Yifan yang membawa mimpi-mimpi itu saat lelaki itu pergi dan tak lagi kembali ke sini.
Luhan meraih cincin itu‚ dan melepasnya dari jari manisnya. Ia memandangi benda berharga itu dan tersenyum sendiri. Ia bermonolog dengan pelan setelahnya.
"Yifan‚ asal kau tahu. Aku tak berani memakai cincin ini di depan adikmu. Meski adikmu selalu memarahiku karena aku tak memakai cincinmu‚ aku tetap tak akan memakai cincin ini. Aku ingin menunjukkan padanya bahwa aku telah melupakanmu meski sebenarnya terasa sulit. Aku juga ingin menunjukkan padanya bahwa aku siap dipersuntingnya. Aku akan belajar mencintai Kris meski itu mustahil. Kris adik kembarmu‚ Yifan. Akan sulit mencintai orang yang mirip denganmu."
Luhan membersit hidung. Ia menghapus air mata yang meleleh disalah satu matanya. Kemudian ia memandang cincin itu lagi‚ lalu merengut.
"Ya! Aku membencimu! Kenapa kau meninggalkanku bersama cincin ini‚ Yifan bodoh?!" teriaknya marah. Luhan melempar cincin itu ke arah lain dan tak lagi mempedulikannya.
Namun satu jam kemudian‚ Luhan tetap mencarinya. Luhan mengobrak-abrik isi kamarnya untuk mencari cincin itu. Ia melempar selimutnya‚ bantal‚ guling‚ menggeser meja kecil disebelah tempat tidur‚ dan sebagainya. Luhan baru menemukannya setelah ia hampir putus asa mencari cincin yang ia buang sendiri. Cincin itu berada di bawah tempat tidurnya. Luhan harus menggeser tempat tidur itu dan berusaha meraihnya dengan bantuan penggaris. Setelah mendapatkannya kembali‚ Luhan mendesah lega. Ia duduk di lantai‚ bersandar pada tempat tidurnya‚ dan kembali memandangi cincin itu.
Dan kali ini‚ entah sudah yang keberapa kali‚ Luhan merasakan hal itu lagi. Bahwa ia tak bisa berpaling kelain hati. Pada Kris sekalipun.
…
To be continue…
Hai! Aku balik lagi!
Dan buat pertanyaan kalian tentang apa hubungan Kris-Luhan‚ Yifan-Luhan‚ sama siapa itu Shin Soo Hyun udah aku jawab diatas. Meski masih remang-remang menurutku. Masih pada bingung ngga? Kalo masih‚ maafkan daku yang masih belum bisa menjelaskannya secara detail. Entah kenapa‚ mood ku buat nulis hilang akhir-akhir ini. Jadi maafkan aku kalo kurang chapter ini kurang ngefeel ato apa. Itu manusiawi sekali.
Buat momen Sehun-Baekhyun nya‚ porsinya emang segitu ya ditiap-tiap chapter. Jadi maafkan daku (lagi) kalo kalian nungguin momen Sehun-Baekhyun di ff ini.
Udah ah. Aku lagi males cek ulang jadi maaf jika ada banyak sekali typo dichapter ini.
Review?
