"Kau yakin tak ada yang tertinggal?" tanya Sehun setelah ia menghentikan laju mobil. Ia menoleh pada Baekhyun di sampingnya‚ dan menunggu.
"Aku yakin tidak ada." jawab Baekhyun seadanya.
Sehun mengangguk. Ia keluar dari dalam mobil lalu mengambil koper Baekhyun di bagasi. Kemudian Sehun berjalan mengikuti Baekhyun untuk masuk ke bandara.
Hari ini adalah hari pertama liburan musim panas. Sesuai rencana Baekhyun minggu lalu‚ hari ini perempuan itu berangkat untuk pulang ke Jepang. Sehun yang mengantarnya‚ dan mengawasinya sampai perempuan itu menghilang dari jarak pandangnya. Sehun rasa untuk hari-hari ke depan selama liburan ini‚ ia akan merasa suram. Sebab Baekhyun jauh darinya‚ dan ia harus menahan rindu sampai liburan ini habis.
"Kau harus jaga dirimu baik-baik." pesan Sehun ketika memeluk Baekhyun. Ia mengeratkan pelukan dan berbisik‚ "Aku akan merindukanmu." di rambut Baekhyun.
Baekhyun tersenyum di dalam pelukan Sehun. "Kau juga harus menjaga diri‚ Sehun. Sepertinya di sana aku akan sering memikirkanmu. Jadi jangan membuatku khawatir." katanya.
Sehun mengangguk di bahu Baekhyun sembari terkekeh.
Setelah itu‚ Sehun melepas Baekhyun ketika terdengar pemberitahuan tentang pesawat dan penumpang tujuan Jepang. Lelaki itu tetap memasang senyum dan melambaikan tangan pada Baekhyun yang kemudian menjauh. Senyuman itu luntur juga pada akhirnya saat Sehun tak lagi melihat Baekhyun di jarak pandangnya. Perempuan itu menghilang bersama lautan calon penumpang yang lain.
Sehun menghela napas pelan. Ia harus ke kantor untuk melaksanakan tugas barunya sekarang ini. Jadi Sehun segera berbalik dan pergi dari bandara menuju kantor di pusat kota.
Aish. Kenapa pula waktu itu ia menerima tawaran dari Ayahnya itu‚ sih?
Lalu tiba-tiba Sehun terpikir sesuatu. Tentang tawarannya minggu lalu itu. Kenapa harus dia? Sehun pikir tawaran itu sedikit aneh sekarang ini. Mengapa Ayahnya memberi tawaran itu pada Sehun? Apakah karena kinerja Soo Hyun kurang bagus sehingga Ayahnya meminta dirinya untuk menggantikan sementara posisi di perusahaan yang sangat disayangi Ayahnya itu? Ataukah karena hal lain?
Sehun terus saja memikirkan hal itu bahkan ketika ia sedang berkendara menuju kantor. Sampai ia menemukan jawaban dari pertanyaannya sendiri‚ Sehun mengeratkan pegangannya pada kemudi. Setelah ini ia ingin menemui Ayahnya. Namun kemudian keinginan itu terurung. Kemudian‚ setelah Sehun mengenyahkan pikiran itu‚ ia melajukan mobilnya semakin cepat membelah jalanan.
Biar saja‚ pikirnya. Biar saja pria tua itu berlaku semaunya pada putra kandungnya sendiri saat ini. Sekarang‚ Sehun hanya bisa berdiam diri dan membalas perlakuan pria tua itu suatu saat nanti. Ya‚ suatu saat nanti.
…
"Kau dipanggil Direktur Shin‚ Luhan."
Luhan berhenti menulis. Ia mendongak menatap Yixing yang berdiri di depan mejanya‚ lalu bertanya. "Kau tadi bilang apa?"
Yixing mendesis pelan. "Kau ini sekretaris macam apa? Profesional lah sedikit. Bukankah kau sudah dihubungi Direktur Shin tadi? Mengapa kau masih ada di sini? Meskipun kau da―"
"Aish. Baiklah‚ baiklah." Luhan menyela tidak sabar. Ia bangkit dengan wajah merengut yang kemudian membuat Yixing tertawa. Luhan kembali menatapnya. "Kenapa kau tertawa?" tanya Luhan heran.
"Kau ini‚ ya." Yixing berusaha menghentikan sisa tawanya. "Seharusnya kau bersikap lebih ramah lagi pada Direktur Shin. Beliau sudah terang-terangan menyukaimu‚ Luhan. Kau tak ingin membalasnya?"
Lantas Luhan tersenyum. "Sejujurnya‚ aku sudah menyayangi orang lain‚ Yixing." akunya pelan. Ia menggigit bibir bawahnya melihat Yixing yang sepertinya tertarik dengan topik ini.
"Kau baru mengaku padaku kalau kau sudah menyayangi orang lain?" tanya Yixing. Ia mengekor pada Luhan yang mulai berjalan menuju pintu. "Kau tak ingin cerita padaku lebih banyak lagi?" tanyanya lagi.
Luhan kembali tersenyum. "Aku akan menceritakannya padamu nanti." katanya. Ia keluar dari ruangan kemudian. Meninggalkan Yixing yang bersedekap‚ berdecak‚ dan menggeleng pelan karenanya.
Sebenarnya‚ Luhan malas untuk bertemu dengan Soo Hyun. Setelah mengembalikan barang-barang pemberian itu kembali ke Soo Hyun‚ Luhan tak berminat menemuinya lagi. Entahlah. Pikiran Luhan aneh akhir-akhir ini. Namun meskipun begitu‚ Luhan tetap berjalan menuju ruangan Soo Hyun. Luhan sudah bosan dipanggil beberapa kali oleh Soo Hyun hari ini.
Sesampainya‚ Luhan mengetuk pintu. Ia menunggu sejenak dan mendengar suara Soo Hyun yang mengijinkannya masuk. Luhan membuka pintu‚ menutupnya kembali kemudian. Ia telah masuk ke dalam ruangan direktur muda itu saat ini. Begitu Luhan mendongak dan hendak menghampiri meja Soo Hyun‚ Luhan hampir melompat karena terkejut. Ia melihat Oh Sehun berada di kursi depan meja Soo Hyun‚ sedang melihatnya‚ dan tersenyum padanya.
Aduh‚ aduh.
"Kau baru saja datang‚ nona Xi?" suara Soo Hyun membuat Luhan mengerjap‚ beralih menatapnya. "Sudah berapa kali aku memintamu untuk kemari? Sekretaris macam apa kau ini?"
Luhan menelan ludah susah payah. Bukan karena ia takut pada Soo Hyun yang kali ini sedang menyindirnya. Melainkan karena tanpa sengaja‚ ia melihat Sehun terkekeh pelan karenanya.
Aish. Kalau Luhan tahu akhirnya akan begini‚ Luhan tak akan mengabaikan panggilan Soo Hyun tadi.
"Aih‚ untuk apa aku marah padamu‚" gumam Soo Hyun frustasi.
Luhan beralih kembali pada Soo Hyun. Lelaki itu sedang menekan salah satu pelipisnya dengan wajah jengah. Luhan meringis kecil. Ia membungkuk dan meminta maaf pada Soo Hyun kemudian.
Soo Hyun berdecak pelan. "Sudahlah. Kemari kau. 'Kan ku beritahu kau sesuatu."
Luhan menunduk. Ia berjalan menghampiri meja Soo Hyun dan duduk di kursi yang tersisa‚ disebelah Sehun. Secara refleks‚ Luhan melirik Sehun yang duduk tenang disampingnya. Dapat ia lihat Sehun sedang memberi perhatian Soo Hyun dengan serius. Luhan jadi ikutan serius karenanya.
"Luhan‚ kau sudah tahu kan kalau Sehun diberi tugas kecil oleh Presdir untuk beberapa waktu ke depan. Jadi karena kau sekretarisku‚ untuk hari ini sampai tugas ini selesai‚ kau yang akan menjadi sekretaris Sehun."
Luhan melebarkan matanya samar. Ia mencengkeram udara untuk melampiaskan rasa terkejutnya dalam diam. Diliriknya Sehun‚ lelaki itu masih terlihat tenang di sebelahnya.
"Adakah diantara kalian yang keberatan dengan pergantian jabatan sementara ini?"
Luhan mengangguk. Sementara Sehun membalas‚ "Tidak‚" sebagai jawaban. Mendengar suara lelaki itu dengan jarak seperti ini‚ membuat Luhan meremang. Ia menggigit bibir bawah kecil setelahnya.
"Ohya." Soo Hyun bersedekap. "Kupikir kalian belum saling mengenal."
Sementara itu‚ Luhan menelan ludah dengan susah payah. Ia melirik Soo Hyun yang berkata‚ "Aku bisa menebak kalau kau sudah tahu nama Sehun‚ Luhan. Jadi kau harus memperkenalkan dirimu." dan mulai panik sendiri.
Luhan kembali menelan ludah susah payah. "Aku…" suaranya terdengar tercekat dan Luhan mengutuk dirinya sendiri sekarang ini. "Aku bisa melakukannya nanti." katanya gelagapan. Dapat didengarnya suara dengusan tawa Sehun yang tersamarkan oleh tawa renyah Soo Hyun. Luhan menggerutu soal dirinya sendiri.
"Kau ini lucu sekali‚" ujar Soo Hyun disisa-sisa tawanya. Lelaki itu bangkit seraya berkata‚ "Baiklah. Aku akan meninggalkan kalian di sini. Dan kau‚ Sehun. Tanya saja pada sekretarismu ini tentang apa saja yang harus kau lakukan setelah ini. Aku harus pergi."
Dan berlalulah Soo Hyun. Meninggalkan Sehun yang ditepuk pundaknya beberapa kali olehnya‚ juga meninggalkan Luhan yang membeku ditempatnya.
Lengang sejenak. Diselebungi canggung dan…
"Oke." Sehun membuka percakapan. Ia bangkit dari duduknya dan beralih duduk di kursi yang tadinya ditempati Soo Hyun. Luhan mengawasinya ketika lelaki itu berpindah tempat.
…super canggung.
"Kau tak memperkenalkan diri?" tanya Sehun. Ia menyandarkan punggung pada sandaran sembari menunggu.
Luhan mengerjap‚ menunduk. "Xi Luhan imnida." ujar Luhan pelan. Ia menelan ludah‚ bergetar dalam diam.
Sehun mengangguk-angguk kecil. Nama yang telah ia simpan sebelumnya itu kini baru saja disebutkan oleh si pemilik nama. Suara Luhan terdengar lembut meski Sehun tahu kalau Luhan sedang gugup. Entah karena alasan apa‚ Sehun tak tahu. Sehun hanya tahu jika Luhan sering kali terlihat salah tingkah saat perempuan itu menyadari keberadaannya. Entah apa yang dirasakan perempuan itu saat melihatnya‚ Sehun tak pernah bisa menerjemahkan raut wajahnya. Luhan selalu bisa mengendalikan ekspresinya dengan baik.
"Jadi‚" Sehun memperhatikan Luhan sejenak. Perempuan itu masih saja menunduk. Dan hal itu membuat Sehun tersenyum. "Apa saja yang harus aku lakukan setelah ini?"
Luhan melirik Sehun‚ kembali meremas udara di dalam genggamannya. Setelah itu‚ dengan suara bergetar karena gugup‚ Luhan menjelaskan dengan lancar. Diperhatikannya Luhan sekarang ini. Meski gugup‚ Luhan masih bisa menjelaskan hingga Sehun mengerti. Jujur saja‚ Sehun menilai bahwa Luhan memang sempurna menjadi sekretaris walau Luhan lebih sering diam dan acuh tak acuh.
"…kau harus menerimanya karena―"
"Bagaimana kalau kita ubah semua?" sela Sehun.
Luhan mengerjap. Menatap Sehun tidak mengerti. "Apa maksudmu mengubah semuanya? Kau ingin perusahaan ini bangkrut?" tanyanya sarkastik di akhir kalimat.
Sehun tertawa. "Aku ingin melakukannya dengan caraku sendiri‚ nona Xi. Dan jangan khawatir soal apapun. Aku bisa mengatasinya." katanya menenangkan. Ia kembali melanjutkan. "Jadi bisakah kita atur ulang semuanya?"
Luhan menghela napas pelan. Ia menyetujui itu meski sebenarnya ia kurang yakin dengan keputusan Sehun.
…
Malam itu‚ Luhan masih berada dimejanya bahkan setelah Yixing pamit untuk pulang. Ada banyak pekerjaan untuknya yang membuat Luhan harus kerja lembur. Ini pula karena si direktur sementara itu meminta mengubah seluruh pekerjaan yang tersisa. Mentang-mentang direktur baru yang tak bisa Luhan lawan karena Sehun itu putra kandung Predir Oh‚ lelaki itu seenak jidatnya memberi tugas semacam itu.
Tidak berapa lama setelah Yixing meninggalkannya‚ Sehun datang. Lelaki yang sedang Luhan kutuk namanya dalam hati itu membuat Luhan terkejut karena kedatangannya. Luhan mencibir melihat Sehun menghampirinya dan kembali lagi ke pekerjaannya.
Luhan masih belum terima kalau Sehun tidak mengijinkan Yixing membantunya. Aish! Menyebalkan.
"Untuk apa kau kemari?" tanya Luhan tanpa melihat ke arah Sehun.
Sehun menjawab‚ "Menemanimu. Tentu saja." seraya menarik kursi milik Yixing dan duduk di dekat Luhan. "Memangnya kau pikir aku akan melakukan apa disini?"
"Aku sibuk. Pulang saja kau." ketus Luhan.
Sehun terkekeh. Ia menopang dagunya dengan sebelah tangan seraya memperhatikan pekerjaan Luhan yang sudah selesai di depannya. Kembali ia bersuara‚ "Aku diminta menjagamu selama aku menjadi direktur oleh Soo Hyun hyung‚ Luhan. Kalau kau ada apa-apa‚ aku bisa dibunuh nanti."
Luhan mendengus. Ia mulai memberi Sehun perhatian meski enggan. Sesungguhnya‚ Luhan masih belum terbiasa dengan kehadiran Sehun disekitarnya. Lelaki itu masih mengganggu‚ masih membuat Luhan salah tingkah dalam diam sebenarnya.
"Kenapa aku harus peduli kalau kau dibunuh oleh Soo Hyun? Lagipula aku juga tak peduli padanya."
Sehun tersenyum. Dan Luhan mengalihkan pandangan karena tak ingin melihat senyum itu saat ini.
"Karena kau yang membuatku terbunuh. Kau harus bertanggung jawab karena telah membuatku terbunuh oleh ketidakpedulianmu itu." balas Sehun. Ia tertawa dalam hati melihat Luhan sedang meliriknya beberapa kali dan keliatan pura-pura tak peduli.
Astaga‚ lucunya. Sehun tak menyangka jika Luhan yang selama ini sering memperlihatkan wajah muram ketika ia melihatnya‚ kini memiliki ekspresi salah tingkah yang menggemaskan.
"Lagipula aku juga tak ingin meninggalkan orang-orang yang menyayangi dan menyukaiku sepenuh hati." lanjut Sehun.
Seketika Luhan melirik Sehun. Lelaki itu sedang melihat-lihat kertas hasil pekerjaan Luhan kembali. Sepertinya Sehun sedang berusaha untuk menyibukkan diri‚ pikir Luhan. Luhan mendengus. Kembali menyelesaikan pekerjaannya yang tinggal sedikit. Ia harus menyelesaikannya segera dan pulang. Ia rindu dengan tempat tidurnya saat ini.
"Kalau kau merasa lelah‚ teruskan besok saja tidak apa-apa." kata Sehun‚ terdengar kalem hingga membuat Luhan meliriknya sekilas.
"Tidak perlu." jawab Luhan. "Sudah selesai." lanjutnya.
Sehun menaikkan kedua alis. Dilihatnya Luhan sedang membereskan pekerjaannya. Mulai dari mematikan komputer sampai meraih tas dan meninggalkan Sehun. Luhan melakukan itu semua tanpa suara. Luhan baru bersuara ketika perempuan itu hendak membuka pintu ruangannya dengan Yixing tanpa menoleh ke arah Sehun.
"Aku pulang dulu‚ Oh sajangnim. Sampai bertemu besok."
Lalu pintu tertutup. Sehun baru sadar setelah itu.
Segera Sehun bangkit mengikuti Luhan. Dilihatnya Luhan sudah berada di lift yang pintunya baru saja tertutup ketika Sehun keluar dari ruangan tadi. Sehun mendesis. Ia menyusul Luhan menggunakan lift yang lain kemudian.
Begitu sampai di lantai dasar‚ Sehun segera keluar. Ia melihat Luhan sudah berada di depan lobby‚ berdiri sendiri membelakanginya. Sepertinya Luhan sedang memandangi fenomena alam yang baru saja datang bulan ini. Hujan turun dengan deras di luar sana. Dan itu membuat Sehun juga tertarik untuk mendekat‚ ikut memandangi hujan di sebelah Luhan.
Awalnya‚ Sehun tak berminat untuk melirik Luhan saat perempuan itu diam saja setelah mereka saling berdampingan. Namun setelah beberapa detik berlalu dan Sehun mulai merasa ada yang janggal―sebab Sehun baru tahu kalau Luhan juga bisa cerewet kalau ia sedang berada disekitar perempuan itu hari ini―‚ karena Luhan juga terus saja diam‚ Sehun menoleh. Luhan sedang memandangi Luhan dengan wajah muram itu lagi.
Dan sungguh‚ Sehun ingin sekali menghilangkan wajah muram itu dengan cara menarik kedua ujung bibir Luhan dengan kedua jarinya. Tetapi keinginan itu hanya ia simpan dalam diam. Sehun kembali memandangi hujan bersama Luhan.
Detik pun berlalu menjadi menit. Setiap waktu yang mereka lewati hanya ditemani hening. Hujan masih turun dengan deras. Kemudian‚ Luhan maju beberapa langkah‚ membuat Sehun meliriknya. Dilihatnya Luhan mulai mengulurkan tangan‚ membuat tangan itu basah karena hujan.
Sehun memperhatikan Luhan yang berada di depannya dengan senyum samar. Tak tahu jika Luhan sedang tersenyum karena merasakan air hujan membasahi tangannya.
…
"Semalam kau pulang jam berapa?"
"Lima belas menit setelah kau pulang‚ aku pulang."
"Sendirian?"
Luhan berhenti memperhatikan kertas yang keluar dari mesin fotocopy. Ia berbalik‚ memandang Yixing dengan tangan bersedekap.
"Tidak." jawab Luhan singkat. Ia mengingat hujan tadi malam seraya tersenyum kecil. "Ada yang mengantarku pulang."
"Kris kah?"
Luhan tersenyum menanggapi. Ia kembali berbalik ketika tak lagi mendengar suara kertas yang keluar dari mesin fotocopy. Luhan membereskan pekerjaannya seraya menjawab‚ "Kris sibuk tadi malam."
"Lalu siapa?" Yixing mencoba untuk menebak. Ia berpikir sebentar. "Direktur Shin?" tanyanya sembari mengikuti langkah kaki Luhan untuk kembali ke ruangannya.
"Soo Hyun tak lagi menggangguku kemarin." jawab Luhan tenang. Ia membuka pintu dan masuk ke daam ruangannya. Yixing mengikutinya di belakang. "Tenang saja. Aku baik-baik saja sampai rumah tadi malam‚ Yixing." katanya.
Yixing mengernyit. "Tadi malam itu hujan deras. Dan baru berhenti tengah malam. Kau yakin kau baik-baik saja? Memangnya siapa yang mengantarmu pulang‚ hm? Jangan membuatku penasaran."
Luhan terkikik. "Ada lah yang mengantarku pulang."
Yixing merengut gemas. "Iya‚ tapi itu siapa? Setelah aku pulang tak―oh‚ apakah itu Oh Sehun?"
"Sudah‚ ya. Aku harus pergi sekarang."
"Hei‚ kau belum menjawab pertanyaanku!"
Luhan hanya tersenyum. "Dah!" serunya seraya melambaikan tangan. Ia keluar dari sana kemudian.
Tentang semalam itu‚ Luhan selalu memikirkannya. Entah mengapa‚ ia merasa aneh akan satu hal. Setelah memandangi hujan‚ satu-satunya lelaki yang bersamanya malam itu‚ Sehun‚ mengajaknya pulang. Sudah malam‚ katanya. Ia menawari Luhan tumpangan untuk pulang. Luhan menolak‚ Luhan bisa pulang naik bus. Namun Sehun bersikukuh. Lelaki itu pun menambahi jika perempuan seperti dirinya―Luhan― akan berbahaya bila pulang malam-malam sendirian.
Mengingatnya‚ Luhan tersenyum. Sehun itu baik. Meski awalnya lelaki itu terlihat mengintimidasi dengan tatapan matanya yang membuat Luhan salah tingkah sendiri‚ malam itu Sehun membuatnya nyaman. Sehun baik dan perhatian. Dan Luhan nyaman dengan sikap lelaki itu padanya. Dan ia merasa aneh sendiri tentang hal itu.
Mengapa ia bisa merasa nyaman pada seorang lelaki yang baru saja dikenalnya? Lucu sekali‚ pikirnya. Seharusnya Luhan merasa asing dengan Sehun. Tapi Sehun justru mudah membuatnya tersenyum dan mendelik jengkel karenanya. Sehun juga pandai membuatnya menahan tawa dan salah tingkah sendiri. Ini aneh. Mengapa ia bisa merasakan itu pada Sehun?
Jadi setelah mengiyakan tawaran Sehun‚ lelaki itu membawanya ke basement. Hanya ada mobil Sehun yang terparkir di sana. Luhan yakin jika merekalah orang terakhir yang meninggalkan kantor hari itu. Kemudian Sehun mengantarnya‚ sampai di depan rumah.
"Kau tidur dengan baik‚ heh?"
Luhan tersadar dari lamunan singkatnya setelah mendengar suara Sehun. Ia mendongak‚ melihat Sehun sedang berdiri di depannya dengan tangan bersedekap.
"Apa?"
Sehun mengerutkan kening. "Kau melamun‚ ya?" tanyanya. Ia mengambil alih berkas-berkas yang dibawa Luhan seraya berkata‚ "Aku tadi bertanya tapi kau tak mendengarkan."
Luhan mengangkat kedua alisnya bingung. "Memangnya kau bertanya apa?"
Sehun menggidikkan bahu sekilas. "Lupakan saja." katanya dengan mata masih fokus pada berkas-berkas di tangan. Kemudian ia meletakkan berkas itu di mejanya‚ seraya berkata‚ "Aih... Aku pusing dengan berkas-berkas ini. Aku ingin kopi."
"Lalu kenapa kau mengatakannya padaku?" tanya Luhan dengan kening berkerut.
"Ingin menemaniku minum kopi?"
"Aku?" Sehun mengangguk atas pertanyaan Luhan. "Kenapa harus aku?"
"Karena aku tidak suka diperhatikan pegawai-pegawai di sini saat minum kopi. Jadi temani aku minum kopi." ujar Sehun. Ia tersenyum saat Luhan diam di tempatnya. "Aku yang akan membayarnya untukmu."
Luhan membuang tawa geli. "Kau akan menyesal mengajakku minum kopi bersama."
Sehun tak peduli.
…
Dan ya‚ Sehun benar-benar menyesal mengajak Luhan minum kopi bersama. Sedari tadi yang Sehun lihat adalah Luhan yang diam dengan wajah muram memandangi kopi dan pemandangan luar bergantian. Beberapa kali pula Sehun melihat Luhan sedang menghela napas pelan sebelum menyesap kopinya sedikit demi sedikit. Pemandangan ini tak asing bagi Sehun. Ia pernah melihat Luhan seperti ini sebelumnya di kafe.
"Kau selalu terlihat muram." sadar tidak sadar‚ Sehun menyuarakan pikirannya. Ia berdeham ketika Luhan beralih menatapnya. "Maksudku―"
"Kau benar. Aku memang selalu seperti ini‚ asal kau tahu itu."
Aku tahu itu. Sehun membalas dalam hati. Dilihatnya Luhan yang kembali menghela napas‚ dan Sehun yang melihatnya merasa ingin sekali mencubit hidung mancung Luhan supaya Luhan berhenti menghela napas seperti itu.
"Habiskan kopimu‚ Luhan." kata Sehun kemudian‚ mengganti topik pembicaraan mereka. Belum saatnya Sehun tahu meski sebenarnya ia ingin tahu. Sehun harus menahan diri.
Seketika Luhan menatapnya‚ lagi. "Panggil aku noona." katanya datar. Ia menyesap kopinya dan memberi Sehun perhatian penuh setelah itu. "Aku lebih tua beberapa tahun darimu‚ Sehun. Aku termasuk kakakmu. Jadi panggil aku noona saat jam-jam santai seperti ini."
Sehun balas menatap Luhan mendengarnya. Ia melipat kedua lengannya di atas meja‚ sedikit mencondongkan tubuhnya pada Luhan. Sehun memperhatikan wajah perempuan yang berada di depannya ini dengan intens. Dan jujur saja‚ itu membuat Luhan malu. Ia beralih dan menunduk untuk menyembunyikan rona merah di wajahnya.
"Memangnya umurmu berapa?"
"Itu privasi. Jangan tanyakan hal itu pada orang yang baru kau kenal."
Sehun berdecak. "Kau ini formal sekali." gerutunya. Luhan yang mendengar itu hanya melirik Sehun sebagai tanggapan. "Soalnya wajahmu tak memungkinkanku memanggilmu noona."
Luhan mendesis jengkel. "Memangnya berapa umurmu?" tanyanya kemudian.
"Itu privasi. Jangan tanyakan hal itu pada orang yang baru kau kenal." jawab Sehun sembari menirukan cara bicara Luhan tadi.
Luhan mengerjap. Tangannya terangkat ke udara‚ ingin memukul Sehun. Namun lelaki yang sedang tersenyum lebar padanya itu membuatnya mengurungkan niat. Luhan menghela napas jengkel. Tak berbicara lagi pada akhirnya.
"Dua puluh dua tahun."
Luhan meliriknya sekilas. "Apa?"
"Umurku dua puluh dua tahun." jelas Sehun. Ia tersenyum seraya melanjutkan‚ "Bukankah wajahku sudah menunjukkan berapa umurku?"
"Tidak." jawab Luhan singkat. Ia menghabiskan kopinya kemudian. "Kau malah terlihat seumuran dengan Direktur Shin."
Giliran Sehun yang mendesis jengkel. "Hei‚ aku itu adiknya. Kami hanya memiliki jarak tiga tahun." protesnya.
"Kau telat lahir dua tahun dariku." sahut Luhan. Ia bangkit kemudian. "Sebentar lagi ada meeting pertamamu. Apakah aku harus memberitahumu apa saja yang akan mereka bicarakan?"
Sehun ikut bangkit menyusul Luhan yang mulai melangkah menjauhinya. "Hei‚ kau pikir aku tak bisa mengatasi meeting seperti ini?"
Luhan menggidikkan bahu sekilas sebagai jawaban.
"Aku bisa mengatasinya."
"Memangnya aku bertanya apakah kau bisa mengatasinya?" tanya balik Luhan. Ia menghentikan langkah hingga Sehun pun ikut menghentikan langkah.
Sehun merengut. "Aku bisa mengatasinya." ulangnya sekali lagi. "Kalau aku tak bisa mengatasinya‚ kau ingin memberiku apa?"
"Kau mengajakku bertaruh?" tanya Luhan tak percaya. Ia membuang tawa geli ketika Sehun mengangguk sebagai jawaban. "Baiklah. Kalau kau bisa mengatasinya‚ aku akan mentraktirmu kopi selama seminggu."
"Hanya itu?" tanya Sehun. Luhan mengangguk mantap. "Oke. Kalau aku tak bisa mengatasinya‚ maka kau yang akan kutraktir kopi selama seminggu."
Kemudian mereka bersalaman sebagai tanda setuju atas taruhan kecil mereka.
…
To be continue…
Hai! Maaf ya agak lama wkwk. Aku juga kebingungan mikir alur cerita di Lucky One. :3 Sempet juga nge-stuck dan itu juga jadi salah satu faktor kenapa aku lama update ceritanya.
Untuk chapt ini‚ HunHan momennya segini aja dulu yaa... Insyaallah chapt ke depan aku banyakin deh. Karena berhubung udah tahu sebagian kecil konfliknya Luhan‚ chapt depan rencananya mau kukenalin sama konfliknya Sehun sama Shin Soo Hyun.
Semoga suka dan ngga nemu typo(s) yaaa... Wkwk.
Yasudah. Review?
