"Terima kasih karena kau sudah mentraktirku kopi."
Luhan hanya mengangguk malas sebagai jawaban. Diliriknya Sehun yang sedari tadi senyum-senyum tak jelas itu dengan jengkel. Sombong sekali lelaki ini‚ pikir Luhan. Luhan mendengus lagi mengingat betapa berkharismanya Sehun saat meeting beberapa jam yang lalu. Lelaki itu memegang kendali secara penuh‚ dan menjatuhkan lawan dengan telak. Luhan akui lelaki ini memang berbakat dibidang bisnis‚ sama seperti Ayahnya. Memang buah jatuh tak jauh dari pohonnya.
"Seharusnya kau senang aku bisa menguasai ruang meeting tadi‚ noona." kata Sehun. Ia meletakkan cangkir kopinya di meja dan kembali memperhatikan Luhan.
Perempuan itu sedang jengkel‚ sepertinya. Karena untuk satu minggu kedepan‚ Luhan yang akan membayar berapa saja cangkir kopi yang dipesan Sehun. Dan itu menyenangkan bagi Sehun. Bukankah itu berarti ia akan menghabiskan banyak waktu dengan Luhan?
"Ya‚ aku percaya kau baik di meeting tadi." balas Luhan‚ mengalah.
"Lalu kenapa kau tak memesan kopi?" tanya Sehun mengubah topik.
Luhan menggeleng. "Tidak." jawabnya singkat. Ia mengalihkan pandangan saat tahu Sehun sedang memperhatikannya. Luhan membatin‚ sepertinya Sehun mulai suka memperhatikannya entah dengan alasan apa.
"Aku yakin kalau kau tak minum kopi‚ kepalamu bakal pusing."
Lantas Luhan melirik Sehun. "Sok tahu." balasnya.
"Aku melihatmu waktu itu." Sehun ikut membalas. Ia tatap Luhan lagi hingga perempuan itu balas menatapnya. "Waktu kau datang bersama seorang lelaki ke kafe."
Aku juga tahu kau melihatku. Luhan membatin dalam hati. Ia tak membalas kalimat Sehun barusan karena ia tak tahu harus menjawab apa.
"Jadi sekarang‚ kau harus minum kopi."
"Jangan paksa aku‚ Sehun." kata Luhan dengan suara pelan.
Sehun kembali menurunkan tangannya yang sudah terangkat untuk memanggil pelayan karena mendengar suara Luhan. Sehun memandang Luhan sejenak‚ menghela napas. Ingin ia berkata‚ tetapi tersendat karena getaran ponselnya yang berada di saku jas. Sehun meraih ponsel itu‚ tersenyum saat melihat panggilan masuk dari Baekhyun. Ia pun menerimanya‚ tanpa tahu kalau Luhan memperhatikannya.
"Halo‚ Baekhyun?"
"Halo‚ Sehun." suara Baekhyun masih terdengar ceria dan menyenangkan. Sehun makin memperlebar senyum mendengarnya. "Hei‚ apa aku mengganggumu?"
"Tidak‚ tidak. Aku sedang minum kopi di jam senggangku sekarang ini."
Diseberang sana‚ Baekhyun mengangguk-angguk kecil dengan suara "Oh‚" yang pelan.
"Kau merindukanku‚ hm?" tanya Sehun.
Mendengar kalimat itu‚ Luhan yang tadi sibuk dengan pemandangan luar‚ jadi kembali memandangi Sehun. Lelaki itu kelihatan cerah sekali. Berbeda sekali dengan Sehun yang tadi. Mungkin seseorang yang menelponnya sekarang adalah orang yang disayangi Sehun. Mungkin itu pacarnya. Mungkin…
Ah‚ apa pedulinya‚ sih? Luhan kan baru mengenal Sehun.
Begitu selesai dengan Baekhyun dan menyimpan kembali ponselnya‚ Sehun beralih pada Luhan. Perempuan itu sedang memandangi pemandangan luar dengan tatapan yang berbeda dari tatapannya yang sebelumnya. Bukan tatapan dan wajah muram seperti yang biasa Sehun lihat. Tetapi tatapan merenawang dengan wajah teduh. Sesekali Luhan tersenyum kecil selama Sehun memperhatikan dalam diamnya.
"Hei‚" Sehun berusaha membuat Luhan beralih. Namun perempuan itu masih saja nyaman dengan aktivitasnya. Sehun mendengus pelan. "Kau memperhatikan apa?"
Luhan mengerjap pelan. Baru saja ia mendengar suara Sehun dan itu membuatnya tersadar. Luhan menoleh pada Sehun. "Apa?" tanyanya dengan mata yang sesekali melirik pemandangan luar.
Sehun ikut melirik pemandangan luar kemudian. Hujan sedang turun‚ tak begitu deras seperti malam kemarin. Kemudian Sehun kembali melirik Luhan. Perempuan itu sedang menunggu jawabannya.
"Kau memperhatikan hujan?" tanya Sehun. Luhan mengangguk sembari memperhatikan fenomena alam itu lagi. "Kau suka dengan hujan?"
"Ya." kali ini Luhan bersuara.
"Kenapa kau menyukainya?" tanya Sehun refleks.
"Apa pedulimu?"
Sehun mendengus. "Aku hanya bertanya. Dan kau juga harus menjawab. Aku yang harus menjagamu karena Soo Hyun hyung. Jadi aku peduli padamu." ujarnya tenang. Ia melihat Luhan mendengus dan itu membuatnya tersenyum kecil.
"Sebenarnya‚ aku punya dua jawaban. Antara suka dan tidak suka dengan hujan." jawab Luhan seadanya. Pandangannya menerawang sejenak. Ia pun melanjutkan‚ "Mereka memberi kehidupan‚ memberi aroma khas yang membuatku tenang‚ mereka pula yang menjadi pertanda disetiap kejadian penting dalam hidupku. Itu alasan mengapa aku menyukai hujan. Dan alasan mengapa aku juga tak menyukai hujan‚ karena hujan pula lah yang membuatku kehilangan seseorang yang penting dalam hidupku."
Seseorang yang sampai sekarang masih kucintai…
Mendengar itu‚ Sehun terdiam. Jadi Luhan sering berwajah muram karena ia sedang dalam masa berduka. Dengan orang yang penting dalam hidup Luhan?
"Kalau kau bertanya mengapa aku tersenyum saat memandangi hujan yang jelas-jelas sudah membuatku kehilangan seseorang‚ itu karena aku berusaha untuk tegar. Aku berusaha untuk mengikhlaskan meski terasa sulit. Jadi aku tersenyum saja. Karena dia selalu bilang kalau semua masalahmu akan hilang jika kau tersenyum." Luhan melanjutkan dan tertawa sendiri. "Sudahlah. Kenapa aku yang jadi cerita padamu‚"
Sehun mulai membalas setelah beberapa detik ia terdiam. "Cerita saja padaku kalau kau ada masalah. Anggap saja aku teman sebayamu atau adikmu atau terserahlah. Kau bisa cerita apapun padaku‚ aku akan mendengarkan." katanya.
"Kalau aku cerita padamu‚ kau pasti akan menceritakannya pada Soo Hyun."
"Kami tak sedekat yang kau kira‚ noona." sahut Sehun.
Luhan mengerutkan kening samar melihat pergantian ekspresi Sehun. Wajah lelaki itu berubah menjadi tak suka‚ dan dingin secara bersamaan. Luhan bingung. Memang apa yang salah dengan ucapannya?
"Aku tak akan memberitahu siapapun‚ pada Soo Hyun hyung sekalipun. Kau aman ditanganku." lanjut Sehun datar. Lelaki itu kembali meraih cangkirnya untuk menghabiskan kopi yang tersisa. Kemudian Sehun bangkit‚ berkata‚ "Ayo kembali. Ada pekerjaan yang harus kukerjakan setelah ini." dan meninggalkan Luhan yang diam kebingungan di tempat duduknya.
…
Sedari tadi‚ Luhan hanya memperhatikan Sehun di depan sana. Lelaki yang sedang menjelaskan apa saja yang ada di layar proyektor itu terlihat berwibawa dan berkharisma secara bersamaan. Berbeda dengan Sehun yang tadi dilihatnya. Masih ada wajah remaja dan kalimat jahil yang keluar dari bibir Sehun beberapa waktu yang lalu. Dan itu membuat Luhan kagum diam-diam. Sehun dewasa sekali saat ini.
"Aku melihatmu sedang memperhatikanku."
Luhan hanya tersenyum simpul menanggapi. Meeting terakhir di hari ini baru saja selesai. Semua orang telah keluar dari ruang meeting‚ kecuali Sehun dan Luhan. Hanya ada mereka berdua di sana. Dan entah mengapa‚ Luhan merasa….
"Apakah aku tampan sekali sampai-sampai kau masih memandangiku dengan tatapan itu?"
Seketika Luhan tersadar. Ia mengerjap dengan rona merah di pipi. Ia malu‚ jujur saja. Namun begitu‚ Luhan masih sanggup membalas dengan kalimat‚ "Percaya diri sekali."
Sehun tersenyum geli. "Gengsimu tinggi sekali." gumamnya. "Kau tahu‚ ada beberapa orang yang duduk di meja yang sama denganmu. Aku memperhatikan mereka‚ juga memperhatikanmu. Kau pikir aku tak tahu?"
Luhan mendesis. Ia bangkit dari duduk‚ tak menanggapi apapun pada Sehun. Namun Sehun menahan tangannya. Luhan terduduk lagi karena Sehun menarik tangannya ke bawah. Luhan menatap Sehun jengkel. "Apa?" sahutnya kesal.
"Kau lucu." Sehun tertawa kecil. "Ya‚ kau lucu." ulangnya seraya mengangguk.
Luhan mendengus. Ia menghempas tangan Sehun dan berdiri. Luhan sudah menjauh memutari meja untuk keluar dari ruangan itu. Namun saat ia mendongak hendak membuka pintu‚ Luhan terdiam. Soo Hyun sudah berada di depannya dengan tatapan mata yang aneh. Luhan harus menunduk untuk menghindari tatapan lelaki itu saat ini.
"Apa yang kau lakukan dengan Sehun?" tanya Soo Hyun dengan suara rendah.
Luhan menarik napas sejenak‚ berusaha untuk tenang. "Aku tak melakukan apapun‚" Luhan menjawab seadanya.
Soo Hyun terlihat menaikkan sebelah alis‚ bersedekap‚ balik menatap Sehun yang masih berada di tempatnya; duduk ditepian meja dengan tubuh setengah memutar untuk balas menatap Soo Hyun.
"Apa yang kau lakukan disini dengan Luhan?" kali ini Soo Hyun bertanya pada Sehun.
Sehun terlihat acuh tak acuh. Lelaki itu berdiri‚ berjalan mendekatinya dengan tenang. Sehun menjawab‚ "Aku tak melakukan apapun‚" sama seperti jawaban Luhan. Kemudian Sehun melirik Luhan yang ada didepannya. Lelaki itu menarik tangan Luhan untuk berada dekat dengannya yang secara tak langsung membuat Soo Hyun menatapnya dengan mata melebar tak percaya.
"Ayo pergi. Bukankah kau bilang kita harus pergi ke suatu tempat?"
Luhan baru mendongak menatap Sehun. Lelaki itu berwajah dingin‚ menatap tak suka pada Soo Hyun yang juga menatap demikian. Dan itu membuat Luhan menahan napas. Sehun berbeda sekali. Luhan yakin jika Sehun memiliki banyak ekspresi yang belum ia ketahui.
"Hei‚ aku kesini untuk menemui Luhan."
Luhan baru tersadar ketika suara Soo Hyun terdengar begitu sengit. Luhan beralih pada Soo Hyun. Lelaki itu sempat menatapnya sekilas sebelum kembali menatap Sehun dengan tajam.
"Ada meeting penting diluar‚ hyung." balas Sehun tak kalah sengit. Tak lupa Sehun tekankan suaranya saat ia menyebutkan panggilan kakak untuk Soo Hyun. Ia melirik Luhan yang kelihatan bingung dengan senyuman samar. "Bukankah begitu‚ nona Xi?"
Luhan gelagapan. "Ya." jawabnya setengah gugup. Ia memberi tundukan sopan pada Soo Hyun sembari berkata‚ "Aku harus pergi. Kau bisa menemuiku di hari esok saat aku tak sibuk."
Soo Hyun melunak. Ia menghela napas pelan ketika melihat Luhan. Perempuan itu terlihat tenang meski Soo Hyun tahu kalau Luhan sedang kebingungan dan gugup. Ia pun berkata‚ "Besok temui aku di kafetaria saat jam istirahat."
Luhan hanya diam. Sehun yang menariknya untuk keluar dari ruangan itu membuat Luhan tak menanggapi apapun. Dapat ia rasa Soo Hyun menatap punggungnya dan punggung Sehun sampai mereka menghilang dari jarak pandangnya. Luhan yakin jika Soo Hyun kecewa padanya.
Tapi apa pedulinya pada perasaan lelaki itu?
"Bagus. Kau tak mengangguk padanya."
Luhan mengerjap dan mendongak. Sehun yang ia lihat di kafe tadi siang kembali lagi. Sehun yang dingin‚ misterius‚ dan… Luhan tak bisa menebak sebenarnya apa yang ada dipikiran lelaki itu sekarang ini.
"Memangnya kenapa?" tanya Luhan.
"Itu berarti kau tak akan pergi dengannya besok."
Luhan menatap Sehun sejenak. "Memangnya itu urusanmu?"
"Ya." jawab Sehun cepat. Ia menarik tangan Luhan dan menghentikan langkah. Membuat Luhan hampir terjungkal ke belakang karena ulahnya. Luhan menatapnya kesal‚ sementara Sehun tak peduli. Lelaki itu hanya berkata‚ "Itu jadi urusanku. Soo Hyun hyung pasti akan melamarmu."
Lantas Luhan tertawa hambar. "Ha-ha. Lucu sekali." katanya. Sehun menatapnya tak mengerti dan Luhan langsung membalas‚ "Kalau Soo Hyun melamarku‚ kalau Soo Hyun langsung mengajakku menikah pun‚ kau bukanlah orang yang bisa mempengaruhi jawabanku padanya‚ Sehun. Ini hidupku‚ dan sebaiknya kau tak perlu mencampuri hidupku dengan urusan-urusan tak pentingmu."
"Jika memang urusanku tak penting‚ kenapa pula aku menghindarkanmu darinya?"
"Memangnya kenapa kau menghindarkanku darinya?"
"Karena kalau Soo Hyun hyung melamarmu‚ dan menikah denganmu‚ aku akan kehilangan Ibuku."
Dan Luhan bungkam mendengarnya. Wajahnya melunak melihat Sehun yang terlihat tak ingin mengatakan hal itu sebenarnya. Sementara Luhan bungkam‚ Sehun terus merasakan dadanya bergemuruh. Ia terus menahannya untuk terlihat baik-baik saja didepan Luhan. Dan Luhan pun yang mulai paham mengapa Sehun lebih sering terlihat bersikap apatis pada Soo Hyun‚ hanya bisa menunduk. Ia tak tahu kalau Sehun dan Soo Hyun memiliki masalah pribadi.
"Tadi itu meeting terakhir kita." ujar Luhan mengalihkan topik. Ia berdeham kecil‚ melirik dan mendongak pada Sehun. "Lalu meeting yang kau maksud tadi itu‚ meeting apa?"
Sejenak Sehun diam. "Ikut aku." dan ia berlalu meninggalkan Luhan.
…
Di hadapannya sekarang ini‚ sudah ada Sehun dan dua orang lain yang baru saja Luhan kenal. Lelaki berkulit eksotis yang sedang bicara serius dengan Sehun itu namanya Jongin. Dan perempuan bermata bulat yang suka sekali mengajaknya bicara itu namanya Kyungsoo. Sedari tadi‚ Luhan hanya diam mendengarkan obrolan Sehun dan Jongin jika Kyungsoo diam tak menanyainya sesuatu. Namun jika Kyungsoo bertanya‚ Luhan akan menjawab seadanya‚ atau tersenyum jika Luhan tak mengerti apa yang sebenarnya dikatakan perempuan bermata bulat ini.
Namun jika pertanyaan Kyungsoo semacam ini‚ "Jadi kau itu pacarnya Sehun?" Luhan tak mungkin harus tersenyum sebagai jawaban. Luhan tak tahu harus menjawab apa ketika ia melirik Sehun yang menunjukkan raut wajah seperti ingin Luhan mengiyakan pertanyaan itu.
Hei‚ mereka baru mengenal satu sama lain beberapa hari terakhir ini‚ tahu!
"Bukan‚" akhirnya Luhan lebih memilih untuk menjawab jujur. Ketika ia melirik Sehun‚ lelaki itu sudah menekuk wajahnya dan membuat Jongin meringis jengkel pada Sehun. Luhan menahan tawa melihatnya.
"Oh‚ bukan?" Kyungsoo makin melebarkan matanya yang sudah lebar. "Aku kira Sehun sudah move on dari Baekhyun."
Luhan mengerutkan kening. "Baekhyun?" ulangnya tak mengerti. Ia seperti pernah mendengar nama itu hari ini. Dari Sehun? Mungkin saja. Tapi kapan?
"Baekhyun itu perempuan yang Sehun sukai." jelas Kyungsoo. Ia melirik Sehun sebentar‚ dan melanjutkan‚ "Mereka hanya berteman‚ padahal sudah sama-sama suka." dengan bisikan.
Luhan mengangguk-angguk kecil. Ia mulai mengingat nama Baekhyun yang disebutkan Sehun saat mereka minum kopi tadi siang. Sehun terlihat cerah sekali ketika Baekhyun menelponnya.
"Ohya‚ kupikir aku harus memanggilmu eonnie." ujar Kyungsoo.
Luhan tersenyum. "Kau boleh memanggil namaku tanpa embel-embel eonnie di belakangnya."
"Wah…" Kyungsoo tersenyum lebar. "Bolehkah?"
Luhan mengangguk. "Ya."
Dan Kyungsoo terlihat senang setelahnya.
"Hei‚ kau tak memperbolehkanku memanggil namamu tanpa embel-embel noona setiap saat." sahut Sehun‚ protes. Diam-diam Sehun memperhatikan apa yang sedang mereka bicarakan saat itu. Dan ketika ia mendengar Luhan memperbolehkan Kyungsoo memanggil namanya tanpa embel-embel eonnie‚ Sehun tak terima.
Hei! Seharusnya Luhan tak memperbolehkan Kyungsoo memanggilnya hanya dengan nama! Sehun saja tak boleh‚ masa Kyungsoo boleh?
"Memangnya kenapa?" Luhan bertanya dengan wajah polos. Sehun yang melihatnya merasa gemas.
"Seharusnya kau juga memperbolehkanku memanggilmu Luhan tanpa embel-embel noona dibelakangnya."
"Oh. Kau protes?"
Sehun mendesis kesal. Tak membalas apapun. Ia bersedekap dengan punggung menyandar sandaran kursi serta menekuk wajahnya. Dan itu membuat Luhan maupun Kyungsoo dan Jongin terkekeh kecil.
"Kau yang lebih muda dari kami bertiga‚ Sehun." ujar Jongin jenaka. Ia menepuk-nepuk bahu Sehun hingga membuat lelaki itu menatapnya sebal.
"Diamlah‚ Jongin."
Luhan tersenyum kecil. "Jangan seperti itu. Mungkin Kyungsoo hanya akan memanggilku beberapa kali‚ itu tak masalah. Kalau kau‚ kau akan sering bertemu denganku. Jadi kau harus membiasakan diri memanggilku noona." jelasnya tenang. Ia tertawa kecil melihat Sehun mendengus karena penjelasannya.
"Terserah." ujar Sehun jengah. Sehun pun melirik Jongin yang sedari tadi senyum-senyum menahan tawa melihatnya. "Jadi kau ingin lokasinya di mana?" tanyanya. Sehun tak ingin membahas masalah tadi lebih jauh.
Soal meeting yang disebutkan Sehun tadi‚ ternyata Sehun mengajaknya ikut meeting dengan Jongin. Sebenarnya bukan meeting penting‚ sih. Karena sedari tadi Luhan mendengar tawa Sehun disela perbincangan lelaki itu dengan Jongin. Luhan yakin jika Sehun dan Jongin hanya iseng untuk membangun sebuah kafe‚ dari apa yang ia dengar sedari tadi.
"Ya sudah. Besok aku akan meluangkan waktu untuk melihat lokasinya bersamamu." akhir Sehun. Lelaki itu menepuk-nepuk lengan Jongin sebagai tanda deal ala mereka sebelum beralih pada Luhan yang sedang tersenyum mendengarkan cerita Kyungsoo.
Sebelumnya‚ Sehun hanya melihat Luhan tersenyum beberapa kali. Sehun tak ingat kapan saja saking jarangnya Luhan tersenyum dihadapannya. Kali ini‚ Sehun melihat senyum manis itu. Luhan memiliki senyum yang manis nan cantik. Meskipun pipinya tak akan merona karena tersenyum‚ Luhan masih saja terlihat cantik. Sehun memperhatikan sejenak‚ ikut tersenyum pula.
Sepertinya ia mulai merasa bahwa senyuman Luhan adalah senyuman yang menular.
"Hei‚ noona." Sehun menginterupsi setelah berdeham kecil.
Luhan menoleh padanya. "Apa?"
"Kau tak ingin kembali ke kantor?" tanya Sehun.
Luhan melirik jam di tangannya. Sudah malam. Pukul delapan lebih sekian menit. "Apakah urusanmu sudah selesai?"
"Untuk hari ini‚ sudah." Sehun mengangguk-angguk kecil.
"Ya sudah. Kita kembali saja." balas Luhan. Ia sudah bangkit‚ hendak pergi dari sana. Namun melihat Sehun masih duduk sembari menatapnya‚ membuat Luhan urung. Luhan bingung. Mereka akan kembali kan? Kenapa Sehun tak berdiri juga?
"Kenapa?" tanya Luhan bingung.
Sehun tiba-tiba tersenyum lebar. "Kau tak lupa kan?"
"Apa?" Luhan makin kebingungan.
"Ish." Sehun mendesis gemas. "Jangan lupa bayar kopinya."
Luhan mengerjap. Ingin sekali ia memukul kepala lelaki itu dan pergi begitu saja. Namun keinginannya itu tak pernah ia lakukan. Mana berani ia melakukan hal itu pada atasannya?
"Aku yang akan membayarnya‚ Sehun." sahut Jongin kalem. Ia tersenyum pada Luhan yang meliriknya. Karena itu ia mendapatkan cubitan keras dari Kyungsoo. Jongin mengaduh secara spontan dan membuat Luhan terkekeh melihatnya.
Sehun berdebar. Aduh‚ aduh. Kenapa Luhan yang terkekeh saja bisa membuatnya jantungan seperti ini?
"Ya sudah." gumam Luhan pelan. "Terima kasih‚ ya‚ Jongin. Aku pergi dulu." kata Luhan. Perempuan itu berlalu meninggalkan Sehun yang mengerjap menyadarinya.
Segera saja Sehun bangkit ikut menyusul Luhan. "Hei‚ noona! Kenapa kau meninggalkanku?"
"Kau lama."
Dan setelah itu tak terdengar suara Luhan maupun Sehun lagi di kafe.
…
Selama di perjalanan kembali ke kantor‚ Luhan tak banyak bicara. Sehun pun begitu. Mereka diam dalam hening. Sehun tak tahu harus bicara apa pada Luhan setelah tanpa sengaja ia membuat Luhan bercerita tentang masa lalu perempuan itu tadi siang. Sehun tak ingin Luhan mengingatnya dan berwajah muram lagi. Entah mengapa‚ setelah melihat senyum dan tawa Luhan hari ini‚ Sehun ingin terus melihat ekspresi menyenangkan itu di wajah Luhan.
Sementara itu‚ Luhan juga tak tahu harus bicara apa pada Sehun. Berada di suasana hening ini membuatnya canggung sendiri. Ia tak tahu mengapa ia bisa merasa seperti ini. Mungkin karena tadi tanpa sengaja pula Luhan membuat Sehun menyinggung keadaan Ibunya. Seluruh orang di kantor tahu bahwa Sehun dan Ayahnya memiliki hubungan yang tak baik. Hal itu sudah jadi rahasia umum. Mungkin karena hubungan Sehun dan Ayahnya yang tak baik itu juga ada hubungannya dengan Ibunya Sehun. Dan Luhan tak ingin menyangkut-pautkan pembicaraan mereka dengan masalah keluarga yang bersifat pribadi.
Begitu mereka sudah sampai di kantor‚ ada banyak pasang mata yang menatap mereka. Baru kali ini Luhan terlihat sering pergi berdua dengan seorang lelaki. Dengan Oh Sehun pula. Siapa yang tak heran pada Luhan jika sebelumnya perempuan itu didekati oleh Soo Hyun?
Luhan merasa risih‚ ia sama sekali tak suka jika diperhatikan seperti itu oleh banyak orang. Perempuan itu menunduk‚ dan mempercepat langkah untuk masuk ke dalam lift. Melihat Luhan yang tergesa-gesa‚ membuat Sehun heran. Pun Sehun ikut mempercepat langkah menyusul Luhan. Mereka masuk ke dalam lift yang sama. Dan bertepatan setelah itu‚ pintu lift tertutup. Mereka mulai naik ke lantai tujuan.
"Kau tak suka diperhatikan‚ ya?"
Luhan melirik Sehun‚ tak menjawab pertanyaan itu. Dan Sehun menghela napas pelan karena respon Luhan. Sehun hanya ingin memecah suasana hening diantara mereka. Sebab rasanya aneh melihat Luhan kembali diam setelah melihat perempuan itu banyak tersenyum.
Haruskah ia lebih sering mengajak Luhan keluar dan bertemu dengan Kyungsoo?
Pintu lift terbuka. Mereka keluar dan berjalan berdampingan. Masih tak ada kata-kata. Namun begitu Luhan hendak masuk ke ruangannya‚ Sehun menahan Luhan di lengan. Membuat Luhan melihatnya‚ seraya bertanya‚ "Apa?"
"Soal tadi siang itu…" Sehun tak tahu mengapa ia mengambil topik ini sebagai bahasan terakhir mereka di hari ini. "…aku minta maaf."
Kening Luhan berkerut. "Minta maaf untuk?" tanyanya
"Tentang alasan kenapa kau suka hujan." jawab Sehun pelan. Ia kendurkan cengkeramannya pada lengan Luhan hingga terlepas. Luhan menatapnya dan itu membuat Sehun merasa aneh sendiri. Ia berdeham kecil. "Tak seharusnya aku tahu apa masalah pribadimu."
Luhan sedikit menahan senyum. Ia mengangguk‚ tak masalah dengan hal itu. Karena kalau dipikir-pikir‚ Luhan juga butuh teman untuk bercerita suatu saat nanti. Entah itu pada Kris‚ Yixing‚ atau pada Sehun. Tak mungkin pula ia terus mengurung diri bersama cerita masa lalunya yang pahit.
"Aku juga minta maaf." ujar Luhan pelan.
"Untuk?"
"Karena aku sudah menyinggung Ibumu."
Sehun pun ikut mengangguk. Juga tak bermasalah pada akhirnya.
"Jadi…" Luhan mulai merasa mereka berada di suasana canggung. "…aku masuk."
"Ya." Sehun mengangguk. Ia biarkan Luhan membuka pintu untuk masuk.
Namun tiba-tiba Luhan berhenti melangkah masuk. Ada seseorang selain Yixing di dalam. Pintu masih terbuka‚ dengan Luhan dan Sehun di luar. Sehun juga melihat orang asing yang pernah dilihatnya sekali itu di dalam sana. Orang itu menatap mereka berdua dengan pandangan tak suka‚ bersedekap‚ dan…
"Kau membuatku menunggu‚ Luhan."
…bersuara dingin.
"Kris?" Luhan kebingungan. "Kenapa kau bisa ada disini?"
"Aku menunggumu." jawab Kris tenang.
Kris berjalan mendekat dan sempat melirik Sehun yang ada di belakang Luhan. Kris membungkuk sedikit padanya sebagai rasa hormat pada atasan Luhan. Dan Sehun membalasnya dengan bungkukan yang sama.
"Maaf sudah masuk secara lancang ke kantormu." ujar Kris pada Sehun. Sehun hanya tersenyum dan mengangguk.
Tak masalah‚ batin Sehun menjawab. Lagipula kantor ini memang bukan kantornya.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Luhan.
Kris sempat terdiam beberapa detik. "Sakitnya Ibu kambuh. Ibu membutuhkanmu." jawab Kris seadanya.
Luhan menaikkan kedua alis. Ia berkedip beberapa kali sebelum menoleh pada Sehun di belakangnya. Seolah meminta izin darinya. Sehun yang tak menjawab apapun atau mungkin ia tak tahu apa arti tatapan mata Luhan tadi‚ membuat Luhan balik menatap Kris. Ia mendesah kecil sebelum berkata‚ "Kenapa kau tak menelponku?" tanyanya tak sabar. Dengan segera Luhan mengambil barang-barang di mejanya. Ia lirik Yixing yang memandangnya cemas.
"Semoga Ibumu cepat sembuh‚ Luhan." pesan Yixing.
Luhan mengangguk. Ia beranjak dari mejanya dan menghampiri Kris yang menunggu. Sempat Luhan lihat Sehun memperhatikannya. Luhan merasa terintimidasi lagi. Tatapan itu lagi. Dan Luhan lantas mengalihkan pandangan setelahnya.
"Aku harus pergi‚ sajangnim. Maaf. Tapi Ibu―"
"Pergilah." potong Sehun datar. Ia tersenyum simetris saat Luhan mendongak menatapnya. "Temani Ibumu. Pergilah."
Luhan mengangguk. Ia pergi dari sana. Dengan Kris yang kemudian mengekorinya. Luhan tak tahu jika Sehun memandang punggungnya sampai perempuan itu menghilang dari jarak pandangnya. Hanya Yixing yang tahu. Dan Yixing pura-pura tak tahu tentang hal itu.
…
To be continue…
PENTING!
HaiHai!
Maaf ya lama‚ karena aku mulai fokus sama pelajaran dan sempat kena writer block. Maafkan daku karena cerita ini mungkin akan lama sekali update nya. Juga mungkin nggabakal sesering dulu aku updatenya. Nggamungkin seminggu sekali‚ atau tiga hari sekali‚ apalagi fast update. Kenaikan kelas ini aku dapet kelas yang lumayan juga. Aku jadi nggafokus di laptop karena harus belajar. Persaingannya ketat sekali :'''
Dan karena hal itu‚ aku memutuskan untuk SEMI-HIATUS dulu yaa... Aku masih bisa update cerita koo... Tapi kalian juga harus sabar menunggu :')
Udahlah. Di chapter ini aku udah kasih tahu sedikit konfliknya Sehun. Semoga nggaterlalu berat :''' Aku usahain cerita ini nggaseberat cerita yang lain. Terutama yang Lucky One itu :''' Aku butuh pemahaman ekstra untuk belajar materi.
Sudah yaa.. Jangan lupa untuk review :) See ya~
