Pintu kayu itu baru saja tertutup. Luhan yang baru saja menutupnya dari luar. Ibunya Kris sudah tertidur setelah berkali-kali mengeluh sakit pada bagian dadanya. Penyakit jantungnya kambuh. Dan Luhan tak bisa untuk tak khawatir jika Ibunya Kris sakit seperti itu. Sebab Luhan sudah menganggap wanita itu sebagai Ibu kandungnya sendiri. Meski memang sudah seharusnya wanita tua itu menjadi Ibunya―jikalau Yifan sampai sekarang masih hidup dan menjadi suami Luhan.
Luhan berjalan pelan‚ lalu mendudukkan diri pada kursi kayu di dapur. Sedari tadi Luhan menahan haus hanya demi mendengarkan Ibunya Kris bercerita tentang ini dan itu. Bagi Luhan sendiri‚ mendengar cerita dari Ibunya Kris membuatnya tenang‚ entah mengapa. Meski pada akhirnya Luhan selalu teringat pada Yifan. Wanita ini begitu mirip dengan Yifan yang suka sekali bercerita dengan Luhan yang hanya mendengarkan tanpa ingin berkomentar apapun. Luhan sempat merasa sedikit menyesal mengapa dulu ia tak menanggapi cerita Yifan yang hanya itu-itu saja.
"Haus‚ ya?" suara Kris menginterupsi Luhan hingga perempuan itu sedikit berjengit dari tempat duduknya. Kris tersenyum geli melihat reaksi Luhan yang kini menatapnya tak suka sembari meminum air putih di gelas besarnya. Lelaki itu menghampiri Luhan dan duduk di sebelahnya sembari memperhatikan.
Luhan menurunkan gelasnya. "Kau selalu datang tiba-tiba dan mengagetkanku." ujar Luhan kalem‚ namun juga sedikit ketus.
Lagi-lagi Kris tersenyum. "Kau yang selalu tak sadar kalau aku ada di sekitarmu." balasnya.
Luhan tak menanggapi. Atau lebih tepatnya ia malas untuk berbicara banyak pada lelaki ini. Entah mengapa‚ pun Luhan tak tahu.
"Ibu selalu berharap kau jadi menantunya." ujar Kris tiba-tiba. Lalu melanjutkan ketika ia tahu Luhan menatapnya sedikit tersinggung sekarang ini. "Maksudku‚ kalau kau jadi istrinya kakakku‚ begitu."
Luhan menatap Kris lamat-lamat‚ dan menunduk. "Kris‚ bukan maksudku menolakmu atau kau merasa begitu. Hanya saja aku masih berat untuk mengikhlaskan. Maaf jika selama ini aku membuatmu menunggu."
"Tak apa." Kris mengangguk kecil. "Aku yakin kau lebih banyak menyesalnya daripada sedihnya."
Luhan tersenyum. Memang benar begitu. Ditinggal kakakmu‚ aku menyesalinya. Sebab aku sering mengabaikannya dan mulai sadar tentang rasa sayangnya padaku saat kakakmu sudah benar-benar pergi.
"Kris‚" Luhan memanggil pelan. Dan Yifan berdengung sebagai jawaban. "Apakah kau pernah merindukan kakakmu?"
"Tentu saja." Kris mengangguk setelah beberapa detik terdiam.
Lengang sejenak. Luhan masih memikirkan kalimat yang tepat untuk ditanyakan pada Kris yang menunggu suaranya. "Apakah itu sering?"
Kali ini Kris mengangkat bahu. "Entahlah‚" ujarnya pelan. Ia menerawang. "Kau tahu sendiri bahwa aku dan Yifan hyung punya banyak perbedaan. Itu pula yang membuat kami tak begitu dekat meski kami saudara kembar. Setelah Yifan hyung meninggal‚ aku sempat sering merindukannya‚ sempat pula menyesal karena tak memiliki banyak waktu luang bersama. Namun itu dulu. Sekarang tak lagi sesering dulu." ceritanya. Lalu balik bertanya‚ "Memangnya kenapa?"
"Jika memang aku merindukannya karena menyesal sudah terlalu banyak mengabaikan kasih sayangnya…" Luhan menarik napas dan menghembuskannya perlahan. "…bagaimana caranya agar aku bisa melupakan penyesalan itu dan tak merindukannya lagi?"
"Moving on‚" jawab Kris kontan. Ia berdeham seraya menegakkan punggung saat Luhan menatapnya dengan tatapan aneh. "Hei. Jangan kira aku akan menyebutkan namaku sendiri sebagai orang yang akan membuatmu move on."
Seketika Luhan tertawa geli. Terkadang Kris juga menyenangkan meski lebih sering bersikap egois padanya.
"Aku tahu kalau hatimu bahkan tak ingin melihatku. Aku tahu aku egois dan kau tak suka dengan lelaki sepertiku. Jadi aku sadar diri saja." Kris menunduk ketika mengatakannya.
"Bukan karena itu‚ Kris." Luhan menggeleng. "Bukan karena kau…egois‚ juga bukan karena kau mirip kakakmu. Tapi karena rasa sayang ini belum bisa kuberi pada orang lain. Belum waktunya untuk kuberi padamu jika aku ingin."
Kemudian hening yang tersisa.
"Menurutmu‚" Kris kembali membuka pembicaraan. "Adakah seseorang yang akan membuatmu move on?"
"Tuhan pasti mengirimkannya padaku suatu saat nanti‚ Kris. Jadi menurutku‚ iya. Pasti ada seseorang yang akan membuatku melupakan Yifan dengan mudah." jawab Luhan kalem.
Kris mengangguk-angguk kecil. "Atasanmu itu…" dan Luhan lantas menatapnya ketika Sehun disangkut-pautkan pada pembicaraan ini. "Apakah kau menyukainya?" tanya Kris ragu.
"Kenapa kau bertanya tentangnya?" Luhan balik bertanya.
"Kau terlihat berbeda saat bersamanya." jawab Kris seadanya. Ia menghempaskan tubuh pada sandaran kursi bersamaan dengan udara yang keluar dari mulutnya. "Kau lebih sering menatapnya. Padahal kau sedikit bermasalah dengan kontak mata seperti itu. Kau tak menyadarinya?"
Baru saat itu Luhan mulai sadar. Kris memperhatikannya saat di kantor tadi. Saat itu Luhan beberapa kali melirik ke arah Sehun. Dan mungkin itulah yang membuat Kris memandangnya tak suka. Jujur saja‚ Luhan memang tak suka diperhatikan atau memperhatikan seseorang dengan berlebihan. Tapi jika itu Sehun‚ Luhan merasa…
"Kau benar-benar tak menyadarinya‚ ya?"
Luhan mengerjap. "Antarkan aku pulang‚ Kris. Sudah malam." elaknya.
Dan Kris tahu jika Luhan tak ingin membahas hal itu lebih jauh lagi.
…
"Luhan?"
"…"
"Hei‚ Luhan‚"
Luhan tersentak kecil. Itu akibat tepukan ringan tangan Yixing di bahunya. Luhan mendongak pada Yixing yang tersenyum padanya. Dan senyum perempuan berlesung pipi itu membuat Luhan juga ikut tersenyum.
"Ada apa?" tanya Luhan.
"Direktur Shin mencarimu." jawab Yixing seadanya. Ia menyingkir‚ memperlihatkan pintu yang terbuka dan Shin Soo Hyun di sana.
Senyum Luhan pun luntur. Ada rasa tak suka ketika melihat Soo Hyun menemuinya hari ini. Sudah berhari-hari yang lalu ia tak bertemu dengan Soo Hyun setelah lelaki itu memintanya untuk bertemu di kafetaria kantor tempo hari. Luhan harus menemani Ibunya Kris. Jadi ia tak bisa menemui Soo Hyun. Dan sebenarnya‚ Luhan memang tak ingin menemui lelaki itu.
"Kudengar Ibumu sakit." ujar Soo Hyun sembari melangkah mendekat. Luhan baru sadar jika Yixing sudah meninggalkannya‚ menyisihkan ia dan Soo Hyun di ruangan ini.
Luhan diam tak membalas.
"Memangnya sakit apa?"
"Apa pedulimu?" sahut Luhan cepat. Ia segera bangkit dari duduk dan berjalan menuju pintu. Namun Soo Hyun menahannya di lengan‚ membuat Luhan menghela napas saat berhenti melangkah.
"Aku hanya ingin bicara padamu‚ Luhan."
"Kau sudah bicara padaku."
Soo Hyun memejamkan mata sejenak. "Maksudku bukan itu‚" ujarnya jengah. Ia melihat Luhan yang menatapnya kemudian kembali berkata‚ "Ada hal lain yang ingin kubicarakan padamu."
"Soo Hyun‚ aku sedang ada banyak kerjaan. Kau ta―"
"Sehun tak akan memarahimu hanya karena kau meninggalkan pekerjaanmu sebentar." sela Soo Hyun. Ia kelihatan lelah menunggu dan bersabar. Luhan membuatnya berada di ambang batasnya.
Luhan menghela napas pelan. "Apa yang akan kau katakan?" tanyanya kemudian. Ia juga lelah dikejar oleh Soo Hyun.
"Tidak di sini." katanya. "Ikut aku."
…
"Apakah kau sibuk akhir-akhir ini?"
"Ya." Sehun mengangguk. Ia membuka pintu dan tak menemukan orang yang ia cari. Sehun mengerutkan kening. Kemana Luhan?
"Aku mengganggumu‚ ya?"
"Eh‚" Sehun mengerjap pelan. Ia kembali menutup pintu ruangan Yixing dan Luhan kemudian berjalan menuju lift. Sepertinya ia tahu harus kemana ia sekarang. "Tidak juga‚ Baekhyun. Kau merasa begitu?"
"Hu'um." Baekhyun mengangguk di seberang sana. "Kau menjawab dengan singkat. Biasanya kau bercerita banyak padaku."
Lantas Sehun tertawa sendiri di dalam lift. Tak menanggapi apapun untuk Baekhyun. Sekarang ini hanya dia sendiri‚ tak ada siapa-siapa selain dirinya. Sehun heran. Kemana semua penghuni lantai tertinggi di gedung ini? Kenapa Sehun merasa bahwa tadi hanya ia sendiri yang ada di sana?
"Oiya. Ada yang ingin kuceritakan padamu‚ Sehun."
"Cerita saja. Aku akan mendengarkan." balas Sehun sekenanya.
"Aku…" Baekhyun terdengar ragu saat memulai cerita. "…tak tahu harus cerita apa."
Seketika Sehun terkekeh. Ia kembali melangkah setelah pintu lift terbuka. Banyak orang yang mondar-mandir di depannya. Sehun melintasi mereka‚ tersenyum dan mengangguk pada beberapa orang yang menyapanya. Namun pandangannya tetap menyisir lantai bawah gedung itu untuk mencari sosok Luhan saat ini.
"Kalau kau ragu‚ kau bisa cerita kapan-kapan‚ Baekhyun." ujar Sehun kemudian‚ terlalu lama menunggu Baekhyun terdiam di seberang sana. "Aku yakin kau sedang tertekan. Aku benar?"
Ada suara helaan napas yang terdengar sebelum Baekhyun membalas‚ "Ya sudah. Aku tutup saja." dengan suara pelan.
"Ya." Sehun mengangguk‚ mengijinkan Baekhyun memutus sambungan. Kemudian Sehun kembali mengambil langkah lebar. Pandangannya pun berhenti pada segerombolan pegawai kantor ini yang sedang berkasak-kusuk ria di depan pintu kafetaria. Sehun mengernyit. Apakah sesuatu terjadi tanpa ia ketahui? Ia bertanya-tanya dalam hati sembari melangkah mendekati kerumunan itu.
"Apa yang kalian bicarakan?" interupsi Sehun.
Seketika orang-orang itu menegang mendengar suara Sehun. Mereka menunduk‚ tak menjawab apa pun ditanya seperti itu oleh Sehun.
"Ini jam kerja kalian. Kenapa kalian ada di sini?" tanyanya lagi. Tak ada nada marah dan mengintimidasi sebenarnya. Namun mereka yang ditanya sudah terlihat ketakutan. Rasanya Sehun ingin tertawa sekarang ini.
Mereka tak menjawab‚ lagi. Mereka hanya membungkuk meminta maaf pada Sehun dan bubar kembali ke pekerjaan masing-masing. Sehun pun mengawasi mereka dengan berkacak pinggang. Ada-ada saja.
Namun kemudian‚ pandangan Sehun terhenti pada sosok yang ia cari sekarang ini. Pada Luhan yang baru saja bangkit dari kursi di kafetaria dan melangkah pergi meninggalkan seorang lelaki yang Sehun kenal siapa dia. Luhan baru saja meninggalkan Soo Hyun‚ dengan wajah pias entah karena apa. Sedangkan Soo Hyun sendiri terlihat terdiam dengan mata menatap lurus ke depan. Sehun memperhatikan mereka yang saling menjauh. Dan kemudian bersedekap karena tanpa sengaja pandangan matanya dengan milik Luhan bertemu. Perempuan itu kelihatan terkejut‚ namun segera bersikap biasa saja saat langkahnya terhenti.
Sehun tak mengatakan apapun saat Luhan menunggu suara lelaki itu. Mereka hanya saling pandang sebelum Luhan memulai bersuara‚ "Jangan tanya apapun." dan pergi meninggalkan Sehun dan Soo Hyun di sana.
Sehun juga tak perlu bertanya. Ia sudah tahu. Sebab ia sempat melihat kotak berbalut kain beludru merah di meja yang diduduki Soo Hyun. Kotak itu terbuka‚ dengan cincin cantik yang berkilau karena terkena sinar matahari yang masuk dari jendela. Luhan baru saja menolak Soo Hyun entah sudah yang keberapa kali.
…
Sedari tadi‚ Yixing memperhatikan Luhan yang diam di meja kerjanya. Beberapa kali Yixing melihat Luhan mengetik sesuatu‚ lalu berhenti‚ mengetik lagi‚ berhenti‚ dan seterusnya. Ketika dengan iseng Yixing memutari meja Luhan‚ Yixing dapat melihat lembar kerja Luhan yang bertuliskan "Wu Yifan Wu Yifan Wu Yifan Wu Yifan" yang banyak sekali. Yixing tak dapat menghitungnya. Karena tulisan nama seseorang itu hampir memenuhi satu lembar kerja di layar komputernya.
Yixing yakin bahwa ada sesuatu yang terjadi antara Luhan dan Soo Hyun tadi. Yixing juga yakin bahwa Luhan sudah bilang bahwa ia tak ingin dikejar-kejar lagi oleh direktur muda itu. Tapi Yixing belum pernah melihat Luhan menjadi perempuan yang diam setelah ia menolak cinta dari Soo Hyun.
"Luhan‚" Yixing tak bisa menahan diri untuk tak tahu. Ia menekan kedua sudut bibirnya ketika Luhan meliriknya. "Apa yang terjadi?"
Luhan sempat diam beberapa saat sebelum ia menutup wajah dengan kedua tangan. Kemudian terdengar suara isak darinya yang membuat Yixing segera menghampirinya. Yixing memutar kursi kerja Luhan untuk menghadap dirinya‚ kemudian dipeluknya Luhan yang berguncang dalam tangis.
"Hei‚ tenanglah…" Yixing menepuk-nepuk pundak Luhan dengan pelan. "Apa yang terjadi tadi?"
Luhan menggeleng. Tak ingin menjawab. Tangisannya terdengar semakin deras. Membuat Yixing berusaha untuk menenangkan Luhan. Ia tak pernah melihat Luhan menangis seperti ini. Dan ini baru pertama kali. Luhan baru saja membuat Yixing takut jikalau Luhan menangis karena disakiti Soo Hyun. Karena Yixing juga tahu kalau Soo Hyun itu pemaksa sekali.
Tidak berapa lama setelah itu‚ Luhan melepaskan diri dari pelukan Yixing. Ia menghapus air mata yang membasahi pipi seraya bergumam "Terima kasih‚" pada Yixing. Yixing mengangguk mengiyakan‚ sembari memperhatikan Luhan yang sedang membereskan wajahnya yang berantakan karena air mata.
"Kau baik-baik saja?" tanya Yixing‚ berusaha untuk tak menyinggung kejadian tadi.
"Aku baik‚" jawab Luhan seadanya. Ia membersit hidung dan tersenyum kecil. "Maaf sudah membuat pakaianmu basah."
Yixing tertawa menanggapi. "Tidak masalah." balasnya seraya mengibaskan sebelah tangan ke udara. Ia tersenyum dan berkata‚ "Kau ada masalah‚ ya? Aku tak pernah melihatmu menangis sebelumnya."
Giliran Luhan yang hanya tersenyum. Ia tak ingin menjawab pertanyaan itu. "Aku baru ingat kalau aku harus bertemu dengan Sehun sekarang. Kurasa aku akan menceritakan hal ini padamu kapan-kapan." ujarnya.
Dan Yixing mengangguk karena maklum tentang hal ini. Ia sudah terbiasa dengan Luhan yang enggan untuk bercerita padanya. Yixing pun membiarkan Luhan bangkit dan berjalan menjauh dengan beberapa berkas di pelukan. Mungkin sekalian bertemu‚ Luhan akan bercerita pada Sehun. Yixing mulai berpikir bahwa Luhan memang dekat sekali dengan Sehun. Bahkan sampai perempuan itu terbuka padanya. Sebab Yixing pernah melihat Sehun memperhatikan Luhan dan terlihat mengobrol tentang banyak hal pada perempuan itu. Tak mungkin soal pekerjaan jika Luhan akan lebih sering tersenyum dan tertawa kecil sebagai tanggapan disela-sela perbincangan mereka.
Sungguh. Yixing belum pernah melihat Luhan yang seperti ini. Dan kini‚ ia tak percaya bahwa Luhan berubah setelah mengenal sosok Sehun.
…
Luhan mengetuk pintu beberapa kali dan masuk setelah mendengar suara Sehun yang memberi ijin dari dalam. Ia masuk dengan kepala menunduk. Ia takut Sehun tahu kalau ia baru saja menangis dan ia tak ingin menjawab pertanyaan retoris yang bakal Sehun layangkan setelah ini.
"Kau terlambat tiga menit." ujar Sehun tenang. Ia meraih berkas-berkas yang Luhan berikan padanya lalu melihatnya sekilas. Sehun kembali pada Luhan yang betah menunduk kali ini.
Tak perlu ditanya mengapa. Sehun yakin jika Luhan sedang menyembunyikan sesuatu darinya.
"Mau kopi?" tawar Sehun. Ia menghampiri Luhan yang kini meliriknya sekilas.
"Tidak‚ terima kasih." tolak Luhan halus. Ia membungkuk untuk pamit pada Sehun namun lelaki itu menahan lengannya. Membuat Luhan berhenti dengan pejaman mata singkat.
Luhan heran. Mengapa Sehun seperti ini padanya?
"Atau kau ingin minum?" Sehun memberi jeda. "Coba kutebak. Kau baru menangis?"
Luhan meringis mendengarnya. Sehun pasti mendengar suara serak khas orang sehabis menangis darinya tadi.
"Kopi saja." Luhan menyingkirkan tangan Sehun dari lengannya‚ mulai berani mendongak. "Aku masih punya banyak hutang padamu."
Sehun menggeleng. "Aku yang traktir."
Luhan terdiam mendengarnya. Ia membiarkan Sehun menariknya untuk keluar dari ruangan tersebut dan kantor untuk pergi ke kafe dekat rumahnya. Sehun yang mengajaknya ke sana. Dan jujur saja‚ Luhan sedikit terhibur karena kebetulan kafe itu sedang menghadirkan seorang penyanyi kafe. Ia mulai nyaman saat duduk di meja dekat jendela‚ meja yang biasa ia duduki sendiri.
"Aku sengaja mengajakmu ke sini karena kudengar ada pertunjukan kecil malam ini."
Luhan membulatkan bibir. "Oh‚"―ternyata bukan kebetulan‚ lanjutnya dalam hati.
Mereka memesan dua cangkir kopi dan menunggu. Sehun dengan diamnya dan Luhan yang memperhatikan si penyanyi kafe yang sedang mengobrol akrab dengan pengunjung. Penyanyi itu cantik‚ berwajah oriental‚ dan bersuara merdu saat menyanyi. Luhan menikmati suara petikan gitar penyanyi itu dan suaranya yang merdu. Sedikit membuat hatinya tenang.
"Noona‚" Sehun memanggil bertepatan dengan kopi mereka yang baru saja datang.
Luhan mendongak dengan senyum kecil untuk menanggapi. "Apa?" tanyanya.
Sehun meneguk ludahnya melihat senyum Luhan yang baru saja hadir. Serasa menyihirnya‚ dan membuatnya lupa tujuannya kemari untuk apa.
"Eum…" Sehun berdeham kecil kemudian. "Banyak orang kantor yang menyebut namamu dan Soo Hyun hyung hari ini." ujarnya ragu. Ia sempat menyesal saat melihat senyum Luhan luntur untuk beberapa saat.
"Setiap hari mereka menyebut dua nama itu‚ Sehun." sahut Luhan pada akhirnya. Ia menyesap kopi yang baru saja datang itu dengan hati-hati.
"Kau tak sadar kalau akhir-akhir ini mereka hanya menyebut namamu dan namaku dalam perbincangan mereka?"
Luhan hampir tersedak mendengarnya. Ia menjauhkan cangkir dari bibirnya dan memandang Sehun yang sedang memperhatikannya. Sekali lagi‚ Luhan merasa salah tingkah diperhatikan seperti itu oleh Sehun. Apalagi mengingat kalimat Sehun barusan.
"Aku tak suka menguping pembicaraan orang." Luhan mengibaskan sebelah tangannya tak peduli. "Aku sekretarismu. Kita lebih sering terlihat bersama saat di kantor. Dan mungkin itu adalah alasan mengapa mereka sering membicarakanku denganmu atau dengan Soo Hyun." balasnya.
Hening sejenak.
"Kau menolak lamaran Soo Hyun hyung kan?"
Dan suasana berubah menjadi aneh setelah kalimat itu keluar dari bibir Sehun.
"Sudah kubilang jangan tanya apapun." sahut Luhan datar.
Sehun memiringkan kepalanya sedikit. "Kau menolaknya kan?"
Dan Luhan bungkam untuk pertanyaan itu.
"Baiklah." Sehun bersedekap. "Aku tak akan bertanya soal itu."
Hening lagi. Setelah Sehun memutuskan untuk tak bertanya lagi‚ Luhan beberapa kali melirik Sehun. Lelaki itu terlihat biasa saja sembari menyesap kopinya. Luhan jadi merasa tak enak‚ entah karena apa. Padahal‚ Luhan sudah berniat untuk bungkam soal ini. Namun begitu Sehun bertanya tadi‚ Luhan sebenarnya tak bisa menahan diri untuk bercerita. Entah mengapa‚ ketika berada dengan Sehun‚ Luhan ingin sekali bercerita banyak. Tapi untuk apa pula Luhan bercerita banyak pada Sehun? Toh beberapa minggu lagi ia tak akan bertemu dengan Sehun di kantor.
Tapi…
"Sehun‚"
Sehun mengangkat wajah mendengar namanya dipanggil oleh Luhan. "Apa?" tanyanya.
…pada akhirnya‚ Luhan memilih untuk terbuka pada Sehun.
"Tadi itu‚ aku memang menolak Soo Hyun." Luhan menunduk. "Bukan karena teringat soal apa yang kau katakan tempo hari. Melainkan karena aku teringat tentang Yifan‚ orang yang tak bisa kulupakan sampai sekarang."
Sehun diam mendengarkan ketika melihat Luhan tersenyum kecil dengan pandangan menerawang.
"Waktu itu Yifan menelponku‚ bilang bahwa ada hal penting yang ingin dia katakan di hari itu juga. Saat itu aku masih sibuk membereskan barang-barangku karena aku baru saja pindah dari China. Aku bilang besok saja‚ namun ia terus mengatakan bahwa apa yang akan dikatakannya hanya akan terjadi sekali seumur hidupku. Jujur saja‚ aku jadi penasaran. Jadi aku memutuskan untuk mengiyakan ajakannya dan pergi ke restoran yang ia minta."
"Saat masuk ke dalam restoran‚ aku melihatnya sedang berdiri tak jauh dariku. Dia tersenyum manis dan menghampiriku. Kemudian aku duduk dengannya. Makan bersama‚ dan berbicara banyak hal. Lalu tiba-tiba Yifan mengeluarkan cincin dari sakunya. Aku menatapnya‚ bertanya‚ apa maksudnya ini? Dan dengan tenang‚ ia berkata kalau ia ingin menjadikanku pendamping hidupnya." Luhan tertawa kecil untuk memberi jeda sejenak. "Aku bahkan masih ingat apa yang ia katakan setelah aku menerimanya. Mulai sekarang‚ aku akan selalu bersamamu dan kau juga harus bersamaku‚ apapun yang terjadi setelah ini. Dan pada akhirnya‚ Yifan juga meninggalkanku. Aku tak memikirkannya sama sekali. Tsk‚ lucu sekali."
"Jadi kau tak ingin mengulangi hal itu untuk yang kedua kali?" tanya Sehun setelah lama sekali Luhan terdiam.
Luhan hanya meliriknya sekilas. "Kau bisa menyimpulkan sendiri kan‚" sahutnya.
Sehun mengangguk-angguk kecil. "Kau takut untuk kehilangan atau memang kau tak bisa melepaskan?"
Seketika Luhan menatap Sehun. Lelaki yang entah mengapa kini mengatakan hal-hal yang benar dan tentu saja menyebalkan itu membuat Luhan geram diam-diam. Mengapa Sehun bisa memahaminya semudah Luhan memahami pelajaran matematika di sekolah dasar dahulu‚ sih? Mengapa pula Sehun bersikap seperti ini padanya‚ yang entah mengapa membuat Luhan mulai berharap sesuatu pada Sehun? Memangnya boleh ia berharap pada lelaki yang sudah menyayangi perempuan lain?
"Coba kutebak. Kau takut untuk melepaskan lelaki yang bernama Yifan itu kan?" Sehun balas menatap Luhan setelah itu. "Karena kau terlalu menyayanginya sampai untuk melepaskan pun kau takut."
Luhan menunduk. Sehun benar. "Diamlah. Jangan bicarakan hal itu lagi." katanya menghindar.
Sehun menelengkan kepalanya ke samping‚ menatap Luhan yang menunduk di depannya. Kemudian Sehun tersenyum‚ berkata‚ "Bagaimana kalau ada seseorang yang membuatmu bisa melupakannya?"
Luhan tak bisa menjawab meski ia sempat melirik senyum Sehun. Astaga‚ kenapa lelaki ini manis sekali?
"Kau akan menerima lelaki baru itu‚ atau tetap mempertahankan Yifan?"
"Sehun…" Luhan merengek jengah. Ia berdecak saat melihat Sehun terkekeh karenanya. "Berhentilah berkata tentang itu. Aku sudah bilang‚ kan‚ sebelumnya."
"Bagaimana kalau itu Soo Hyun?" Sehun kelihatan tak peduli dan tetap melanjutkan. Ia melihat Luhan cemberut di depannya dan itu membuat Sehun lebih gencar menggoda Luhan.
Sebab baru kali ini Sehun melihat Luhan cemberut kesal.
"Sehun‚ diamlah."
"Atau kalau aku‚" Sehun menopang dagu dengan kedua tangannya‚ tersenyum manis‚ dan membuat wajahnya seperti anak kecil ketika Luhan melihatnya. "Bagaimana kalau lelaki itu aku?"
Dan Luhan pias mendengarnya. Apa-apaan Sehun ini?
"Yang benar saja?" Luhan mengibaskan sebelah tangan ketika berkata demikian. Suaranya bergetar gugup‚ Sehun yang mendengarnya hanya mampu menahan senyum geli.
"Bagaimana kalau itu benar?"
"Sehun‚"
"Bagaimana kalau itu benar?"
"Bagaimana kalau itu salah?"
"Bagaimana pula kalau aku yang jatuh cinta padamu?"
Luhan yang hendak membalas lagi jadi terurung. Ia menatap Sehun yang kelihatan gelagapan. Mereka salah tingkah sendiri setelahnya.
"Tadi itu‚" Sehun mengusap-usap tengkuknya seraya berdesis pelan. "Bukan maksudku berkata seperti itu. Tapi…"
Luhan menunggu kelanjutan kalimat Sehun dengan alis terangkat. Ada yang mencubit-cubit gemas hatinya saat itu. Sementara itu‚ diam-diam Sehun mengutuk dirinya sendiri. Mengapa ia bisa selancang itu berbicara demikian pada Luhan yang masih berduka karena Yifan?
Dasar sinting!
"…kita harus kembali ke kantor. Jadi habiskan kopimu setelah ini." ujar Sehun akhirnya.
Luhan menghembuskan napasnya dengan pelan setelah sadar bahwa sedari tadi ia menahan napas. Dilihatnya Sehun yang sedang menyesap kopinya dengan mata yang melirik ke arah lain. Lelaki itu tak ingin Luhan tahu bahwa sesungguhnya‚ ia juga salah tingkah.
…
To be continued…
Hai! Aku balik :* Adakah yang kangen sama aku wkwk :v
Eiya. Aku minta maaf karena udah buat kalian nunggu lama. Chapter ini ngga memuaskan banget pasti. Soalnya pendek. Maunya sih kupanjangin. Tapi karena ada halangan‚ kubikin dulu aja segini. Buat pemanasan :D
Aiya. Kalo nemu typo‚ biarin aja yaw. Aku males ngedit soalnya wkwk.
Di chapter ini aku mulai deketin HunHan aja dulu. Sehun godain Luhan aja dulu. Habis itu Luhannya dilindungin‚ dipacarin‚ dinikahin deh :v wkwk.
Udah ah. Aku pamit aja. Jangan lupa review ya.. ;)
Trims :)
