Saat itu sudah malam. Sehun baru saja sampai di apartemennya kala itu. Ia telah merebahkan tubuhnya pada sofa dan matanya menatap langit-langit rumah dengan pandangan menerawang. Sehun ingat‚ betapa tololnya ia telah bekata seperti itu pada Luhan. Saat tanpa sengaja ia berkata‚ "Bagaimana pula kalau aku yang jatuh cinta padamu?"

Serasa otak Sehun sudah rusak. Astaga! Serius! Sehun tadi tak sengaja berkata seperti itu pada Luhan yang kelihatan enggan berbincang seperti itu. Ia hanya berniat untuk menggoda Luhan‚ hanya ingin melihat senyum Luhan yang jarang sekali ia lihat. Sehun hanya berniat baik. Tapi hal itu malah membuat ia dan Luhan salah tingkah. Nah‚ kan. Senjata makan tuan.

Lalu tiba-tiba suara bel pintu apartemennya‚ berbunyi‚ membuat Sehun tersentak duduk. Sehun bangkit dari duduk dan berjalan ke pintu kemudian. Tak biasanya ada tamu yang datang semalam ini. Maka Sehun memeriksa siapa yang datang melalui layar monitor di dekat pintunya. Lelaki itu mengerutkan kening bingung setelah melihat siapa yang datang kali ini.

Bukankah Baekhyun seharusnya masih di Jepang?

Lantas Sehun membuka pintu masih dengan keheranan. Sedetik setelah itu‚ Baekhyun melompat memeluknya. Sehun hampir kehilangan keseimbangan kalau sebelah tangannya tak bertumpu pada pintu. Lalu Sehun merasa bahunya basah. Ia menoleh pada Baekhyun yang menyembunyikan wajah di bahunya‚ ingin bertanya‚ "Kenapa kau menangis?" namun suara Baekhyun sudah terlebih dahulu terdengar memanggil namanya.

"Sehun‚"

"Iya." Sehun menyahut lembut. "Ada apa?" tanyanya.

Baekhyun mengeratkan pelukannya pada leher Sehun dan memejamkan mata. "Maafkan aku." ujarnya sayup.

Dan setelah itu‚ dada Sehun bergemuruh tak nyaman. Apa yang sebenarnya terjadi?



Cangkir beserta uap yang berada di atas meja saat itu dipandangi Luhan dengan bingung. Sudah beberapa waktu berlalu namun kopi itu belum tersentuh sama sekali. Bukan Luhan yang memesan. Tetapi lelaki yang mengajaknya kemari dengan alasan aneh. Ingin kopi‚ katanya begitu. Ialah Sehun. Lelaki yang kini sedang berdiam diri dengan mata memandangi satu-satunya kopi yang ada di meja tersebut.

Lama berada di suasana membosankan seperti ini membuat Luhan menghembuskan napas keras. Ia melihat Sehun yang masih diam‚ melamun‚ gundah gulana‚ atau apalah itu. Luhan yakin jika ada sesuatu yang terjadi dengan Sehun sebelumnya. Mungkin alasan mengapa lelaki itu mengajaknya kemari karena Sehun ingin bercerita dengannya‚ atau hanya ingin membuat Luhan menjadi teman diamnya.

"Kalau tak ingin diminum‚ ya sudah‚ biar aku saja yang minum." ketus Luhan. Tangannya terulur hendak meraih cangkir yang isinya sudah menghangat itu kemudian.

Namun suara Sehun yang terdengar membuat Luhan menghentikan gerakannya. Luhan mendengar kalau Sehun memanggil namanya. Tangannya berhenti di udara‚ dan Luhan melihat Sehun yang masih memandangi kopi tersebut seraya berkata‚ "Aku mulai mengerti mengapa kau selalu berwajah muram saat aku melihatmu."

Luhan mengangkat kedua alis tak mengerti. Tangannya kembali ke atas pangkuan ketika ia bertanya‚ "Apa maksudmu?" pada Sehun.

"Semalam dia pulang." mulainya pelan. "Dia memelukku‚ berkata maaf padaku berulang kali. Aku bertanya‚ kenapa? Dan dia menjawab kalau dia mendua."

Kening Luhan berkerut dalam. Dia? Siapa?

"Kupikir itu hanya sebuah candaan basi. Kupikir itu hanya sebuah kejutan darinya karena dia baru saja pulang. Tetapi dia bilang kalau dia telah berpaling ke lain hati. Pun juga bilang kalau lelaki itu membuatnya jatuh cinta dan terus memikirkannya sepanjang waktu. Itulah alasannya mengapa ia jarang menghubungiku. Padahal aku sendiri merindukannya selama dua minggu terakhir ini." kemudian Sehun tertawa kecil. Seperti menertawai dirinya sendiri‚ menertawai apapun yang menyedihkan darinya.

Sementara itu‚ Luhan diam mendengarkan sedari tadi. Meski ia sama sekali tak mengerti Sehun ini bercerita tentang siapa‚ Luhan masih mendengarkan. Luhan bingung. Memangnya apa hubungannya tentang dirinya yang selalu berwajah muram dengan ceritanya?

"Dia bilang lelaki itu tampan‚ seorang pengusaha di Jepang yang sukses. Mereka saling mengenal karena kedua orang tua mereka. Dia juga bilang kalau lelaki itu sering bersamanya. Aku berpikir saat ia bercerita dengan senyum setelah menangis padaku. Apakah karena rasa sayangku padanya‚ dia merasa terbebani? Sampai ketika dia sudah jatuh cinta pada lelaki lain pun‚ dia menangis di depanku dan tersenyum saat bercerita tentang cintanya yang baru?"

"Dia yang kau maksud itu…" Luhan membuat Sehun beralih padanya saat ia bersuara. "…kupikir dia benar-benar tak menyayangimu."

Sehun terlihat tak suka saat Luhan juga balas menatapnya. "Kau berani berkata seperti itu padaku?" tanyanya setengah kesal.

"Lalu apa?" Luhan bersedekap. "Dia berpaling darimu begitu cepat. Bukankah tak genap dua minggu dia pergi? Lalu tiba-tiba dia datang padamu‚ berkata begitu jujur tentang perasaannya yang berpaling darimu‚ dan tersenyum pula saat bercerita tentang lelaki lain. Sepertinya perempuan yang kau ceritakan itu sama sekali tak memiliki rasa sayang yang sama sepertimu."

Sehun tersinggung. Namun ia hanya diam. Baekhyun‚ perempuan yang ia maksud tadi‚ Sehun sudah mengenalnya lama. Bertahun-tahun lagi. Mereka juga sudah dekat‚ saling sayang‚ dan…

"Kau ingin menyangkal kalau dia memang benar-benar sayang padamu?" tanya Luhan. Sehun yang menatapnya sembari bersedekap pun membuat Luhan tersenyum miring. "Coba saja sangkal dengan alasan-alasanmu."

Sehun berpikir sejenak. "Kau sengaja membuatku jadi terlihat menyedihkan sekali‚ ya?" sahutnya. Dan Luhan tertawa karenanya.

"Itu lucu." ujar Luhan disisa tawanya. "Aku tak bermaksud demikian. Aku hanya ingin tahu saja. Seberapa tahunya kau tentang dirinya. Kau begitu menyayanginya sampai kau tak sadar ternyata dia tak memiliki rasa sayang yang sama banyaknya sepertimu."

Sehun berdecak pelan. Ia meraih cangkir kopinya dan meminum kopi pesanannya yang sudah mendingin itu sampai habis. Sehun sudah terlanjur dongkol. Entah pada Luhan yang berkata seperti itu padanya‚ atau pada dirinya sendiri‚ atau juga pada Baekhyun yang mendua. Maka setelah menghabiskan kopi pesanannya‚ Sehun bangkit‚ berkata‚ "Ayo kembali‚" pada Luhan‚ dan meninggalkan perempuan yang sedang mencibir sendirian di sana.



Sudah berjam-jam berlalu. Tapi Sehun masih tak ingin membuka mulut untuk bersuara tentang apapun. Lelaki itu hanya akan menunjuk berkas di meja untuk dibawakan Luhan. Dan Luhan merasa tak enak hati pada Sehun. Apakah perkataannya tadi siang itu keterlaluan sekali?

Jadi‚ setelah meletakkan berkas terakhir di meja Sehun dan menunggu berkas itu untuk diperiksa‚ Luhan memulai untuk bersuara.

"Maaf untuk yang tadi."

Lantas Sehun mendongak menatapnya‚ menaikkan sebelah alis‚ dan tak berniat untuk menyahut dengan suara. Luhan mendesah pelan karenanya.

"Bukan maksudku untuk berkata seperti tadi."

"Seperti apa?" itu suara Sehun yang baru keluar setelah sekian lama terdiam.

"Itu‚ aku yang bilang kalau perempuan yang kau ceritakan tadi sama sekali tak memiliki rasa sayang sepertimu."

Sehun bergeming sejenak. "Lupakan saja‚ tidak apa-apa."

Luhan menekuk bibir. Ia duduk di kursi depan meja Sehun sembari memperhatikan Sehun yang sedang memeriksa berkas yang baru saja ia terima. Sehun terlihat biasa saja‚ namun lebih diam. Luhan bosan melihat Sehun yang seperti ini. Padahal sebelumnya Sehun selalu berbicara banyak padanya‚ terlihat tak peduli kalau Luhan tak menghiraukannya atau mendengarnya berbicara. Tapi mengapa sekarang Luhan ingin sekali Sehun berbicara seperti biasa padanya?

Setelah menutup map dari berkas tadi‚ Sehun kembali bersuara. "Setelah apa yang kau katakan tadi‚ aku berpikir. Mungkin apa yang kau katakan benar. Tapi aku tak tahu juga kebenarannya dari Baekhyun seperti apa."

"Baek…" Luhan mengerutkan kening mengeja nama perempuan yang terasa familiar di otaknya. "…hyun?"

Sehun mengangguk. "Iya‚ namanya Baekhyun." ujarnya.

Luhan mengangguk kecil‚ tak tahu harus menyahut apa lagi pada Sehun. Ia menarik berkas tadi dan bangkit dari duduk. Luhan membungkuk kecil pada Sehun yang memperhatikannya. Luhan pamit tanpa suara‚ dan Sehun yang masih ingin melihat Luhan‚ menginterupsi‚ "Aku antar kau pulang malam ini."

Luhan berhenti melangkah. Kalimat itu‚ entah mengapa‚ membuat jantungnya berpacu lebih cepat. Hanya kalimat sederhana‚ tetapi efeknya bisa sebesar itu pada jantungnya.

"Kau tak diantar pulang oleh kekasihmu‚ kan?"

Luhan membalik tubuh. "Kekasih?" ulangnya‚ bingung.

"Ya‚ kekasih." Sehun mengangguk kecil. "Lelaki yang masuk ke kantor dan membawamu pulang tempo hari itu kekasihmu kan?"

Luhan mengerutkan kening. Ia mencoba untuk mengingat-ingat siapa lelaki yang dimaksud Sehun. Lalu Luhan teringat pada kejadian saat Kris datang ke kantor dan mengejutkannya. Jadi Sehun mengira kalau Kris itu kekasihnya?

"Dia bukan kekasihku‚ Sehun." ujar Luhan. Ia tersenyum simpul karena Sehun terlihat bingung. "Kalau Yifan masih hidup‚ dia bakal jadi adik iparku."

"Oh‚" Sehun mengangguk mengerti. Rasanya ada yang aneh pada hatinya setelah mendengar hal tersebut dari Luhan. Terasa… senang? Juga… lega?―Eh?

"Baiklah." Luhan merasa bahwa suasana antara dirinya dan Sehun ini canggung. Ia melirik ke arah lain seraya membasahi bibirnya yang terasa kering sebelum berkata‚ "Aku pergi."

Sehun mengangguk mengiyakan. Kemudian Sehun memperhatikan Luhan yang membalik tubuh dan menghilang setelah pintu tertutup. Ada yang aneh‚ dan Sehun tak tahu itu apa.



Sesuai apa yang dikatakan Sehun‚ lelaki itu memang mengantarkan Luhan pulang malam ini. Tepat di pukul sembilan malam‚ mobil Sehun berhenti di depan rumah Luhan. Luhan melepas sabuk pengaman‚ membuka pintu. Namun pintu itu tak bisa terbuka. Luhan menoleh pada Sehun yang menatap lurus-lurus ke depan. Perempuan itu berkata‚ "Buka pintunya‚ Sehun."

Sehun bergeming. Ia menghela napas dan menginjak pedal gas. Sehun kembali membawa Luhan entah kemana.

"Hei!" Luhan menoleh ke belakang‚ pada rumahnya yang perlahan menjauh karena Sehun. "Sehun! Kau―"

"Ikut saja denganku." potong Sehun datar.

"Tapi kan―" Luhan menggantungkan kalimat ketika menyadari nada suara Sehun. Mungkin lelaki itu sedang dalam mood yang buruk hari ini. Entah apa saja yang dia pikirkan‚ Luhan benar-benar tak tahu. Luhan yakin bila Sehun butuh ketenangan kali ini.

Tapi kenapa harus membawa dirinya juga‚ sih?

"Kau ingin mengajakku kemana?" tanya Luhan kemudian. Ia kembali memakai sabuk pengaman dan duduk dengan tenang.

"Ke suatu tempat." jawab Sehun. "Mungkin kau tak suka. Tapi aku hanya ingin kau menjadi teman mengobrolku."

Luhan menaikkan kedua alis tak mengerti. Memangnya selama ini‚ Sehun menganggap dirinya apa kalau bukan sebagai teman mengobrol? Bukankah lelaki itu hanya sering mengobrol dengannya daripada mengobrol dengan pegawai yang lain?

Tak berapa lama kemudian‚ Sehun menghentikan mobil di basement gedung apartemennya. Lelaki itu turun dari mobil‚ begitu pula dengan Luhan yang mengikutinya. Setiap Sehun melangkah‚ Luhan hanya mengekor. Karena sesungguhnya Luhan tak tahu Sehun mengajaknya kemana.

"Sehun‚" panggil Luhan. Ia mempercepat langkah untuk menyamai langkah Sehun dan kembali bertanya‚ "Kau ingin mengajakku kemana‚ sih?"

Sehun meliriknya sekilas. "Karena aku sudah tahu di mana rumahmu‚ sekarang giliran kau yang harus tahu di mana aku tinggal."

Luhan mengerutkan alis tak mengerti. Ia mempercepat langkah lagi‚ lalu menghalangi Sehun tepat di depannya. "Apa maksudmu?" tanyanya.

Sehun berdecak. Ia tak menjawab apapun atas pertanyaan Luhan. Lelaki itu memutar kepala Luhan supaya perempuan itu berbalik badan‚ lalu didorongnya tubuh perempuan itu di bahu. Sehun terus mendorong tubuh Luhan sementara Luhan memberontak kecil ingin melepaskan diri.

"Ya ampun‚ Sehun. Lepaskan aku!" Luhan berhasil menyingkirkan tangan Sehun dari pundaknya dan ia berhenti di depan Sehun. Luhan merengut sebal melihat Sehun yang tenang-tenang saja kali ini. "Kau ingin sekali menculikku‚ ya?" tanyanya kesal

"Bukan begitu." Sehun menggeleng. "Aku ingin mengajakmu minum."

Luhan mengerjap pelan. "Minum?" ejanya sayup. Kemudian Luhan kembali beralih pada Sehun yang tiba-tiba saja merangkul lehernya. Luhan terkejut‚ ia tak bisa memberontak saat Sehun merangkulnya dan membawanya pergi dari sana.

"Hei‚ kalau kau ingin minum‚ kenapa tidak ke bar?"

"Kau ingin kuantar pulang dengan keadaan mabuk?"

"Tapi kan―" Luhan kebingungan mencari alasan. Pada akhirnya dirinya mendengus kesal dan membiarkan Sehun menyeretnya untuk masuk ke dalam apartemen lelaki itu.

Iya‚ kini Luhan sudah berada di apartemen Sehun. Tempat tinggal Sehun memang luas‚ menyenangkan untuk dihuni‚ dan benar-benar rapi untuk ukuran seorang lelaki. Luhan melihat sekitar‚ lalu mengekori Sehun yang berjalan menuju dapur. Begitu sudah berada dekat dengan Sehun‚ Luhan dapat melihat Sehun menghampirinya dengan sebotol wine dan dua gelas untuk mereka. Sehun mengisyaratkan Luhan untuk duduk di saah satu kursi makan kemudian.

"Kenapa kau mengajakku minum?" tanya Luhan. Ia duduk di kursi sembari memperhatikan Sehun yang sedang membuka penutup botol tersebut.

"Karena kopi tidak akan mempan membuatku menjadi lebih baik." jawab Sehun seadanya. Setelah itu‚ ia berhasil membuka tutup botol. Sehun menuangkan wine ke gelas Luhan. "Jadi aku mengajakmu karena kupikir hanya kau yang mengerti aku."

Luhan mengerjap pelan. Ia memandangi Sehun yang sedang menuang wine nya ke gelasnya sendiri kemudian memandangi gelas miliknya. Ada hal aneh yang mengganjal di hati ketika Sehun mengatakan‚ 'hanya kau yang mengerti aku' dengan tenang. Luhan tak tahu ia ini kenapa. Tapi yang pasti‚ Luhan hampir menjatuhkan gelasnya saat Sehun menatapnya‚ memintanya untuk bersulang‚ dan memulai acara minum bersama di apartemen lelaki itu.

Sehun tersenyum menyadari betapa gugupnya Luhan kali ini. Ia yakin Luhan pasti sedang mencoba untuk membiasakan diri.

Luhan menenggak wine nya dalam satu kali tegukan. Keningnya berkerut‚ dan Luhan mencoba untuk menetralkannya dengan memejamkan mata erat-erat. Kemudian Luhan beralih pada Sehun yang mulai menuangkan wine kedua mereka. Luhan tak menyentuh gelas itu lagi.

"Kenapa tidak diminum?" tanya Sehun.

Luhan tak menjawab untuk beberapa saat. Ia hanya memandangi Sehun yang beberapa kali menegak wine dalam gelas kecilnya.

"Kenapa bukan Jongin atau Kyungsoo saja yang kau ajak minum?" tanya balik Luhan tidak lama kemudian.

Sehun melirik Luhan sekilas. Wine nya meluncur ke kerongkongan setelah itu. "Mereka berdua tak tahu masalah ini. Aku belum cerita pada mereka."

"Kau bisa cerita pada mereka saat kau mengajak mereka minum." desak Luhan. Jujur‚ ia gemas. Tapi gemas tentang apa‚ Luhan pun tak mengerti. "Kau pikir aku ini tempat sampah ceritamu‚ apa?"

"Ya." Sehun mengangguk‚ gerakannya menunjukkan bahwa ia mulai mabuk. Entah sudah berapa milliliter wine yang ia habiskan dari gelas kecil itu. Luhan tak menghitungnya. "Aku memang membuatmu menjadi tempat sampah ceritaku. Sebelumnya pun kau berlaku seperti itu padaku."

Seketika Luhan bungkam. Ia menekan bibir dan membasahinya sekilas. Melihat Sehun yang setengah mabuk‚ membuat Luhan tanpa sadar meneguk gelas wine miliknya. Terserahlah‚ batinnya ketika tersadar. Lagipula ia hanya menemani lelaki ini dan mendengarkan ceritanya.

Ya‚ Sehun memang bercerita padanya. Tentang perempuan bernama Baekhyun itu. Luhan mendengarkannya tanpa ada niatan untuk mengomentari seperti tadi siang. Kalau ia melakukan itu‚ mungkin Sehun akan mengamuk dengan keadaan mabuk. Luhan membayangkannya dengan ringisan ngeri. Astaga‚ sebenarnya apa yang dia pikirkan?

"Hei‚ Luhan." Sehun tiba-tiba memanggilnya dengan nada suara khas orang mabuk.

Luhan beralih menatapnya‚ meneguk ludah dengan susah payah ketika Sehun mengacak rambut hitamnya frustasi yang setelah itu dilanjutkan dengan mengendurkan dasi serta membuka dua kancing teratas kemejanya. Ya Tuhan‚ Ya Tuhan‚ Ya Tuhan… Luhan banyak menyebut nama Sang Pencipta begitu melihat Sehun bersandar pada kursi di depannya dengan kepala mendongak ke atas. Dengan posisi itu‚ Luhan bisa melihat leher Sehun‚ serta jakunnya yang naik turun.

Ya Tuhan… Pemandangan macam apa ini?!

Luhan meremas kuat udara di kedua tangannya. Sehun sengaja membuat jantungnya jatuh ke lantai atau memang Sehun benar-benar dalam keadaan tidak sadar?

"Aku ingin tidur." ujar Sehun pelan. Ia terbatuk kecil karena tersedak ludahnya sendiri karena kepalanya yang mendongak. Sehun kemudian mengayunkan kepala sampai keningnya membentur meja. Luhan tersentak kaget karena suara benturannya yang keras. Sehun sama sekali tak bergerak setelah itu.

"Sehun?" panggil Luhan. Jarinya menusuk-nusuk pundak Sehun hingga Sehun yang lemas terjatuh ke lantai.

Luhan mengerjap. Dengan cepat ia bangkit menghampiri Sehun yang terkulai lemas di lantai. Sehun terdengar menggumamkan nama Baekhyun saat Luhan menepuk-nepuk pipinya. Luhan berdecak sebal. Akhirnya ia menarik tangan Sehun supaya lelaki itu bisa duduk dengan benar. Namun yang ada‚ Sehun justru menarik Luhan hingga Luhan jatuh di atas tubuhnya.

Luhan mengerjap cepat. Jantungnya berpacu secara tidak normal. Itu membuatnya sulit bernapas. Apalagi ketika ia melihat wajah Sehun dari jarak sedekat ini. Mungkin hanya ada tiga atau empat senti yang menjadi jarak antara kedua ujung hidung mereka. Mata lelaki itu terpejam‚ dengan kening berkerut-kerut samar‚ serta bibir yang menggumam kecil menyebut nama Baekhyun.

Dan mulai saat itu‚ entah mengapa‚ Luhan merasa tak suka Sehun menyebut nama Baekhyun di depannya. Jujur saja‚ Luhan mengakuinya.

Luhan pun tersadar. Segera ia bangkit namun Sehun kembali menahannya. Lelaki itu menggulingkan Luhan ke samping‚ lalu memeluknya seperti guling. Makin gilalah jantung Luhan saat ini.

"Hei‚" Luhan memukul dada Sehun dengan pelan. Berharap ia bisa membangunkan Sehun dan tak menyakiti lelaki itu. Namun yang ada‚ Sehun makin erat memeluk pinggang Luhan. Tubuh Luhan pun semakin dekat dengan tubuh Sehun.

Aduh‚ aduh. Sialan!

Luhan menggigit bibir bawah dengan cemas. Ia khawatir jantungnya akan bermasalah setelah ini kalau ia melihat Sehun. Lelaki ini membuatnya sinting hanya karena pelukan dan caranya memejamkan mata. Selain itu‚ pasti ia akan lebih banyak salah tingkahnya kalau sedang bersama Sehun. Sehun sialan! Kutuknya dalam hati. Luhan pun memukul lagi dada Sehun sedikit lebih keras dari sebelumnya karena kesal.

"Ish! Lepaskan aku..." rengeknya.

Sehun justru tertawa kecil. Senyumnya yang saat itu terlihat karena tawanya‚ sungguh membuat Luhan hampir meleleh. Kenapa Sehun membuatnya seperti ini? Kan sialan!

Setelah Sehun menghentikkan tawa gelinya yang terdengar bagaimana gitu di telinga Luhan‚ Sehun membuka mata. Pandangannya bertemu dengan pandangan mata Luhan. Luhan yang saat itu menatap Sehun dengan jengkel‚ jadi melunak. Lelaki itu berkedip dengan pelan‚ membuat jantung Luhan juga terasa ikut memelan karenanya.

"Oh‚" suara Sehun terdengar serak sekali saat itu. Luhan kembali meneguk ludah susah payah karena mendengarnya. "Ternyata kau. Kukira kau sudah pulang."

Luhan mendesis jengkel. Dengan cepat ia mendorong dada Sehun dan segera bangkit. Ia menarik tangan Sehun supaya lelaki itu bisa duduk selagi Sehun sudah setengah sadar. Luhan sudah benar-benar tak tahan. Sehun menyiksanya dan itu menyebalkan! Kemudian Luhan mengalungkan tangan Sehun ke pundaknya‚ memaksa Sehun untuk berdiri‚ dan membawa Sehun keluar dari dapur. Luhan tak peduli lagi setelahnya. Ia sudah terlanjur kesal. Maka dari itu Luhan menjatuhkan Sehun ke sofa dan membiarkan Sehun tertidur di sana.



Luhan masih bersungut-sungut‚ mengutuk Sehun dalam gumamannya‚ serta mencak-mencak karena kesal setelah ia menutup pintu apartemen Sehun dari luar. Bagus‚ setelah ini Luhan pasti tak bisa tidur dengan nyenyak karena terbayang-bayang wajah Sehun yang tertidur dan suara seraknya tadi.

"Sialan kau!" Luhan menunjuk pintu apartemen Sehun yang tertutup dengan kesal. "Jangan bawa aku kemari lagi kalau kau hanya ingin menyiksaku!" ujarnya. Ia menendang pintu itu dan merasa sedikit sakit di ujung kakinya.

Tapi terserahlah. Luhan tak peduli dengan rasa sakit itu. Ia harus pulang sekarang karena hari sudah benar-benar larut.

"Maksudmu Sehun yang menyiksamu?"

Luhan tersentak kaget. Ia berbalik ke sumber suara dan menemukan seorang perempuan sedang berdiri tidak jauh darinya. Perempuan itu memperhatikannya dengan tangan yang membawa kantung belanjaan. Luhan menurunkan kakinya yang tadi ia usap‚ lalu menegakkan tubuh. Setelah itu si perempuan yang tak Luhan kenali itu berjalan menghampirinya.

"Sehun menyiksamu?" tanyanya.

Luhan menaikkan kedua alis. "A-apa?" tanyanya tak mengerti.

"Maaf." si perempuan tadi tiba-tiba kelihatan sungkan untuk berkata. "Tapi aku tadi mendengarmu mengatakan itu."

Mendengarnya‚ Luhan melirik ke arah pintu apartemen Sehun yang tertutup itu dan tersadar. Luhan menahan senyum. "Ah‚ bukan begitu. Sehun tidak menyiksaku dengan artian memukuliku."

Perempuan yang tak Luhan kenal itupun tersenyum. Di mata Luhan‚ senyum itu begitu manis. Matanya akan membentuk lengkungan menyenangkan saat ia tersenyum.

"Kau ingin pulang? Sehun tidak mengantarmu?" tanya si perempuan.

Luhan menggeleng. "Rumahku tak jauh dari sini. Aku bisa pulang sendiri."

Ia mengangguk-angguk. Lalu dengan canggung Luhan pergi dari sana setelah pamit pada perempuan yang tak ia ketahui identitasnya itu.

Bodoh‚ pikir Luhan. Kenapa ia mau-mau saja berbicara dengan orang asing seperti tadi? Apakah ini hanya efek dari meminum dua teguk wine di apartemen Sehun tadi? Aih‚ ya ampun… Luhan merasa pening seketika. Bisa-bisanya ia merasa begitu bodoh dengan menjawab pertanyaan menyelidik dari si perempuan tadi.

Tapi tunggu dulu. Perempuan itu mengenal Sehun? Ia tetangganya Sehun atau…

Luhan berhenti melangkah dan menoleh ke belakang. Kemudian ia melihat perempuan itu baru saja masuk dan menutup pintu apartemen Sehun dari dalam. Luhan mengerjap‚ ia tersadar!

Jadi perempuan tadi itu yang namanya Baekhyun?

Itu?!―

―Kenapa manis sekali?!

Luhan meringis seketika. Entah mengapa‚ Luhan benci melihat senyum yang menyenangkan itu dari wajah Baekhyun. Luhan mendengus pelan. Ia berjalan dengan kaki menghentak kesal entah karena Sehun atau karena perempuan yang bernama Baekhyun itu. Ia tak peduli tentang itu! Luhan hanya butuh tidur. Sekarang!


To be continued…


Hai! Aku kangen kalian! Kalian kangen aku ngga? *digebukin*

Wkwk. Maaf ya sebelumnya. Akhir-akhir ini aku jadi ngadat update ff. Entah ff ini atau Lucky One. Aku sedang ada beberapa kegiatan di awal semester ini. Dan juga kebanyakan badmood. Kalau udah badmood‚ inspirasinya nggamau jalan ato malah nggadapet inspirasi sama sekali.

Di chapter ini‚ pengennya aku buat Luhan perlahan-lahan bisa biasain diri ke Sehun‚ dan sebaliknya. Baekhyun udah kujauhkan dari Sehun dan kalian tenang aja yaaa... Bakal ada HunHan setelah ini :3

Oya‚ sejujurnya‚ aku nggapengen bikin adegan dimana Luhan marah-marah konyol sama pintu. Pengennya aku pengen bikin adegan dimana Luhan bisa langsung ketemu Baekhyun dan juga langsung bisa ngenalin Baekhyun dengan mudah. Tapi karena aku lagi sebel banget sama seseorang ingin rasanya kubunuh dia *eh*‚ jadi kulampiaskan saja ke Luhan di ff ini biar ngga dosa *eh* wkwk.

Udah ah. Aku udah kebanyakan ngomong sama nyurhat dikit. :v Sorry kalo ada typo yaww.. Jangan lupa untuk review kalo kalian ngaku sebagai readers yang baik :))
See yaa :*