Setelah melihat perempuan yang tak dikenalnya itu pergi dari depan apartemen Sehun‚ Baekhyun masuk ke dalam. Tadi ia merasa khawatir. Sehun pasti marah padanya mengingat lelaki itu tak membalas satu pun pesan darinya. Maka dari itu ia memutuskan untuk mengajak Sehun bicara sambil makan banyak snack seperti kebiasaan mereka dulu. Malam ini.

Hanya saja‚ Baekhyun melihat Sehun sedang tidur di sofa saat ia masuk. Penampilannya cukup berantakan‚ dengan bibir yang terus bergumam tak jelas. Baekhyun mendekati Sehun dengan penasaran. Apa yang digumamkan lelaki itu dan membuatnya tersenyum dalam mimpi?

Ah‚ lelaki itu bukan sedang tertidur. Tetapi sedang mabuk. Aroma khas alkohol menyengat hidung Baekhyun ketika ia sudah berada dekat dengan Sehun. Perempuan itu mendengus‚ membatin‚ kenapa kau bisa mabuk seperti ini‚ heh?

"Lu?"

Baekhyun mengerjap mendengar gumaman Sehun dalam tidurnya. Suaranya tak begitu jelas‚ Baekhyun ragu dengan pendengarannya. Maka dari itu ia mendekat‚ berjongkok di depan wajah Sehun agar ia bisa mendengar gumaman lelaki itu lebih jelas.

"Kau tak menjawabku berarti kau sudah pulang ya?"

Perempuan asing tadi maksudnya?

Sehun menggeliat kecil. "Kupikir kau benar." ujarnya. Lantas Sehun pelan-pelan membuka mata. Ia mengerjap pelan melihat sosok Baekhyun yang menatapnya‚ menunggu kelanjutan kalimatnya.

Sebenarnya‚ saat ini Sehun sudah setengah sadar. Ia tahu kalau yang sedang menatapnya saat ini adalah Baekhyun. Kehadiran Luhan di sekitarnya tak dapat ia rasakan lagi saat itu. Luhan mungkin sudah pulang beberapa saat yang lalu. Dan Baekhyun masuk ke dalam apartemennya kemudian.

Tapi untuk apa?

"Dia benar soal apa?" tanya Baekhyun‚ tak sabar menunggu.

Ini pertanyaan yang Sehun hindari. Soal apa? Sehun sendiri masih tak tega untuk menyakiti Baekhyun meski perempuan ini telah mencampakkannya. Rasanya tak tega. Namun hatinya yang sudah tersakiti‚ benar-benar tak bisa menahan kalimat yang sudah menunggu di ujung lidah. Maka dari itu Sehun memejamkan mata kembali supaya ia tak bisa melihat wajah Baekhyun nanti‚ dan meluncurkan kalimatnya dengan begitu saja.

"Kalau hanya aku yang jatuh cinta sendirian padamu."

Mendengarnya Baekhyun pias. Ia terdiam melihat Sehun mengubah posisi menjadi memunggunginya. Ini pertama kalinya Sehun berani menyakitinya. Karena perempuan asing itu kah?

'Lu?' Siapa kau sebenarnya?



"Luhan?"

"…"

"Lu?" Yixing memilih untuk menghampiri Luhan dan menepuk bahunya. "Luhan?"

Si pemilik nama tersentak kecil. Ia hampir menjatuhkan beberapa berkas yang berada di dalam pelukannya. "Eh‚ ya? Ada apa?" tanyanya gelagapan.

"Kau melamun‚ ya?" Yixing bertanya balik.

Luhan menaikkan kedua alis. "Kau bicara padaku?" tanyanya mengalihkan topik.

Yixing menggeleng. "Yang ingin bicara padamu itu Direktur Oh."

Lantas Luhan memerah. Astaga‚ kejadian semalam itu terbayang lagi. Saat Sehun memeluknya dan ia dapat menghirup aroma tubuh Sehun. Menurutnya‚ aroma tubuh Sehun memang memabukkan‚ sih. Hanya saja saat itu tercampur aroma wine yang menyengat. Jadi Luhan ti―eh‚ kenapa ia jadi memikirkan itu?

"Luhan‚ kau melamun lagi." suara Yixing menyadarkannya‚ lagi. "Direktur Oh sudah menunggumu."

Luhan mengerjap. "Ya." jawabnya tergagap. Dengan segera ia merapikan berkas-berkas yang ia bawa dan merapihkan penampilannya. "Apa aku terlihat rapi?"

Yixing mengernyit. Ia mengangguk ragu dan kebingungan. Hendak ia bertanya‚ namun Luhan sudah keluar dari ruangan itu terlebih dahulu. Kenapa Luhan kelihatan aneh hari ini? pikirnya heran.

Sementara itu‚ setelah keluar dari ruangan‚ Luhan berhenti melangkah. Ia tercenung. Sehun sudah ada di depannya‚ bersedekap ‚ menatapnya‚ dan menunggunya. Luhan mengerjap. Ia berdeham kecil saat Sehun menghampirinya.

"Kau lupa kalau aku benar-benar butuh berkasnya saat ini?" tanyanya seraya menunjuk berkas yang dipeluk Luhan dengan dagu. Ia memiringkan wajah saat Luhan menunduk karenanya. "Kau telat lima menit. Ikut aku." dan ia berjalan mendahului Luhan setelah itu.

Luhan mengangkat wajah dan memperhatikan Sehun di sana. Luhan mendesis. Sehun menyebalkan. Sebab seharian ini Sehun berlarian kesana-kemari di pikirannya. Karena kejadian malam itu‚ saat Sehun mabuk dan memeluknya. Lalu terlintas lagi bayangan saat Sehun tersenyum padanya‚ mengatakan beberapa kalimat menyebalkan‚ juga saat Sehun berkata; "Bagaimana pula kalau aku yang jatuh cinta padamu?"

dan bagaimana kalau aku mulai menyukaimu?

Luhan mengerjap. Wajahnya memerah. Ia menepuk-nepuk pipinya sebelum berlari kecil menyusul Sehun yang menunggunya di lift. Lelaki itu masih menatapnya bahkan ketika Luhan sudah berada di sampingnya dan hanya ada mereka berdua di sana. Memperhatikan Luhan yang terus menunduk membuat Sehun tersenyum geli. Ia menepuk-nepuk puncak kepala Luhan agar perempuan itu bisa mengangkat wajah balas menatapnya.

"Apa?" sesuai dugaannya‚ Luhan bertanya seperti itu.

Sehun menggeleng kecil. "Kemarin Baekhyun datang ke apartemenku." ujarnya.

Luhan hanya mengangguk kecil. Ia sudah tahu hal itu karena ia bertemu dengan Baekhyun saat ia keluar dari apartemen Sehun.

Kemudian Sehun tersenyum dengan pandangan menerawang. "Dia mendengar ocehanku. Soal dirinya pula."

"Kau bisa tahu?" tanya Luhan‚ sedikit menyela. Namun Sehun tak mempermasalahkan hal itu.

"Aku sudah setengah sadar saat itu." jawab Sehun. Ia kembali mendahului Luhan saat pintu lift terbuka. Ada banyak orang penting di sana. Dan Luhan mengerjap saat melihat mereka berada di lantai paling atas gedung ini.

Apakah ada meeting mendadak dan ia tak tahu tentang hal itu?

"Hanya pertemuan biasa." ujar Sehun seolah ia tahu apa yang dipikirkan oleh Luhan.

Biasa kepalamu itu! Luhan menjawab dalam hati. Luhan hanya menekuk bibir saat ia menunduk.

Sehun yang melihatnya pun tersenyum gemas. Astaga‚ Luhan menggemaskan saat ini. Luhan malu? Atau ia sedang kebingungan? Ada banyak orang penting di sini dan pertemuan ini sungguh mendadak. Yixing yang memberitahukan ini pada Sehun. Sehun pikir Luhan sudah tahu soal ini dari Yixing. Tapi ternyata belum. Aih‚ apakah Luhan banyak melamun hari ini?

Mungkin iya.



"Mau kopi?"

"Ya?" Luhan mengangkat wajah setelah ia dan Sehun keluar dari ruang meeting yang berlangsung selama dua jam lebih itu. Membosankan‚ Luhan mengantuk. Ia sampai tak mengerti tentang apa yang dikatakan Sehun barusan.

Minum kopi? Sehun mentraktirnya minum kopi atau mengajaknya minum kopi? Atau lelaki itu hanya ingin membuatnya menjadi teman minum kopi?

"Kau ingin kopi? Kulihat kau sering memejamkan mata karena mengantuk."

Kemudian Luhan melirik Sehun kesal. Jadi Sehun memperhatikannya sedari tadi? Luhan senang diperhatikan Sehun‚ tapi kenapa harus saat ia mengantuk? Ini pasti karena Luhan tak bisa tidur semalaman karena bayangan Sehun memenuhi otaknya. Lelaki sinting! Bisa-bisanya ia berkeliaran di otaknya dengan senyum menawan serta suaranya saat memanggil namanya?

Sehun hanya tersenyum melihat Luhan kesal padanya. Lelaki itu tak peduli pada tatapan orang lain saat ia merangkul Luhan. Apalagi kini Luhan beralih mendelik padanya. Matanya yang bulat jadi makin bulat. Rasanya Sehun ingin mencongkel mata itu dan memasukkannya ke dalam botol berisi air. Ah‚ kenapa kedengarannya kejam sekali?

"Ish. Kau tak malu apa?" ujar Luhan sembari mencoba untuk melepaskan diri dari Sehun. Namun yang ada lelaki itu makin mengeratkan rangkulannya pada Luhan. Luhan mendengus pasrah akhirnya. "Terserahlah."

Sehun makin tersenyum lebar. Ia berbelok saat pintu lift kebetulan terbuka. Mereka tak masuk ke dalam lift. Dan itu membuat Luhan heran juga terkejut. Bukankah Sehun ingin mengajaknya turun untuk minum kopi? Tapi kenapa tak memakai lift? Atau jangan-jangan…

"Pakai tangga saja‚ ya?"

Mata Luhan makin membulat. Ia melepas rangkulan Sehun secara paksa. Ia sudah kesal sungguhan. "Hei‚ kau pikir ini lantai berapa sampai kau ingin sekali turun menggunakan tangga? Apa susahnya naik lift?"

"Supaya matamu bisa benar-benar melek." dan dengan paksa pula‚ Sehun kembali menarik Luhan untuk benar-benar turun menggunakan tangga.

Sehun kurang ajar! Rasanya Luhan ingin mengumpat di depan wajahnya!

Namun pada akhirnya Luhan hanya mampu mengeluh sakit di kaki karena high heels nya. Sialan Sehun ini. Lelaki itu dengan senyum tak bersalahnya turun terlebih dahulu dengan cepat. Bahkan Sehun dengan mudahnya berkata‚ "Ayolah. Kau ingin kafetarianya ramai?"

Nah‚ kan. Betapa mukanya sekeras dinding?!

"Aish‚ Sehun. Kakiku sakit‚ tahu." rengek Luhan. Ia berhenti menuruni tangga dan duduk di salah satu anak tangga. Kemudian Luhan melepas high heels nya hingga terlihatlah garis merah disekitar kakinya. Luhan meringis. Ia melepas sepatu tak berperasaan itu dan memijat kedua kakinya pelan.

Mendengar ringisan Luhan‚ Sehun berhenti melangkah. Ia melihat Luhan sedang kesakitan karenanya. Maka dari itu Sehun menghampiri Luhan‚ bersimpuh di depannya‚ berkata‚ "Sakit?"

"Ya." jawab Luhan kesal. Ia mendorong kening Sehun dan mulai mengomel. "Dasar tidak tahu sopan santun. Aku termasuk noona mu tapi kau―"

"Diam‚ cerewet."

Nah‚ Sehun mulai lagi. Luhan ingin mencakar wajahnya tapi kok Luhan tak rela.

"Sini. Kugendong saja."

Dan Luhan mirip kepiting rebus. Pipinya memerah saat ia menatap Sehun dengan pandangan apa maksudmu?

Sehun berdecak. Dengan segera ia menarik salah satu tangan Luhan. Namun dengan segera pula Luhan kembali menarik tangannya. Sehun berbalik padanya‚ memberinya tatapan tak mengerti.

"Kau ingin kita jadi bahan pembicaraan kalau kau menggendongku?" tanya Luhan.

Sehun terlihat berpikir sejenak. Ia memandangi kaki Luhan dan high heels berwarna hitam itu bergantian. Kemudian Sehun beralih duduk di samping Luhan. Lelaki itu melepas kedua sepatunya‚ lalu meletakkan sepatu itu di depan kaki Luhan. Luhan kebingungan melihatnya.

"Pakai saja itu." ujar Sehun sembari berdiri. High heels Luhan sudah menggantung di salah satu tangannya.

Luhan mengerjap. Ukuran sepatu Sehun besar. Sementara kaki Luhan itu kecil. Luhan membayangkan kalau ia memakai sepatu hitam kinclong itu. Apakah itu terlihat lucu?

"Cepat pakai‚ Luhan." suara Sehun membuat Luhan tersadar. Perempuan itu mendongak menatapnya dengan cengiran khasnya yang lucu.

"Ah‚ aku pakai punyaku saja." ujar Luhan sambil meraih sepatunya dari tangan Sehun.

Namun Sehun menjauhkannya dari Luhan. Membuat perempuan itu mendongak dengan bibir tertekuk menatapnya. "Kau ingin kakimu kesakitan‚ heh?"

Luhan mencibir. Dengan terpaksa ia memakai sepatu kebesaran―namun terasa nyaman di kaki Luhan― itu dan mulai berdiri. Dilihatnya Sehun hanya memakai kaos kaki kelabu ketika lelaki itu kembali berjalan mendahuluinya. Luhan mempercepat langkah‚ juga berusaha untuk tak melempar sepatu kebesaran itu dari kakinya.

"Sehun‚" panggilnya. Sehun menoleh padanya tanpa ada niatan untuk berhenti menuruni tangga. "Bisakah kau menungguku? Kau tak tahu ya kalau aku kesusahan menyusulmu?"

"Kau saja yang lambat." balas Sehun tak acuh. Luhan cemberut dibuatnya.

Pada lantai sekian‚ Sehun memilih untuk membuka salah satu pintu yang ada di sana. Kemudian terlihatlah lobi yang ramai dan kafetaria di sebelahnya. Melihat tempat yang menjadi tujuannya ramai‚ Sehun menghela napas. Ia kembali menutup pintu dan berbalik. Sudah ada Luhan di depannya saat ini. Sehun tak ingin ambil pusing. Ia menarik tangan Luhan untuk ikut dengannya. Luhan kebingungan. Bukankah tujuannya adalah kafetaria? Kenapa Sehun malah kembali mengajaknya turun ke basement?

"Sebenarnya kita mau kemana‚ sih?" tanya Luhan setengah kesal. Ia harus menyeret sepatu kebesaran milik Sehun supaya tak terlepas saat ia melangkah.

"Minum kopi di luar saja‚ ya?"

Luhan memutar kedua bola mata malas. Terserahlah. Ia sudah lelah di bawa kesana kemari oleh Sehun. Terserah Sehun saja. Lagipula seminggu lagi Sehun tak akan menjadi atasannya. Jadi ia bisa bebas jika tak ada Sehun di sekitarnya.

Tapi… Bagaimana dengan Shin Soo Hyun?

Luhan melirik Sehun yang kini membukakan pintu mobil untuknya. Lelaki itu membuatnya merasa… aneh. Atau memang perasaannya saja?

Ah‚ masa bodoh. Luhan tak ingin memikirkannya terlalu dalam.



Sehun mengajaknya ke kafe tempat di mana mereka sering bertemu. Lelaki itu menepikan mobilnya tepat di depan kafe itu dan mematikan mesin mobil. Luhan melepas sabuk pengaman‚ memakai high heels nya lagi‚ lalu berhenti saat Sehun mencegahnya. Luhan mengangkat wajah‚ bingung. "Ada apa?" tanyanya.

"Pakai saja sepatuku." jawab Sehun. Ia mengambil alih high heels Luhan dan meletakkannya di jok belakang. Kemudian ia mengambil sepatunya yang lain dan memakainya.

Luhan yang tadinya ingin menolak hanya mampu menghela napas pelan. Ia memperhatikan Sehun yang sedang memakai sepatu itu dan mengatupkan bibir. Apakah Sehun pernah bersikap seperti ini pada Baekhyun? Apakah hanya dia saja yang Sehun perlakukan seperti ini?

Tapi kenapa ia membandingkan dirinya sendiri dengan Baekhyun‚ sih?

"Ayo keluar." ajak Sehun. Luhan pun mengangguk.

Begitu masuk‚ Luhan terus saja menunduk di belakang Sehun. Ia terlalu malu‚ entah mengapa. Padahal banyak juga pelanggan yang tak menyadari bahwa kakinya berbalut sepatu hitam milik Sehun yang kebesaran. Setelah mereka duduk di salah satu meja yang kosong‚ baru Sehun mengajaknya bicara lagi sembari menunggu pesanan kopi mereka.

"Seminggu lagi aku sudah bukan lagi atasanmu." ujar Sehun memulai percakapan.

Luhan mengangguk kecil. "Ya. Kau harus kembali menjadi seorang mahasiswa." sahutnya ringan. Ia tak tahu harus menjawab apa ketika Sehun terus menatap dan memperhatikannya sedari tadi.

"Ah‚ aku akan merindukan bagaimana rasanya menjadi seorang direktur." gumam Sehun sambil menghela napas panjang. Ia terkekeh saat tersadar akan sesuatu. "Apalagi aku akan merindukan bagaimana aku menyuruhmu membawakan ini dan itu. Apakah aku terdengar jahat sekali bagimu?"

"Tidak." Luhan menggeleng kaku. Namun kemudian ia mengoreksi dengan kepala tertunduk. "Ya. Kadang kau membuatku sebal."

Sehun terkekeh. Ia memberi senyuman dan anggukan kecil pada seorang pelayan yang baru saja mengantarkan pesanan mereka berdua.

"Menyenangkan sekali ya menjadi direktur?" tanya Luhan ragu. Ia melirik Sehun sesekali saat lelaki itu tak kunjung menjawabnya.

"Bagaimana ya…" Sehun memberi jeda untuk berpikir. "Bagiku biasa saja. Jujur saja aku tak berminat menjadi seorang direktur. Aku malah berminat menjadi arsitek."

"Lalu kenapa kau menjadi direktur sekarang?" tanya Luhan‚ penasaran.

Sehun menggidikkan bahu. "Aku terpaksa." jawabnya datar.

Luhan mengangguk-angguk kecil. Ia sudah tahu tanpa Sehun melanjutkan kalimatnya. Masalah keluarga Oh sudah bukan jadi rahasia. Semua orang kantor tahu benar bagaimana Presdir Oh dan Oh Sehun. Ayah dan anak itu tak bisa berhubungan baik. Oh Jae Ho keras kepala dan Oh Sehun terlampau berkepala batu. Mereka berdua sama karena darah Oh Jae Ho mengalir dalam diri Oh Sehun. Hanya Presdir Oh dan Shin Soo Hyun saja yang dikenal memiliki hubungan baik meski Soo Hyun hanya sebatas anak angkat dari sosok Oh Jae Ho. Untuk alasan yang satu itu‚ mengapa Shin Soo Hyun dan Oh Jae Ho begitu dekat‚ semua orang kantor banyak yang tak tahu. Bahwa ada sesuatu diantara keluarga Oh itu.

"Kau sendiri…" suara Sehun kembali membuat Luhan mengangkat wajah. "…apa tak apa kalau bersama Soo Hyun hyung?"

Luhan hanya tersenyum. "Tak apa. Aku sudah menolaknya. Jadi ia tak akan berani macam-macam denganku."

"Dia orang yang gigih." sahut Sehun. Ia menyesap kopinya dan membiarkan cairan pahit nan hangat itu meluncur ke kerongkongannya. "Aku tak yakin jika dia menyerah setelah apa yang kau lakukan padanya tempo hari."

Luhan menghela napas. Sehun benar. Soo Hyun itu orang yang tak kenal menyerah. Lelaki itu pasti mengejarnya lagi dan lagi sampai membuat Luhan lelah untuk berlari. Mungkin Luhan harus memutar otak dan memikirkan cara terbaik supaya Soo Hyun bisa benar-benar jauh darinya. Dengan cara meletakkan batu di jalan perjuangannya supaya lelaki itu jatuh dan kakinya patah‚ mungkin? Iya. Supaya Soo Hyun tak dapat mengejarnya lagi.

"Apa kau dengar tentang apa yang dikatakan direktur Yeom setelah meeting tadi?" lagi-lagi Luhan dibuat tersadar oleh suara Sehun yang mengajaknya bicara. Perempuan itu mengernyitkan kening‚ mengingat-ingat. Dan Sehun berdecak melihat reaksi Luhan. "Itu. bahwa ada perayaan pertunangan putrinya dan aku diundang sebagai tamu khusus."

Luhan mendesis. Sehun sedang pamer‚ ya?

"Apakah itu mungkin karena aku tampan? Atau karena aku baik padanya saat meeting tadi?"

"Jangan terlalu percaya diri." sahut Luhan. "Mungkin beliau hanya ingin mengundangmu. Kau tak tahu ya kalau tadi beliau juga mengobrol banyak dengan direktur yang lain? Mungkin direktur Yeom juga mengundang mereka."

Sehun menahan senyum geli. "Ayo pergi bersama."

Dan Luhan hampir menyemburkan kopi yang baru saja masuk ke dalam mulutnya ke wajah Sehun. Luhan terpaksa menelannya dan terbatuk kecil. "Kau bilang apa?" tanyanya minta mengulang.

"Ayo pergi bersama. Anggap saja sebagai pertemuan terakhir sebelum kita berpisah." ulang Sehun.

Aih‚ seperti ingin pergi jauh saja‚ gerutu Luhan.

"Apa yang kau katakan? Kupikir aku masih bisa bertemu denganmu di jalan. Bukankah apartemenmu dekat dengan rumahku?"

Sehun tertawa. "Kalau itu sempat."

Luhan tak tahu harus menjawab apa lagi kemudian. Sehun berkata demikian seolah ada pembatas yang tebal sekali antara mereka berdua setelah ini. Memangnya apa salahnya jika mereka bisa bertemu di jalan atau membuat janji untuk saling bertemu? Apakah itu akan mengganggu kegiatan Sehun? Luhan bertanya-tanya‚ dan berusaha menebak jawaban atas pertanyaannya sendiri.

Memikirkannya pun membuat Luhan tak sadar bahwa sedari tadi Sehun memperhatikannya dengan senyuman kecil. Lelaki itu tahu bahwa Luhan sedang berpikir tentang jawabannya barusan. Ah‚ apakah ia terlalu menyembunyikan sesuatu dari Luhan? Sehun rasa ia mulai suka sekali menggoda-goda Luhan sampai Luhan tercenung memikirkan sesuatu tentang godaannya. Dan nanti akan berakhir seperti kejadian tempo lalu. Saat tanpa sengaja Sehun melihat rona merah di pipi Luhan setelah Luhan menyadari apa perkataannya.

Tapi kalau kalimat yang ini‚ kali ini Luhan menatapnya setengah sebal dan setengah sendu. Sehun masih tersenyum ketika perempuan itu bertanya‚ "Apakah kita bisa menjadi teman?"

"Bukankah sekarang kita ini sudah berteman?" Sehun bertanya balik.

Luhan menggeleng. Hendak ia menjawab namun getaran ponsel di sakunya membuat Luhan beralih. Perempuan itu meraih ponsel dan menemukan satu panggilan masuk untuknya. Dari Kris. Dan Luhan menghela napas membaca nama itu sebelum ia menolak panggilan. Luhan meletakkan ponselnya di meja.

"Siapa?" tanya Sehun penasaran. Ia menyadari perubahan raut wajah Luhan yang berubah menjadi muram seketika. Persis seperti Luhan yang ia lihat pertama kali di kafe ini.

"Hanya teman." jawab Luhan singkat.

"Oh…" Sehun manggut-manggut. "Apakah kau akan menolak panggilanku kalau aku menjadi temanmu?"

Luhan menaikkan kedua alis tak mengerti. "Hm?"

"Itu‚ temanmu menelpon tapi kau menolaknya. Kalau aku jadi temanmu‚ apakah panggilanku juga akan kau tolak?" jelas Sehun.

Lantas Luhan tertawa kecil. Entah mengapa‚ kalimat Sehun tersebut membuatnya tergelitik. Apakah Sehun sedang mengetesnya? Kalau iya‚ maka Luhan akan menjawab‚ "Tidak. Tergantung suasana hati."

"Ah‚ jadi suasana hatimu sedang buruk." gumam Sehun. Ia menggangguk-angguk kecil dan itu membuat Luhan terkekeh geli.

"Jangan sok peka. Kau tak tahu bagaimana perasaan seorang perempuan sepertiku." sahut Luhan. Perempuan itu pura-pura kembali menyesap kopinya ketika tahu bahwa lagi-lagi Sehun memperhatikannya. Luhan melirik ke arah lain‚ tak ingin tahu Sehun memperhatikannya dengan pandangan seperti apa. Hanya saja akhir-akhir ini Sehun selalu memperhatikannya‚ juga memandanginya. Luhan malu‚ tahu! Luhan jadi berpikiran aneh-aneh kalau Sehun terus melakukan ini padanya.

Tiba-tiba pandangan matanya berhenti pada satu titik. Luhan berhenti menyesap kopi dan menurunkan cangkir begitu melihat seorang lelaki yang begitu dikenalnya masuk ke kafe. Awalnya lelaki itu tak tahu keberadaan Luhan. Namun ketika lelaki itu mengedarkan pandangan untuk mencari tempat duduk‚ pandangan mereka bertemu. Luhan membeku di tempat dan ia tak bisa bergerak. Lelaki itu menatapnya dengan pandangan menusuk dan dingin.

Entah mengapa‚ kali ini‚ Luhan tak bisa membalas dengan tatapan yang sama. Entah mengapa‚ kali ini‚ Luhan merasa rapuh. Ia hanya diam dan berusaha memberi tahu Sehun bahwa ia sedang dalam bahaya. Luhan hanya mampu memanggil Sehun dengan terbata-bata saat lelaki itu mendekatinya.

"Se-hun‚"

"Hm‚ ya?"

"Pe-pergilah." ujar Luhan terbata-bata lagi.

"Kenap―" dan ucapan Sehun terputus saat tiba-tiba ia melihat seorang lelaki yang pernah ditemuinya menarik salah satu lengan Luhan. Luhan meringis dan menunduk. Ia kelihatan kesakitan dan Sehun tak tahu harus berbuat apa.

Lelaki yang tak Sehun kenal itu berkata‚ "Ah‚ ternyata kau bersama seorang lelaki setelah menolak panggilanku."

Luhan diam. Dan tiba-tiba seluruh mata pengunjung memandang ke arah Luhan. Sehun yang menyadarinya pun berdiri‚ ikut menengahi Luhan dan lelaki ini.

"Hei‚ siapa kau ini? Kenapa kau―"

"Kau bertanya siapa aku?" sela lelaki itu. Ia menunjuk dirinya sendiri dengan senyum meremehkan. "Kau hanya atasannya. Sementara aku adalah tunangannya." dan ia menekankan status antara dirinya dan Luhan pada Sehun. "Jadi biarkan kami pergi menyelesaikan masalah ini."

Sehun mengerjap melihat lelaki itu menarik Luhan untuk ikut dengannya. Luhan terlihat sempat melihatnya sebelum perempuan itu keluar dari kafe. Seperti ingin berkata sesuatu‚ namun sulit untuk dikatakan. Sungguh sebenarnya Sehun ingin bertindak‚ ingin pula melindungi Luhan dari tunangannya yang brengsek itu. Tapi entah mengapa‚ ada sesuatu yang menahannya. Seolah apa yang dikatakan Luhan tadi adalah kalimat untuk membuatnya tenang.

Pe-pergilah―tak apa jika aku yang sakit―asal jangan kau…



Sehun bimbang. Sudah satu jam berlalu dan ia masih tak tahu harus melakukan apa. Di depannya ada ponsel Luhan yang tertinggal‚ dan cangkir kopi milik Luhan yang isinya tinggal seperempat. Ia yakin sesuatu telah terjadi pada Luhan mengingat bagaimana kasarnya tunangan Luhan yang tak ia kenali itu. Namun Sehun masih ingat‚ bahwa lelaki itu adalah lelaki yang menjemput Luhan di kantor waktu itu. Sehun tak pernah menanyakan siapa nama lelaki itu. Yang ia tahu‚ lelaki itu adalah adik dari Yifan‚ orang yang tak bisa dilupakan Luhan.

Sehun menghela napas. Ia bangkit dan membereskan barang Luhan di meja untuk dibawanya. Ia harus pulang. Sudah malam dan ia juga bingung harus melakukan apa. Menyusul Luhan? Atau membiarkan Luhan kelihatan takut bersama lelaki tadi?

Ya‚ Sehun melihat Luhan ketakutan saat perempuan itu pergi dan sekilas melihatnya. Sehun tahu itu takut. Tapi takut kenapa?

Memikirkannya pun membuat Sehun mendesah berat. Ia tak ingin mengurusi urusan orang lain‚ apalagi urusan Luhan. Sebab Sehun takut jika ia benar-benar jatuh hati pada perempuan itu. Sehun takut menyakiti Luhan setelah apa yang Luhan dapatkan dari Yifan. Sehun takut―eh‚ kenapa ia malah merasa seperti itu?

Tanpa peduli tentang pikirannya barusan‚ Sehun menyalakan mesin dan menginjak pedal gas. Namun tanpa sengaja ia melihat tas milik Luhan di jok penumpang. Tas itu terbuka‚ ada beberapa barang milik Luhan yang terlihat. Kemudian Sehun melihat ponsel Luhan di dekatnya. Tiba-tiba ada sesuatu yang mengganjal di pikiran. Ia kembali meraih ponsel itu dan membukanya.

Puluhan pesan dari orang yang sama‚ yang tak pernah dibuka dan dibaca oleh Luhan‚ pun tanpa sengaja terbuka. Sehun membaca nama pengirimnya‚ Kris. Dan ia membaca pesan-pesan itu.

27 Juli 2015‚ 01.35 p.m.

Kau ada di mana?

Tak membalas? Baiklah.

Kau mengabaikanku?

30 Juli 2015‚ 08.00 p.m.

Hei‚ Luhan. Aku di depan rumahmu. Keluarlah.

Kau tak lelah kan?

2 Agustus 2015‚ 11.53 a.m.

Aku melihatmu. Jangan tertawa bersama lelaki itu. Aku tak suka melihatmu tertawa bersamanya.

4 Agustus 2015‚ 04.42 p.m

Kau tak mengangkat telponku?

Oh. Ternyata kau bersamanya. Apakah kau tak mendengarku waktu itu? Kau tak ingin keluar sekarang?

Baiklah jika itu yang kau inginkan.

Sehun mengernyit. Lelaki lain? Dirinya maksudnya? Jadi lelaki asing tadi yang mulai ia ketahui bernama Kris itu cemburu padanya. Loh‚ memang apa salahnya? Sehun berpikir‚ lalu kembali membaca pesan terakhir dari Yifan. Otaknya secara cepat menangkap sesuatu. Pasti akan ada sesuatu yang terjadi pada Luhan.

Ya‚ sesuatu pasti terjadi.

Maka dari itu Sehun benar-benar melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah Luhan. Rumah Luhan kelihatan sepi saat Sehun sampai di sana‚ pagar kayunya terkunci. Hanya ada mobil hitam yang diyakini Sehun milik Kris terparkir di depan rumah perempuan itu. Sehun turun dari mobil‚ melompati pagar‚ lalu segera mendobrak pintu yang terkunci setelah suara teriakan Luhan terdengar oleh Sehun.



"Kris…" suara Luhan terdengar parau ketika memanggil nama lelaki yang mengurungnya di dalam kamar saat ini. "Tolong bukakan pintunya dan aku akan menjelaskan semua ini."

"Apa yang akan kau jelaskan?" jawab Kris santai sebelum menyesap kopi yang uapnya hangat itu. Ia melirik pintu yang digedor-gedor Luhan dari dalam dan tersenyum miring. "Bukankah sudah kubilang padamu bahwa jangan dekat-dekat dengan direkturmu yang itu?"

"Kau tak mengerti‚ Kris. Dia bukan atasanku!" teriak Luhan. Ia menggedor-gedor pintu dan berusaha untuk membuka pintu kamarnya sendiri.

"Kau sudah keracunan‚ Luhan. Sudah jelas kau sering menolaknya tapi kenapa kau masih saja dekat dengannya? Kau sudah benar-benar menyukainya? Kau kena guna-guna!"

"Itu bukan Sehun!" Luhan merengek lagi. Ia mulai menangis. Apa-apaan Kris ini?! Beberapa hari yang lalu lelaki itu menebak kalau Luhan mulai menyukai Sehun dan Kris terlihat biasa saja ketika mengatakannya. Lalu sekarang‚ Kris berlaku seperti ini padanya dan mengira bahwa Sehun itu Soo Hyun. Aih‚ yang benar saja!

"Kris!"

"Berhenti menyebut namaku!"

"Kris!"

"…"

"Kris Wu!" Luhan menggedor lebih keras. Ia memanggil nama Kris lagi namun yang ada dirinya terlempar. Kris membuka pintu dan mendorongnya dengan keras. Luhan sampai terlempar ke belakang karenanya.

"Sudah kubilang jangan panggil namaku!" Kris benar-benar marah. Ia terlihat menakutkan bagi Luhan. "Luhan‚ dengar. Aku sudah cukup bersabar menunggumu‚ melindungimu‚ menyayangimu sama seperti apa yang kakakku lakukan untukmu. Aku benci mendengar namaku kau panggil dengan tangisan seperti itu. Itu seolah aku telah menyakitimu."

"Memang kau telah menyakitiku!" giliran Luhan yang membentak dengan marah. Ia melepas cincinnya‚ menunjukkannya pada Kris sembari berkata‚ "Selama Yifan pergi‚ kau memakai cincinnya. Bukan berarti kau menjadi tunanganku‚ Kris. Aku masih menjadi tunangannya Yifan." dan berteriak pada kalimat akhirnya‚ "Dan aku benci bertunangan dengan orang mati!" sembari melempar cincin itu ke sembarang arah.

Bersamaan saat itu juga suara pintu depan yang terbuka secara keras‚ terdengar. Ada seseorang yang masuk dan itu membuat Kris maupun Luhan menoleh ke sumber suara. Derap langkah seseorang pun terdengar terburu-buru. Kris berdiri dan hendak keluar untuk memeriksa siapa itu. Namun ketika lelaki itu menghilang dari pintu‚ suara tonjokan keras terdengar dan Kris jatuh ke lantai. Luhan menganga. Astaga‚ apa yang terjadi?

"Apa yang kau lakukan pada Luhan sampai Luhan berteriak seperti itu‚ hah?!"

Sehun! Itu suara Sehun!

Luhan mengerjap. Ia seolah membatu dan tak bisa berkata apa-apa saat Kris menutup pintu kamarnya. Tak ada suara yang terdengar lagi. Luhan kembali mencoba untuk membuka pintu namun pintunya lagi-lagi terkunci. Luhan mendesah keras. Ia menggedor-gedor pintu‚ memanggil nama Kris lagi. Namun yang datang adalah Sehun. Lelaki itu yang membukakan pintu dengan wajah cemasnya.

"Apa kau ba―"

"Ah‚ Sehun." dengan cepat Luhan memeluk Sehun. Ia menangis di sana. Luhan tak peduli lagi Kris akan datang dan membentaknya lagi. Luhan tak peduli jika sekarang Sehun membeku karenanya.

Sudah cukup ia menjadi pemberontak untuk Kris. Luhan sudah lelah. Biar dia jatuh ke pelukan lelaki lain. Ia tak peduli apa yang akan terjadi selanjutnya. Sama sekali tak peduli.


To be continued…


Haaiii! Aku balik! Dan senang rasanya bisa lanjutin ff ini lagi :))

Maaf ya aku udah nelantarin ff ini lama‚ buat kalian nunggu‚ aku bukan PHP tapi :3

Ada banyak hal yang harus aku lakuin disamping ngerjain ff ini juga ff yg Lucky One itu. Real life emang bikin pusing‚ aku susah atur jadwal dan sering kecapekan. :3 Maafkeun~

Ah iya. Sampe sini aja ya. Maaf kalo ada typo yang berceceran di sini. Aku udah check dan semoga nggaada yang ketinggalan hehe.

See you in next chapter! Tetaplah bersabar menungguku :)))