Suasana malam itu ramai. Disebuah ballroom berdesain eropa yang elegan itu‚ banyak orang yang datang. Gelas wine serta suara dentingannya ada di mana-mana. Luhan yang berada diantara mereka‚ duduk sendiri‚ bingung harus melakukan apa‚ hanya mampu melihat mereka yang tersenyum saat berbicara. Formalitas. Biasanya hati mereka berbau busuk.

Kembali menilik pukul berapa sekarang lewat ponselnya‚ Luhan mendengus. Ini sudah lebih dari setengah jam ia menunggu. Sementara menunggu membuatnya jenuh‚ yang ditunggu belum datang juga. Luhan ingin sekali mencakar wajah Sehun yang dengan seenak jidatnya menyeretnya ke sini. Hei‚ lelaki itu belum datang sampai sekarang!

Luhan pun tak tahu kenapa ia mau-mau saja diseret ke acara seperti ini.

Mendengus lagi‚ Luhan memutar kepala. Ia sedang mencari Sehun di tengah ramainya tempat itu. Tak ada tanda-tanda kehadiran Sehun. Bahkan tidak ada lagi yang masuk lewat pintu utama di depan sana. Luhan menghela napas pelan. Apakah seharusnya ia pulang saja?

"Ah‚ sekretaris Xi?"

Luhan yang baru saja bangkit mendadak terkejut namanya dipanggil oleh seorang pria. Luhan membalik badan‚ lalu tersenyum pada direktur Yeom―si pemilik acara ini― yang tadi memanggilnya.

Pria berwajah bulat itu tersenyum senang. Ia berkata‚ "Kau benar-benar datang‚"

Luhan meringis. "Ya." jawabnya canggung. Ia tak tahu harus berkata apa lagi pada pria ini.

"Lalu Oh Sehun tidak bersamamu?"

Luhan menggeleng ragu. "Dia belum datang. Mungkin sebentar lagi sampai."

Direktur Yeom mengangguk-angguk. Ia tahu betapa ramainya jalanan kota malam ini. Mungkin direktur muda itu terjebak macet. Kemudian direktur Yeom pamit dan Luhan mengiyakan. Perempuan itu menghembuskan napas lega karenanya.

Bukankah ini kesempatannya untuk pulang?

Luhan menggidikkan bahu sekilas. Ia mulai melangkahkan kaki untuk keluar dari acara membosankan ini. Baru saja ia mengambil tiga langkah‚ seseorang menarik tangannya. Membuat Luhan berbalik‚ dan terkejut sampai ingin berteriak.

Kenapa ada Shin Soo Hyun disini?

"Soo Hyun?"

"Ikut aku."

Luhan sungguh tak bisa berkata apapun saat lelaki itu menariknya. Ia juga tak bisa memberontak dengan keras karena Soo Hyun mengekangnya dengan kuat. Mereka melewati ballroom yang ramai‚ lalu berhenti di taman belakang. Hanya ada mereka berdua di sana. Dan Luhan merasa aneh berdua dengan lelaki ini di sini.

"Kenapa kau membawaku kesini?" tanya Luhan. Ia melepaskan tangannya dari Soo Hyun dan kembali berjalan menjauh. Namun dengan segera Soo Hyun mencegahnya. Luhan menghadapnya‚ menatapnya sengit‚ lalu berkata. "Aku harus pergi."

"Aku hanya ingin bertanya."

"Lalu kenapa membawaku kesini?"

"Ada hubungan apa kau dengan Oh Sehun?"

Luhan yang hendak menjawab mendadak jadi membisu. Ia tak tahu kenapa Soo Hyun bertanya seperti tadi padanya. Soo Hyun cemburu? Atau―tapi raut wajahnya tak menunjukkan hal itu. Soo Hyun menunjukkan wajah serius‚ dengan tatapan mata tajam dan suara tegas. Luhan bingung. Memangnya kalau Soo Hyun menyembunyikan kecemburuannya tentang kedekatannya dengan Sehun menggunakan ekspresi seperti itu‚ bisa Luhan percaya?

Luhan mengerutkan kening kemudian. "Apa urusannya denganmu?"

"Ini urusanku."

"Urusanku bukan urusanmu."

"Tapi urusan Sehun juga urusanku!"

Luhan makin mengerutkan kening tak percaya. Astaga‚ keras kepalanya Soo Hyun mulai kambuh. Kenapa pula Luhan harus dihadapkan pada lelaki yang keras kepala? Seperti Soo Hyun dan Kris‚ misal.

"Kenapa jadi urusanmu?"

Suara lelaki lain yang datang dari belakang tubuh Soo Hyun membuat Luhan mengerjap. Itu suara Sehun! Luhan merasa sulit untuk menelan ludah ketika lelaki itu berdiri diantara dirinya dan Soo Hyun. Sehun tampan dengan setelan serba hitam itu. Serius! Luhan ingin pingsan melihat Sehun.

Terlihat Soo Hyun yang menyeringai penuh ejekan pada Sehun. Ia menjawab‚ "Kita masih berkeluarga‚ ingat?"

"Keluarga?" Sehun bersedekap‚ terkekeh sinis. "Kukira ibumu yang menyelundup masuk ke keluargaku."

Mendengarnya Soo Hyun kelihatan jengkel. Matanya memerah menahan emosi. Sehun sudah membuatnya naik darah. Sementara kedua lelaki itu berdebat‚ Luhan hanya diam. Ia tak tahu apa maksud kalimat Sehun. Dari awal memang Luhan tak ingin tahu apa masalah keluarga besar Oh yang dikenal tak pernah akur itu―terutama Oh Sehun dan Shin Soo Hyun. Tapi kini nampaknya ia telah terseret ke dalam urusan keluarga itu. Melihat Soo Hyun membawa-bawa nama Luhan ke dalam perbincangannya.

"Luhan tak ada sangkut pautnya denganmu." balas Sehun. Ia mulai menahan amarahnya‚ sepertinya begitu.

"Seharusnya aku yang bilang seperti itu padamu‚ adikku."

Sehun mengerut tak suka. Sungguh ia benci disebut seperti itu oleh Shin Soo Hyun. Itu menandakan bahwa mereka adalah benar-benar saudara. Padahal pada kenyataannya‚ memiliki ikatan darah saja tidak ada. Dan berani-beraninya Soo Hyun mengatakan hal itu padanya‚ sekarang‚ bersama Luhan pula.

Tak ingin membuat keributan‚ Sehun mencoba untuk tenang. Ia tak menanggapi apapun selain menarik tangan Luhan untuk ikut dengannya. Sementara itu‚ Luhan hanya diam. Sehun sedang marah. Ia tak ingin Sehun mengamuk saat ini kalau ia bicara hal yang tidak-tidak. Maka untuk berjaga-jaga‚ Luhan memilih untuk diam.

Sehun membawanya kembali ke ballroom. Musik waltz mengalun dan membuat beberapa orang berdansa disana. Sehun berhenti diantara mereka yang berdansa. Lelaki itu menatap Luhan yang kebingungan‚ membuat Luhan salah tingkah dan merasa aneh sendiri. Luhan menunduk dalam keheningan diantara mereka. Yang ia dengar saat ini adalah bisik-bisik halus para perempuan di sekitarnya tentang Sehun.

Ah‚ Luhan lupa kalau Sehun benar-benar terkenal di sini. Siapa yang tak kenal dengan putra kandung Oh Jae Ho‚ pemilik perusahaan terbesar di Korea Selatan itu?

"Kau menunggu lama?"

Luhan mengangkat wajah‚ memandang Sehun dengan bingung lagi. "Maksudnya?"

"Aku baru datang. Kau pasti menunggu." jelas Sehun.

Luhan meringis. "Sebenarnya tadi aku ingin pulang saja." dan ia tak bisa menahan rona di pipi saat Sehun tersenyum karena itu.

"Maaf." Sehun berkata dengan lembut. Luhan meleleh rasanya. Namun perempuan itu membalas dengan senyum simpul untuk menutupi kegugupannya.

Sehun ikut tersenyum melihat senyum itu. Bagus‚ ia telah membuat Luhan tersenyum seperti keinginannya. Lelaki itu meraih dan menarik kedua tangan Luhan. Salah satunya ia letakkan di pundak sementara yang lain ia genggam di tangannya. Itu membuat Luhan terkejut. Dengan refleks Luhan menarik diri. Sehun tersenyum kegelian.

"Kenapa?"

"Aku tidak bisa berdansa." jawab Luhan terbata-bata.

"Kau pikir aku juga bisa?" Sehun kembali menarik Luhan. "Kita ikut-ikutan saja apa masalahnya?"

Setelah itu Luhan seperti boneka. Sungguh ia tak bisa menggerakkan tubuhnya dengan perintah otak. Sehun yang mengendalikannya karena sedari tadi lelaki itu menatapnya. Luhan ingin menutup mata‚ tidak bisa. Luhan ingin mengalihkan pandangan‚ tidak bisa. Luhan ingin menunduk pun‚ tidak bisa. Sehun benar-benar mengendalikannya dengan baik.

Aish! Kubur saja dirimu‚ Luhan!



Setelah dansa dan kabur dari acara sialan itu―juga kabur dari Soo Hyun yang sedari tadi memperhatikan Luhan―‚ Sehun mengantar Luhan pulang. Sudah sangat larut. Luhan sampai terkantuk-kantuk di mobilnya. Bahkan saat Sehun berbicara‚ Luhan tak menanggapi karena ia tertidur. Sehun tersenyum melihatnya. Luhan pasti lelah.

Menghentikan mobilnya‚ lantas Sehun melihat Luhan. Luhan sudah nyeyak dalam tidur. Sehun keluar dari mobil‚ membuka pintu mobil di sebelah Luhan. Ia melepas sabuk pengaman Luhan hingga membuat Luhan hampir terjatuh. Dengan tanggap Sehun menangkapnya. Luhan yang terganggu‚ akhirnya terbangun. Ketika ia membuka mata‚ sudah ada wajah Sehun di depannya. Luhan memerah. Baru bangun tapi jantungnya sudah bekerja secara abnormal. Jangan sampai ia terkena serangan jantung!

"Sudah bangun kan? Keluar sana." suara Sehun pun membuyarkannya. Membuat Luhan merengut kesal dibuatnya.

Tanpa berkata apapun‚ Luhan mendorong Sehun dan keluar dari sana. Wajahnya tertekuk lucu. Sehun tak bisa menahan tawa melihat wajah perempuan itu.

"Sudah malam. Pulang sana." ketus Luhan. Ia berbalik dan membuka pagar rumah.

"Kau tak ingin bersamaku lebih lama?"

Luhan berhenti melangkah. Dadanya berdebar setelah mendengar kalimat itu keluar dari mulut Sehun. Ketika ia memutuskan untuk berbalik‚ Sehun sedang memandangnya. Luhan merinding melihat pandangan itu dari Sehun. Luhan menelan ludah‚ bertanya‚ "Apa maksudmu?"

"Mulai besok aku tak akan ada di kantor lagi." jelas Sehun. Ia berjalan menghampiri Luhan kemudian. "Aku khawatir kau akan merasa terganggu dengan Soo Hyun hyung."

Luhan tersenyum. "Aku sudah terbiasa. Kau tak perlu khawatir."

Ya‚ lagipula kenapa Sehun harus merasa khawatir? Bukankah sebelum Sehun menjadi direktur‚ Luhan bisa mengatasi masalah cinta bertepuk tangannya Soo Hyun?

"Meskipun begitu‚ kita bisa bertemu di jalan kan? Atau kau juga bisa mampir ke rumahku kalau kau mau."

Sehun terdiam. Ia tak tahu kenapa ia merasa sakit mendengar hal itu. Ini bukan salam perpisahan. Bukan juga pertemuan terakhir. Tapi kenapa melihat senyum serta tawaran Luhan saat ini membuat dada Sehun berdenyut nyeri?

Dan sebuah ingatan di masa lalu pun menjawab pertanyaannya. Saat ibunya pergi jauh hanya karena seorang wanita.

"Sehun?" Luhan membuyarkan lamunan singkatnya. "Kau dengar aku kan?"

Sehun mengangguk. "Ya‚ tentu." jawabnya sambil tersenyum simpul. "Mungkin aku akan mampir. Kalau aku bisa."

Dan senyum cerah mengembang di bibir Luhan. "Bilang saja padaku kalau kau ingin mampir."

Sehun tersenyum. Dipandanginya wajah Luhan yang tersenyum itu kemudian. Luhan benar-benar cantik. Meski hanya dress sederhana berwarna baby blue yang ia pakai‚ meski hanya make up tipis serta jepit kecil berpita lucu yang berwarna senada di rambutnya‚ Luhan masih kelihatan cantik. Dalam pandangannya‚ hanya Luhan yang bersinar seperti cahaya rembulan. Dan Luhan yang bersinar itu kembali membuyarkan lamunannya dengan mengibaskan tangan di depan wajah Sehun.

"Eh‚ ya?"

Luhan tertawa. Manis sekali. "Aku masuk dulu." ujarnya sambil menunjuk rumah dengan ibu jari. "Cepatlah pulang. Aku akan melihatmu."

Sehun menggeleng. "Kau saja yang masuk duluan. Biar aku pulang setelah kau benar-benar masuk."

Luhan merengut.

"Kau ingin Kris masuk dan menganiaya dirimu lagi?"

"Kenapa kau berkata seperti itu?"

"Karena aku khawatir. Tentu saja."

"Kalau begitu bawa aku ke apartemenmu lagi."

Sehun menahan tawa. Sementara itu‚ Luhan yang baru saja menyadari kalimatnya‚ merona malu. Astaga‚ apa yang baru saja kau ucapkan‚ mulut sialan?

"Tidak―bukan maksud―"

"Ya sudah. Ayo pulang ikut aku."

"Ya!"



"Luhan‚"

Si pemilik nama pun menoleh. "Ya‚ Yixing?"

"Untukmu." ujar Yixing sembari meletakkan sebuah kotak berukuran kecil di meja Luhan.

Luhan mengerutkan kening melihat kotak itu. "Dari siapa?" tanyanya sambil meraih kotak itu.

"Lihat saja sendiri‚"

"Dari Soo Hyun kah?"

Yixing hanya menahan senyum dan menggidikkan bahu.

"Kalau dari Soo Hyun aku tak ingin melihatnya. Kembalikan saja ini." kata Luhan. Kotak itu diletakkan kembali ke meja dan ia mulai fokus ke layar komputernya.

Yixing berdecak kecil. Setelah insiden yang menggemparkan kantor tentang Soo Hyun yang ditolak Luhan waktu itu‚ memang Yixing tak pernah melihat Soo Hyun dekat-dekat lagi dengan Luhan. Lelaki yang kini telah kembali ke kursi direkturnya itu justru bersikap biasa saja dengan Luhan. Mungkin Soo Hyun sudah melupakan rasa sayangnya pada Luhan. Tapi kenapa bisa cepat sekali?

"Kau benar-benar tak ingin melihat isinya?" tanya Yixing‚ mencoba untuk membujuk.

"Aku tidak mau." jawab Luhan masih fokus dengan komputernya.

Yixing menghela napas pelan. Ia hanya melihat Luhan tanpa ada niatan untuk mengambil kembali kotak berwarna biru toska itu. Yixing hanya bergumam‚ "Ya sudah‚" dan pergi dari sana.

Sudah lebih dari dua minggu ini Luhan tak pernah melihatnya lagi. Sehun kembali ke aktivitasnya menjadi seorang mahasiswa. Lelaki itu tak pernah kembali ke kantor dan memperlihatkan batang hidungnya. Luhan merasa sepi‚ serius. Karena teman di kantor yang bisa membuatnya tersenyum dan merasa jengkel sendiri‚ ya hanya Sehun.

Luhan berhenti mengetik. Ia menghela napas lelah seraya mengistirahatkan punggungnya yang pegal pada sandaran kursi. Luhan meraih ponsel‚ tak ada pesan masuk dari Sehun yang selama ini ia harapkan kehadirannya. Sialan‚ apa Luhan sedang merindu sekarang ini?

Mengetuk-etuk sisi ponsel dengan jari‚ Luhan berpikir. Ia ingin mengirim pesan pada Sehun‚ tapi ia juga takut mengganggu waktu lelaki itu. Luhan ragu. Berkali-kali ia berpikir dan akhirnya memutuskan untuk ya―dirinya yang akan mengirim pesan!

Hai‚ Sehun.

Luhan menggeleng. Tidak! Hapus hapus!

Hei‚ kenapa kau tak mengirimiku pesan?

Luhan menggeleng lagi. Itu terlalu agresif!

Sehun‚ apa kau sibuk?

Luhan menimang-nimang. Ya‚ ini pesan awalan yang cocok. Luhan pun mengirimnya meski sebenarnya ia ragu.

Setelah itu Luhan menunggu. Ia menunggu‚ menunggu‚ dan menunggu. Jarum detik terus bergerak mengikuti waktu. Luhan memandanginya‚ dan ia merasa bosan. Berkali-kali ia mengecek ponselnya namun Sehun tak kunjung membalas juga. Luhan menghela napas. Mungkin Sehun sibuk. Ya‚ mungkin begitu.

"Ish!" Luhan bergumam kesal. "Kenapa aku merindukan orang sepertimu?!" monolognya. Luhan merengut‚ mengutuk diri sendiri‚ dan ia benar-benar kesal. Entah pada dirinya sendiri atau pada Sehun.

Kemudian tanpa sengaja pandangannya tertuju pada kotak kecil yang masih ada di mejanya. Luhan mengerutkan kening. Yixing belum mengembalikannya‚ ya? Luhan berdecak sambil meraih kembali kotak kecil itu. Ia memandanginya sebentar‚ lalu menyimpannya di laci. Ia akan mengembalikannya pada Soo Hyun sendiri kapan-kapan.

Tapi…

Tiba-tiba Luhan merasa penasaran. Luhan ragu untuk menyimpan kotak itu dan ia mulai tertarik untuk membukanya. Dengan was-was juga waspada‚ Luhan memastikan bahwa Yixing tak melihat adegan dimana ia sedang membuka kotak yang sudah jelas-jelas ditolaknya tadi. Setelah merasa aman‚ Luhan membukanya. Dan ia tak tahu harus berkata apa sekarang.

Di dalam kotak itu ada sebuah permen cokelat dan kertas kecil yang terlipat rapi. Luhan mengambil kertas itu‚ membukanya‚ dan membacanya.

Ayo minum kopi bersama. Kafe dekat rumahmu jam delapan malam.

-Sehun-

Dan senyum Luhan berkembang cerah. Luhan senang sekali.



Sesuai ajakan Sehun‚ Luhan menunggu di kafe. Sengaja ia datang lebih awal karena ia benar-benar malas bertemu dengan Soo Hyun. Jadi setelah pulang kerja hari itu‚ Luhan langsung melesat ke kafe dan menunggu Sehun. Tak apalah‚ pikirnya. Sekali-kali menunggu seorang lelaki yang mengajaknya minum kopi bersama.

Sudah pukul delapan malam ketika Luhan mengecek waktu di jam tangannya. Luhan memperhatikan pintu masuk‚ belum ada tanda-tanda kehadiran Sehun. Luhan menghela napas pelan. Di luar hujan. Pasti Sehun sedang berteduh. Jadi ia menunggu‚ mencoba untuk bersabar‚ sembari melumat permen cokelat pemberian Sehun yang mulai ia lahap.

Luhan masih menunggu. Menunggu dan menunggu. Sampai permen cokelatnya lumer di lidah dan habis bersama salivanya. Luhan mengecek waktu lagi. Lima menit berlalu. Sehun juga belum datang. Setelah itu ponselnya juga ikut ia cek. Siapa tahu Sehun mengiriminya pesan‚ meminta untuk bersabar sedikit lagi karena hujan masih saja sederas tadi. Namun yang diharapkan sama sekali tidak ada. Sehun tak mengiriminya pesan‚ dan itu membuat Luhan menghembuskan napas pelan.

Meskipun begitu‚ Luhan tetap menunggu. Sampai hujan reda pun tak apa. Jujur‚ ia rindu pada Sehun. Jadi ia akan tetap menunggu. Luhan yakin Sehun pasti datang. Hanya saja Luhan tak tahu itu kapan.

Lima menit lagi?

Sepuluh menit lagi?

Setengah jam lagi?

Atau malah berjam-jam lagi‚ Luhan tak tahu.

Ia hanya ingin menunggu Sehun. Tak peduli apapun.

Hujan masih terus turun. Di luar sana banyak orang-orang yang berlalu-lalang dengan payung. Luhan memandangi mereka‚ dengan berpangku tangan‚ dan berwajah muram.



"Senyum-senyum saja."

Sehun meringis setengah kesal. "Iri saja." sahutnya.

Sementara Jongin yang sedari tadi sudah menahan tawa‚ akhirnya tertawa saat Kyungsoo merengut dibalas seperti itu oleh Sehun. Baginya melihat Kyungsoo merengut kesal itu menyenangkan. Bibir perempuan itu seperti minta dicium meski Kyungsoo akan menendangnya karena perempuan itu tak ingin bibirnya disentuh seseorang sampai ia menikah. Lucu sekali.

"Kenapa tertawa?" tanya Sehun pada Jongin. Ketika Jongin masih saja tertawa dan Sehun mulai sadar apa yang membuat lelaki itu tertawa‚ Sehun menepuk lengan Jongin dengan gulungan kertas di tangannya. "Terus saja tertawa! Lebih baik gunakan otakmu dan kerjakan bagianmu dengan baik!"

"Loh?" Kyungsoo kebingungan saat melihat Sehun bangkit dari kursi dan membereskan buku-buku miliknya ke dalam tas. "Kau mau pergi?"

Sehun mengangguk. "Ada janji." jawabnya. "Kirimkan saja bagianku lewat e-mail. Biar aku yang menyelesaikan di rumah."

"Oke!" Jongin yang menjawab. Sementara Kyungsoo yang sebenarnya ingin protes jadi merengut kesa; pada lelaki tan di sebelahnya itu.

Setelah itu‚ Sehun benar-benar keluar dari perpustakaan kampus. Di luar hujan lumayan deras. Dan Sehun lupa tak membawa payung. Melihat langit gelap yang menumpahkan hujan‚ Sehun mendesis. Dilihatnya jam tangan‚ pukul delapan kurang beberapa menit. Sembari mengerang pelan karena tak ingin Luhan menunggu lama‚ Sehun nekat menembus hujan. Terserah ia basah kuyup nanti. Yang penting ia ingin bertemu Luhan.

Sebab ia sudah tak bisa menahan rindu.

Sehun berlari sembari menutupi wajah dengan lengannya. Kakinya yang panjang digunakan untuk melompati genangan air dan berusaha untuk memperlebar langkah supaya ia bisa cepat-cepat bertemu dengan Luhan.

Namun tiba-tiba‚ karena tangannya menghalangi pandangannya‚ Sehun menabrak seorang perempuan hingga perempuan itu terjatuh. Sehun berhenti berlari untuk menolong perempuan yang kesakitan di sana. Begitu Sehun membantunya berdiri‚ Sehun tak bisa berkata apapun saat tahu bahwa perempuan itu adalah Baekhyun.

"Baek―"

"Ah!" Baekhyun terjatuh lagi dengan ringisan sakit. Pergelangan kakinya terasa ngilu. Ia melepas kedua high heels yang ia pakai lalu menghempaskan tangan Sehun yang hendak membantunya.

Sehun mengerjap. Apa yang dilakukan Baekhyun?

"Ini sakit. Jangan disentuh." katanya.

Baekhyun mencoba untuk berdiri‚ namun ia jatuh lagi. Sehun yang menangkapnya. Dan lelaki itu mulai khawatir. Ia melirik sekilas pergelangan kaki Baekhyun dan menghela napas. "Kakimu terkilir." kata Sehun. Ia berjongkok di depan Baekhyun kemudian.

Baekhyun memandangi punggung Sehun dan ia mulai mengerti. Meski sebenarnya ia mau‚ Baekhyun justru berkata‚ "Aku baik. Tidak perlu seperti itu."

"Kalau kau memaksa kakimu untuk berjalan. Sakitnya justru bertambah parah."

Baekhyun mengulum bibir bawah. Ia senang. Sehun perhatian dan masih khawatir padanya. Dengan menahan senyum‚ Baekhyun merangkul leher Sehun dari belakang dan naik ke punggungnya.

Sehun membawa Baekhyun ke rumah sakit terdekat. Dengan hujan-hujanan. Dan lupa bahwa ia punya janji dengan Luhan.



Sampai sekarang Sehun belum datang. Bahkan di pukul sepuluh malam‚ Sehun tak kunjung menunjukkan batang hidungnya.

Hujan sudah reda. Sedangkan kafe sudah ditutup. Dan Luhan tak bisa menunggu Sehun di dalam lagi. Perempuan itu menyandarkan punggung pada dinding kafe sambil menengokkan kepala memeriksa keadaan. Siapa tahu Sehun muncul sekarang.

Luhan mengangkat ponsel di tangan‚ mencari kontak nomor Sehun‚ dan menelponnya. Sejujurnya ia sudah lelah untuk menunggu‚ juga menahan rindu. Sehun tak bisa dihubungi selama Luhan menunggu tadi. Sudah banyak pesan yang dikirimkan Luhan. Apalagi panggilan tak terjawabnya.

Menghela napas berat‚ Luhan menegakkan tubuh. Ia ingin menangis karena kecewa Sehun tak datang. Padahal Sehun yang mengajaknya dan lelaki itu tak datang. Mungkin Sehun lupa. Mungkin juga Sehun terlalu lelah sehingga ia ketiduran. Luhan mencoba untuk berpikiran positif. Ya‚ mungkin Sehun ketiduran.

Luhan berjalan pelan meninggalkan kafe. Kakinya menendang-nendang udara dengan pelan. Ia juga melompati genangan air dengan tundukan kepala. Luhan kesal. Luhan kecewa. Kalau ia bertemu Sehun suatu saat nanti‚ Luhan tak akan bicara dengannya selama Sehun mengajaknya bicara. Terserah! Luhan sudah terlanjur kesal.

Kemudian Luhan masuk ke sebuah minimarket yang masih buka. Minimarket itu sepi. Ketika ia masuk‚ Luhan lantas pergi mengambil ramyun instan untuk dimakan. Luhan tak sempat mengisi perut saat di kafe tadi. Karena mood nya sedang turun‚ Luhan malas memasak di rumah. Maka lebih baik ia makan ramyun di sini. Melepaskan pikiran-pikiran negatifnya tentang Sehun yang tiba-tiba muncul di otak.



Sehun meregangkan otot‚ lalu menghempaskan tubuhnya pada sofa di ruang tengah. Ia baru saja mandi sepulang mengantar Baekhyun pulang. Apartemen mereka cukup dekat‚ jadi sekalian saja pulang. Tubuhnya penat setelah seharian penuh di kampus dan tadi menggendong Baekhyun sepanjang perjalanan ke rumah sakit dan pulang.

Acara televisi yang membosankan membuat Sehun semakin penat. Lelaki itu bangkit dari sofa dan berjalan menuju pantri. Tiba-tiba ia merasa lapar. Dan ketika ia membuka kulkas‚ persediaan bahan makanan pun habis. Ia membuka laci‚ tak ada stok mie instan atau apapun yang bisa dimana di sana. Sehun menghela napas.

Jam berapa sekarang? Minimarketnya sudah tutup belum‚ ya?

Jam sepuluh lewat―eh?

Sehun menepuk dahinya. Sial! Ia lupa tentang Luhan! Pantas saja perasaannya tak menentu sedari tadi. Dengan kebingungan‚ Sehun meraih jaket‚ dan memakai sepatu. Ia mencoba untuk berpikir cepat. Apakah Luhan masih menunggu? Atau sudah pulang?

Sehun berlari keluar dari apartemen. Ia mampir ke rumah Luhan‚ melihat keadaan‚ dan tak ada tanda-tanda Luhan sudah pulang. Kembali berlari‚ tujuannya sekarang adalah kafe. Dan ketika sampai‚ kafe itu tutup. Sehun menghela napas‚ mencari-cari keberadaan Luhan yang sudah tak ada di sana. Kemudian Sehun mengecek ponselnya yang sedari tadi nonaktif. Sehun mengaktifkannya sehingga ada banyak notofikasi yang baru saja masuk. Ada puluhan pesan masuk dan belasan panggilan tak terjawab dari Luhan. Sehun membaca satu per satu pesannya. Kebanyakan berisi‚ "Kapan kau datang?" dan itu membuatnya benar-benar menyesal.

Kenapa ia harus menabrak Baekhyun dan membuat kakinya terkilir?

Kenapa ia harus khawatir pada Baekhyun?

Kenapa pula ia harus membantu Baekhyun dan meninggalkan Luhan?

Sehun mengerang. Ia kembali berlari menuju jalan pulang rumah Luhan. Sehun menyisir pandangan‚ siapa tahu Luhan tertangkap matanya sedang duduk di bangku tepi jalan atau entah di mana. Dipikirannya sekarang hanya ada Luhan. Dan Sehun cemas setengah mati kalau-kalau Luhan masih saja menunggu.

Lelaki macam apa Sehun ini?

Selama ia berlari‚ Sehun tak menemukan Luhan di jalan. Lelaki itu berhenti berlari di depan minimarket yang masih saja buka untuk mengistirahatkan jantungnya yang bekerja berlebihan. Sehun terengah-engah. Meskipun begitu‚ Sehun masih terus menyisir setiap sisi dengan pandangannya. Lelaki itu berputar‚ lalu berhenti menghadap etalase minimarket. Matanya tak bisa berkedip. Dadanya terserang rasa nyeri secara tiba-tiba.

Luhan ada di sana‚ dengan sumpit di tangan sementara tangan yang lain memegang cup ramyun instan‚ dengan mata menatapnya datar. Perempuan itu terlihat ingin menangis karena hidungnya mulai memerah dengan mata berair. Sehun menghembuskan napas lega melihat perempuan itu ada di sana. Dengan mengambil langkah lebar‚ Sehun masuk ke dalam minimarket itu dan menghampiri Luhan.

Luhan kembali makan saat Sehun masuk. Ia mencoba untuk tak peduli pada Sehun yang memanggil namanya saat itu.

"Luhan‚"

Tak ada jawaban dari Luhan. Sehun menghela napas.

"Maaf." lirih Sehun. Ia kembali menghela napas saat Luhan asyik meniup ramyun dan memakannya banyak-banyak.

Melihat Luhan mengacuhkannya‚ Sehun ikut duduk di sebelah Luhan. Perempuan itu tetap saja makan tanpa ingin melihat Sehun yang ia rindukan saat ini.

"Hei‚ Luhan." Sehun kembali memanggil. Masih tak ada jawaban dari Luhan. "Maaf sudah membuatmu menunggu. Ada yang harus kuurus tadi. Dan itu mendadak sekali."

Mendengarnya saja membuat Luhan tersedak sehingga ia terbatuk. Luhan tak bisa mengontrol napasnya saat makan dan itulah yang membuatnya tersedak. Luhan kesal‚ Luhan ingin marah‚ tapi juga ia ingin menangis. Perempuan itu bangkit untuk mengambil air mineral dan meminumnya setelah ia membayar di kasir. Ketika Luhan kembali‚ ia menggeser tempatnya duduk dan kembali makan dengan tenang. Seolah tak ada Sehun di sana.

Sehun memperhatikan dan ia sungguh merasa sesal. Luhan marah padanya. Sehun mencoba untuk menarik perhatian Luhan tapi Luhan justru sibuk dengan aktivitasnya sendiri. Akhirnya‚ karena Sehun tak ingin Luhan tersedak lagi mendengar penjelasannya‚ Sehun memilih untuk diam. Biar Luhan selesai dengan makanannya dan nanti Sehun bisa menjelaskan semuanya pada Luhan sampai perempuan itu mengerti.

Selesai makan‚ Luhan bangkit. ia membuang sampahnya ke tempat sampah dan keluar dari minimarket. Ia biarkan Sehun mengekorinya. Luhan sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan mendiamkan Sehun selama Sehun mengajaknya bicara. Dan ia akan melakukannya sekarang.

"Luhan‚" Sehun memanggil dari belakang.

Luhan tak menoleh ataupun berhenti.

"Hei‚ kau tak ingin berhenti dan mendengar penjelasanku?"

Luhan mengatakan‚ "Tidak!" dalam hati.

"Tadi itu ada sesuatu yang harus kuurus‚ dan itu mendadak sekali."

Ya‚ kau sudah mengatakannya tadi. Luhan kembali menjawab dalam hati.

"Sungguh. Aku tak berbohong!"

Memang aku peduli?

"Kau tak percaya padaku?"

Ck‚ apa yang membuatku bisa benar-benar percaya padamu?

"Ya! Luhan!"

Kau benar-benar berisik‚ Sehun.

"Kau sungguhan marah padaku?"

Sudah tahu begitu kenapa harus dipertanyakan?

"Baiklah. Aku minta maaf."

Terserah.

"Aku minta maaf karena sudah membuatmu menunggu. Ini salahku karena aku yang membuatnya sakit―"

Luhan mengerutkan kening. –nya siapa?

"―dan aku harus bertanggung jawab mengantarnya ke rumah sakit. Setelah itu aku pulang dan baru teringat tentang dirimu dan―"

Luhan berbalik dengan cepat. "Siapa yang membuatmu lupa?" potongnya.

Sehun mengerjap melihat Luhan mulai menanggapinya. "Itu tak penting sekarang. Ja―"

"Itu penting bagiku karena kau sudah membuatku menunggu." Luhan memotong lagi. Kali ini suaranya mulai bergetar. Antara ingin marah‚ juga ingin menangis.

Sehun terdiam melihat mata Luhan yang sudah berkaca-kaca di depannya. Perempuan itu masih menunggu jawabannya saat ia terdiam. Sehun mengutuk diri sendiri kemudian. Bodoh! Kenapa kau menceritakan hal itu pada Luhan?!

Ah‚ tapi kenapa harus khawatir‚ sih? Bukannya Luhan pernah bilang kalau perempuan itu hanya menganggapnya sebagai adik?

Sehun menelan ludah. Meski ia ragu‚ ia jujur menjawab‚ "Baekhyun." pada Luhan. Lelaki itu menatap Luhan yang kemudian terlihat diam. Sehun berpikir‚ apakah ada yang salah?



Luhan menunggu jawaban Sehun yang masih saja terdiam. Lelaki itu kelihatan menimang-nimang‚ juga ragu setelahnya. Luhan takut jika nama yang sedari tadi terlintas dipikiran sebagai perkiraan jawaban Sehun lah yang Sehun sebutkan. Luhan menahan napas‚ menggenggam udara kosong di kedua telapak tangannya.

"Baekhyun."

Tebakannya benar. Dan Luhan bagai dihantam palu raksasa sampai Luhan terlempar jauh. Luhan menghembuskan napas pelan-pelan dan merenggangkan kepalan tangannya. Ia diam‚ menunduk‚ lalu berbalik. Luhan kembali berjalan dan masuk ke dalam rumahnya. Sedangkan Sehun masih berada di tempatnya‚ memandanginya sampai Luhan menghilang dari pandangan.

Luhan tahu. Ia mulai sadar akan suatu hal. Memang ia menyukai Sehun‚ memang. Tapi ia lupa jika Baekhyun masih bisa mempengaruhi Sehun meski Luhan tahu Sehun mulai mengubur dalam-dalam perasaannya pada Baekhyun. Baekhyun bisa saja membuat Sehun kembali dengan mudah. Dan Luhan mulai sadar akan hal itu.

Di matanya‚ Sehun masih menyayangi Baekhyun meski lelaki itu mulai acuh padanya.

Lalu‚ apa arti perlakuan Sehun padanya selama ini?

Luhan menghapus air mata yang mengalir dan menegakkan tubuh dari balik pintu. Sempat ia mendengar suara Sehun yang memanggil namanya tadi‚ namun ia acuhkan. Ia tak ingin berharap banyak pada Sehun. Jika Sehun masih menyayangi Baekhyun‚ maka Luhan akan mundur. Lebih baik begitu jika nantinya Luhan sendiri yang tersakiti.


To be continue…


Haaaiii Aku balik sedikit lebih cepat dari sebelumnya yang biasanya bisa ngilang selama sebulan hehe. Aku lagi dapet anugrah banyak sekali untuk ff ini. Jadi aku nulisnya cepet trus cepet ku apdet juga hehe.

Eiya. Mampir bentar yuk ke ff Lucky One. Ada pemberitahuan penting di sana. :)) Bagi yang nunggu ff itu‚ coba cek deh. Penting soalnya. Makasih udah mau cek setelah ini :)

Udah ah. Kurasa cukup. Maaf ya kalo ada typo. Tunggu juga kelanjutannya. Stay tune!

See ya! Jangan lupa review!