"Sehun?"

"…"

"Heh‚ Sehun‚"

"…"

Kyungsoo‚ perempuan yang sedari tadi memanggilnya itu mendesis kesal. Dihampirinya Sehun yang entah sedang memperhatikan apa itu dan memukul kepalanya.

"Aduh!" Sehun mengusap kepalanya kesakitan. "Apa yang kau lakukan?"

"Seharusnya aku yang bertanya. Apa yang kau lakukan?" balas Kyungsoo sama kesalnya. Ia berkacak pinggang sambil melotot‚ mulai mengomel. "Sedari tadi aku bicara denganmu tapi kau tak mendengarkan. Apa yang kau lihat? Apa yang kau pikirkan? Fokuskan dirimu pada satu hal! Jadi aku tak akan memukulmu seperti tadi!"

Sehun merengut. Sambil memperbaiki posisi duduknya‚ ia berkata‚ "Aku hanya sedang kepikiran sesuatu. Jadi maaf kalau aku tak mendengarmu."

Kyungsoo mendengus kecil. Ia duduk di bangku seberang Sehun kemudian. "Tentang Luhan‚ eh?" tebaknya.

Sehun melirik Kyungsoo sekilas tanpa ingin membalas tebakan yang sialannya benar-benar tepat itu. Kyungsoo terkekeh karenanya.

"Kau selalu memikirkannya akhir-akhir ini. Kau sudah melupakan Baekhyun‚ ya?"

Sehun mengubah posisi jadi memunggungi Kyungsoo. Ia memasang earphone di telinga‚ namun tak membiarkan musik diponsel terdengar lewat alat itu. Sehun hanya ingin membiarkan Kyungsoo berbicara tentang Luhan. Entahlah. Mendengar nama Luhan disebut oleh seseorang saja‚ Sehun merasa rindunya yang belum sempat tersampai itu sudah terobati.

"Dasar." itu suara Kyungsoo sebelum ia berdecih. "Kalau kau benar-benar menyayanginya‚ temui Luhan‚ bilang kalau kau menyayanginya. Jangan seperti anak remaja yang masih malu-malu kucing untuk bilang seperti itu."

"Mau bilang bagaimana?" nah‚ sekarang Jongin yang baru saja masuk ke kelas ikut bergabung dengan obrolan itu. Lelaki itu tersenyum saat menghampiri Kyungsoo dan duduk di sampingnya.

Walau sebenarnya Sehun mendengar suara Jongin dan mengetahui keberadaannya‚ Sehun pura-pura saja tak tahu-menahu tentang hal-hal tadi. Terserah. Ia hanya ingin mendengar seseorang mengoceh tentang Luhan hari ini. Siapa tahu yang dibicarakan muncul setelah ini―eh‚ mana bisa terjadi?

"Yang awalnya ingin bilang‚ 'aku merindukanmu' jadi salah menyebut nama perempuan lain." sahut Jongin. Lelaki itu cekikikan saat melihat Sehun sekilas menoleh padanya. Jongin juga sadar kalau Sehun memang tak benar-benar mendengarkan musik.

"Memang dia ingin bilang begitu?" tanya Kyungsoo. Jongin mengangguk sebagai jawaban.

"Sehun cerita padaku. Ia menyesal menyebut nama Baekhyun dan membuat Luhan benar-benar marah padanya." jelas Jongin.

Kemudian Kyungsoo berdecak-decak heran. Sehun ini lelaki macam apa yang tak bisa mengerti situasi dan kondisinya Luhan? Bodoh!

"Sekarang kau tak ingin menemuinya?" tanya Kyungsoo pada Sehun.

Sehun terlihat diam. Ia menoleh ke belakang‚ kemudian menjawab‚ "Bukan waktu yang tepat."

"Lalu kapan waktu yang tepat itu datang?" sahut Kyungsoo setengah kesal.

Jujur‚ Kyungsoo gemas. Beberapa hari yang lalu Sehun tiba-tiba mendatanginya‚ meminta solusi soal 'perempuan yang marah' yang kemudian ia sadari bahwa Luhan lah yang marah. Dasar lelaki bodoh. Kyungsoo heran kenapa Sehun melakukan itu padahal sebelumnya Sehun pernah mengaku pada dirinya dan Jongin kalau Sehun mulai menyukai Luhan. Sehun ini otaknya seberapa dangkal‚ sih? Atau ukurannya sekecil benda apa? Atau pula otaknya mendadak melorot ke lutut? Kyungsoo pikir saat itu Sehun benar-benar hilang akal karena menyebut nama Baekhyun didepan Luhan yang sudah lama menunggunya. Ah‚ apa lelaki itu mabuk?―perkiraan sinting.

Haih…

"Kau ingin menyesal lagi karena tak juga menemuinya?" timpal Jongin. Kyungsoo mengangguk setuju padanya.

"Aku yakin Luhan masih marah." ujar Sehun pelan. Ia terdiam lagi.

"Maka dari itu berikanlah pengertian padanya‚ bodoh!" Jongin ikutan gemas. "Cepat pergi atau aku yang menyeretmu kesana!"

Sehun memutar kedua bola mata malas. Ia bangkit dan pergi dari sana. Tapi bukan untuk bertemu dengan Luhan. Yang lebih tepat yaitu untuk menyendiri sejenak. Ia butuh berpikir untuk mengambil sebuah tindakan. Ia tak ingin menyesal lagi. Terutama pada Luhan.



Ponsel yang ada di meja tiba-tiba bergetar. Sehun yang saat itu sedang ada kelas‚ melirik ponselnya. Tak ada yang tahu kalau ponselnya ada di meja. Sehun melirik sekitar dengan waspada‚ lalu melihat isi pesan yang baru saja masuk untuknya.

Ayah : Bisakah kau ke kantor sebentar?

Sehun memutar bola mata malas. Tanpa ingin membalasnya‚ Sehun kembali fokus pada mata pelajaran kuliahnya hari ini. Terserah. Sehun tak peduli.

Namun kemudian ponselnya kembali bergetar. Ada panggilan masuk dari ayahnya. Seketika seluruh mata yang ada di kelas itu mengarah padanya. Sehun membeku. Apalagi dosen yang ada di depan sana sudah melotot padanya. Bagus‚ dia akan―

"Keluar kau‚ Oh Sehun!"

Sehun mendengus. Ia tak ingin diminta dua kali sehingga dengan segera ia berdiri dan pergi dari kelas penting itu. Panggilan masuk sialan. Sehun mengutuk panggilan itu dengan kesal sambil berjalan di lorong yang cukup sepi.

Panggilan masuk kedua pun kembali membuat Sehun mengerang kesal. Disana tertera nama Ayahnya‚ nama kontak yang sama dengan seseorang yang membuatnya keluar dari kelas. Sialan‚ kan. Kenapa disaat-saat Sehun tak butuh pria tua itu‚ justru datang dan membuang waktu berharga Sehun?

Aish…

"Halo?" suara ayahnya terdengar setelah Sehun menerima panggilan itu secara terpaksa.

Sehun diam tak menyahut. Dibiarkannya ayahnya berbicara via telepon setelah itu.

"Sehun. Bisakah kau kemari?"

"Untuk apa lagi?" sahut Sehun malas.

"Ayolah… Kenapa kusuruh kau datang ke kantor saja susahnya minta ampun?" ujar sang Ayah. Sehun mencibir mendengar itu. "Kau tak ingin bertemu denganku?"

Sehun tak menjawab. Malas.

"Kau tak ingin bertemu dengan Soo Hyun juga?"

Malas juga.

"Ah…" di seberang sana Oh Jae Ho mengangguk-angguk kecil sembari mengusap dagunya. "Kau tak ingin bertemu dengan nona Xi Luhan?"

Seketika Sehun berhenti melangkah. Mendengar nama Luhan disebutkan ayahnya itu berarti pertanda buruk. Alarm gawat darurat berbunyi nyaring di pikirannya. Sehun mengubah ekspresinya menjadi ekspresi keras. Ia tak suka jika ayahnya seperti ini.

"Apa maumu?" tanya Sehun menahan amarah.

Terdengar suara kekehan dari ayahnya setelah itu. "Cukup kemari dan aku akan membicarakan beberapa hal bersamamu."

Sehun tak menjawab ya atau tidak. Karena setelah itu Sehun memutus panggilan secara sepihak. Terpaksa ia menurut‚ sebab ayahnya baru saja menyebut nama seorang perempuan. Sialan‚ apakah hal yang dulu pernah terjadi kini terjadi lagi untuk yang kedua kalinya?

Sehun harus menghentikan ini. Harus!



Terlalu banyak melihat layar komputer membuat Luhan merasa kepalanya pening. Hari itu‚ tanpa peduli ia akan mendapat omelan dari Soo Hyun karena keluar di jam kerja‚ Luhan pergi ke kafe dekat kantor untuk minum secangkir kopi. Ia butuh ketenangan dari penatnya pekerjaan. Dan kopi bisa membuatnya merasa lebih baik.

Memegang cangkir‚ Luhan melihat jemarinya. Sudah tak ada cincin yang mengikatnya dengan Yifan disana. Melihatnya‚ Luhan tersenyum. Ia lega karena rasanya tali yang selama ini melilitnya‚ melonggar dan lepas. Luhan bebas dari ikatan itu.

Dan tiba-tiba ia teringat akan satu hal. Di malam ia mendapat cincin itu dari Yifan.

"Yifan?"

Yifan menoleh. "Ya‚ ada apa?"

"Kenapa kau memilihku?" tanya Luhan. Ia mendongak dan sedikit menarik diri dari pelukan Yifan.

Yifan mengerutkan kening. "Kenapa kau bertanya seperti itu? Tentu saja jawabannya sudah jelas."

"Aku tak tahu jawabannya apa." Luhan menggeleng lugu. Membuat Yifan tertawa geli karenanya.

"Bukankah aku sudah bilang padamu? Aku memilihmu karena itu kau. Jika itu bukan kau‚ maka aku tak akan memilihmu."

"Ish! Aku serius!" Luhan menepuk lengan Yifan dengan kesal. Wajahnya merona karena malu. Tapi Luhan masih ingin menagih jawaban yang berbeda. "Jawaban yang lainnya?"

Yifan terlihat berpikir. Dan Luhan kembali membujuk. "Ayolah. Kenapa kau memilihku? Padahal ada banyak perempuan cantik disekitarmu. Luna jiejie‚ Victoria jiejie‚ dan―"

"Karena aku menyukaimu?"

Luhan merengut dengan wajah merona. "Kenapa kau tak bilang kalau kau mencintaiku?"

"Aku akan mengatakan hal itu kalau aku sudah menikahimu." ujar Yifan sambil menggeleng.

"Kenapa harus begitu?"

"Itu berarti aku hanya mencintai perempuan yang sudah menjadi milikku. Apa masalahnya?"

Luhan memegang erat cangkir yang ada di tangannya. Masalahnya‚ sekarang kau tak menikahiku! Luhan marah dalam hati. Dengan kesal ia menyesap kopi secara tergesa-gesa. Luhan terbatuk karena tersedak. Selain panas‚ ia tak bisa mengatur napas. Mungkin karena marah pada apa yang dikatakannya dalam hati tadi. Keadaan membuatnya terlihat menyedihkan.

Setelah mengahabiskan secangkir kopi dan membuatnya merasa lebih baik‚ Luhan memutuskan untuk kembali ke kantor. Sudah setengah jam ia meninggalkan pekerjaannya. Mungkin Soo Hyun akan memarahinya karena Luhan tak ditemukan di kantor. Yixing juga akan mengomel-omel padanya karena tak pamit untuk pergi. Terserahlah. Kalau dimarahi‚ ya dengarkan saja. Luhan benar-benar kehilangan mood akhir-akhir ini.

Tidak banyak pejalan kaki siang itu. Luhan sengaja memperlambat langkahnya karena ingin melihat-lihat. Sudah Luhan bilang kalau Luhan bosan dengan suasana kantor. Jadi ia mengulur-ulur waktu saja. Luhan tak peduli.

Begitu sampai di depan kantor‚ Luhan menghela napas pelan. Dengan santai ia masuk ke dalam kantor. Tak banyak yang memperhatikannya‚ syukurlah. Luhan segera kembali ke ruang kerjanya kemudian. Ia menekan tombol lift‚ menunggu sebentar‚ lalu hendak melangkahkan kaki saat pintu lift mulai terbuka. Tetapi Luhan mengurungkan diri. Seorang lelaki yang kini ada di depannya itulah yang membuatnya terdiam.

Oh Sehun.

Sedang apa dia di sini?



Hening.

Diantara kedua manusia yang duduk di salah satu meja itu tak ada perbincangan sama sekali. Sudah lebih dari sepuluh menit. Satunya sibuk dengan pikirannya‚ satunya lagi sibuk dengan pemandangan luar.

Sehun‚ yang sedari tadi sibuk dengan pikirannya‚ akhirnya menyerah. Melihat Luhan dan dirinya berada dalam kondisi tak menyenangkan ini sesungguhnya membuat dirinya muak. Astaga‚ kenapa pula ia bingung harus mengawali percakapan setelah dengan seenaknya membawa kabur Luhan dari kantor?

Sehun melirik Luhan yang diam saja sedari tadi. Mata perempuan itu memandangi luar jendela kafe yang ramai akan pejalan kaki. Kemudian ia menghela napas‚ dan memutuskan untuk mengakhiri keheningan ini.

"Maaf."

Mendengar kata itu membuat Luhan melirik Sehun. Wajahnya datar‚ tak ada ekspresi apapun dari perempuan itu. Sehun yang melihatnya pun menjadi cemas. Apakah Luhan masih marah?

"Soal aku yang sudah membuatmu menunggu itu‚ aku minta maaf." jelas Sehun.

"Kau sudah mengatakannya beberapa kali padaku sebelumnya." balas Luhan tenang. Ia menghembuskan napas‚ mencoba untuk terlihat baik-baik saja meski di dalam sana Luhan merasa sakit. "Lupakan saja soal kemarin. Aku sudah melupakannya."

"Aku yakin kau masih marah."

"Aku tidak marah."

"Bohong."

Luhan menggidikkan bahu sekilas. "Aku tidak bohong."

Sehun menghela napas pelan. "Kau hampir menangis saat makan ramyun di minimarket."

Luhan menunduk. "Sok tahu." gumamnya. Tapi apa yang kau katakan memang benar…

"Aku bahkan melihatnya sendiri. Kau marah‚ kau juga hampir menangis‚ mungkin ka―"

"Jangan berlaku sok tahu padaku!" ketus Luhan. Matanya berair‚ ingin menangis lagi. "Kau hanya melihatnya! Bukan merasakannya! Jadi berhentilah sok mengerti denganku!"

"Aku memang mengerti karena aku…" Sehun berhenti bicara. Satu kata yang hampir meluncur dari lidahnya itu ditahannya sejenak. Luhan sedang marah saat ini. Sehun hanya tak ingin Luhan merasa lebih sakit hati karena pengakuannya.

aku menyukaimu.

Bukankah nanti Luhan akan bilang‚ "Kalau kau menyukaiku‚ kenapa kau lebih memilih Baekhyun daripada aku?"

Ish!

"Sudahlah‚ lupakan saja." kata Luhan. Perempuan itu bangkit hendak pergi dari sini. Baginya apa yang dilakukan Sehun itu membuang-buang waktu berharganya. Luhan bisa dimarahi meskipun ia tak peduli. "Aku tak punya banyak waktu untukmu."

Melihat Luhan pergi membuat Sehun bereaksi cepat. Disusulah Luhan yang kini mulai menembus hujan di sore hari saat itu. Dasar perempuan nekat. Luhan kan nanti bisa basah kuyup dan―aih‚ yang benar saja! Tanpa pikir seribu kali lagi‚ Sehun berlari menyusul Luhan‚ ikut menembus hujan.

"Luhan!"

Si pemilik nama tak berbalik ataupun berhenti. Sehun memperlebar langkah.

"Xi Luhan!"

Masih saja tak menanggapi. Semakin lebar pula langkah kaki Sehun. Ketika sudah dekat dengan Luhan‚ Sehun menangkap salah satu tangan Luhan yang bebas‚ menariknya‚ lalu memeluknya. Membuat Luhan membeku karena dipeluk oleh Sehun―ini kali pertama ia dipeluk oleh seorang lelaki selain Yifan!

"Luhan‚"

Luhan melirik wajah Sehun di bahunya.

"Maafkan aku." ujar Sehun pelan. "Kau marah karena menungguku‚ aku minta maaf. Kau marah karena aku lebih memilih Baekhyun‚ aku juga minta maaf. Ini salahku." sambungnya. Ia mengeratkan pelukan‚ lalu berbisik. "Aku merindukanmu."

Mendengar kalimat singkat itu‚ Luhan mencelus. Ada kupu-kupu di perutnya. Wajahnya memanas dan ia tak bisa menahan senyum. Meski begitu‚ Luhan hanya mampu diam karena lidahnya kelu. Ia biarkan saja Sehun memeluknya diantara pejalan kaki yang memandangi mereka berdua. Luhan senang dipeluk Sehun. Sangat amat senang. Sebab Luhan bisa merasa aman‚ nyaman‚ dan merasa sangat-sangat disayangi.

Ya‚ aku juga merindukanmu.



"Kenapa kau tak membuatkanku kopi?"

Luhan menepuk kening Sehun dengan pelan. "Jangan banyak bicara. Cepat minum atau aku yang akan menghabiskan semuanya."

Sehun mencibir. Melihat Luhan sudah bisa merengut dan tersenyum setelah insiden 'menyenangkan' tadi membuat Sehun lega. Setidaknya ia bisa melihat Luhan tersenyum setelah hampir tiga minggu ini ia tak melihatnya.

"Jadi…" Sehun berdeham kecil. Luhan meliriknya. "Kau tak marah lagi kan?"

"Siapa yang bilang kalau aku marah?" tanya Luhan balik. Salah satu tangannya terulur untuk mengambil camilan di meja. "Aku tak pernah bilang kalau aku marah padamu. Sudah kubilang‚ aku tak marah."

Sehun mengangkat kedua alis. "Lalu kenapa kau…"

"Aku hanya kecewa." potong Luhan. Ia menghela napas. "Aku benci menunggu dan kau sudah membuatku seperti itu."

Sehun menunduk mendengarnya. Seharusnya…

"Aku pernah menunggu Yifan sadar dari koma. Tapi Yifan justru pergi selama-lamanya dariku. Itu membuatku benci untuk menunggu." cerita Luhan dengan pandangan menerawang. Luhan tertawa kecil‚ menertawai dirinya sendiri lebih tepatnya. Meminum lagi teh hangatnya‚ Luhan kembali berkata‚ "Aku takut menunggu membuatku mendapatkan hasil yang buruk."

"Kau selalu menilai suatu hal dari pengalamanmu. Jangan seperti itu." ujar Sehun. Ia memandang Luhan yang menatapnya tak mengerti. "Jangan bilang kau benci menunggu karena Yifan. Jangan bilang kau benci hujan karena Yifan. Jangan bilang kalau kau mulai mencandu kopi juga karena Yifan. Jangan. Kau tak akan tahu bahwa suatu saat nanti kebencianmu itu semakin membuatmu terpuruk."

Luhan menunduk. "Kau berkata seperti itu seolah kau sudah pernah mengalaminya."

"Memang sudah."

Seketika Luhan menatap Sehun. Sedikit terkejut‚ namun mencoba untuk tak terlalu memperlihatannya pada Sehun. "Apa mak―"

"Aku benci suatu hal karena sebuah alasan. Dan ketika alasan itu membuatku semakin sakit‚ maka aku akan semakin membenci hal itu. Itu sungguh membuatku terpuruk." jelasnya. Ia kembali menatap Luhan dengan senyum ringan.

Luhan menunduk memikirkan hal itu. Memang benar. Ia hidup dalam kebencian yang ia buat dan akhirnya terpuruk seperti sekarang. Ia benci ditinggal Yifan dan itu membuatnya terpuruk. Luhan menghela napas pelan. Kemudian ia melirik Sehun yang kini kembali sibuk menghangatkan tubuh dengan teh hangat dan selimut yang menyelubunginya. Luhan menghembuskan napas‚ lagi‚ dan itu diketahui Sehun. Lelaki itu tersenyum seraya mengusap puncak kepala Luhan dengan lembut. Luhan menahan napas dibuatnya.

"Itu terlalu berat. Tak usah dipikirkan."

Luhan merengut. "Kau yang memulai bicara seperti ini tapi kau juga yang memintaku untuk berhenti. Aku kan tak bicara seperti itu."

Sehun terkekeh. Senang rasanya bisa mengobrol bersama Luhan lagi.

"Oiya." Luhan memperbaiki posisi duduk. Kakinya bersila diatas sofa‚ menghadap Sehun. "Soal Baekhyun yang waktu itu… Memangnya dia kenapa?" tanyanya. Mencoba untuk tak terlihat penasaran―namun gagal karena Sehun sudah tahu kalau Luhan sedari tadi menahan pertanyaan itu.

"Baekhyun jatuh karena aku. Kakinya jadi terkilir. Jadi aku mengantarnya ke rumah sakit." cerita Sehun singkat. Luhan mengangguk-angguk mengerti. "Tapi sekarang sudah bisa berjalan. Kakinya pulih dengan cepat."

"Kau sering mengantarnya ke rumah sakit‚ ya?" tanya Luhan pelan. Sehun tak bisa menahan senyum karena pertanyaan yang jelas-jelas menunjukkan bahwa Luhan sedang cemburu.

"Tidak juga. Sesekali aku mengantarnya kalau pacarnya tidak bisa mengantar."

Lantas Luhan mengangkat wajah‚ berpikir. Pacarnya Baekhyun? Lelaki yang mencuri hatinya Baekhyun sehingga Baekhyun meninggalkan Sehun‚ begitu? Memangnya pacarnya Baekhyun ada di Korea? Setahunya dari cerita Sehun‚ Baekhyun bertemu dengan pacarnya itu di Jepang. Lah‚ kok bisa di Korea?

Sementara itu‚ Sehun tersenyum geli melihat ekspresi berpikir keras milik Luhan. Apa yang dipikirkan Luhan memang Sehun tak tahu. Tapi melihat ekspresinya saja‚ Sehun sungguh ingin meremas pipi Luhan. Astaga‚ pipinya kenapa bisa menggembung saat berpikir seperti itu?

"Pacarnya Baekhyun?" Luhan menyuarakan pikirannya. Ia kembali menatap Sehun. "Pacarnya Baekhyun di Korea?"

Sehun mengangguk. "Seminggu yang lalu dia kemari. Katanya Baekhyun ada urusan bisnis di Korea."

Luhan membulatkan mata tak percaya. "Pacarnya itu pengusaha?" serunya. Luhan menutup mulut karena sadar bahwa ia tak bisa mengontrol suaranya tadi. Sehun tertawa karenanya. "Bagaimana bisa―yang benar saja?!"

"Iya‚ benar." Sehun menganggguk. "Mungkin beberapa hari lagi Chanyeol kembali ke Jepang."

Luhan mengerutkan kening. Ia seperti pernah mendengar nama itu baru-baru ini. "Chan―" Luhan berusaha mengingat-ingat. Ia mengeja nama lelaki itu tanpa suara. Lalu mulai heboh. "Park Chanyeol?!" serunya‚ lagi-lagi tak percaya.

Sehun hanya bisa mengangguk sambil tertawa geli. Astaga‚ Luhan menggemaskan saat terkejut seperti ini. Lagi-lagi Luhan tak peduli tentang tawa Sehun. Luhan sama sekali tak sadar bahwa ia yang menyebabkan Sehun tertawa.

Sementara itu‚ Luhan tak mampu berkata apa-apa. Park Chanyeol yang beberapa hari lalu datang ke kantornya sebagai seora―ah‚ lupakan! Luhan hanya ingat bahwa Chanyeol itu tampan dan tinggi. Waktu itu Park Chanyeol datang seperti seorang pangeran dari negeri dongeng. Chanyeol menarik banyak perhatian dari orang-orang kantor yang dilewatinya. Bahkan Yixing juga ikut terkena pesonanya. Yixing banyak sekali mengoceh tentang lelaki itu tadi pagi. Haruskah Luhan bilang pada Yixing kalau Park Chanyeol sudah punya kekasih? Ah‚ perempuan China itu pasti patah hati.

"Itu―ya Tuhan… Chanyeol membuat seisi kantor gempar! Apa kau tahu‚ dia datang dan membuat semua perempuan meleleh-leleh karenanya. Ju―"

"Termasuk kau juga?" sela Sehun. Lantas Luhan menatapnya‚ dan mengatupkan bibir.

Bagiku hanya kau yang mampu membuatku meleleh karena sebuah senyuman! jawab Luhan dalam hati.

"Kau juga terpesona?" ulang Sehun.

Luhan tertawa. "Memangnya kenapa kalau aku terpesona?"

"Jangan‚" gumam Sehun. "Cukup Baekhyun saja. Jangan kau juga."

Luhan menaikkan kedua alis. "Kau bicara apa? Bicara yang jelas‚ supaya aku bisa mendengarmu."

"Tidak." Sehun menggeleng dan tersenyum. "Lupakan saja."

"Ah…" Luhan tersenyum jahil setelah menyadari sesuatu. "Kau cemburu‚ ya?"

"Tidak!" Sehun menggeleng cepat‚ seperti anak kecil. Luhan tertawa melihatnya.

"Mengaku sajalah‚"

"Aku sama sekali tak cemburu."

"Lalu?" tanya Luhan lagi‚ masih betah menggoda Sehun yang kini wajahnya sudah semerah tomat. "Kau masih tak rela kalau ternyata Chanyeol yang berkharisma itu merebut Baekhyun darimu?"

Sehun yang hendak membalas‚ jadi terdiam. Ia menunduk dan berdeham pelan. Luhan yang melihat Sehun pun menghela napas kecil. Ah‚ dia salah bicara.

"Maksudku‚ ka―"

"Ck‚ aku juga bisa merebut Baekhyun lagi darinya."

Luhan terdiam mendengarnya. Dadanya bergemuruh sakit. Dia memang salah bicara.

"Tapi aku tak ingin melakukannya." lanjut Sehun. Luhan kembali menatapnya. "Aku sudah melupakannya. Aku malas mengejar-ngejar seseorang yang sama sekali tak ingin mengulurkan tangan padaku."

Luhan bingung harus membalas apa disaat ada jeda di kalimat Sehun.

Sehun menggidikkan bahu sekilas. "Lagipula aku sudah melupakannya."

"Secepat itu?" tanya Luhan. Sebisa mungkin ia menyembunyikan senyum senang karena ternyata Sehun sudah melupakan Baekhyun. Setelah Sehun menjawabnya dengan anggukan pasti‚ Luhan kembali bertanya‚ "Memangnya siapa yang bisa membuatmu melupakan Baekhyun dengan cepat? Kukira kau benar-benar menyayangi Baekhyun."

Sehun mencibir untuk kalimat terakhir Luhan. Lelaki itu terlihat berpikir sejenak. Luhan berdebar-debar karena penasaran saat ia menunggu jawaban Sehun. Luhan ingin namanya disebut‚ tapi disisi lain ia juga ingin Sehun kembali bercanda untuk mencairkan suasana tegang yang hanya dirasakan Luhan itu. Tapi ketika Sehun mencondongkan tubuhnya untuk mendekati tubuh Luhan‚ Luhan merasa bahwa dunia saat ini berhenti berputar.

Hei! Sehun ini sedang menggodanya atau―

"Kau‚ Luhan."

Secara refleks‚ Luhan mendelik. Ada ledakan super dahsyat di dalam sana. Wajahnya memanas‚ ia malu juga salah tingkah sungguhan saat melihat Sehun tersenyum menatapnya. Astaga‚ astaga‚ astaga. Kenapa Sehun senang membuatnya sekarat karena kerja jantung yang abnormal ini? Luhan menyebut nama Tuhan berkali-kali dalam hati. Tadi itu Sehun hanya―

"Aku serius." Sehun tersenyum lagi. Tulang-tulang Luhan lumer melihat senyum Sehun yang manis itu.

YA TUHAN! LENYAPKAN AKU SEKARANG JUGA!

"Aku serius." Sehun tersenyum jahil. "Kalau aku sedang bercanda."

Wajah Luhan makin memerah. "Ih!" dan ia menyerang Sehun dengan banyak cubitan di tubuh lelaki itu. Sehun berusaha menghindar namun ia tetap kena juga. Seharusnya ia mengaduh kesakitan karena cubitan kesal dari Luhan. Namun yang ada‚ Sehun justru tertawa.

Astaga. Luhan benar-benar membuat Sehun gemas dengan pengakuannya. Hanya saja Sehun memilih untuk mengatakan bahwa ia bercanda karena tak ingin pengakuannya ini membuat Luhan berada dalam keadaan tidak aman. Sehun takut Luhan kenapa-napa. Sebab Luhan sudah masuk ke hatinya‚ kehidupannya‚ juga masuk ke dalam sangkar berapi milik ayahnya.



Hujan sudah sedikit reda. Pukul sembilan malam saat itu. Maka setelah memastikan bahwa ia telah menghapus rindunya pada Luhan‚ Sehun memilih untuk pamit pulang. Tak baik juga lelaki sepertinya berada di rumah seorang perempuan. Meskipun ia masih khawatir kalau-kalau Kris datang dan membuat Luhan ketakutan lagi‚ Sehun yakin Luhan akan baik-baik saja. Perempuan yang kini berada di depannya adalah perempuan yang kuat. Seberapa sakit yang ia rasakan‚ Luhan masih mampu untuk tersenyum baik-baik saja.

Ah‚ ya. Luhan memang perempuan yang kuat.

"Kalau kau butuh payung‚ aku akan pinjamkan padamu." ujar Luhan‚ mencoba untuk mengulur waktu supaya Sehun bisa tetap disini.

Sehun menggeleng. "Aku bisa pulang tanpa payung."

"Tapi masih hujan‚ tahu."

"Tidak apa-apa." Sehun mengangguk kecil‚ meyakinkan Luhan kalau memang keadaan ini tak akan membuatnya sakit. "Apartemenku tak jauh dari sini."

"Ya. Aku tahu itu." Luhan menunduk. Ia menghela napas. "Kalau kau sakit‚ aku jadi khawatir." gumamnya.

Sehun tersenyum. Ia tak sengaja mendengar gumaman menggemaskan itu. Terdengar seperti merajuk meski itu hanya sebuah gumaman. Oh‚ Luhan mengkhawatirkannya. Apakah ia harus senang untuk itu? Baiklah‚ biarkan ia menuruti Luhan saat ini. Jika Luhan memintanya untuk tetap disini‚ ya sudah‚ Sehun senang-senang saja untuk tetap tinggal. Tapi jika Luhan memintanya untuk pulang dengan―ah‚ rasanya tidak mungkin karena Luhan mengkhawatirkannya.

"Jadi maumu apa?" tanya Sehun. Ia tersenyum melihat Luhan mendongak menatapnya dengan senyum cerah.

"Tetaplah di sini." jawab Luhan. Perempuan itu menarik dan menggenggam tangan Sehun―dia refleks melakukan itu. "Setidaknya sampai hujan benar-benar reda."

"Kalau malam ini tidak reda juga?"

Luhan menunduk‚ salah tingkah. "Kubiarkan kau tidur di sini."

Dan Sehun tersenyum geli mendengarnya. Ia mengusap puncak kepala Luhan dengan gemas. "Tidak perlu." ujarnya lembut. "Aku bisa pulang sekarang." lanjutnya.

"Tidak‚ tidak." Luhan menggeleng‚ kembali menarik tangan Sehun yang masih belum disadarinya. "Tetaplah disini. Kadang aku juga masih takut soal Kris." lirihnya di akhir kalimat.

"Sudah kubilang‚ Kris tak akan menyakitimu lagi."

"Tapi aku masih takut."

Sehun menghembuskan napas pelan. Melihat Luhan menunduk dan menggenggam tangannya ketakutan ini membuat Sehun tercubit. Astaga‚ apa Sehun tak melindungi perempuan ini dengan benar?

"Kemarilah."

Luhan mengangkat wajah‚ kebingungan. Lebih bingung lagi saat Sehun menarik tangannya dan memeluknya‚ lagi. Dan dia baru sadar kalau sedari tadi dia yang menggenggam tangan Sehun. Luhan mengerjap di pelukan Sehun. Ia malu‚ juga salah tingkah.

"Tidak apa-apa." ujar Sehun pelan. "Kau tak perlu merasa takut. Kris tak akan berani mendekatimu lagi. Jangan pikirkan hal itu lagi‚ oke?"

"Kenapa Kris tak akan mendekatiku lagi?"

Sehun terdiam sebentar. Kemudian ia berbisik‚ "Karena kubilang kau itu milikku."

Luhan membulatkan matanya. Wajahnya memanas lagi. Dengan cepat Luhan melepaskan pelukan Sehun dan mundur beberapa langkah. Namun karena saking tergesa-gesanya Luhan‚ Luhan tersandung kakinya sendiri. Ia hampir jatuh‚ dan Sehun dengan sigap menangkapnya‚ menariknya‚ dan memeluknya‚ bermaksud untuk melindungi Luhan. Sehingga tanpa sengaja bibir Sehun menyentuh bibir Luhan. Hanya sedetik! Dan itu membuat keduanya benar-benar terkejut.

Debaran jantungnya!

Jantungku‚ jantungku‚ jantungku!

Astaga‚ apa yang baru saja kau lakukan?!

Luhan kembali menarik diri. Kali ini berhati-hati agar ia tak terjatuh lagi. Kemudian Luhan melirik ke arah lain dengan canggung sementara Sehun berdeham kecil sembari mengusap tengkuknya yang tak gatal.

Ini tak lucu‚ tahu!

Sehun berdeham-deham lagi. "Ah‚ ya. Aku harus pulang." celetuknya. Dengan segera ia berbalik dan berlari menembus hujan. Sedangkan Luhan‚ perempuan itu ingin memanggil nama Sehun. Namun Sehun yang sudah keluar dari rumahnya membuat Luhan harus mengurungkan niat.

"Yah…" Luhan mendesah pelan. Dilihatnya Sehun sampai lelaki itu menghilang dari jarak pandangnya. Luhan berdecak pelan‚ menurunkan bahu‚ lalu masuk ke dalam rumah. Bibirnya bergerak-gerak‚ menggerutu sendiri.

Tapi tadi itu…

Luhan kembali bersemu mengingat kecupan sekilas Sehun di bibirnya. Pipinya memanas‚ Luhan menangkupnya. Kakinya gatal untuk berjingkrak-jingkrak. Luhan tak bisa menahan senyum. Ia memekik senang―entah karena apa‚ Luhan sungguh tak sadar! Dan berlari masuk ke dalam kamarnya.

Sementara di luar‚ Sehun masih tak percaya bahwa kejadian itu terjadi beberapa detik yang lalu. Sehun tersenyum selama ia berlari menembus hujan. Bibir Luhan manis juga. Dan mungkin ia akan kecanduan karena bibir milik Luhan itu. Yah‚ mungkin setelah ini ia akan kehilangan kendali untuk mencium Luhan.

Mungkin saja.


To be continue…


Hai! Aku update lagi! Sedikit lebih cepat karena tanggunganku ngga banyak-banyak amat setelah UAS.

Senang rasanya bisa kembali aktif. Kupikir aku cuma bisa kerja satu-satu. Jadi kepengennya aku nyelesaiin ff ini dulu baru ngelanjut ff Lucky One ku. Ah‚ bersabarlah ya nak... Rencananya aku namatin ff ini masih lama :3

Eiya. Kalian mau HunHan kapan pacarannya? Chapter depan? Dua chapter lagi? Tiga chapter lagi? Ato gimana? Wkwk. Aku terserah kalian deh. Lagian setelah ini juga aku mau masukin ke konfliknya.

Udah chapter 11 tapi baru masuk konflik?! Maafkan aku yang bertele-tele ini :')

Ah‚ udah dulu lah. Kubakal balik koo.. Sekarang aku nggabanyak tanggungan lagi :')

Jangan lupa untuk review. See ya~