Hujan lagi-lagi turun. Tidak seperti biasanya karena sebentar lagi musim pertengahan tahun ini akan berganti menjadi musim yang lain. Melihat rintik-rintik hujan dari dalam taksi membuat Luhan menghela napas. Kapan hujan ini berlalu?
Taksi yang ditumpanginya perlahan melambat. Begitu berhenti‚ Luhan membayar sopir taksi dan keluar. Dengan segera ia memakai payung lipat yang tersimpan di tasnya dan menembus hujan. Sendirian ia menyusuri jalanan menuju rumahnya itu Sudah malam juga. Luhan harus mempercepat langkah supaya bisa sampai di rumahnya dengan selamat.
Luhan butuh tidur. Di kantor Luhan harus lembur karena Soo Hyun mengomelinya. Luhan benar-benar tak fokus akhir-akhir ini. Ia sering salah melakukan suatu hal dan membuat Yixing atau Soo Hyun mengomelinya. Luhan pusing mendengar mereka berbicara ini dan itu yang terkadang beberapa diantaranya tidak Luhan pahami. Ah‚ dua orang itu baik sekali membuat kepala Luhan cenut-cenut.
Begitu sudah setengah jalan‚ tepatnya di minimarket yang masih saja buka itu‚ Luhan berhenti melangkah. Baru saja ia melihat Sehun keluar dari minimarket dengan kepala menengadah‚ melihat hujan mungkin. Di tangan lelaki itu hanya ada minuman kaleng yang entah apa isinya. Sehun terlihat menggerutu karena hujan turun sementara ditangannya tak ada payung sama sekali. Luhan tersenyum melihatnya.
Sehun tidak bawa payung‚ ya? batinnya. Luhan melirik tangannya yang memegang gagang payung‚ dan tersenyum. Ia bisa pulang dengan Sehun!
"Sehun!"
Ah‚ kenapa kau memanggilnya?
Si pemilik nama menoleh ke arah Luhan yang memanggilnya. Lelaki itu terdiam saat melihat Luhan melambaikan tangan padanya. Diamnya Sehun membuat Luhan mengubah senyum cerahnya menjadi senyum canggung. Ah‚ apa Sehun tak bisa melihatnya karena sudah malam‚ hujan‚ dan jarak yang jauh ini? Mungkin Sehun bingung. Luhan menurunkan tangannya yang terangkat‚ lalu memilih untuk menghampiri Sehun.
Baru saja mengambil tiga langkah mendekat‚ tiba-tiba Sehun berlari ke arahnya. Luhan berhenti melangkah karena Sehun menembus hujan untuk menghampirinya. Lelaki itu tak berkata apa-apa‚ tak memanggil namanya juga saat berlari. Luhan hanya tahu kalau Sehun menghampirinya‚ menariknya‚ memeluknya‚ serta menciumnya.
Tepat di bibir.
Luhan mengerjap. Jantungnya berdentum cepat. Ia membeku di tempat dan tak bisa melakukan apa-apa.
Serius! Luhan seperti patung. Ia benar-benar kehilangan otaknya saat itu. Mungkin juga sampai seterusnya. Ish‚ sialan Sehun ini.
…
Malam itu kau berlari‚ membawa tubuhmu padaku
Disana ada senyum
Ah. Itu mampu menawan semut!
Derai hujan tak berniat menunggu
Rintiknya memaku diriku.
Bahkan langkahmu pun masih sama
Kepadaku kah kau bersinggah?
Atau pada perempuan di belakangmu kau singgah?
Jatuhnya rerintik itu membuatku berharap
"Langkah finalmu‚ bagiku adalah merah."
Aku harus berhenti untukmu‚ benar?
.
Kau berada di depan
Hujan basahi kepala
Kerlip bintang
Dinginnya pawana
Akankah menjadi putih untukmu‚ sayang?
…
"Senyum-senyum mulu."
Luhan mengangkat wajah‚ dan mengembangkan senyumnya. "Ah. Aku merasa senang hari ini. Jadi apa masalahnya?"
Yixing yang tadi bertanya‚ kini tertawa menanggapi. "Astaga. Kemarin wajahmu masih kusut dan sekarang kelihatan cerah sekali. Apakah Sehun datang dan meminta maaf padamu?"
Luhan hanya tersenyum. Kalau ia menjawab 'iya'‚ maka Yixing akan menggodanya terus-terusan. Pun kalau menjawab 'tidak'‚ Yixing akan menanyainya macam-macam. Luhan tak ingin repot hari ini. Jadi ia memilih untuk diam.
"Ah‚ pantas kemarin kau tak kembali dari acara kaburmu. Kudengar Sehun kemarin juga mampir ke kantor."
Luhan mengangguk kecil. Dia sudah tahu hal itu. Sehun menyeretnya kabur dan setelah itu―boom! Luhan meledak di kamar.
"Kukira dia mengunjungimu. Tapi ternyata Presdir Oh yang memanggilnya."
Luhan berhenti membuka lembaran di map yang ia bawa. Ia terdiam‚ berpikir. Luhan kira memang begitu. Sehun datang ke kantor untuk mencarinya. Jadi Luhan tak bertanya‚ "Kenapa kau ke kantor hari ini?" pada Sehun kemarin. Setahunya‚ Sehun bilang kalau ia tak ingin pergi ke kantor lagi setelah urusannya di kantor selesai. Lagipula‚ seingat Luhan‚ Sehun tak ingin dekat-dekat dengan ayahnya sendiri. Luhan tahu ada masalah diantara mereka berdua. Tapi masalah apa itu‚ Luhan tak tahu.
Ah. Luhan tak ingin tahu masalah keluarga itu. Tidak‚ tidak. Bukan urusannya untuk memikirkan apa masalah Sehun dengan keluarganya.
"Aku juga sempat melihat Sehun keluar dengan wajah marah. Aku tak tahu dia marah karena apa. Aku ingin menanyakan tapi aku juga bukan siapa-siapanya." Yixing berhenti bercerita karena melihat Luhan terdiam di depannya. "Luhan‚ kau tak menanyakannya pada Sehun?"
Luhan terkesiap kecil. "Ya? Tentang apa?"
"Tentang kenapa Sehun ke kantor karena Presdir Oh dan mereka membicarakan apa saja?"
Luhan meringis. "Eiy. Itu masalah keluarga. Aku tak ingin menanyakannya pada Sehun." ujarnya sembari mengibaskan sebelah tangan di udara.
"Ah‚ benar." Yixing mengangguk-angguk kecil. "Kalau kau sudah jadi pacarnya‚ mungkin kau tahu semua masalah Sehun."
Dan Luhan bersemu mendengar itu. Ia menunduk untuk menyembunyikan semu merah sialan di wajahnya dari Yixing. Ah‚ kenapa akhir-akhir ini Luhan jadi sensitif kalau seseorang sedang membicarakan hubungannya dengan Sehun. Mereka hanya teman―tapi mesra. Lalu apa masalahnya sehingga ia harus malu dan salah tingkah seperti ini?
Haih…
"Eiya‚ Luhan." Yixing kembali membuat Luhan menoleh padanya. "Apa kau dan Sehun sudah berpacaran?"
"A-apa mak―"
"Nona Xi Luhan."
Seketika Luhan menoleh pada pintu yang tiba-tiba terbuka. Ada Shin Soo Hyun disana. Luhan menaikkan alis melihat lelaki itu membuka pintu ruangannya dan memanggil namanya seperti itu. Tidak biasanya karena Soo Hyun lebih sering memanggil Luhan lewat Yixing.
"Ada meeting sebentar lagi. Kau tak tahu tentang meeting ini‚ huh?"
Luhan mengerjap. Ah‚ ya! Ia ingat kalau ada meeting dan sekarang ia malah asyik mengobrol dengan Yixing. Luhan meneguk ludah‚ membungkuk pada Soo Hyun seraya berkata‚ "Maafkan aku. Aku akan segera kesana."
…
"Kau tak memperhatikanku."
Luhan terkesiap. "Ah‚ ya?"
"Kau tak banyak memberikan tanggapan." jelas Soo Hyun. Lelaki itu bersedekap melirik Luhan di sebelahnya. Ia tersenyum masam. "Kudengar kau banyak memperhatikan direkturmu yang sebelumnya."
Sehun maksudnya?
"Aku memperhatikan. Jangan salah sangka." balas Luhan tenang. "Kau bagus. Jadi tak perlu kuberi tanggapan." ia berbohong tentang itu.
Mana ada yang lebih bagus dari Oh Sehun? Lelaki itu menarik perhatian dan berkharisma saat berbicara. Aduduh‚ Luhan jadi ingat saat ia tak bisa mengalihkan pandangan saat Sehun di depan‚ berbicara‚ dan tersenyum pada orang-orang saat meeting.
Ah‚ Luhan jadi rindu lelaki itu.
"Memang begitu?"
Luhan mengangguk. "Ya."
Soo Hyun mengangguk-angguk kecil. Ia melihat sekitar‚ lalu tersenyum kecil. "Kupikir kalian dekat."
Luhan mengangkat kepala dan memandang Soo Hyun dengan bingung. "Ya? Siapa?"
"Kau dan Sehun." jelas Soo Hyun.
"Ah…" Luhan menggigit bibir bawahnya. "Kami hanya berteman."
Soo Hyun mendengus pelan. "Berteman‚ ya? Kupikir tak seperti itu." gumamnya. Luhan jadi meliriknya karena mendengar hal itu. "Sehun anak yang baik. Hanya saja dia tak baik padaku."
"Ya‚ dia baik. Selalu baik." sahut Luhan pelan.
"Karena masalah keluarga dia jadi seperti ini." ujar Soo Hyun setelah menghela napas pelan. "Baik-baiklah padanya. Jangan membuatnya sakit hati."
Luhan mendenguskan tawa. "Kenapa kau bicara seperti itu? Tidak seperti biasanya." tanyanya. Hal itu justru membuat Soo Hyun tertawa.
Ah‚ lelaki ini manis saat tertawa.
"Jangan berpikir macam-macam. Aku sudah melupakanmu‚ kau tahu? Aku merelakanmu untuk Sehun. Biar dia bahagia saja setelah lama terpuruk." ujar Soo Hyun. Ia menghela napas lega. Dadanya longgar sekali rasanya. "Jangan sampai tahu ayahku kalau kau dan Sehun dekat."
Luhan menaikkan alis‚ makin bingung. "Ya? Kenapa―"
"Luhan!"
Luhan berbalik ke belakang dan menemukan Kris di sana. Luhan membulatkan mata‚ menelan ludah‚ dan tiba-tiba ia tak bisa bergerak saat Kris tersenyum padanya dan menghampirinya.
Kris tersenyum dan―eh?
"Siapa itu?" pertanyaan Soo Hyun membuat Luhan tersentak kecil. Dilihatnya Soo Hyun dan Luhan berdeham kecil.
"Hanya temanku." jawabnya. "Aku pergi dulu." ujarnya. Luhan melangkah menghampiri Kris setelah mendapat anggukan dari Soo Hyun.
Entahlah. Meskipun kemarin Luhan takut jika Kris muncul lagi‚ tapi begitu melihat senyum lelaki itu yang mengingatkannya dengan senyuman milik Yifan‚ membuat Luhan luluh. Setidaknya itu bisa mengurangi rasa takutnya pada Kris soal waktu itu.
Nah kan‚ Luhan jadi ingat Yifan lagi.
"Hai."
Luhan tersenyum. "Ya‚ hai."
"Woah… Kupikir kau tak pernah tersenyum padaku." ujar Kris dengan senyum lebar. Dan Luhan tertawa kecil karenanya. "Bisakah kau meluangkan waktumu sebentar?"
"Untuk apa?" tanya balik Luhan.
Kris menatap Luhan serius. "Ada yang harus kukatakan padamu."
…
"Aku minta maaf." ujar Kris pelan. Ia menunduk saat mengucapkan itu. "Maaf karena sudah membuatmu takut."
Luhan mengangkat wajah mendengarnya. Baginya ini bukan Kris. Seingat Luhan Kris bukan lelaki yang dengan mudahnya mengatakan‚ "maaf" dengan penuh sesal seperti sekarang. Kris itu egois‚ keras kepala‚ ingin menang sendiri‚ yang tentu saja bertolak belakang dengan kepribadian Yifan‚ saudara kembarnya. Namun sekarang ini‚ Luhan sedang berhadapan dengan Kris yang seolah menjadi Yifan. Kris terlihat benar-benar sama seperti Yifan jika menatapnya seperti itu―tulus dan lembut.
"Aku sudah salah paham selama ini. Kukira lelaki yang kemarin itu Shin Soo Hyun. Tapi ternyata itu Oh Sehun. Sungguh aku tak tahu." jelas Kris pelan. Dan Luhan tersenyum karenanya.
"Ya. Tidak apa-apa." sahut Luhan. "Aku juga akan mengira hal yang sama jika aku jadi kau. Aku sering bercerita padamu soal Soo Hyun dan itu membuatmu kesal. Jadi ketika aku bersama Sehun waktu itu‚ kau mengira bahwa Sehun adalah Soo Hyun. Ya… Tak apa‚ aku bisa paham."
Kris melirik Luhan‚ lalu berdecak pelan. "Kau terlalu baik padaku." ujarnya. Luhan hanya tersenyum sebagai tanggapan. "Aku selalu membuatmu takut‚ marah‚ dan sedih. Padahal aku sudah berjanji pada hyung kalau aku akan membuatmu bahagia. Tsk‚ adik macam apa aku ini‚" Kris bergumam di akhir kalimat.
Luhan memilih untuk tak menanggapi apapun. Ia tahu hal itu jadi ia tak perlu menanggapinya dengan serius.
"Kau mengembalikan cincinmu pada kakakku‚ ya?" tanya Kris. Luhan langsung menatapnya saat itu. "Aku mengunjunginya beberapa hari yang lalu. Dan aku menemukan cincinmu di sana." jelas Kris. Ia balas menatap Luhan. "Kau benar-benar sudah melupakan Yifan hyung‚ ya?"
Dan kali ini Luhan menjawab. "Aku tak bisa terlalu lama menahannya bersamaku. Aku juga butuh kebebasan supaya bisa benar-benar mengikhlaskannya."
"Karena Oh Sehun?" tebak Kris. Ia tersenyum saat Luhan pura-pura tak mengerti dengan tebakannya. "Dia datang padaku dan bilang kalau kau itu miliknya. Jadi kupikir kalian sudah berpacaran."
Luhan merona. Aih‚ ternyata apa yang dikatakan Sehun kemarin itu benar. Ia kira itu hanya akal-akalan Sehun untuk menggodanya. Ternyata memang benar! Aduh‚ aduh…
"Kami hanya berteman." koreksi Luhan setengah hati. Ah‚ dia jadi berharap lebih‚ kan…
"Hanya belum." Kris mengoreksi. Dan Luhan menyetujui itu diam-diam.
"Aku tidak berharap lebih padanya."
Kris hanya tersenyum. Ia tahu kalau Luhan sedang menyembunyikan kebohongan darinya. Aih‚ Luhan yang dulu dikenalnya sudah kembali. Dari Luhan yang murung dan diam menjadi Luhan yang manis dan menggemaskan. Perempuan itu sudah banyak tersenyum dan tertawa padanya. Bukankah itu berarti Luhan sudah merelakan Yifan meski perlahan-lahan? Kris yakin suatu saat nanti Luhan akan benar-benar lupa pada Yifan dan hanya terfokus pada Sehun. Lelaki muda itu membuat perubahan kecil yang mampu menguapkan beban di bahu Kris. Setidaknya Luhan tak semurung dulu.
Yah… Kris bersyukur Sehun hadir dan membuat Luhan melupakan Yifan. Kalau Sehun tak masuk ke kehidupan Luhan‚ Kris tak tahu apa yang akan terjadi pada dirinya dan Luhan. Kris tak bisa membuat Luhan lupa dan Luhan sendiri mengurung diri dengan kenangan. Itu sulit. Namun Sehun benar-benar ajaib. Lelaki itu membawa perubahan kecil yang berdampak besar. Kris sudah bilang begitu‚ bukan?
…
Luhan merengut kesal dan menghentak-hentakkan kaki pada lantai. Ia menggerutu dan mendengus. Diliriknya ponsel yang berada di meja bersama tumpukan kertas dan lain-lain. Sedari tadi ia menunggu‚ namun yang ditunggu tak juga muncul dan membuat suasana hati Luhan makin membaik. Luhan meraih ponsel‚ memeriksa‚ dan berharap bahwa ada notifikasi masuk dari Sehun. Namun Luhan tak menemukan apapun di layar ponselnya. Luhan menghela napas. Ia rindu Sehun…
"Tsk‚ dia tak merindukanku apa?" gumamnya kesal. Jemarinya bergerak dengan cepat di layar untuk mengetikkan pesan. Untuk Sehun‚ tentu.
Sibuk ya?
Beberapa kali Luhan membaca pesan yang baru ia ketik itu. Kemudian ia meragu. Apakah harus ia mengirim pesan seperti ini pada Sehun? Tapi masa perempuan dulu yang harus memulai percakapan? Luhan merengut‚ mendengus‚ dan menghempaskan tubuhnya pada sandaran kursi kerja.
"Ah‚ terserahlah!" Luhan meletakkan kembali ponselnya ke meja. Tak jadi mengirim pesan itu.
Tapi ia benar-benar rindu Sehun! Bagaimana ini?! Sudah beberapa hari ini Luhan tak melihat Sehun‚ tak bersamanya‚ tak mengobrol juga. Aah… Rasanya Luhan ingin menerobos masuk ke kampus Sehun dan bertemu dengannya! Tapi tak mungkin juga karena Luhan pasti malu sendiri. Memang ia perempuan agresif‚ apa?
"Kau tak merindukanku?" monolog Luhan kesal. "Kau juga tak menghubungiku." lanjutnya. Ia mendesah pelan. "Ah‚ kau pasti sibuk. Jadi untuk memikirkanku saja tidak sempat."
Luhan merengut‚ dan menenggelamkan kepala pada lipatan tangannya.
…
"Hei‚ Sehun."
Sehun menoleh pada Jongin yang memanggilnya. "Apa?" jawabnya yang kemudian kembali fokus pada laptop di depannya.
"Kau tahu‚ aku tadi melihat Luhan."
Karena baru saja mendengar nama Luhan disebut Jongin‚ Sehun menghentikan jemarinya yang menari-nari di keyboard laptop. Lantas Sehun melirik Jongin yang sedang memainkan ponsel. Saling berkirim pesan dengan Kyungsoo‚ mungkin.
"Memangnya kenapa?" sahut Sehun‚ pura-pura tak tertarik.
"Luhan sendirian di halte. Kau tak menjemputnya?" tanya Jongin. Lelaki itu meletakkan ponsel di meja dan mulai memperhatikan gerak-gerik Sehun setelah itu.
"Untuk apa aku menjemputnya?" lagi-lagi Sehun pura-pura tak peduli. Ia kembali mengerjakan tugasnya. "Toh dia bisa pulang sendiri."
Jongin memukul kepala Sehun hingga Sehun mengaduh kesakitan. Sehun meringis kesal padanya‚ sementara Jongin sendiri justru memaki‚ "Bodoh!" dan itu membuat Sehun menggerutu.
Hei‚ apa salahnya?
"Kalau kau sering mengkhawatirkannya‚ cepat temui dia. Pastikan dia baik-baik saja atau bagaimana begitu. Kau selalu berbicara sendiri tentang Luhan yang sedang apalah‚ sudah makan atau belumlah‚ pulang dengan siapalah‚ dan –lah-lah yang lain. Tapi saat aku bilang begitu padamu‚ kau malah tak peduli?" Jongin menggeleng-geleng heran. "Otakmu ini melorot kemana‚ heh?"
Sehun berdecak‚ tak menanggapi hal itu dengan serius. "Aku hanya sedang menghindar." itu jawabnya. Bahkan Sehun tak menatap Jongin saat menjawab demikian. Jongin dibuat kesal.
"Apa yang kau hindari?" tanya Jongin‚ mencoba untuk sabar. "Ayahmu lagi?" tebaknya.
Sehun tak menjawab. Dan itu adalah 'iya' bagi Jongin. Lelaki eksotis itu menghela napas lelah karenanya.
"Tak baik juga menghindari hal-hal seperti itu‚ Sehun. Itu menyiksamu‚ juga bisa menyiksa Luhan. Sepertinya ayahmu hanya ingin membunuhmu secara perlahan dengan tekanan-tekanannya. Jangan dengarkan pria tua itu. Lakukan saja sesukamu supaya ayahmu lelah dengan perilakunya sendiri."
Hening sejenak. Jongin kembali sibuk dengan ponselnya sebelum ia berceramah lagi.
"Mendengar hidup Luhan darimu‚ aku hanya bisa bilang‚ jangan buat Luhan sakit hati. Meski kau tak tahu Luhan menyukaimu atau tidak‚ jangan buat Luhan merasakan kehilangan untuk yang kedua kalinya. Tak baik juga kau tak menghubunginya. Luhan pasti mengira kalau ada yang salah dengannya. Padahal kau sendiri ingin menjaga Luhan dengan tak memberi kabar. Aku tahu ayahmu 'curang' dalam hal ini. Tapi cobalah untuk memimpin permainan ayahmu. Jangan biarkan ayahmu tertawa diatas penderitaanmu."
"Jangan dibahas." balas Sehun tenang. Ia menghentikan aktivitasnya untuk sejenak kemudian. Memandang secangkir kopi yang sudah mendingin itu‚ Sehun berpikir.
Apa yang dikatakan Jongin memang benar. Pria tua itu selalu menekannya. Tidak boleh inilah‚ tidak boleh itulah‚ Sehun selalu dikekangnya. Tapi bolehkah kalau sekarang ia memberontak?―Eh‚ bukankah sedari dulu ia sudah memberontak?
Jongin berdeham kecil. "Omong-omong tadi itu kalimatnya Kyungsoo. Aku hanya menyampaikannya padamu. Dia terlampau khawatir dengan Luhan."
Sehun meliriknya. Lagi-lagi tak membalas kalimat Jongin.
"Terserahlah." Jongin menggidikkan bahu sekilas. "Aku sudah mengatakan hal itu berulang kali padamu. Kalau kau tak mendengarkan atau tak ingin melakukannya juga tak apa. Lagipula itu termasuk nasihat yang buruk. Apa-apaan menyuruhmu tak peduli pada ayahmu sendiri? Tapi juga…"
Jongin terus mengoceh. Jongin cerewet sekali hari ini‚ dan Sehun sudah malas mendengarkan. Lelaki tan ini pasti sedang merindukan Kyungsoo karena mengoceh seperti burung perkutut yang rewel belum diberi makan. Haruskah ia menelpon Kyungsoo dan memintanya untuk datang kemari? Telinga Sehun sudah terbakar rasanya.
…
Setelah mengusir Jongin dan beralasan bahwa setelah ini ia harus tidur‚ Sehun kelaparan. Ia memeriksa kulkas dan benda itu kosong melompong. Sehun juga memeriksa laci. Tak ada apa-apa di sana. Ah‚ Sehun harus membuat apartemen ini menjadi gudang makanan. Maka dengan segera ia keluar dari apartemennya untuk membeli beberapa bahan makanan di minimarket.
Sesampainya di minimarket‚ bukannya masuk ke bagian makanan‚ Sehun justru santai-santai dengan sekaleng soda. Persetan dengan perutnya yang keroncongan. Ia bisa mengisi perutnya nanti. Karena saat ini firasatnya mengatakan sesuatu yang baik akan terjadi. Seseorang akan membuatkan makanan untuknya‚ mungkin?
Ah‚ jam berapa sekarang?
Sehun mencari-cari keberadaan alat penunjuk waktu itu di sini. Pukul sembilan lebih sekian menit. Dilihatnya jalanan dari kaca minimarket. Jalanan sepi. Lalu terlihat juga rintik hujan yang lagi-lagi turun. Sehun menghela napas. Gerimis‚ lalu hujan‚ dan ia berakhir di sini. Sehun lupa―malas sebenarnya―membawa payung. Firasatnya berubah menjadi buruk.
Terpaksa‚ Sehun membeli cup ramen dan membuat sendiri. Rencananya ia akan makan ramen di minimarket ini karena sudah pasti tidak akan ada yang membuatkan makanan untuknya. Sehun terjebak di sini. Ia malas pulang dengan keadaan basah kuyup karena ia malas mandi lagi.
Sembari menunggu ramennya‚ Sehun duduk‚ memandangi hujan yang turun. Tiap kali hujan‚ Sehun selalu teringat soal Luhan. Perempuan itu pernah bilang kalau ia benci hujan karena Yifan. Tapi ia pernah melihat Luhan tersenyum saat tangannya menadah air hujan‚ mungkin itu yang membuatnya suka dengan hujan. Luhan bilang kalau ia merasa suka dan tidak suka kalau hujan turun.
Lalu saat ini‚ apa yang dirasakan Luhan? Hujan sedang turun. Luhan merasa suka‚ atau justru sebaliknya?
Sehun menopang dagu. Berpikir lagi. Luhan sudah melepas Yifan‚ haruskah Luhan merasa sedih karena itu? Tidak‚ tidak. Kalau Luhan merasa sedih karena teringat Yifan‚ Sehun harus mencegahnya. Luhan tidak boleh sedih-sedih melulu. Ia harus banyak tersenyum karena senyum milik Luhan mampu membuat Sehun ikut tersenyum dengan jantung berdebar-debar. Aih‚ kenapa jatuh cinta rasanya seperti ini?
Eh‚ Sehun jatuh cinta? Pada Luhan? Ya! Tentu! Itu benar!
Sehun tersenyum geli pada dirinya sendiri. "Apa yang kau pikirkan?" gumamnya. Lelaki itu mulai memakan ramennya‚ menghabiskannya‚ dan menunggu hujan reda.
Lama ia menunggu‚ hujan belum juga reda. Sehun bangkit‚ meraih kaleng sodanya dan menghabiskan isinya‚ lalu keluar dari minimarket. Sehun menengadah‚ dan menggerutu. "Kenapa kau tak berhenti juga? Puas ya sudah membuatku terjebak di sini?" dan terus saja menggerutu.
Dan tiba-tiba ia mendengar suara seseorang yang memanggil namanya.
"Sehun!"
Lantas Sehun menoleh. Ada Luhan di sana‚ dengan payung serta tangan yang melambai‚ juga senyum cerah yang sialannya membuat Sehun meleleh-leleh. Cantik sekali. Sehun terpesona‚ ia tak sempat menjawab panggilan Luhan karena tak sadar. Ia baru sadar saat Luhan melunturkan senyum cerahnya menjadi senyum canggung. Dan Sehun jadi teringat tentang kalimat Jongin tadi sore. Saat Jongin menyampaikan apa yang dikatakan Kyungsoo untuknya.
Ah‚ si mata bulat itu. Pandai sekali berceramah kalau sudah bersangkutan dengan Luhan.
Tapi ada benarnya juga‚ sih. Dalam diam Sehun mulai setuju dengan kalimat-kalimat Kyungsoo yang disampaikan Jongin.
Kemudian Sehun melihat Luhan yang kini berjalan menghampirinya. Langkah perempuan itu membuat Sehun merasa tertarik. Luhan datang untuknya. Jadi kenapa ia tak menyambut dan menahannya supaya Luhan tak pergi jauh-jauh darinya? Sehun tersenyum. Ia mengambil langkah untuk mendekati Luhan‚ menariknya‚ memeluknya‚ dan menciumnya.
Tepat di bibir.
…
Luhan mengerjap. Jantungnya berdentum cepat. Ia membeku di tempat dan tak bisa melakukan apa-apa.
Serius! Luhan seperti patung. Ia benar-benar kehilangan otaknya saat itu. Mungkin juga sampai seterusnya. Ish‚ sialan Sehun ini.
Lagian Sehun ini kenapa‚ sih? Kenapa tiba-tiba menghampirinya‚ memeluknya‚ dan menciumnya? Duh‚ Luhan jadi berpikiran macam-macam. Sehun merindukannya? Ingin menciumnya? Ingin memeluknya? Atau benar-benar tak bisa menahan rindunya?―bukankah itu sama saja? Luhan tak tahu harus membalas atau hanya diam saja. Yang ia lakukan hanyalah memejamkan mata ketika Sehun melumat bibirnya lembut.
Lima detik berlalu‚ dan Sehun menjauh kemudian. Lelaki itu menatap Luhan dengan tulus. Luhan mengerjap melihat tatapan mata itu. Jantungnya berdebar‚ Luhan merasa waktu berhenti saat itu juga. Apa yang Sehun lakukan sekarang sungguh membuat Luhan sekarat. Ya Tuhan‚ kenapa dadanya tiba-tiba terasa sesak?
"Kali ini aku serius." ujar Sehun‚ membuka suara diantara mereka dan hujan. Luhan terus menatapnya‚ menanti kelanjutan kalimat yang belum ia mengerti. "Orang yang membuatku melepas Baekhyun begitu mudah adalah kau‚ Luhan."
Luhan menatap Sehun tak percaya. Serius ini kau tak bercanda?!
"Itu benar kau." lanjut Sehun menegaskan. Ia mengambil alih payung Luhan‚ menutup benda itu‚ dan membiarkan air hujan membasahi mereka.
"Sehun‚" Luhan masih tak bisa mencerna meski ia merasa ada ledakan-ledakan besar di hatinya. "Apa maksudmu?"
"Luhan…" Sehun menempelkan keningnya pada kening Luhan. "…bolehkah aku menjadi orang yang membuatmu bisa melepas Yifan?"
Luhan menatap Sehun‚ terdiam. Ia mencoba untuk menelisik apa maksud lelaki ini. Memintanya melepas Yifan‚ dan meminta hatinya untuk diberikan pada Sehun? Luhan menelan ludah. Sehun benar-benar tulus dan serius. Maka sebagai jawabannya‚ Luhan mengangguk. Ia tak bisa berkata-kata karena terlalu senang dan―ah‚ ya Tuhan! Luhan tak bisa menggambarkan bagaimana perasaannya saat ini!
Sehun menciumnya‚ dan Luhan memejamkan mata. Dingin dari hujan sampai tak terasa karena lumatan Sehun di bibirnya‚ serta pelukan lelaki itu. Rasanya hangat menyelimuti. Perlahan‚ Luhan membalas lumatan Sehun. Ia biarkan Sehun memeluk pinggangnya‚ dan memperpanjang waktu diantara mereka.
Ya‚ kau bisa menghapus Yifan dariku. Jadi cepat lakukan itu‚ dan buat aku selalu teringat padamu.
…
Aku terpikat‚ aku terpikat
Aku bertemu denganmu seperti ini adalah takdir
Aku terpikat‚ aku terpikat
Aku bertemu denganmu seperti ini adalah keajaiban
―Jo Hyuna – Falling (W OST)―
…
To be continue…
Hai! Aku balik! Dan nggabakal ngomong banyak.
Cuma mau minta maaf kao ada typo(s) di sini. Aku males ngecek hehe. Musim liburan buat aku jadi males bgt wkwk
Udah ah. Jangan lupa buat review! :* See yaa~
